JPP JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN Media Komunikasi. Penelitian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Pendidikan ISSN 2085-0581 Volume 6. Nomor 1. Juni 2014 DAFTAR ISI Peningkatan Nilai-Nilai Karakter Mahasiswa Melalui KST dan Media Gambar Pada Mata Kuliah Filsafat Bahasa Agoes Hendriyanto. Nimas Permata Putri. (Dosen PBSI STKIP PGRI Analisis Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Matematika Pada Penggunaan Turunan Fungsi Berdasarkan Langkah-Langkah Polya di SMA YPPK Taruna Dharma Jayapura Anastasia Nanci Sawitto. Yosefin Rianita Hadiyanti. Pitriana Tandililing (Mahasiswa dan Dosen Prodi Pendidikan Matematika FKIP. Uncen. Jayapur. Globalisasi: Menindas dan Memiskinkan Masyarakat Dheny Wiratmoko (Dosen Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Pacita. Analisis Filsafat dan Implikasi pada Proses Pendidikan Entoh Tohani (Dosen Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Yogyakart. Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Ditinjau dari Motivasi Siswa Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas Vi MTs Abu Darrin Kendal Bojonegoro Nur Rohman (Dosen Prodi Pendidikan Matematika IKIP PGRI Bojonegor. Variasi. Keunikan, dan Penggunaan Tingkat Tutur Bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan (Tinjauan Sosiolinguisti. Sri Pamungkas dan Eny Setyowati (Dosen PBSI STKIP PGRI Pacita. Analisis Peran Wanita Dalam Hukum Perkawinan di Indonesia Ditinjau dari Perspektif Gender Susilo Surahman (Dosen IAIN Surakart. Pengaruh Kecemasan Dan Kepercayaan Diri Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacitan Urip Tisngati dan Nely Indra Meifiani (Dosen Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacita. KATA PENGANTAR Kehadiran Jurnal Penelitian Pendidikan (JPP) Volume 6. Nomor 1 Tahun 2014 pada hakikatnya merupakan bentuk komitmen sivitas akademika STKIP PGRI Pacitan untuk ikut serta secara aktif dalam membangun dan memberdayakan masyarakat melalui ide, gagasan dan konsep pendidikan. Atas dasar itulah, redaktur berharap berbagai elemen masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam menyumbangkan artikel dan hasil penelitian dalam bidang pendidikan agar visi dan misi JPP sebagai media komunikasi, penelitian serta pengembangan ilmu-ilmu pendidikan dapat lestari. Perjalanan JPP yang memasuki usia yang ke-6 pada tahun 2014 memantik asa segenap dewan redaksi untuk senantiasa meningkatkan kuantitas dan kualitas naskah-naskah yang masuk ke dapur Agar memenuhi standar kualitas yang dimaksud, redaktur sejak 2010 telah membentuk dan memilih mitra bestari eksternal dari pelbagai universtas di Indonesia agar dapat me-review naskahnaskah tersebut. Harapannya, kualitas JPP semakin hari kian matang dan berbobot. Kebijakan ini tentunya berdampak secara sistemik, agar kontributor JPP dapat meningkatkan kualitas tulisannya, karena tidak semua naskah yang masuk, nantinya dapat dimuat dan diterbitkan. Terakhir, kami berharap semoga di edisi kali ini dapat membawa pencerahan dan menghadirkan sajian terbaik bagi semua pembaca. Hanya kepada Tuhan kami berserah diri, selamat membaca. PENINGKATAN NILAI-NILAI KARAKTER MAHASISWA MELALUI KST DAN MEDIA GAMBAR PADA MATA KULIAH FILSAFAT BAHASA Agoes Hendriyanto Nimas Permata Putri Dosen PBSI STKIP PGRI Pacitan E-mail: rafid. musyffa@gmail. Abstract: Character education does not merely teach what is true or false, but inculcates habituation of the goodness so that the students will understand, feel, appreciate, and practice. Based on the results of study: . The implementation of Cooperative Learning type Throwing Snowball, and picture media can enhance studentsAo character values. It can be seen from the results of the pre-test 2. 33 and the final result is 2. The implementation of Cooperative Learning type Throwing Snowball, and picture media can enhance the ability to think deeply and systematically of the language. It can be seen from the results of the pre-test, from 2. 33 to 2. 8 in the final score. The implementation of Cooperative Learning type Throwing Snowball, and picture media can enhance the quality of learning viewed from the results of the questionnaire level of studentsAo satisfaction toward lecturer that reaches 71%. Keywords: Cooperative Learning type Snowball Throwing. Picture Media. Character. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang dijabarkan dalam Undang-undang SISDIKNAS pasal 3 mengamanatkan agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang mengarah kepada peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sejarah pengembangan karakter telah lama menjadi suatu tujuan kritis yang lebih diutamakan dalam dunia pendidikan (Berkowitz & Fekula, 1. Menurut (Chickering, 2. berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan adalah bagaimana menumbuhkan nilai-nilai karakter. Dalam buku Assessing character outcomes in college (Dalton. Russell & Kline, 2. dalam lembaga pendidikan yang menjadi tujuan utama yaitu penanaman nilai-nilai karakter. Para ahli percaya bahwa pendidikan itu sendiri adalah usaha bermoral dengan satu tujuan utama yaitu mengembangkan kebajikan pada siswa atau peserta didik (Balmert&Ezzell, 2. Ahli yang sama juga menyatakan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan suatu lembaga dengan niat yang mulia dalam rangka mengembangkan karakter mulia (Berkowitz. Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. Karakter mulia sama dengan istilah AukebajikanAy yang didefinisikan sebagai perwujudan dari moralitas yang tinggi dan kejujuran ( Fischer & Bidell, 2. Kebajikan tersebut sebagai akibat yang didasarkan kepada tradisi filsafat dan agama (Nussbaum, 1. Kebajikan menurut (Rizvi, 2006. Thornburg, 2. , berfungsi sabagai salah satu elemen terpenting yang dapat menjabarkan dan memperkuat karakter. Lebih jauh karakter mempunyai dua komponen utama yaitu karakter baik dan buruk (Walberg&Wynne. Berdasarkan pendapat di atas moralitas yang didasari oleh nilai agama yang mengandung aspek-aspek kebajikan yang mendorong untuk pembentukan karakter yang baik. Menurut pendapat (Huitt, 1. , pembelajaran yang dilakukan dalam mengajarkan pengetahuan kepada peserta didik harus meliputi aspek-aspek kognitif, afektif, dan perilaku. Selain itu pelaksanaan pembelajaran dan layanan pendidikan harus menggunakan pendekatan belajar berbasis karakter, yang selalu melakukan suatu perubahan dalam pembelajaran yang berbasis karakter yang meliputi aspek kognitif, afektif, adanya motivasi, dan psikomotorik yang sangat mempengaruhi dalam pembentukan karakter siswa yang terbuka dalam menerima setiap pengembangan pengajaran yang dilakukan oleh guru dalam rangka pembangunan karakter ( Huitt, 2. Selain itu juga sangat perlu sekali membuat suatu bentuk pembelajaran karakter dengan menggunakan metode pengajaran yang inovatif dan kreatif untuk mencapai hasil pembangunan karakter. Pencapaian pengembangan karakter bukan hanya tugas dari pendidik tetapi masyarakat akan merasa mempunyai tanggung jawab dalam pencapaian. akademik kompetensi dan pengembangan karakter (Wynne & Walberg. Pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan nilai-nilai karakter mahasiswa. Sementara itu karakter mahasiswa khususnya di STKIP PGRI Pacitan masih sangat rendah, yang tercermin pada saat proses belajar mengajar berlangsung mahasiswa banyak yang hanya datang, duduk, pulang, serta masih rendahnya minat baca mahasiswa dengan masih rendahnya kunjungan ke perpustakaan, dan tingkah laku mahasiswa di luar kampus masih banyak yang tidak mencerminkan seorang mahasiswa. Untuk itu peneliti sangat tertarik untuk meningkatkan karakter mahasiswa khususnya program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia melalui pembelajaran dan media gambar yang Kondisi ini tercermin dari hasil skor rata-rata pre test mahasiswa semester dua PBSI STKIP PGRI Pacitan sebesar 2. 33 masih di bawah standar yang diinginkan. Pembelajaran kooperatif Snowball Throwing merupakan salah satu strategi pembelajaran yang menekankan adanya unsur-unsur kerjasama dalam melatih kemampuan menyimak, menulis, membaca, dan berbicara mahasiswa terutama dalam kelompok, dan mempunyai tujuan untuk menghasilkan perubahan-perubahan dalam kelompok mahasiswa khususnya peningkatan nilai karakter yang akan berpengaruh terhadap nilai akhir. Selain faktor tersebut di atas peran media pembelajaran sangat penting sebagai alat bantu untuk mensukseskan pengajaran. Pembuatan media pembelajaran yang murah, dan efektif serta tidak menghabiskan waktu dalam pembelajaran perlu sekali dikembangkan dalam rangka untuk mencapai suatu keberhasilan dalam pembelajaran. Dalam penelitian ini menggunakan media gambar dalam rangka penyajian dari pengajaran lebih menarik, lebih standar, lebih interaktif, dan meningkatkan sifat yang positif bagi peserta didik. Dalam konteks itu, penelitian ini fokus menyoal apakah pembelajaran kooperatif snowball throwing dan penggunaan media gambar dapat meningkatkan nilai-nilai karakter mahasiswa dalam kemampuan berpikir dalam mata kuliah filsafat bahasa?. apakah pembelajaran kooperatif snowball throwing dan penggunaan media gambar dapat pula meningkatkan kualitas pembelajaran dalam mata kuliah filsafat bahasa? METODE Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di tingkat satu semester genap. Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Pacitan. Subjek dalam penelitian ini ialah mahasiswa tingkat I semester genap kelas B. STKIP PGRI Pacitan tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah mahasiswa sebanyak 30 anak. Penelitian menggunakan 2 siklus yang tiap siklus 4 kali Agoes Hendriyanto & Nimas Permata Putri. Peningkatan Nilai-nilai Karakter. pertemuan dengan rincian 3 kali pertemuan materi filsafat bahasa dan 1 pertemuan evaluasi. Adapun prosedur penelitian tiap siklus meliputi . penyusunan rencana tindakan. Sumber data utama penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan (Moleong, 2002:. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah wawancara, observasi, tes angket kepribadian, tes lisan, tes tulis, dan analisis dokumen dari nilai pada semester satu matakuliah Filsafat. Validitas data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua teknik. Dua teknik tersebut ialah triangulasi metode dan triangulasi sumber data. Analisis data dapat dilakukan dengan teknik deskriptif komparatif dan teknik analisis kritis. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Deskripsi Data Rata-rata nilai akhir mahasiswa dalam perkuliahan filsafat bahasa yang merupakan gabungan nilai Afektif. Kognitif dan psikomotorik yang terangkum dalam penilaian portofolio yang Tugas, nilai mid semester dan Ujian semester didapatkan skor nilai akhir sebesar: 2. > dari nilai prata-rata pre test sebesar 2. Hasil distribusi frekuensi nilai pre-test siswa dapat dilihat dalam tabel 1 berikut. Tabel 1. Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Pre-Test Interval Frekuensi Absolut Frekuensi Relatif (%) EoA 3 Ae 3. 2 Ae 2. 1 Ae 1. Jumlah Berdasarkan tabel 1 tersebut, terlihat bahwa siswa yang telah mencapai nilai di atas standar yang telah ditentukan sebesar 26. 7 %. Pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing dan penggunaan media gambar dapat meningkatkan nilai akhir mata kuliah filsafat bahasa. Besaran kenaikannya pada nilai akhir mata kuliah filsafat bahasa jumlah mahasiswa yang mencapai nilai di atas standar yang telah disepakati pada awal perkuliahan sebesar 60%. Jika dibandingkan dengan nilai pre-test terjadi peningkatan sebesar 3 %. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa faktor penyebab masih 30 % mahasiswa yang di bawah standar selain mahasiswa tersebut masih semester dua yang masih kental dengan budaya pembelajaran di Sekolah Menengah Atas atau Sekolah menengah Kejuruan, bahkan Madrasah Aliyah, faktor lainnya sebagai berikut: niatnya menjadi mahasiswa hanya sebatas mencari gengsi. mereka kuliah sambil bekerja sehingga selain dia harus mencari ilmu kewajiban lainnya bagaimana mencari uang untuk keperluan sehari-harinya. faktor bawaan dalam hal ini tingkat kecerdasannya yang rendah. Untuk lebih jelasnya sebaran frekuensi nilai akhir mata kuliah filsafat bahasa dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Akhir Matakuliah Filsafat Bahasa Interval Frekuensi Absolut Frekuensi Relatif (%) EoA 3 Ae 3. 2 Ae 2. 1 Ae 1. Jumlah PEMBAHASAN Peningkatan Nilai Karakter Mahasiswa Berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi mahasiswa dalam memahami, menghayati, menganalisa, serta menerapkan penggunaan bahasa maka diterapkan pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing dan Penggunaan Media Gambar yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa mahasiswa khususnya terhadap fungsi bahasa. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan selama siklus 1 dan 2 terdapat peningkatan khususnya aspek membaca, berbicara, menulis serta karakter Model Pembelajaran Snowball Throwing ini memadukan pendekatan komunikatif, integratif, dan keterampilan proses. Kegiatan melempar bola pertanyaan ini akan membuat kelompok menjadi dinamis, karena mahasiswa melakukan berbagai kegiatan yang meliputi: berpikir, menganalisis, membaca, menulis, bertanya, dan berbicara. Sehingga pembelajaran ini sangat tepat untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dalam mata kuliah Filsafat bahasa Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. yang meliputi peningkatan kemampuan membaca, berbicara, dan menulis yang berdasarkan analisis mendalam terhadap objek berupa kata, kalimat maupun wacana. Penelitian PTK ini dilakukan dalam 2 siklus, tiap siklus selalu dilakukan perencanaan, proses pembelajaran, dan evaluasi baik aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya yang sangat tergantung pada situasi dan kondisi pembelajaran di ruang kuliah. Pada siklus pertama, pada pertemuan pertama mahasiswa kita sodori kontrak perkuliahan, yang meliputi pembelajarannya, materi kuliah. Adapun komponen penilaian yang akan digunakan meliputi penilaian aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang waktunya sangat tergantung pada situasi pembelajaran. Pada pertemuan pertama ini kita mencoba menggunakan pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing dan Penggunaan Media Gambar dengan melakukan pembagian kelompok yang berdasarkan hasil pre test yang pada akhir pembelajaran ini akan Selain itu, untuk memperlancar proses perkuliahan maka setiap kelompok harus memiliki materi perkuliahan baik dengan membeli buku filsafat bahasa ataupun usaha lainnya tanpa harus menggandakan dengan foto copy. Mahasiswa kita kelompokkan menjadi 10 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 3 mahasiswa, yang masing-masing telah kita bagi materi sebelum perkuliahan berakhir, yang menjadi tugas kelompok. Pada siklus pertama ini aspek yang dinilai meliputi: . aspek afektif mahasiswa yang meliputi absensi, kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, menghargai karya dan pendapat orang lain. aspek kognitif yaitu. berupa kemampuan berbicara, membaca. aspek psikomotorik berupa hasil simpulan dari setiap jawaban mahasiswa yang ditulis di buku Pada siklus 2 pada prinsipnya sama dengan siklus 1 yang berbeda hanya pada materi yang dibahas dan dianalisis. Evaluasi kemampuan berbicara pada siklus 1 secara individu dilaksanakan mulai pertemuan kedua dengan melakukan pengamatan satu persatu mahasiswa pada akhir pembelajaran didapatkan skor rata-rata mahasiswa 1. masih sangat rendah. Untuk meningkatkan kemampuan berbicara diterapkan pembelajaran KST (Kooperatif Snowball Throwin. dengan bantuan media gambar. Untuk aspek kedisiplinan dilakukan absensi pada awal dan akhir perkuliahan dan tingkat kehadiran mahasiswa pada siklus pertama selama 4 kali pertemuan ratarata tiap kali pertemuan 3 mahasiswa yang tidak Evaluasi kemampuan berbicara pada siklus 2 secara kelompok dan perorangan dilaksanakan mulai pertemuan ke lima sampai ke delapan dengan melakukan pengamatan satu persatu mahasiswa. Pada akhir siklus kedua didapatkan skor rata-rata kemampuan berbicara mahasiswa 2. 18 terjadi peningkatan sebesar 0. 41 dibandingkan dengan siklus I. Disebabkan telah terjadi peningkatan berbicara mahasiswa maka pada siklus pertama untuk lebih memanfaatkan waktu pada siklus II diberikan tugas untuk membuat artikel ilmiah dengan tema Karakter dan bahasa. Maksudnya memberikan ruang untuk menganalisa secara mendalam terhadap tema yang dipilih dengan terlebih dahulu melihat gambar yang telah diberikan dosen. Peran dari media gambar visual sangat berperan untuk memberikan suatu daya pikir mahasiswa sehingga akan terpacu untuk membuat tulisan yang berbentuk artikel dengan tema bahasa. Media gambar sebagai perantara materi perkuliahan dengan tujuan akhir pembelajaran. Media digunakan untuk menganalisa tema berdasarkan gambar, sehingga akan mempermudah menuangkan ide atau gagasan ke dalam bahasa tulis dan lisan. Bahasa tulis yaitu dengan pembuatan artikel dengan judul dan tema yang didapatkan dari lemparan kelompok lainnya. Kemudian judul tersebut harus segera dikonsultasikan kepada dosen untuk menyempurnakannya. Pembuatan artikel dengan waktu 4 kali pertemuan mahasiswa dapat konsultasi dengan dosen secara langsung. Adapun pada akhir siklus II ini dilakukan evaluasi kinerja mahasiswa yang berupa tulisan artikel yang didapatkan skor rata-rata 3. Dengan demikian, peningkatan kompetensi menulis yang dapat dilihat dari hasil skor yang di atas nilai 3 atau B, jika dibandingkan dengan skor rata-rata siklus I dengan skor 2. 4 terjadi peningkatan Penekanan penilaian pada kemampuan berbicara secara berkelompok mempunyai alasan bahwa kompetensi berbicara di dalamnya mengandung aspek karakter seperti: Kejujuran dan Kedisiplinan. Tanggung Jawab, kepedulian, kerja sama, kemandirian, menghargai pen- Agoes Hendriyanto & Nimas Permata Putri. Peningkatan Nilai-nilai Karakter. dapat orang lain. Seorang yang mempunyai kemampuan berbicara yang baik mampu untuk melihat situasi dan kondisi pada umumnya memiliki sifat: . kejujuran dan kedisiplinan,. tanggung jawab, . kepedulian, . kerja sama, . kemandirian, . menghargai pendapat orang lain, . keberanian, . kreatifitas, dan . nilainilai religius. Hasil evaluasi kemampuan membaca dan menyimak pada siklus I skor mahasiswa sebesar 2. 13 dan pada siklus II terjadi peningkatan kemampuan membaca sebesar 0. dengan skor nilai mahasiswa sebesar 2. Pada dasarnya peningkatan kemampuan berbahasa yang lebih menekankan kepada fungsinya secara otomatis akan berimbas terwujudnya nilai-nilai karakter seperti: Kejujuran dan Kedisiplinan. Tanggung Jawab kerja sama, kemandirian, dan Dalam hal ini pendidikan karakter bukan hanya mengajarkan mana yang salah maupun yang benar tetapi lebih pada penanaman kebiasaan yang baik sehingga mahasiswa memahami adanya suatu kebaikan dan kebenaran yang dengan kesadarannya akan mewujudkannya dalam setiap kegiatannya. Dalam pembelajaran ini penanaman nilai karakter yaitu dengan pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing yang ditunjang dengan media gambar untuk lebih menguatkan pemahaman mahasiswa terhadap nilai-nilai kebaikan yang didapatkannya dengan menganalisa suatu bentuk gambar. Jika, dilihat pada skor pre test mahasiswa yang merupakan hasil dari penjumlahan nilai Tugas. Mid Semester dan Ujian Semester didapatkan skor nilai sebesar 2. 33 dengan skor: A= nilainya 4. B=nilainya 3. C = nilainya 2, dan D = Pada pelaksanaan pembelajaran pada siklus 1 dan 2 dilakukan suatu bentuk evaluasi tugas individu maupun kelompok berdasarkan ketiga aspek berbahasa. Pada akhir siklus I dilakukan mid semester dengan mendapatkan skor mid test rata-rata sebesar 3. Pada akhir siklus II dilakukan Ujian Terakhir yang biasanya soalnya lebih sulit hal ini dibuktikan dengan hasil skor rata-ratanya Berdasarkan aturan formalitas dalam penilaian akhir yang merupakan gabungan dari nilai afektif, kognitif, dan psikomotorik maka didapatkan rumus untuk penilaian akhir . X . kali penilaian afektif /psikomotorik/ . ) . X Mid Tes. X Ujian Akhi. )/ 100 = . ,6 X . 03 X . 97 X . / 100 maka didapatkan skor 2. jika dibandingkan dengan pre test dengan skor 2. 33 terjadi peningkatan sekitar 0,47. Selain penilaian di atas maka pada akhir pembelajaran juga kami lakukan tes angket sikap dan karakter mahasiswa yang meliputi tujuh komponen sikap dan karakter mahasiswa yang meliputi : . tanggung jawab, . kepedulian dan kejujuran, . Kedisiplinan dan kerja sama , . kemandirian, . kreatifitas, . menghadapi pendapat orang lain, . cinta tanah air, dan . religiusitas didapatkan skor rata144. Jika dibagi dengan jumlah tes angket 45 akan di dapatkan Untuk skor 3. 2 terletak pada skor sikap cukup baik di bawah skor sikap yang tertinggi . = Sangat Tidak baik, 2 = Tidak Baik, 3 = Baik, dan 4 = Sangat Bai. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai karakter mahasiswa sangat tinggi. Peningkatan Kualitas Pembelajaran Berdasarkan nilai rata-rata angket pembelajaran Dosen dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing dan Penggunaan Media Gambar yang dilakukan oleh mahasiswa didapatkan nilai skor 71 % bahwa pembelajaran dosen kreatif, inovatif dan efektif. Adapun aspek angket tanggapan mahasiswa terhadap kinerja dosen dalam pembelajaran meliputi: kemampuan dalam mengajar menarik dan simpatik, kemampuan dalam penguasaan kelas baik, tugas yang diberikan sangat diperlukan dalam meningkatkan keterampilan mahasiswa, selalu melibatkan mahasiswa dalam setiap pembelajaran, pelaksanaan penilaian secara adil dan baik, selalu memberikan bimbingan pada mahasiswa dengan baik, memberikan motivasi dalam setiap pembelajaran, memberikan pendidikan karakter dalam setiap pembelajaran yang dilakukan, memberikan tugas yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa, selalu tepat waktu dalam melaksanakan pembelajaran, selalu menanamkan sikap bahwa sebelum menilai kelemahan seseorang nilailah diri kita sendiri, mengingatkan akan pentingnya sikap religiusitas kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengingatkan kepada mahasiswa tentang pentingnya suatu kemandirian dalam menghadapi era globalisasi, selalu memotivasi kepada mahasiswa tentang pentingnya soft skill yaitu kemampuan berbahasa dan matematika, selalu mengingatkan arti pentingnya suatu kerja sama dalam setiap kegiatan. Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. selalu mengajarkan tentang analisis setiap bahasa baik tulis maupun lisan sebagai acuan dalam bertindak, selalu menghubungkan antara materi dengan kenyataan di lapangan, selalu mengajak mahasiswa untuk selalu mandiri sehingga bisa menjadi seorang wiraswasta, dan selalu memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk berekspresi di dalam kelas. Adapun yang menjadi catatan mahasiswa kepada dosen untuk memperbaiki pembelajaran pada perkuliahan semester yang akan datang adalah dosen harus selalu memperhatikan mahasiswa yang belum menguasai materi, penguasaan bahan atau materi ajar dosen harus lebih difokuskan dan ditingkatkan. Kemampuan personal seorang dosen sangat dibutuhkan dalam rangka untuk menyebarluaskan ide, gagasan, dan nilai yang dimilikinya menggunakan bahasa kepada mahasiswa. Dosen mampu untuk memberikan contoh keteladanan dalam aspek berbahasa, bukan hanya menunjukkan contoh. Seorang dosen harus mempunyai karya tulis yang berupa buku atau karya ilmiah yang dipublikasikan, dan kemampuan berbicaranya yang baik yang mencerminkan ide, sikap, dan nilai-nilai karakter. Pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing dan penggunaan media gambar mampu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan semakin meningkatnya nilai kognitif, afektif, dan psikomotorik mahasiswa yang ditunjukkan pada nilai akhir filsafat bahasa sebesar 2. 8 yang meningkat jika dibandingkan dengan hasil pre test sebesar 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing dan Penggunaan Media Gambar dapat meningkatkan Nilai-Nilai Karakter Mahasiswa hal ini bisa kita lihat terjadi peningkatan skor rata-rata pada pre test sebesar 2. 33, dan hasil nilai Dengan menggunakan pembelajaran di atas karakter mahasiswa terjadi suatu peningkatan sehingga pembelajaran Kooperatif Snowball throwing dan penggunaan Media Gambar dapat digunakan dalam peningkatan nilai karakter mahasiswa yang semakin hari semakin Penerapan Pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing dan Penggunaan Media Gambar dapat meningkatkan kemampuan berpikir secara mendalam dan sistematis dapat dilihat terjadi peningkatan skor rata-rata pada pre test sebesar 2. 33, dan hasil akhir 2. Kemampuan berpikir mahasiswa terlihat jelas dari nilai akhir mahasiswa terjadi peningkatan sebesar 0,57 walaupun sangat kecil tetapi pembelajaran ini membawa pengaruh terhadap daya pikir mahasiswa dalam memahami setiap persoalan yang Selain yang tersebut di atas Penerapan Pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing dan Penggunaan Media Gambar dapat meningkatkan Kualitas Pembelajaran hal ini dapat dilihat dari angket tanggapan terhadap mahasiswa terhadap pembelajaran yang dilakukan dosen sangat Mahasiswa sangat antusias sekali dengan pembelajaran ini hal ini terlihat dalam suasana pembelajaran yang kondusif yang mencerminkan hubungan kausalitas antara mahasiswa dan dosen. Pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing mengandung nilai-nilai sikap, karakter seperti: kerjasama, suka menolong, menghargai pendapat orang lain, tanggung jawab, kreatif, kemandirian, jujur, dan keberanian. Saran Masih memerlukan suatu penyempurnaan khususnya materi dalam pembelajaran filsafat bahasa sehingga kedepannya akan terjadi sinergi antara metode pembelajaran yang digunakan, dosen, materi ajar, situasi kontekstual mahasiswa pada saat itu yang sebelumnya telah disempurnakan. Sehingga pembelajaran bisa disesuaikan berdasarkan kebutuhan di kelas. Untuk itu maka perlu adanya pemikiran yang lebih mendalam dalam rangka untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dapat meningkatkan karakter mahasiswa serta kemampuan kognitif dan psikomotorik. Membuka cakrawala atau sudut pandang yang luas bagi peneliti untuk mengembangkan penelitian karakter lebih lanjut sehingga akan bermanfaat bagi perkembangan pembelajaran Bahasa Indonesia. Perlu adanya peningkatan motivasi belajar mahasiswa sehingga pembelajaran dan materi ajar yang telah dipersiapkan oleh dosen akan berjalan seiring sehingga tujuan dari pendidikan yaitu menciptakan manusia yang cerdas dan berkarakter akan tercipta dan Agoes Hendriyanto & Nimas Permata Putri. Peningkatan Nilai-nilai Karakter. DAFTAR PUSTAKA Berkowitz. , & Fekula. Educating for character. About Campus, 4. , 17Ae22. Berkowitz. The science of character In W. Damon (Ed. Bringing in a new era in character education ( pp. 43Ae. Stanford. CA: Hoover Press. Dalton. Russell. , & Kline. (Eds. Assessing character outcomes in San Francisco: Jossey-Bass. Doni Koesoema A. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo. Cet. Echols. John M. dan Hassan Shadily. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia. Cet. XV. Farmer. Jesley. Cooperative Learning Activities in the Library Media Center. Englewood. Colo : Libraries Unlimited/ Teacher Ideas Press. Fischer. , & Bidell. Dynamic development of action, thought and In R. Lerner (Ed. Handbook of Child Psychology. Vol. Theoretical models of human development . th ed. New York. NY: Wiley. Hamzah. Uno. Profesi Kependidikaan. Jakarta: Bumi Aksara. Huitt. Moral and character Education Psychology Interactive. Valdosta. GA: Valdosta State University. Retrieved from http://chiron. edu/whuitt/col/morchr/morchr. Lexy J. Moeloeng. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Lickona. Thomas. Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility. New York. Toronto. London. Sydney. Aucland: Bantam books. Kevin Ryan & Karen E. Bohlin. Building Character in Schools: Practical Ways to Bring Moral Instruction to Life. San Francisco: Jossey Bass. Nussbaum. Patriotism and In M. Nussbaum & J. Cohen (Eds. For the love of country: Debating the limits of patriotism. Cambridge. MA: Beacon Press. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. Cet. Suprijono. Agus. Cooperative Learning Teori&Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta. Pustaka Pelajar Suyatno, 1998. Menjelajar Pembelajaran Inovatif. Jakarta:Rineka Cipta. Thornburg. What do we mean by virtue? Journal of Education, 182. , 1-9. Uno. Hamzah B. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara Press. Wynne. , & Walberg. The complementary goals of character development and academic excellence. Educational Leadership, 43. , 15-18. Munadi. Media Pembelajaran (Sebuah Pendekatan Bar. Jakarta: Gaung Persada Perss. ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA PADA PENGGUNAAN TURUNAN FUNGSI BERDASARKAN LANGKAH-LANGKAH POLYA DI SMA YPPK TARUNA DHARMA JAYAPURA Anastasia Nanci Sawitto Yosefin Rianita Hadiyanti Pitriana Tandililing Mahasiswa dan Dosen Prodi Pendidikan Matematika FKIP. Uncen. Jayapura E-mail: yrh_yanti@yahoo. Abstract: This study is a descriptive study using a qualitative approach. The purpose of this study is to describe the location of the fault response and the factors that cause the errors students as well as to find out a solution how to solve the error response of the student in solving problems based on the use of derivative function Polya steps consisting of four steps, namely problem solving . understanding the problem, . completion of the plan, . implementation of the settlement plan. The result shows that: the mistakes made by the students in understanding the problem that is not writing down what is known and what is being asked of the problem as well as one in writing what is being asked of the matter. mistakes made by students in the completion of the plan that did not make the settlement error in executing the settlement plan that does not transcribe information on the number line, one in determining the derivative function, one in the wrong in the counting process and write the final answer of the question. and the mistakes made by students that the students do not check back answers that have been obtained. Keywords: error analysis. Polya measures, the use of derivative function Berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), salah satu tujuan mata pelajaran matematika adalah siswa dituntut memiliki kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, membuat model, dan menafsirkan solusi yang Pemecahan masalah merupakan bagian yang sangat penting dalam pembelajaran Namun, pada kenyataannya banyak siswa melakukan kesalahan dalam pengerjaan soal khususnya pada materi penggunaan turunan fungsi dalam pemecahan masalah. Salah satu langkah pemecahan masalah yang dapat digunakan adalah langkah-langkah Polya. Polya . 5: . mengatakan bahwa pemecahan masalah adalah salah satu aspek berpikir tinggi sebagai proses menerima masalah dan berusaha menyelesaikan masalah tersebut. Langkahlangkah pemecahan masalah yang dapat digunakan sebagaimana dikembangkan oleh Polya meliputi: . memahami masalah, . merencanakan penyelesaian, . melaksanakan rencana penyelesaian, dan . memeriksa kembali langkah-langkah yang telah dikerjakan. Anastasia Nanci Sawitto. Yosefin Rianita Hadiyanti & Pitriana Tandililing. Analisis Kesalahan. Penyelesaian soal berdasarkan langkah-langkah Polya dapat membantu siswa untuk lebih memahami proses sistematis yang harus ditempuh untuk memperoleh jawaban akhir yang tepat dan melatih keterampilan berpikir siswa dalam menyelesaikan soal berbentuk soal cerita. Agar mengetahui letak dan faktor penyebab kesalahan yang dilakukan siswa maka perlu untuk melakukan analisis terhadap hasil tes soal instrumen dan hasil wawancara siswa. Dalam hal ini, analisis yang dilakukan difokuskan pada kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal penggunaan turunan fungsi berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya. Setelah mengetahui letak dan faktor penyebab kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal penggunaan turunan fungsi maka dapat ditentukan alternatif solusi METODE Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai, maka penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala yang sedang terjadi sekarang. Menggunakan pendekatan kualitatif karena data yang diperoleh dinyatakan dalam bentuk verbal dan dianalisis tanpa menggunakan teknik statistik. Dalam penelitian ini, subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA YPPK Taruna Dharma Jayapura. Peneliti melakukan observasi untuk melihat aktivitas siswa dan kegiatan guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Kemudian memberikan tes tertulis pada siswa yang terdiri dari 3 butir soal uraian pada materi penggunaan turunan fungsi. Berdasarkan hasil tes tertulis siswa tersebut dipilih enam . orang yang dijadikan subjek penelitian dengan kriteria sebagai berikut: . dua subjek dengan kemampuan tinggi (SKT) dengan nilai dua subjek dengan kemampuan sedang , dan (SKS) dengan dua subjek dengan kemampuan rendah (SKR) . subjek dapat diajak dengan nilai bekerja sama dan dapat mengutarakan pendapat secara lisan. subjek merupakan siswa yang selalu mengikuti kegiatan pembelajaran matematika pada materi turunan fungsi. Langkah selanjutnya adalah melakukan wawancara dengan keenam subjek penelitian. Salah satu cara untuk memperoleh keabsahan data pada penelitian kualitatif adalah dengan triangulasi. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi teknik. Peneliti menggunakan hasil tes tertulis dan hasil wawancara untuk membandingkan data yang dikumpulkan terhadap subjek penelitian. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, peneliti yang akan merencanakan, melaksanakan, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, serta membuat laporan hasil penelitian. Sedangkan instrumen bantu adalah tes tertulis dan pedoman Analisis data dimulai sejak persiapan penelitian sampai dengan setelah proses pengumpulan data selesai. Dalam penelitian ini teknik analisis data dilakukan melalui 3 tahap yaitu: . reduksi data, . penyajian data, dan . penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Atim . 8: . berpendapat bahwa analisis adalah suatu upaya penyelidikan untuk melihat, mengamati, mengetahui, menemukan, memahami, menelaah, mengklasifikasi, dan mendalami serta menginterpretasikan fenomena yang ada. Analisis mempunyai tujuan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan. Menurut Kamarullah . 5: . kesalahan adalah penyimpangan dari yang benar atau penyimpangan dari yang telah ditetapkan sebelumnya. Kesalahan adalah suatu bentuk penyimpangan terhadap hal yang dianggap benar atau penyimpangan terhadap sesuatu yang telah ditetapkan yang bersifat sistematis. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa analisis kesalahan adalah penyelidikan terhadap suatu masalah untuk mengetahui letak dan penyebab seseorang melakukan kekeliruan berdasarkan fakta sebenarnya yang mempunyai langkahlangkah tertentu. Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. Berdasarkan bentuk-bentuk kesalahan yang ada, maka jenis kesalahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kesalahan terjemahan, kesalahan konsep, kesalahan tanda, kesalahan prosedural dan kesalahan hitung. Jenisjenis kesalahan ini akan diuraikan berdasarkan langkah-langkah Polya sebagai berikut: kesalahan dalam memahami masalah memuat kesalahan terjemahan, indikator kesalahannya yaitu: . kesalahan menentukan apa yang diketahui dari soal, meliputi: . tidak menuliskan apa yang diketahui, . tidak lengkap menuliskan apa yang diketahui, dan . salah menuliskan apa yang diketahui. kesalahan menentukan apa yang ditanyakan dari soal, meliputi: . tidak menuliskan apa yang ditanyakan dari soal, . tidak lengkap menuliskan apa yang ditanyakan dari soal, dan . salah menuliskan apa yang ditanyakan dari dan . kesalahan dalam mengubah masalah menjadi kalimat matematika. kesalahan dalam merencanakan penyelesaian memuat kesalahan konsep, indikator kesalahannya yaitu: . kesalahan dalam menggunakan rumus, teorema atau definisi, . kesalahan dalam menentukan hubungan dari yang diketahui dengan yang ditanyakan, dan . tidak membuat rencana penyelesaian untuk menyelesaikan masalah. kesalahan dalam melaksanakan rencana memuat kesalahan konsep, kesalahan tanda, kesalahan prosedural dan kesalahan hitung. Indikator kesalahannya adalah sebagai berikut: . kesalahan dalam menggunakan pemisalan, . kesalahan dalam menuliskan tanda atau simbol matematika, . kesalahan dalam menentukan turunan dari suatu fungsi, . kesalahan dalam menentukan fungsi naik dan fungsi turun, . kesalahan dalam menentukan titik stasioner dan nilai stasioner, . kesalahan dalam menentukan nilai maksimum dan nilai minimum, . kesalahan dalam menghitung . enjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan perpangkata. , dan . kesalahan dalam menyatakan jawaban akhir soal, meliputi: . tidak menuliskan jawaban akhir soal, . tidak lengkap menuliskan jawaban akhir soal dan . salah dalam menuliskan jawaban akhir soal. kesalahan jika siswa tidak memeriksa kembali jawaban yang diperoleh. Hasil analisis data terhadap kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal penggunaan turunan fungsi berdasarkan langkahlangkah Polya diperoleh data sebagai berikut: . kesalahan dalam memahami masalah Kesalahan yang dilakukan subjek dalam memahami masalah adalah tidak menuliskan apa yang diketahui dan yang ditanyakan dari soal (SKS 1 untuk soal nomor . dan salah dalam menuliskan apa yang ditanyakan dari soal (SKS 2 untuk soal nomor 1 dan SKT 2 untuk soal nomor Hal ini disebabkan karena subjek kurang memahami maksud dari soal yang diberikan sehingga subjek tidak dapat menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan dari soal bahkan salah dalam menuliskan apa yang ditanyakan dari soal. kesalahan dalam merencanakan penyelesaian. Subjek dikatakan mampu merencanakan penyelesaian jika dapat mengetahui hubungan antara apa yang diketahui dengan apa yang ditanyakan dari soal. Dari hasil analisis data diperoleh bahwa sebagian subjek tidak dapat mengetahui hubungan antara yang diketahui dengan yang ditanyakan dari soal sehingga mengakibatkan subjek tidak dapat membuat rencana untuk menyelesaikan soal tersebut. Hal ini juga yang menyebabkan subjek 6 (SKR . melakukan kesalahan dalam membuat rencana penyelesaian yakni menghitung. kesalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian. subjek dikatakan mampu untuk melaksanakan rencana penyelesaian apabila tepat dalam menggunakan rumus dan menuliskan langkahlangkah penyelesaian. Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan terhadap subjek maka diperoleh kesalahan yang dilakukan siswa dalam melaksanakan rencana penyelesaian sebagai berikut: kesalahan dengan tidak menuliskan keterangan pada garis bilangan. Subjek melakukan kesalahan dengan tidak menuliskan keterangan pada garis bilangan. Subjek yang melakukan kesalahan ini yakni SKT 1. SKT 2, dan SKS 1 untuk soal nomor 1. Hal ini disebabkan karena subjek tidak mengikuti langkah-langkah pengerjaan soal dengan benar sehingga menyebabkan jawaban akhir dari subjek tidak benar. Kesalahan lain yang dilakukan subjek adalah salah dalam menuliskan angka pada garis bilangan (SKS 2 untuk soal nomor . , subjek menuliskan angka 4 di sebelah kiri dan angka 2 di sebelah Anastasia Nanci Sawitto. Yosefin Rianita Hadiyanti & Pitriana Tandililing. Analisis Kesalahan. kanan garis bilangan. Hal ini terjadi karena siswa kurang teliti saat menuliskan jawaban. kesalahan dalam menentukan turunan dari suatu fungsi. Dalam menyelesaikan soal penggunaan turunan fungsi diperoleh dua subjek yang melakukan kesalahan dalam menentukan turunan fungsi dari nomor 1 sampai nomor 3 yaitu SKR 1 dan SKR 2. Subjek tidak bisa menentukan turunan dari fungsi yang diketahui karena kurangnya konsep turunan yang dimiliki oleh subjek. kesalahan dalam melakukan proses penghitungan. Hasil analisis data diperoleh empat subjek yang melakukan kesalahan dalam proses penghitungan khususnya dalam operasi penjumlahan, pengurangan dan perpangkatan. Subjek melakukan kesalahan pada soal nomor 3. Subjek 1 (SKT . melakukan kesalahan dalam , subjek menganggap hasilnya sama dengan 36 yang seharusnya Untuk subjek 2 (SKT . melakukan kesalahan dalam menghitung 320 Ae 640 400, subjek menghitung hasilnya sama dengan 130 yang seharusnya 80. Sementara subjek 3 (SKS . melakukan kesalahan dalam memasukkan nilai sehingga memperoleh hasil akhir yang tidak benar. Sedangkan subjek 6 (SKR . melakukan kesalahan dalam merumuskan fungsi salah dalam memasukkan nilai, subjek menganggap nilai yang digantikan adalah yang seharusnya nilai Sehingga dapat dikatakan bahwa subjek kurang teliti dalam melakukan proses kesalahan dalam menuliskan jawaban akhir soal Kesalahan dominan yang dilakukan oleh subjek adalah kesalahan dalam menuliskan jawaban akhir dari soal. Berdasarkan analisis data yang diperoleh subjek tidak menuliskan jawaban akhir dari soal (SKS 2 untuk soal nomor . Hal ini disebabkan karena subjek menganggap langkahlangkah yang dikerjakan sudah selesai sehingga tidak menuliskan jawaban akhir dari soal. Subjek juga melakukan kesalahan dalam menuliskan jawaban akhir (SKT 1 dan SKT 2 untuk soal nomor . karena subjek tidak menghubungkan apa yang ditanyakan dengan kesimpulan yang ditulis sehingga membuat kesimpulan yang salah dan tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan dari Kesalahan dalam memeriksa kembali Dalam menyelesaikan soal penggunaan turunan fungsi, subjek dominan tidak memeriksa kembali jawaban yang telah mereka peroleh. Subjek yang tidak memeriksa kembali jawaban yang diperoleh untuk soal nomor 1: SKS 1 dan SKR 2. untuk soal nomor 2: SKT 2. SKS 2, dan SKR 2. dan untuk soal nomor 3: SKT 2. SKS 1. SKS 2. SKR 1, dan SKR 2. Beberapa subjek yakin dengan kebenaran jawaban mereka sehingga tidak memeriksanya kembali sedangkan subjek yang tidak memeriksa kembali jawaban yang telah diperoleh mengakibatkan jawaban dari subjek salah. Juga pada saat memeriksa kembali subjek kurang teliti sehingga memperoleh jawaban akhir yang salah. Berikut diagram subjek yang melakukan kesalahan: PEMBAHASAN Pembahasan untuk soal nomor 1. Diagram terlihat bahwa terdapat 1 subjek yang melakukan kesalahan memahami masalah, 2 subjek melakukan kesalahan merencanakan penyelesaian, 6 subjek melakukan ke-salahan merencanakan penyelesaian dan 2 subjek melakukan kesalahan memeriksa kembali. Dengan persentasi Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. kesalahan memahami masalah sebesar 16,67%, kesalahan merencanakan penyelesaian masalah sebesar 33,33%, kesalahan melaksanakan rencana sebesar 100% dan kesalahan memeriksa kembali sebesar 33,33%. Pembahasan untuk soal nomor 2. Soal nomor 2 terlihat bahwa terdapat 1 subjek yang melakukan kesalahan memahami masalah, 3 subjek melakukan kesalahan merencanakan penyelesaian dan 3 subjek melakukan kesalahan memeriksa kembali. Dengan adanya persentasi kesalahan memahami masalah sebesar 16,67%, kesalahan merencanakan penyelesaian sebesar 0% kesalahan melaksanakan rencana sebesar 50% dan kesalahan memeriksa kembali sebesar 50%. Pembahasan untuk soal nomor 3. Diagram terlihat bahwa terdapat 2 subjek yang melakukan kesalahan memahami masalah, 4 subjek melakukan kesalahan merencanakan penyelesaian, 4 subjek melakukan kesalahan merencanakan penyelesaian dan 5 subjek melakukan kesalahan memeriksa kembali. Dengan persentasi kesalahan memahami masalah sebesar 33,33%, kesalahan merencanakan penyelesaian masalah sebesar 66,67%, kesalahan melaksanakan rencana sebesar 66,67% dan kesalahan memeriksa kembali sebesar 83,33%. Dengan demikian secara keseluruhan dapat dibuat kesimpulan dari diagram diatas yakni persentasi untuk kesalahan memahami masalah sebesar 22,22%, kesalahan dalam merencanakan penyelesaian sebesar 33,33%, kesalahan dalam merencanakan penyelesaian sebesar 72,22%, dan kesalahan dalam memeriksa kembali sebesar 55,55%. Ini berarti kesalahan dalam melaksanakan rencana lebih besar daripada jenis kesalahan lainnya berdasarkan langkah-langkah Polya. Dalam menyelesaikan setiap soal, siswa melakukan kesalahan yang beragam. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya tentang penyebab terjadinya kesalahan yang dilakukan Penyebab kesalahan yang dilakukan siswa berdasarkan langkah-langkah Polya tersebut memiliki solusi untuk mengatasinya sebagai berikut: siswa belum mampu memahami masalah dari soal. Dalam menyelesaikan soalsoal yang berbentuk pemecahan masalah, siswa harus dapat memahami maksud dari soal tersebut dengan baik. Dalam hal ini guru harus sering memberikan soal yang berbentuk pemecahan masalah dan me- nuntun siswa dalam memahami maksud dari soal yang diberikan. Guru harus mengingatkan siswa untuk menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dari soal untuk mempermudah siswa dalam menyelesaikan soal. siswa tidak mampu dalam merencanakan pe nyelesaian. Kurangnya pemahaman yang dimiliki oleh siswa terhadap soal mengakibatkan siswa tidak mampu dalam membuat rencana penyelesaian. Berdasarkan hasil tes tertulis dan wawancara ditemukan beberapa subjek yang tidak membuat rencana penyelesaian karena tidak memahami maksud soalnya. Siswa tidak mampu mengetahui hubungan dari apa yang diketahui dengan apa yang ditanyakan. Untuk itu, guru perlu membimbing dan mengarahkan siswa agar dapat mencari hubungan dari apa yang diketahui dengan apa yang ditanyakan dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah sehingga dapat membuat rencana subjek melakukan kesalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Dalam melaksanakan rencana penyelesaian, siswa sering kali tidak teliti sehingga melakukan beragam kesalahan. Berdasarkan hasil tes tertulis dan wawancara, kesalahan yang dilakukan siswa yaitu tidak menuliskan keterangan pada garis bilangan, salah dalam menentukan turunan suatu fungsi, kesalahan dalam melakukan proses penghitungan dan kesalahan menuliskan jawaban akhir dari soal. Hal ini disebabkan karena kurangnya ketelitian dan konsep dari siswa mengenai turunan suatu fungsi. Maka dari itu, merupakan tugas guru agar selalu mengingatkan siswa agar teliti dalam melaksanakan rencana penyelesaian dengan langkah-langkah yang benar. Guru perlu untuk mengajarkan dengan baik konsep dari turunan dalam mencari turunan suatu Disamping itu, guru juga harus mengingatkan siswa agar menuliskan akhir dari soal berdasarkan apa yang ditanyakan dari soal tersebut. subjek tidak memeriksa kembali jawaban yang telah diperoleh. Setelah selesai Anastasia Nanci Sawitto. Yosefin Rianita Hadiyanti & Pitriana Tandililing. Analisis Kesalahan. melaksanakan rencana penyelesaian, masih ada langkah berikutnya yang perlu dilakukan oleh siswa yakni memeriksa kembali jawaban yang telah diperoleh. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh bahwa beberapa siswa tidak memeriksa kembali jawaban yang diperoleh. Untuk itu, saat memberikan latihan soal kepada siswa guru harus mengingatkan kepada siswa agar memeriksa kembali jawaban yang telah diperoleh oleh siswa. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan maka disusun beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pertama, kesalahan-kesalahan yang dilakukan subjek dalam menyelesaikan soal-soal penggunaan turunan fungsi berdasarkan langkah Polya adalah sebagai berikut: . subjek dengan kemampuan tinggi (SKT 1 dan SKT . SKT 1 melakukan kesalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian yakni tidak menuliskan keterangan pada garis bilangan dan salah dalam menuliskan jawaban akhir untuk soal nomor 1 serta salah dalam proses penghitungan untuk soal nomor 3. SKT 2 melakukan kesalahan dalam memahami masalah yakni salah menuliskan apa yang ditanyakan pada soal nomor 3. melaksanakan rencana penyelesaian yakni tidak menuliskan ke-terangan pada garis bilangan dan salah dalam menuliskan jawaban akhir untuk soal nomor 1, salah dalam proses penghitungan untuk soal nomor 3. dan kesalahan tidak memeriksa kembali jawaban yang diperoleh untuk soal nomor 2 dan soal nomor 3. Subjek dengan kemampuan sedang (SKS 1 dan SKS . SKS 1 melakukan kesalahan dalam merencanakan rencana penyelesaian yakni tidak membuat rencana penyelesaian untuk soal nomor dalam melaksanakan rencana penyelesaian yakni tidak menuliskan keterangan pada garis bilangan dan salah dalam menuliskan jawaban akhir untuk soal nomor 1, salah dalam proses penghitungan untuk soal nomor 3. dan tidak memeriksa kembali jawaban yang diperoleh untuk soal nomor 1 dan 3. SKS 2 melakukan kesalahan dalam memahami masalah yakni tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan dari soal. dalam merencanakan penyelesaian yakni tidak membuat rencana penyelesaian untuk soal nomor 3. dalam melaksanakan rencana penyelesaian yakni salah menggambarkan garis bilangan dan menuliskan jawaban akhir untuk soal nomor 1, tidak menuliskan jawaban akhir untuk soal nomor 2. dan tidak memeriksa jawaban yang diperoleh untuk soal nomor 2. subjek dengan kemampuan rendah (SKR 1 dan SKR . SKR 1 melakukan kesalahan dalam merencanakan penyelesaian yakni tidak membuat rencana penyelesaian untuk soal nomor 1 dan 3. dalam melaksanakan rencana penyelesaian yakni salah dalam menentukan turunan fungsi untuk soal nomor 1 dan 2. dan tidak memeriksa kembali jawaban yang diperoleh untuk soal nomor 3. SKR 2 melakukan kesalahan dalam merencanakan penyelesaian yakni tidak membuat rencana penyelesaian untuk soal nomor 1 dan 3. dalam melaksanakan rencana penyelesaian yakni salah dalam menentukan turunan pertama fungsi untuk soal nomor 1 dan untuk soal 2, salah dalam merumuskan fungsi dan tidak memeriksa kembali jawaban yang diperoleh untuk nomor 1 sampai 3. Kedua, faktor-faktor yang menyebabkan kesalahan yang dilakukan subjek dalam menyelesaikan soal-soal penggunaan turunan fungsi berdasarkan langkah-langkah Polya adalah sebagai berikut: subjek dengan kemampuan tinggi (SKT 1dan SKT . Kesalahan yang dilakukan SKT 1 disebabkan karena subjek kurang teliti dalam menuliskan langkah-langkah penyelesaian sehingga melakukan kesalahan dalam melaksana kan rencana penyelesaian. Subjek tidak menghubungkan dari yang ditanyakan dengan jawaban akhir soal sehingga salah dalam menuliskan jawaban Kesalahan yang dilakukan SKT 2 disebabkan karena subjek kurang memahami soal sehingga salah menuliskan yang ditanyakan dari soal, subjek kurang teliti dalam mengerjakan soal sehingga melakukan kesalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian, dan subjek sudah yakin dengan jawaban yang diperoleh sehingga tidak memeriksa kembali jawaban yang . subjek dengan kemampuan sedang (SKT 1 dan SKT . Kesalahan yang dilakukan SKS 1 disebabkan karena dalam merencanakan penyelesaian siswa tidak mampu mengetahui Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. hubungan dari yang diketahui dan yang ditanyakan sehingga subjek tidak membuat rencana dan subjek kurang teliti dalam melaksanakan rencana sehingga salah dalam menuliskan langkah penyelesaian. Kesalahan yang dilakukan oleh SKS 2 disebabkan karena subjek tidak dapat memahami soal sehingga tidak dapat mengetahui hubungan dari yang diketahui dan yang ditanyakan untuk membuat rencana penyelesaian dan tidak teliti dalam menuliskan langkah-langkah penyelesaian sehingga salah dalam membuat jawaban akhir. subjek dengan kemampuan rendah (SKR 1 dan SKR . Kesalahan yang dilakukan SKR 1 disebabkan karena subjek tidak dapat mengetahui hubungan dari yang diketahui dengan yang ditanyakan sehingga tidak membuat rencana penyelesaian dan kurangnya konsep turunan yang dimiliki subjek untuk menentukan turunan suatu fungsi. Kesalahan yang dilakukan SKR 2 disebabkan karena subjek tidak dapat mengetahui hubungan dari yang diketahui dengan yang ditanyakan sehingga tidak membuat rencana penyelesaian, kurangnya konsep turunan yang dimiliki subjek untuk menentukan turunan suatu fungsi, dan tidak teliti dalam menuliskan langkah-langkah penyelesaian sehingga salah dalam