Journal of Accounting and Business Issues (JABI) Volume 04 Nomor 02 Tahun 2025 Hal: 61-73 https://ojs. id/index. php/jabi ISSN Online : 2828-1411 ANALYSIS OF THE RIGHT STRATEGY FOR ADAPTING TRADITIONAL RETAIL BUSINESS IN THE DIGITAL ERA: A CASE STUDY OF BU YUNI'S SNACK SHOP USING THE BUSINESS MODEL CANVAS APPROACH Sulis Setiawati1 Siti Amelia Novita Sari2 1 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadja. Subang. Indonesia 2 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aksari. Indramayu. Indonesia sulis2022@gmail. INFO ARTIKEL ABSTRACT Histori Artikel : Tgl. Masuk : 01-02-2025 Tgl. Diterima : 17-05-2025 Tersedia Online : 31-05-2026 Keywords: The traditional retail industry, especially Indonesia's small local stores . , has been greatly disrupted by the quick development of digital technology. order to stay competitive in the digital age, this study is to assess Warung Jajan Bu Yuni's current business model using the Business Model Canvas (BMC) framework and determine suitable adaptation methods. In-depth interviews with the owner were used to gather data for a single case study using a qualitative descriptive approach. The results show that the company continues to run conventionally, without the use of digital technologies, depending on direct sales and personal connections with local clients. To adapt to shifting consumer behavior, a number of crucial BMC componentsAiincluding channels, customer connections, value propositions, income sources, and partnershipsAineed to be modified. The suggested adaptation tactics include partnering with local communities, providing basic delivery services, and promoting using WhatsApp Stories. Traditional retailers can become part of the digital ecosystem without losing their social and cultural identity thanks to these gradual and context-based adjustments. Traditional retail. Business Model Canvas, adaptation strategy, digital transformation, small business PENDAHULUAN Teknologi digital dalam dua dekade terakhir telah mengubah pandangan bisnis secara global, termasuk juga dalam sektor ritel tradisional. Perubahan ini terjadi dengan sangat cepat dan menyebar dengan luas, ditandai munculnya adopsi internet, perangkat mobile, serta platform digital seperti e-commerce dan juga media sosial yang semakin mendominasi pola konsumsi masyarakat (Kotler, 2. Dari hal ini, pelaku bisnis ritel tradisional dihadapkan pada kenyataan baru: perubahan perilaku konsumen yang mengutamakan kecepatan, kenyamanan, harga murah, dan pengalaman berbelanja yang terintegrasi dengan teknologi. Perubahan ini tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga di negara berkembang seperti Indonesia, yang memiliki tingkat pengguna internet mencapai lebih dari 77% dari total populasi di tahun 2023 (BPS, 2. Hal ini tentu Indonesia, termasuk di daerah perkotaan semi-perkotaan pedesaan, semakin terbiasa dalam membandingkan harga secara online, membaca ulasan pelanggan lain sebelum membeli, serta mengharapkan pelayanan yang cepat. Akibatnya, eksistensi bisnis Volume 04. No. ritel tradisional yang sebelumnya menjadi tulang punggung distribusi barang di masyarakat kini mengalami tekanan yang Data menunjukkan bahwa jumlah toko kelontong tradisional dan warung kecil mengalami penurunan tahunan sebesar 810% dalam lima tahun terakhir di beberapa kota besar di Indonesia, seiring dengan meningkatnya dominasi platform ecommerce seperti Tokopedia. Shopee, dan Lazada (Euromonitor, 2. Selain itu, pandemi COVID-19 mempercepat adopsi digitalisasi oleh konsumen, antara ritel modern berbasis teknologi dengan ritel tradisional. Dalam situasi ini, ritel tradisional yang tidak mampu beradaptasi menghadapi risiko kehilangan pelanggan, menurunnya pendapatan, hingga berujung pada kebangkrutan. Namun demikian, tidak semua pelaku ritel tradisional menyerah terhadap tekanan digitalisasi. Terdapat beberapa contoh adaptasi untuk bisnis ritel berkembang di era digital ini. Salah satu contohnya, seperti beberapa pemilik warung di daerah perkotaan mulai mengimplementasikan aplikasi pesan antar . , menggunakan media sosial sebagai sarana promosi, atau bahkan masuk sebagai penjual di platform marketplace (Shope. untuk memperluas jangkauan pasar mereka. Inovasi tersebut dapat menunjukkan bahwa, kemampuan penyesuaian model bisnis yang dijalankan adalah kunci keberhasilan dalam bertahan di era ldigital. Sementara itu, pendekatan Business Model Canvas (BMC) tentunya akan menjadi alat yang kuat bagi pelaku ritel tradisional dalam melakukan identifikasi aspek-aspek penting dari bisnis mereka yang perlu penyesuaian. Business Model Canvas menawarkan kerangka kerja yang sistematis untuk dapat menganalisis sembilan elemen yang berpengaruh dari suatu model bisnis, yaitu: segmen pelanggan, proposisi nilai, saluran distribusi, hubungan pelanggan, aliran pendapatan, sumber daya utama, aktivitas utama, mitra kunci, dan struktur biaya (Osterwalder & Pigneur, 2. Dengan pendekatan ini, pelaku bisnis dapat tantangan bisnis yang spesifik, serta membuat suatu strategi adaptasi yang Selain itu, diperlukan adanya adaptasi mengenai perubahan dalam struktur biaya Digitalisasi memungkinkan terjadinya pengurangan biaya untuk penyaluran produk melalui platform online, namun di sisi lain menuntut investasi baru dalam bidang manusia, dan pengelolaan data pelanggan (Chaffey, 2. Tanpa menggunakan pemahaman yang mendalam tentang struktur ini, bisnis ritel tradisional dapat mengalami ketidakseimbangan keuangan yang dapat memperburuk kondisi bisnis. Di lain sisi, lingkungan bisnis di era digital ini juga semakin kompleks dan rumit akibat terjadinya peningkatan persaingan kolaborasi seperti kemitraan logistik, reseller online, dan waralaba digital. Oleh sebab itu, kemitraan strategis menjadi dipertimbangkan dalam adaptasi model bisnis (Ries, 2. Ritel tradisional sekarang ini tidak bisa lagi berdiri sendiri. mereka perlu membangun jaringan kemitraan yang kuat dengan penyedia teknologi, logistik, hingga komunitas lokal untuk memperkuat daya saing mereka di ranah digital. Dari penjelasan diatas mengenai pentingnya proses adaptasi ini, penelitian mengenai strategi adaptasi bisnis ritel tradisional menggunakan pendekatan Business Model Canvas menjadi sangat relevan dan dibutuhkan. Studi ini akan menganalisis strategi apa saja yang relevan untuk dapat diterapkan sesuai kondisi usaha, apa saja kendala yang dihadapi di era digital ini, serta strategistrategi apa yang cocok diterapkan dalam membangun keberlanjutan bisnis di era Oleh karena itu, melalui penelitian ini, penulis bermaksud untuk mengkaji dinamika adaptasi bisnis ritel tradisional di Indonesia dengan studi kasus Warung Journal of Accounting and Business Issues (JABI) Jajanan Bu Yuni yang terletak di Jalancagak, hgSubang menggunakan pendekatan Business Model Canvas sebagai alat analisis. Hasil penelitian ini dimaksudkan untuk dapat menjadi rujukan strategis bagi Bu Yuni selaku pelaku usaha Warung Jajan dalam menyusun langkah-langkah adaptif untuk bertahan dan berkembang di tengah era digital yang penuh tantangan. KERANGKA TEORITIS Definisi Ritel Tradisional Ritel tradisional merupakan bentuk usaha penjualan barang ataupun jasa secara langsung kepada konsumen akhir melalui sarana fisik yang sederhana, seperti warung, kios, toko kelontong, pasar tradisional, dan pedagang kaki lima. Menurut Berman dan Evans . , ritel tradisional biasanya beroperasi dalam skala kecil, menggunakan teknologi sederhana yang ada, dan mengandalkan hubungan sosial dan kepercayaan pribadi antara penjual dan pembeli sebagai kekuatan utamanya. Indonesia, memegang peranan penting dalam perekonomian nasional, terutama dalam menyediakan kebutuhan pokok bagi masyarakat luas, menciptakan lapangan kerja, dan juga menjaga stabilitas harga di tingkat lokal (BPS, 2. Namun, seiring dengan cepatnya perubahan digital, ritel tradisional menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan relevansi dan daya saingnya dalam masyarakat luas. Transformasi Digital dalam Ritel Berkembangnya teknologi informasi perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam sektor bisnis Transformasi digital merupakan suatu integrasi teknologi digital dalam semua bidang bisnis, yang tentunya hal ini dapat mengubah cara organisasi beroperasi dan memberikan nilai kepada pelanggan (Rogers, 2. Menurut Kotler . , konsumen di era digital memiliki harapan baru terhadap berbelanja secara pribadi, serta akses informasi yang cepat dan juga akurat. Fenomena ini mengharuskan bisnis ritel, beradaptasi dengan menerapkan inovasi digital dalam operasional mereka. Dalam hal ini, pelaku ritel tradisional berisiko kehilangan pelanggan dan tertinggal dalam persaingan, jika tidak ada upaya adaptasi di era digital ini. Di Indonesia, semakin kuatnya tren penggunaan internet yang mencapai lebih dari 77% pada tahun 2023 (BPS, 2. Kondisi seperti itu akan mempercepat pergeseran perilaku konsumen ke arah belanja secara online, penggunaan aplikasi delivery, serta transaksi non-tunai. Tentunya hal ini akan menjadi suatu tantangan yang serius bagi ritel tradisional, untuk dapat beradaptasi di era digital ini dengan menyesuaikan strategi penjualan Tantangan Ritel Tradisional di Era Digital Tekanan yang besar tentunya dihadapi oleh bisnis ritel tradisional, tradisional, dan toko kecil, akibat perubahan yang terjadi ini. Menurut Euromonitor . , penurunan jumlah ritel tradisional di kota-kota besar Indonesia terjadi pada tingkat 8Ae10% per Faktor-faktor keterbatasan akses dalam menggunakan teknologi, rendahnya literasi digital pemilik, serta kekurangan modal menjadi hambatan utama dalam proses adaptasi yang dirancang (Chaffey, 2. Selain itu, ritel tradisional juga menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan platform e-commerce besar yang menawarkan harga lebih murah, variasi produk yang lebih luas, dan pengalaman berbelanja yang lebih nyaman bagi pelanggan. Jika ritel tradisional tidak segera melakukan transformasi, kehadiran mereka dalam ranah bisnis lokal tentunya akan semakin terancam (Teece, 2. Volume 04. No. Namun tetap saja, kesempatan untuk mengejar ketertinggalan masih ada. Pelaku ritel tradisional memiliki kekuatan yang unik berupa kedekatan mereka yang terbangun secara emosional dengan pelanggan, pemahaman budaya lokal, serta fleksibilitas dalam pelayanan. Jika semua kekuatan ini dapat dikombinasikan dengan adopsi teknologi secara cerdas, maka ritel tradisional masih memiliki potensi untuk bertahan dan berkembang (Ries, 2. Business Model Canvas (BMC) Untuk dapat membantu bisnis ritel tradisional dalam mengidentifikasi area perubahan dan inovasi yang diperlukan, pendekatan Business Model Canvas (BMC) dapat digunakan sebagai alat BMC dikembangkan oleh Osterwalder dan Pigneur . sebagai menganalisis, dan mengadaptasi model bisnis yang ada secara sistematis. BMC penilaian, yaitu: Customer Segments (Segmen Pelangga. Value Propositions (Proposisi Nila. Channels (Saluran Distribusi dan Komunikas. Customer Relationships (Hubungan Pelangga. Revenue Streams (Arus Pendapata. Key Resources (Sumber Daya Kunc. Key Activities (Aktivitas Kunc. Key Partnerships (Kemitraan Kunc. Cost Structure (Struktur Biay. Melalui menggunakan kerangka kerja BMC, pelaku ritel tradisional dapat memahami secara menyeluruh bagaimana bisnis mereka beroperasi, mengenali elemenelemen yang harus diperbaiki, serta mengembangkan strategi adaptasi yang lebih terarah. Penerapan BMC juga membantu mengidentifikasi kebutuhan perubahan Value Proposition, menambahkan layanan pengiriman cepat atau pembayaran cashless, agar tetap relevan dengan preferensi konsumen modern (Kotler, 2. Implikasi Adaptasi Model Bisnis. Adaptasi model bisnis tentunya bukanlah proses yang sederhana. Menurut Teece . , perubahan model lingkungan eksternal serta kemampuan internal untuk berinovasi. Ritel tradisional Dynamic Capabilities, yakni kemampuan untuk peluang, dan mengkonfigurasi ulang aset internal secara cepat. Di Indonesia, keberhasilan adaptasi ritel tradisional juga ditentukan oleh dukungan dari lingkungan pendukung pemerintah atau pemilik, kemudahan akses pembiayaan, serta keberadaan platform digital yang ramah terhadap pelaku usaha kecil (BPS, 2. Oleh karena itu, strategi adaptasi berbasis Business Model Canvas mempertimbangkan faktor internal dan eksternal secara keseluruhan. Penelitian Terdahulu Ni Kadek Indah Oktavia et al. Analisis Business Model Canvas pada usaha Kuliner 21th Century Sandwich. Studi kasus kualitatif. Analisis BMC mengidentifikasi kekuatan dan juga kelemahan dari model bisnis yang digunakan, strategi dari penelitian ini berfokus pada komunikas, branding, dan kanal digital. Penelitian ini mendukung pendekatan yang digunakan untuk menganalisis Warung Jajan Bu Yuni, khususnya dalam melakukan penilaian potensi adaptasi menggunakan elemen BMC Meci Nilam Sari . Implementasi WhatsApp Business pada UMKM di Indonesia. Kualitatif Deskriptif (Literatu. WhatsApp Business komunikasi 2 arah, layanan pelanggan, dan juga loyalitas melalui fitur katalog, auto-reply, dan promosi secara langsung. Penelitian ini memberi dasar dalam strategi adaptasi komunikasi Warung Journal of Accounting and Business Issues (JABI) Jajan Bu Yuni melalui sarana promosi WhatsApp story METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Kualitatif dengan menggunakan Studi Kasus. Pemilihan Penelitian kualitatif bertujuan untuk dapat memahami secara lebih mendalam fenomena adaptasi bisnis ritel tradisional di era digital dari sudut pandang pelaku bisnis itu sendiri. Dalam melakukan analisis mendalam peneliti menggunakan satu unit bisnis ritel tradisional, untuk membuat penelitian lebih terstruktur dan sistematis. Dalam proses analisis terhadap model Pendekatan Business Model Canvas yang dikembangkan oleh Osterwalder dan Pigneur sembilan elemen penting dalam model Sumber Data Penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data: Data Primer Data yang diperoleh langsung melalui langsung terhadap aktivitas bisnis, serta dokumentasi terkait. Data Sekunder Data yang diperoleh dari studi literatur, laporan industri, artikel akademik, jurnal, serta dokumen lain yang relevan mengenai ritel tradisional dan transformasi Lokasi dan Subjek Penelitian Lokasi penelitian dilakukan pada salah satu warung jajanan di daerah Jalancagak. Subang. Warung jajan ini sudah berdiri lebih dari 15 Tahun, dengan menghadapi berbagai macam kondisi ekonomi yang mempengaruhi warung secara langsung maupun tidak langsung. Lokasi teknologi, akses digital, dan dinamika transformasi ritel (Neuman, 2. Teknik Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut: Wawancara . Teknik ini digunakan untuk memperoleh data primer secara langsung dari subjek penelitian. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur pedoman wawancara berdasarkan sembilan elemen Business Model Canvas. Tujuan adalah untuk menggali proses perubahan digital, tantangan yang dihadapi, strategi yang digunakan untuk mempertahankan eksistensi dan meningkatkan daya saing. Observasi Peneliti melakukan observasi terhadap aktivitas operasional bisnis ritel tradisional, observasi dilakukan untuk melengkapi data hasil wawancara dan memvalidasi Menurut Sugiyono peneliti untuk memahami fenomena secara lebih langsung dalam situasi sosial. Dokumentasi Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data sekunder berupa foto aktivitas bisnis. Bukti . eperti akun media sosial atau katalog onlin. , dokumen promosi, brosur, atau bukti pembayaran Operasionalisasi Variabel/Parameter Rumusan Strategi adaptasi apa yang Masalah diterapkan oleh Warung Jajan Bu Dewi agar tetap Volume 04. No. berkelanjutan di era digital menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC)? Variabel Indikator A A A A Pertanyaan A Ritel Tradisional Transformasi Digital dalam Ritel Tantangan Ritel Tradisional di Era Digital Business Model Canvas (BMC) Implikasi Adaptasi Model Bisnis. Elemen-elemen Business Model Canvas Tantangan dan Hambatan dalam Era Digital Elemen yang Perlu Penyesuaian (BMC) Strategi Adaptasi yang Relevan Kondisi Model Bisnis Saat Ini (BMC) Elemen-elemen Business Model Canvas: Customer Segments - Siapa saja target pelanggan utama Warung Jajan Bu Dewi? Value Propositions - Mengapa berbelanja di warung Ibu tempat lain? Channels - Apakah Ibu media sosial atau aplikasi pesan Customer Relationships - Bagaimana cara Ibu menjaga hubungan dengan Revenue Streams - Apakah ada layanan tambahan Key Resources - Siapa saja yang terlibat membantu usaha ini? Key Activities - Kegiatan utama apa yang dilakukan setiap hari dalam Key Partnerships - Apakah Ibu memiliki kerja sama dengan distributor, atau pihak lain? Cost Structure - Biaya apa saja yang paling besar dalam operasional A Tantangan dan Hambatan dalam Era Digital Apa tantangan terbesar yang Ibu rasakan sejak banyak orang mulai beralih ke belanja online? Apakah ada kesulitan dalam mengikuti teknologi . eperti penggunaan aplikasi, pembayaran nontunai, dl. ? Journal of Accounting and Business Issues (JABI) Bagaimana Ibu melihat persaingan dengan minimarket, supermarket, atau toko online? Apakah Ibu pernah teknologi digital dalam usaha ini? Apa A Elemen yang Perlu Penyesuaian (BMC) Menurut Ibu, bagian apa dalam usaha ini yang perlu diperbaiki agar bisa menyesuaikan diri dengan era digital? Apakah Ibu merasa perlu mengubah cara melayani pelanggan atau memasarkan Elemen mana dalam usaha . isal: produk, layanan, cara promosi, cara berjuala. yang paling mungkin A Strategi Adaptasi yang Relevan Apa rencana Ibu ke depan untuk perubahan kebiasaan konsumen yang makin Apakah Ibu tertarik menggunakan media sosial, layanan pesan antar, atau metode pembayaran digital? Bantuan atau dukungan seperti apa yang Ibu butuhkan agar bisa mengikuti Primer Wawancara Jenis Data Teknik Pengumpulan Data Sumber Data Pemilik Warung (Bu Yun. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data kualitatif model Miles dan Huberman yang terdiri dari : Reduksi Data (Data Reductio. Pada tahap ini, data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi akan disaring dan dipilah berdasarkan 9 elemen Business Model Canvas adaptasi bisnis ritel tradisional. Penyajian Data (Data Displa. Penyajian data dilakukan dengan cara menyusun data dalam bentuk narasi. Kerangka Business Model Canvas akan digunakan sebagai alat bantu utama untuk menampilkan hubungan antar elemen model bisnis sebelum dan sesudah adaptasi terhadap era digital. Penarikan Kesimpulan Verifikasi (Conclusion Drawing and Verificatio. Setelah penyajian data, peneliti akan menarik kesimpulan sementara mengenai strategi adaptasi apa yang dibutuhkan oleh subjek penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Volume 04. No. Gambaran Umum Warung Jajan Bu Yuni Subjek penelitian ini adalah Warung Jajan Bu Yuni, sebuah ritel tradisional yang telah berdiri sejak tahun 2005 dengan Ibu Yuni Maryani sebagai pemilik Warung ini terletak di Pasar Jalancagak. Subang dan telah beroperasi selama lebih dari 20 tahun. Produk utama yang dijual meliputi makanan instan . opi dan e. , jajanan anak, dan makanan lainnya seperti gorengan dan nasi kuning pada hari pasar (Selasa dan Sabt. Menurut pernyataan Ibu Yuni: AuSaya mendirikan warung ini sejak tahun 2005, ketika baru pindah dari Cirebon ke Subang, produk yang dijual adalah Kopi. Es. Jajanan anak, dll. Ay Warung Jajan Bu Yuni memiliki beberapa pelanggan dari berbagai Yang pertama adalah anakanak, yang sering membeli jajanan ringan dan minuman instan. yang kedua adalah pedagang pasar, yang membeli makanan, minuman, dan kebutuhan praktis. yang terakhir adalah pelanggan setia yang telah membeli di warung tersebut sejak Pernyataan ini diungkapkan oleh Bu Yuni : AuAnak-anak, pedagang, dllAy Namun, meningkatnya jumlah ritel baru seperti toko modern, minimarket, dan platform digital telah menyebabkan penurunan pelanggan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan hasil dari wawancara dengan Bu Yuni terkait dengan perubahan perilaku pelanggan: AuAda . , karena banyak ritel Ay Value Propositions (Proposisi Nila. Kepraktisan dan hubungan sosial adalah nilai utama yang ditawarkan warung ini. Pelanggan dapat meminta penyeduhan langsung di tempat untuk produk seperti kopi dan mie instan. Kesetiaan pelanggan lama, merupakan salah satu aset non-materiil yang paling Menurut Bu Yuni: AuTersedia produk-produk instan seperti kopi, es, mie instan. pelanggan sudah lama membeli di tempat Ay Channels Warung ini melayani pelanggan yang terdiri dari tetangga sekitar, termasuk pedagang pasar dan musiman. Ibu Yuni didukung oleh keluarganya dan anakanaknya dalam menjalankan usahanya, dan dalam hal manajemen keseluruhan, masih sangat tradisional dengan basis Analisis Kondisi Model Bisnis Warung Jajan Bu Yuni Saat ini Customer Segments Warung ini masih bergantung pada penjualan langsung di pasar. Pengantaran dilakukan secara tidak resmi kepada klien Tidak ada penggunaan platform e-commerce, aplikasi pesan antar, atau media sosial. Saat ditanyai mengenai saluran dalam menjual produk Bu Yuni menjawab: "Menjual secara langsung, terkadang mengantarkan ke tempat Saat menggunakan sosial media serta aplikasi pesan antar Bu Yuni mengatakan: "Tidak. Customer Relationships dengan Pelangga. (Hubungan Hubungan dengan klien dibangun secara informal dan personal. Kekuatan utama warung adalah hubungan yang berdasarkan kepercayaan dan komunikasi keramahan dan sistem "bayar Journal of Accounting and Business Issues (JABI) nanti" membantu pelanggan tetap setia. Dengan pernyataan berikut ini : AuSelalu menyediakan produk yang dibutuhkan pelanggan,Dan Memberikan sistem bayar nanti . Revenue Streams (Aliran Pendapata. Penjualan produk secara langsung adalah sumber utama pendapatan Tidak tambahan seperti pre-order, bundling produk, atau pesan antar berbayar. Hal ini diketahui ketika Bu Yuni menjawab pertanyaan mengenai dari mana saja pendapatan: "Dari penjualan saja,Tidak . ayanan menghasilkan pendapata. Ay Key Resources (Sumber Daya Utam. Warung ini beroperasi dengan sederhana: produk yang dibeli dari pedagang lokal atau distributor, tenaga kerja dari anggota keluarga (Ibu Yuni, anak-ana. , tradisional untuk menyeduh dan melayani. "Saya sendiri, suami saya, dan anak ,sumber daya utama ya stok Key Activities (Aktivitas Utam. Aktivitas rutin warung termasuk melayani pelanggan dan menyediakan produk harian. menjual menu tambahan seperti gorengan dan nasi kuning pada hari pasar. dan tidak melakukan aktivitas digital atau inovatif selama pandemi. Menurut Bu Yuni berdasarkan hasil wawancara: "Jika hari biasa hanya jualan biasa, tapi hari pasar buka dari subuh dan jual gorengan, nasi kuning. ,Tidak ada aktivitas baru selama pandemi. Key Partnerships (Kemitraan Utam. Kemitraan hanya dilakukan dengan pemasok lokal yang menjual roti, kerupuk, dan jajanan, serta tetangga yang menitipkan barang untuk dijual di warung Menurut Bu Yuni berdasarkan hasil wawancara : AuAda, sering ada tetangga yang menitipkan dagangan buatannya untuk dijual diwarung saya, kemudian ada pembuat roti, kerupuk, kacang goreng dll yang mengirim barang dagangan ke warung. Ay Cost Structure (Struktur Biay. Biaya utama terdiri dari penggunaan listrik dan air untuk operasi sehari-hari. Tidak ada biaya tambahan karena teknologi belum diintegrasikan. Menurut Bu Yuni berdasarkan hasil wawancara: AuListrik dan air. ,tidak ada . erubahan biaya akibat digitalisas. Saat ini, model bisnis Warung Jajan Bu Dewi tradisional, sederhana, dan berbasis komunitas. Kedekatan sosial dengan pelanggan dan fleksibilitas operasional adalah kekuatan utama. Namun, masih ada banyak celah yang belum diselesaikan, terutama dalam hal penggunaan saluran distribusi digital (Channel. , pengembangan segmen (Customer Segment. , diversifikasi aliran (Revenue Stream. , penguatan hubungan pelanggan dengan media digital (Customer Relationship. , dan pembentukan kemitraan strategis yang berbasis teknologi. Oleh mempertahankan ciri khas tradisional namun tetap melayani pelanggan era digital, adaptasi model bisnis harus Tantangan dan Hambatan dalam Menghadapi Transformasi Digital Seluruh ekosistem ritel, termasuk Indonesia, telah diubah oleh transformasi Pelaku ritel tradisional seperti Warung Jajan Bu Dewi menghadapi tantangan besar karena pergeseran konsumen ke arah layanan berbasis digital, meningkatnya akses internet, dan e-commerce. Hasil beberapa hal penting mencerminkan masalah dan kesulitan sebenarnya yang dihadapi Ibu Yuni dalam situasi ini. Dengan pesaing ritel modern dan berbasis teknologi, berkurangnya jumlah pelanggan tetap merupakan salah satu tantangan Menurut Yuni "Pelanggan berkurang. Banyak sekali minimarket dan supermarket yang Volume 04. No. dibangun di sekitar tempat tinggal saya, dan juga di daerah pasarnya sendiri mulai banyak muncul pelaku usaha seperti toko kelontong, sembako, ritel besar. Warung juga kesulitan bersaing dengan harga murah dari minimarket dan ketersediaan stok yang lebih lengkap. Menurut Bu Yuni: "Persaingan harga, ketersediaan produk juga. saya kadang kalah dibandingkan toko besar. Warung tidak menggunakan strategi pemasaran digital atau media sosial. Berdasarkan keterangan Bu Yuni: "Saya belum pernah pakai media sosial buat Jualan ya seperti biasa saja. Meskipun tidak mengalami kesulitan secara teknis. Ibu Yuni mengaku tidak tahu bagaimana memulai penggunaan media digital dalam perusahaan. "Nggak ada kesulitan, tapi saya belum tahu mulai dari mana. Nggak ngerti cara pakai Instagram atau bikin akun jualan. Warung masih bergantung pada sistem konvensional untuk beroperasi, membayar, dan menjual barang. Tidak ada upaya untuk berkolaborasi dengan platform digital, komunitas, atau program pendampingan UMKM selama pandemi. Ibu Yuni, di sisi lain, tidak melakukan perubahan yang signifikan. Keterbatasan teknologi bukan satusatunya masalah yang dihadapi Warung Jajan Bu Yuni saat berhadapan dengan era digital. lebih banyak masalah terkait dengan strategi, sumber daya informasi, dan akses ke ekosistem pendukung. Warung ini memiliki banyak masalah, seperti tidak memiliki eksistensi digital sama sekali, bersaing dengan ritel modern hubungan lama, tidak memiliki akses ke pelatihan atau kolaborasi teknologi, tidak tahu nilai data pelanggan, konten promosi, atau sistem digital sederhana. Oleh karena itu, masalah tersebut bersifat sistemik dan struktural, dan memerlukan solusi adaptif dari dalam . elaku usah. dan dari luar . ukungan komunitas, lembaga pendamping, atau Kondisi memperlebar perbedaan antara ritel teknologi dan tradisional. Analisis Elemen Business Model Canvas yang Perlu Disesuaikan Menurut hasil dari wawancara dan analisis Business Model Canvas, elemen yang paling penting untuk diubah dalam model bisnis Warung Jajan Bu Yuni agar mampu beradaptasi dengan era digital adalah Channels. Channels warung menjangkau dan melayani pelanggannya secara digital. Customer RelationshipsAiagar hubungan pelanggan tidak hanya bergantung pada komunikasi tatap muka tetapi juga online Value PropositionsAiKemungkinan penggunaan nilai-nilai tradisional dalam lingkungan digital menjadi Revenue Streams Key PartnershipsAiagar pendapatan tidak hanya bergantung pada pembelian langsung dan peluang sinergi bisnis. Transformasi model bisnis tradisional ke arah yang lebih responsif dan berkelanjutan dapat dimulai dengan tindakan kecil seperti promosi melalui WhatsApp, pembuatan akun media sosial, atau kolaborasi komunitas. Strategi Adaptasi yang Tepat untuk Warung Jajan Bu Yuni Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan. Ibu Yuni menunjukkan siap untuk melakukan perubahan terhadap strategi usahanya. Ia menyatakan tertarik untuk mulai mempromosikan produk dagangannya melalui media sosial, terutama WhatsApp Story, dikarenakan platform ini sudah sangat akrab di kalangan pedagang dan konsumen lokal. Melakukan perubahan saluran distribusi dan komunikasi dari yang semula dilakukan secara fisik menjadi digital Journal of Accounting and Business Issues (JABI) adalah langkah dalam strategi adaptasi elemen saluran (Channel. WhatsApp adalah media promosi yang bagus karena mudah digunakan, gratis, dan dapat menjangkau pelanggan lama dan baru. Penguatan hubungan pelanggan (Customer Relationship. pendekatan komunikasi dua arah adalah salah satu strategi adaptasi yang dapat digunakan selain strategi promosi digital. Misalnya. Ibu Yuni dapat membuat grup pelanggan atau mengirimkan informasi tentang produk baru, promosi, atau pengingat stok melalui WhatsApp. Hal ini akan membuat pelanggan merasa lebih diperhatikan dan terlibat, sekaligus menjaga loyalitas pelanggan di tengah persaingan ritel kontemporer. Sebagai langkah berikutnya, penjual dapat secara bertahap mendiversifikasi layanannya, seperti menawarkan layanan pemesanan melalui chat dan layanan pesan antar sederhana di sekitar pasar atau lingkungan Anda. Ibu Yuni telah mengirimkan pesanan ke pelanggan tertentu sebelumnya, dan ini bisa dianggap sebagai layanan bisnis. Model ini tidak membutuhkan biaya yang hanya diperlukan peningkatan sistem dan komunikasi. Kolaborasi dengan ojek lokal atau remaja di lingkungan penjual bahkan bisa menjadi bentuk kerja sama sederhana yang Dengan meningkatkan nilai layanan dan membuka peluang untuk aliran pendapatan baru di luar transaksi langsung di toko, strategi ini melibatkan perubahan elemen proporsi nilai (Value Proposition. dan aliran pendapatan (Revenue Stream. Membangun kemitraan strategis (Key Partnership. dengan komunitas lokal, pelaku UMKM lain, dan pihak lain yang dapat membantu proses digitalisasi secara ringan adalah strategi adaptasi berikutnya. Misalnya. Ibu Yuni dapat mengikuti pelatihan literasi digital untuk pelaku usaha kecil yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan UKM, kelompok PKK, atau Untuk mempromosikan warung secara berkala, ia juga dapat bekerja sama dengan pembuat konten lokal atau akun media sosial komunitas. Salah satu strategi adaptasi yang paling penting adalah mempertahankan kekuatan utama warung, yaitu hubungan sosial yang hangat, kenyamanan layanan, dan kedekatan emosional dengan Sebagaimana disampaikan oleh Ibu Yuni, warung tradisional bukan hanya tempat jual beli, tetapi juga tempat untuk berinteraksi dengan orang lain, sesuatu yang banyak dirindukan di era Oleh karena itu, untuk mengadaptasi Warung Jajan Bu Yuni, tidak perlu secara langsung mengarah pada digitalisasi total. lebih baik menggunakan pendekatan teknologi yang membumi dan berbasis komunitas untuk tetap relevan, kompetitif, dan berkelanjutan. Strategi ini akan memungkinkan warung mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya sambil secara proporsional dan realistis menyerap manfaat dari era digital. KESIMPULAN Model Bisnis Warung Jajan Bu Yuni saat ini masih menggunakan model bisnis konvensional yang bergantung pada penjualan langsung dan interaksi pribadi dengan pelanggan. Mereka belum menggunakan teknologi digital untuk distribusi, promosi, atau kemitraan. Masalah dan tantangan yang dihadapi oleh warung biasanya adalah persaingan ketidakmampuan untuk memulai promosi digital, dan kekurangan akses ke pelatihan atau bantuan untuk adaptasi teknologi. Elemen BMC yang Perlu Disesuaikan di Warung ini adalah Channels. Customer Relationships. Value Propositions. Revenue Streams, dan Key Partnerships adalah yang paling membutuhkan Ini penting untuk membuat toko lebih sesuai dengan gaya konsumsi Strategi Adaptasi diterapkan adalah Promosi secara bertahap melalui WhatsApp, layanan pesan antar lokal, dan kolaborasi komunitas adalah strategi yang tepat. Adaptasi dilakukan tanpa menghilangkan Volume 04. No. kekuatan warung sebagai tempat usaha berbasis kepercayaan dan ruang sosial. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Temuan penelitian ini memberikan dasar teoritis untuk memahami adaptasi bisnis ritel tradisional menggunakan pendekatan Business Model Canvas. Mereka menunjukkan bahwa metode sederhana seperti layanan pesan antar lokal dan promosi WhatsApp dapat membantu ritel tradisional bertahan di era Secara praktis, temuan penelitian ini membantu pelaku UMKM dan pendamping usaha karena menawarkan referensi strategi inovatif yang relevan dan mudah digunakan. Studi ini dapat menjadi masukan kebijakan bagi pemerintah untuk membuat pelatihan digital yang sesuai dengan kemampuan bisnis kecil. Warung Jajan Bu Yuni di Pasar Jalancagak. Subang, menjadi subjek studi kasus tunggal dalam penelitian ini. Oleh karena itu, hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan secara luas untuk seluruh ritel tradisional karena mereka Penelitian menggunakan pendekatan wawancara yang mendalam. Karena penelitian ini tidak menggunakan metode kuantitatif atau pengujian statistik, dampak dari strategi adaptasi yang disarankan tidak dapat diukur secara langsung. Faktorfaktor pemerintah, persaingan makro, dan infrastruktur digital lokal tidak menjadi fokus penelitian. Sebaliknya, analisis difokuskan pada komponen internal model bisnis yang didasarkan pada Business Model Canvas. Penelitian ini hanya menyarankan strategi adaptasi tanpa melakukan uji coba empiris. Akibatnya, tidak jelas apakah strategi tersebut akan berhasil meningkatkan kinerja bisnis Badan Pusat Statistik. Statistik Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah Tahun 2023. Jakarta: BPS. Berman. , & Evans. Retail Management: Strategic Approach Pearson . th Education Limited. Chaffey. Digital Marketing: Strategy. Implementation. Practice . th Pearson Education Limited. Creswell. Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif. Kuantitatif, dan Campuran (Edisi Bahasa Indonesi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Euromonitor International. Indonesia: Market Report. London: Retailing Research Euromonitor. Kotler. Marketing 4. 0: Moving from Traditional to Digital. Wiley. Miles. Huberman. , & Saldaya, . Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook . rd ed. Thousand Oaks. CA: Sage Publications Moleong, . Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya Murniadi. Ahmad. M, and Nurhidayati. AuAnalisis Business Model Canvas Pada REFERENCES