Open Journal System UNES Journal of Education. Vol 1. Issue 3. June 2017 ISSN Print: 2549-4201 ISSN Online: 2549-4791 EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KARAKTER TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU SISWA SMA NEGERI DI KOTA BUKITTINGGI EFFECTIVENESS OF CHARACTER EDUCATION TO CHANGE BEHAVIOR OF STUDENT STUDENTS IN STATE BUKITTINGGI Yuhelmi W Dosen Kopertis Wilayah X DPK FKIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat yuhelmi@gmail. ABSTRAK Pemerintah Kota Bukittinggi telah melaksanakan pendidikan karakter pada tingkat pendidikan dasar dan menengah terutama pada SMA Negeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan pendidikan karakter terhadap perubahan perilaku siswa SMA Negeri di Kota Bukittinggi. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh guru yang mengajar di kelas 2 SMA Negeri di Kota Bukittinggi sejumlah 142 orang. Pengambilan sampel menggunakan rumus Solvin, dan dari hasil perhitungan diperoleh sampel sebesar 105 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner. Dari hasil analisis data diperoleh . tingkat religius siswa terhadap perubahan perilaku masih termasuk cukup baik yaitu sebesar 65,08%, . tingkat kejujuran siswa masih dapat dikatakan cukup baik karena hanya sebesar 73,17%, . tingkat disiplin siswa tergolong tinggi karena mencapai 93,33%, . tingkat kebersahabatan siswa termasuk dalam kategori tinggi karena mencapai 90,20%, . tingkat kemandirian siswa terhadap perubahan perilaku masih termasuk dalam kategori cukup baik yaitu mencapai 78,57%, . tingkat tanggung jawab siswa termasuk dalam kategori baik karena mencapai 87,37%, dan . tingkat kreativitas siswa masih termasuk dalam kategori rendah karena hanya mencapai 46,67%. Kata kunci: efektivitas, pendidikan, karakter, perubahan, perilaku ABSTRACT Bukittinggi Municipal Government has implemented character education at primary and secondary level, especially in SMA Negeri. The purpose of this study is to determine the effectiveness of character education implementation on changes in the behavior of high school students in Bukittinggi City. This research was conducted by using quantitative descriptive approach. The population of this study is all teachers who teach in the second class of State Senior High School in Bukittinggi City number 142 people. Sampling using Solvin formula, and from the calculation obtained sample of 105 people. Data collection techniques were conducted with questionnaires. From the data analysis results obtained . students' religious level of behavior change is still good enough that is equal to 65,08%, . level of honesty of student still can be said good enough because only equal Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Ekasakti Open Journal System UNES Journal of Education. Vol 1. Issue 3. June 2017 ISSN Print: 2549-4201 ISSN Online: 2549-4791 to 73,17%, . student discipline level . student's level of belonging belongs to high category because reach 90,20%, . student's independency level to behavior change still included in good enough category that reach 78,57%, . ) Level of student responsibility included in good category because reach 87,37%, and . level of creativity of student still included in low category because only reach 46,67%. Keywords: effectiveness, education, character, change, behavior PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang wajib di laksanakan di Indonesia karena pendidikan karakter sangat berkaitan bahkan sangat menentukan nilai-nilai bangsa dan negara. Pendidikan karakter bertujuan agar generasi muda bangsa memiliki kepribadian yang mulia serta memiliki bekal yang cukup untuk menjalani kehidupan dengan keadaan zaman yang semakin terbuka dan dinamis ini (Mansur dalam Huda, 2012:. Penanaman nilai-nilai karakter bangsa sangat penting agar generasi muda kita tidak kehilangan jati dirinya, bahkan harus terus dikembangkan. Salah satu tanda suatu negara akan hancur adalah perilaku negatif yang sudah membudaya pada masyarakat. Salah satu tanda tersebut sudah ada di Indonesia meskipun tidak seluruh daerah. Namun pada daerah-daerah tertentu tanda-tanda tersebut sudah terjadi terutama pada kalangan pelajar. Hal ini dapat kita lihat pada situs-situs yang menyajikan tayangan atau berita tentang kenakalan remaja seperti siswa merokok di meja guru sambil menaikkan kakinya di atas meja sedangkan guru berada di sebelahnya, contoh lainnya siswa dan orang tuanya menganiaya guru sampai terluka, dan lainnya. Kesemua perilaku tersebut merupakan cerminan dari perilaku individu-individu yang tidak berkarakter. Ditambah lagi dengan munculnya degradasi moral di kalangan pelajar, seperti banyaknya video porno, perilaku seks bebas, aborsi, dan hamil diluar nikah, belum lagi kabar tentang pembunuhan dan maraknya candu narkotika dan miras di kalangan pelajar, kurang menghormati orang tua, guru, kurang mentaati norma-norma atau aturan yang berlaku di sekolah, dan perilaku negatif lainnya. Nilai-nilai yang bersifat negatif di atas, merupakan pertanda telah terjadi krisis ahlak yang disebabkan oleh tidak efektifnya pendidikan nilai atau pendidikan moral dalam arti luas . i rumah, di sekolah, di luar rumah dan di luar sekola. Salah satu penyebab utama tidak efektifnya pendidikan nilai tersebut karena sistem pendidikan di Indonesia belum mempunyai kurikulum pendidikan karakter, yang ada hanya pelajaran tentang pengetahuan karakter . yang tertuang di dalam setiap mata pelajaran. Ditambah lagi dengan proses pembelajaran yang dilakukan dengan pendekatan hafalan (Rachman dalam Winarno, 2010:. Oleh karena itu banyak yang menganggap bahwa pendidikan moral atau budi pekerti . oral education/values education/virtues educatio. lebih baik diganti dengan istilah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Ekasakti Open Journal System UNES Journal of Education. Vol 1. Issue 3. June 2017 ISSN Print: 2549-4201 ISSN Online: 2549-4791 pendidikan karakter . haracter educatio. Karena pendidikan moral yang selama ini dipelajari oleh pelajar di sekolah-sekolah hanya mencakup aspek bagaimana mengetahui nilai-nilai moral dengan teknik pembelajaran dengan menggunakan pendekatan penghafalan atau hanya mencakup aspek kognitif . saja, karena orientasinya hanyalah semata-mata untuk memperoleh nilai bagus, tetapi belum sampai kepada aspek tingkah laku, karena terlalu berorientasi pada pengembangan domain kognitif dan kurang memperhatikan pengembangan domain afektif dan psikomotor (Megawangi, 2004:. Sementara pendidikan karakter lebih pada pembentukan karakter yang merupakan pengembangan budi pekerti plus yang melibatkan aspek pengetahuan . , perasaan . dan tindakan . Tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Karena dengan menerapkan pendidikan karakter secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Dengan demikian seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis (Lickona dalam Amri, dkk, 2011:. Berdasarkan latar belakang di atas, perlu adanya penelitian tentang efektivitas pendidikan karakter terhadap perubahan perilaku pelajar. Untuk itu, penulis meneliti tentang efektivitas pendidikan karakter terhadap perubahan perilaku pelajar SMA N di Bukittinggi. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah: untuk menganalisis efektivitas pendidikan karakter terhadap perubahan perilaku pelajar SMA Negeri di Bukittinggi. KAJIAN PUSTAKA Pendidikan Karakter Setiap orang mengharapkan menjadi orang yang baik dan bermanfaat bagi orang Segala sesuatu yang dilakukan bertujuan untuk kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Perilaku tersebut sering disebut karakter. Hal ini sesuai dengan pendapat Ryan dan Bohlin . bahwa:AuOrang yang berkarakter adalah orang yang menerapkan nilai-nilai baik dalam tindakannya, dan bersumber dari hati yang baikAy. Dengan demikian generasi muda yang berkarakter adalah generasi muda yang menerapkan nilai-nilai baik dalam tindakannya yang berasal dari hati yang baik pula. Untuk itu, pemerintah perlu mengembangkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya (Megawangi, 2004:. Melalui pendidikan karakter diharapkan akan melahirkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Ekasakti Open Journal System UNES Journal of Education. Vol 1. Issue 3. June 2017 ISSN Print: 2549-4201 ISSN Online: 2549-4791 generasi muda yang bijak yang mampu memberikan kontribusi positif terhadap Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter Pendidikan karakter wajib dilaksanakan setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah serta perguruan tinggi di seluruh wilayah di Indonesia. Karena pendidikan karakter berfungsi sebagai . Pengembangan, yaitu pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik. Perbaikan, yaitu memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat. Penyaring, yaitu berfungsi sebagai penyaring budaya bangsa sendiri dari budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. Berdasarkan fungsi ini maka pendidikan karakter merupakan pendidikan yang terkait dengan penguatan-penguatan moralitas dan budi pekerti anak bangsa ini. Moralitas dan budi pekerti itu menjadi syarat mutlak dari pada membangun kehidupan yang lebih Pengaruh Pendidikan Karakter terhadap Perubahan Perilaku Penelitian Borba dan Michele tahun 2003 dalam Megawangi . , menunjukan bahwa siswa yang mendapatkan pendidikan karakter mengalami penurunan perilaku agresif secara verbal sebesar 39%, penurunan kejadian kekerasan fisik sebesar 41%, penurunan pemberian sanksi hukum sebesar 46%, kemudian peningkatan pada murid berbicara lebih santun 100%, murid lebih hormat dan toleran terhadap sesamanya 95%, murid lebih peduli dan saling mendukung antar kawan 93%, murid lebih bisa bekerjasama 93%, murid lebih mudah berkawan 91%, dan murid mudah menyelesaikan masalahnya dan konflik 89%. Berkaitan dengan pengaruh pendidikan karakter terhadap perubahan perilaku. Durkheim menyatakan bahwa karakter dapat dilihat dari fakta sosial yang mempunyai tiga karakteristik yaitu . eksternal terhadap individu, . fakta sosial itu memaksa individu, . fakta sosial itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam suatu Karakteristik pertama menyatakan bahwa fakta sosial merupakan karakter yang sudah ada secara eksternal yang telah disepakati bersama secara sosial seperti sistem bahasa, norma-norma profesionalisme dan sebagainya. Dengan demikian fakta sosial merupakan cara bertindak, cara berfikir, dan berperasaan yang merupakan karakter yang perlu diperlihatkan sebagai suatu sikap yang patut dilihat sebagai sesuatu yang berada diluar kesadaran individu (Johnson, 1986:177-. Jika dikaitkan dengan pendidikan karakter, walaupun pendidikan karakter ini telah lama diterapkan disekolah, namun sebagai anggota baru dari suatu organisasi dalam hal ini pendidik/guru ataupun pelajar. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Ekasakti Open Journal System UNES Journal of Education. Vol 1. Issue 3. June 2017 ISSN Print: 2549-4201 ISSN Online: 2549-4791 merasakan dengan jelas bahwa ada kebiasaan-kebiasaan dan norma-norma yang sedang diamati yang tidak ditangkap atau dimengertinya secara penuh. Dalam situasi serupa itu, kebiasan dan norma ini jelas dilihat sebagai sesuatu yang eksternal. Karakteristik kedua menyatakan bahwa fakta sosial memperlihatkan karakter yang dituntut secara sosial sering memaksa individu untuk menerapkannya. Jelas bagi Durkheim bahwa individu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong, atau dengan cara tertentu dipengaruhi oleh berbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan sosialnya. Berkaitan dengan pendidikan karakter disekolah, bahwa program pendidikan karakter ini memaksa individu untuk berbuat, seperti yang diinginkan dari tujuan pendidikan karakter itu sendiri. Sehingga kepala sekolah, guru dan staf yang terlibat disekolah diharapkan menjadi pembimbing, pengarah, dan pendorong bagi pelajar agar terpenuhinya tujuan dari pelaksanaan pendidikan karakter tersebut. Namun hal ini tidak berarti bahwa individu itu harus mengalami paksaan fakta sosial dengan cara negatif atau membatasi seperti memaksa pelajar untuk berperilaku yang bertentangan dengan kemauannya. Karakteristik ketiga menyatakan bahwa fakta sosial itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam suatu masyarakat. Dengan kata lain fakta sosial itu merupakan milik bukan sifat individu perorangan. Dalam hal ini, pendidikan karakter merupakan milik bersama di seluruh wilayah Indonesia. Karena fakta sosial bersifat kolektif dan pengaruhnya terhadap individu merupakan hasil dari sifat kolektifnya tersebut (Johnson:. Efektivitas Pendidikan Karakter Menurut Steer dalam Mulyasa . , bahwa efektivitas adalah bagaimana organisasi melaksanakan seluruh tugas pokoknya atau mencapai sasarannya. Sasaran dari pendidikan karakter yang ingin dicapai adalah perubahan perilaku pelajar kearah yang lebih baik. Agar organisasi dalam hal ini sekolah mampu mencapai sasarannya maka perlu melibatkan berbagai hal yang terkait dengan pembentukan karakter. Menurut Lickona dalam Megawangi . , cara membentuk karakter yang efektif adalah dengan melibatkan tiga . aspek pendidikan karakter yang saling terkait yaitu pengetahuan moral . oral knowin. , perasaan . oral feelin. , dan perilaku bermoral . oral behavio. Karena karakter yang baik terdiri dari mengetahui kebaikan . nowing the goo. , mencintai atau menginginkan kebaikan . oving or desiring the goo. , dan melakukan kebaikan . cting the goo. Efektivitas pendidikan dapat dilihat dari pelaksanan pendidikan yang memungkin peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, bidang utama pengukuran efektivitas pendidikan karakter adalah dengan melihat seberapa banyak pelajar yang memenuhi kriteria sesuai dengan derajat mutu yang diharapkan dari pendidikan karakter. Karena Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Ekasakti Open Journal System UNES Journal of Education. Vol 1. Issue 3. June 2017 ISSN Print: 2549-4201 ISSN Online: 2549-4791 secara substansial mengukur efektivitas berarti mengukur pencapaian kecakapan dalam meningkatkan mutu pada berbagai bidang komponen yang sekolah tetapkan. Untuk menentukan efektivitas pendidikan karakter perlu mendeskripsikan posisi awal, posisi yang diharapkan, dan posisi pencapaian kinerja. Agar pendidikan karakter disekolah efektif, maka ada beberapa faktor yang menentukan yaitu: . Kepemimpinan kepala sekolah yaitu peran kepemimpinan kepala sekolah terasa begitu sentral baik secara kelembagaan maupun kompetensi personalnya. Dinamika kelembagaan yang efektif dengan terciptanya budaya kerja dan budaya organisasi akan bisa diwujudkan manakala kepala sekolah mampu mengimplementasikan peran dan kompetensinya secara efektif. Faktor acuan nilai moral yaitu pendidikan karakter yang dilaksanakan harus mengacu pada standar nilai-nilai moral yang absolut dimana semua kelompok masyarakat mengakui kebenaran nilai-nilai itu. Faktor moral knowing, moral feeling dan moral action penting diajarkan pada anak didik agar mereka mampu memahami, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan. Moral knowing terdiri atas kesadaran moral, mengetahui nilai-nilai moral, alasan moral, dan pengetahuan pribadi tentang pendidikan moral tesebut. Sedangkan moral feeling yaitu aspek yang harus ditanamkan kepada anak yang merupakan sumber energi dari manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsipprinsip moral. Agar penanaman karakter tidak sekedar dipahami tetapi dapat dirasakan maka pendidik perlu mempertimbangkan 6 hal yang merupakan aspek emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yaitu: . Nurani . , . percaya diri . elf-estee. , . empati, . mencintai kebenaran . oving the goo. , . mampu mengontrol diri . elf-contro. , dan . rendah hati . Terakhir adalah . oral actio. , yaitu bagaimana membuat pengetahuan moral dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata. Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil . dari dua komponen karakter lainnya. Berdasarkan pendapat di atas apabila dalam pelaksanaan pendidikan karakter telah memperhatikan ketiga hal tersebut maka pelaksanaan pendidikan karakter diperkirakan dapat berhasil. Untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter secara efektif maka dapat diukur dari segi hasilnya. METODOLOGI PENELITIAN Penelitianini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, karena penelitian ini mendeskripsikan suatu variabel tertentu dari kuesioner tersebut berbentuk angka-angka, tabel-tabel, analisis statistik secara deskriptif kuantitatif berdasarkan hasil kuesioner tersebut. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu pada tanggal 2 September sampai dengan 30 Oktober 2016. Tempat penelitian ini dilaksanakan pada Sekolah Menengah Atas Negeri di Bukittinggi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru kelas 2 sekolah menengah atas negeri (SMAN) yang Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Ekasakti Open Journal System UNES Journal of Education. Vol 1. Issue 3. June 2017 ISSN Print: 2549-4201 ISSN Online: 2549-4791 ada di Kota Bukittinggi yang telah melaksanakan pendidikan karakter sebanyak 142 Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan metode angket . Data yang dikumpulkan adalah data primer. Data yang berupa angka yang dapat diolah atau dianalisis dengan menggunakan teknik perhitungan statistik. Statistik yang digunakan adalah statistik deskriptif. Penelitian menggunakan skala nilai . ating scal. dengan menggunakan empat kategori yaitu belum terlihat (BT), mulai terlihat (MT), mulai berkembang (MK) dan mulai membudaya (MB). Kategori tersebut diberi angka atau nomor 4, 3, 2, 1 sebagai skala Likers HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Penelitian Tingkat Religius Terhadap Perubahan Perilaku Siswa Untuk melihat tingkat kejujuran siswa SMA terhadap perubahan perilakunya, dapat dilihat pada Tabel 1 berikut: Tabel 1 Tingkat Religius Terhadap Perubahan Perilaku Siswa Tingkat Religius MK MB (%) (%) (%) (%) (%) Siswa berdoa sebelum pelajaran 0,00 11,43 18 17,14 75 88,57 Siswa berdoa setelah pelajaran 0,00 14,29 20 19,05 70 85,71 Siswa melaksanakan sholat duha berjamaah disekolah 52,38 18 17,14 17 16,19 15 30,48 Siswa melaksanakan sholat zuhurberjamaah disekolah 15,24 15 14,29 26 24,76 48 70,48 Siswa memberikan kesempatan kepada teman untuk melakukan 19,05 38 36,19 20 19,05 27 44,76 Siswa rukun dengan pemeluk agama 17,14 13 12,38 22 20,95 52 70,48 Rata-rata 65,08 Sumber: data Primer 2016 Keterangan: BT = Belum Terlihat. MT = Mulai Terlihat. MK = Mulai Berkembang. MB = Mulai Membudaya Tingkat Kejujuran Terhadap Perubahan Perilaku Siswa Untuk melihat tingkat kejujuran siswa SMA terhadap perubahan perilakunya, dapat dilihat pada Tabel 2 berikut: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Ekasakti Open Journal System UNES Journal of Education. Vol 1. Issue 3. June 2017 ISSN Print: 2549-4201 ISSN Online: 2549-4791 Tabel 2. Tingkat Kejujuran Terhadap Perubahan Perilaku Siswa Tingkat Kejujuran Siswa menyerahkan barang yang ditemukan kepada guru. Siswa mengumumkan benda yang Siswa menyampaikan hasil ulangan kepada orang tua. Siswa tidak membawa hp ke Ketika mengerjakan tugas, siswa tidak mencontek pekerjaan Ketika ujian, siswa tidak Siswa menyampaikan pesan kepada orang tua dari guru atau Rata-rata MK MB 1,90 14,28 39,05 44,76 83,81 4,76 11,42 38,10 45,71 83,81 2,86 23,81 33,33 40,00 73,33 1,90 11,43 28,57 58,10 86,67 9,52 35,24 24,76 30,48 55,24 4,76 39,05 27,62 28,57 56,19 1,90 13,33 44,76 40,00 84,76 73,17 Tingkat Disiplin Terhadap Perubahan Perilaku Siswa Untuk melihat tingkat disiplin siswa terhadap perubahan perilaku siswa, dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut: Tabel 3. Tingkat Disiplin Terhadap Perubahan Perilaku Siswa SMA (%) MK MB (%) (%) Tingkat Disiplin (%) Siswa hadir 15 menit sebelum siswaan dimulai. Siswa mengikuti upacara rutin Siswa memakai seragam lengkap sesuai dengan tata tertib sekolah. Siswa melaksanakan piket sesuai dengan jadwal Siswa menempatkan alat-alat kebersihan pada tempatnya Rata-rata 1,90 0,00 0,00 0,00 0,95 (%) 40,95 52,38 93,33 29,52 63,81 93,33 28,57 66,67 95,24 35,24 57,14 92,38 40,00 52,38 92,38 93,33 Tingkat Kebersahabatan/komunikatif Terhadap Perubahan Perilaku Siswa SMA Untuk melihat tingkat kebersahabatan/komunikatif terhadap perubahan perilaku siswa, dapat dilihat pada Tabel 4 sebagai berikut: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Ekasakti Open Journal System UNES Journal of Education. Vol 1. Issue 3. June 2017 ISSN Print: 2549-4201 ISSN Online: 2549-4791 Tabel 4. Tingkat Kebersahabatan terhadap Perubahan Perilaku Siswa Tingkat Kebersahabatan/komunkatif siswa menempati tempat duduk sesuai dengan kesepakatan/ yang siswa berkomunikasi dengan bahasa yang santun. siswa mengucapkan terima kasih setelah menerima siswa menjenguk teman yang sakit. siswa melerai teman yang siswa tidak mengejek teman, guru atau orang lain siswa tidak berkata-kata kasar pada sesama teman ataupun guru Rata-rat (%) (%) (%) MK MB (%) (%) 0,00 8,57 34,29 57,14 91,43 0,00 13,33 40,95 45,71 86,67 0,95 7,62 32,38 59,05 91,43 0,00 4,76 30,48 64,76 95,24 0,00 9,52 40,95 49,52 90,48 1,90 11,43 55,24 31,43 86,67 0,95 9,52 44,76 44,76 89,52 90,20 Tingkat Kemandirian Terhadap Perubahan Perilaku Siswa Untuk melihat tingkat kemandirian siswa terhadap perubahan perilaku siswa, dapat dilihat pada Tabel 5 sebagai berikut: Tabel 5 Tingkat Kemandirian terhadap Perubahan Perilaku siswa Tingkat Kemandirian (%) siswa mengerjakan tugas secara mandiri dan kreatif. siswa percaya diri dalam melaksanakan tugas siswa tidak bergantung pada orang lain siswa menemukan cara sendiri dalam memahami suatu siswaan Rata-rata (%) (%) MK MB (%) (%) 1,90 21,90 46,67 29,52 76,19 3,81 8,57 49,52 38,10 87,62 1,90 28,57 40,00 29,52 69,52 2,86 16,19 45,71 35,24 80,95 78,57 Tingkat Tanggungjawab Terhadap Perubahan Perilaku Siswa Untuk melihat tingkat tanggung jawab siswa terhadap perubahan perilaku siswa, dapat dilihat pada Tabel 6 sebagai berikut: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Ekasakti Open Journal System UNES Journal of Education. Vol 1. Issue 3. June 2017 ISSN Print: 2549-4201 ISSN Online: 2549-4791 Tabel 6. Tingkat Tanggungjawab terhadap Perubahan Perilaku Siswa Tingkat Tanggungjawab siswa dapat melakukan piket secara rutin siswa melakukan tugas tepat siswa berani mengakui siswa menyelesaikan semua tugas yang dibebankan Rata-rata (%) (%) (%) MK MB (%) (%) 14,29 43,81 41,90 85,71 6,67 38,10 54,29 92,38 17,14 51,43 30,48 81,90 9,52 37,14 52,38 89,52 87,37 Tingkat Kreatif Terhadap Perubahan Perilaku Siswa Gambaran mengenai tingkat kreatif terhadap perubahan perilaku siswa dapat dilihat pada Tabel 7 berikut: Tabel 7. Tingkat Kreativitas terhadap Perubahan Perilaku Siswa Tingkat Kreatif siswa menemukan cara sendiri dalam memecahkan sebuah permasalahan/soal. siswa menciptakan permainan sederhana yang berkaitan dengan materi pelajaran Rata-rata (%) (%) (%) (%) MK MB (%) 12,38 35,24 38,10 14,29 52,38 30,48 28,57 24,76 16,19 40,95 46,67 Pembahasan Apabila dilakukan rata-rata terhadap tujuh indikator penelitian dapat diperoleh skor 76,34% termasuk dalam kategori cukup baik. Dengan demikian, melalui pendidikan karakter perubahan perilaku siswa dapat dikatakan cukup baik, yang mana perubahan perilaku sudah mulai tampak dan mulai berkembang, namun belum mampu membudaya pada diri mereka. Sehingga pendidikan karakter di SMAN di Bukittinggi dapat dikatakan belum efektif dan masih perlu ditingkatkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyasa . bahwa Pendidikan karakter dapat diukur dari segi hasil, yaitu proses pendidikan dan pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar . %). Sedangkan rata-rata pendidikan karakter di Bukittinggi baru mencapai 76,34%. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Ekasakti Open Journal System UNES Journal of Education. Vol 1. Issue 3. June 2017 ISSN Print: 2549-4201 ISSN Online: 2549-4791 Data di atas menunjukan bahwa tingkat kejujuran, tingkat religius, tingkat disiplin, tingkat kebersahabatan/komunikatif, tingkat toleransi, tingkat kemandirian, tingkat kreatifitas dan tingkat tanggungjawab pelajar telah mulai berkembang dan namun belum Artinya, dengan banyaknya perilaku yang menunjukan kearah mulai berkembang dan namun belum mulai membudaya maka dapat katakan bahwa pendidikan karakter belum efektif terhadap perubahan perilaku pelajar. Pelanggaran yang sering dilakukan oleh siswa adalah datang terlambat, terkadang masih membawa Hand Phone ke Sekolah. Namun guru-guru selalu melakukan kontrol seperti razia pelajar yang dilihat dari kelengkapan seragam, sampai pemeriksaan tas bawaan pelajar ke sekolah. Jika terjadi pelanggaran, sanksi dijatuhkan dan pelajar wajib mematuhi aturan yang berlaku. Hal tersebut di atas menunjukan bahwa teori fakta sosial Durkheim yang terdiri atas 3 hal yaitu memaksa, umum dan eksternal ini berlaku di sekolah dalam menerapkan pendidikan karakter. Dikatakan memaksa, adalah karena program pendidikan karakter ini memaksa individu untuk berbuat, seperti yang diinginkan dari tujuan pendidikan karakter itu sendiri. Sehingga kepala sekolah, guru dan staf yang terlibat disekolah diharapkan menjadi pembimbing, pengarah, dan pendorong bagi pelajar agar terpenuhinya tujuan dari pelaksanaan pendidikan karakter tersebut. Namun hal ini tidak berarti bahwa individu itu harus mengalami paksaan fakta sosial dengan cara negatif atau membatasi seperti memaksa pelajar untuk berperilaku yang bertentangan dengan kemauannya. Sesungguhnya ada proses sosialisasi yang mendahului sehingga jika sosialisasi berhasil maka individu sudah mengendapkan fakta sosial yang cocok sedemikian menyeluruhnya sehingga perintah-perintah dari program pendidikan karakter akan kelihatan sebagai hal yang biasa, sama sekali tidak bertentangan dengan kemauan individu. Namun, jika keengganan individu untuk dibimbing oleh fakta sosial yang sesuai harus mengarah ke pelanggaran, maka kekuatan fakta sosial yang memaksa ini akan menjadi jelas, baik secara informal . eperti ejeka. , maupun secara formal seperti hukuman atau sanksi dari sekolah, dan walaupun pendidikan karakter ini telah lama diterapkan di Sekolah, namun sebagai anggota baru dari suatu organisasi dalam hal ini pendidik/guru ataupun pelajar, merasakan dengan jelas bahwa ada kebiasaan-kebiasaan dan norma-norma yang sedang diamati yang tidak ditangkap atau dimengertinya secara Dalam situasi serupa itu, kebiasan dan norma ini jelas dilihat sebagai sesuatu yang Kemudian, fakta sosial bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam suatu Dikatakan begitu karena fakta sosial itu milik bersama. bukan sifat individu Dalam hal ini, pendidikan karakter merupakan milik bersama. Oleh seluruh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat-Universitas Ekasakti Open Journal System UNES Journal of Education. Vol 1. Issue 3. June 2017 ISSN Print: 2549-4201 ISSN Online: 2549-4791 wilayah Indonesia. Karena fakta sosial bersifat kolektif dan pengaruhnya terhadap individu merupakan hasil dari sifat kolektifnya tersebut (Johnson:. Kesimpulan Berdasarkan temuan dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter pada SMAN di Bukittinggi belum efektif dan masih perlu Dari tujuh indikator pelaksanaan pendidikan karakter hanya tiga indikator yang berhasil melampaui tingkat keberhasilan 85% yaitu indikator kedisiplinan, tanggung jawab dan kebersahabatan, sedangkan empat indikator lainnya masih dibawah 85%. Keempat indikator tersebut adalah religius, kreativitas, kejujuran dan kemandirian. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat disarankan sebagai berikut: Kepala sekolah perlu meningkatkan partisipasi seluruh guru yang ada di sekolah guna membantu membentuk karakter kejujuran dan kemandirian. Kepala sekolah agar membuat peraturan untuk membudayakan siswa-siswinya melakukan sholat jamaah disaat waktu duha guna meningkatkan nilai-nilai religius. Kepala Dinas dan Kepala sekolah agar membuat kebijakan tentang area atau kantin kreativitas guna meningkatkan kreativitas siswa. DAFTAR PUSTAKA