Misterius : Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual Volume. Nomor. 2 Juni 2025 e-ISSN: 3032-1654. p-ISSN: 3032-2057. Hal 129-138 DOI : https://doi. org/10. 62383/misterius. Available online at: https://journal. id/index. php/Misterius Melestarikan Kesenian Tari Piring Diateh Talua Ciri Khas Batu Bajanjang Azmen Kahar1. Nur Putri Khalbi2. Hilda Nurhidayati3. Ravel Dwi Septia Andika4. Yudi Mubarok5 Universitas Negeri Padang. Sumatera Barat. Indonesia Email: nurputrikhalbi@gmail. Abstract. Traditional arts are an important part of cultural heritage that must be preserved. One of the unique and distinctive art forms from Batu Bajanjang. Lembang Jaya District, in Solok Regency. West Sumatra, is the Plate Dance in Ateh Talua. This dance has deep philosophical values and requires extraordinary skills from the However, modernization and the decreasing interest of the younger generation are major challenges in preserving this dance. This article discusses the History of Plate Dance Art. Plate Dance Art in Diateh Talua, and efforts that can be made to Preserve Plate Dance in Ateh Talua so that it remains part of the cultural identity of the Batu Bajanjang community. Through education, cultural festivals, and government and community support, this art can continue to develop and be passed on to future generations. Keywords: History of Plate Dance Art. Plate Dance Art in Ateh Talua. Preserving Plate Dance in Ateh Talua Abstrak. Kesenian tradisional merupakan bagian penting dari warisan budaya yang harus dijaga kelestariannya. Salah satu bentuk kesenian yang unik dan khas dari Batu Bajanjang. Kecamatan Lembang Jaya, di Kabupaten Solok. Sumatera Barat, adalah Tari Piring di Ateh Talua. Tarian ini memiliki nilai filosofis yang mendalam serta membutuhkan keterampilan luar biasa dari para penarinya. Namun, modernisasi dan berkurangnya minat generasi muda menjadi tantangan besar dalam pelestarian tari ini. Artikel ini membahas Sejarah Kesenian Tari Piring. Kesenian Tari Piring Diateh Talua, dan upaya yang dapat dilakukan untuk Melestarikan Tari Piring di Ateh Talua agar tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Batu Bajanjang. Melalui pendidikan, festival budaya, serta dukungan pemerintah dan masyarakat, kesenian ini dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi Kata kunci: Sejarah Kesenian. Tari Piring. Kesenian Tari Piring Diateh Talua. Melastarikan Tari Piring di Ateh Talua LATAR BELAKANG Naskah Kebudayaan merupakan warisan yang mana wujud dari sifat, nilai, serta tingkah laku yang berkembang dalam kelompok masyarakat, karena kebudayaan merupakan aturan yang dibuat oleh masyarakat untuk masyarakat pula. Karena Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki banyak jenis seni, seni tari adalah salah satu kekayaan budaya yang paling dihargai oleh negara lain. Oleh karena itu, seni tari harus dilestarikan dan dijaga dengan Karya budaya yang indah dan mempesona negara ini tidak boleh diambil oleh negara lain Seni adalah elemen krusial dalam kebudayaan yang meliputi berbagai bentuk ekspresi, termasuk musik, tari, lukisan, dan drama. Seni Tari, secara khusus, merupakan karya seni yang diekspresikan melalui gerakan tubuh yang harmonis dan indah Di Indonesia, ada banyak seni Masing- masing daerah memiliki tarian unik. Tari Nusantara dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia. Jika semua disebutkan, pasti ada yang terlewatkan atau tidak disebutkan. Ini karena tari di Indonesia masih berkembang hingga saat ini. (Tsamarah Desyanti et al. , 2. Received: Mei 12, 2025. Revised Mei 28, 2025. Accepted: Juni 20, 2025. Published: Juni 26, 2025 Melestarikan Kesenian Tari Piring Diateh Talua Ciri Khas Batu Bajanjang Sebagai Salah satu cabang seni, tari memiliki keindahan yang khas dan tidak dapat dijumpai pada bentuk seni lainnya. Tari Piring adalah salah satu bentuk seni tradisional Minangkabau yang sangat terkenal di Indonesia. Sebagai Wujud ungkapan terima kasih atas keberkahan hasil panen yang melimpah. Tari Piring awalnya dipersembahkan kepada para Namun, seiring dengan kedatangan agama Islam, fungsi dan peran Tari Piring mengalami perubahan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau saat ini (Alfiyanto, 2. Saat ini . Tari Piring digunakan oleh masyarakat Minangkabau sebagai hiburan dalam berbagai upacara adat dan sosial, seperti penobatan gelar pendekat, ritual kelahiran, penyambutan tamu agung, perayaan masa panen, hingga dalam mendirikan Rumah Gadang. Tari Piriang di Ateh Talua adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kanagarian Batu Bajanjang yang terletak di Kecamatan Lembang Jaya. Kabupaten Solok. Tari ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1952 dan telah diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tari ini menyampaikan pesan mengenai nasihat yang diberikan kepada seorang mamak untuk memastikan mereka menunaikan kewajiban dan tanggung jawab mereka kepada kemenakan, keluarga, dan masyarakat dengan sebaik-baiknya. Tari ini mulai berkurangan pada tahun 1980, tetapi kembali hidup pada tahun 2004, meskipun hanya di komunitas Kanagarian Batu Bajanjang. Oleh karena itu, hanya sebagian kecil masyarakat nagari Batu Bajanjang yang mengembangkan tari Piring di Ateh Talua. Generasi muda dan penduduk yang berada di Kanagarian Batu Bajanjang yang terletak di Kecamatan Lembang Jaya. Kabupaten Solok, tidak menyadari adanya tarian tradisional yang dikenal sebagai Tari Piriang Diateh Talua. Maka dari itu, sangat penting bagi kita untuk selalu menjaga kelestarian guna menjaga eksistensi tarian ini di kalangan masyarakat. Sanggar Sinar Gunuang, yang terletak di Kanagarian Batu Bajanjang, telah melakukan upaya pelestarian. Sanggar Sinar Gunuang masih mengajarkan dan melestarikan tarian lokal. Di antaranya adalah Tari Piriang Diateh Talua. Oleh sebab itu, peneliti berkeinginan untuk mempelajari upaya pelestarian yang dilakukan oleh sanggar Sinar Gunuang. (Silvia & Asriati. KAJIAN TEORITIS Seni pertunjukan disebut dalam bahasa Minangkabau sebagai pamainananak nagari, yang berarti permainan anak negeri. Dengan kata lain, konsep permainan anak nagari digunakan masyarakat Minangkabau untuk menggambarkan berbagai jenis pertunjukan seni Anak nagari, menurut A. Navis pamainan, memiliki dua sifat: mereka bersifat Minangkabau dan tidak (Navis, 1986: . MISTERIUS - VOLUME 2. NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN: 3032-1654. p-ISSN: 3032-2057. Hal 129-138 Salah satu dari berbagai jenis dan bentuk dari pamainan anak nagari yang bersifat Minangkabau adalah Tari Piring. Tari Piring, atau Tari Piriang dalam bahasa Minangkabau, adalah tarian tradisional yang memiliki nilai seni yang tinggi. Tari ini berasal dari Sumatera Barat. Nama Tari Piring berasal dari penggunaan piring oleh para penarinya, yang merupakan komponen penting dalam gerakan tarian. Oleh karena itu, nama ini menggambarkan kombinasi elemen tari dan piring sebagai komponen utama yang membentuk dasar gerakan tarian (Aristy et al. , 2. Sejarah perkembangan dan penyebaran Tari Piring berlangsung selama berbagai waktu dan mengalami banyak perubahan. Menurut Aristy dkk. , dua periode besar dikenal dalam sejarah Tari Piring. Ini