637 JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN PARIWISATA PERKOTAAN BERBASIS SITUS WARISAN BUDAYA DI KOTA MATARAM Putu Arya Reksa Anggratyas1 1Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram E-mail: reksa. anggratyas@gmail,com Article History: Received: 28-01-2025 Revised: 29-01-2025 Accepted: 31-01-2025 Keywords: Potensi Pengembangan. Pariwisata Perkotaan. Situs Warisan Budaya. Daya Tarik Wisata. Kota Mataram. Abstract: Kota Mataram sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi pengembangan pariwisata berbasis situs warisan budaya di Kota Mataram menggunakan pendekatan matriks IFAS-EFAS. Situs-situs warisan budaya yang diteliti meliputi Taman Mayura. Pura Meru. Makam Loang Baloq. Makam Jenderal Mayor P. Van Ham. Kota Tua Ampenan, dan Museum Negeri NTB. Hasil penelitian menunjukkan Kota Mataram memiliki keunggulan kompetitif berupa lokasi strategis situs-situs bersejarah yang berada di pusat kota dengan jarak relatif dekat, keberagaman tipologi warisan budaya, dan aksesibilitas yang baik. Analisis matriks IFAS-EFAS menempatkan posisi pariwisata warisan budaya pada kuadran 5 (Hold and Maintai. , yang memerlukan fokus pada strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk Tantangan pengelolaan dan pendanaan, serta kurangnya perhatian pemerintah. Rekomendasi strategi pengembangan paket wisata terintegrasi, inovasi interpretasi sejarah melalui teknologi digital, dan penguatan kolaborasi antar stakeholder untuk mengoptimalkan potensi pariwisata warisan budaya yang berkelanjutan di Kota Mataram. PENDAHULUAN Kota Mataram sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat, memiliki sejarah dan budaya yang kaya yang tercermin dalam situs-situs warisan budaya yang ada. Situs warisan budaya yang dimiliki Kota Mataram yaitu seperti Makam Loang Baloq. Taman Mayura. Pura Meru. Makam Jenderal Mayor P. Van Ham. Kota Tua Ampenan, dan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat . Sebagai kota dengan sejarah dan budaya yang kaya. Kota Mataram memiliki potensi besar dalam mengembangkan destinasi wisata berbasis situs warisan budaya. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Potensi ini, jika dimanfaatkan, dapat meningkatkan daya tarik kota dan memperkuat identitas budaya setempat yang unik di tengah modernisasi . Pemanfaatan situs warisan budaya sebagai daya tarik wisata perkotaan di Kota Mataram pada saat ini masih kurang optimal. Banyak situs bersejarah yang kurang terawat dan belum dikenal luas oleh masyarakat, baik lokal maupun wisatawan mancanegara, serta masih ada beberapa situs warisan budaya yang belum teridentifikasi dengan baik sehingga potensinya masih belum dikembangkan atau dijadikan daya tarik wisata. Rendahnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap pengembangan potensi warisan budaya dapat membuatnya terbengkalai dan tidak berkembang, seperti Kota Tua Ampenan dan Makam Jenderal Mayor PPH Jenderal Mayor P. Van Ham ada di Kota Mataram yang tidak terawat dan kurang dikenal masyarakat dari aspek kesejarahannya. Di samping itu, kurangnya perhatian pemerintah dan kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya menjadi salah satu penyebab tidak berkembangnya pariwisata budaya . Meskipun demikian kurangnya pemanfaatan situs warisan budaya di Kota Mataram sebagai daya tarik wisata perkotaan menunjukkan adanya keterbatasan dalam pengelolaan dan promosi. Menurut Ashworth & Page kendala utama dalam pengembangan pariwisata berbasis warisan budaya meliputi kurangnya koordinasi antar lembaga terkait. Faktor terbatasnya anggaran, dan rendahnya partisipasi masyarakat juga menjadi kendala dalam Hal ini juga terjadi di Mataram, di mana kurangnya infrastruktur pendukung dan promosi yang belum optimal menyebabkan rendahnya kunjungan wisatawan ke situssitus bersejarah. Untuk itu, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak untuk mengatasi kendala-kendala tersebut. Pemanfaatan situs warisan budaya sebagai daya tarik wisata juga memiliki dampak positif bagi pelestarian warisan budaya. Pariwisata berbasis budaya dapat meningkatkan apresiasi terhadap nilai-nilai budaya lokal di tengah masyarakat yang semakin terpapar budaya global . Dengan adanya apresiasi yang tinggi, masyarakat akan lebih terdorong untuk melestarikan warisan budaya mereka, baik dalam bentuk benda maupun tak benda . Selain itu, pariwisata berbasis budaya mampu mendorong revitalisasi situs-situs bersejarah, sehingga dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang. Pengembangan pariwisata berbasis warisan budaya di Kota Mataram dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan. Konsep ini menekankan keseimbangan antara pelestarian warisan budaya dan keberlanjutan ekonomi lokal. Menurut Inskeep pembangunan pariwisata yang berkelanjutan melibatkan penggunaan sumber daya yang bijaksana serta perencanaan yang matang, sehingga tidak merusak sumber daya pariwisata itu sendiri