Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Volume A Nomor A Bulan A Tahun AHalamanA Tersedia Online di https://ojs. id/index. php/Socius/index ISSN Online : DOI: Socius Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Sun Movement sebagai Upaya Pengendalian Bencana Gizi Buruk Nurulia Putri Adhitama 1 Program Studi Kesehatan Masyarakat. Universitas Jenderal Soedirman Corresponding Author : nurulia. adhitama@mhs. Abstract Bencana permasalahan gizi di Indonesia merupakan hal yang sangat kompleks untuk dibicarakan. Permasalahan gizi disebabkan oleh banyak factor penyebab, diantaranya yaitu penyebab langsung, penyebab tidak langsung, penyebab utama, dan akar masalah. Permasalahan gizi tersebut berimbas pada keadaan Double Burden of Malnutrition, yaitu beban ganda permasalahan gizi yang bisa menyebabkan seseorang stunting maupun obesitas, hal ini dikarenakan ketidakseimbangan kadar gizi makro maupun mikro dalam tubuh. Permasalahan gizi apabila tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan penurunan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) suatu bangsa. Salah satu upaya penanggulangan permasalahan gizi adalah program Sun Movement, dengan salah satu implementasinya di Indonesia adalah Gerakan 1000 HPK yang memiliki dua kategori intervensi, yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitive. Gerakan 1000 HPK terus dijalankan, dimonitoring, dan dievaluasi guna mendapatkan hasil yang maksimal demi derajat kesehatan Indonesia yang jauh lebih baik. Keywords: Gizi. Sun Movement. Stunting Pendahuluan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan . 0 HPK) bukanlah suatu hal yang baru. Gizi buruk tidak selalu mengarah pada stunting ataupun wasting, tetapi juga mengarah pada obesitas. Hal ini disebabkan oleh kekurangan dan ketidakseimbangan energy makro maupun mikro. Hal ini dapat berdampak pada individu, rumah tangga, dan kelompok. Hal inilah yang disebut dengan Double Burden of Malnutrition (Popkin et al. , 2. Dahulu masyarakat mengenal slogan AuEmpat Sehat. Lima SempurnaAy. Kemudian seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan dan semakin berkembangnya masalah gizi di Indonesia, berbagai upaya dalam hal perbaikan gizi pun mulai digencarkan, yaitu ditandai dengan kampanye Gizi Seimbang dan Keluarga Sadar Gizi. Mulai tahun 2010, sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai masalah gizi yang semakin kompleks, maka diperlukan gerakan yang bersifat nasional yang kemudian diberi nama Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan . 0 HPK) (Ruaida. Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan sangat penting dalam upaya kita menciptakan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang sehat, cerdas, serta produktif. Permasalahan gizi adalah salah satu tujuan pembangunan millennium (MDG. , yaitu perbaikan gizi yang menjadi salah satu indikator dari tujuan pertama yaitu mengatasi masalah kemiskinan dan kelaparan. Pada tujuan pertama MDG, terdapat 3 . indikator keberhasilan, yaitu peningkatan pendapatan, peningkatan konsumsi energi, dan peningkatan status gizi. Ketiga indikator ini memiliki keterkaitan yang sangat kuat, perbaikan pendapatan akan memperbaiki asupan gizi, dan selanjutnya akan memperbaiki status gizi (Darmawati, 2. Banyak sekali penyebab dari bencana gizi buruk di Indonesia. Kemiskinan dan rendahnya pendidikan dipandang sebagai akar penyebab kekurangan gizi. Masalah gizi tersebut berkaitan erat dengan masalah kesehatan ibu hamil dan menyusui, bayi yang baru lahir, dan anak usia di bawah dua tahun . , tetapi yang paling krusial adalah perhitungan usia sejak hari pertama kehamilan hingga kelahiran bayi sampai anak usia 2 tahun . 