Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Volume 6. Number 2, 2023, pp. ISSN: 2622-6022 (Onlin. DOI: 10. 30872/adjektiva. Copyright A 2023 by Author. Pemerolehan Morfem Afiks Pada Anak Usia 6-7 Tahun Endang Dwi Sulistyowati*. Widyatmike Gede Mulawarman. Devi Wahana Putri Universitas Mulawarman. Indonesia *Email: endang266dwis@gmail. ABSTRACT Masalah dalam penelitian ini adalah ujaran afiks yang diperoleh anak usia 6-7 tahun, dan bagaimana proses afiksasi pada anak usia 6-7 tahun. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak, catat, observasi, wawancara, serta teknik rekam. Sumber data penelitian ini adalah ujaran anak usia 6-7 tahun. Sedangkan analisis data yang digunakan teknik bagi unsur langsung (BUL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa afiks yang diperoleh anak usia 6-7 tahun ada 4 jenis yaitu, prefiks, infiks, sufiks, konfiks. Representasi pada anak usia 6-7 tahun dalam menggunakan afiks dipengaruhi oleh ucapan orang dewasa sehingga anak mengikuti dan mampu menggunakan afiks dengan varian bentuk yang benar dalam berkomunikasi. Hasil penelitian ini sebagai berikut. Pertama, afiks yang sudah dikuasai oleh anak usia 6-7 tahun ialah prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks. Hasil penelitian pemerolehan kata afiks ini merujuk pada aktivitas yang dilakukan anak dalam menghasilkan bahasa secara alami, diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi orang tua untuk lebih memperhatikan anaknya dalam perkembangan bahasa. Keywords: afiksasi, bahasa anak, pemerolehan bahasa Article History Received: 28 September 2023 Revised: 7 October 2023 Accepted: 19 October 2023 Published: 31 October 2023 Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. PENDAHULUAN Pemerolehan bahasa adalah proses manusia dalam memperoleh kemampuan untuk pemahaman dalam pengelolaan kata dengan tujuan komunikasi. Bahasa yang diperoleh dapat berupa bahasa lisan yang melibatkan vokal atau dapat pula bahasa isyarat. Jenis pemerolehan bahasa secara umum ada dua yaitu, pemerolehan bahasa pertama dan pemerolehan bahasa Untuk pemerolehan bahasa pertama yang dikuasai oleh anak ialah bahasa Ibu, juga biasa disebut sebagai bahasa asli. Kepandaian dalam bahasa pertama sangat penting untuk proses belajar berikutnya. Karena bahasa Ibu dianggap sebagai dasar cara berpikir pada anak. Kepandaian yang kurang dari bahasa pertama menyebabkan proses untuk belajar bahasa lain menjadi sulit. Oleh karena itu bahasa Ibu memiliki peran penting untuk pemerolehan bahasa pada anak. Pemerolehan bahasa juga menjadi suatu proses yang sangat panjang sejak anak belum mengenal bahasa sampai fasih berbahasa. Setelah bahasa Ibu diperoleh maka pada usia tertentu Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies anak akan memperoleh bahasa kedua yang ia kenal sebagai Khazanah pengetahuan yang baru, karena setiap anak memperoleh kemampuan berbahasa sejalan dengan perkembangannya. Dan setiap anak yang lahir sudah dilengkapi dengan alat yang disebut LAD (Language Acquisition Devic. yang diterjemahkan menjadi Piranti Pemerolehan Bahasa (M. Aris Akbar. Seorang anak tidak perlu menghafal dan menirukan pola-pola kalimat agar mampu menguasai bahasa itu. Piranti Pemerolehan Bahasa diperkuat oleh beberapa hal, yakni: . Pemerolehan bahasa anak mengikuti tahapan-tahapan yang sama. Tidak ada hubungan pemerolehan bahasa anak dengan tingkat kecerdasan. Pemerolehan bahasa tidak terpengaruh oleh emosi maupun motivasi. Pada masa pemerolehan tata bahasa anak di seluruh dunia sama saja. Si anak akan mampu mengucapkan suatu kalimat yang belum pernah didengar sebelumnya dengan menerapkan kaidah-kaidah tata bahasa yang tidak sadar diketahuinya melalui lingkungan pemakai bahasa tersebut dan kemudian dicamkan dalam Adapun ciri-ciri dari pemerolehan bahasa yakni yang pertama bersifat klasikal, adanya keterlibatan budaya, dan peranan usia pembelajaran. Menurut Huda . Pemerolehan Bahasa adalah proses alami di dalam diri seseorang menguasai bahasa. Pemerolehan Bahasa biasanya didapatkan dari hasil kontak verbal dengan penutur asli dilingkungan bahasa itu. Dengan demikian, istilah Pemerolehan Bahasa mengacu pada penguasaan bahasa secara tidak disadari dan tidak terpengaruh oleh pengajaran bahasa tentang sistem kaidah dalam bahasa yang dipelajari. Chomsky . alam Dardjowidjojo, 2012:. berpendapat bahwa pemerolehan bahasa itu bukan didasarkan pada nurture, tetapi pada nature. Anak memperoleh kemampuan untuk berbahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak tidak dilahirkan sebagai piring kosong, tabula rasa,tetapi ia telah dibekali dengan sebuah alat yang dinamakan Piranti pemerolehan Bahasa (Language Acquision Devic. Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa setiap manusia yang lahir dilengkapi dengan kemampuan berbahasa dengan dimilikinya alat yang disebut Chomsky sebagai Piranti pemerolehan bahasa (Language Acquisition Device atau disingkat LAD). Lingkungan tidak berpengaruh besar terhadap perkembangan bahasa anak. Selain itu, mustahil bagi seseorang untuk dapat menguasai bahasa dalam waktu singkat melalui peniruan jika tidak memiliki aspek sistem bahasa yang sudah ada pada manusia secara alamiah. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa pada anak berbeda serta ujarannya bersifat khas bila dibandingkan dengan ujaran orang dewasa. Oleh karena itu Pemerolehan bahasa pada anak juga dapat diartikan sebagai proses belajar bahasa secara alami yang didapat dilingkungan Dengan mulai mengenal penggunaan morferm yang digunakan sehari-hari. Pengenalan morferm sangat diperlukan karna Bahasa Indonesia merupakan bahasa Aglutinatif. morferm yang akan diteliti dalam penelitian ini ialah morferm afiks. perlu kita ketahui bahwa afiksasi merupakan salah satu aspek morfologi yang terpenting dalam Bahasa Indonesia, anak perlu menguasai sistem afiksasi Bahasa Indonesia. Dalam hal ini afiksasi bukan hanya dapat menghasilkan perubahan suatu morfem melainkan dapat mengubah makna morfem. berikut ini merupakan sebuah gambaran atau contoh tentang pemerolehan afiks pada ujaran anak sekolah dasar usia 6-7 Tahun. Percakapan antara Azka . dan Faza . awan tutu. saat bermain di rumah. Azka : AuMain apa. Faza?Ay Faza : AuAyo, kita main kelereng. Azka. Ay Azka : AuTapi aku lo ngantuk, mau tidur dulu aku. Faza. Ay Kata ngantuk yang terbentuk dari kata dasar /kantuk/ dan mendapat imbuhan . e-} menjadi mengantuk. Jika kata dasar bersuku awal /k-/ seperti /kantuk/, maka awal /k-/ akan hilang dan menjadi ngantuk. Proses ini bermula dari peletakan satuan afiks tertentu dan menjadi peristiwa menghasilkan kata. Pemerolehan ini ternyata terdapat dari apa yang mereka dengar sehari-hari yang digunakan oleh orang dewasa. dan perkembangan bahasa tersebut akan selalu meningkat sesuai dengan meningkatnya usia anak. Melalui bahasa, anak bisa mengekspresikan pemikirannya menggunakan bahasa sehingga orang lain dapat Sulistyowati. Mulawarman. Putri menangkap apa yang dipikirkan oleh anak dan menciptakan suatu hubungan sosial. Maka dari itu peneliti sangat ingin sekali mencari tahu bagaimana bentuk afiks lainnya yang diperoleh anak usia 6-7 Tahun. Karena pemerolehan bahasa anak bisa dipengaruhi oleh lingkungannya. Baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah atau pergaulan dengan teman. Anak usia 6-7 tahun sedang aktif-aktifnya menggunakan bahasa dan mengikuti bahasa yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu peneliti sangat tertarik untuk menelitinya dengan melibatkan 5 anak sebagai sampel, dengan menggunakan metode wawancara, observasi, dan catat. Ada beberapa alasan yang menjadi landasan untuk melakukan penelitian ini karena memang belum ada orang yang melakukan penelitian tentang pemerolehan bahasa pada anak khususnya tentang afiksasi, untuk mengetahui bagaimana bentuk afiks dan proses pembentukan kalimat dalam pemerolehan bahasa anak melalui afiksasi . Karena Anak usia 6-7 tahun banyak bersosialisasi dengan teman sebaya atau orang sekitarnya dan hal itu membuat mereka banyak menguasai kalimat bahasa Indonesia dan mampu menggunakan kalimat tersebut dengan tepat. METODE PENELITIAN Penelitian ini dititik beratkan untuk meneliti bentuk dan proses yang terdapat dalam pemerolehan afiks Bahasa Indonesia pada anak sekolah dasar usia 6-7 tahun dengan indikator sebagai berikut: . Dikatakan jenis afiks apabila suatu kata mengandung prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks. Proses afiksasi dalam pemerolehan bahasa pada anak sekolah dasar usia 6- 7 tahun ialah proses penambahan afiks pada sebuah bentuk dasar bahasa yang bertujuan untuk menghasilkan kata kompleks. Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu ( Sugiyono, 2008:2 ). Metode penelitian merupakan cara pemecahan masalah penelitian yang dilaksanakan secara terencana dan dengan maksud mendapatkan fakta dan simpulan agar dapat memahami, menjelaskan, meramalkan, dan mengendalikan keadaan (Syamsuddin, 2007:. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskritif. Metode penelitian deskritif adalah metode yang bertujuan membuat deskritif atau membuat gambaran, lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai data, sifat-sifat serta hubungan fenomena- fenomena yang diteliti, (Djajasudarma, 2010:. Penelitian ini menekankan pada gambaran secara objektif mengenai objek yang akan diteliti. Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai pengertian fokus penelitian. Fokus penelitian bermanfaat bagi pembatasan mengenai objek penelitian yang diangkat manfaat lainnya adalah agar peneliti tidak terjebak pada banyaknya data yang diperoleh di lapangan. Penentuan fokus penelitian lebih diarahkan pada pemerolehan afiks bahasa Indonesia anak sekolah dasar yang kisaran usianya 6-7 Tahun. Ini dimaksudkan untuk membatasi studi kualitatif sekaligus membatasi penelitian guna memilih mana data yang relevan dan mana data yang tidak relevan. PENYAJIAN DATA DAN PEMBAHASAN Afiksasi merupakan unsur yang ditempelkan dalam pembentukan kata dan dalam linguistik afiksasi bukan merupakan pokok kata melainkan pembentukan pokok kata yang baru. Sehingga para ahli bahasa merumuskan bahwa, afiks merupakan bentuk terikat yang dapat ditambahkan pada awal, akhir maupun tengah kata (Richards, 1. Analisis data dalam penelitian ini berdasarkan rumusan masalah yakni apa saja afiks yang diperoleh anak usia 6-7 Berdasarkan pembahasan mengenai pemerolehan afiks, telah diketahui bahwa afiks yang diperoleh anak usia 6-7 tahun ada 26 kata yang mengandung beberapa jenis afiks. Prefiks pemerolehan prefiks pada anak usia 6-7 tahun ditemukan sebanyak delapan kata prefiks . : /belajar/, /bermain/, /berhenti/, /bercerita/, /bertemu/ prefiks . er-} : /terlambat/, /terlanjur/, /terbiasa/, /terputus/ prefiks . e-} : /menulis/. Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies /menangis/, /melompat/ prefisk . i-} : /diantar/, /diambil/, /ditanya/ Infiks pemerolehan infiks pada anak usia 6-7 tahun ditemukan satu kata yaitu : /telunjuk/ Sufiks pemerolehan sufiks pada anak usia 6-7 tahun ditemukan tiga kata yaitu : sufiks {-. /warnai/ sufiks {-a. : /mainan/, /jalanan/, /lapangan/ sufiks {-ka. : /lemparkan/ Konfiks pemerolehan konfiks pada anak usia 6-7 tahun ditemukan sebanyak lima kata yaitu konfiks . i- -i. : /ditemanin/ konfiks . i- -ka. : /dimainkan/ konfiks . e- -a. : /kekecilan/ konfiks . er- -a. : /permainan/ Proses morfologis di atas bermula dari pelekatan satuan afiks tertentu dalam hal ini tidak lain adalah sebuah peristiwa di dalam menghasilkan kata. Hal ini sesuai yang dikemukakan Subroto . alam Dardjowidjojo, 1983:. bahwa ada kekaburan mengenai istilah kata sehingga Matthews . membedakan pengertian kata sebagai berikut: . kata adalah apa yang disebut kata fonologis atau ortografis, . kata adalah apa yang disebut leksem, . kata adalah apa yang disebut kata gramatikal. Selanjutnya. Subroto menjelaskan bahwa kata menurut pengertian . semata-mata didasarkan atas wujud fonologis atau wujud ortografisnya. Sedangkan kata menurut pengertian . berhubungan dengan konsep derivasi dan infleksi, sehingga apabila kita berbicara mengenai konsep leksem tidak bisa dipisahkan dari konsep derivasi dan Dalam temuan peneitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu seperti hasil penelitian Soenjono . yang meneliti perkembangan manusia memproduksi ujaran. Dimulai dari fonem, kata sampai pada makna yang kompleks. Hasil penelitian Desma . meneliti pemerolehan sintaksis sebagai bahasa pertama yang meliputi kosa kata, klausa dan kalimat. Hasil penelitian Ayu . meneliti pemerolehan afiks yang diujarkan oleh anak usia 2 tahun. Dalam hal ini, penulis menemukan kesamaan dalam pemerolehan bahasa. Oleh karena itu, penulis ingin melengkapi penelitian yang belum diteliti pada penelitian sebelumnya. Selain itu, penulis juga melengkapi dan memperjelas teori yang ada bahwa seiring perkembangan teknologi dan lingkungan dapat mempengaruhi pemerolehan bahasa yang dihasilkan oleh anak usia 6-7 tahun KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang dilakukan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan anak usia 6-7 tahun sudah dapat menguasai beragam jenis afiks. jenis afiks yang dikuasai anak yaitu prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks. Jenis-jenis afiks yang dikuasai sebagai berikut: . Prefiks . er-}, . er-}, . e-}, . i-}. Infiks {-e. Sufiks {-a. , {-. , {-ka. Konfiks . i- i. , . i- -ka. , . e- -a. , . er- -a. Anak usia 6-7 tahun sudah menguasai berbagai jenis afiks yang diperolehnya, tetapi anak usia 6-7 tahun memiliki jangkauan makna yang terbatas dalam menggunakan afiks. Reprsentasi pada anak usia 6-7 tahun dalam menggunakan afiks dipengaruhi oleh ucapan orang dewasa sehingga anak mengikuti dan mampu menggunakan afiks dengan varian bentuk yang benar dalam berkomunikasi. REFERENSI