JUKEKE Vol 2 No. 2 | Juni 2023 | ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 15-21 DETERMINAN KEJADIAN DROP OUT PENGGUNAAN KONTRASEPSI PADA PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DI KABUPATEN SINTANG Rizki Amartani1. Paskalia Tri Kurniati2. Yolanda Montessori3. Yunida Haryanti4. Arum Seftyana Lestari5. Lea Masan6. Elvi Juliansyah7 1,2,3,4,5,6,7 STIKes Kapuas Raya Article History Received : Mei 2023 Revised : Juni 2023 Accepted : Juni 2023 Published : Juni 2023 Corresponding author*: rizkiamartani@gmail. No. Contact: Cite This Article: Amartani. AuDETERMINAN KEJADIAN DROP OUT PENGGUNAAN KONTRASEPSI PADA PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DI KABUPATEN SINTANGAy. JUKEKE, vol. 2, no. 2, pp. 15Ae21. Jun. DOI: https://doi. org/10. 56127/jukeke Amartani, et al Abstract: Contraceptive use is one of the strategies for population control, but the incontinence of contraceptive use is a problem that is as much as 27 percent of women discontinue use of contraception within 1 year. Higher dropout rates on nonlong-term contraceptive methods compared with long-term contraceptive methods. Acceptors who experience Drop Out in Sintang Regency is 13. 74 percent, morer than the target set by 10 percent. The purpose of this research is to find out the determinant related to the incidence of drop out of contraceptive use in the fertile couples in Sintang District in 2017. The type of this study was observational analytic, using case control design with sample 172 consisting of 86 cases and 86 controls. Case is fertile age couple which has been declared drop out since 1 year after using contraception for 5 years and control that is fertile age couple who still use contraception until done by research. The study was conducted from February to September 2017 with univariate and bivariate analysis with Chi-square statistical test. The result of bivariate analysis of maternal age . : 0,87. OR: 1,. , parity . : 0,047, p: 0,049. OR: 6,6. OR: 4,. , education level . : 0,958 , p: 0. 449, p: 0. OR: 0. OR: 1. OR: 1. , income level . OR: 1. , knowledge . : 1. OR: . Contraceptive methods . : 0. 036, p: 0. , types of IEC (Communication. Information, educatio. : 0. OR: 0. , contraceptive counseling . OR: 1. and contraceptive service quality . : 0. OR: 0. The conclusions of internal and external determinants related to the incidence of contraceptive users drop out are parity and contraceptive methods in Elderly Couple (EFA). Suggestion, it is expected to local government to increase public confidence to all contraceptive methods, in order to be used according to condition. Keywords: Determinan. Drop Out. Kontrasepsi. Abstrak: Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu strategi pengendalian populasi, namun inkontinensia penggunaan kontrasepsi menjadi masalah yaitu sebanyak 27 persen wanita menghentikan penggunaan kontrasepsi dalam waktu 1 Angka putus sekolah yang lebih tinggi pada metode kontrasepsi non-jangka panjang dibandingkan dengan metode kontrasepsi jangka panjang. Akseptor yang mengalami Drop Out di Kabupaten Sintang sebesar 13,74 persen, lebih besar dari target yang ditetapkan sebesar 10 persen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan yang berhubungan dengan kejadian drop out penggunaan kontrasepsi pada pasangan usia subur di Kabupaten Sintang Tahun 2017. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik, menggunakan desain case control dengan jumlah sampel 172 yang terdiri dari 86 orang. kasus dan 86 kontrol. Kasus adalah pasangan usia subur yang dinyatakan drop out sejak 1 tahun setelah menggunakan kontrasepsi selama 5 tahun dan kontrol yaitu pasangan usia subur yang masih menggunakan kontrasepsi sampai dilakukan penelitian. Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai September 2017 dengan analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi-Square. Hasil analisis bivariat umur ibu . : 0,87. OR: 1,. , paritas . : 0,047, p: 0,049. OR: 6,6. OR: 4,. , tingkat Pendidikan . : 0,958 , p: 0,449, p: 0,701. OR: 0,88. OR: 1,64. OR: 1,. , tingkat pendapatan . 0,988. OR: 1,. : 1. ATAU: . Metode kontrasepsi . : 0,036, p: 0,. , jenis layanan KIE (Komunikasi. Informasi. Edukas. : 0,408. OR: 0,. , konseling kontrasepsi . ,321 . OR: 1,. dan kualitas layanan kontrasepsi . : 0,768 . ATAU: 0,. Kesimpulan determinan internal dan eksternal yang berhubungan dengan kejadian drop out pengguna kontrasepsi adalah paritas dan metode kontrasepsi pada Pasangan Lanjut Usia (PUS). Saran, diharapkan kepada pemerintah daerah untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap semua metode kontrasepsi, agar dapat digunakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Kata Kunci: Determinan. Drop Out. Kontrasepsi. JUKEKE Vol 2 No. 2 | Juni 2023 | ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 15-21 PENDAHULUAN Masalah kependudukan merupakan masalah global yang menjadi perhatian Negara-negara di Dunia. Hal ini terlihat dengan adanya komitmen global untuk menekan laju pertumbuhan penduduk di Dunia dengan pendekatan kegiatan lokal negara tersebut. Negara-negara dengan tingkat kelahiran dan tingkat kematian tinggi, akses terhadap informasi dan pelayanan KB dianggap penting dalam upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals-SDG. , terutama untuk tujuan menjamin akses semesta kepada pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi termasuk Keluarga Berencana (KB), informasi dan edukasi, serta integrasi kesehatan reproduksi ke dalam strategi dan program nasional pada tahun 2030. Lebih dari 220 juta wanita di dunia ingin merencanakan keluarga dan masa depan mereka tetapi tidak menggunakan metode kontrasepsi modern. Memenuhi kebutuhan mereka akan kontrasepsi dapat menurunkan tingkat kehamilan yang tidak diinginkan, kematian ibu . erempuan meninggal karena hamil/melahirka. dan kematian bayi yang semuanya adalah target yang tercakup dalam SDGs keluarga berencana yang berperan besar dalam pencapaian SDGs. Program Keluarga Berencana (KB) telah berkontribusi terhadap penurunan tingkat kelahiran dan tingkat kematian, yang selanjutnya mengakibatkan penurunan tingkat pertumbuhan penduduk, terutama di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Program KB mempunyai arti yang sangat penting dalam upaya mewujudkan manusia Indonesia sejahtera di samping program pendidikan dan kesehatan. Undangundang No 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera yang kemudian di revisi dengan Undang-undang No 52 Tahun 2009 tentang perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menyebutkan bahwa Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas. Banyaknya jumlah wanita yang menggunakan metode kontrasepsi pada suatu waktu tertentu serta kelangsungan pemakaian kontrasepsi berdampak pada efektifitas suatu metode kontrasepsi untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Berdasarkan Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) yang dilakukan sejak tahun 1994, 1997,2007 dan 2012 untuk Nasional masing- masing menunjukkan 52,1 persen, 57,4 persen, 61,4 persen dan 58 persen wanita kawin usia 15-49 tahun menggunakan metode kontrasepsi modern. Diantara cara KB modern yang dipakai yaitu suntik KB merupakan alat kontrasepsi