Ad-Daqqoq: Journal of Religion and Social Movement Vol. 1 Issue 2, 2025 DOI: XX. x/x E-ISSN: x-x Agama Dalam Pandangan Antropolog: Perspektif Sosial-Budaya Rozzaqul Hasan . Tobroni2. Faridi3 Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang1. Universitas Muhammadiyah Malang2. Universitas Muhammadiyah Malang3 rozzaqulhasan@gmail. com, 2tobroni@umm. id, 3faridi@umm. Abstract Article History Received: 28-03-2025 Reviced: 14-06-2025 Accepted: 08-07-2025 Keywords: Religion. Multicultural. Religious Identity. Ritual. Social Solidarity. Cultural Adaptation This study aims to examine religion as an integral part of culture that reflects social values and norms. In addition, this study explains the role of religion in shaping social interaction and cultural identity. This research also explores the contribution of religion in building cultural values in the era of globalization and highlights the role of religion as a unifying force in a multicultural society. The main issue raised is the complexity of the relationship between religion and culture in a multicultural society, including the challenges that arise from the diversity of traditions and the subjectivity of religious experience. This research uses a literature study method or library research with a documentation approach, where data is collected from journals, books, and relevant documents. The analysis is done descriptively qualitatively to describe various aspects of religion in a socio-cultural context. The results show that religion is not only a spiritual guideline but also functions as a symbol system and cultural adaptation tool. Religious symbols are able to strengthen social solidarity, build collective identity and create harmony in a multicultural society. These findings confirm that religion is dynamic, responsive to social change, and remains relevant in facing the challenges of globalization. This is an open access article under CC BY-SA 4. 0 license. Copyright A 2024 by Author. Pu blished by CV. Zamron Pressindo Available online at: https://journal. id/index. php/addaqqo/issue/archive Rozzaqul Hasan, et. ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan mengkaji agama sebagai bagian integral budaya yang mencerminkan nilai dan norma sosial. Selain itu, penelitian ini menjelaskan peran agama dalam membentuk interaksi sosial dan identitas budaya. Penelitian ini juga menggali kontribusi agama dalam membangun nilai budaya di era globalisasi dan menyoroti peran agama sebagai kekuatan pemersatu dalam masyarakat Masalah utama yang diangkat adalah kompleksitas hubungan antara agama dan budaya dalam masyarakat multikultural, termasuk tantangan yang muncul dari keberagaman tradisi dan subjektivitas pengalaman religius. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur atau library research dengan pendekatan dokumentasi, di mana data dikumpulkan dari jurnal, buku, dan dokumen relevan. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif untuk menggambarkan berbagai aspek agama dalam konteks sosial-budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama tidak hanya menjadi pedoman spiritual tetapi juga berfungsi sebagai sistem simbol dan alat adaptasi budaya. Simbol-simbol agama mampu memperkuat solidaritas sosial, membangun identitas kolektif, dan menciptakan harmoni di masyarakat Temuan ini menegaskan bahwa agama bersifat dinamis, responsif terhadap perubahan sosial, dan tetap relevan dalam menghadapi tantangan Kata Kunci: Agama. Multikultural. Identitas Keagamaan. Ritual. Solidaritas Sosial. Adaptasi Budaya PENDAHULUAN Agama merupakan fenomena universal yang hadir dalam berbagai masyarakat manusia, memainkan peran signifikan dalam membentuk pola pikir, perilaku, dan struktur sosial. Tidak sekadar menjadi sistem kepercayaan, agama seringkali menjadi landasan moral dan etika yang memandu interaksi individu dalam Dalam konteks sosial-budaya, agama berfungsi sebagai perekat sosial yang menumbuhkan solidaritas, mempererat hubungan kekeluargaan, dan menciptakan kedamaian batin melalui tuntunan nilai-nilai yang diajarkannya. Peran agama dalam membentuk norma dan perilaku sosial telah banyak diteliti, menunjukkan bagaimana nilai-nilai spiritual memengaruhi dinamika sosial di berbagai lapisan masyarakat1. Pemahaman mendalam mengenai agama sebagai bagian integral dari kehidupan sosial membantu memahami dinamika masyarakat secara lebih komprehensif. Alfiannur Fachriaan Arbi et al. AuPeran Agama Dalam Membentuk Perubahan Struktur Sosial: Tinjauan Sosiologis,Ay Jurnal Religion: Jurnal Agama. Sosial. Dan Budaya 1, no. : 1153Ae70. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. Pendidikan agama memegang peranan vital dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, memberikan pengaruh baik dalam kehidupan duniawi maupun persiapan menuju akhirat. Nilai-nilai agama berperan dalam melindungi manusia dari perilaku negatif sekaligus mengarahkan mereka menuju kebaikan. Ajaran agama memiliki dampak pada cara masyarakat menyatukan perspektif, menciptakan pemahaman bersama, dan memperkuat struktur sosial. Agama hadir dalam kehidupan manusia untuk memberikan perekat sosial, menumbuhkan rasa solidaritas, dan menciptakan kedamaian batin melalui tuntunan nilai-nilai yang Dengan demikian, agama menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan sosial dan memperkuat struktur komunitas 2. Keterpaduan antara ajaran agama dan norma sosial ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman agama dalam membangun harmoni sosial. Pendekatan antropologis terhadap agama menekankan pentingnya mengamati praktik keagamaan yang muncul dan berkembang dalam masyarakat. Antropologi mempelajari berbagai sistem yang berhubungan dengan kehidupan manusia, komunitas, dan budayanya. Dengan demikian, agama dipahami sebagai bagian integral dari budaya yang mencerminkan nilai-nilai, norma, dan struktur sosial masyarakat 3. Pendekatan ini memperluas pemahaman mengenai agama dengan tidak hanya melihat aspek ritual, tetapi juga bagaimana agama terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan. Sepanjang abad ke-20, para antropolog mengembangkan konsep kebudayaan sebagai teori ilmiah yang kuat, kompleks, dan berpengaruh. Antropologi, sebagai salah satu ilmu sosial yang memfokuskan perhatiannya pada aspek manusia sebagai makhluk sosial dan sistem budaya, kemudian mengembangkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam memahami peran agama dalam konteks sosial-budaya. Pemahaman ini menyoroti pentingnya melihat agama sebagai bagian yang dinamis dalam budaya, yang tidak hanya bersifat statis tetapi juga responsif terhadap perubahan sosial dan globalisasi4. Dengan demikian, pendekatan ini melihat agama bukan hanya sebagai fenomena spiritual, tetapi juga sebagai fenomena sosial yang terus berubah dan berkembang. Namun, memahami agama dari sudut pandang sosial-budaya memiliki tantangan tersendiri. Keberagaman tradisi agama, subjektivitas pengalaman religius, dan keterbatasan data etnografis menjadi beberapa hambatan dalam kajian ini. Oleh Arbi et al. Feryani Umi Rosidah. AuPendekatan Antropologi Dalam Studi Agama,Ay Religio: Jurnal Studi AgamaAgama 1, no. : 1Ae10. 4 Kurnia Novianti. AuKebudayaan. Perubahan Sosial. Dan Agama Dalam Perspektif Antropologi,Ay Harmoni: Jurnal Multikultural & Multireligius 12, no. : 8Ae20. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. karena itu, pendekatan holistik diperlukan untuk menggambarkan agama secara lebih komprehensif, dengan mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan manusia. Tantangan ini mencerminkan kompleksitas dalam memetakan peran agama dalam masyarakat yang multikultural dan terus berkembang 5. Sejak lama, studi antropologi telah fokus pada peran agama dalam proses perubahan sosial. Para peneliti mengamati bahwa agama memiliki potensi untuk menjadi kekuatan pendorong perubahan dalam masyarakat. Gerakan agama seringkali memiliki kekuatan untuk menggerakkan massa dalam memperjuangkan perubahan sosial dan politik. Dalam konteks ini, agama muncul sebagai alat untuk mengartikulasikan kekhawatiran dan aspirasi masyarakat yang ingin melihat perubahan dalam sistem sosial yang ada. Selain itu, berbagai kajian menunjukkan bahwa agama berperan dalam membangun kesadaran kolektif dan solidaritas sosial di tengah dinamika masyarakat yang kompleks 6. Selain itu, peran agama dalam mengubah paradigma gender dalam masyarakat telah menjadi sorotan. Dalam banyak budaya, agama sering kali memengaruhi peran dan harapan gender yang ada. Namun, terdapat gerakan di dalam agama yang memperjuangkan kesetaraan gender dan perubahan dalam peran Ini memberikan pemahaman tentang bagaimana agama dapat berperan sebagai agen perubahan dalam mempromosikan kesetaraan gender. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa agama bukanlah entitas yang statis, melainkan dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman7. Fenomena ini memperlihatkan bahwa agama mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat modern. Dalam era globalisasi, peran agama semakin kompleks dalam dinamika sosialbudaya. Globalisasi membawa perubahan dalam struktur sosial dan nilai budaya, yang mempengaruhi praktik keagamaan dan interpretasinya. Agama dapat berfungsi sebagai kekuatan pemersatu yang mempererat hubungan antarindividu dalam masyarakat multikultural, namun juga berpotensi menjadi sumber konflik ketika terjadi benturan nilai atau interpretasi yang berbeda. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai peran agama dalam konteks sosial-budaya menjadi semakin penting untuk menjaga harmoni dan kohesi sosial8. Dalam menghadapi perubahan global, agama harus diakui sebagai elemen kunci dalam menjaga stabilitas dan Pebri Yanasari. AuPendekatan Antropologi Dalam Penelitian Agama Bagi Sosial Worker,Ay EMPOWER: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam 4, no. : 225Ae40. 6 Dwi Rezky Amaliah Putri. Mirza Farhani Adam, and Abdurahman Sakka. AuPeran Antropologi Dalam Mempelajari Pengaruh Agama Terhadap Perubahan Sosial,Ay JSI: Jurnal Socia Logica 3, no. : 1Ae7. 7 Putri. Adam, and Sakka. 8 Rohmawati. AuANTROPOLOGI KEKERASAN AGAMA Studi Pemikiran Jack David Eller,Ay Sabda 13, 2 . : 179Ae90. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. keharmonisan masyarakat, di mana nilai-nilai spiritual dan etika yang diajarkan menjadi landasan penting dalam merespons tantangan globalisasi. Pendekatan antropologis dalam studi agama menekankan pentingnya memahami agama dalam konteks budaya dan sosial tertentu. Hal ini melibatkan analisis terhadap praktik ritual, sistem nilai, dan simbol-simbol keagamaan yang berkembang dalam suatu komunitas. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berfokus pada doktrin teologis, tetapi juga pada bagaimana agama dihayati dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih holistik mengenai peran agama dalam membentuk dan dipengaruhi oleh struktur sosial dan nilai budaya 9. Memahami kompleksitas peran agama tersebut memerlukan pendekatan yang komprehensif, salah satunya melalui perspektif antropologis. Pendekatan ini menekankan pentingnya memahami agama dalam konteks budaya dan sosial tertentu, dengan melibatkan analisis terhadap praktik ritual, sistem nilai, dan simbolsimbol keagamaan yang berkembang dalam suatu komunitas. Tidak hanya berfokus pada doktrin teologis, pendekatan ini juga memperhatikan bagaimana agama dihayati dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman yang lebih holistik ini membantu melihat bagaimana agama membentuk dan dipengaruhi oleh struktur sosial dan nilai budaya, serta bagaimana peranannya dalam menjaga keseimbangan sosial di tengah perubahan yang terjadi (Riady, 2. Terdapat tantangan dalam memahami agama dari sudut pandang sosialbudaya. Kesenjangan pemahaman mengenai peran agama dalam struktur sosial dan nilai budaya masih sering terjadi. Agama kerap dipandang sebagai entitas yang terpisah dari aspek sosial dan budaya, padahal keduanya saling berinteraksi secara Kesenjangan ini dapat menyebabkan misinterpretasi terhadap praktik keagamaan dalam konteks budaya tertentu, yang berpotensi memicu konflik atau ketegangan sosial. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif diperlukan untuk menghindari kesalahpahaman tersebut dan memperkuat harmoni sosial dalam masyarakat yang beragam. Dalam konteks inilah kajian ini menjadi relevan, yaitu untuk menguraikan pandangan antropologi terhadap agama dalam konteks sosial-budaya, dengan menekankan bahwa agama bukan sekadar sistem kepercayaan atau praktik spiritual, melainkan bagian integral dari budaya yang mencerminkan nilai-nilai, norma, dan struktur sosial masyarakat. Melalui perspektif ini, kajian ini juga bertujuan untuk menjelaskan peran agama dalam membentuk pola interaksi sosial, identitas budaya. Ahmad Sugeng Riady. AuAgama Dan Kebudayaan Masyarakat Perspektif Clifford Geertz,Ay Jurnal Sosiologi Agama Indonesia 2, no. : 13Ae22. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. dan struktur sosial suatu komunitas. Selain itu, pembahasan ini akan menggali sejauh mana agama berkontribusi dalam membangun nilai-nilai budaya di tengah tantangan globalisasi dan perubahan sosial, serta bagaimana agama tetap relevan sebagai kekuatan pemersatu dalam masyarakat multikultural modern. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi metode studi literatur atau library research sebagai pendekatan utama. Metode ini memungkinkan peneliti untuk menelusuri dan merangkum berbagai teori, konsep, serta hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan topik yang dikaji. Studi literatur merupakan proses pengumpulan dan penyusunan informasi penting dari berbagai sumber, seperti jurnal, buku, dan dokumen lainnya, baik yang bersifat historis maupun kontemporer 10. Dalam proses pengumpulan data, penelitian ini menggunakan metode dokumentasi yang melibatkan pengamatan dan pencatatan terhadap berbagai dokumen dan laporan yang relevan. Data yang telah dikumpulkan kemudian diseleksi, dipilah, dan diklasifikasikan melalui tiga tahap. Pertama. Proses seleksi literatur diawali dengan identifikasi sumber melalui pencarian sistematis menggunakan kombinasi kata kunci strategis: ("agama" OR "religi") AND ("antropologi" OR "sosial-budaya") serta ("sistem simbol" OR "ritual") AND ("Indonesia" OR "multikultural"). Pencarian difokuskan pada basis data akademik utama seperti Google Scholar. Portal Garuda, dan repositori jurnal terindeks SINTA 1-4 untuk menjamin cakupan sumber yang komprehensif namun terarah sesuai ruang lingkup penelitian. Kedua. Sumber yang dipertimbangkan harus memenuhi tiga syarat utama: . fokus eksplisit pada hubungan agama-budaya dalam konteks sosial, . terbit dalam kurun 10 tahun terakhir . untuk menjamin aktualitas, dan . berasal dari studi berbasis empiris atau konseptual dalam jurnal bereputasi. sebaliknya, dilakukan eksklusi terhadap artikel tanpa metodologi jelas dan publikasi non-peerreviewed untuk memastikan kualitas akademik. Selanjutnya yang ketiga, verifikasi kredibilitas menggunakan kerangka CRAAP (Currency. Relevance. Authority. Accuracy. Purpos. diterapkan dengan memprioritaskan sumber O5 tahun pada aspek kekinian (Currenc. kecuali teori klasik fundamental, mengevaluasi otoritas (Authorit. melalui afiliasi penulis dan indeksasi jurnal, serta menguji akurasi (Accurac. melalui crosscheck dengan sumber primer dan analisis sitasi silangAiproses yang juga mencakup analisis bias untuk memastikan representasi berimbang perspektif teoretis sehingga John W Creswell. Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif. Kuantitatif. Dan Campuran, ed. Achmad Fawaid and Rianayati Kusmini Pancasari, 4th ed. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. menghindari dominasi pandangan tunggal dalam sintesis temuan penelitian dan menjamin literatur terpilih memiliki signifikansi teoretis-metodologis. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup jurnal ilmiah terpilih, buku akademis, dan dokumen pendukung yang memenuhi kriteria di atas. Jenis data yang diambil bersifat kualitatif, memungkinkan peneliti menangkap makna, simbol, dan praktik keagamaan yang tidak terukur secara kuantitatif. Analisis data dilakukan menggunakan metode deskriptif kualitatif, bertujuan menggambarkan temuan penelitian secara sistematis dan mendalam. Metode ini memungkinkan penguraian berbagai aspek agama terkait dinamika sosial-budaya, seperti praktik ritual, simbol keagamaan, dan peran agama dalam menjaga harmoni HASIL DAN PEMBAHASAN Agama sebagai Sistem Simbol Antropolog adalah ahli yang secara mendalam meneliti manusia, budaya, serta berbagai aspek kehidupan sosialnya. Salah satu tokoh yang berperan besar dalam kajian hubungan agama dan kebudayaan adalah Clifford Geertz. Ia menyampaikan pandangannya dalam wacana mengenai interaksi antara agama dan kebudayaan. Geertz menyatakan bahwa agama yang dipraktikkan dalam suatu masyarakat dapat dipahami tanpa harus menciptakan pertentangan dengan kebudayaan. Baginya, agama dan kebudayaan saling melengkapi. agama tidak dapat diwujudkan tanpa kebudayaan, sedangkan kebudayaan tanpa agama kehilangan esensi maknanya. Geertz melihat agama sebagai sebuah fakta budaya atau sebagai bagian integral dari sistem kebudayaan11. Ia menjelaskan bahwa agama adalah sebuah sistem simbol yang berfungsi membentuk suasana hati dan dorongan yang kuat, mendalam, serta bertahan lama pada manusia. Hal ini dilakukan dengan merumuskan pandangan tentang keteraturan dalam kehidupan, kemudian memberikan kesan bahwa pandangan tersebut benar-benar nyata, sehingga suasana hati dan dorongan tersebut tampak sangat realistis12. Menurutnya pintu masuk untuk mendalami kajian agama adalah melalui kebudayaan. Kebudayaan sendiri dapat dipahami sebagai dokumen atau teks dari tindakan yang bersifat publik, yang memiliki konteks mendalam, diciptakan oleh manusia, dan terekspresikan melalui perilaku sosial. Tobroni. Isomudin, and Asrori. AuKAJIAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI,Ay TADARUS: Jurnal Pendidikan Islam 10, no. : 20Ae39. 12 Tony Rudyansjah. Antropologi Agama: Wacana-Wacana Mutakhir Dalam Kajian Religi Dan Budaya, 1st (Jakarta: Universitas Indonesia, 2. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. Definisi ini menyoroti bahwa manusia adalah makhluk simbolik, di mana proses komunikasi yang dilakukan selalu melibatkan penggunaan simbol-simbol13. Namun, meskipun pendekatan simbolis Geertz relevan dalam menjelaskan agama sebagai sistem simbol yang membentuk pandangan hidup dan pola perilaku sosial, perspektif mutakhir mulai mengkritik keterbatasannya dalam memahami relasi kuasa yang lebih kompleks. Talal Asad, dalam Genealogies of Religion . , menegaskan bahwa simbol agama tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang netral atau sekadar representasi budaya yang terlepas dari struktur politik dan historis yang Menurut Asad, simbol-simbol agama adalah produk dari kekuatankekuatan sosial yang lebih luas, yang sering kali mencerminkan dinamika kuasa, dominasi, dan konflik dalam masyarakat. Simbol Agama dalam Kehidupan Sosial Penelitian ini mengungkapkan bahwa simbol-simbol agama memiliki dampak signifikan terhadap perilaku individu maupun kelompok dalam masyarakat. Simbolsimbol ini, seperti tempat ibadah dan berbagai ritual keagamaan, sering kali berfungsi tidak hanya sebagai elemen spiritual, tetapi juga sebagai penguat identitas sosial. Simbol-simbol tersebut mampu mempererat solidaritas antaranggota komunitas, menciptakan rasa kebersamaan yang mendalam. Masjid berfungsi tidak hanya sebagai tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga sebagai pusat berbagai aktivitas sosial dan budaya. Masjid menjadi simbol pemersatu masyarakat melalui penyelenggaraan berbagai program, seperti pengajian rutin, kegiatan bakti sosial, dan perayaan hari besar keagamaan15. Simbol agama juga berperan dalam membentuk perilaku kolektif yang memberikan dampak positif pada kehidupan sosial masyarakat. Salah satu contohnya adalah tradisi tahlilan yang berkembang di kalangan masyarakat Jawa. Tahlilan merupakan ritual doa untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia, yang biasanya dilakukan pada hari ke-7, 40, 100, dan 1000 setelah kematiannya 16. Dalam pelaksanaan tahlilan, seluruh anggota masyarakat berpartisipasi, berbagi peran, dan saling mendukung dalam suasana kebersamaan. Melalui interaksi yang terjadi selama Riady. AuAgama Dan Kebudayaan Masyarakat Perspektif Clifford Geertz. Ay Talal Asad. Genealogies of Religion: Discipline and Reasons of Power in Christianity and Islam (Maryland: The Johns Hopkins University Press, 1. 15 Riady. AuAgama Dan Kebudayaan Masyarakat Perspektif Clifford Geertz. Ay 16 Hendi Sugianto. AuDIALEKTIKA AGAMA DAN BUDAYA (Kajian Sosio-Antropologi Agama Dalam Teks Dan Masyaraka. ,Ay Al-Tadabbur: Jurnal Kajian Sosial. Peradaban Dan Agama 5, no. : 409Ae32. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. ritual, hubungan antarindividu menjadi semakin erat, menciptakan jaringan sosial yang lebih kuat dan harmonis. Oleh karena itu, tradisi ini tidak hanya memiliki dimensi spiritual sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi orang yang sudah meninggal, tetapi juga berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan sosial. Dalam situasi konflik sosial, simbol-simbol agama bisa menjadi penghubung untuk menyatukan perbedaan. Doa bersama atau penggunaan tempat ibadah sebagai lokasi dialog sering kali membantu meredakan ketegangan dan menciptakan ruang yang inklusif untuk mencari solusi. Selain itu, ritual keagamaan seperti pembacaan kitab suci tidak hanya memperkokoh keimanan, tetapi juga mempererat hubungan antarindividu, terutama saat menghadapi perubahan sosial yang kompleks 17. Dengan cara ini, simbol agama menjadi elemen dinamis yang mampu menjaga stabilitas sosial sekaligus mendorong terciptanya harmoni dalam masyarakat. Agama sebagai Solidaritas Sosial Dalam kajian sosiologi, agama sering dipahami sebagai salah satu elemen fundamental yang berperan dalam membentuk struktur dan dinamika masyarakat. Selain berfungsi sebagai pedoman spiritual, agama juga memiliki dimensi sosial yang kuat, yaitu sebagai mekanisme untuk menciptakan solidaritas di antara individu. Peran ini terlihat dari bagaimana agama tidak hanya menjadi ajang untuk menjalankan ritus keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai alat pengikat yang mempererat hubungan antaranggota masyarakat. Melalui simbol, ritual, dan ajarannya, agama mampu menghadirkan nilai-nilai kolektif yang mendukung terciptanya keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Pemikiran ini sejalan dengan perspektif Emile Durkheim, yang menekankan pentingnya agama dalam membangun solidaritas sosial18. Emile Durkheim menggambarkan agama sebagai sistem kepercayaan dan praktik yang terorganisir, berkaitan dengan hal-hal yang dianggap kudus, yaitu objek yang dipisahkan dan diyakini memiliki kekuatan untuk menyatukan anggota masyarakat dalam sebuah komunitas moral atau gereja. Berdasarkan definisi ini, agama dipandang sebagai fenomena kolektif yang pada hakikatnya merupakan produk sosial yang bertujuan menyatukan masyarakat dalam satu komunitas moral 19. Dalam ajaran agama, terdapat dua kategori utama: yang kudus dan yang profan. HalPutri. Adam, and Sakka. AuPeran Antropologi Dalam Mempelajari Pengaruh Agama Terhadap Perubahan Sosial. Ay 18 Arifuddin M Arif. AuPERSPEKTIF TEORI SOSIAL EMILE DURKHEIM DALAM SOSIOLOGI PENDIDIKAN,Ay Moderasi: Jurnal Studi Ilmu Pengetahuan Sosial 1, no. : 1Ae14. 19 Tobroni. Isomudin, and Asrori. AuKAJIAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI. Ay Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. hal yang kudus dianggap suci, dilihat sebagai representasi simbolik dari realitas sosial, serta memiliki kualitas yang transendental. Sebaliknya, profane merujuk pada hal-hal yang bersifat biasa atau tidak memiliki nilai kesakralan. Agama dipahami sebagai representasi kolektif dalam bentuknya yang ideal, berfungsi sebagai alat untuk memperkuat kesadaran kolektif, khususnya melalui berbagai ritual keagamaan20. Seperti dalam budaya Massorong, tradisi masyarakat Pekkabata. Pinrang. Sulawesi Selatan berupa prosesi menghanyutkan makanan di sungai menggunakan walasuji. Tradisi ini diawali dengan persiapan makanan simbolis yang memiliki makna mendalam, diikuti dengan pembacaan doa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran bayi dan kelancaran prosesi Massorong juga menjadi sarana permohonan perlindungan dan keberkahan, serta mencerminkan keterkaitan nilai agama dengan budaya lokal. Tradisi ini mempererat solidaritas sosial dengan menciptakan rasa kebersamaan di masyarakat, mengikat individu dalam kerja sama sosial, dan mendukung hubungan kelompok serta nilai-nilai moral bersama21. Agama, melalui ritual-ritualnya, menciptakan kesadaran kolektif yang mempererat hubungan sosial dan membangun kohesi di tengah masyarakat. Pendekatan ini memiliki kaitan dalam mengatasi degradasi moral dan krisis identitas generasi muda, khususnya di lembaga pendidikan Islam. Dengan mengintegrasikan nilai keagamaan dan kearifan budaya lokal dalam proses pendidikan, generasi muda dapat dibentuk menjadi individu berkarakter yang mampu berkontribusi positif di lingkungan sosialnya 22. Kesadaran kolektif yang diciptakan agama tidak hanya berfungsi dalam pembentukan solidaritas sosial tetapi juga dalam penetapan norma-norma yang mengarahkan perilaku individu agar sesuai dengan kehendak kolektif masyarakat. Dalam Islam, misalnya, ajaran zakat sebagai wujud nyata dari penguatan solidaritas Praktik keagamaan seperti doa bersama dan pembacaan kitab suci juga mampu mempererat ikatan sosial, terutama dalam menghadapi perubahan sosial yang Selain itu, agama tidak hanya bertindak sebagai pengatur norma, tetapi juga Arif. AuPERSPEKTIF TEORI SOSIAL EMILE DURKHEIM DALAM SOSIOLOGI PENDIDIKAN. Ay Mirawati. Wahyuddin Bakri, and Abd Wahidin. AuBudaya AoMassorongAo Dalam Perspektif Sosiologi Agama,Ay Sosiologia: Jurnal Agama Dan Masyarakat 1 . : 1Ae17. 22 Mahyuddin. AuSTUDI ANTROPOLOGI AGAMA TENTANG PENGUATAN NILAI KEAGAMAAN SEBAGAI BASIS PENDIDIKAN KARAKTER DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM,Ay Moderasi: Jurnal Studi Ilmu Pengetahuan Sosial 3, no. : 59Ae76. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. berfungsi sebagai alat untuk melestarikan tradisi sekaligus mendorong nilai-nilai keadilan dan inklusi sosial23. Durkheim memperkuat gagasan ini dengan memandang agama sebagai kekuatan yang mencegah disintegrasi sosial, terutama di masyarakat yang mengalami perubahan cepat. Dalam masyarakat yang heterogen, agama memberikan struktur sosial yang stabil dengan menciptakan makna dan tujuan bersama, yang penting untuk memediasi ketegangan dalam masyarakat plural. Konsep ini sejalan dengan pandangan dalam konteks pendidikan multikultural, di mana agama dapat mendorong toleransi dan menghormati perbedaan. Pendidikan agama yang inklusif membantu menanamkan nilai-nilai kebersamaan, mendorong dialog antarbudaya, dan meminimalisir potensi konflik yang dapat memicu disintegrasi sosial24. Namun, pandangan Durkheim mengenai agama sebagai pemersatu sosial juga menghadapi kritik. Teorinya dianggap terlalu idealistik, terutama ketika agama justru menjadi faktor pemicu konflik. Dalam kajian mengenai kekerasan agama dan konflik sektarian menunjukkan bagaimana agama tidak selalu berperan dalam membangun solidaritas sosial, tetapi kadang-kadang justru memperburuk disintegrasi sosial. Sebuah analisis tentang kekerasan agama yang dibahas dalam studi literatur tentang kekerasan agama menunjukkan bahwa agama dapat menjadi alat untuk membenarkan perpecahan dan kekerasan. Analisis ini menunjukkan bahwa agama memiliki potensi dualistik: sebagai kekuatan pemersatu, tetapi juga sebagai alat yang dapat memperbesar ketegangan sosial jika disalahgunakan25. Oleh karena itu, pemahaman terhadap peran agama harus mencakup pendekatan yang seimbang, yang melihat potensi positif dan negatifnya dalam membentuk masyarakat. Agama sebagai Alat Adaptasi Budaya Agama berfungsi sebagai alat adaptasi budaya dengan membantu masyarakat menyesuaikan diri terhadap perubahan sosial, lingkungan, dan tantangan kehidupan. Dalam pandangan Bronislaw Malinowski, seorang tokoh penting dalam antropologi, agama memiliki mekanisme yang membantu masyarakat menghadapi situasi yang sulit atau tidak terduga. Ia mendefinisikan agama sebagai sistem sosial yang diungkapkan melalui mitos dan upacara, bertujuan menjalin hubungan komunal dengan makhluk rohani melalui permohonan, dengan upacara yang memiliki makna Putri. Adam, and Sakka. AuPeran Antropologi Dalam Mempelajari Pengaruh Agama Terhadap Perubahan Sosial. Ay 24 Ruslan Ibrahim. AuPendidikan Multikultural: Upaya Meminimalisir Konflik Dalam Era Pluralitas Agama,Ay El-Tarbawi: Jurnal Pendidikan Islam 1, no. : 115Ae27. 25 Rohmawati. AuANTROPOLOGI KEKERASAN AGAMA Studi Pemikiran Jack David Eller. Ay Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. sosial dan tujuan intrinsik pada dirinya sendiri 26. Malinowski juga menekankan bahwa agama memiliki fungsi mendasar dalam menjawab permasalahan yang tidak dapat diselesaikan oleh akal sehat rasional maupun teknologi. Fungsi ini membuat agama menjadi alat untuk memberikan rasa aman dan makna dalam situasi yang sulit atau tidak terduga, sehingga memperkokoh peran agama dalam struktur sosial Kajian mengenai ritus keagamaan masyarakat Jepara sebelum memulai kehidupan baru, seperti ziarah ke makam leluhur dengan membawa makanan, berdoa, dan makan bersama, menunjukkan bahwa ritus ini berfungsi sebagai mekanisme untuk memitigasi kecemasan. Tradisi ini memberikan perasaan nyaman, keyakinan akan kebaikan, keselamatan, dan keberkahan, sehingga masyarakat merasa lebih mantap dalam memulai kehidupan baru. Inti dari ritual ini adalah bertawasul dan berdoa kepada Allah SWT untuk memohon kebaikan serta Berdasarkan teori fungsionalisme Malinowski, ritus ini memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial, seperti rasa aman, ketenangan, dan kesejahteraan, sehingga membantu masyarakat menghadapi masa depan dengan lebih percaya Selain agama. Malinowski juga membahas konsep magi, yang ia definisikan sebagai upaya seseorang menggunakan kekuatan tertentu untuk mencapai tujuan pribadi, seperti membalas dendam, memperoleh cinta yang diinginkan, menyembuhkan penyakit, atau meraih kekayaan. Meskipun agama dan magi samasama berkaitan dengan kekuatan yang lebih besar, magi lebih bersifat manipulatif, di mana seseorang berusaha mengendalikan kekuatan alam demi memenuhi keinginan Dalam pandangan ini, magi lebih terfokus pada pencapaian tujuan individu, sementara agama berperan dalam memperkuat ikatan sosial dan spiritual di antara anggota masyarakat. Perbedaan mendasar antara agama dan magi ini juga dijelaskan oleh Malinowski melalui peran keduanya dalam masyarakat. Agama, menurutnya, berfungsi sebagai alat untuk mempererat hubungan sosial dan spiritual, dengan fokus pada partisipasi kolektif dan nilai-nilai bersama. Sebaliknya, magi lebih bersifat pragmatis dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan individu secara spesifik, tanpa Ali Mursyid Azisi and Moch Qoyyum Mahfudz. AuHubungan Agama Dan Magi Dalam Fenomenologi Agama,Ay Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama 5, no. : 123Ae30, https://doi. org/10. 15575/hanifiya. 27 Rosidah. AuPendekatan Antropologi Dalam Studi Agama. Ay 28 Muhammad Jauharul Maknun and Zulia Nur Syarifah. AuRitus Keagamaan Masyarakat Jepara Dalam Memulai Kehidupan Baru,Ay Minaret Journal of Religious Studies 1, no. : 1Ae13. 29 Nur Falikhah. AuSantet Dan Antropologi Agama,Ay Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah 11, no. 129Ae38. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. terlalu mempedulikan kepentingan sosial. Hal ini menegaskan bahwa agama lebih memperhatikan kesejahteraan bersama, sedangkan magi berorientasi pada tujuan Konsep kebudayaan menurut Malinowski memberikan wawasan yang lebih luas mengenai peran agama dan magi dalam masyarakat. Ia mendefinisikan kebudayaan sebagai upaya manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan hidupnya dan menjaga kelangsungan hidupnya berdasarkan tradisi yang dianggap paling Dalam kerangka ini, agama muncul sebagai bagian integral dari kebudayaan yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai universal, sementara magi sering kali mencerminkan usaha pragmatis untuk mengatasi tantangan spesifik. Hubungan erat antara agama, magi, dan kebudayaan menunjukkan bagaimana manusia menggunakan berbagai sistem kepercayaan untuk memahami dan mengelola kompleksitas kehidupan. Agama, dengan perannya yang luas, tidak hanya menjadi sistem moral dan etika, tetapi juga berfungsi sebagai pedoman yang memenuhi kebutuhan emosional melalui pengalaman religius yang memberikan rasa aman, orientasi hidup, dan motivasi spiritual. Sebagai sistem budaya, agama membentuk makna mendalam bagi manusia, membantu mereka menghadapi tantangan hidup yang tidak dapat diatasi dengan logika atau teknologi semata. Selain itu, agama memainkan peran penting dalam menciptakan stabilitas emosional melalui ritual dan simbol yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai sakral31. Dalam perspektif antropologi, agama dipandang sebagai alat untuk memahami realitas sosial dan psikologis manusia, sekaligus memberi kekuatan moral dan spiritual yang mengarahkan individu dan masyarakat menuju harmoni dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh Sosial-Budaya Agama di Masyarakat Modern Agama sebagai sarana identitas sosial dan budaya membentuk cara individu dan kelompok mendefinisikan diri mereka dalam masyarakat modern. Sebuah kajian mengungkap bagaimana budaya pop memengaruhi transformasi identitas Muslim, khususnya di kalangan generasi muda, dengan menciptakan ruang bagi agama untuk berfungsi sebagai penghubung antara nilai tradisional dan modernitas. Melalui media sosial, musik, mode, dan film, generasi muda Muslim mengekspresikan identitas Abdul Wahab Syakhrani. AuBUDAYA DAN KEBUDAYAAN: TINJAUAN DARI BERBAGAI PAKAR. WUJUD-WUJUD KEBUDAYAAN, 7 UNSUR KEBUDAYAAN YANG BERSIFAT UNIVERSAL Abdul,Ay Cross-Border 5, no. : 782Ae91. 31 Dwi Prasetyo Adi et al. AuMATERI PENDIDIKAN KEAGAMAAN PERSPEKTIF ANTROPOLOGI,Ay Insan Cendekia: Jurnal Pendidikan 4, no. : 25Ae35, https://doi. org/https://doi. org/10. 54012/jurnalinsancendekia. 255 MATERI. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. keislaman mereka dengan cara yang kreatif dan relevan secara budaya, tanpa meninggalkan nilai-nilai inti agama. Misalnya, tren hijab fashion mencerminkan kemampuan untuk mengintegrasikan simbol keagamaan dengan elemen budaya pop, menciptakan identitas hibrid yang mencerminkan keberagaman. Selain itu, agama menjadi landasan bagi generasi muda untuk menavigasi dinamika globalisasi dan membangun identitas yang adaptif. Kajian ini juga menyoroti peran media sosial sebagai platform yang memperkuat identitas keislaman sambil membuka ruang dialog antarbudaya, menunjukkan bahwa agama tetap relevan sebagai panduan dalam menyelaraskan nilai spiritual dengan perubahan budaya kontemporer 32. Relevansi agama sebagai identitas budaya tidak hanya terlihat pada generasi muda, tetapi juga dalam konteks masyarakat multikultural Indonesia. Islam, sebagai agama mayoritas, mengintegrasikan nilai-nilai universal ke dalam budaya lokal dan Dalam masyarakat yang beragam, agama menjadi elemen yang menyatukan berbagai kelompok melalui nilai-nilai religiusitas, toleransi, dan solidaritas sosial. Nilai-nilai ini membangun hubungan yang harmonis dan memperkuat kohesi sosial, memungkinkan masyarakat untuk mengelola keragaman tanpa mengorbankan identitas budaya mereka. Dalam konteks ini. Islam menjadi katalisator untuk membangun solidaritas lintas budaya. Proses ini mendukung pengembangan budaya lokal yang khas sambil mempromosikan kerukunan antar kelompok, memperkuat posisi agama sebagai perekat sosial di era modern33. Transformasi identitas yang didukung oleh budaya pop dan multikulturalisme menegaskan bahwa agama dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. tingkat individu maupun masyarakat, agama menyediakan kerangka nilai yang adaptif terhadap perubahan tanpa kehilangan esensi spiritualnya. Peran agama menjadi sangat penting dalam membantu masyarakat menavigasi tantangan globalisasi dan membangun komunitas yang inklusif, harmonis, dan berdaya. Integrasi nilai-nilai agama ke dalam budaya kontemporer memperlihatkan bagaimana agama terus menjadi sarana transformasi sosial menuju kesejahteraan budaya yang berkelanjutan34. Dalam masyarakat multikultural, agama berperan sebagai penguat identitas nasional sekaligus landasan nilai untuk membangun karakter bangsa. Islam, sebagai Syafira Azzahra. AuBudaya Pop Dan Transformasi Identitas Muslim: Pendekatan Kualitatif,Ay Jurnal Riset Sosial Humaniora Dan Pendidikan 2, no. : 186Ae203. 33 Sri Dewi Wulandari. AuPENGEMBANGAN BUDAYA ISLAM PADA MASYARAKAT MULTIKULTURAL INDONESIA MENUJU CULTURAL WELLBEING,Ay Fikri: Jurnal Kajian Agama. Sosial. Dan Budaya 6, no. : 34Ae49. 34 Atha Dara Radeisyah et al. AuIdentitas Nasional Sebagai Fondasi Pembangunan Karakter Bangsa Di Tengah Tantangan Multikulturalisme Indonesia,Ay JISOSEPOL: JURNAL ILMU SOSIAL EKONOMI DAN POLITIK 2, no. : 82Ae95. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. salah satu contohnya, menunjukkan bagaimana nilai religiusitas dapat menciptakan harmoni di tengah tantangan globalisasi dan keberagaman. Agama tidak hanya berfungsi sebagai pedoman spiritual tetapi juga sebagai elemen sosial yang mempromosikan solidaritas dan toleransi, menciptakan koneksi yang memperkuat kohesi dalam masyarakat yang majemuk 35. Pendidikan multikultural memberikan penekanan pada pentingnya integrasi nilai-nilai agama dalam membangun karakter bangsa yang adaptif terhadap Kurikulum berbasis multikultural dirancang untuk menanamkan penghormatan terhadap perbedaan dan memperkuat nilai-nilai universal yang bersumber dari agama. Transformasi peran agama ini tampak jelas dalam upaya pendidikan yang menanamkan keterbukaan terhadap pluralisme budaya sambil tetap menjaga nilai moral yang berasal dari keyakinan keagamaan36. Agama terus memainkan peran penting dalam membentuk kerangka nilai yang relevan di masyarakat multikultural. Transformasi ini menegaskan bagaimana agama dapat berfungsi sebagai elemen spiritual dan kultural yang menjembatani perbedaan serta mendukung pembentukan masyarakat global yang lebih inklusif. Peran ini menjadikan agama tetap relevan sebagai panduan nilai-nilai spiritual yang kokoh di tengah tantangan globalisasi dan multikulturalisme yang kompleks. KESIMPULAN Agama dalam pandangan antropologi tidak hanya dipahami sebagai pedoman spiritual tetapi juga sebagai sistem simbol dan elemen budaya yang berperan dalam membentuk struktur sosial dan nilai-nilai budaya masyarakat. Agama, sebagai sistem simbol dan elemen budaya, mampu membentuk solidaritas sosial, identitas budaya, dan adaptasi terhadap perubahan sosial. Simbol dan ritual keagamaan berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan sosial dan membangun kesadaran kolektif, menciptakan harmoni di masyarakat multikultural. Selain itu, agama dapat memberikan rasa aman dan makna dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus menjadi alat untuk menjaga stabilitas sosial. Perspektif antropologi menegaskan bahwa agama bukan hanya pedoman spiritual, tetapi juga instrumen sosial-budaya yang mampu menavigasi dinamika globalisasi dan perubahan sosial, baik sebagai kekuatan pemersatu maupun alat adaptasi terhadap tantangan Arif Rohman Hakim and Jajat Darojat. AuPendidikan Multikultural Dalam Membentuk Karakter Dan Identitas Nasional,Ay Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan 8, no. : 1337Ae46. 36 Hakim and Darojat. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Rozzaqul Hasan, et. Untuk memaksimalkan peran agama dalam masyarakat, penting untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam pendidikan multikultural untuk membangun generasi yang toleran dan adaptif terhadap keberagaman. Kebijakan pemerintah dapat mendukung pengembangan program berbasis agama yang inklusif, seperti pelatihan lintas budaya dan dialog antaragama, untuk mendorong kohesi sosial di masyarakat majemuk. Kajian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi peran agama dalam konteks globalisasi yang lebih luas, khususnya bagaimana agama dapat tetap relevan dalam menghadapi konflik sosial dan disintegrasi masyarakat, sambil menekankan pentingnya pendekatan yang seimbang terhadap potensi positif dan negatif agama. DAFTAR PUSTAKA