JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia https://journals. iai-alzaytun. id/index. php/jis E-ISSN: 2988-0947 Vol. 2 No. : 538-551 DOI: https://doi. org/10. 61341/jis/v2i5. IMPLEMENTASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS MASJID (STUDI KASUS MASJID AL-MULK KOTA SUKABUMI) Jihan Zahrotul Layyina1A. Ahmad Asrof Fitri2. Sobirin3 1,2,3 Manajemen Dakwah. Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia E-mail: jihanlayyina23@gmail. com1A, asrof. fitri@gmail. com2, sobirinsp72@gmail. Abstrak Penelitian ini membahas implementasi pemberdayaan masyarakat berbasis masjid, dengan fokus pada Masjid Al-Mulk Kota Sukabumi. Masalah utama yang diangkat adalah masih terbatasnya fungsi masjid yang hanya digunakan sebagai tempat ibadah tanpa mengoptimalkan peran sosialnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran masjid dalam pemberdayaan masyarakat serta faktor pendukung dan penghambatnya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan dilakukan melalui tiga aspek: enabling . embentukan motivasi dan potensi jamaa. , empowering . artisipasi dalam kegiatan produkti. , dan protecting . engelolaan konfli. Faktor pendukung mencakup legalitas kelembagaan, sarana memadai, program inklusif, komunikasi efektif, serta dukungan moral dan keamanan. Sementara itu, faktor penghambat meliputi keterbatasan dana, kondisi keamanan yang belum stabil, dan minimnya dukungan pemerintah. Kesimpulannya. Masjid Al-Mulk memiliki potensi besar sebagai pusat pemberdayaan masyarakat bila didukung oleh kolaborasi lintas pihak secara Kata Kunci: Pemberdayaan. Masyarakat. Masjid Abstract This study discusses the implementation of mosque-based community empowerment, focusing on Al-Mulk Mosque in Sukabumi City. The main issue addressed is the limited function of mosques, which are often used solely for worship without optimizing their social roles. The purpose of this research is to describe the role of the mosque in community empowerment, along with its supporting and inhibiting factors. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through interviews, observation, and documentation, with purposive sampling The findings reveal that empowerment is implemented through three aspects: uilding motivation and community potentia. , empowering . ncouraging participation in productive activitie. , and protecting . anaging internal and external conflict. Supporting factors include legal legitimacy, adequate facilities, inclusive programs, effective communication, as well as moral and security support. Inhibiting factors involve limited funding, unstable environmental security, and lack of concrete support from the government. Al-Mulk Mosque has great potential to serve as an effective center for community empowerment if supported by sustainable collaboration among various stakeholders. Keywords: Empowerment. Community. Mosque. 538 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Vol. No. : 538-551 Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang plural yang terdiri berbagai ras, budaya, adat, dan berbagai macam agama seperti Islam. Hindu. Budha. Kisten, dan yang lainnya. Mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Islam adalah agama yang diberikan oleh Allah kepada manusia dengan sempurna. Segala macam persoalan dalam hidup dan penyelesaiannya telah diatur sedemikian rupa oleh Allah dalam kitab Al- QurAoan maupun AlHadits (Kaaffah et al. , 2. Masjid sebagai tempat ibadah dan tempat menyelesaikan berbagai bidang kehidupan, baik kehidupan umat Islam pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Tujuan didirikannya Masjid adalah perwujudan keadaan Islam dan masyarakat muslim dalam tiap ruang dan dari waktu ke waktu (Qadaruddin et al. , 2. Masjid merupakan simbolik atau tempat berkumpulnya umat Islam untuk beribadah dan melakukan kegiatan lainnya. Masjid bukan hanya sekedar simbol keagamaan bagi umat Islam dengan ciri khas dari gedung dan motif interiornya, melainkan juga totalitas fungsi yang menggerakan dinamika kehidupan manusia (Darmayanti, 2. Memahami Masjid secara keseluruhan berarti juga memahaminya sebagai sebuah instrumen sosial masyarakat Islam yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Islam itu sendiri. Keberadaan Masjid pada umumnya merupakan salah satu perwujudan aspirasi umat Islam sebagai tempat ibadah yang menduduki fungsi sentral. Mengingat fungsinya yang strategis, maka perlu dibina sebaik-baiknya, baik segi fisik bangunan maupun segi kegiatan pemakmurannya (Al-Atsqolani et al. , 2. Pada masa Rasulullah Masjid tidak hanya sebatas tempat shalat saja. Salah satu kunci Nabi Muhammad memanfaatkan perkembangan fungsi Masjid. Nabi Muhammad membangun Masjid sebagai pusat pengembangan kuantitas dan kualitas umat di Masjid itu (Umar, 2. Masjid Nabawi pada masa Rasulullah A Amemiliki peran yang sangat luas, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial, politik, dan pendidikan bagi masyarakat Muslim. Berdasarkan penelitian Umar . , fungsi masjid ini mencakup berbagai aspek kehidupan. Sebagai tempat ibadah ritual, masjid digunakan untuk melaksanakan shalat wajib dan