Jurnal Riset Akuntansi dan Manajemen Website: ojs. itb-ad. id/index. php/LQ/ p-ISSN: 1829-5150, e-ISSN: 2615-4846. EFEK KUALITAS INTEGRATED REPORTING TERHADAP BIAYA MODAL EKUITAS YANG DIMODERASI DENGAN KOMPLEKSITAS ORGANISASI Amanda Galuh Pitaloka1. Ika Permatasari2 (*) 1-2 Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Universitas Negeri Surabaya. Surabaya Abstract This study aims to obtain empirical evidence regarding the effect of Integrated Reporting (IR) quality on the cost of equity capital, with organizational complexity as a moderating variable. This research sample includes all companies listed on the Indonesia Stock Exchange ESG index consisting of ESGLEADERS. ESGSKEHATI, and ESGQKEHATI. This research was conducted during the period 2019 to 2023 with a total of 117 observations. The method used is multiple linear regression analysis with the Moderated Regression Analysis (MRA) approach. The results showed that IR quality had no effect on the cost of equity capital, and organizational complexity did not moderate the relationship. This is due to several factors, including the limitations of measuring organizational complexity which is only represented by leverage, the observation period which includes disruptions due to the COVID-19 pandemic, and the relatively limited number and diversity of samples. In addition, the utilization of IR information by domestic investors is still low, due to market orientation that still focuses on conventional financial information and short-term performance. The absence of regulations that require the implementation of IR and the inconsistency of disclosure quality between companies are also factors that hinder IR in functioning as a signal of reducing information asymmetry. This study has implications for investors and policies that support the standardization of integrated reporting, so that IR can function optimally in reducing the cost of capital and increasing market efficiency. Kata Kunci: Integrated Reporting, cost of equity capital. Asymmetric Information, organizational Juli Ae Desember 2025. Vol 14 . : hlm 137-148 A2025 Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan. All rights reserved. (*) Korespondensi: Permatasar. 21006@mhs. id (A. Galuh Pitalok. , ikapermatasari@unesa. id (I. PENDAHULUAN Sustainability report memiliki tujuan utama untuk mengungkapkan kinerja suatu organisasi dalam aspek keberlanjutan, yang mencakup berbagai dimensi seperti lingkungan, sosial, dan ekonomi. Seiring dengan perkembangan globalisasi dan peningkatan kompleksitas bisnis, pengungkapan informasi tidak hanya terbatas pada aspek keuangan saja, tetapi juga mencakup aspek-aspek non keuangan yang menjadi semakin penting (Rahi et al. , 2. Publikasi laporan terpisah . aporan keuangan dan laporan keberlanjuta. menghasilkan perspektif berbeda di antara berbagai pemangku kepentingan. Informasi yang disajikan dalam laporan-laporan terpisah tersebut tidak memiliki hubungan satu sama lain (Fauzi, 2. Oleh karena itu, sulit bagi pemangku kepentingan untuk mengevaluasi data dan membuat penilaian. Merupakan tantangan bagi investor untuk memahami hubungan antara kinerja nonkeuangan dan keuangan, serta peran kinerja non-keuangan dalam menciptakan nilai bisnis (Eccles et al. , 2. Untuk mengelola modal, mempertimbangkan pertumbuhan, dan membuat keputusan strategis yang tepat, bisnis harus mengandalkan data yang akurat (Dewi et al. , 2. Untuk memenuhi tuntutan ini, muncul konsep pelaporan terintegrasi . ntegrated reportingAeIR) yang mengintegrasikan informasi keuangan dan non-keuangan dalam satu laporan tunggal yang komprehensif. Menurut International Integrated Reporting Council (IIRC), dua tujuan (IR adalah untuk mendorong alokasi modalyang lebih efisien dengan meningkatkan kualitas informasi yang tersedia bagi penyedia modal keuangan. Pelaporan IR memiliki sejumlah manfaat, termasuk memberikan pandangan komprehensif tentang kinerja organisasi, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, meningkatkan pengambilan keputusan, dan meningkatkan keterlibatan pemangku kepentingan. meningkatkan kualitas informasi yang tersedia bagi penyedia modal keuangan untuk memungkinkan alokasi modal yang lebih efisien serta mendukung pemikiran internal terintegrasi, pengambilan keputusan, dan tindakan yang fokus pada penciptaan nilai bagi perusahaan (Salsabila & Miranti, 2. IR telah menarik perhatian di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian sebelumnya telah menginvestigasi penerapan IR di Indonesia. Menurut (Soewarno & Tjahjadi, 2. melakukan studi mengenai penerapan IR di Indonesia dan menemukan bahwa meskipun semakin banyak perusahaan yang berminat terhadap IR, namun masih terdapat tantangan dalam penerapannya, seperti kurangnya sumber daya dan keahlian. Menurut (Adhariani & Sciulli, 2. melakukan studi tentang penerapan IR di Indonesia dan menemukan bahwa meskipunperusahaan-perusahaan di Indonesia semakin tertarik dengan IR, penerapan IR masih menghadapi tantangan, misalnya kurangnya petunjuk tentang cara melakukannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris mengenai efek pengungkapan IR di Indonesia terhadap biaya modal ekuitas, dengan dimoderasi oleh tingkat kompleksitas organisasi. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi di Indonesia untuk memahami praktik pelaporan perusahaan yang semakin penting di era global. Dalam era di mana pemahaman tentang keberlanjutan dan dampak sosiallingkungan semakin ditekankan. IR mampu memberikan gambaran menyeluruh tentang kinerja perusahaan dalam berbagai aspek, termasuk keuangan, lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (Rahi et al. , 2. Kehadiran IR membantu memperkuat transparansi dan akuntabilitas perusahaan. Selain itu. IR juga memainkan peran dalam mendukung praktik bisnis yang berkelanjutan. Dengan menyampaikan informasi yang komprehensif tentang tanggung jawab sosial, lingkungan, dan keuangan perusahaan. IR dapat membantu organisasi untuk mengidentifikasi potensi risiko dan peluang serta memungkinkan alokasi modal yang efisien dan efektif. Hal ini akan berdampak pada biaya modal ekuitas Biaya ekuitas adalah tingkat pengembalian yang diharapkan yang diminta investor dari saham perusahaan yang digunakan untuk mengevaluasi peluang investasi, menentukan biaya modal perusahaan secara keseluruhan (Vitolla et al. , 2. Menurut penelitian (Sanchez & Reames, 2. biaya modal ekuitas termasuk tingkat pengembalian yang diminati dari investor untuk menanamkan modal ekuitasnya dalam suatu perusahaan. Oleh karena itu. IR mempunyai peran penting dalam mengelola hubungan perusahaan dengan pemegang saham dan mempengaruhi biaya modal ekuitas perusahaan. Kompleksitas organisasi dapat mempengaruhi hubungan antara IR dan biaya modal ekuitas karena semakin kompleks struktur organisasi, semakin sulit bagi investor untuk memahami informasi yang disajikan oleh perusahaan, sehingga meningkatkan asimetri informasi dan biaya modal ekuitas yang ditanggung oleh Selain itu, struktur modal yang optimal juga mempengaruhi biaya modal ekuitas, dimana semakin tinggi rasio ekuitas biasa dalam struktur modal, maka semakin tinggi biaya modal ekuitas yang harus ditanggung oleh perusahaan (Heryana et al. , 2. Pengertian informasi asimetri menurut (Scott, 2. informasi asimetri merupakan salah satu pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut memiliki keunggulan dan kelebihan informasi mengenai aset yang diperdagangkan dibandingkan dengan pihak lain. Dengan demikian, teori asimetri informasi dapat menjadi landasan teoritis yang relevan dalam menjelaskan hubungan antara keringkasan pelaporan . di dalam IR dengan biaya modal ekuitas yang dimoderasi oleh kompleksitas organisasi. Terjadinya informasi asimetri menurut (Komalasari & Baridwan, 2. suatu keadaan dimana manajer memiliki akses informasi atas prospek perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak luar perusahaan. Sedangkan (Khomsiyah & Susanti, 2. menyatakan bahwa informasi asimetris terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antara manajemen dengan pemilik Hal ini dapat berdampak pada biaya modal perusahaan, terutama biaya modal utang, karena investor akan menuntut tingkat pengembalian yang lebih tinggi untuk mengkompensasi risiko yang lebih besar akibat ketidakpastian informasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengungkapan informasi dalam IR terhadap biaya modal ekuitas perusahaan dengan moderasi yang ditimbulkan oleh kompleksitas organisasi. Penelitian ini mengembangkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Sirait & Siregar, 2. , yang juga menginvestigasi keterkaitan antara pengungkapan informasi dan biaya modal ekuitas perusahaan. Temuan dari penelitian tersebut menjadi titik awal yang penting untuk lebih memahami bagaimana keluasan pengungkapan informasi dalam IR dapat mempengaruhi biaya modal ekuitas. Untuk mencapai tujuan, penelitian ini menggunakan adalah moderated regression analysis (MRA). Sampel dari penelitian ini adalah seluruh perusahaan di Bursa Efek Indonesia yang telah mempublikasikan IR untuk periode 2013 sampai Dalam penelitian ini, variabel independen yang digunakan adalah luas pengungkapan di dalam IR, sedangkan variabel dependen yang digunakan adalah biaya modal ekuitas, dan variabel moderasinya adalah kompleksitas organisasi. Sampel penelitian ini mencakup seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan termasuk dalam indeks ESG (Environmental. Social, and Governanc. untuk periode 2019 hingga 2023. Pemilihan sampel ini didasarkan pada relevansi dan kesesuaian perusahaan-perusahaan dalam indeks ESG dengan tujuan penelitian yaitu mengkaji pengaruh pengungkapan informasi dalam IR terhadap biaya modal ekuitas. Selain itu, periode 2019 hingga 2023 dipilih untuk menangkap perkembangan terkini dan tren jangka menengah dalam praktik pengungkapan IR dan biaya modal ekuitas di perusahaan-perusahaan tersebut dan memberikan analisis yang lebih akurat dan kontekstual terhadap hubungan yang diteliti. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti empiris mengenai Pengaruh keluasan pengungkapan terhadap biaya modal ekuitas dan peran moderasi Organizational complexity pada pengaruh kualitas pengungkapan terhadap biaya modal ekuitas METODE Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan penelitian kausal-komparatif yang menggunakan data dari laporan tahunan perusahaan dan indeks pengungkapan Variabel utamanya adalah keringkasan pelaporan . , biaya modal ekuitas . , dan kompleksitas organisasi . Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari website perusahaan, laporan tahunan, dan laporan keuangan perusahaan . ata archiva. , dengan menggunakan data panel, yang merupakan kombinasi dari data time series dan cross section. Sampel dari penelitian ini adalah seluruh perusahaan di Bursa Efek Indonesia yang termasuk saham-saham yg terdaftar di indeks ESG yaitu ESGLEADERS. ESGSKEHATI, dan ESGQKEHATI untuk periode 2019 sampai Selama periode lima tahun . , terdapat 105 perusahaan yang terdaftar di indeks ESG, menghasilkan total 525 laporan yang di observasi. Dari total laporan tersebut, 295 laporan observasi berasal dari 59 perusahaan yang tidak menyusun laporan tahunan dalam format terintegrasi. Setelah penyaringan pertama terdapat 230 observasi, dari 230 observasi tersebut ada 111 observasi yang bukan IR. Setelah penyaringan, terdapat 119 observasi yang relevan untuk dianalisis lebih Kriteria pengambilan sampel yang digunakan meliputi . Perusahaan yang terdaftar di indeks ESG, . Perusahaan dengan Annual Report yang tidak terintegrasi, dan . Tahun yang tidak tersedia laporan integrated report. Studi ini menggunakan metode pengumpulan data dokumentasi. Teknik pengumpulan data dokumentasi merupakan metode pengumpulan data yang melibatkan analisis dokumen seperti laporan keuangan dan laporan tahunan terintegrasi. Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif untuk menguji hipotesis. Adapun cara yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini yaitu dengan statistik deskriptif, matriks pairwise correlation, dan regresi linier berganda. Menurut (Handayani & Sarwono, 2. guna menjawab hipotesis yang telah disebutkan dalam penelitian ini, bentuk estimasi model yang akan diuji adalah sebagai berikut: yaycCyaycnyc = yu 1 yu1 yaycEyaycIycnyc yu2 yayaycIycA ycIyaycsyaycnyc yu3 yayaycnyc yuA1 . yaycCyaycnyc = yu 2 yu1 yaycEyaycIycnyc yu2 ycCyaycnyc yu3 yaycEyaycIycnyc y ycCyaycnyc yu4 yayaycIycA ycIyaycsyaycnyc yu5 yayaycnyc yuA2 Dimana: COE = Biaya Modal Ekuitas KPIR = Keluasan Pengungkapan Integrated Report OC = Organizational Complexity FIRM SIZE = Ukuran Perusahaan KA = Kualitas Audit = Konstanta yu1 , yu2 , yu3 = Koefisien Regresi A = Error Term Variabel Moderasi Variabel moderasi pada penelitian ini adalah Organizational Complexity (CO). Organizational Complexity merujuk pada tingkat kerumitan dan diferensiasi dalam struktur sebuah organisasi. Semakin tinggi tingkat diferensiasi dalam sebuah organisasi, semakin kompleks pula struktur organisasi tersebut. Organizational Complexity dapat dihitung dengan menggunakan rumus leverage. Organizational Complexity mencerminkan sejauh mana struktur, proses, dan hubungan dalam sebuah organisasi memengaruhi efisiensi dan efektivitas operasionalnya. Leverage . menunjukkan seberapa besar risiko dan ketergantungan perusahaan pada dana Perusahaan yang kompleks . engan banyak aktivitas atau caban. biasanya membutuhkan lebih banyak dana, sehingga tingkat utangnya lebih tinggi. Dalam konteks ini, leverage digunakan untuk menganalisis hubungan antara elemenelemen tersebut. Adapun rumus dari leverage yaitu: yayceycyceycycayciyce = ycNycuycycayco ycOycycaycuyci ycNycuycycayco yaycyceyc Variabel Kontrol Penelitian ini merupakan penelitian archival. Model archival rentan akan bias. Untuk mengantisipasi bias model, maka penelitian menambahkan variabel kontrol terdiri dari ukuran perusahaan sebagai salah satu variabel kontrol. Pada dasarnya, penyertaan ukuran perusahaan didasarkan pada literatur keuangan yang menemukan bahwa ukuran perusahaan berhubungan dengan biaya modal ekuitas. Menurut (Halim, 2. menjelaskan bahwa semakin besar ukuran perusahaan, maka semakin kecil biaya modal ekuitas yang dikeluarkan perusahaan ukuran perusahaan pada penelitian ini diukur dengan (Rivera & Naimah, 2. ycOycoycycycaycu ycEyceycycycycaEaycaycaycu = yan . cNycuycycayco yaycycey. Selain ukuran perusahaan, variabel kontrol yang digunakan adalah kualitas audit, menurut Menurut (Evia et al. , 2. kualitas audit merupakan indikator kemampuan auditor dalam mendeteksi dan melaporkan pelanggaran dalam praktik akuntansi. Kualitas audit dalam penelitian ini akan menggunakan variabel dummy untuk pengukurannya, yaitu 1 untuk KAP Big Four dan 0 untuk KAP Non Big Four. KAP Big Four diasumsikan KAP yang dapat dipercaya karena sudah mempunyai banyak klien, sehingga kemungkinan besar tetap mengimplementasikan nilai-nilai independensi, objektivitas dan kejujuran dalam proses audit yang dilakukan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Statistik Deskriptif Berdasarkan Tabel 4. 2 dari total 117 perusahaan sebanyak 63 perusahaan . ,85%) menggunakan jasa auditor dari kelompok Big 4 (KA = . dan 54 perusahaan . ,15%) tidak menggunakan auditor dari kelompok Big 4 (KA = . Distribusi ini menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan dalam sampel menggunakan auditor yang berasal dari kantor akuntan publik besar dan bereputasi internasional. Sementara itu. Tabel 4. menyajikan hasil analisis statistik deskriptif, variabel COE memiliki nilai rata-rata sebesar 0,068, dengan standar deviasi 0,040. Nilai minimum yang diperoleh adalah 0,001, sedangkan nilai maksimum mencapai 0,191. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat variasi dalam biaya ekuitas perusahaan, meskipun dalam rentang yang relatif kecil. COE memiliki perbedaan antar perusahaan tetapi fluktuasinya tidak terlalu besar karena nilai standar deviasi relatif kecil dibandingkan dengan nilai rataratanya. Selanjutnya variabel IR memiliki rata-rata 0,498, dengan standar deviasi 0,075. Nilai terendah yang tercatat adalah 0,316, sedangkan nilai tertinggi mencapai 0,684. Variasi ini menunjukkan adanya perbedaan skor antar perusahaan dalam penelitian ini. Variabel total CO menunjukkan nilai rata-rata 0,483, dengan standar deviasi 0,228. Nilai minimum tercatat sebesar 0,081, sementara nilai maksimum mencapai 0,889. Data ini mencerminkan adanya kesenjangan nilai organisasi di antara perusahaan yang dianalisis. Variabel SIZE memiliki nilai rata-rata 1,682, dengan standar deviasi 1,717. Nilai minimum yang tercatat adalah 11,77, sedangkan nilai maksimum mencapai 21,5. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Total Freq Percent 46,15 53,85 Sumber: Output Stata (Diolah Penelit. , 2025 Cum 46,15 Tabel 2. Hasil Uji Statistik Deskriptif Variable Obs Mean Sumber: Output Stata (Diolah Penelit. , 2025 Std. Min Max Hasil Uji Regresi Berdasarkan Tabel 4. 14, hasil uji F dengan menggunakan statistik Wald chi-square menunjukkan nilai sebesar 217,63 dengan Prob > ChiA = 0. Hal ini mengindikasikan bahwa variabel independen dalam model, yaitu Integrated Reporting (IR), ukuran perusahaan (SIZE), dan kualitas audit (KA), secara simultan berpengaruh signifikan terhadap biaya modal ekuitas (COE). Selanjutnya, estimasi menggunakan metode Generalized Least Squares (GLS) dilakukan untuk mengatasi masalah heteroskedastisitas dan autokorelasi. Hasil uji parsial menunjukkan bahwa IR memiliki koefisien 0,005 dengan p-value 0,892. SIZE berkoefisien 0,004 dengan p-value 0,151, dan KA berkoefisien 0,002 dengan p-value 0,783. Ketiga variabel tersebut tidak berpengaruh terhadap COE secara individual. Tabel 3. Pengujian Moderasi Persamaan I Source Model Residual 0,113 0,060 0,003 0,007 Total 0,174 0,001 Number of obs F. , . Prob > F R-squared Adj R-squared Root MSE 5,21 0,651 0,523 0,026 COE Coefficient Std. 0,001 0,046 0,04 0,007 0,007 0,47 SIZE 0,004 0,015 0,38 0,006 0,010 0,61 Sumber: Output Stata (Diolah Penelit. , 2025 p-value 0,967 0,638 0,703 0,546 Berdasarkan Tabel 4. 17, dilakukan pengujian moderasi menggunakan pendekatan interaksi perkalian antara Integrated Reporting (IR) dan kompleksitas organisasi (CO) terhadap biaya modal ekuitas (COE). Hasil uji F menunjukkan nilai F. sebesar 5,11 dengan Prob > F = 0, yang berarti model signifikan secara simultan. Nilai R-squared sebesar 0,650 mengindikasikan bahwa model mampu menjelaskan sekitar 65% variasi COE. Namun secara parsial, variabel interaksi IR y CO sebagai variabel moderasi memiliki pvalue sebesar 0,241 (> 0,. , sehingga tidak berpengaruh. Begitu pula dengan variabel IR p-value 0,. SIZE p-value 0,782, dan KA p-value 0,. yang juga tidak berpengaruh. Dengan demikian, kompleksitas organisasi tidak memoderasi hubungan antara Integrated Reporting dan biaya modal ekuitas dalam model interaksi perkalian ini. Tabel 4. 4 Pengujian Moderasi Persamaan I Source Model Residual 0,113 0,060 0,003 0,007 Total 0,174 0,001 COE Coefficient Std. -0,002 0,052 IR x CO 0,004 0,003 SIZE 0,008 0,030 0,002 0,010 Sumber: Output Stata (Diolah Penelit. , 2025 Number of obs F. , . Prob > F R-squared Adj R-squared Root MSE -0,05 1,18 0,28 0,28 5,11 0,650 0,523 0,026 p-value 0,958 0,241 0,782 0,783 Pembahasan Pengaruh Keluasan Pengungkapan terhadap Biaya Modal Ekuitas Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas Integrated Reporting tidak berpengaruh terhadap cost of equity. Hasil ini sejalan dengan penelitian terdahulu oleh Utami, . yang menyatakan bahwa kualitas Integrated Reporting tidak berpengaruh terhadap cost of equity di Indonesia. Utami menjelaskan bahwa rendahnya tingkat pemahaman serta penerapan IR secara substansial menjadi penyebab utama tidak munculnya pengaruh tersebut. Banyak perusahaan di Indonesia masih menyusun IR sebatas pelengkap laporan tahunan, bukan sebagai sarana komunikasi strategis yang mampu mengurangi asimetri informasi. Akibatnya, investor tidak memperoleh informasi yang cukup bernilai untuk dijadikan dasar dalam menilai risiko investasi mereka. Selain itu, karakteristik investor di Indonesia juga turut memengaruhi hubungan antara IR dan cost of equity. Investor lokal cenderung lebih mempertimbangkan informasi keuangan tradisional dibandingkan informasi strategis jangka panjang yang disampaikan melalui IR. Keterbatasan literasi terhadap IR serta belum adanya kewajiban regulasi yang tegas mengenai penerapannya turut memperlemah relevansi laporan tersebut dalam proses pengambilan keputusan Hasil ini juga konsisten dengan penelitian (Pirgaip & RizviN, 2. yang menemukan bahwa pengaruh IR terhadap biaya modal ekuitas bersifat tidak konsisten secara global dan sangat bergantung pada konteks institusional serta karakteristik pasar modal di suatu negara. Dalam negara berkembang seperti Indonesia, di mana praktik IR masih dalam tahap awal pengembangan, efektivitas IR sebagai alat pengurang risiko investor menjadi terbatas. Pirgaip dan Rizvic menekankan bahwa adopsi IR yang belum optimal, serta preferensi investor yang masih berfokus pada informasi keuangan konvensional, menyebabkan kualitas IR tidak berpengaruh dalam menurunkan biaya modal. Kompleksitas Organisasi Memoderasi terhadap Biaya Modal Ekuitas Pengaruh Keluasan Pengungkapan Hasil pengujian Moderated Regression Analysis (MRA) menunjukkan bahwa kompleksitas organisasi tidak berpengaruh dalam memoderasi hubungan antara kualitas Integrated Reporting dan biaya modal ekuitas. Temuan ini mengindikasikan bahwa tingkat kompleksitas organisasi, yang ditunjukkan melalui ukuran perusahaan, belum cukup untuk memperkuat atau memperlemah pengaruh pengungkapan terintegrasi terhadap persepsi risiko investor. Dengan kata lain, baik perusahaan yang sederhana maupun yang kompleks belum dapat secara optimal memanfaatkan kualitas pelaporan terintegrasi untuk menurunkan biaya modal. Ketidak signifikanan ini sejalan dengan penelitian Coles, . yang menyatakan bahwa kompleksitas organisasi belum tentu secara langsung memengaruhi keputusan keuangan perusahaan secara signifikan, termasuk dalam konteks struktur modal atau kebijakan pelaporan. Dalam kondisi tertentu, struktur organisasi yang kompleks justru dapat menciptakan tantangan baru dalam koordinasi, pengawasan, dan konsistensi pelaporan. Demikian juga Klein, . menunjukkan bahwa dalam lingkungan dengan kontrak yang tidak lengkap dan ketidakpastian tinggi, keberadaan lembaga pengawasan formal seperti dewan komisaris belum tentu efektif tanpa adanya mekanisme informal seperti kepercayaan, reputasi, dan norma sosial. Oleh karena itu, dalam konteks Indonesia, keberadaan kompleksitas organisasi belum tentu memperkuat hubungan antara kualitas pengungkapan dan efisiensi pembiayaan, terutama jika belum didukung oleh struktur tata kelola yang kuat dan penerapan prinsip IR yang substansial. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh kualitas Integrated Reporting terhadap biaya modal ekuitas pada perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dengan organizational complexity sebagai variabel Kualitas Integrated Reporting diukur berdasarkan tingkat keterpenuhan prinsip-prinsip pelaporan terintegrasi menurut IIRC, sementara organizational complexity diukur menggunakan levarege. Dimana didapatkan hasil bahwa kualitas Integrated Reporting tidak berpengaruh terhadap cost of equity. Hasil pengujian Moderated Regression Analysis (MRA) menunjukkan bahwa kompleksitas organisasi tidak berpengaruh dalam memoderasi hubungan antara kualitas Integrated Reporting dan biaya modal ekuitas. Temuan ini mengindikasikan bahwa tingkat kompleksitas organisasi, yang ditunjukkan melalui ukuran perusahaan, belum cukup untuk memperkuat atau memperlemah pengaruh pengungkapan terintegrasi terhadap persepsi risiko investor. Penelitian ini didasari oleh terbatasnya literatur yang membahas topik serupa di Indonesia dan belum banyaknya studi yang melibatkan kompleksitas organisasi sebagai variabel moderasi. Melalui pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keberlanjutan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti bahwa kualitas pelaporan terintegrasi yang lebih tinggi berkontribusi pada penurunan biaya modal ekuitas, serta kompleksitas organisasi dapat memperkuat atau memperlemah hubungan tersebut. DAFTAR PUSTAKA