merumuskan fungsi. Saran Diharapkan kepada guru matematika agar lebih sering memberikan soal dalam bentuk pemecahan masalah sehingga siswa terbiasa dalam memahami masalah sehingga mampu menuliskan langkah-langkah penyelesaian secara sistematis dan dapat memperoleh jawaban yang Guru hendaknya membimbing dan mengarahkan siswa agar dapat menemukan hubungan antara apa yang diketahui dengan apa yang ditanyakan dari soal sehingga siswa mampu dalam membuat rencana penyelesaian. Dalam melaksanakan rencana penyelesaian, guru perlu mengingatkan siswa agar mengikuti langkahlangkah yang benar dan menanamkan dengan baik konsep dalam menentukan turunan suatu fungsi kepada siswa. Bagi siswa diharapkan untuk lebih sering berlatih dalam menyelesaikan soal-soal yang berbentuk pemecahan masalah dengan menggunakan langkah-langkah Polya, agar terbentuk pola pikir yang sistematis dalam menyelesaikan DAFTAR PUSTAKA Atim. Mohammad. Analisis Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Terapan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel di Kelas X MAN Gresik. Tesis dipublikasikan. Surabaya: Unesa . iakses 28 Maret 2. Kamarullah. Analisis Kesalahan Mahasiswa D-2 PGMI IAIN Ar-Raniry Banda Aceh Tentang Geometri di Madrasah Ibti- daiyah Beserta Alternatif Pembelajarannya. Makalah Ujian Tesis. Surabaya: Unesa. iakses 28 Maret 2. Polya. George . How to Solve It. A New Aspect of Mathematical Method . Princeton. New Jersey: Princeton University Press. GLOBALISASI: MENINDAS DAN MEMISKINKAN MASYARAKAT Dheny Wiratmoko Dosen Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Pacitan E-mail: dheny. wiratmoko@yahoo. Abstract: Along with the time development, the masterpiece of human civilization will be more Constructive thoughts always colours the processes of the development. The development of information and technology will facilitate the access to the necessities of life. Geographical boundaries between countries, as if it was not able to recognize, as a result, there is often increasingly complex intersection between cultures. Globalization makes the social order of society change. The shift of an agrarian to an industrial society increasingly inevitable, consequently, capital factor extremely plays role. Capitalism grows everywhere, both in developed countries and in developing countries. Developed country and has a lot of capital will dominate the economic sector. As a result , for developing countries , of course, will depend on the help of other countries , as a result , the new style of economic imperialism and colonialism will emerge by itself . To deal with this, the development sector must be exactly run. The development must be felt by the whole societies. Keywords: Globalization. Development. Poverty. Sejauh ini, dalam tuntutan era globalisasi yang semakin kompleks, bangsa Indonesia dihadapkan pada permasalahan yang sangat pelik. Budaya konsumen dan konsumerisme menjadi trend hidup baru di masyarakat. Sejauh ini, kondisi yang demikian telah menimbulkan berbagai ketimpangan sebagai akibat akses yang tidak sempurna di masyarakat. Sejumlah fenomena yang terjadi di masyarakat memperlihatkan betapa pentingnya suatu strategi kebudayaan untuk sebuah bangsa yang besar dan majemuk seperti Indonesia ini. Proses pembentukan kebudayaan Indonesia berlangsung tidak melalui proses yang Beberapa wilayah dengan karakteristik kebudayaannya haruslah ditumbuhkan dan dikembangkan guna memungkinkan nilai- nilai budaya antar wilayah masyarakat dapat dipadukan dengan menemukan titik singgung dengan nilai-nilai budaya global. Nilai-nilai budaya yang demikian, yang akan membentuk sistem budaya dalam menghadapi tantangan kebudayaan global. Di dalam masyarakat Indonesia, telah terjadi pergeseran secara kontinu, dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, yang menjadikan modal . sebagai faktor Modal dan investasi menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, perlu adanya usaha antisipasi dalam menyikapi fenomena tersebut, yang dapat diterapkan secara nyata bagi kepentingan masyarakat kecil pada umumnya. Proses desentralisasi kebudayaan yang memberi tempat Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. pada wilayah-wilayah kebudayaan yang tersebar di berbagai daerah di wilayah Indonesia, bukan saja akan menimbulkan kreativitas bangsa tetapi juga akan memiliki arti penting bagi ketahanan budaya dari suatu bangsa yang majemuk. Perubahan yang demikian jelas akan mempengaruhi nilai-nilai budaya bangsa. METODE Berdasarkan permasalahan yang diuraikan, maka jenis penelitian yang dipilih adalah kajian kepustakaan . ibrary researc. , artinya data penelitian berasal dari sumber-sumber kepustakaan yang berupa buku, jurnal, dan sumber lain yang sesuai dengan tema bahasan. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitik, yakni berusaha mendeskripsikan secara jelas dan sistematis objek kajian yang diteliti. Data yang terkumpul dianalisis dan kemudian dihasilkan sebuah Hal ini memungkinkan untuk mencari relevansi kedua konsep tersebut. Penelitian ini bermaksud untuk memahami permasalahan yang terkait dengan objek kajian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik. Cara yang dilakukan yaitu dengan mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks permasalahan secara alamiah. Melalui penelitian ini, diharapkan akan diperoleh informasi mengenai perkembangan globalisasi dan dampak yang diakibatkan di masyarakat. Dari analisis tersebut, akan dapat diketahui bahwa perkembangan globalisasi adalah suatu keniscayaan. Dengan demikian, masyarakat perlu mempersiapkan diri untuk menyongsong perkembangan globalisasi yang semakin tanpa batas. Dalam konteks ini, keuntungan dan kerugian dari perkembangan globalisasi harus mendapat perhatian yang lebih serius. Sumber data atau informasi yang penting untuk dikumpulkan dan dikaji dalam penelitian ini sebagian besar adalah berupa data literatur yang digali dari beberapa sumber data. Data literatur yang didapatkan kecenderungannya tidak bersifat nomotetik . atu data satu makn. , untuk itu, data-data tersebut perlu ditafsirkan agar mendekati kebenaran yang diharapkan. Sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu studi kepustakaan dan jenis sumber data yang dimanfaatkan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mencatat dokumen . ontent Teknik ini berusaha untuk mencatat apa yang tersirat dan tersurat. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari dokumen-dokumen yang tertulis. Dalam content analisis, keterpaduan antara objektivitas, sistematisasi, dan generalisasi menjadi penting. Untuk itu, teknik analisis datanya harus dilakukan dengan cermat. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Globalisasi Semakin Nyata Globalisasi secara sederhana dapat dipahami sebagai suatu proses yang mendorong umat manusia untuk merubah cara hidup yang bersifat nasional ke arah cara hidup dengan wawasan global. Era globalisasi berarti suatu kurun waktu yang ditandai dengan munculnya berbagai gejala serta masalah yang menuntut manusia untuk menggantikan pola-pola persepsi dan berfikir tertentu, yang mengarah pada pemahaman secara global. Globalisasi yang berkembang dewasa ini, dipicu dan dipacu oleh kemajuan pesat dalam bidang teknologi yang diistilahkan dengan Triple AuTAy Revolution yaitu perkembangan kemajuan teknologi di sektor telekomunikasi atau informasi, transportasi, dan trade . iberalisasi perdaganga. Ketiga hal tersebut menjadi kekuatan pemicu dan pemacu globalisasi yang kita hadapi sekarang ini. (Zainul Ittihad Amin, 1999: 4. Arus globalisasi telah menciptakan dunia yang semakin terbuka dan saling ketergantungan antar negara dan antar bangsa. Negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia kini bukan saja saling terbuka terhadap perkembangan dan kemajuan yang dicapainya, akan tetapi juga akan menimbulkan budaya saling ketergantungan, yaitu keadaan di mana kehidupan ekonomi negaranegara tententu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara Parahnya, budaya ketergantungan tersebut kadangkala tidak bersifat timbal balik, artinya suatu negara tertentu selalu menjadi konsumen dari produk negara lain, dan hal tersebut tidak berlaku sebaliknya. Kalaupun itu berlangsung terus menerus, maka tentunya akan menyebabkan permasalahan yang kompleks pula. Karena saling Dheny Wiratmoko. Globlalisasi: Menindas dan Memiskinkan Masyarakat ketergantungan ini, semua negara akan menjadi terbuka terhadap pengaruh dari negara lain. Budaya ketergantungan akan mengakibatkan keterbelakangan, dan begitu pula sebaliknya. Globalisasi merupakan proses transformasi berbagai demensi kehidupan sosial manusia yang mengarah pada suatu pusat budaya kosmopolitan. Arus globalisasi mendesakan uniformitas secara Secara perlahan, namun pasti, proses universal ini akan mengikis batas-batas identitas negara dan individu secara hampir bersamaan melalui liberalisasi ekonomi dan demokratisasi di tingkat global maupun nasional (Grendi Hendrastomo, 2007: 94-. Globalisasi yang sedang merobek-robek kehidupan manusia berdampak luas terhadap kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Karena kemajuan teknologi yang begitu pesat, sehingga menembus batas-batas tradisional . suatu negara. Dengan demikian, tidak suatu negarapun yang dapat membendungnya (Zainul Ittihad Amin, 1999: 4. Kecenderungan yang demikian jika tidak diantisipasi dapat merusak kepribadian masyarakat. Dalam kondisi global yang penuh dengan kesenjangan, masalah, dan tantangan, baik ekonomi, sosial, budaya, politik, maupun lingkungan hidup, pengembangan dan pembinaan akhlak menjadi kunci penyelamatan kehidupan dengan Oleh karena itu, untuk menghadapi perspektif global . ekonomi, berupa perekonomian bebas, beralihnya kawasan ekonomi maju dari Atlantik ke Pasifik, dan kebangkitan Asia-Afrika, bangsa Indonesia harus siap mental (Nursid Sumaatmaja, 1999: 2. Kondisi yang demikian ini harus diimbangi dengan kualitas sumber daya manusianya. Perlu juga memikirkan sebuah sistem yang mewadahi berbagai pengaruh-pengaruh sosial dalam kehidupan masyarakat, misalnya di sektor pendidikan, ekonomi, politik, budaya dan yang Meningkatnya mutu sumber daya manusia akan tercermin dalam usahanya untuk mengembangkan diri dan berkarya untuk bangsanya. Globalisasi menuntut percepatan, baik informasi maupun komunikasi yang dapat dijalankan selaras dengan kebutuhan manusia yang semakin kompleks. Kompleksitas ini harus didukung dengan prasyarat yang meliputi sarana dan prasarana yang secara integral dapat menyatu dan sejalan dengan perkembangan zaman, mi- salnya perkembangan ilmu pengetahuan dan Budaya Konsumen di Indonesia Pengalaman sejarah ekonomi Indonesia memberi kemungkinan terbuka untuk studi sejarah mikro, karena begitu banyaknya variasi Variasi kedaerahan ini disebabkan oleh perbedaan-perbedaan ekologi, struktur sosial, pengaruh luar, dan budaya setempat. setiap daerah pun tidak selalu ada keseragaman tingkat perkembangan ekonomi. Ekonomi kita barangkali plural, baik dalam tingkat perkembangan, maupun kelembagaan, sehingga sukar untuk mengadakan generalisasi secara nasional dan makro (Kuntowijoyo, 2003: . Budaya global yang merajai pola konsumsi materi, kini telah merambah seantero dunia, tidak terkecuali Indonesia. Indonesia adalah salah satu negara yang tidak luput dari pola-pola budaya konsumtif global. Pemenuhan konsumsi yang diwujudkan dalam nilai-nilai material menjadi salah satu indikator muncul dan berkembangnya globalisasi di Indonesia. Bersamaan dengan kapitalisme, maka munculah cara hidup baru, atau lebih tepatnya, kapitalisme lahir bersama dengan cara hidup yang baru yaitu yang bersifat rasional dan kalkulatif (Peter Beilharz, 2005: Fenomena kehidupan masyarakat yang demikian sudah dalam taraf yang sangat mengkhawatirkan. Pengutamaan nilai konsumsi-materi mengancam nilai yang lebih utama yaitu humanisme dan spiritualisme. Menurut Weber, akumulasi modal ini memungkinkan terjadinya transisi dari feodalisme menuju kapitalisme. Logika pengejaran kekayaan duniawi demi Tuhan itu menjadi boomerang bagi dirinya Jika agama membantu lahirnya kapitalisme, sedangkan kapitalisme segera mulai menghancurkan agama. Implikasinya sangat jelas, bahwa rasionalitas menjadi irasionalitas. Rasionalitas kapitalis menciptakan kosmos yang cukup diri dan berdiri sendiri, sampai batas di mana warganya lantas melupakan kemajemukan rasionalitas (Peter Beilharz, 2005: . Karena nilai global menjadi tolak ukur dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat pun menjadi larut di dalamnya. Dengan demikian, yang terjadi adalah adanya upaya untuk memperlihatkan perbedaan status sosial dalam Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. masyarakat, yang kalaupun tidak dicegah sedini mungkin dapat saja menimbulkan kesenjangan sosial di masyarakat. Apakah pola pembangunan fisik yang dilakukan oleh pemerintah selama ini sudah memikirkan dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat yang tentunya begitu kompleks ini?. Sudah saatnya, ada sebuah rencana pembangunan yang sangat matang yang tentunya memikirkan kepentingan pemerintah, swasta, dan juga tidak boleh dilupakan kepentingan masyarakat kecil. Problem sosial kemanusian di Indonesia pada dasarnya masih terkait dengan problem kemiskinan dan konflik. Kemiskinan secara nyata memberi dampak yang nyata terhadap kualitas sumber daya manusia di Indonesia, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Oleh karena itu, dalam perencanaan pembangunan ke depan dapat menyeimbangkan pembangunan, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Deferensiasi dalam masyarakat telah melahirkan berbagai bentuk ketimpangan kekuasaan antar kelompok, baik dari parameter agama, etnis, kelas sosial, maupun lokalitas (Kementerian Ristek RI dan FIB UGM, 2003: . Perbedaan antara ekonomi petani dengan ekonomi kapitalis sangat mudah diidentifikasi. Dalam ekonomi kapitalis, tanah dan kerja merupakan variabel atau faktor yang oleh penguasa dikombinasikan untuk memperoleh perolehan yang maksimum dari kapital, dan dianggap sebagai faktor yang tetap, sedangkan dalam ekonomi petani, kerjalah yang merupakan elemen yang tetap, dan menentukan perubahan dalam volume dari modal dan tanah. Ekonomi kapitalis berdasarkan pada modal, ekonomi petani berdasarkan pada kerja (Kuntowijoyo, 2003: . Kemiskinan Di Indonesia Krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia sejak tahun 1998 sampai sekarang masih dapat dirasakan dampaknya. Bahkan krisis ekonomi tersebut sudah mulai berkembang menjadi krisis multidimensional yang parah. Krisis tersebut telah melahirkan dampak terhadap meluasnya gejala kemiskinan. Perluasan kemiskinan sudah melanda di seluruh pelosok Indonesia. Peningkatan jumlah penduduk miskin mengindikasikan bahwa dalam kehidupan masyarakat telah terjadi ketidakberdayaan . untuk menghadapi perubahan. Masalah kemiskinan . dan masalah sosial, merupakan permasalahan pelik, yang tidak mudah untuk mencari solusinya. Upaya penanggulangan yang dilakukan cenderung hanya melihat persoalan kemiskinan pada tataran gejala-gejala yang tampak dari luar. Akibatnya, timbul dampak yang tidak menguntungkan, di antaranya adalah munculnya ketergantungan pada bantuan pihak luar, tumbuhnya benihbenih fragmentasi sosial, serta melemahkan modal sosial yang ada di masyarakat. Lemahnya modal sosial dan pudarnya etika moral dalam kehidupan masyarakat pada gilirannya akan mendorong pergeseran perilaku masyarakat yang semakin jauh dari kemandirian, kebersamaan, dan kepedulian dalam menyelesaikan persoalan Definisi kemiskinan menurut Sulistiyani ialah, bilamana masyarakat berada dalam satu kondisi yang serba terbatas, baik pada aksesibilitas terhadap faktor produksi, peluang atau kesempatan berusaha, pendidikan, fasilitas hidup lainnya, sehingga dalam setiap aktivitas maupun usaha menjadi sangat terbatas (Hesti Rinandari, 2006: . Sedangkan definisi lain tentang kemiskinan adalah suatu kondisi yang dialami seseorang atau sekelompok orang yang tidak mampu menyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi (Asep Saefudin. Dkk. , 2003: . Karena standar hidup layak manusia itu berbeda-beda, maka tidak ada definisi kemiskinan yang diterima secara universal. Kemiskinan tidak bisa lagi dipahami hanya sekedar kondisi ketidakmampuan seseorang untuk mencukupi kebutuhan material dasar, akan tetapi kemiskinan adalah sebuah persoalan yang bersifat multidimensional. Lebih lanjut Sulistiyani menjelaskan, apabila dilihat dari penyebabnya, ada tiga dimensi kemiskinan yaitu: . kemiskinan natural adalah suatu kondisi keterbatasan secara alamiah seperti kondisi alam yang tidak menguntungkan, sehingga membatasi usaha suatu komunitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. kemiskinan kultural adalah suatu kondisi miskin yang dihadapi oleh suatu komunitas disebabkan oleh faktor budaya. Kemiskinan stuktural adalah kemiskinan yang melanda suatu komunitas karena terjebak oleh struktur yang dibangun oleh sekelompok orang yang mengambil keuntungan Dheny Wiratmoko. Globlalisasi: Menindas dan Memiskinkan Masyarakat dari struktur tersebut (Hesti Rinandari, 2006: Sebagai proses pemberdayaan dalam rangka penanggulangan kemiskinan, pelaksanaan berbagai program yang dilaksanakan oleh pemerintah, hendaknya benar-benar mengembangkan keterlibatan masyarakat yang menjadi lokasi sasaran. Upaya tersebut perlu diarahkan untuk membangun kemandirian dan partisipasi Dimensi Pembangunan Masyarakat Istilah pembangunan atau . menurut Misra mempunyai pengertian yaitu upaya yang sadar dan melembaga untuk mewujudkan keinginan yang baik. Sebagai upaya yang sadar dan melembaga, pembangunan tidak boleh tidak, akan bermuatan nilai, dalam arti menyangkut proses pencapaian nilai yang dianut suatu bangsa secara meningkat (Moeljarto Tjokrowinoto, 2002: . Senada dengan pendapat Misra. Saul M. Katz mendefinisikan pembangunan sebagai perubahan sosial yang besar dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, yang dipandang lebih bernilai oleh negara atau bangsa tersebut (Moeljarto Tjokrowinoto, 1995: . Dalam perjalanannya, konsep pembangunan mengalami pergeseran paradigma seiring dengan perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh pembangunan itu sendiri. Pembangunan yang sekiranya diharapkan dapat menghasilkan sebuah perubahan yang positif, kadangkala menjadi sebaliknya, yaitu terkait dengan dampak yang diakibatkannya. Paradigma pembangunan yang berkembang di Indonesia kadang masih dipengaruhi oleh diskursus pembangunan negara Akibatnya, masyarakat seakan belum terlalu siap untuk menerimanya. Pembangunan akan diragukan keberhasilannya bilamana tidak mampu menjawab persoalan-persoalan seperti meningkatnya jumlah pengangguran, ketidakmerataan dan kesenjangan pendapatan, dan meningkatnya kemiskinan Banyak negara mengalami pertumbuhan ekonomi secara kuantitatif, namun di sisi lain, kemiskinan juga meningkat. Distribusi hasil-hasil pembangunan melalui mekanisme trickle down effect tidak dapat berjalan karena perembesan keuntungan ke lapisan bawah tidak terjadi seperti yang diharapkan. Selain itu, pembangunan yang berorientasi pertumbuhan cenderung direncanakan secara terpusat . op dow. , sehingga sering tidak sesuai dengan masalah dan kebutuhan masyarakat. Pemerintah menjadi satu-satunya agen pembangunan, sedangkan masyarakat hanya menjadi objek pembangunan saja. Menurut Raharjo, pembangunan yang bersifat de-edukasi tersebut menumbuhkan sikap ketergantungan, melemahkan daya kreatifitas, menumpulkan sensitivitas dan sikap kritis, serta menimbulkan pola patrimonial dan paternalis pada masyarakat (Hagul, 1985: 81-. Paradigma yang demikian hendaknya dapat diubah, yaitu dengan menerapkan strategi pembangunan yang didasarkan pada kebutuhan masyarakat . ottom-u. , sehingga memungkinkan masyarakat untuk berpartisipasi secara utuh dalam setiap prosesnya. Peran pemerintah adalah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan masyarakat atau memberi ruang yang seluas-luasnya untuk mengaktualisasikan seluruh potensinya. Perilaku Masyarakat Perkotaan Setiap sektor kehidupan masyarakat mempunyai beragam aktivitas yang kompleks dan dinamis. Pembangunan dilakukan di manamana, baik di sektor fisik maupun non fisik, tetapi semua itu tentu harus tetap memperhatikan akar budaya masyarakatnya. Dinamika masyarakat tersebut kadang berjalan cepat, kadang sebaliknya, berjalan dengan sangat lambat. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, di antaranya adalah faktor pendidikan, ekonomi, sosial, budaya dan faktor yang lainnya. Faktor-faktor tersebut menjadi saling berhubungan dan saling mendukung, sehingga, permasalahan yang muncul pun menjadi beragam. Problem kemiskinan di perkotaan terasa jauh lebih kompleks persoalannya jika dibandingkan dengan wilayah pedesaan. Problem di perkotaan yang secara sosial ekonomi bersifat mengurai . tentu saja akan memiliki akar yang lebih beragam dan tentu saja akan memberi implikasi yang jauh lebih luas dan beragam jika problem kemiskinan semakin menjadi persoalan yang akut. Di tingkat perkotaan, problem kemiskinan ikut memberi andil pada rendahnya kualitas Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. sumber daya manusia Indonesia yang semakin Akibat logis dari hal ini, kita tidak memiliki sumber daya manusia yang handal, kecuali menjadi tenaga buruh untuk sektor industri (Kementerian Ristek RI dan FIB UGM, 2003: . Ketidaksiapan masyarakat perkotaan dalam memenuhui tuntutan kebutuhan yang ditawarkan oleh pembangunan turut menjadi sebuah permasalahan tersendiri. Seiring dengan kemajuan industri yang cukup pesat, maka tuntutan tingginya jenjang pendidikan, keahlian, dan juga keterampilan dari masyarakat turut menjadi perhatian. Akibatnya, apabila masyarakat tidak dapat memenuhi tuntutan tersebut, tentu banyak masyarakat yang akan kalah bersaing, dan tersingkirkan. Sumber daya masyarakat yang rendah akan menciptakan permasalahan terkait dengan aksesibilitas, misalnya untuk sekedar mendapatkan suatu pekerjaan. Tingkat persaingan dalam mendapatkan sebuah pekerjaan di kota semakin Apalagi selama ini banyak masyarakat yang ada di perkotaan merupakan hasil migrasi penduduk dari pedesaan, yang kebanyakan hanya berpendidikan rendah, akibatnya sesampainya di kota, tentu harus berjuang dengan keras untuk sekedar memenuhi penghasilan untuk keperluan Tidak mudah untuk hidup di perkotaan dengan tingkat persaingan kerja dan sikap individual masyarakatnya. Akibatnya, sering terjadi kesenjangan sosial di masyarakat. Yang kaya akan semakin kaya dan berkuasa, dan sebaliknya yang miskin akan semakin miskin dan tertindas. Akibat yang lebih parah dari kondisi ini yaitu sering terjadi tindak kriminalitas yang melanda Kalau hal tersebut terus berlanjut maka kenyamanan masyarakat pun akan Perilaku Masyarakat Pedesaan Kehidupan di pedesaan secara sosial ekonomi masih bersifat menyatu . , memiliki problem yang kurang lebih bermuara pada sektor pertanian dan kenelayanan, yang merupakan karakter pedesaan. Problem kemiskinan di pedesaan memiliki kecenderungan pada lemahnya kapasitas kelembagaan, sehingga program-program yang selama ini diterapkan sering kali mengabaikan faktor tersebut . arena cenderung top dow. Akibatnya, kegagalan demi kegagalan program pengentasan kemiskinan cenderung membuat kejenuhan di tingkat pedesaan yang kemudian menghasilkan keengganan untuk berubah (Kementerian Ristek RI dan FIB UGM, 2003: . Kondisi kesenjangan sosial ini sangat terkait dengan kesenjangan politik dan budaya. Selama ini masyarakat pedesaan sangat lemah aksesnya terhadap lembaga-lembaga publik yang umumnya berada di perkotaan. Lemahnya akses ini membuat suara dan aspirasi mereka tidak didengar dalam derap langkah pembangunan. Orang desa mempunyai banyak keterbatasan dalam memperoleh informasi-informasi pembangunan. Begitu pula dengan kelembagaan yang ada di desa belum memiliki kapasitas yang mumpuni dalam mendorong suatu desa lebih diperhatikan oleh para pemegang kebijakan pemerintah (Abdul Rozaki, 2006: . Pembangunan industri dan pertanian sebetulnya merupakan usaha untuk menciptakan struktur ekonomi yang kokoh dan seimbang, yaitu struktur ekonomi dengan titik berat industri masyarakat dengan didukung sektor pertanian yang tangguh (Indah Sri Pinasti, 2007: . Usaha tersebut pada dasarnya harus mempertimbangkan pembangunan sarana dan prasarana yang seimbang antara desa dan kota. Selama ini yang terjadi adalah, pembangunan di kota semakin merajalela, yang mengakibatkan banyak terjadi arus migrasi penduduk, sedangkan kalau kita lihat pembangunan di desa sangat bertolak belakang. Sarana dan prasarana sangat minim, banyak terjadi pengangguran, dan kesejahteraan penduduknya kurang terjamin. Dimensi kerakyatan terpinggirkan oleh kepentingan pragmatis. Dari realita di atas, tentu akan muncul beberapa pertanyaan yang mungkin susah untuk mencari jawabanya, di antaranya adalah dapatkah bentuk-bentuk kultural dideduksikan dari, atau ditafsirkan berdasarkan ekonomi? Benarkah ekonomi merupakan basis masyarakat, sementara segala hal lainnya hanya sekedar Tentu hal tersebut tidak akan bisa diterima oleh pandangan masyarakat pedesaan. Dheny Wiratmoko. Globlalisasi: Menindas dan Memiskinkan Masyarakat Pembangunan Pusat Perbelanjaan dan Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat Pembangunan fisik, seperti pembangunan pusat perbelanjaan, pembangunan gedung perkantoran, pembangunan taman kota, pelebaran jalan dan sebagainya merupakan sebagaian dari indikasi kemajuan dari suatu daerah. Di sisi lain, pendirian pusat perbelanjaan dan pembangunan fisik yang lainnya itu merupakan salah satu dampak dari era globalisasi itu sendiri, karena banyak orang menilai, kesuksesan pembangunan itu yang menjadi tolok ukur adalah pembangunan Tidak terkecuali pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia, tentu juga sebagai konsekuensi dari perkembangan zaman yang semakin maju ini. Pembangunan pusat perbelanjaan di berbagai kota besar semakin lama semakin Setiap sudut