terbanyak digunakan oleh wanita berstatus kawin . , diikuti oleh pil KB, hampir 14 persen. Peningkatan kualitas pelayanan keluarga berencana di Indonesia harus fokus dalam menjaga kelangsungan pemakaian metode kontrasepsi. Indikator penting untuk mengukur kualitas pemakaian kontrasepsi adalah angka putus pakai . rop ou. metode kontrasepsi. Penggunaan alat kontrasepsi oleh PUS (Pasangan Usia Subu. sangat penting tetapi banyak mengalami putus pakai . rop ou. Berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukan sebanyak 27 persen wanita yang memulai episode pemakaian kontrasepsi dalam lima tahun sebelum survey menghentikan pemakaian kontrasepsi dalam jangka waktu 1 tahun setelah memulai pemakaian kontrasepsi. Tingkat putus pakai lebih tinggi pada pil . , kondom . , dan suntikan . dibandingkan dengan metode jangka panjang seperti IUD . dan implant . Besarnya angka kejadian putus pakai, kegagalan cara/alat, atau ganti cara/alat dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa diperlukan perbaikan dalam pemberian bimbingan tentang pemilihan alat/cara kontrasepsi, pelayanan lanjutan dan penyediaan pelayanan yang lebih luas. Menurut Hartanto . untuk mengetahui usaha apa saja yang perlu dilaksanakan dalam usaha melestarikan peserta KB terlebih dahulu ditinjau faktor yang mempengaruhi kelestarian peserta KB. Faktorfaktor tersebut antara lain, yang berasal dari peserta KB itu sendiri, yaitu pengetahuan akseptor KB, kesadaran akseptor KB, kemudahan penggunaan alat kontrasepsi yang digunakan. Selain itu ada faktor-faktor yang berasal dari luar peserta KB, yaitu kontrasepsi, faktor palayanan kontrasepsi, suami peserta KB dan sahabat peserta KB. Ada beberapa faktor yang memiliki kecenderungan mempengaruhi angka ketidaklangsungan penggunaan kontrasepsi. Faktor-faktor tersebut yaitu jumlah anak, wilayah tempat tinggal, tingkat pendidikan dan tingkat kesejahteraan keluarga memiliki kecenderungan mempengaruhi ketidaklangsungan penggunaan kontrasepsi. Berdasarkan data BKKBPP Kabupaten Sintang jumlah peserta KB aktif sampai dengan Desember 2014 321 orang, peserta baru sampai dengan Desember 2015 sebanyak 25. 685 orang, peserta aktif 006, peserta aktif bulan ini 160. 000 orang dengan demikian peserta yang mengalami Drop Out sebanyak 22. 106 orang . ,74 perse. Angka ini masih belum memenuhi dari target yang telah ditetapkan yaitu 10 persen. Menurut Ikhsan,. drop out penggunaan alat kontrasepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor selain faktor individu dan lingkungan adalah faktor program yaitu pelayanan KIE (Komunikasi. Informasi, edukas. meliputi macam KIE KB dan macam konseling KB dan kualitas pelayanan kontrasepsi . eliputi pilihan metoda kontrasepsi, kemudahan pelayanan dan pemberian informas. Amartani, et al JUKEKE Vol 2 No. 2 | Juni 2023 | ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 15-21 Hasil penelitian Yelda, . menghasilkan bahwa karakteristik yaitu umur ibu dan jumlah anak memiliki hubungan yang signifikan dengan pergantian kontrasepsi. Pola pergantian kontrasepsi menurut umur adalah semakin tua umur ibu semakin rendah pergantian kontrasepsi. Sedangkan jumlah anak memiliki pola, semakin banyak jumlah anak maka semakin rendah pergantian kontrasepsi. Sedangkan tidak diketahuinya determinan yang paling dominan mempengaruhi kejadian drop out tersebut. Oleh karena itu dalam penelitian kali ini peneliti ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang paling dominan berhubungan dengan kejadian drop out penggunaan alat kontrasepsi di Kabupaten Sintang tahun 2016. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian analitik observasional dengan desain kasus kontrol. Kasus adalah PUS yang sudah dinyatakan drop out sejak 1 tahun setelah menggunakan alat kontrasepsi selama 5 tahun. Kontrol dalam penelitian ini diambil sebanding dengan kasus atau perbandingan kasus dan kontrol yaitu 1:1. Kelompok kontrol yaitu PUS yang masih menggunakan alat kontrasepsi sampai dengan dilakukan penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Pasangan Usia Subur (PUS) yang terdata di BKKBPP Kabupaten Sintang sampai dengan bulan Desember 2015. Sedangkan sampel yang diambil adalah PUS yang sudah dinyatakan drop out dan yang masih menggunakan alat kontrasepsi sebanyak 172 yang terdiri dari 86 kasus dan 86 kontrol yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Kriteria inklusi sebagai berikut: perempuan termasuk kategori PUS, sudah menyatakan berhenti menggunakan alat kontrasepsi dan bersedia menjadi Sedangkan kriteria ekslusinya adalah: tidak berada ditempat pada saat pengumpulan data. Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan melakukan pemilihan tidak berdasarkan peluang . on-probability samplin. Jenis pengambilan data yaitu sampling purposif . urposif samplin. Responden dalam penelitian ini adalah PUS yang dinyatakan sebagai kasus dan kontrol. Lokasi penelitian adalah di semua Kecamatan di wilayah Kabupaten Sintang Jawa Barat. Penelitian ini telah dilakukan selama 8 bulan, dimulai dari bulan Februari 2017 Ae September 2017. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas sebagai determinan internal yaitu umur ibu, tingkat pendidikan, paritas, tingkat pendapatan, pengetahuan, kemudian untuk determinan dari eksternal PUS meliputi metode kontrasepsi, jenis pelayanan KIE (Komunikasi. Informasi, edukas. , konseling KB dan kualitas pelayanan Variabel terikatnya yaitu kejadian drop out penggunaan alat kontrasepi pada anak PUS. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis seperti disajikan pada Tabel 1 berikut : Tabel 1. Hasil analisis bivariat kejadian drop out pegguna alat kontrasepsi di Kabupaten Sintang Drop Out KB Nilai Total Tidak Umur 15-34 tahun 0,878 1,04 35-49 tahun Pendidikan 0,958 0,88 SMP Paritas Pendapatan Jenis pelayanan KIE Pengetahuan Amartani, et al 0,449 1,64 0,701 1,54 0,047 6,63 0,049 4,43 0,988 1,04 0,408 0,70 SMA Tidak Punya 1-2 anak Ou 3 anak Rendah < Tinggi Ou Konseling Penyuluhan Baik 50,88 40,40 56,00 28,00 49,12 59,60 JUKEKE Vol 2 No. 2 | Juni 2023 | ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 15-21 Konseling KB Metode Kontrasepsi Kualitas Kurang Tidak MKJP Non MKJP Baik Kurang 0,321 1,48 0,036 0,47 0,768 0,86 PEMBAHASAN Peningkatan kualitas pelayanan keluarga berencana di Indonesia harus fokus dalam menjaga kelangsungan pemakaian metode kontrasepsi. Indikator penting untuk mengukur kualitas pemakaian kontrasepsi adalah angka putus pakai . rop ou. metode kontrasepsi. Penggunaan alat kontrasepsi oleh PUS (Pasangan Usia Subu. sangat penting tetapi banyak mengalami putus pakai . rop ou. Berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukan sebanyak 27 persen wanita yang memulai episode pemakaian kontrasepsi dalam lima tahun sebelum survey menghentikan pemakaian kontrasepsi dalam jangka waktu 1 tahun setelah memulai pemakaian kontrasepsi. Tingkat putus pakai lebih tinggi pada pil . , kondom . , dan suntikan . dibandingkan dengan metode jangka panjang seperti IUD . dan implant . Besarnya angka kejadian putus pakai, kegagalan cara/alat, atau ganti cara/alat dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa diperlukan perbaikan dalam pemberian bimbingan tentang pemilihan alat/cara kontrasepsi, pelayanan