0 HPK). Periode ini telah dibuktikan secara ilmiah merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan, oleh karena itu periode ini ada yang menyebutnya sebagai "periode emas", "periode kritis", dan "window of Maka dari itu, sejak tahun 2010 dibentuklah mitigasi bencana gizi buruk, yaitu suatu upaya yang telah berkembang menjadi suatu gerakan gizi nasional dan internasional yang dikenal sebagai gerakan Scaling Up Nutrition (SUN) Movement. Gerakan ini di Indonesia disebut sebagai Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam Rangka 1000 Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK) (Fernandez-Jimenez et al. , 2. Pembahasan Permasalahan gizi di Indonesia merupakan hal yang sangat kompleks untuk dibicarakan. Permasalahan gizi disebabkan oleh banyak factor penyebab, diantaranya yaitu penyebab langsung . erupa ketidakseimbangan konsumsi zat gizi dan infeksi penyaki. , penyebab tidak langsung . erupa ketersediaan pangan tingkat rumah tangga, pola asuh seorang ibu kepada anaknya, dan kontribusi pelayanan kesehatan setempa. , penyebab utama . erupa kemiskinan, pendidikan dan ketersediaan pangan yang kurang merata dan memadai, serta kesempatan kerja yang masih sangat kuran. , dan yang terakhir adalah akar masalah . erupa krisis ekonomi dan politik bangs. yang dapat menyebabkan Beban Ganda Masalah Gizi (Double Burden of Malnutritio. di Indonesia (Kemenkes RI. , 2. Gambar 1. Faktor Penyebab Masalah Gizi di Indonesia (Kemenkes RI, 2. Beban Ganda Masalah Gizi (Double Burden of Malnutritio. di Indonesia dikaitkan dengan meningkatnya usia harapan hidup yang telah dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti pergeseran beban penyakit dari penyakit menular ke penyakit tidak menular (PTM), peningkatan kesejahteraan secara nasional disertai dengan peningkatan ketersediaan pangan, peningkatan angka urbanisasi, dan pergeseran zaman yang menyebabkan manusia semakin jarang beraktivitas fisik tetapi tingkatan stress semakin meningkat (Shinsugi et al. , 2. Beban Ganda Masalah Gizi memiliki dampak di sepanjang siklus kehidupan, terutama pada periode pertumbuhan dan perkembangan yang cepat, khususnya selama 1000 HPK. Pengidap masalah gizi bukan hanya pada masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah, tetapi juga pada menengah ke atas. Bencana permasalahan gizi ini berdampak pada kesehatan, pembangunan, dan ekonomi Indonesia karena akan berimbas pada penurunan kualitas SDM (Nugent et al. , 2. Kerugian bencana permasalahan gizi dalam masyarakat dapat terjadi mulai sebelum Ibu dengan berat badan kurang cenderung memiliki bayi dengan pertumbuhan intrauterus yang terhambat serta lahir dengan berat badan lahir rendah dan dengan risiko kematian yang lebih tinggi, berat badan berlebih dan obesitas pada ibu juga meningkatkan risiko kematian bayi. Sementara bayi dengan berat badan lahir rendah lebih cenderung untuk mengalami kekurangan gizi pada masa kanak-kanak (Fitri et al. , 2. Kekurangan gizi dan kegemukan selama masa kanak-kanak dikaitkan dengan tingkat mortalitas dan morbiditas yang lebih tinggi. Kurang gizi menyebabkan 45% kematian pada anak usia di bawah lima tahun di seluruh dunia dan merupakan predisposisi bagi anak untuk menderita penyakit menular seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut. Pada saat yang sama, setidaknya 2,6 juta orang meninggal setiap tahun akibat kelebihan berat badan ataupun obesitas (WHO, 2. Anak yang gemuk cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang mengalami berat badan berlebih dan mengalami PTM yang berkaitan dengan pola makan seperti diabetes tipe 2. Remaja putri yang mengalami malnutrisi lebih rentan untuk menjadi wanita dewasa yang juga terkena malnutrisi dan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Dengan demikian, ia akan mewariskan Beban Ganda Masalah Gizi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Beban Ganda Masalah Gizi menghambat pembangunan manusia, mengakibatkan kemiskinan intergenerasi, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi (Nugent et , 2. Anak-anak yang kurang gizi dan/ atau kelebihan berat badan, tidak hadir di sekolah lebih sering dan berprestasi kurang baik secara akademis. Diperkirakan bahwa stunting dan kekurangan gizi lainnya merugikan Indonesia lebih dari US$ 5 miliar per tahun setara dengan hilangnya 2-3% dalam produk domestik bruto karena kehilangan produktivitas sebagai akibat dari standar pendidikan yang buruk dan berkurangnya kemampuan fisik. Kerugian akan lebih besar jika obesitas dan kelebihan berat badan diperhitungkan (Bappenas, 2. Salah satu upaya dalam penanggulangan bencana gizi buruk yang masih terjadi di Indonesia adalah penerapan sebagai upaya program SUN Movement adalah Gerakan 1000 HPK dengan melakukan berbagai intervensi. Dalam penanganan jangka pendek, maka dapat dilakukan intervensi spesifik. Hal ini dapat dilakukan untuk mengatasi penyebab langsung permasalahan status gizi . etidakseimbangan asupan gizi dan masalah kesehata. , yaitu dengan cara penanganan balita gizi buruk, suplementasi makronutrien dan fortifikasi, dan melakukan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Seha. (Sudargo & Aristasari, 2. Rencana jangka pendek dengan intervensi spesifik ini juga dapat mengatasi penyebab tidak langsung dari permasalahan status gizi . ksesibilitas pangan, pola asuh, sanitasi, dan pelayanan kesehata. yaitu dengan cara meningkatkan ketahanan pangan, meningkatkan system kesehatan, kemudahan pengaksesan jaminan social, kemudahan akses air bersih dan sanitasi, penyetaraan gender dan pembangunan berkelanjutan, pendidikan remaja putri, serta usata mengatasi perubahan iklim. Adapun rencana dan hasil jangka panjang dapat direalisasikan dengan berbagai intervensi sensitive untuk mengatasi berbagai akar permasalahan status gizi buruk . elembagaan, politik dan ideology, dan kebijakan ekonom. dengan berbagai intervensi, seperti pelaksanaan berbagai prohram pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi, melaksanakan keteladanan dalam pemerintahan, memaksimalkan kualitas perdagangan dan peran dunia usaha, penanganan berbagai konflik dalam dan luar Negara, serta pelestarian lingkungan (Kemenkes RI. , 2. Terdapat program-program lain yang senantiasa dilakukan sebagai upaya intervensi pemberantasan masalah gizi di Indonesia, diantaranya adalah program spesifik pada ibu hamil . erupa perlindungan terhadap kekurangan zat besi, asam folat, dan kekurangan energy mauoun protein kronis serta perlindungan terhadap kekurangan iodiu. , program spesifik untuk anak usia 0-23 bulan . erupa ASI Eksklusif. Makanan Pendamping ASI atau MP-ASI, serta pemberantasan Adapun berbagai program sensitive yang senantiasa dilakukan adalah penyediaan air besih dan peningkatan sanitasi, peningkatan ketahanan pangan dan gizi. Keluarga Berencana (KB), kemudahan akses Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesma. Jaminan Persalinan Universal, fortifikasi pangan, pendidikan gizi masyarakat, pemberdayaan dan pendidikan remaja perempuan, serta pengentasan kemiskinan (Hyglinger et al. , 2. Program SUN Movement dengan Gerakan 1000 HPK ini memiliki beberapa prinsip keterlibatan, yaitu transparansi, eksklusif, berbasis hak, kemauan untuk bernegosiasi, tanggung jawab bersama, cost-effective, serta komunikasi yang kontinu. Gerakan ini juga memiliki beberapa kemitraan dalam gerakan, diantaranya adalah pemangku kepentingan . emerintah, mitra pembangunan, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, serta mitra pembangunan atau organisasi PBB). Adapun beberapa rujukan yang dapat dipergunakan dalam membangun dan meningkatkan kemitraan antara lain adalah Pedoman dan Manual UNICEF dalam bekerjasama dengan Komunitas Bisnis. International Pediatric Association (IPA) dalam bekerjasama dengan Industri. UN Standing Committee on Nutrition. Pedoman WHO dalam bekerjasama dengan pihak swasta. Strategi Global Pemberian Makan Bayi dan Anak, dan sebagainya (Kemenkes RI. , 2. SUN Movement sebagai program yang diintervensikan pada pengoptimalan gizi 1000 HPK ini memiliki beberapa tahapan gerakan, yaitu tahap satu . nalisa kondisi terkin. , tahap dua . enyiapan geraka. , tahap tiga . elaksanaan dan pengorganisasian geraka. , dan tahap empat . emelihara kesinambungan geraka. Adapun terdapat pula beberapa strategi gerakan, diantaranya adalah Strategi Nasional . embangun komitmen dan kerjasama antarpemangku kepentingan, mempercepat pelaksanaan Gerakan 1000 HPK serta meningkatkan efektivitas dan sumber pembiayaan, serta memperluas pelaksanaan program, meningkatkan kualitas pelaksanaan, serta memelihara kesinambungan kegiatan untuk mencapai indicator hasil yang sudah disepakat. Strategi Pelaksanaan . eningkatkan kapasitas kerjasama antar pemangku kepentingan untuk mempercepat kegiatan perbaikan gizi berdasarkan bukti, meningkatkan kapasitas untuk memfasilitasi kerjasama antar pemangku kepentingan dan saling menguntungkan, serta pemantauan dan evaluasi kinerja bersama dalam rangka pencapaian sasaran perbaikan giz. Strategi Mobilisasi Sumber Daya . enghitung kebutuhan anggaran, menghitung kesenjangan anggaran, serta mengoordinasikan kegiatan advokas. (Nefy et al. , 2. Segala kegiatan yang dilakukan dalam upaya Gerakan Sun Movement dalam rangka menekan angka gizi buruk harus selalu di-monitoring dan evaluasi dengan beberapa indicator tertentu. Gerakan 1000 HPK di Indonesia memiliki empat indicator, yaitu peningkatan partisipasi pemangku kepentingan dalam berbagi pengalaman pelaksanaan, terjaminnya kebijakan yang koheren dan adanya kerangka legalitas program, penyelarasan program-program sesuai dengan Kerangka Program Gerakan 1000 HPK, serta terindentifikasinya sumber-sumber pembiayaan yang ada (Kemenkes RI. , 2. Program Sun Movement ini tidak selalu berjalan dengan lancer, tentu saja terdapat hambatan maupun resiko yang harus dihadapi, hambatan yang erring terjadi antara lain adalah tidak adanya kesamaan pemahaman dan komitmen oleh para pemangku kebijakan, meningkatnya kebutuhan pembiayaam, dan kurang diterimanya cara pendekatan Adapun resiko dari program ini antara lain adalah kegagalan penggalangan sumber daya, gugus tugas, dan penyampaian presepsi, ketidakberhasilan kegiatan dan pekerjaan, kurangnya pemahaman masyarakat, dan sebagainya (Zaidi et al. , 2. Maka dari itu, dilakukanlah beberapa upaya mitigasi, diantaranya ditunjukannya hasil nyata dan impresif program, disusunnya laporan detail setiap quarter, melibatkan pakar untuk kegiatan advokasi, menyusun prosedur yang menjamin, melibatkan sejumlah organisasi, dan melibatkan orang yang berpengaruh (Kemenkes RI. , 2. Dengan adanya upaya mitigasi tersebut, diharapkan para lembaga dan masyarakat dapat menerima dan ikut serta dalam Gerakan 1000 HPK sebagai salah satu upaya impelementasi program Sun Movement untuk mewujudkan derajat kesehatan Indonesia yang jauh lebih baik. Kesimpulan Bencana permasalahan gizi di Indonesia merupakan hal yang sangat kompleks untuk Permasalahan gizi disebabkan oleh banyak factor penyebab, diantaranya yaitu penyebab langsung, penyebab tidak langsung, penyebab utama, dan akar masalah. Permasalahan gizi tersebut berimbas pada keadaan Double Burden of Malnutrition, yaitu beban ganda permasalahan gizi yang bisa menyebabkan seseorang stunting maupun obesitas, hal ini dikarenakan ketidakseimbangan kadar gizi makro maupun mikro dalam tubuh. Permasalahan gizi apabila tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan penurunan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) suatu bangsa. Salah satu upaya penanggulangan permasalahan gizi adalah program Sun Movement, dengan salah satu implementasinya di Indonesia adalah Gerakan 1000 HPK yang memiliki dua kategori intervensi, yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitive. Gerakan 1000 HPK terus dijalankan, dimonitoring, dan dievaluasi guna mendapatkan hasil yang maksimal demi derajat kesehatan Indonesia yang jauh lebih baik. Referensi