Volume 12. No. Desember 2023 Hal. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 30996/persona. Website: http://jurnal. untag-sby. id/index. php/persona Kepemimpinan transformasional dalam pembentukan Organizational Citizenship Behavior (OCB) Polisi: Kepuasan kerja sebagai mediator Transformational leadership in the formation of Police Organizational Citizenship Behavior (OCB): Job satisfaction as a mediator Ufi Fatuhrahmah* Fakultas Psikologi. Universitas Ahmad Dahlan. Yogyakarta Muhammad Eka Deny Ardian Fakultas Psikologi. Universitas Ahmad Dahlan. Yogyakarta Muhammad Rizky Husada Fakultas Psikologi. Universitas Ahmad Dahlan. Yogyakarta *E-mail: ufi. fatuhrahmah@psy. Abstract Previous research emphasizes the importance of Organizational Citizenship Behavior (OCB) in public institutions, including the police. However, there is limited literature that examines how OCB subtypes are formed. Considering the centrality of the leader figure in the police, this research investigates the role of transformational leadership in the formation of OCB through attitudinal mechanisms, namely job satisfaction. The quantitative research involved 251 participants, chosen via cluster sampling from a single Resort/Departmental Police Force in Indonesia. This participant willingly completed three main scales: the OCB scale, the job satisfaction scale, and the transformational leadership scale. Data processing used mediation analysis with JASP software JASP 0. 3 (Inte. The results align with previous findings, which stated a significant positive relationship between transformational leadership and OCB, which was mediated by job satisfaction. Furthermore, this research shows that only the OCB-Individual (OCBI) subtype . ourtesy and altruis. is related to transformational leadership through the mediation of job satisfaction. Discussions and implications are outlined in detail, both for police institutions and future researchers. Keywords: job satisfaction. organizational citizenship behavior. transformational leadership Abstrak Penelitian terdahulu menekankan pentingnya membangun Organizational Citizenship Behavior (OCB) dalam institusi public, termasuk kepolisian. Namun demikian, belum banyak literatur yang mengkaji bagaimana subtipe OCB terbentuk. Dengan mempertimbangkan pentingnya sosok pemimpin di kepolisian, penelitian ini berupaya mengeksplorasi peran kepemimpinan transformasional dalam pembentukan OCB melalui mekanisme sikap, yaitu kepuasan kerja. Penelitian kuantitatif ini melibatkan 251 partisipan yang dipilih melalui cluster sampling dari salah satu Polres di Indonesia dan bersedia untuk mengisi tiga skala utama yaitu skala OCB, skala kepuasan kerja dan skala kepemimpinan transformasional. Pengolahan data menggunakan analisis mediasi dengan software JASP JASP 0. Hasil penelitian ini memperkuat temuan sebelumnya yang menyatakan adanya hubungan positif signifikan kepemimpinan transformasional dengan OCB yang dimediasi oleh kepuasan kerja. Lebih jauh, penelitian ini menunjukan bahwa hanya subtipe OCB-Individual (OCBI) . ourtesy dan altruis. yang berhubungan dengan kepemimpinan transformasional melalui mediasi kepuasan kerja. Diskusi dan implikasi dituangkan detil, baik untuk institusi maupun peneliti selanjutnya. Kata kunci: kepemimpinan transformasional, kepuasan kerja, organizational citizenship behavior, polisi Copyright A 2024. Ufi Fatuhrahmah. Muhammad Eka Deny Ardian. Muhammad Rizky Husada Received:2023-10-18 Revised:2024-02-28 Accepted:2024-04-02 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License Persona: Jurnal Psikologi Indonesia E-mail: jurnalpersona@untag-sby. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Kepemimpinan transformasional dalam pembentukan Organizational Citizenship Behavior (OCB) Polisi: Kepuasan kerja sebagai mediator Pendahuluan Polisi memiliki fungsi penting dalam memelihara keamanan, dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat berdasarkan UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Namun demikian, harapan dan tuntutan masyarakat yang tinggi dan semakin meningkat (Alamsyah, 2023. Mabes Polri, 2. menuntut polisi tidak hanya sekedar menjalankan tugas utamanya saja, namun juga tugas kesukarelaan . xtra Keterlibatan polisi dalam berbagai kegiatan masyarakat di luar tugas utamanya dapat ditemukan dalam berbagai aktifitas misalnya relawan kemanusiaan (Balipost, 2018. Febrianto, 2. , perbaikan fasilitas kemasyarakatan (Sidin, 2019. Sulbarexpress, 2. maupun dalam aktifitas kepedulian terhadap lingkungan (Tribatanews, 2. Dalam ilmu psikologi dan manajemen, konsep ini dikenal dengan Organizational Citizenship Behavior (OCB). OCB didefinisikan sebagai perilaku sukarela karyawan yang tidak berhubungan dengan sistem imbalan formal yang berlaku di organisasi dan mendukung secara lingkungan sosial dan psikologis dalam rangka pencapaian kinerja (Organ, 1988. Podsakoff dkk. , 2. OCB telah mengalami sejarah dan perkembangan yang panjang sejak dicetuskan pertama kali serta didefinisikan secara operasional oleh berbagai peneliti (Organ dkk. , 2. Definisi konseptual yang akhirnya banyak digunakan oleh para peneliti mengacu pada lima aspek utama OCB yaitu altruism, conscientiousness, sportsmanship, courtesy dan civic virtue (Organ, 1988. Podsakoff dkk. , 1. Pada perkembangannya, penelitian menemukan bahwa ada dua orientasi OCB yang berbeda dengan mekanisme yang berbeda (Organ dkk. , 2006. Podsakoff dkk. , 2009. Williams & Anderson, 1. , yaitu OCB yang berorientasi organisasi (OCBO) dan OCB yang berorientasi individual (OCBI). OCBO merupakan bentuk perilaku yang menguntungkan organisasi secara umum, seperti conscientiousness, sportsmanship dan civic virtue (Newland, 2012. Podsakoff dkk. , 2. OCBI merupakan bentuk perilaku yang memberikan keuntungan secara langsung kepada individu namun secara tidak langsung juga berkontribusi kepada organisasi, seperti altruism dan courtesy (Newland, 2012. Podsakoff dkk. , 2. Beberapa riset OCB pada polisi menunjukan bahwa tingkat OCB polisi Indonesia berada di level baik (Batilmurik, 2021. Dotulong & Andriany, 2. dan memberikan pengaruh positif kepada organisasi, terutama dari sisi kinerja (Batilmurik dkk. , 2020. Earlyanti & Hamid, 2. OCB menjadi cukup menarik untuk dikembangkan baik dari sisi sudut pandang evaluasi manajemen maupun dari sisi kinerja organisasi (Marcos dkk. Dengan mengerjakan seluruh tugasnya, kepolisian mungkin akan mencapai tingkat kinerja yang ditargetkan, namun jika tidak didukung oleh perilaku OCB dari dari anggotanya, maka kepuasan publik akan sulit dijaga (Bez, 2. Spesifik menyoroti peristiwa di Indonesia, kinerja Polri dalam setahun terakhir mendapat perhatian tajam dari masyarakat karena berbagai kasus . com, 2. Oleh Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 105 Ufi Fatuhrahmah, dkk. Volume 12. No. Desember 2023 karena itu, dalam upaya peningkatan kinerja POLRI menjalankan program transformasi yang cukup diapresiasi publik dengan peningkatan indeks kepuasan terhadap kinerja POLRI dalam rentang April Ae Juni 2023 (Tempo. co, 2. Menariknya, ada beberapa poin penting dari penyebab kenaikan ini yaitu . kenaikan ini merupakan dampak dari tindakan tegas kepemimpinan Kapolri dalam mengatasi masalah di internal Polri, . masyarakat puas dengan kemampuan POLRI dalam membangun komunikasi yang baik dengan warga dan . masyarakat puas dengan kemampuan POLRI dalam menjaga keamanan dan ketertiban (Tempo. co, 2. Hal ini menunjukan perbaikan kinerja di tubuh Polri sangat dipengaruhi oleh sosok pemimpin. Hal ini tentu saja tidak lepas dari karakteristik khas organisasi dan budaya semi militer (DL, 2. sehingga figur pemimpin dalam Polri menjadi sangat penting dalam membentuk perilaku anggotanya. Senada dengan hasil survey publik tersebut, dalam berbagai literatur OCB, kepemimpinan juga memegang peranan penting dalam membangun perilaku ini. Berdasarkan riset-riset terdahulu, kepemimpinan transformasional menjadi salah satu gaya kepemimpinan yang menunjukan hasil yang positif, signifikan dan konsisten dalam membangun OCB dibanding gaya kepemimpinan lainnya (P. Podsakoff dkk. , 2. Kepemimpinan transformasional ditandai dengan empat aspek utama yang dimiliki oleh pemimpin yaitu pengaruh idealisme atau karisma, motivasi inspirasi, stimulasi intelektual dan kepekaan individu (Avolio dkk. , 1999. Bass & Avolio, 1. Kepemimpinan transformasional membangun OCB dengan melibatkan perubahan mendasar pada nilai-nilai yang dianut oleh para anggotanya, lebih dari sekedar melakukan perilaku tersebut berdasarkan imbalan yang akan diperoleh (Organ dkk. Mekanisme bagaimana kepemimpinan transformasional membangun OCB banyak diteliti dengan melibatkan berbagai konstruk dan variabel (Lochbaum, 2. Beberapa penelitian melibatkan variabel mediator seperti kecerdasan emosional (Majeed dkk. , 2. , komitmen organisasi (Nurjanah dkk. , 2020. Tan dkk. , 2019. Williams & Anderson, 1. , kepuasan kerja (Arijanto, 2022. Juniartha dkk. , 2. keterlibatan kerja (Azila-Gbettor, 2. , rasa memiliki terhadap organisasi (Singh, 2. , pemberdayaan psikologis (Wandani & Sunaryo, 2. , kepercayaan kepada atasan (Juniartha dkk. , 2. , leader-member exchange (Wang dkk. , 2. dan integritas dan pengembangan (Wasim & Ur Rehman, 2. Penelitian lain melibatkan moderator seperti persepsi keadilan (Kayaalp dkk. , 2. dan karakteristik pribadi karyawan (Imhmed & Yazam, 2. Dari berbagai penelitian ini, kita dapat melihat bahwa berbagai bentuk sikap kerja, terutama kepuasan kerja dan komitmen organisasi memegang peranan penting dalam hubungan antara kepemimpinan transformasional dan OCB. Keduanya juga termasuk variabel yang banyak diteliti dalam kaitannya dengan OCB (Yang , 2. Melihat potensi besar pada peran mediasi sikap kerja, penelitian ini secara khusus akan memfokuskan pada peran kepuasan kerja sebagai mediator. Kepuasan kerja merupakan kondisi emosional yang positif sebagai hasil dari evaluasi individu terkait dengan pengalaman kerjanya (Locke, 1. Salah satu yang Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 106 Kepemimpinan transformasional dalam pembentukan Organizational Citizenship Behavior (OCB) Polisi: Kepuasan kerja sebagai mediator mendapat porsi besar dalam evaluasi ini adalah hubungan karyawan dengan atasannya (Alegre dkk. , 2016. Montuori dkk. , 2. Kepemimpinan transformasional mampu memberikan perasaan positif tersebut melalui beberapa cara, antara lain memberikan perhatian sesuai kebutuhan karyawan maupun mempengaruhi karyawan dalam memaknai karakteristik pekerjaan mereka dengan positif (Nohe & Hertel, 2. Menariknya, perasaan positif tersebut meningkatkan mood karyawan dalam bekerja sehingga untuk mempertahankan kondisi menyenangkan tersebut, maka karyawan akan cenderung bertindak positif seperti memberikan bantuan kepada rekan kerja (S. Williams & Shiaw, 1. Mekanisme ini sebetulnya banyak dijelaskan juga dalam penelitian terkait altruisme lainnya, namun khusus dalam konteks organisasi, perilaku ini menjadi salah satu aspek OCB (S. Williams & Shiaw, 1. Penjelasan lain menggunakan sudut pandang social exchange menjelaskan bahwa perasaan positif karyawan terhadap pemimpin dan organisasi cenderung akan dibalas secara positif oleh karyawan dalam bentuk perilaku yang positif, yaitu OCB (Nohe & Hertel, 2. Berbagai penelitian tersebut lebih banyak berfokus menjelaskan bagaimana mekanisme pembentukan OCB secara umum berdasarkan peran kepemimpinan transformasional melalui kepuasan kerja. Di sisi lain, riset menunjukan bahwa kedua jenis OCB memiliki mekanisme dan konsekuensi yang berbeda-beda (N. Podsakoff dkk. Williams & Anderson, 1. OCBI lebih terkait dengan rating dalam penilaian kinerja dan alokasi imbalan diantara karyawan, sementara OCBO lebih terkait dengan efisiensi, produktifitas dan turnover (N. Podsakoff dkk. , 2. Khusus terkait mediasi kepuasan kerja, peneliti menemukan dua penelitian dengan hasil, rekomendasi dan penjelasan mekanisme yang bertolak belakang. Pertama, rekomendasi penelitian meta-analisis hubungan kepemimpinan transformasional dan OCB menyatakan bahwa sikap kerja diprediksi akan menunjukan mediasi yang lebih kuat terhadap OCBO daripada OCBI (Nohe & Hertel, 2. Asumsi dari penelitian ini adalah bahwa karyawan akan cenderung untuk menunjukan sikap kerja mereka melalui cara yang lebih umum kepada organisasi daripada kepada individu (Nohe & Hertel, 2. Kedua, penelitian lain menyebutkan bahwa variabel yang terkait dengan afek dan penilaian, termasuk di dalamnya kepuasan kerja akan lebih cenderung membangun OCBI (K. Lee & Allen, 2. Lebih lanjut penelitian ini menjelaskan bahwa OCBI sebagian dapat dipahami sebagai perilaku emosional yang ekspresif maka karyawan yang merasakan perasaan yang positif terhadap organisasi akan menunjukan perilaku menolong yang lebih tinggi (K. Lee & Allen, 2. Peneliti lebih setuju dengan pendapat kedua karena pengaruh segera dari kepemimpinan transformasional yang dimediasi kepuasan kerja akan lebih mudah ditunjukkan melalui perilaku OCBI. Berdasarkan berbagai hal tersebut, maka penelitian ini bermaksud untuk mengungkap peran kepemimpinan transformasional terhadap aspek-aspek OCB melalui perantara kepuasan kerja. Dari analisis terhadap aspek-aspek tersebut, penelitian ini juga akan mampu menjelaskan jenis OCB yang paling dipengaruhi oleh kepemimpinan transformasional baik secara langsung maupun melalui mediasi kepuasan kerja. Hasil Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 107 Ufi Fatuhrahmah, dkk. Volume 12. No. Desember 2023 yang diperoleh dapat menjadi pijakan bagi institusi Kepolisian dalam menentukan strategi yang tepat untuk membangun OCB anggotanya. Dalam studi ini, peneliti mengajukan tiga hipotesis, yaitu: H1: Terdapat hubungan langsung kepemimpinan transformasional dengan OCB anggota H2: Kepuasan kerja memediasi hubungan kepemimpinan transformasional dengan OCB anggota kepolisian. H3 : Kepuasan kerja memediasi hubungan kepemimpinan transformasional dengan OCBI anggota kepolisian. Metode Partisipan Penelitian ini dilakukan di Kepolisian Resor (Polre. T yang terdiri dari 17 Kepolisian Sektor (Polse. dengan total 895 personil. Polres T merupakan Polres tipe B, yaitu Polres metropolitan yang memiliki nilai dimensi lebih dari 5300 (Kepolisian Negara Republik Indonesia, 2. Peneliti menggunakan teknik cluster sampling dengan Polsek sebagai basis pembagian cluster. Kami memilih empat Polsek secara acak dan mengambil data dari seluruh personil. Teknik ini dipandang lebih praktis karena pemilihan cluster secara acak dan melibatkan seluruh unit di dalamnya, namun demikian perlu dipertimbangkan keterwakilan populasi pada cluster yang terpilih (Mulisa, 2. bawah naungan Polres T terdapat tipe Polsek urban dan Polsek rural, oleh karena itu kami memastikan bahwa Polsek terpilih mewakili kedua tipe tersebut. Dari empat Polsek tersebut, seluruh personil sejumlah 251 orang terlibat dalam penelitian ini dengan masa kerja dan level kepangkatan yang bervariatif. Jumlah ini mencukupi jumlah minimal untuk sampling secara cluster berdasarkan rekomendasi World Health Organization (Alatawi. Instrumen Penelitian Kami menyebarkan tiga skala, yaitu skala OCB (Salim dkk. , 2. , skala kepuasan kerja (Soleman, 2. , dan skala kepemimpinan transformasional (Saija, 2. melalui formulir elektronik. Peneliti menggunakan skala OCB yang disusun oleh Salim dkk . berdasarkan lima aspek yaitu altruism, civic virtue, conscientiousness, courtesy dan sportsmanship (Organ dkk. , 2. Terdiri dari 32 butir, skala ini menunjukan internal konsistensi yang baik dengan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,94 . entang korelasi butirtotal : 0,34 Ae 0,. Salah satu contoh aitem dalam skala OCB yaitu : AuSaya bersedia menggantikan tugas personel lain yang berhalangan piketAy. Skala kepemimpinan transformasional mengacu pada penelitian penelitian Saija . yang mendasarkan penyusunannya pada riset Avolio dkk. Skala ini terdiri 28 butir yang mengungkap empat aspek kepemimpinan transformasional yaitu ideal atau karisma, motivasi inspirasi, stimulasi intelektual dan kepekaan individu (Avolio dkk. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 108 Kepemimpinan transformasional dalam pembentukan Organizational Citizenship Behavior (OCB) Polisi: Kepuasan kerja sebagai mediator Skala ini memiliki internal konsistensi yang baik dengan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,96 . entang korelasi butir-soal 0,42 Ae 0,. Salah satu contoh aitem dalam skala kepemimpinan transformasional yaitu : AuPimpinan saya bersedia mendengar pandangan atau keluhan dari bawahannyaAy. Skala kepuasan kerja mengacu pada penelitian Soleman . yang mengadaptasi The Minessota Satisfaction Questionnaire (Weiss dkk. , 1. Skala ini mengungkap tiga aspek yakni kepuasan intrinsik, kepuasan ekstrinsik dan kepuasan secara umum (Weiss dkk. , 1. Terdiri dari 18 butir, skala ini menunjukan nilai internal konsistensi yang baik dengan Cronbach Alpha sebesar 0,923 . entang korelasi butir-total: 0,39 Ae 0,. Salah satu contoh aitem dalam skala kepuasan kerja yaitu : AuSaya merasa bangga dengan prestasi kerja sayaAy. Teknik Analisis Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan JASP 0. 3 (Inte. melalui modul mediation analysis. Kami mengimplementasikan dua tahapan analisis. Pertama, peneliti melakukan analisis mediasi antara kepemimpinan transformasional dan OCB yang dimediasi oleh kepuasan kerja. Kedua, peneliti melakukan analisis mediasi antara kepemimpinan transformasional dan aspek-aspek OCB yang dimediasi oleh kepuasan Hasil Hasil Analisis Deskriptif Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 251 orang dengan karakteristik beragam. Partisipan didominasi oleh laki-laki . %), berusia 41 Ae 50 tahun . %), masa kerja lebih dari 10 tahun . %) dan berada di level kepangkatan Ajun Inspektur Polisi Dua . %). Berdasarkan analisis deskriptif, mayoritas tingkat OCB partisipan berada di level tinggi, memiliki persepsi kepemimpinan transformasional yang tinggi dan memiliki kepuasan kerja yang tinggi (Tabel . Tabel 1 Kategorisasi variabel penelitian Rendah 1,6% Kategori Sedang 14,3% Tinggi 84,1% 2,4% 10,4% 87,3% Variabel Min Maks Rerata OCB Kepemimpinan Transformasional Kepuasan Kerja Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 109 Ufi Fatuhrahmah, dkk. Volume 12. No. Desember 2023 Hasil Analisis Mediasi Tahap 1 Hasil analisis mediasi tahap 1 pada Gambar 1 dan Tabel 2 menunjukan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepemimpinan transformasional dan OCB, baik dalam bentuk hubungan langsung . oefisien : 0,028. SE =0,010, p=0,. maupun dimediasi oleh kepuasan kerja . oefisien : 0,024. SE =0,007, p<0,. Gambar 1 Hasil Analisis Mediasi Tahap 1 Ket. KpT = Kepemimpinan Transformasional. KpK = Kepuasan Kerja. OCB = Organizational Citizenship Behavior Kedua efek yang signifikan menandakan bahwa hubungan kepemimpinan transformasional dan OCB dimediasi secara parsial oleh kepuasan kerja (Tabel . Hal ini menandakan bahwa ada ada varians lain yang memediasi hubungan antara kepemimpinan transformasional dan OCB. Tabel 2 Hasil Analisis Mediasi Tahap 1 Hubungan Estimate Std. Error Direct Effect Kepemimpinan Transformasional Ie OCB Indirect Effect Kepemimpinan Transformasional Ie Kepuasan Kerja Ie OCB 0,028 0,010 2,810 0,005 95% CI Lower Upper 0,008 0,047 0,024 0,007 3,333 < 0,001 0,010 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. 0,038 Page | 110 Kepemimpinan transformasional dalam pembentukan Organizational Citizenship Behavior (OCB) Polisi: Kepuasan kerja sebagai mediator Hasil Analisis Mediasi Tahap 2 Hasil analisis mediasi tahap 2 menunjukan bahwa hubungan positif dan signifikan antara kepemimpinan transformasional dan OCB ternyata tidak tercermin jika dilihat dari masing-masing aspek pembentuk OCB (Gambar . Gambar 2 Hasil Analisis Mediasi Tahap 2 Hubungan langsung yang bersifat positif dan signifikan . oefisien =0,036. SE =0,007, p<0,. hanya terjadi pada hubungan antara kepemimpinan transformasional dan courtesy (Tabel . Hubungan tidak langsung yang bersifat positif dan signifikan yang dimediasi oleh kepuasan kerja hanya terjadi di dua aspek yaitu altruism . oefisien = 0,043. SE =0,008, p< 0,. dan courtesy . oefisien =0,049. SE =0,006, p< 0, . (Tabel . Hasil ini menunjukan bahwa kepuasan kerja dapat memediasi kepemimpinan transformasional dan aspek-aspek OCBI. Menariknya, hubungan tidak langsung yang bersifat negatif dan signifikan . oefisien = -0,018. SE =,0,008, p = 0,. yang dimediasi oleh kepuasan kerja terjadi pada variabel sportsmanship (Tabel . Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 111 Ufi Fatuhrahmah, dkk. Volume 12. No. Desember 2023 Tabel 3 Hasil Analisis Mediasi Tahap 2 Hubungan Estimate Std. Error Kepemimpinan Transformasional Ie Altruism Kepemimpinan Transformasional Ie Conscientiousness Kepemimpinan Transformasional Ie Sportsmanship Kepemimpinan Transformasional Ie Civic Virtue Kepemimpinan Transformasional Ie Courtesy Kepemimpinan Transformasional Ie Kepuasan Kerja Ie Altruism Kepemimpinan Transformasional Ie Kepuasan Kerja Ie Conscientiousness Kepemimpinan Transformasional Ie Kepuasan Kerja Ie Sportsmanship Kepemimpinan Transformasional Ie Kepuasan Kerja Ie Civic Virtue Kepemimpinan Transformasional Ie Kepuasan Kerja Ie Courtesy -4,720x10-4 0,010 -0,048 0,962 95% CI Lower Upper -0,020 0,019 0,010 0,011 0,931 0,352 -0,011 0,032 0,020 0,011 1,813 0,070 -0,002 0,042 0,012 0,011 1,062 0,288 -0,010 0,034 0,036 0,007 5,168 < 0,001 0,022 0,050 0,043 0,008 5,672 < 0,001 0,028 0,057 0,006 0,008 0,741 0,459 -0,010 0,021 -0,018 0,008 0,026 -0,033 -0,002 -0,012 0,008 -1,470 0,142 -0,027 0,004 0,049 0,006 8,424 < 0, 0,038 0,060 Pembahasan Hasil analisis mediasi tahap pertama menguatkan penelitian-penelitian terdahulu yang menunjukan bahwa kepemimpinan transformasional dan OCB memiliki hubungan yang signifikan baik secara langsung maupun dimediasi oleh kepuasan kerja. Hal ini bermakna bahwa kepemimpinan transformasional memiliki dampak langsung terhadap pembentukan OCB dan juga memiliki efek terhadap peningkatan kepuasan kerja yang selanjutnya mempengaruhi OCB. Hubungan kepemimpinan transformasional dan OCB dapat dijelaskan secara umum melalui dua jenis mekanisme, yaitu mekanisme relasional dan mekanisme sikap (Nohe & Hertel, 2. Mekanisme relasi menjelaskan hubungan antara kepemimpinan transformasional dan OCB sebagai bentuk hubungan timbal balik antara atasan dengan bawahannya (Nohe & Hertel, 2. Teori social exchange merupakan teori yang banyak digunakan untuk menjelaskan mekanisme ini (Yang dkk. , 2. Kepemimpinan transformasional memberikan rasa nyaman bagi bawahannya sehingga menciptakan hubungan baik antara atasan dan Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 112 Kepemimpinan transformasional dalam pembentukan Organizational Citizenship Behavior (OCB) Polisi: Kepuasan kerja sebagai mediator bawahan (Nohe & Hertel, 2. Hal ini yang kemudian membuat bawahannya merasa harus membalas tindakan baik atasannya tersebut dengan melakukan kinerja yang baik bahkan melebihi perannya (Hackett dkk. , 2. atau mencontoh perilaku pemimpinnya dalam bekerja (C. Tan & Lee, 2. Penjelasan lain dari mekanisme relasional melalui teori role definition menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional membangun pandangan bahwa rasa tanggungjawab dan kepercayaan terhadap pemimpin dan organisasi merupakan imbal balik dari keuntungan dan afek positif yang dirasakan bawahan (Kayaalp dkk. , 2021. Lee dkk. , 2. Hal ini yang kemudian mampu menginspirasi bawahannya untuk melihat tugas dan tanggungjawab nya menjadi lebih luas (Kayaalp dkk. , 2. sehingga bawahan akan memandang beberapa tugas yang sebetulnya bersifat extra role menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Dalam institusi kepolisian, mekanisme relasi ini erat kaitannya dengan peran sentral pemimpin, bahkan pimpinan tertinggi Polri menegaskan pentingnya relasi atasan bawahan dalam membangun perilaku anggota kepolisian (Bramasta & Wedhaswary, 2. dan memberi contoh yang positif kepada anggota (Polri, 2. Mekanisme lain yang menjelaskan hubungan antara kepemimpinan transformasional dan OCB adalah mekanisme sikap (Ahmad & Jameel, 2020. Aldrin & Yunanto, 2019. Kartono dkk. , 2. yang selaras dengan hasil penelitian ini. Mekanisme ini menjelaskan bahwa pemimpin yang transformasional akan menunjukan perhatian dan dan kepercayaan secara personal kepada bawahannya (Sondait & Keidonait, 2. sehingga membuat bawahan merasa didukung (Pattnaik & Sahoo, 2. , memiliki otonomi, efikasi diri serta berdaya dalam melaksanakan tugasnya (Pattnaik & Sahoo, 2021. Sondait & Keidonait, 2020. Yldz & imek, 2. Hal ini menghasilkan pengalaman positif dalam bekerja sehingga timbul rasa percaya (Yldz & imek, 2. dan evaluasi positif bawahan berupa sikap kerja positif, yang salah satunya adalah kepuasan kerja (Masal, 2. Lebih lanjut, dalam kondisi afek yang positif, individu akan cenderung memiliki keinginan dan berupaya untuk terus menjaga situasi tersebut dan membagikan rasa positif tersebut melalui perilaku OCB yang ditunjukkan (Nohe & Hertel, 2017. Ramdhani dkk. , 2. Dalam konteks kepolisian yang memiliki masyarakat sebagai pelanggan utama, maka mekanisme ini menjadi salah satu kunci dari keberhasilan pelayanan masyarakat karena anggota polisi yang merasa puas akan cenderung membagikan perasaan positif itu kepada masyarakat yang dilayani. Efek sikap atasan terhadap pelayanan anggota kepada masyarakat menjadi perhatian dari kepolisian (Rahmawaty, 2. dan diwujudkan juga dalam konsep Presisi (Rahmawaty, 2. Spesifik pada variabel kepuasan kerja, sebagai salah satu sikap kerja positif, mediasi parsial menandakan bahwa selain kepuasan kerja, ada berbagai variabel lain yang turut memediasi atau memoderasi hubungan kepemimpinan transformasional dan OCB pada polisi. Beberapa studi pada kepolisian dan militer menunjukan beberapa variabel lain yang potensial untuk memediasi dan memoderasi hubungan ini antara lain persepsi perlakuan adil (Kayaalp dkk. , 2. dan budaya organisasi (Setiyono dkk. , 2. Hasil yang menarik dan berbeda didapatkan pada saat uji hubungan antara kepemimpinan transformasional dengan aspek-aspek OCB. Hubungan langsung hanya Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 113 Ufi Fatuhrahmah, dkk. Volume 12. No. Desember 2023 terjadi antara kepemimpinan transformasional dengan courtesy, salah satu aspek OCB yang dikategorikan sebagai OCBI (Newland, 2012. Williams & Anderson, 1. Courtesy ditandai dengan sikap hormat, menghargai, menjaga harmonisasi dengan rekan kerja dan mendahulukan kepentingan bersama (Organ, 1. Dalam konteks kepolisian, kepemimpinan lebih berfokus pada bagaimana Aumemenangkan hati dan pikiranAy dari bawahan dan rakyat, sehingga kepentingan kolektif menjadi lebih utama daripada pribadi (Molines dkk. , 2. Pertimbangan kepentingan tersebut membuat bawahan terstimulasi untuk menunjukan empati dan pertimbangan moral dalam keputusan dan perilakunya karena sangat mungkin mempengaruhi banyak orang (Zhu dkk. , 2. Di sisi lain, perilaku pemimpin transformasional memiliki kemampuan dalam mempengaruhi nilai, aspirasi dan mempengaruhi kebutuhan higher-order bawahan (Molines dkk. , 2. sehingga bawahan menjadikannya role model, mencontoh perilaku atasannya dan mengidentifikasikan diri dengan atasannya (Steinmann dkk. , 2. Dengan demikian, orientasi, kesediaan dan perilaku atasan dalam mempertimbangkan kepentingan kolektif dan menjaga harmonisasi diimitasi oleh bawahannya dalam bentuk perilaku courtesy. Pengaruh tidak langsung juga ditemukan pada hubungan antara kepemimpinan transformasional dan altruism dan courtesy . spek OCBI) yang dimediasi oleh kepuasan Hasil ini kongruen dengan penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa pengaruh idealisme atau karisma, motivasi inspirasi, stimulasi intelektual dan kepekaan individu memberi pengaruh positif pada perilaku menolong (Budur & Poturak, 2. yang menjadi esensi utama dari altruism dan courtesy. Kepemimpinan transformasional menghasilkan pengaruh evaluasi dan perasaan positif dari interaksi pemimpin dengan bawahannya (Masal, 2. sehingga iklim kerja terjaga (Cho & Kao, 2. Perasaan positif ini yang lalu dimaknai sebagai kepuasan kerja. Dalam kondisi ini, mood individu akan positif sehingga ada dorongan untuk mempertahankannya melalui perilaku positif kepada individu yg lain melalui perilaku prososial, termasuk altruism dan courtesy (Glomb dkk. Mesurado dkk. , 2021. Williams & Shiaw, 1. Menariknya, perilaku menolong dan melihat orang lain terbantu juga menimbulkan kepuasan kerja bagi individu (Nasrabadi , 2. Maka, kepuasan kerja dan perilaku menolong dalam konteks OCBI berpotensi menjadi siklus yang timbal balik. Penelitian lain menjelaskan bahwa aspek-aspek yang terkait dengan job affect . ermasuk di dalamnya kepuasan kerj. lebih kuat hubungannya dengan OCBI daripada OCBO, karena OCBI dapat dipahami secara sederhana sebagai bentuk perilaku emosional ekspresif (K. Lee & Allen, 2. Hal menarik yang ditemukan pada hubungan antara kepemimpinan transformasional dengan sportsmanship yang dimediasi oleh kepuasan kerja dengan hasil negatif signifikan. Kepemimpinan transformasional memberikan kepuasan melalui kebebasan dan stimulasi kepada bawahannya untuk berbicara dan menawarkan solusi yang inovatif meskipun berseberangan dengan pendapat atasannya (Ilyas dkk. , 2. Hal ini membuat bawahan merasa aman (Sondait & Keidonait, 2. dan memiliki kepercayaan kepada atasannya (Altunolu dkk. , 2. Oleh karena itu, sebagai timbal balik, bawahan tanpa ragu mengutarakan pendapatnya (Ilyas dkk. , 2. Penjelasan lain Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 114 Kepemimpinan transformasional dalam pembentukan Organizational Citizenship Behavior (OCB) Polisi: Kepuasan kerja sebagai mediator mengenai mekanisme ini adalah bahwa hubungan baik yang terbentuk antara atasanbawahan dan menimbulkan kepuasan bagi bawahan akan membentuk persepsi bahwa mengutarakan pendapat, keluhan atau komplain tidak akan beresiko (Ilyas dkk. , 2. Studi lain menunjukan bahwa karyawan yang merasa puas dengan pekerjaannya justru mengajukan komplain atau voice behavior sebagai bentuk kontribusi mereka terhadap organisasi (Lin dkk. , 2. Namun demikian, dari beberapa alasan ini semuanya mengarah kepada ide atau komplain yang bersifat promotif dan konstruktif. Sayangnya, definisi sportsmanship sendiri terbatas pada perilaku yang dipilih untuk tidak dilakukan, seperti komplain, dengan asumsi bahwa komplain akan menghabiskan energi dan waktu bagi organisasi (Organ dkk. , 2. Bawahan yang menunjukan perilaku sportsmanship akan cenderung melakukan tugas mereka tanpa komplain mengenai detil minor dan berupaya untuk menunjukan contoh yang baik (Lochbaum, 2. Pada sisi lain, perilaku komplain atau voice behavior tidak selalu bermakna dan memiliki intensi negatif. Sebuah studi bahkan menunjukan komplain dan voice behavior justru merupakan salah satu bentuk perilaku prososial bagi karyawan yang memiliki kepuasan kerja yang tinggi (Lin , 2. Hal ini bisa jadi landasan untuk kembali memikirkan, apakah memang karyawan yang tidak mengeluh dan komplain adalah yang menunjukan OCB yang baik atau malah sebaliknya. Hubungan yang tidak signifikan antara kepemimpinan transformasional dengan aspek-aspek OCBO baik secara langsung maupun melalui mediasi kepuasan kerja dapat dijelaskan karena OCBO lebih bersifat impersonal dan timbul dari hal-hal yang terkait organisasi, berbeda dengan OCBI yang sifatnya interpersonal dan timbul dari nilai-nilai (Weikamp & Gyritz, 2. Peran kepemimpinan transformasional lebih mendominasi di tataran individual, interpersonal dan menggerakkan nilai pribadi dari bawahan (Nohe & Hertel, 2. , bukan di tataran organisasional. Penelitian terdahulu menunjukan beberapa hal yang mempengaruhi OCBO lebih banyak terkait dengan sistem dan persepsi anggota mengenai sistem di dalam organisasi, antara lain praktik pengelolaan SDM (Gavino dkk. , occupational future time perspectives (Weikamp & Gyritz, 2. , iklim politik (Guo , 2. , structural empowerment (Jaffery & Farooq, 2. dan Person-Organization fit(Ashfaq & Hamid, 2. Satu-satunya penelitian mengenai kepemimpinan yang mampu mempengaruhi OCBO adalah ethical leadership yang bergerak dengan prinsip moral dan keadilan sehingga membangkitkan kepercayaan afektif selanjutnya bawahan menunjukan OCBO sebagai imbal balik (Lu, 2. Jenis kepemimpinan ini mampu mempengaruhi OCBO karena kemampuannya dalam membangun persepsi bawahan mengenai bagaimana sistem dan iklim keadilan berjalan dalam organisasi (Wook dkk. , 2. Khusus terkait job affect, inkonsisten dengan penelitian sebelumnya yang menggeneralisir bahwa job affect lebih terkait dengan OCBI(K. Lee & Allen, 2. , beberapa penelitian menunjukan bahwa perceived organization support dan afek negatif justru lebih mempengaruhi OCBO (Geiger , 2019. Kim & OH, 2. Sebagai studi cross-sectional, penelitian ini memiliki keterbatasan tidak dapat menjelaskan hubungan kausalitas sehingga untuk menjelaskan menilai secara simultan. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 115 Ufi Fatuhrahmah, dkk. Volume 12. No. Desember 2023 prediktor, mediator dan hasil diperlukan studi longitudinal (Dormann & Guthier, 2. Pengambilan kesimpulan dan implementasi pada situasi dan kultur yang berbeda perlu dilakukan lebih hati-hati karena subjek penelitian ini hanya dari satu Polres di Indonesia. Kami menyadari bahwa pengaruh kepemimpinan transformasional dipengaruhi oleh budaya (Jang & Jeong, 2. dan karakteristik pengikut (Hansbrough & Schyns, 2. yang mungkin bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain di Indonesia meskipun masih dalam satu institusi Polri. Kesimpulan Penelitian ini memperkuat sekaligus menjelaskan lebih mendetail dinamika pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap aspek-aspek OCB melalui mediasi kepuasan kerja. Konsisten dengan penelitian sebelumnya, kepemimpinan transformasional mampu mempengaruhi OCB baik secara langsung maupun melalui mediasi kepuasan kerja. Menariknya, saat pengujian dilakukan terhadap dimensi-dimensi OCB, kepemimpinan transformasional hanya mempengaruhi courtesy secara langsung dan mempengaruhi OCBI yaitu altruism dan courtesy secara tidak langsung melalui kepuasan kerja, namun tidak pada aspek-aspek OCBO. Hasil ini mampu menjawab hasil beragam dari beberapa penelitian sebelumnya mengenai aspek-aspek OCB yang dipengaruhi oleh kepemimpinan transformasional. Hasil menarik lainnya adalah hubungan negatif signifikan antara kepemimpinan transformasional dengan aspek sportsmanship melalui mediasi kepuasan kerja. Penelitian ini mengisyaratkan keberhasilan institusi Polri dalam membangun persepsi kepemimpinan transformasional, kepuasan kerja dan OCB. Namun demikian pentingnya membangun dan menjaga OCB dalam institusi kepolisian masih menyisakan ruang yang besar, terutama karena hanya OCBI yang terbukti dipengaruhi oleh kepemimpinan transformasional. Tentu saja Indonesia tidak hanya butuh polisi yang memiliki OCB yang berorientasi individual namun juga memiliki OCB yang berorientasi pada pengembangan dan kemajuan organisasi Polri. Peneliti selanjutnya memiliki peluang untuk mengeksplorasi berbagai variabel yang dapat mempengaruhi OCBO dalam konteks Hal ini yang kemudian dapat menjadi landasan Polri untuk terus mengembangkan diri dalam membangun OCB anggotanya. Referensi