disebabkan oleh ingatan kolektif dari orang tua kita, yang disampaikan secara lisan dan turun-temurun. Orang Melayu, termasuk orang Minangkabau, yang merupakan bagian dari suku Melayu, sangat mahir dalam menari dan sangat tahan lama. Menurut Jamal . Tari Piring berasal dari keyakinan masyarakat Minangkabau tentang ritus kesuburan agraris. Tari Piring menggunakan piring, yang digunakan sehari-hari sebagai wadah makanan, sebagai tarian ritual yang bertujuan untuk meningkatkan kesuburan. Tari Piring ini biasanya ditampilkandalam upacara kesuburan, seperti upacarapesta panen sebagai rasa syukur atasberhasilnya panen. Biasanya tari Piring di tampilkan oleh 1 sampai 10 orang penarilaki-laki. Hal ini disebabkan karena padamasa dahulu di Minangkabau tabu Kehadiran syukurantersebut hanya berfungsi sebagai hiburan. Tari Pi-ring adalah simbol dan identitas budaya masyarakat Minangkabau. Ini adalah salah satu dari banyak tarian tradisional Minangkabau. Setiap nagari . Minangkabau pasti memiliki budaya Tari Piring dalam kehidupannya. Tari Piring adalah tarian yang umum di masyarakat Minangkabau. Oleh karena itu, setiap nagari dapat menyaksikan pertunjukan Tari Piring yang dilakukan oleh komunitas lokal. Satu-satunya perbedaan antara nagari tari piring adalah cara mereka memainkan dan bagaimana mereka disajikan. Selama bertahuntahun. Tari Piring telah menjadi simbol identitas suku Minangkabau, yang tidak dimiliki oleh suku Melayu lainnya di Nusantara. Kecu-ali dilakukan dan dibudayakan oleh suku perantau Minangkabau itu sendiri, seperti di Negeri Sembilan dan daerah lain di Nusantara. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode Menurut Bogdan dan Taylor . alam Wiratna Sujarweni, 2014: . Dalam penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan mencerminkan perilaku individu yang diamati. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dimana data diperoleh melalui wawancara dengan seniman Tari Piring Batu Bajanjang, pengamat seni Melestarikan Kesenian Tari Piring Diateh Talua Ciri Khas Batu Bajanjang dan budaya. Selain itu, observasi lapangan serta studi literatur juga digunakan untuk memperdalam analisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kabupaten Solok terkenal dengan pemandangan alamnya yang menakjubkan dan merupakan pusat kekayaan seni tradisional. Tari Piring Ateh Talua adalah tarian tradisional di Nagari Batu Bajanjang, kecamatan Lembang Jaya, yang memiliki ciri khas yang membedakannya dari tarian piring tradisional lainnya. Tari Piring Diateh Talua merupakan salah satu warisan budaya yang telah ada sejak tahun 1952 dan masih terus dilestarikan hingga saat ini. Tarian ini berasal dari tradisi nan galeh yang merupakan permainan khas Minangkabau, yang menggabungkan gerakan-gerakan binatang dan silek, dan akhirnya berkembang menjadi sebuah tarian piring. Seiring berjalannya waktu, tari ini telah menjadi simbol identitas budaya yang unik dan hanya dapat ditemukan di daerah ini. Tarian ini bukan hanya sebagai bentuk hiburan. Namun, juga berfungsi sebagai sarana untuk acara-acara penting dalam masyarakat, seperti yang terlihat pada pembukaan tur sepeda di Danau singkarak pada tahun 2008. Tari Piring Diateh Talua khas Batu Bajanajang ini memiliki keunikan tersendiri karena penarinya menari di atas telur tanpa memecahkannya, yang mencerminkan nilai ketangkasan dan spiritualitas tinggi. Kesenian menghadapi tantangan dalam menjaga keberadaannya di tengah kemajuan budaya populer yang lebih menarik bagi generasi milenial. Penelitian ini bertujuan untuk melestarikan kesenian Tari Piring Diateh Talua agar tidak