lanjutan dan penyediaan pelayanan yang lebih luas. Drop out kontrasepsi adalah akseptor yang keluar dari sistem penggunaan kontrasepsi. Akseptor drop out adalah akseptor yang menghentikan pemakaian kontrasepsi lebih dari 3 bulan2. Drop out merupakan keluar/Tidak ber- KB/tidak memakai alat kontrasepsi sesuai dengan tujuan diantaranya Ingin Anak Segera (IAS). Ingin Anak Ditunda (IAT), dan Tidak Ingin Anak (TIA). Drop out KB Pasca Salin adalah keluar dari Akseptor pemakai KB Pasca Salin sebelum masa berlakunya habis. Drop out IUD Pasca Plasenta adalah melepas IUD pasca Plasenta sebelum 10 tahun dari pemasangan IUD. Seorang ibu yang melepas IUD sebelum 2-10 tahun masa ektifitas IUD dikatakan Drop Out IUD. Dampak yang ditimbulkan dari meningkatnya angka drop out KB ini adalah meningkatnya jumlah penduduk sehingga akan berdampak pada tingkat kesejahteraan, kualitas pendidikan dan kesehatan sehingga akan meningkatkan kualitas penduduk2. Berdasarkan data BKKBPP Kabupaten Sintang jumlah peserta KB aktif sampai dengan Desember 2014 sebanyak 157. 321 orang, peserta baru sampai dengan Desember 2015 sebanyak 25. orang, peserta aktif seharusnya 183. 006, peserta aktif bulan ini160. 000 orang dengan demikian peserta yang mengalami Drop Out sebanyak 22. 106 orang . ,74 perse. Angka ini masih belum memenuhi dari target yang telah ditetapkan yaitu 10 persen. Drop out penggunaan alat kontrasepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor selain faktor individu dan lingkungan adalah faktor program yaitu pelayanan KIE (Komunikasi. Informasi, edukas. meliputi macam KIE KB dan macam konseling KB dan kualitas pelayanan kontrasepsi . eliputi pilihan metoda kontrasepsi, kemudahan pelayanan dan pemberian informas. Pada analisa bivariat ini dijelaskan hasil tabulasi silang (Crosstab. antara variabel independen yaitu umur ibu, tingkat pendidikan, pekerjaan, paritas, tingkat pendapatan, pengetahuan, kemudian untuk determinan dari eksternal PUS meliputi metode kontrasepsi, jenis pelayanan KIE (Komunikasi. Informasi, edukas. , konseling KB dan kualitas pelayanan kontrasepsi terhadap variabel dependen yaitu kejadian drop out penggunaan alat kontrasepi pada PUS. Terkait dengan variabel umur, umur adalah lama waktu hidup atau ada sejak dilahirkan. Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa umur aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 Adapun interval umur menurut identifikasi kesehatan repoduksi menurut WHO yaitu < 20 tahun adalah risiko, 20-35 tahun adalah usia reproduksi, > 35 tahun adalah resiko tinggi. Semakin cukup umur tingkat pematangan dan kekuatan seseorangakan lebih matang dalam berpikir dan bekerja dari segi kepercayaan masyarakat yang lebih dewasa akan lebih percaya dari pada orang belum cukup tinggi Hal ini sebagai akibat dari pengalaman jiwa, semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan logis. Menurut Vintasari,. faktor yang mempengaruhi dropout akseptor KB IUD berdasarkan faktor umur diperoleh data Sebagian besar responden usia >35 tahun sebanyak 20 responden . ,6%). Berdasarkan hasil penelitian Indrawati . , umur istri>35 tahun memiliki odds ratio 2 kali lebih besar terjadi kejadian berhenti pakai kontrasepsi dibandingkan umur istri 21Ae35 tahun (OR adj 2,150. 95% CI = 2,041Ae2,. Tindakan PUSterhadap DO KB diawali dengan umur 39-49 tahun yang dropout sebanyak 35% yang hendaknya menjarangkan atau menghentikan kehamilan, hal ini menyebabkan pada masa ini kesehatan mulai turun. Amartani, et al JUKEKE Vol 2 No. 2 | Juni 2023 | ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 15-21 Hal ini sejalan dengan proporsi berhenti pakai pada PUS 10Ae49 tahun yang berstatus kawin sebesar Alasan terbanyak berhenti pakai penggunaan kontrasepsi adalah sudah tidak memerlukan lagi . %), ingin punya anak . %), takut efek samping . %) dan tidak menginginkan lagi . %). Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa berdasarkan data hasil penelitian yang didapatkan tidak terdapat hubungan antara umur ibu dengan kejadian drop out pengguna alat kontrasepsi pada anak PUS. Pendidikan adalah upaya persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakan- Tindakan . untuk memelihara . engatasi masalah-masalah dan meningkatkan kesehatanny. Jenjang Pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang akan dikembangkan. Jenjang pendidikan adalah tahapan Pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang akan dikembangkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian drop out pengguna alat kontrasepsi pada anak PUS di Kabupaten Sintang tahun 2016 dengan . =0,. Pekerjaan adalah pencaharian yang dijadikan pokok penghidupan atau sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah. Pekerjaan berhubungan erat dengan interaksi dengan orang lain. Jenis pekerjaan menuntut seseorang untuk berinteraksi secara intens dengan orang yang mempunyai kemungkinan adanya transfers on knowledge. Hasil penelitian menunjukan bahwa pekerjaan PUS tidak memiliki hubungan dengan kejadian drop out pengguna alat kontrasepsi pada PUS. Sehingga, meskipun responden dibedakan menjadi kategori bekerja dan tidak bekerja hal ini tidak memengaruhi responden dalam memilih tidak menggunakan alat kontrasepsi. Paritas adalah jumlah kelahiran yang pernah dialami ibu termasuk keguguran, kelahiran bayi hidup maupun mati. Paritas adalah status seorang wanita yang berhubungan dengan jumlah anak yang pernah Paritas adalah jumlah kehamilan yang dilahirkan atau jumlah anak yang dimiliki baik dari hasil perkawinan sekarang atau sebelumnya. paritas yaitu jumlah kelahiran yang pernah dialami ibu . ermasuk keguguran, kelahiran bayi hidup maupun kelahiran dengan bayi mat. Klasifikasi paritas diantaranya : . Primipara yaitu seorang wanita. Wanita yang telah melahirkan seorang anak yang cukup besar untuk hidup di dunia luar . atur/prematu. , . Multipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan 2-4 kali dan . Grandepara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan lebih dari 4 kali. Faktor yang memengaruhi ibu untuk melakukan drop out alat kontrasepsi oleh paritas responden di antaranya adalah ingin punya anak lagi, masalah kesehatan ibu dan kemungkinan ibu merasa tidak perlu karena ibu memilih MAL (Metode Amenorhe Laktas. selama 6 bulan. Sehingga Ibu memilih drop out daripada menggunakan. Pemakaian KB Aktif dikarenakan masih masa MAL . bulan ASI ekslusi. karena dirasakan memakai salah satu alat kontrasepsi kurang nyaman dan memilih drop out sebelum 6 bulan karena memilih amennorhe laktas. Berdasarkan hasil uji Chi-Square menunjukan bahwa nilai p=0,047 lebih kecil dari = 0,05, yang artinya terdapat hubungan antara Paritas yang punya anak dan anak >3 dengan kejadian drop out pengguna alat kontrasepsi pada anak PUS. Tingkat pendapatan adalah total jumlah pendapatan dari semua anggota keluarga. Pendapatan keluarga yang rendah secara tidak langsung berkibat pada rendahnya kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rendahnya tingkat pendapatan keluarga akan sangat berdampak rendahnya daya beli keluarga. Tingkat pendapatan tidak memengaruhi alasan responden dalam memilih untuk melakukan drop out penggunaan alat kontrasepsi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pendapatan PUS