JITEL (Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Elektronika, dan Listrik Tenag. Vol. No. September 2024, pp. DOI: https://doi. org/10. 35313/jitel. p-ISSN: 2774-7972 e-ISSN: 2775-6696 Analisis kelayakan performansi optical distribution point (ODP) pada optical network terminal (ONT) berdasarkan splitter 1:8 Cahya Muzaki Wayoi1*. Syah Alam2. Indra Surjati3 Jurusan Teknik Elektro. Universitas Trisakti. DKI Jakarta Jl. Kyai Tapa No 1. DKI Jakarta. Indonesia Magister Teknik Elektro. Universitas Trisakti. DKI Jakarta Jl. Kyai Tapa No 1. DKI Jakarta. Indonesia cahya062001900014@trisakti. id, 2syah. alam@trisakti. id, 3indra@trisakti. ABSTRAK Teknologi yang semakin canggih menyebabkan kebutuhan manusia akan kecepatan data sangat tinggi untuk memberikan keseimbangan terhadap teknologi. Upaya untuk menunjang teknologi tersebut menggunakan teknologi Fiber to The Home (FTTH) sebagai transmisinya. Lokasi wilayah yang menggunakan teknologi FTTH tersebut berada di daerah Padalarang. Bandung Barat. Penelitian ini menganalisa serat optik dengan penggunaan splitter 1:8 melalui metode perhitungan Power Link Budget, pengukuran alat menggunakan Optical Power Meter (OPM), serta digunakan aplikasi simulasi Optisystem dan Google Earth. Hasil penelitian didapatkan receive sensitivity Power Link Budget sebesar -16,78 dBm untuk ODP dan -18,79 dBm untuk ONT. Terdapat selisih sebesar 9,18% antara hasil pengukuran dan perhitungan menggunakan metode Power Link Budget pada ODP, sebesar 7,5% antara pengukuran dan perhitungan menggunakan metode Power Link Budget pada ONT, sebesar 3,78% antara pengukuran dengan hasil simulasi Optisystem pada ODP, sebesar 1,97% antara pengukuran menggunakan OPM dengan hasil simulasi Optisystem pada ONT. Berdasarkan pemantauan kelayakan performansi jaringan yang dilakukan selama 2 minggu, didapatkan nilai rata-rata receive sensitivity untuk ODP sebesar -18,32 dBm. Pada ONT dilakukan pengukuran pada port 4,6, dan 8 di perangkat ODP menghasilkan nilai receive sensivity sebesar -19,35 dBm, -20,26 dBm, dan -20,95 dBm. Hal ini menunjukkan bahwa nilai telah memenuhi standar ITU-T G. 984, yakni Pr lebih dari -27 dBm. Performansi jaringan Fiber to The Home yang dilakukan di daerah Padalarang. Bandung Barat sesuai PT. Telkom berdasarkan pengukuran yang dilakukan. Kata kunci: Fiber to The Home. Optical Power Meter. Splitter 1:8 ABSTRACT Increasingly sophisticated technology causes the human need for very high data rates to provide balance to Efforts to support this technology use Fiber To The Home (FTTH) technology as transmission. The location of the area that uses FTTH technology is in Padalarang. West Bandung. This research analyzes optical fiber with the use of a 1: 8 splitter through the Power Link Budget calculation method, tool measurements using Optical Power Meter (OPM), and Optisystem and Google Earth simulation applications. The results of the study obtained a Power Link Budget sensitivity of -16. 78 dBm for ODP and -18. 79 dBm for ONT. There is a difference of 9. 18% between the measurement results and calculations using the Power Link Budget method on ODP, 7. 5% between measurement and calculation using the Power Link Budget method on ONT, 3. between measurements and Optisystem simulation results on ODP, 1. 97% between measurements using OPM and Optisystem simulation results on ONT. Based on network performance feasibility monitoring conducted for 2 weeks, the average receive sensitivity value for ODP was -18. 32 dBm. In ONT, measurements on ports 4, 6, and 8 on ODP devices produce receive sensivity values of -19. 35 dBm, -20. 26 dBm, and -20. 95 dBm. It shows that the value meets the ITU-T G. 984 standard, which is Pr > -27 dBm. The performance of the Fiber To The Home network carried out in the Padalarang. West Bandung according to PT. Telkom based on measurements Keywords: : Fiber To The Home. Optical Power Meter. Splitter 1:8 PENDAHULUAN Saat ini, sektor telekomunikasi sangat membutuhkan komunikasi berkapasitas besar dan berkecepatan tinggi. Kebutuhan ini mendukung kemajuan teknologi informasi yang semakin berkembang di masyarakat modern . Oleh karena itu, diperlukan jaringan yang handal dan Naskah diterima tanggal 5 September 2023, disetujui tanggal 21 Mei 2024 *E-mail korespondensi Cahya Muzaki Wayoi: Analisis kelayakan performansi optical distribution A Vol. 4 No. 3 September 2024 berkinerja tinggi. Untuk meningkatkan kualitas layanan, fiber optic digunakan karena jaringan akses tembaga tidak dapat menampung bandwidth dan kecepatan yang lebih besar . Sistem Fiber to The Home (FTTH) memanfaatkan titik konversi optik di rumah pelanggan sebagai akses ke jaringan Fiber Optic. Titik konversi optik berfungsi sebagai tempat mengubah sinyal optik menjadi sinyal elektrik untuk digunakan oleh berbagai perangkat . Hal ini memungkinkan transmisi data dengan kapasitas besar dan kecepatan tinggi hingga ke rumah pelanggan . Dalam penelitian ini, terdapat referensi sebanyak 3 penelitian yang dilakukan di berbagai daerah dengan parameter yang berbeda. Penelitian . juga menggunakan metode Power Link Budget pada saluran udara panjang gelombang telah layak serta sesuai dengan nilai standar, sebesar -18,79 dB dan 24,85 dB di perangkat ONT. Pada penelitian . analisis kualitas jaringan lokal dilakukan di Daerah Jimbaran menggunakan akses tembaga. Penelitian . membahas perancangan dilakukan di Perumahan Setraduta Bandung yang memakai metode Power Link Budget dan Rise Time Budget sehingga hasil yang didapatkan 24,336 dB pada uplink dan 23,951 dB pada downlink. Dilihat dari penelitian terdahulu, parameter yang telah digunakan adalah Power Link Budget dan Optisystem. Dalam penelitian ini, parameter yang digunakan tidak hanya Power Link Budget, akan tetapi hasil pengukuran menggunakan Optical Power Meter (OPM), hasil simulasi Optisystem, dan hasil performa jaringan dari waktu ke waktu selama 2 minggu. Dari penelitian ini didapatkan perbandingan hasil receive sensitivity dari ketiga parameter. Adapun kebaruan dari penelitian yang diusulkan dibandingkan dengan penelitian terdahulu dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kebaruan Penelitian Penelitian . Penelitian ini Metode Pengamatan Power Link Budget Simulasi Pengukuran Tidak Tidak Tidak Tidak Analisis dan Tidak Tidak Tidak METODE PENELITIAN Pelaksanaan dalam penelitian ini memakai tahapan-tahapan yang gunanya agar memudahkan mendapatkan data-data yang dibutuhkan. 1 Tahap Penelitian Diagram alir penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Mulai Studi literatur Pengambilan data realtime Penentuan lokasi dan spesifikasi Validasi hasil perhitungan dan pengukuran Tidak Apakah hasil pengukuran dan simulasi layak dan Analisis splitter Perhitungan Power Link Budget Validasi pengukuran dan simulasi Analisis hasil pengukuran Selesai Gambar 1. Diagram alir penelitian JITEL (Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Elektronika, dan Listrik Tenag. Vol. 4 No. 3 September 2024 Cahya Muzaki Wayoi: Analisis kelayakan performansi optical distribution A Gambar 1 merupakan diagram alir yang menjelaskan alur penelitian, dengan uraian sebagai berikut: Mencari refrensi/jurnal mengenai FTTH pada ODP splitter 1:8 Melakukan penentuan lokasi serta nilai spesifikasi yang akan dianalisis yaitu di daerah Padalarang. Bandung Barat. Perhitungan dengan menggunakan parameter Power Link Budget untuk mengetahui nilai receive sensitivity di Optical Distribution Point (ODP) splitter 1:8 kepada pengguna agar mengetahui nilai receive sensivity sesuai standar PT. Telkom Akses sebelum ke lokasi. Pengambilan data real time pada perangkat yang bekerja sama dengan PT. Telkom Akses Rajawali. Bandung Barat untuk mendapatkan data sebagai objek penelitian. Memvalidasi dengan hasil Power Link Budget saat diukur menggunakan Optical Power Meter (OPM) untuk mengetahui apakah perhitungan dan kondisi di lapangan sesuai standar PT. Telkom Akses Memvalidasi dengan hasil simulasi Optisystem saat diukur menggunakan Optical Power Meter (OPM) untuk mengetahui apakah simulasi dan kondisi di lapangan sesuai standar PT. Telkom Akses. Setelah hasil pengukuran real time sudah didapatkan, apakah sudah sesuai dengan simulasi Optisystem atau tidak. Jika hasil tidak sesuai simulasi Optisystem, maka akan dilakukan proses ulang dengan menganalisa data realtime yang tidak sesuai, sehingga mendapatkan hasil yang sesuai standar. Analisis splitter dilakukan untuk mengetahui jika layak digunakan Analisis hasil pengukuran menggunakan untuk mengetahui nilai receive sensivity dari kedua metode perhitungan. 2 Parameter Power Link Budget Perhitungan yang digunakan untuk mengevaluasi dan menghitung nilai receive sensivity total yang akan dihasilkan oleh jaringan Fiber Optic dari Optical Distribution Point (ODP) sampai ke pelanggan dikenal sebagai power link budget. Parameter perhitungan ini didasarkan pada perangkat yang akan digunakan . Persamaan berikut digunakan untuk menghitung redaman atau kehilangan kabel serat optik dalam Perhitungan Total Redaman total = L. serat Nc. c Ns. s Sp Perhitungan Power Receive rx = Ptx Oe total Ae SM M = ( Pt Ae Pr ) Oe total Ae SM Perhitungan Margin Keterangan: Pt = Daya keluaran sumber optic ( dB. 5 dBm Pr = Sensitivitas daya maksimum detektor . SM = Safety margin, berkisar 6 dB total = Redaman total sistem . B) . 0/1. 35, 0. dB/Km L = Panjang fiber optic ( K. c = Redaman konektor . B/bua. s = Redaman sambungan . B/sambunga. serat = Redaman fiber optic ( dB/ K. Ns = Jumlah sambungan Nc = Jumlah konektor Sp = Redaman splitter . B) JITEL (Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Elektronika, dan Listrik Tenag. Cahya Muzaki Wayoi: Analisis kelayakan performansi optical distribution A Vol. 4 No. 3 September 2024 Parameter Link Budget dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Parameter Link Budget FTTH berdasarkan ITU-T G. 984 dan PT Telkom Uraian Satuan Standar Redaman . B) 0,35 0,35 Kabel Feeder Kabel Distribusi Splitter 1:16 1:32 Konektor SC/UPC 0,25 Splicing Feeder : 1 spiling/3 km Distribusi: 1 Spiling/3 km bh Spiling FO dengan pigtail bh Lainnya Combiner Total Redaman Murni Total Redaman dan Toleransi Volume Total Redaman . B) 1,75 1,05 3 Hasil Simulasi Optisystem Simulasi ini merupakan software Optisystem untuk merancang jaringan akses FTTH dari OLT hingga ONT. Ini dapat menggambarkan skema jaringan akses FTTH karena dapat mengetahui apakah nilai receive sensivity yang dikategorikan layak untuk digunakan pelanggan atau tidak . Pada simulasi ini, telah dilakukan rancangan jaringan FTTH dengan menggunakan asumsi masing-masing perangkat satu buah unit untuk ODP dan ONT, dan melakukan simulasi pada perangkat splitter 1:4, 1:8, dan 1:16. Hal ini untuk mengetahui kelayakan jaringan pada nilai receive sensivity dari masingmasing penggunaan splitter tersebut. Adapun standarisasi GPON yang digunakan adalah sebagai Frekuensi pada OLT sebesar 1310 nm Attenuation pada Optical Attenuator sebesar 0,1 dB Insertion Loss pada Connector sebesar 0,25 dB Reference Wavelength pada Optical Fiber sebesar 1310 nm dengan Attenuation sebesar 0,25 dB/km Loss pada Power Splitter 1x4 sebesar 7,8 dB Loss pada Power Splitter 1x8 sebesar 11,4 dB Loss pada Power Splitter 1x816 sebesar 15 dB 1 Hasil Simulasi Splitter 1:4 pada Optisystem Pada simulasi ini, percobaan dilakukan dengan menggunakan perbandingan splitter 1:4, untuk mengetahui nilai asumsi pemakaian splitter 1:4. Gambar 2 menunjukkan hasil simulasi splitter 1:4. JITEL (Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Elektronika, dan Listrik Tenag. Vol. 4 No. 3 September 2024 Cahya Muzaki Wayoi: Analisis kelayakan performansi optical distribution A Gambar 2 Simulasi Splitter 1:4 Hasil receive sensitivity menggunakan Optical Power Meter pada ODP 1:4 menggunakan simulasi Optisystem adalah sebesar -13,993 dBm yang berarti memenuhi standar dari PT Telkom. Hasil receive sensitivity menggunakan Optical Power Meter pada ONT 1:4 menggunakan simulasi Optisystem adalah sebesar -14,868 dBm yang berarti memenuhi standar dari PT Telkom. Gambar 3. Simulasi Optisystem Splitter 1:8 Hasil receive sensitivity menggunakan Optical Power Meter pada ODP 1:8 yang ditunjukkan Gambar 3. menggunakan simulasi Optisystem adalah sebesar -19,004 dBm yang berarti memenuhi standar dari PT Telkom. Hasil receive sensitivity menggunakan Optical Power Meter pada ONT 1:8 menggunakan simulasi Optisystem adalah sebesar -19,879 dBm yang berarti memenuhi standar dari PT Telkom. Gambar 4. Simulasi Optisystem Splitter 1:16 JITEL (Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Elektronika, dan Listrik Tenag. Cahya Muzaki Wayoi: Analisis kelayakan performansi optical distribution A Vol. 4 No. 3 September 2024 Hasil receive sensitivity menggunakan Optical Power Meter pada ODP 1:16 yang ditunjukkan Gambar 4. menggunakan simulasi Optisystem adalah sebesar -21,513 dBm yang berarti memenuhi standar dari PT Telkom. Hasil receive sensitivity menggunakan Optical Power Meter pada ONT 1:16 menggunakan simulasi Optisystem adalah sebesar -22,388 dBm yang berarti memenuhi standar dari PT Telkom. HASIL DAN PEMBAHASAN Di dalam bab ini memuat tentang analisis pengaruh penggunaan splitter 1:8 pada ODP terhadap performansi pada ONT di Daerah Padalarang. Bandung Barat. Hasil Perhitungan Power Link Budget Perhitungan ini dilakukan menggunakan parameter Margin Daya serta Power Link Budget. Dalam hal ini, margin daya diharuskan mempunyai nilai > 0 . ebih dari no. Margin daya merupakan daya yang digunakan dari loss selama proses transmisi, yang mengurangi receive sensitivity serta nilai safety margin . Perhitungan Power Link Budget digunakan untuk menentukan tingkat kelayakan dari sebuah jaringan yang dirancang. Nilai yang didapatkan yaitu hasil perhitungan dari beberapa komponen jaringan yang dimiliki. Dalam melakukan perhitungan, terdapat beberapa data yang dipergunakan sebagai berikut: Sensitivitas detector (OLT) : -27 dBm Redaman Serat Optik G. 652 : 0,35 dB/Km Redaman Splicei : 0,1 dB/Splice Konektor : 0,25 dB Passive Splitter 1:4 : 7,8 dB Passive Splitteri1:8 : 11,4 dB Passive Splitter 1:16 : 15 dB Jumlah Sambungan : 6 buah Jumlah Konektor . : 7 buah SM : 6 dB Proses analisis dilakukan dengan mengukur jarak terjauh dari STO Padalarang ke ODP paling Jika ODP terjauh memenuhi standar kelayakan, maka diasumsikan bahwa ODP paling dekat dapat memenuhi syarat batas redaman total yang diperkenankan antar daya luaran pemancar serta receive sensitivity. Perhitungannya dijelaskan sebagai berikut. Jarak STO Padalarang sampai ODC sejauh 5,1 km. Jarak ODC samapi ODP terjauh sejauh 0,7 km. Jarak STO Padalarang sampai ODP terjauh sejauh 5,8 km. Dengan menggunakan aplikasi Google Earth dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Jarak STO Padalarang Ae ODC Jarak STO Padalarang sampai ODP terjauh melalui aplikasi Google Earth dapat dilihat pada Gambar JITEL (Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Elektronika, dan Listrik Tenag. Vol. 4 No. 3 September 2024 Cahya Muzaki Wayoi: Analisis kelayakan performansi optical distribution A Gambar 6. Jarak ODC - ODP Terjauh Maka : Perhitungan Total Redaman total = L. serat Nc. c Ns. s Sp total = . ,8 y 0,35dB) . y 0,25 yccB) . y 0,1yccB) . y 11,4 dB ) total = 2,03 dB 1,75 dB 0,6 11,4 dB total = 15,78 dB Perhitungan Power Receive Prx = Ptx - total Ae SM Prx = 5 dBm Oe 15,78 dB Oe 6dB Prx = Oe16. 78 dBm Perhitungan Margin M = ( Pt Ae Pr ) - total - SM M = . dBm Oe (Oe27 dB. ] Oe 15,78 dB Oe 6 dB M = 10,22 dBm Dari perhitungan power link budget didapatkan nilai receive sensitivity (R. untuk ODP yaitu 16,78 dBm, maka untuk ONT sebesar -18,78 dBm, lebih besar 2 dBm dari nilai receive sensitivity ODP sesuai standar PT. Telkom. Hasil nilai Margin yang didapatkan sebesar 10,22 dBm, berada di atas nilai standar yaitu 0. Analisis Pengukuran Menggunakan Optical Power Meter pada Splitter 1:8 Penelitian telah dilakukan di daerah Padalarang dengan mengukur nilai receive sensitivity pada jaringan FTTH dengan menggunakan Optical Power Meter sebanyak 12 ODP dan 8 ONT. Pengukuran dilakukan selama 2 minggu dikarenakan lokasi penelitian yang berada didaerah Padalarang, sehingga jika dilakukan lebih dari 2 minggu dikhawatirkan waktu untuk penelitian akan kurang dikarenakan lokasi yang cukup jauh. Hasil pengukuran ODP pada minggu pertama hingga minggu kedua dilihat dalam Tabel 3. Tabel 3. Hasil pengukuran ODP minggu ke-1 sampai ke-2 Perangkat ODP 01 ODP 02 ODP 03 ODP 04 ODP 05 ODP 06 ODP 07 ODP 08 ODP 09 10 ODP 10 11 ODP 11 12 ODP 12 Nilai Rata-Rata Minggu ke-1 46 dBm 94 dBm 81 dBm 61 dBm 62 dBm 59 dBm 21 dBm 25 dBm 31 dBm 42 dBm 71 dBm 02 dBm 25 dBm Minggu ke-2 60 dBm 18 dBm 93 dBm 55 dBm 68 dBm 54 dBm 35 dBm 57 dBm 63 dBm 66 dBm 80 dBm 19 dBm 39 dBm JITEL (Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Elektronika, dan Listrik Tenag. Cahya Muzaki Wayoi: Analisis kelayakan performansi optical distribution A Vol. 4 No. 3 September 2024 Berdasarkan Tabel 3, didapatkan bahwa: Pada minggu ke-1, hasil receive sensitivity pada ODP-PCH-FDP/001 merupakan ODP terdekat dengan nilai -15. 46 dBm dan -20. 02 pada ODP-PCH-FDP/012 yang merupakan ODP terjauh. Terdapat selisih sebesar -4. 56 dBm antara ODP terdekat dan terjauh. Pada minggu ke-2, hasil receive sensitivity pada ODP-PCH-FDP/001 yang merupakan ODP terdekat sebesar -15. 60 dBm dan -20. 19 pada ODP-PCH-FDP/012 yang merupakan ODP Terdapat selisih sebesar -4. 59 dBm antara ODP terdekat dan terjauh. Terdapat selisih nilai rata-rata sebesar 0. 4 dBm antara pengukuran minggu ke-1 dan ke-2. Nilai receive sensitivity ODP pada minggu ke-1 sampai ke-2 masih dalam rentang aman dengan rata-rata -18. 32 dBm yang artinya sesuai dengan standar PT telkom. Grafik dari hasil pengukuran ODP minggu ke-1 sampai ke-2 terlihat dalam Gambar 7. Minggu 1 . RSL . Minggu 2 . Perangkat ODP Gambar 7. Grafik pengukuran ODP Minggu ke-1 sampai ke-2 Berdasarkan Gambar 7. didapatkan hasil dari 12 buah ODP yang dilakukan pengukuran dapat diamati bahwa perolehan pengukuran dari minggu ke-1 sampai minggu ke-2 hasil grafik tersebut menggambarkan bahwa nilai receive sensitivity stabil performansinya dan telah mencapai kesesuaian standar PT. Telkom dan ITU-T G. Setelah dilakukan pengukuran ODP pada minggu ke-1 sampai ke-2, dilakukan juga pengukuran pada 8 ONT dengan letak port yang berbeda. Port yang diukur yaitu port 4, port 6, dan port 8 pada ODP. Hal ini untuk mengetahui nilai receive sensitivity yang diterima oleh masing-masing pengguna. Hasil pengukuran ONT pada minggu ke-1 hingga ke-2 diperlihatkan dalam Tabel 4. Tabel 4. Hasil Pengukuran ONT Minggu ke-1 sampai ke-2 ODP PORT 4 PORT 6 PORT 8 PERANGKAT MINGGU 1 MINGGU2 ONT PORT 3 96 dBm 12 dBm ONT PORT 5 ONT PORT 7 ONT PORT 2 ONT PORT 4 ONT PORT 7 ONT PORT 2 ONT PORT 8 07 dBm 79 dBm 06 dBm 13 dBm 61 dBm 81 dBm 67 dBm 20 dBm 87 dBm 33 dBm 96 dBm 88 dBm 22 dBm 03 dBm Pada minggu ke-1 di ODP port 4, hasil receive sensitivity pada ONT PORT 3,5, dan 7 adalah sebesar -18,96 dBm, -19,07 dBm, dan -19,79 dBm. Terdapat selisih sebesar -0,11 dBm antara ONT port 3 dengan 5, -0,72 dBm antara port 5 dengan 7, dan -0,83 dBm antara port 3 dengan Pada minggu ke-1 di ODP port 6, hasil receive sensitivity pada ONT PORT 2, 4, dan 7 adalah sebesar -19,06 dBm, -20,13 dBm, dan -20,61 dBm. Terdapat selisih sebesar -1,07 dBm antara JITEL (Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Elektronika, dan Listrik Tenag. Cahya Muzaki Wayoi: Analisis kelayakan performansi optical distribution A Vol. 4 No. 3 September 2024 ONT port 2 dengan port 4, -0,48 dBm antara port 4 dengan 7, dan -1,55 dBm antara port 2 dengan port 7. Pada minggu ke-1 di ODP port 8, hasil receive sensitivity pada ONT PORT 2, dan 8 adalah sebesar -20,81 dBm, -21,67 dBm, dan -20,61 dBm. Terdapat selisih sebesar -0,86 dBm antara ONT port 2 dengan port 8. Pada minggu ke-2 di ODP port 4, hasil receive sensitivity pada ONT PORT 3,5, dan 7 adalah sebesar -19,12 dBm, -19,20 dBm, dan -19,87 dBm. Terdapat selisih sebesar -0,8 dBm antara ONT port 3 dengan 5, -0,92 dBm antara port 5 dengan 7, dan -0,75 dBm antara port 3 dengan Pada minggu ke-2 di ODP port 6, hasil receive sensitivity pada ONT PORT 2, 4, dan 7 adalah sebesar -19,33 dBm, -19,96 dBm, dan -20,88 dBm. Terdapat selisih sebesar -0,63 dBm antara ONT port 2 dengan port 4, -0,92 dBm antara port 4 dengan 7, dan -1,55 dBm antara port 2 dengan port 7 Pada minggu ke-2 di ODP port 8, hasil receive sensitivity pada ONT PORT 2, dan 8 adalah sebesar -20,22 dBm, -21,03 dBm. Terdapat selisih sebesar -0,81 dBm antara ONT port 2 dengan Nilai receive sensitivity ONT pada minggu ke-1 sampai ke-2 masih dalam rentang aman dengan rata-rata -19,34 dBm untuk port 4, -19,95 dBm untuk port 6, dan -20,93 dBm untuk port 8 dengan nilai rata-rata keseluruhan sebesar -20,09 dBm yang artinya sesuai dengan standar PT Grafik dari hasil pengukuran ONT minggu ke-1 sampai ke-2 terlihat dalam Gambar 8. RSL . B) Minggu 1 Minggu 2 Perangkat Gambar 8. Grafik pengukuran ONT minggu ke-1 sampai ke-2 Berdasarkan Gambar 8, didapatkan grafik pengukuran dari 8 buah ONT dengan port yang berbeda. Dari grafik tersebut, dapat diamati bahwa hasil pengukuran minggu ke-1 hingga minggu ke-2 performansinya telah sesuai standar PT. Telkom dan ITU-T G. Dapat dinyatakan bahwa hasil pengukuran mulai minggu ke-1 sampai minggu ke-2 di daerah Padalarang dikategorikan layak untuk digunakan oleh pengguna. Perbandingan antara Perhitungan. Pengukuran, dan Simulasi pada Splitter 1:8 Setelah perhitungan Power Link Budget pada splitter 1:8, splitter 1:8 diukur menggunakan OPM pada minggu ke-1 dan minggu ke -2. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan nilai receive sensitivity perhitungan Power Link Budget, dan juga perbandingan pengukutan dengan simulasi Perbandingan ini dilakukan pada ODP passive splitter 1:8 dan ONT. Perbandingan antara perhitungan Link Budget dan pengukuran dapat dilihat pada Tabel 5. JITEL (Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Elektronika, dan Listrik Tenag. Cahya Muzaki Wayoi: Analisis kelayakan performansi optical distribution A Vol. 4 No. 3 September 2024 Tabel 5. Perbandingan Nilai Receive Sensitivity Perhitungan Link Budget dengan Pengukuran pada Passive Splitter 1:8 dan ONT Perangkat Perhitungan Link Budget ODP 1:8 ONT -16,78 dBm -18,78 dBm Pengukuran (OPM) -18,32 dBm C ONT (ODP PORT . : -19,35 dBm C ONT (ODP PORT . : -20,26 dBm C ONT (ODP PORT . : -20,95 dBm Penyimpangan (%) 9,18% 7,5% Perbandingan antara hasil simulasi dan pengukuran dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Perbandingan Nilai Receive Sensitivity Simulasi Optisystem dengan Pengukuran pada Passive Splitter 1:8 dan ONT Perangkat ODP 1:8 ONT Simulasi Optisystem -19,04 dBm -19,80 dBm Pengukuran (OPM) -18,32 dBm C ONT (ODP PORT . : -19,35 dBm C ONT (ODP PORT . : -20,26 dBm C ONT (ODP PORT . : -20,95 dBm Penyimpangan (%) 3,78% 1,97% Hasil Perbandingan Parameter Kelayakan Performansi Jaringan Setelah dilakukan perbandingan antara pengukuran dan simulasi pada splitter 1:8, dilakukan analisis hasil pengukuran dan simulasi pada splitter 1:8. Berdasarkan perbandingan yang telah dilakukan, didapatkan: Selisih nilai yang didapatkan sebesar -1,54 dBm atau 9,18% antara pengukuran OPM dan perhitungan Power Link Budget ODP. Selisih nilai yang didapatkan sebesar -1,41 dBm atau 7,5% antara pengukuran menggunakan OPM pada ONT dan perhitungan menggunakan metode Power Link Budget pada ONT. Terdapat selisih sebesar -0,72 dBm atau 3,78% antara pengukuran menggunakan OPM dengan hasil simulasi Optisystem pada ODP. Terdapat selisih sebesar -0,39 dBm atau 1,97% antara pengukuran menggunakan OPM pada ONT dengan hasil simulasi Optisystem Berdasarkan hasil perhitungan, semakin kecil nilai persen menunjukkan bahwa perbandingan semakin baik. Maka dari selisih tersebut, dapat diketahui bahwa hasil receive sensitivity splitter 1:8 menggunakan simulasi Optisystem mendekati hasil pengukuran di lapangan, dan hasil receive sensitivity untuk splitter 1:8 baik dari simulasi Optisystem maupun hasil pengukuran telah memenuhi standar yang ditentukan oleh PT. Telkom serta layak digunakan. KESIMPULAN Penelitian berhasil memaparkan Analisis pengaruh penggunaan Splitter 1:8 pada Optical Distribution Point (ODP) terhadap performansi yang diterima pada Optical Network Terminal (ONT) di daerah Padalarang. Bandung Barat. Berdasarkan pengukuran splitter 1:8 menggunakan Power Meter pada Optical Distribution Point (ODP), didapatkan hasil receive sensitivity pada minggu ke-1 dan ke-2 sebesar -15,46 dBm dan -15,60 dBm pada ODP 01 yang merupakan ODP terdekat, -20,02 dBm dan -20,19 dBm pada ODP 02 yang merupakan ODP terjauh, didapatkan selisih minggu ke-1 dan ke-2 sebesar -4,56 dBm dan -4,59 dBm. Terdapat selisih nilai rata-rata sebesar 0,4 dBm antara pengukuran minggu ke-1 dan ke-2. Nilai receive sensitivity ODP pada minggu ke-1 sampai ke-2 masih dalam rentang aman dengan rata-rata -18,32 dBm yang artinya sesuai dengan standar PT telkom. Berdasarkan pengukuran splitter 1:8 menggunakan OPM pada ONT, pada minggu ke-1 dan ke-2 di ODP port 4, 6, dan 8 didapatkan hasil receive sensitivity rata-rata sebesar -20. 15 dBm dan -20,03 dBm. Nilai receive sensitivity ONT pada minggu ke-1 sampai ke-2 masih dalam rentang aman dengan rata-rata keseluruhan sebesar -20,19 dBm yang artinya sesuai dengan standar PT. Telkom. Dari perhitungan power link budget pada passive splitter 1:8 didapatkan nilai receive sensitivity untuk ODP yaitu -16,78 dBm. Dari hasil perhitungan dapat dikatakan bahwa receive sensitivity yang sampai ke ODP dan ONT baik serta layak digunakan karena memiliki nilai yang standar lebih baik dibandingkan JITEL (Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Elektronika, dan Listrik Tenag. Vol. 4 No. 3 September 2024 Cahya Muzaki Wayoi: Analisis kelayakan performansi optical distribution A dengan passive splitter 1:4 dan 1:16. Pada percobaan hasil simulasi optisystem dilihat bahwa hasil splitter 1:8 menunjukkan nilai yang berada pada nilai standar yaitu hasil receive sensivity yang didapatkan dari ODC ke ODP adalah sebesar -19,004 dBm, dan dari ODP ke ONT sebesar -19,879 dBm. Maka pada splitter 1:8 layak untuk pengguna jaringan. UCAPAN TERIMA KASIH