Faktor Risiko Kejadian Laringomalasia pada Anak dengan Stridor Inspirasi yang Dilakukan Fiberoptic Laryngoscopy di Rumah Sakit M. Djamil Padang Karina Astarini Mukhti,1 Finny Fitry Yani,1 Rahmi Lestari,1 Rinang Mariko,1 Yusri Dianne Jurnalis,1 Indra Ihsan,1 Novialdi2 Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/Rumah Sakit Umum Pusat Dr M Djamil. Padang Departemen THT-BKL. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/Rumah Sakit Umum Pusat Dr M Djamil Padang Latar belakang. Laringomalasia merupakan penyebab tersering stridor inspirasi pada bayi dan anak, dan sering dikaitkan dengan usia muda, jenis kelamin laki-laki, prematuritas, berat badan lahir rendah, malnutrisi, serta komorbiditas neurologis maupun kongenital. Data lokal diperlukan untuk memahami faktor risiko yang berperan pada populasi setempat. Tujuan. Mengetahui faktor risiko kejadian laringomalasia pada anak yang menjalani fiberoptic laryngoscopy (FOL) di RSUP Dr. Djamil. Padang. Metode. Studi retrospektif kasusAekontrol pada anak usia 1 bulanAe5 tahun periode 2019Ae2023. Sebanyak 36 kasus laringomalasia dibandingkan dengan 72 kontrol. Data diperoleh dari rekam medis meliputi usia, jenis kelamin, berat badan lahir, usia gestasi, status gizi, dan komorbiditas. Analisis menggunakan uji chi-square/Fisher dan odds ratio (OR) 95%. Hasil. Seratus delapan anak yang dilakukan FOL, 36 . ,3%) memenuhi kriteria laringomalasia. Mayoritas berusia <2 tahun, laki-laki, lahir cukup bulan, dan memiliki berat lahir normal, dan gizi baik. Komorbiditas ditemukan pada 94,4% kasus. Tidak terdapat hubungan bermakna antara variabel yang diteliti dengan kejadian laringomalasia . >0,. , meskipun terdapat kecenderungan peningkatan risiko pada usia <2 tahun (OR 2,. , jenis kelamin laki-laki (OR 1,. , dan usia gestasi < 37 minggu (OR 2,. Kesimpulan. Tidak ditemukan hubungan signifikan dalam penelitian ini. Usia < 2 tahun, laki-laki, dan usia gestasi < 37 minggu berpotensi menjadi faktor risiko. Studi multisenter dengan sampel yang lebih besar diperlukan untuk memvalidasi temuan ini. Sari Pediatri 2026. Kata kunci: laringomalasia, stridor, faktor risiko, fiberoptic laryngoscopy Risk Factors of Laryngomalacia in Children with Inspiratory Stridor who Underwent Fiberoptic Laryngoscopy at M. Djamil General Hospital. Padang Karina Astarini Mukhti,1 Finny Fitry Yani,1 Rahmi Lestari,1 Rinang Mariko,1 Yusri Dianne Jurnalis,1 Indra Ihsan,1 Novialdi2 Background. Laryngomalacia is the most common cause of inspiratory stridor in infants and young children, often associated with younger age, boys, prematurity, low birth weight, malnutrition, and neurological or congenital comorbidities. Local data are needed to clarify contributing risk factors. Objective. To identify risk factors associated with laryngomalacia in children underwent fiberoptic laryngoscopy (FOL) at RSUP Dr. Djamil Padang. Methods. A retrospective caseAecontrol study of children aged 1 monthAe5 years from 2019Ae2023. Thirty-six laryngomalacia cases were compared with seventy-two controls. Data included age, sex, birth weight, gestational age, nutritional status, and comorbidities. Statistical analysis used chi-square/FisherAos exact test and odds ratios (OR) with 95% CI. Result. Among the 108 children who underwent FOL, 36 had laryngomalacia. Most were <2 years old, male, fullterm, had normal birth weight, and wellnourished. Comorbidities were present in 94. 4% of cases. No significant associations were found between examined variables and laryngomalacia . >0. , though higher odds were observed in younger age (OR 2. , boys (OR 1. , and gestasional age < 37 weeks (OR 2. Conclusion. No significant associations were found in this study. Younger age, boys, and gestasional age < 37 weeks may act as potential risk Multicenter studies with larger samples are recommended to validate these findings. Sari Pediatri 2026. :393-400 Keywords: laryngomalacia, stridor, risk factors, fiberoptic laryngoscopy Alamat korespondensi: Finny Fitry Yani. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP M. Djamil. Jl. Perintis Kemerdekaan. Sawahan Tim. Kec. Padang Tim. Kota Padang. Sumatera Barat 25171. Email: finny_fy@yahoo. Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 Karina Astarini Mukhti dkk: Faktor risiko kejadian laringomalasia dengan stridor inspirasi yang dilakukan fiberoptic laryngoscopy ngka kejadian laringomalasia di dunia belum diketahui secara pasti, tetapi lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki, yaitu sekitar 76% kasus. 5 Diperkirakan sekitar satu dari 2100Ae2600 anak mengalami laringomalasia. Walaupun sebagian besar kasus bersifat ringan dan dapat mengalami resolusi spontan seiring maturasi struktur laring, sebagian pasien dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Kondisi berat tersebut dapat menyebabkan obstruksi jalan napas atas, apnea, hipoksia, gangguan makan dan tidur, serta hambatan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif. Oleh karena itu, deteksi dini dan pemantauan klinis yang adekuat pada anak dengan risiko tinggi menjadi sangat Patogenesis laringomalasia belum sepenuhnya dipahami, tetapi beberapa teori menyebutkan adanya kombinasi faktor anatomis dan neurologis yang menyebabkan kelemahan tonus jaringan supraglotik. Bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi akibat ketidakmatangan struktur kartilago dan sistem neuromuskular laring. Selain itu, status gizi buruk dan kesulitan makan dapat memperburuk kelemahan otot respirasi serta meningkatkan risiko aspirasi. Faktor komorbiditas seperti gangguan neurologis, sindrom kongenital, penyakit jantung bawaan, dan refluks laringofaringeal juga diketahui berkontribusi terhadap keparahan penyakit melalui gangguan koordinasi menelan dan bernapas. Sekitar 40% anak dengan laringomalasia derajat berat dilaporkan memiliki kelainan kongenital lain, seperti sindrom CHARGE. Pierre Robin, dan sindrom Down, yang sering berkaitan dengan synchronous airway lesion serta gangguan oksigenasi. 7,8 Keberadaan komorbiditas tersebut tidak hanya meningkatkan kompleksitas klinis, tetapi juga berpotensi memengaruhi kebutuhan intervensi dan luaran jangka panjang pasien. Berbagai penelitian telah mengevaluasi karakteristik klinis anak dengan laringomalasia. Studi di Boston terhadap 395 pasien melaporkan bahwa 35,9% mengalami infeksi paru berulang, 90,1% mengalami kesulitan menelan, dan 42,3% mengalami aspirasi, dengan komorbiditas terbanyak berupa gastroesophageal reflux disease . %) dan gangguan neurologis . %). Penelitian di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Jakarta menemukan bahwa palsi serebral meningkatkan risiko laringomalasia menetap hingga 12 kali lipat dibandingkan disfungsi neurologis lainnya. 7 Sementara itu, penelitian di RS Dr. Soetomo. Surabaya melaporkan bahwa komorbiditas tersering meliputi gangguan neurologis . ,03%), kelainan jantung bawaan . ,79%), dan anomali kongenital . ,53%). Meskipun demikian, profil faktor risiko dapat bervariasi antar populasi dan pusat layanan kesehatan karena perbedaan karakteristik pasien, sistem rujukan, serta praktik diagnostik. Oleh karena itu, data lokal sangat diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai determinan laringomalasia pada suatu Pre-analisis di RSUP Dr. Djamil Padang menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus laringomalasia pada anak usia 1 bulanAe5 tahun yang menjalani fiber optic laryngoscopy (FOL), dari 10 kasus pada tahun 2021 menjadi 24 kasus pada tahun 2023. Temuan ini mengindikasikan perlunya kajian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian laringomalasia di wilayah Sumatera Barat. Anak dengan laringomalasia juga berisiko mengalami infeksi paru berulang, gangguan pola makan dan tidur, serta masalah pertumbuhan akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen dan asupan nutrisi. Dampak jangka panjang tersebut dapat memengaruhi kualitas hidup anak serta meningkatkan beban perawatan Dengan demikian, identifikasi faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian laringomalasia sangat penting untuk stratifikasi risiko, penetapan kebutuhan pemantauan yang lebih ketat, serta pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kejadian laringomalasia pada anak yang menjalani pemeriksaan FOL di RSUP Dr. Djamil Padang serta menggambarkan karakteristik pasien yang terlibat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi deteksi dini dan optimalisasi tata laksana pada anak dengan laringomalasia. Metode Sebuah studi analitik observasional dengan desain caseAe control retrospektif telah dilaksanakan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Djamil Padang. Data dikumpulkan pada periode Januari 2019 hingga Desember 2023 melalui penelusuran rekam medis Pelaporan studi ini disesuaikan dengan pedoman Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 Karina Astarini Mukhti dkk: Faktor risiko kejadian laringomalasia dengan stridor inspirasi yang dilakukan fiberoptic laryngoscopy Strengthening the Reporting of Observational Studies in Epidemiology (STROBE) guna meningkatkan transparansi dan kualitas pelaporan penelitian Populasi target ditentukan sebagai seluruh anak usia 1 bulan hingga 5 tahun dengan stridor inspirasi yang menjalani pemeriksaan fiber optic laryngoscopy (FOL) di Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT) RSUP Dr. Djamil Padang. Kelompok kasus didefinisikan sebagai pasien dengan diagnosis laringomalasia berdasarkan temuan FOL, sementara kelompok kontrol ditetapkan sebagai pasien dengan stridor inspirasi tanpa diagnosis laringomalasia. Klasifikasi laringomalasia ditentukan berdasarkan temuan FOL dengan menggunakan alat Olympus ENF-VT2. Berdasarkan gambaran anatomi supraglotik, laringomalasia dibagi menjadi tiga tipe: tipe 1 . rolaps mukosa di atas kartilago aritenoi. , tipe 2 . emendekan lipatan ariepigloti. , dan tipe 3 . piglotis yang melipat ke posterio. Sampel dipilih dengan metode simple random sampling dari seluruh kasus yang memenuhi kriteria Selanjutnya, sampel kasus dipasangkan dengan kelompok kontrol menggunakan rasio 1:2 guna meningkatkan kekuatan statistik. Kriteria inklusi ditetapkan sebagai berikut: anak usia 1 bulanAe5 tahun dengan stridor inspirasi yang menjalani FOL serta memiliki rekam medis lengkap . encakup data demografi, riwayat kelahiran, status gizi, komorbiditas, dan hasil pemeriksaa. Data duplikat diidentifikasi berdasarkan nomor rekam medis, dan hanya kunjungan pertama yang dimasukkan ke dalam analisis untuk menghindari bias penghitungan. Variabel tergantung dalam penelitian ini ditetapkan sebagai kejadian laringomalasia. Sementara itu, variabel bebas meliputi usia, jenis kelamin, usia gestasi, berat badan lahir, status gizi, serta komorbiditas . angguan neurologis, sindrom kongenital, dan penyakit jantung Usia dikategorikan menjadi <2 tahun dan Ou2 tahun berdasarkan puncak manifestasi klinis laringomalasia yang umum terjadi pada dua tahun pertama kehidupan. Usia gestasi dikategorikan menjadi prematur (<37 mingg. dan aterm (Ou37 mingg. , sedangkan berat badan lahir dikategorikan menjadi berat badan lahir rendah (<2500 gra. dan berat badan lahir cukup (Ou2500 gra. Status gizi ditentukan berdasarkan WHO Child Growth Standards dengan menggunakan indikator berat badan menurut panjang badan (BB/PB) atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dalam bentuk nilai z-score. Kategori status gizi dibedakan menjadi gizi baik (Oe2 SD hingga 2 SD), gizi kurang (14 hari Lama intubasi Tidak <7 hari 7 Ae 14 hari >14 hari Riwayat pneumonia berulang Tidak f (%) 91,67 8,33 61,11 38,89 11,11 88,89 44,44 19,44 36,11 16,67 83,33 94,44 5,56 88,89 11,11 66,67 13,89 8,33 77,78 11,11 5,56 5,56 38,89 61,11 Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 Karina Astarini Mukhti dkk: Faktor risiko kejadian laringomalasia dengan stridor inspirasi yang dilakukan fiberoptic laryngoscopy Tabel 3. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian laringomalasia Variabel Laringomalasia Non laringomalasia f (%) f (%) (IK) Usia <2 tahun 91,67 81,94 2,424 Ou2 tahun 8,33 18,06 . ,644 Ae 9,. Jenis kelamin Laki-laki 61,11 55,56 1,257 Perempuan 38,89 44,44 . ,556 Ae 2,. BB lahir < 2500 gram 11,11 13,89 0,775 Ou 2500 gram 88,89 86,11 ,225 Ae 2,. Status gizi Baik 44,44 54,17 0,677 . ,303 Ae 1,. Kurang 19,44 Buruk Usia gestasi <37 minggu Ou37 minggu Komorbiditas Ada Tidak Chi-squarebFisherAos Exact Test p value 0,18a 0,582a 0,770b 0,341a 36,11 33,33 16,67 83,33 8,33 91,67 2,200 . ,655 Ae 7,. 0,209b 94,44 5,56 94,44 5,56 1,000 . ,174 Ae 5,. Hasil Selama periode Januari 2019 hingga Desember 2023, tercatat 108 anak usia 1 bulanAe5 tahun dengan stridor inspirasi yang menjalani pemeriksaan fiber optic laryngoscopy (FOL) di RSUP Dr. Djamil Padang. Dari jumlah tersebut, 36 anak . ,3%) didiagnosis dengan laringomalasia . elompok kasu. , sementara 72 anak . ,7%) termasuk dalam kelompok nonlaringomalasia . Proporsi laringomalasia pada anak yang menjalani FOL ditemukan bervariasi antar tahun, dengan nilai tertinggi tercatat pada tahun 2023 dan terendah pada tahun 2019, seperti tertera pada Tabel 1. Distribusi karakteristik kelompok kasus dan kontrol tertera pada Tabel 2. Pada kelompok kasus . , ditemukan bahwa sebagian besar pasien berusia <2 tahun . 91,7%), berjenis kelamin laki-laki . 61,1%), lahir cukup bulan . 83,3%), serta memiliki berat badan lahir Ou2500 gram . 88,9%). Berdasarkan status Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 gizi, proporsi terbanyak berada pada kategori gizi baik . 44,4%). Komorbiditas ditemukan pada hampir seluruh pasien kasus . 94,4%), dengan gangguan neurologis sebagai kondisi yang paling sering dilaporkan. Terapi konservatif diberikan pada sebagian besar pasien kasus . 88,9%), sementara tindakan pembedahan dilakukan pada sebagian kecil kasus . 11,1%). Sebagian besar pasien kasus tidak memerlukan perawatan di pediatric intensive care unit (PICU) . 66,7%) maupun intubasi . 77,8%). Riwayat pneumonia berulang dan kesulitan makan ditemukan pada 14 pasien kasus . ,9%). Analisis bivariat dilakukan untuk menilai hubungan antara masing-masing variabel bebas dengan kejadian Hasil analisis tersebut tertera pada Tabel 3. Dari seluruh variabel yang dianalisis, tidak ditemukan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian laringomalasia . ilai p>0,05 untuk semua variabe. Variabel usia <2 tahun menunjukkan odds ratio (OR) sebesar 2,424 (IK95%: 0,644Ae9,125. p = 0,. , jenis kelamin laki-laki menunjukkan OR Karina Astarini Mukhti dkk: Faktor risiko kejadian laringomalasia dengan stridor inspirasi yang dilakukan fiberoptic laryngoscopy 1,257 (IK95%: 0,556Ae2,842. p=0,. , dan usia gestasi <37 minggu menunjukkan OR 2,200 (IK95%: 0,655Ae 7,386. p=0,. Sementara itu, berat badan lahir rendah menunjukkan OR 0,775 (IK95%: 0,225Ae2,666. p=0,. , status gizi kurang/buruk . ibandingkan gizi bai. menunjukkan OR 0,677 (IK95%: 0,303Ae1,513. p=0,. , dan keberadaan komorbiditas menunjukkan OR 1,000 (IK95%: 0,174Ae5,735. p=1,. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian laringomalasia pada anak dengan stridor inspirasi yang menjalani pemeriksaan FOL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara seluruh variabel yang diteliti dengan kejadian laringomalasia. Meskipun beberapa variabel menunjukkan nilai odds ratio (OR) >1, seluruh interval kepercayaan (IK) melintasi angka 1, yang mengindikasikan tidak adanya asosiasi yang signifikan secara statistik. Rentang IK yang relatif lebar mencerminkan rendahnya presisi estimasi. Hal ini meningkatkan kemungkinan terjadinya error tipe-II, yaitu hubungan yang sebenarnya mungkin ada tetapi tidak terdeteksi akibat keterbatasan ukuran sampel. Oleh karena itu, nilai OR dalam penelitian ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati dan tidak dapat langsung dianggap sebagai peningkatan risiko yang bermakna secara klinis. Mayoritas pasien laringomalasia berusia <2 Temuan ini konsisten dengan literatur yang menyebutkan bahwa gejala laringomalasia umumnya muncul pada minggu-minggu awal kehidupan, mencapai puncak pada usia 6Ae8 bulan, dan berangsur membaik seiring maturasi struktur laring pada tahun kedua kehidupan. 11 Kondisi ini berkaitan dengan imaturitas kartilago laring serta kontrol neuromuskular jalan napas yang belum optimal pada bayi. Namun, tidak ditemukannya hubungan yang bermakna dalam penelitian ini menunjukkan bahwa usia kemungkinan lebih mencerminkan periode manifestasi klinis daripada berperan sebagai faktor risiko independen. Proporsi pasien laki-laki ditemukan lebih tinggi dibandingkan perempuan. Hal ini sejalan dengan studi sebelumnya yang melaporkan dominasi jenis kelamin laki-laki pada kasus laringomalasia, yang diduga berhubungan dengan perbedaan maturasi neuromuskular serta elastisitas kartilago laring. Meskipun OR untuk jenis kelamin menunjukkan arah asosiasi. IK yang lebar dan mencakup angka 1 mengindikasikan bahwa estimasi efek masih belum Hal ini dapat disebabkan oleh keterbatasan jumlah sampel serta distribusi karakteristik yang relatif serupa antara kelompok kasus dan kontrol, sehingga perbedaan yang ada tidak mencapai signifikansi statistik. Usia gestasi <37 minggu juga menunjukkan arah asosiasi dengan nilai OR di atas 1. Secara biologis, kondisi ini dapat dijelaskan oleh ketidakmatangan struktur anatomi dan fungsi neuromuskular laring pada bayi prematur, yang berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap kolaps supraglotik. Studi sebelumnya melaporkan bahwa usia gestasi <37 minggu dan berat badan lahir rendah berhubungan dengan laringomalasia berat serta peningkatan kebutuhan intervensi. 9 Tidak ditemukannya hubungan bermakna dalam penelitian ini kemungkinan berkaitan dengan keterbatasan kekuatan statistik akibat ukuran sampel yang relatif dengan demikian, penelitian ini mungkin tidak mampu mendeteksi asosiasi dengan efek yang lemah hingga sedang. Pada penelitian ini, berat badan lahir dan status gizi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian laringomalasia. Secara teoritis, gangguan nutrisi dapat memperburuk kelemahan otot respirasi serta meningkatkan risiko gangguan makan maupun Studi sebelumnya melaporkan tingginya angka aspirasi pada anak dengan laringomalasia akibat gangguan koordinasi antara menelan dan bernapas. Namun, hasil penelitian ini dapat mengindikasikan bahwa faktor-faktor tersebut lebih berperan terhadap keparahan penyakit daripada terhadap kejadian awal Selain itu, variasi definisi operasional serta perbedaan karakteristik populasi antar penelitian juga dapat berkontribusi terhadap inkonsistensi temuan. Hampir seluruh pasien dalam penelitian ini memiliki komorbiditas, terutama gangguan neurologis. Kondisi neurologis diketahui dapat mengganggu koordinasi menelan dan bernapas, sehingga berpotensi memperburuk obstruksi jalan napas. Data dari pusat rujukan lain juga menempatkan gangguan neurologis dan gastroesophageal reflux sebagai komorbiditas tersering, sementara kondisi sindromik seperti sindrom Down dan Pierre Robin lebih sering berkaitan dengan kasus yang lebih berat. 12 Walaupun demikian, tidak adanya hubungan yang signifikan pada penelitian ini Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 Karina Astarini Mukhti dkk: Faktor risiko kejadian laringomalasia dengan stridor inspirasi yang dilakukan fiberoptic laryngoscopy kemungkinan dipengaruhi oleh distribusi komorbiditas yang relatif seimbang antara kelompok kasus dan Perbedaan hasil penelitian ini dengan beberapa studi multisenter yang melaporkan hubungan signifikan antara usia gestasi <37 minggu, berat badan lahir rendah, dan komorbiditas dengan laringomalasia berat dapat disebabkan oleh heterogenitas populasi, perbedaan desain penelitian, serta variasi metode diagnostik yang 9 Selain itu, penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar umumnya menghasilkan estimasi yang lebih stabil dengan presisi yang lebih tinggi, sehingga lebih mampu mendeteksi asosiasi yang kecil sekalipun. Bukti observasional juga menunjukkan bahwa anak dengan sindrom genetik memiliki perjalanan penyakit yang lebih berat serta kebutuhan intervensi yang lebih tinggi, termasuk tindakan supraglottoplasti dan 11,12 Secara klinis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun beberapa variabel memperlihatkan arah asosiasi, belum terdapat bukti yang cukup kuat untuk menetapkannya sebagai faktor risiko independen. Oleh karena itu, interpretasi hasil perlu dilakukan secara hati-hati dan tidak dapat digeneralisasi secara luas Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pe r t a m a , d e s a i n re t ro s p e k t i f m e n ye b a b k a n ketergantungan pada kelengkapan dan akurasi rekam medis, sehingga berpotensi menimbulkan bias informasi. Kedua, sampel kasus dan kontrol dalam penelitian ini berasal dari populasi pasien yang telah memiliki kelainan penyakit, sehingga membatasi kekuatan statistik dalam mendeteksi faktor risiko yang signifikan. Ketiga, sampel penelitian ini diambil dari anak yang menjalani FOL. Pemilihan kontrol dari anak sehat yang bersedia menjalani FOL sangat sulit dilakukan. oleh karena itu, kontrol diambil dari anak sakit lainnya dengan stridor inspirasi yang tidak didiagnosis laringomalasia. Keempat, penelitian ini hanya dilakukan di satu pusat . ingle centr. dan bersifat hospital based, sehingga hasilnya mungkin tidak mewakili populasi yang lebih luas. Kelima, analisis yang digunakan terbatas pada analisis bivariat, sehingga faktor perancu tidak sepenuhnya terkontrol. dengan demikian, hubungan antar variabel perlu diinterpretasikan dengan kehatihatian. Keenam, keterbatasan ukuran sampel turut berkontribusi terhadap lebarnya interval kepercayaan (IK) serta menurunkan kekuatan statistik penelitian. Meskipun demikian, penelitian ini memberikan gambaran awal mengenai karakteristik dan faktor Sari Pediatri. Vol. No. April 2026 yang berhubungan dengan laringomalasia pada anak di pusat rujukan tersier di Sumatera Barat. Data lokal ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya dengan desain prospektif, jumlah sampel yang lebih besar, serta analisis multivariat untuk memperoleh estimasi risiko yang lebih akurat dan memperjelas determinan laringomalasia pada populasi Studi prospektif multisenter juga diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini serta mengevaluasi dampak jangka panjang terhadap luaran klinis anak dengan laringomalasia. Kesimpulan Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang bermakna antara usia, jenis kelamin, usia gestasi, berat badan lahir, status gizi, maupun komorbiditas dengan kejadian laringomalasia pada anak yang menjalani pemeriksaan FOL. Meskipun beberapa variabel menunjukkan arah asosiasi, bukti yang diperoleh belum cukup kuat untuk menetapkannya sebagai faktor risiko Temuan ini menegaskan pentingnya penelitian lanjutan dengan desain prospektif, jumlah sampel yang lebih besar, serta analisis multivariat guna memperoleh estimasi risiko yang lebih akurat dan meningkatkan pemahaman mengenai determinan laringomalasia pada populasi pediatrik. Saran