Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 ISSN 1693-7724, eISSN 2685-614X https://jurnal. isi-ska. id/index. php/ornamen/ Penciptaan Motif Batik Tari Salipuk Untuk Busana Ready to Wear Aliya Dinda Sania a. Novita Dwi Wulandari a. Program Studi Desain Mode Batik. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonesia Surakarta aliyadindasania@gmail. co, 2 novita. dw89@gmail. ABSTRAK Kata Kunci AuTari salipukAy merupakan salah satu tarian khas Kabupaten Nganjuk. Karya ini mengangkat tema AuTari salipukAy dalam penciptaan motif batik pada busana ready to wear. Pada karya ini penulis juga ingin memperkenalkan kepada masyarakat luas bahwa tari salipuk ini merupakan tarian khas Kabupaten Nganjuk yang memiliki ciri khas lucu, ceria dan romantis. Keunikan tersebut menjadikan inspirasi untuk penciptaan karya. Penciptaan karya batik tulis ini menggunakan metode penciptaan seni berupa eksplorasi, inkubasi, konseptualisasi, dan mateialisasi. Hasil yang didapatkan adalah lima motif batik dengan sumber ide tari salipuk yang diaplikasikan untuk lima busana ready to wear. Lima karya busana tersebut berjudul AuSideenAy. AuGhideenAy. AuLancaran SukarenaAy. Kebyok kebyokAy, dan AuLilinganAy. Lima karya motif berjudul AuKembang TeluAy. AuKeketAy. AuLumaksanaAy. AuPengibingAy, dan AuLedhekAy. Pada saat terciptanya karya busana dengan motif AuTari salipukAy kedepannya bisa dikenal oleh masyarakat luas dan mengajak masyarakat untuk mencintai dan melestarikan budaya tradisional. Tari Busana ready to Motif ABSTRACT Keywords AuSalipuk danceAy is one of the traditional dances of Nganjuk Regency. This work highlights the theme of AuSalipuk danceAy in the creation of batik motifs on ready-towear clothing. In this work, the author also wants to introduce to the wider community that salipuk dance is a traditional dance of Nganjuk Regency that has distinctive characteristics of being funny, cheerful, and romantic. These unique traits serve as inspiration for the artistic creation. The creation of these batik artworks involves artistic methods such as exploration, incubation, conceptualization, and materialization. The outcome includes five batik motifs inspired by salipuk dance, applied to five pieces of ready-to- wear clothing. These garments are titled "Sideen", "Ghideen", "Lancaran Sukarena", "Kebyok Kebyok", and "Lilingan". The five motifs are named "Kembang Telu", "Keket", "Lumaksana", "Pengibing", and "Ledhek", each carrying its own philosophy and When fashion designs featuring the AuSalipuk danceAy motif are created, they will become widely known by the public and encourage people to love and preserve traditional culture. Salipuk Ready-to-wear Batik This is an open access article under the CCAe BY-SA license Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Pendahuluan Kabupaten Nganjuk merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Nganjuk pada masa lampau dikenal sebagai Anjuk Ladang, yang secara harfiah berarti Aotanah kemenanganAo. Nama ini berasal dari Prasasti Anjuk Ladang yang dikeluarkan oleh Raja Mpu Sindok pada abad ke10 Masehi sebagai bentuk penghargaan atas jasa rakyat yang membantu mempertahankan wilayah dari serangan musuh (Purwadi, 2. Bukti historis Kabupaten Nganjuk yaitu berupa Prasasti Anjuk Ladang yang merupakan sumber sejarah penting dalam menunjukkan eksistensi awal masyarakat Nganjuk pada masa Kerajaan Medang. Melalui prasasti ini, desa Anjuk Ladang dihadiahi status sima karena keberaniannya mempertahankan wilayah (Yuyun Melania Ningtyas & Yohan Susilo, 2. Kabupaten ini terdiri dari 20 kecamatan dan 284 desa atau kelurahan. Pada masa kolonial Belanda. Nganjuk menjadi wilayah administrasi penting di bawah keresidenan Kediri. Perkembangan infrastruktur dan sistem pertanian diperkuat, namun juga menimbulkan konflik agraria dan perubahan struktur sosial masyarakat lokal (Panji Bayu Eranda & Septina Alrianingrum, 2. Warisan budaya seperti tradisi sedudo, nyadranan, dan cerita rakyat Anjuk Ladang merupakan unsur yang membentuk identitas kolektif masyarakat Nganjuk. Sejarah lokal dan mitologi menjadi medium transmisi nilai-nilai lokal. Kabupaten Nganjuk memiliki ciri khas daerah tersendiri. Mulai dari makanan seperti dumbleg, onde-onde njeblos, nasi tumpang, nasi becek, dan lainlain. Kabupaten Nganjuk memiliki berbagai makanan dan jajanan khas, salah satunyanya seperti jajanan tradisional dumbleg (Ali Mukti, 2. Kesenian yang terdapat pada Kabupaten Nganjuk seperti wayang kulit gandhu, wayang timplong, tayub, tari mungdhe, dan tari salipuk. Selain makanan dan kesenian. Kabupaten Nganjuk juga memiliki beberapa peninggalan bersejarah seperti Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Prasasti Anjuk Ladang. Candi Lor, dan lain sebagainya, yang mana peninggalan-peninggalan tersebut terdapat cerita sejarah Kabupaten Nganjuk. Tari salipuk merupakan salah satu kesenian khas Kabupaten Nganjuk. Tarian ini adalah sebuah tarian yang dipentaskan oleh sepasang penari laki-laki dan Tarian ini merupakan tari kreasi baru yang memiliki gerakan unik. Tari salipuk unik karena dipentaskan dengan berpasangan dan gerakan menggambarkan suasana yang ceria dan lucu. Selain gerakan, tari salipuk juga memiliki properti yang menjadi ciri khas tarian ini. Properti tersebut adalah sampur atau selendang. Keunikan gerakan dan busana pada tari salipuk tersebut menjadikan penulis tertarik untuk memvisualisasikan tari salipuk ke dalam motif batik pada busana ready to wear. Motif batik adalah susunan bentuk hias yang dihasilkan dari gabungan garis, titik, dan bidang yang mempunyai makna tertentu, dan dituangkan di atas kain melalui teknik perintangan warna menggunakan malam (Soekmono, 2. Batik motif adalah pola-pola yang berkembang secara turun-temurun, mengandung nilai simbolik dan filosofi masyarakat pembuatnya. Batik motif tari salipuk diaplikasikan pada busana ready to wear dengan perpaduan aksesori atau material tambahan. Terdapat tambahan motif batik berupa garis-garis lengkung yang menggambarkan selendang sebagai ciri khas properti pada tari salipuk dengan penempatan pada latar motif tari salipuk. Batik yang dihasilkan semakin terlihat modern sehingga cocok untuk dipakai dikalangan remaja pada zaman sekarang. Batik merupakan salah satu karya seni yang diminati oleh Pada zaman dahulu batik hanya digunakan oleh kalangan bangsawan keraton, namun seiring dengan perkembangan zaman batik sudah digunakan oleh masyarakat umum. Batik kebanyakan digunakan pada busana formal maupun non formal. Batik yang digunakan masyarakat umum pun memiliki motif yang sangat beragam dan saat ini juga sudah banyak masyarakat Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 yang menggunakan batik dalam kegiatan sehari-hari. Banyak jenis busana yang sudah menggunakan batik sebagai bahan utama. Seperti casual, ready to wear, gaun malam, busana pesta, busana carnival, dan lain sebagainya Busana ready to wear merupakan busana siap pakai yang mana pengerjaannya menggunakan ukuran standard atau proposional. Pakaian siap pakai . eady-to-wea. adalah busana yang dibuat di pabrik dengan ukuran standar dan dijual melalui toko-toko kepada konsumen, tanpa memerlukan perubahan besar (Frings, 2. Biasanya desainer akan membuat satu desain untuk satu baju dengan kualitas dan material yang terbaik, namun desainer biasanya juga membuat dalam sekala besar tetapi dengan kualitas dan material Merancang pertimbangan terhadap aspek kepraktisan, efisiensi biaya, dan batasan dalam produksi massal (Fashion Design . nd ed. , 2. Harga satu baju ready to wear umumnya di atas Rp. 000, namun harga tergantung pada desain, bahan yang digunakan, dan detail pengerjaannya. Jika bahan yang digunakan semakin bagus dan detailnya semakin rumit maka harga yang dikeluarkan