hilang di telan Tari Piring Ateh Talua adalah ekspresi seni dan simbol keseimbangan dan keberanian. Dalam tarian ini, telur itik berfungsi sebagai simbol kehidupan dan kesuburan, sementara piring yang digunakan sebagai alas menari melambangkan dunia serta kesulitan yang ada di Penari Tari Piriang Diateh Talua mengajarkan kita mengenai pentingnya menjaga keseimbangan dan keharmonisan ketika menghadapi tantangan hidup melalui gerakan-gerakan Tarian ini merupakan bagian dari tradisi yang sudah melekat di masyarakat Batu Bajanjang. Sejak zaman nenek moyang. Tari Piriang Diateh Talua telah menjadi lambang kebanggaan dan identitas bagi Nagari Batu Bajanjang. Komitmen masyarakat untuk mempertahankan warisan ini menunjukkan kecintaan mereka terhadap budaya leluhur. Makna dari Tari Piring Diateh Talua sangat erat kaitannya dengan upaya untuk menghibur masyarakat dan mempererat hubungan sosial dalam suatu Tarian ini biasanya dipentaskan pada acara-acara khusus dan tidak selalu MISTERIUS - VOLUME 2. NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN: 3032-1654. p-ISSN: 3032-2057. Hal 129-138 ditampilkan dalam setiap kesempatan, sehingga menambah nilai eksklusivitas dan kesakralannya dalam budaya Minangkabau. Menurut Bapak Samsudin (Wawancara Pada 12 Februari 2. , pakar sekaligus pendiri Tari piring Diateh Talua, yang menjadi ciri khas Nagari Batu Bajanjang, sekaligus pemilik Sanggar Sinar Gunuang, mengungkapkan bahwa Tari Piring Diateh Talua bukan hanya sematamata sebuah tarian melainkan sebuah simbol ujian kepemimpinan. Telur yang diinjak oleh penari melambangkan bumi, dan telur harus tetap utuh bahkan setelah diinjak. Kegagalan untuk mempertahankan telur tersebut berarti kegagalan untuk menjadi "mamak". Sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab mencari nafkah untuk istri dan anaknya, mamak memiliki tanggung jawab dalam menyediakan pendidikan dan bimbingan bagi mereka, membina hubungan dengan kemenakan, serta menjaga hubungan sosial. Tari ini dapat dipelajari dari usia lima tahun sampai tua, tergantung pada kemampuan Tari ini dapat ditarikan oleh laki-laki dan perempuan. Jumlah penari tidak boleh lebih dari lima belas, dan tidak boleh kurang dari dua orang. Gerakan Tarian Piring Diateh Talua, seperti tusuk, ramo-ramo bagaluaik, jinjit, timbo, dan ayun. Setiap penari memegang dua piring berukuran enam inci yang digunakan dalam tarian ini. Piring yang nantinya dipijak memiliki ukuran 8 inci dan terdiri dari 8, yang mengambarkan kreativitas, atau ketekunan yang ditunjukkan oleh mamak setiap hari dalam mencari nafkah untuk keluarganya. Ini juga melambangkan cara mamak dalam mencari nafkah. Mengajarkan masyarakat bahwa mamak perlu mengingat penciptanya karena mamak tinggal di bumi dan adalah makhluk ciptaan tuhan. Dalam tarian ini, telur digunakan untuk mewujudkan maknanya, yaitu sikap penuh perhatian seorang mamak dalam membangun dan mempertahankan ikatan dengan anak, kemenakan, dan Selain itu, kemiri berfungsi sebagai penghasil musik di dalam tubuh penari. Untuk menjaga tradisi tari Piring di Ateh Talua, generasi muda masih dididik di sanggar Sinar Gunuang di Jorong Gurah. Nagari Batu Bajanjang yang dipimpin oleh Bapak Syamsudin. Gambar 1. Tarian Piring Di Atas Telur Melestarikan Kesenian Tari Piring Diateh Talua Ciri Khas Batu Bajanjang Pembahasan (Mustika, 2. mengatakan bahwa seni secara umum membantu siswa menemukan pemenuhan diri dalam hidup mereka dengan menyebarkan peninggalan budaya, meningkatkan kesadaran sosial, dan menjadi cara untuk mendapatkan pengetahuan. Sedangkan tari merupakan suatu bentuk ekspresi jiwa yang dipengaruhi oleh imajinasi dan diekspresikan melalui gerakan simbolis yang memiliki makna. Menurut Yakub . 