Penilaian Tingkat Kesehatan Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sebelum Pandemi dan Saat Pandemi Covid 19 469 Penilaian Tingkat Kesehatan Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sebelum Pandemi dan Saat Pandemi Covid 19 RITA WIYATI1; MURNAWATI2; LIVIAWATI3 Universitas Lancang Kuning Jln. Yos Sudarso Km 08 Rumbai Telp. (0761) 52581 Fax. (0761) 52581 E-mail : ritawiyati@unilak.ac.id Submit : 2022-06-16 Review : 2023-06-15 Publish : 2023-06-26 Abstract: Bank Rakyat Indonesia (BRI) is one of the state-owned banks operating in Indonesia. If judged in terms of total assets, this bank is one of the largest banks in Indonesia and has a very large number of customers throughout the country. In its business activities, BRI focuses more on the business sector by financing community micro-enterprises. In the midst of the COVID-19 pandemic, in terms of profit, this MSME specialist bank earned a net profit of Rp. 18.66 trillion. This profit fell 45.70 percent from Rp. 34.37 trillion in 2019. This study aims to determine the financial performance of Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk before and during the COVID-19 pandemic. The data used in this study is secondary data sourced from the financial statements of PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk in 2018 – 2020. Source of data with secondary data, for data analysis used is quantitative data. The data analysis technique used is descriptive quantitative. The results of the study that the financial performance of PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk from 2017 to 2021 seen from the Risk Profile, Earning and Capital are considered very healthy Keywords: Debt, Sales, Net Profit, Performance Bank adalah lembaga keuangan yang menerima simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. DiIndonesia menganut dual banking system yang berarti terselenggaranya dua system perbankan yaitu konvensional dan syariah. Saat ini ada empat bank milik pemerintah atau berstatus BUMN yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN) dan Bank Negara Indoesia (BNI) , mayoritas kepemilikan sahamnya dimiliki oleh pemerintah.Dari keempat bank tersebut salah satu bank berdasarkan Peratutan Pemerintah Nomor 1 tahun 1946 yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) merupakan bank pemerintah pertama diIndonesia dan bank pemerintah yang paling tertua diIndonesia. Bank Rakyat Indonesia merupakan bank yang paling banyak dikenal oleh masyarakat dari dahulu hingga saat ini. Kemudian dengan adanya peningkatan kasus covid-19 dari bulan Maret tahun 2020 ini membuat pemerintah Indonesia melakukan beberapa tindakan guna memutus rantai viruscorona dengan melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yaitu dengan meliburkan sekolah-sekolah, membatasi karyawan yang bekerja, menutup tempat-tempat yang sekiranya tidak terlalu penting bagi masyakarat seperti tempat-tempat hiburan, dan ada juga perusahaan yang melakukan PHK bagi karyawannya. hal ini berdampak pada keuangan masyarakat yang semakin sulit. Akibat dari banyaknya usaha yang ditutup dan juga karyawan yang di PHK membuat sektor perbankan terkena imbas karena adanya perlambatan pertumbuhan pembiayaan. Tentu hal ini juga akan berpengaruh terhadap meningkatnya pembiayaan bermasalah akibat dari banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Atas dampak yang terjadi karena adanya pandemi covid-19 ini, dapat memunculkan kekhawatiran Industry perbankan karena akan mengalami liquidity crunch dan menimbulkan krisis pada sektor perbankan semakin meningkat. Liquidity crunch merupakan situasi dimana suplay 470 Penilaian Tingkat Kesehatan Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sebelum Pandemi dan Saat Pandemi Covid 19 dana tunai yang masuk ke perbankan berkurang, sementara pada saat bersamaan permintaannya akan semakin tinggi. Sementara itu bank tetap harus melunasi biaya operasional dan melunasi kepada pemilik dana pihak ketiga. Bank Rakyat Indonesia (BRI) merupakan salah satu bank pemerintah berstatus BUMN yang beroperasi diIndonesia. Jika dinilai dari segi jumlah asset Bank yang satu ini merupakan salah satu bank terbesar diIndonesia dan memiliki jumlah nasabah yang sangat banyak sampai dipelosok negeri ini. Dalam kegiatan usahanya BRI lebih focus ke sector bisnis dengan membiayai usaha usaha mikro masyarakat . diantaranya program bisnisnya meliputi kredit usaha rakyat, usaha mikro dan kredit, modal kerja untuk usaha retail. Pada pertengahan januari 2021 bahwa Bank Rakyat Indonesia masih tercatat sebagai bank terbesar milik pemerintah yang melaporkan perolehan laba bersihnya berhasil didulang ditengah pandemic covid 19. Dari sisi laba, bank spesialis UMKM ini memperoleh laba bersih Rp. 18,66 triliun . Laba ini turun 45,70 persen dari Rp. 34,37 triliun ditahun 2019. Meskipun demikian kredit bank masih tumbuh sebesar 3,89 persen dengan total penyaluran Rp. 938,37 triliun. Hal ini didukung oleh segmen mikro kecil dan menengah. Kredit mikro tumbuh 14,18 persen sementara kredit kecil menengah tumbuh 3,88 persen . Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat umum dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank adalah suatu jenis lembaga keuangan yang melaksanakan berbagai macam jasa, seperti memberikan pinjaman, mengedarkan mata uang, pengawasan terhadap mata uang, bertindak sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga, membiayai usaha perusahaan-perusahaan dan lain-lain. Laporan keuangan adalah laporan periodik yang disusun menurut prinsip- prinsip akuntansi yang diterima secara umum tentang status keuangan dari individu, asosiasi, atau organisasi bisnis yang terdiri dari neraca, laporan laba-rugi, dan laporan perubahan ekuitas pemilik. Kasmir (2008) menyatakan bahwa, “Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu Kesehatan bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku (Sigit Triandaru dan Totok Budisantoso, 2006: 51). Menurut Veithzal Rivai, dkk (2012: 465) kesehatan atau kondisi keuangan dan non keuangan bank merupakan kepentingan semua pihak terkait, baik pemilik, manajemen bank, bank pemerintah, (melalui Bank Indonesia) dan pengguna jasa bank. Dengan diketahuinya kondisi suatu bank dapat digunakan oleh pihakpihak tersebut untuk mengevaluasi kinerja bank dalammenerapkan prinsip kehatihatian, kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku dan manajemen risiko. Perkembangan industri perbankan, terutama produk dan jasa yang semakin kompleks dan beragam akan meningkatkan eksposur risiko yang dihadapi bank. Perubahan eksposur risiko bank dan penerapan manajemen risiko akan mempengaruhi profil risiko bank yang selanjutnya berakibat pada kondisi bank secara keseluruhan. sedangkan bagi Bank Indonesia dapat digunakan sebagai sarana penetapan kebijakan dan implementasi strategi pengawasan, agar pada waktu yang ditetapkan bank dapat menerapkan sistem penilaian tingkat kesehatan bank yang tepat. Berdasarkan peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, Bank Indonesia telah menggunakan pendekatan Risiko (Risk-based Bank Rating/RBBR) Baik secara individual Penilaian Tingkat Kesehatan Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sebelum Pandemi dan Saat Pandemi Covid 19 maupun secara konsolidasi, dengan cakupan penilaian meliputi faktor-faktor sebagai berikut: Profil Risiko (Risk Profile), Good Corporate Governance (GCG), Rentabilitas (earnings) dan Permodalan (Capital) atau disingkat menjadi metode RGEC Dalam Surat Edaran (SE) Bank Indonesia No. 13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, penilaian terhadap faktor-faktor RGEC terdiri dari: Dalam penelitian ini peniliti mengukur faktor profil risiko dengan menggunakan 2 indikator yaitu faktor risiko kredit dengan menggunakan rumus NPL dan risiko likuiditas dengan menggunakan rumus LDR. 1. Risiko Kredit dalah risiko akibat kegagalan debitur atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Bank. Risiko kredit pada umumnya terdapat pada seluruh aktivitas Bank yang kinerjanya bergantung pada kinerja pihak lawan (counterparty), penerbit (issuer), atau kinerja peminjam dana (borrower). Risiko kredit juga dapat diakibatkan oleh terkonsentrasinya penyediaan dana pada debitur, wilayah geografis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha tertentu. Risiko kredit dengan meghitung rasio Non Performing Loan (NPL): Rumus sebagai berikut: 2. Risiko Likuiditas Risiko Likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas, dan atau dari asset likuid berkualitas tinggi yang dapat digunakan, tanpa menganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank. Risiko ini disebut juga risiko likuiditas pendanaan (funding liquidity risk). Risiko likuiditas juga dapat disebabkan oleh ketidakmampuan bank melikuidasi aset tanpa terkena diskon yang material karena tidak adanya pasar aktif atau adanya gangguan pasar (market disruption) yang parah. Risiko ini disebut 471 sebagai risiko likuiditaspasar (market liquidity risk). Risiko likuiditas dengan menghitung rasio LDR: Penilaian faktor rentabilitas meliputi evaluasi terhadap kinerja rentabilitas, sumber-sumber rentabilitas, kesinambungan (sustainability) rentabilitas, dan manajemen rentabilitas.. Penilaian terhadap faktor earnings didasarkan pada dua rasio yaitu: 1) Return On Assets (ROA): 2) Net Interest Margin (NIM): Penilaian pada permodalan setiap bank diwajibkan oleh Bank Indonesia untuk memelihara kewajiban penyediaan modal minimum sebesar 8% yang kemudian dikenal sebagai CAR (Capital Adequacy Ratio). Menurut Bank Indonesia (No. 9/13/PBI/2007), CAR adalah penyediaan modal minimum bagi bank didasarkan pada risiko aktiva dalam arti luas, baik aktiva yang tercantum dalam neraca maupun aktiva yang bersifat administrative sebagaimana tercermin pada kewajiban yang bersifat kontijen dan atau komitmen yang disediakan oleh bank bagi pihak ketiga maupun risiko pasar. CAR dapat dihitung dengan cara membagikan modal dengan aktiva tertimbang menurut risiko dan dikali 100%. METODE Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik analisis data yang 472 Penilaian Tingkat Kesehatan Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sebelum Pandemi dan Saat Pandemi Covid 19 digunakan dalam penelitian adalah studi pustaka, mengumpulkan data, mengolah data, menganalisis data, dan menyimpulkan. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis tingkat kesehatan bank. HASIL Penilaian kesehatan bank dilakukan dengan menilai beberapa faktor yang indikatornya sehat atau tidaknya suatu bank. Berdasarkan peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011dan SE No. 13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 tentang sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, penilaian kesehatan bank meliputi faktorfaktor sebagai berikut : Risk Profile, Earning, Capital: Risk Profile Risiko Kredit Hasil dari Ratio Net Performing Loan (NPL) pada Bank BRI untuk tahun 2017 sampai dengan 2021 adalah diketahui bahwa pada tahun 2017 ketahun 2021 mengalami peningkatan. Pada tahun 2017, hasil NPL Bank BRI sebesar 2,22%. Untuk tahun selanjutnya yaitu tahun 2018 hasil NPL mengalami kenaikan sebesar 0.04% .Pada tahun 2019 nilai NPL mengalami peningkatan sebesar 0,54% dan di tahun 2020 juga mengalami peningkatan sebesar 0,18%. Hal ini terjadi karena jumlah kredit bermasalah mengalami peningkatan sebesar Rp. 2.729.026 dan begitu juga dengan jumlah kredit yang diberikan mengalami peningkatan sebesar Rp. 35.181.491. Pada tahun 2021 rasio NPL mengalami kenaikan yang sangat signifikan sebesar 0,81%, hal ini dikarenakan jumlah kredit yang bermasalah naik sangat signifikan Rp. 11.558.375 yang mengakibatkan Bank BRI turun dikategori 2 dalam rasio NPL. Risiko Likuiditas Pada risiko likuiditas ini, rasio yang digunakan adalah Loan to Deposit Ratio (LDR) dengan membandingkan jumlah kredit yang diberikan dengan jumlah dana dari pihak ketiga atau dana yang berasal dari masyarakat. Hasil dari Loan to Deposit Ratio (LDR) pada Bank BRI untuk tahun 2017 sampai dengan 2021 adalah menunjukkan pada tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 mengalami peningkatan. Pada tahun 2017 ke tahun 2018 nilai LDR meningkat sebesar 1,49% dan dari tahun 2018 ke tahun 2019 naik sebesar 1,31%. Tidak hanya jumlah kredit yang diberikan yang mengalami kenaikan tetapi jumlah dana yang berasal dari masyarakat atau yang biasa dikenal dengan dana pihak ketiga juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2019 ke tahun 2020 hasil LDR mengalami penurunan sebesar 4,36% sehingga hasil LDR pada tahun 2020 sebesar 86,28%, dan di tahun 2021 hasil LDR mengalami peningkatan sebesar 5,30%. Dilihat dari rasio likuiditas, semakin besar rasio maka semakin besar risiko yang dihadapi oleh bank karena mengalami kegagalan untuk memenuhi kewajiban terhadap deposannya. Bahwa kemampuan Bank BRI dalam melunasi kewajibannya dalam jangka pendek cenderung stabil. Rentabilitas (Earning) Return On Asset (ROA) Hasil dari Return On Asset (ROA) pada Bank BRI untuk tahun 2017 sampai dengan 2021 adalah pada tahun 2017 sampai dengan tahun 2021 mengalami fluktuasi. Namun, meskipun terjadi penurunan ROA, baik total aset ataupun laba sebelum pajak mengalami kenaikkan setiap tahunnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan Bank BRI dalam mengelola asset pada perusahaan perbankkan semakin membaik. Hasil ROA meningkat pada tahun 2020 ke tahun 2021, peningkatan ROA sebesar 0,56% sehingga ROA yang dimiliki pada tahun 2021 sebesar 2,38%.berbeda dengan tahun 2017 sampai dengan tahun 2020 hasil ROA mengalami penurunan. Hasil ROA dari tahun 2017 ke tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 0,03%, dari tahun 2018 ke tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 0,25%, dan dari tahun 2019 ke Penilaian Tingkat Kesehatan Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sebelum Pandemi dan Saat Pandemi Covid 19 473 tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 1,37%. dengan kenaikan total modal yang cukup besar. Net Interest Margin (NIM) Hasil dari Net Interest Margin (NIM) pada Bank BRI untuk tahun 2017 sampai dengan 2021 adalah memiliki hasil yang fluktuatsi dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2021. Hal ini disebabkan oleh pengaruh pendapatan bunga bersih yang tidak stabil atau mengalami fluktuasi, tetapi rata-rata total aset produktif yang dimiliki oleh perusahaan mengalami kenaikan terus menerus selama tahun 2017 sampai dengan tahun 2021. Pada tahun 2020 nilai NIM yaitu sebesar 5,40% dan merupakan nilai terkecil dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2021. Pada tahun 2021 nilai NIM naik sebesar 1,53% menjadi 6,93% dengan pendapatan bunga bersih Rp. 114.094.429, sedangkan rata-rata total aset produktifnya Rp. 1.644.081.539. PEMBAHASAN Kinerja keuangan perbankan berdasarkan penilaian Rentabilitas, Earning, Capital pada PT.Bank Rakyat Indonesia Tbk Tahun 2017 Penilaian menggunakan risk profit, Earning, capital menunjukkan predikat kesehatan PT.Bank Rakyat Indonesia Tbk mendapat peringkat komposit 1, yang artinya kondisi bank secara umum yaitu Sangat Sehat, sehingga dapat menghadapi persaingan didunia perbankan dan menghadapi pengaruh negative dari perkembangan kondisi bisnis. Permodalan (Capital) Perhitungan penyediaan modal minimum atau kecukupan modal (capital adequcy) didasarkan pada rasio atau perbandingan antara modal yang dimiliki bank dan jumlah Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Hasil dari Capital Adequency Ratio (CAR)pada Bank BRI untuk tahun 2017 sampai dengan 2021 adalah menunjukkan perolehan rasio CAR oleh Bank BRI pada periode 2017-2021 yang fluktuatif, dapat dilihat tahun 2017 hingga tahun 2018 rasio CAR Bank BRI mengalami penurunan sebesar 1,75% dari tahun sebelumnya sebesar 22,95% menjadi 21,20%. Tahun 2019 Bank BRI mengalami kenaikan tingkat CAR sebesar 1,35% dari tahun 2018 sebesar 21,20% naik menjadi 22,55%. Pada tahun 2020 rasio CAR kembali turun sebesar 1.95% dari 22,55% pada tahun 2019 menjadi 20,60% pada tahun 2020. Dan di tahun 2021 Bank BRI mengalami kenaikan tingkat CAR sebesar 4,68% dari tahun 2020 sebesar 20,60% naik menjadi 25,28%. Kenaikan maupun penurunan ini disebabkan oleh kenaikan aktiva tertimbang menurut risiko bank yang tidak diimbangi Kinerja keuangan perbankan berdasarkan penilaian Profil Resiko, Earning, Capital pada PT.Bank Rakyat Indonesia Tbk Tahun 2018 Predikat kesehatan PT.Bank Rakyat Indonesia Tbk mendapat peringkat komposit 1, yang artinya kondisi bank secara umum yaitu Sangat Sehat, sehingga dapat menghadapi persaingan didunia perbankan dan menghadapi pengaruh negative dari perkembangan kondisi bisnis. Kinerja keuangan perbankan berdasarkan penilaian Profil resiko, Earning, Capital pada PT.Bank Rakyat Indonesia Tbk Tahun 2019 Penilaian menggunakan metode Risk Profile, Earning, Capital menunjukkan predikat kesehatan PT.Bank Rakyat Indonesia Tbk mendapat peringkat komposit 1, yang artinya kondisi bank secara umum yaitu Sangat Sehat, sehingga dapat menghadapi persaingan didunia perbankan dan menghadapi pengaruh negative dari perkembangan kondisi bisnis. Kinerja keuangan perbankan berdasarkan penilaian Profil Resiko , Earning, Capital pada PT.Bank Rakyat Indonesia Tbk Tahun 2020 Penilaian menggunakan metode Risk Profile, Earning, Capital 474 Penilaian Tingkat Kesehatan Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sebelum Pandemi dan Saat Pandemi Covid 19 menunjukkan predikat kesehatan PT.Bank Rakyat Indonesia Tbk mendapat peringkat komposit 1, yang artinya kondisi bank secara umum yaitu Sangat Sehat, sehingga dapat menghadapi persaingan didunia perbankan dan menghadapi pengaruh negative dari perkembangan kondisi bisnis. Kinerja keuangan perbankan berdasarkan penilaian Risk Profil ,Earning,Capital pada PT.Bank Rakyat Indonesia Tbk Tahun 2021 Penilaian menggunakan metode Risk Profile, Earning, Capital menunjukkan predikat kesehatan PT.Bank Rakyat Indonesia Tbk mendapat peringkat komposit 1, yang artinya kondisi bank secara umum yaitu Sangat Sehat, sehingga dapat menghadapi persaingan didunia perbankan dan menghadapi pengaruh negative dari perkembangan kondisi bisnis. SIMPULAN Penilaian tingkat kesehatan PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk, dengan menggunakan penilaian Risk Profile , Earning , Capital menunjukkan kesehatan bank dengan standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Pada tahun 2017 sampai dengan tahun 2021 dapat disimpulkan PT.Bank Rakyat Indonesia Tbk mendapat peringkat komposit 1 yaitu “SANGAT SEHAT”. DAFTAR RUJUKAN Agus, Sartono. 2011. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: BPFE. Houston, Brigham, 2013, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Edisi 11, Jakarta, Salemba Empat Hasibuan, Malayu. 2009. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Julius R. Latumaerissa. 2012. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Salemba Empat. Kasmir. 2012. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. _____ 2012. Dasar-dasar Perbankan. Edisi Revisi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Korompis, V. E., Rotinsulu, T. O., & Sumarauw, J. (2016). Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank Berdasarkan Metode RGEC (Studi pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT. Bank Mandiri Tbk Tahun 20122014). Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi, 3(4). Komang Mahendra pramana, Luh Gede Sri Artani, 2016, Analisis Tingkat Kesehatan Bank (Pendekatan RGEC) Pada PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, E-Jurnal Manajemen Unud, Vol.5 No.6, hal. 3849-3878 Munawir, 2012, Analisa Laporan Keuangan, BPFE , Yogyakarta Bank Indonesia 2011. Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP Perihal Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Jakarta: Bank Indonesia. Pramana, K. M., & Artini, L. G. S. (2016). Analisis Tingkat Kesehatan Bank (Pendekatan Rgec) Pada PT. Bank Danamon Indonesia Tbk. E-Jurnal Manajemen, 5(6).Paramartha, I. M., & Darmayanti, N. P. A. (2017). Dewa Gede,Angga Paramartha, I Ketut Mustanda, 2017, Analisis Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Pada PT. Bank Central Asia Tbk Berdasarkan Metode RGEC, E-Juenal Manajemen Unud, Vol.6 No.1, hal. 32-59 Ratnawaty Marginingsih, 2018, Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode RGEC Pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, ejournal.bsi.ac.id, Vol.5 No.2 Oktober