namun tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Hal ini sangat relevan dengan Mataram yang sedang mengalami perkembangan ekonomi pesat dan memerlukan langkah-langkah pelestarian agar identitas budaya lokal tetap terjaga. Selain faktor ekonomi, pengembangan pariwisata berbasis situs warisan budaya di Kota Mataram juga dapat memberikan dampak sosial yang positif. Dengan melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pemeliharaan situs, masyarakat dapat memiliki peran langsung dalam melestarikan warisan budaya mereka. Pengembangan pariwisata berbasis situs warisan budaya di Kota Mataram merupakan langkah strategis yang perlu diperhatikan dan dioptimalkan. Dukungan pemerintah dan sektor swasta sangat dibutuhkan dalam memperbaiki infrastruktur, meningkatkan promosi, serta memberikan sosialisasi dan pelatihan bagi masyarakat lokal a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 untuk turut terlibat dalam sektor pariwisata. Keberhasilan Kota Mataram dalam mengembangkan pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya akan berkontribusi pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjaga kelestarian situs-situs budaya yang ada untuk masa depan LANDASAN TEORI Teori Pengembangan Pariwisata Berbasis Situs Warisan Budaya Pengembangan pariwisata berbasis situs warisan budaya dapat dilakukan dengan manajemen sumber daya budaya . ultural resource managemen. Manajemen sumber daya yang dikembangkan pada dasarnya merupakan buah kesadaran para arkeolog bahwa data arkeologi bersifat tak terbarukan, terbatas, dan kontekstual . Cultural resource management (CRM) menurut pemahaman baru saat ini tidak berhenti terhadap aspek pelestarian secara fisiknya saja namun juga memikirkan manfaatnya bagi kehidupan masyarakat sekarang, baik menyangkut kepentingan akademis, sosial, dan ekonomis . Pearson dan Sulivan, 1995 dalam Sulistyanto mengatakan ada empat tahapan dalam teknis kinerja CRM yang di gambarkan pada gambar Identifikasi Warisan Budaya Pendugaan Nilai Penting Pendugaan Peluang dan Hambatan Penentuan Rencana Kebijakan Strategi Pelaksanaan Monitoring Gambar 1. Kerangka Kerja CRM Sumber: Pearson dan Sulivan, 1995 dalam Sulistyanto, . Langkah pertama adalah proses identifikasi, yang mencakup penilaian terhadap nilai penting, serta analisis hambatan dan peluang dalam pengelolaan. Identifikasi warisan budaya dilakukan dengan mempertimbangkan aspek bentuk, karakter situs, distribusi, dan batas wilayah yang sesuai dengan potensi yang dimiliki warisan budaya tersebut. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan kondisi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat, serta interaksi mereka dengan warisan budaya, untuk memahami hambatan dan peluang pengelolaan yang mungkin muncul. Langkah kedua adalah merancang kebijakan, yaitu menetapkan tujuan pelestarian berdasarkan hasil analisis sebelumnya terkait nilai penting, peluang, dan hambatan yang telah diidentifikasi. Langkah ketiga melibatkan penyusunan strategi pengelolaan, yang merupakan implementasi dari kebijakan yang telah dirumuskan. Tahap ini mencakup tindakan konkret, seperti mengelola warisan budaya agar dapat menarik wisatawan tanpa mengurangi nilai penting yang dimilikinya. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Langkah keempat adalah pemantauan atau monitoring, yang berfungsi untuk mengevaluasi efektivitas pengelolaan yang telah dilakukan. Pada tahap ini, perlu ditetapkan sistem dan tolok ukur sebagai dasar untuk menilai keberhasilan pengelolaan. METODE PENELITIAN Analisis IFAS mengidentifikasi kekuatan utama berupa lokasi situs warisan budaya yang strategis dan berdekatan di pusat kota, aksesibilitas yang baik dengan dukungan infrastruktur transportasi memadai, keberagaman warisan budaya . ura, makam bersejarah, dan tempat bersejara. yang memiliki nilai cerita dan sejarah penting, serta pengelolaan yang masih dijaga masyarakat sekitar dengan fasilitas yang cukup lengkap. Namun, terdapat kelemahan berupa minimnya kegiatan festival, lemahnya pengawasan wisatawan, pengelolaan dan sumber dana yang belum maksimal, serta kurangnya keseriusan pemerintah dalam pengembangan pariwisata warisan budaya. Sementara itu, analisis EFAS mengungkapkan peluang besar untuk meningkatkan pendapatan daerah dan masyarakat, memperkenalkan situs warisan budaya kepada wisatawan domestik dan internasional, menciptakan diversifikasi daya tarik wisata, dan meningkatkan jumlah kunjungan wisata. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Kota Mataram Kota Mataram adalah ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berada di antara Kabupaten Lombok Barat dan Selat Lombok. Secara administrasi Kota Mataram luas daratan sekitar 61,30 kmA dan lautan sekitar 56,80 kmA, sejak 2007 kota ini dibagi dalam 6 . kecamatan yakni. Kecamatan Ampenan. Sekarbela. Mataram. Selaparang. Cakranegara, dan Sandubaya, dengan 50 kelurahan dan 322 lingkungan . Kota Mataram tergolong sebagai salah satu kota yang tingkat heterogenitasnya tinggi di NTB di mana hidup berbagai macam suku yakni, etnis Sasak merupakan kelompok etnis terbesar, selanjutnya Bali. Sumbawa (Samaw. Bima (Mboj. Bugis. Jawa. Cina, dan Arab. Dengan demikian Mataram menjadi kota yang multikultural. Penduduk Kota Mataram mayoritas agama yang dianut adalah Islam, dengan berdampingan dengan agama lainya yaitu Hindu. Protestan. Budha, dan Katolik. Keberagaman kepercayaan tersebut dan adanya akulturasi budaya yang sangat unik dan menarik terutama antara budaya Sasak dan Bali yang mengadakan kontak cukup lama. Keragaman budaya di Kota Mataram dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata seperti, tempat-tempat ibadah berbagai agama yakni peninggalan warisan budaya Hindu Bali berupa Pura. Masjid muslim berarsitektur kuno dan modern. Keragaman budaya dan agama tersebut menjadi daya tarik di Kota Mataram yang membuat wisatawan berkunjung ke Kota Mataram untuk melihat daya tarik yang dimiliki Kota Mataram . https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Gambar 2. Titik Nol Kota Mataram Sumber: Dokumen Peneliti, 2021 Sejarah Kota Mataram Perkembangan awal Kota Mataram dimulai dengan migrasi masyarakat dari berbagai kerajaan di Lombok dan Bali. Kerajaan Selaparang dan Kerajaan Penjanggik mengarahkan penduduknya untuk membangun pemukiman baru di bagian barat untuk meningkatkan kemakmuran dan mencari kehidupan yang lebih baik . Di sisi lain. Kerajaan Karangasem mendirikan koloni di bagian barat Lombok guna memperluas wilayahnya. Imigran dari Karangasem kemudian membentuk kerajaan kecil seperti Pagutan dan Pagesangan, yang keberadaannya memicu konflik dengan kerajaan lain di wilayah tersebut. Kerajaan Karangasem, bersama dengan sekutunya. Kerajaan Penjanggik, melakukan penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan yang ada . Setelah mengalahkan kerajaan-kerajaan tersebut, termasuk sekutunya, terbentuklah Kerajaan Mataram yang memiliki ambisi untuk menguasai seluruh Pulau Lombok . Pada pertengahan 1894. Belanda mengirim pasukan untuk menaklukkan Pulau Lombok, yang kemudian memicu perang besar yang dikenal sebagai "De Lombok Expeditie" atau "Perang Lombok" . Setelah Perang Dunia II. Jepang menguasai Pulau Lombok dari 1942 hingga 1945 sebelum menyerahkan kekuasaan pada Oktober 1945 . Selanjutnya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958, terbentuklah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang meliputi Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Kota Mataram yang awalnya bagian dari Kabupaten Lombok Barat dimekarkan menjadi wilayah otonom pada 31 Agustus 1993, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1993 , dan resmi berdiri sebagai kota administratif baru Potensi Daya Tarik Wisata Situs Warisan Budaya Di Kota Mataram Kota Mataram memiliki kekayaan warisan budaya yang mencerminkan interaksi dan pengaruh budaya Sasak. Bali, serta berbagai suku lainnya. Warisan budaya ini berpotensi dikembangkan menjadi produk pariwisata budaya, dengan berbagai situs yang mencakup tempat bersejarah dan tradisi yang masih hidup hingga kini. Pengembangan pariwisata berbasis warisan budaya di Kota Mataram dapat menjadi strategi efektif dalam mempromosikan kekayaan sejarah kota ini, mengingat latar belakang sejarahnya yang kompleks dan pengaruh dari berbagai budaya yang pernah hadir. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Situs-situs warisan budaya di Kota Mataram, seperti Taman Mayura. Pura Meru. Makam Loang Baloq, dan Kota Tua Ampenan, memiliki ciri khas dan cerita sejarah unik yang dapat menarik minat wisatawan. Berdasarkan teori identifikasi potensi pariwisata oleh Cooper yang mengacu pada elemen 4A (Attraction. Amenities. Accessibility, dan Ancillary Service. , potensi pengembangan pariwisata budaya Kota Mataram dapat diklasifikasikan sebagai Attraction (Atraks. Kota Mataram memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya melalui berbagai destinasi yang menarik, seperti Taman Mayura. Pura Meru. Makam Loang Baloq. Museum Provinsi NTB, kawasan Kota Tua Ampenan, dan Makam Jenderal Mayor P. Van Ham. Setiap situs warisan budaya ini memiliki daya tarik unik dan cerita sejarah yang menarik, yang berkontribusi pada pengalaman wisata yang beragam bagi pengunjung. Selain aspek budaya, beberapa situs juga menawarkan daya tarik tambahan, seperti wisata olahraga di Taman Mayura dan wisata religi di Makam Loang Baloq. Potensi warisan budaya di Kota Mataram dapat dikelompokkan berdasarkan jenisnya, meliputi warisan budaya berupa pura, makam, dan tempat bersejarah. Klasifikasi ini memungkinkan pengelolaan yang lebih terarah dan pengembangan strategi promosi yang efektif, sehingga setiap situs dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai daya tarik wisata Dengan pengelolaan yang tepat, situs-situs ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelestarian budaya tetapi juga berperan sebagai destinasi wisata yang memperkuat daya saing Kota Mataram sebagai tujuan wisata berbasis warisan budaya. Warisan Budaya Pura Warisan budaya berupa pura di Kota Mataram, seperti Pura Taman Mayura dan Pura Meru, merupakan peninggalan bersejarah dari Kerajaan Karangasem yang dahulu berkuasa di wilayah tersebut. Pura Taman Mayura, yang dibangun pada tahun 1744 M oleh Raja Anak Agung Ngurah Karangasem, awalnya difungsikan sebagai halaman pura dan tempat pemeliharaan bunga. Kemudian pada tahun 1866 M, taman ini direnovasi dan diberi nama Mayura, yang berasal dari kata "merak," karena dulu digunakan untuk memelihara burung merak guna mengusir ular di area tersebut . Taman Mayura juga memiliki dua pura, yaitu Pura Jagatnatha namun lebih dikenal sebagai Pura Mayura. Memiliki letak strategis di pusat Kota Mataram, menjadikan Pura Taman Mayura mudah diakses oleh wisatawan, dan memiliki daya tarik berupa arsitektur kuno yang mencerminkan era Kerajaan Karangasem. Selain sebagai destinasi wisata budaya, taman ini juga dimanfaatkan untuk berbagai acara seperti resepsi pernikahan, olahraga, dan kegiatan rekreasi. Gambar 3. Taman Mayura (Bale Kamban. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2024 Di sisi lain. Pura Meru yang terletak berdekatan dengan Taman Mayura memiliki luas 873 mA dan telah diakui sebagai situs cagar budaya berdasarkan SK Menteri (SK: PM. 19/PW. 007/MKP/2. Pura ini dibangun pada tahun 1720 M oleh Anak Agung Ngurah Made Karang dari Kerajaan Karangasem dengan tujuan mempersatukan enam kerajaan beserta rakyatnya dalam satu tempat persembahyangan. Pura Meru memiliki tiga Meru utama yang melambangkan Tri Murti, yaitu Dewa Wisnu. Dewa Siwa, dan Dewa Brahma, sebagai simbol pemeliharaan, pelebur, dan penciptaan alam semesta . Pura Meru menawarkan daya tarik wisata melalui arsitektur kuno yang menggunakan batu bata merah pada tembok dan candi, sehingga memberikan kesan unik bagi pengunjung. Aktivitas fotografi pre-wedding sering dilakukan di area luar dan tengah pura, mengingat area utama pura yang sakral kini dibatasi aksesnya untuk menjaga kesakralan setelah beberapa wisatawan melanggar aturan adat setempat. Gambar 4. Pura Meru Sumber: Dokumen Peneliti, 2024 Potensi Taman Mayura dan Pura Meru sebagai destinasi pariwisata berbasis warisan budaya di Kota Mataram sangat besar. Selain menawarkan pengalaman spiritual, kedua situs ini juga memiliki nilai sejarah yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari strategi pengembangan pariwisata perkotaan yang berfokus pada pemanfaatan situs warisan Dengan lokasi yang strategis di pusat kota, aksesibilitas yang baik, dan daya tarik sejarah, situs-situs ini dapat menjadi magnet bagi wisatawan yang tertarik pada kekayaan budaya dan sejarah Kota Mataram. Warisan Budaya Makam Warisan budaya berupa situs makam di Kota Mataram, seperti Makam Van Ham dan Makam Loang Baloq, memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata berbasis sejarah dan Makam Van Ham, yang terletak di Karang Jangkong, merupakan tempat peristirahatan terakhir Mayor Jenderal P. Van Ham, seorang jenderal Belanda yang tewas dalam pertempuran melawan pasukan Kerajaan Mataram pada tahun 1894 . Meskipun memiliki nilai sejarah penting, keberadaan Makam Van Ham masih kurang dikenal oleh wisatawan akibat minimnya promosi dan lokasinya yang tersembunyi. Dengan strategi pengembangan yang tepat, makam ini dapat dioptimalkan sebagai objek wisata sejarah yang memberikan informasi tentang perjuangan rakyat Mataram dalam melawan kolonialisme Belanda, serta sebagai bukti peninggalan sejarah yang tidak dapat diabaikan. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Gambar 5. Makam Jenderal Jenderal Mayor P. Van Ham Sumber: Dokumen Peneliti, 2024 Berbeda dengan Makam Van Ham yang lebih bernuansa sejarah kolonial. Makam Loang Baloq menawarkan daya tarik wisata religi yang kuat. Makam ini dikenal sebagai tempat ziarah bagi umat Muslim di Lombok, terutama karena keberadaan tiga makam utama, yaitu Maulana Syech Gauz Abdurrazak, seorang ulama yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Lombok. makam anak yatim. dan makam Datuk Laut. Ritual doa dan permohonan yang dilakukan oleh para peziarah menjadikan Makam Loang Baloq sebagai tempat yang sakral dan menarik bagi wisatawan yang tertarik pada wisata spiritual. Tradisi berziarah ini menjadi daya tarik yang unik, terutama pada hari-hari penting dalam kalender Islam, seperti setelah Idul Fitri dan saat Maulid Nabi Muhammad S. Gambar 6. Makam Loang Baloq Sumber: Dokumen Peneliti, 2024 Makam-makam ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya dan religi di Kota Mataram, berkontribusi pada strategi pengembangan pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya. Makam Van Ham sebagai simbol perlawanan kolonial, dan Makam Loang Baloq sebagai situs ziarah, keduanya menawarkan narasi