JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. Volume 3. No 1. April 2020 JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire Volume 3. No 1. April 2020 DEWAN REDAKSI Jurnal Manager Wire Bagye. Kom. ,M. Kom (STMIK Lombok. SINTA ID : 5992. Reviewer : Resad Setyadi. ,S. ,S. Si. ,MMSI. ,Ph,D . - Institut Teknologi Telkom Purwokerto SCOPUS ID : 57204172534 SINTA ID : 6113570 Yesaya Tommy Paulus. Kom. MT. Ph. - STMIK Dipanegara Makassar SCOPUS ID : 57202829909 SINTA ID : 6002004 Dr. Cucut Susanto. Kom. MSi. - STMIK Dipanegara Makassar SINTA ID : 6138863 Muhamad Malik Mutoffar. ST. MM. CNSS- Sekolah Tinggi Teknologi Bandung SINTA ID : 6013819 David. Cs. ,M. Kom - STMIK Pontianak SCOPUS ID : 57200208543 SINTA ID : 5977352 Indo Intan. STMIK - Dipanegara Makassar SCOPUS ID : 57200209088 SINTA ID : 6127241 I Wayan Agus Arimbawa. ST. ,M. Eng. - Universitas Mataram SINTA ID : 5973017 Muhammad FauziZulkarnaen. ST. ,M. Eng. - STMIK Lombok SINTA ID : 6663733 Yunanri. Kom - UniversitasTeknologi Sumbawa (U. SINTA ID : 6723103 Sitti Aisa. Kom. ,M. T - STMIK Dipanegara Makassar SINTA ID : 6153893 Sanjaya Pinem. Kom. Sc . - Universitas Efarina SINTA ID : 6689679 Zamah Sari. - Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka SINTA ID : 6145745 Fredy Windana. Kom. MT - Sekolah Tinggi Teknologi Stikma Internasional SINTA ID : 5974460 Hijrah Saputra. ST. Sc. - STMIK Lombok SINTA ID : 6667974 Hairul Fahmi. Kom. - STMIK Lombok SINTA ID : 5983160 Sofiansyah Fadli. Kom. ,M. Kom. - STMIK Lombok SINTA ID : 6073057 Editor : Wire Bagye. Kom. ,M. Kom- STMIK Lombok. SINTA ID : 5992010 Saikin. Kom. ,M. Kom. - STMIK Lombok Halena Muna Bekata. Pd. - Universitas Tribuana Kalabahi. SINTA ID : 6168815 Desain Grafis& Web Maintenance Jihadul Akbar,S. Kom. - STMIK Lombok Secretariat Ahmad Susan Pardiansyah. Kom - STMIK Lombok ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire Volume 3. No 1. April 2020 DAFTAR ISI KLASIFIKASI ARITMIA DENGAN HEART RATE VARIABILITY ANALISIS MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION Wayan Rimba Bazudewa1. I Putu Satwika2. I Gede Putu Krisna Juliharta3 IMPLEMENTASI METODE MRP (MATERIAL REQUIREMENT PLANNING) UNTUK MENCAPAI TARGET PRODUKSI PAKAIAN BERBASIS WEB (STUDI KASUS: UD. DARMAWAN DESA SELAGEK) DETEKSI KUALITAS BERAS MENGGUNAKAN SEGMENTASI CITRA BERDASARKAN PECAHAN BULIR DAN SEBARAN WARNA Mohammad Taufan Asri Zaen1. Siti Fatmah2. Khairul Imtihan3 Eko Supriyadi1. Achmad Basuki2 . Riyanto Sigit3 PERMODELAN VISUAL TINGKAT KETAKUTAN PADA SIMULASI EVAKUASI KEBAKARAN 3D MENGGUNAKAN SELF ASSASSEMENT MANIKIN Iqbal Sabilirrasyad1. Achmad Basuki2. Tri Harsono3 SISTEM KEAMANAN PEMANTAUAN CCTV ONLINE BERBASIS ANDROID PADA RUMAH CANTIK SYIFA MASBAGIK KOMPARASI ALGORITMA MACHINE LEARNING DAN DEEP LEARNING UNTUK NAMED ENTITY RECOGNITION : STUDI KASUS DATA KEBENCANAAN Ahmad Tantoni1. Mohammad Taufan Asri Zaen2 Nuli Giarsyani1. Ahmad Fathan Hidayatullah2. Ridho Rahmadi 3 SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN RESIKO KEMUNGKINAN TERJADI REAKSI DARAH Abd. Halim1. Sri Kusumadewi2. Linda Rosita3 MONITORING PENGATUR KECEPATAN KIPAS ANGIN MENGGUNAKAN SISTEM FUZZY BERBASIS WEB DI SMP BAKTI KELUARGA LUBUKLINGGAU Novi Lestari2. Nelly Khairani Daulay1. Armanto3 IMPLEMENTASI JARINGAN INTER-VLAN ROUTING BERBASIS MIKROTIK RB260GS DAN MIKROTIK RB1100AHX4 Ahmad Tantoni1. Khairul Imtihan2. Wire Bagye3 PERANCANGAN APLIKASI CETAK DOKUMEN ONLINE BERBASIS ANDROID DI BINER JOMBANG Fauzan Adhim1. Ali Murtadho2. Chandra Sukma A3 ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire Volume 3. No 1. April 2020 PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN RESIKO KEMUNGKINAN TERJADI REAKSI DARAH Abd. Halim1. Sri Kusumadewi2. Linda Rosita3 1,2,3 Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Jalan Kaliurang. Km. 14,5 Yogyakarta 55584 1 16917201@students. id, 2 sri. kusumadewi@uii. id, 3 linda. rosita@uii. Abstract When the process of blood transfusion there is a risk for patients who receive, the risk caused can be slow or fast called a blood reaction. In blood services the term hemovigilance is known which seeks to collect transfusion reaction data, perform data analysis and then use it as a basis for increasing the safety of blood transfusion services . In this study will be discussed further about hemovigilance to determine the risk of a reaction to blood bank blood from home diseases. The stages are implemented starting from the study of literature, then the collection of data, the potential is carried out to ensure compliance with the study of literature, continued and in accordance with the opinions of experts, conducting data analysis followed by making SPK design, implemented and continued by consulting again with experts, checking adjustments , followed by a discussion then comes to a conclusion. Naive Bayes Classification (NBC) calculation results show an 75% accuracy rate. The conclusion that the possibility of a blood reaction can be detected early, can be done by determining the SPK blood reaction. Keywords : hemovigilance, blood reaction, blood tranfusion. Abstrak Saat proses tranfusi darah ada resiko bagi pasien yang menerima, resiko yang ditimbulkan bisa lambat atau cepat yang disebut dengan reaksi darah. Dalam layanan darah dikenal istilah hemovigilance yang berupaya mengumpulkan data reaksi transfusi, melakukan analisis data dan kemudian menggunakannya sebagai dasar peningkatan keamanan layanan transfusi darah . Dalam studi ini akan dibahas lebih lanjut tentang hemovigilance untuk menentukan risiko reaksi terhadap darah bank darah dari penyakit Tahapan yang diimplementasikan mulai dari studi literatur, kemudian pengumpulan data, potensi dilakukan untuk memastikan kepatuhan dengan studi literatur, dilanjutkan dan sesuai dengan pendapat para ahli, melakukan analisis data diikuti dengan pembuatan desain SPK, diimplementasikan dan dilanjutkan dengan berkonsultasi lagi dengan para ahli, memeriksa penyesuaian, diikuti dengan diskusi kemudian mendapatkan kesimpulan. Hasil perhitungan Naive Bayes Classification (NBC) menunjukkan tingkat akurasi 75%. Kesimpulan kemungkinan terjadi suatu reaksi darah dapat dideteksi sejak dini, dapat dilakukan dengan penentuan reaksi darah SPK. Kata kunci : hemovigilace, reaksi darah, darah tranfusi. PENDAHULUAN Bank Darah Rumah Sakitmerupakan unit pelayanan darah yang bertanggung jawab atas tersedianya darah untuk transfusi yang aman dan dapat memenuhi kebutuhan darah pada BDRS(Bank Darah Rumah Saki. menentukan level persediaan optimal dari keseluruhan produk