e-ISSN 2746-3656 doi: https://doi. org/10. 24114/jfi. Jurnal Fibonaci Volume 05. : 1 - 7, 2024 Meningkatkan Kemampuan Spasial: Pengalaman Implementasi Pendidikan Matematika Realistik dengan Pola Interaksi Edukatif Rewang Denny Haris1*. Chairunisah2 Universitas Negeri Medan. Jalan Willem Iskandar Pasar V Medan Estate 20221. Indonesia E-mail: 1*dennyharis@unimed. id , 2nisaharis08@unimed. Diterima 11 Juli 2024, disetujui untuk publikasi 26 November 2024 Abstrak. Kemampuan spasial memiliki kontribusi yang berpengaruh terhadap pembelajaran matematika di SMP. Tersedianya pendekatan-pendekatan pembelajaran inovatif memberikan kesempatan pada guru untuk mengembangkan strategi pembelajarannya untuk mendukung kemampuan spasial ini. Penelitian ini mengkaji peningkatan kemampuan spasial dan proses jawaban siswa dalam menyelesaikan masalah spasial sebagai pengaruh implementasi pendekatan pembelajaran matematika realistik dengan pola interaksi edukatif rewang. Penelitian ini merupakan eksperimentasi yang melibatkan siswa SMPN 1 Percut Sei Tuan sebagai subjek penelitian dan tes kemampuan spasial sebagai instrumen penelitian. Penelitian ini menguraikan proses jawaban siswa yang dianalisis secara deskriptif melalui lembar jawaban siswa pada tes kemampuan spasial. Berdasarkan pendekatan pembelajaran, hasil penelitian mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan spasial siswa yang belajar dengan pendekatan pendidikan matematika realistik dengan pola interaksi edukatif rewang lebih baik bila dikomparasi dengan kemampuan spasial siswa yang belajar secara konvensional. Berdasarkan proses jawaban, kontribusi pembelajaran matematika realistik telah memampukan siswa dalam menyelesaikan permasalahan spasial. [MENINGKATKAN KEMAMPUAN SPASIAL: PENGALAMAN IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK DENGAN POLA INTERAKSI EDUKATIF REWANG] (Jurnal Fibonaci, 05. : 1 7, 2. Kata Kunci: Kemampuan Spasial. Pendidikan Matematika Realistik. Rewang Pendahuluan National Research Council menyatakan bahwa konsep berpikir spasial merupakan kumpulan keterampilan pada konsep keruangan, representasi dan penalaran untuk memahami gambar bangun geometri dimana komponen pentingnya adalah kemampuan Orientasi spasial, rotasi mental, dan visualisasi spasial merupakan indikator penting dalam mendukung kemampuan spasial (Lowrie et al. , 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan spasial dapat meningkatkan hasil belajar siswa (Syahputra, 2013. Achdiyat & Utomo, 2018. Suryati & Adnyana, 2. Hal ini menjadikan kemampuan ini menjadi konteks kajian penting dalam kurikulum nasional dengan matematika di kelas mulai dari level sekolah dasar sampai level perguruan tinggi (Septia et al. Sudirman & Alghadari, 2. Dalam matematika, kemampuan spasial ini sangat penting dalam menopang pemahaman siswa dalam kajian mengilustrasikan, menentukan Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Medan membandingkan objek geometri (Syahputra. Sudirman & Alghadari, 2. Kemampuan ini memerlukan proses belajar yang tidak singkat. Hal ini menguatkan agar siswa perlu dipersiapkan dan dilatih untuk menumbuhkan kemampuan spasialnya yang sangat berguna dalam memahami dan memecahkan masalah geometris baik dari konteks hubungan lintas bidang studi maupun dalam konteks kehidupan manusia sehari-hari. Geometri sebagai materi penting yang dibelajarkan di kelas tidak terpisah dari cara bagaimana konsep geometri itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa (Umam & Supiat. Geometri merupakan materi matematika yang paling banyak diaplikasikan dalam kehidupan manusia, sehingga materi ini menjadi materi yang penting untuk dibelajarkan di kelas (Nasution, 2017. Maulani & Zanthy, 2020. Namun, materi geometri masih menjadi materi yang dihindari siswa karena tingkat kesulitan dan keabstrakannya (Nurhikmayati, 2. Kesulitan siswa dalam memahami objek geometri lebih disebabkan rendahnya kemampuan siswa berpikir spasial (Syahputra, 2. Beberapa Meningkatkan Kemampuan Spasial: Pengalaman Implementasi Pendidikan Matematika Realistik dengan Pola Interaksi Edukatif Rewang interaktivitas siswa dapat mengurangi degradasi