sunnah, dzikir, serta berbagai bentuk ibadah lainnya. Selain itu, masjid juga berfungsi sebagai pusat konsultasi keagamaan dan sosial, di mana masyarakat dapat berkonsultasi mengenai persoalan agama maupun kehidupan duniawi. Rasulullah A Ajuga menjadikan masjid sebagai media penyampaian informasi publik terkait kebijakan pemerintahan, keputusan hukum, dan pengumuman penting lainnya. Masjid Nabawi juga memiliki peran dalam bidang pendidikan, baik sebagai lembaga pendidikan formal maupun sebagai tempat pelatihan keterampilan. Selain itu, masjid menjadi ruang bagi dialog antarumat beragama guna membangun pemahaman dan toleransi. Fungsi sosial masjid juga sangat signifikan, seperti menjadi tempat penginapan bagi musafir, pusat santunan sosial untuk fakir miskin dan anak yatim, serta tempat pelatihan keterampilan seperti salon kecantikan dan pengembangan ekonomi. Masjid juga digunakan untuk latihan 539 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin Vol. No. : 538-551 bela diri guna mempersiapkan kaum Muslimin dalam pertahanan diri dan peperangan, serta menjadi tempat penampungan pengungsi bagi mereka yang terdampak konflik. Dalam aspek kesehatan, masjid berfungsi sebagai tempat perawatan dan pengobatan masyarakat yang sakit atau terluka akibat perang. Pengurusan jenazah, termasuk pemandian, pengafanan, dan pelaksanaan shalat jenazah, juga dilakukan di dalam masjid. Selain itu, masjid berperan sebagai lembaga peradilan tempat Rasulullah A Amenyelesaikan perkara hukum dan konflik sosial. Mediasi bagi individu atau keluarga yang bertikai sering dilakukan di masjid, serta beberapa bentuk hukuman, termasuk eksekusi bagi pelaku kejahatan berat, juga dilaksanakan di sana. Masjid bahkan menjadi tempat penahanan sementara bagi tawanan perang sebelum diputuskan status mereka. Fungsi lainnya yang tidak kalah penting adalah sebagai pusat penerimaan tamu, tempat penyimpanan barang berharga dan keuangan negara, serta balai pertemuan masyarakat, termasuk untuk acara walimah pernikahan. Masjid juga digunakan sebagai tempat pertunjukan seni religius yang sesuai dengan ajaran Islam. Dalam bidang pemerintahan, masjid berperan sebagai pusat pengendalian pemerintahan, tempat diskusi dan pengambilan keputusan terkait urusan politik dan kemasyarakatan. Selain itu, menara masjid digunakan untuk mengumandangkan adzan, yang menandai waktu shalat bagi umat Islam. Masjid juga menjadi tempat pelaksanaan akad nikah, sebagaimana yang dianjurkan dalam sebuah riwayat dari Aisyah r. berkata bahwa Rasulullah bersabda, a a AeENA a e AEe aIa aa a aIa aO aa Ia uaEeOa aIa Ea aa Ia OOIa Ia aOO acaI Ca aEa IO Ia OA a aacaIaA a a a e a ea a e a a ea a a e a e ae aAeEaEOEA e aAIOa aEOa eIa IA e a a ca a e ea a Aaca Ia a a Ia Ee aCA a e AaEeaa aEa EaO aNa OA aA aIa a eIA ca a aN a eaEaIaO Ca aEa aO aEac aIa aEaeO aNA a e a a aEacO EIA a aAcEEA ea a A aO EI aEA a e a ae Artinya :AuTelah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami dan Al Khalil bin Amru keduanya berkata. telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dari Khalid bin Ilyas dari Rabi'ah bin Abu 'Abdurrahman dari Al Qasim dari 'Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau bersabda: Umumkanlah pernikahan ini, dan tabuhlah rebana. Ay (HR Tirmidz. Hadits Sunan Ibnu Majah No. 1885 Kitab Nikah. Menurut Ahmad Sutarmadi. Masjid bukan sekedar memiliki peran dan fungsi sebagai sarana peribadatan saja bagi jemaahnya. Masjid memiliki misi yang lebih luas mencakup bidang pendidikan agama dan pengetahuan, bidang peningkatan hubungan sosial kemasyarakatan bagi para anggota jemaah, dan peningkatan ekonomi jemaah, sesuai dengan potensi yang dimiliki Jemaah. Konsep pemberdayaan menjadi penting karena dapat memberikan perspektif positif terhadap pemanfaatan sumber daya manusia melalui pemberdayaan Masjid untuk kesejahteraan umat Islam (Ismaniar, 2. Berdasarkan konteks penelitian di atas, maka pokok permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah . bagaimana Implementasi Pemberdayaan Masyarakat berbasis Masjid, . bagaimana faktor pendukung serta penghambat dalam implementasi pemberdayaan masyarakat (Studi Kasus Masjid Al-Mulk Kota Sukabum. dengan tujuan mampu mengetahui faktor pendukung dan pengaruh dari kegiatan - kegiatan yang dikemas untuk masyarakat yang ada di sekitar wilayah maupun masyarakat luas dan mampu 540 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin Vol. No. : 538-551 memberikan pemberdayaan kepada masyarakat baik dalam bidang ekonomi, pelayanan sosial dan pendidikan sehingga masyarakatnya berdaya guna dalam kehidupan mereka. METODE Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskreptif karena dalam penelitian ini menghasilkan kesimpulan berupa data yang menggambarkan secara rinci. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif yang diteliti di lapangan, sehingga datanya diperoleh langsung, baik berupa data lisan maupun data tertulis . Lalu inti dari pengertian kualitatif ini adalah penelitian yang ditujukan untuk mengembangkan teori, sehingga menemukan teori baru dan tidak dilakukan dengan menggunakan kaidah statistik (Moleong, 2. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria informan yang memiliki keterlibatan langsung dalam aktivitas Masjid Al-Mulk, baik sebagai pengurus, jemaah aktif, maupun warga sekitar. Lokasi penelitian bertempat di Masjid Al-Mulk Terminal Tipe A. Jl. Jalur Lingkar Selatan. Kelurahan Sudajaya Hilir. Kecamatan Baros. Kota Sukabumi. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan, yakni dari 13 September hingga 13 November 2021, dengan jumlah informan sebanyak 10 orang. Sampel yang diambil didalam penelitian ini adalah Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling yakni teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2. Teknik pengumpulan data kualitatif dilakukan teknik yang bersifat secara langsung seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi. tahapan penelitian terdiri atas empat tahap, yaitu : . tahap pra-lapangan: menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus perizinan menjajaki dan menilai keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan informan, menyiapkan perlengkapan penelitian, persoalan etika penelitian . Tahap pekerjaan lapangan meliputi: memahami konteks penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan, berperan serta sambil mengumpulkan data. Tahap analisis data, . Tahap pelaporan hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Masjid: Studi Kasus Masjid Al-Mulk Kota Sukabumi Pemberdayaan masyarakat berbasis masjid telah menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup komunitas sekitar. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan Studi kasus Masjid Al-Mulk di Terminal Tipe A Kota Sukabumi memberikan gambaran konkret tentang bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat diimplementasikan melalui masjid. Strategi Enabling: Membangun Keterlibatan Komunitas Langkah pertama dalam pemberdayaan masyarakat adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan komunitas untuk berpartisipasi aktif. Strategi ini dikenal sebagai 541 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin Vol. No. : 538-551 enabling, yaitu memberikan kesempatan dan akses kepada individu serta kelompok untuk berkontribusi dalam berbagai aspek sosial dan ekonomi (Ife & Tesoriero, 2. Dalam konteks masjid, strategi ini mencakup berbagai bentuk keterlibatan komunitas yang dapat memperkuat jaringan sosial serta meningkatkan efektivitas program pemberdayaan. Di Masjid Al-Mulk, keterlibatan berbagai komponen masyarakat, seperti pemuda, wisatawan, mahasiswa, pelajar, warga setempat, dan pemerintah lokal, menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program yang dijalankan. Pemuda, misalnya, merupakan kelompok yang memiliki energi dan inovasi tinggi sehingga dapat berperan dalam pengorganisasian kegiatan sosial, pengajaran, serta teknologi informasi. Sementara itu, kehadiran wisatawan dan musafir di sekitar masjid memberikan peluang bagi pengelola masjid untuk menawarkan layanan sosial, seperti informasi keislaman, fasilitas istirahat, serta bimbingan spiritual singkat (Azmi et al. , 2. Selain itu, mahasiswa dan pelajar yang memanfaatkan masjid sebagai ruang belajar dapat diperkuat melalui penyediaan fasilitas edukatif seperti perpustakaan mini dan akses internet gratis. Studi yang dilakukan oleh Putra . menunjukkan bahwa lingkungan yang mendukung aktivitas belajar di masjid berkontribusi terhadap peningkatan literasi keagamaan dan akademik para pelajar. Keterlibatan warga setempat juga menjadi faktor penting karena mereka memiliki keterikatan langsung dengan masjid dalam kehidupan sehari-hari. Keikutsertaan mereka dalam kegiatan sosial dan ekonomi berbasis masjid, seperti koperasi masjid dan bazar murah, dapat meningkatkan kesejahteraan komunitas sekitar (Effendy, 2. Pemerintah lokal memiliki peran dalam mendukung aktivitas masjid melalui kebijakan dan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya, dukungan dalam bentuk regulasi yang mendukung pengelolaan zakat dan infaq dapat memperkuat fungsi ekonomi masjid (Nasution & Hasan, 2. Kolaborasi antara Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan jamaah sangat krusial untuk memastikan bahwa program-program yang dijalankan berlangsung dengan aman, tertib, dan sesuai dengan visi pemberdayaan masyarakat Islam. Pengelolaan masjid yang partisipatif dan berbasis komunitas telah terbukti meningkatkan efektivitas program keagamaan dan social serta menjadi pusat kehidupan umat yang tidak hanya terbatas pada fungsi ibadah, tetapi juga dalam aspek sosial, pendidikan, dan ekonomi. Strategi Empowering: Pendidikan. Pelatihan, dan Akses Sumber Daya Strategi empowering dalam pemberdayaan masyarakat menekankan pada peningkatan kapasitas individu dan komunitas melalui pendidikan, pelatihan, dan akses terhadap sumber daya ekonomi. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dan memiliki kemampuan untuk mengelola kehidupannya dengan lebih baik. Masjid, sebagai pusat kegiatan umat Islam, memiliki peran strategis dalam menjalankan fungsi pemberdayaan ini melalui berbagai program edukatif, sosial, dan ekonomi. Di Masjid Al-Mulk, pemberdayaan masyarakat diwujudkan melalui berbagai aktivitas pendidikan dan pelatihan. Program seperti kuliah subuh, pengajian ibu-ibu PKK, halaqah Qur'an, dan les bahasa Arab dirancang untuk meningkatkan pengetahuan keislaman dan 542 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin Vol. No. : 538-551 keterampilan jamaah. Kajian keislaman yang diadakan secara rutin tidak hanya berfungsi sebagai wadah peningkatan literasi agama, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun jaringan sosial antarjamaah (Rahman, 2. Kuliah subuh, misalnya, menjadi program yang efektif dalam menyebarkan pemahaman Islam yang moderat dan mendorong partisipasi jamaah dari berbagai latar belakang (Alatas, 2. Sementara itu, pengajian ibu-ibu PKK tidak hanya membahas topik keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan keluarga, kewirausahaan, dan pendidikan anak. Studi oleh Aini . menunjukkan bahwa forum pengajian ibu-ibu berkontribusi terhadap peningkatan kesadaran perempuan Muslim dalam bidang ekonomi dan sosial. Halaqah QurAoan dan les bahasa Arab menjadi bagian penting dalam strategi literasi Islam di masjid. Menurut Aziz . , pembelajaran Al-QurAoan dan bahasa Arab di masjid membantu membangun kecintaan generasi muda terhadap Islam, serta meningkatkan pemahaman mereka terhadap ajaran agama. Dengan menyediakan akses pendidikan yang berkelanjutan, masjid dapat menjadi pusat pembinaan karakter dan spiritualitas yang kuat dalam komunitas Muslim. Selain aspek pendidikan, pemberdayaan ekonomi juga menjadi bagian penting dari strategi ini. Penyaluran zakat dan infaq kepada warga yang membutuhkan merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketimpangan ekonomi di masyarakat. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga berperan sebagai lembaga sosial yang mampu mengelola sumber daya ekonomi umat. Studi oleh Huda dan Fadhilah . menunjukkan bahwa optimalisasi pengelolaan zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) berbasis masjid dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat miskin dan dhuafa. Lebih jauh lagi, beberapa masjid telah mengembangkan program pemberdayaan ekonomi berbasis masjid, seperti koperasi syariah, pelatihan kewirausahaan, dan pemberian modal usaha kecil (Riyadi, 2. Di Masjid Al-Mulk, berbagai inisiatif seperti bazar murah dan pelatihan bisnis bagi jamaah juga mulai diterapkan sebagai upaya meningkatkan kemandirian ekonomi umat. Selain itu, penghargaan kepada petugas masjid, seperti marbot, muazin, imam, dan ustad, juga menjadi bagian dari strategi empowering. Apresiasi terhadap para petugas masjid ini bukan hanya dalam bentuk honorarium, tetapi juga melalui pengembangan keterampilan dan peningkatan kesejahteraan mereka. Penelitian oleh Iskandar . menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan petugas masjid berkontribusi terhadap pelayanan ibadah yang lebih baik, serta memotivasi mereka untuk lebih aktif dalam mengelola kegiatan sosial dan Secara keseluruhan, strategi empowering melalui pendidikan, pelatihan, dan akses terhadap sumber daya ekonomi di Masjid Al-Mulk telah berperan dalam membangun komunitas Muslim yang lebih mandiri dan berdaya saing. Dengan terus mengembangkan program-program yang berbasis literasi keislaman, keterampilan ekonomi, dan penghargaan terhadap petugas masjid, masjid dapat menjadi pusat pemberdayaan yang efektif bagi masyarakat sekitarnya. 543 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin Vol. No. : 538-551 Strategi Protecting: Menciptakan Lingkungan yang Nyaman dan Aman Strategi protecting dalam pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh anggota komunitas. Keamanan dan kenyamanan merupakan faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan program sosial dan keagamaan yang berlangsung di masjid. Lingkungan yang aman akan meningkatkan partisipasi jamaah, sedangkan lingkungan yang nyaman akan memperkuat ikatan sosial dan spiritual dalam komunitas (Aly, 2. Di Masjid Al-Mulk, upaya menciptakan kenyamanan dan keamanan jamaah dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk peningkatan fasilitas, pengamanan lingkungan, dan kerja sama dengan pihak eksternal. Salah satu langkah inovatif yang diterapkan adalah penyediaan wifi gratis bagi jamaah, terutama untuk mendukung kegiatan belajar anak-anak dari keluarga kurang mampu. Keberadaan akses internet yang stabil di masjid memungkinkan anak-anak untuk mengakses sumber belajar digital, mengikuti kelas daring, serta mendapatkan bimbingan akademik dalam lingkungan yang islami. Penelitian oleh Putra & Lestari . menunjukkan bahwa akses internet gratis di ruang publik, termasuk masjid, dapat meningkatkan literasi digital dan membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu dalam mengakses pendidikan berkualitas. Selain itu, kenyamanan jamaah juga diperhatikan melalui penyediaan ruang ibadah yang bersih dan tertata, serta fasilitas pendukung seperti ruang wudhu yang nyaman, tempat penitipan barang, dan area istirahat bagi musafir. Studi oleh Karim . mengungkapkan bahwa kualitas fasilitas masjid memiliki dampak langsung terhadap jumlah jamaah yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan. Oleh