Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 1 Tahun 2025 P-ISSN KURIKULA: JURNAL PENDIDIKAN VOLUME: 10 NO :1 TAHUN 2025 E-ISSN https://ejournal. id/index. php/kurikula/index PENERAPAN MODEL THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA KELAS IV SDN 110 PINRANG Nur Ilmi. 1Ika Wijaya Muksin2. Yulia. Universitas Negeri Makassar Indonesia 1 Universitas Negeri Makassar Indonesia 2 Universitas Negeri Makassar. Indonesia3 Email: nurilmi@unm. Email: rahnawati0909@gmail. Email: yulia@unm. Article history Submitted Accepted Published 19/01/2025 23/03/2025 03/06/2025 ABSTRACT This research was motivated by the low quality of the learning process and speaking skills of fourth-grade students at UPT SD Negeri 110 Pinrang. The study aimed to examine how the implementation of the Think Pair Share learning model could enhance the quality of classroom learning and students' speaking skills. A qualitative approach was employed, specifically using Classroom Action Research (CAR). The research subjects included one teacher and 18 fourth-grade students at UPT SD Negeri 110 Pinrang. Data collection methods involved observation and documentation, which were analyzed through data condensation, data presentation, and conclusion The research was conducted over two cycles. The findings revealed that in both the first and second cycles, the teacher's instructional activities were categorized as good (B). Meanwhile, student activities, which were initially rated as sufficient (C) in the first cycle, improved to the good category (B) in the second cycle. This improvement was also reflected in the students' speaking skills, which increased from the sufficient category (C) in the first cycle to the good category (B) in the second cycle. Based on these results, it can be concluded that the Think Pair Share learning model is effective in enhancing both the quality of the learning process and the speaking skills of fourth-grade students at UPT SD Negeri 110 Pinrang. Keywords : Think Pair Share learning model, speaking skills ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya mutu kegiatan pembelajaran dan kemampuan berbicara murid kelas IV UPT SD Negeri 110 Pinrang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana penerapan model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan kualitas pembelajaran serta kemampuan berbicara murid di kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Pelaksanaan Kelas (PTK). Subjek penelitian melibatkan satu orang pengajar dan 18 murid kelas IV UPT SD Negeri 110 Pinrang. Pengumpulan Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 1 Tahun 2025 data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan langkah-langkah kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh pengajar berada pada kategori baik (B). Disisi lain, aktivitas murid yang pada siklus I termasuk kategori cukup (C), mengalami peningkatan pada siklus II menjadi kategori baik (B). Peningkatan ini juga tercermin dalam kemampuan berbicara murid, yang pada siklus I berada pada kategori cukup (C) dan meningkat ke kategori baik (B) pada sikus II. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Think Pair Share tersebut efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran serta kemampuan berbicara murid kelas IV UPT SD Negeri 110 Pinrang. Kata Kunci : Model pembelajaran think pair share. Kemampuan Berbicara PENDAHULUAN Pembelajaran berarti sebuah kegiatan yang sistematis dan terorganisir di mana murid berinteraksi dengan pengajar dan berbagai sumber belajar yang tersedia dalam lingkungan yang kondusif untuk menunjang tercapainya tujuan pengajaran. Kegiatan pembelajaran pada satuan belajar dirancang interaktif, menyenangkan dan menarik, sehingga mendorong partisipasi aktif murid. Untuk meraih tujuan tersebut, pembelajaran harus direncanakan, dilaksanakan serta dievaluasi untuk memastikan lulusan memperoleh kompetensi secara efisien dan efektif. Menurut Ubabuddin . berpendapat bahwa belajar berarti suatu kegiatan interaktif yang terjadi antara pengajar dan murid,dan sumber belajar serta pembelajaran dalam satuan lingkungan pengajaran disediakan oleh pengajar sehingga memungkinkan terjadinya pengetahuan, dan penguasaan. Berdasarkan penjelasan tersebut, murid tentunya harus mampu menguasai kemampuan berbahasa yang mencakup empat aspek, yaitu kemampuan mendengarkan, kemampuan membaca, kemamnpuan berbicara, dan kemanpuan menulis. Menurut Waqiah . kemampuan berbicara merupakan salah satu aspek penting kemampuan berbahasa yang memegang peranan penting dalam berbagai bidang kehidupan, khususnya bidang Dengan menguasai kemampuan ini, murid dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, gagasan, dan kreativitasnya secara cerdas dan terampil, tergantung pada konteks dan waktu berbicara. Kemampuan berbicara merupakan syarat agar murid mampu melaksanakan tugasnya dengan profesional dan penuh tanggung jawab. Selain itu, kemanpuan berbicara yang baik akan membantu murid menjadi individu yang berkualitas dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Kemampuan berbicara harus dikembangkan sejak dini agar murid memahami pentingnya penggunaan pembentukan kata bahasa yang baik dan benar saat bercerita. Berbicara merupakan salah satu kemampuan yang penting dalam pembelajaran. Murid yang mempunyai kemampuan lisan yang baik menunjukkan bahwa dirinya mampu dan terampil dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Sebaliknya, jika murid kurang memiliki kemampuan berbicara, mereka akan mengalami kesulitan dalam berkomunnikasi dengan orang lain dan mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Kemampuan berbicara diajarkan di tingkat sekolah dasar dan merupakan aspek penting dalam pemerolehan bahasa yang harus dikuasai murid. Salah satu tujuan pengajaran kemampuan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan murid dalam Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 1 Tahun 2025 berkomunikasi secara efektif. Menurut Bruce (Anjelina & Tarmini, 2. berpendapat bahwa pembelajaran berbahasa lisan pada murid sekolah dasar khususnya di kelas bawah bertujuan untuk meningkatkan keberanian, melatih kemampuan berbagi pengalaman dan pengetahuan, serta mendorong murid untuk aktif mengemukakan pendapat selama kegiatan pembelajaran. Sementara itu, tujuan pembelajaran berbicara di kelas tinggi adalah untuk menumbuhkan rasa percaya diri murid dalam berbicara tentang ilmu yang telah dipelajari, melatih mereka menerima atau menolak pendapat orang lain, dan membentuk sikap menghargai pendapat orang lain. Oleh sebab itu, kemampuan berbicara yang baik sangat penting bagi setiap individu. Kemampuan berbicara diperlukan dalam berbagai situasi, seperti berkomunikasi secara lisan, mengikuti pelajaran, dan berdiskusi. Menurut Tarigan (Marzuqi, 2. kemampuan berbicara merupakan kemampuan untuk menghasilkan bunyi atau kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan, menyampaikan, dan meangekspresikan pikiran, gagasan, serta perasaan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa berbicara bukan hanya sekedar mengeluarkan kata-kata tanpa arti, melainkan bertujuan untuk menyampaikan pikiran dan gagasan kepada orang lain melalui bahasa lisan. Kemampuan berbicara pada dasarnya adalah kemampuan menghasilkan suara yang terartikulasi untuk menyampaikan maksud, kebutuhan, perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Menurut Rahmatnofian (Ramadhan & Nadhira, 2. kemampuan berbicara merupakan kemampuan untuk mengungkapkan ide, gagasan, pemikiran, atau perasaan dengan tujuan tertentu, yaitu agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dan diterima oleh Namun, berdasarkan hasil pra penelitian di UPT SD Negeri 110 Pinrang kelas IV dengan jumlah murid terdiri dari Dari 18 murid terdapat 7 murid atau yang tidak tepat pelafalannya saat berbicara. Dan 11 murid atau yang sesuai pelafalannya saat bicara di kelas. Dari 18 murid terdapat 8 murid atau yang tidak sesuai intonasinya ketika berbicara terkait topik yang dipelajari, dan hanya 10 murid atau yang tepat intonasi nya ketika berbicara terkait topik yang dipelajari. Dari 18 murid terdapat 7 murid atau yang tidak menggunakan kosa kata atau kalimat yang tepat, dan hanya 11 murid atau yang menggunakan kosa kata yang tepat. Dari 18 murid terdapat 9 murid yang tidak memiliki kelancaran berbicara dan hanya 9 murid atau yang memiliki kelancaran berbicara dengan menguasai topik Dari 18 murid terdapat 7 murid atau yang tidak menggunakan mimik atau ekspresi ketika berbicara dan hanya orang 11 murid atau yang menggunakan mimik atau ekspresi ketika berbicara di kelas. Hal ini dikarenakan oleh dua penyebab yaitu faktor pengajar dan faktor murid. Dari sisi pengajar yakni. model pembelajaran yang digunakan pengajar masih kurang beragam,. pengajar lebih banyak menggunakan metode ceramah dan kurang melibatkan murid berpartisipasi dalam diskusi,. pengajar kurang menjalankan aktivitas untuk mengasah murid. , seperti memberikan waktu kepada murid agar tampil di depan kelas. Sedangkan dari sisi murid, yaitu. murid mempunyai minat belajar yang rendah di kelas, khususnya dalam pembelajaran kemampuan lisan. ketika pengajar mengajukan pertanyaan atau mengharuskan murid untuk tampil di hadapannya, sebagian besar murid kesulitan mengungkapkan diri dengan bahasa yang baik dan benar di dalam kelas,. Tidak siap mental untuk berbicara lisan di depan banyak orang. Berdasarkan permasalahan tersebut, salah satu cara yang dapat digunakan yakni Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 1 Tahun 2025 dengan memakai salah satu model pembelajaran yaitu model think pair share. Model pembelajaran think pair share memberi peluang bagi murid untuk bekerja sama dengan orang lain dan mengungkapkan pemikiran mereka. Model ini dilaksanakan melalui tiga fase utama, yaitu fase berpikir . ,fase berpasangan . ,dan fase berbagi dalam tim kecil . Menurut Muyana & Widyastuti . Think pair share adalah model pembelajaran yang pertama kali diperkenalkan oleh Lyman pada tahun 1981. Teknik ini terdairi dari tiga Pada fase pertama, murid diberikan pertanyaan atau masalah untuk dipikirkan secara individu, mereka mengatur pikiran dan merumuskan gagasan atau jawaban. Fase kedua melibatkan kerjasama dengan pasangan untuk mendiskusikan jawaban masing-masing, yang memungkinkan murid untuk berpikir lebih dalam dan mengeksplorasi informasi yang mereka butuhkan. Pada fase ketiga, murid berbagi gagasan mereka dengan seluruh tim. Selain berbagi pendapat, model ini juga mendorong interaksi antar murid dan memfasilitasi pemikiran aktif terhadap ide-ide mereka sendiri. Penelitian terkait penggunaan model pembelajaran think pair share guna meningkatkan keterampilan bericara sudah pernah diteliti. Diantara penelitian tersebut adalah penelitian yang dilakukan oleh Muthmainnah . dengan judul penelitian AuPeningkatan Kemampuan Berbicara Menggunakan Model TPS Pada Murid Kelas IV SDN Lempuyangan 1Ay yang menunjukkan bahwa pemakaian model think pair share pada pelajaran berbicara bisa meningkatkan kemampuan berbicara murid kelas IV B SD Negeri Lempuyangan 1. Peningkatan tersebut bisa dilihat dari kegiatan pelajaran serta juga hasil pendapatan nilai yang dibanding dari prapelaksanaan dan sesudah pelaksanaan yang dilakukan dalam siklus I dan siklus II. Terlihat dari nilai yang didapat saat kegiatan belajar. Tingkat keberhasilan dari prapelaksanaan sebesar 12% kemudian terjadi peningkatan setelah dilaksanakan tindakan. METODEPENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yakni pendekatan kualitatif. Secara umum pendekatan kualitatif berarti riset yang memiliki sifat deskriptif serta biasa menggunakan analisis. Menurut Walidin & Saifullah (Fadli, 2. , penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan untuk mengerti fenomena manusia atau sosial dengan menyusun rancangan gambar yang komprehensif dan kompleks. Gambaran ini bisa diungkapkan melewati kata-kata, melaporkan gambaran mendetail dari informan, dan digunakan dalam konteks yang alamiah. Penelitian ini menggunakan Penelitian Pelaksanaan Kelas (PTK), yang bertujuan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran. Hasil dari penelitian ini bisa diterapkan oleh pengajar guna mengatasi masalah pada pengajaran serta meningkatkan profesionalitas pengajar dalam kegiatan belajar mengajar. (Ramadhan & Nadhira, 2. mengemukakan bahwa Penelitian Pelaksanaan Kelas (PTK) adalah jenis riset pelaksanaan yang pelaksanaannya bisa dipantau, dirasakan, dan dipahami, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa efektif praktik-praktik pembelajaran yang telah dilakukan selama ini. Menurut Kunandar (Nurulanningsih, 2. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) juga berfungsi sebagai strategi untuk mengembangkan kinerja karena penelitian ini melibatkan guru sebagai peneliti dan agen perubahan, dengan pendekatan kerja yang bersifat kolaboratif. Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 1 Tahun 2025 Desain penelitian ini menerapkan model penelitian tindakan kelas dari Arikunto (Muhammad, 2. dengan langkah-langkah yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah pengajar dan murid kelas IV UPT SD Negeri 110 Pinrang tahun ajaran 2024/2025. Jumlah subjek pada penelitian ini 19 orang yaitu 1 pengajar dan murid 18 orang yang terdiri dari 8 laki-laki dan 10 perempuan. Penelitian ini akan dilaksanakan di UPT SD Negeri 110 Pinrang pada semester ganjil tahun ajaran 2024/2025 yang beralamat di Jln. Hj. A Pawelloi no 40. Sabamparu. Desa Tasiwalie. Kecamatan Suppa. Kabupaten Pinrang. Indikator keberhasilan adalah alat ukur yang digunakan untuk menilai sejauh mana suatu penelitian berhasil atau tidak. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dan dipresentasikan dalam bentuk persentase (%). Keberhasilan kegiatan pembelajaran pada setiap siklus akan dinilai, baik dari aktivitas pengajar maupun murid. Indikator keberhasilan ini dibagi menjadi dua, yaitu indikator kegiatan dan indikator hasil. Persentase (%) dari taraf keberhasilan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:Adapun taraf keberhasilan kegiatan dan hasil dijabarkan sebagai berikut: ycIycoycuyc ycEyceycycuycoyceEaycaycu N = ycIycoycuyc ycAycaycoycycnycoycayco x 100% Adapun rumus persentase keberhasilan keterampilan berbicara murid yaitu : yaycycoycoycaEa ycoycycycnd ycoyceycuycaycaycyycaycn yceycayceycEaycaycycnycoycaycu yaycycoycoycaEa ycyceycoycycycEa ycoycycycnd x 100% Penelitian dianggap berhasil jika 76% atau lebih dari murid kelas IV UPT SD Negeri 110 Pinrang yang mengikuti kegiatan pembelajaran mampu mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) dengan rentang nilai 76-100 yang ditetapkan oleh sekolah. Jika murid kelas IV UPT SD Negeri 110 Pinrang telah mencapai Ou 76% maka kemampuan berbicara murid dianggap berhasil atau meningkat. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi pada siklus I yang dilakukan oleh pengajar . terhadap peneliti, memperlihatkan bahwa pengajar sudah melakukan 7 indikator dari 9 inidikator berpersentase 77% dengan kategori baik (B). Sehingga telah mencapai taraf Berdasarkan data hasil observasi aktivitas murid pada siklus I, di dapatkan total skor 113 dari 162. Hasil tersebut masuk dalam kualifikasi cukup (C) dengan persentase pencapaian sebesar 69%. Pada pembelajaran yang menggunakan model pelajaran think pair share guna meningkatkan kemampuan berbicara murid, target pada siklus I belum berhasil Keberhasilan kemampuan berbicara murid pada siklus I menunjukkan bahwa dari 18 murid, sebanyak 6 murid masih berada di bawah standar keberhasilan kemampuan berbicara, yaitu dengan nilai >76. Secara keseluruhan, tingkat keberhasilan kemampuan berbicara murid hanya mencapai kualifikasi cukup (C) dengan persentase 66%. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran think pair share pada siklus I belum maksimal. Hal ini terlihat dari aktivitas pengajar yang sudah berada pada kualifikasi baik (B), namun masih memerlukan peningkatan, serta kegiatan belajar murid yang ternyata masih berkategori cukup (C). Selain itu, kemampuan berbicara murid belum mencapai indikator keberhasilan, sehingga terdapat Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 1 Tahun 2025 beberapa aspek yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, penelitian ini dilanjutkan ke siklus II. Berdasarkan hasil observasi pada siklus II yang dilakukan oleh pengajar . pada peneliti, memperlihatkan bahwa pengajar telah melaksanakan 8 dari 9 inidikator berpersentase 88% yang berkategori baik (B). Dengan ini, taraf keberhasilan telah terpenuhi dan kegiatan dikatakan berhasil. Berdasar pada data hasil observasi aktivitas murid di siklus II, didapatkan total skor 113 dari 162. Hasil tersebut masuk dalam kualifikasi baik (B) dengan persentase pencapaian sebesar 85%, pada pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran think pair share untuk meningkatkan kemampuan berbicara murid, target pada siklus II telah berhasil dicapai. Keberhasilan kemampuan berbicara murid dalam pembelajaran, berdasarkan data dari 18 murid, menunjukkan bahwa terdapat 3 murid yang belum mencapai indikator keberhasilan kemampuan berbicara, yaitu >76. Dengan demikian, tingkat keberhasilan kemampuan berbicara murid berada pada kategori baik (B) dengan persentase 83%. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan sama halnya dengan prosedur penelitian yang meliputi fase perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada penerapan model pelajaran think pair share, murid belajar dalam memecahkan masalah, kerja tim, saling bertukar pikiran dengan pasangan, dan berbagi informasi ke semua tim. Penerapan model pembelajaran think pair share selama dua siklus terbukti mampu meningkatkan kegiatan pembelajaran dan kemampuan berbicara murid kelas IV UPT SD Negeri 110 Pinrang. Salah satu perubahan yang terjadi adalah murid menjadi lebih aktif dalam kegiatan tanya jawab selama pembelajaran berlangsung. Perubahan lainnya adalah meningkatnya antusiasme murid dalam berdiskusi secara tim atau berpasangan. Model ini memberikan kesempatan kepada murid untuk berpikir secara individu, berdiskusi dengan pasangan, dan berbagi hasil pemikiran di depan kelas. Dengan langkah-langkah tersebut, keaktifan murid dalam kegiatan pembelajaran meningkat karena mereka didorong untuk terlibat aktif dalam menyampaikan pendapat, berkolaborasi, dan berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan belajar. Penerapan model pembelajaran think pair share dapat meningkatkan kemampuan berbicara murid, yaitu peningkatan kemampuan berbicara murid dalam menjalankan presentasi di depan kelas terlihat dari kemampuan mereka memaparkan materi secara percaya diri serta memakai bahasa yang baik. Hal ini menunjukkan kemajuan dalam penguasaan kosakata, kelancaran berbicara, serta kemampuan menyampaikan gagasan dengan percaya diri. Hal ini sejalan dengan pendapat Muyana dan Widyastuti . , yang menyatakan bahwa model pembelajaran think pair share tidak hanya memungkinkan murid untuk berbagi pendapat, tetapi juga membantu mereka berinteraksi dengan anggota tim lain serta merumuskan ide-ide secara aktif. Selain itu, model ini mendorong murid untuk lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat, serta meningkatkan kemampuan berbicara dan tingkat kepercayaan diri murid. Terkait dengan pernyataan tersebut Barkley (Waqiah at. 2023 ) menyatakan bahwa model pembelajaran think pair share maemberikan pengaruh yang baik terhadap peningkatan kemampuan berbicara murid, karena dapat membantu murid untuk saling berbagi dan membandingkan pemahaman mereka dengan orang lain. Hal ini berpotensi meningkatkan kesediaan dan kesiapan murid untuk berbicara dalam tim yang lebih besar. Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 1 Tahun 2025 Berdasarkan hasil yang didapatkan dari observasi aktivitas pengajar dan murid serta observasi kemampuan berbicara murid yaitu menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hal ini dapat dilihat dari kualifikasi yang didapat dari siklus I pada aktivitas pengajar yaitu kategori baik (B) , aktivitas murid serta kemampuan berbicara murid yaitu kategori cukup (C). Pada pelaksanaan pembelajaran siklus II terjadi peningkatan yaitu aktivitas pengajar dan murid serta kemampuan berbicara murid sudah memperoleh kualifikasi baik (B), sehingga penelitian tidak harus dilaksanakan pada siklus selanjutnya. Dengan demikian, hipotesis peneliti telah terbukti bahwa penggunaan model pelajaran think pair share jika diterapkan dengan baik dan benar bisa meningkatkan kegiatan pembelajaran dan keterampilan berbicara murid kelas IV UPT SD Negeri 110 Pinrang. Hal ini sejalan degan penelitan yang dilaksanakan olaeh Waqiah . yang menyimpulkan bahwa penerapan model pemnbelajaran think pair share dapat meningkatkan kemampuan berbicara murid. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran think pair share dapat meningkatkan kegiatan pembelajaran murid kelas IV UPT SD Negeri 110 Pinrang. Penerapan model pembelajaran think pair share dapat meningkatkan kemampuan berbicara murid kelas IV UPT SD Negeri 110 Pinrang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, adapun saran yang dijukan yaitu kegiatan pembelajaran sebaiknya menggunakan model pembelajaran think pair share yang mampu mendorong keaktifan murid, meningkatkan kemampuan kerja sama, serta mendukung murid dalam menyelesaikan permasalahan. Pengajar sekolah dasar, khususnya di UPT SD Negeri 110 Pinrang, dianjurkan untuk mengimplementasikan model pembelajaran think pair share sebagai alternatif guna memperbaiki kualitas pembelajaran dan meningkatkan kemampuan keterampilan berbicara murid. DAFTAR PUSTAKA