Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. April 2025 e-ISSN: 2962-8695 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KRAKTER PADA PEMBELAJARAN : STUDI PERBANDINGAN DI SD NEGERI KARANGWUNI DAN SD NEGERI CEPIT Telly Anisa Nurfadillah 1. Zela Septikasari2 Universitas PGRI Yogyakarta anisatelly15@email. com1, zelaseptikasari@email. (Naskah Masuk : 15 Februari, diterima untuk diterbitkan : : 27 April 2. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan implementasi pendidikan karakter melalui proses pembelajaran di SDN Karangwuni. Kulonprogo dan SDN Cepit. Bantul. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi dan wawancara dengan kepala sekolah, guru, dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SDN Karangwuni lebih menekankan pada nilai kedisiplinan melalui pembiasaan apel pagi, sementara SDN Cepit lebih menekankan nilai religius melalui pembiasaan membaca Asmaul Husna setiap pagi. Keduanya menerapkan pendidikan karakter melalui kegiatan rutin seperti upacara bendera, doa pagi, serta pembiasaan baik Selain itu, kepala sekolah memiliki peran penting dalam membangun komunikasi dan motivasi kepada guru dan siswa. Siswa di kedua sekolah juga menunjukkan keaktifan dalam pembelajaran dan berpikir kritis, sedangkan lingkungan sekolah yang mendukung memberikan kontribusi positif terhadap proses belajar. Penelitian ini menunjukkan pentingnya pendidikan karakter dalam membentuk kepribadian siswa melalui pembelajaran yang konsisten dan lingkungan sekolah yang Kata Kunci: Pendidikan karakter. Pembelajaran. Perbandingan Abstract: This study aims to compare the implementation of character education through learning processes at SDN Karangwuni. Kulonprogo, and SDN Cepit. Bantul. The research used a descriptive qualitative approach through observations and interviews with principals, teachers, and students. The results showed that SDN Karangwuni emphasizes discipline values through the routine of morning assemblies, while SDN Cepit emphasizes religious values through the practice of reciting Asmaul Husna every morning. Both schools implement character education through routine activities such as flag ceremonies, morning prayers, and other positive habits. Additionally, school principals play an essential role in building communication and motivation with teachers and students. Students in both schools actively engage in learning and demonstrate critical thinking, while supportive school environments contribute positively to the learning process. This study highlights the importance of character education in shaping students' personalities through consistent learning and a supportive school environment. Keywords: Charecter education. Learning. Comparison Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. April 2025 e-ISSN: 2962-8695 PENDAHULUAN Pendidikan dasar merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter, pengetahuan, dan keterampilan anak bangsa. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan dasar memiliki peran strategis dalam membangun landasan kecerdasan, kepribadian, serta akhlak mulia peserta didik. Pada tahap ini, pembelajaran tidak hanya berfokus pada penguasaan materi akademik, tetapi juga pada penanaman nilai-nilai moral, etika, dan karakter yang akan menjadi bekal penting bagi kehidupan bermasyarakat (A et al. , 2. Karakter seseorang tidak terbentuk secara instan, melainkan memerlukan waktu panjang serta usaha yang Faktor-faktor seperti agama, budaya, dan pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai penting dalam kehidupan manusia di berbagai bidang. Pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai ke dalam diri peserta didik serta membentuk pola hidup bersama yang lebih menghormati kebebasan individu. Hasil yang diharapkan dari proses pendidikan ini adalah terbentuknya karakter dan akhlak mulia peserta didik secara menyeluruh dan terpadu (Rahmanida Nst et al. , 2. Perbedaan dalam pelaksanaan kurikulum serta penggunaan fasilitas dan sarana pendidikan merupakan hal yang wajar terjadi di setiap sekolah. Oleh karena itu, secara formal, segala bentuk upaya dalam membentuk watak dan moral generasi muda harus didasari oleh landasan hukum yang kuat (Kurniawan & Septikasari, 2. Berdasarkan penelitian berjudul "Penanaman Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Terpadu di Sekolah Dasar," dijelaskan bahwa saat ini tengah terjadi krisis karakter yang melanda berbagai lapisan masyarakat, termasuk anak-anak usia sekolah. Nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah dasar, seperti kedisiplinan, religiusitas, kejujuran, dan tanggung jawab, sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter siswa . Selain itu, proses pembelajaran yang efektif dan inovatif sangat diperlukan untuk mengoptimalkan potensi peserta didik. Penggunaan media interaktif dalam pembelajaran, misalnya, terbukti mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa (Suryani et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan nilai-nilai dan kegiatan pembelajaran yang diterapkan di dua sekolah dasar, yaitu SDN Karangwuni di Kulonprogo dan SDN Cepit di Bantul. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, terdapat perbedaan fokus penanaman nilai di kedua sekolah tersebut. SDN Karangwuni lebih menekankan nilai kedisiplinan melalui penerapan aturan tata tertib yang ketat, sementara SDN Cepit lebih mengedepankan nilai religius yang tercermin dalam pembinaan moral, etika, dan karakter Dalam hal pembelajaran, kedua sekolah sama-sama menggunakan media interaktif, namun SDN Karangwuni masih menghadapi kendala sarana prasarana karena belum semua kelas dilengkapi proyektor, sedangkan di SDN Cepit seluruh kelas sudah menggunakan proyektor sebagai penunjang pembelajaran. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai perbedaan nilai-nilai dan proses pembelajaran di kedua sekolah, serta implikasinya terhadap perkembangan karakter dan prestasi siswa. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk membandingkan nilai-nilai dan kegiatan pembelajaran di SDN Karangwuni. Kulonprogo dan SDN Cepit. Bantul. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara mendalam pada kedua sekolah. Waktu dan Tempat Penelitian Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. April 2025 e-ISSN: 2962-8695 Observasi dan wawancara dilakukan pada dua sekolah dasar, yaitu: - SDN Karangwuni : Observasi dan wawancara dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2025. - SDN Cepit : Observasi dan wawancara dilaksanakan pada tanggal 11 Juni 2025. Teknik Pengumpulan Data A Observasi Observasi dilakukan secara langsung saat proses pembelajaran berlangsung di masingmasing sekolah. Peneliti mengamati suasana kelas, interaksi antara guru dan siswa, penggunaan media pembelajaran, serta penerapan nilai-nilai dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. A Wawancara Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan informan utama, yaitu kepala sekolah, dua orang guru, dan dua orang siswa di masing-masing sekolah. Wawancara bertujuan untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai nilai-nilai yang diterapkan di sekolah serta persepsi dan pengalaman terkait proses pembelajaran. Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan temuan di kedua sekolah. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi perbedaan dan persamaan dalam penerapan nilai-nilai serta pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SDN Karangwuni dan SDN Cepit. HASIL DAN PEMBAHASAN Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan salah satu strategi dalam menata, mengubah, menyebarluaskan, dan membina kemampuan peserta didik agar memiliki pertimbangan moral yang tinggi, hati yang mulia, serta perilaku yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Kepribadian seorang peserta didik terbentuk melalui interaksi antara karakter individu dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, dalam implementasi PPK di sekolah, yang menjadi fokus bukan hanya karakter atau lingkungan sosial semata, tetapi kolaborasi antara keduanya. Pendidikan karakter sendiri adalah sebuah proses yang bertujuan membentuk sifat atau perilaku positif pada seseorang. Penilaian terhadap baik atau buruknya suatu sifat ditentukan oleh norma moral yang disepakati dalam masyarakat. Maka, keberhasilan pendidikan karakter pada peserta didik ditentukan oleh bagaimana masyarakat menilai pribadi tersebut. Jika masyarakat menilainya sebagai individu yang baik, maka pendidikan karakter dianggap berhasil. Sebaliknya, jika dinilai kurang baik, maka dianggap belum berhasil (Mustofa & Amar Muzaki, 2. Tujuan utama pendidikan karakter adalah untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan serta hasilnya di sekolah, dengan fokus pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia siswa secara menyeluruh, terpadu, dan seimbang, serta selaras dengan standar kompetensi lulusan (Hidayat et al. , 2. Melalui pendidikan karakter, siswa diharapkan mampu secara mandiri mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya, serta menghayati dan mewujudkan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks pembelajaran, pendidikan karakter merupakan upaya yang terencana dan berkelanjutan untuk menanamkan nilai moral, etika, serta sikap positif kepada peserta didik melalui berbagai pendekatan dan metode pembelajaran. Tujuan akhirnya adalah membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, disiplin. Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. April 2025 e-ISSN: 2962-8695 dan kepedulian sosial yang tinggi. Tabel 1. Hasil Wawancara Indikator Adanya program rutin yang menanamkan nilai karakter . apel pagi, doa pagi, pembiasaa. Peran Kepala sekolah Kepala sekolah mendorong semangat belajar siswa dan meningkatkan motivasi kerja para guru. Kepala sekolah menjalin hubungan komunikasi yang efektif dan harmonis dengan guru serta siswa. Keaktifan Siswa Siswa aktif bertanya dan berdiskusi saat pembelajaran Siswa menunjukkan sikap kritis dan percaya diri Pendidikan Karakter dalam Pelaksanaan Kegiatan Rutin Doa pagi dan ceramah motivasi sebelum pembelajaran Dukungan Lingkungan Sekolah Tersedianya fasilitas pendukung belajar . aman, perpustakaan. Lingkungan sekolah mendukung pembelajaran Penanaman Nilai Budaya Lokal Tersedianya fasilitas pendukung belajar . aman, perpustakaan. Lingkungan sekolah mendukung pembelajaran Aspek yang diukur Fokus Pendidikan Karakter Sumber: Hasil wawancara Kepala sekolah SDN Karangwuni dan SDN cepit Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan salah satu bentuk upaya dalam mengatur, mengubah, menyebarluaskan, dan membina kemampuan peserta didik agar memiliki pemikiran yang matang, hati yang luhur, serta perilaku yang sesuai dengan nilainilai Pancasila. Kepribadian seorang peserta didik terbentuk dari interaksi antara karakter individu dengan lingkungan sekitarnya (Filiansi et al. , 2. Oleh karena itu, dalam penerapan PPK di sekolah, yang menjadi fokus bukan hanya karakter pribadi atau lingkungan sosial secara terpisah, melainkan sinergi antara keduanya. Pembentukan dan pembimbingan karakter siswa dapat terlihat dari berbagai kebiasaan yang dilakukan secara konsisten, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Misalnya, siswa sudah terbiasa melaksanakan salat berjamaah, berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, mencium tangan orang yang lebih tua, serta menyapa guru atau orang dewasa dengan salam yang sopan. Disiplin pun tercermin dari rutinitas yang dilaksanakan di sekolah. Dengan adanya kebiasaan penuh kasih dan latihan yang terus-menerus, nilai kedisiplinan secara perlahan tertanam dalam diri siswa (Hakpantria et al. , 2. Guru juga berperan penting dalam membentuk karakter melalui kebiasaan memberi nasihat dan memberi sanksi yang mendidik, seperti mewajibkan siswa membaca buku di perpustakaan atau memungut sampah jika mereka tidak mengikuti pembelajaran tepat waktu, datang terlambat, atau membolos sekolah. Bahkan guru yang datang terlambat pun dikenakan sanksi, menunjukkan bahwa pembiasaan ini berlaku bagi semua pihak dan mendorong terciptanya budaya disiplin di lingkungan sekolah. Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. April 2025 e-ISSN: 2962-8695 Baik di SD Karangwuni maupun SD Cepit, nilai-nilai karakter menjadi prioritas utama dalam kegiatan pendidikan. Tujuan utama dari pendidikan karakter adalah membentuk perilaku dan sikap positif dalam diri peserta didik. Di SD Karangwuni, misalnya, kegiatan apel pagi dijadikan sarana untuk membentuk kebiasaan datang tepat Sedangkan di SD Cepit, kegiatan membaca Asmaul Husna setiap pagi bertujuan menanamkan nilai-nilai spiritual dan memperkuat hubungan siswa dengan Allah SWT. Hal ini mencerminkan bahwa kedua sekolah tersebut menyadari pentingnya pendidikan karakter dalam membentuk pribadi siswa yang baik, sesuai dengan pemahaman bahwa