karena itu, perawatan rutin terhadap fasilitas masjid menjadi bagian dari strategi protecting untuk memastikan jamaah dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk. Dari aspek keamanan. Masjid Al-Mulk menjalin kerja sama dengan Dinas Perhubungan (DISHUB) Terminal Tipe A Kota Sukabumi guna menjaga ketertiban lalu lintas dan keamanan lingkungan selama kegiatan berlangsung. Kerja sama ini mencakup pengaturan arus kendaraan, penyediaan lahan parkir yang memadai, serta pengawasan terhadap aktivitas di sekitar area masjid. Penelitian oleh Sari . menunjukkan bahwa pengelolaan transportasi dan parkir yang baik di sekitar masjid dapat mengurangi risiko kecelakaan dan meningkatkan pengalaman beribadah jamaah. Selain pengamanan transportasi, pengawasan keamanan internal juga diperkuat dengan adanya petugas keamanan masjid yang bertugas untuk mencegah tindakan kriminal, seperti pencurian dan pelecehan, yang dapat mengganggu kenyamanan jamaah. Studi oleh Rahman . menyebutkan bahwa kehadiran petugas keamanan di masjid dapat meningkatkan rasa aman jamaah, terutama bagi perempuan dan anak-anak yang sering mengikuti kegiatan keagamaan di malam hari. Lebih lanjut. Masjid Al-Mulk juga menerapkan sistem keamanan berbasis teknologi, seperti CCTV dan pencahayaan yang memadai di area sekitar masjid, guna mengurangi potensi gangguan keamanan. Menurut Hidayat . , penggunaan teknologi dalam 544 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Vol. No. : 538-551 Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin memperkuat kepercayaan jamaah terhadap pengelolaan masjid. Aspek kenyamanan juga diperhatikan dari sisi keberlanjutan lingkungan, di mana Masjid Al-Mulk mulai mengadopsi konsep masjid ramah lingkungan dengan penggunaan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, penanaman pohon di sekitar masjid, serta penyediaan tempat minum air bersih yang dapat diakses oleh jamaah. Penelitian oleh Yusuf . menyoroti bahwa masjid yang menerapkan konsep ramah lingkungan cenderung lebih nyaman bagi jamaah dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Secara keseluruhan, strategi protecting di Masjid Al-Mulk tidak hanya bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, tetapi juga memastikan bahwa jamaah dapat menjalankan ibadah dan kegiatan sosial dengan optimal. Melalui peningkatan fasilitas, kerja sama dengan pihak eksternal, penerapan teknologi keamanan, serta pengelolaan lingkungan yang baik, masjid dapat menjadi pusat komunitas yang lebih inklusif dan Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Implementasi Pemberdayaan Masyarakat di Masjid Al-Mulk Keberhasilan program pemberdayaan masyarakat di Masjid Al-Mulk tidak terlepas dari berbagai faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi pelaksanaannya. Faktor Pendukung Keberhasilan suatu program pemberdayaan masyarakat di masjid sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung yang menciptakan lingkungan kondusif untuk keberlanjutan kegiatan. Di Masjid Al-Mulk, faktor-faktor ini mencakup legalitas dan struktur organisasi yang jelas, fasilitas pendukung, program inklusif, komunikasi yang efektif, responsivitas warga, serta akhlak pengurus yang baik. Setiap faktor ini saling berkaitan dalam membentuk ekosistem masjid yang aktif, inovatif, dan berdaya guna bagi masyarakat. Legalitas dan Struktur Organisasi yang Jelas Salah satu faktor utama yang mendukung efektivitas program di Masjid AlMulk adalah legalitas yang jelas serta struktur organisasi yang tertata. Masjid ini berbadan hukum dan memiliki pengelolaan administratif yang baik, sehingga memudahkan koordinasi dengan pihak internal maupun eksternal, termasuk dengan pemerintah dan lembaga sosial lainnya. Menurut penelitian oleh Hidayat . , masjid yang memiliki legalitas resmi dan struktur organisasi yang jelas lebih mudah mengakses bantuan dari pemerintah dan lembaga filantropi, serta lebih efektif dalam pengelolaan keuangan dan kegiatan sosial. Keberadaan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) sebagai struktur pengelola utama juga menjadi aspek penting dalam memastikan program dapat berjalan dengan baik. DKM bertanggung jawab dalam merancang, mengelola, dan mengevaluasi program-program masjid. Penelitian oleh Arifin . menunjukkan bahwa keberadaan DKM yang profesional dan transparan dapat meningkatkan 545 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin Vol. No. : 538-551 kepercayaan jamaah terhadap masjid serta mendorong lebih banyak keterlibatan komunitas dalam kegiatan keagamaan dan sosial. Fasilitas Pendukung yang Memadai Keberadaan fasilitas yang memadai menjadi daya tarik utama bagi masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan masjid. Salah satu inovasi yang diterapkan di Masjid Al-Mulk adalah penyediaan wifi gratis, yang secara signifikan menarik minat masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja, untuk datang ke masjid. Studi oleh Yusuf & Lestari . menunjukkan bahwa akses internet gratis di ruang publik, termasuk masjid, dapat meningkatkan literasi digital dan memfasilitasi kegiatan belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Selain wifi, fasilitas lain seperti perpustakaan mini, ruang serbaguna, serta tempat wudhu dan toilet yang bersih juga berkontribusi dalam menciptakan kenyamanan jamaah. Menurut penelitian oleh Nugroho . , fasilitas masjid yang memadai memiliki dampak positif terhadap jumlah jamaah yang hadir serta meningkatkan partisipasi mereka dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Program yang Inklusif Keberhasilan pemberdayaan masyarakat di masjid juga sangat bergantung pada seberapa inklusif program yang diselenggarakan. Di Masjid Al-Mulk, program dirancang agar dapat diikuti oleh berbagai kelompok usia dan latar belakang. Program-program seperti pengajian ibu-ibu PKK, halaqah QurAoan untuk remaja, kajian keislaman untuk mahasiswa, serta bimbingan belajar bagi anak-anak memastikan bahwa setiap kelompok masyarakat mendapatkan manfaat dari keberadaan masjid. Menurut penelitian oleh Rahmawati . , masjid yang memiliki program inklusif lebih berpotensi menjadi pusat kegiatan sosial yang dapat mempererat hubungan antarwarga serta meningkatkan partisipasi komunitas dalam kegiatan berbasis keagamaan. Dengan demikian, program yang fleksibel dan dapat diakses oleh semua kalangan menjadi kunci utama dalam menciptakan masjid yang hidup dan dinamis. Komunikasi dan Kerjasama yang Baik Efektivitas program di Masjid Al-Mulk juga ditunjang oleh komunikasi yang baik antara pengurus masjid, jamaah, dan komunitas sekitar. Hubungan harmonis antara DKM, remaja masjid, serta tokoh masyarakat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pelaksanaan berbagai program. Selain komunikasi internal, kerjasama dengan berbagai pihak eksternal seperti pemerintah daerah, akademisi, serta organisasi sosial juga memainkan peran penting dalam mendukung keberlanjutan program masjid. Penelitian oleh Sari . menegaskan bahwa masjid yang memiliki jaringan kemitraan yang kuat dengan berbagai lembaga lebih mampu bertahan dalam jangka panjang dan dapat mengakses sumber daya yang lebih luas untuk mendukung programnya. Responsivitas Warga terhadap Program Masjid 546 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin Vol. No. : 538-551 Keberhasilan program di Masjid Al-Mulk juga sangat dipengaruhi oleh antusiasme dan respons positif warga sekitar. Sosialisasi program dilakukan secara efektif melalui grup WhatsApp dan media sosial, sehingga jamaah dapat dengan mudah memperoleh informasi terkait kegiatan yang sedang dan akan berlangsung. Menurut studi oleh Fitriani . , penggunaan media sosial dalam sosialisasi program masjid dapat meningkatkan tingkat keterlibatan jamaah hingga 40% lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi komunikasi yang tepat dapat memperkuat keterikatan masyarakat dengan masjid serta meningkatkan partisipasi dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Akhlak Pengurus yang Baik dan Teladan bagi Jamaah Faktor terakhir yang tidak kalah penting dalam mendukung keberhasilan program masjid adalah akhlak pengurus yang baik. Pengurus DKM di Masjid AlMulk dikenal memiliki kepribadian yang santun, ramah, dan amanah, sehingga mereka mendapatkan kepercayaan penuh dari jamaah dan masyarakat sekitar. Menurut penelitian oleh Hamid . , jamaah lebih cenderung aktif berpartisipasi dalam kegiatan masjid yang dipimpin oleh pengurus yang memiliki akhlak baik dan kepemimpinan yang transparan. Sikap ramah dan penuh kepedulian dari pengurus juga menciptakan ikatan emosional yang kuat antara jamaah dan masjid, yang pada akhirnya mendorong lebih banyak orang untuk terlibat dalam berbagai kegiatan. Faktor Penghambat Dalam menjalankan kegiatan keagamaan dan sosial. Masjid Al-Mulk menghadapi beberapa tantangan yang dapat menghambat efektivitas program-programnya. Beberapa faktor penghambat ini mencakup keterbatasan dana, isu keamanan, serta kurangnya perhatian dari pemerintah. Keterbatasan Dana Salah satu kendala utama dalam pengelolaan Masjid Al-Mulk adalah keterbatasan sumber daya keuangan. Masjid ini bergantung pada sumbangan dari individu dan sebagian kecil bantuan dari pemerintah, yang sering kali tidak mencukupi untuk kebutuhan operasional maupun pengembangan fasilitas. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hamid . , masjid-masjid di Indonesia umumnya mengandalkan dana dari infaq dan sedekah jamaah, yang sifatnya tidak tetap dan cenderung fluktuatif tergantung pada kondisi ekonomi masyarakat sekitar. Keterbatasan dana ini berdampak pada berbagai aspek, seperti: Pemeliharaan dan renovasi masjid: Tanpa anggaran yang memadai, masjid sulit melakukan perbaikan atau pengembangan infrastruktur. Padahal, menurut penelitian dari Kementerian Agama . , fasilitas yang baik dapat meningkatkan kenyamanan jamaah dan menarik lebih banyak partisipasi 547 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin Vol. No. : 538-551 Penyelenggaraan kegiatan keagamaan dan sosial: Program-program pendidikan Islam, bakti sosial, dan kajian keagamaan membutuhkan biaya operasional, seperti konsumsi, honorarium pembicara, serta alat pendukung. Keterbatasan anggaran dapat menghambat kelancaran program ini. Kesejahteraan pengurus masjid: Banyak pengurus masjid bekerja secara sukarela atau dengan insentif yang sangat minim. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mempengaruhi motivasi dan kesinambungan pengelolaan masjid (Syaifullah. Untuk mengatasi keterbatasan dana, beberapa masjid di Indonesia telah menerapkan strategi seperti membentuk unit usaha berbasis masjid, menggalang donasi digital, serta membangun kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan lembaga filantropi Islam (Baznas, 2. Keamanan Faktor keamanan juga menjadi tantangan serius bagi Masjid Al-Mulk karena lokasinya yang berada di dalam terminal. Masjid yang terletak di tempat umum atau area publik sering kali menghadapi risiko kejahatan, seperti pencurian barang milik jamaah atau aset masjid. Meskipun CCTV telah dipasang dan terdapat pemberitahuan bagi jamaah untuk berhati-hati, masalah keamanan masih menjadi perhatian utama. Studi oleh Kurniawan . tentang keamanan masjid di ruang publik menunjukkan bahwa masjid yang berlokasi di terminal, stasiun, atau pasar cenderung lebih rentan terhadap tindakan kriminal dibandingkan dengan yang berada di lingkungan pemukiman. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keamanan antara . Peningkatan sistem keamanan: Selain CCTV, diperlukan petugas keamanan atau relawan yang bertugas menjaga keamanan masjid, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti shalat berjamaah. Koordinasi dengan pihak kepolisian dan pengelola terminal: Kolaborasi dengan pihak keamanan setempat dapat meningkatkan pengawasan terhadap area masjid. Sosialisasi kepada jamaah: Meningkatkan kesadaran jamaah untuk menjaga barang pribadi serta ikut serta dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman. Kurangnya Perhatian Pemerintah Masalah lain yang menjadi kendala dalam pengelolaan Masjid Al-Mulk adalah minimnya perhatian dari pemerintah, terutama dalam aspek perawatan dan renovasi bangunan masjid. Beberapa masjid yang berada di lokasi strategis atau memiliki nilai sejarah sering mendapatkan bantuan dari pemerintah, tetapi masjid-masjid kecil di area publik seperti terminal sering kali luput dari perhatian. Menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mendukung pengelolaan dan pengembangan aset wakaf, termasuk masjid. Namun, pada praktiknya, banyak masjid yang harus 548 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Vol. No. : 538-551 Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin mengandalkan swadaya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan renovasi dan pemeliharaan bangunan (Kementerian Agama, 2. Dampak dari kurangnya perhatian pemerintah terhadap masjid dapat terlihat dalam beberapa aspek berikut: Kerusakan bangunan: Jika tidak segera direnovasi, kondisi bangunan yang semakin menurun dapat mengurangi kenyamanan jamaah dan bahkan berpotensi membahayakan keselamatan. Keterbatasan fasilitas: Masjid yang tidak mendapatkan dukungan pemerintah cenderung memiliki fasilitas yang kurang memadai, seperti toilet, tempat wudhu, dan ruang serbaguna yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan. Minimnya program pemberdayaan masyarakat: Pemerintah dapat berperan dalam kewirausahaan bagi jamaah atau program pendidikan keagamaan bagi anak-anak dan remaja. Untuk mengatasi hal ini, pengurus Masjid Al-Mulk dapat mengajukan proposal bantuan kepada instansi terkait, baik di tingkat daerah maupun nasional. Selain itu, menjalin kemitraan dengan lembaga filantropi Islam, seperti Baznas atau Dompet Dhuafa, juga dapat menjadi alternatif dalam memperoleh dukungan finansial untuk renovasi dan pengembangan fasilitas masjid. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai Implementasi Pemberdayaan Masyarakat berbasis Masjid, dapat disimpulkan bahwa implementasi pemberdayaan masyarakat mencakup tiga aspek utama, yaitu enabling, empowering, dan protecting. Aspek enabling bertujuan untuk menciptakan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal dan kondusif. Aspek empowering berfokus pada langkah-langkah nyata untuk memperkuat potensi masyarakat melalui partisipasi aktif dalam pelaksanaan program yang produktif dan berkesinambungan. Sedangkan aspek protecting bertujuan untuk melindungi dan membela pihak yang lemah, serta mengelola konflik baik secara internal maupun eksternal dengan efektif. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat berbasis masjid diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan sosial Faktor pendukung dalam implementasi pemberdayaan masyarakat di Masjid Al-Mulk antara lain terletak pada kemampuan masjid dalam menjangkau warga sekitar, khususnya mahasiswa/i dari kampus terdekat, serta pengunjung terminal secara umum. Remaja SAHAQU berperan sebagai penggerak utama kegiatan di masjid dan diberikan kebebasan oleh Ketua DK Masjid Al-Mulk untuk menjalankan aktivitas tersebut. Hubungan baik yang terjalin secara online dan offline juga turut memperkuat pengaruh positif masjid ini. Fasilitas seperti wifi menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung dan jamaah. Namun, terdapat beberapa faktor penghambat, di antaranya stabilitas keuangan yang tidak menentu karena ketergantungan pada dana pribadi dan pemerintah yang terbatas. Selain itu, masalah 549 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin Vol. No. : 538-551 keamanan juga menjadi perhatian karena rawannya pencurian, mengingat lokasi masjid yang berada di Terminal Tipe A yang ramai dengan pendatang dari berbagai daerah. Meskipun DKM Masjid Al-Mulk telah memasang CCTV dan memberikan peringatan mengenai kewaspadaan terhadap barang bawaan, masjid ini masih memerlukan perhatian lebih dari pemerintah, khususnya terkait kondisi bangunan yang membutuhkan pembenahan. DAFTAR RUJUKAN Al-Atsqolani. Pilo. , & Mallongi. Pemberdayaan Ekonomi Masjid dalam Perspektif Ekonomi Syariah. Qanun: Journal of Islamic Laws and Studies, 2. , 222-227. Aini. Pengajian Ibu-Ibu sebagai Wadah Pemberdayaan Perempuan Muslim di Indonesia. Jurnal Pendidikan Islam, 5. , 112-130. Aly. Creating a Safe and Comfortable Mosque Environment for Worshippers: a Sociological Perspective. Journal of Islamic Studies, 7. , 89-102. Arifin. Manajemen Dewan Kemakmuran Masjid dalam Meningkatkan Partisipasi Jamaah. Jurnal Manajemen Islam, 6. , 112-128. Azmi. Abdurrazaq. Sobirin. Strategi Dakwah Ikatan Remaja Masjid Roudhotul Jannah Islamic Center Syekh Abdul Manan Indramayu. Journal of Islamic Studies 1. , 558567. Aziz. Pembelajaran Bahasa Arab dan Al-QurAoan di Masjid: Studi Kasus di Pesantren Masjid Raya. Jurnal Ilmu Keislaman, 8. , 98-115. Baznas. Strategi Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Masjid. Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional. Darmayanti. Akulturasi Budaya Kompleks Masjid Agung Banten. Bandung: Penerbit Widina. Effendy. Islam dan Masyarakat: Pemberdayaan Sosial dalam Perspektif Islam. Jakarta: Penerbit Republika. Fitriani. Peran Media Sosial dalam Peningkatan Keterlibatan Jamaah di Masjid Perkotaan. Jurnal Komunikasi Islam, 7. , 55-72. Hamid. Peran Infaq dan Sedekah dalam Pembiayaan Operasional Masjid. Jurnal Ekonomi Islam, 15. , 45-60. Hamid. Kepemimpinan dan Akhlak Pengurus Masjid dalam Meningkatkan Keterlibatan Jamaah. Islamic Leadership Journal, 4. , 89-105. Hidayat. Legalitas dan Tata Kelola Masjid: Studi Kasus di Indonesia. Jurnal Hukum Islam, 8. , 45-63. Hidayat. Technology-Based Security Systems in Mosques: Enhancing Safety and Worship Comfort. Journal of Islamic Architecture, 5. , 55-68. Ife. , & Tesoriero. Community Development: Community-Based Alternatives in an Age of Globalisation. Pearson Education Australia. Iskandar. Kesejahteraan Petugas Masjid dan Pengaruhnya terhadap Kinerja Sosial Keagamaan. Jurnal Sosiologi Islam, 14. , 77-95. 550 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Jihan Zahrotul Layyina. Ahmad Asrof Fitri. Sobirin Vol. No. : 538-551 Ismaniar. Pengembangan Masyarakat Islam dalam Meningkatkan Kesejahteraan Jamaah Masjid (Doctoral Dissertation. UIN Sunan Gunung Djati Bandun. Kaaffah. Fajrussalam. Rahmania. Ningsih. Rhamadan. , & Mulyanti. Menumbuhkan Sikap Toleransi antar Agama di Lingkungan Multikultural kepada Anak sesuai Ajaran Agama Islam. JPG: Jurnal Pendidikan Guru, 3. , 289-314. Karim. The Role of Mosque Facilities in Enhancing WorshipersAo Engagement and Spiritual Experience. Islamic Community Studies, 9. , 112-128. Kementerian Agama. Laporan Tahunan Pengelolaan Masjid di Indonesia. Jakarta: Kemenag RI. Kementerian Agama. Pedoman Pengelolaan Wakaf dan Aset Keagamaan. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimas Islam. Kurniawan. Keamanan Masjid di Ruang Publik: Studi Kasus di Stasiun dan Terminal. Jurnal Keamanan Publik, 8. , 33-47. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nasution. , & Hasan. Peran Zakat dalam Pembangunan Ekonomi Umat Berbasis Masjid. Jurnal Ekonomi Islam, 13. , 113-128. Nugroho. Fasilitas Masjid dan Dampaknya terhadap Keterlibatan Jamaah. Journal of Islamic Architecture, 5. , 77-91. Putra. , & Lestari. The Impact of Free Internet Access in Public Spaces on Digital Literacy among Underprivileged Children. Digital Education Journal, 6. , 45-60. Rahman. Security in Mosques: Ensuring a Safe Worship Environment for Women and Children. Journal of Islamic Society, 8. , 77-93. Rahman. Pemberdayaan Masyarakat melalui Pendidikan Keagamaan di Masjid. Jurnal Studi Islam, 10. , 34-50. Rahmawati. Program Inklusif dalam Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Masjid. Jurnal Sosial Islam, 9. , 99-120. Riyadi. Koperasi Syariah Berbasis Masjid dan Perannya dalam Penguatan Ekonomi Umat. Jurnal Ekonomi Syariah, 6. , 55-78. Sari. Transport Management around Mosques: a Study on Traffic and Parking Solutions. Urban Mobility Journal, 11. , 34-49. Sari. Kemitraan Masjid dengan Lembaga Sosial dalam Peningkatan Keberlanjutan Program Keagamaan. Islamic Community Studies, 10. , 67-88. Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabet. Syaifullah. Motivasi Pengurus Masjid dalam Mengelola Kegiatan Keagamaan. Jurnal Studi Islam, 10. , 78-92. Umar. Pemberdayaan Umat Berbasis Masjid. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Yunus. Kamus Bahasa Arab Indonesia. Jakarta: Fokus Media. 551 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S