Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Wanita Berdasarkan IMT di LPP Kelas IIA Kota Bandar Lampung Analysis of Factors Related to Women's Nutritional Status Based on BMI at LPP Class IIA Bandar Lampung City Shalsabila Suti1. Wayan Aryawati 1 . Nurul Aryastuti 2* Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Malahayati. Lampung. Indonesia Universitas Malahayati Korespondensi Penulis: nurul@malahayati. ABSTRACT Nutritional status is a description of the body's condition as a result of the use of nutrients from the food consumed. Based on 2018 Riskesdas data, the condition of undernutrition or thinness in Lampung Province is 8. 95%, overnutrition is 12. 35% and obesity is 17. The aim of the research was to determine the analysis of factors related to women's nutritional status based on body mass index at the Bandar Lampung City Women's Correctional Institution. This type of quantitative research with a cross sectional design. The population and sample in the study were 223 people with total sampling technique. The research instrument used a questionnaire sheet. Data analysis used univariate, chi square and multivariate tests . ultiple logistic regressio. The research results a significant relationship between age . -value 0. , food intake . -value <0. , history of illness . -value 0. , physical activity . -value 0. , stress level . -value 0. and parenting style . -value 0. and there is no significant relationship between nutritional status and socioeconomic status . -value 1. The most dominant variable is stress level . -value 0. OR 7. It is hoped that prison officers can provide education and positive activities regarding the importance of maintaining mental health in order to prevent stress levels and improve the nutritional status of inmates. Keywords : Nutritional Status. Stress Level. BMI. ABSTRAK Status gizi merupakan gambaran kondisi tubuh sebagai akibat pemanfaatan zat-zat gizi dari makanan yang dikonsumsi. Berdasarkan data Riskesdas 2018, persentase gizi kurang atau kurus di Provinsi Lampung sebesar 8,95%, gizi lebih sebesar 12,35% dan obesitas sebesar 17,31%. Tujuan penelitian untuk mengetahui analisis faktor yang berhubungan dengan status gizi wanita berdasarkan indeks massa tubuh di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kota Bandar Lampung. Jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan cross Populasi dan sampel dalam penelitian sebanyak 223 orang dengan Teknik total Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner. Analisis data menggunakan uji univariat, chi square dan Multivariat . egresi logistik gand. Hasil penelitian bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia . -value 0. , asupan makan . -value <0. , riwayat penyakit . -value 0. , aktivitas fisik . -value 0. tingkat stress . -value 0. , dan pola asuh . -value 0. Variabel yang paling dominan yaitu tingkat stress . -value 0. OR 7. Diharapkan petugas lapas dapat memberikan edukasi dan kegiatan positif mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental guna mencegah tingkat stress serta dapat meningkatkan status gizi terhadap warga binaan. Kata Kunci : Status Gizi. Tingkat Stress. IMT. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 288-299 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor yang Berhubungan dengan StatusA. (Shalsabila Suti. Wayan Aryawati, dk. PENDAHULUAN Status gizi merupakan gambaran pemanfaatan zat-zat gizi dari makanan yang dikonsumsi. (Rahmat, 2. Status gizi menjadi faktor penting karena produktivitas dan kreativitas yang tentunya dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM). Masalah gizi adalah masalah yang kompleks yang semua siklus kehidupan, mulai awal kehidupan dalam kandungan, balita, remaja, wanita usia subur hingga lanjut usia. Wanita Usia Subur (WUS) adalah wanita dengan usia produktif yang berumur 15-49 tahun baik yang berstatus kawin maupun belum kawin atau janda. (Abdullah et al. , 2. Data World Health Organization (WHO) pada Tahun 2016 menyebutkan bahwa sekitar 39% overweight dan 13% obesitas terjadi pada remaja berusia >18 tahun dimana remaja termasuk dalam lingkup wanita usia subur (WHO, 2. Prevalensi underweight yaitu sebesar 17,3 miliar atau 24,9% pada usia remaja. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa 25,7% remaja usia 13-15 tahun dan 26,9% remaja usia 16-18 tahun dengan status gizi pendek dan sangat pendek. Selain itu terdapat 8,7% remaja usia 1315 tahun dan 8,1% remaja usia 16-18 tahun dengan kondisi kurus dan sangat Sedangkan prevalensi berat badan lebih dan obesitas sebesar 16,0% pada remaja usia 13-15 tahun dan 13,5% pada remaja usia 16-18 tahun (Kemenkes RI. Berdasarkan data Riskesdas 2018, diketahui bahwa kondisi gizi normal berdasarkan IMT di Lampung sebesar 61,40%. Sedangkan, kondisi gizi kurang atau kurus di Provinsi Lampung sebesar 8,95%, kejadian berat badan lebih sebesar 12,35% dan obesitas sebesar 17,31%. (Kemenkes RI, 2. Dari data Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kota Bandar Lampung pada akhir tahun 2023, diketahui terdapat 6 kasus wanita yang mengalami permasalahan gizi. Dari kasus tersebut diantaranya 2 wanita mengalami obesitas dan 4 wanita mengalami gizi kurang . (Bidiknas, 2. Dari data status gizi yang sudah diketahui, hal inilah yang menjadi pentingnya untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan permasalahan status gizi perempuan perempuan di masa depan. Penelitian sebelumnya menunjukkan signifikan antara pengetahuan mengenai gizi terhadap status gizi pada wanita (Sandala et al. , 2. Selanjutnya menurut (Nugroho et al. , 2. dalam penelitian lainnya mengatakan bahwa hubungan antara riwayat penyakit dengan status gizi. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi gizi seseorang yaitu jenis kelamin, usia, tingkat sosial ekonomi, faktor lingkungan , faktor genetik, metabolisme basal, status tinggal, aktivitas fisik, pola makan, serta enzim tubuh dan hormon (RSUP Dr. Sardjito, 2. Tak hanya itu, pola makan juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi pada penelitian (Halawa et al. , 2. wanita yang tidak memiliki kebiasaan sarapan pagi menyebabkan peluang terjadinya obesitas atau gizi berlebih (OR=2,. Kemudian dalam temuan yang dilakukan oleh (Roring et al. , 2. dikatakan signifikan antara aktivitas fisik dan pengetahuan mengenai gizi dengan nilai signifikansi sebesar 0. Berdasarkan penelitian tentang AuAnalisis faktor yang mempengaruhi status gizi wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kota Bandar Lampung Tahun 2024Ay. METODE Jenis penelitian yang digunakan kuantitatif dengan desain penelitian pendekatan cross sectional. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel dependen yaitu status gizi dan variabel independen yaitu usia, asupan makan, riwayat penyakit, aktivitas fisik, tingkat stress, dan pola asuh keluarga. Data pada penelitian ini diambil dari bulan Januari hingga Maret tahun 2024. Tempat penelitian ini dilaksanakan di Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 288-299 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor yang Berhubungan dengan StatusA. (Shalsabila Suti. Wayan Aryawati, dk. Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II A kota Bandar Lampung. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah seluruh perempuan yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan kelas II kota Bandar Lampung tahun 2024 sebanyak Pada Analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu univariat, bivariat (Chi-squar. , dan multivariat . egresi logisti. HASIL Analisis Univariat Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Responden Frekuensi Persentase (%) Status Gizi Tidak Normal Normal Usia Berisiko Tidak Berisiko Riwayat Penyakit Ada Tidak Ada Pola Makan Tidak Normal Normal Aktivitas Fisik Rendah Sedang Tingkat Stress Sedang Ringan Normal Pola Asuh Keluarga Buruk Baik Total Berdasarkan diketahui bahwa frekuensi status gizi normal sebesar 118 wanita . 9%). Frekuensi responden yang memiliki usia berisiko sebanyak 123 wanita . 2%). Frekuensi responden yang tidak memiliki riwayat penyakit sebesar 124 wanita . 6%). Frekuensi responden yang memiliki pola makan normal sebesar 115 wanita . 6%). Frekuensi responden yang memiliki intensitas aktivitas fisik rendah sebanyak 163 wanita . 1%). Frekuensi responden yang berada pada tingkatan normal atau tidak memiliki tingkat stress sebanyak 157 wanita . 4%). Frekuensi responden yang memiliki pola asuh keluarga baik sebesar 178 wanita . 8%). Hasil Bivariat Hubungan antara Usia dengan Status Gizi Usia Berisiko Tabel 2. Hubungan Antara Usia dengan Status Gizi (IMT) Status Gizi (IMT) Total Tidak normal n (%) n (%) 70 . P value n (%) 123 . Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 288-299 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor yang Berhubungan dengan StatusA. (Shalsabila Suti. Wayan Aryawati, dk. Tidak Berisiko 35 . Dari tabel 8 di atas diketahui bahwa dari 123 wanita yang memiliki usia berisiko memiliki status gizi tidak normal sebanyak 70 wanita atau 56. 9% lebih banyak dibandingkan dengan yang yang memiliki status gizi normal sebanyak 53 wanita atau 43. Kemudian dari 100 wanita yang memiliki usia tidak berisiko yang memiliki status gizi tidak normal sebanyak 35 wanita atau 65% dan dengan status gizi normal terdapat 65 wanita atau 65%. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-square pada derajat ke kemaknaan 95% ( = 0,. didapatkan nilai p value = 0. atau p = < 0,05 artinya Ha diterima, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara usia dengan status gizi pada wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Dari hasil penelitian ditemukan Oods Ratio (OR) 453 (CI 95% 1. yang artinya wanita yang memiliki usia terindikasi status gizi tidak normal memiliki usia tidak berisiko. Hubungan antara Asupan Makan dengan Status Gizi (IMT) Tabel 3. Hubungan Antara Asupan Makan Dengan Status Gizi Status Gizi (IMT) Total Asupan Makan Tidak normal P value n (%) n (%) n (%) Tidak normal 74 . 5%) 108 . <0. Normal Dari tabel 3 di atas diketahui bahwa dari 108 wanita yang memiliki asupan makan tidak normal memiliki status gizi tidak normal sebanyak 74 wanita atau 68. lebih banyak dibandingkan dengan yang yang memiliki status gizi normal sebanyak 34 wanita atau 31. Kemudian dari 115 wanita yang memiliki asupan makan normal yang memiliki status gizi tidak normal sebanyak 31 wanita atau 27% dan dengan status gizi normal terdapat 84 wanita atau 73%. Hasil Chi-square derajat ke kemaknaan 95% ( = 0,. didapatkan nilai p value = <0. 001 atau p = < 0,05 artinya Ha diterima, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara asupan makan dengan status gizi pada wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Dari hasil penelitian ditemukan Oods Ratio (OR) sebesar 898 (CI 95% 3. yang artinya wanita yang memiliki asupan makan tidak normal memiliki peluang untuk terindikasi status gizi tidak normal memiliki pola makan baik. Hubungan antara Aktivitas Fisik dengan Status Gizi (IMT) Tabel 4. Hubungan Antara Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Status Gizi (IMT) Total Aktivitas Fisik Tidak normal P value n (%) n (%) n (%) Rendah 84 . Sedang 21 . %) 39 . %) 60 . Dari tabel 4 di atas diketahui bahwa dari 163 wanita yang memiliki aktivitas fisik Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 288-299 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor yang Berhubungan dengan StatusA. (Shalsabila Suti. Wayan Aryawati, dk. rendah memiliki status gizi tidak normal sebanyak 84 wanita atau 51. 5% lebih banyak dibandingkan dengan yang yang memiliki status gizi normal sebanyak 79 wanita atau 48. Kemudian dari 60 wanita yang memiliki aktivitas fisik sedang yang memiliki status gizi tidak normal sebanyak 21 wanita atau 35% dan dengan status gizi normal terdapat 39 wanita atau 65%. Hasil Chi-square derajat ke kemaknaan 95% ( = 0,. didapatkan nilai p value = <0. 041 atau p = < 0,05 artinya Ha diterima, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan status gizi pada wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Dari hasil penelitian ditemukan Oods Ratio (OR) sebesar 975 (CI 95% 1. yang artinya wanita yang memiliki aktivitas fisik rendah memiliki peluang untuk terindikasi status gizi tidak normal sebesar 1. 975 kali lebih besar dibandingkan dengan wanita yang memiliki aktivitas fisik sedang. Hubungan antara Riwayat Penyakit dengan Status Gizi (IMT) Tabel 5. Hubungan Antara Riwayat Penyakit dengan Status Gizi Status Gizi (IMT) Total Riwayat Tidak normal Penyakit n (%) n (%) n (%) Ada 56 . Tidak Ada 49 . Dari tabel 5 di atas diketahui bahwa dari 99 wanita yang memiliki riwayat penyakit memiliki status gizi tidak normal sebanyak 56 wanita atau 56. lebih banyak dibandingkan dengan yang yang memiliki status gizi normal sebanyak 43 wanita atau 43. Kemudian dari 124 wanita yang tidak memiliki riwayat penyakit yang memiliki status gizi tidak normal sebanyak 49 wanita atau 39. 5% dan dengan status gizi normal terdapat 75 wanita atau 60. Hasil analisis statistik dengan Chi-square derajat ke kemaknaan 95% ( = 0,. P value didapatkan nilai p value = 0. 016 atau p = < 0,05 artinya Ha diterima, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang dengan status gizi pada wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Dari hasil penelitian ditemukan Oods Ratio (OR) 193 (CI 95% 1. yang artinya wanita yang mempunyai riwayat penyakit memiliki peluang untuk terindikasi status gizi tidak normal dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki riwayat penyakit. Hubungan antara Tingkat Stress dengan Status Gizi (IMT) Tabel 6. Hubungan antara Tingkat Stress dengan Status Gizi Status Gizi (IMT) Total Tingkat Stress Tidak normal n (%) n (%) n (%) Sedang 16 . Ringan 22 . Normal 67 . Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari 19 wanita yang memiliki tingkat stress sedang sampai parah memiliki status gizi tidak normal P value sebanyak 16 wanita atau 84. 2% lebih banyak dibandingkan dengan yang yang memiliki status gizi normal sebanyak 3 wanita atau 15. Kemudian dari 47 Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 288-299 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor yang Berhubungan dengan StatusA. (Shalsabila Suti. Wayan Aryawati, dk. wanita yang memiliki tingkat stress ringan yang memiliki status gizi tidak normal sebanyak 22 wanita atau 46. dan dengan status gizi normal terdapat 25 wanita atau 52. Kemudian dari 157 responden yang tidak memiliki tingkat stress atau dalam taraf normal yang memiliki status gizi tidak normal sebanyak 67 wanita atau 42. sedangkan yang memiliki status gizi normal sebanyak 90 wanita atau 57. Hasil Chi-square derajat ke kemaknaan 95% ( = 0,. didapatkan nilai p value = 0. 003 atau p = < 0,05 artinya Ha diterima, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat stress dengan status gizi pada wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Dari hasil penelitian ditemukan Oods Ratio (OR) antara tingkat stress sedang sampai parah dengan tingkat stress ringan sebesar 147 (CI 95% 1. yang artinya wanita yang memiliki tingkat stress sedang sampai parah memiliki peluang untuk terindikasi status gizi tidak normal sebesar 6. 147 kali lebih besar memiliki tingkat stress ringan. Kemudian ditemukan Oods Ratio (OR) antara tingkat stress ringan dengan keadaan normal sebesar 7. 608 (CI 95% 1. yang artinya wanita yang memiliki tingkat stress ringan memiliki peluang untuk terindikasi status gizi tidak normal sebesar 7. 608 kali lebih besar Hubungan antara Pola Asuh Keluarga dengan Status Gizi (IMT) Tabel 7. Hubungan antara Pola Asuh Keluarga dengan Status Gizi Status Gizi (IMT) Total Pola Asuh keluarga Tidak normal P value Buruk Baik n (%) 32 . Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari 99 wanita yang memiliki riwayat penyakit memiliki status gizi tidak normal sebanyak 56 wanita atau 56. lebih banyak dibandingkan dengan yang yang memiliki status gizi normal sebanyak 43 wanita atau 43. Kemudian dari 124 wanita yang tidak memiliki riwayat penyakit yang memiliki status gizi tidak normal sebanyak 49 wanita atau 39. 5% dan dengan status gizi normal terdapat 75 wanita atau 60. Hasil Chi-square derajat ke kemaknaan 95% ( = 0,. n (%) 13 . n (%) 45 . didapatkan nilai p value = <0. 016 atau p = < 0,05 artinya Ha diterima, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang dengan status gizi pada wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Dari hasil penelitian ditemukan Oods Ratio (OR) 451 (CI 95% 1. yang artinya wanita yang memiliki pola asuh keluarga yang buruk memiliki peluang untuk terindikasi status gizi tidak normal memiliki pola asuh keluarga yang baik. Hasil Multivariat Variabel Usia Riwayat Penyakit Asupan Makan Aktivitas Fisik Tingkat Stress Tingkat Stress. Tabel 8. Model Akhir Multivariat P-value <0. 95% CI 379 - 5. 879 - 3. 501 - 13. 106 - 5. 212 - 27. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 288-299 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor yang Berhubungan dengan StatusA. (Shalsabila Suti. Wayan Aryawati, dk. Tingkat Stress. Pola Asuh Keluarga 782 - 31. 626 - 9. Berdasarkan tabel 8 di atas diketahui bahwa variabel yang paling dominan dengan status gizi adalah variabel asupan . -value <0. -value stress. -value 0. 028, pola asuh keluarga . -value 0. , usia . -value . ,dan . -value Sedangkan variabel riwayat penyakit merupakan variabel konfonding. Ditinjau dari faktor paling dominan setelah dikontrol oleh variabel lainnya yang paling berhubungan dengan status gizi yaitu variabel tingkat stress. dengan nilai p-value 0. 006 dan OR 7. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian bahwa frekuensi status gizi normal sebesar 118 wanita . 9%) dan status gizi tidak normal sebesar 105 wanita . 1%). Pada penelitian ini, dapat dilihat bahwa status gizi wanita yang tidak normal tergolong hampir sama dengan data riskesdas tahun 2018 di Lampung dengan status gizi normal dalam penelitian sebesar 52,9% mendekati dengan data pada hasil Riskesdas 2018 yakni sebesar 61,4%. (Kemenkes RI, 2. Untuk usia wanita yang ada masih terdapat wanita didalam lembaga diusia yang beresiko memiliki gangguan status gizi yang tidak normal yakni sekitar usia dibawah 20 tahun atau diatas 35 tahun. Berdasarkan hasil penelitian bahwa frekuensi Frekuensi responden yang memiliki usia berisiko sebanyak 123 wanita . 2%) dan yang tidak memiliki usia berisiko sebanyak 100 wanita . 8%). Wanita yang memiliki umur terjadinya permasalahan pada status gizi nya dikarenakan organ tubuh pada wanita diusia berisiko kurang stabil dan fungsinya pun sudah mulai menurun. Status gizi wanita juga mempengaruhi usia menstruasi pada wanita. Apabila status gizi rendah dan tidak normal akan menyebabkan usia menstruasi yang terlambat dari wanita pada umumnya (Amiruddin et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian bahwa frekuensi Frekuensi responden yang tidak memiliki riwayat penyakit sebesar 124 wanita . 6%) dan yang memiliki riwayat penyakit sebesar 99 wanita . 4%). Riwayat penyakit berpengaruh pula pada status gizi seorang wanita. Wanita yang memiliki riwayat penyakit, hipertensi, ataupun penyakit kronik permasalahan atau terganggunya status gizi pada tubuh. Wanita yang memiliki riwayat penyakit akan lebih rentan untuk memiliki gizi kekurangan sel darah. Tak hanya itu orang yang memiliki gizi obesitas rentan terjangkit hiprtensi (Handari et al. Berdasarkan hasil penelitian bahwa frekuensi Frekuensi responden yang memiliki pola makan normal sebesar 115 wanita . 6%) dan yang memiliki pola makan tidak normal sebesar 108 wanita . 4%). Asupan berpengaruh terhadap status gizi pada Dalam penelitian ini pola makan wanita berpengaruh terhadap ke normal an gizi dan nutrisi yang dibutuhkan oleh Asupan makan yang berlebihan juga akan berdampak pada kelebihan gizi yang bisa berdampak obesitas jika tidak dapat dicerna baik oleh organ pencernaan Asupan makan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seberapa banyak porsi karbohidrat yang dimakan Apabila seseorang memiliki porsi yang berlebihan setiap kali makan itu mengakibatkan terganggunya sistem yang mengontrol kebutuhan (Loaloka et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian bahwa frekuensi Frekuensi responden yang memiliki intensitas aktivitas fisik rendah sebanyak 163 wanita . 1%) dan yang memiliki intensitas aktivitas fisik sedang sebanyak 60 wanita . 9%). Menurut peneliti aktifitas fisik di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung sudah cukup baik, dimana dapat kita lihat bahwa responden yang memiliki aktifitas rendah sebanyak 1% merupakan rata-rata aktifitas Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 288-299 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor yang Berhubungan dengan StatusA. (Shalsabila Suti. Wayan Aryawati, dk. Aktivitas tersebut merupakan contoh perilaku pasif, seperti menonton televisi, membaca, bekerja dengan komputer, menelpon dan sebagainya. Aktivitas tersebut berdampak pada peningkatan berat badan. Aktivitas fisik hanya mempengaruhi 30% pengeluaran energi pada orang berat badan normal, tetapi menjadi sangat penting pada orang dengan obesitas. Selain sangat penting dalam membakar kalori, olah raga juga berperan dalam pengaturan metabolisme Berdasarkan hasil penelitian bahwa frekuensi Frekuensi responden yang berada pada tingkatan normal atau tidak memiliki tingkat stress sebanyak 157 wanita . 4%) dan yang memiliki tingkat stress sedang sebanyak 19 wanita . 5%) serta memiliki tingkat stress rinagn sebanyak 47 wanita . 1%). Tingkat stress pada seorang wanita yang berlebihan juga dapat mempengaruhi Wanita yang memiliki tingkat stress taraf ringan sampai parah dapat meningkatkan kerentanan terganggunya kesehatan dan ketidakseimbangan gizi. Wanita yang memiliki tingkat stress cenderung tidak memperdulikan kesehatan gizi maupun asupan-asupan gizi yang dibutuhkannya sebab adanya gangguan pada kesehatan Hal itu akan berujungnya pada dua kemungkinan, yakni jika wanita tersebut tipe yang nafsu makannya lebih besar ketika sedang stress maka akan sedangkan adapula wanita yang jika dia dalam keadaan stress maka dia tidak nafsu makan ataupun nafsu makannya Jika terus menerus wanita tersebut tidak memperdulikan sedikitnya asupan makannya maka akan cenderung (Fitriyani, 2. Berdasarkan hasil penelitian bahwa frekuensi Frekuensi responden yang memiliki pola asuh keluarga baik sebesar 178 wanita . 8%) dan memiliki pola asuh keluarga buruk sebesar 45 wanita . 2%). Pola asuh keluarga juga menjadi salah satu faktor yang dapat menimbulkan ketidakseimbangan gizi Wanita yang hidup dikeluarga dengan pola asuh yang baik memperdulikan mengenai pentingnya asupan-asupan nutrisi bagi anaknya maka akan cenderung memiliki sttaus gizi yang normal. Sedangkan wanita yang hidup dan dengan pola asuh keluarga yang kurang baik apalagi kurang memperdulikan mengenai pentingnya menjaga kesehatan gizi pada tubuh cenderung memiliki permasalahan status gizi di masa depan seperti kelebihan gizi ataupun kekurangan gizi. Status gizi pada keluarga dengan pola asuh yang baik dan memiliki pemikiran yang lebih terbuka mengenai pentingnya memahami status gizi adalah memperhatikan asupan nutrisi seperti protein, mineral, bahkan vitamin-vitamin dari masakan yang disediakan ke anaknya sampai ia dewasa. Tak hanya itu, ibu yang memerhatikan mengenai status gizi anaknya pun akan lebih memperhatikan bahan-bahan makanan yang akan dimasak dan diberikan ke menormalisasikan konsumsi makanan siap saji yang sering seperti junkfood. Pola asuh ibu yang baik akan berdampak pada status gizi anak yang baik. Orang tua mempunyai peranan besar dalam mengatur pola makan anak. Orang tua harus menanamkan kepada anak tentang betapa pentingnya pola makan yang sehat bagi tubuh manusia. Makanan apa saja yang harus dikonsumsi anak dan yang tidak boleh dikonsumsi harus ditanamkan sejak dini kepada anak agar ketika di sekolah atau bermain, anak tidak mengkonsumsi jajanan yang tidak Anak akan banyak berada di luar rumah untuk jangka waktu antara 4-5 Aktivitas fisik anak semakin meningkat seperti pergi dan pulang sekolah, bermain dengan teman, akan pertumbuhannya sampai ia dewasa (Angelina et al. , 2. Hasil Chi-square derajat ke kemaknaan 95% ( = 0,. didapatkan nilai p value = 0. 002 atau p = < 0,05 artinya dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara usia dengan status gizi pada wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Dari hasil penelitian lainnya mengatakan bahwa Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 288-299 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor yang Berhubungan dengan StatusA. (Shalsabila Suti. Wayan Aryawati, dk. penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa terdapat hubungan antara usia dengan status gizi pada wanita. (Rizkia et al. Dalam makanan yang sehat maupun tidak dan Pentingnya menjaga kesehatan tubuh untuk mencegah terjadinya stunting pada anak di masa mendatang. (Amiruddin et , 2. Penelitian ini didukung oleh (Amiruddin et al. , 2. menyatakan bahwa wanita yang memiliki umur terjadinya permasalahan pada status gizi nya dikarenakan organ tubuh pada wanita diusia berisiko kurang stabil dan fungsinya pun sudah mulai menurun. Hasil Chi-square derajat ke kemaknaan 95% ( = 0,. didapatkan nilai p value = <0. 001 atau p = < 0,05 artinya dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara asupan makan dengan status gizi pada wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Penelitian penelitian yang dilakukan oleh (Dewi, 2. yang berjudul Pengaruh Pola Makan terhadap Status Gizi Narapidana Lapas Kelas II A Baubau bahwa Terdapat pengaruh pola makan terhadap status gizi narapidana Lapas Kelas II A Baubau. Penelitian lain yang dilakukan oleh (Aningsih, 2. yang berjudul Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Pola Konsumsi Energi. Protein dengan Status Gizi Siswa SMP Negeri 3 Jorong Kabupaten Tanah Laut bahwa terdapat hubungan antara pola konsumsi energi dengan status gizi siswa SMP Negeri 3 Jorong Kabupaten Tanah Laut. Penelitian dilakukan oleh (Antari & Zaidah, 2. mengatakan bahwa ada hubungan antara asupan makan dengan status gizi. Status gizi wanita dapat dipengaruhi oleh asupan makanan dengan porsi yang sesuai dengan takaran gizi seimbang. Jumlah makanan yang dikonsumsi harus sesuai dengan porsi dan kebutuhan nutrisi Kebutuhan nutrisi kelompok umur berbeda-beda, termasuk wanita dewasa berdasarkan porsi yang dikonsumsi harus sesuai dengan prinsip asupan energi yang sesuai dengan tubuh (Antari & Zaidah. Hasil Chi-square derajat ke kemaknaan 95% ( = 0,. didapatkan nilai p value = 0. 016 atau p = < 0,05 artinya dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara riwayat penyakit dengan status gizi pada wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Hasil penelitian ini sejalan dengan menemukan bahwa adanya hubungan antara riwayat penyakit dengan status Dalam penelitian lain mengatakan bahwa orang dengan hipertensi akan lebih mudah menjangkit orang yang memiliki kelebihan gizi atau obesitas. Hal tersebut dikarenakan lemak-lemak yang mengalami obesitas akan menyebabkan adanya sumbatan di pembuluh darah Seseorang obesitas memiliki risiko 3,8 kali lebih hipertensi dibandingkan dengan orang yang tidak obesitas (Handari et al. , 2. Status gizi merupakan salah satu faktor penyebab kejadian anemia pada remaja Dalam penelitian ini menyebutkan bahwa orang dengan riwayat penyakit anemia cenderung kekurangan zat gizi (Nurjannah & Putri, 2. Hasil Chi-square derajat ke kemaknaan 95% ( = 0,. didapatkan nilai p value = <0. 041 atau p = < 0,05 artinya dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan status gizi pada wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa adanya hubungan erat antara aktivitas fisik dengan status gizi pada Intensitas aktivitas fisik dapat mempengaruhi keseimbangan gizi pada Tingkat aktivitas yang rendah dengan supan makan yang tinggi overweight sedang tingkat aktivitas yang Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 288-299 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor yang Berhubungan dengan StatusA. (Shalsabila Suti. Wayan Aryawati, dk. tinggi dengan asupan makan yang sedikit juga dapat menyebabkan underweight. Sebaik-baiknya aktivitas fisik harus diimbangi dengan asupan nutrisi yang keseimbangan status gizi dalam tubuh. (Loaloka et al. , 2023. Widiastuti & Widiyaningsih, 2. Hasil Chi-square derajat ke kemaknaan 95% ( = 0,. didapatkan nilai p value = 0. 003 atau p = < 0,05 artinya Ha diterima, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat stress dengan status gizi pada wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh (Fitriyani, 2. yang mengatakan bahwa adanya hubungan antara tingkat stress dengan status gizi. Namun terdapat penelitian lain juga yang Dalam sebelumnya menghasilkan bahwa tingkat stress tidak mempengaruhi status gizi Pada penelitian tersebut tidak ditemukan hubungan antara stres dan status gizi dikarenakan apabila seseorang yang stress memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baik maka dapat mengatur makanan atau gizi tubuh yang dibutuhkan sehingga seseorang dengan tingkat pengetahuan baik akan memperhatikan nilai gizi dari makanan yang dikonsumsi (Fithriani & Sholihah, 2. Hasil Chi-square derajat ke kemaknaan 95% ( = 0,. didapatkan nilai p value = <0. 016 atau p = < 0,05 artinya Ha diterima, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang dengan status gizi pada wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Midu et al. mengatakan bahwa adanya hubungan antara pola asuh keluarga dengan status Pola asuh keluarga berperan besar pada keseimbangan gizi seseorang dari saat masih bayi hingga dewasa. Berdasarkan tabel diketahui bahwa variabel yang paling dominan dengan status gizi adalah variabel asupan makan . -value <0. , tingkat stress. , tingkat stress. -value 028, pola asuh keluarga . -value . , usia . -value 0. ,dan aktivitas fisik . -value 0. Sedangkan variabel riwayat penyakit merupakan variabel Ditinjau dari faktor paling dominan setelah dikontrol oleh bebrapa variabel lain yang paling berhubungan dengan status gizi yaitu variabel tingkat stress . dengan nilai p-value 0. 006 dan OR 7. SIMPULAN Ada Hubungan antara Usia dengan Status Gizi (IMT) . -value 0. Asupan Makan . -value : 0. Riwayat Penyakit . -value : 0. Aktivitas Fisik . -value : 0. Tingkat Stress . -value : 0. Pola Asuh Keluarga . -value : dengan Status Gizi (IMT) pada Wanita Di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung Tahun 2024. Faktor yang paling dominan setelah dikontrol oleh variabel lainnya yang paling berhubungan dengan status gizi yaitu variabel tingkat stress. dengan nilai p-value 0. 006 dan OR 7. asupan makan . -value <0. , tingkat stress. -value 0. , pola asuh keluarga . -value 0. , usia . -value . ,dan aktivitas fisik . -value 0. Sedangkan variabel riwayat penyakit merupakan variabel konfonding. SARAN Diharapkan petugas lapas dapat memberikan edukasi dan kegiatan positif mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental guna mencegah tingkat stress serta dapat meningkatkan status gizi terhadap warga binaan. DAFTAR PUSTAKA