keberhasilan pendidikan karakter tercermin dari penilaian positif masyarakat terhadap individu tersebut. Nilai-nilai karakter ditanamkan melalui berbagai kegiatan rutin. Di SD Karangwuni, kegiatan seperti upacara, doa pagi, dan ceramah sebelum pelajaran merupakan bagian dari upaya menanamkan karakter. Begitu juga di SD Cepit, kegiatan serupa dilakukan secara konsisten, mencerminkan komitmen dalam menumbuhkan karakter siswa. Hal ini selaras dengan pandangan bahwa pendidikan karakter adalah proses menanamkan kecerdasan bersikap dan berperilaku positif dalam diri peserta Peran kepala sekolah di kedua sekolah sangat signifikan dalam memengaruhi suasana belajar. Di SD Karangwuni, kepala sekolah memberikan motivasi kepada guru dan siswa saat apel pagi, serta menjalin komunikasi yang baik dengan siswa. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa komunikasi yang baik antara karakter dan iklim sekolah sangat penting dalam penguatan pendidikan karakter (PPK). Pernyataan bahwa peran kepala sekolah sangat memengaruhi suasana belajar menunjukkan adanya kepemimpinan yang aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif. Siswa di kedua sekolah menunjukkan peningkatan aktivitas dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Di SD Karangwuni, siswa sering bertanya dan menunjukkan pemikiran kritis selama pembelajaran. Di SD Cepit, siswa juga aktif bertanya, bahkan terkadang pertanyaan mereka melampaui konteks pembelajaran. Hal ini mencerminkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya berfokus pada penanaman nilai-nilai moral, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, yang merupakan bagian dari keseluruhan aspek kemanusiaan yang harus dikembangkan . Lingkungan sekitar di kedua sekolah mendukung kegiatan belajar siswa. Di SD Karangwuni, terdapat taman tanaman obat dan perpustakaan yang memfasilitasi Di SD Cepit, fasilitas perpustakaan yang memadai dan taman juga mendukung kegiatan belajar. Lingkungan yang kondusif ini berkontribusi pada kenyamanan siswa dalam belajar, yang merupakan bagian dari iklim sekolah yang baik untuk penguatan pendidikan karakter. Kedua sekolah juga melakukan upaya untuk menanamkan nilai budaya lokal. Di SD Karangwuni, kegiatan budaya dan ekstrakurikuler menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai lokal. Di SD Cepit, pembelajaran muatan lokal dan kegiatan ekstrakurikuler juga digunakan untuk menanamkan nilai budaya. Ini menunjukkan bahwa kedua sekolah berkomitmen untuk melestarikan budaya lokal melalui pendidikan, yang merupakan bagian dari pengembangan karakter yang baik dan bertanggung jawab sebagai warga negara. Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. April 2025 e-ISSN: 2962-8695 IV. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter di SDN Karangwuni dan SDN Cepit sama-sama menjadi fokus utama dalam pembelajaran, dengan pendekatan yang berbeda sesuai dengan karakteristik sekolah. SDN Karangwuni lebih menekankan nilai kedisiplinan melalui apel pagi dan aturan tata tertib, sedangkan SDN Cepit menekankan nilai religius melalui pembiasaan membaca Asmaul Husna. Kedua sekolah secara konsisten menanamkan nilai-nilai karakter melalui kegiatan rutin dan pembelajaran yang mendukung penguatan pendidikan Kepala sekolah berperan penting dalam memberikan motivasi dan membangun komunikasi yang baik dengan guru dan siswa. Lingkungan sekolah yang kondusif serta adanya fasilitas pendukung seperti taman dan perpustakaan turut berkontribusi dalam mendukung proses belajar siswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendidikan karakter yang konsisten dan didukung oleh lingkungan sekolah dapat membentuk kepribadian siswa yang disiplin, religius, serta memiliki sikap kritis dan percaya diri. Saran Melalui temuan dalam studi ini, disarankan agar pihak sekolah memperkuat sinergi antara tenaga pendidik, orang tua, serta lingkungan masyarakat dalam membangun karakter peserta didik. Selain itu, pelatihan berkala bagi guru perlu diadakan guna meningkatkan kompetensi dalam mengimplementasikan nilai-nilai karakter secara konsisten dalam proses pembelajaran. Penerapan pendidikan karakter sebaiknya tidak terbatas pada ruang kelas saja, namun juga terintegrasi dalam seluruh aktivitas sekolah, baik dalam kegiatan kurikuler maupun Daftar Pustaka