JURNAL AWILARAS ISSN: 2407-6627 E-ISSN 2988-4098 | Beranda Jurnal: https://jurnal. id/index. php/awilaras/index Desember 2024 Volume 11 Nomor 1 Problematika Bunyi pada Instrumen Angklung Gantung dalam Pertunjukan Musik Aloysia Yuliana Widyaningsih. Dyah Murwaningrum Jurusan Karawitan. Prodi Angklung dan Musik Bambu Institut Seni Budaya Indonesia Bandung Jalan Buah Batu. Nomor 212 Bandung Email: dyah. murwaningrum@isbi. ABSTRAK Penelitian ini didasari oleh pertanyaan tentang minimnya penggunaan instrumen angklung gantung akhirakhir ini. Penurunan minat masyarakat pada angklung gantung dalam sebuah pertunjukan memantik penelitian ini untuk lebih jauh mencatat problematika apa saja yang muncul saat pertunjukan. Penelitian ini berupaya untuk menganalisa dan menelaah tentang instrumen angklung gantung sebagai instrumen musik yang dapat memenuhi tujuan komposisi musik. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnomusikologis. Pencarian data, teknik analisa dan pemaparan data dilakukan dengan metode penelitian kuantitatif dan Hasil penelitian ini berupa rangkuman problematika bunyi dari instrumen angklung gantung. Hasil dari penelitian ini dapat menjadi pijakan untuk penyempurnaan modifikasi instrumen ataupun penentuan seri microphone serta penentuan tata letak microphone di atas panggung. Kata kunci: angklung gantung, problematika bunyi, microphone ABSTRACT This research is based on inquiries into the recent minimal use of the angklung gantung instrument. Decreasing public interest in the angklung gantung in performances has sparked this study to document various issues that arise during performances. The research aims to analyze and examine the angklung gantung instrument as a musical instrument capable of fulfilling musical composition goals. The research employs an ethnomusicological approach. Data collection, analytical techniques, and data presentation are conducted using both quantitative and qualitative research methods. The findings of this research summarize sound issues related to the angklung gantung instrument. The results of this study can serve as a foundation for refining instrument modifications, determining microphone series, and establishing microphone placement on Keywords: : angklung gantung, sound issues, microphone Jurnal Awilaras | 25 A. PENDAHULUAN Teknologi menjadi pendukung bagi dunia seni, khususnya tradisi, namun di lain sisi penggunaan teknologi juga menjadi persoalan baru. Ketidaktepatan teknologi pada dunia seni, khususnya seni musik tradisi banyak disebabkan karena penggunaan teknologi yang mengabaikan estetika seni. Misalnya, saat teknologi tata audio digunakan hanya sebagai pengeras suara saja, tanpa memperhitungkan kepentingan-kepentingan lain dari bunyi yang dikeraskannya. Hal ini berdampak pada kualitas bunyi yang tidak sesuai dengan estetika pertunjukan. Sebagaimana pada instrumen nusantara lainnya, teknologi juga menyentuh instrumen Angklung merupakan instrumen idiophone berbahan bambu, yang menghasilkan bunyi dengan cara dipukul secara tidak langsung, atau sering disebut dengan istilah Audigetarkan atau digoyangkanAy. Salah jenis jenis angklung yang paling familiar adalah angklung yang dimainkan dengan cara dijinjing oleh pemainnya. Seiring perjalanan modifikasi instrumen, angklung juga memiliki beragam cara memainkan, misalnya angklung toel . ibunyikan dengan cara ditekan dengan jari atau tanga. , angklung takol . ibunyikan dengan cara dipukul dengan alat pemuku. , angklung gantung . ipasang dengan cara digantung dan digetarkan, tanpa harus menjinjin. Angklung