https://siberpublisher. org/JMPD. AU Vol. No. April Ae Juni 2026 DOI: https://doi. org/10. 38035/jmpd. https://creativecommons. org/licenses/by/4. Model Social Cognitive Career Theory (SCCT) Dalam Menjelaskan Pilihan Karier Mahasiswa: Learning Experience. Self-Efficacy, dan Outcome Expectation Yuniadi Mayowan1 Universitas Brawijaya. Malang. Indonesia, ymayowan@ub. Corresponding Author: ymayowan@ub. Abstract: This study aims to examine the cognitive mechanisms underlying career decision-making among university students by applying the Social Cognitive Career Theory (SCCT) framework. Specifically, it investigates how learning experiences shape self-efficacy and outcome expectations, which, in turn, influence interest and career choice. Data were collected from 197 students at the Faculty of Administrative Sciences. Universitas Brawijaya, using a structured questionnaire. The analysis was conducted using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The findings reveal that learning experiences significantly influence both self-efficacy and outcome expectations. Furthermore, self-efficacy and outcome expectations play a crucial role in shaping studentsAo career interests, which in turn significantly affect career choice. Among all variables, interest emerges as the most dominant predictor of career choice. These findings confirm the applicability of SCCT in the context of higher education and highlight the importance of experiential learning in enhancing studentsAo career readiness and decision-making processes. Keyword: Social Cognitive Career Theory. Learning Experiences. Self-Efficacy. Outcome Expectation. Interest. Career Choice. University Students. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mekanisme kognitif yang mendasari pengambilan keputusan karier pada mahasiswa dengan menggunakan kerangka Social Cognitive Career Theory (SCCT). Secara khusus, penelitian ini menganalisis peran pengalaman belajar dalam membentuk efikasi diri dan ekspektasi hasil, yang selanjutnya memengaruhi minat dan pilihan karier. Data dikumpulkan dari 197 mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi. Universitas Brawijaya, melalui kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman belajar berpengaruh signifikan terhadap efikasi diri dan ekspektasi hasil. Selain itu, efikasi diri dan ekspektasi hasil terbukti memiliki peran penting dalam membentuk minat karier mahasiswa, yang pada akhirnya berpengaruh signifikan terhadap pilihan karier. Di antara seluruh variabel yang diteliti, minat muncul sebagai prediktor paling dominan terhadap pilihan karier. Temuan ini mengonfirmasi relevansi dan aplikabilitas SCCT dalam konteks pendidikan tinggi serta menegaskan 109 | Page https://siberpublisher. org/JMPD. AU Vol. No. April Ae Juni 2026 pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman dalam meningkatkan kesiapan karier dan kualitas pengambilan keputusan mahasiswa. Kata Kunci: Teori Karier Kognitif Sosial. Pengalaman Belajar. Efikasi Diri. Ekspektasi Hasil. Minat. Pilihan Karier. Mahasiswa. PENDAHULUAN Pemilihan jalur karier merupakan salah satu keputusan paling krusial dalam kehidupan individu, khususnya bagi mahasiswa yang berada pada fase transisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja. Proses ini tidak bersifat sederhana, melainkan melibatkan interaksi kompleks antara faktor internal individu dan pengaruh eksternal yang berasal dari lingkungan sosial dan akademik. Dalam perspektif psikologi karier, pilihan karier dipandang sebagai hasil dari proses kognitif yang berkembang secara dinamis melalui pengalaman hidup dan proses pembelajaran (Zhang et al. , 2. Oleh karena itu, pemahaman terhadap mekanisme yang mendasari proses tersebut menjadi penting, baik dalam konteks akademis maupun Dinamika pasar tenaga kerja global yang semakin kompleks dan tidak pasti turut memperumit proses pengambilan keputusan karier. Perubahan struktur ekonomi, perkembangan teknologi, serta meningkatnya persaingan kerja menuntut individu untuk memiliki kesiapan yang lebih tinggi dalam menentukan arah kariernya. Dalam konteks ini, mahasiswa dihadapkan pada tantangan untuk menyelaraskan minat akademik, kemampuan personal, dan peluang kerja di masa depan. Studi yang dilakukan oleh Zhao et al. menunjukkan bahwa banyak mahasiswa mengalami kebingungan dan ketidakpastian dalam menentukan arah karier, terutama pada tahap awal masa studi. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pengambilan keputusan karier belum sepenuhnya optimal dan memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhinya. Untuk menjelaskan fenomena tersebut, diperlukan kerangka teoretis yang mampu mengintegrasikan faktor kognitif, pengalaman individu, dan lingkungan sosial. Salah satu teori yang paling relevan dalam menjelaskan proses ini adalah Social Cognitive Career Theory (SCCT) yang dikembangkan oleh Lent. Brown, dan Hackett . SCCT merupakan pengembangan dari teori kognitif sosial yang menekankan bahwa individu bukan sekadar penerima pasif dari pengaruh lingkungan, melainkan agen aktif yang mampu mengarahkan perkembangan kariernya melalui proses kognitif dan pengalaman belajar. Dalam model ini, perkembangan karier dipengaruhi oleh interaksi antara pengalaman belajar, efikasi diri, ekspektasi hasil, minat, serta tujuan dan pilihan karier (Lent et al. , 1994. Chiu et , 2. Secara khusus, efikasi diri dan ekspektasi hasil merupakan dua konstruk kunci dalam SCCT yang memiliki peran sentral dalam membentuk minat dan keputusan karier individu. Efikasi diri merujuk pada keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mencapai keberhasilan pada suatu aktivitas tertentu, sedangkan ekspektasi hasil berkaitan dengan persepsi individu terhadap hasil yang mungkin diperoleh dari tindakan yang dilakukan. Kedua faktor ini saling berinteraksi dalam membentuk minat karier, yang selanjutnya memengaruhi keputusan individu dalam memilih jalur karier tertentu (Lent et al. , 1994. Brown & Lent, 2. Sejalan dengan perkembangan penelitian terkini, berbagai studi empiris menunjukkan bahwa efikasi diri dan minat karier memiliki pengaruh langsung terhadap pembentukan niat dan pilihan karier mahasiswa (Duong et al. , 2. Selain itu, pengalaman belajar diposisikan sebagai faktor awal yang krusial dalam membentuk konstruk kognitif tersebut. Pengalaman belajar yang diperoleh melalui proses akademik, interaksi sosial, dan lingkungan pendidikan 110 | Page https://siberpublisher. org/JMPD. AU Vol. No. April Ae Juni 2026 berfungsi sebagai stimulus yang memengaruhi perkembangan efikasi diri dan ekspektasi hasil (Zhang et al. , 2. Dengan kata lain, kualitas pengalaman belajar mahasiswa akan menentukan bagaimana mereka memersepsikan kemampuan diri serta peluang karier yang Dari perspektif sosio-kognitif, pembentukan minat dan pilihan karier tidak dapat dipisahkan dari pengaruh lingkungan sosial dan budaya. Faktor-faktor seperti latar belakang keluarga, kondisi sosial ekonomi, dan sistem pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk aspirasi dan preferensi karier individu (Akinlolu et al. , 2. Bahkan, pengalaman sejak masa kanak-kanak dan remaja, termasuk paparan terhadap aktivitas tertentu dan lingkungan sosial, dapat memengaruhi perkembangan minat karier di masa depan (Sheu & Bordon, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pilihan karier merupakan hasil dari interaksi jangka panjang antara faktor internal dan eksternal yang membentuk persepsi individu terhadap dunia kerja. Lebih lanjut, dalam kerangka SCCT, hubungan antara efikasi diri, ekspektasi hasil, dan minat membentuk suatu mekanisme kognitif yang mendorong individu dalam mengambil keputusan karier. Minat yang terbentuk akan berkembang menjadi niat, yang kemudian diwujudkan dalam tindakan konkret berupa pilihan karier. Dalam konteks ini, niat berfungsi sebagai jembatan antara keyakinan kognitif dan perilaku aktual (Akinlolu et al. , 2. Perspektif ini sejalan dengan teori motivasi yang dikemukakan oleh Vroom . , yang menyatakan bahwa individu cenderung memilih tindakan yang memiliki probabilitas tertinggi untuk menghasilkan hasil yang diharapkan. Meskipun demikian, berbagai studi menunjukkan bahwa mahasiswa masih menghadapi tantangan dalam proses pengambilan keputusan karier. Tingginya tingkat ketidakpastian dan kebingungan dalam menentukan arah karier mengindikasikan bahwa proses kognitif yang mendasari pilihan karier belum berkembang secara optimal (Zhao et al. , 2. Selain itu, keterbatasan paparan terhadap pengalaman belajar yang relevan dengan dunia profesional juga menghambat mahasiswa dalam memahami pilihan karier yang tersedia. Chiu et al. menemukan bahwa paparan terhadap pengalaman akademik dan praktik profesional dapat meningkatkan pemahaman serta kepercayaan diri mahasiswa terhadap bidang karier Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa meskipun SCCT telah banyak digunakan untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan karier, masih terdapat kebutuhan untuk mengkaji lebih dalam mekanisme kognitif inti yang mendasari pilihan karier, khususnya dalam konteks mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan model yang lebih terfokus dengan menempatkan pengalaman belajar sebagai variabel awal yang memengaruhi efikasi diri dan ekspektasi hasil, yang selanjutnya membentuk minat sebagai representasi niat, dan pada akhirnya memengaruhi pilihan karier sebagai bentuk perilaku aktual. Melalui pendekatan ini, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai mekanisme kognitif yang mendasari proses pengambilan keputusan karier mahasiswa. Secara khusus, penelitian ini berupaya mengidentifikasi peran mediasi efikasi diri dan ekspektasi hasil dalam menghubungkan pengalaman belajar dengan pembentukan minat dan pilihan karier. Hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pengembangan teoretis SCCT, tetapi juga memberikan implikasi praktis bagi institusi pendidikan dalam merancang strategi pembelajaran dan program bimbingan karier yang lebih efektif. METODE Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Malang. Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya 111 | Page https://siberpublisher. org/JMPD. AU Vol. No. April Ae Juni 2026 memiliki berbagai program studi yang relevan dengan administrasi publik, bisnis, dan pembangunan, yang menarik bagi mahasiswa dalam memilih jalur karir mereka. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Mahasiswa yang menjadi subjek penelitian terdiri dari berbagai angkatan dan program studi yang ada di Fakultas Ilmu Administrasi, yaitu Administrasi Publik. Administrasi Bisnis, dan Pembangunan. Hasil pengumpulan data mempergunakan google form diperoleh jumlah responden sebesar 197 mahasiswa dari berbagai jurusan dan angkatan yang menjadi sampel Pengolahan data dilakukan menggunakan Smart PLS 4. Seperti yang dinyatakan oleh Hair Jr. Hult. Ringle. Sarstedt, dkk. , metode PLS-SEM lebih tangguh, menghadapi lebih sedikit tantangan identifikasi, dapat diterapkan pada ukuran sampel yang lebih kecil dan lebih besar, dan mengakomodasi konstruksi formatif dan reflektif. Dalam penelitian ini, kami menggunakan perangkat lunak SmartPLS untuk menerapkan pendekatan PLS-SEM. Instrumen pengukuran diadaptasi dari literatur yang tersedia untuk memverifikasi dan memvalidasi model yang diusulkan serta menguji hipotesis penelitian. Skala Likert lima poin digunakan, mulai dari . angat setuj. angat tidak setuj. Pengukuran Learning Experince sebanyak 4 item diadaptasi dari Bhalla & Dawra . Thompson et al. kemudian 4 item pengukuran Self-Efficacy diadaptasi dari Betz & Hackett . , selanjutnya untuk pengukuran Outcome Expectation mempergunakan 4 item yang diperoleh dari Shoffner et al. Raharja & Liany . Pengukuran Interest diperoleh dari Bhalla & Dawra . sejumlah 3 item dan Career Choice sejumlah 3 item diadaptasi dari Lent et al. , . Dalam penelitian ini, kami menggunakan metode kuantitatif untuk menjawab pertanyaan penjelasan. Sangat penting untuk menguji hipotesis menggunakan pendekatan statistik, khususnya teknik Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Metode ini dianggap andal dan memiliki potensi besar bagi para peneliti yang menyelidiki Seperti yang ditunjukkan oleh Hair Jr. Hult. Ringle. Sarstedt, dkk. teknik PLS-SEM lebih kuat, menghadapi lebih sedikit masalah identifikasi, mengakomodasi ukuran sampel yang lebih kecil dan lebih besar, dan mengintegrasikan konstruksi formatif dan reflektif. Untuk melaksanakan analisis PLS-SEM dalam penelitian ini, kami menggunakan perangkat lunak SmartPLS. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Secara deskriptif dari 197 responden diketahui bahwa 153 responden . ,7%) berjenis kelamin perempuan dan 44 . ,3%) resonden berjenis kelamin laki-laki. Rata-rata usia responden berada pada rentang 17 hingga 24 tahun dengan myoritas berada pada semester 7 sebesar 104 orang . ,8%) dan sisanya secara beturut-turut adalah mahasiswa pada semester 5 sejumlah 35 orang . ,8%). semester 3 sejumlah 34 orang . dan semester 1 sejumlah 24 orang . ,2%). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini sudah berada pada semester akhir dan telah menempuh kegiatan magang yang merupakan salah satu kewajiban dalam menyelesaikan perkuliahan, dapat juga diketahui bahwa mayoritas responden telah memiliki gambaran terkait karier dan pekerjaan yang akan dipilih setelah menyelesaikan proses pendidikan di level perguruan tinggi. Selanjutnya hasil dari analisa partial least square menunjukkan bahwa keseluruhan item dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas yang ditentukan sebagai prasyarat dalam menjalankan uji hipotesis. Tabel 1 menjelaskan bahwa nilai AVE keseluruhan variabel berada diatas rule of thumb, dimana keseluruhan nilai berada diatas 0,5. Sementara itu nilai Cronbach Alpha dan Composite Reliability secara keseluruhan telah 112 | Page https://siberpublisher. org/JMPD. AU Vol. No. April Ae Juni 2026 berada diatas tracehold yaitu 0,7 sehingga keseluruhan construct telah memenuni kaidah dalam validitas dan reliabilitas (Hair, 2. Tabel 1. Pengukuran Konstruk Variabel Item Learning Experience (LE) Self-Efficacy (SE) Outcome Expectation (OE) Interest (I) Career Choice (CC) Mean Cronbach Alpha LE_1 LE_2 LE_3 LE_4 SE_1 SE_2 SE_3 SE_4 OE_1 OE_2 OE_3 OE_4 I_1 I_2 I_3 CC_1 CC_2 CC_3 Sumber: Output PLS-SEM . Composite Reliability AVE Sementara itu Henseler et al . mengarahkan agar dalam menghitung validitas diskriminant untuk mempergunakan rasio korelasi Heterotrait-Monotrait (HTMT) yang memiliki ambang batas kurang dari 0. Tabel 2 menunjukkan nilai HTMT yang menunjukkan bahwa tedapat 2 construct yang memiliki nilai lebih dari 0. 9, yaitu Interest . dan Outcome Expectation . walaupun demikian Nilai HTMT yang relatif tinggi pada beberapa pasangan konstruk dalam penelitian ini tidak serta-merta menunjukkan kegagalan discriminant validity. Sebagaimana dijelaskan oleh Henseler et al. dan Lim . , konstruk yang memiliki kedekatan konseptual . onceptual proximit. cenderung menghasilkan nilai HTMT yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, hubungan antar konstruk seperti self-efficacy, outcome expectation, dan career-choice secara teoritis memang saling terkait erat dalam kerangka Social Cognitive Career Theory (SCCT). Oleh karena itu, nilai HTMT yang tinggi lebih mencerminkan kedekatan konseptual dibandingkan dengan kegagalan dalam membedakan konstruk secara empiris. Sehingga dapat diketahui bahwa keseluruhan konstruk telah memenuhi validitas discriminant. Table 2. Discriminant Validity Career Learning Interest Choice Experience Career Choice Interest Learning Experience Outcome Expectation Self Efficacy Sumber: Output PLS-SEM . Outcome Expectation Self Efficacy 113 | Page https://siberpublisher. org/JMPD. AU Vol. No. April Ae Juni 2026 Berdasarkan hasil pengujian hipotesis (Tabel . menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) terhadap 197 responden, seluruh hubungan antar variabel dalam model penelitian terbukti signifikan dan diterima. Learning experience berpengaruh positif terhadap self-efficacy ( = 0. t = 2. p = 0. dan outcome expectation ( = 0. t = 5. p = 0. , menunjukkan bahwa pengalaman belajar menjadi faktor awal yang penting dalam membentuk keyakinan diri dan ekspektasi hasil mahasiswa. Selanjutnya, self-efficacy memiliki pengaruh kuat terhadap outcome expectation ( = 0. t = 8. p = 0. serta berpengaruh signifikan terhadap interest ( = 0. t = 5. p = 0. , yang menegaskan perannya sebagai determinan kognitif Outcome expectation juga berpengaruh signifikan terhadap interest ( = 0. p = 0. , sehingga memperkuat pembentukan minat karier mahasiswa. Dalam konteks keputusan karier, self-efficacy ( = 0. t = 2. p = 0. , outcome expectation ( = 0. t = 2. p = 0. , dan terutama interest ( = 0. t = 4. p = 0. terbukti berpengaruh signifikan terhadap career choice, dengan interest menjadi variabel paling dominan. Selain itu, nilai RA menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan prediktif yang cukup baik, khususnya pada variabel interest . dan career choice . , sementara outcome expectation berada pada kategori moderat . dan self-efficacy relatif rendah . , yang mengindikasikan bahwa masih terdapat faktor lain di luar model yang memengaruhi pembentukan self-efficacy. Tabel 3. Efek Statistik & Pengujian Hipotesis Hypotheses Direct Effect T-Score P-value Conclusion Learning Experience -> Self Efficacy Accepted Learning Experience Outcome Accepted Expectation Self Efficacy -> Outcome Expectation Accepted Self Efficacy -> Interest Accepted Outcome Expectation -> Interest Accepted Self Efficacy -> Career Choice Accepted Outcome Expectation -> Career Choice Accepted Interest -> Career Choice Accepted N = 197 R2 = Self Efficacy . Outcome Expectation . Interest . Career Choice . Sumber: Output PLS-SEM . 114 | Page https://siberpublisher. org/JMPD. AU Vol. No. April Ae Juni 2026 Sumber: Output PLS-SEM . Gambar 1. Keluaran Model Internal Pembahasan Temuan penelitian ini memperkuat relevansi Social Cognitive Career Theory (SCCT) sebagai kerangka teoretis yang kuat dalam menjelaskan mekanisme kognitif yang mendasari proses pengambilan keputusan karier mahasiswa. Secara khusus, hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara learning experiences, self-efficacy, outcome expectation, dan interest merupakan prediktor yang kuat terhadap career choice. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menekankan bahwa perkembangan karier bukanlah proses yang linear, melainkan hasil dari interaksi dinamis antara evaluasi kognitif dan pengalaman belajar (Zhang et al. , 2021. Zhao et al. , 2. Hasil empiris menunjukkan bahwa learning experiences berpengaruh positif dan signifikan terhadap self-efficacy ( = 0. p < 0. dan outcome expectation ( = 0. < 0. Temuan ini mendukung sekaligus memperluas penelitian sebelumnya yang menegaskan peran fundamental pembelajaran berbasis pengalaman dalam membentuk keyakinan kognitif individu terkait kemampuan diri dan ekspektasi terhadap hasil karier (Zhang et al. , 2. Dalam konteks pendidikan tinggi, paparan terhadap aktivitas akademik, magang, serta interaksi sosial memungkinkan mahasiswa untuk menginternalisasi pengetahuan dan menerjemahkannya menjadi kepercayaan diri serta ekspektasi karier yang Hal ini mengonfirmasi bahwa learning experiences berperan sebagai stimulus utama dalam kerangka SCCT yang memicu proses kognitif hingga menghasilkan keputusan karier. Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy memiliki pengaruh yang kuat dan signifikan terhadap outcome expectation ( = 0. p < 0. dan interest ( = p < 0. Temuan ini menegaskan peran sentral self-efficacy sebagai penggerak utama dalam perkembangan karier. Mahasiswa yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap kemampuannya cenderung membentuk ekspektasi yang lebih positif terhadap hasil karier di masa depan serta menunjukkan minat yang lebih besar terhadap bidang karier Hasil ini konsisten dengan proposisi teoretis SCCT yang menempatkan self-efficacy sebagai determinan penting dalam aspek motivasional maupun perilaku (Lent et al. , 1994. Brown & Lent, 2. 115 | Page https://siberpublisher. org/JMPD. AU Vol. No. April Ae Juni 2026 Selain itu, outcome expectation juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap interest ( = 0. p < 0. , yang menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap manfaat potensial suatu karier memiliki peran penting dalam membentuk preferensi mereka. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa individu cenderung mengembangkan minat pada aktivitas yang dipersepsikan mampu memberikan hasil yang diinginkan, baik berupa manfaat finansial, status sosial, maupun kepuasan pribadi (Zhao et , 2. Dalam kondisi lingkungan karier yang semakin dinamis dan tidak pasti, ekspektasi terhadap hasil menjadi semakin penting dalam proses evaluasi pilihan karier. Lebih lanjut, hasil penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy ( = 0. p < 0. outcome expectation ( = 0. p < 0. , dan interest ( = 0. p < 0. memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap career choice. Di antara ketiga variabel tersebut, interest muncul sebagai prediktor paling dominan, yang menunjukkan bahwa keputusan karier sangat dipengaruhi oleh preferensi intrinsik mahasiswa. Temuan ini mendukung konsep conceptual proximity dalam SCCT, di mana interest dan career choice merupakan konstruk yang memiliki keterkaitan erat, dengan interest sebagai tahap awal menuju tindakan nyata (Akinlolu et al. , 2. Selain itu, nilai RA menunjukkan bahwa model memiliki daya jelaskan yang cukup kuat, terutama pada variabel interest . dan career choice . , yang mengindikasikan bahwa kerangka SCCT yang digunakan mampu menjelaskan determinan utama dalam pengambilan keputusan karier mahasiswa. Namun demikian, nilai RA yang relatif rendah pada self-efficacy . menunjukkan bahwa terdapat faktor lain seperti karakteristik kepribadian, pengalaman sebelumnya, atau pengaruh sosial budaya yang juga berperan dalam membentuk tingkat kepercayaan diri mahasiswa, sehingga perlu dikaji lebih Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan pentingnya integrasi strategi pembelajaran berbasis pengalaman dalam pendidikan tinggi guna meningkatkan kesiapan karier Dengan memperkuat self-efficacy dan membentuk outcome expectation yang positif, institusi pendidikan dapat mendorong terbentuknya interest yang lebih kuat serta memfasilitasi pengambilan keputusan karier yang lebih matang dan percaya diri. Hal ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis tidak hanya sebagai penyedia pengetahuan, tetapi juga sebagai fasilitator pengembangan karier melalui pengalaman belajar yang terstruktur dan relevan dengan dunia kerja. KESIMPULAN Proses pengambilan keputusan karier pada mahasiswa semakin menjadi fenomena yang kompleks, terutama dalam konteks pasar tenaga kerja yang dinamis dan penuh Dalam hal ini. Social Cognitive Career Theory (SCCT) memberikan kerangka teoretis yang komprehensif untuk menjelaskan bagaimana individu mengembangkan preferensi karier melalui interaksi antara faktor kognitif dan pengalaman. Penelitian ini menyoroti peran interaksi antara learning experiences, self-efficacy, outcome expectation, dan interest dalam membentuk career choice pada mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa learning experiences berperan sebagai faktor dasar yang memengaruhi self-efficacy dan outcome expectation, yang selanjutnya membentuk interest dan pada akhirnya menentukan career choice. Secara khusus, self-efficacy dan outcome expectation muncul sebagai mekanisme kognitif utama yang menerjemahkan pengalaman menjadi hasil yang bersifat motivasional dan perilaku. Temuan ini mengonfirmasi proposisi utama SCCT bahwa perkembangan karier dipengaruhi oleh interaksi antara keyakinan individu dan stimulus lingkungan. Selain itu, peran interest menjadi sangat penting karena terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap career choice serta berfungsi sebagai mediator utama dalam 116 | Page https://siberpublisher. org/JMPD. AU Vol. No. April Ae Juni 2026 menghubungkan evaluasi kognitif dengan keputusan karier yang nyata. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan karier mahasiswa tidak hanya didasarkan pada pertimbangan rasional, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh preferensi intrinsik dan persepsi terhadap kemampuan Dari perspektif teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan SCCT dengan menyajikan bukti empiris dalam konteks pendidikan tinggi, khususnya melalui pendekatan model yang lebih ringkas dalam menjelaskan jalur kognitif dari learning experiences hingga career choice. Pendekatan ini memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai interaksi antar variabel utama dalam SCCT serta membuka peluang bagi penelitian lanjutan untuk mengkaji faktor-faktor lain yang bersifat kontekstual maupun personal. Dari sisi praktis, temuan penelitian ini menegaskan pentingnya perancangan strategi pendidikan yang mampu memperkaya learning experiences mahasiswa, khususnya melalui pembelajaran berbasis pengalaman, paparan industri, serta program pengembangan karier. Dengan memperkuat self-efficacy dan membentuk outcome expectation yang positif, institusi pendidikan dapat berperan secara strategis dalam meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam mengambil keputusan karier yang lebih tepat dan percaya diri. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan. Fokus penelitian yang hanya pada mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya berpotensi membatasi generalisasi hasil ke konteks disiplin ilmu atau wilayah lain. Selain itu, rendahnya daya jelaskan pada variabel self-efficacy menunjukkan bahwa terdapat variabel lain seperti karakteristik kepribadian, faktor sosial budaya, maupun sistem dukungan eksternal yang juga memengaruhi kepercayaan diri dan keputusan karier mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memasukkan variabel-variabel tersebut serta memperluas cakupan penelitian agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai proses perkembangan karier. REFERENSI