sejarah dan spiritual yang dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pengalaman wisatawan. Dengan promosi yang lebih baik dan program edukasi yang menonjolkan nilai sejarah serta budaya kedua situs tersebut. Kota Mataram dapat memperkuat identitasnya sebagai destinasi pariwisata budaya dan religi yang berwawasan sejarah. Warisan Budaya Tempat Bersejarah Pengembangan pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya di Kota Mataram sangat penting mengingat peran tempat bersejarah sebagai saksi perkembangan kota sejak masa kerajaan hingga saat ini. Situs-situs bersejarah seperti Kota Tua Ampenan dan Museum a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Negeri Nusa Tenggara Barat merupakan warisan budaya yang mencerminkan sejarah panjang kota ini. Kota Tua Ampenan, sebagai salah satu dari 43 Kota Pusaka Indonesia, memiliki jejak historis yang kuat sejak dibangunnya Pelabuhan Ampenan oleh Belanda pada tahun 1924 . Namun jauh sebelum itu Ampenan sudah dikenal sebagai pusat perdagangan dan persinggahan kapal-kapal asing ketika wilayah barat Lombok berada di bawah kekuasaan Kerajaan Karangasem. Keberagaman etnis yang menghuni Ampenan, seperti Sasak. Bali. Bugis. Melayu. Cina, dan Arab, mencerminkan potensi wisata budaya yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Kota Tua Ampenan hingga saat ini belum dikelola dengan optimal sebagai daya tarik wisata kota pusaka. Banyak bangunan tua bergaya art deco yang masih berdiri, terutama ruko-ruko peninggalan Belanda yang dihuni oleh komunitas Tionghoa dan Arab, namun kawasan ini memerlukan revitalisasi. Potensi historis Ampenan yang mencakup masa kerajaan, kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga kemerdekaan RI, menawarkan daya tarik yang unik bagi wisatawan yang tertarik dengan sejarah dan budaya. Dengan status sebagai kota pusaka, revitalisasi Ampenan bisa menjadi langkah strategis untuk mengembangkan pariwisata perkotaan di Kota Mataram. Upaya pemerintah daerah dalam merespons status ini sangat dibutuhkan melalui program pelestarian dan pengelolaan kawasan yang terencana untuk menarik lebih banyak wisatawan. Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) juga memiliki peran strategis sebagai pusat informasi sejarah dan budaya di Kota Mataram. Diresmikan pada tahun 1982, museum ini dikategorikan sebagai museum umum karena memiliki beragam koleksi yang mencapai 000 item . Koleksi tersebut terbagi dalam beberapa kategori, seperti geologi, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatika, filologi, keramika, teknologi, dan seni rupa. Pengelompokan koleksi ini bertujuan untuk mempermudah proses pengelolaan dan penelitian, serta mendukung pemanfaatan koleksi sebagai sumber pendidikan dan daya tarik Keberagaman koleksi museum ini memberikan gambaran yang komprehensif tentang sejarah dan budaya Nusa Tenggara Barat, sehingga menjadi tempat yang edukatif sekaligus menarik bagi wisatawan. Sebagai bagian dari strategi pengembangan pariwisata berbasis warisan budaya. Kota Tua Ampenan dan Museum NTB memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik utama dalam konsep pariwisata perkotaan di Kota Mataram. Dengan memaksimalkan potensi kedua situs ini melalui program-program revitalisasi dan promosi yang tepat. Kota Mataram dapat menarik lebih banyak wisatawan yang tertarik dengan sejarah dan budaya lokal. Pemerintah dan pelaku pariwisata perlu berkolaborasi dalam mengembangkan infrastruktur, layanan wisata, serta aktivitas budaya yang dapat meningkatkan pengalaman pengunjung, sehingga situs-situs ini tidak hanya dilestarikan sebagai warisan budaya tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal melalui sektor pariwisata. Amenities (Fasilita. Fasilitas pada berbagai daya tarik wisata warisan budaya di Kota Mataram telah mencakup sejumlah sarana yang memadai, seperti fasilitas umum, papan informasi, dan sarana kebersihan. Pemerintah Kota Mataram, melalui Dinas Pariwisata, turut mendukung pengelola destinasi ini dengan menyediakan tenaga tambahan untuk menjaga kebersihan serta mengembangkan aplikasi digital "Suke Wisata" yang memudahkan wisatawan dalam mendapatkan informasi. Fasilitas yang lengkap diharapkan mampu meningkatkan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 kenyamanan dan daya tarik bagi wisatawan saat mengunjungi situs-situs warisan budaya Saat ini masih terdapat beberapa masalah terkait fasilitas di sejumlah daya tarik wisata warisan budaya, yang dapat mengurangi kenyamanan pengunjung. Misalnya, beberapa papan informasi mulai memudar, sehingga sulit dibaca, dan beberapa area kebersihan tidak terjaga dengan baik. Kendala ini menunjukkan perlunya strategi pengelolaan yang lebih baik dan berkelanjutan untuk memastikan fasilitas tersebut tetap dalam kondisi optimal, mendukung tujuan pengembangan pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya di Kota Mataram. Accessibility (Akse. Aksesibilitas menuju situs warisan budaya di Kota Mataram cukup baik karena lokasi daya tarik wisata yang dekat dengan pusat kota. Kondisi infrastruktur, seperti jalan beraspal yang baik, mempermudah mobilitas wisatawan menuju destinasi-destinasi ini. Selain itu, tersedia berbagai pilihan transportasi seperti angkutan umum . , taksi, dan layanan transportasi online, yang semakin memudahkan wisatawan dalam mencapai lokasi situssitus bersejarah tersebut. Penggunaan jaringan internet juga memainkan peran penting dalam meningkatkan kemudahan akses. Dengan bantuan aplikasi navigasi dan layanan transportasi online, wisatawan dapat dengan mudah menemukan rute menuju situs warisan budaya di Kota Mataram. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan infrastruktur transportasi dan teknologi digital dapat menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya di Kota Mataram. Ancillary Services (Kelembagaa. Setiap lembaga dan pihak terkait di Kota Mataram berupaya mengembangkan pariwisata berbasis situs warisan budaya melalui peran dan kontribusi mereka masingmasing. Pemerintah Kota Mataram, misalnya, memberikan dukungan berupa tenaga kerja dan penyediaan alat kebersihan di sekitar situs-situs bersejarah. Pihak museum turut berkontribusi dengan menyelenggarakan sosialisasi mengenai pelestarian warisan budaya serta edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga situs-situs tersebut. Selain itu, komunitas Lombok Heritage and Science Society juga aktif menyebarluaskan informasi tentang warisan budaya Kota Mataram melalui media sosial dan publikasi artikel, serta mengadakan pameran budaya untuk menarik minat masyarakat terhadap daya tarik wisata Peran akademisi dalam pengembangan pariwisata budaya terlihat melalui penelitian dan program pengabdian masyarakat yang bertujuan mengedukasi dan meningkatkan kesadaran akan potensi warisan budaya Kota Mataram. Namun, masih terdapat kendala dalam upaya ini, seperti terbatasnya dukungan dari Dinas Pariwisata Kota Mataram yang hanya mampu menyediakan tenaga dan fasilitas kebersihan. Di sisi lain. Pemerintah Kota Mataram menghadapi kendala regulasi dalam memberikan bantuan, di mana hanya aset negara yang memenuhi syarat untuk memperoleh dukungan tersebut. Hal ini menunjukkan perlunya strategi yang komprehensif dalam pengelolaan pariwisata berbasis situs warisan budaya di Kota Mataram, agar semua pihak dapat berkolaborasi dengan lebih optimal dan berdampak nyata bagi perkembangan sektor ini. Analisis Potensi Pengembangan Pariwisata Perkotaan Berbasis Situs Warisan Budaya di Kota Mataram a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Strategi pengembangan pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya di Kota Mataram memerlukan identifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi keberhasilan pengembangan. Faktor internal mencakup kekuatan dan kelemahan yang ada di dalam kawasan, sementara faktor eksternal terdiri dari peluang dan ancaman yang berasal dari lingkungan luar. Analisis SWOT ini menjadi dasar dalam merumuskan strategi yang tepat untuk mengoptimalkan potensi situs warisan budaya di Kota Mataram. Analisis Matriks IFAS. EFAS. Penelitian ini menerapkan analisis matriks Internal Strategic Factors Analysis Summary (IFAS) dan External Strategic Factors Analysis Summary (EFAS) sebagai instrumen strategis dalam perumusan kebijakan pengembangan pariwisata perkotaan yang berbasis situs warisan budaya di Kota Mataram. Matriks IFAS difokuskan pada evaluasi komprehensif terhadap faktor-faktor kekuatan dan kelemahan internal yang melekat pada destinasi wisata, sedangkan matriks EFAS diorientasikan untuk menganalisis peluang dan ancaman eksternal yang mempengaruhi pengembangan sektor pariwisata. Implementasi kedua analisis strategis tersebut bertujuan untuk menentukan posisi kuadran strategis pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya di Kota Mataram, yang selanjutnya menjadi landasan metodologis dalam merumuskan alternatif strategi pengembangan yang berkelanjutan dan terukur. Proses ini memungkinkan pengidentifikasian potensi yang tepat untuk mengembangkan pariwisata perkotaan dengan berbasis daya tarik dan kelestarian situs warisan budaya. Analisis ini menggunakan matriks IFAS untuk mengidentifikasi dan memaksimalkan kekuatan, serta mengurangi dampak Tabel 1. Analisis Matriks IFAS No. Indikator Lokasi kawasan pariwisata warisan budaya yang berada di tengah Kota Mataram antar satu daya tarik dengan daya tarik lainya masih berdekatan. Jarak akses Kota Mataram dengan Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) berjarak A 40 kilometer. Mudah dalam mendapatkan fasilitas transportasi dengan menyewa kendaraan pribadi maupun kendaraan umum atau jasa kendaraan online. Terdapat menjelaskan mengenai warisan budaya tersebut di setiap daya tarik wisata warisan budaya di Kota Mataram. Akomodasi seperti penginapan dan makanan mudah untuk di dapatkan di sekitar Kota Mataram. Warisan budaya di Kota Mataram dapat menjadi destinasi wisata religi bagi umat hindu dan muslim. Bobot Rating Nilai Keterangan 0,04 0,13 Kekuatan 0,03 0,10 Kekuatan 0,04 0,18 Kekuatan 0,07 0,26 Kekuatan 0,04 0,13 Kekuatan 0,07 0,26 Kekuatan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Daya tarik wisata warisan budaya memiliki nilai cerita dan sejarah yang penting bagi masyarakat Kota Mataram dan bentuknya masih asli. Daya tarik situs warisan budaya masih sepenuhnya dijaga dan dikelola masyarakat Terdapat daya tarik situs warisan budaya dapat dijadikan tempat untuk mengadakan MICE dan foto Pre-wedding 10 Fasilitas umum yang terdapat di setiap daya tarik warisan budaya sudah cukup lengkap. 11 Terdapat beberapa warisan budaya masih terdapat kerusakan pada beberapa 12 Masih lemahnya pengawasan wisatawan yang merusak daya tarik warisan budaya. 13 Masih minimnya kegiatan-kegiatan / festival yang diadakan di daya tarik warisan 14 Terdapat beberapa fasilitas yang mulai rusak, seperti papan informasi sudah mulai pudar sehingga agak sulit untuk membaca 15 Pengelolaan dan sumber dana warisan budaya masih belum maksimal. 16 Masih rendahnya edukasi dan informasi masyarakat tentang pentingnya warisan 17 Belum adanya program city tour di Kota Mataram, khususnya dalam mengunjungi situs warisan budaya. 18 Masih kurang seriusnya pemerintah dalam 19 Masih berkunjung ke daya tarik warisan budaya. TOTAL 0,07 0,20 Kekuatan 0,07 0,26 Kekuatan 0,05 0,16 Kekuatan 0,04 0,13 Kekuatan 0,05 0,11 Kelemahan 0,05 0,11 Kelemahan 0,07 0,07 Kelemahan 0,04 0,04 Kelemahan 0,07 0,13 Kelemahan 0,03 0,07 Kelemahan 0,04 0,04 Kelemahan 0,07 0,07 Kelemahan 0,04 0,04 Kelemahan 1,00 2,51 Sumber: Data Olah Peneliti, 2025 a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Analisis matriks EFAS bertujuan untuk mengidentifikasi peluang yang ada dengan meminimalkan ancaman yang disajikan pada tabel berikut: Tabel 2. Analisis Matriks EFAS No. Indikator Meningkatkan pendapatan pemerintah Kota Mataram dan masyarakat sekitar situs warisan budaya Memperkenalkan situs warisan budaya Meningkatkan pengetahuan dan informasi bagi masyarakat tentang warisan budaya. Menumbuhkan nasionalisme terhadap bangsa Indonesia. Menciptakan diversifikasi daya tarik wisata di Kota Mataram. Meningkatkan jumlah kunjungan wisata ke Kota Mataram Menjadi destinasi wisata alternatif. Dapat menjadi sarana belajar dan masyarakat umum. Terjadinya kerusakan di situs warisan budaya yang dapat disebabkan oleh 10 Adanya persaingan dengan daya tarik wisata perkotaan lainnya yang lebih menarik membuat daya tarik situs warisan budaya tidak menarik lagi. 11 Dapat terjadinya kemungkinan Mass Tourism 12 Timbulnya komodifikasi warisan budaya dan pudarnya nilai kesakralan warisan TOTAL Bobot Rating Nilai Keterangan 0,08 0,32 Peluang 0,12 0,36 Peluang 0,08 0,24 Peluang 0,08 0,32 Peluang 0,06 0,18 Peluang 0,10 0,40 Peluang 0,08 0,24 Peluang 0,08 0,16 Peluang 0,08 0,16 Ancaman 0,06 0,12 Ancaman 0,06 0,12 Ancaman 0,12 0,12 Ancaman 1,00 2,74 Sumber: Data Olah Peneliti, 2025 a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Gambar 7. The IFE Total Weighted Score Sumber: Dokumen Peneliti, 2024 Berdasarkan analisis IFAS dan EFAS di atas, dapat disimpulkan melalui gambar 6. matriks hasil analisis IFAS dan EFAS bahwa posisi Pariwisata Warisan Budaya di Kota Mataram berada pada kuadran 5 yaitu Hold and Maintain strategic dimana fokus yang perlu dikembangkan dalam pariwisata perkotaan di Kota Mataram yang berbasis situs warisan budaya yaitu penetrasi pasar serta melakukan pengembangan produk. Pembahasan Analisis potensi pengembangan pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya di Kota Mataram menunjukkan posisi strategis yang sangat menguntungkan. Keunggulan kompetitif utama terletak pada konsentrasi geografis situs-situs bersejarah yang berada di pusat kota dengan jarak yang relatif dekat satu sama lain, memungkinkan pengembangan konsep cultural trail atau jalur wisata budaya yang terintegrasi. Kekuatan lain yang signifikan adalah keberagaman tipologi warisan budaya yang mencakup pura sebagai peninggalan Kerajaan Karangasem, makam bersejarah yang merepresentasikan narasi perjuangan kolonial dan spiritualitas Islam, serta kawasan bersejarah seperti Kota Tua Ampenan yang telah diakui sebagai salah satu dari 43 Kota Pusaka Indonesia. Aksesibilitas yang baik melalui infrastruktur transportasi yang memadai dan ketersediaan berbagai moda transportasi, mulai dari angkutan umum hingga layanan digital, memperkuat daya saing destinasi ini dalam konteks pariwisata perkotaan modern. Hasil analisis matriks EFAS mengidentifikasi peluang besar dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan memperkenalkan situs warisan budaya kepada pasar domestik maupun internasional, yang berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah dan masyarakat lokal. Diversifikasi daya tarik wisata melalui pengembangan pariwisata warisan budaya dapat menjadi strategi alternatif yang efektif untuk mengurangi ketergantungan pada sektor pariwisata konvensional. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah minimnya kegiatan festival dan program promosi yang dapat meningkatkan visibilitas destinasi, serta keterbatasan dalam pengelolaan dan sumber pendanaan yang berkelanjutan. Ancaman komodifikasi warisan budaya dan potensi kerusakan akibat aktivitas wisata yang tidak terkontrol memerlukan strategi mitigasi yang komprehensif untuk memastikan pelestarian nilai-nilai budaya dan kesakralan situs-situs bersejarah tetap terjaga. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Posisi pariwisata warisan budaya Kota Mataram pada kuadran 5 (Hold and Maintai. dalam matriks IFAS-EFAS menunjukkan perlunya fokus pada strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk yang berkelanjutan. Strategi penetrasi pasar dapat diimplementasikan melalui program promosi yang lebih agresif dan pengembangan paket wisata terintegrasi yang menghubungkan berbagai situs warisan budaya dalam satu itenerari Pengembangan produk wisata dapat diarahkan pada inovasi interpretasi sejarah melalui teknologi digital, pengembangan program edukasi budaya, dan penguatan kapasitas infrastruktur pendukung. Kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola situs, akademisi, dan komunitas lokal seperti Lombok Heritage and Science Society menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi situs warisan budaya sebagai destinasi pariwisata perkotaan yang berkelanjutan. Implementasi strategi ini memerlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek pelestarian budaya, pengembangan ekonomi lokal, dan peningkatan pengalaman wisatawan untuk menciptakan model pariwisata warisan budaya yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan destinasi serupa di Indonesia. KESIMPULAN Kota Mataram memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya. Kota Mataram memiliki berbagai situs bersejarah yang bernilai tinggi, seperti Taman Mayura. Pura Meru. Makam Loang Baloq. Makam Jenderal Mayor P. Van Ham. Kota Tua Ampenan, dan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat. Keunggulan utama terletak pada lokasi strategis situs-situs ini yang berada di pusat kota dengan jarak yang relatif dekat satu sama lain, memungkinkan pengembangan konsep jalur wisata budaya yang terintegrasi. Keberagaman tipologi warisan budaya yang mencakup pura, makam bersejarah, dan kawasan bersejarah, serta aksesibilitas yang baik melalui infrastruktur transportasi yang memadai, memperkuat daya saing destinasi ini dalam konteks pariwisata perkotaan modern. Meskipun memiliki potensi yang besar, pemanfaatan situs warisan budaya di Kota Mataram masih menghadapi berbagai tantangan, seperti minimnya kegiatan festival dan program promosi, keterbatasan dalam pengelolaan dan sumber pendanaan, serta kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap pengembangan potensi warisan budaya. Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa posisi pariwisata warisan budaya Kota Mataram berada pada kuadran 5 (Hold and Maintai. , yang memerlukan fokus pada strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk yang berkelanjutan. Strategi ini dapat diimplementasikan melalui program promosi yang lebih agresif, pengembangan paket wisata terintegrasi, inovasi interpretasi sejarah melalui teknologi digital, dan penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola situs, akademisi, dan komunitas lokal untuk mengoptimalkan potensi situs warisan budaya sebagai destinasi pariwisata perkotaan yang berkelanjutan SARAN Pemerintah Kota Mataram perlu mengimplementasikan strategi pengembangan pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya yang terintegrasi dan berkelanjutan. Strategi ini harus fokus pada penetrasi pasar melalui program promosi yang lebih agresif, pengembangan paket wisata terintegrasi yang menghubungkan situs-situs seperti Taman Mayura. Pura Meru. Makam Loang Baloq, dan Kota Tua Ampenan dalam satu cultural trail, serta pemanfaatan teknologi digital untuk interpretasi sejarah yang lebih menarik. Selain itu, a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 diperlukan kolaborasi yang kuat antara Dinas Pariwisata, pengelola situs, akademisi, dan komunitas lokal untuk mengatasi kendala-kendala eksisting seperti minimnya kegiatan festival, kerusakan fasilitas, dan keterbatasan sumber pendanaan. Upaya revitalisasi Kota Tua Ampenan sebagai kota pusaka, pengembangan program edukasi budaya, dan penguatan infrastruktur pendukung harus dilakukan secara simultan untuk memaksimalkan potensi ekonomi sekaligus menjaga kelestarian nilai-nilai budaya dan kesakralan situs-situs bersejarah, sehingga Kota Mataram dapat menjadi destinasi pariwisata warisan budaya yang kompetitif dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA