Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 12 . Nomor 2 , pp. P-ISSN: 2355-6633 E-ISSN : 2548-5490 Open Access: https://jurnal. id/index. php/Deiksis/index Improving Review Text Writing Competence via Digital-Based Differentiated Instruction for Junior High School Learners 1Taufik Hidayat, 2Rina Agustini, 3Doni Herdiana, 1,2Universitas Galuh. Indonesia 3SMPN 4 Manonjaya. Indonesia Corresponding authorAos email: Taufik@unigal. ABSTRACK ARTIKEL INFO This study aims to improve studentsAo review text writing skills through a digital-based differentiated learning approach. This classroom action research was conducted in two cycles at SMP Negeri 4 Manonjaya with 25 students as participants. Each cycle consisted of planning, action, observation, and reflection stages. Differentiated learning was implemented by adjusting the content based on studentsAo interests in the review objects . hort films and picture story video. , which were then presented in the form of digital posters. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed descriptively and qualitatively. The results revealed a significant improvement in the aspects of content, structure, language, and format of review texts. The average score increased from 73 in Cycle I to 89. 5 in Cycle II, with learning mastery improving from 52% to 100%. The findings indicate that digital-based differentiated learning is effective in enhancing review text writing skills as well as increasing studentsAo participation and learning Article history: Received : 12 Juni 2025 Accepted : 16 Juli 2025 Published : 28 Juli 2025 Keyword: writing skills, review text writing, differentiated instruction, digital-based learning, junior high school learners DOI: 10. 33603/deiksis. PENDAHULUAN Keterampilan menulis merupakan salah satu kompetensi kunci dalam pembelajaran bahasa, yang tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi tertulis, tetapi juga sebagai sarana untuk membentuk kemampuan berpikir logis, analitis, dan reflektif (Graham & Harris, 2. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, keterampilan ini menjadi media integrasi pengembangan kosakata, dan kemampuan menyampaikan argumen secara runtut serta Di antara berbagai bentuk keterampilan menulis, menulis teks resensi menempati posisi penting karena memadukan unsur pemahaman bacaan, analisis kritis, serta ekspresi opini yang berbasis data. Teks resensi menuntut peserta didik untuk membaca dan memahami isi karya secara mendalam, menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsiknya, serta menyampaikan penilaian yang logis dan beralasan (Nurgiyantoro, 2. Kemampuan ini sejalan dengan p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Taufik Hidayat, 2Rina Agustini, 3Doni Herdiana . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. tujuan kurikulum berorientasi pembelajaran mendalam . eep learning oriented curriculu. yang menekankan penguasaan konsep secara utuh, keterhubungan antar pengetahuan, serta penerapan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill. Dalam kerangka ini, diharapkan peserta didik mampu mengaitkan isi teks dengan realitas sosial, membandingkan karya dengan referensi lain, dan mengembangkan opini yang relevan dan bernilai kritis. Kegiatan menulis resensi yang dirancang secara tepat memiliki potensi besar dalam menumbuhkan literasi kritis dan apresiasi terhadap karya seni, sastra, maupun budaya (Knobel & Lankshear, 2. menggarisbawahi bahwa literasi kritis melibatkan kemampuan menafsirkan informasi, menilai keabsahan argumen, mengenali perspektif yang terkandung dalam sebuah karya, serta memposisikan diri secara reflektif terhadap isu yang Dengan demikian, pembelajaran menulis resensi tidak hanya berfungsi melatih keterampilan bahasa, tetapi juga membentuk karakter pembelajar yang kritis, kreatif, dan berwawasan luas. Meskipun harapannya tinggi, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup signifikan. Berdasarkan observasi awal di kelas Vi A SMP Negeri 4 Manonjaya, hanya 40% peserta didik yang mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam tugas menulis resensi. Sebagian besar siswa menghasilkan tulisan yang masih bersifat deskriptif sederhana, kurang mendalam, dan tidak mengikuti struktur resensi secara utuh. Aspek pengembangan isi lemah, struktur teks kurang koheren, dan penggunaan bahasa sering kali tidak sesuai kaidah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tujuan pembelajaran mendalam belum tercapai secara optimal. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan kemampuan, minat, dan gaya belajar siswa yang cukup beragam, sehingga penerapan metode pembelajaran yang seragam kurang efektif. Graham & Harris, . menegaskan bahwa kesesuaian metode pengajaran dengan karakteristik siswa merupakan faktor krusial dalam keberhasilan pembelajaran Selain faktor internal, kendala eksternal juga turut memengaruhi. Ketersediaan media dan bahan ajar yang kurang bervariasi menyebabkan sebagian siswa sulit memahami konsep resensi secara menyeluruh. Contoh teks yang disajikan terkadang terlalu kompleks atau tidak relevan dengan minat siswa, sehingga mengurangi motivasi belajar. Padahal, generasi saat ini yang dikenal sebagai digital natives (Prensky, 2001. cenderung lebih tertarik pada pembelajaran berbasis teknologi interaktif, visual, dan kolaboratif. Sayangnya, pemanfaatan p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Taufik Hidayat, 2Doni Herdiana, 3Rina Agustini, . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. media digital dalam pembelajaran menulis di sekolah ini masih terbatas, sehingga potensi teknologi untuk mendukung keterlibatan siswa belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, literasi digital abad ke-21 mengharuskan peserta didik mampu mengakses, mengevaluasi, dan mengolah informasi secara efektif menggunakan teknologi (Leu et al. , 2015 . Coiro & Dobler. Kesenjangan dalam pemanfaatan media digital di sekolah juga dipengaruhi oleh perbedaan konteks geografis dan ketersediaan infrastruktur. Sekolah-sekolah di wilayah urban umumnya memiliki akses yang lebih baik terhadap perangkat teknologi, koneksi internet stabil, dan beragam pelatihan guru terkait pembelajaran berbasis digital. Hal ini memungkinkan penerapan strategi pembelajaran inovatif secara lebih lancar, termasuk integrasi media interaktif dan kolaborasi daring. Sebaliknya, sekolah di wilayah rural seperti SMP Negeri 4 Manonjaya kerap menghadapi keterbatasan perangkat, jaringan internet yang tidak selalu stabil, serta kurangnya dukungan teknis yang memadai. Kondisi ini membuat pemanfaatan media digital dalam pembelajaran menulis, khususnya pada keterampilan menulis resensi, belum optimal. Dengan demikian, penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbasis digital di sekolah menjadi tantangan sekaligus peluang riset yang menawarkan kebaruan, karena dapat memberikan gambaran empiris mengenai strategi adaptasi pembelajaran di tengah keterbatasan infrastruktur. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang adaptif, kontekstual, dan berpihak pada peserta didik. Salah satu pendekatan yang relevan adalah pembelajaran berdiferensiasi. Tomlinson, . mendefinisikan pembelajaran berdiferensiasi sebagai upaya menyesuaikan konten, proses, dan produk pembelajaran berdasarkan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa. Pendekatan ini memungkinkan guru memberikan pengalaman belajar yang lebih personal tanpa mengurangi standar capaian Dukungan penelitian lain dari Heacox, . dan Wormeli, . menunjukkan bahwa diferensiasi mampu memfasilitasi kebutuhan belajar yang berbeda-beda tanpa harus mengorbankan kualitas atau standar pembelajaran. Efektivitas pembelajaran berdiferensiasi akan semakin optimal bila dipadukan dengan integrasi teknologi digital. Media digital seperti Canva. Google Docs, dan platform pembelajaran daring dapat memfasilitasi siswa dalam mengakses beragam sumber belajar, berkolaborasi secara daring, dan mempresentasikan hasil karya dalam format yang kreatif dan Prensky, . Zhou & Brown, . menyatakan bahwa pembelajaran berbasis teknologi memberikan fleksibilitas dan memungkinkan terjadinya pembelajaran yang lebih p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Taufik Hidayat, 2Rina Agustini, 3Doni Herdiana . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Selwyn, . menambahkan bahwa penggunaan media digital memungkinkan terjadinya proses belajar yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan siswa, termasuk dalam keterampilan menulis. Penelitian terdahulu mendukung pendekatan ini. Yulianti et al. , . membuktikan bahwa integrasi pembelajaran berdiferensiasi dan media digital mampu meningkatkan kualitas teks resensi secara signifikan, baik dari segi isi, struktur, maupun bahasa. (Tamsiruddin, 2. menemukan bahwa penggunaan media digital yang disesuaikan dengan minat siswa dapat meningkatkan partisipasi, motivasi, dan hasil belajar. Penelitian lainnya menyatakan bahwa kegiatan menulis resensi yang memanfaatkan teknologi digital dapat mendukung keterampilan literasi informasi peserta didik, termasuk kemampuan engevaluasi dan mengolah sumber (Eutsler & Perez, 2. Chourio-Acevedo et al. , 2. Temuan metaanalisis menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi berbasis literasi terbukti memberi dampak positif pada motivasi dan hasil belajar (Puzio et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk menguji penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbasis digital pada keterampilan menulis teks resensi peserta didik SMP, dengan harapan mampu menjembatani kesenjangan antara tujuan pembelajaran mendalam dan realitas pencapaian di lapangan. Dengan demikian, penelitian ini dirancang untuk menjawab pertanyaan penting mengenai bagaimana langkah-langkah pembelajaran menulis teks resensi dapat dirancang dengan pendekatan berdiferensiasi berbasis digital dan bagaimana dampaknya terhadap peningkatan kemampuan menulis peserta didik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan model pembelajaran yang lebih kontekstual, adaptif, dan berpihak pada peserta didik, khususnya dalam mengembangkan keterampilan literasi abad METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan menulis teks resensi melalui penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbasis digital. Model tindakan merujuk pada Kemmis & McTaggart, . , yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi, dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah 24 peserta didik kelas Vi SMP Negeri 4 Manonjaya pada semester genap tahun ajaran 2024/2025. Diferensiasi dilakukan pada aspek konten dan p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Taufik Hidayat, 2Doni Herdiana, 3Rina Agustini, . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. peserta didik diberikan alternatif bahan resensi seperti film pendek dan artikel digital sesuai minat mereka, serta kebebasan memilih bentuk produk akhir, misalnya teks naratif atau video presentasi. Media digital seperti YouTube. Canva, dan Google Docs diintegrasikan untuk mendukung fleksibilitas dan preferensi belajar. Pendekatan ini sejalan dengan temuan Hall et al. , . bahwa personalisasi konten melalui teknologi mampu mengoptimalkan diferensiasi dan mendukung keterlibatan peserta didik. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, tes keterampilan menulis, dan refleksi peserta didik. Instrumen yang digunakan meliputi lembar observasi aktivitas, pedoman wawancara semi-terstruktur, rubrik penilaian menulis . spek isi, struktur, bahasa, dan forma. , serta lembar refleksi. Analisis data dilakukan secara kualitatif untuk mendeskripsikan respons dan proses pembelajaran, serta kuantitatif deskriptif untuk membandingkan capaian skor keterampilan menulis antar siklus. Kriteria keberhasilan ditentukan apabila sekurang-kurangnya 75% peserta didik mencapai skor minimal 75 dalam kategori baik. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan untuk mengatasi permasalahan rendahnya keterampilan menulis teks resensi pada peserta didik kelas Vi SMP Negeri 4 Manonjaya. Proses penelitian berlangsung dalam dua siklus, yang masing-masing terdiri dari empat tahap utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Seluruh aktivitas pembelajaran dirancang dalam kerangka Kurikulum Merdeka dan mengintegrasikan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi berbasis digital sebagai strategi utama intervensi. Hasil Penelitian: Proses dan Capaian Pada tahap awal (Siklus I), peserta didik menunjukkan antusiasme terhadap kebebasan memilih bahan ajar yang sesuai minat mereka, yaitu film pendek dan video cerita Pemilihan bahan berbasis minat tersebut menjadi pijakan awal penerapan diferensiasi konten, sebagaimana disarankan oleh (Tomlinson, 2. Meski demikian, masih ditemukan sejumlah kendala yang memengaruhi efektivitas pembelajaran. Beberapa aspek dalam proses pembelajaran belum berjalan optimal, seperti belum digunakannya pertanyaan pemantik secara sistematis, belum tersedianya waktu untuk menyusun poster digital sebagai produk akhir, serta rendahnya partisipasi dalam pengisian LKPD secara mendalam. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Taufik Hidayat, 2Rina Agustini, 3Doni Herdiana . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Keterampilan Menulis Teks Resensi Peserta Didik Siklus 1 Komponen Hasil Jumlah Peserta Didik KKM Nilai Rata-rata Nilai Tertinggi Nilai Terendah Jumlah Tuntas Jumlah Tidak Tuntas Persentase Tuntas (%) Persentase Tidak Tuntas (%) 48% Data kuantitatif yang diperoleh pada akhir Siklus I memperlihatkan bahwa dari 25 peserta didik, hanya 52% yang mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Nilai rata-rata kelas masih berada pada angka 73, dengan beberapa peserta menunjukkan kesulitan dalam mengembangkan argumen, menyusun struktur teks secara koheren, dan menggunakan bahasa resensi yang sesuai. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun peserta didik diberi kebebasan dalam memilih bahan, mereka masih memerlukan dukungan strategis untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan ekspresi tertulis mereka. Siklus II dirancang sebagai respon terhadap hasil refleksi dan analisis pada siklus Perbaikan mencakup integrasi pertanyaan pemantik untuk memfasilitasi aktivasi skemata, pembimbingan intensif dalam penyusunan poster digital melalui Canva, dan penggunaan rubrik yang lebih eksplisit dalam LKPD digital. Selain itu, guru juga mengumpulkan refleksi pembelajaran melalui Google Form, yang memberikan wawasan kualitatif mengenai persepsi dan pengalaman belajar peserta didik secara lebih mendalam. Tabel 2. Rekapitulasi Nilai Keterampilan Menulis Teks Resensi Peserta Didik Siklus 2 Komponen Hasil Jumlah Peserta Didik KKM Nilai Rata-rata Nilai Tertinggi Nilai Terendah Jumlah Tuntas Jumlah Tidak Tuntas Persentase Tuntas (%) Persentase Tidak Tuntas (%) p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Taufik Hidayat, 2Doni Herdiana, 3Rina Agustini, . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Hasil pada Siklus II menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Seluruh peserta didik mencapai KKM . %) dengan nilai rata-rata meningkat menjadi 89,5. Nilai tertinggi mencapai 100 dan nilai terendah pun mengalami peningkatan mencolok menjadi 81. Peningkatan tidak hanya terjadi secara kuantitatif, tetapi juga secara kualitatif, yang ditunjukkan melalui peningkatan kedalaman isi, struktur teks yang lebih sistematis, penggunaan bahasa yang komunikatif, serta konsistensi dalam format penulisan. Sebagai ilustrasi konkret, salah satu teks resensi yang dihasilkan siswa sebelum intervensi pada Siklus I memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut: . isi resensi hanya memuat ringkasan singkat alur film tanpa ulasan kritis, struktur teks tidak konsisten . bagian identitas karya dan penutup tercampur, serta . penggunaan bahasa yang didominasi kalimat sederhana dengan diksi yang repetitif, misalnya penggunaan kata AubagusAy atau AuseruAy tanpa elaborasi alas an, . format penulisan juga belum mengikuti konvensi resensi, seperti penempatan paragraf yang tidak rapi dan ketiadaan subjudul. Setelah intervensi pada Siklus II, teks resensi yang dihasilkan siswa terhadap film yang sama menunjukkan peningkatan signifikan. Isi resensi kini memuat ulasan kelebihan dan kekurangan karya dengan argumentasi yang didukung contoh konkret, misalnya. AuPenggunaan pencahayaan redup pada adegan klimaks berhasil membangun ketegangan, namun dialog di bagian akhir terdengar kurang natural. Ay Struktur teks sudah mengikuti pola resensi yang bakuAiidentitas karya, ringkasan, analisis, dan penutupAidengan alur koheren. Penggunaan bahasa lebih bervariasi, termasuk pemanfaatan kalimat kompleks dan diksi evaluatif seperti AumenyentuhAy. AumenggugahAy, dan Aukurang proporsionalAy. Dari segi format, karya siswa telah dilengkapi subjudul, penggunaan huruf miring untuk judul karya, dan tata letak paragraf yang konsisten. Jika dianalisis per aspek, peningkatan pada bagian isi terjadi karena siswa lebih mampu mengintegrasikan opini dengan bukti yang relevan, sejalan dengan prinsip critical Peningkatan bagian struktur terlihat dari kemantapan kerangka tulisan yang memudahkan pembaca mengikuti alur argumentasi. Pada bagian bahasa, siswa menunjukkan penguasaan sintaksis dan kosa kata evaluatif yang lebih baik. Sedangkan pada bagian format, keterampilan mengatur elemen visual dan tipografi sesuai kaidah resensi membuktikan bahwa integrasi media digital (Canv. berkontribusi pada penguasaan konvensi penulisan. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Taufik Hidayat, 2Rina Agustini, 3Doni Herdiana . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Isi Struktur Rata-rata Siklus I Bahasa Format Rata-rata Siklus II Picture 2. Grafik Perbandingan Keterampilan Menulis Teks Resensi Peserta Didik Per Aspek Penilaian Lebih rinci, aspek isi mengalami peningkatan paling tinggi, dari skor rata-rata 2,64 menjadi 3,84. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik mulai mampu menyampaikan evaluasi kritis terhadap karya yang diresensi, menyampaikan kelebihan dan kekurangan dengan argumen yang logis, dan mengaitkan isi resensi dengan konteks pengalaman mereka. Peningkatan struktur teks dari 3,24 menjadi 3,96 menandakan adanya penguatan dalam pemahaman urutan logis penulisan resensi. Kenaikan pada aspek bahasa dan format turut memperlihatkan bahwa proses pembelajaran juga meningkatkan perhatian terhadap aspek teknis dan estetis dari produk teks yang dihasilkan. Diskusi: Implikasi Teoretis dan Praktis Temuan ini memperkuat asumsi bahwa pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan strategis yang tidak hanya berfokus pada pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan, tetapi juga memfasilitasi minat dan preferensi belajar untuk menciptakan keterlibatan aktif yang bermakna. Model ini telah terbukti efektif dalam konteks pembelajaran literasi, khususnya menulis teks resensi yang membutuhkan kombinasi antara keterampilan berpikir kritis, keterampilan menulis, dan apresiasi estetis terhadap objek yang diresensi (Graham & Harris, 2018. Nurgiyantoro, 2. Penerapan pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip pembelajaran konstruktivistik, di mana pengetahuan dibangun melalui pengalaman yang kontekstual dan relevan. Ketika p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Taufik Hidayat, 2Doni Herdiana, 3Rina Agustini, . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. peserta didik diberi otonomi dalam memilih bahan ajar, mereka cenderung memiliki rasa memiliki terhadap proses pembelajaran, yang pada akhirnya meningkatkan motivasi intrinsik mereka (Deci & Ryan, 2. Proses pembelajaran yang mengakomodasi pilihan dan suara peserta didik juga menciptakan lingkungan belajar yang lebih demokratis dan humanistik, sebagaimana dikemukakan oleh Vygotsky, . tentang pentingnya scaffolding dalam zona perkembangan proksimal. Penggunaan media digital seperti Google Classroom dan Canva berfungsi sebagai katalis dalam memperkuat pengalaman belajar yang beragam. Peserta didik yang sebelumnya pasif dalam proses menulis mulai menunjukkan keberanian untuk menyusun teks resensi dalam bentuk yang lebih menarik dan multimodal. Hal ini sejalan dengan temuan (Apriliany & Musa, 2. bahwa keterampilan menulis resensi dapat ditingkatkan secara signifikan melalui model berbasis proyek yang memanfaatkan teknologi. Dalam konteks literasi digital abad ke-21, kemampuan ini menjadi keterampilan esensial yang tidak hanya merefleksikan kemampuan menulis konvensional, tetapi juga keterampilan desain, kolaborasi, dan komunikasi digital (Selwyn, 2016. Yulianti et al. , 2. Lebih lanjut, keberhasilan siklus II menunjukkan pentingnya refleksi guru dalam mengelola pembelajaran yang adaptif. Dukungan teknologi yang tepat terbukti menjadi katalis pembelajaran berdiferensiasi, sebagaimana ditunjukkan oleh (Zhao & Frank, 2. bahwa faktor infrastruktur, pelatihan guru, dan dukungan organisasi mempengaruhi efektivitas penggunaan teknologi di sekolah. Pembelajaran yang sukses bukanlah hasil dari desain yang kaku, melainkan kemampuan guru untuk melakukan penyesuaian berdasarkan dinamika kelas. Dalam hal ini, guru tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai desainer pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan dan kondisi riil peserta Sebagai catatan penting, strategi diferensiasi yang diimplementasikan dalam penelitian ini mencakup tiga domain utama: . konten, dengan menyediakan beragam sumber belajar. proses, dengan memanfaatkan LKPD digital yang responsif terhadap kemampuan peserta didik. produk, dengan memberi kebebasan dalam format penyajian hasil belajar. Ketiganya saling melengkapi dan membentuk sistem pembelajaran yang holistik, sebagaimana ditegaskan dalam model diferensiasi oleh Heacox, . dan Wormeli, . Peningkatan ini konsisten dengan tren global yang menunjukkan bahwa personalisasi konten dan format tugas menulis melalui teknologi dapat memperbaiki capaian siswa secara signifikan (Eutsler & Perez, 2022. Shea, 2. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Taufik Hidayat, 2Rina Agustini, 3Doni Herdiana . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Secara pengembangan strategi pembelajaran yang efektif dalam konteks lokal sekolah menengah pertama, tetapi juga memberi implikasi lebih luas terhadap pentingnya integrasi teknologi dan diferensiasi sebagai prinsip dasar dalam desain pembelajaran abad ke-21. Hasil ini juga membuka peluang replikasi pada konteks pembelajaran keterampilan berbahasa lain, seperti menulis esai, puisi, atau narasi, dengan adaptasi konten digital yang relevan. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi berbasis digital efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis teks resensi peserta didik kelas Vi SMP. Penerapan pendekatan ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar secara signifikanAidari rata-rata nilai 73 . % tunta. pada Siklus I menjadi 89,5 . % tunta. pada Siklus IIAitetapi juga mendorong keterlibatan aktif dan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Diferensiasi konten dan produk, yang disesuaikan dengan minat dan gaya belajar peserta didik, terbukti meningkatkan motivasi dan pemahaman terhadap struktur teks Integrasi media digital, seperti Canva dan Google Classroom, turut memperkuat efektivitas pembelajaran dengan memberikan ruang eksplorasi dan ekspresi yang lebih Hasil ini memperkuat relevansi pembelajaran berdiferensiasi berbasis digital sebagai strategi yang adaptif terhadap kebutuhan abad ke-21. Pendekatan ini layak dikembangkan lebih lanjut untuk keterampilan menulis lainnya serta diimplementasikan secara luas dalam konteks Kurikulum terbaru. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kepala sekolah, guru, dan siswa SMP Negeri 4 Manonjaya atas kerja sama dan partisipasinya dalam pelaksanaan penelitian. Selain itu, apresiasi diberikan kepada kepada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Galuh atas dukungan yang diberikan sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA