BIOMONITORING KUALITAS AIR SUNGAI MADIUN DENGAN BIOINDIKATOR MAKROINVERTEBRATA Joko Widiyanto. Ani Sulistyarsi. FP MIPA IKIP PGRI Madiun email: joko_widiyanto@ymail. email: anismasa81@yahoo. Abstract The objective of this research is to know the varieties of macro invertebrate species and water quality of the rivers in Madiun. The researcher used macro invertebrate as bio indicator. The result of the study can be used as references to the people to fulfill water need. This research used bio monitoring with macro invertebrate as bio indicator. The technique which was used in this research was purposes random sampling. The samples were taken from four differences places. They were taken from the upstream, the middle of the river, and the downstream. The samples were taken once in two weeks for two months. The researcher used Family Biotic Index (FBI) to analyze the data that was supported by physic and chemistry parameter. From the research that has been done in station 1, the researcher found one hundred and fifty species. FBI: 6, 58. It meant that the water quality was bad, with the highest pollution. In station 2, the researcher found two hundreds and seventy nine species. FBI: 6, 49, it meant that water quality was bad with the high pollution. station 3, the researcher found three hundred and forty two species. FBI = 6, 64. It meant that the water quality was bad, with the high pollution. And in station 4, the researcher found fifty one species FBI=6, 58, meant that the water quality was bad with the high pollution. Based on the macro invertebrate samples that were found in above, the researcher found t13n families were resistant to pollution. Keywords: Biomonitoring, bioindicator, macroinvertebrate PENDAHULUAN Kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun dewasa ini mengancam kelangsungan perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya sehingga perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang sungguh-sungguh dan konsisten oleh semua pemangku kepentingan. Air sungai mempunyai peranan yang sangat strategis dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sungai memiliki sifat dinamis, maka dalam pemanfaatannya dapat berpotensi mengurangi nilai manfaat dari sungai itu sendiri dan dampak lainnya dapat membahayakan lingkungan secara luas. Beberapa warga lokal yang tinggal di bantaran sungai melakukan mandi, membuang sampah, buang air kecil dan buang air besar di badan air Sungai Madiun, sehingga membutuhkan pengawasan lingkungan yang memadai untuk mencegah sungai menjadi tercemar. Biomonitoring adalah monitoring kualitas air secara biologi yang dilakukan dengan melihat keberadaan kelompok organisme petunjuk . yang hidup di dalam air. Sedangkan makroinvertebrata adalah hewan tidak bertulang belakang yang hidup di dasar air laut atau sungai yang menempel pada air maupun lumpur. Makroinvertebrata sebagai bioindikator karena hidup melekat pada substrat dan motilitasnya rendah sehingga dia tidak mudah bergerak berpidah. Menurut Rahayu . , biomonitoring adalah monitoring kualitas air secara biologi yang dilakukan dengan melihat keberadaan kelompok organisme petunjuk . yang hidup di dalam air. Sedangkan makroinvertebrata adalah hewan tidak bertulang belakang yang hidup di dasar air laut atau sungai yang menempel pada air maupun lumpur. Keuntungan dari menggunakan makroinvertebrata sebagai bioindikator karena hidup melekat pada substrat dan motilitasnya rendah sehingga dia tidak mudah bergerak Limbah-limbah dari aktivitas manusia banyak dibuang di aliran sungai, sehingga akan JURNAL LPPM Vol. 4 No. 1 Januari 2016 mencemari air sungai tersebut yang menyebabkan ekosistem sungai menjadi tidak seimbang. Menurut Sungai termasuk dalam ekosistem air Menurut Zoer'aini Djamal Irwan . menyebutkan bahwa ekosistem air tawar merupakan ekosistem dengan habitatnya yang sering digenangi air tawar yang kaya mineral dengan pH sekitar 6. Pencemaran air yang terjadi di sungai akan mengakibatkan ekosistem air menjadi tidak seimbang. METODE PENELITIAN Tempat pengambilan sampel adalah di Sungai Madiun yang melintasi kota Madiun. Sampel air dan makroinvertebrata bentik diambil pada 4 stasiun. Stasiun 1 terletak di bagian paling hulu yaitu daerah Kelurahan Josenan sampai stasiun 4 di bagian paling hilir di daerah Kelurahan Sogaten. Waktu penelitian adalah bulan Januari Ae Mei 2014. Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi. Observasi dilakukan di empat stasiun yaitu stasiun I. II, i dan IV. Setiap satu stasiun mempunyai panjang 10 meter, kemudian dibagi menjadi tiga sub stasiun. Pengambilan data diambil setiap 2 minggu sekali selama dua Penangkapan makroinvertebrata secara langsung dengan menggunakan tangan dan menggunakan alat. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain . karung plastik, tali, pinset, plastik kapasitas 1 kg, spidol permanent, karet gelang, kertas label, ballpoint, pensil, jaring, drift net, surber net, substrat buatan, cetok, linggis, cangkul, baki atau nampan, saringan, cawan petri, sarung tangan, saringan, botol, mikroskop, buku kunci determinasi, pH meter, kamera digital, handycam, steroform, stopwatch, secchi disck, termometer. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain . air, aquades dan alkohol 70%. Pemilihan lokasi pengambilan dengan teknik purposive random sampling, dengan cara menentukan stasiun pengambilan sampel, yaitu di bagian hulu di daerah Kelurahan Josenan, bagian tengah di daerah Kelurahan Manguharjo dan Kelurahan Winongo, dan di bagian hilir daerah Kelurahan Sogaten Tahap pengambilan data pendukung berupa parameter fisik dan kimia. Pada tahap ini, yang pertama dilakukan adalah mempersiapkan alat dan bahan. Parameter fisik yang diambil berupa kecepatan aliran, suhu, pH dan Tahap berikutnya adalah tahap pengambilan sampel, pemisahan sampel dan mengidentifikasi sampel yang ditemukan selama penelitian di setiap stasiun. Tahap terakhir dalam monitoring kualitas air adalah menganalisis data yang telah dikumpulkan untuk mendapatkan suatu nilai kuantitatif atau indeks. Indek penunjuk kualitas air dapat dihitung dengan beberapa cara, mulai dari cara yang sederhana hingga yang rumit. Analisis data yang dilakukan dalam biomonitoring kualitas air dengan metode Family Biotic Index (FBI). Menurut Prigi Arisandi . 2: C-. menyebutkan bahwa perhitungan nilai indeks biotik menggunakan rumus sebagai berikut: FBI = Keterangan: FBI = nilai indeks makroinvertebrata bentik = urutan kelompok familia yang menyusun komunitas makroinvertebrata xi = jumlah individu kelompok famili ke-i ti = tingkat toleransi kelompok famili ke-i N = jumlah seluruh individu yang menyusun komunitas makroinvertebrata. Interpretasi nilai biotik indeks untuk menentukan kualitas air dilakukan dengan mengikuti ketentuan yang sudah ada. Biomonitoring Kualitas Air Sungai Madiun dengan Bioindikator Makroinvertebrata . Tabel 1. Kualitas Air Berdasarkan Famili Biotik Indeks FAMILI BIOTIK KUALITAS AIR INDEKS 0,00 Ae 3,75 Sangat baik 3,76 Ae 4,25 Baik sekali 4, 26 Ae 5,00 Baik 5,01 Ae 5,75 Cukup 5,76 Ae 6,50 Agak buruk 6,51 Ae 7,25 Buruk 7,26 Ae 10,00 Buruk sekali Sumber: Hilsenhoff . HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dari TINGKAT PENCEMARAN Tidak terpolusi bahan organik Sedikit terpolusi bahan organik Terpolusi beberapa bahan organik Terpolusi agak banyak Terpolusi banyak Terpolusi sangat banyak Terpolusi berat bahan organik 4 stasiun pengambilan sampel diperoleh data sebagai berikut : Tabel 2. Hasil Pengamatan Fisik Parameter Kecepatan aliran Kekeruhan Suhu Stasiun I 0,025 m/s 20,5 cm Stasiun II 0,033 m/s 25 cm Stasiun i 0,1 m/s 27,5 cm Stasiun IV 0,066 m/s 35 cm Tabel 3. Hasil Pengamatan Makroinvertebrata pada Stasiun I Berdasarkan Family Biotic Indeks (FBI) NO. FAMILI Caneidae Ephemerilidae Gomphidae Perlidae Ancylidae Thiaridae Bithyniidae Viviparidae Sphaeriidae Parathelphussidae Jumlah JUMLAH Berdasarkan data tabel di atas nilai perhitungan Family Biotic Indeks (FBI) pada stasiun I adalah sebagai berikut : FBI = Xi x ti = 6,58 TOLERANSI Xi*ti Jadi, hasil perhitungan FBI untuk stasiun I termasuk dalam kategori kualitas air buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi sangat JURNAL LPPM Vol. 4 No. 1 Januari 2016 Tabel 4. Hasil Pengamatan Makroinvertebrata pada Stasiun II Berdasarkan Family Biotic Indeks (FBI) NO. FAMILI Ephemerilidae Gomphidae Perlidae Ancylidae Thiaridae Bithyniidae Viviparidae Sphaeriidae Parathelphussidae Jumlah JUMLAH (X. Berdasarkan data tabel di atas nilai perhitungan Family Biotic Indeks (FBI) pada stasiun II adalah sebagai berikut : FBI = Xi x ti = 6,49 TOLERANSI Xi*ti Jadi, hasil perhitungan FBI untuk stasiun II termasuk dalam kategori kualitas air buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi sangat banyak. Tabel 5. Pengamatan Makroinvertebrata pada Stasiun i Berdasarkan Family Biotic Indeks (FBI) NO. FAMILI Caneidae Ephemerilidae Gomphidae Perlidae Ancylidae Thiaridae Bithyniidae Viviparidae Sphaeriidae Cordulegastridae Chlorocyphidae Parathelphussidae Jumlah JUMLAH (X. Berdasarkan data tabel di atas nilai perhitungan Family Biotic Indeks (FBI) pada stasiun i adalah sebagai berikut : FBI = Xi x ti = 6,64 TOLERANSI Xi*ti Jadi, hasil perhitungan FBI untuk stasiun i termasuk dalam kategori kualitas air buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi sangat banyak. Biomonitoring Kualitas Air Sungai Madiun dengan Bioindikator Makroinvertebrata . Tabel 6. Pengamatan Makroinvertebrata pada Stasiun IV Berdasarkan Family Biotic Indeks (FBI) NO. FAMILI Gomphidae Ancylidae Thiaridae Bithyniidae Viviparidae Sphaeriidae Parathelphussidae Jumlah JUMLAH (X. Berdasarkan data tabel di atas nilai perhitungan Family Biotic Indeks (FBI) pada stasiun IV adalah sebagai berikut : FBI = Xi x ti = 6,58 Jadi, hasil perhitungan FBI untuk stasiun IV termasuk dalam kategori kualitas air buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi sangat Dari penelitian berdasarkan parameter kimia yaitu pH, di stasiun I. II, i dan IV masih berada di kisaran angka 7. Menurut Permenkes RI Nomor 416/MENKES-/PER/IX/1990, pH 6,5-9,0 masih memenuhi standart kualitas air Pada stasiun I. II, i dan IV masih ditemui biota-biota air yang mampu bertahan hidup, namun menunjukkan jumlah dan jenis biota yang berbeda. Menurut Wisnu Arya Wardhana . 4: . yang menyatakan bahwa Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar 6,5-7,5. Air limbah dan bahan buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke sungai akan mengubah pH air yang pada akhirnya dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam air. Parameter pendukung selain parameter kimia adalah parameter fisik meliputi suhu, kecepatan aliran, dan kekeruhan. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, suhu di stasiun I 250C, stasiun II 260C, stasiun i 250C dan stasiun IV 250C. Dari hasil penukuran tersebut, suhu masih memenuhi standart kualitas air bersih menurut Permenkes RI Nomor TOLERANSI Xi*ti 416/MENKES/PER/IX/1990 yaitu berkisar antara 200-260C. Suhu tertinggi berada di stasiun II. Suhu berhubungan erat dengan kadar DO (Dissolved Oxyge. dalam air. Hal ini didukung oleh pernyataan yang menyebutkan bahwa hubungan antara suhu air dan oksigen biasanya berkorelasi negatif, yaitu kenaikan suhu di dalam air akan menurunkan tingkat solubilitas oksigen dan, dengan demikian, menurunkan kemampuan organisme akuatis dalam memanfaatkan oksigen yang tersedia untuk berlangsungnya proses-proses biologi di dalam air (Chay Asdak, 2010: . Kecepatan aliran masing-masing stasiun berbeda-beda. Stasiun I memiliki kecepatan aliran 0,025 m/s, stasiun II memiliki kecepatan aliran 0,033 m/s, stasiun i memiliki kecepatan aliran 0,1 m/s dan stasiun IV memiliki kecepatan aliran 0,066 m/s. Stasiun i memiliki kecepatan aliran paling tinggi karena struktur sedimen sungai yang cenderung dangkal, bebatuan dengan dasar pasir dan kerikil. Pada stasiun I karakter sungainya datar, berlumpur campur pasir dengan kedalaman lebih dalam dibandingkan dengan stasiun lainnya, sehingga mempunyai kecepatan aliran yang relatif lebih rendah dengan stasiun Parameter fisik terakhir yaitu kekeruhan. Kekeruhan stasiun I paling tinggi yaitu 20,5 cm, stasiun II 25 cm, stasiun i 27,5 cm dan stasiun IV 35 cm Kekeruhan pada stasiun I paling tinggi karena pada stasiun tersebut sungainya berlumpur. JURNAL LPPM Vol. 4 No. 1 Januari 2016 Biomonitoring dilakukan dengan biondikator sebagai parameter utama dengan didukung parameter fisik dan kimia. Metode Family Biotic Index (FBI) merupakan metode perhitungan tingkat pencemaran suatu perairan dengan menggunakan indikator berupa keberadaan makroinvertebrata . nvertebrata berukuran besa. Total makroinvertebrata yang ditemuan di aliran Sungai Madiun sebanyak 12 Famili, yaitu. Caneidae. Ephemerilidae. Gomphidae. Perlidae. Ancylidae. Thiaridae. Bithyniidae. Viviparidae. Sphaeriidae. Parathelphussidae. Cordulegastridae dan Chlorocyphidae. Famili makroinvertebrata paling banyak secara berturut-turut mulai dari stasiun i. II dan IV. Berdasarkan hasil perhitungan FBI, stasiun I dengan nilai 6,58, yang berarti termasuk kategori kualitas air buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi sangat banyak. Makroinvertebrata dari famili Thiaridae dan Sphaeriidae ditemukan dengan jumlah yang paling banyak dibandingkan famili lain yang ditemukan di stasiun I, karena hewan famili ini memiliki nilai toleransi 7 artinya sangat tahan terhadap pencemaran, hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan Stevi Mardiani M . yang menyatakan bahwa famili Thiaridae merupakan kelompok makroinvertebrata yang tahan bahan pencemar. Pada stasiun II memiliki nilai FBI sebesar 6,49, berarti termasuk dalam kategori agak buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi banyak. Makroinvertebrata dari famili Thiaridae dan Ancylidae memiliki jumlah yang banyak pada stasiun ini dibandingkan famili lainnya. Stasiun i memiliki nilai FBI sebesar 6,64, berarti termasuk dalam kategori buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi sangat banyak. Miskipun Pada stasiun ini ditemukan jumlah species dan jumlah famili paling banyak yaitu 342 species dan 12 famili, namun memiliki indek FBI paling Makroinvertebrata dari famili Thiaridae dan Ancylidae memiliki jumlah yang paling