permasalahan pada kemampuan matematis nilai-nilai budaya akibat dampak modernisasi. kebanyakan disebabkan oleh pembelajaran yang Pola interaksi sosial rewang merupakan suatu tidak bersifat konstruktif (Konita et al. , 2019. kearifan lokal yang ada pada kehidupan sosial Harefa et al. , 2020. Iswara& Sundayana, 2. masyarakat Jawa-Sumatera. Pola interaksi sosial Pembelajaran matematika terlebih pada materi dapat ditawarkan menjadi suatu inovasi geometri lebih didominasi pada penggunaan pembelajaran matematika di kelas karena pola ini rumus-rumus sebagai prosedur penyelesaian akan membangkitkan cara berkomunikasi siswa Oleh karena itu, pembelajaran pada suatu permasalahan sehingga terbangun matematika memerlukan suatu pendekatan yang menekankan kolaborasi dan kontribusi siswa merefleksikan dan memecahkan permasalahan. dalam mengkonstruksi pemahamannya dalam Proses ini dapat membangun kesempatan siswa menyelesaikan masalah. Alternatif pendekatan dalam berkomunikasi, berargumentasi dan bertukar ide tentang hasil kerja mereka. Oleh permasalahan ini adalah pembelajaran dengan karena itu, penelitian ini menjadikan pola pendekatan pendidikan matematika realistik. interaksi sosial rewang menjadi pola interaksi Pendidikan edukatif yang terintegrasi dalam pendekatan merupakan suatu inovasi cara pandang pembelajaran matematika realistik. pembelajaran matematika yang mengacu oleh Beberapa penelitian yang telah dilakukan pemikiran Freudenthal. Teori pendekatan ini lahir mendokumentasikan eksplorasi pendekatan di Belanda pada tahun 1970 dan dikembangkan Freudenthal Institute. Freudenthal mendukung kemampuan spasial siswa. Salah satu mengatakan bahwa matematika harus bernilai penelitian yang dilakukan oleh (Noviani et al. manusiawi yang terhubung dengan realitas atau 2. memuat evaluasi kemampuan spasial siswa fakta dan dirassa dekat dan relevan dengan melalui pendekatan matematika realistik. kehidupan sosial anak-anak (Van den HeuvelKesimpulan Panhuizen, 1. Pendekatan pembelajaran ini mengindetifikasi tingkat kemampuan spasial siswa yang diajar dengan pendekatan pendidikan mengkonstruksi pemahamannya dalam belajar matematika realistik yang lebih tinggi Freudenthal . mengemukakan dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan bahwa Aumathematics as human activityAy. Aktivitas pembelajaran biasa. Namun penelitian tersebut ini merupakan upaya yang dilakukan melalui tidak memuat keterlibatan aspek budaya dalam persoalan realistik dengan berbagai situasi. Pendekatan pembelajaran memiliki prinsip dan menstimulus fungsi mental siswa dalam belajar karakteristik yang mampu membangun suasana belajar matematika. Penelitian tersebut juga tidak belajar dimana siswa berperan aktif dalam memuat bagaimana dampak pengintegrasian pola menemukan kembali konsep-konsep matematika interaksi edukatif ke dalam pendekatan formal (Meryansumayeka et al. , 2018. Haris, 2. pendidikan matematika realistik. Berdasarkan ide Interaktivitas merupakan salah satu di atas, penelitian ini mengimplementasikan prinsip yang terkandung dalam karaktersitik pendekatan pendidikan matematika realistik pendidikan matematika realistik. Proses belajar dengan pola interaksi edukatif rewang untuk matematika seharusnya merupakan proses yang meningkatkan kemampuan spasial siswa. Tujuan melibatkan konteks sosial, bukan aktivitas implementasi ini adalah untuk mendeskripsikan tunggal (Treffer, 1999a. Fauzan, 2. Konteks sejauh mana peningkatan kemampuan spasial sosial yang dapat digunakan untuk menunjang siswa ditinjau dari proses jawaban siswa dalam interaktivitas siswa adalah dengan melibatkan Budaya merupakan hasil karsa manusia baik berupa pemikiran, usaha, sistem nilai, dan matematika realistik. sistem sosial yang dapat dilibatkan dalam pembelajaran matematika (Sinaga, 2. Metode Penelitian Pembelajaran matematika dapat dipresentasikan melalui budaya dengan melihat sistem nilai dan Kuasi eksperimen dipilih sebagai metode sistem sosialnya. Revina & leung . dalam penelitian ini dengan menggunakan desain kelompok kontrol non-ekuivalen. Sampel yang mempengaruhi cara pandang dan belajar siswa dipilih dalam penelitian ini adalah 2 kelas dari pada matematika. Kesenjangan anatara konten siswa kelas Vi SMPN Percut Sei Tuan. Masingpelajaran matematika dan realitas kehidupan masing kelas memiliki siswa sebanyak 30 orang siswa dapat dikurangi dengan mengahadirkan dengan ketentuan yaitu satu kelas eksperimen pembelajaran bermakna yang dekat dengan mendapat pembelajaran matematika realistik budaya dan tradisi siswa (Ramadhani et al. , 2. dengan pola interaksi edukatif rewang dan satu Selain itu, pelibatan konteks budaya pada Jurnal Fibonaci C Volume 05 C Nomor 2 C Juli - Desember 2024 Denny Haris. Chairunisah kelas kontrol mendapat pembelajaran secara Topik geometri dipilih sebagai ruang lingkup materi yang diajarkan di kelas. Variabel bebas dan variabel terikat merupakan variabel yang diukur dalam penelitian Variabel bebasnya adalah pembelajaran matematika realistik dan pembelajaran secara konvensional, sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan spasial. Penelitian ini juga melibatkan variabel penyerta yaitu kemampuan awal siswa yang dilakukan dengan tes awal. Penelitian ini menggunakan tes kemampuan spasial, lembar observasi dan lembar kerja siswa sebagai instrumen penelitian. Data kemampuan spasial dianalisis secara deskriptif berdasarkan Data peningkatan kemampuan spasial sebelum dan sesudah untuk kedua pendekatan pembelajaran dianalisis dengan membandingkan gain ternomalisasi (N-Gai. Data proses jawaban siswa dianalisis secara deskriptif dalam bentuk lembar jawaban siswa pada tes kemampuan spasial. Penilaian setiap butir soal mengacu kepada kriteria pedoman penilaian hasil kerja siswa dengan melihat altenatif penyelesaian masalah, kesalahan-kesalahan pada jawaban, dan indikator kemampuan spasial. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Penelitian ini melakukan tes kemampuan spasial melalui tes awal dan tes akhir untuk melihat komparasi peningkatan kemampuan berdasarkan pendekatan pembelajaran yang Tes kemampuan spasial ini melibatkan 30 siswa untuk masing-masing kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan pendekatan pembelajaran yang berbeda. Data hasil analisis deskriptif ketuntasan tes kemampuan spasial menekankan bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar geometri melalui pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik berpola interaksi edukatif rewang. Tabel 1 menunjukkan komparasi kemampuan spasial antara pembelajaran dengan pendekatan . elas eksperime. dengan pembelajaran secara konvesional . elas kontro. ditinjau dari ketuntasan minimal. Jurnal Fibonaci C Volume 05 C Nomor 2 C Juli - Desember 2024 Tabel 1. Data Komparasi Ketuntasan Hasil Tes Kemampuan Spasial Pendekatan Pembelajaran Deskripsi Matematika Konvensional Realistik Rata-rata skor tes Rata-rata skor tes Jumlah Persentase Ketuntasan Data peningkatan sebesar 10 poin pada kelas dengan pembelajaran matematika realistik dengan pola interaksi edukatif rewang dari 30. 27 ke 40. Selisih ini lebih besar dari kelas dengan pembelajaran konvensional yang hanya terjadi peningkatan sebesar 5. 24 poin dari 30. 43 ke 35. Selain itu data persentase ketuntasan minimal menunjukkan bahwa jumlah siswa melalui pembelajaran dengan pendekatan pendidikan matematika realistik mampu melebihi dari 85% dengan skor maksimum lebih dari 36. Persentase ketuntasan ini lebih besar dari ketuntasan siswa dengan pembelajaran secara konvensional dengan selisih 40%. Oleh karena itu, ditinjau dari persentase ketuntasan minimal peningkatan kemampuan spasial siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan pendidikan matematika realistik dengan pola interaksi edukatif rewang lebih baik daripada siswa dengan pembelajaran yang dilakukan secara Data tabel 2 menunjukkan analisis data berdasarkan N-Gain kemampuan spasial. Ratarata skor awal kemampuan spasial siswa hampir sama antara siswa yang belajar dengan pendekatan pendidikan matematika realistik dengan pola interaksi edukatif rewang dan pembelajaran konvensional yaitu 30. 27 dan 30. Namun, setelah proses pembelajaran dengan masing-masing dilakukan terjadi perbedaan kemampuan spasial Rata-rata skor akhir kemampuan spasial siswa dengan pendekatan matematika realistik terjadi peningkatan sebesar 0. 52 dengan peningkatan skor naik menjadi 40, 27. Sedangkan mengalami kenaikkan sebasar 0. 27 dengan peningkatan skor 35. Hasil ini menunjukkan Meningkatkan Kemampuan Spasial: Pengalaman Implementasi Pendidikan Matematika Realistik dengan Pola Interaksi Edukatif Rewang N-Gain Rata-rata skor Simpangan Baku Keteranan: TAKS1: Tes awal kemampuan spasial TAKS2: Tes akhir kemampuan spasial Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Konvensional TAKS1 TAKS2 N-Gain TAKS1 TAKS2 35,67 Deskripsi Tabel 2. Perbandingan Data Kemampuan Spasial Siswa Berdasarkan Pendekatan Pembelajaran ada fenomena peran pendidikan matematika realistik dengan pola interaksi edukatif rewang dalam meningkatkan kemampuan spasial siswa. siswa bervariatif dan lebih baik melalui pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik dengan pola interaksi edukatif rewang bila dikomparasi dengan pembelajaran yang dilaksanakan secara konvensional. Penelitian ini menganalisis keragaman proses jawaban siswa berdasarkan kriteria 3 indikator kemampuan spasial, yaitu visualisasi spasial . patial orientatio. , dan relasi spasial . patial relatio. Sajian berikut mengeleaborasi proses jawaban siswa dalam menyelesaikan permasalahan. Berikut ini salah satu cuplikan masalah yang Jaring suatu bangun ruang memiliki 10 bagian Kemungkinan bangun ruang apa yang terbentuk? Gambarkan. Permasalahan yang diberikan kepada siswa ini sengaja tidak diawali dengan memberikan gambar jaring seperti soal kebanyakan. Bentuk permasalahan yang terbuka ini memberikan peluang kepada siswa untuk menghasilkan jawaban yang beragam. Pada kelas dengan pembelajaran matematika realistik dengan pola interaksi edukatif rewang terdapat beberapa jawaban variatif yang dilakukan siswa. Beberapa siswa di kelas ini memilih untuk membentuk suatu poligon dengan semibilan sisi dan sembilan sudut. Selanjutnya mereka memasangkan sembilan segitiga dengan poligon tersebut. Gambar 1 menunjukkan alternatif proses jawaban yang dilakukan siswa. Gambar 1. Bangun limas sebagai alternatif jawaban Setelelah pembelajaran dengan pendekatan Pada permasalahan yang diberikan ini mengukur kemampuan spasial pada indikator konvensional diterapkan di masing-masing kelas spatial visualization dan spatial orientation. Kedua eksperimen dan kontrol, selanjutnya dilihat kelas dengan pendekatan berbeda memiliki bagaimana proses jawaban siswa ditinjau dari tes penyelesaian berbeda untuk permasalahan ini. akhir kemampuan spasial siswa. Lembar jawaban Pada kelas pembelajaran matematika realistik tes akhir siswa dianalisis untuk melihat gambaran dengan pola interaksi edukatif rewang terdapat umum cara penyelesaian siswa berdasarkan siswa mampu menyelesaikan permasalahan ini pendekatan pembelajaran yang dilalui. Data dengan membayangkan hubungan antara satu komparasi berdasarkan kedua pendekatan bangun dengan bangun datar yang lain. pembelajaran menunjukkan bahwa hasil jawaban Selanjutnya pembayangan posisi-posisi segitiga Jurnal Fibonaci C Volume 05 C Nomor 2 C Juli - Desember 2024 Denny Haris. Chairunisah dengan poligon sembilan sisi yang dilakukan siswa menentukan limas sebagai bentuk bangun Alternatif jawaban lain dari siswa yang belajar dengan pembelajaran matematika realistik menunjukkan bahwa mereka mampu memilih bangun ruang lain yang berbeda dari siswa yang memilih limas sebagai pilihannya. Siswa-siswa ini memilih bangun ruang prisma segi delapan sebagai pilihannya. Mereka membentuk 2 poligon delapan sisi . yang saling Selanjutnya mereka menghubungkan oktagon pertama dengan delapan persegi Gambar 2 menunjukkan oktagon kedua dirangkai menjadi jaring-jaring prisma yang terhubung dengan oktagon pertama dengan delapan persegi panjang. Keputusan siswa memilih prisma segi delapan menunjukkan bahwa kemampuan visualisasi spasial siswa sudah baik. Gambar 2. Bangun prisma segi delapan sebagai alternatif jawaban siswa Data menunjukkan bahwa tidak semua siswa di kelas yang belajar secara konvensional dapat menyelesaikan tes kemampuan spasial yang Hanya satu siswa pada kelas dengan pembelajaran secara konvensional yang dapat