KESKOM. : 196-213 JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS (J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A L T H) http://jurnal. Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB di Indonesia: Peran Kesejahteraan Psikologis Productivity of Women Workers Who are TB Survivors in Indonesia: Role of Psychological Well-Being Rina Anindita1*. Yoan Novianna2 Universitas Esa Unggul ABSTRACT Indonesia ranks second in the world for the highest number of Tuberculosis (TB) cases, with approximately 30% of patients being women of productive age. The lengthy TB treatment process often requires extended leave from work, which can negatively impact mental health due to social stigma and concerns about transmission. This quantitative study aims to analyze the factors influencing the intention of female TB survivors to return to work, by integrating the Theory of Planned Behavior and psychological well-being. The survey involved 238 respondents from the PETA-TB community in Jakarta. Tangerang, and Bandung. Data were analyzed using SEM-PLS with R-Studio. The results show that subjective norms positively affect both psychological well-being and return-to-work intention, while perceived health influences psychological well-being but not directly the intention to return to work. Psychological well-being is confirmed as a key mediating factor between social support and the intention to return to work. ABSTRAK Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus Tuberkulosis (TB) tertinggi kedua di dunia, dan sekitar 30% penderitanya adalah perempuan usia produktif. Pengobatan TB yang berlangsung lama sering kali memaksa mereka mengambil cuti panjang, yang berdampak pada kesehatan mental akibat stigma sosial dan kekhawatiran penularan. Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keinginan perempuan penyintas TB untuk RTW (Return to Wor. , dengan mengintegrasikan Theory of Planned Behavior dan kesejahteraan Survei dilakukan pada 238 responden dari komunitas PETA-TB di Jakarta. Tangerang, dan Bandung. Data dianalisis menggunakan SEM-PLS melalui R-Studio. Hasil menunjukkan bahwa norma subjektif berpengaruh positif terhadap kesejahteraan psikologis dan keinginan untuk RTW, sementara persepsi kesehatan hanya berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis, namun tidak secara langsung terhadap keinginan RTW. Kesejahteraan psikologis terbukti sebagai mediator kunci antara dukungan sosial dan niat untuk RTW. Keywords: Return to Work. Theory of Planned Behavior. General Health Questionnaire. Psychological Well-being. Subjective Norms Kata kunci: Return to Work. Theory of Planned Behavior. General Health Questionnaire. Psychological Well-being. Norma Subjektif Corresponding: Rina Anindita Email : rina. anindita@esaunggul. A Received 26 Maret 2025 A Accepted 5 Mei 2025 A Published 31 Juli 2025 A p - ISSN : 2088-7612 A e - ISSN : 2548-8538 A DOI: https://doi. org/10. 25311/keskom. Vol11. Iss2. Copyright @2017. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. which permits unrestricted non-commercial used, distribution and reproduction in any medium Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB PENDAHULUAN Cuti sakit akibat Tuberculosis (TB) berlangsung lebih lama dibandingkan penyakit lain, berkisar antara dua bulan hingga dua tahun, termasuk pada perempuan . Cuti jangka panjang berdampak pada ekonomi dan kesehatan . , sehingga penting mengidentifikasi faktor yang mendukung Return to Work (RTW), seperti mengurangi kecemasan akibat stigma TB dan dukungan tempat kerja . Cuti panjang juga berdampak negatif pada gaya hidup dan kesejahteraan psikologis . , dengan sindrom kelelahan sebagai penyebab utama . , dan perempuan lebih rentan terhadapnya . Peran sebagai ibu rumah tangga . dan konflik rumahkerja Meningkatnya angka cuti jangka panjang akibat TB mendorong perlunya penelitian tentang niat RTW . , dengan Theory of Planned Behavior sebagai kerangka teorinya . Kesejahteraan psikologis (PWB) berperan penting dalam meningkatkan produktivitas pekerja perempuan . , dan kesehatan mental yang baik berkontribusi pada produktivitas semua pekerja . Penelitian ini mengkaji persepsi pekerja perempuan penyintas TB terkait kesejahteraan psikologis, kesehatan mental, dan norma subjektif lingkungan terhadap niat RTW. Hubungan antara keyakinan RTW. PWB, perceived health, dan niat RTW menjadi fokus keyakinan perempuan untuk RTW, dan perempuan lebih rentan terhadap keterlambatan kembali bekerja . Faktor-faktor seperti penyakit penyerta, usia, tingkat pendidikan, persepsi kesehatan, jam tidur, dan dukungan pemberi kerja berpengaruh terhadap RTW . Ae. Dukungan tempat kerja selama cuti, organisasi, dan terapi psikologis terbukti efektif mendukung RTW . , meskipun masih kurang fleksibel dalam menangani semua gangguan TB . Maka, dibutuhkan penelitian baru yang lebih berbasis teori . ,9,. Penelitian ini menawarkan kontribusi praktis bagi perusahaan dalam menyusun Keskom. Vol 11. No 2, 2025 kebijakan RTW bagi penyintas TB. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus terhadap niat RTW pada penyintas TB, bukan pada konteks cuti melahirkan atau gangguan kesehatan mental lain . , dengan teori utama Theory of Planned Behavior . ,18,. Penelitian ini mengadopsi alat ukur RTW dari . PWB dari . , dan General Health dari . , serta mengintegrasikan TPB dan PWB, menggunakan General Health Questionnaire . dan norma subjektif dari konteks penderita TB. Tujuan mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi niat RTW pada pekerja perempuan penyintas TB setelah cuti sakit panjang, dengan fokus pada kesejahteraan psikologis, kesehatan mental, dan norma Hasil penelitian diharapkan memberi pemahaman lebih mendalam dan rekomendasi kebijakan yang responsif untuk mendukung produktivitas perempuan penyintas TB. METODE Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengkonfirmasi hubungan antar variable. Dimana hipotesis telah disusun berdasarkan penelitian sebelumnya. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey, dengan alat kuesioner yang terdiri dari pertanyaan profil responden, dan pertanyaanpertanyaan terkait variabel Perceived General Health. Psychological Well Being. Norma Subjektif dan Return To Work. Pengukuran Pengukuran yang menjadi dasar butir pertanyaan dalam kuesioner, diambil dari beberapa referensi sebelumnya yang dianggap Untuk General Health Questionnaire, diadaptasi dari . , yang terdiri dari 12 pertanyaan kombinasi pernyataan negative dan Contoh pernyaataan dari GHQ adalah Ausaya tidak merasa BahagiaAy, sedangkan pernyataan positif. Ausaya selalu merasa bersyukurAy. Pilihan jawaban bagi responden Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB terdiri dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju untuk setiap butir pernyataan. Untuk Psychological Well Being, diambil dari Kuesioner awal Ryff & Keyes . , yang kemudian dikembangkan oleh . Kuesioner ini terdiri dari 18 butir pernyataan, yang sama dengan variabel pernyataan negative dan positif. Contoh pernyataan positif dari variabel ini adalah Ausaya tetap merasa percaya diriAy dan contoh pernyataan negative pada variabel ini adalah Ausaya saat ini sulit membangun pertemanan baruAy. Variabel ketiga, yaitu RTWyang merupakan proxy pada perilaku, menggunakan pengukuran yang dibangun oleh . , terdiri dari 15 pernyataan pernyataan posifit dan negative. Dimana contoh pernyataan positif pada variabel ini adalah Auselama sakit tetap diperhatikan oleh PerusahaanAy dan bentuk pernyataan negatif dari butir ini misalnyaAy saya tidak ingin RTW setelah sembuhAy. Terakhir, variabel norma subjektif, mengacu pada definisi norma subjektif, yaitu persepsi individu terkait tekanan sosial, sehingga pada variabel ini, peneliti menggunakan pengukuran yang dibangun oleh . Pengukuran ini terdiri dari 4 pertanyaan yang terdiri dari dukungan keluarga, tempat bekerja, teman dan persespi tentang stigma penderita TB di Indonesia. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perempuan bekerja, atau pernah bekerja. Dengan kriteria khusus pernah atau sedang menderita TB, dan saat ini sedang melakukan pengobatan secara rawat jalan atau telah sembuh dari TB selama kurang dari 1 tahun sejak dinyatakan sembuh total. Sampel diambil dengan metode purposive sampling yaitu memilih sample dengan kriteria perempuan usia 18-60 tahun, sudah pernah bekerja sebelum sakit dan sudah melakukan pengobatan minimal 2 bulan atau sudah selesai masa pengobatan TB . Sampel diambil dari beberapa perkumpulan pasien dan penyintas TB di Jakarta, dengan nama Keskom. Vol 11. No 2, 2025 PETA (Pejuang Tanggu. TB, ditambah dengan pasien dan mantan pasien pada Klinik TB DOTS di beberapa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di propinsi Jakarta. Bandung dan Banten. Target sampel yang merespon . adalah 240 Adapun PETA merupakan wadah paguyuban pasien dan mantan pasien TB yang Mei Sedangkan tempat untuk pasien berkonsultasi terkait penyakit Tuberculosis (TB). Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan di Bulan Juni Ae Agustus 2024. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan survey. Alat survey yang digunakan adalah kuesioner. Dimana kuesioner disusun berdasarkan pengukuran yang sudah dijelaskan di bagian atas. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan 2 metode. Untuk penyebaran kuisioner secara hardcopy dilakukan dengan mendatangi Klinik TB DOTS dan perawat/dokter di Klinik TB DOTS yang kemudian menyampaikan kepada pasien TB yang sedang melakukan rawat jalan. Sedangkan penyebaran kuesioner secara online dilakukan melalui penyebaran google form kepada penyintas yang aktif di PETA TB. Metode Analisa Data Metode Analisa data dilakukan dengan 2 Tahap pertama adalah melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap butir pernyataan Uji validitas dilakukan kepada setiap butir pernyataan pada setiap variabel utama yang diukur, dengan menggunakan metode CFA (Confirmatory Factor Analysi. dikuti dengan keandalan kuesioner yang diukur dengan Cronbach Alpha pada setiap variabel. Uji tahap pertama ini dioleh dengan menggunakan R Studio. Tahap kedua adalah melakukan uji hipotesis untuk menguji hubungan antar variabel menggunakan Structural Equation Modelling (SEM). Metode SEM-PLS dipilih dibandingkan CB-SEM karena memiliki beberapa keunggulan Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB dalam konteks penelitian ini. Pertama. SEM-PLS lebih sesuai untuk penelitian eksploratif atau prediktif, terutama ketika kerangka teoritis belum sepenuhnya mapan atau masih berkembang. Kedua. SEM-PLS dapat digunakan pada jumlah sampel yang relatif kecil, seperti dalam penelitian ini yang melibatkan 238 responden. Ketiga. SEM-PLS tidak mengharuskan data berdistribusi normal, berbeda dengan CB-SEM Selain itu. SEM-PLS memungkinkan pengujian model yang kompleks dengan banyak indikator dan variabel laten, serta lebih fokus pada varians dan prediksi antar variabel, bukan pada reproduksi matriks kovarians seperti CB-SEM. Oleh karena itu, pendekatan ini dinilai lebih tepat untuk menganalisis hubungan antara variabel seperti Perceived Health. Psychological Well-Being. Subjective Norms, dan Return to Work. Seluruh proses pengujian dilakukan menggunakan perangkat lunak R Studio. HASIL Analisis SEM PLS Analisis PLS (Partial Least Squar. adalah teknik statistika multivariate yang dependen berganda dan variabel independen PLS merupakan salah satu metode statistika SEM (Structural Equation Modelin. menyelesaikan regresi berganda ketika terjadi permasalahan spesifik pada data, seperti ukuran sampel penelitian kecil, adanya data yang hilang, dan multikolinearitas . Alasan penggunaan PLS adalah . metode statistik ini tepat digunakan dalam menguji efek prediksi hubungan antar variabel dalam suatu model, . PLS dapat dijalankan pada sampel dengan jumlah yang kecil, tidak mensyaratkan pada berbagai asumsi dan dapat menguji model penelitian dengan dasar teori yang lemah dan . informasi yang dihasilkan dengan menggunakan PLS lebih efisien dan mudah diinterpretasikan . Selain itu alasan Keskom. Vol 11. No 2, 2025 menggunakan SEM PLS pada penelitian ini adalah karena responden yang mengisi kuesioner dengan lengkap kurang dari 5 x jumlah pertanyaan, dan model penelitian didasarkan pada teori yang lemah, yaitu Behavior Intention yang di-proxy-kan dengan RTWbelum ditemukan pada penelitian-penelitian lain terkait dengan penyakit Pada penelitian ini, metode analisa SEM PLS diolah dengan R Studio, dimana syntax dalam pengolahan data dilampirkan dalam laporan penelitian ini. Evaluasi Model Hipotesis Penelitian Evaluasi model dalam PLS dilakukan dengan melakukan evaluasi pada outer model dan inner model. Outer model merupakan model pengukuran untuk menilai validitas dan reliabilitas model. Sedangkan inner model merupakan model struktural untuk memprediksi hubungan kausalitas antar variabel . Evaluasi Outer Model (Model Pengukura. Model pengukuran digunakan untuk menguji validitas variabel dan reliabilitas Uji validitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan indikator penelitian mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji validitas dalam SEM PLS ada dua macam, yaitu: Uji Validitas Konvergen: berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur-pengukur dari suatu variabel seharusnya berkorelasi tinggi. Validitas konvergen terjadi jika skor yang diperoleh dari dua instrumen berbeda yang mengukur variabel yang sama mempunyai korelasi tinggi. Rule of thumb yang digunakan untuk validitas konvergen adalah outer loading >0,7, namun demikian untuk penelitian tahap awal dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0. 5 sampai 0. 6 dianggap cukup (Chin, 1. Serta nilai AVE (Average Variance Extracte. > 0,5. Uji Validitas Diskriminan: berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur-pengukur variabel yang berbeda seharusnya tidak berkorelasi dengan tinggi. Validitas diskriminan terjadi jika dua instrumen yang berbeda yang mengukur dua variabel yang diprediksi tidak berkorelasi menghasilkan skor yang memang tidak berkorelasi. Uji validitas Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB diskriminan dinilai berdasarkan akar AVE > korelasi variabel laten . Ukuran lain yang dapat digunakan adalah nilai cross loading diharapkan setiap blok indikator memiliki loading lebih tinggi untuk setiap laten yang diukur dibandingkan dengan indikator pada variabel laten Sedangkan uji reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi alat ukur dalam mengukur suatu konsep. Uji reliabilitas adalah suatu pengukuran yang menunjukkan sejauh mana pengukuran tersebut tanpa bias/ bebas kesalahan . rror fre. dan karena itu menjamin pengukuran yang konsisten lintas waktu dan lintas berbagai item dalam indikatornya . Dalam PLS, uji ini dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu: . CronbachAos alpha: mengukur batas bawah nilai reliabilitas suatu variabel dan dapat diterima jika nilainya >0,6. Composite reliabilitas suatu variabel dan dapat diterima jika nilainya >0,7 . Evaluasi Model Struktural Model struktural dalam PLS dievaluasi dengan mengukur koefisien determinasi atau uji R2 dan koefisien path atau t-value melalui perbandingan t-statistik dan t-tabel. Berikut adalah parameter pengukuran inner model dalam PLS: Koefisien Determinasi (Uji R. Nilai R2 digunakan untuk mengukur tingkat variasi perubahan variabel independen terhadap variabel dependen. Sehingga dapat dependen dapat dipengaruhi oleh variabel Semakin tinggi nilai R2 semakin baik model prediksi dari model penelitian yang diajukan . Koefisien Path atau T-values Nilai koefisien path menunjukkan signifikansi antar variabel dalam model struktural atau dalam pengujian hipotesis. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah hipotesis satu ekor . ne-taile. Hipotesis diterima apabila nilai t-statistik lebih besar dari 1,96 yang merupakan nilai t-tabel untuk pengujian dengan alpha 5 persen . Berikut model awal yang akan dibentuk (Gambar . Gambar 1. PLS Model Keskom. Vol 11. No 2, 2025 Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB Evaluasi Outer Model Uji validitas konvergen Pada saat dilakukan uji model awal, total jumlah indikator yang diuji adalah 65 indikator. Dimana variabel GHQ terdiri dari 12 pertanyaan kuesioner. Norma Subjektif terdiri dari 4 PWB ada 18 indikator pertanyaan dan terakhir RTW terdiri dari 13 pernyataan Untuk menguji apakah ke-65 indikator tersebut merupakan indikator yang tepat untuk Variabel Laten GHQ PWB Keskom. Vol 11. No 2, 2025 mengukur masing-masing variabel, maka model penelitian memiliki indikator berbentuk reflektif. Uji validitas konvergen dilakukan untuk semua indikator, yang merupakan order pertama . idak Tabel 1 merupakan hasil pengujian validitas konvergen order pertama. Dalam penelitian ini suatu indikator dinyatakan valid apabila memiliki loading factor lebih dari 0. 5 dan AVE lebih dari 0. Tabel 1. Outer Loading dan AVE Indikator Outer Loading NS1 0,884 NS2 0,950 NS3 0,922 NS4 -0,386 GHQ1 0,703 GHQ2 0,383 GHQ3 0,703 GHQ4 0,679 GHQ5 0,545 GHQ6 0,597 GHQ7 0,600 GHQ8 0,487 GHQ9 0,745 GHQ10 0,670 GHQ11 0,743 GHQ12 0,513 PWB1 0,371 PWB2 0,446 PWB3 0,764 PWB4 -0,077 PWB5 0,313 PWB6 0,352 PWB7 -0,133 PWB8 0,483 PWB9 0,724 PWB10 0,602 PWB11 0,658 PWB12 0,585 PWB13 0,459 PWB14 0,610 AVE 0,389 0,171 0,230 Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB RTW PWB15 0,465 PWB16 0,416 PWB17 0,288 PWB18 0,165 RTW1 0,496 RTW2 0,538 RTW3 0,731 RTW4 0,841 RTW5 0,794 RTW6 0,846 RTW7 0,077 RTW8 0,662 RTW9 0,690 RTW10 0,711 RTW11 0,687 RTW12 0,461 RTW13 0,658 RTW14 -0,078 RTW15 0,055 Suatu indikator dinyatakan valid secara konvergen apabila nilai AVE lebih dari 0. 5 serta nilai outer loading lebih dari 0. Berdasarkan Tabel 1 di atas diketahui bahwa terdapat beberapa variabel yang memiliki nilai AVE kurang dari 0. Artinya bahwa indikator-indikator pada variabel tersebut belum mampu mencerminkan variabel latennya. Keskom. Vol 11. No 2, 2025 0,378 Berdasarkan nilai outer loading-nya atau loading factor terdapat beberapa indikator dari variabel yang tidak valid dengan outer loading kurang dari Selanjutnya dilakukan estimasi ulang dengan mengeluarkan indikator yang tidak valid. Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB Gambar 2. Hasil koefisien jalur, outer loading, dan R-Square Dari gambar 2 dapat dilihat bahwa semua outer loading-nya lebih besar dari 0. 5 setelah dilakukan estimasi ulang. Agar lebih jelas, validitas konvergennya dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2 menunjukkan nilai outer loading dan AVE hasil estimasi ulang, semua variabel memiliki nilai AVE > 0. 5 dan semua indikator memiliki nilai outer loading >0. indikator model telah valid konvergen. Tabel 2. Outer Loading dan AVE setelah re-estimasi Variabel Laten Indikator Outer Loading AVE GHQ PWB Keskom. Vol 11. No 2, 2025 NS1 NS2 NS3 GHQ1 GHQ3 GHQ4 GHQ7 GHQ9 GHQ10 GHQ11 PWB3 PWB9 PWB10 Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB RTW PWB11 PWB14 RTW2 RTW3 RTW4 RTW5 RTW6 RTW8 RTW9 RTW10 RTW11 RTW13 Dari gambar 3 dapat dilihat bahwa Norma Subjektif terdiri dari keluarga, teman, dan rekan Stigma negatif dalam uji validitas termasuk indikator yang tidak valid. Dari hasil loading factor di atas, terlihat bahwa teman memiliki peran paling besar dalam membentuk Norma Subjektif. Untuk General Health Questionnaire setelah dilakukan re-estimasi, hanya 7 indikator yang akan diikutsertakan ke dalam model, yaitu kemampuan berkonsentrasi, tetap dapat berperan aktif di masyarakat, tetap mampu dalam mengambil Keputusan, tetap dapat menikmati hari-hari selama sakit, kebahagiaan, percaya diri, dan merasa berharga. Dimana faktor kemampuan berkonsentrasi merupakan faktor yang paling dominan dalam persepsi Kesehatan mental Perempuan penyintas TB. Sedangkan untuk variabel Psychological Well Being dari hasil uji validitas konvergen dan uji cross loading, terdapat 5 indikator yang membentuk PWB dalam model Keskom. Vol 11. No 2, 2025 penelitian ini, yaitu tujuan hidup, kemampuan melaksanakan tanggung jawab, perasaan telah melakukan yang terbaik selama ini, merasa hidup adalah proses belajar, dan keinginan untuk memperbaiki hidup. Dari nilai factor loading yang terbesar, yaitu merasa memiliki kemampuan untuk tetap melaksanakan tanggung jawab walaupun sedang menderita TB adalah faktor pembentuk PWB yang terbesar dalam model penelitian ini. RTW sendiri dari hasil uji validitas konvergen, hampir semua indikatornya dapat diikutsertakan dalam model penelitian ini. Dimana setiap indikator dalam RTW memiliki kemiripan makna. Dari hasil loading factor yang terbesar adalah tetap mampu melaksanakan tugas dengan baik setelah masa pengobatan selesai adalah faktor pembentuk terbesar dari variabel ini dalam model penelitian. Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB Gambar 3. Hasil koefisien jalur, outer loading, dan R-Square hasil Pengujian dengan indikator hasil re-estimasi terakhir Validitas Diskriminan Selain validitas konvergen, validitas diskriminan juga dilakukan untuk order pertama. Keskom. Vol 11. No 2, 2025 Parameter uji validitas diskriminan dapat diketahui dari hasil cross loading. Hasil cross loading disajikan pada Tabel 3, sebagai berikut: Tabel 3. Hasil Cross loading GHQ PWB RTW NS1 NS2 0,271 0,274 0,916 0,968 0,383 0,382 0,302 0,375 NS3 GHQ1 0,198 0,777 0,948 0,256 0,317 0,388 0,403 0,179 GHQ3 GHQ4 0,724 0,749 0,208 0,202 0,349 0,346 0,218 0,146 GHQ7 GHQ9 0,651 0,682 0,354 0,034 0,344 0,253 0,108 0,056 GHQ10 GHQ11 0,653 0,706 0,045 0,005 0,171 0,232 -0,02 0,041 PWB3 PWB9 0,43 0,326 0,256 0,345 0,759 0,768 0,268 0,242 PWB10 PWB11 0,262 0,219 0,27 0,227 0,709 0,746 0,295 0,359 PWB14 0,364 0,284 0,647 0,241 RTW2 -0,001 0,211 0,104 0,525 Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB RTW3 0,117 0,209 0,313 0,735 RTW4 RTW5 0,181 0,162 0,292 0,327 0,333 0,855 0,804 RTW6 RTW8 0,166 0,073 0,282 0,241 0,304 0,219 0,848 0,657 RTW9 0,11 0,342 0,212 0,691 RTW10 0,115 0,378 0,322 0,72 RTW11 RTW13 0,169 0,133 0,217 0,248 0,266 0,306 0,695 0,66 Dari tabel 3 diketahui bahwa indikatorindikator yang digunakan untuk mengukur variabel telah valid karena nilai indikator yang mengukur variabel tersebut paling tinggi dibandingkan dengan indikator-indikator lainnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel dan indikator yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi validitas diskriminan atau dapat dikatakan indikator setelah hasil re-estimasi yang terbentuk dari hasil validitas konvergen memang benar merupakan indikator yang tepat dalam membentuk setiap variabel, sehingga model terakhir setelah re-estimasi dapat digunakan untuk pengujian hipotesis. Reliabilitas Parameter yang digunakan untuk menilai reliabilitas adalah cronbach alpha dan composite Menurut Abdillah. , & Hartono . berdasarkan Chin & Todd . menyatakan bahwa suatu indikator dikatakan reliabel apabila nilai composite reliability lebih dari 0,7 dan cronbach alpha lebih dari 0,6. Hasil composite reliability dan cronbach alpha disajikan pada Tabel 4, sebagai berikut: Tabel 4. Nilai Composite Reliability dan Cronbach Alpha Variabel Laten Cronbach's Composite Alpha Reliability Norma Subjektif General Health Psychological Well-Being Return to Work Keskom. Vol 11. No 2, 2025 Berdasarkan Tabel 4 di atas diketahui bahwa variabel yang digunakan dalam penelitian ini memiliki nilai composite reliability lebih dari 0,7 dan cronbach alpha lebih dari 0,6. Sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator-indikator yang mengukur variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini telah reliabel. Evaluasi Inner Model Setelah lolos uji validitas dan reliabilitas, maka selanjutnya dilakukan evaluasi inner model. Parameter yang digunakan untuk evaluasi inner model dalam Smart PLS adalah koefisien determinan (Uji R. dan koefisien jalur atau tvalue. Nilai R2 digunakan untuk mengukur tingkat variasi perubahan variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai R2 ditampilkan pada Tabel 5 sebagai berikut: Tabel 5. Nilai R-Square Variabel R Square Psychological Well-being 0. Return to work Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa nilai R 2 variabel Psychological Well Being sebesar 0,27 atau 27 %. Dengan kata lain keragaman Psychological Well Being dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independennya sebesar 27%. Sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak masuk ke dalam model. Nilai R2 variabel RTWsebesar 0,21 atau 21%. Dengan kata lain keragaman RTW dapat dijelaskan oleh variabelvariabel independennya sebesar 21%, sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak masuk Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB kedalam model. Nilai Q2 digunakan untuk menghitung Goodness of Fit (GOF) secara Nilai GOF digunakan untuk menunjukkan apakah suatu model adalah fit secara keseluruhan. GOF mencerminkan seberapa besar variabel dependen dapat diterangkan oleh Goodness of Fit (GOF) dalam penelitian ini dapat diukur dengan perhitungan berikut: Q2 = 1-. -R. -R. Q2 = 1-. Q2 = 1-0,4767 Q2 = 0, 5233 Berdasarkan perhitungan tersebut dihasilkan nilai Q2 sebesar 0. Hal tersebut diartikan bahwa variabel-variabel dalam model dapat menjelaskan model sebesar 52,3% dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak masuk di dalam model. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model penelitian ini kurang baik karena nilai Q 2 Setelah penghitungan Goodness of Fit (GOF), selanjutnya adalah pengujian hipotesis dengan koefisien jalur. Koefisien pengujian hipotesis. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah hipotesis satu ekor . ne-taile. Oleh karena itu, hipotesis diterima apabila memiliki nilai t-statistik lebih dari 1,96. Tabel 6 dan 7 menunjukkan hasil uji T dan besarnya pengaruh. Gambar 4. besarnya t-statistik. Gambar 4. T-Statistik Berikut ini adalah hipotesis yang akan diuji : H1: Perceived Health (General Healt. berpengaruh positif terhadap Psychological Well-Being. H2: Norma Subjektif berpengaruh positif terhadap Psychological Well-Being. H3: Perceived Health (General Healt. berpengaruh positif terhadap Return to Work. H4: Norma Subjektif berpengaruh positif terhadap Return to Work. H5: Psychological Well-Being berpengaruh positif terhadap Return to Work. Keskom. Vol 11. No 2, 2025 Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB Original Est. GHQ -> PWB GHQ -> RTW NS -> PWB NS -> RTW PWB -> RTW 0,372 -0,026 0,284 0,278 0,29 Tabel 6. Hasil uji T pengaruh langsung Bootstrap Bootstrap SD Mean 0,384 -0,024 0,278 0,281 0,296 Berdasarkan Tabel 6 dapat dijelaskan bahwa Nilai T statistik untuk pengaruh General Health terhadap Psychological Well Being sebesar 5,683, lebih besar dari nilai T Tabel sebesar 1,96, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin baik persepsi pasien atau Perempuan penyintas TB terkait bagaimana Kesehatan mentalnya secara umum akan meningkatkan perasaan Sejahtera secara psikologis. Nilai T statistic antara General Health terhadap RTWadalah sebesar -0,337. Nilai ini lebih kecil dari nilai t tabel 1,96 sehingga persepsi Kesehatan mental tidak memberikan dampak secara langsung pada niat untuk RTW. Nilai T statistic pengaruh Norma Subjektif terhadap Psychological Well Being sebesar 5,42. 0,066 0,076 0,052 0,063 0,067 5,683 -0,337 5,42 4,446 4,324 Stat. CI 97. 0,254 -0,162 0,173 0,159 0,157 0,506 0,122 0,377 0,398 0,415 Nilainya lebih besar dari nilai t tabel, sehingga dapat dikatakan bagaimana dukungan sosial dapat membuat Perempuan dan penyintas TB dapat merasa lebih Sejahtera secara psikologis. Nilai T statistik pengaruh antara Norma Subjektif terhadap RTWadalah 4,444 lebih besar dari nilai t tabel 1,96 sehingga dapat dikatakan bahwa semakin banyak dukungan sosial dari rekan, teman dan keluarga akan membuat Perempuan penyintas TB akan semakin berniat untuk RTW. Nilai t statistic pengaruh Psychological Well Being terhadap RTWadalah sebesar 4,234, sehingga dapat dikatakan jika Perempuan penyintas TB merasa Sejahtera secara psikologis akan membuat niat untuk RTW semakin tinggi. Tabel 7. Hasil uji T pengaruh tidak langsung Sample Standard T Statistics Mean (M) Deviation (|O/STDEV|) (STDEV) Norma Subjektif-> Psychological Well-being -> Return to Work General Health-> Psychological Well-being -> Return to Work Berdasarkan Tabel 7 nilai t-statistik pada pengaruh Perceived Sustainability terhadap Satisfaction secara tidak langsung melalui General Health sebesar 4. 318 dan nilainya lebih besar dari 1. -value < 0. sehingga H0 Dengan kata lain, terdapat pengaruh yang signifikan Perceived Sustainability terhadap Keskom. Vol 11. No 2, 2025 Values Satisfaction secara tidak langsung melalui General Health . Pengaruh tidak langsungnya diketahui sebesar 0. Dari tabel 6 dan 7 di atas, jika dimasukkan ke dalam Kesimpulan uji hipotesis dan temuan penelitian, adalah sebagai berikut : Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB Tabel 8 Hasil Uji Hipotesis dan Temuan Penelitian Hipotesis Nilai TKeterangan Statistik Perceived Health (General Healt. berpengaruh positif 5,683 Data mendukung Hipotesis terhadap Psychological Well-Being Norma Subjektif berpengaruh positif terhadap Psychological 5,42 Data mendukung Hipotesis Well-Being Perceived Health (General Healt. berpengaruh positif -0,337 Data tidak mendukung Hipotesis terhadap Return to Work Norma Subjektif berpengaruh positif terhadap Return to Work 4,446 Data mendukung Hipotesis Psychological Well-Being berpengaruh positif terhadap 4,324 Data mendukung Hipotesis Return to Work Temuan Penelitian Norma Subjektif-> Psychological Well-being -> Return to Work General Health-> Psychological Well-being -> Return to Work PEMBAHASAN Penelitian ini menemukan bahwa dukungan dari keluarga, teman, dan rekan kerja . orma subjekti. menjadi faktor utama yang mendorong perempuan penyintas TB untuk kembali bekerja (RTW). Dukungan sosial ini memberikan rasa percaya diri dan keyakinan bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi fase pemulihan. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih banyak menekankan peran dukungan institusional, studi ini menunjukkan bahwa dalam konteks sosial Indonesia yang kolektif, dukungan emosional dari lingkar sosial dekat memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap niat RTW . Persepsi terhadap kesehatan mental juga berkontribusi penting dalam membentuk kesiapan psikologis untuk RTW. Perempuan yang merasa mampu menjalankan fungsi sosial seperti berinteraksi dengan masyarakat menunjukkan tingkat kesiapan mental yang lebih tinggi. Namun, berbeda dengan beberapa studi terdahulu yang menemukan hubungan langsung antara perceived health dan niat RTW, penelitian ini menunjukkan Keskom. Vol 11. No 2, 2025 Psychological Well-being memediasi hubungan antara Norma Subyektif dengan Return to Work Psychological Well-being memediasi hubungan antara General Health dengan Return to Work bahwa persepsi kesehatan tidak secara langsung mendorong keinginan RTW . Ini mengindikasikan bahwa persepsi kesehatan saja belum cukup tanpa dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis yang stabil. Norma subjektif berperan besar dalam membentuk kesejahteraan psikologis perempuan penyintas TB, yang pada gilirannya berdampak pada niat RTW. Meskipun tingkat persetujuan dari orang-orang terdekat tidak tinggi, ekspektasi sosial tetap berperan sebagai tekanan positif yang mendorong individu kembali ke dunia kerja. Penelitian ini memperkuat temuan Tjulin et al. , tetapi juga menambahkan konteks baru Asia, antarindividu dan tekanan sosial memiliki dampak yang lebih mendalam terhadap pemulihan dan kembalinya produktivitas perempuan penyintas TB . Kesejahteraan psikologis terbukti sebagai mediator antara dukungan sosial dan niat RTW. Ketika seseorang merasa didukung, ia lebih cenderung merasa sejahtera secara psikologis, yang kemudian mendorong keinginan untuk kembali bekerja . Hal ini menunjukkan Rina Anindita, et al Productivity Of Women Workers Who Are Tb Survivors Produktivitas Perempuan Pekerja Penyintas TB bahwa RTW bukan hanya persoalan fisik, melainkan terkait erat dengan kesiapan emosional dan mental. Penelitian ini berbeda dari studi kesejahteraan sebagai hasil akhir. di sini, kesejahteraan justru menjadi penghubung aktif dalam proses RTW yang sukses. Secara dukungan sosial dan penguatan kesejahteraan psikologis menjadi kunci dalam memfasilitasi RTW pada penyintas TB perempuan. Perceived health memang penting, namun tidak cukup berdiri sendiri tanpa adanya dukungan lingkungan dan kesiapan mental. Penelitian ini memberi kontribusi baru dengan menyoroti struktur hubungan antarvariabel secara lebih mendalam dan kontekstual, serta menawarkan pemahaman baru bahwa kesejahteraan psikologis tidak hanya berdampak langsung, tetapi juga menjembatani faktor sosial dan intensi perilaku kerja pasca-sakit. Selain itu, wilayah penelitian yang terbatas pada Jakarta dan Banten belum merepresentasikan konteks sosial-ekonomi daerah lain. Nilai Rsquare yang rendah juga mengindikasikan bahwa variabel dalam model hanya menjelaskan sebagian kecil dari variasi niat RTW. Oleh karena itu, penelitian mendatang disarankan untuk memperluas cakupan geografis, memperbaiki alat ukur, serta menambahkan variabel relevan lainnya seperti dukungan kebijakan perusahaan, motivasi intrinsik, dan kondisi ekonomi individu. KONFLIK KEPENTINGAN Tidak ada konflik kepentingan dalam penelitian ini UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih kepada Dirjen DRPM Kemristek DIKTI yang telah mendanai Penelitian ini melalui program Hibah Tesis Magister DAFTAR PUSTAKA