cukup mahal. Melalui pemikiran yang kreatif, penulis akan menciptakan motif batik tari salipuk pada busana ready to wear. Metode Pada saat menciptakan busana ready to wear yang terinspirasi dari tari salipuk, penulis mengacu pada pendekatan yang dipaparkan oleh Guntur dalam bukunya "Metode Penelitian Artistik". (Guntur. , 2. menjelaskan sebagai Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Tahap Eksplorasi Pada proses penciptaan karya busana ready to wear yang terinspirasi dari tari salipuk, penulis menjalankan serangkaian langkah sistematis yang diuraikan dalam buku "Metode Penelitian Artistik" karya Guntur. Langkah awal adalah melakukan eksplorasi komprehensif melalui pengamatan langsung terhadap tari salipuk serta penggalian informasi dan referensi data yang relevan sebagai landasan penciptaan. Selanjutnya, penulis melakukan observasi dan analisis mendalam untuk memahami estetika, material, dan teknik konstruksi pada kostum tradisional terkait tarian tersebut. Proses ideasi dan pembuatan sketsa dilakukan untuk menghasilkan konsep desain yang menangkap esensi dan inspirasi dari tari salipuk. Pemilihan dan eksperimentasi bahan juga dilakukan untuk mencapai efek yang diinginkan. Tahap akhir adalah konstruksi garmen dan penyempurnaan, dengan terus merujuk pada penelitian awal untuk memastikan koleksi busana ready to wear tetap setia pada inspirasi budaya namun juga memiliki sensibilitas modern yang dapat dikenakan. Tahap Inkubasi Tahap Inkubasi atau tahap pematangan juga merupakan waktu di mana seniman atau desainer dapat menghadapi tantangan dan hambatan. incubation, the problem is internalized into the unconscious mind although nothing appears externally to be happening. Penulis mungkin mengalami kegagalan dalam eksperimen, menemui jalan buntu dalam pengembangan ide, atau menghadapi masalah teknis yang kompleks. Namun, penulis tidak menyerah, tetapi melihat hal ini sebagai kesempatan untuk belajar dan Selain itu, tahap pematangan juga melibatkan proses refleksi dan evaluasi yang mendalam. Penulis secara kritis mengevaluasi hasil Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 mempertimbangkan bagaimana penulis dapat meningkatkan konsepnya. Penulis dapat melibatkan orang lain dalam proses ini, meminta umpan balik, dan berkolaborasi untuk mencapai hasil yang lebih baik. Tahap Konseptualisasi Tahap mewujudkan ide gagasan atau objek ke dalam karya nyata. Tahap ini sering disebut sebagai tahap perancangan, yang melibatkan pembuatan model atau prototipe sebagai sarana untuk memvisualisasikan dan mengembangkan konsep yang telah dirancang. Pada tahap ini, penulis secara teliti dan hati-hati dalam pembuatan desain yang disempurnakan dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan solusi desain yang dapat Pada tahap ini, penulis akan menggunakan keahlian teknik dan pemahaman estetika untuk mengembangkan ide-ide penulis menjadi karya yang sesuai harapan yang diinginkan. Tahap Materialisasi Tahap mewujudkan ide gagasan atau objek ke dalam karya nyata. Tahap ini sering disebut sebagai tahap perancangan, yang melibatkan pembuatan model atau prototipe sebagai sarana untuk memvisualisasikan dan mengembangkan konsep yang telah dirancang. Pada tahap ini, penulis secara teliti dan hati-hati dalam pembuatan desain yang disempurnakan dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan solusi desain yang dapat Pada tahap ini, penulis akan menggunakan keahlian teknik dan pemahaman estetika untuk mengembangkan ide-ide penulis menjadi karya yang sesuai harapan yang diinginkan. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Hasil dan Pembahasan Perwujudan karya merupakan gambaran proses penciptaan mulai dari tahap awal sampai akhir. Penyelesaian karya ini melalui beberapa tahapan, yaitu eksplorasi, inkubasi, konseptualisasi, dan materialisasi. Eksplorasi Penciptaan koleksi busana ready-to-wear yang bersumber dari tari salipuk melibatkan tahapan sistematis, dimulai dari penelitian mendalam mengenai latar belakang, karakteristik, dan elemen visual tari tersebut, dilanjutkan dengan perancangan konseptual yang memadukan inspirasi budaya dan sensibilitas modern, hingga konstruksi garmen yang menjaga kesetiaan pada sumber inspirasi. Inkubasi Tahap inkubasi merupakan tahap pematangan juga merupakan waktu di mana seniman atau desainer dapat menghadapi tantangan dan hambatan. Penulis mungkin mengalami kegagalan dalam eksperimen, menemui jalan buntu dalam pengembangan ide, atau menghadapi masalah teknis yang Namun, penulis tidak menyerah, tetapi melihat hal ini sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Selain itu, tahap pematangan juga melibatkan proses refleksi dan evaluasi yang mendalam. Penulis secara kritis meningkatkan konsepnya. Penulis dapat melibatkan orang lain dalam proses ini, meminta umpan balik, dan berkolaborasi untuk mencapai hasil yang lebih baik. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Gambar 1. Desain motif tari salipuk (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Desain ini terinspirasi dari salah satu gerakan penari salipuk, dimana gerakannya adalah penari wanita menyerahkan selendang kepada penari Gambar tersebut merupakan hasil dari eksplorasi penulis dari tari Gambar 2. Desain motif tari salipuk (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Desain ini terinspirasi dari salah satu gerakan penari salipuk, dimana gerakannya adalah penari pria dan wantia saling bertatapan sehingga tetap memunculkan kesan romantis. Gambar tersebut merupakan hasil dari eksplorasi penulis dari tari salipuk. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Gambar 3. Desain motif tari salipuk (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Desain ini terinspirasi dari salah satu gerakan penari salipuk, dimana gerakannya adalah gerakan terakhir selanjutnya penari pria dan wantia masuk, penari wanita membawakan selendang penari pria. Gambar 4. Desain motif tari salipuk (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Pola gambar ini terinspirasi oleh aksesori yang digunakan dalam tarian salipuk asli dari Nganjuk. Pola ini mencakup elemen utama, pendukung, dan variasi detail. Inspirasi untuk pola ini diambil dari bunga mawar yang sering dipakai sebagai aksesori oleh penari. Gambar 5. Desain motif tari salipuk (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Desain pola ini didasarkan pada aksesori yang digunakan dalam tarian salipuk tradisional Nganjuk. Pola tersebut mencakup elemen utama, pendukung, dan elemen pengisi. Motif utama terinspirasi dari bunga melati yang sering dikenakan oleh penari. Motif pendukung adalah tambahan untuk memperkuat motif utama, sementara motif pengisi adalah variasi pola yang digunakan untuk mengisi ruang kosong (Sudarwanto, 2. Gambar 6. Desain busana 1 (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Desain busana ready to wear ini terdiri kain batik yang dikombinasikan dengan kain polos pada bagian lengan lonceng, kep dada, pinggang, tali pinggang dan hiasan persegi. Ban pinggang digunakan untuk membentuk Gambar 7. Desain busana 2 (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Desain busana ready to wear ini terdiri kain batik yang dikombinasikan dengan kain polos pada krah jaz, ikat pinggang dan pada bagian aksesori Selain itu ada tambahan mata ayam untuk memperindah busana. Gambar 8. Desain busana 3 (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Desain busana ready to wear ini terdiri kain batik yang dikombinasikan dengan kain polos pada baju dalam busana kodok, ikat pinggang, dan bagian ikat untuk kaki. Gambar 9. Desain busana 4 (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Desain busana ready to wear ini terdiri kain batik yang dikombinasikan dengan kain tile yang berfungsi untuk busana daleman dan ditambah ikat pinggang sehingga bisa membentuk pinggang. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Gambar 10. Desain busana 5 (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Desain busana ready to wear ini terdiri kain batik yang dikombinasikan dengan kain polos yang berfungsi untuk busana daleman dan ditambah ikat pinggang sehingga bisa membentuk pinggang. Konseptualisasi Tahap ini adalah fase akhir dalam proses kreatif seorang penulis untuk mewujudkan ide, gagasan, atau objek ke dalam bentuk yang konkret. Fase ini sering disebut sebagai tahap perancangan, di mana penulis membuat model atau prototipe untuk memvisualisasikan dan mengembangkan konsep yang telah dirancang. Pada tahap ini, penulis dengan cermat dan hati-hati menghasilkan desain yang lebih matang, mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan solusi desain yang dapat diterapkan. Pada saat mengembangkan ide-ide menjadi karya yang sesuai dengan harapan yang Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Gambar 11. Desain busana 1 yang disempurnakan (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Desain busana ready to wear ini terdiri dari atasan dan bawahan. Kain batik yang digunakan adalah kain rayon twill, pada bagian atas terdapat kep menggunakan kain polos, selanjutnya pada bagian lengan yang bagian balon menggunakan kain polos, dan bagian celana depan terdapat tambahan tali sehingga menghasilkan desain yang unik dan menarik. Gambar 12. Desain busana 2 yang disempurnakan (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Desain busana ini terdiri dari setelan dress, kain batik yang digunakan yaitu kain rayon twill. Melalui tambahan kombinasi manset tile hitam dan ikat pinggang hitam menambah kesan busana semakin menarik. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Gambar 13. Desain busana 3 yang disempurnakan (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Desain ini yaitu atasan kodok dengan motif kain batik. Kain batik yang digunakan adalah kain rayon twill. Bagian celana yaitu celana pendek biasa dan kemudian ditambahi aksesori celana crop dari lutut hingga ujung kaki. Lalu bagian dalam baju kodok menggunakan blouse dengan lengan balon dan menggunakan kain polos. Gambar 14. Desain busana 4 yang disempurnakan (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Desain busana ini terdiri dari blouse wanita dengan menggunakan krah rever dan menggunakan rok crop yang ditambah dengan ikat pinggang. Bagian dalam busana menggunakan kain tile. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Gambar 15. Desain busana 5 yang disempurnakan (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Desain busana tersebut merupakan setelak baju kodok dengan variasi kain batik dipotong miring. Untuk bagian dalam busana menggunakan kemeja kain polos lengan pendek dan ditambah variasi tali dan dilubangin mata ayam. Materialisasi Tahap materialisasi ini merupakan tahap penting dalam proses kreatif di mana ide-ide gagasan yang telah melalui proses penyaringan dan pemilihan dalam tiga tahap sebelumnya menjadi nyata. Pada tahap ini, selain melakukan perwujudan, penulis juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hasil yang dihasilkan melalui objek kekaryaan yang berhasil dibuat atau diwujudkan. Berikut merupakan langkah-langkah dalam perwujudan . Sideen Gambar 16. Hasil busana 1 AuSideenAy (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Karya busana 1 ini Bernama AuSideenAy yang merupakan kepanjangan dari AusindenAy dan AudeenAy. AuSindenAy merupakan penyanyi pada musik Tari salipuk selalu diiringi oleh musik karawitan dengan lagu yang dinyanyikan oleh sinden. AuDeenAy diambil dari nama belakang brand penulis yaitu ADEEN STYLE yang bertujuan untuk branding penulis, sehingga dapat dikenal oleh masyarakat luas. Pada motif batik busana mengambil visualisasi dari bunga mawar dan motif ini bernama AuKembang TeluAy. AuKembang TeluAy terdiri dari dua kata yaitu AukembangAy dan AuteluAy. AukembangAy memiliki arti bunga, dan AuteluAy berarti tiga. AuKembang TeluAy merupakan tiga bunga mawar yang menjadi aksesori atau hiasan pada rambut penari wanita. Ghideen Gambar 17. Hasil busana 2 AuGhideenAy (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. AuGhideenAy yang memiliki kepanjangan dari dua kata yaitu AugendhingAy dan AudeenAy. AuGendhingAy merupakan komposisi musik Jawa yang menyajikan seni suara, instrumental, dan vokal. AuDeenAy diambil dari nama belakang brand penulis yaitu ADEEN ATYLE yang bertujuan untuk branding penulis, sehingga dapat dikenal oleh masyarakat luas. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Pada motif busana ini bernama AukeketAy. AuKeketAy merupakan rangkaian bunga melati yang dibentuk menggunakan kawat yang melingkar dan digunakan sebagai aksesori atau hiasan pada rambut penari wanita. Lancaran Sukarena Gambar 18. Hasil busana 3 AuLancaran SukarenaAy (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. "Lancaran Sukarena" terdiri dari dua kata, yakni "lancaran" dan "sukarena". Istilah ini mengacu pada sebuah musik tari yang memvisualisasikan kegembiraan dan semangat yang ceria. Pada tarian ini, penari laki-laki yang gagah terlihat tersenyum, mencerminkan suasana hati yang riang. Gerakan kepala yang melihat ke kanan dan kiri juga menggambarkan kegembiraan yang dirasakan. Sementara itu, dalam motif batik busana yang disebut "lumaksana", istilah ini merujuk pada gerakan kaki yang digunakan oleh penari salipuk dalam motif batik Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 . Kebyok-kebyok Gambar 19. Hasil busana 4 AuKebyok-kebyokAy (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. AuKebyok-kebyokAy merupakan salah satu gerakan pada tari salipuk Gerakan menggambarkan situasi ceria dan gembira. Pada motif batik busana ini bernama AuPengibingAy. AuPengibingAy merupakan sebutan untuk laki-laki yang bisa menari. Lilingan Gambar 19. Hasil busana 5 AuLilinganAy (Foto: Aliya Dinda Sania, 2. AuLilinganAy merupakan nama gerakan atau pose penari salipuk pada motif batik ini, dan memiliki makna saling bertatapan dan tersenyum. Gerakan ini menggambarkan situasi yang romantis. Pada motif batik Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 busana ini bernama AuledhekAy. AuLedhekAy merupakan sebutan untuk penari wanita pada tayub. Tari Tayub merupakan media komunikasi sosial dan ekspresi budaya masyarakat Nganjuk dalam menjalin relasi dan ungkapan rasa syukur (Widiyastuti, 2. Kesimpulan Ide untuk karya ini berasal dari minat terhadap tari salipuk dari Nganjuk, sebuah tarian yang kaya akan gerakan dan makna simboliknya. Proses menciptakan motif batik yang terinspirasi dari tari salipuk dilakukan dengan mengaplikasikannya pada busana siap pakai. Teknik yang digunakan adalah teknik stilasi untuk memvisualisasikan motif tersebut. Pada saat merancang busana siap pakai, penulis mengambil inspirasi dari berbagai referensi busana mempertimbangkan aspek-aspek seperti estetika, fungsi, dan konteks budaya. Pembuatan karya ini melalui beberapa tahapan seperti eksplorasi, inkubasi, konseptualisasi, dan materialisasi, yang membantu penulis dalam mewujudkan ide menjadi karya nyata. Hasilnya adalah lima motif batik yang diilhami oleh tari salipuk, diaplikasikan pada lima busana siap pakai yang diberi nama "Sideen", "Ghideen", "Lancaran Sukarena", "Kebyok kebyok", dan "Lilingan". Lima motif batik tersebut bernama "Kembang Telu", "Keket", "Lumaksana", "Pengibing", dan "Ledhek". Pada karya ini, diharapkan tari salipuk sebagai sumber inspirasi menjadi lebih dikenal di kalangan masyarakat luas, serta mengundang masyarakat Indonesia untuk lebih mencintai dan bangga terhadap seni tradisional ini. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Daftar Pustaka