JURNAL BIOLOGI PAPUA Vol 13. No 1. Halaman: 74Ae81 April 2021 ISSN 2086-3314 E-ISSN 2503-0450 DOI: 10. 31957/jbp. http://ejournal. id/index. php/JBP Struktur dan Komposisi Hutan Mangrove di Kampung Sakartemin Distrik Fakfak Tengah. Kabupaten Fakfak. Papua Barat GAIL WATOFA1*. NING S. ASTUTI2. AMADION A. WANAPUTRA3 1PS. Kehutanan. Fakultas Pertanian. Kehutanan, dan Kelautan. Universitas Ottow Geissler Papua. Jayapura 2Balai Perbenihan Tanaman Hutan Papua. Jayapura 3Fakultas Pertanian. Kehutanan, dan Kelautan. Universitas Ottow Geissler Papua. Jayapura Diterima: 06 Februari 2020 Ae Disetujui: 27 Januari 2021 A 2021 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih ABSTRACT Sakartemin is one of the village Fakfak Regency which has naturally growing mangrove forest. However, due to the economic development, the government should build up some infrastructures near by those mangrove forest. The disturbance nearby mangrove ecosystem cause changes in structure and composition of mangrove vegetation. This study aims to identify the types of mangrove vegetation and to find out the structure and composition of mangrove forest in Sakartemin Village. Central Fakfak District. Fakfak Regency. The method that used in this study is vegetation survey method combining path and checkered line method. The result shown that mangrove species in the sakartemin village consist of 5 families, namely: Rhizophoraceae. Meliaceae. Soneratiaceae. Pandanaceae, and Myrsinaceae which consists of 7 species namely: Rhizophora stylosa. Xylocarpus granatum. Soneratia alba. Bruguiera gymnhoriza. Pandanus sp. , and Aegiceras corniculatum. At the seedling level found 1002 individuals, sapling level found 404 individuals, and tree level found 319 individuals. The highest importance value index (IVI) at seedling level was R. 41% and the lowest was A. The highest IVI at sapling level was R. 72% and the lowest was Pandanus 5. The highest IVI at the tree level was R. 62% and the lowest was B. Key words: Sakartemin village. Fakfak. PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara kepulauan terdiri 508 pulau besar dan kecil dengan panjang garis pantai sekitar 81. 000 km (Dahuri, 2. Sebagian daerah tersebut ditumbuhi hutan mangrove dengan lebar beberapa meter sampai beberapa kilometer (Soegiyarto,1984. FAO, 1. Berdasarkan luasnya kawasan, hutan mangrove Indonesia merupakan hutan mangrove terluas di dunia (FAO, 1. Kusmana . melaporkan bahwa pada tahun 1982, hutan mangrove di * Alamat korespondensi: Staf Pengajar Fakultas Pertanian. Kehutanan, dan Kelautan. Universitas Ottow Geissler Papua. Jayapura. E-mail: amadionw@gmail. Indonesia tercatat seluas 4,25 juta hektar sedangkan pada tahun 1993 menjadi 3,7 juta, dimana sekitar 1,3 juta sudah disewakan kepada 14 perusahaan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). Mangrove mempunyai fungsi sebagai sumber daya ekonomi yang dapat dimanfaatkan antara lain sebagai penghasil kayu bakar dan bahan bangunan (Anggono, 2006. Handono et al. , 2. Fungsi ekonomi lainnya yaitu kawasan hutan mangrove berpotensi sebagai tempat rekreasi, lahan pertambakan dan penghasil devisa dengan bahan baku industri. Lebih lanjut. Handono et at. mengungkapkan bahwa selain secara ekonomi, mangrove juga bermanfaat secara langsung maupun tidak langsung termasuk nilai WATOFA et al. Struktur dan Komposisi Hutan Mangrove Kampung Sakartemin merupakan salah satu lokasi di Kabupaten Fakfak yang memiliki hutan mangrove tumbuh secara alami. Walaupun demikian, pemerintah setempat telah melakukan pengembangan ekonomi dengan melakukan pembangunan infrastruktur jalan di area yang dekat dengan vegetasi hutan mangrove. Sementara itu menurut Setyawan et al. bahwa pembangunan di sekitar mangrove secara nyata telah mempengaruhi kelestarian ekosistem Gangguan terhadap ekosistem hutan mangrove merupaka faktor yang menyebabkan perubahan terhadap struktur dan komposisi vegetasi yang berada didalam hutan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis vegetasi mangrove serta struktur dan komposisinya di Kampung Sarkatemin Distrik Fakfak Tengah. Kabupaten Fakfak. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi penting dan data awal mangrove yang belum sempat teridentifikasi sebelumnya. Untuk itu, sistem pengelolaan ekologi mangrove di kawasan ini dapat dilakukan dengan sebaikbaiknya. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di kawasan hutan mangrove di Kampung Sakartemin Distrik Fakfak Tengah. Kabupaten Fakfak. Provinsi Papua Barat. Penelitian di lapangan dilakukan selama satu bulan, yaitu pada bulan Oktober sampai November 2018. Prosedur Penelitian Pengambilan sampel meggunakan metode transek dengan pola garis berpetak. Penempatan transek pertama dilakukan secara purposive sampling dan transek selanjutnya dilakukan secara sistematis, dengan jarak antar transek 200 meter dari total luas kawasan 10. 653 km2 dengan intensitas sampling . ,02 %). Pengambilan data komposisi jenis dilakukan dari batas garis pantai ke arah daratan. Untuk hutan mangrove di Kampung Sakartemin jenis vegetasinya tersebar Jumlah transek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebanyak 8 transek dengan jumlah plot masing-masing transek 3 dan 4 plot. Penempatan plot disesuaikan kondisi lokasi penelitian yang mempunyai luasan tidak berimbang dari arah pantai ke darat. Jumlah total sebanyak 28 plot dengan jarak antar plot 250 meter dan jarak antar transek 200 meter. Kriteria pembagian struktur golongan vegetasi mangrove menurut Kusmana . Semai . ulai kecambah sampai tinggi 1,5 . dengan ukuran plot contoh 2 x 2 m. Sapihan/pancang . ermudaan dengan tinggi pohon 1,5 m atau lebih sampai dengan pohon yang mempunyai keliling tidak lebih dari 30 c. dengan ukuran plot contoh 5 x 5 m, pohon adalah pohon dengan keliling lebih dari 30 cm dengan ukuran plot contoh 10 x 10 m. Data dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Untuk struktur dan komposisi jenis mangrove dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Data yang diperoleh di lapangan ditabulasi dan di analisis untuk menentukan besaran kerapatan, kerapatan relatif, frekuensi relatif, dominansi, dominansi relatif dan indeks nilai penting serta variabel tingkat keanekaragaman jenis. Kerapatan suatu jenis (K) Kerapatan suatu jenis (K), dihitung dengan Kerapatan Relatif (KR) Kerapatan Relatif (KR) suatu jenis, dihitung dengan rumus: Frekuensi (F) Frekuensi (F) suatu jenis, dihitung dengan Frekuensi Relatif (FR) Frekuensi Relatif (FR) suatu jenis, dihitung dengan rumus: J U RN A L B I OL OGI PA PU A 13. : 74Ae81 Dominansi (D) Dominansi (D) suatu jenis, dapat dihitung dengan rumus: Dominansi Relatif (DR) dihitung dengan rumus: Indeks Nilai Penting (INP) Indeks nilai penting (INP) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : INP = KR FR DR Struktur Tegakan Struktur tegakan dapat diketahui dengan membuat hubungan antara diameter setinggi dada . dengan kerapatan pohon . umlah pohon per hekta. Kerapatan pohon diletakkan pada sumbu y . sedangkan kelas diameter diletakkan pada sumbu x . Bentuk struktur tegakan hutan pada hutan alam atau hutan tidak seumur mengikuti bentuk eksponensial negatif atau berbentuk huruf AuJAy terbalik (Istomo, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Hutan mangrove di Kampung Sakartemin secara administratif terletak di Distrik Fakfak Tengah. Kabupaten Fakfak. Hutan ini memiliki luas kawasan sebesar 10. 653 km2. Hasil observasi lapangan pada ekosistem mangrove di Kampung Sakartemin ditemukan 7 jenis mangrove dari 5 famili yaitu: Rhizophora Stylosa. Xylocarpus granatum. Soneratia alba. Bruguiera gymnhoriza. Pandanus, dan Aegiceras corniculatum. Komposisi Jenis Sebaran Vegetasi Mangrove di Kampung Sakartemin Hasil ekosistem mangrove di Kampung Sakartemin tersusun atas 7 jenis dan 5 famili (Tabel . Tabel 1 menunjukkan bahwa pada pertumbuhan tingkat Gambar 1. Lokasi penelitian dan gambaran umum tutupan lahan mangrove kawasan Kampung Sarkatemin. Fakfak Tengah. semai jumlah individu sebanyak 1. 002 anakan lebih banyak dari pada pertumbuhan tingkat pancang sebanyak 404 pohon, pertumbuhan tingkat pohon sebanyak 319 pohon. Demikian pula pada pertumbuhan tingkat pancang lebih banyak dari pada pertumbuhan tingkat pohon. Pada pertumbuhan tingkat semai ditemukan R. stylosa sebanyak 320 individu. sebanyak 291 individu. granatum 81 individu. gymnorhisa 55 individu. Alba 211 individu dan corniculatum 44 individu. Sedangkan pada tingkat pancang ditemukan R. stylosa dengan jumlah sebanyak 109 individu. granatum 46 individu. 34 individu. alba 211 individu. individu, dan Pandanus 14 individu. Pada pertumbuhan tingkat pohon ditemukan R. dengan jumlah sebanyak 92 individu. 105 individu. granatum 27 individu. gymnorhisa 48 individu dan S. alba 47 individu. Berdasarkan data tersebut memperlihatkan bahwa kondisi lingkungan lokasi penelitian mendukung untuk penyebaran jenis yang mendominasi adalah dari famili Rhizophoraceae. WATOFA et al. Struktur dan Komposisi Hutan Mangrove Hutan mangrove dapat dibagi menjadi zonasi-zonasi berdasarkan jenis vegetasi yang dominan, mulai dari arah laut ke darat. Faktorfaktor yang mempengaruhi pembagian zonasi pada hutan mangrove terkait dengan respon jenis tumbuhan mangrove terhadap salinitas, pasangsurut air laut, dan keadaan tanah. Kondisi tanah mempunyai kontribusi besar dalam membentuk (Soegiyarto, 1984. Nurrahman et al. , 2012. Ghufrona, 2. Bagian depan ditemukan jenis R. Stylosa. alba, dan juga jenis X. granatum yang ditemukan diantara jenis Rhizophora. Pada bagian tengah juga ditemukan jenis R. dan B. Pada bagian belakang ditemukan jenis yang sama dengan bagian tengah dan depan tetapi juga ada beberapa jenis A. corniculatum dan Pandanus. Namun demikian, di lokasi penelitian zonasi seperti yang disebutkan di atas tidak terlihat jelas, karena meskipun kelihatannya terdapat zonasi dalam vegetasi Tabel 1. Sebaran vegetasi mangrove pada tingkat pertumbuhan semai pancang dan pohon. Nama jenis Famili Rhizophora Stylosa Rhizophora apiculata Xylocarus granatum Soneratia alba Bruguiera gymnhoriza Pandanus Aegiceras corniculatum Tingkat pertumbuhan Semai Pancang Pohon Nama daerah Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Soneratiaceae Rhizophoraceae Pandanaceae Primulaceae Jumlah Tombor mimia Tombor mimia Tombor mimia Tombor mimia Tombor mimia Tombor mimia Tombor mimia Tabel 2 . Indeks nilai penting vegetasi mangrove pada pertumbuhan tingkat semai. No. Jenis KR (%) FR (%) INP 0,11 0,10 31,94 29,04 0,82 0,89 23,47 25,51 55,41 54,55 0,03 0,08 0,02 0,02 8,08 21,06 5,49 4,39 0,75 0,54 0,32 0,18 21,43 15,31 9,18 5,10 29,51 36,36 14,67 9,49 0,36 100,00 3,50 100,00 200,00 Total Tabel 3. Indeks nilai penting vegetasi mangrove pada pertumbuhan tingkat pancang. No. Jenis KR (%) FR (%) INP 0,16 0,18 0,07 0,07 0,05 26,98 30,45 11,39 12,62 8,42 0,82 0,96 0,64 0,46 0,32 23,23 27,27 18,18 13,13 9,09 50,21 57,72 29,57 25,76 17,51 Pandanus A . 0,02 0,04 3,47 6,68 0,071 0,25 2,02 7,07 5,49 13,75 Total 0,58 100,00 3,54 100,00 200,00 J U RN A L B I OL OGI PA PU A 13. : 74Ae81 Banyak formasi serta zona vegetasi yang tumpang tindih dan bercampur serta seringkali struktur dan korelasi yang nampak di suatu daerah tidak selalu dapat diaplikasikan di daerah yang lain. Indeks Nilai Penting Indeks nilai penting merupakan parameter kuantitatif yang dapat dipakai untuk menyatakan tingkat dominansi jenis dalam suatu komunitas Indeks nilai penting dihitung berdasarkan penjumlahan nilai kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR) dan dominasi relatif (DR) (Soerianegara & Indrawan, 2002. Sayektiningsih et al. , 2. Indeks Nilai Penting Tingkat Semai Indeks nilai penting pada pertumbuhan tingkat semai didominasi oleh jenis R. stylossa di ikuti jenis R. alba, dan A. Vegetasi pada tingkat semai memiliki peran yang sangat penting dalam sistem regenerasi tumbuhan. Tabel 2 menunjukkan kerapatan tertinggi vegetasi mangrove pada pertumbuhan tingkat semai di lokasi penelitian yaitu jenis R. dengan nilai kerapatan 0,11 dan kerapatan relatifnya mencapai 31,94% dan terendah pada jenis A. corniculatum dengan kerapatan 0,02 dan kerapatan relatifnya sebesar 4,39%. Frekuensi tertinggi yaitu jenis R. a apiculata dengan frekuensi sebesar 0,89 adapun frekuensi relatifnya mencapai 25,51% dan terendah yaitu jenis A. dengan frekuensi sebesar 0,18 dan frekuensi relatifnya 5,10%. Selanjutnya berdasarkan hasil penjumlahan kerapatan relatif dan frekuensi relatif diperoleh Indeks Nilai Penting tertinggi pada pertumbuhan tingkat semai adalah jenis R. stylosa dengan INP mencapai 55,41% dan terendah pada jenis A. corniculatum dengan INP sebesar 9,49%. Jenis R. stylosa merupakan jenis yang dominan pada tingkat semai, hal ini karena jenis stylosa memiliki INP tertinggi yaitu sebesar 55,41% dibandingkan dengan INP jenis lainnya. Jenis ini adalah jenis yang ditemukan dalam jumlah banyak dan tersebar merata dihampir diseluruh areal hutan mangrove sakartemin, selain habitat yang sesuai salah satu penyebab jenis Rhizophora sp mempunyai sebaran yang merata adalah karena jenis ini umumnya bersifat vivipar, yaitu kondisi dimana biji mampu berkecambah semasa buah masih melekat pada pohon induknya (Noor et al. , 2. Indeks Nilai Penting Tingkat Pancang Vegetasi mangrove pada pertumbuhan tingkat pancang didominasi oleh R. apiculata di ikuti oleh jenis lainnya berturut-turut R. dan Pandanus. Tabel 3 menunjukkan bahwa kerapatan tertinggi pada pertumbuhan tingkat pancang yaitu dari jenis R. apiculata dengan kerapatan sebesar 0,18 dan kerapatan relatifnya 30,45%, sedangkan kerapatan terendah yaitu jenis Pandanus dengan kerapatan sebesar 0,02 dan kerapatan relatifnya 3,47%. Frekuensi tertinggi yaitu jenis R. apiculata dengan frekuensi sebesar 0,96 dan frekuensi relatifnya 27,27%, adapun frekuensi terendah jenis Pandanus sebesar 0,071 Tabel 4. Indeks nilai penting vegetasi mangrove pada pertumbuhan tingkat pohon. No. Jenis Total K . nd/m. KR (%) FR (%) DR (%) INP (%) 0,033 28,84 0,82 25,27 5,95 21,41 75,53 0,038 32,92 0,93 28,57 7,54 27,13 88,62 0,010 0,017 8,46 15,05 0,57 0,53 17,58 15,38 4,90 3,34 17,63 12,02 43,68 42,45 0,017 0,114 14,73 100,00 0,43 3,25 13,19 100,00 6,06 27,79 21,81 100,00 49,73 300,00 WATOFA et al. Struktur dan Komposisi Hutan Mangrove Tabel 5. Kelas diameter semua jenis pada pertumbuhan tingkat pohon di hutan mangrove Kampung Sakartemin. No. Kelas diameter 10-14,9 15-19,9 20-24,9 25-29,9 30-34,9 35-39,9 Jumlah pohon Gambar 2. Komposisi struktur tegakan mangrove di Kampung Sakartemin. Fakfak. dan frekuensi relatifnya 2,02. Hasil penjumlahan kerapatan relatif dan dominasi relatif menunjukan Indeks Nilai Penting vegetasi mangrove pada pertumbuhan tingkat pancang tertinggi adalah jenis R. apiculata dengan INP sebesar 57,72% dan terendah jenis Pandanus dengan INP sebesar 5,49%. Hal ini berarti bahwa jenis R. pertumbuhan tingkat pancang. Jenis ini ditemukan hampir disemua plot petak contoh dan penyebarannya merata, tumbuh pada tanah berlumpur dan tergenang. Sesuai pernyataan Noor et al. dan RifaAoi . , jenis R. tumbuh pada tanah berlumpur, halus, dalam, dan tergenang pada saat pasang normal. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. Indeks Nilai Penting Tingkat Pohon Vegetasi mangrove pada pertumbuhan tingkat pohon tersusun oleh 5 jenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis yang mendominasi pada pertumbuhan tingkat pohon adalah jenis R. apiculata, sedangkan jenis yang tidak dominan adalah jenis B. gymnhoriza dan Pandanus. Indeks nilai penting pada pertumbuhan tingkat pohon (Tabel . nampak bahwa kerapatan tertinggi terdapat pada jenis R. apiculata dengan INP sebesar 0,038 dan kerapatan relatifnya 32,92%. Terendah dijumpai pada jenis X. granatum dengan INP sebesar 0,010 dan kerapatan relatif 8,46%. Frekuensi tertinggi juga dari jenis R. sebesar 0,93 dengan frekuensi relatifnya sebesar 28,57%. Terendah pada jenis S. alba dengan frekuensi sebesar 0,43 dan frekuensi relatifnya 13,19%. Dominansi tertinggi juga masih dari jenis R. apiculata dengan nilai dominasi sebesar 7,54 dan dominansi relatifnya 27,13%. Mengingat kerapatan relatif, frekuensi relatif, dan dominasi relatif dari jenis R. apiculata, sehingga sudah dapat dipastikan INP tertinggi juga dari jenis R. Nilai INP jenis ini sebesar 88,62% dan terendah dari jenis B. gymnhoriza dengan sebesar 42,45%. Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut menunjukkan bahwa jenis yang mendominasi pada pertumbuhan tingkat pohon di lokasi penelitian adalah jenis R. Jenis ini dijumpai hampir pada semua plot petak penyebarannya merata di seluruh kawasan hutan mangrove Kampung Sakartemin. Hal yang sama terdapat pada kawasan Hilir DAS Torue. Parigi Moutong. Sulawesi Tengah. Menurut Naharuddin . , jenis yang mendominasi pada daerah tengah yaitu jenis R. apiculata dan R. Selain itu pada penelitian Rochmady . , jenis yang mendominasi pada setiap plot pengamatan di pesisir Desa Kodiri. Kecamatan Lohia adalah R. Demikian pula, hasil penelitian RifaAoi J U RN A L B I OL OGI PA PU A 13. : 74Ae81 . di kawasan Taman Nasional Sembilang Banyuasin Sumatera Selatan. Pada penelitian Amadion et al. di kawasan IUPHHK-HA PT. Bintuni Utama Murni Wood Industries Kabupaten Teluk Bintuni. Provinsi Papua Barat pada seluruh areal bekas tebangan didominasi oleh jenis R. apiculata dengan total nilai INP sebesar 1621,53 individu/ha. Menurut Setiawan et . , jenis mangrove memiliki tingkat adaptabilitas yang tinggi terutama pada jenis yang memiliki propagul seperti pada jenis Rhizophora yang umumnya telah tumbuh sejak masih menempel pada batang induknya. Struktur Vegetasi Berdasarkan Distibusi Diameter Menurut Richard . struktur tegakan merupakan sebaran individu tumbuhan dalam lapisan tajuk, sedangkan Meyer et al. mengartikan struktur tegakan sebagai sebaran pohon per satuan luas dalam berbagai kelas Struktur tegakan berkaitan erat dengan penguasaan tempat tumbuh yang dipengaruhi oleh besarnya energi cahaya matahari, ketersediaan air tanah dan hara mineral bagi pertumbuhan individu tersebut. Data kelas diameter pohon pada hutan mangrove kampung sakartemin sebagaimana (Tabel 5. Gambar . menunjukkan interaksi berbanding terbalik. Semakin besar kelas dameter maka semakin kecil keberadaan jumlah pohonnya. Struktur tegakannya dapat diketahui dengan membuat hubungan antara diameter setinggi dada . dengan kerapatan pohon. Kerapatan pohon diletakkan pada sumbu y . sedangkan kelas diameter diletakkan pada sumbu x . Hubungan antara kerapatan pohon memperlihatkan struktur horisontal suatu tegakan . enyebaran jumlah individu pohon dalam kelas diameter berbed. Bentuk struktur tegakan mangrove di Kampung Sakartemin dalam bentuk grafik (Gambar . Gambar 2 memberikan gambaran struktur tegakan untuk semua jenis mangrove yang ada secara umum di Kampung Sakartemin. Grafik tersebut memperlihatkan bahwa struktur tegakan mangrove di Kampung Sakartemin berdasarkan sebaran kelas diameter menunjukkan jumlah pohon yang semakin berkurang dari kelas diameter kecil sampai kelas diameter yang semakin besar sehingga kurva yang dihasilkan menyerupai huruf AuJAy terbalik. Menurut Ghufrona . terbentuknya grafik seperti ini mengarah pada kondisi hutan yang seimbang. Hal yang sama juga terjadi pada penelitian yang dilakukan di hutan mangrove Desa Pasar Banggi yang dilakukan oleh Wicaksono . Secara umum, mangrove sangat penting secara ekologi dan ekonomi. Oleh karena itu, perhatian peneliti dan pemerintah dalam mempertahankan keberadaan hutan mangrove sangat penting (Sayektiningsih et al. , 2012. Handono et al. , 2. Banyak manfaat yang dapat diambil dari hutan mangrove. Dengan demikian, sistem pengelolaan dan usaha pencegahan kerusakan perlu dilakukan. KESIMPULAN Ekosistem mangrove di Kampung Sakartemin ditemukan 5 . famili yaitu: Rhizophoraceae. Meliaceae. Soneratiaceae, dan Pandanaceae Myrsanaceae, yang terdiri dari 7 . jenis yaitu: jenis Rhizophora stylosa. Rhizophora apiculata. Xylocarpus granatum. Soneratia alba. Bruguiera gymnhoriza. Pandanus, dan Aegiceras corniculatum. Struktur tegakan hutan di Kampung Sakartemin menunjukkan sebaran berbentuk kurva yang menyerupai huruf AuJAy terbalik. Hal ini dikarenakan jumlah pohon yang semakin berkurang dari kelas diameter kecil ke kelas diameter besar yang menandakan bahwa kondisi hutan tersebut dapat dikatakan normal dan Nilai INP tertinggi pada tingkat semai didominasi oleh jenis R. stylosa dengan nilai 55,41% dan INP terendah pada jenis A. corniculatum dengan nilai 9,49 %. INP tertinggi pada tingkat pancang pada jenis R. dengan nilai 57,72% dan terendah jenis Pandanus dengan nilai sebesar 5,49%. INP tertinggi pada tingkat pohon pada jenis R. apiculata INPnya WATOFA et al. Struktur dan Komposisi Hutan Mangrove sebesar 88,62% dan terendah dari jenis gymnhoriza dengan INP sebesar 42,45%. DAFTAR PUSTAKA