RITORNERA: JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA Vol 05. No 02. Agustus 2025. Hal: 227-238 ISSN (Online: 2797-717X) (Print:2797-7. Available at: pspindonesia. Strategi Pemuridan Pastoral untuk Menguatkan Identitas Iman Generasi Strawberry Berdasarkan Titus 2:1Ae5 Raymond Hessel Stephen Sekolah Tinggi Teologi Cianjur move_ray@yahoo. ABSTRACT This study discusses pastoral discipleship strategies to strengthen the faith identity of the Strawberry Generation based on Titus 2:1Ae5. This generation is known to have creative potential but is emotionally and spiritually fragile. This phenomenon is influenced by permissive parenting, instant culture, and intensive exposure to digital media. Titus 2:1Ae5 emphasises the importance of sound teaching, exemplary living, and intergenerational discipleship as the foundation for forming faith identity. This study uses a qualitative method with a literature review, leading to the conclusion that understanding the Strawberry Generation from a sociological and theological perspective shows the need for a holistic approach in understanding the challenges and opportunities of this generation. Faith formation models for the younger generation are often pragmatic and poorly grounded in biblical principles, thus failing to address the emotionally and spiritually fragile challenges of the Strawberry Generation. Through an exposition of Titus 2:1Ae5 and the application of pastoral discipleship principles, this study formulates a contextual and biblical faith formation strategy. The results provide theological and practical contributions to strengthening the faith identity of the Strawberry Generation and bridging the gap between biblical principles and the needs of the contemporary generation. Keywords: discipleship, pastoral, strawberry generation, faith identity, pastoral theology. Christian youth ABSTRAK Penelitian ini membahas strategi pemuridan pastoral untuk menguatkan identitas iman Generasi Strawberry berdasarkan Titus 2:1Ae5. Generasi ini dikenal memiliki potensi kreatif namun rapuh secara emosional dan spiritual. Fenomena ini dipengaruhi oleh pola asuh permisif, budaya instan, serta keterpaparan intensif pada media digital. Titus 2:1Ae5 menegaskan pentingnya pengajaran sehat, teladan hidup, dan pemuridan lintas generasi sebagai fondasi pembentukan identitas iman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi pustaka, maka didapat kesimpulan bahwa adanya pemahaman generasi strawberry dalam perspektif sosiologi dan teologi menunjukkan perlunya pendekatan yang holistik dalam memahami tantangan dan peluang generasi ini. Model pembinaan iman bagi generasi muda sering kali bersifat pragmatis dan kurang berakar pada prinsip biblika, sehingga belum menjawab tantangan generasi strawberry yang rapuh secara emosional dan spiritual. Melalui eksposisi Titus 2:1Ae5 dan penerapan prinsip pemuridan pastoral, penelitian ini merumuskan strategi pembinaan iman yang kontekstual dan alkitabiah. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Hasilnya memberikan kontribusi teologis dan praktis dalam memperkuat identitas iman generasi strawberry serta menjembatani kesenjangan antara prinsip Alkitab dan kebutuhan generasi Kata Kunci: pemuridan, pastoral, generasi strawberry, identitas iman, teologi pastoral, generasi muda Kristen PENDAHULUAN Sebuah fenomena yang mulai ramai dibincangkan sekitar satu dasawarsa akhir ini terhadap generasi modern yang sering disebut Generasi Strawberry, menjadi isu serius dalam konteks pendidikan iman dan pelayanan pastoral pada abad ke dua puluh satu. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Christina Ongg sekitar tahun 1990-an dalam konteks kehidupan masyarakat di Taiwan. 1 Bahkan dalam satu dekade terakhir, tingkat kerapuhan generasi semakin meningkat karena berbagai tekanan yang muncul dari beragam aspek kehidupan. Oleh sebab itu, penting untuk memahami karakter generasi yang mudah rapuh ini. 2 Bila saat ini dikaitkan dengan generasi Z bisa jadi ini adalah bagian yang berada dalam lingkaran generasi Strawberry karena mereka memiliki mental yang sangat lembek ketika menghadapi tekanan dari hidup, maka dari itu mereka dikaitkan dengan buah strawberry yang dimana perumpamaan buah strawberry yang sangat mudah hancur jika mendapatkan tekanan. 3 Ini menggambarkan karakter generasi muda yang pada satu sisi tampak cerdas, kreatif, dan menarik dilihat orang, tetapi pada sisi lain rapuh, mudah menyerah, serta kurang tahan menghadapi tekanan hidup. 4 Generasi Strawberry hidup di era digital, di mana media sosial, streaming culture, dan teknologi informasi menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Paparan media digital yang intensif terbukti memengaruhi kesehatan mental remaja dan dewasa muda. Twenge menuliskan bahwa generasi yang ia sebutkan sebagai iGen mengalami peningkatan signifikan dalam kecemasan, kesepian sosial, dan depresi akibat penggunaan gawai yang berlebihan. 5 Dalam banyak kasus, identitas diri generasi muda dibentuk bukan oleh tradisi keluarga atau komunitas iman, melainkan oleh algoritma media sosial yang menentukan apa yang mereka baca, dengar, lihat, dan percayai. Kondisi ini menghadirkan krisis spiritual karena identitas iman tidak lagi dibangun atas dasar relasi dengan Allah, melainkan atas pencapaian sosial atau validasi digital. Di Indonesia, fenomena ini mulai semakin dikenal sejak tahun 2022 ketika bertambahnya secara signifikan Aycuitan-cuitanAy di media sosial seperti: Ayakhir-akhir ini jumlah orang tua yang Emily Murphy. AuThe" Strawberry Generation. ",Ay in Connecting Childhood and Old Age in Popular Media, ed. Vanessa Joosen, vol. 108 (Mississippi: Univ. Press of Mississippi, 2. , 109. Lurusman Jaya Hia. Claudia Angelina, and Monica Santosa. AuKepemimpinan Kristen Di Era Digital Terhadap Generasi Strawberry,Ay Teologis-Relevan-Aplikatif-Cendikia-Kontekstual 2, no. : 118Ae33. Ni Ketut Arniti et al. AuAnalisis Persepsi Pekerja Generasi Z Sebagai Generasi Strawberry Terhadap Reward,Ay AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional 5, no. : 154Ae68, https://doi. org/10. 54783/jin. Lurusman Jaya Hia. Claudia Angelina, and Monica Santosa. AuKepemimpinan Kristen Di Era Digital Terhadap Generasi Strawberry,Ay Teologis-Relevan-Aplikatif-Cendikia-Kontekstual 2, no. : 118Ae33, https://doi. org/10. 61660/tep. Jean M. Twenge. IGen: Why TodayAos Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious. More Tolerant. Less HappyAiand Completely Unprepared for Adulthood (New York: Atria Books, 2. , 45. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia mengatakan anaknya moody semakin meningkat, sehingga penyebutan dari orang tua ini dikhawatirkan untuk anak setelah mereka besar nanti akan mudah menyebut dirinya sendiri gampang berubah-ubah suasana hatiAy. 6 Penelitian yang dilakukan di Indonesia pada tahun 2024 menghubungkan pola asuh permisif dan budaya instan dengan munculnya generasi yang memiliki ketahanan rendah terhadap kritik dan tantangan. 7 Fenomena ini menimbulkan keprihatinan di kalangan rohaniwan, pendidik Kristen, dan gembala sidang sebagai pimpinan suatu gereja lokal. Penelitian ini berbeda dengan literatur lain yang hanya membahas pemuridan dalam konteks umum, dimana di dalamnya disinggung mengenai delapan hal tentang murid. Salah satunya adalah pemilihan pribadi murid-murid yang tidak dijelaskan secara spesifik rentang usia/generasinya 8 , seperti yang sedang diteliti penulis perihal Generasi Strawberry saat ini. Beberapa penelitian setelah 2015 mulai mengangkat isu identitas religius generasi digital yang memang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi,9 namun penelaahannya hanya melalui tafsir kitab QurAoan serta pentingnya formasi intergenerasional sebagai dasar gagasan pendidikan Kristiani dalam gereja,10 tetapi belum melandaskan dasar kajiannya dalam eksposisi teks tertentu dalam Alkitab. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan kontribusi yang baru menghubungkan pemuridan dengan menitikberatkan pada kelompok Generasi Strawberry yang sekaligus sebagai pelaku teknologi digital pada masa ini, serta melakukan kajian biblika Titus 2:1Ae5 sebagai dasar penjelasan formasi intergenerasional, menyintesiskan literatur empiris, serta menyusun strategi pemuridan pastoral yang relevan bagi Gereja kontemporer. Tujuan penelitian ini adalah: pertama, menjadi salah satu sumber informasi bagi tim pastoral gereja atau pimpinan jemaat mengantisipasi kehadiran anggota generasi strawberry dalam gereja lokal. Kedua, gereja dapat mengembangkan strategi yang tepat untuk melayani mereka berdasarkan konteks surat Titus telah dicantumkan. Ketiga, berkontribusi bagi pengembangan penelitian selanjutnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif,11 dengan metode studi pustaka . ibrary Metode ini dipilih karena tujuan utama kajian adalah menghubungkan fenomena kontemporer Generasi Strawberry dengan data biblika (Titus 2:1Ae. melalui interpretasi teologis dan pastoral. Sumber primer penelitian ini adalah teks Alkitab, khususnya surat Titus, yang dianalisis dengan bantuan komentar eksegetis mutakhir. Proses penelitian ini dimulai yaitu menelaah berbagai literatur sosiologis dan teologis terkait fenomena Generasi Strawberry serta AuMengenal Generasi Stroberi Dan Pemicu Istilah Tersebut,Ay Tempo . co, 2022. Abdul Haris. AuImplikasi Pola Asuh Strawberry Generation Terhadap Pendidikan Karakter Anak Menurut Perspektif Islam,Ay INTEGRATIF |Jurnal Magister Pendidikan Agama Islam 4, no. 2 (March 2. : 142Ae62, https://doi. org/10. 70143/integratif. Dorce Sondopen. AuRelasi Antara Penginjilan Dan Pemuridan Untuk Pertumbuhan Gereja,Ay Excelsis Deo: Jurnal Teologi. Misiologi. Dan Pendidikan 3, no. : 95Ae105, https://doi. org/10. 51730/ed. Muhammad Zaki Hidayat and Bashori. AuPenafsiran Al-QurAoan Tentang Resiliensi Spiritual Generasi Z Dalam Krisis Identitas Keagamaan Digital,Ay Jurnal Studi QurAoan Dan Tafsir 4, no. : 01-27, https://doi. org/10. 59005/jsqt. Merensiana Hale. AuDasar Gagasan Pendidikan Kristiani Intergenerasional Dalam Gereja,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 8, no. : 148Ae69. Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R Dan D (Bandung: ALFABETA, 2. , 80. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia prinsip pemuridan pastoral berdasarkan Titus 2:1Ae5. Selanjutnya, data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif-analitis untuk menemukan keterkaitan antara tantangan generasi ini dengan relevansi prinsip Alkitabiah dalam pembentukan karakter melalui pemuridan. Pada akhirnya, penelitian ini merumuskan strategi pemuridan pastoral yang kontekstual dan aplikatif bagi Generasi Strawberry sebagai jawaban atas kebutuhan rohani dan sosial mereka. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman Generasi Strawberry dalam Perspektif Sosiologi dan Teologi Istilah Generasi Strawberry digunakan untuk menggambarkan generasi muda yang diasosiasikan dengan sensitivitas tinggi terhadap tekanan, di tengah capaian pendidikan dan kreativitas yang menonjol. Riset telah menandai kontribusi pola asuh yang tidak konsisten dan kultur memanjakan terhadap terbentuknya profil yang rapuh secara emosional dan rendah ketahanan menghadapi kritik. 12 Dari perspektif psikologi budaya. Lukianoff dan Haidt mengamati fenomena overprotection pada pola pendidikan kontemporer, yang justru menghambat perkembangan daya lenting . generasi muda. Mereka menekankan bahwa generasi ini rentan karena kurang diberi ruang menghadapi tantangan nyata dan membangun kekuatan moral dari pengalaman kesulitan 13 . Dalam konteks pastoral, hal ini berarti Gereja dipanggil bukan sekadar untuk menghibur generasi muda, melainkan memampukan mereka menghadapi realitas dengan fondasi iman yang kokoh. Di sinilah pentingnya pemuridan yang menekankan pembentukan karakter, bukan sekadar penyampaian doktrin. Lebih jauh dalam pengamatan lintas negara juga menunjukkan korelasi antara intensitas media digital dan meningkatnya kecemasan/kesepian di kalangan remaja yang berdampak pada pembentukan identitas dan komitmen religius. 14 Tingginya penggunaan internet berkorelasi dengan penurunan kesejahteraan mental remaja tersebut. Pada saat yang sama, keterlibatan digital beririsan dengan proses pembentukan identitas ranah keagamaan yang memengaruhi identitas maupun komitmen religius remaja. Wacana publik tentang fragility sendiri dikritisi yang menunjukkan bahwa pola pendidikan yang overprotective menyulitkan perkembangan daya lenting, namun solusi tidak terletak pada disiplin tinggi/keras tanpa empati, melainkan pada desain pembelajaran yang membangun agen moral yang tangguh15. Maka, proses menentukan sebuah desain pembelajaran untuk Generasi Strawberry yang sangat dekat dengan media digital menjadi sangat krusial, program/metode yang tetap memerhatikan penggunaan media digital bagi mereka, dengan pendekatan disiplin yang tetap ber-empati pada sisi afeksinya. Qinglan Feng and Ming Cui. AuDiscrepancies in Perceived Indulgent Parenting. Relationship Satisfaction, and Psychological Well-Being of Adolescents and Parents,Ay Children 11, no. 4 (March 2. : 393, https://doi. org/10. 3390/children11040393. Greg Lukianoff and Jonathan Haidt. The Coddling of the American Mind (New York: Penguin Press, 2. , 29. Twenge. IGen: Why TodayAos Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious. More Tolerant. Less HappyAiand Completely Unprepared for Adulthood. Lukianoff and Haidt. The Coddling of the American Mind. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Dalam teologi praktis, iman adalah proses naratif-relasional. Identitas iman bukan hanya tentang apa yang dipercayai, melainkan tentang narasi hidup: siapa saya dan milik siapa saya, yang dibentuk oleh praktik komunal dan kebiasaan. Leslie J. Francis dan koleganya, melalui studi empiris pada tahun 2020, menunjukkan bahwa kedalaman disiplin rohani serta kekuatan panggilan . dalam diri remaja Kristen sangat terkait dengan dukungan komunitas gereja lokal. Program kelompok kecil, mentoring antar generasi, dan pengalaman personal yang bermakna terbukti berperan besar dalam pertumbuhan iman generasi muda. 16 Temuan ini menegaskan bahwa Gereja harus menjadi ekosistem formasi iman yang menyediakan dukungan relasional dan jalur pemuridan yang jelas. Kerangka habitus liturgis James Smith membantu merekonstruksi bahwa pembentukan identitas tidak cukup melalui kognisi, tetapi terutama melalui kebiasaan yang berulang . 17 Temuan empiris Francis mengafirmasi bahwa dukungan gereja lokal dan partisipasi pada jalur pemuridan . egiatan kelompok dan pengalaman persona. berkaitan erat dengan kedalaman disiplin rohani dan kekuatan panggilan pada remaja 18 . Dengan demikian, problem kerapuhan tidak boleh ditangani melalui pelabelan negatif, melainkan melalui ekosistem formasi iman yang menyediakan dukungan relasional, ruang praktik yang menantang sekaligus aman, dan teladan lintas generasi. Sumbangan studi intergenerasional terbaru menunjukkan bahwa perjumpaan antargenerasi bukan sekadar program paralel menciptakan transfer iman yang lebih kokoh: anak, remaja, dan dewasa berbagi praktik doa, pelayanan, dan narasi panggilan dalam tubuh Kristus. 19 Kerangka ini relevan di Indonesia, karena struktur keluarga besar dan jejaring komunal masih kuat. gereja dapat mengaktivasi modal sosial tersebut untuk pemuridan yang berpusat pada relasi, bukan sekadar acara besar namun pada visi Allah dalam pelayanan yang besar. Eksposisi Teologis Titus 2:1Ae5 dan Prinsip Pemuridan Pastoral Perikop Titus 2:1Ae5 diawali mandat: AuTetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehatAy . 21 Perikop ini menata peran baik laki-laki maupun perempuan tua sebagai teladan dan pelatih bagi yang muda, dengan fokus berulang pada ssphrsn/ssphrosyne . enguasaan diri/ kebijaksanaan prakti. Sean Christensen menunjukkan bahwa Titus memadatkan kosa kata ssphrosyne secara luar biasa lima dari enam belas kali kemunculan dalam Perjanjian Baru untuk Leslie J. Francis et al. AuWhat Helps Young Christians Grow in Discipleship? Exploring Connections between Discipleship Pathways and Psychological Type,Ay Mental Health. Religion & Culture 24, no. 6 (July 2. 563Ae80, https://doi. org/10. 1080/13674676. Kevin L. Hughes. AuJames K. Smith. You Are What You Love: The Spiritual Power of Habit,Ay Augustinian Studies 47, no. : 256Ae57, https://doi. org/10. 5840/augstudies201647243. Francis et al. AuWhat Helps Young Christians Grow in Discipleship? Exploring Connections between Discipleship Pathways and Psychological Type. Ay Christine Lawton Holly Catterton Allen and Cory L. Seibel. Intergenerational Christian Formation Bringing the Whole Church Together in Ministry. Community, and Worship (Downers Grove: InterVarsity Press. Paulus Kunto Baskoro. Ester Yunita Dewi, and Yonatan Alex Arifianto. AuPeran Pemuridan Bagi Kebangkitan Pemimpin Rohani Baru Dalam Gereja Masa Kini,Ay THEOLOGIA INSANI (Jurnal Theologia. Pendidikan. Dan Misiologia Integrati. 1, no. : 49Ae66, https://doi. org/10. 58700/theologiainsani. LAI. Alkitab (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2. , 323. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia menegaskan akomodasi pada Kristus: disiplin diri yang lahir dari anugerah dan mengubah habitus (Tit. 2:11Ae. 22 Jadi, disiplin yang dilakukan perlu dibangun dengan kesadaran akan anugerah Allah yang telah diterima. Dalam komentar mutakhir. Pao menempatkan etika rumah tangga surat Titus dalam horizon misioner setiap kelompok diundang kepada praksis yang menghias ajaran Allah (Tit. , sehingga kesaksian komunitas menghindari cemooh publik,23 Sedangkan Hutson menekankan struktur intergenerasional, yaitu: perempuan berusia lanjut perlu mengajar hal-hal yang baik . kepada perempuan muda. suatu pola mentoring berbasis relasi dan teladan hidup. 24 Pendidikan/pemuridan yang efektif intergenerasional antara orang tua dengan orang muda, dalam keluarga orang tua dengan anak atau ayah serta ibu dengan anak-anak mereka adalah dengan keteladanan hidup serta relasi yang terejawantahkan setiap hari. Diskursus household codes kontemporer menempatkan teks-teks seperti Tit. 2:1Ae10 di antara praktik sosial Romawi, namun mencatat adanya reorientasi teologis: motivasi Aysupaya firman Allah jangan dihujatAy . asal yang sama ayat . dan Aysupaya lawan menjadi maluAy . menunjukkan tujuan apologetik-misioner dari etika komunitas25. Nes dan Klerk memperlihatkan arah penelitian baru atas Pastoral Epistles terkait komposisi, retorika, dan teologinya mengundang pembacaan yang lebih nuansatif atas fungsi pedagogis teks-teks seperti Titus. Holly Allen. Christine Lawton, dan Cory Seibel dalam penelitian mereka menambahkan dimensi penting, yaitu: formasi iman intergenerasional. Mereka menekankan bahwa pertumbuhan iman lebih kuat ketika lintas generasi dipertemukan dalam praktik doa, pembelajaran, dan pelayanan27. Ini sesuai dengan pola Alkitab, termasuk surat Titus 2:1Ae5, yang menegaskan baik peran orang tua kandung maupun orang tua rohani dalam membimbing generasi muda melalui teladan hidup, pengajaran, dan kedewasaan spiritual. Dengan demikian, teks Titus 2:1Ae5 menghadirkan prinsip penting: pemuridan sejati terjadi melalui instruksi verbal, dan juga melalui kehidupan yang diteladankan antar generasi. Dengan demikian. Titus 2 menghadirkan paradigma pemuridan pastoral, teladan yang terlihat, pengajaran yang kontekstual, dan tujuan misiologis yang jelas demi kekristenanmasa kini,28 yaitu generasi strawberry. Penelitian Hutson tentang Pastoral Epistles menegaskan bahwa Titus 2 mengandung paradigma misioner: kehidupan kudus komunitas Kristen ditampilkan agar Ayfirman Allah jangan dihujatAy (Tit 2:. 29 Orang yang tinggal di area sekitar keluarga Kristen akan menilai cara hidup sehari-hari Sean Christensen. AuThe Pursuit of Self-Control: Titus 2:1Ae14 and Accommodation to Christ,Ay Journal for the Study of Paul and His Letters 6, no. 2 (October 2. : 161Ae80, https://doi. org/10. 2307/26371745. David W Pao, 1--2 Timothy. Titus, vol. 1 (Brill Exegetical Commentary Leiden: Brill, 2. Christopher R Hutson. First and Second Timothy and Titus (Paideia: Commentaries on the New Testamen. (Grand Rapids: Baker Academic, 2. Carolyn Osiek. AuHousehold Codes,Ay Bible Odyssey, 2025. Jermo van Nes and Myriam Klinker--De Klerck. AuSpecial Issue Introduction: The Pastoral Epistles: Common Themes. Individual Compositions?,Ay Journal for the Study of Paul and His Letters 9, no. 1Ae2 . : 4Ae5. Holly Catterton Allen and Seibel. Intergenerational Christian Formation Bringing the Whole Church Together in Ministry. Community, and Worship. Yonatan Alex Arifianto. Reni Triposa, and Paulus Karaeng Lembongan. AuStudi Alkitab Tentang Misi Dan Pemuridan Dalam Amanat Agung Dan Implikasinya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini,Ay Diegesis: Jurnal Teologi 5, no. : 25Ae42. Hutson. First and Second Timothy and Titus (Paideia: Commentaries on the New Testamen. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia yang terpancar dari mereka. David Pao juga menggarisbawahi bahwa etika rumah tangga dari surat Titus berfungsi sebagai strategi apologetik dan misioner, bukan sekadar etika domestik. 30 Dengan kata lain, pemuridan pastoral berbasis Titus 2 bertujuan memperkuat identitas iman generasi muda supaya tetap kokoh di tengah tekanan budaya dan digital. Implemntasi Strategi Pemuridan Pastoral yang Kontekstual bagi Generasi Strawberry Berdasarkan pembacaan Titus, strategi pemuridan pastoral yang kontekstual mencakup empat poros. Pertama, formasi intergenerasional sebagai ekosistem, bukan acara insidentil. Allen menunjukkan bahwa praktik ibadah, belajar, komunitas, dan pelayanan yang melibatkan multiusia menghasilkan transmisi iman yang lebih kuat sekaligus mengurangi fragmentasi pelayanan. Kedua, mentori relasional satu-satu/kelompok kecil. Resilient discipleship menurut Barna bertumpu pada relasi akrab dengan orang dewasa yang konsisten, mereka yang Ayberdoa bersama sayaAy, meneladani hidup Kristus, dan Aypercaya kepada sayaAy sehingga narasi identitas di dalam Kristus tertanam. 32 Ketiga, pembentukan kebiasaan rohani . yang berulang. Smith menegaskan pentingnya kebiasaan liturgis sederhana doa harian, sabat digital, praktik syukur sebagai pedagogi keinginan yang membentuk arah hati33. Keempat, integrasi eklesiologi digital. Campbell mengingatkan bahwa ruang online adalah ruang eklesial yang perlu diatur dengan teologi kehendak baik: kehadiran pastoral, kurasi praktik digital, dan partisipasi kreatif yang mengedepankan kedewasaan. 34 Dengan kata lain, membangun saran/nasihat dalam keluarga untuk membangun habitat praktik ibadah/pelayanan, bersamaan dengan keterlibatan mentor bersama beberapa orang dalam suatu kelompok kecil yang saling mendoakan, dan memanfaatkan teknologi digital sebagai salah satu sarana untuk memudahkan proses penyampaian informasi bahkan relasi yang dapat meminimalkan kesulitan/keberatan jarak maupun waktu yang biasanya terjadi di kotakota besar/metropolitan. Dalam kerangka ini. Titus 2 mengarahkan fokus pada pembentukan penguasaan diri . di level kebiasaan: rencana membaca Alkitab yang realistis, doa berstruktur . isalnya doa pagi mala. , liturgi meja keluarga, serta aturan sabat digital mingguan. Strategi ini dikaitkan dengan tangga keterlibatan . ngagement ladde. : dari kehadiran, partisipasi, kontribusi, hingga multiplikasi mentor. Pengalaman gereja yang growing young menegaskan bahwa pemberdayaan partisipasi kaum muda . ukan hanya konsumsi acar. meningkatkan kepemilikan iman dan daya tahan ketika menghadapi tekanan akademik maupun sosial. Pao, 1--2 Timothy. Titus. Holly Catterton Allen and Seibel. Intergenerational Christian Formation Bringing the Whole Church Together in Ministry. Community, and Worship. David Kinnaman. Mark Matlock, and Aly Hawkins. Faith for Exiles: 5 Ways for a New Generation to Follow Jesus in Digital Babylon (Baker Books, 2. James K A Smith. You Are What You Love: The Spiritual Power of Habit (Grand Rapids: Brazos Press, 2. , 44. Heidi A Campbell and John Dyer. Ecclesiology for a Digital Church: Theological Reflections on a New Normal (London: scm Press, 2. , 63. Holly Catterton Allen. InterGenerate: Transforming Churches through Intergenerational Ministry (Abilene: acu Press, 2. , 78. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Implementasi membutuhkan rancangan yang terukur dan berulang. Pertama, peta jalur murid . iscipleship pathwa. terintegrasi: Ibadah bersama yang ramah generasi, kelompok kecil lintas generasi . nam sampai dua belas oran. dengan ritme mingguan, mentori satu-satu untuk remaja/ mahasiswa dengan pasangan mentor dewasa terlatih, praktik pelayanan nyata lintas usia melalui diakonia atau misi lokal. Temuan Francis dkk. memperlihatkan bahwa dukungan gereja dan kegiatan kelompok menjadi prediktor kuat kedalaman disiplin rohani dan kekuatan panggilan pada remaja. 36 Kedua, protokol mentori: kurikulum dua belas sesi yang berfokus pada narasi identitas dalam Kristus, penguasaan diri . erdasar Titus . , kebiasaan rohani, literasi digital, dan panggilan vokasional. setiap sesi menuntun pada praktik konkrit . ule of lif. dan refleksi. Ketiga, strategi digital: kanal daring untuk pembelajaran . isalnya materi singkat selama lima sampai tujuh meni. , komunitas . rup chat yang dimoderas. , dan ibadah . treaming yang menekankan partisipasi, bukan konsums. Eklesiologi digital yang sehat menuntut kehadiran pastoral, moderasi etika, dan penguatan praktik offline di rumah/ komunitas37. Keempat, indikator evaluasi: kedalaman disiplin rohani . kala doa/ Alkitab/ sabat digita. , kekuatan panggilan . kala vocati. , keterlibatan pelayanan . am kontribus. , jejaring relasi lintas generasi . umlah relasi bermakn. Dalam studi yang lain, menunjukkan bahwa investasi mentori satu-satu dan kelompok sebaya dalam konteks retreat dan tindak lanjut dapat menjadi katalis pembentukan identitas Kristen pada remaja 38 . Sejalan dengan itu. Barna menegaskan kontribusi relasi withing . adir bersama, konsisten, dan menyeberang generas. bagi ketahanan iman 39 . Sehingga, integrasi strategi ini menuntut pelatihan mentor, komitmen kepemimpinan gereja, serta adaptasi budaya jemaat agar perjumpaan lintas generasi menjadi habitus, bukan proyek sesaat. Kontribusi Teologis dan Praktis bagi Penguatan Identitas Iman Generasi Strawberry Sintesis teologis dari Titus 2:1Ae5 menghadirkan tiga kontribusi. Pertama. Titus menyatukan ortodoksi dan ortopraksis melalui motif misioner: komunitas yang berlatih penguasaan diri dan kebajikan menghias ajaran Allah . , sehingga kesaksian publik menjadi kredibel di tengah budaya yang kritis. 40 Kedua, pola intergenerasional bukan aksesori, melainkan arsitektur formasi: perempuan/ lelaki berusia lanjut melatih yang muda, sedangkan kaum muda menghidupi teladan itu di ruang kerja, sekolah, dan ruang digital. 41 Ketiga, spiritualitas kebiasaan mengarahkan gereja kepada desain praktis: kebiasaan kecil yang ajek membentuk identitas, yang dipupuk oleh relasi mentori dan komunitas yang aman namun menantang. 42 Pola serta kebiasaan Francis et al. AuWhat Helps Young Christians Grow in Discipleship? Exploring Connections between Discipleship Pathways and Psychological Type. Ay Campbell and Dyer. Ecclesiology for a Digital Church: Theological Reflections on a New Normal. Andrew Parker. John B White, and Andrew R Meyer. AuYouth. Sport, and Faith: Identity Formation in High School Athletes,Ay Religions 14, no. : 1293. Barna Group. AuStrong Relationships Within Church Add to Resilient Faith in Young Adults,Ay Barna Group, 2020. Pao, 1--2 Timothy. Titus. Holly Catterton Allen and Seibel. Intergenerational Christian Formation Bringing the Whole Church Together in Ministry. Community, and Worship. Smith. You Are What You Love: The Spiritual Power of Habit. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip tersebut yang terlihat melalui cara hidup gereja dalam rumah tangga (Ekklesia Domestik. akan menjadi jendela masuk/kesaksian bagi komunitas umum/publik untuk turut serta dalam kehidupan religius seperti yang mereka lihat. Kontribusi praktisnya: gereja lokal menata ulang liturgi dan kalendernya untuk memampukan interaksi lintas generasi, memperluas peran keluarga sebagai rumah formasi, serta memadukan ruang online dan offline berdasarkan prinsip eklesiologi digital yang matang 43 . Strategi ini relevan untuk menjawab fenomena kerapuhan yang didorong budaya digital dan tekanan performa akademik. 44 Fenomena Generasi Strawberry merupakan sebuah tantangan Sosio-Teologis baru pada abad ke-21. Generasi yang tampak cemerlang, kreatif, dan menarik di permukaan, tetapi rapuh dan mudah menyerah bukan sekadar label populer, melainkan penanda krisis pembentukan identitas dan daya lenting pada remaja serta dewasa muda. Dominasi media digital, algoritme yang mengkurasi atensi, dan kultur instan turut menggeser sumber identitas dari relasi dengan Allah dan komunitas iman menuju validasi sosial berbasis performa dan popularitas. Perikop Titus 2:1Ae5 menempatkan pengajaran yang sehat . dan teladan lintas generasi sebagai pilar pemuridan pastoral. Kata kunci ssphrosyne . enguasaan diri/ kebijaksanaan prakti. menonjol untuk menandai bahwa inti transformasi bukan sekadar pengetahuan, tetapi pembiasaan keutamaan yang terlihat dalam cara hidup. Kajian empiris tentang formasi iman intergenerasional menunjukkan bahwa dukungan komunitas, kelompok kecil, dan mentoring lintas usia berkontribusi pada kedalaman disiplin rohani dan kekuatan panggilan pada remaja. Kerangka habitus liturgis menegaskan bahwa keinginan dan imajinasi moral dibentuk lewat kebiasaan berulang seperti: doa harian, sabat digital, liturgi meja keluarga, praktik syukur yang menambatkan afeksi dan orientasi hidup pada Allah. Dengan demikian, penyembuhan kerapuhan tidak dicapai melalui pelabelan negatif atau disiplin keras yang tak berempati, melainkan lewat rancangan praksis yang aman namun menantang, berirama dan berjangka panjang, serta menempatkan generasi muda dalam jejaring teladan yang nyata. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa label Generasi Strawberry merepresentasikan realitas sosioActeologis yang ditandai kerapuhan emosional, rendahnya daya tahan, dan krisis identitas iman akibat pola asuh yang overprotektif, dominasi budaya digital, serta tekanan performa akademik. secara sosiologis kerapuhan itu berakar pada minimnya arena menghadapi tantangan nyata, sedangkan dalam perspektif teologi praktis gereja dipanggil bertransformasi dari sekadar agen penghiburan menjadi ekosistem pemuridan yang kokoh. Eksposisi Titus 2:1Ae5 menegaskan tiga pilar pemuridan pastoral, yaitu: penguasaan diri . , keteladanan lintas generasi, dan orientasi misioner sebagai strategi pembentukan identitas iman yang relevan bagi kebutuhan generasi muda. Implementasinya diwujudkan melalui formasi intergenerasional, mentoring relasional, habituasi rohani, dan integrasi eklesiologi digital untuk menghadirkan ruang iman yang Campbell and Dyer. Ecclesiology for a Digital Church: Theological Reflections on a New Normal. Twenge. IGen: Why TodayAos Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious. More Tolerant. Less HappyAiand Completely Unprepared for Adulthood. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia aman sekaligus menantang. Dengan kerangka tersebut, strategi pemuridan pastoral bukan hanya merespons kerapuhan generasi, melainkan juga meneguhkan identitas mereka sebagai murid Kristus yang resilien, mampu menghadapi tekanan budaya, dan menjadi saksi yang hidup di tengah masyarakat digital. DAFTAR PUSTAKA