0: . Tari adalah salah satu ragam seni, di mana tubuh digunakan sebagai media ungkap. Tari sering dilihat di televisi dan di acara lain. Ini termasuk dalam kategori acara spesial yang khusus seperti partunjukan tari, acara adat dan resepsi. Gerak, ruang, dan tenaga adalah tiga komponen utama dari seni Rizky . mengatakan bahwa Tari piring merupakan salah satu jenis tari yang diciptakan oleh masyarakat Minangkabau yang berasal dari wilayah Solok. Sumatra Barat. Sebagai instrumen utama dalam tarian ini. Para penari meletakkan piring di telapak tangan mereka, lalu menggerakan tangan dengan gerakan yang luwes, teratur, dan cepat, disertai ayunan dan perputaran. Tari ini biasanya ditampilkan dalam setiap upacara pernikahan adat Minangkabau. Tari piring sangat terkenal, bahkan diakui hingga ke mancanegara karna gerakannya yang dinamis, menarik, dan tidak monoton, yang menarik perhatian penonton. Tari Piring pada mulanya diciptakan sebagai lambang rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, yang dipersembahkan kepada para dewa. Namun, setelah kedatangan agama Islam, ungkapan rasa syukur ini mengalami perubahan fungsi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Minangkabau yang modern (Alfiyanto, 2. Sedangkan menurut pendapat Hetti . menyatakan bahwa tari piring merupakan ungkapan rasa terima kasih masyarakat Minangkabau kepada dewi Sri atas hasil panen mereka. Setelah masuk ke dalam agama Islam, tarian ini hanya ditampilkan sebagai bentuk hiburan dan sering kali diperagakan dalam acara pesta atau keramaian. Koreografi tari ini meniru gerakan yang biasa dilakukan oleh masyarakat saat bertani. Ini adalah tarian piring yang bersifat berkelompok dan menunjukkan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Namun saat ini. Masyarakat Minangkabau menggunakan Tari Piring sebagai sarana hiburan dalam berbagai perayaan adat dan sosial seperti penobatan gelar penghulu, penobatan gelar pendekat, ritual kelahiran pesta perkawinan, acara peresmian, penyambutan tamu agung, acara masa menuai dan mendirikan Rumah Gadang. Tari Piring ini juga terdapat beberapa jenis tergantung pada daerah masing-masing seperti tari piring di ateh karambia, taring piring di ateh talua dan masih banyak lagi yang menjadi ciri khas dari daerah tertentu. Pelestarian dapat didefinisikan sebagai proses, metode, atau pembuatan. Lestari berarti keadaan semula, yang tidak berubah dan tetap terjaga dalam jangka waktu yang panjang. MISTERIUS - VOLUME 2. NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN: 3032-1654. p-ISSN: 3032-2057. Hal 129-138 Melestarikan berarti membuat, mempertahanakan agar sesuatu tetap tidak berubah, membiarkan dalam kondisi yang sama, serta menjaga keberlanjutan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2. Selain itu, dijelaskan bahwa pelestarian merujuk pada upaya untuk menjaga atau membiarkan segala sesuatu tetap dalam keadaan yang sama seperti sebelumnya. Upaya untuk menjaga kesenian agar tetap relevan dengan mengikuti perkembangan zaman dikenal sebagai pelestarian. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pelestarian adalah upaya untuk menjaga kesenian agar tetap ada dengan mempertahankan bentuk dan kondisi aslinya Menurut Brandon . 3/ . , pelestarian dapat dilakukan dengan cara tradisional atau kontemporer. Bentuk dan rumus seni pertunjukan dipelihara dan disampaikan kepada generasi selanjutnya melalui metode pengajaran tradisional, kata Brandon . 3: . Metode pengajaran lebih luas dapat digunakan untuk mengajar guru secara tradisional. Pengajaran guru-murid terdiri dari dua aspek: penjelasan yang menunjukkan bahwa pelajaran tersebut menekankan pada pelestarian tradisi serta penyebaran pengetahuan kepada generasi mendatang melalui cara dimana para murid mengunjungi guru mereka untuk belajar. Seorang murid yang cukup terlatih sudah bisa menunjukkan kemampuan mereka dengan pengajaran tradisional guru-murid. Peneliti mendefinisikan pelestarian sebagai upaya mempertahankan dan menyebarkan tarian tradisional dalam bentuk aslinya agar tetap terjaga melalui pengajaran yang disampaikan oleh guru serta pertunjukan. Menurut Supardjan . , tarian tradisional merupakan jenis tarian yang telah mengalami perkembang selama periode waktu yang cukup panjang dan selalu senantiasa mematuhi aturan tradisi atau kaidah kaidah yang telah ditetapkan. Menurut Amir Rohkyatmo . 6: . AuTari tradisional merupakan bentuk tarian yang telah mengalami proses perkembangan yang panjang dan selalu berpegang pada pola-pola yang telah menjadi bagian dari tradisiAy. Soedarsono . 7: . menyebutkan bahwa tarian yang telah melalui sejarah yang panjang dan terusbergantung pada pola yang telah Menurut pendapat diatas Tari Piriang di Ateh Talua termasuk dalam kategori tari tradisional karena telah ada sejak lama dimasyarakat kanagarian Batu Bajanjang. Gerakan yang diterapkan dalam tarian ini sangat mudah, begitu pula dengan kostum, musik, dan lantai yang terlihat sederhana. (Silvia & Asriati, 2. Pada Tahun 1980, tari ini mulai mengalami penurunan. Namun, pada tahun 2004, tari ini kembali berkembang dan terus bertahan hingga saat ini, meskipun hanya di kalangan masyarakat Kanagarian Batu Bajanjang. Melestarikan Kesenian Tari Piring Diateh Talua Ciri Khas Batu Bajanjang Akibatnya, banyak generasi muda dan masyarakat di Kanagarian Batu Bajanjang. Kecamatan Lembang Jaya Kabupaten Solok, yang tidak mengetahui bahwa di Nagari mereka terdapat tari tradisional yang dikenal sebagai Tari Piriang di Ateh Talua. Oleh karena itu, usaha pelestarian sangat penting untuk menjaga keberadaan Tari Piriang di Ateh Talua dalam masyarakat, agar Tari Piriang di Ateh Talua ini dapat berkembang dan dikenal oleh mayarakat. Dengan demikian, kunikan seni tari tradisional di wilayah tersebut tetap terjaga dan tidak lenyap. Salah satu cara untuk melestarikan budaya dapat dilihat dari upaya Sanggar Sinar Gunuang yang berusaha mempertahankan kesenian tradisional di tengah kemajuan zaman saat ini dengan memperkenalkan Tari Piring di Ateh Talua melalui berbagai pertunjukan yang Pertunjukan ini terjadi pada acara adat seperti batagak gala, pernikahan, penyambutan tamu, dan perlombaan. Untuk mempersembahkan tarian ini, anggota sanggar yang berusia antara 15 hingga 25 tahun dipilih berdasarkan keterampilan mereka dalam menari Tari Piriang di Ateh Talua. Untuk memastikan kelestarian tarian ini, ada beberapa kriteria ketat yang harus dipenuhi oleh generasi penerus. Selain memiliki disiplin yang tinggi dan taat pada aturan yang telah ditetapkan, calon penari juga harus mudah diajarkan dan siap mempelajari tarian ini dengan sungguh-sungguh. Selain itu, ada ketentuan usia minimal 7 tahun untuk memulai pembelajaran tari ini. Dengan adanya ketentuan ini, diharapkan generasi berikutnya dapat mewarisi dan menjaga kelangsungan Tari Piring Diateh Talua agar tetap eksis dan terjaga dalam kearifan lokal Minangkabau. Penting bagi masyarakat adat, pemerintah, dan generasi muda untuk melestarikan Tari Piring Diateh Talua. Beberapa tindakan yang dapat diambil untuk memastikan keberlangsungan tarian ini adalah sebagai berikut: Pendidikan dan Pelatihan Generasi muda harus dididik tentang kesenian Tari Piring Diateh Talua sejak dini. Sekolah-sekolah di Batu Bajanajang dapat menggunakan tarian ini sebagai bagian dari pelajaran mereka atau sebagai kegiatan luar kelas. Festival dan Pertunjukan Seni Menampilkan dan mempromosikan Tari Piring Diateh Talua kepada khalayak luas dapat dicapai dengan mengadakan festival budaya secara teratur. Oleh karena itu, lebih banyak orang akan mengenal dan menghargai seni ini. MISTERIUS - VOLUME 2. NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN: 3032-1654. p-ISSN: 3032-2057. Hal 129-138 Pelestarian Melalui Media Digital Di era modern, promosi kesenian melalui media sosial, video dokumenter, dan platform daring lainnya sangat penting. Liputan tentang sejarah dan makna Tari Piring Diateh Talua, wawancara dengan seniman tari serta video tutorial dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pelestarian budaya ini. Dukungan dari Pemerintah dan Pihak Swasta Para seniman dapat dibantu oleh pemerintah daerah dan pihak swasta dengan memberikan dana, fasilitas, dan wadah agar mereka dapat terus bekerja dan mengajarkan Tari Piring Diateh Talua kepada generasi berikutnya. Berkolaborasi dengan Seniman dan Budayawan Menggandeng seniman tari, budayawan, dan komunitas seni untuk melakukan penelitian, inovasi, dan pengembangan Tari Piring Diateh Talua untuk memperkaya dan mempertahankan eksistensinya melalui berbagai pertunjukan. (Silvia & Asriati, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Budaya Minangkabau, terutama di Batu Bajanajang, terdiri dari Tari Piring Diateh Talua. Tarian ini memiliki nilai filosofis yang unik dan harus dilestarikan sebagai warisan Tari Piring Diateh Talua dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi mendatang dengan bantuan pendidikan, festival, penggunaan media digital, dukungan dari berbagai pihak, dan kolaborasi antarbudayawan. Menjaga tarian ini tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memperkuat identitas bangsa melalui warisan budaya yang kaya dan bernilai DAFTAR REFERENSI Alfiyanto. Tari Piring: Adaptasi dari aktivitas masyarakat Minangkabau sebagai masyarakat agraris. Asosiasi Pengelola Jurnal Indonesia. Aristy. Azhari. , & Zuska. Komodifikasi Tari Piring Minangkabau di Sumatera Utara. Jurnal Antropologi Sumatera, 16. Brandon. Jejak-jejak seni pertunjukan di Asia Tenggara. Departemen Pendidikan Nasional. Desyanti. Aulia. Hamka. Tawar. Padang Utara. , & Padang. Media edukasi Tari Piring Minangkabau dalam fotografi. Journal of Creative Student Research (JCSR), 1. , 211Ae222. https://doi. org/10. 55606/jcsrpolitama. Jamal. Penyajian Tari Piring Tradisional Minangkabau (Suatu studi deskriptif interpretati. [Laporan penelitia. ASKI Padang Panjang. Mustika. Teknik dasar gerak Tari Lampung. Anugrah Utama Raharja (AURA). Melestarikan Kesenian Tari Piring Diateh Talua Ciri Khas Batu Bajanjang Navis. Alam terkembang jadi guru: Adat dan kebudayaan Minangkabau. Grafiti Pers. Rohkyatmo. Pengetahuan tari: Sebuah pengantar. Direktorat Kesenian Proyek Pengembangan Kesenian Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Silvia. , & Asriati. Pelestarian Tari Piring di Ateh Talua dalam Sanggar Sinar Gunuang Kanagarian Batu Banjang Kecamatan Lembang Jaya Kabupaten Solok. Universitas Negeri Padang, 2. Soedarsono. Seni pertunjukan Indonesia di era globalisasi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Supardjan. , & Suparta. Pengantar pengetahuan tari. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. MISTERIUS - VOLUME 2. NOMOR. 2 JUNI 2025