kota telah berdiri pusatpusat perbelanjaan yang menawarkan berbagai aneka produk konsumsi. Yang menjadi masalah adalah pembangunan pusat-pusat perbelanjaan tersebut seakan-akan tidak memperhatikan kajian ekonomi, sosial, dan budaya, serta kompleksitas kehidupan masyarakat yang lainnya. Pembangunan pusat perbelanjaan kalau tidak dianalisa dampaknya secara luas tentu akan memunculkan permasalahan tersendiri. Ke semerawutan lalu lintas, terganggunya sistem analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), kesenjangan dan diskriminasi sosial, munculnya pencopet, preman, dan yang lainya, tentu harus tetap menjadi perhatian. Di sisi yang lainnya, pembangunan pusat perbelanjaan dan sebagainya itu tentu akan mempengaruhi tata ruang wilayah. Globalisasi membawa dampak yang signifikan bagi masyarakat. Globalisasi juga membawa dampak yang anti rakyat kecil bagi masyarakat Indonesia. Di sektor budaya pun telah terjadi pergerseran. Image Indonesia sebagai negara yang ramah, semakin tergusur oleh budaya-budaya asing. Dengan demikian, perilaku yang tidak sesuai dengan budaya setempat menjadi berkembang. Hal itu tentu akan menggangu kelestarian budaya setempat, karena pada dasarnya masyarakat percaya bahwa kebudayaan bangsa Indonesia yang masih menganut tradisi timur adalah kebudayaan yang Sangat tepat apa yang diungkapkan oleh William A. Haviland, yaitu di antara ber- bagai unsur dalam suatu kebudayaan, ada yang merupakan inti atau cultural core, yaitu berupa unsur-unsur kebudayaan tertentu yang menentukan berbagai bentuk kehidupan suatu masyarakat (Hari Poerwanto, 2000: . Pembangunan pusat perbelanjaan tersebut tentunya juga harus memikirkan kesiapan konsumen lokal, sebab ada indikasi bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya siap dengan budaya konsumtif yang ditawarkan oleh pusat-pusat perbelanjaan tersebut. Pendirian pusat-pusat perbelanjaan tersebut juga akan menggusur keberadaan pasar-pasar tradisional, dan pedagang kecil yang bermodal kecil. Dengan demikian, semakin lama pedagang yang bermodal kecil tersebut akan gulung tikar karena kalah bersaing dengan pedagang yang bermodal besar. Terancamnya Pasar Tradisional Masyarakat pedesaan di Jawa biasanya digambarkan sebagai tempat yang harmonis, dengan sifat saling menolong dan hubungan yang harmonis antar anggotanya (Soegijanto Padmo, 2000: . Selanjutnya Geertz menambahkan dengan sebuah penekanan akan pentingnya pembedaan kultur dengan struktur sosial. secara khusus membahas pula paradigma kulturalnya. Faktor ekologi, ekonomi, sosial, dan kultural berperan dalam perubahan tersebut (Hari Poerwanto, 2000: . Struktur sosial dalam bingkai budaya, khususnya di pedesaan identik dengan keberadaan masyarakat yang masih sederhana. Prinsip hidup gotong-royong dan ikatan kekerabatan sosial masih sangat terasa. Sektor agraris menjadi tumpuan dalam kehidupan masyarakatnya. Dengan demikian, kehidupan tradisional masih sangat kental dirasakan dalam keseharian Dalam sektor ekonomi juga masih dipengaruhi oleh sisi-sisi tradisional. Aktivitas ekonomi dilakukan di rumah dan juga di pasarpasar tradisional. Dengan demikian, keberadaan pasar-pasar tradisional mempunyai peranan yang sangat penting. Perubahan-perubahan yang terjadi di desa dan di masyarakat petani biasanya menyangkut perubahan ekonomi subsistence ke ekonomi exchange (Kuntowijoyo, 2003: . Masyarakat desa menjadikan pasar tradisional sebagai tempat untuk mengadakan transaksi ekonomi untuk mencukupi kebutuhan Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. sehari-hari. Dengan demikian, eksistensi pasar tradisional sejak dahulu hingga sekarang masih tetap terjaga. Dalam transaksi ekonomi, sisisisi kekerabatan kadang-kadang masih berlaku, sehingga orientasi dari transaksi ekonomi bukan sekedar untuk mencari keuntungan, tetapi juga mencari saudara. Hal itu identik dengan falsafah Jawa Autuno satak bathi sanakAy yang artinya rugi uang, tetapi dapat saudara baru. Akan tetapi tidak semua pasar-pasar tradisional tersebut dapat eksis keberadaannya. Ancaman globalisasi begitu terasa dengan berdirinya pusat-pusat perbelanjaan yang semakin menjamur. Pola konsumsi masyarakat pun, yang semula membeli di pasar-pasar tradisional, lama-kelamaan akan bergeser ke pusat-pusat perbelanjaan tersebut. Mungkin hanya pasar-pasar tradisional yang besar dan sudah terkenal yang masih akan tetap eksis. Tetapi bisa jadi tidak demikian dengan pasarpasar tradisional yang kecil dan belum terkenal. Pasar-pasar ini bisa saja ditinggal pembeli dan penjualnya, sehingga lama-kelamaan pasar tersebut tentu akan tutup. Rupanya Teori Dualisme Ekonomi Boeke yang mangatakan bahwa di negara-negara berkembang terdapat dua sistem ekonomi yaitu ekonomi modern . dan ekonomi tradisional . , yang menurut Boeke akan berjalan beriringan atau hidup berdampingan secara permanen, menjadi semakin lemah. Sistem ekonomi modern dengan sistem kapitalismenya akan selalu membawa ancaman pada sistem ekonomi tradisional. Akibatnya pasar-pasar tradisional semakin lama akan semakin tergeser oleh keberadaan pusat-pusat perbelanjaan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Globalisasi merupakan sebuah fenomena yang memunculkan dampak perubahan yang begitu kompleksnya. Hampir seluruh lapisan masyarakat turut marasakan dampak globalisasi Di antara sektor kehidupan yang ada, yang paling terasa adalah pada sektor ekonomi. Kesiapan dari berbagai hal menjadi sebuah kebutuhan yang harus segera direalisasikan. Globalisasi tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kapitalisme yang sudah demikian dirasakan masyarakat. Kapitalisme menjadikan masyarakat berorientasi kepada pencapaian keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Dampaknya, yang kaya akan semakin berkuasa dan sebaliknya yang miskin akan semakin tertindas. Kapitalisme juga menjadikan masyarakat terjangkit budaya konsumerisme yang akut. Padahal kenyataannya selama ini, belum semua masyarakat merasa siap dengan perubahan budaya tersebut. Fenomena yang demikian harus menjadi perhatian yang serius. Untuk menanggulangi dampak globalisasi yang sudah semakin berkembang pesat ini, maka modal sosial dari masyarakatnya harus dimaksimalkan. Budaya lokal yang selama ini dipegang oleh masayarakat harus dapat menjadi benteng terhadap arus globalisasi yang semakin merajalela tersebut. Saran Berdasarkan pada uraian artikel tersebut, hendaknya ada perspektif yang lebih luas dalam memahami makna dari globalisasi. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa globalisasi bisa menjadi peluang, bisa menjadi tantangan, bahkan bisa menjadi ancaman. Dalam konteks ini, globalisasi merupakan era di mana manusia dihadapkan pada sebuah pilihan untuk memaknai hidup dan sekaligus menempatkan diri pada posisi yang Ketika kita bisa memaknai globalisasi dengan positif, maka globalisasi bisa menjadi momen untuk menunjukkan kreativitas dan keunggulan diri sebagai bagian dari masyarakat. Begitu juga sebaliknya, ketika kita tidak bisa mempersiapkan diri pada era globalisasi, maka kita akan menjadi objek penderita dari era Peningkatan dan pengembangan kapasitas diri menjadi sebuah kebutuhan. Upaya yang bisa dilakukan adalah meningkatkan keilmuan dan pengetahuan secara profesional dengan tetap berpijak pada etika dan normanorma yang berlaku. Dheny Wiratmoko. Globlalisasi: Menindas dan Memiskinkan Masyarakat DAFTAR PUSTAKA Abdul Rozaki. AuGerbang Dayaku. Proyek Pembanguan Desa Sang Bupati di Kutai KartanegaraAy, dalam buku Pembangunan yang Memingirkan Desa. Yogyakarta: IRE . Asep Saefudin. Dkk. Menuju Masyarakat Mandiri. Pengembangan Model Keterjaminan Sosial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Grendi Hendrastomo. AuNasionalisme vs Globalisasi. Hilangnya Semangat Kebangsaan dalam Peradaban ModernAy. Dimensia. Volume 1 Nomor 1. Maret. Yogyakarta: FISE UNY. Hagul. Peter . Pembangunan Desa dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Jakarta: Rajawali. Hari Poerwanto. Kebudayaan dan Lingkungan Dalam Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hesti Rinandari. AuKemiskinan dalam KeberlimpahanAy, dalam buku Pembangunan yang Memingirkan Desa. Yogyakarta: IRE Indah Sri Pinasti. AuPengaruh Pembangunan Terminal Giwangan Terhadap Proses Perubahan SosialAy. Dimensia. Volume 1 Nomor 2. September. Yogyakarta: FISE UNY. Kementerian Ristek RI dan FIB UGM. AuArah Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial dan KemanusiaanAy, dalam Pembangunan Ilmu-Ilmu Sosial dan Kemanusiaan di Indonesia (Suatu Pemetaan Awa. Yogyakarta: UGM. Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana. Moeljarto Tjokrowinoto. Politik Pembangunan. Sebuah Analisis. Konsep. Arah, dan Strategi. Yogyakarta: Tiara Wacana. Pembangunan. Dilema dan Tantangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nursid Sumaatmaja. AuPerspektif Global dari Visi Geografi. Sejarah, dan EkonomiAy, dalam buku Perspektif Global. Jakarta: Universitas Terbuka. Peter Beilharz. Social Theory: A Guide to Central Thinkers. Ab. Sigit Jatmiko. Teori-Teori Sosial. Observasi Kritis Terhadap Para Filosof Terkemuka. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Soegijanto Padmo. AuPerkembangan Kesempatan Kerja Nonpertanian di Karesidenan Cirebon 1830-1930Ay, dalam buku Sejarah Ekonomi Modern Indonesia. Berbagai Tantangan Baru. Jakarta: LP3ES. Zainul Ittihad Amin. Pendidikan Kewiraan. Jakarta: Universitas Terbuka. ANALISIS FILSAFAT DAN IMPLIKASI PADA PROSES PENDIDIKAN Entoh Tohani Dosen Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Yogyakarta Abstract: The use of language in an educational process provides effect to the personality of the A good language will facilitate substance of education, understood and internalized by learners. Similarly, teachers who speak politely will lead to the happy feeling for students to involve in education. Thus, it is a must in an educational environment. communication process is built based on the truth instead of mendacious communication, without meaninglesness. Key word: philosophy, education, and school. Proses pendidikan merupakan suatu upaya edukasi untuk memberikan pengalaman-pengalaman belajar kepada para siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal baik potensi akal, mental maupun fisik. Pengalaman belajar diberikan oleh pendidik secara sengaja melalui berbagai cara atau strategi tertentu misal melalui pengajaran, penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan. Dalam pemberian pengalaman belajar, satu hal yang penting adalah bagaimana pendidikan mampu mengkomunikasikan secara efektif berbagai materi atau substansi pengetahuan. Komunikasi efektif menjadi syarat mutlak dan perlu dibangun dalam proses pendidikan. Komunikasi yang efektif dimaknai sebagai komunikasi yang berhasil melahirkan kebersamaan . , kesepahaman antara sumber . dengan penerima . -nya. Sebuah komunikasi akan benarbenar efektif dalam pendidikan apabila warga belajar atau siswa . menerima pesan, pengertian dan lain-lain persis sama seperti apa yang dikehendaki oleh pendidik . ebagai Tentunya keberhasilan pemaknaan pesan yang sama dipengaruhi oleh berbagai hal seperti karakteristik warga belajar, karakteristik pendidik, saluran yang digunakan, gangguan dari lingkungan dan faktor lainnya. Dalam proses pendidikan, proses komunikasi tidak selalu berjalan dengan baik. Berbagai persoalan dapat muncul diakibatkan kurangnya proses komunikasi yang setara antara pendidik dan siswa. Terkadang muncul berbagai perlakukan tidak sesuai yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam proses pembelajaran. Kejadian-kejadian seperti penggunaan AulabelAy bagi anak yang dipandang kurang pandai atau bodoh, atau kepada anak-anak yang dipandang tidak tertib akan norma, sering diberikan pendidik dalam proses pendidikan/pembelajaran. tindakan membeda-bedakan antara satu anak dengan anak lain disebabkan oleh perbedaan ras, etnis, dan status sosial ekonomi. bahkan kekurangjelasan mengenai apa yang disebut dengan pendidikan gratis, komersialisasi pendidikan, dan sebagainya dalam kehidupan sehari-hari yang mana dapat membingungkan Terkait dengan konteks di atas, pemaparan berikut berusaha meninjau proses pendidikan/pembelajaran dari sudut pandang Entoh Tohani. Analisis Filsafat dan Implikasi Pada Pendidikan terjadinya komunikasi, yang pada dasarnya adalah penggunaan bahasa atau simbol-simbol dalam proses pendidikan sebagai kajian dalam pendekatan filsafat yaitu analisis filsafat . hilosopical analysi. dalam pendidikan dan implikasinya terhadap kegiatan pendidikan. PEMBAHASAN DAN HASIL Analisis filsafat atau Analisis bahasa Kehadiran analisis filsafat tidak lepas dari pemikiran-pemikiran filsuf Idealism (Hegelia. yang berkembang di Inggris. Pemikiran idealisme telah mampu menggoyahkan pemikiran-pemikiran empirisme yang berkembang pada abab ke-18 sampai pertengahan abah ke-19. Namun, pada awal abab ke-20 iklim filsafat berubah khususnya di Inggris, para ahli fikir Inggris mulai mencurigai atau meragukan ungkapan-ungkapan filsafat yang dilontarkan oleh kaum Hegelian. Para ahli fikir Inggris menilai ungkapanungkapan mereka dipandang sulit dipahami dan menyimpang jauh dari akal sehat. Oleh karena itu, pemikir Inggris berusaha melepaskan diri dari cengkraman filsafat idealism. Revolusi yang semula ditiupkan oleh ahli fikir Inggris yang cukup terkenal yaitu G. Moore, segera disambut hangat oleh tokoh Cambridge lainnya seperti Bertrand Russel, kemudian dilanjutkan secara beranting oleh Wittgenstein. Melalui Wittgenstein inilah revolusi yang menentang pengaruh kaum Hegelian itu muncul metode filsafat baru yaitu: metode analisis bahasa atau lebih dikenal dengan analisis filsafat . hilosophical analyti. Analsisi filsafat atau analisis bahasa (Orstein & Levine, 1. merupakan suatu metode penentuan bahasa yang digunakan dalam pembuatan pernyataan-pernyataan mengenai pengetahuan, pendidikan, persekolahan dan mencari klarifikasinya dengan membentuk pemaknaan. Analisis filosifis telah mencapai kesepakatan di antara filosofer pendidikan yang percaya bahwa komunikasi mengenai masalah pendidikan sering membingungkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memaknai, para filsuf analisis filosifis mencoba mereduksi pernyataanpernyataan tentang pendidikan ke dalam istilah empiris . Analisis filosofis merupakan metode baru mengenai penggunaan bahasa dan mencoba untuk mengklarifikasi dan membentuk pemaknaan dari bahasa. Analisis filsafat tidak berusaha membentuk sistem filsafat baru yang mencakup semua pengalaman umat manusia. Melalui metodologi verifikasi empiric, filsuf analitik mencari penggolongan atau pemaknaan dari pertanyaan-pertanyaan bahasa (Gutek, 1. Lebih lanjut dijelaskan oleh Akinpelu . bahwa filsafat analitik mencoba menjelaskan bahwa filsafat tidak lagi menerima atau berhubungan dengan suatu substansi spesifik yang terkandung dalam ilmu sains, namun focus filsafat lebih diarahkan pada penggunaan bahasa atau konsep-konsep yang orang-orang gunakan dalam setiap jenis diskusi. Dengan penggunaan menjelaskan konsep, dan menemukan makna pokok dari ekspresi-ekspresi yang digunakan oleh individu-individu, individu akhirnya akan dapat memahami masalah-masalah apa yang ada dan menemukan di mana menemukan solusi untuk permasalahan tersebut. Dan juga, dapat memahami makna setiap konsep yang sebagaimana digunakan oleh masyarakat dalam bahasa sehari-hari mereka. Filsafat ini tidak membuat bahasa khususnya sendiri, namun menjadikan suatu kejelasan mengenai berbagai makan kata yang digunakan menurut konteks yang berbeda-beda, supaya akhirnya terbentuk kesepakatan bersama mengenai cara kata-kata Menurut Wittgenstein (Rizal M, 2007:. tugas filsafat bukanlah membentuk pernyataan tentang sesuatu yang khusus . eperti yang dibuat oleh para filsuf sebelumny. , melainkan memecahkan persoalan yang timbul akibat ketidakpahaman terhadap bahasa logika. Ini berarti, analisis bahasa pada dasarnya bersifat kritik terhadap bahasa . ritical of languag. yang dipergunakan dalam filsafat. Metode analisis bahasa ini telah memberikan gambaran yang memudahkan kebanyakan orang karena dianggap bahasa filsafat terlalu berlebihan dalam mengungkapkan realitas. Begitu banyak istilah atau ungkapan yang AoanehAy dalam filsafat seperti AueksistensiAy. AunothingnessAy. AosubstansiAy, dan sebagainya, sehingga menimbulkan teka-teki yang membingungkan para peminat filsafat. Analisis bahasa bermaksud membersihkan dan menyembuhkan pemakaian bahasa dalam filsafat. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa bahasa filsafat mengandung banyak pe- Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. nyakit, seperti kekaburan arti . , kemaknagandaan . , ketidaktegasan . , dan lainnya. Maka, perlu disusun suatu criteria logis yang dapat menentukan apakah suatu istilah/ungkapan tertentu mengandung makna . atau tidak . Dengan demikian, tidak terjebak ke dalam perangkap filsafat yaitu: Aumencari jawaban terhadap suatu pernyataan yang sesungguhnya tidak dapat diajukanAy. Aliran-aliran Analisis filosofi Dalam perkembangannya, analisis filosifis memiliki beberapa aliran setelah abab ke-20, yaitu: atomistic logis, positivism logis, dan filsafat bahasa biasa atau the ordinary language philosophy . ed ). Berikut pemikiran pokok masing-masing aliran. Filsafat atomistic logis merupakan suatu paham atau ajaran yang berpandangan bahwa bahasa itu dapat dipecah menjadi proporsi-proporsi atomic atau proporsi-proporsi elementer, melalui teknik analisis logic atau analisis bahasa. Setiap proporsi atomik mengacu pada atau mengungkapkan kepribadian suatu fakta atomik, yaitu sebagian terkecil dari realitas. Dengan pandangan ini, kaum Atomisme logic bermaksud menunjukkan adanya hubungan yang mutlak antara bahasa dengan realitas. Tokoh Atomisme adalah Betrand Russel . , yang mana ia menjelaskan bahwa dalam analisis bahasa perlu mengunakan metode Menurutnya analisis logic mengandung pengertian suatu upaya untuk mengajukan alasan a priori yang tepat bagi pernyataan, sedangan sintesa logic berarti menentukan makna pernyataan atas dasar empiric/pengalaman. Russel lebih mendahulukan analitik logic daripada sintesa logic, karena teori yang melulu bersifat empiric . idasarkan atas fakt. tidak dapat menjangkau hal-hal yang bersifat universal. Menurutnya, kebenaran yang bersifat logic dan matematik . iungkapkan dengan analisis logi. menyakinkan untuk mengakui kepribadian sifat-sifat AuuniversalAy yang tak terubahkan, padahal banyak teori empiric murni tidak dapat mempertanggungjawabkan hal seperti itu. Tokoh lain adalah Ludwig Wittgenstein . yang menjelaskan bahwa cara merumuskan persoalan filsafat terbentur pada kesalahpahaman mengenai bahasa logika. Melalui pengamatan yang cermat terhadap struktur proporsi serta kesimpulan logic mengenai realitas. Wittgenstein bermaksud menjernihkan kesalahpahaman yang diperbuat oleh pendahulunya. Penyebab utama kekacauan bahasa dalam filsafat adalah tidak ada tolak ukur yang dapat menentukan apalah suatu ungkap bermakna atau tidak. Oleh karena itu, menurut ia, penggunaan bahasa logika yang sempurna berarti pemakaian alat-alat bahasaAekata dalam kalimatAesecara tepat sehingga setiap kata hanya mempunyai satu fungsi tertentu saja, dan setiap kalimat hanya AumewakiliAy suatu keadaan factual saja. Suatu bahasa logika yang sempurna mengandung aturan sintaksi sehingga mencegah ungkapan tidak bermakna, dan mempunyai simbol tunggal yang selalu bermakna unik dan Aliran positivism logik berpendapat bahwa suatu bahasa bermakna atau tidak dapat diketahui dengan cara melalakukan verifikasi. Ayer, tokoh aliran ini, berpendapat bahwa prinsip verifikasi merupakan pengandaian untuk melengkapi suatu kriteria, sehingga melalui criteria tersebut dapat ditentukan apakah suatu kalimat mengandung makna atau tidak. Melalui pinsip verifikasi ini tidak hanya kalimat yang teruji secara empirik saja yang dapat dianggap bermakna, tetapi juga kalimat yang dapat Lebih lanjut dijelaskan Ayer, terdapat dua macam verifikasi yaitu verifikasi ketat di mana menjelaskan sejauh mana kebenaran suatu proporsi didukung pengalaman yang dan verifikasi lunak di mana jika suatu proporsi mengandung kemungkinan bagi pengalaman atau merupakan pengalaman yang Aliran terakhir adalah filsafat bahasa sehari-hari. Aliran filsafat ini menekankan pada permasalahan utama yang lebih penting daripada masalah makna, yaitu bagaimana penggunaan suatu istilah atau ungkapan mengandung arti Oleh karena itu perlu terlebih dahulu diselidiki atau diteliti aspek pragmatisnya ketimbang semantiknya. Aliran ini memfokuskan pada penggunaan bahasa dalam kehidupan seharihari yang mana berbagai bahasa digunakan oleh kebanyakan orang, dan mereka kadang tidak mempersoalkan aspek semantiknya. kadang tidak jelas atau logis namun dapat disepakati dan dipahami terkait istilah yang Entoh Tohani. Analisis Filsafat dan Implikasi Pada Pendidikan mereka gunakan. Tokoh dari aliran dipelopori olehj Ludwig Wittgenstein. Gilbert Ryle . , dan John Langshaw Austin . Implikasi terhadap proses pendidikan Proses pendidikan yang terjadi di lingkungan lembaga pendidikan tidak lepas dari pengaruh-pengaruh lingkungan yang dapat berakibat positif maupun negatif. Pengaruhpengaruh baik dari lingkungan makro, maupun meso sistem, atau dalam lingkungan mikro sendiri perlu ditelaah lebih jelas dan cermat sehingga memungkinkan kegiatan pembelajaran di lembaga pendidikan dapat berjalan dengan baik, mampu mencapai tujuan pendidikan individual maupun secara social. Terkait dengan ini, pemikiran analisis filsafat atau analisis bahasa dapat memberikan gambaran atau framework kepada para pendidik atau pemimpin lembaga pendidikan agar mampu selalu menjalankan Menurut Akinpelu . pentingnya analisis bahasa dipahami oleh pendidik disebabkan oleh beberapa hal yaitu: . Lembaga pendidikan . merupakan institusi sosial yang dapat dijadikan media untuk menanamkan pemikiran-pemikiran . atau isu-isu, dimana kadang menyebabkan permasalahan dan Dalam hal ini, seorang pendidik perlu dengan teliti dan menjelaskan pemikiranpemikiran atau isu-isu mana yang bermanfaat bagi perkembangan lembaga pendidikan dan . Lembaga pendidikan sebagai suatu lembaga yang memiliki pihak-pihak berkepentingan perlu memperhatikan vested interest yang dimiliki masing-masing pihak . Kepentingan masing-masing pihak terkait sangat berbeda-beda sehingga manajer atau pendidik lembaga pendidikan perlu dengan peka, teliti, tidak langsung menerima, namun mempertimbangkan secara seksama semua usulan-usulan atau masukan-masukan dari mereka. Mempertimbangkan masukan mana yang paling benar dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan pendidikan. Pendidik dalam mengajar, selain mengajarkan konsep-konsep dengan baik kepada peserta didik, alangkah baiknya juga ia menguasai secara empirik konsep-konsep dimaksud sehingga pembelajaran akan lebih kongkrit dan tidak Dalam tataran interaksi pendidik dan peserta didik, proses komunikasi harus dapat dibangun secara humanis. Pendidik harus menempatkan peserta didik sebagai orang yang mampu memaknai pesan-pesan pendidikan . ateri, atau bahasa pendidi. Pendidik mampu menyadari bahwa peserta didik adalah manusia yang dapat berbicara, dan berkomunikasi sehingga pendidik tidak selalu atau dominan memaksakan apa yang dia pikirkan. namun peserta didik diajak untuk dapat berdialog berdiskusi terkait dengan pemikiran, problem, atau isu yang sedang dihadapi dirinya maupun di lingkungan Pendidik mengkomunikasikan materi belajar dengan cara yang pantas, dan menantang peserta didik untuk belajar. Bukan dengan proses pentransferan pengetahuan yang mendogma pikiran-pikiran peserta didik. Komunikasi yang secara, tidak adanya pemaksaan pemikiran yang kaku, dan dengan bahasa lisan atau tulisan yang mudah dipahami peru dilakukan oleh pendidik dalam melaksanakan kegiatan pembelajarannya. Hal inilah yang Friere . nyatakan bahwa proses pendidikan harus terhindar dari pembelajaran yang AumembisukanAy peserta didik, dan menjadikan mereka hidup dalam AukebisuannyaAy, terasing dalam realitas kehidupan mereka sendiri. Pendidik dalam menyampaikan substansi pendidikan secara tertulis perlu memperhatikan penampilan kemasan penyampaian pesan kepada peserta didik. Tulisan yang terbaca, rapi, dan menarik sebaiknya diperhatikan para pendidik ketika ia menyampaikan materi dalam bentuk Tulisan yang baik dan terbaca akan menghindarkan peserta didik dari kebingunan mengenai substansi atau pesan pendidikan dalam memaknai pesan yang ditulis. Sebagai contoh, akhir-akhir ini dalam realita di dunia pendidikan, seni dan keterampilan menulis yang baik sudah jarang dikembangkan bahkan dipakai oleh para pendidik sendiri bahkan dimungkinkan sejak mereka mengikuti jenjang pendidikan ditempuhnya di lembaga pendidikan tenaga Oleh karena itu, seorang pendidik sudah selayaknya memiliki keterampilan menulis yang baik dalam menjalankan peran dan Pendidik pun perlu membangun kesadaran kritis peserta didik. Berbagai propaganda atau slogan-slogan yang ada di lingkungan masyarakat bermunculan yang mana memerlukan penelaahan Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. secara seksama misalnya pesan-pesan mengenai sekolah gratis di media massa menjelang pemilihan wakil rakyat, promosi sekolah internasional, bahkan harga produk tertentu yang dikaitkan dengan kemampuan pelajar. Peserta didik idealnya dibangun kemampuan untuk menelaah, mencermati, dan memikirkan secara kritis berbagai fenomena, khususnya propagandapropaganda yang ada di masyarakat supaya tidak dengan mudah menerima dan mengikuti pesan-pesan dari penyedia propaganda yang dapat merugikan. Misalnya, penelaahan dapat dilakukan dalam pembelajaran terhadap berbagai propaganda atau iklan produk-produk konsumtif di media massa dengan harapan peserta didik tidak dengan mudah terbujuk dan melakukan apa yang dikehendaki penyedia propaganda. Dilihat dari kajian terhadap subtansi pendidikan, penelaahan terhadap berbagai literatur atau kajian-kajian sejarah atau tentang kejadiankejadian krusial dalam kehidupan masyarakat dapat dijadikan media untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Melalui kajian literatur yang bermakna, peserta didik diharapkan mampu menelaah dan mengkritisi semua persoalan secara kritis dan berprinsip membangun sehingga dirinya dapat membangun suatu sikap yang positif terhadap apa yang sudah terjadi dan mengimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat. Literatur-literatur yang bernuansa menanamkan nilai universal seperti peduli, kebersamaan dan multikultural nampaknya dapat dijadikan bahan pembelajaran. Dengan kajian literatur tersebut, peserta didik dapat membangun kemampuan semantik bahasanya dan juga dapat memperoleh berbagai pemahaman akan nilai-nilai yang positif dalam mengembangkan diri dan lingkungannya. Selain itu, kemampuan berbahasa yang baik dan benar juga perlu dikembangkan. Pendidikan harus dapat dengan optimal membelajarkan peserta didik agar memiliki kemampuan menulis, dan berbahasa yang baik dan benar dengan strategi pembelajaran yang tepat. Penugasan menulis cerita, review literature, dan praktek berkomunikasi dapat dilakukan pendidikan guna membangun kompetensi peserta didik dalam berkomunikasi baik interpersonal maupun KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Fungsi bahasa dalam kehidupan bermasyarakat merupakan media penyampaian ide, pesan, emosi, dan nilai-nilai seseorang kepada orang Tentunya, kemampuan berbahasa yang baik menjadi bekal bagi semua orang. Berbahasa yang baik akan menjamin tumbuhnya rasa saling menghargai, dan sekaligus dapat saling membelajarkan antar anggota masyarakat. Oleh karena itu, pengembangan kemampuan berbahasa yang benar dan baik perlu dikembangkan oleh para pendidik masyarakat baik di lingkungan sekolah maupun lembaga pendidikan nonformal termasuk dalam keluarga sehingga pada masa mendatang perselisihan-perselisihan akibat kesalahpahaman dalam berkomunikasi dapat dihindari guna terwujudnya ketertiban dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Saran Kajian terhadap komunikasi dalam proses pembelajaran sebaiknya menjadi salah satu pemikiran yang perlu dikembangkan guna memperoleh masukan yang bermakna dan mencari pelajaran-pelajaran bermakna yang dapat dikembangkan untuk memajukan Dengan melihat berbagai model komunikasi yang ada, proses pembelajaran akan dapat dilaksanakan secara efektif. Selain hal ini, seorang pendidik termasuk orang tua perlu mencermati perubahan-perubahan dalam proses komunikasi di masyarakat terutama penggunaan bahasa yang memberikan pengaruh negatif pada proses pendidikan, dan memiliki kemampuan untuk terus menjaga bahasa yang memiliki nilai positif dan sudah tertata dalam bingkai konsensus bersama dan menyampaikannya kepada peserta Entoh Tohani. Analisis Filsafat dan Implikasi Pada Pendidikan DAFTAR PUSTAKA Akinpelu. An Introduction to hiloshophy of education. Hong Kong: Macmillan Publisers. Freire. Paulo. Pedagogy of the oppressed. Victoria: Penguin Books Ltd. Gutek. Gerald Lee. Philosophical alternatives in education. Ohio: A bell & Howell Company. Ornstein. Allan C. , & Levine. Daniel U. Foundation of educaton. Boston: Houghton Mifflin Company. Rizal Mustansyir. Filsafat analitik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. ed diakses pada November EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DITINJAU DARI MOTIVASI SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS Vi MTs ABU DARRIN KENDAL BOJONEGORO Nur Rohman Dosen Prodi Pendidikan Matematika IKIP PGRI Bojonegoro Email: nurrohmanspd62@yahoo. Abstrak: This research aim is to know, . where give better influence, convensional learning or jigsaw toward learning acievement? . ) where give better influence in learning,student with high motivation,medium and low toward study acievement trig matery? . for student with various motivation, where learning model give batter influence, konvensional learning or Jigsaw toward study trig acievement? Population in this research is all of eighth Mts Abu Darrin Kendal, in the academic year of 2013/2014 is many as 109 students divided become 4 class, with detail of class Via consist from 28 students. Vib. Vic and Vid this all class consist from 27 students. Be based on result cluster random sampling, class become sample in the research is class Via as experiment class and Vic as control class. Technique of analyzing the data in this research use variance two street analysis with difference sel. Prerequisite test involve the use of research analysis of data is normalitas test with Lilliefors methode and homogenitas test with Bartleet Conclusion: . Learning Mathematics Achievement of students teachable used Jigsaw Learning better than conventional learning, . Learning Mathematics Achievement of students with high motivation better then medium and low motivation. Such Learning Mathematics Achievement of students with medium motivation be better then low motivation. There is not interaction between learning methode with students motivation, so Learning Mathematics Achievement of students with high, medium and low motivation teachable used Jigsaw Learning better than conventional learning. Key Word: Jigsaw. Conventional. Motivation. Pendidikan matematika menyangkut proses belajar mengajar dan pemikiran kreatif. Kesulitan yang dialami siswa pada mata pelajaran matematika tidak hanya bersumber dari kemampuan siswa, akan tetapi ada faktor lain yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa antara lain metode atau model pembelajaran yang diterapkan guru. Rendahnya prestasi belajar matematika masih menjadi masalah yang serius bagi dunia pendidikan di Indonesia, baik tingkat SD. SMP, maupun SMA. Berdasarkan hasil survei internasional Trends In International Mathematics And Science Study (TIMSS) oleh Puspendik yaitu skor prestasi matematika siswa di Indonesia berada signifikan di bawah Nur Rohman. Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Ditinjau dari Motivasi. rata-rata internasional. Indonesia pada tahun 2003 berada di peringkat ke-35 dari 46 negara, dan tahun 2007 berada di peringkat ke-36 dari 49 negara . ttp://litbangkemdiknas. net/detail. php?id=. Berdasarkan data dalam Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011. Organisasi Pendidikan. Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), menempatkan Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia. Indonesia masih tertinggal dari Brunei yang berada di peringkat ke-34 yang masuk kelompok pencapaian tinggi bersama Jepang yang mencapai posisi nomor satu di dunia. Sementara Malaysia berada di peringkat ke-65 . ttp://herdy07. Pendidikan sebagai masa depan bangsa akan selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini memberikan tantangan bagi pendidik untuk dapat melaksanakan pendidikan yang lebih mengutamakan pada penguasaan konsep, dengan tujuan dapat menjadikan siswa lebih berfikir kritis, logis, dan kreatif serta mandiri sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi siswa dalam belajar Guru harus dapat memilih metode yang tepat agar pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga kualitas pendidikan di Indonesia dapat lebih ditingkatkan. Untuk mencapai hal tersebut, tidak jarang seorang pendidik mengalami kesulitan. Karenanya dalam menerapkan metode pembelajaran seorang guru harus mempunyai cara-cara menarik sehingga siswa menjadi senang dalam mengikuti pelajaran. Permasalahan dalam proses belajar mengajar matematika juga terjadi di MTs Abu Darrin Kendal Bojonegoro. Menurut keterangan yang diberikan oleh guru mata pelajaran matematika di MTs Abu Darrin Kendal Bojonegoro pada tanggal 27 Januari 2014, prestasi belajar matematika siswa kelas Vi Mts Abu Darrin Kendal Bojonegoro masih rendah. Mayoritas siswa belum bisa mencapai KKM yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75, kurang lebih hanya 18% siswa yang bisa mencapai KKM. Selain itu, berdasarkan pengakuan beberapa siswa kelas Vi Mts Abu Darrin Kendal Bojonegoro beranggapan bahwa matematika adalah mata pelajaran yang sulit dan belajar matematika itu membosankan. Ketika pelajaran matematika berlangsung, siswa cenderung pasif meskipun mereka kurang memahami materi yang disampaikan oleh guru. Kebiasaan ini mengakibatkan pada waktu diberi tugas siswa cenderung tidak bisa menyelesaikan permasalahan. Hal ini disebabkan motivasi belajar siswa yang rendah, sehingga berpengaruh langsung terhadap keaktifan dan prestasi belajar Oleh karena itu peneliti menggunakan metode yang belum pernah diterapkan di Mts Abu Darrin Kendal Bojonegoro yaitu metode pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dimana Pembelajaran Jigsaw merupakan bagian dari model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan pertama kali oleh Eliot Aronson tahun Dalam model pembelajaran kooperatif Jigsaw, di mana setiap siswa menjadi anggota kelompok asal . ome grou. dan juga sebagai kelompok ahli . xpert grou. Siswa dalam kelompok ahli bertanggung jawab terhadap penguasaan materi yang menjadi bagian yang dipelajari dan berkewajiban mengajarkan kepada siswa lain dalam kelompoknya peran guru sedikit demi sedikit dikurangi dan akan berganti siswa yang menjadi aktif dalam proses pembelajaran. Sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator yaitu berperan untuk membantu dan membimbing peserta didik untuk belajar bersama guru dan Belajar berdasarkan konstruktivistik menekankan pada proses perubahan konseptual . onceptual-change proces. Hal ini terjadi pada diri siswa ketika peta konsep yang dimilikinya dihadapkan dengan situasi dunia nyata. Dalam proses ini siswa melakukan analisis, sintesis, berargumentasi, mengambil keputusan, dan menarik kesimpulan sekalipun bersifat tentatif. Konstruksi pengetahuan yang dihasilkan bersifat viabilitas artinya konsep yang telah terkonstruksi bisa jadi tergeser oleh konsep lain yang lebih dapat diterima. (Depdiknas UNESA Modul PLPG guru matematika SMK 2008: . Belajar perlu dipahami sebagai sesuatu yang dilakukan seorang pelajar, bukan sebagai sesuatu yang dilakukan kepada pelajar, sebagaimana dinyatakan oleh Fosnot dalam OAoLoughlin . bahwa: AuLearning needs to be conceived of as something a learner does, not as something that is done to a learnerAy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: . manakah yang memberi pengaruh Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. lebih baik, pembelajaran Konvensional atau Jigsaw terhadap prestasi belajar? . manakah yang memberi pengaruh lebih baik dalam pembelajaran, siswa dengan motivasi tinggi, sedang dan rendah terhadap prestasi belajar materi trigonometri? . pada siswa dengan berbagai motivasi, manakah model pembelajaran yang memberi pengaruh lebih baik, pembelajaran konvensional atau Jigsaw terhadap prestasi belajar trigonometri? METODE Waktu penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2013/2014. Untuk mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika ditinjau dari motivasi siswa digunakan analisis variansi dua jalan sel tak sama. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas Vi Mts Abu Darrin Kendal Bojonegoro tahun ajaran 2013/2014. Jumlah siswa kelas Vi Mts Abu Darrin Kendal Bojonegoro tahun ajaran 2013/2014 adalah sebanyak 109 siswa yang terbagi menjadi 4 kelas, dengan rincian kelas Via terdiri dari 28 siswa. Vib terdiri dari 27 siswa. Vic terdiri dari 27 siswa dan Vid terdiri dari 27 siswa. Berdasarkan hasil cluster random sampling, kelas yang menjadi sampel dalam penelitian adalah kelas Via sebagai kelas eksperimen dan kelas Vic sebagai kelas kontrol. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan (ANAVA) analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama (Budiyono,2009:. Uji prasyarat yang dipakai dalam analisis data penelitian adalah uji normalitas dengan metode Lilliefors dan uji homogenitas dengan metode Bartleet. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji coba instrumen dilakukan pada kelas Vib. Hasil uji coba menunjukkan bahwa instrumen penelitian yaitu soal tes prestasi belajar matematika adalah baik sehingga dapat digunakan dalam penelitian. Data kemampuan awal yaitu data dari nilai UAS semester ganjil digunakan untuk uji keseimbangan. Uji t digunakan untuk uji keseimbangan dengan prasyarat populasi normal dan homogen. Hasil uji normalitas berdasarkan uji normalitas keadaan awal kelas eksperimen diperoleh Lhitung = 0,1247 dengan = 0,05 maka diperoleh L. ,05. = 0,1832. ^L L ! 0,1832`. 0,1247 Aa DK Jadi. H0 diterima artinya sampel berasal dari populasi berdistribusi normal. Sedangkan pada kelas kontrol diperoleh Lhitung = 0,1493 dengan = 0,05 maka diperoleh L. = 0,1798. ^L L ! 0,1798`. 0,1493Aa DK Jadi. H0 diterima artinya sampel berasal dari populasi yang normal. Hasil uji homogenitas kelas eksperimen dan kelas kontrol berdasarkan keadaan awal antara kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh x 2 obs = 0,135 dengan = 0,05 maka diperoleh x 2 0, 05 . 1 = 3,841 . DK = x 2 x 2 ! 3,841 . x 2 obs 0,135 Aa DK Jadi. H0 diterima artinya sampel berasal dari populasi yang homogen. Berikut hasil uji keseimbangan dengan uji t dan prasyarat populasi normal dan homogen: Uji keseimDk to s t0,02 d Keputusan Kesimpulan Kelas 43 0,21 1,9 Seimbang vs kelas Setelah uji pendahuluan dan uji prasyarat terpenuhi selanjutnya diberikan perlakuan yang berbeda, pada kelas eksperimen menggunakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan kelas kontrol metode konvensional. Kemudian hasil penelitian diuji menggunakan analisis variansi dua jalan sel tak sama. Hasil analisis variansi prestasi belajar matematika pada sub pokok bahasan trigonometri adalah sebagai berikut: Sumber Metode Pembelajaran 379,87 1 379,87 5,09 (A) Tingkat 3589,01 2 21794,51 24,0 Motivasi (B) Interaksi (AB) 32, 0 2 1 ,30 0,22 2 84,44 3 74,57 Total 85,92 41 4,120 3,27 3,27 Nur Rohman. Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Ditinjau dari Motivasi. Berdasarkan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh H0A ditolak,H0B ditolak, dan H0AB diterima. Maka perlu dilakukan uji lanjut pasca anava yaitu uji komparansi ganda. Uji komparansi antar baris Uji komparasi rataan antar baris tidak perlu dilakukan, cukup dengan melihat rataan Hal ini dikarenakan pada penelitian ini hanya terdapat dua kategori pada efek baris. Berikut tabel rataan dan rataan marginal: Kelas Motivasi Metode Rataan Pembelajaran Tinggi Sedang Rendah marginal Kooperatif Jigsaw Vic Konvensional Rataan Via 88,13 77,78 62,50 76,14 79,29 72,22 58,00 69,84 83,70 75,00 60,25 Berdasarkan data marginal dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika siswa yang diajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dari pada menggunakan metode pembelajaran Uji komparansi antar kolom Berdasarkan tabel rataan dan rataan marginal di atas maka dapat diperoleh hasil perhitungan komparansi rataan antar kolom disajikan dalam tabel berikut: Uji Kom- A X i X j A A 1 1 A A A An n A j A A j Kritik 75,69 9,11 8,31 6,54 549,90 13,26 41,47 6,54 217,56 12,43 17,50 6,54 Keputusan ata tersebut maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika siswa dengan motivasi tinggi lebih baik dari pada motivasi sedang dan rendah. emikain juga prestasi belajar matematika siswa dengan motivasi sedang lebih baik dari pada motivasi rendah. Uji komparansi antar sel H0ABditerima. Berarti tidak ada interaksi antara metode pembelajaran dengan tingkat motivasi siswa terhadap prestasi belajar, maka tidak perlu uji lanjut antar sel. Maka kesimpulan perbandingan rataan antar sel mengacu kepada kesimpulan perbandingan rataan marginalnya. Berdasarkan data marginal dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika siswa dengan motivasi tinggi, sedang, dan rendah yang diajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dari pada menggunakan metode pembelajaran konvensional. P M Hasil analisa uji hipotesis menggunakan analisis variansi dua sel tak sama dengan menguji dua rata-rata data tes. Berdasarkan hasil analisa data diketahui hasil nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 78,81 dan hasil nilai ratarata kelas kontrol sebesar 71,19. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika siswa yang diajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik daripada menggunakan metode pembelajaran ari beberapa penelitian sebelumnya, misalnya dalam penelitian Sulani, 2010: 75-76 , pembelajaran Jigsaw lebih efektif daripada pembelajaran langsung. Hal ini juga terlihat dari observasi yang dilakukan oleh penulis yang membuktikan bahwa prestasi belajar matematika siswa yang diajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dari pada menggunakan metode pembelajaran Hal ini dikarenakan pada saat proses belajar mengajar menggunakan metode kooperatif tipe jigsaw siswa dituntut untuk selalu aktif dalam belajar sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Selain itu fasilitas yang memadai di Mts bu arrin Bojonegoro dapat memacu siswa untuk lebih kreatif dan mandiri dalam belajar, seperti tersedianya perpustakaan yang lengkap, buku paket. KS, dan juga area sekolah yang dilengkapi dengan hotspot sehingga dapat membantu siswa dalam belajar. yang lengkap tersebut sangat mendukung dalam penerapan metode kooperatif tipe jigsaw sehingga hal tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa. ari hasil analisis data diperoleh bahwa pada metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw nilai rata-rata pada siswa dengan tingkat motivasi tinggi adalah 88,13, sedang 77,78, dan rendah 62,50. Sedangkan pada metode Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. pembelajaran konvensional diperoleh nilai rata-rata pada siswa dengan tingkat motivasi tinggi adalah 79,29, sedang 72,22, dan rendah 58,00. Hal ini menunjukkan ada perbedaan signifikan antara prestasi belajar matematika pada kelompok siswa dengan keaktifan tinggi dan prestasi belajar matematika pada kelompok siswa dengan motivasi sedang. Dan ada perbedaan signifikan antara prestasi belajar matematika pada kelompok siswa dengan motivasi tinggi dan prestasi belajar matematika pada kelompok siswa dengan motivasi rendah. Serta ada perbedaan signifikan antara prestasi belajar matematika pada kelompok siswa dengan motivasi sedang dan prestasi belajar matematika pada kelompok siswa dengan motivasi rendah. Atau dengan kata lain prestasi belajar matematika siswa dengan tingkat motivasi tinggi lebih baik dari pada motivasi sedang dan rendah. Demikain juga prestasi belajar matematika siswa dengan tingkat motivasi sedang lebih baik dari pada motivasi rendah. Hal ini sesuai dengan penelitian (Ari Indriani, 2. , yang membuktikan bahwa prestasi belajar matematika siswa dengan motivasi tinggi lebih baik dari pada motivasi sedang dan rendah. Demikain juga prestasi belajar matematika siswa dengan tingkat motivasi sedang lebih baik dari pada motivasi rendah. Hal ini dikarenakan siswa yang aktif akan mempunyai memori yang kuat, sehingga berpengaruh pada prestasi belajarnya. Siswa yang mempunyai motivasi tinggi akan lebih terpacu untuk lebih giat belajar. Karena penerapan metode kooperatif tipe jigsaw ini mengajak siswa untuk selalu aktif dalam belajar. Jika ditinjau dari perbandingan rataan antar sel pada kolom yang sama maka dari rataan marginal tersebut dapat diketahui bahwa prestasi belajar matematika siswa yang diajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dari pada yang diajar menggunakan metode konvensional. Dalam arti prestasi belajar matematika pada kelompok siswa yang mempunyai motivasi tinggi yang diajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dari pada menggunakan metode pembelajaran konvensional. Demikian juga dengan kelompok siswa yang mempunyai motivasi sedang dan rendah. Sedangkan jika ditinjau dari perbandingan antar sel pada baris yang sama tidak ada interaksi, maka dari rataan marginalnya dapat diketahui jika prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai motivasi tinggi lebih baik dari pada yang sedang. Dan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai motivasi tinggi dan sedang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai motivasi rendah. Demikian juga pada metode pembelajaran konvensional. Sehingga berdasarkan data tersebut dapat diketahui jika prestasi belajar matematika siswa dengan tingkat motivasi tinggi, sedang, dan rendah yang diajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dari pada menggunakan metode pembelajaran SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh kesimpulan sebagai berikut: . Prestasi belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran Jigsaw lebih baik daripada pembelajaran konvensional, . Prestasi belajar matematika siswa dengan motivasi tinggi lebih baik daripada motivasi sedang dan rendah. Demikian juga prestasi belajar matematika siswa dengan motivasi sedang lebih baik daripada motivasi Tidak ada interaksi antara metode pembelajaran dengan motivasi siswa, sehingga prestasi belajar matematika siswa dengan motivasi tinggi, sedang, dan rendah yang diajar menggunakan pembelajaran Jigsaw lebih baik daripada pembelajaran konvensional. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini peneliti sarankan bahwa: . untuk materi trigonometri sebaiknya dalam pembelajaran menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw atau jika ingin model pembelajaran non kooperatif sebaiknya menggunakan pembelajaran Konvensional, . untuk materi trigonometri siswa dengan motivasi tinggi, sedang dan rendah tidak perlu dipermasalahkan karena motivasi belajar yang dimiliki siswa tidak memberi pengaruh yang berbeda pada model pembelajaran. Jigsaw maupun Konvensional. Nur Rohman. Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Ditinjau dari Motivasi. DAFTAR PUSTAKA Anneahira. Pengertian Prestasi Belajar Menurut Para Ahli, . , . ttp:// com/pengertian-prestasibelajar-menurut-para-ahli. Diunduh 12 Desember 2. Ari Indriani. Eksperimentasi Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dan Problem Solving pada pembelajaran Matematika ditinjau dari motivasi belajar siswa kelas V SD Negeri Sekecamatan Kunduran Blora Tahun Ajaran 2010/2011. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Budiyono. Statistika Untuk Penelitian Edisi Ke 2. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Depdiknas. Modul PLPG Guru Matematika SMK. Surabaya: UNESA. Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama. Hafis Muaddab. Pengertian Belajar Matematika. , . ttp:// com/2010/01/13/ pengertian-belajar-matematika/. Diunduh 3 Januari 2. Herdy. Education For All Global Monitoring Report. ttp://herdy07. Diakses pada 6 Januari 2014 09:39:17. OAoLoughlin. Rethinking Science Education: Beyond Piagetian Contructivism Toward a Sociocultural Model of Teaching and Learning. Journal of Research in Science Teaching. Vol 29. No. Puspendik. Survei Internasional TIMSS. http://litbangkemdiknas. net/detai php?id=214. Diunduh pada 4 Pebruari 2014, 10:45:16. Rohman Hipni. Pengertian/definisi metode pembelajaran, . , . ttp://hipni. b l o g s p o t . c o m / 2 0 11 / 0 9 / p e n g e r t i a n definisi-metode-pembelajaran. Diunduh 23 Desember 2. Sugiyono. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. Suharsimi. Arikunto. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Sulani. Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Materi Pokok Sistem Persamaan Linier Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri Se-Kabupaten Tulungagung Tahun Ajaran 2009/2010. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Konsep. Landasan. Dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP). Jakarta: Kencana Prenada MediaGroup. VARIASI. KEUNIKAN. DAN PENGGUNAAN TINGKAT TUTUR BAHASA JAWA DI KABUPATEN PACITAN (Tinjauan Sosiolinguisti. Sri Pamungkas dan Eny Setyowati Dosen PBSI STKIP PGRI Pacitan E-mail: bunda_eca_alya@ymail. Abstrac: This research of speech level variaties in the Javanese language of Pacitan regency, in the multilingual context based on sociolinguistic study aims at. identifying and making inventory of Javanese languge speech levels in Pacitan regency, . identifying the characteristics of the Javanese language speech level in Pacitan, . identifying and describing the Javanese speech level in Pacitan regency pertaining to the level of the respect perceived by speaker toward hearer. This research is a kind of descriptive qualitative, especially investigating a case study of the variaties of Javanese language speech level use, in Pacitan regency. The method of this research is: . a method of providing data, with a few techniques. Those are listening, speaking, cooperating with informants and questionnaires. the method of the data analysis is managed by using four chronological groove, namely . domain analysis, . taxonomy analysis, . componential analysis, and . cultural values analysis. Based on the research findings, the Javanese speech level in Pacitan regency is not much different from the Javanese language used in Solo-Yogyakarta that is claimed to be the center of the Javanese It can not be denied because Pacitan is closer to Solo and Yogyakarta in a distance rather than Surabaya although Pacitan regency includes East Java Province. Based on the research. Pacitan society tends to use BJK when interacting with stranger, officer, father/mother, grandfather/grandmother, uncle/aunt, both in formal and informal Ngoko Javanese language (BJN) or low level of Javanese language will be used to interact with friends, children, underlings and servants both in formal and informal situations. The tendency does not mean that all informants speak like that. is proved from the availability of the informant who says that they use BJK in formal situations to underlings on behalf of giving appreciation for learning, especially to the children how they should speak in formal situations. Keywords: Level of speech. Javanese Language. Pacitan. Pacitan, sebagai sebuah ibu kota kabupaten yang terletak di pulau Jawa, khususnya di Provinsi Jawa Timur juga mempunyai bahasa ibu bahasa Jawa. Masyarakat Pacitan dalam kehidupan kesehariannya menggunakan bahasa Jawa sebagai alat interaksinya. Bahasa Jawa bagi masyarakat Pacitan merupakan bahasa yang tidak kalah penting peranannya dengan bahasa Indonesia. Namun, dalam perkembangan saat ini, penggunaan bahasa Jawa yang baik dan Sri Pamungkas & Eny Setyowati. Variasi. Keunikan, dan Penggunaan Tingkat Tutur Bahasa. benar sudah tergeser. Tingkat tutur pun sudah mempunyai banyak variasi. Munculnya variasi bahasa Jawa tersebut bukanlah tanpa sebab. Hal itu disebabkan adanya akulturasi budaya yang terjadi. Akulturasi budaya yang kemudian memberikan implikasi pada penggunaan bahasa salah satunya disebabkan karena Aukepentingan ekonomiAy. Hal tersebut mengandung pengertian, bahwa saat ini Kabupaten Pacitan yang pada sepuluh hingga lima belas tahun yang lalu masih tergolong kabupaten tertinggal akhir-akhir ini mulai menggeliat dengan dibangunnya PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Ua. di Kecamatan Sudimoro. Jalur Lintas Selatan yang juga melalui beberapa kecamatan di Pacitan. Hal yang tak kalah pentingnya adalah melimpahnya hasil laut yang dikenal sebagai Kota 1001 Goa dan Sejuta Laut karena terdapat banyak sekali laut/pantai di Kabupaten Pacitan seperti Pantai Teleng Ria. Pantai Watu Karung. Pantai Srau. Pantai Klayar. Pantai Soge. Pantai Wawaran. Pantai Pidakan. Pantai Kunir, dan masih banyak lagi yang lain. Pantai-pantai yang ada dengan limpahan hasil lautnya ternyata mengundang banyak sekali nelayan-nelayan dari daerah lain untuk masuk bahkan menetap di Pacitan. Seperti halnya di daerah Pantai teleng Ria banyak sekali warga Bugis Makasar dan ada juga warga Prigi yang menetap di sana. Selain itu, di daerah Sudimoro dengan dibangunnya PLTU ternyata mengundang para pekerja asing, yaitu orangorang berkebangsaan China banyak menetap di sana dalam mes-mes bahkan ada juga yang tinggal di rumah-rumah warga. Dalam kondisi demikian kecurigaan terhadap penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa akibat persinggungan bahasa kemungkinan terjadi. Wacana awal menunjukkan bahwa bahasa Jawa yang digunakan masyarakat Teleng Ria apabila dalam situasi pembicaraan terdapat orang Bugis Makasar maka tidak sedikit para nelayan lokal juga mencampur penggunaan bahasa Jawa dan sedikit kosa kata bahasa Bugis Makasar, demikian sebaliknya. Kodiran . menyatakan bahwa di Daerah Istimewa Yogyakarta bagian selatan hingga saat ini masih terdapat kelompokkelompok masyarakat Jawa yang masih mengikuti atau mendukung kebudayaan Jawa. Pacitan, dalam hal ini termasuk di dalamnya. Hal itu karena Pacitan pada awalnya berada dalam wilayang kekuasaan Yogyakarta sejak Mataram terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta pada Tingkat tutur dalam suatu bahasa atau dialek sangat dipengaruhi oleh mobilitas sosial dan ciri-ciri masyarakatnya. Masyarakat yang statis sangat menjaga hubungan yang vertikal dan horisontal, sistem simetris dan asimetris (Sadtono, 1978:7-. Berdasar pada tulisan Soedjito, dkk . yang dikutip oleh Moeljono, dkk . bahasa Jawa sebagaimana di Jawa Timur telah dikenal mempunyai dialek antara lain dialek Tuban, dialek Gresik, dialek Surabaya, dialek Probolinggo, dialek Malang, dan dialek Banyuwangi. Kajian dialek bahasa Jawa di beberapa kabupaten telah banyak dilakukan. Namun. Pacitan belum pernah Spesifikasi bahasa masyarakat Kabupaten Pacitan sangat unik untuk dibicarakan. Pada kenyataannya. Pacitan termasuk dalam wilayah Jawa Timur. Namun, apabila ditilik dari penggunaan bahasa Jawa masyarakat Pacitan cenderung pada bahasa Jawa Solo dan Yogyakarta, bahkan sangat jarang ditemukan masyarakat Kabupaten Pacitan yang menggunakan bahasa Jawa dialek Surabaya . ahasa Suroboyoa. Dimensi vertikal tingkat tutur dalam bahasa mengacu kepada kedudukan atau pangkat tinggi atau rendah, hormat atau tidak hormat antara pembicara dengan orang yang diajak berbicara, sedangkan dimensi horisontal menentukan hubungan kekerabatan serta kadar persahabatan antara pembicara dengan orang yang diajak berbicara, selain menentukan kadar hormat atau tidak hormat. Penelitian tingkat tutur bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan ini tentu akan memperkaya pemerian bahasa Jawa, khususnya bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan. Penelitian ini akan berupaya untuk memberikan pemerian tentang tingkat tutur bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan dalam kaitannya dengan formalitas dan sikap hormat yang dirasakan oleh pembicara kepada lawan Hal ini tentu saja akan bermanfaat bagi masyarakat penutur bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat penutur bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan sebagai penunjang pembinaan tata krama dan sopan santun dalam masyarakat atau dalam keluarga yang pada gilirannya tentu akan dapat mengembangkan kebudayaan daerah khususnya di Kabupaten Pacitan. Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. METODE Metode penyediaan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak (Sudaryanto, 1993:. dan metode cakap. Metode simak dilakukan dengan penerapan teknik simak libat cakap sebagai teknik lanjutan yang Teknik lanjutan yang kedua adalah teknik rekam. Teknik lanjutan yang ketiga adalah teknik catat yang penulis pergunakan untuk mencatat data-data yang telah berhasil penulis kumpulkan. Selain itu, penulis juga menggunakan metode angket. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket yang bersifat langsung dan tertutup. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode dikemukakan oleh Spradley . Spradley . mengemukakan teknik analisis dengan empat alur maju, yaitu . domain analysis . nalisis domai. , . taxonomy analysis . nalisis taksonom. , . componential analysis . nalisis kompone. , dan . cultural values Selain menggunakan metode di atas, dalam penelitian juga akan diterapkan beberapa langkah dalam rangka melakukan analisis data. Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan adalah . terjemahan, hasil wawancara. menghitung tabel frekuensi prosentase pemakaian bentuk-bentuk tingkat tutur yang ada dalam bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan sesuai dengan kondisi dan hubungan antar pembicara atau penyapa dengan orang yang diajak berbicara atau pesapa. Perhitungan tersebut dilakukan dengan menggunakan rumus P = F/Nx 100. mana P = persentase. F = frekuensi. N = Number of Cases . anyaknya individ. Perhitungan frekuensi tersebut digunakan untuk menentukan kecenderungan pemakaian bentuk tingkat tutur HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tingkat Tutur Bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan Data penelitian yang diambil dari empat daerah penelitian (DP). Adapun empat daerah penelitian tersebut adalah meliputi DP 1 Kecamatan Sudimoro (Dusun Krajan. Desa Sumberej. DP II Kecamatan Nawangan (Dusun Sempok Desa Tokaw. DP i (Dusun Tumpak Watu Desa Widor. , dan DP IV daerah Teleng Kelurahan Sidoharjo Pacitan. Informan yang dipilih dari tiap-tiap daerah penelitian tersebut dipilih empat orang, yaitu nelayan/ pedagang/petani, guru, seniman, pamong desa . Jumlah keseluruhan informan utama adalah sebanyak 16 orang. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terpotret bahwa para informan dalam berinteraksi dengan semua mitra tutur menggunakan dua bentuk bahasa yang Hal tersebut tampak ketika informan berbicara dengan teman atau bawahan atau anak atau pembantu, rata-rata menggunakan bentuk bahasa yang sama. Sedangkan, apabila mereka berinteraksi dengan orang lain . itra tutu. yang meliputi orang yang belum dikenal, pejabat, bapak/ibu, kakek/nenek, paman/pakde/ bibi/budhe, penutur . pada umumnya menggunakan bentuk bahasa yang sama pula tetapi berbeda dari bahasa yang digunakan ketika berinteraksi dengan teman, anak, pembantu, atau Situasi formal dan informal dalam penelitian ini diarahkan pada bentuk suasana resmi dan tidak resmi. Misalnya untuk situasi fomal adalah pada saat rapat RT, sedangkan situasi nonformal misalnya pada saat interaksi biasa, bertemu dengan seseorang di jalan, berangkat pengajian, dan lain-lain. Data: Saya akan pulang Seorang perangkat desa akan mengatakan aku arep mulih atau aku arep bali, bila ia berbicara dengan seorang pamong desa lainnya, temannya, yang kurang lebih umur dan pangkatnya kurang lebih sama. Untuk kalimat yang sama seorang pedagang mengatakan aku arep mulih atau aku arep bali atau kepada seorang kawan pedagang, demikian juga dengan seorang guru ketika berbicara kepada penjaga sekolah, dan seorang seniman juga akan mengatakan aku arep mulih atau aku arep bali kepada pembantunya. Sebaliknya seorang petani akan mengatakan kula badhe wangsul kepada orang yang belum dikenalnya yang usianya lebih tua darinya atau kepada perangkat desa. Seorang pamong desa di Kabupaten Pacitan ketika mengucapkan kalimat tersebut di atas ada yang mengatakan kula badhe wangsul, kula badhe nyuwun pamit rumiyin, kula badhe pamit, kula badhe pareng rumiyin ketika Sri Pamungkas & Eny Setyowati. Variasi. Keunikan, dan Penggunaan Tingkat Tutur Bahasa. berbicara dengan orang jabatannya lebih tinggi di atasnya. Pilihan Kata (Diks. Sebagai Pembeda Tingkat Tutur Bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan Pilihan kata . berdasarkan hasil penelitian penggunaan bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan mempunyai ciri khusus terkait penggunaan diksi, utamanya pada bahasa Jawa ragam ngoko dan krama. Penggunaan diksi yang dimaksud dalam penelitian ini tidak dapat dilepaskan dari penggunaan jenis-jenis kata yang digunakan beserta nilai rasanya. Diksi yang digunakan untuk membedakan ragam ngoko dan krama dalam penelitian ini meliputi penggunaan kata benda (KB), kata kerja (KK), kata sifat (KS), kata bilangan, kata tanya, kata ganti penunjuk . , modalitas, kata tugas dan kata ganti Kata Benda Kata benda sebagai pembeda tingkat tutur paling banyak digunakan. Hal ini disebabkan hampir semua bentuk percakapan menggunakan atau merujuk pada jenis kata benda. Hal ini dicontohkan seperti omah, griya, dalem AorumahAo, sega, sekul AonasiAo, sikil, ampehan AokakiAo. Selain itu, ada juga bentuk yang mempunyai bentuk sama antara bentuk ngoko dan krama, seperti meja AomejaAo, patelot mempunyai bentuk yang sama antara ngoko dan krama AupensilAo. Kata Kerja Kata kerja sebagai pembeda tingkat tutur mempunyai banyak ragam pilihan kata. Kata mulih, bali, mamik, merupakan bentuk ngoko seagkan wangsul dan kondor merupakan bentuk krama dari AopulangAo. Pinter AopandaiAo mempunyai bentuk yang sama antara ngoko dan krama. Jenis kata sifat yang digunakan sebagai pembeda tingkat tutur juga berjumlah relatif banyak dibanding kata lain. Kata Bilangan Kata bilangan berdasarkan hasil penelitian juga merujuk pada pembedaan tingkat tutur bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan. Adapun bentuk kata bilangan yang ditemukan adalah sepuluh, sedasa AosepuluhAo, siji, setunggal Aosatu, lori, kalih AoduaAo. Kata Tanya Kata tanya yang digunakan oleh masyarakat Pacitan sebagai pembeda tingkat tutur adalah merujuk pada tempat, orang, tujuan, sebab, dan objek. Adapun bentuk kata tanya yang ditemukan dalam penelitian meliputi nyang ngendi/ngandi Aoke manaAo, sapa, sinten AosiapaAo, nyang ngendi/mhamdi Aoke manaAo, nyapa, nyang apa AomengapaAo apa AoapakahAo. Bentuk-bentuk tersebut digunakan ketika berkomunikasi dengan teman, anak, pembantu. Sedangkan bentuk badhe tindak pundi Aoke manaAo, sinten AosiapaAo badhe tindak pundi Aoke manaAo, wonten menapa AomengapaAonenapa, punapa AoapakahAo. Kata Ganti Penunjuk Kata ganti penunjuk . yang digunakan sebagai pembeda tingkat tutur bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan meliputi halhal sebagai berikut. Kae, kuwi AoituAo. iki AoiniAo digunakan untuk memberikan ciri bahasa Jawa Sedangkan, nika, menika, niku AoituAo merujuk pada bahasa Jawa ragam krama. Selain itu, kata iki AoiniAo dan niki AoiniAo masing-masing merujuk pada bahasa Jawa ragam ngoko dan Kata Tugas Kata tugas yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah berkaitan dengan katakata yang kehadirannya berfungsi sebagai kata sambung. Kehadiran kata tugas dalam sebuah kalimat sangat penting walaupun dapat dikatakan kata tersebut bukanlah kata inti, yang biasanya mendahului KB, berada sesudah KK, sebagai bentuk penghubung, dan juga bentuk Adapun kata tugas yang ditemukan di lapangan meliputi ning AodiAo, untuk ngoko dan wonten AodiAo untuk ragam krama, dan masih banyak lagi yang lain. Kata Modalitas Modalitas diartikan sebagai bentuk katakata bantu kata kerja. Artinya, kata-kata ini muncul mengiringi kata kerja. Bentuk-bentuk seperti akan, jangan, masih, sudah dalam bahasa Indonesia juga ditemukan dalam penelitian penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan yang antara bentuk ngoko dan krama masing-masing mempunyai bentuk yang berbeda. Kata Ganti Milik Kata ganti milik merupakan bentuk kata ganti yang merujuk pada kepemilikan sesuatu. Kepemilikan yang dimaksud berkaitan dengan sesuatu hal yang dirujuk dengan meletakkan ku, kau, ,mu, nya hadir bersama kata benda (KB). Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. Pemakaian Tingkat Tutur Bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan Faktor situasi berkaitan dengan konsep Hymes (SPEAKING) tidak bisa dipisahkan dengan pilihan kata . Siapa yang diajak berbicara, apa hal yang dibicarakan, kapan, dimana, bagaimana menjadi penentu pijakan untuk menentukan pilihan ragam bahasa Jawa baik BJK atau BJN. Pada setiap informan yang diteliti hingga dihitung akumulasi prosentase penggunaan BJK rata-rata di atas 50 %. Hal ini tentu sangat menarik mengingat arus globalisasi semakin gencar bahkan membuat kawatir sebagian kalangan akan eksistensi bahasa Jawa. Bersumber data di atas dapat diketahui bahwa situasi berkaitan dengan formal dan informal sangat memberikan pengaruh dalam pemilihan ragam bahasa. Prosentase mencapai 100% berkaitan dengan penggunaan BJK baik dalam situasi formal maupun informal adalah terjadi apabila mitra tutur adalah pejabat dan orang yang belum dikenal. Di semua DP ditemukan keseragaman bahwa untuk berbicara pada pesapa tersebut maka menggunakan bahasa Jawa ragam krama (BJK). Berbeda halnya dengan mitra tutur seorang pembantu, di semua DP menggunakan BJ ragam ngoko (BJN) baik dalam situasi formal maupun Tidak ada satu informan pun yang menyatakan bahwa berbicara dengan pembantu perlu menggunakan bahasa Jawa Ngoko (BJN). Hal ini bukan bermaksud memandang pembantu itu rendah tetapi lebih kepada sebuah alasan karena mereka kebanyakan tidak mengerti bahasa Jawa Krama (BJK) sehingga apabil interaksi yang dibangun dengan menggunakan BJK maka komunikasi pasti tidak efektif yang tentunya hal tersebut akan juga mengganggu proses interkasi, komunikasi, serta penyelesaian tugas-tugas mereka. Variasi prosentase terjadi pada penutur yang menghadapi lawan tutur seorang anak dan Informan di IV DP yang mengatakan menggunakan BJN dalam situasi formal ketika berbicara dengan anak-anak adalah sebanyak 62,5%, sedangkan yang menyatakan menggunakan BJK sebanyak 37,5%. Temuan ini sungguh unik karena seorang anak yang notabene seorang anak kecil tetapi justru digunakan BJK ketika berinteraksi dengan mereka. Walaupun angka tersebut di bawah 50% tetapi sangat perlu untuk diperhatikan sebagai upaya pembelajaran bahasa Jawa khususnya BJK kepada anak-anak dengan membiasakan berkomunikasi dengan mereka menggunakan ragam tersebut. Dari para informan yang menyatakan hal tersebut dinyatakan bahwa ketika anak-anak ditanya dengan menggunakan BJK maka pasti anak tersebut juga akan tergugah untuk menjawab dengan BJK. Sedikit berbeda dengan temuan penggunaan tingkat tutur BJ dengan lawan tutur anak-anak dengan prosentase 37,5%, penggunaan ragam bahasa BJK ketika berinteraksi dengan bawahan adalah mencapai 31,25%. Alasan informan pada hakikatnya sama yaitu misi pengajaran dan pemberian contoh sehingga para bawahan pun akan berusaha untuk menggunakan BJK dengan baik, terus berproses, belajar, dan mau menggunakannya untuk interaksi. Dengan konsep tersebut diharapkan budaya ewuh pekewuh, tetap menghormati atasan akan terbangun dengan baik. Sistem pendekatan seperti ini dianggap sangat baik karena dengan menggunakan bahasa yang standar (BJK) dalam berinteraksi maka perlawanan yang dilakukan oleh bawahan relatif dapat ditekan karena tidak mungkin mereka akan memprotes atasan dengan ragam BJK. Oleh karena itu, kondisi ini dianggap sebagai sebuah strategi bagaimana seorang bawahan akan mengikuti apa yang diinstruksikan oleh atasan dengan tanpa perlawanan. Artinya, mereka diposisikan sederajat karena bahasa yang digunakan adalah BJK sehingga mereka akan merasa dihargai, bukan semata-mata diperintah. Lain halnya pada situasi informal atau situasi santai. Ragam bahasa yang digunakan adalah cenderung ragam BJN karena situasi ini biasanya terjadi di rumah dalam rangka menjalin keakraban. Fakta unik juga terjadi dari penggunaan bahasa Jawa ragam krama (BJK) dalam situasi informal dengan lawan tutur bapak/ibu, kakek/nenek, paman/bibi/pakde/ Dalam situasi informal dari 4 DP yang ada beberapa informan menyatakan bahwa ketika terjadi interaksi maka mereka menggunakan BJK sebanyak 75% sedangkan yang menggunakan BJN sebanyak 25%. Penggunaan BJK masih di atas 75%, artinya masyarakat Kabupaten Pacitan masih menjunjung tinggi BJ sebagai bahasa daerah Angka 25% menjadi angka menggelitik Sri Pamungkas & Eny Setyowati. Variasi. Keunikan, dan Penggunaan Tingkat Tutur Bahasa. karena rupa-rupanya BJ pun sudah mengalami pergeseran berdasarkan konteks situasi, yaitu BJK tidak dianggap trend untuk bahasa sehari-hari sekalipun dengan orang tua atau orang dituakan. Alasan untuk lebih akrab, tidak ada jarak sehingga komunikasi akan berjalan efektif, maka komunikasi yang dijalin sekalipun dengan ayah/ibu, kakek/nenek, serta paman/bibi/ pakde/bude menggunakan BJN. Faktor budaya dan teknologi dalam hal ini tentu mengambil peran besar. Artinya, kemajuan zaman, tingkat pergaulan serta pola pikir masyarakat modern sudah mulai merambah Kabupaten Pacitan sehingga muncul data seperti tersebut di atas. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasar pada pembahasan yang telah dilakukan maka dapat ditarik benang merah berkaitan dengan penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan Jawa Timur memang unik karena seolah-olah dipengaruhi oleh dua dialek yaitu dialek Suroboyoan dan bahasa Jawa Jawa Tengahan. Tipikal orang Jawa di Kabupaten Pacitan mirip dengan orang Yogyakarta-Solo demikian juga dengan tata cara berbahasanya. Munculnya kata sampeyan merupakan indikasi adanya pengaruh Jawa Timur, yang memang secara wilayah Pacitan masuk dalam wilayah Propinsi Jawa Timur. Selain itu, juga ditemukan kata awakmu, kowe yang bermakna sama atau mirip dengan kata sampeyan, yaitu AodirimuAo menunjukkan adanya pengaruh budaya serta bahasa Solo-Yogya dalam bahasa masyarakat Pacitan. Dengan demikian dapat dikatakan adanya bentuk borrowing . Tingkat tutur bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan mempunyai dua bentuk yaitu . ngoko dan . Kedua bentuk tingkat tutur tersebut dibedakan berdasarkan pilihan kata, yang dapat dikelompokkan menjadi pilihan kata ganti persona, kata benda, kata kerja, kata sifat, kata tugas, kata bantu kata kerja . , kata ganti penunjuk, kata ganti milik, kata bilangan dan kata tanya. Pemilihan bentuk tingkat tutur ditentukan oleh situasi serta derajat sikap hormat antara pembicara dan lawan bicara. BJK digunakan secara makro digunakan pada situasi formal maupun informal dengan mitra tutur orang yang belum dikenal, pejabat, ayah/ibu, kakek/ nenek, paman/bibi/pakde/bude. Sedangkan BJN digunakan pada situasi formal maupun informal rata-rata digunakan oleh penutur bila menghadapi mitra tutur yang berstatus sebagai teman, anak, dan bawahan. Hal serupa juga terjadi pada berbagai profesi yang dijadikan informan pada setiap daerah penelitian (DP). Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan masih terjaga dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari masih digunakannya bahasa Jawa oleh masyarakat Pacitan dalam interaksi seharihari. Berkaitan dengan ragam bahasa Jawa dan krama yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah tentang penggunaan bahasa Jawa oleh generasi muda di Kabupaten Pacitan. Berkaitan dengan hal tersebut tentu dibutuhkan kajian kembali dan tentunya lebih dalam lagi. Saran Variasi, dan penggunaan tingkat tutur Bahasa Jawa di Kabupaten Pacitan masih sangat minim, sehingga membuka peluang yang lebar bagi para peneliti untuk mengkaji tentang hal Apalagi dalam perspektif dan sudut pandang yang lain, sehingga perbendaharaan riset variasi dan penggunaan tingkat tutur menjadi sangat DAFTAR PUSTAKA Alwasilah. Chaedar. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa Bell. Sosiolinguistics: Goals. A p p ro a c h e s . P ro b l e m s . London:Basford. Bungin. Burhan. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. Chaer. Abdul. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Cummings. Louise. Pragmatik Sebuah Perspektif Multidisipliner. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dittmer. Norbet. Sosiolinguistics. London: Edwar Arnold. Dwirahardjo. Maryono. Fungsi. Bentuk Krama dalam Masyarakat Tutur Jawa. Disertasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Fasold. Ralp. Sosiolinguistics of Language. Oxford: Blackwell Publissers. Fishman. Joshua. The Sociology of Language. Massachusette: Newbury House Publishers. Gumperz. John. J and Dell Hymes. Directions in Sociolinguistics. New York: Holt. Rinehart & Winston. Inc. Holmes. Janet. An introduction to Sosiolinguistics. New York: Longman. Hudson. Sosiolinguistics (Second Editio. Cambridge: University Press. Jawa Timur. Wikipedia Bahasa Indonesia. http://id. org/wiki/ Jawa_Timur. Diunduh pada hari Senin, 4 Maret 2013. Kartomiharjo. Soeseno. Bahasa Cermin Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Depdikbud. Keraf. Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kisyani-Laksono dan Agusniar Dian Savitri. Dialektologi. Surabaya: Unesa University Press. Koentjaraningrat. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia. Leech. Willem J. Principles of Pragmatics. London: The MIT Press. Marmanto. Sri. Pelestarian Bahasa Jawa Krama di Kota Surakarta. Surakarta: UNS Press. Miles. Matthew B. dan A. Michael Huberman. Qualitative Data Analysis. Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Unversitas Indonesia. Moeljono, dkk. Tingkat Tutur Bahasa Jawa Dialek Banyuwangi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Demokrasi dalam Budaya Lokal. Yogyakarta: Tiara Wacana. Mulyanto. Tinjauan Kritis Tingkat Tutur Bahasa Jawa Karya Ki Padmasusastra. Tesis S2. Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. Padmosoekotjo. Ngengngrengan Kasusastran Djawa. Yogyakarta: Hien Ho Sing. Pamungkas. Sri. Bahasa Indonesia dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Andi Offset. Poedjosoedarmo. Soepomo. et al. Tingkat Tutur Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Rahardi. Kunjana. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. Sasangka. Sry Satriya Catur Wisnu. Paramasastra Gagrag Anyar Basa Jawa. Jakarta: Yayasan Paramalingua. Soeseno. Kartomihardjo. Bahasa Cermin Kebudayaan Masyarakat. Jakarta: Departemen Depdikbud. Spradley. James P. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana. Subroto. Edi. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: UNS Press. Sudaryanto. Metode Dan Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan. Jakarta: Duta Wacana Unversity Press. ----------. Linguistik: Identitas. Cara Penanganan Objeknya, dan Hasil Kajiannya. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Sumarsono. Pemertahanan Bahasa Melayu Loloan di Bali. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sutopo. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Sebelas Maret Unuversity Press. Ratna. Nyoman Kutha. Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wardhaugh. Ronald. An introduction to Sosiolinguistics. Oxford: Basil Blackwell. ANALISIS PERAN WANITA DALAM HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA DITINJAU DARI PERSPEKTIF GENDER Susilo Surahman Dosen IAIN Surakarta E-mail: susilosurahman@gmail. Abstract: This research aims at analyzing the role of women in the marital law viewed from the gender perspective. The role of women in the marital law viewed from a gender perspective is intended to achieve a harmonious equal partnership between men and women or gender equality and justice, especially in marriage life. The marital law in Indonesia has placed men and women in the same position. However, being further investigated, there are still some issues that are still affected by gender bias, particularly in terms of the rights and obligations of husband and wife. Keywords: role, women, marital law, gender. anak tidak terlepas tekanan dunia internasional. Pengakuan hak asasi manusia di dalam berbagai peraturan perundang-undangan nasional yang di masa lalu terbatas pada pengakuan yuridis formal belaka, sejak bergulirnya Reformasi mendapatkan momentumnya untuk diimplementasikan secara Fenomena ini menarik untuk diikuti karena dua hal. Pertama, sebagai isyarat munculnya kesadaran baru untuk menciptakan tatanan kehidupan yang lebih rasional dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadilan. Kedua, sebagai tanda bahwa struktur sosial lama sedang mengalami Gender merupakan kategori sosial yang tercermin dalam perilaku, keyakinan dan sosial kemasyarakatan. Gender diperkenalkan untuk mempelajari, memahami dan menganalisa kualitas, karakter, kapasitas dan kemampuan perempuan di luar konteks seks, di mana gender terbentuk dari unsur lingkungan, pendidikan, budaya, adab dan pranata sosial (Indraswari. Apabila hal ini dipahami ternyata gendergender tersebut mengantarkan pada ketidakadilan The founding father negeri ini sungguh sangat arif dalam menyusun UUD 1945 yang menghargai peran wanita pada masa lalu dan mengantisipasi pada masa mendatang, dengan tidak ada satu kata pun yang bersifat diskriminatif terhadap Konstitusi Negara Indonesia tersebut dengan tegas menyatakan persamaan hak dan kewajiban bagi setiap warga negara tanpa memandang apakah dia pria maupun wanita (Surbakti, 2. Dalam dua dasawarsa terakhir masalah kesetaraan gender menjadi salah satu tema pembahasan akademis dan intelektual yang Masalah ini banyak menarik perhatian berkaitan dengan meningkatnya apresiasi terhadap hak asasi manusia pada umumnya dan keprihatinan yang luas dan mendalam terhadap banyaknya peristiwa pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia dan di berbagai belahan dunia pada umumnya. Keikutsertaan Indonesia dalam penandatanganan berbagai konvensi internasional berkaitan dengan kewajiban memberikan perlindungan hak asasi manusia termasuk jaminan perlindungan perempuan serta Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. atau ras diskriminasi wanita. Ketidakadilan dan ras diskriminasi tersebut termanifestasi dalam bentuk marginalisasi perempuan atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi yang menggambarkan bahwa perempuan mempunyai emosional tinggi dan berposisi lemah, stereotype yang mendasarkan bahwa terjadinya kasus pada diri wanita memang kesalahan wanita, kekerasan kerja yang menitikberatkan pada serangan fisik dan mental perempuan, diskriminasi di segala bidang, misalnya ekonomi, hukum waris, hukum perkawinan, kasih sayang dan lain-lain (Syahbana. Perbedaan secara biologis antara lakilaki dan perempuan . enurut jenis kelami. mempunyai implementasi di dalam kehidupan sosial budaya. Persepsi yang sudah mengakar pada tradisi masyarakat adalah jika seseorang mempunyai atribut biologis yakni penis untuk laki-laki dan vagina untuk perempuan, maka inilah yang menjadi identitas gender dan itulah yang akan menentukan hubungan relasi gender, seperti pembagian, fungsi, peran dan status dalam Sejarah menginformasikan bahwa fungsi status dan peran perempuan dalam masyarakat berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Sebelum Islam lahir pra-Islam peranan perempuan sangat tidak berarti. Mereka menjadikan barang dagangan yang diperjual-belikan dan di pindah-tangankan dari satu orang ke orang lain, perempuan-perempuan dijadikan korban dalam upacara persembahan terhadap dewa, para perempuan berada di bawah kaum laki-laki untuk dijadikan pemuas nafsu biologis. Bahkan dahulu merupakan kebanggaan apabila pria mempunyai banyak istri karena dianggap perkasa dan kaya. Dalam perkawinan pun manakala perempuan sudah bersuamikan, maka perempuan tersebut menjadi milik lelaki dengan konsekuensi di bawah kekuasaan otoriter laki-laki. Mereka . aki-lak. mempunyai hak untuk menceraikan, sementara perempuan tidak diberi hak demikian (Rachman, 2. Padahal menurut Islam dalam lapangan hukum perkawinan membicarakan bahwa perkawinan yang merupakan masalah esensi bagi kehidupan manusia digunakan sebagai saran untuk membentuk keluarga memenuhi kebutuhan seksual mengangkat dan melindungi perempuan dalam bentuk ikatan sah, sehingga dengan perkawinan tersebut diharapkan para perempuan berada pada posisi yang aman dan adil. Dalam Undang-Undang Nomor 1/1974 dijelaskan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagi suami istri dengan tujuan membentuk keluarga . umah tangg. yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi perkawinan merupakan wadah perasaan kasih sayang antara pria dan wanita untuk selama-lamanya dan bahagia lahir batin. Bukan didasari atas kekerasan, juga saling ridla antara keduanya bukan ada unsur paksa. Bisa sebagai sarana pemenuhan kebutuhan biologis diantara keduanya dan perasaan mereka senang serta bahagia selama-lamanya, bukan sesaat. Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dikemukakan bahwa perkawinan adalah perjanjian yang kuat untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Suami istri sebagi subjek perkawinan mempunyai fungsi-fungsi tertentu : suami sebagai kepala keluarga dan istri sebagai ibu rumah tangga. Mereka mempunyai hak dan kedudukan yang seimbang, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Tegak runtuhnya keluarga tergantung dari kedua belah pihak. Apabila salah satu ada yang dirugikan, mereka berhak mengadukannya ke Pengadilan Agama. Terhadap Undang-Undang Nomor I / 1974 dan Kompilasi Hukum Islam menunjukkan bahwa derajat dan martabat perempuan sangat dihargai. Karena Islam datang membawa angin segar berupa penghargaan terhadap nasib perempuan pada masa mendatang. Walaupun demikian apabila peraturan perkawinan tersebut dikaji dan ditelaah lebih lanjut ternyata terdapat permasalahan yang diindikasikan bias gender. Maksudnya, dalam materi hukum perkawinan tersebut terdapat ketentuan-ketentuan yang mengarah kepada diskriminasi hukum pada pihak wanita. Berdasarkan uraian di atas, makalah ini bertujuan untuk menganalisis tentang peran wanita dalam hukum perkawinan di Indonesia ditinjau dari perspektif gender. Mengingat materi hukum perkawinan mencakup banyak persoalan, maka dalam penelitian ini penulis membatasi pada masalah hak dan kewajiban suami isteri. Susilo Surahman. Analisis Peran Wanita dalam Hukum Perkawinan di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Konsep Gender Untuk bisa memahami peran wanita dalam hukum perkawinan di Indonesia dari perspektif gender, perlu dibahas tentang konsep gender terlebih dahulu. Dalam memahami gender, tidak terlepas dari seks dan kodrat. Seks, kodrat dan gender mempunyai kaitan yang sangat erat, namun mempunyai pengertian Kaitannya dengan peranan pria dan wanita di masyarakat, pengertian dari ketiga konsep itu sering disalahartikan. Oleh karena itu untuk menghindarinya perlu mempertajam pemahaman kita tentang konsep gender, hingga pengertian seks dan kodrat perlu dijelaskan terlebih dahulu. Dalam sejarah, konsep gender pertama kali dibedakan oleh sosiolog asal Inggris yaitu Ann Oakley yang membedakan gender dan Perbedaan seks adalah perbedaan yang didasarkan pada ciri-ciri biologi yang menyangkut prokreasi . enstruasi, hamil, melahirkan, dan Sedangkan perbedaan gender adalah didasarkan pada perbedaan simbolis atau sosial yang bersumber pada perbedaan seks meskipun kadang tidak selalu identik. Gender lebih mengarah pada simbol-simbol sosial. Misalnya apabila bayi perempuan baru lahir, diberikan perlengkapan dengan nuansa warna merah jambu sebaliknya apabila bayi laki-laki, diberikan perlengkapan dengan nuansa biru muda. Selain itu, terdapat perbedaan pada pola pengasuhan dan permainan. Terhadap anak perempuan cenderung diberi permainan boneka dan/atau permainan berisiko rendah, laki-laki diberikan permainan mobil-mobilan, tembak-tembakan dengan risiko tinggi. Perlakuan ini terus menerus sampai dewasa. Norma yang diberlakukan sangat tegas, perbedaan peran perempuan dan laki-laki. Perbedaan itu semakin jelas merugikan kaum perempuan meskipun juga merugikan laki-laki meskipun kecil. Ketetapan Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada setiap manusia adalah kodrat yang bersifat bawaan biologis sebagai anugerah. Kodrat ini tidak bisa berubah sepanjang masa yang melekat pada laki-laki dan perempuan. Pada wanita, diberikan peran kodrati yang berbeda dengan pria. Kodratnya wanita adalah menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui dengan air susu ibu dan menopause. Pada pria berperan untuk membuahi sel telur. Dengan demikian, peran kodrati wanita dengan pria sesungguhnya senantiasa berkaitan erat dengan jenis kelamin (Arjani, 2. Pemahaman seks diartikan kelamin secara biologis, yaitu pada alat kelamin pria . dan kelamin wanita . Sejak lahir sampai meninggal dunia, pria akan tetap berjenis kelamin pria dan wanita akan tetap berjenis kelamin wanita . ecuali dioperasi untuk berganti jenis kelami. Jenis kelamin itu tidak dapat ditukarkan antara pria dengan wanita. Gender dalam bahasa Inggris diartikan sebagai jenis kelamin, bukan seks secara biologis, melainkan sosial budaya dan psikologis. Konsep gender terfokus pada perbedaan peranan pria dengan wanita, yang dibentuk masyarakat dengan norma sosial dan nilai sosial budaya masyarakat. Peran gender adalah peran sosial yang tidak ditentukan oleh perbedaan kelamin. Dengan demikian, pembagian peranan pria dengan wanita dapat berbeda tergantung pada lingkungan Peranan gender dapat berubah dari waktu ke waktu, karena dipengaruhi oleh pendidikan, teknologi, ekonomi, dan lain-lain. Hal itu berarti, peran gender dapat ditukarkan antara pria dan wanita (Aryani, 2. Peran gender dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman misalnya pada masa lalu, menyetir mobil dianggap pantas apabila dilakukan oleh laki-laki, namun untuk masa sekarang, wanita menyetir mobil sudah dianggap biasa. Peran gender dapat ditukarkan antara pria dan wanita misalnya : mengasuh anak, mencuci pakaian dan lain-lain. Sebaliknya mencangkul, menyembelih ayam dan lain-lain yang biasa dilakukan oleh pria dapat digantikan wanita. Menurut Bemmelen . , ada beberapa ciri gender yang melekat di masyarakat misalnya : perempuan itu lemah, halus atau lembut, emosional dan lain- lain. Pada pria memiliki ciriciri : kuat, kasar, rasional dan lain-lain. Tetapi pada realitasnya ada wanita kuat, kasar dan rasional, sebaliknya ada pula pria yang lemah, lembut dan emosional. Pada kenyataannya, ada pria yang mengambil pekerjaan urusan rumah tangga, dan ada pula wanita sebagai pencari nafkah utama dalam rumah tangga mereka, sebagai pilot, pencangkul lahan dan lain-lain. Dengan demikian sesungguhnya peran gender itu tidak statis, tetapi dinamis . apat berubah Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. atau diubah, sesuai dengan perkembangan situasi dan kondis. Ada tiga jenis peran gender sebagai berikut: . produktif, peran dilakukan oleh seseorang yang menyangkut pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa, baik untuk dikonsumsi maupun untuk diperdagangkan. reproduktif, peran yang dilaksanakan seseorang untuk kegiatan yang berkaitan pemeliharaan sumber daya manusia dan pekerjaan urusan rumah tangga, misalnya mengasuh anak, memasak, mencuci pakaian dan alat-alat rumah tangga, menyetrika, membersihkan rumah, dan lainlain. sosial, peran yang dilaksanakan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, misalnya gotong-royong menyelesaikan beragam pekerjaan yang menyangkut kepentingan bersama. (Kantor Menteri Negara Peranan Wanita, 1998 dan Tim Pusat Studi Wanita Universitas Udayana, 2. Gender merupakan konsepsi yang mengharapkan kesetaraan status dan peranan antara laki-laki dan Gender menganggap bahwa semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat pria dan wanita, yang dapat berubah dari waktu ke waktu berbeda dari suatu tempat ke tempat lain. Dengan demikian pemahaman tentang lakilaki dan perempuan yang selama ini dianggap kodrat bukan suatu yang harga mati yang harus dipertahankan dalam rangka mendukung sistem patriarkhi yang tidak menyeimbangkan kesetaraan hubungan laki-laki dan perempuan. Hukum Perkawinan Hukum Perkawinan dalam Islam adalah masalah esensi bagi kehidupan manusia karena di samping perkawinan sebagai sarana untuk membentuk keluarga, meneruskan generasi, perkawinan juga merupakan kodrat manusia untuk memenuhi kebutuhan seksualnya, sehingga pergaulan bebas dapat dicegah melalui Perlu ada aturan dan hukum yang mengatur agar perkawinan tidak mengarah pada kecenderungan negatif. Hal ini dimaksudkan agar dengan perkawinan diharapkan mampu membentuk sosial kemasyarakatan yang Pemerintah Indonesia, mengatur perkawinan dengan UU Nomor 1 Tahun 1974. Undang-undang tersebut diumumkan dalam Lembaran Negara Nomor 1/1974 pada tanggal 2 Januari 1974 dan dinyatakan berlaku sejak tanggal 1 Oktober 1975. Hukum Perkawinan di Indonesia merupakan aturan-aturan hukum yang mengatur permasalahan perkawinan dan secara nasioanal dijadikan sebagai rujukan pegangan bagi penduduk Indonesia yang beragam Islam. Peradilan Agama dalam menyelesaikan kasus berlandasakan pada aturan pokok yakni UndangUndang 9/1974, aturan pelaksaannya terdapat di Peraturan Pemerintah Nomor 9/1975 dan Kompilasi Hukum Islam sebagai penyempurna. Dari UU Perkawinan tersebut dapat dijelaskan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga . umah tangg. yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari sini diterangkan bahwa untuk hidup bersama tampa Berdasarkan monogami berlangsung seumur hidup sehingga perceraian harus dihindarkan. Perkawinan memiliki tujuan untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan dalam KHI diterangkan bahwa perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu aqad yang sangat kuat untuk mentaati perintah Allah dan melaksankannya disebut ibadah. Jadi perkawinan merupakan perjanjian sakral dari seorang pria dan wanita kepada Allah untuk hidup bersama. Dalam UU tersebut sebenarnya banyak dikemukakan tentang Bab. Pasal, dan Ayat yang berkaitan dengan perkawinan, misalnya : Aturan pernikahan, syarat dan rukun perkawinan, perceraian hak dan kewajiban suami isteri dan lain-lain, yang secara umum dapat dijelaskan bahwa: . poligami adalah seorang suami yang memiliki isteri lebih dari seorang. hak dan kewajiban suami isteri adalah suatu tuntutan dari suami isteri yang berakibat timbulnya kewajiban pada diri suami isteri tersebut. perceraian adalah putusnya ikatan perkawinan yang datang dari pihak suami. PEMBAHASAN Berbagai uraian tentang wanita atau perempuan senantiasa mampu menjadi wacana yang menarik. Frekuensi pembahasan tentang wanita ini semakin meningkat. Di Indonesia setiap tanggal 21 April senantiasa diperingati Hari Kartini. Bagi Indonesia, kartini dianggap sebagai simbol pergerakan perjuangan emansipasi. Susilo Surahman. Analisis Peran Wanita dalam Hukum Perkawinan di Indonesia. Ketika dahulu. Kartini dihimpit persoalan dalam memperjuangkan haknya, maka AuKartiniKartiniAy masa kini pun masih terjerat dengan kondisi yang sama, dan boleh jadi perjuangan ini masih akan dilanjutkan oleh AuKartini-KartiniAy di masa yang akan datang. Membahas Kartini masa kini berarti berusaha untuk menjawab apa sebenarnya persoalan perempuan Indonesia saat ini dan mengapa perempuan masih menjadi objek yang termarginalkan. Ada berbagai alasan yang dapat disampaikan untuk menjawab pertanyaan di atas misalnya, adanya sebagian orang yang beranggapan bahwa ketidaksejajaran pria dan wanita adalah merupakan persoalan perempuan di Indonesia. Pada saat ini, perempuan Indonesia mencari cara untuk dapat keluar dari bayangbayang superioritas laki-laki. Selain itu, ada kalangan yang menilai bahwa persoalan perempuan Indonesia saat ini adalah semakin banyaknya perempuan yang menyalahi kodratnya menempatkan diri sejajar dengan laki-laki, merambah sektor publik, dan menolak anggapan bahwa tempat mereka yang benar adalah sektor Bagi perempuan, bekerja di dalam rumah kadang tidak memberikan penghargaan secara Namun sebagai ibu, peran wanita adalah suatu nilai yang sakral yang penuh dengan pengabdian. Sehingga istilah peran rangkap tiga yaitu peran produktif yaitu bekerja, peran reproduktif yaitu menyiapkan segala keperluan keluarga, serta peran kemasyarakatan merupakan peranan yang harus dijalankan Dengan demikian apabila ketiga peran tersebut dipahami, maka akan sulit bagi seorang perempuan memperoleh waktu yang cukup untuk dirinya sendiri. Seolah pengabdian adalah kunci hidup yang harus dilalui tanpa melihat mereka juga mempunyai hak-hak untuk menjadi diri sendiri. Perempuan yang bisa menikmati hak-hak manusiawi dan pribadinya, tidak berarti dia hanya berorientasi pada perjuangan feminisme barat yang menuntut para perempuan mengedepankan pribadi. Namun harus disadari bahwa sebagai orang yang hidup di budaya ketimuran, kita bisa meyakini nilai-nilai Kita harus mampu memberikan penghargaan sosial masyarakat terutama lakilaki dalam menghargai pekerjaan domestik sebagai sesuatu yang memiliki nilai yang sama rumitnya dengan sektor publik. Penghargaan tersebut akan berkorelasi pada hubungan yang berkeadilan gender, karena adanya kondisi samasama saling membutuhkan. Dalam keseharian sering kita jumpai adanya kondisi kekerasan yang terjadi didalam rumah tangga (KDRT). KDRT ini mempunyai efek yang langsung berupa penganiayaanpenganiayaan fisik, maupun kekerasan psikologis. Menurut Rifka Annisa Women Crisis Centre Yogyakarta didapatkan data bahwa tingkat kekerasan terhadap perempuan Indonesia sangat Dari penduduk yang berjumlah 217 juta, 11, 4% diantaranya perempuan atau sekitar 24 juta perempuan terutama di pedesaan, pernah mengalami tindakan kekerasan. Sesungguhnya KDRT ini bukan hanya isu bagi perempuan Karena perempuan perkotaan yang berpendidikan dan memiliki pekerjaanpun juga mengalami hal yang sama. Isu KDRT yang selama ini menjadi wilayah yang sangat pribadi sudah mulai terkuak, hingga pendirian crisis centre untuk permasalahan kekerasan turut membuktikan bahwa kekerasan itu ada dan harus ditangani untuk penyelesaian. Nilai-nilai yang selama ini dianut oleh sebagian orang, bahwa sebagai perempuan harus pasrah tidak bisa terus dipertahankan, apalagi bertahan pada pendapat bahwa disiksa itu wajar, disiksa sudah menjadi nasib, pantas disiksa karena tidak bisa memenuhi kesenangan suami. Kondisi seperti inilah yang meyebabkan sulit sekali mendeteksi KDRT. Apabila kita berpikir pada keadilan manusia atau keadilan gender, maka kita tidak bisa semena-mena melakukan kekerasan terhadap Sudah menjadi kewajaran bahwa hubungan dalam keluarga kadang diwarnai ketidakcocokan, tetapi bila terjadi, tidaklah lantas diselesaikan dengan ukuran gender lakilaki kemudian diselesaikan dengan nilai-nilai maskulin dengan pemukulan fisik. Jangan sampai KDRT ini tetap menjadi rahasia di dalam rumah karena perempuan takut bahwa itu masalah domestik, sangat pribadi. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, apabila ditelusuri lebih jauh, maka persoalan yang mendera perempuan Indonesia saat ini setidaknya terdapat dalam dua lingkup yaitu sektor domestik dan sektor publik. Dalam lingkup domestik, perempuan Indonesia menghadapi domestic violence . ekerasan dalam rumah tangg. seperti perlakuan semena-mena suami atas isteri, tindakan biadab majikan Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. pada pembantu perempuan, perkosan atau perampasan terhadap hak reproduksi perempuan . ak untuk tidak hamil, tidak ingin melakukan hubungan seksua. sampai ketidaksamaan dalam mendapatkan pendidikan. Selain itu dalam sektor publik, perempuan menghadapi tiga fakta yaitu ketertinggalan, diskriminasi, dan pelecehan. Berdasarkan realitas tersebut, maka para aktivis perempuan di Indonesia, lalu mengajak kaum perempuan untuk memiliki kemandirian ekonomi, dengan bekerja memasuki sektor publik. Perempuan yang hanya berkutat pada sektor domestik dalam perspektif ini dianggap sudah bukan masanya lagi. Persoalannya, meskipun ketika perempuan memasuki sektor publik mereka menjumpai kenyataan bahwa mereka tertinggal baik tingkat pendidikan ataupun Pada zaman sekarang ini, peran wanita dalam Hukum Perkawinan di Indonesia harus diredefenisi sehingga dapat lebih berperan dan eksistensinya diakui oleh masyarakat. Peran wanita di sektor domestik, mestinya tidak hanya berkutat di rumah tangga, namun perlu diperluas bagi masyarakat dilingkungan sekitarnya. Apabila perempuan memutuskan untuk bekerja di sektor publik, mereka dituntut harus mampu memahami bahwa pekerjaannya membutuhkan profesionalisme dan dedikasi yang tinggi. Ada beberapa hal yang menjadi isu utama dalam gerakan feminisme di Indonesia adalah : Pertama, pembakuan peran gender. Peran ini berkaitan dengan sifat maskulinitas-feminimitas yang melekat pada pria wanita yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Secara historis, perbedaan dan pembakuan peran gender tersebut terjadi melalui proses yang sangat panjang. Perbedaan itu dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksikan secara sosial, kultural melalui ajaran agama . ahkan oleh negar. Dengan demikian, konsep ini telah menjadi sebuah stereotype yang sangat mempengaruhi seorang dalam bersikap serta bertingkah laku dalam lingkungannya. Perbedaan gender telah melahirkan perbedaan peran sosial oleh masyarakat, sehingga tidak ada kesempatan bagi perempuan atau laki-laki untuk berganti Dalam tradisi Jawa, pembakuan peran ini diungkapkan dalam banyak pepatah misalnya, perempuan adalah konco wingking dari lakilaki yang menjadi suaminya. Ia adalah teman hidup yang perannya selalu dibelakang. Disini kita melihat bahwa dalam tradisi masyarakat sudah ada pembatasan peran bagi perempuan. Perempuan dibatasi oleh dinding tebal rumah, dan lebih khusus lagi dapur. Kedua, penandaan atau stereotype terhadap perempuan, yang merupakan bentuk penindasan ideologi dan kultural, yakni pemberian label yang memojokkan kaum perempuan sehingga berakibat kepada posisi dan kondisi kaum perempuan. Misalnya stereotype kaum perempuan sebagai Auibu rumah tanggaAy sangat merugikan mereka. Akibatnya jika mereka hendak aktif dalam kegiatan yang dianggapnya sebagai bidang kegiatan laki-laki, maka akan dianggap bertentangan dengan kodrat Sementara stereotype laki-laki adalah sebagai Aupencari nafkahAy mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh kaum perempuan dianggap sebagai Ausambilan atau tambahanAy dan cenderung tidak dihitung, tidak dianggap, atau tidak dihargai. Ketiga, beban kerja yang berlebihan, yang lebih berat memungkinkan tidak terselesaikannya salah satu dari beberapa pekerjaan, terutama pekerjaan rumah tangga, yang dianggap merupakan tugas pokok Selain beban kerja yang berat, jam kerja perempuan lebih banyak dari laki-laki sebab pekerjaan rumah tangga tidak memiliki jadwal yang jelas, kapan pun bisa dimulai, tetapi tidak setiap saat dapat diakhiri. Keempat, kekerasan terhadap perempuan. Perbedaan gender sebenarnya tidak perlu dipersoalkan, sepanjang tidak menimbulkan ketidakadilan. Kenyataannya, perbedaan tersebut telah mengakibatkan laki-laki dan perempuan tidak diposisikan setara dalam masyarakat. Kita terlanjur percaya bahwa laki-laki berkuasa terhadap perempuan. Implikasinya, jika isteri melakukan kesalahan--dalam perspektif suami-seolah-olah menjadi kewajiban suami untuk segera mengingatkannya. Maka seakan menjadi sebuah kewajaran di dalam masyarakat terjadinya kasus isteri yang ditempeleng, ditampar, atau ditendang oleh suaminya dan hal ini dianggap oleh laki-laki dibenarkan oleh agama. Disamping kekerasan fisik, terkadang suami mengeluarkan kata-kata kotor untuk mengumpat isterinya. Secara fisik, isteri memang tidak terluka, namun perasaannya sebagai manusia tercampakkan. Selingkuh juga bagian dari tindak kekerasan dan hal ini tidak hanya dilakukan oleh suami yang isterinya tidak bekerja tetapi juga dilakukan bagi Susilo Surahman. Analisis Peran Wanita dalam Hukum Perkawinan di Indonesia. yang bekerja. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa kekerasan dapat terjadi di mana. Tindak kekerasan yang paling sering terjadi adalah pemerkosaan. Kelima, marital rape. Perkawinan seringkali dianggap sebagai institusi yang memberikan legitimasi formal kekuasaan laki-laki terhadap perempuan, jiwa maupun Karena sifatnya otonom, laki-laki berhak melakukan apa yang dikehendakinya dengan sedikit sekali campur tangan pihak luar. Maka kekerasan dalam rumah tangga atau seringkali disebut dengan domestic violence dan lebih spesifik lagi wife abuse tetap menjadi rahasia empat dinding rumah tanpa dapat tersentuh kekuasaan hukum manapun. Perilaku kekerasan adalah perbuatan yang terjadi dalam hubungan antar manusia, yang dirasa oleh satu pihak sebagai satu situasi yang membebani, membuat berat, tidak menyenangkan, tidak bebas. Situasi yang disebabkan oleh tindak kekerasan ini membuat pihak lain sakit baik secara fisik maupun psikis serta rohani. Kekerasan merupakan tindakan yang terjadi dalam hubungan Fiorenza menciptakan istilah kyriarkhi yang berarti situasi dalam masyarakat terstruktur hubungan atas bawah. Kasus kekerasan dalam rumah tangga dianggap lebih rumit dibanding kekerasan sektor publik. Pengertian marital rape adalah perkosaan yang terjadi antara pasangan suami isteri yang terikat perkawinan. Menurut Ruhaini sangat tergantung bagaimana seksualitas diletakkan dalam perkawinan dan rumah tangga. Pemahaman keagamaan juga mempengaruhi pandangan terhadap istilah marital rape. Ketika UU Perkawinan disahkan, telah banyak kalangan feminis yang menilai bahwa UU tersebut belum akomodatif terhadap tuntutan mereka untuk mengangkat harkat dan martabat wanita. Peran wanita dalam Hukum Perkawinan di Indonesia mencoba memotret bagaimana kedudukan mereka dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari jika dilihat dari aspek hukum Dalam konteks ini, kami membatasi pada UU No 1 tahun 1974 pasal 31 ayat 3 dan pasal 34 ayat 1, 2, dan 3 yang membicarakan tentang kedudukan suami sebagai pemimpin dan isteri sebagai ibu rumah tangga dalam keluarga. Pasal 31 ayat 3 disebutkan bahwa Ausuami adalah kepala keluarga dan isteri adalah ibu rumah tanggaAy. Pada pasal 34 ayat 1 disebutkan Ausuami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannyaAy. Pada ayat 2 disebutkan Auisteri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknyaAy. Pada pasal 3 Aujika suami atau isteri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada pengadilanAy. Pasal-pasal tersebut di atas dengan jelas mengukuhkan peranan berdasarkan jenis kelamin bukan berdasarkan potensi dan kemampuan yang lebih jauh berarti mematikan peran sosial wanita. Perempuan dibakukan perannya pada sektor domestik bukan pada sektor publik. Wilayah publik yang ekonomis yang dikuasakan kepada laki-laki membuat kendali ekonomi berada ditangan mereka. Para suami dianggap sebagai pemegang modal sehingga berhak memutuskan setiap urusan apapun dalam rumah tangga. Hal ini sah-sah saja selama tidak merugikan pihak Namun kenyataannya, ketergantungan isteri secara ekonomi pada suami seringkali menimbulkan anggapan bahwa suami adalah AurajaAy di rumah. Dia berhak melakukan apapun. Jika kemudian isterinya ingin keluar pada wilayah publik seringkali dibenturkan dengan tugasnya sebagai, tukang masak, mencuci, membersihkan rumah, yang dianggap sebagai wilayah kodrati dan tidak mungkin untuk dirubah. Manakala seorang isteri diperbolehkan terjun ke dunia publik, seringkali itu terjadi pada keluarga yang tingkat ekonominya menengah ke bawah, sehingga mereka tidak mampu meninggalkan peran domestiknya meskipun telah bekerja di sektor publik. Perempuan tidak dapat memilih untuk tidak bersedia bekerja dalam bentuk apapun, betapapun buruknya imbalan yang diterima dan beratnya kondisi pekerjaan karena mereka tidak punya kekuatan tawar menawar yang kuat. Mereka tetap melaksanakan peran tradisionalnya seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, mengasuh anak sekalipun mereka juga harus ikut mencari nafkah. Akibatnya perempuan memikul beban ganda. Ketimpangan tersebut di atas juga semakin bertambah ketika argumentasi agama ikut dijadikan legitimasi Seringkali tindakan isteri yang mempertanyakan kenapa dia harus memikul beban ganda dianggap sebagai sebuah tindakan nusyuz . embangkangan, durhak. sehingga terkadang isteri harus mendapat perlakuan kasar karena suami menganggap bahwa tindakannya memiliki dasar argumentasi yang sah dan hal Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. tersebut dibenarkan oleh ulama. Uraian tersebut di atas, setidaknya dapat dikatakan bahwa posisi perempuan dalam Hukum Perkawinan di Indonesia masih sangat lemah. Argumentasi hukum maupun agama seringkali digunakan sebagai justifikasi bagi pembakuan ketidakadilan terhadap perempuan baik di sektor publik ataupun domestik. kehidupan berumah tangga. Oleh sebab itu peran wanita di sektor domestik harus diredefenisi sehingga bisa lebih berperan dan eksistensinya lebih diakui oleh masyarakat. Peran wanita di sektor domestik tidak hanya dipahami dan berkutat di rumah tangga, namun perlu diperluas bagi masyarakat di lingkungan sekitarnya. Saran KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa UU Perkawinan di Indonesia belum akomodatif dalam mengangkat harkat dan martabat wanita. Posisi wanita dianggap masih sangat lemah. Argumen hukum maupun agama seringkali digunakan sebagai justifikasi bagi pembakuan ketidakadilan terhadap wanita dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan perlu segera direvisi mengingat undang-undang ini merupakan produk Orde Baru dan sudah berumur 37 tahun serta belum pernah dilakukan peninjauan ulang sehingga sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini. Diperlukan adanya jaminan kepastian hukum terhadap peran suami isteri dalam kehidupan berumah tangga di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Agung. I Gusti Ayu. Mengenal Konsep Gender (Permasalahan dan Implementasinya dalam Pendidika. Indraswari. AuDikotomi Gender: Sebuah Tinjauan SosiologisAy, dalam Burhanuddin . Mencari Akar Kultural Civil Society di Indonesia. Jakarta: INCIS. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Gender dan Permasalahannya. Modul Pelatihan Analisis Gender. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Jakarta. Natangsa Surbakti, 2006. AuImplementasi Kebijakan Berwawasan Gender dalam Penanggulangan KejahatanAy. Jurnal Ilmu Hukum. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Vol. No. 2, hlm. Luh Arjani, 2002. Gender dan Permasalahannya. Pusat Studi Wanita Universitas Udayana. Denpasar. Sita Van Bammelan. Isu Gender di Bidang Pendidikan. Semiloka Pengarusutamaan Gender Bagi Para Perencana di Lingkungan Pendidikan Nasional Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Syahbana. AuWanita Indonesia dalam Keluarga: Pespektif Islam (Studi Isu Gender dalam UU No. 1 tahun 1974 tentang keluarg. Ay. Jurnal Asy-SyirAoah. Vol. No. II. PENGARUH KECEMASAN DAN KEPERCAYAAN DIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA STKIP PGRI PACITAN Urip Tisngati dan Nely Indra Meifiani Dosen Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacitan e-mail: ifedeoer@gmail. Abstract: This was a quantitative study which was ex post facto in nature. The data collecting instruments consisted of a questionnaire and a mathematics learning achievement test. The results of the study show that: . there are not effects together of self confidence and studentsAo anxiety towards Mathematics as an aggregate on Mathematics learning . there are relationship between self confidence and students Mathematics learning achievements. Key words self confidence, studentsAo anxiety. Mathematics learning achievements Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi perkembangan dan kualitas diri individu, terutama dalam menentukan kemajuan pembangunan suatu bangsa dan negara. Tingkat kemajuan suatu bangsa tergantung kepada cara bangsa tersebut mengenali, menghargai dan memanfaatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada calon penerus dan pelaksana Tanpa adanya pendidikan akan sulit untuk menciptakan kualitas SDM yang baik yang dapat menentukan masa depan. SDM yang berkualitas akan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki untuk kemajuan bangsa dan negara. Salah satu upaya membina dan membangun SDM yang tangguh dan dapat diandalkan di antaranya adalah melalui pendidikan, baik yang diberikan melalui pendidikan formal di sekolah, maupun pendidikan di lingkungan masyarakat. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan formal mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Pada kenyataannya menunjukkan bahwa kegiatan belajar matematika yang dilakukan oleh peserta didik tidak selalu berjalan sukses dan lancar karena dipengaruhi oleh berbagai faktor. Yaitu faktor dari dalam individu dan faktor dari luar Faktor yang mempengaruhi belajar yang berasal dari dalam diri individu antara lain adalah kesehatan, intelegensi, minat, kecemasan, motivasi, dan kepercayaan diri. Sedangkan faktor yang mempengaruhi belajar yang berasal dari luar diri individu adalah keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan sekitar. Salah satu kelemahan individu, yaitu kurangnya rasa kepercayaan diri. Penyebab remaja kurang percaya diri antara lain menganggap dirinya mempunyai banyak kekurangan daripada orang lain, merasa kurang memahami sesuatu daripada orang lain, dan menunggu orang lain melakukan sesuatu kepada dirinya. Ciri-ciri remaja yang mempunyai kepercayaan diri, yaitu memiliki suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan diri sendiri sehingga individu yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam setiap Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. tindakan, dapat bebas melakukan hal yang disukai dengan batas yang wajar, mampu berinteraksi dengan orang lain, mampu mempunyai dorongan berprestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Kepercayaan diri merupakan salah satu faktor berprestasi dalam belajar terutama Matematika, baik di sekolah maupun di luar Dengan percaya diri, generasi muda tidak takut mengungkapkan pendapatnya serta tidak ragu dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Semakin tinggi rasa percaya diri semakin tinggi pula prestasi generasi Hal tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Hannula. Maijala, dan Pehkonen pada tahun 2001tentang Development of Understanding and Selfconfidence in Mathematics. Grades 5-8serta Gough dalam Apollo tahun 2005 yang berjudul hubungan antara kepercayaan diri dengan prestasi belajar siswa (Hamdan, 2009: . Generasi muda yang mempunyai kepercayaan diri akan bermanfaat dalam setiap keadaan dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Salah satu percaya diri yang dimiliki generasi muda bemanfaat dalam bertanggung jawab pekerjaan, yaitu untuk memutuskan yang terbaik dilakukan untuk dirinya. Percaya diri dapat ditumbuhkan dengan belajar, tidak takut salah dalam melakukan sesuatu serta dapat menerapkan ilmu pengetahuan, salah satunya Matematika yang telah dipelajari. Selain kepercayaan diri yang turut mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan prestasi belajar, tingkat kecemasan juga berpengaruh terhadap kegiatan belajar seseorang. Ketika kecemasan meningkat pada diri siswa maka siswa tersebut akan berusaha lebih keras, tetapi pemahaman mereka justru semakin memburuk yang berakibat kecemasan mereka justru semakin meningkat. Hal tersebut dapat terjadi dalam jangka pendek dan juga jangka Pengalaman tersebut dalam pelajaran matematika akan menjadi stimulus terhadap Kecemasan matematika banyak terjadi di kalangan siswa dan bahkan menjadi penentu bagi pandangan mereka terhadap matematika ke depannya. Menurut Rathus . alam Nawangsari, 2. kecemasan adalah suatu kondisi yang tidak menyenangkan meliputi rasa takut, rasa tegang, khawatir, bingung, tidak suka yang sifatnya subjektif dan timbul karena adanya perasaan tidak aman terhadap bahaya yang diduga akan terjadi. Dari definisi tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa kecemasan matematika merupakan bentuk perasaan seseorang baik berupa perasaan takut, tegang ataupun cemas dalam menghadapi persoalan matematika atau dalam melaksanakan pembelajaran matematika dengan berbagai bentuk gejala yang ditimbulkan. Orang yang memiliki kecemasan matematika cenderung menganggap matematika sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Perasaan tersebut muncul karena beberapa faktor baik itu berasal dari pengalaman pribadi terkait dengan guru atau ejekan teman karena tidak bisa menyelesaikan permasalahan matematika. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian ex-post facto, karena meneliti hubungan yang saling mempengaruhi serta tidak dimanipulasi atau diberi perlakuan terhadap variabel dan data yang diambil pada penelitian ini setelah atau saat kejadian berlangsung. Sesuai dengan tujuan penelitian di atas maka desain penelitian adalah : x1: Kecemasan X2: Kepercayaan Diri Y : Prestasi belajar Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacitan. Sedangkan sampelnya adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika Semester II angkatan 2012/2013. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara memberikan angket atau Sedangkan untuk mengukur prestasi belajar matematika, peneliti menggunakan nilai tes prestasi belajar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket kecemasan, angket kepercayaan diri dan tes prestasi belajar Pengujian hipotesis menggunakan tehnik analisis regresi linier berganda dengan 2 variabel bebas, dengan Urip Tisngati & Nely Indra Meifiani. Pengaruh Kecemasan dan Kepercayaan Diri. Tabel 3 Uji anava dalam penelitian ini menggunakan bantuan SPSS 16. Pengujian prasyarat analisis berupa uji multikolinieritas, uji heterokedastisitas, uji normalitas, dan uji HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Deskripsi variabel responden meliputi skor minimal, skor maksimal, rerata, simpangan baku, dan median. Berikut disajikan rangkuman hasil deskripsi variabel responden pada Tabel 1. Tabel 1 Rangkuman Hasil Deskripsi Variabel Responden Variabel Prestasi Kecemasan Kepercayaan Diri Perhitungan Skor Rata-rata Simpangan baku Skor maksimal Skor minimal Median Pada penelitian ini hanya variabel X2 . epercayaan dir. yang berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika siswa, sedangkan variabel X1 . tidak berpengaruh. Untuk melihat apakah ada hubungan yang linier antara variabel X2 . epercayaan dir. terhadap variabel Y digunakan uji anava. Hasil uji anava disajikan pada tabel berikut. Tabel 2 Hasil tabel 2 di atas diperoleh nilai signifikansi 0,000 < 0,05 dan berdasarkan kriteria keputusan Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan ada hubungan linier antara variabel X2 . epercayaan dir. dengan variabel Y. Untuk melihat pengaruh variabel X2 . epercayaan dir. terhadap variabel Y digunakan uji t. Hasil uji t diperlihatkan seperti pada tabel 3 berikut. Berdasarkan tabel 3 di atas nilai sig 0,000<0,05 maka dapat disimpulkan ada pengaruh antara variabel X2 . epercayaan dir. dan variabel Y (Prestasi belajar matematik. Dari tabel di atas juga menggambarkan persamaan regresi, sehingga dapat dilihat bahwa persamaan regresinya adalah: Y = 32,605 0,516 X2 Di mana X2 = kepercayaan diri Y = prestasi belajar Persamaan di atas menunjukkan bahwa untuk koefisien regresi X 2 sebesar 0,516 mempunyai arti bahwa setiap penambahan 1 poin kepercayaan diri maka prestasi belajar mahasiswa STKIP PGRI Pacitan akan bertambah sebesar 0,516. Dengan anggapan bahwa variabel kecemasan tetap. Tabel selanjutnya akan disajikan nilai koefisien determinasi yang merupakan besarnya sumbangan variabel X 2 . otivasi belaja. terhadap Y. Tabel 4 Pada Tabel 4 menunjukkan nilai R Square 0,166, hal ini berarti bahwa sebesar 16,6% prestasi belajar mahasiswa STKIP PGRI Pacitan dapat dijelaskan dengan menggunakan variabel kepercayaan diri. Sisa dari R Square, yaitu 83,4% . %-16,6%) prestasi belajar mahasiswa STKIP PGRI Pacitan dipengaruhi oleh faktor lain. Pengujian asumsi Sebelum mendapatkan persamaan regresi ganda, ada empat uji asumsi dasar yang harus dipenuhi, yaitu: Uji multikolinieritas Tabel 5 Variabel Toleransi VIF Kepercayaan_diri Berdasarkan tabel 5 ternyata variabel kepercayaan diri mempunyai nilai VIF < 10. Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat multilinearitas. Uji autokorelasi Table 7 Uji heteroskedastisitas Gambar 1 Gambar 1 tersebut di atas, terlihat bahwa titik-titik menyebar dan tidak berbentuk pola Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada gejala heteroskedastisitas. Uji normalitas residual Tabel 6 Berdasarkan Tabel 7 nilai DW sebesar 1,361. Sedangkan pada tabel Durbin Watson dengan variabel bebas . = 3 dan n = 93 nilai dL = 1,5966 dan dU = 1,72955. Oleh karena nilai DW hitung kurang dari nilai dL, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi linier ganda terdapat masalah autokorelasi. Adanya masalah autokorelasi dimungkinkan model regresi ganda linier belum baik serta ditinjau dari nilai koefisien determinasi masih kecil, yaitu sebesar 0,166 atau dapat dikatakan masih banyak variabel-variabel lain yang tidak disertakan dalam penelitian ini. PEMBAHASAN Gambar 2 Berdasarkan tabel 6 terlihat bahwa besar nilai Kolmogorov-Smirnov adalah 0,644 dan nilai asympt. -taile. adalah 0,800 > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data residual berdistribusi normal. Begitu pula berdasarkan gambar 2 di atas, terlihat bahwa titik-titik menyebar disekitar garis diagonal serta penyebarannya tidak jauh dari garis diagonal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data residual berdistribusi normal. Pengaruh Kecemasan dan Kepercayaan Diri terhadap Prestasi Belajar Matematika mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacitan Hipotesis berbunyi ada pengaruh kecemasan dan kepercayaan diri terhadap prestasi belajar mata kuliah Teori Bilangan mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacitan. Hipotesis yang diuji sebenarnya adalah hipotesis nihil (H. yang berbunyi tidak terdapat pengaruh kecemasan dan kepercayaan diri terhadap prestasi belajar mata kuliah Teori Bilangan mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacitan. Kriteria yang diuji jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak. Pada Tabel 2 terlihat bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 maka tidak semua variabel berpengaruh secara bersama terhadap variable terikat yaitu prestasi belajar mata kuliah Teori Bilangan mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacitan. Yang hanya berpengaruh adalah variabel kepercayaan diri. Sedangkan kecemasan tidak berpengaruh. Kuatnya pengaruh variabel kepercayaan diri (X. terhadap prestasi belajar Y teramati pada Urip Tisngati & Nely Indra Meifiani. Pengaruh Kecemasan dan Kepercayaan Diri. Tabel 4 dari besarnya koefisien determinasi (R. = 0,166 dan pada Tabel 2 nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 atau memberikan sumbangan 16,6 % (R. terhadap prestasi belajar mata kuliah Teori Bilangan mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacitan. Dengan kata lain, ternyata masih banyak variabel lain sebesar 83,4% . % - 16,6%) yang dapat mempengaruhi prestasi belajar Matematika siswa SMP, seperti motivasi, kecerdasan, minat, dan lingkungan sosial. Sumbangan kepercayaan diri belajar terhadap prestasi belajar Matematika ditunjukkan oleh koefisien yaitu sebesar 0,516. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jika seseorang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, maka variabel tersebut menyumbangkan sebesar 51,6% prestasi belajar Matematika siswa yang baik pula. Pengaruh Kepercayaan Diri terhadap Prestasi Belajar Matematika mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacitan Berdasarkan data penelitian, mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacitan yang menjadi sampel penelitian sebagian besar siswa perempuan. Kemampuan perempuan berbeda dengan kemampuan laki-laki, misalnya dalam mengikuti mata pelajaran Matematika. Siswa laki-laki lebih cepat memahami materi yang diajarkan daripada siswa perempuan. Siswa laki-laki lebih percaya pada kemampuan diri sendiri dalam menyelesaikan soal-soal yang sulit dalam Matematika daripada siswa perempuan. Hal tersebut menandakan bahwa siswa perempuan mempunyai kepercayaan diri lebih rendah daripada laki-laki, hal ini sesuai dengan pendapat Hanson. Stumpf, dan Stanley (Steinbreg, 2002: . bahwa kemampuan perempuan lebih rendah daripada laki-laki dalam mengikuti mata pelajaran Matematika. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri, antara lain pengalaman dan tingkat pendidikan. Pengalaman masingmasing siswa berbeda-beda, hal tersebut dapat meningkatkan maupun dapat menurunkan rasa percaya diri. Siswa dapat mengaplikasikan salah satu materi Matematika yang telah dipelajari ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa lebih memahami materi tersebut. Jika, siswa memahami suatu materi, maka dapat meningkatkan rasa percaya diri. Begitu juga dengan tingkat pendidikan, yang dimaksud di sini yaitu asal sekolah menengah atas masingmasing siswa. Jika siswa berasal dari sekolah yang mempunyai prestasi belajar yang tinggi, maka tingkat kepercayaan diri siswa tersebut lebih tinggi daripada siswa yang berasal dari sekolah yang mempunyai prestasi belajar lebih Kepercayaan diri siswa yang tinggal di daerah perkotaan lebih tinggi daripada siswa yang tinggal di daerah pedesaan atau pegunungan. Kepercayaan diri siswa sebaiknya ditanamkan sejak kecil, baik oleh orang tua maupun orang-orang terdekat. Sehingga, saat sekolah maupun hidup di masyarakat luas, siswa sudah mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan diharapkan dapat mengatasi suatu masalah serta dapat memberikan sesuatu yang menyenangkan bagi orang lain, seperti prestasi yang baik di Pengaruh Kecemasan terhadap Prestasi Belajar Matematika mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacitan Sebagian siswa masih merasa bahwa mata kuliah teori bilangan adalah mata kuliah yang sulit dan membosankan. Ada juga yang merasa kurang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses pembelajaran, ada siswa yang santai saja apabila mengikuti pembelajaran di kelas, merasa acuh tak acuh misalkan tidak bisa. Ada juga yang diam saja dan tidak bertanya bila belum mengerti penjelasan dosen. Ada juga yang bila diberi pekerjaan rumah lebih memilih untuk melihat pekerjaan rumah teman mereka dibandingkan berusaha mengerjakan sendiri. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap siswa pada pelajaran matematika belum menunjukkan sikap yang positif sehingga tidak mempengaruhi kecemasan siswa pada pelajaran matematika terhadap prestasi belajar Matematika Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: Tidak terdapat pengaruh bersama-sama antara variabel kecemasan dan kepercayaan diri terhadap prestasi Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan. Secara parsial hanya ada pengaruh kepercayaan diri Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. Nomor 1. Juni 2014, hlm. terhadap prestasi belajar Matematika Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan, sedangkan untuk pola kecemasan tidak berpengaruh terhadap prestasi Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan. Saran Para mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri karena kepercayaan diri salah satu faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan terutama mata kuliah teori bilangan. Dosen diharapkan dapat membantu siswa tidak hanya dalam belajar akan tetapi dalam peningkatan kepercayaan diri siswa serta melakukan pendekatan terhadap mahasiswa dan orang tua agar dapat meningkatkan prestasi belajar anak Begitu juga pemanfaatan fasilitasfasilitas yang ada di kampus dapat dilakukan seoptimal mungkin agar prestasi belajar siswa dapat meningkat. Kepada peneliti selanjutnya, diharapkan menyertakan variabel lain yang memungkinkan dapat mempengaruhi prestasi belajar Matematika Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan. DAFTAR PUSTAKA Agus Widarjono. Analisis statistika multivariate terapan. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN. Berns. Child, family, school, community socialization and support . rd London. UK: Thomson Learning. Gazzaniga. & Heatherton. Psychological science: mind, brain, and New York: W. Norton & Company. Inc. Geary. , & Flin. Evolution of human parental behavior and the human Parenting: Science and Practice, 1, 5-61. Grant. , & Ray. Home, school, and community collaboration. California: Sage. Grassi. Gender-based achievement, self-confidence and enrollment gaps: Mathematics at trinity college. Diakses dari http://w. edu/depts/educ/ Recearch/Grassi. Hannula. Maijala. , & Pehkonen. Development of understanding and self confidence in Mathematics. grades 5-8. Journal of Mathematics education, 3, 17-24. Diambil pada tanggal 23 Januari 2011 dari http://w. de/proceedings/PME28/RR/RR162_ Hannula. Imam Ghozali. Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: Universitas Diponegoro. Nawangsari. Pengaruh SelfEfficacy dan Expectancy-Value terhadap Kecemasan Menghadapi Pelajaran Matematika. Jurnal Psikologi Pendidikan: Insan Media Psikologi, 3,2, 2001, 75-88. Program Pascasarjana UNY. Statistika. Yogyakarta: Program Pascasarjana UNY. Santrock. A topical approach to lifespan development. New York: McGrawHill. Perkembangan anak (Terjemahan Mila Rahmawati dan Anna Kuswant. Texas: The University of Texas at Dallas. Yoder. & Proctor. The self-confident New York: Fact on File Publications. Zakaria. Effandi and Norazah Mohd Nordin. The Effects of Mathematics Anxiety on Matriculation Students as Related to Motivation and Achievement. Eurasia Journal of Mathematics. Science & Technology Education, 2008, 4. , 27-30 Diunduh tanggal 11 Desember 2013 dari http://w. FORMULIR BERLANGGANAN Mohon dicatat sebagai pelanggan JPP Nama : . Alamat : . , . ( . Harga untuk satu tahun ditambah ongkos kirim: A Rp100. 000,00 untuk wilayah Jawa A Rp150. 000,00 untuk wilayah Luar Jawa Formulir ini boleh di fotokopi ------------------ Gunting dan kirimkan ke alamat tata usaha atau fax. 884742 ------------------ BERITA PENGIRIMAN UANG LANGGANAN Dengan ini saya kirimkan uang sebesar: Rp100. 000,- untuk langganan 1 tahun . , mulai Nomor . Rp150. 000,- untuk langganan 1 tahun . , mulai Nomor . uang tersebut telah saya kirim melalui: Bank BRI rekening nomor 0067-01-003399-53-1 a. Edi Irawan PETUNJUK BAGI (CALON) PENULIS JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN (JPP) Artikel yang ditulis untuk JPP meliputi hasil telaah . anya atas undanga. dan hasil penelitian dan pengembangan di bidang ilmu-ilmu pendidikan dan kependidikan. Naskah diketik dengan huruf Times New Roman, ukuran 12 pts, dengan spasi At least 12 pts, dicetak pada kertas A4 sepanjang maksimum 20 halaman, dan diserahkan dalam bentuk print-out sebanyak 3 eksemplar beserta disketnya. Berkas . dibuat dengan Microsoft Word. Pengiriman file juga dapat dilakukan sebagai attachment e-mail ke alamat: jpp_kp@yahoo. Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik dan ditempatkan di bawah judul artikel. Jika penulis terdiri dari 4 orang atau lebih, yang dicantumkan di bawah judul artikel adalah nama penulis utam. nama penulis- penulis lainnya dicantumkan pada catatan kaki halaman pertama naskah. Dalam hal naskah ditulis oleh tim, penyunting hanya berhubungan dengan penulis utama atau penulis yang namanya tercantum pada urutan pertama. Penulis dianjurkan mencantumkan alamat e-mail untuk memudahkan komunikasi. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau inggris dengan format esai, disertai judul pada masing-masing bagian artikel, kecuali bagian pendahuluan yang disajikan tanpa judul bagian. Judul artikel dicetak dengan huruf besar di tengah-tengah, dengan huruf sebesar 14 poin. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan jenis huruf yang berbeda . emua juudul bagian dan sub-bagian dicetak tebal atau tebal dan mirin. , dan tidak menggunakan angka/nomor pada judul bagian: CA PERINGKAT 1 (HURUF BESAR SEMUA. TEBAL. RATA TEPI KIRI) CA Peringkat 2 (Huruf Besar Kecil. Tebal. Rata Tepi Kir. CA Peringkat 3 (Huruf Besar Kecil. Tebal-Miring. Rata Tepi Kir. Sistematika artikel hasil telaah adalah: judul. nama penulis . anpa gelar akademi. aksimum 200 kat. kata kunci. anpa judu. yang berisi latar belakang dan tujuan atau ruang lingkup bahasa utama . apat dibagi ke dalam beberapa sub-bagia. penutup atau kesimpulan. daftar rujukan . anya memuat sumber-sumber yang diruju. Sistematika artikel hasil penelitian adalah: judul. nama penulis . anpa gelar akademi. aksimum 100 kat. yang berisi tujuan, metode, dan hasil penelitian. kata kunci. anpa judu. yang berisi latar belakang, sedikit tinjauan pustaka, dan tujuan penelitian. hasil dan pembahasan. dan saran. daftar rujukan . anya memuat sumber-sumber yang diruju. Sumber rujukan sedapat mungkin merupakan pustaka-pustaka terbitan 10 tahun terakhir. Rujukan yang