banyak dibandingkan 12 famili lainnya. Pada stasiun IV memiliki nilai FBI sebesar 6,58 yang berarti memiliki kategori yang sama dengan stasiun I. II dan i yaitu kategori buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi sangat banyak. Pada stasiun ini ditemukan paling sedikit species dan jumlah famili, yaitu 51 species dan 7 famili, dengan species paling banyak ditemukan pada famili Thiaridae selanjutnya famili Ancylidae. Berdasarkan hasil penelitian dengan bioindikator berupa makroinvertebrata, masingmasing stasiun memiliki jenis famili masingmasing yang toleran dengan kondisi perairan yang ada. Famili Thiaridae dari Ordo Gastropoda memiliki toleransi yang baik dengan kondisi perairan mulai dari yang tercemar ringan sampai berat. Namun untuk famili Ephemirilidae dan Perlidae sudah tidak ditemukan distasiun IV, karena hewan ini memiliki nilai toleransi 1 yang artinya tidak toleran atau sensitif terhadap perairan yang tercemar. Famili Thiaridae ditemui di semua stasiun dan mendominasi, karena famili ini termasuk makroinvertebrata yang tahan terhadap pencemaran. Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan Rotua Lelawati et al (Tanpa Tahu. menyatakan bahwa makroinvertebrata yang lebih tahan terhadap pencemaran seperti Chironomidae merah (Dipter. dan satu kerang-kekerangan, yaitu Thiaridae (Mesogastropod. muncul pada seluruh stasiun. Metode FBI mampu menilai tingkat pencemaran Sungai Madiun yang dibagi menjadi empat stasiun penelitian. Berdasarkan nilai FBI tersebut nilai FBI tertinggi adalah pada stasiun I, karena pada stasiun ini air telah melalui perkotaan, dimana semua limbah, baik limbah pabrik, limbah rumah tangga, limbah pasar, dan limbah rumah sakit bermuara di stasiun ini. Menurut Stevi Mardiani M. , . 2: . menyatakan bahwa apabila terdapat bahan pencemar dalam perairan, maka biota yang sangat peka akan hilang karena tidak mampu bertahan hidup. Sebaliknya biota yang sangat toleran, akan tetap dapat hidup pada kualitas air yang buruk. Setiap stasiun memiliki makroinvertebrata yang mendominasi keberadaan-nya, sehingga terlihat biota yang toleran terhadap kualitas air yang buruk atau tidak. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Biomonitoring Kualitas Air Sungai Madiun dengan Bioindikator Makroinvertebrata . makroinvertebrata dapat dijadikan bioindikator dalam melakukan biomonitoring Sungai Madiun. Metode Family Biotic Index (FBI) mampu menentukan kualitas air stasiun I. II, i dan IV. Makroinvertebrata yang ditemukan di aliran Sungai Madiun sebanyak 12 Famili, yaitu Caneidae. Ephemerilidae. Gomphidae. Perlidae. Ancylidae. Thiaridae. Bithyniidae. Viviparidae. Sphaeriidae. Parathelphussidae. Cordulegastridae dan Chlorocyphidae. Famili makroinvertebrata paling banyak secara berturut-turut mulai dari stasiun i. II dan IV Stasiun I memiliki nilai FBI sebesar 6,58 yang berarti termasuk dalam kategori buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi sangat banyak. Stasiun II memiliki nilai FBI sebesar 6,49 yang berarti termasuk dalam kategori agak buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi banyak. Stasiun i memiliki nilai 6,82 yang berarti termasuk dalam kategori buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi sangat Stasiun IV memiliki nilai 6,58 yang berarti termasuk dalam kategori buruk, dengan tingkat pencemaran terpolusi sangat banyak. Makroinvertebrata yang banyak ditemukan di seluruh stasiun adalah famili Thiaridae, sehingga dapat diketahui bahwa Famili Thiaridae mampu beradaptasi dengan kualitas air yang baik hingga sangat buruk. REFERENSI