menyelesaikan persoalan menentukan bangun ruang dengan 10 bagian terpisah ini. Gambar 3 menggambarkan bagaimana siswa pada kelas ini memiliki jawaban berbeda dengan membentuk 10 persegi panjang yang terpisah. Proses jawaban siswa ini didasari oleh kebiasan permasalahan yang diberikan hanya sebatas dari jaring-jaring Dampak dari proses ini menjadikan daya visual spasial siswa terbatas hanya pada jaringjaring kubus atau balok. Jurnal Fibonaci C Volume 05 C Nomor 2 C Juli - Desember 2024 Gambar 3. Balok sebagai alternatif jawaban siswa Proses jawaban siswa dalam penelitian ini mengukur kemampuan spasial. Jawaban yang diberikan siswa memiliki cara dan hasil yang Pada kelas dengan pembelajaran pendidikan matematika realistik dengan pola interaksi edukatif rewang lebih banyak siswa mampu mengidentifikasi kebutuhan dalam menggambar bangun. Kemampuan ini berbeda jauh dengan siswa yang belajar secara Aktivitas yang dibangun di kelas dengan pembelajaran matematika realistik mampu mengkonstruk daya visual spasial ketika memandang dari sudut pandang tertentu posisi bangun ruang yang terbentuk. Pembahasan Penelitian ini fokus pada evaluasi peningkatan kemampuan spasial antara kelas eksperimen dengan menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik dengan pola interaksi edukatif rewang dan kelas kontrol konvensional dengan melibatkan 30 siswa untuk masing-masing kelompok. Hasil analsis deskriptif tes kemampuan spasial dengan fokus pada ketuntasan belajar geometri menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara kedua kelompok tersebut. Kelompok eksperimen dimana siswa yang mengikuti pembelajaran matematika realistik dengan pola peningkatan yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol yang menerima pembelajaran konvensional. Ditinjau dari peningkatan jumlah siswa yang tuntas, hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas pembelajaran matematika realistik dengan pola interaksi edukatif rewang ketuntasan siswa dalam belajar geometri sebesar 10 poin. Hasil ini di atas dari peningkatan pada kelas kontrol yang hanya Meningkatkan Kemampuan Spasial: Pengalaman Implementasi Pendidikan Matematika Realistik dengan Pola Interaksi Edukatif Rewang mengalami peningkatan sebasar 5, 24 poin. dapat menjadi alternatif yang efektif dalam Selain itu persentase ketuntasan minimal meningkatkan kemampuan spasial siswa. menunjukkan bahwa kelompok eksperimen Pengintegrasian pendekatan ini memiliki selisih yang lebih besar sekitar 40% dari kelompok kontrol. Selisih ini menegaskan dipertimbangkan untuk meningkatkan hasil bahwa pendekatan matematika realistik belajar dan kemampuan matematis siswa. memberikan kontribusi positif terhadap pencapaian ketuntasan siswa. Penutup Peningkatan kemampuan spasial siswa Pembelajaran geometri melalui penerapan merupakan komponen yang penting dalam pendekaran pendidikan matematika realistik mendukung literasi matematika yang kuat. berperan penting untuk membantu meningkatkan Hasil penelitian ini memiliki relevansi yang Peningkatan matematika, dimana dengan mengidentifikasi siginifikan dilaksanakan melalui pembelajaran dengan pendekatan pendidikan matematika pendidik dapat mengoptimalkan metode realistik dibandingkan dengan pembelajaran yang mengajarnya untuk mendukung kemampuan Pada matematis siswa. Pendekatan pendidikan pembelajaran geometri, penerapan pembelajaran matematika realistik dengan pola interaksi dengan pendekatan pendidikan matematika edukatif rewang mendorong peningkatan realistik dengan pola interaksi rewang mendorong terbentuknya konsep berpikir spasial pada siswa. Pendidikan matematika realistik Melaui pendekatan ini, hasil jawaban siswa menekankan pada penerapan matematika menunjukkan bahwa siswa mampu dalam dalam konteks kehidupan siswa sehari-hari memilih jawaban yang bervariatif dalam (Freudenthal, 1. Situasi ini menjadikan menyelesaikan masalah spasial dibandingkan pembelajaran lebih relevan dalam memahami dengan pembelajaran yang dilakukan secara dan memaknai konsep-konsep geometri (Maisyarah & Prahmana, 2. Tentunya konsep-konsep ini dapat membantu siswa spasialnya secara lebih efektif. Daftar Pustaka