darah berdasarkan estimasi ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. BDRS (Bank Darah Rumah Saki. terhadap permintaan yang mungkin terjadi. Pada Rumah Sakit Umum Daerah(RSUD) dr. Andi Abdurrahman Noor, sudah mempunyai BDRS. Dalam pelayanan darah dikenal istilah mengumpulkan data-data terjadinya reaksi transfusi, melakukan analisis data tersebut dan kemudian menggunakannya sebagai dasar JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire peningkatan keamanan pelayanan transfusi darah. Penelitian ini berfokus pada hemovigilanceSetelah permintaan darah datang, proses yang dilakukan pada BDRS dalam Crossmatch adalah uji kecocokan/uji serasi untuk pasien. Pada saat terjadi transfusi darah terkadang terjadi reaksi darah, kondisi darah yang ditransfusikan sudah lolos Reaksi darah adalah kondisi pasien penerima darah tranfusi mengalami suatu gejalayang menimbulkan semacam reaksi pada fisik dan efek dirasakan dari ringan sampai akut. Hal ini adalah bentuk suatu masalah yang harus diminimalisir sehingga pasien dapat menerima dengan aman. Untuk mewujudkan peningkatan akses pelayanan darah yang berkualitas diperlukan pembaruan pada alur kerja BDRS. Alur kerja yang sudah berjalan saat ini adalah darah cocok setelah crossmatch, darah diserahkan ke bangsal kemudian diberikan pada pasien dan, pihak BDRS mencatat, melaporkan pelaksanaan dan reaksi transfusi. Upaya hemovigilance di BDRS yang dilakukan yaitu menambahkan alur penentuan resiko reaksi transfusi sebelum darah diserahkan ke bangsal. Dengan menggunakan Sistem Pendukung Keputusan(SPK) dibangun alert jika akan terjadi reaksi darah pada saat menyampaikan kepada perawat ruangan agar terus mengawasi dan mendapat penanganan pratransfusi darah. Alert tersebut dapat menurunkan terjadinya resiko reaksi darah ke tingkat berat. Sistem pendukung keputusan penentuan resiko reaksi darah di BDRS diharapkan membantu salah satu tugas BDRS yaitu melaksanaakan penelitian praktis, dapat meningkatan mutu pelayanan transfusi darah. Tujuan utama dilakukannya penelitian ini adalah mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya reaksi darah sebelum transfusi darah TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI Tinjauan Pustaka Reaksi darah terjadi ketika proses darah ditranfusikan ketubuh pasien yg membutuhkan, reaksi darah dalam kasus tertentu biasanya lebih banyak terjadi pada pasien penerima darah merah (Whole Bloo. Packed Red Cell(PRC) mempunyai potensi mengalami reaksi. Faktor kebanyakan terjadi reaksi darah berasal dari golongan darah Olebih cenderung 2,7 kali lebih besar mengalami raksi akut. , dari penelitian lain terkait bahwa reaksi tranfusi ada 2 jenis : - Reksi tranfusi imonologi - Reaksi tranfusi non-imunologis ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. Volume 3. No 1. April 2020 Reaksi tranfusi imonologi dibagi kembali menjadi : reaksi cepat, dan reaksi lambat, sedangkan tranfusi non-imonologis adalah infeksi yang ditularkan lewat darah. Transfusi darah adalah tindakan medik yang bertujuan mengganti komponen darah yang berkurang. Tranfusi darah biasa diberikan dalam proses transfusi ada dibagi menjadi 5 jenis yaitu - Whole Blood ( WB). - Packed Red Cells (PRC). - Cryoprecipitated Anti Haemolytic Factor(Cryo-AHF) - Trombosit Concentrate (TC). - Fresh Frozen Plasma (FFP). Menurut Laporan di RSUD dr. Andi Abdurrahman Noor bahwa paling banyak macam darah yang dibutuhkan yaitu : Whole Blood (WB). Packed Red Cells (PRC), dan Fresh Frozen Plasma(FFP). Reaksi transfusi darah Jika terjadi reaksi transfusi akan dilakukan tindak lanjut atas kecurigaan terjadinya reaksi transfusi, dengan melakukan evaluasi klinis pasien dan melakukan verifikasi secara BDRS penelusuran penyebab reaksi transfusi. Keadaan Klinis Pasien yang mengalami gejala di golongkan menjadi 3 kategori adalah: Reaksi Ringan. Reaksi Sedang. Reaksi Mengancam Nyawa. Beberapa gejala yang sering timbul biasanya terjadi ada beberapa seperti : Pruritis. , gelisah, sesak napas, nyeri kepala, nyeri punggung, dan nyeri di situs infus . Memperhatikan kondisi pasien pada saat transfusi darah dan memberikan perlakuan berbeda pada tiap komponen darah sesuai intruksi akan mengurangi dampak reaksi darah akut . Langkah penelusuran reaksi transfusi di BDRS, meliputi: Penerimaan keluhan reaksi transfusi secara tertulis dari petugas ruang perawatan. Penerimaan sisa kantong darah donor dan sampel pasien pasca transfusi dari ruang perawatan disertai formulir pengiriman sampel untuk penelusuran reaksi transfusi . Identifikasi kantong darah donor - Nomor kantong darah - Golongan darah pada label kantong (ABO dan rhesu. - Jenis komponen darah. - Perkiraan volume darah donor yang tersisa didalam kantong. - Uji saring IMLTD . asil, waktu, metoda dan petugas pemeriksaa. JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire - Uji silang serasi . asil, waktu, metoda dan petugas pemeriksaa. Pengecekan silang semua informasi permintaan darah . ilihat dari arsip formulir permintaan yang ada di BDRS) dengan identitas kantong darah donor. Pemeriksaan ulang atas golongan darah donor dan pasien meliputi golongan darah ABO dan rhesus. f Pemeriksaan ulang uji silang serasi darah donor dengan darah pasien persediaan darah pasien pra transfusi di BDRS. Pencatatan penelusuran reaksi transfusi - Tanggal dan waktu diterimanya keluhan secara tertulis dari ruang perawatan - Hasil identifikasi kantong darah donor - Hasil pengecekan silang semua informasi permintaan darah pada arsip permintaan darah dengan identitas kantong darah donor - Hasil pemeriksaan ulang golongan darah donor dan pasien - Hasil pemeriksaan ulang uji silang serasi - Kesimpulan dugaan penyebab reaksi Pencatatan membubuhkan tanda tangan pemeriksa dan penanggung jawab BDRS - Pencatatan didokumentasikan Laporan penelusuran reaksi transfusi dikirimkan kepada tim keselamatan pasien di Rumah Sakit. Reaksi darah terdiri dari atas reaksi cepat. , reaksi lambat, penularan penyakit infeksi dan risiko transfusi masif. Pada reaksi cepat dibagi menjadi 3, reaksi akut ringan, sedang-berat, berat . embahayakan nyaw. Contoh kasus: reaksi yang disebabkan oleh hemolisis intravaskular akut, kontaminasi bakteri, syok septik, kelebihan cairan, anafilaksis dan gagal paru akut akibat transfusi (TRALI), reaksi yang ditimbulkan membahayakan nyawa ditemukan gejala gelisah, nyeri dada, nyeri di sekitar tempat masuknya infus, napas pendek, nyeri punggung, nyeri kepala, dan dispnea. Terdapat pula tanda-tanda kaku otot, demam, lemah, hipotensi . urun Ou20% tekanan darah . aik Ou20%), hemoglobinuria dan perdarahan yang tidak Tranfusi darah PRC lebih banyak mempengaruhi reaksi transfusi akut pada derajat sedang dan konstitusional. Volume 3. No 1. April 2020 sehingga dikenal sebagai Teorema Bayes. Teorema tersebut dikombinas ke kelas terntentu. Formulasi Nayve Bayes untuk klasifikasi P(Y|X) = P(Y|X) adalah probabilitas data dengan vector X pada kelas Y. P(Y) adalah probabilitas awal kelas Y. adalah probabilitas independden kelas Y dari semua fitur dalam vector X. Nilai P(X) selalu tetap sehingga dalam perhitungan prediksi nanti, tinggal menghitung dengan memilih yang terbesar sebagai kelas yang dipilih sebagai hasil Dengan Metode Nayve Bayes diharapkan mampu untuk menentukan kemungkinan terjadinya resiko reaksi darah pada pasien. 3 METODOLOGI PENELITIAN Skema Alur Penelitian Tahap awal pada penelitian ini yaitu studi literatur dilanjutkan dengan mengumpulkan data terjadinya reaksi transfusi, menggunakan data yang berasal dari formulir permintaan darah, catatan reaksi darah dan laporan tahunan BDRS tahun 2014 - 2018. Alur penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Untuk memastikan yang akan dikerjakan sesuai dengan studi literature yang sudah didapat sebelumnya, maka dilakukan pontensi dan masalah yang akan Dikarenakan penelitian yang diambil ialah spk maka dilakukan studi pendahuluan kepada pakar, untuk memastikan penelitian dapat dilanjutkan dan sesuai dengan pendapat pakar. 2 Naive Bayes Naive Bayes adalah pengklasifikasi statistik. Naive Bayes bisa memprediksi probabilitas kelas keanggotaan seperti probabilitas yang dimiliki tuple tertentu . Metode probabilitas dan statistik yang dikemukan oleh ilmuwan Inggris Thomas Bayes, yaitu memprediksi peluang di masa depan berdasarkan pengalaman dimasa sebelumnya ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. Gambar 1. Alur penelitian. JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire Setelah mendapat persetujuan dengan pakar maka dapat dilanjutkan untuk melakukan analisis data yang dilanjutkan dengan membangun rancangan spk penentuan resiko reaksi darah. Kemudian di implementasikan dan dilanjutkan dengan berkonsultasi kembali dengan pakar. Jika tidak sesuai dengan hasil konsultasi pakar maka kembali membangun rancangan spk penentuan reaksi darah. Volume 3. No 1. April 2020 Bagian input data uji silang cocok serasi akan dilanjutkan dengan proses NBC. Dari NBC probalitasnya. Hasil dari probalitas tersebut akan menjadikan dasar dari keputusan penentuan rekomendasi, kemungkinan akan terjadinya reaksi darah melalui peringatan atau Jika SPK tidak terjadi reaksi darah dapat langsung diberikan ke pasien. Ketika muncul alert, transfusi tetap dilakukan dengan penanganan pratransfusi hal ini disebabkan transfusi digunakan sebagai pengobatan dan Penanganan pratranfusi bisa juga dilakukan pada darah yakni dengan penggunaan produk darah yang dimanipulasi, lekoreduksi, trombosit aferesis dari donor tunggal dan iradiasi yang dapat dipertimbangkan untuk mengurangi resiko terjadinya reaksi transfusi. Pembahasan Gambar 2. Alur pelayanan BDRS Hasil dari spk yang sudah dilakukan akan ditambahkan ke alur pelayanan BDRS, yang dapat dapat dilihat pada Gambar 2. Untuk meningkatkan keamanan pelayanan transfusi Gambaran sistem reaksi darah dapat dilihat pada gambar 3, sistem reaksi darah hanya berlaku pada hasil uji silang AucocokAy saja. Karena jika hasil tidak cocok sudah pasti tidak diberikan kepada pasien. Sistem reaksi darah dimulai dari input data uji cocok serasi dengan hasil uji silang dengan hasil AucocokAy. Meskipun dengan hasil AucocokAy memungkinkan terjadi reaksi darah pada pasien tertentu. Penyebab reaksi yang bermacam-macam dan pengelolaan catatan reaksi darah yang masih manual, tidak dapat memprediksi reaksi darah. Maka dari itu sangat di butuhkan sistem yang dapat mengelola data reaksi darah. Gambar 3. Gambaran umum SPK reaksi ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. Pada saat studi literatur menemukan potensi dan masalah, belum ada penelitian yang membahas tentang reaksi darah yang dapat Hal ini diperkuat dengan pernyataan kutipan permenkes nomer 91 tahun 2015 AyMeskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk menyiapkan komponen darah secara aman, namun reaksi transfusi seringkali tidak dapat diprediksi sehingga harus selalu dipersiapkan upaya untuk penatalaksanaan secara koordinatif di Rumah Sakit. Dalam pelayanan darah dikenal istilah hemovigilanceAy. Dalam melakukan penelitian ini, terdapat tantangan dan kendala dalam merancang SPK penentuan resiko reaksi darah. Tantangan yang dihadapi yakni pengumpulan data. Data yang terdapat pada formulir permintaan darah terkadang tidak ditulis lengkap, sehingga peneliti harus membuka rekam medis pasien. Seperti mendapatkan data golongan darah pasien, pernah transfusi darah sebelumnya, jika sudah kapan dilakukan terakhir kalinya dan di diagnosis apa pada saat membutuhkan transfusi Catatan reaksi darah yang masih manual membuat petugas tidak dapat melakukan penelitian praktis terkait dengan pasien yang beresiko kemungkinan terjadi reaksi darah. Setiap 54 pasien akan terdapat 1 pasien yang beresiko kemungkinan terjadi reaksi darah. Pada saat meminta pendapat kepada pakar sangat sulit mendapatkan data reaksi darah secara utuh dan lengkap, hal itu dikarenakan pengisian yang tidak lengkap pada formulir permintaan darah. Pada tahun 2019 baru akan di lakukan pengumpulan reaksi darah pada wilayah Yogyakarta. Berdasarkan fakta tersebut peneliti JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire tidak dapat menyimpulkan penyebab terjadinya reaksi darah. Akan tetapi peneliti dapat berdasarkan data reaksi darah yang sudah terjadi pada kasus pasien sebelumnya. Dengan adanya SPK penentuan resiko reaksi darah, dapat menurunkan terjadinya reaksi darah dan meningkatkan pelayanan darah. SPK yang akan diimplementasikan pada alur pelayanan BDRS. Gambar 2 tepat pada saat pelaksanaan penyerahan darah pada bangsal. Dalam mengklasifikasikan data reaksi darah, . yang digunakan yaitu : Jenis Kelamin. Merupakan variabel jenis kelamin pasien yang dikelompokkan dalam dua kategori yaitu laki laki dan perempuan. Volume 3. No 1. April 2020 Merupakan variabel riwayat tranfusi, pasien yang pernah mendapatkan tranfusi Riwayat transfusi. Subyek penelitian bersumber dari catatan reaksi darah dan rekam medis pasien. Terdapat 100 jumlah subyek pasien, untuk digunakan sebagai data training. Sedangkan untuk data test sebanyak 80 subjek pasien. Persiapan pasien untuk koleksi darah, perawatan yang harus dilakukan agar meminimalkan faktor fisiologis berkemungkinan mempengaruhi hasil uji Macam-macam faktor yang bisa mempengaruhi hasil uji diantaranya ialah jenis kelamin dan usia, yang merupakan variabel prekoleksi . TABEL1. Tabel karakteristik subyek penelitian No. Variabel Tidak Usia Merupakan variabel usia pasien yang dikelompokkan dalam beberapa katagori Masa balita Masa remaja Awal =12 Ae 16 tahun. Laki-laki Masa dewasa Awal =26- 35 tahun. Remaja Remaja Dewasa Dewasa Lansia Lansia Perempuan Masa Lansia Awal = 46- 55 tahun. Masa Lansia Akhir = 56 Ae 65 tahun. Masa Manula = 65 Ae sampai atas . Sifat Permintaan Merupakan variabel sifat permintaan darah yang dikelompokkan dalam 3 katagori yaitu Biasa. Cito dan GSH. Golongan darah pasien Merupakan variabel golongan darah pasien yang dikelompokkan menjadi 4 yaitu: AB dan O. Golongan darah pendonor Merupakan variabel golongan darah pendonor yang dikelompokkan menjadi 4 yaitu: AB dan O. Macam darah Merupakan variabel macam darah yang diminta pasien, dikelompokkan menjadi 4 yaitu: Whole Blood (WB) Packed Red Cell (PRC) Fresh Plasma (FP) Trombocytes Concentrate (TC) Pernah transfusi ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. %) . %) Masa remaja Akhir =17 Ae 25 tahun. Masa dewasa Akhir =36- 45 tahun. Jenis n=100 = 0 Ae 5 tahun. Masa kanak-kanak = 5 Ae 11 tahun. Reaksi Transfusi Usia n=100 Sifat n=100 Cito Biasa 17 . %) . %) . %)10 Golongan JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire Volume 3. No 1. April 2020 n=100 13 . %) . %) . %) . %)12 . %) . %)12 AB Golongan n=100 13 . %) . %) 14 . %) . %) 17 . %) . %) AB PRC Macam n=100 Tidak Pernah 34 . %) . %) 23 . %) . %) Tabel 1 merupakan data training yang akan digunakan untuk perhitungan NBC. Perhitungan dari NBC berhasil mengklasifikasikan 60 data dari 80 data. Pada tabel 2, dijelaskan klasifikasi iya terjadi dengan prediksi iya terjadi sebesar 39 sedangkan, klasifikasi iya terjadi dengan prediksi iya tidak terjadi sebesar 7. Klasifikasi tidak terjadi dengan prediksi iya terjadi sebesar 13 sedangkan, prediksi tidak terjadi dengan tidak terjadi sebesar Tabel 2 . Tabel Keputusan Perhitungan NBC No. True Iya_terja Pre Tida k_te Clas Tingkat ketepatan prediksi iya terjadi dan tidak terjadi mempunyai hasil yang sama yaitu sebesar 75%. Tingkat keberhasilan sistem dalam mendapatkan kembali sebuah informasi pada iya terjadi sebesar 84. 78% sedangkan tidak terjadi Hasil NBC Sehingga metode NBC dapat digunakan untuk menentukan resiko terjadinya reaksi Hasil dari NBC dapat dilihat pada Pasien dengan riwayat pernah melakukan transfusi dan terjadi reaksi darah, mempunyai resiko lebih tinggi dibandingkan yang belum pernah transfusi. Untuk mengurangi resiko terjadinya reaksi darah, pada pasien yang mempunyai riwayat sebelumnya, disarankan untuk menggunakan darah dari keluarga pasien karena kecocokan antigen Rhesus dan keluarga Penemuan ini akan sangat membantu pada kasus-kasus berikut ini : Pernah n=100 Pernah Pre Iya_ True Tidak_terj Class ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. Tranfusi darah mempunyai resiko terbesar jika pasien yang di tranfusi dengan darah yang AosalahAo . ebanyak dikarenakan clerical erro. Maka dari itu prosedur baku untuk mendapatkan sampel yang cocok, skrining infeksi dan Skrining infeksi menular melalui transfusi darah dan pemberian transfusi harus dilakukan secara ketat emergency. Dengan adanya SPK mengurangi resiko reaksi ringan menjadi reaksi akut. Kesalahan penafsiran akibat diskrepansi Permasalahan muncul ketika ada keluhan reaksi transfusi darah, yaitu keraguan dalam mendeteksi aglutinasi, beserta kesulitan dalam menentukan golongan darah. Kesalahan penafsiran akibat diskrepansi dapat mengancam jiwa SPK penentuan reaksi darah membantu pencegahan sebelum reaksi JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire terjadi sehingga meminimalisir kesalahan penafsiran akibat diskrepansi. Reaksi darah tidak dapat dicegah premedikasi. Maka dibutuhkan sistem yang mempunyai database dari kasus sebelumnya seperti Setiap kejadian reaksi, merugikan pasien pada transfusi darah atau produk berbentuk bungkusan darah harus dilaporkan kepada dokter yang merawat pasien sesegera mungkin. Dalam membuat laporan kecepatan sangat diperlukan karena kemungkinan mengancam kehidupan akibat reaksi tranfusi akut. Adanya sistem penentuan reaksi darah merupakan Tampilan rancangan halaman keamanan dalam pengelolaan dan juga untuk memberikan kemudahan bagi pengguna. GAMBAR 4. TAMPILAN RANCANGAN LOGIN Halaman awal akan menampilkan form login, untuk mengidentifikasi user pemakai adalah benar-benar petugas yang berkewajib dan juga login disini mengetahui siapa user yang Gambar 5. Tampilan rancangan halaman Setelah melalui login, dilanjutkan dengan ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. Volume 3. No 1. April 2020 menampilkan nama petugas dan NIP yang melakukan login. Dengan Konsep sederhana agar lebih memudahkan user memahami cara GAMBAR 6. TAMPILAN RANCANGAN INPUT DATA Halaman ini adalah untuk melakukan iput data pasien. Terdapat field yang harus diisi sesuai keadaan pasien dan sesuai administrasi. GAMBAR 7. TAMPILAN RANCANGAN DATA REAKSI DARAH Halaman data merupakan hasil dari input data yang sudah dilakukan dan nantinya bisa dijadikan untuk penelitian praktis oleh petugas, atau data permanen untuk data penelitian Terdapat data nama, jenis kelamin, usia, sifat, permintaan, golongan darah, pendonor, macam darah, riwayat transfusi, dan reaksi darah. Kesimpulan Hasil Naive Bayes Classification (NBC) menunjukan tingkat akurasi sebesar 75%. Kesimpulan kemungkinan terjadi reaksi darah dapat dideteksi secara dini, dapat dilakukan oleh SPK penentuan reaksi darah, untuk saat ini data tetang resiko kemungkinan reaksi darah masih susah didapatkan dan baru saja mau memulai mengumpulkan data tersebut didaerah Jogja menurut pakar yang saya temui langsung yaitu dr. Woro Umi Ratih. Sp. PK. 6 Ucapan Terima kasih Dengan Mengucap Allhamdullilah paling pertama karna dengan kehendaknyalah jurnal ini selesai, lalu saya ucapkan kepada pakar yang mau meluangkan waktu kepada saya yaitu dr. Woro Umi Ratih. Sp. PK, dan kedua dosen saya Dr. Sri Kusumadewi. Si. dan dr. Linda JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire Rosita. Kes. Sp. PK. Serta kepada teman saya yang banyak membantu meluangkan waktunya membantu menemani dalam pencarian data di beberapa rumah sakit Tri Mukti Lestari S. Kom. Lebih khusus terimakasih kepada semua editor jire (Jurnal Informatika dan Rekayasa Elektroni. yang tidak saya ketahui nama Daftar Pustaka: