Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. PENGETAHUAN DAN KEBENARAN Membincang Karakteristik Epistemologi Barat dan Epistemologi Timur Yulius Setyo Nugroho Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta yuliusnugroho256@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract This research aims to explore the differences and similarities between the characteristics of Western epistemology and Eastern epistemology. This research uses a qualitative method by conducting a study of literature and literature, both in the form of books, journals and other supporting documents. The results showed that first, the characteristics of western epistemology include: . the approach to knowledge is based on rationality and sensory experience, . the knowledge obtained is objective and analytical, . the relationship with religion is separate, and . the validity of knowledge is obtained through correspondence theory of truth , coherence theory of truth and pragmatic theory of truth . second, the characteristics of eastern epistemology include: . the approach to knowledge is based on aspects of intuition. the knowledge obtained is subjective and synthesized. the relationship with religion is related, especially in causal relations. the validity of knowledge is obtained through consensus theory of truth and aletheia theory of truth. and third, western epistemology and eastern epistemology have similarities in several respects, namely about . the mystery of knowledge and truth, . humans as subject-objects of knowledge and truth, and . the usefulness of knowledge and truth. Keywords: philosophy, truth, knowledge, western epistemology, eastern epistemology. Pengetahuan dan Kebenaran: Membincang Karakteristik Epistemologi Barat dan Epistemologi Timur Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengali perbedaan dan persamaan karakteristik epistemologi barat dan epistemologi timur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan kajian terhadap pustaka dan literatur, baik dalam bentuk buku, jurnal maupun dokumen pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertama, karakteristik epistemology barat meliputi: . pendekatan pengetahuan didasarkan pada rasionalitas dan pengalaman indrawi, . pengetahuan yang didapatkan bersifat objektif dan analitis, . hubungan dengan agama bersifat terpisah, dan . validitas pengetahuan diperoleh melalui correspondence theory of truth . ebenaran korespondens. , coherence theory of truth . ebenaran koherens. dan pragmatic theory of truth . ebenaran pragmati. kedua, karakteristik epistemologi timur meliputi: . pendekatan terhadap pengetahuan didasarkan pada aspek intuisi. pengetahuan yang didapatkan bersifat subjektif dan sintesis. hubungan dengan agama bersifat terkait, khususnya dalam relasi sebab akibat. validitas pengetahuan diperoleh melalui consensus theory of truth . ebenaran konsensu. dan aletheia theory of truth . ebenaran penyingkapan/ pewahyua. dan ketiga, epistemologi barat dan epistemologi timur memiliki kesamaan dalam beberapa hal, yaitu tentang . misteri pengetahuan dan kebenaran, . manusia sebagai subjek-objek pengetahuan dan kebenaran, dan . kebermanfaatan pengetahuan dan kebenaran. Kata-kata kunci: filsafat, kebenaran, pengetahuan, epistemologi barat, epistemologi timur. Pendahuluan Berfilsafat merupakan tindakan memahami dan mengerti makna serta nilai-nilai yang ada dalam dunia, bahkan alam semesta. Tindakan tersebut dilakukan dengan berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang menjadi misteri kehidupan. 1 Pertanyaan tentang asal mula, sifat dasar dan tujuan alam semesta adalah salah satu di antaranya. 2 Dalam pemikiran mistik masyarakat Jawa, pertanyaan-pertanyaan tersebut terangkum dalam ajaran tentang sangkan paraning dumadi . sal dan tujuan hidu. 3, yang dibagi ke dalam sangkan paraning Juhaya S. Praja. Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika (Jakarta: Kencana, 2. , 6Ae7. Sabiatul Hamdi et al. AuMengelaborasi Sejarah Filsafat Barat dan Sumbangsih Pemikiran Para Tokohnya,Ay Jurnal Pemikiran Islam 2, no. 1 (December 5, 2. : 152, https://doi. org/10. 22373/jpi. Wahyu Budiantoro. AuKonsep Sangkan Paraning Dumadi Dalam Syiir Sun Ngawiti Karya Kiai SaAodullah Majdi,Ay Jurnal Penelitian Agama 22, no. 2 (December 28, 2. : 155, https://doi. org/10. 24090/jpa. Yulius Setyo Nugroho Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies raga . sal dan tujuan jasa. dan sangkan paraning jiwa . sal dan tujuan ru. 4 Oleh sebab itu, berfilsafat adalah tindakan yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Secara etimologis, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia yang berakar kata philos . atau philia . ersahabatan, tertarik kepad. dan sophos . ebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan intelegens. , sehingga secara harfiah kata philosophia berarti cinta akan kebijaksanaan. 6 Sedangkan secara historis, filsafat merupakan disiplin ilmu yang sudah sangat tua. Sejarah menunjukkan bahwa disiplin ilmu filsafat, setidaknya di Barat, sudah dimulai sejak era Yunani kuno sekitar abad ke-5 SM. 7 Bahkan, ada juga yang memperkirakan sejak abad ke-7 SM. Selain itu secara geografis, alasan yang mendasari perkembangan filsafat lahir di daerah Yunani adalah bahwa bangsa Yunani tidak mengenal sistem kasta pendeta, sehingga kehidupan masyarakat lebih bebas, secara khusus dalam hal berpikir. Kenyataan inilah yang membedakan dengan daerah Mesir dan Babilonia, meskipun terdapat peradaban penting yang jauh lebih tua, sekitar tahun 4000 SM, tetapi perkembangan filsafat tidak berawal dan berasal dari sana. 9 Dengan kata lain, keadaan sistem sosial kultural masyarakat berpengaruh dan berbepan penting dalam perkembangan pemikiran filsafat. Sebagai sebuah disiplin ilmu, filsafat tidak bersifat tunggal. Mengutip Sariasumantri. Rusdiana mengatakan bahwa filsafat memiliki tiga landasan . dasar, yaitu: ontologis, epistemologi, dan aksiologi. Pertama, landasan ontologis menggumuli pertanyaan apa yang dikaji oleh pengetahuan. kedua, landasan epistemologi menggumuli pertanyaan bagaimana cara mendapatkan pengetahuan. dan ketiga, landasan aksiologi menggumuli pertanyaan untuk apa pengetahuan dipergunakan. 10 Juhaya S. Praja menyebutkan tiga landasan tersebut dengan istilah Teori Hakikat. Teori Pengetahuan dan Teori Nilai. 11 Dari tiga cabang besar tersebut, lahirlah aliran-aliran filsafat yang lebih spesifik, sehingga filsafat menjadi disiplin ilmu yang luas. Nur Kolis. Ilmu Makrifat Jawa Sangkan Paraning Dumadi: Eksplorasi Sufistik Konsep Mengenal Diri Dalam Pustaka Islam Kejawen Kunci Swarga Mifahul Djanati (Ponorogo: CV. Nata Karya, 2. , 201. Asri Rahmatillah. AuFilsafat: Sarana Berpikir pada Manusia,Ay Manhajuna: Jurnal Pendidikan Agama Islam 1, 1 (December 31, 2. : 43. Rahmatillah, 44Ae45. Praja. Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika, 1Ae2. Rusdiana. Filsafat Ilmu (Bandung: Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), 2. , 13. AuView of Berfilsafat Di Era Teknologi,Ay 50, accessed December 27, 2023, https://journal. id/unj/index. php/jsq/article/view/4707/3514. Hamdi et al. AuMengelaborasi Sejarah Filsafat Barat dan Sumbangsih Pemikiran Para Tokohnya,Ay 155. Hamdi et al. , 155. Rusdiana. Filsafat Ilmu, 32. Rahmatillah. AuFilsafat,Ay 46. Nafiur Rofiq. AuPeranan Filsafat Ilmu Bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan,Ay FALASIFA : Jurnal Studi Keislaman 9, no. 1 (March 1, 2. : 164Ae65, https:// org/10. 36835/falasifa. Praja. Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika, 23. Pengetahuan dan Kebenaran: Membincang Karakteristik Epistemologi Barat dan Epistemologi Timur Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Aliran-aliran filsafat berkembang sesuai dengan konteks dan wilayahnya, karena berfilsafat merupakan upaya menjawab, menanggapi dan menyelesaikan problem yang ada di sekitarnya, baik berkaitan dengan realitas alam . Tuhan (Theo. maupun manusia . Kenyataan inilah yang kemudian melahirkan istilah filsafat barat dan filsafat 12 Filsafat barat berasal dari tradisi filsafat Yunani kuno dan berkembang di wilayah Eropa serta daerah-daerah jajahannya. Sedangkan filsafat timur berasal dari tradisi filsafat India. Cina (Republik Rakyat Tiongko. dan daerah sekitar yang dipengaruhi kebudayaannya. Perbedaan wilayah ternyata tidak hanya melahirkan istilah filsafat barat dan filsafat timur, melainkan juga melahirkan perbedaan pemaknaan terhadap tiga landasan dasar filsafat, yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Oleh sebab itu, pengaruh dari perbedaan filsafat barat dan filsafat timur melahirkan pula istilah ontologi barat dan ontologi timur, epistemologi barat dan epistemologi timur, serta aksiologi barat dan aksiologi timur. Melihat keluasan dan keberagaman yang terdapat dalam disiplin ilmu filsafat, maka tulisan ini akan berfokus pada filsafat epistemologi. Secara khusus terkait perbedaan epistemologi filsafat barat dan epistemologi filsafat timur dalam cara mendapatkan Akan tetapi, sekalipun tulisan ini dibatasi pada pembahasan tentang landasan epistemologi, singgungan dengan landasan ontologi dan aksiologi sedikit banyak tentu tidak dapat dihindari. Sebab, membicarakan bagaimana cara pengetahuanAitermasuk kebenaranAididapatkan . , tidak dapat dilepaskan dari pencarian apa subjek atau objek pengetahuan . ntologis/ hakika. dan untuk apa pengetahuan dipergunakan . ksiologi/ nila. Oleh sebab itu, rumusan masalah dalam tulisan ini berfokus pada bagaimana perbedaan karakteristik epistemologi barat dan epistemologi timur. serta sejauh mana epistemologi barat dan epistemologi timur dapat AuberjumpaAy dalam mencari pengetahuan/ kebenaran bersama-sama. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tulisan ini dipandu oleh tiga pertanyaan penelitian berikut: bagaimana karakteristik epistemologi barat dalam memperoleh pengetahuan/ kebenaran? bagaimana karakteristik epistemologi timur dalam memperoleh pengetahuan/ kebenaran? sejauh mana karakteristik epistemologi barat dan epistemologi timur berjumpa untuk memperoleh pengetahuan/ kebenaran bersama? Hamdi et al. AuMengelaborasi Sejarah Filsafat Barat dan Sumbangsih Pemikiran Para Tokohnya,Ay 152. Velga Rahmadini. AuFILSAFAT HUKUM SEBAGAI CAHAYA HUKUM DARI KEHIDUPAN MANUSIA,Ay 2Ae3, accessed December 28, 2023, https://scholar. com/scholar?q=cache:4Aw_gGkUjxcJ:scholar. m/ filsafat hukum sebagai cahaya hukum&hl=en&as_sdt=0,5. Rusdiana. Filsafat Ilmu, 46. Yulius Setyo Nugroho Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Metodologi Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan kajian terhadap pustaka dan literatur yang sesuai dengan topik bahasan, baik berupa buku, jurnal maupun dokumen pendukung lainnya. 15 Proses penulisan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: . menjelaskan pengertian epistemologi, hakikat pengetahuan, jenis pengetahuan, sumber pengetahuan, dan validitas pengetahuan. menguraikan masing-masing karakteristik epistemologi barat dan epistemologi timur. memberikan analisis terkait perjumpaan epistemologi barat dan epistemologi timur dalam memperoleh pengetahuan/ kebenaran Filsafat Epistemologi Pengertian Epistemologi Istilah epistemologi pertama kali digunakan oleh J. Feriere pada tahun 1854 M. Tujuan awal penggunaan istilah ini adalah untuk membedakan antara dua cabang filsafat, yaitu: ontologi dan epistemologi. Secara etimologi, epistemologi berasal dari dua kata bahasa Yunani episteme . dan logos . , sehingga secara harfiah epistemologi diartikan sebagai teori Dalam bahasa Inggris epistemologi disebut sebagai the theory of knowledge yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan filsafat ilmu/ filsafat pengetahuan. Oleh sebab itu, persoalan pokok yang dibahas dalam epistemologi meliputi pertanyaan-pertanyaan: apa pengetahuan itu? apa sumber-sumber pengetahuan? dari mana pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana mengetahuinya? apakah pengetahuan kita itu benar?16 Para ahli memiliki definisi yang berbeda tentang epistemologi. Mengutip Mujamil Qomar. Rusdiana menerangkan bahwa pemaknaan yang beragam tentang epistemologi dikarenakan perbedaan sudut pandangan dari masing-masing ahli. Nina W. Syam mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang mempelajari benar dan tidaknya Muhmidayeli memahami epistemologi sebagai teori pengetahuan tentang metode-metode dan dasar-dasar pengetahuan, terkhusus berkaitan dengan batas-batas dan validitas pengetahuan. Selanjutnya. Hardono Hadi menjelaskan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari kodrat dan cakupan pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan tentang pengetahuan yang dimiliki. Dagobert D. John W. Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative and Mixed Methods Approaches, 4th ed. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 255. Praja. Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika, 24. Pengetahuan dan Kebenaran: Membincang Karakteristik Epistemologi Barat dan Epistemologi Timur Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Runes memaparkan bahwa epistemologi merupakan cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan. Sedangkan Azyumardi Azra menjelaskan epistemologi adalah ilmu yang membahas keaslian, pengertian, struktur, metode-metode dan validitas ilmu pengetahuan. Jadi dapat disimpulkan jika epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode dan sahnya pengetahuan18. atau sebuah teori sistematik mengenai pengetahuan. Hakikat Pengetahuan Menurut Rusdiana, terdapat dua teori yang dipakai untuk mengetahui hakikat pengetahuan, yaitu realisme dan idealisme. Pertama, teori realisme memahami bahwa pengetahuan adalah gambaran sesungguhnya dari segala hal yang terdapat di dunia dan alam nyata. Hakikat pengetahuan semata-sama dilihat sebagai yang tampak di alam semesta, sehingga segala hal yang tidak tampak . on-inderaw. ditolak dan dianggap sebagai bukan pengetahuan. Kedua, teori idealisme memahami bahwa pengetahuan adalah proses mental atau psikologis yang bersifat subjektif. Jika teori realisme memandang apa adanya alam sebagai sumber pengetahuan, sebaliknya idealisme memandang alam menurut orang yang mengalami dan mengetahui. 20 Dengan demikian, teori idealisme menekankan pada sisi manusia yang mengamati alam sebagai objek pengetahuan, sedangkan teori realisme menekankan peran alam sebagai objek pengetahuan yang menyatakan diri. Jenis Pengetahuan Rusdiana menjelaskan bahwa terdapat empat jenis pengetahuan . yang dimiliki manusia, yaitu: pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah, pengetahuan filsafat dan pengetahuan Pertama, pengetahuan biasa adalah pengetahuan yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan biasa bersifat dangkal, sempit, dan tidak mendalam. Pengetahuan biasa tidak membutuhkan pemikiran kritis untuk memahami sebuah realita, sehingga segala hal yang dilihat, dirasakan dan didengar akan diterima dengan begitu saja. Kedua, pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh secara khusus dan bersifat mendalam. Pengetahuan ilmiah didasarkan pada metode, langkap bahkan caracara khusus untuk mendapatkan pengetahuan. Semua pengetahuan ilmiah diperoleh secara Rusdiana. Filsafat Ilmu, 42Ae43. Rusdiana, 47. Rusdiana, 48. Rusdiana, 51. Yulius Setyo Nugroho Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Akan tetapi, pengetahuan ini masih sebatas pada pengalaman yang dapat diamati, karena pengetahuan ilmiah hanya didasarkan pada objek-objek empiris. Ketiga, pengetahuan filsafat adalah pengetahuan yang didapatkan melalui pencarian mendasar tentang sebab-sebab dan hakikat segala sesuatu, sehingga pengetahuan filsafat bersifat luas dan tidak terbatas. Pengetahuan filsafat membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan mendalam, sehingga pengetahuan filsafat sering kali dianggap sebagai pengetahuan yang sulit didapatkan. Agaknya, kecenderungan berpikir praktis dan keengganan berpikir abstrak serta reflektif merupakan penyebab sulitnya mendapatkan pengetahuan filsafat. Keempat, pengetahuan agama adalah pengetahuan yang diperoleh hanya dari Tuhan melalui para umat pilihan-Nya. Oleh sebab itu, pengetahuan ini bersifat mutlak dan wajib Ae jika tidak ingin disebut deterministik Ae bagi para pemeluk agama. Pengetahuan agama pada sisi tertentu tampaknya mudah diperoleh karena sifatnya yang absolut, tidak salah dan otoritatif, sehingga tidak membutuhkan pemikiran lebih. Pengetahuan dari Tuhan adalah tetap dan tidak berubah, maka cukup diterima apa adanya. Namun di sisi lain, pengetahuan agama menjadi sangat sulit dimengerti ketika pengetahuan ini membutuhkan upaya dan kerja keras untuk memahami arti dan makna yang terkandung di dalamnya. Sumber Pengetahuan Dalam bukunya Filsafat Ilmu. Rusdiana menyebutkan ada empat sumber pengetahuan, yakni: empirisme, rasionalisme, intuisi, dan wahyu. 22 Sedangkan menurut Praja dalam bukunya Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, mengutip Louis Q. Kattsof, menjelaskan bahwa sumber pengetahuan terdiri dari lima macam, yaitu: empiris yang melahirkan empirisme, rasio yang melahirkan rasionalisme, fenomena yang melahirkan fenomenologi, intuisi yang melahirkan intuisionisme, dan metode ilmiah yang melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi . Pertama, empirisme merupakan aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan diperoleh atau bersumber dari pengalaman. Dalam proses mengalami setidaknya terdapat tiga unsur yang saling terkait, yaitu: subjek yang mengalami, objek yang dialami dan indera yang menjadi perantara pengalaman atau cara mengalami. Menurut John Locke, manusia dilahirkan dengan akal seperti buku kosong . abula ras. dan di dalam buku kosong itulah pengalaman-pengalaman inderawi memberikan catatan pengetahuan pada akal manusia, sehingga akal hanya dipahami sebagai tempat penampungan yang bersifat pasif menerima hasil segala macam hasil penginderaan. Rusdiana, 49Ae50. Rusdiana, 51Ae52. Praja. Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika, 24Ae25. Pengetahuan dan Kebenaran: Membincang Karakteristik Epistemologi Barat dan Epistemologi Timur Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Kedua, rasionalisme adalah paham yang mempercayai bahwa sumber pengetahuan berasal dari akal pikiran manusia. Berlawanan dengan empirisme, pengalaman-pengalaman bagi rasionalisme merupakan perangsang bagi pikiran untuk mengetahui, sehingga pengalaman tidak ditempatkan pada tahap pertama proses mengetahui. Sebaliknya, para penganut rasionalisme meyakini jikalau pengetahuan diperoleh melalui kegiatan akal menangkap berbagai pengalaman dan peristiwa yang dihadapi semasa manusia hidup. Dengan demikian, maka akal pikiran manusia dipahami sebagai . jenis perantara khusus untuk mengenal kebenaran dan . suatu teknik deduktif yang dapat menemukan kebenaran-kebenaran. Menurut Rene Descartes, dengan menggunakan metode deduktif sebagai ciri rasionalisme, kebenaran pengetahuan tidak dapat disangsikan lagi. Ketiga, fenomenalisme adalah paham yang menyatakan bahwa manusia memperoleh pengetahuan dari pengamatan atau penyelidikan fenomena-fenomena yang ada, sehingga pengetahuan manusia hanya terbatas pada gejala-gejala yang tampak,25 bukan pada kenyataan yang sesungguhnya . 26 Oleh karena pengetahuan diperoleh melalui pengamatan atas gejala-gejala yang ada, maka dalam memahami fenomena atau gejala dibutuhkan proses penafsiran . , agar gejala-gejala yang diamati dapat dimengerti dengan baik dan Sebenarnya aliran ini lahir sebagai tanggapan atas ketegangan yang terjadi antara empirisme dan rasionalisme. dan menurut Immanuel Kant27, untuk memperoleh pengetahuan unsur indera dan rasio sama-sama dibutuhkan. 28 Jadi, alih-alih berbicara tentang siapa yang lebih dahulu, antara pengalaman dan rasio, fenomenalisme meletakkan keduanya secara Keempat, intuisionisme merupakan aliran yang meyakini bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan terbatas pada kenyataan-kenyataan yang tampak, melainkan juga kenyataankenyataan yang tidak tampak. Intuisionisme mengakui bahwa ada pengalaman lain selain pengalaman inderawi yang menjadi sumber pengetahuan. Pengetahuan dari pengalaman inderawi tidak ditolak, tetapi pengetahuan yang demikian tidaklah cukup. Oleh sebab itu, menempatkan pengalaman non-inderawi sebagai cara mendapatkan pengetahuan merupakan hal yang harus dilakukan. Dengan demikian, maka pengalaman non-inderawi yang didapatkan Rusdiana. Filsafat Ilmu, 26Ae28. Simon Petrus L. Tjahjadi. Tuhan. Para Filsuf Dan Ilmuwan: Dari Descartes Sampai Whitehead (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 49. Paul F. Knitter. Pengantar Teologi Agama-Agama (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 115. Pandangan Immanuel Kant tentang fenomenalisme disebut juga sebagai kritisisme yang bertujuan mensintesakan dua kutub ekstrem empirisme dan rasionalisme. Dede Fatchuroji. AuSUMBER ILMU PENGETAHUAN ISLAM DAN BARAT,Ay Maslahah 1, no. 1 (April 14, 2. : 62. Tjahjadi. Tuhan. Para Filsuf Dan Ilmuwan: Dari Descartes Sampai Whitehead, 47. Praja. Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika, 32. Lusiana Suciati Dewi. AuFungsi Bahasa Dilihat Dari Perspektif Fenomenologi,Ay Atmosfer: Jurnal Pendidikan. Bahasa. Sastra. Seni. Budaya. Dan Sosial Humaniora 1, no. 3 (June 28, 2. : 3Ae4, https://doi. org/10. 59024/atmosfer. Yulius Setyo Nugroho Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies untuk memperoleh pengetahuan dianggap sebagai bahan tambahan untuk mendapatkan pengetahuan secara lebih utuh. 29 Jadi, jika empirisme, rasionalisme dan fenomenalisme menerima pengetahuan melalui pengalaman yang tampak . saja, maka intuisionisme menerima pengetahuan melalui pengalaman yang tampak dan juga yang tidak tampak . Menurut Henry Bergson, intuisi merupakan hasil evolusi tertinggi pikiran manusia, namun bersifat personal. Kelima, metode ilmiah . merupakan aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan diperoleh melalui prosedur, cara dan langkah-langkah yang sistematis, sehingga terdapat metode-metode khusus untuk mendapatkan pengetahuan. Hampir sama dengan fenomenalisme, para penganut paham ini berupaya menggabungkan pendekatan empiris dan pendekatan rasional. Perbedaannya, terletak pada ketentuannya yang lebih sistematik. Secara rasional, metode ilmiah menyusun pengetahuannya secara konsinten dan kumulatif. Sedangkan secara empiris, metode ilmiah memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dan yang tidak sesuai dengan fakta. Selain itu, dalam metode ilmiah terdapat sebuah hipotesis yang dimaksudkan untuk memberikan jawaban sementara atas sebuah permasalahan yang dihadapi dalam mendapatkan Akan tetapi, jika hipotesis mendapatkan contoh-contoh yang mendukungnya dalam jumlah banyak, maka hipotesis akan menjadi sebuah pengetahuan/ kebenaran yang sangat valid. 31 Jadi, jika intuisionisme menekankan pada pengalaman non-inderawi sebagai bagian dari sumber kebenaran yang valid, metode ilmiah . menekankan pada prosedur dan langkah-langkah sistematik dalam menerima data dari pengalaman dan rasio agar mampu melahirkan kebenaran yang tidak terbantahkan. Intuisi tidak menjadi bagian dari pengetahuan dan kebenaran, karena intuisi tidak berbicara tentang hal-hal yang nyata. Keenam, wahyu merupakan pengetahuan yang bersumber dari Tuhan lewat para orangorang pilihannya. Melalui wahyu manusia mendapatkan sejumlah pengetahuan, baik yang mampu terjangkau dengan mudah maupun yang sulit dijangkau oleh manusia. 33 Oleh karena wahyu bersifat murni tanpa ada campur tangan manusia, baik melalui pengalaman, akal dan pengamatan, maka pengetahuan dan kebenarannya ini bersifat mutlak. Hal ini tentu sangat berbeda dengan metode ilmiah yang memiliki hipotesis dalam mendapatkan pengetahuan dan fenomenalisme yang tidak dapat memberikan kepastian karena pengetahuan yang diperoleh hanya berdasarkan fenomena atau gejala-gejala yang tampak, bukan pada kenyataan yang sesungguhnya . Praja. Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika, 32. Rusdiana. Filsafat Ilmu, 51Ae52. Praja. Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika, 33Ae35. Fatchuroji. AuSUMBER ILMU PENGETAHUAN ISLAM DAN BARAT,Ay 56. Rusdiana. Filsafat Ilmu, 52. Pengetahuan dan Kebenaran: Membincang Karakteristik Epistemologi Barat dan Epistemologi Timur Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Validitas Pengetahuan Mengutip Suparman Syukur. Agus Toni menyebutkan bahwa validitas pengetahuan ditentukan oleh correspondence theory of truth . ebenaran korespondens. , coherence theory of truth . ebenaran koherens. dan pragmatic theory of truth . ebenaran pragmati. 34 Pertama, pengetahuan dikatakan benar apabila terdapat kesesuaian . antara pernyataan dan kenyataan. Kebenaran ditentukan dari kecocokan antara pikiran, argumen, hipotesis atau teori dengan kenyataan empiris, yaitu data indera dan fakta. Kebenaran korespondensi diperoleh secara induksi. Kedua, pengetahuan dikatakan benar jikalau diperoleh melalui penarikan kesimpulan dengan berpikir logis. Kebenaran tidak ditentukan oleh kesesuaian pikiran dan kenyataan, melainkan pada konsistensi kebenaran yang sebelumnya dengan kebenaran sesudahnya. Kebenaran koherensi diperoleh secara deduksi. 35 Ketiga, kebenaran sebuah pengetahuan tidak ditentukan melalui korespondensi atau koherensi, melainkan didasarkan pada kemanfaatan pengetahuan, baik berupa teori, ucapan maupun dalil. Semakin bermanfaat sebuah pengetahuan, maka semakin benar pengetahuan tersebut. Dalam bukunya Kebenaran dan Para Kritikusnya. Budi Hardiman37 menjelaskan bahwa selain ketiga teori kebenaran di atas, masih terdapat dua teori kebenaran lainnya, yaitu consensus theory of truth . ebenaran konsensu. dan aletheia theory of truth . ebenaran Keempat, pengetahuan dianggap sebagai kebenaran apabila merupakan hasil kesepakatan bersama atau konsensus sosial. Jikalau kebenaran korespondensi dan kebenaran koherensi bersifat objektif serta kebenaran pragmatis bersifat subjektif, maka kebenaran konsensus bersifat intersubjektif. Kelima, menurut pandangan yang terakhir, pengetahuan yang benar tidak ditentukan oleh pemahaman kebenaran yang bersifat antroposentris . orespondensi, koherensi maupun konsensu. , melainkan bersifat ontologis . letheia atau penyingkapa. Kebenaran merupakan Agus Agus Toni. AuEPISTEMOLOGI BARAT DAN ISLAM,Ay El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama 3, no. 1 (August 6, 2. : 16, https://doi. org/10. 35888/el-wasathiya. Sherly Aulia. AuTeori Pengetahuan dan Kebenaran dalam Epistemologi,Ay Jurnal Filsafat Indonesia 5, no. 3 (October 4, 2. : 246Ae47, https://doi. org/10. 23887/jfi. Budi Hardiman. Kebenaran Dan Para Kritikusnya: Mengulik Idea Besar Yang Memandu Zaman Kita (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 21. Rusdiana. Filsafat Ilmu, 53. Dalam konteks masyarakat digital, kebenaran yang dipahami sebagai korespondensi, koherensi dan konsensus dikategorikan kebenaran klasik. Sebab, dalam masyarakat digital, kebenaran yang diterima adalah performative theory of truth . ebenaran performati. , yaitu kebenaran yang dibuat oleh pihak yang memiliki otoritas atau kompetensi dengan mambuat pernyataan. Budi Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia Dalam Revolusi Digital (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 53Ae54. Hardiman. Kebenaran Dan Para Kritikusnya: Mengulik Idea Besar Yang Memandu Zaman Kita, 93. Yulius Setyo Nugroho Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies penyingkapan Ada, sehingga kebenaran AumembukaAy dirinya kepada manusia. 39 Dengan demikian, jelas bahwa sifat antroposentris dari kebenaran ini tidak tampak, karena manusia hanyalah pihak yang menerima penyingkapan kebenaran, bukan yang menyingkapkan Karakteristik Epistemologi Barat Pendekatan terhadap Pengetahuan Pendekatan yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan dalam epistemologi barat cenderung mementingkan rasio . Akal menjadi piranti pokok dalam mencapai Kenyataan ini merupakan hal wajar sebab dalam filsafat barat, kedudukan rasio menempati posisi yang tinggi, terlebih semenjak Descartes menyatakan diktumnya yang terkenal cogito ergo sum . ku berpikir, maka aku ad. Bagi Descartes, kesadaran atau rasio merupakan hal yang melekat pada diri manusia. 40 Oleh sebab itu, dalam epistemologi barat, manusia adalah subjek utama yang membentuk dan menciptakan pengetahuan. Selain itu, pengalaman inderawi juga menjadi dasar utama didapatkannya pengetahuan bagi manusia. Menurut John Locke, pengalaman merupakan sumber satu-satunya pengetahuan . Bahkan bagi Aguste Comte, pengalaman yang diterima sebagai dasar pengetahuan adalah pengalaman berdasarkan fakta-fakta . Dengan demikian, pengetahuan yang didasarkan pada AuhakikatAy dan Aupenyebab sebenarnyaAy . ditolak keras oleh empirisme, khususnya positivisme. 42 Jadi, pengetahuan hanya diperoleh melalui kebenarankebenaran faktual . Sifat Pengetahuan Epistemologi barat menekankan pemisahan mutlak antara subjek yang mencari dan objek yang Dalam rasionalisme dijelaskan bahwa rasio terpisah dengan objek . yang memberi rangsangan pada akal untuk mengetahui. Sedangkan dalam empirisme, pemisahan semakin jelas dari proses mengetahui yang melibatkan tiga unsur, yaitu subjek yang mengalami, objek yang dialami, serta indera sebagai perantara subjek mengalami objek. Dengan demikian. Hardiman, 99. Tjahjadi. Tuhan. Para Filsuf Dan Ilmuwan: Dari Descartes Sampai Whitehead, 21. Budi Hardiman. Melampaui Positivisme Dan Modernitas (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 52. Hj Emma Dysmala Somantri. AuKRITIK TERHADAP PARADIGMA POSITIVISMEAy 28, no. : 622Ae23. Irham Nugroho. AuPositivisme Auguste Comte: Analisa Epistemologis Dan Nilai Etisnya Terhadap Sains,Ay Cakrawala: Jurnal Studi Islam 11, no. 2 (December 12, 2. : 168, https://doi. org/10. 31603/cakrawala. Hardiman. Kebenaran Dan Para Kritikusnya: Mengulik Idea Besar Yang Memandu Zaman Kita, 19. Pengetahuan dan Kebenaran: Membincang Karakteristik Epistemologi Barat dan Epistemologi Timur Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. pengetahuan epistemologi barat bersifat objektif dan universal44 karena keterpisahan antara subjek dan objek dianggap menunjukkan sikap netralitas . 45 empirisme dan rasionalisme. Selain itu, epistemologi barat bersifat analitis. Hal ini disebabkan karena pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan . hususnya empirisme dan positivism. menekankan pengamatan, pengalaman, eksperimen dan observasi yang sangat sistematik. Selanjutnya, epistemologi barat juga cenderung berfokus pada permasalahan-permasalahan filosofis yang spesifik dan terbatas. Oleh sebab itu, muncullah berbagai macam bidang ilmu pengetahuan yang lahir dari epistemologi barat. Hubungan dengan Agama Dalam bukunya Perjumpaan Sains dan Agama: Dari Konflik ke Dialog. John F. Haught menjelaskan bahwa ada empat jenis pendekatan atau relasi yang menghubungkan sains . aca: pengetahuan. dengan agama, yaitu: konflik, kontras, kontak dan konfirmasi. Pertama, pendekatan konflik melihat bahwa sains dan agama saling bertentangan. Kedua, pendekatan kontras melihat bahwa sains dan agama berbeda sama sekali sehingga tidak perlu terjadi pertentangan di antara keduanya. Ketiga, pendekatan kontak melihat bahwa sains dan agama memiliki keterkaitan sekalipun sains dan agama berbeda. Keempat, pendekatan konfirmasi melihat bahwa sains dan agama saling berperan positif satu sama lain. 48 Dengan demikian, dapat dikatakan jika pendekatan konflik dan kontras berupaya melihat keterpisahan antara sains dan agama, sedangkan pendekatan kontak dan konfirmasi menekankan keterkaitan antara sains dan agama. Berdasarkan pembagian yang diberikan Haught, dapat dilihat jikalau hubungan antara pengetahuan dan agama bersifat terpisah . onflik dan kontra. Banyak ilmuan yang berpikir bahwa sains dan agama tidak pernah dapat disatukan. Dalam epistemologi barat, permasalahan utama agama tidak dapat dikaitkan dengan sains karena pemikiran-pemikiran agama tidak dapat diuji dan difalsifikasi, sebab agama dilandaskan pada asumsi-asumsi apriori atau berdasarkan keyakinan, sedangkan sains bertumpu pada fakta yang dapat diamati, diuji dan difalsifikasi. Menurut pendekatan pertama ini, hanya ada satu pengetahuan yang benar. Oleh sebab itu, relasi yang terjalin bermuara pada sikap peleburan antara satu terhadap yang Somantri. AuKRITIK TERHADAP PARADIGMA POSITIVISME,Ay 620. Happy Susanto. AuKONSEP PARADIGMA ILMU-ILMU SOSIAL DAN RELEVANSINYA BAGI PERKEMBANGAN PENGETAHUAN,Ay Muaddib : Studi Kependidikan dan Keislaman 4, no. 2 (May 3, 2. : 97, https://journal. id/index. php/muaddib/article/view/119. Hardiman. Kebenaran Dan Para Kritikusnya: Mengulik Idea Besar Yang Memandu Zaman Kita, 35. Hardiman. Melampaui Positivisme Dan Modernitas, 23. Hardiman. Melampaui Positivisme Dan Modernitas, 23. Penggunaan istilah sains tidak bermaksud mereduksi pengetahuan pada hal-hal yang bersifat ilmiah saja, melainkan menunjukkan kecenderungan epistemologi barat yang dipengaruhi rasionalisme dan empirisme dengan sifat kebenaran faktualnya. John F. Haught. Perjumpaan Sains Dan Agama: Dari Konflik Ke Dialog (Bandung: Mizan, 2. , xx-xxi. Yulius Setyo Nugroho Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Bagi sains yang menolak agama, mengharuskan agama melebur dengan sains dan begitu pula sebaliknya . endekatan konfli. Selain itu, keterpisahan sains dan agama memang didasari oleh perbedaan mutlak antara keduanya. Sains dan agama tidak dapat dicampuradukan, karena AupermainanAy sains adalah menguji dunia secara empiris, sedangkan agama mengungkapkan makna yang tidak dikenal secara empiris. Secara lebih spesifik, perbedaan tersebut dijelaskan secara berurutan bahwa sains berurusan dengan sebab-sebab, sedangkan agama dengan makna. sains berurusan dengan masalah-masalah yang dapat dipercahkan, sedangkan agama dengan misteri. sains berurusan dengan persoalan cara kerja alam, sedangkan agama dengan landasan Oleh sebab itu, peleburan merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan, karena sians dan agama memiliki jalan yang berbeda untuk mendapatkan pengetahuan . endekatan 50 Jadi, sekalipun pendekatan konflik dan kontras memiliki perbedaan, mereka tetap menekankan keterpisahan antara sains dan agama. Validitas Pengetahuan Oleh karena bersifat objektif, maka pengetahuan dikatakan benar atau valid ketika memiliki korespondensi dan koherensi dalam dirinya. Korespondensi menjelaskan bahwa pengetahuan yang diperoleh memiliki kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan. Apa yang dipikirkan dan disampaikan akan memiliki nilai kebenaran jika sesuai dengan kenyataan empiris yang Sedangkan, koherensi memaparkan bahwa pengetahuan dikatakan benar jikalau terdapat konsistensi antara kebenaran pendapat yang satu dengan yang lainnya Dengan kata lain, ada penarikan kesimpulan yang logis antara satu pengetahuan terhadap pengetahuan yang Karakter yang sangat ketat dan sistematik inilah yang mendasari validitas pengetahuan dalam epistemologi barat ditentukan oleh kebenaran korespondensi dan koherensi. Selain itu, validitas pengetahuan epistemologi barat juga ditentukan oleh kebermanfaatan pengetahuan yang didapatkan atau bersifat pragmatis. Karakteristik Epistemologi Timur Pendekatan terhadap Pengetahuan Pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan dalam epistemologi timur lebih menekankan aspek intuisi. Pengalaman batin diterima sebagai sumber pengetahuan, karena pengetahuan tidak hanya terbatas pada hal-hal yang tampak . Bagi epistemologi timur. Haught, 2Ae7. Haught, 9Ae13. Bambang Irawan. AuINTUISI SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN: Tinjauan terhadap Pandangan Filosof Islam,Ay Jurnal Theologia 25, no. : 1. Pengetahuan dan Kebenaran: Membincang Karakteristik Epistemologi Barat dan Epistemologi Timur Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. pengetahuan yang didapatkan melalui pengalaman inderawi dan rasio belumlah lengkap. Oleh sebab itu, dibutuhkan pencarian pengetahuan yang lebih mendalam dan mendasar. Berkebalikan dengan pendekatan epistemologi barat yang menempatkan rasio dan indera sebagai piranti utama untuk mendapatkan kebenaran, epistemologi timur menghayati bahwa pengetahuan tertinggi hanya bisa diterima melalui AuemanasiAy Tuhan. Penerimaan tersebut dilakukan dengan jalan penyucian bantin dan jiwa. Dalam bahasa agama, pengetahuan yang demikian diperoleh melalui wahyu Tuhan. Keith Ward menjelaskan bahwa model pewahyuan setiap agama berbeda. Ia mengatakan terdapat ada dua model pewahyuan, yaitu: . model proposisional . ropositional mode. , yang terdapat dalam tradisi Semitik dengan pemahaman bahwa penerima wahyu bersifat pasif, dan . model wawasan . nsight mode. , yang terdapat dalam tradisi India dengan pemahaman bahwa penerima wahyu bersifat aktif. 55 Sekalipun memiliki perbedaan sikap dalam menerima wahyu Ae aktif dan pasif Ae, keduanya tetap berada dalam keadaan yang sama, yaitu memiliki hati dan jiwa yang bersih serta tercerahkan. Sifat Pengetahuan Jikalau epistemologi barat menekankan pemisahan antara subjek dan objek, sebaliknya epistemologi timur menekankan hubungan yang erat antara subjek dan objek. Oleh sebab itu, berbeda dengan pendekatan rasional dan empiris, pendekatan intuitif menempatkan objek pengetahuan melekat, bahkan hadir dalam jiwa subjek. Pengetahuan bersifat subjektif berdasarkan pengalaman masing-masing manusia. Dengan demikian, manusia dapat berhubungan langsung dengan objek bahkan hakikat tunggal (Tuha. melalui pengalaman batiniah, sehingga manusia tidak tergantung pada rasio dan indera sebagai perangkat utama dalam mendapatkan pengetahuan dan kebenaran. Selain itu, epistemologi timur juga bersifat sintesis. Hal ini disebabkan karena pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan Ae intuitif Ae menekankan dimensi introspektif dan reflektif, sehingga berfokus pada keselarasan dan keharmonisan. Dalam Reg Veda dijelaskan bahwa agama yang benar adalah agama yang mencakup semua Mohammad Haris Taufiqur Rahman et al. AuPENGARUH FILSAFAT TIMUR HINGGA BARAT PADA PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM,Ay SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Hukum 2, no. 3 (June 11, 2. : 261, https://doi. org/10. 55681/seikat. Irawan. AuINTUISI SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN,Ay 10. Irawan, 11. Keith Ward. Religion and Revelation: A Theology of Revelation in the WorldAos Religions (Oxford : New York: Clarendon Press . Oxford University Press, 1. , 326Ae27. Irawan. AuINTUISI SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN,Ay 18. Irawan, 9Ae10. Yulius Setyo Nugroho Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa Audari yang satu mencakup yang banyakAy atau Audari yang tunggal mencakup yang pluralAy. Akibatnya, agama dan filsafat, pengetahuan dan perbuatan, intuisi dan pemikiran. Tuhan dan manusia, fenomena dan noumena, dilihat dalam satu kesatuan. Dalam filsafat Cina, keharmonisan tersebut tampak dalam konsep Yin dan Yang. Hubungan dengan Agama Jika didasarkan pada kategori yang diberikan Haught terkait relasi sains dan agama, maka tampak bahwa pengetahuan berkaitan dengan agama . endekatan kontak dan konfirmas. Akan tetapi, sebenarnya keterkaitan yang terdapat dalam pandangan epistemologi timur tidak sama persis seperti konsep keterhubungan sains dan agama dalam pemikiran Haught. Sebab, jika diperhatikan dengan jeli, maka terlihat bahwa keterkaitan yang terjadi antara sains dan agama lebih mengarah pada hubungan dua AuentitasAy yang berbeda. Padahal dalam epistemologi timur dijelaskan bahwa pengetahuan diperoleh melalui intuisi dan wahyu Ilahi. Dengan demikian, maka pengetahuan yang didapatkan melalui intuisi dan wahyu menampakkan hubungan sebab akibat yang jelas. Hal tersebut berbeda dengan hubungan yang terjadi dalam pendekatan kontak dan konfirmasi. Hubungan pendekatan ketiga dan keempat tidak menunjukkan penekanan pada sebab akibat, melainkan kepada hubungan dialogis, saling mempengaruhi,59 dan memberi dukungan atau konfirmasi tanpa menambahkan apapun terhadap pengetahuan sains. Validitas Pengetahuan Berdasarkan penjelasa di atas, jelas bahwa pengetahuan dalam epistemologi timur bersifat subjektif, tetapi juga bersifat sintesis. Oleh sebab itu, maka pengetahuan dapat dikatakan benar atau valid ketika bersifat . Artinya, validitas pengetahuan ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama . onsensus theory of trut. , sehingga sekalipun bersifat subjektif, kebaradaan subjek-subjek yang lainnya tetap menjadi perhatian penting dalam memaknai sebuah kebenaran. Hal ini selaras dengan prinsip keselarasan dan keseimbangan yang terdapat dalam epistemologi timur. Selain itu, karena sumber pengetahuan berasal dari wahyu, yang dapat disejajarkan dengan pandangan Martin Heiddeger tentang penyingkapan . , maka validitas pengetahuan juga ditentukan oleh kemurnian pengetahuan yang diterima, yaitu tanpa adanya Rahman et al. AuPENGARUH FILSAFAT TIMUR HINGGA BARAT PADA PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM,Ay 261Ae62. Haught. Perjumpaan Sains Dan Agama: Dari Konflik Ke Dialog, 19. Haught, 29. Pengetahuan dan Kebenaran: Membincang Karakteristik Epistemologi Barat dan Epistemologi Timur Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. campur tangan manusia . letheia theory of trut. 61 Artinya, pengetahuan dianggap benar ketika manusia bersikap pasif saat menerima pengetahuan tersebut. Hal ini senada dengan yang disampaikan Ward tentang proposisional model dalam memahami konsep pewahyuan. Perjumpaan Epistemologi Barat dan Epistemologi Timur Di balik perbedaan antara epistemologi barat dan timur yang meliputi pendekatan terhadap pengetahuan, sifat pengetahuan, hubungan dengan agama dan validitas pengetahuan, keduanya memiliki persamaan dalam beberapa hal terkait misteri pengetahuan dan kebenaran, manusia sebagai subjek-objek pengetahuan dan kebenaran, dan kebermanfaatan pengetahuan dan kebenaran. Misteri Pengetahuan dan Kebenaran Baik dalam epistemologi barat maupun epistemologi timur, ditemukan sebuah AumisteriAy yang tidak terselami dan tidak terpahami. Bagi epistemologi barat yang sangat kuat mengandalkan rasio dan data-data inderawi sebanarnya juga tidak mampu mendapatkan pengetahuan yang sejati, utuh dan menyeluruh. Pengetahuan diperoleh sejauh akal dapat memikirkan dan indera dapat mencerap, lebih dari pada itu adalah ketidaktahuan. Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian Karlina Supelli ketika menjelaskan tentang hipotesis hantu. Menurutnya, dalam kosmologi Ae yang identik dengan kecermatan dan ketepatan Ae masih terdapat AukegelapanAy alam semesta yang tidak diterangi . aca: diketahu. Dijelaskan bahwa hanya 5% kandungan alam semesta yang dapat diketahui dan diamati. Selebihnya, 23% disebut sebagai materi gelap dingin . old dark matte. dan 72% adalah energi gelap . ark energ. Menurut Supelli, dengan menggunakan istilah AugelapAy . berarti menunjukkan sesuatu yang masih menjadi misteri. Senada dengan itu, dalam epistemologi timur yang sangat kuat menekankan intuisi untuk mendapatkan pengetahuan dan kebenaran, konsep tentang pewahyuan juga menyisakan misteri yang besar. Akan tetapi, agaknya hal tersebut tidak begitu menjadi permasalahan, karena disadari bahwa Ae meminjam istilah Heiddeger Ae Sang Ada hanya dapat dipahami sejauh penyingkapan yang terjadi. dan selebihnya masih ada ketidaktersingkapan Sang Ada yang tidak Dalam bahasa agama, pengetahuan dan kebenaran Ae yang bersumber dari Tuhan Ae hanya dapat diterima dan dimengerti sejauh pewahyuan yang telah dinyatakan. Selebihnya. Hardiman. Kebenaran Dan Para Kritikusnya: Mengulik Idea Besar Yang Memandu Zaman Kita, 98Ae99. Karlina Supelli. Dari Kosmologi ke Dialog: Mengenal Batas Pengetahuan. Menentang Fantatisme. Cetakan I (Cipete. Jakarta Selatan: Mizan, 2. , 28Ae31. Yulius Setyo Nugroho Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies pengetahuan dan kebenaran yang berasal dari Tuhan bersifat misteri. Dengan demikian, maka pengetahuan dan kebenaran dinyatakan valid sejauh yang mampu diindera, dicerap dan dirasakan. Kenyataan ini tidak bermaksud merelatifkan pengetahuan dan kebenaran, melainkan menyadarkan manusia bahwa ada sebuah misteri yang selalu berjalan beriring bersama kehidupannya. Manusia Subjek-Objek Pengetahuan dan Kebenaran Manusia, baik dalam epistimologi barat maupun epistimologi timur, memiliki peran penting dalam mendapatkan pengetahuan dan kebenaran. Dalam epistemologi barat, peran manusia memang tampak lebih aktif dibandingkan dalam epistemologi timur. Dengan diktum Auaku berpikir, maka aku adaAy semakin mengukuhkan kedudukan manusia sebagai AupenentuAy pengetahuan dan kebenaran. Sebaliknya, dalam epistemologi timur peran manusia seakanakan hanya sebagai AuwadahAy diwahyukannya atau disingkapkannya pengetahuan dan Sekalipun demikian, baik manusia yang bersikap aktif maupun pasif, baik sebagai subjek maupun objek, pengetahuan dan kebenaran selalu Ae bahkan pasti Ae melibatkan keberadaan manusia sebagai makhluk yang memiliki karakteristik berbeda dari entitas yang lainnya, yaitu berpikir secara mendalam. 64 Menurut David Ray Griffin, manusia memiliki nilai intrinsik yang lebih kompleks dari pada entitas-entitas lainnya, sehingga membuatnya berbeda dengan hewan, tumbuhan dan unsur abiotik yang ada. Griffin menolak pandangan ekualitarianisme kelompok ekologis, ia menekankan adanya drajat nilai intrinsik dalam setiap entitas. Akan tetapi, perbedaan tersebut tidak dipahami dalam pengertian moralitas. Kebermanfaatan Pengetahuan dan Kebenaran Krisis ekologi merupakan konteks nyata66 yang dihadapi oleh semua entitas, baik biotik maupun abiotik. Kenyataan ini menantang manusia sebagai entitas yang memiliki karakteristik khusus dibanding entitas yang lainnya. Oleh sebab itu, manusia AubaratAy dan manusia AutimurAy harus bertanggung jawab bersama terhadap realitas krisis yang sedang terjadi. Pengetahuan akan menjadi kebenaran jikalau mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang ada, sehingga dibutuhkan sebuah konsensus yang bersifat pragmatis . onsensus theory of truth dan pragmatic theory of trut. Hardiman. Kebenaran Dan Para Kritikusnya: Mengulik Idea Besar Yang Memandu Zaman Kita, 239. Rahmatillah. AuFilsafat,Ay 42. David Ray Griffin. Tuhan Dan Agama Dalam Dunia Postmodern (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 20Ae21. Haught. Perjumpaan Sains Dan Agama: Dari Konflik Ke Dialog, 319. Pengetahuan dan Kebenaran: Membincang Karakteristik Epistemologi Barat dan Epistemologi Timur Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Dalam konteks seperti ini, etika lingkungan hidup dibutuhkan untuk mendasari kehidupan Epistemologi barat dapat mengembangkan gagasan-gagasan kritis filosifis tentang alam dan bumi. Agaknya, pandangan filsafat proses bahkan teologi proses dapat menjadi alternatif yang perlu dipertimbangkan. Sedangkan dalam epistemologi timur, hubungan antara alam dan manusia dapat semakin ditingkatkan. Paradigma kosmotheandrik67, agaknya juga menjadi gagasan menarik yang dapat dikembangkan. Dengan demikian, baik pengetahuan yang didapatkan dari AubaratAy maupun dari AutimurAy akan menjadi sebuah kebenaran karena mampu memberi manfaat dan menjawab tantangan yang ada di sekitarnya. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pertama, karakteristik epistemologi barat meliputi: . pendekatan terhadap pengetahuan didasarkan pada rasionalitas dan pengalaman . pengetahuan yang didapatkan bersifat objektif dan analitis. hubungan dengan agama bersifat terpisah. validitas pengetahuan diperoleh melalui correspondence theory of truth . ebenaran korespondens. , coherence theory of truth . ebenaran koherens. dan pragmatic theory of truth . ebenaran pragmati. Kedua, karakteristik epistemologi timur meliputi: . pendekatan terhadap pengetahuan didasarkan pada aspek intuisi. pengetahuan yang didapatkan bersifat subjektif dan sintesis. hubungan dengan agama bersifat terkait, khususnya dalam relasi sebab akibat. validitas pengetahuan diperoleh melalui consensus theory of truth . ebenaran konsensu. dan aletheia theory of truth . ebenaran penyingkapan/ pewahyua. Ketiga, selain memiliki perbedaan yang mendasar, epistemologi barat dan epistemologi timur memiliki kesamaan dalam beberapa hal, yaitu tentang misteri pengetahuan dan kebenaran, manusia sebagai subjek-objek pengetahuan dan kebenaran, dan kebermanfaatan pengetahuan dan kebenaran. Jadi, pengetahuan dan kebenaran yang diperoleh melalui perjumpaan epistemologi barat dan epistemologi timur didasarkan pada kebermanfaatan yang disepakati bersama . ragmatic Ae consensus theory of trut. Daftar Pustaka