dengan dengan kejadian drop out pengguna alat kontrasepsi pada anak PUS. Jenis pelayanan KIE yang diteliti terbagi menjadi pelayanan konseling dan penyuluhan. Komunikasi kesehatan adalah usaha sistematis untuk mempengaruhi perilaku positif dimasyarakat, dengan menggunakan prinsip dan metode komunikasi baik menggunakan komunikasi pribadi maupun komunikasi massa. Informasi adalah keterangan, gagasan maupun kenyataan yang perlu diketahui masy . esan yang disampaika. Edukasi adalah proses perubahan perilaku ke arah yang positif. Pendidikan Kesehatan merupakan kompetensi yang dituntut dari tenaga kesehatan karena merupakan salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap memberikan pelayanan kesehatan. Pelayanan KIE oleh petugas kesehatan diperlukan untuk meningkatkan jumlah akseptor KB. Hasil penelitian Herlinawati,. bahwa ada pengaruh macam KIE KB terhadap drop out . =0,024, ada pengaruh macam konseling KB terhadap drop out . =0,0. , ada pengaruh pelayanan KIE KB terhadap drop out . =0,0. Hal ini berlawanan dengan penelitian kami yang menunjukan hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis pelayanan KIE dengan kejadian drop out pengguna alat kontrasepsi pada anak PUS. Pengetahuan adalah keseluruhan fakta, kebenaran azas dan ketenangan yang diperoleh manusia. Pengetahuan menunjukan pada hal-hal yang diketahui sedangkan dalam kitab klasik ilmu logika, pengetahuan didefinisikan sebagai suatu gambaran objek-objek eksternal yang hadir dalam pikiran manusia. Amartani, et al JUKEKE Vol 2 No. 2 | Juni 2023 | ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 15-21 Pengetahuan tentang segi positif dan segi negatif dari program KB tersebut akan menentukan sikap orang terhadap program KB. Secara teoritis bila segi positif program KB lebih banyak dari segi negatifnya, maka sikap yang positiflah yang akan muncul. Sebaliknya bila segi negatif dari program KB lebih banyak dari segi positifnya, maka sikap yang negatiflah yang akan muncul. Bila sikap positif terhadap program KB telah tumbuh, maka besar kemungkinan bahwa seseorang akan mempunyai niat untuk mengikuti program KB. Namun bila sikap negatif yang tumbuh, maka akan kecil kemungkinan seseorang akan memiliki niat untuk ikut program KB. Apakah niat ini selanjutnya akan menjadi kenyataan sangat tergantung pada beberapa faktor lain. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejadian drop out pengguna alat kontrasepsi pada anak PUS. Hal ini sejalan dengan peneliyian yang dilakukan oleh Rujianto dengan hasil diperoleh hubungan yang negatif antara tingkat pengetahuan terhadap kejadian Drop Out kontrasepsi suntikan. Konseling KB adalah proses yang berjalan dan menyatu dengan semua aspek pelayanan Keluarga Berencana dan bukan hanya informasi yang diberikan dan dibicarakan pada satu kesempatan yakni pada saat pemberian pelayanan. Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan KB dan KR. Dengan melakukan konseling berarti petugas membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai dengan pilihannya. Disamping itu dapat membuat klien merasa lebih Konseling yang baik juga akan membantu klien dalam menggunakan kontrasepsinya lebih lama dan meningkatkan keberhasilan KB. Konseling juga akan mempengaruhi interaksi antara petugas dan klien karena dapat meningkatkan hubungan dan kepercayaan yang sudah ada. Namun sering kali konseling diabaikan dan tidak dilaksanakan dengan baik, karena petugas tidak mempunyai waktu dan mereka tidak mengetahui bahwa dengan konseling klien akan lebih mudah mengikuti nasihat. Konseling yang diberikan oleh tenaga kesehatan juga akan memengaruhi transfer on knowledge dalam hal penggunaan alat kontrasepsi responden. Berdasarkan data yang diteliti didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara dilakukan konseling dengan kejadian drop out pengguna alat kontrasepsi pada PUS. Proporsi berhenti pakai pada PUS 10Ae49 tahun yang berstatus kawin sebesar 32%. Alasan terbanyak berhenti pakai penggunaan kontrasepsi adalah sudah tidak memerlukan lagi . %), ingin punya anak . %), takut efek samping . %) dan tidak menginginkan lagi . %). Metode Kontrasepsi yang diteliti terbagi menjadi dua yaitu Metode KB Jangka Panjang (MKJP) adalah alat kontrasepsi yang digunakan untuk menunda kehamilan, serta menghentikan kesuburan, yang digunakan dengan jangka panjang, yang meliputi IUD . lat kontrasepsi dalam rahi. implan dan kontrasepsi mantap. Sedangkan untuk non MKJP (Non Metode KB Jangka Panjan. adalah alat kontrasepsi yang digunakan dalam jangka waktu berkala atau pendek seperti metode alat kontrasepsi suntik/pil. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti yaitu terdapat hasil bahwa terdapat hubungan antara metode alat kontrasepsi dengan kejadian drop out pengguna alat kontrasepsi pada PUS. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Barus, . yang menunjukkan bahwa pengguna kontrasepsi implant drop out disebabkan oleh karena adanya keluhan klinis seperti sakit kepala, penurunan berat badan, kenaikan berat badan, lemas, gangguan haid dan mual sampai mengganggu aktifitas sehari-hari. Penyebab lain mengapa pengguna implant drop out karena kurangnya pengetahuan tentang alat kontrasepsi yang digunakan serta kepada para petugas kesehatan untuk dapat memberikan penyuluhan tentang alat KB yang akan digunakan untuk dapat menekan laju pertumbuhan penduduk Kualitas Layanan Kontrasepsi menentukan keberhasilan program Keluarga Berencana Nasioanal yang tidak hanya diukur dari peningkatan peserta program, tetapi juga efektivitas dan durasi pemakaian kontrasepsi. Kualitas layanan kontrasepsi terdiri dari kualitas layanan kontrasepsi baik dan kualitas layanan kontrasepsi Berdasarkan hasil uji Chi-Square yang dilakukan oleh peneliti didapatkan nilai p=0,768 lebih besar dari = 0,05, artinya tidak ada hubungan antara kualitas layanan kontrasepsi dengan kejadian drop out pengguna alat kontrasepsi pada anak PUS. Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian 21Herlinawati . bahwa terdapat pengaruh kualitas pelayanan kontrasepsi terhadap drop out . =0,. serta probabilitas terjadinya sebesar 38% pada akseptor KB yang memperoleh konseling yang tidak lengkap dan informasi yang tidak memadai. KESIMPULAN Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara determinan internal yaitu umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dengan pada Pasangan Usia Subur (PUS) dengan kejadian drop out KB di Kabupaten Sintang, terdapat hubungan determinan internal yaitu paritas pada Pasangan Usia Subur (PUS) dengan kejadian drop out KB di Kabupaten Sintang, tidak terdapat hubungan antara determinan eksternal yaitu jenis pelayanan, pengetahuan, konseling KB dan kualitas layanan kesehatan pada PUS dengan kejadian drop out KB di Kabupaten Sintang dan terdapat hubungan determinan eksternal yaitu metode kontrasepsi pada PUS dengan kejadian drop out KB di Kabupaten Sintang. Rekomendasi bagi Dinas KB dan Amartani, et al JUKEKE Vol 2 No. 2 | Juni 2023 | ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 15-21 Pengendalian Penduduk, perlu upaya meningkatkan keyakinan masyarakat terhadap semua jenis/metode kontrasepsi, agar dapat digunakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan PUS. DAFTAR PUSTAKA