bisa dikatakan sebagai primadona semua kalangan, yang saat ini masih terus menyebar luas dan disinyalir masih akan terus meluas. Angklung bukan hanya digunakan oleh orang Sunda buhun . , namun juga masyarakat Sunda secara umum yaitu penduduk yang berdomisili di Jawa Barat. Di Bandung, pertunjukan-pertunjukan angklung bukan hanya menjadi sebuah ritual atau kegiatan formal, namun juga menjadi hiburan yang populer. Menelusur eksistensinya, angklung telah ada jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, namun pertama kali diubah laras dan ukurannya oleh Daeng Sutigna . yang selanjutnya angklung hasil gubahannya disebut dengan angklung Padaeng . ingkatan dari Bapak Daen. Angklung umumnya disimpan dengan cara digantung agar terhindar dari kerusakan. Lambat laun, angklung juga dimainkan dalam kondisi digantung. Hal tersebut dimungkinkan karena adanya keinginan untuk memainkan angklung secara tunggal, selanjutnya angklung disusun sesuai urutan tangga nada. Angklung gantung marak digunakan di tahun 2000-an. Inovasi instrumen yang pada umumnya didasari dengan beragam percobaan, mungkin minim dilakukan pada temuan angklung Sebuah instrumen biasanya diuji coba sehingga dapat memenuhi kebutuhan pelaku hiburan musik maupun komposer, baik kebutuhan dinamika, speed, karakter bunyi, kesesuaian terhadap skill pemain, serta kemungkinannya untuk dikolaborasikan dengan teknologi lainnya. Pada Jurnal Awilaras | 26 akhirnya angklung gantung dianggap belum memenuhi kebutuhan tersebut. Penggunaan instrumen dalam sebuah pertunjukan tentu mempertimbangkan begitu banyak hal baik yang bersifat teknis maupun estetis. Jika sebuah instrumen belum mampu untuk memenuhi tujuan pertunjukan maka lambat laun instrumen tersebut akan terus dimodifikasi menuju kesempurnaan, atau ditinggalkan. Terlebih di saat semua panggung menggunakan teknologi tata suara, maka kolaborasi antara instrumen musik dan tata suara perlu dipikirkan pula. Karakter peralatan teknologi tata suara sangat menentukan kecocokannya dengan instrumen, maka setiap microphone memiliki peruntukannya masing-masing. Daya tangkap, polar pattern, range frekuensi dari sebuah microphone berbeda-beda. Diperlukan pemahaman mengenai karakter teknologi tata suara dan karakter instrumen musik agar seorang pelaku musik tetap dapat menampilkan musik yang sesuai dengan estetikanya, ketika musiknya berkolaborasi dengan teknologi tata suara. Berdasarkan pengamatan pada beberapa pertunjukan musik baik di ruang hiburan maupun di sekolah seni yaitu ISBI Bandung, terlihat penurunan frekuensi penggunaan instrumen angklung Beberapa tahun terakhir, angklung gantung tidak lagi digunakan sebagai bagian dari Tugas Akhir mahasiswa ISBI Bandung. Hal tersebut menjadi bukti bahwa angklung gantung memiliki problematika tersendiri yang perlu untuk dikaji dan dipetakan. Selanjutnya penelitian ini dapat menjadi pijakan dalam pengembangan modifikasi instrumen angklung gantung supaya dapat sesuai dengan kebutuhan komposer, pelaku seni dan pertunjukan. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi studi lanjutan untuk menelaah mengenai tata cara penempatan microphone yang sesuai dengan instrumen angklung, khususnya angklung gantung. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan etnomusikologi dengan penekanan pada bidang organologi dan elektro akustika. Metode riset kualitatif digabungkan dengan metode kuantitatif atau mixed method . etode campura. Arikunto mendefinisikan penelitian kuantitatif sebagai penelitian yang menggunakan unsur angka-angka secara dominan, diantaranya pada tahap pengumpulan data, penafsiran terhadap data ataupun dalam menampilkan hasil penelitian (Arikunto, 2. Sedangkan pada penelitian kualitatif. Creswell menjelaskan bahwa dalam penelitian kualitatif penelitian dapat meliputi asumsi-asumsi hingga metode yang terperinci dalam pengumpulan data, juga dalam analisa maupun dalam interpretasi data (Creswell, 2. Data Jurnal Awilaras | 27 kualitatif diambil dengan metode observasi, wawancara, pendokumentasian. Wawancara dilakukan pada beberapa narasumber yaitu soundman, pemain angklung dengan pengalaman di bawah lima tahun dan di atas lima tahun. Selanjutnya data tersebut dianalisa sehingga dapat ditarik gejala-gejala yang muncul di Tahap selanjutnya percobaan dan analisa secara kuantitatif dilakukan dengan mengukur bunyi yang muncul dari angklung gantung. Kedua hasil dari metode kualitatif dan kuantitaif kemudian digabungkan untuk mendapatkan kesimpulan berupa catatan dan pemetaan masalah / problematika pada instrumen angklung gantung, serta problematika yang muncul di panggung HASIL DAN PEMBAHASAN Angklung gantung merupakan bentuk bentuk baru dari angklung diatonis yang telah diinovasi oleh Daeng Sutigna. Perlu diketahui bahwa angklung tradisional dengan tiga nada dan lima nada masih digunakan oleh masyarakat Sunda lama . ampung ada. di Jawa Barat, diantaranya di Kasepuhan Banten Kidul. Masyarakat Adat Cisungsang. Ciptagelar. Banjaran. Ciwidey dan lain-lain. Sedangkan, angklung diatonis menyebar hampir ke seluruh Indonesia dan familiar sebagai media edukasi di SD. SMP, atau berbagai institusi lain. Sebagai pengantar, penelitian ini berpijak pada penelitian sebelumnya mengenai pergeseran bentuk dan fungsi angklung di Bandung. Dalam artikel tersebut menyinggung tentang angklung gantung yaitu seiring perkembangannya kebutuhan kepraktisan. Angklung gantung bukan hanya dapat memainkan melodi namun juga memainkan akord sebagai iringan dan bahkan bass. Pada perkembangannya angklung gantung ditampilkan di atas panggung dengan pengeras suara. Namun, masalah muncul saat angklung berhadapan dengan pengeras suara. Arah resonatornya yang menghadap ke muka, sehingga memungkinkan adanya peletakan microphone dari arah depan. Sayangnya ini menjadi salah satu kelemahan pertunjukan saat ekspresi pemain angklung tidak terlihat karena tertutup jajaran . angklung gantung (Murwaningrum, 2. Jurnal Awilaras | 28 Tinjauan Sejarah Angklung Gantung Pembaharuan angklung telah dimulai oleh Daeng Sutigna sejak tahun 1930-an, sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Modifikasi angklung sebenarnya juga telah dilakukan oleh beberapa orang sebelumnya, baik di dalam maupun di luar negeri. Angklung gantung adalah salah satu instrumen yang telah mengalami modifikasi tata letak (I), tanpa mengubah nada dan Namun begitu, perubahan tersebut menimbulkan dampak luar biasa, angklung menjadi instrumen individual, bukan lagi komunal. Perbedaan cara memainkan ini juga berdampak pada kualitas bunyi. Pemain individu mungkin tidak dapat menempatkan dinamika secara tepat mengingat setiap nada angklung membutuhkan tekanan yang berbeda. Kelemahan dan kelebihan angklung gantung masih perlu untuk dikaji. Perbedaan antara angklung yang dimainkan secara komunal dengan angklung gantung dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 1. Angklung diatonis yang dimainkan secara komunal Sumber: w. Jurnal Awilaras | 29 Gambar 2. Angklung Gantung Sumber: w. Gambar 3. Angklung Gantung di ISBI Bandung Sumber: Dokumentasi pribadi Dyah Murwaningrum Fenomena angklung gantung bukan hanya lahir di era modern saja, namun kebiasaan menyimpan angklung dengan cara digantung telah lama dilakukan oleh masyarakat Sunda di kampung adat . asyarakat Sunda lam. Didapat dari dokumentasi Jaap Kunst saat melakukan penelitian musik tradisi di Indonesia, tampak sebuah dokumentasi yang menunjukkan bahwa para pengamen jalanan juga menggunakan angklung gantung . alam nada pentatoni. sambil meniup gong yang juga terbuat dari bambu. Dokumentasi Jaap Kunst sebagaimana dimaksud dapat dilihat pada gambar berikut. Jurnal Awilaras | 30 Gambar 4. Angklung pentatonis yang digantung pada kakancho Sumber: Music in Java 2 hal. Gambar 5. Angklung pentatonis gantung dimainkan oleh pemusik jalanan Foto oleh Cas Orthuys. Koleksi Nederland Foto Museum. Sumber: Awilaras vol 4 No. 2 2017 (Murwaningrum, 2. Jurnal Awilaras | 31 Pada praktiknya di masa modern, angklung gantung telah menjadi bagian dari beragam pertunjukan, bahkan menjadi salah satu instrumen yang sering dimainkan dalam berbagai pertunjukan komersil bahkan pertunjukan berbasis pendidikan formal seperti pada pelaksanaan Tugas Akhir di Program studi Angklung dan Musik Bambu ISBI Bandung. Dengan eksistensinya saat ini, tak dapat dipungkiri bahwa performa angklung gantung masih kurang memuaskan. Fenomena AufeedbackAy pada tata suara pertunjukan sering terjadi mengingat instrumen ini, atau fenomena bunyi angklung gantung yang tidak terdengar hingga ke telinga penonton, serta pemain angklung yang tidak dapat menampilkan ekspresinya di hadapan audience juga menjadi beberapa catatan dari kelemahan angklung gantung dalam pertunjukan. Deskripsi Microphone Microphone dalam dunia seni pertunjukan merupakan salah satu peralatan elektro akustika yang memfasilitasi pertunjukan baik dalam keperluan hiburan atau bahkan dalam keperluan ritual. Pada penelitian ini pendeskripsian microphone dibatasi pada beberapa merk. Merek microphone yang dideskripsikan merupakan merek yang sering dan umum digunakan dalam pertunjukan angklung gantung. Berikut adalah beberapa merek yang banyak ditemui dalam pertunjukan yang menggunakan angklung gantung: Krezt. Shure SM 57. Shure SM 58. AKG C1000. Pada prinsipnya microphone dibagi dalam dua jenis, yaitu kondensor dan dynamic. Pada microphone kondensor, sensitivitas microphone lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena adanya power tambahan yaitu Phantom Power ( 48V), sehingga kinerja microphone kondensor menjadi lebih sensitif jika dibandingkan dengan microphone dinamik. Sensitivitas pada kondensor ini kemudian menjadi satu kelebihan dan sekaligus kelemahan jika digunakan untuk memfasilitasi bunyi instrumen angklung gantung di dalam sebuah pertunjukan, khususnya band. Selain kondensor, terdapat pula microphone dinamik yang memiliki performa fisik yang cukup kuat. Dinamik tidak menggunakan energi tambahan . hantom powe. , sehingga sensitivitasnya sedikit lebih lemah jika dibandingkan dengan microphone jenis kondensor. Microphone ini umumnya merepresentasikan bunyi yang mendekati karakter instrumen asli. Berikut adalah deskripsi dari microphone yang cukup sering digunakan untuk memfasilitasi pertunjukan angklung gantung: Shure SM 57, merupakan microphone dengan jenis dinamik dan umumnya dikhususkan Jurnal Awilaras | 32 untuk instrumen. Shure SM 57 merupakan salah satu merk dagang microphone yang cukup familiar di Indonesia. Microphone ini memiliki konektor jenis canon atau XLR, yaitu tersusun dari tiga pin yang mewakili shield . dan kanal kiri serta kanan. XLR tergolong dalam jenis konektor yang menghasilkan sinyal balanced. Di atas adalah data frequency response yang didapat melalui manual guide kemasan Shure SM 57 yang dapat dilihat juga pada gambar berikut ini. Gambar 6. Frequency response Shure SM 57 Pubs. com/guide/sm57/en-us SM 57 memiliki kemampuan untuk menangkap bunyi yang memiliki getaran 50Hz15. 000Hz. Terlihat dari grafik tersebut, bahwa bunyi pada frekuensi 5000-8000hz mengalami boosting atau kenaikan. Hal ini dapat diartikan bahwa pada frequency 50008000Hz microphone ini memiliki kepekaan yang cukup tinggi. Selain frequency response, microphone juga memiliki polar pattern atau arah tangkapan. Polar pattern Shure SM 57 dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 7. Polar Pattern Shure SM 57 Pubs. com/guide/sm57/en-us Jurnal Awilaras | 33 Dapat dilihat bahwa Shure SM 57 memiliki tipe polar pattern cardioid. Cardioid merupakan jenis pola yang menangkap area tertentu saja yaitu wilayah yang diberi tanda menyerupai hati . Keuntungan dari tipe ini adalah dapat mengurangi kebisingan karena tidak menangkap suara yang ada di luar arah tangkapannya. AKG C1000s, merupakan sebuah merek dagang yang berasal dari perusahaan berbeda dengan Shure SM 57. Pada tiap merek dagang sebenarnya sama-sama memiliki berbagai jenis microphone . aik dinamik maupun kondenso. AKG C1000s merupakan jenis microphone kondensor. Kondensor cenderung memiliki kepekaan lebih tinggi dibandingkan dengan dinamik. Namun begitu kondensor umumnya memiliki kondisi fisik yang tidak setangguh dinamik, hal ini dipengaruhi oleh mekanisme kerjanya. Pada microphone kondensor dapat dipastikan memerlukan energi tambahan yaitu baterei atau kebutuhan energi phantom power . Dengan energi tambahan ini, maka microphone kondensor cenderung memiliki sensitivitas lebih dari pada dinamik. Polar pattern dan frequency response mic AKG 1000s dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 8. Polar Pattern dan Frequency response AKG 1000s Sumber scmusic. Jurnal Awilaras | 34 Melalui data frequency response dan polar pattern di atas, bahwa AKG C1000s dapat menangkap bunyi 50 hz hingga 20. 000Hz merupakan batas atas pendengaran manusia, artinya microphone ini sangat peka untuk menangkap bunyi dengan frekuensi tinggi. Polar pattern dalam C1000 ini menjangkau dua tipe yaitu cardioid juga hiper cardioid. Hipercadioid merupakan bagian dari keluarga cardioid, yaitu microphone yang hanya menangkap satu arah saja. Hipercardioid memungkinkan microphone menangkap suara dari jarak cukup jauh dengan arah tangkap khusus. Problematika bunyi pada angklung gantung dalam pertunjukan serta hubungannya dengan dua jenis microphone di atas akan dibahas pada sub selanjutnya. Problematika pada Angklung Gantung Angklung adalah instrumen yang memiliki tabung resonator. Dalam sebuah angklung kita dapat menemukan setidaknya dua atau bahkan tiga tabung resonator dengan arah yang sama. Saat angklung dimainkan secara komunal, seseorang dapat membunyikan satu buah nada Hal tersebut memungkinkan untuk mengarahkan resonator . abung suar. pada angklung secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan. Namun ketika angklung dimainkan secara individu, atau satu orang dapat memainkan lebih dari satu oktaf nada karena angklung ditempatkan secara digantung, maka muncul beberapa persoalan. Berikut adalah kondisi dari angklung gantung yang memungkinkan munculnya persoalan: Jarak antar angklung menjadi sangat rapat dan terkadang seperti berdesakan. Minimnya jarak antar angklung ini disebabkan karena kebutuhan pemain agar dapat menjangkau semua oktaf dengan lebih mudah. Hal ini menimbulkan masalah saat angklung satu dibunyikan, terkadang angklung yang lain ikut bergerak sehingga bunyi tidak jernih. Posisi angklung yang awalnya berada setara badan manusia, setelah digantung dimainkan setara muka. Artinya posisi tangan pun harus turut berubah menjadi ke arah atas. Menurut beberapa pemain, hal ini menyulitkan jika harus bermain dalam speed atau tempo yang cepat. Posisi tangan tersebut juga menyebabkan kelelahan berarti bagi pemain. Jurnal Awilaras | 35 Keperluannya sebagai media hiburan, menjadikan angklung harus fleksibel untuk dikolaborasikan dengan berbagai instrumen lain, termasuk instrumen elektrik dengan volume keras. Poin ini adalah masalah mendasar pada teknologi tata suara pertunjukan . ound reinforcemen. , sehingga bunyi instrumen lain ditangkap oleh microphone angklung gantung . Angklung memiliki karakter bunyi perkusif. Karakter ini seringkali menimbulkan masalah pada dinamika volume angklung yang tidak stabil. Gaung/gema yang ditimbulkan oleh bahan bambu relative pendek, sehingga sisa suara yang berbunyi setelah suara asli cukup sulit dikeraskan oleh perangka teknologi. Dinamika volume tidak rata/ tidak balance/ tidak stabil pada setiap nada. Gambar 9. Gambaran dinamika kekuatan volume pada tiap nada Sumber: Dokumentasi Dyah Murwaningrum Gambar 10. Gambaran dinamika kekuatan volume pada tiap nada Sumber: Dokumentasi Dyah Murwaningrum Gambar 11. Gambaran dinamika kekuatan volume pada tiap nada Sumber: Dokumentasi Dyah Murwaningrum Jurnal Awilaras | 36 Karakter volume angklung yang cenderung lebih lirih dari perangkat instrumen Kecenderungan ini yang menjadikan instrumen angklung gantung sulit untuk dikolaborasikan terlebih saat menggunakan piranti sound reinforcement. Melalui beberapa wawancara terhadap pelaku dan pengelola tata suara panggung, didapatkan hasil pemetaan problematika sebagai berikut. Angklung gantung jarang dimainkan karena sulit untuk dikondisikan dengan instrumen lainnya. Angklung gantung tidak dapat memenuhi kebutuhan permainan yang ingin bermain cepat . , karena posisinya yang sulit. Angklung gantung sering menimbulkan feedback. Suara angklung gantung tidak terdengar saat pementasan . ertutup oleh dominasi instrument ban. Agar angklung gantung terdengar maka pemain harus memainkannya dengan kekuatan penuh, sehingga beresiko menghasilkan suara angklung yang kurang baik secara estetik. Menurut beberapa operator mixer, instrumen angklung gantung sendiri serba sulit untuk ditangkap oleh microphone. Menurut beberapa operator mixer, instrumen angklung tidak akan maksimal jika dipentaskan bersama instrument lain. Menurut sound engineer, konstruksi instrumen angklung memang kurang dipikirkan untuk perlakuan penempatan microphone. Pemain angklung gantung di panggung yang memainkan angklung kurang dari lima tahun. Pada usia pengalaman ini sebagian besar pemain angklung merasa kesulitan dalam memainkan nada-nada yang cepat juga kesulitan untuk memproduksi suara yang baik. Menurut pemain angklung, bunyi angklung gantung yang sering terjadi di beberapa panggung, baik berskala nasional maupun lokal seringkali tidak memuaskan. Jurnal Awilaras | 37 Narasumber juga mengaku bahwa keluhan-keluhan yang sama pun dikeluhkan rekan-rekannya sesama pemain angklung. Masih menurutnya, bahwa kesuksesan sebuah pertunjukan juga sangat tergantung di mana pertunjukan tersebut digelar dan apa saja instrumen yang digunakan untuk mendukung angklung dalam sebuah pertunjukan . ormat pertunjukan mempengaruhi kesuksesa. Narasumber lain yaitu soundman yang memiliki pengalaman baik di dalam maupun di luar negeri. Narasumber menyampaikan bahwa memperlakukan instrumen bambu memang sangat sulit. Bambu memiliki karakter yang berbeda dengan instrumen yang berbahan metal, kulit ataupun kayu. Lebih-lebih informasi mengenai sifat-sifat instrumen bambu sangat jarang, meski cukup pertunjukan skala lokal. Angklung dari segi bentuk dan bahan cukup memberikan kesulitan tersendiri terlebih jika harus dikolaborasikan dengan instrumen lain yang memiliki volume lebih keras dan gema yang lebih panjang. Soundman spesialis instrumen bambu. Bagi narasumber, ada kesulitan tersendiri saat melakukan mixing panggung instrumen bambu terlebih angklung gantung sebab sering membuat soundman merasa Auserba salahAy. Jika gain pada microphone ditingkatkan maka kepekaan microphone akan bertambah lalu instrumen lain yang memiliki volume lebih besar pun akan terdengar masuk ke microphone tersebut. Yang lebih fatal lagi, jika bunyi dari speaker panggung/monitor kembali tertangkap oleh Hal inilah yang disebut feedback. Beberapa problematika yang ditemui seiring berjalanannya penelitian ini cukup memberi alasan bahwa angklung gantung adalah instrumen yang masih perlu dikembangkan. Probelm yang muncul dari analisa penelitian juga saling mengonfirmasi dengan data yang didapatkan berdasarkan hasil wawancara pada pemain musik, maupun para pelaku teknologi. KESIMPULAN Penelitian ini menangkap kondisi bahwa masih minimnya upaya untuk merespon instrumen musik hasil modifikasi. Fokus dari kegiatan penciptaan instrumen masih berkutat pada penemuan instrumen namun belum melakukan uji coba bertahap dan penyempurnaan pada karya hasil Jurnal Awilaras | 38 modifikasi. Laju modifikasi instrumen yang ada belum diimbangi dengan upaya pemahaman teknologi yang up to date, sehingga antara seniman bunyi dan pekerja teknologi sound reinforcement terkesan ada benturan yang menyebabkan kualitas bunyi tidak tersepakati. Adapun temuan pada penelitian ini, bahwa sebuah pertunjukan angklung di atas panggung, membutuhkan kesinambungan dan keseimbangan bunyi dengan bunyi-bunyian dari instrumen yang lain, terlebih jika volume instrumen lainnya lebih menonjol. Berdasarkan pada keseluruhan penelitian ini, maka dapat disimpulkan beberapa hal yang memungkinkan munculnya problemproblem pada bunyi angklung gantung saat menjadi media hiburan dan bercampur dengan instrumen elektrik di atas panggung di antaranya adalah Konstruksi insrumen angklung gantung dan posisinya. Karakter bunyi instrumen angklung gantung yang bervolume lirih dan bergema Belum banyak microphone yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan bunyi angklung gantung untuk sebuah pertunjukan khususnya band. Cukup beresiko untuk menangkap karakter bunyi angklung yang lirih dan bergema pendek, sedangkan instrumen lain bervolume keras, terlebih jika menggunakan speaker dan di dalam Masih begitu banyak kemungkinan bagi para pelaku musik, baik komposer, pelatih, pemain maupun pembuat instrumen untuk mengembangkan instrumen angklung gantung. Adapun hal-hal yang memungkinkan untuk dikembangkan adalah: Medesain ulang posisi letak angklung gantung ataupun modifikasi dalam produksi Memaksimalkan kreativitas untuk memperpanjang bunyi angklung gantung, baik dengan teknologi modern maupun teknologi tradisi. Bagi praktisi teknologi, masih memungkinkan untuk membuat microphone yang lebih representative untuk musik bambu seperti angklung gantung. Saling memahami cara pandang, baik seniman bunyi yang berlaku sebagai composer maupun pemain, pemain instrument elektrik dan para penata pengeras suara. Jurnal Awilaras | 39 DAFTAR PUSTAKA