.• .- ·~ '~,_<...,.. .• ·,· .. :·. :··· :··..·.' ·. SURAT AL-DUHA TAFSIR ZAMAKHSHARI, 'ABDUH, DAN BINT . AL-SHATI' Oleh: Drs M. Yusron Asrofie MA. PENGANTAR Makalahini merupakan studi tiga karya tafsir al-Qur'an mengenai sunH · al~Duha. Karya-karya yang dipelajari adalah kitab tafsir al~Kashshaftu!isan Zainakhsharil, kitab Tafsir al-Qur'anal-Karim tulisan Muhammad 'Abduh2, dan kitab al,Tafsir al-Barjani lil"Qur'an alcKarim tulisan Bint al-Shati'3 . Zamakhshari menulis tafsir al-Qur'an nya di Mekkah antara tahun 1131 dan 1133 MasehL Karyanya merupakan perkembangan puncak analisa · al-Qur'an secara filologis dan sintaktis. Dia menganalisa kerumitan style al-Qur'an dan menjelaskan hal-hal yang tampak aneh yang terdapat di dalam teks al~Qur'an. Untuk mendukung taJsirnya, dia juga menyertakan hadits~badits dan contoh~contoh syair pra-Islam (Jahiliyyah) biasanya digunakanuntuk membuktikan makna beberapakata tertentu. 4 · · '- Muhammad 'Abduh (1849-1905), di lain pihak, terutama menampakkan keprihatinannya untuk menemukan pemecahan atas permasalahanpermasalahan. yang terjadi pad a masanya. ·Dia berpendapat bahwa al-Qur'an pacta dasarnya bukan merupakan sumber hukum Islam atau ilmu kalam, tetapi merupakan kitab yang memberi petunjuk pacta manusia dalam mencari kebahagiaari ·di dunia dan akhirat: Dia menginginkan suatu tafsir al-Qur'an yang bebas dari spekulasi teoretik, penyelidikan tata bahasa dan kutipan-kutipan ilmiah. Menurut dia, orang hendaknya membiarkan al~Qur'an berbicara bagi dirinya sendiri. Dalam hal ini, dia ragu-raguuntuk menerima .. materi dari luar al-Qur'an sebagai mempunyai makna bagi penafsiran · l.ll:'"Qur'an.5 Kitab tafsir al~Qur'an paling mutakhir yang menjadi objek studi ini adalah tafsir Bint al-Shati'. ·Didalam kitab tafsirnya, dia mencoba menerapkan metode tafsir tll~Qur'an yang dikembangkan olehgurunya yang sekaligus suaininya, Amin al-Khulli. Bint al-Shati' menafsirkan beberapa surat pendek Makkiyah yang kesatuan topiknya sangat menonjoL Dengan cara begini, dia berusaha memperjellls perbedaan antara metode tafsir al-Qur'an tradisional dan 35 ... ·· ·.... :· ~ ... metode baru. Suaminya yang membiarkan al-Qur'an menjelaskan dirinya dengan dirinya. Tujuannya adalah sekedar memahami teks al-Qur'an, yang bebas dati " ..... unsur-unsur asing dan cacat-cacat yang dibawa masuk ke dalam keindahannya nan mulia.6 Perbandingan ketiga penulis ini mempunyai beberapa keuntungan. Karena studi ini mencakup periode yang panjang (sekitar 800 tahun), ia memberikan informasi atas perkembangan tafsir al-Qur'an dan menyoroti perbedaan metodologi masing-masing penulis. Paling tidak, kita akan tahu apa argumen-argumen pokok mereka, di mana mereka sama atau berbeda; dan apa pemikiran dan tema penafsiran mereka. Terpisah dari keuntungankeuntungan ini, ada juga beberapa hal yang tidak menguntungkan. Pertama, adalah tidak mungkin untuk mencapai suatu keseimbangan yang sempuma dalam membicarakan masing-masing penulis, karena perbedaan kedalaman penafsiran mereka. Zamakhshari menggunakan empat halaman untuk menafsirkan surat al-Duha, 'Abduh enam halaman, dan Bint al-Shati' tigapuluh dua. Kedua, Zamakhshari menyusun tafsir untuk seluruh isi al-Qur'an, sementara 'Abduh maupun Bint al-Shati' hanya menafsirkan sebagian kecil isi al-Qur'an. Bahkan Bint al~Shati' secara nati-hati memilih beberapa surat yang memiliki kesatuan topik dan menganalisanya dengan segala cara. Akhimya, Bint al-Shati' mewakili perkembangan tafsir al-Qur'an paling mutakhir dan menunjukkan adanya pengetahuan yang hebat tentang para pendahulunya yang secara langsung maupun tidak, membantunya dalam menafsirkan al-Qur'an. · Terjemahan surat al-Duha oleh Yayasan Penterjemah/Pentafsir al-Qur'an adalah sebagai berikut: Penyelenggara 1. Demi waktu matahari sepenggalahan naik; 2. dan demi malam apabila telah sunyi; 3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu 1582); 4. dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan 1583); 5. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. 6. Bu'kankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dra melindungimu; 7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung158 4), lalu Dia merriberikan petunjuk; 8. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan; 9. Adapun terhadap ailak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang; 36 10. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu. menghardiknya; 11. Dan terhadap ni'mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).7 ~ T AFSIR ZAMAKHSHARI Zamakhshari menjelaskan bahwa Tuhan bersumpah dengan al-Duha · karena saat itu waktu ketika Nabi Musa diajak bicara oleh Tuhan dan waktu ketika para tukang sihir bersujud karena takut pada Tuhan. Tetapi · Zamakhshari tidak mengatakan apa-apa tentang sumpah yang kedua "Demi malam". Pada ayat kedua, dia menulis bahwa waktu itu adalah mal am ketika kegelapan, angin, orang-orang, dan suara menjadi diam dan tenang. 8 Pemikiran bahwa Tuhan bersumpah dengan makhlukNya tampaknya mendominasi Zamakhshari. Didalam menganalisa sumpah dengan al-Duha, dia juga menyebut ayat la-uqsimu (Saya tidak bersumpah), dia menafsirkannya sebagai "saya sungguh-sungguh bersumpah". Kata Ia, biasanya untuk menidakkan, disini menurut dia digunakan untuk memberi penekanan.9 Pada ayat tiga, Zamakhshari memperkuat tafsimya dengari saat turunnya wahyu. Diriwayatkan bahwa saat itu wahyu tidak turun untuk beberapa hari. Kemudian orang-orang Musyrik berkata bahwa Nabi Muhammad ditinggalkan dan dibenci oleh Tuhannya. Juga diriwayatkan bahwa istri Abu Lahab berkata: "Hey Muhammad, saya tabu bahwa setanmu telah meninggalkan kamu" setelah itu, Tuhan menururikan surat ini kepada Muhammad. 10 · Mengenai hubungan antara ayat tiga dan empat, Zamakhshari mencatat bahwa Tuhan tidak meninggalkan dan membenci Nabi Muhammad. Dia terns memberikan wahyu, memberi kabar gembira bahwa keadaan Nabi Muhammad di akhirat lebih baik dari pada di dunia ini. Muhammad memiliki kedudukan utama dan terkemuka diantara para Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Alloh. Nabi Muhammad memiliki kemampuan untuk mengangkat derajat dan martabat orang-orang mu'min dengan shafa'atnya.ll Zamakhshari menggambarkan ayat lima sebagai isyarat atas janji Tuhan untuk memberikan kepada Muhammad kesuksesan dan kemenangan atas musuhnya. Orang-orang akan berbondong-bondong masuk agama Alloh. Tentaranya dan tentara al-Khulafi' al-Rashidun akan menaklukkan kota-kota seluruh dunia Arab. Di Surga dia akan menerima banyak hadiah dari Tuhan dan Tuhan akan menyediakan baginya seribu istana yang terbuat dari mutiara. 12 Dalam menafsirkan ayat 6, 7, dan 8, Zamakhsharimenyebutkan bahwa Tuhan menyebut rahmat dan berkahNya bagi Nabi yang tidak pernah berhenti. Tuhan tahu bahwa ayah Muhammad meninggal sebelum dia lahir, bahwa ibunya juga meninggal ketika dia berumur delapan tahun. Berkah Tuhan 37 adalah bahwa pamannya mengasuhnya dan membesarkannya dengan baik. Menurut Zamakhshari, ayat tujuh memberi kesan bahwa Muhammad khilaf dalam hal pengetahuan tentang hukum Ilahi atau, dengan interpretasi lain, dia dibawa kembali kepada pamannya atati kakaknya. Tentang ayat ini, Zamakhshari mengatakan bahwa jika ada orang yang menyatakan bahwa Muhammad hidup di tengah masyarakatnya selama empatpuluh tahun tanpa petunjuk hukum Ilahi, hal itu bisa diterima. Tetapi, jika orang menyatakan bahwa Muhammad selama itu hidup menurut agama dan kekafiran merek&, maka orang itu keliru. Zamakhshari percaya pada keterpeliharaan Nabi dari dosa sebelum dan sesudah menjadi Rasul. Bagi Zamakhshari, kekhilafan Muhammad adalah dalam artian dia tidak mempunyai pengetahuan tentang hukum ilahi. Ayat delapan, menurut Zamakhshari, memberi kesan bahwa Muhammad adalah miskin. Kemudian Tuhan menjadikannya kaya dengan kekayaan khadijah dan dengan rampasan perang.I3 Didalam menafsirkan ayat 9, 10, dan 11, Zamakhshari menulis bahwa Nabi Muhammad diperintah oleh Tuhan untuk tidak merampas harta dan hak-hak anak yatim, tidak pula menunjukkan muka masam/marah. Juga, Nabi diperintah untuk tidak mengusir pengemis (disini, berarti bisa juga orang yang meminta pengetahuan/bertanya supaya tahu). Akhirnya, Muhammad diperintah untuk bersyukur pada Tuhan dan menyatakan berkahNya yaitu mengakui bahwa Tuhan telah memeliharanya, memberinya petunjuk dan kekayaan. Berkah Tuhan, menurut Zamakhshari, bisa pula berupa al-Qur'an. Oleh karena itu, Muhammad diperintah untuk membacanya dan melaksanakan missinya. Jadi bukan berarti bahwa Nabi disuruh memamerkan bahwa Tuhan telah memberinya kekayaan.I4 Zamakhshari berkesimpulan bahwa Muhammad ditemukan dalam keadaan yatim, khilaf, dan miskin. Tuhan memeliharanya, memberinya petunjuk dan kekayaan. Oleh karena itu Muhammad hendaknya tidak melupakan berkah Tuhan. Dia hendaknya mentaati petunjuk Tuhan, memelihara dan berbuat baik kepada anak yatim, menyayangi pengemis, serta tidak mengusirnya dari depan pintu rumahnya.IS TAFSIR 'ABDUH Sekarang kita beralih ke Muhammad 'Abduh. Mengenai al-Duha dia menyatakan bahwa itu adalah sinar matahari pacta awal siang hari. Dia menafsirkan ayat 2 dan 3 hampir sama dengan Zamakhshari. Ayat empat dia tafsirkan bahwa akhir risalah Nabi Muhammad adalah lebih baik baginya daripada awalnya, bahwa bersambungnya wahyu menjadikan agama Islam menjadi sempuma dan bahwa nikmat Tuhan bagi orang-orang yang memeluk Islam menjadi komplit. Kenikmatannya tidak sebanding antara permulaan wahyu dan akhirnya. Ayat lima, menurut 'Abduh, mengisyaratkan bahwa Tuhan memberi wahyu pada Muhammad serta petunjuk baginya dan bagi Pengikut-pengikutnya. Tuhan membuat Muhammad dan orang-orangnya 38 bahagia serta mengangkat derajat mereka di dunia di akherat diatas derajat orang-orang lain.l6 Menurut 'Abduh, sumpah dengan waktu siang hari dengan sinar mataharinya yang cerah adalah untuk mengagungkan kekuatan cahaya dan berkahyang menyertainya serta untuk menarik perhatian orang pada suatu fakta bahwa cahaya adalah salah satu tanda keagungan Tuhan dan berkahNya yang bagus sekali. Sedangkan sumpah dengan waktu malam hari dengan gelap gulitanya berkaitan dengan suatu daya yang memberi rasa takut pada manusia dan menghalanginya dari gerak dan aktifitas. Daya takut ini kabur dan tidak bisa diraba sebagaimana keagungan Tuhan yang melingkupi man usia dari segala sisi dengan cara yang tidak bisa dimengerti. 17 'Abduh tahu bahwa saat turunnya wahyu surat ini adalah bahwa Nabi tidak menerima wahyu untuk beberapa larna, Dia juga tahu bahwa beberapa ahli tafsir tidak sepakat dalam detail ceritanya tetapi dia ('Abduh) menyatakan bahwa dia tidak tertarik membicarakan ketidak sepakatan mereka. Menurut dia, pesan ajaran surat ini jelas: Tuhan ingin menghibur hati Nabi dengan menegaskan berita yang Dia wahyukan dalam. lima ayat pertama sura! al-Duha. 18 Berbeda dengan Zamakhshari. 'Abduh mengatakan bahwa surat ini sama sekali tidak bicara tentang kaum musyrik. Bahkan dia mempenanyakan bagaimana kaum musyrik bisa tahu tentang terputusnya wahyu. Bagi dia, tampaknya tidak mungkin orang-orang musyrik bisa tahu. Dia menegaskan bahwa saat turunnya adalah bahwa Nabi Muhammad merasa tidak tenang karena merindukan turunnya wahyu.l 9 Terputusnya wahyu, menurut 'Abduh, adalah untuk menghibur hati Nabi dari rasa takut dan penderitaan. Sebagaimana dimakluini Nabi mengalami beberapa kesulitan dalam menerima wahyu pertama, karena itu terputusnya wahyu dimaksudkan untuk meneguhkan hatinya dalam melaksanakan misinya. Kemudian Tuhan menjadikan hati · Nabi man tap dengan terus turunnya wahyu dan memberikan kabar gembira bahwa terputusnya wahyu bukan karena Tuhan meninggalkan dan membencinya. Untuk meyakinkan kabar tersebut, Tuhan bersumpah dengan menunjukkan bagaimana kecennelangan wahyu yang berperan dihatinya pertama kali adalah sama seperti waktu al-Duha (pagi cerah) yang memperkokoh kehidupan dan rnenghasilkan pertumbuhan. Kemudian terputusnya wahyu adalah seperti rnalam yang tenang dimana tenaga fisik bisa istirahat dan hati menjadi siap untuk melaksanakan tugas berikutnya.20 'Abduh tidak: berbeda dengan Zamakhshari dalam menafsirkan ayat enam. Dia secara singkat menceritakan masa kecil Muhammad, sampai dia hijrah ke Madinah. Mengenai ayat tujuh, 'Abduh mengatakan hal itu bukan berarti bahwa Muhammad menyembah berhala, atau bahwa dia melakukan dosa syirik, tetapi hal itu berarti bahwa dia kebingungan. Dia tidak tahu bagaimana harus memilih antara agama Yahudi dan Kristen. Kedwmya adalah agama 39 tauhid dan memiliki hukum ilahi. Lebih-lebih lagi, dia terutama bingung tentang kondisi orang-orang Arab yang pada umumnya banyak berbuat dosa. Kemudian Tuhan memberinya petunjuk dengan mengatakan bahwa hanya Dia sendirilah yang pantas disembah. Tuhan mewahyukan kepada Muhammad bagaimana cara menyembahNya, apa sifat-sifatNya, dan bagaimana memberi petunjuk pada kaumnya: Mengenai ayat delapan, 'Abduh mengatakan bahwa pada mulanya Muhammad adalah miskin, lantas Tuhan membuatnya menjadi kaya dengan keberhasilannya dalam berdagang dan dengan kekayru,tn yang · Khadijah berikan kepadanya.21 Mengenai ayat sembilan, 'Abduh menulis bahwa Tuhan melarang Nabi menghina anak yatim dan memerintahkannya untuk mengangkat martabat . anak yatim dengan mengajarnya akhlak yang baik. Dia mengatakan bahwa jika orang tabu balasan orang yang menjaga anak-anak yatim, mestinya mereka akan berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kondisi mereka dan suka derrnawan kepada mereka; Ten tang kata al-Sa'il dalam ayat sepuluh, dia menafsirkannya sebagai orang yang mencari ilmu pengetahuan, bukan orang meminta derma. Kata ini, menurut dia, tidak ada hubungannya dengan orang fakir miskin. Tidak seperti kata "yatim", kata al-Sa'il tidak bisa dinisbahkan pada Nabi. Oleh karena itu, ayat sepuluh, ditafsirkan oleh 'Abduh sebagai: "jangan mengusir orang yang mencari ilmu pengetahuan dan petunjuk, betapapun bodohnya dia". Menurut 'Abduh, didalam ayat sebelas Tuhan memerintahkan pada NabiNya untuk berlaku dermawan, memberi makan kepada orang miskin dan membantunya. Kata al-ni'mah dalam ayatini berarti kekayaan. 22 · 'Abduh tampaknya yakin bahwa masing-masing tiga ayat terakhir surat al-Duha adalah kebalikan dari tiga ayat sebelumnya, karenanya, ayat enam adalah ayat sembilan; ayat tujuh kebalikan ayat sepuluh; dan ayat delapan kebalikan ayat sebelas.23 T AFSIR BINT AL-SHA TI' Didalam menafsirkan ungkapan al-Duha, Bint al-Shati' yakin bahwa kata itu berarti suatu waktu tertentu disiang hari, yaitu pagi hari sebelum tengah · hari. Dia tidak setuju dengan banyak ahli tafsir yang mengartikan satu kata lebih dari satu ani. Secara tidak langsung, dia mengkritik Zamakhshari yang mengatakan bahwa kata al-Duha bisa berarti siang hari. Mengenai makna masing-masing kata yang dipakai di dalam al-Qur'an, Bint al-Shati' yakin bahwa satu kata hanya boleh berarti satu makna didalam sat\1 tempat. Kata itu mempunyai makna khas, tidak mungkin ada makna lainnya.24 Didalam suatu artikel yang berjudul "The Problem of Synonym in the light of Qur'an" (Sic), dia lebih jauh lagi membeberkan teorinya dengan mempelajari beberapa ahli bahasa tertentu yang membicarakan masalah sinonim. Satu pertanyaan sentral adalah apakah didalam bahasa Arab ada kata-kata yang hanya niempunyai satu · maicna atau beberapa nama untuk satu benda. Kebanyakan mereka yakin 40 .t_ bahwa hal semacam itu ada, bahkan mereka bangga ten~ng hal ini. deQgan menyatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang paling kaya kosa katanya. Mereka yakin bahwa ada banyak kata-kata yang bisa dipakai untuk satu makna yang persis atau untuk satti benda. Menurut Bint al-Shati', salah seorang mereka bangga tabu 500 nama "singa" dan 200 nama bagi "ular". Dilain pihak,. beberapa orang menolak adanya sinonim dan menegaskan bahwa hanya ada satu :kata untuk satu makna atau satu nama bagi satu benda. Setelah studi lama dan seksama tentang teks al-Qur'an, menurut apa yang Bint al-Shati' sebut "suatu metode ilmiah" · dimana orang tidak boleh menerangkan kata apapun teks al-Qur'an tanpa. menelusuri kata yang sama dan kata-kata yang mempunyai akar kata sama diseluruh teks al-Qur'an dan tanpa melihat secara seksama pada konteksnya dimana saja kata itu · dipakai di dalam al-Qur'an, dia mempunyai kesimpulan ·yang kuat bahwa al-Qur'an, yang mewakili bahasa Arab dalam puncak yang paling murni dan asli, tidak mendukung mereka yang berpendapat bahwa ada sinonim di dalam bahasa Arab. Didalam al-Qur'an, setiap makna hanya mempunyai satu kata. Jika orang mencoba untuk menggantikannya deilgan kata lain, al-Qur'an bisa · kehilangan efektifitasnya, keindahannya dan essensinya. Dan bahwa sinonim-sinonim tadi tidak bisa diterima didalam style, sastra Arab yang tinggi dimana satu kata tidak bisa menggantikan kata lainnya. 25 rum Bint al-Shati' menolak ide bahwa sumpah didalam al-Qur'an mengandung makna pengagungan atas objek sumpah tersebut. Tuhan yang maha besar dan kuasa tidak perlu mengagungkan makhluknya. Sumpah didalam al-Qur'an yang memakai huruf W aw hanya berfungsi sebagai alat retorika, dengan menggunakan gejala yang secara material bisa diketahui atau dengan peristiwa-peristiwa konkrit untuk menarik perhatian atas gejala lain yang serupa yang abstrak dan bersifat rohaniah. Dia sangat yakin bahwa objek sumpah didalam dua ayat 'pertama surah al-Duha adalah gejala yang bersifat material dari peristiwa yang bisa diketahui dengan mudah yang orang-orang melihatnya selama siang hari yang cerah dan kernudian selama tenangnya malam yang sepi. Jadi mereka melihat dua kondisi dalam satu hari. Berurutannya siang terik matahari dan malam yang sepi tidak berarti bahwa langit meninggalkan bumi dan membiarkannya dalam kegelapan dan kesunyian setelah siang hari yang cerah. Menurut Bint al-Shati,' siang hari yang cerah berarti bahwa setelah Nabi Muhammad menerima wahyu, cahayanya menjadi cerah baginya; ·dan malam .yang sunyi berarti suatu selingan kesunyian dan keadaan diam yarig serupa dengan terputusnya wahyu. . Periode ketika Nabi tidak menerima wahyu adalah seperti malam yang gelap.26 · Berbicara tentang sumpah didalam al"Qur'an, Jansen secara jitu menunjukkan bahwa didalam diskusinya yang panjang mengeQai masalah ini, Bint al-Shati' tidak menyebut bahwa sumpah sertipa sering kali digunakan oleh penyair, tukang sihir dan tukang ramal pada masa Nabi. Bint al-Shati' sangat mungkin tabu tentang hal ini.27 41 Bint Al-Shati' juga membicarakan ten tang persoalan "saat kejadian turunnya wahyu" dengan sangat hati-hati. Semua ahli tafsir sepakat bahwa turunnya surat al-Duha terjadi setelah Nabi tidak menerima wahyu selama beberapa lama dan sampai dia merasa sangat ingin menerima wahyu lagi. Tetapi mereka berbeda pendapat didalam menentukan sebab terputusnya wahyu. Sebagaimana 'Abduh, Bint al-Shati' sengaja menghindari pembicaraan atas perbedaan pendapat dikalangan ahli tafsir. Istilah "sebab turunnya wahyu {sebab al-nuzul), bagi Bint al-Shati', tidak lebih dari sekedar suatu saat kejadian yang berhubungan dengan teks al-Qur'an. Dia menganut suatu prinsip/kaidah terkenal dari para ahli hokum Islam bahwa ketentuan perkara berdasar karena keumuman lafaz/teks bukan karena sebab tertentu/khusus. Dia juga tidak ingin membicarakan tentang berapa lama masa terputusnya wahyu, dengan alasan karena al-Qur'an sendiri tidak menyebut detailnya dan teksnya sendiri sudah cukup jelas, detail terperincinya tidak diperlukan. Dia percaya bahwa orang hanya memerlukan essensinya dari situasi yang melingkupi turunnya wahyu. Dia tidak percaya bahwa cerita-cerita yang mendetail yang terdapat didalam beberapa kitab tafsir al-Qur'an membantu memperjelas makna dan tafsir surat al-Duha.2s Didalam menafsirkan ayat tiga, Bint al-Shati' tidak berbeda dengan baik Zamakhshari maupun 'Abduh. Tetapi, setelah mempelajari irama al-Qur'an secara seksama, dia yakin bahwa tidak ada kata dalam al-Qur'an dipakai hanya karena alasan langgam saja. Penggunaan suatu kata pada akhir ayat selalu karena alasan makna bukan (tidak pemah) untuk alasan irama. Oleh karena itu, berbicara tentang kata qala membenci, dia mengatakan bahwa penghapusan kata ganti orang kedua ka adalah untuk alasan retorik dan spiritual: Tuhan ingin menunjukkan kebaikan dan keakrabanNya kepada NabiNya yang tercinta. Maksudnya adalah Tuhan tidak akan berbicara dengan Muhammad dengan memakai kata "membencimu" tetapi supaya tampak hal us dengan memakai kata "membenci". Kasus yang sama adalah kata haddith pada akhir surat. Tidak ada akhiran irama th sama sekali di dalam ayat-ayat sebelumnya, dan bahkan tidak ada huruf th sama sekali di dalam surat ini. Jik(l retorika al-Qur'an harus tunduk pada kepentingan menjaga irama, mengapa surat al-Duha tidak berakhir dengan huruf r seperti ayat-ayat sebelumnya.29 Didalam menafsirkan ayat empat, Bint-al-Shati' tampak setuju dengan Zamakhshari yang menafsirkan "a-akhirah" Sebagai hari akhirat, dan dengan 'Abduh yang membatasi maknanya sebagai akhir wahyu. Sebagaimana dalam kasus-kasus lainnya, Bint al-Shati' berusaha untuk memahami makna masing-masing kata yang dipakai didalam al Qur-an. Dia mencari makna linguistik aslinya yang memberikan arti bahasa Arab atau perasaan kata tersebut di dalam berbagai macam penggunaannya yang bersifat material dan figuratif. Kemudian makna Qur'ani dicatat dengan mengumpulkan semua bentuk kata yang ada didalam ayat-ayatdan surat-surat tertentu serta konteks uroumnya didalam al-Qur'an sebagai suatu kesatuan. Bagi Hint al-Shati', ayat 42 em pat sekitar berarti bahwa masa akhir Muhammad adalah lebih baik baginya dari pada masa awalnya.3D · · Mengenai ayat lima, Bint al-Shati' menunjukkan keenggar~annya untuk menentukan macam pemberian apa yang diberikan oleh Tuhan. Bagi dia, hal itu berupa pemberian apa saja dari Tuhan yang menjadikan Nabi merasa senang dan puas. 31 Lagi-lagi mengenai ayat enam, dia tidak ingin merinci perlindungan macam apa yang diberikan oleh Tuhan ketika dia menjadi yatim. piatu. . Didalam menafsirkan ayat tujuh, Bint al-Shati' tampak menemui k1sulitan dalam menjelaskan bahwa Tuhan mendapati Muhammad dalam keadaan sesat yang kemudian Tuhan memberinya petunjuk. Setelah melihat-lihat karya-karya tafsir sebelumnya, Bint al-Shati' memilih untuk mengikuti apa yang Abu Hayyan katakan: "Dia (Tuhan) mendapati orang-orangmu dalam keadaan sesat, lantas Dia memberi petunjuk kepada mereka dengan kedatanganmu (Muhammad). Kata "sesat" disini adalah dalam arti "tidak tahu jalan". 32 Penafsiran Bint al-Shati' ten tang ayat ini jelas sekali menunjukkan bahwa dia mempunyai keyakinan teologis bahwa Nabi tidak · mungkin bersalah. Ide bahwa Nabi kaya ditolak oleh Bint al-Shati'. Menafsirkan ayat delapan, dia menyatakan bahwa Tuhan mendapati Muhammad miskin lantas Dia mencukupinya. Kata "mencukupi" disini, menurut dia, tidak berarti "menjadikan kaya" tetapi "membuat Nabi merasa cukup dengan apa yang dia peroleh atau apa yang dia punyai". Oleh karena itu, meskipun Muhammad miskin, dia tidak menderita dari kemiskinan sama halnya menjadi anak yatim tidaklah membuat dia susah. Dia sangat sederhana dalam hal makan, minum, dan hidup. Bahkan dia sud~h terbiasa dengan kemiskinan dan hidup sangat sederhana. Oleh karen a itu, menurut Bint al-Shati', ayat delapan memberi isyarat bahwa Tuhan melindungi Muhamtnad secara psikologis dan spiritual dari akibat menjadi anak yatim, miskin dan bingung.33 .~ Bint al-Shati' menafsirkan ayat sembilan mirip dengan makna surat 107:2 (yaitu orang yang menghardik anak yatim), yakni, untuk tidak bersikap keras, mengusir, atau menindas anak yatim. Tentang kata al-sa'il dalam ayat sepuluh, dia mengikuti al-Tabari yang menafsirkannya sebagai orang yang membutuhkai.I atau meminta sesuatu secara umum.34 Tentang kata al-ni'mah dalam ayat sebelas, Bint al-Shati' yakin bahwa hal itu menunjuk kepada risalah (misi) Muhammad. Karenanya, menurut dia, ayat sebelas mengisyaratkan bahwa Muhammad hendaknya melaksanakan atau menyampaikan misinya. Dia tidak setuju dengan mayoritas ahli tafsir yang menafsirkannya sebagai "kenabian" dan dengan 'Abduh yang menjelaskannya . ' sebagai "kekayaan".35 Bint al-Shati' berkesimpulan bahwa dia melihat suatu rahasia: yang luar biasa dalam surat al-Duha, yaitu, Tuhan meng!mgkat rosulNya bahwa pembaharuan masyarakat adalah lebih penting dari pada rasa menghargai diri. 43 Misinya adalah meringankan kesengsaraan orang miskin, memenuhi kebutuhan pengemis, dan mengakhiri penindasan terhadap anak yatim .. Misi pembaharuan dan pemberian petunjuk semacam itulah yang Nabi diperintah untuk memproklamasikan dan melaksanakan.36 KESIMPULAN Dari diskusi di atas, sangatlah jelas bahwa ai-Qur·a·n (surat-suratnya, . ayat-ayatnya dan kata-katanya) bisa punya makna yang berbeda bagi orang yang berbeda. Di dalam kitab tafsir al-Qur'annya, Zamakhshari menunjukkan perhatiannya pada pemakaian hadith. Sayangnya dia tidak menditi keabsahan dan kemurnian hadith-hadith tersebut. Dia hanya menyebutkannya tanpa menganalisa manfaat pemakaiannya untuk menjelaskan makna dan tafsir surat al-Duha. Dia terkadang memberi penjelasan secara rinci ayat-ayat dan kata-kata tertentu tetapi di lain tempat dia tidak mengatakan apa-apa (tidak memberi komentar sama sekali). Juga kadang-kadang dia memberi lebih dari satu tafsiran atau makna terhadap ayat-ayat atau kata-kata dan menyerahkannya kepada pembaca untuk meneliti mana yang dikira cocok. Dalam kasus 'Abduh; dia yakin bahwa sumpah di dalam al-Qur'an berarti pengagungan objek dari sumpah. Bagi 'Abduh, sumpah memberi isyarat bahwa Tuhan menunjukkan pada manusia kebesaran beberapa makhluknya. Salah satu sumbangannya bagi tafsir surat ini adalah seperti cahaya dan terputusnya wahyu adalah seperti malam yang sunyi. Tafsir 'Abduh tampaknya sangat langsung pada pointnya. Dia tidak mau membicarakan masalah tata bahasa dan tidak tertarik mendiskusikan rincian saat turunnya wahyu. Bahkan dia mempertanyakan keabsahan dan kemurnian beberapa cerita detailnya.. Bint al-Shati' tampaknya sengaja memamerkan prestasinya dalam tafsir al-Qur'an dengan menafsirkan surat al-Duha pada permulaan kitabnya. Pada umumnya, penafsirannya atas surat al-Duha tidak banyak berbeda dari ahli tafsir lainnya dalam membeberkan pelajaran dan implikasi sosial surat ini. Tetapi dari sudut pandangannya linguistik, dia banyak memberi sumbangan dalam menjelaskan makna yang halus dari ayat-ayat dan kata-kata dalam al-Qur'an. Salah satu argumen terkuatnya ialah bahwa suatu kata dalam al-Qur'an hanya punya satu makna dalam satu tempat, dan sinonim tidak pernah muncul dalam teks dengan makna yang sama. Penemuan-penemuan pentingnya dengan hubungannya dengan surat al-Duha adalah tentang penggunaan huruf waw untuk sumpah, dan penjelasan ten tang masalah irama sejak dalam al-Qur'an. 44 ' CATATAN 1. Abu al-Qasim Mahmud Ibn 'Umar Muhammad al-Zamakhshari, al-Kashshaf 'an Haqa'iq Ghawamid wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil v.u (Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1947). 2. Muhammad 'Abduh, Tafsir al-Qur'an al-Karim, juz 'Amm (Cairo : al-Matba'ah al-Amiriyah, 1366 H). 3. 'Aishah 'Abd al-Rahman (Bint al-Shiti'), al-Tafsir a/-Bayani li/-Qur'an al-Karim, v.l (Cairo: Dar ai-Ma'arif, 1962). 4. JJ.G. Jansen, The Interpretation of the Koran in Modern Egypt (Leiden: E.J. Brill, 1974); 62-63. 5. Ibid., 19 dan 24-25. 6. Ibid., 68-69. Bint al-Shati', 10. Lihat juga lssa J. Boullata "Modern Qur'an Exegesis : A Study of Bint al-Shati"s Method" The Muslim World 64 (1974), 105. 7. Yayasan Penyelenggara Penterjemah (Pentafsiran Al-Qur'an (sic), Al-Qur'an dan Terjemahnya (Jakarta: Departemen Agama, 1985), 1070-1071. 8. Zamakshari, 765. 9. Ibid, 767. Lihat juga G.R. Smith, "Oaths in the Qur'an" Semitics 1 (1970), 138. i\rtikel ini mencoba untuk nienganalisa berbagai macam sumpah yang dipakai al-Qur'an tetapi sayangnya pcnulis tidak menyebut karya Bint al-Shati' sama sekali. 10. Zamakhshari, 765-766. 11. Ibid., 766. 12. Ibid., 766-767. 13. Ibid., 767-768. 14. Ibid., 768- 769. 15. Ibid., 769. 16. 'Abduh, 108- 109. 17. Ibid., 94. 18. Ibid., 108-109. 19. Ibid., 109. 20. Ibid. Lihatjuga Muhammad Amir Tawfiq "Interpretation and Lessons of Surah "AI-Duha" (sic) Majallat al-Azhar, 48, vi (1976), 8-9. 21. Ibid., 110-112. 22. Ibid., 112- 113. 23. Ibid., 113. 24. Bint ai-Shati', 19. 45 25. Lihat Ai'sha Abdel Rahman (sic), "The Problem of Synonym in the Light of Qur'an (sic), Proceedings of the Twenty-sixth International Congress ofOrientalists 1964, IV (1970), 185-186. 26. Bint al-Shati', 15 - 16. 27. Jansen, 70. 28. Bint al-Shati', 13-14 dan 25-26. Tentang prinsip bahwa ketentuan perkara berdasar atas keumuman teks bukan atas ~sebab khusus, liha.t Fazlur Rahman, Islam and Modernity, (Chicago: The University of Chicago Press, 1982), 17. 29. Bint al~Shati', 24-25 Lihatjuga Jansen, 73. 30. Bint al-Shati', 27-28. Lihat juga Boullata, 105, Sangatlah jelas bahwa Bint al-Shati' mencoba untuk menerapkan metode tafsir al-Qur'an yang . dikembangkan oleh guru dan sekaligus suaminya Amin al-Khulli. Lihat Jansen, 67. 31. Bint al-Shati', 28. 32. Ibid., 36. Lihat juga Abu Hayyan, al-Bahr al-Muhitfi Tafsir al-Qur'an (Cairo: Matba'at al-Sa'adah, 1910-1911), 486. 33. Bint al-Shati', 40. 34. Ibid., 41 - 42. 35. Ibid., 42 - 43. 36. Ibid., 44. Yogyakarta, 16 Agustus 1991. 46