Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 MANAJEMEN DESA WISATA PEKUNDEN DALAM RANGKA MENINGKATKAN PADes (STUDI KASUS DI KAMPOENG NOPIA MINO) Anisa Wulandari 1. Atik Indriana 2. Salsanadhifa Elita P. Budiyanto 3 . Putri Sofwatul Laeli 4 Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto wulandarianisa2584@gmail. com1, indrianaatik@gmail. com2, s. dipaelita06@gmail. putryslaeli@gmail. Abstract Currently, the development of tourism villages is the main effort of villages in Indonesia to increase their own revenue. One of the tourist villages in Banyumas Regency that has received national recognition is Pekunden Tourist Village. This village has various attractions, one of which is Kampoeng Nopia Mino, its flagship attraction. The strength of this attraction is due to effective management processes. Therefore, this research aims to understand the management process of Kampoeng Nopia Mino in increasing local revenue in Pekunden Village. The research uses a descriptive qualitative method, with data collected thru interviews, observation, and document interpretation. The research results show that the management of Kampoeng Nopia Mino as an attraction in Pekunden Tourism Village is as follows. The planning process is wellexecuted, although not yet optimal. It has a clear organizational structure, with the implementation of the hexahelix model. Management activities run smoothly and according to the established plan. The supervision process involves the community thru regular meetings to evaluate management. The existence of Kampoeng Nopia Mino is expected to inspire other working groups in Pekunden Tourism Village, as well as encourage optimal efforts in its management to realize the long-term vision. Keywords: management, tourist village, kampoeng nopia mino, original village revenue PENDAHULUAN otonomi daerah termasuk pembangunan Penyelenggaraan pemerintahan di pemerintah daerah sesuai dengan Undang- Indonesia antara pemerintah pusat dengan Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintah daerah kini telah berkembang Pemerintahan menjadi otonomi daerah. Pada dasarnya, prinsip dari otonomi daerah yaitu pemberian pembangunan pada masing-masing daerah kewenangan terhadap pemerintah daerah maka pembangunan yang berbasis tingkatan (Ferizaldi. Daerah. Dalam kebebasan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia yaitu desa lebih diutamakan pusat termasuk hak untuk mengelola dan (Puspantari, 2. menggali berbagai sumber keuangan untuk Penjelasan mengenai desa sendiri membiayai segala kegiatan penyelenggaraan telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 6 Tahun 2014 tentang Desa atau disebut juga wisata yang ada di Indonesia. Dari total UU Desa. Dalam UU Desa disebutkan juga 016 desa wisata yang tersebar di 38 provinsi, 511 desa wisata berada di pengaturan desa yaitu untuk menumbuhkan Provinsi Banyumas yang termasuk dalam kawasan Jawa Jawa Tengah. Tengah Kabupaten masyarakat desa dalam mengembangkan potensi serta aset desa demi kesejahteraan menyumbang desa wisata yaitu sebanyak 18 Dengan demikian, desa memiliki desa yang salah satunya adalah Desa Wisata hak untuk mengelola serta mengeksplor Pekunden. potensi yang dimilikinya guna meningkatkan Keberadaan Desa Wisata Pekunden keuangan serta aset desa (Bintarto, 2015 dilatarbelakangi oleh keinginan masyarakat dalam (Puspantari, 2. Salah satu sumber untuk memperbaiki kondisi lingkungan serta keuangan desa yaitu Pendapatan Asli Desa (PADe. Masyarakat kemudian mulai bekerja sama Peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADe. tujuannya untuk memanfaatkan potensi lokal umumnya ada pada sebuah desa, seperti kesempatan untuk meningkatkan pendapatan Sektor pariwisata merupakan sektor yang melalui sektor pariwisata sebagai dampak paling banyak dikembangkan oleh desa-desa adanya desa wisata. Para wisatawan yang di Indonesia untuk dapat meningkatkan datang berkunjung dapat membeli produk Pendapatan Asli Desa (PADe. (Budiman, lokal, menyewa akomodasi, serta menikmati 2011 dalam (Puspantari, 2. Salah satu kuliner khas, dimana semua aktivitas tersebut bentuk pertumbuhan di sektor pariwisata perekonomian lokal. Selain itu, aktivitas desa-desa Indonesia dikembangkannya desa wisata. Melansir tersebut dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat. Warga setempat dapat id. Jadesta ADWI berperan sebagai pemandu wisata, penyedia 2024 memberikan gambaran yang sangat produk lokal. Sehingga keberadaan Desa Masyarakat Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Wisata Pekunden ini dapat meningkatkan Covid-19 mereda, jumlah pengunjung di Pendapatan Asli Desa (PAD) maupun pendapatan bagi masyarakat itu sendiri. Dari peningkatan yang signifikan. Sejauh ini, berbagai daya tarik wisata yang ada di Desa jumlah pengunjung di Kampoeng Nopia Wisata Pekunden. Kampoeng Nopia Mino Mino terus mengalami peningkatan. Dengan adanya peningkatan jumlah pengunjung Keunggulan daya tarik Kampoeng Nopia diharapkan dapat meningkatkan kontribusi Mino dapat dibuktikan dengan melihat pendapatan desa wisata terhadap Pendapatan jumlah pengunjung yang tertera pada tabel Asli Desa (PADe. Setelah terjun ke lapangan secara Tabel 1. Jumlah Pengunjung Kampoeng Nopia jumlah pendapatan asli desa di Desa Mino Tahun 2018-2023 Pekunden pada tahun 2023 sebesar Rp 000 dan pada tahun 2024 sebesar Rp Tahun Jumlah Pengunjung 312 pengunjung 035 pengunjung Pekunden mengalami peningkatan. Salah 672 pengunjung satu sumber Pendapatan Asli Desa (PADe. 118 pengunjung 169 pengunjung 700-an pengunjung Data tersebut menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Desa (PADe. Desa yaitu dari pendapatan desa wisata. Namun, berdasarkan telaah di lapangan, keberadaan desa wisata belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Pendapatan Asli Sumber : Kelompok Kerja Kampoeng Nopia Desa (PAD). Hal ini dikarenakan, seluruh Mino, 2024 daya tarik wisata yang tersedia pada Desa Dilihat dari data tersebut dapat Tahun 2018-2019. Wisata Pekunden merupakan milik pribadi ataupun kelompok. jumlah pengunjung cenderung mengalami Berdasarkan Namun, dikarenakan pandemi Covid-19, jumlah pengunjung Kampoeng mendeskripsikan potensi-potensi wisata yang Nopia dimiliki oleh Desa Pekunden khususnya pada mengalami penurunan. Setelah pandemi daya tarik Kampoeng Nopia Mino, peran Mino Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 pemerintah desa dalam pengembangan desa dokumentasi yang dilakukan di Desa Wisata Pendapatan Asli Desa (PAD) Desa Wisata Pekunden. Pekunden. Selain itu, peneliti memiliki Pada penelitian ini menggunakan ketertarikan terhadap manajemen di Desa Wisata Purposive sampling dipahami memenangkan beberapa penghargaan, baik sebagai proses pengumpulan sampel yang di tingkat provinsi maupun nasional. bergantung pada penilaian peneliti dalam Pekunden, memilih seseorang atau sekelompok unit METODE yang akan dipelajari (Firmansyah & Dede. Dalam penelitian ini, digunakan Teknik purposive sampling ini menghasilkan informan yang mencermikan Metode penelitian kualitatif diartikan oleh karakteristik mengenai manajemen daya tarik Sugiyono AuKampoeng Nopia MinoAy di Desa Wisata (Abdussamad. Pekunden. berdasarkan filsafat post-positivisme untuk meneliti objek dalam kondisi natural . ukan HASIL DAN PEMBAHASAN Desa Pekunden instrumen utama, pengumpulan data melalui Desa Pekunden merupakan suatu triangulasi, analisis induktif, dan fokus pada wilayah yang berada di pinggir Sungai makna daripada generalisasi. Serayu dan termasuk dalam Kecamatan Data primer dalam penelitian ini Banyumas. Kabupaten Provinsi Jawa bersumber dari hasil wawancara dengan Pemerintah Desa Pekunden. Kelompok Sadar Indonesia. Desa Pekunden memiliki batas- Wisata Wisanggeni, batas wilayah secara administratif, yaitu Kelompok Kerja (Pokj. Kampoeng Nopia sebelah selatan berbatasan dengan Desa Mino, serta masyarakat Desa Pekunden yang Karanggude merasakan dampak dari adanya Desa Wisata Kecamatan Banyumas. Pekunden. Sedangkan, data sekunder pada berbatasan dengan Desa Kaliori Kecamatan penelitian ini bersumber dari kajian literatur. Kalibagor. Kemudian, seperti jurnal, skripsi, e-book, laman resmi (Pokdarwi. Banyumas Desa Tengah Pasinggangan Desa Sudagaran Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Kecamatan Banyumas, dan sebelah barat Namun, pada realitanya. Pandemi Covid-19 berbatasan dengan Desa Kalisube Kecamatan Banyumas (Deliana, 2. Salah satu cara yang paling efektif Indonesia Setelah pandemi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mereda. Pemerintah Desa Pekunden mulai sebuah masyarakat yaitu melalui sektor memfokuskan pada rencana pembuatan tempat wisata. Rencana tersebut didukung (Setyawati. Wibowo. Racma. Widiastuti, & Adilla, 2. , yang salah satunya adalah memperbolehkan prioritas pengelolaan desa pengembangan desa wisata. Hal ini juga Desa Pekunden Dalam selanjutnya disebut sebagai Desa Wisata Pekunden. Desa Wisata Pekunden merupakan desa wisata yang berfokus pada dengan berbagai pihak terkait, seperti wisata kreatif, edukatif, dan non-alam kecamatan dan Dinas Pemuda. Olahraga, (Sinaga, et al. , 2. Kebudayaan. Pengelolaan (Dinporabudpa. Pariwisata Kabupaten Banyumas tersedia di desa ini dilakukan oleh Kelompok mengenai pembuatan tempat wisata tersebut. Sadar Wisata (Pokdarwi. yang dinamakan Sebelum dibentuknya tempat wisata, dinas Pokdarwis terkait menyarankan Wisanggeni kepada pengunjung dalam bentuk paket pemetaan guna menentukan tempat wisata Desa Wisata Pekunden ini merupakan seperti apa yang akan dibentuk. Hasil dari satu satunya desa pemetaan tersebut menunjukkan bahwa berada di Kabupaten Banyumas. Pembangunan Desa pemerintah Desa Pekunden hanya perlu Wisata mengembangkan potensi yang sudah ada. Pekunden sebenarnya sudah dicanangkan seperti pembuatan nopia mino, pembuatan sejak tahun 2017-2018, dimana pemerintah batik, dan sebagainya. desa berencana untuk membuat tempat wisata yang bertujuan untuk menambah sebelumnya, pemerintah Desa Pekunden melakukan penguatan kapasitas sumber daya pariwisata yang sudah ada dan sepakat untuk Berangkat Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 menjadikannya sebagai desa wisata. Desa Banyumas yaitu Nopia Mino . ini nopi. Wisata Pekunden diresmikan pada Desember dengan begitu dapat tercipta generasi penerus Terkait dengan pendapatan desa, desa pengrajin nopia mino. Potensi yang dimiliki oleh Kampoeng Nopia Mino perlu dikelola pendapatan desa. Hanya saja, dampak dengan baik, sehingga dapat mencapai tersebut dirasa masih belum maksimal. Hal tujuannya secara efektif. ini karena. Desa Wisata Pekunden baru Pengelolaan daya tarik Kampoeng dibangun kurang lebih 3 tahun sehingga Nopia Mino dalam kajian ini menggunakan pendapatan desa yang bersumber dari desa teori fungsi-fungsi manajemen yang digagas wisata masih sedikit. Apalagi pada tahun- oleh George R. Terry, dimana teori tersebut memiliki 4 indikator yaitu perencanaan . , pengorganisasian . , operasional lomba. , dan pengawasan Manajemen Kampoeng Nopia Mino . Berikut ini diuraikan hasil dari Kampoeng Nopia Mino merupakan penelitian yang dilakukan di Kampoeng salah satu dari sekian banyak daya tarik yang Nopia Mino dengan perspektif fungsi-fungsi disediakan di Desa Wisata Pekunden. Pada manajemen milik George R. Terry. Kampoeng Nopia Mino ditawarkan pengalaman dalam membuat nopia yaitu makanan khas Banyumas yang Perencanaan . Sebagaimana dikutip oleh (Yusuf, et al. , 2. Menurut George R. Terry yang memanfaatkan genthong. Sambil menunggu dicukil oleh Riyadi dan Deddy . , nopia masak, pengunjung dapat bersantai di perencanaan dapat dipahami sebagai proses taman dengan tanaman teh bunga telang dan pemilihan serta penghubungan berbagai spot foto dengan lukisan mural karya fakta, disertai dengan penyusunan dan masyarakat sekitar (Sinaga, et al. , 2. asumsi-asumsi Kampoeng Nopia Mino berlokasi di kondisi masa depan, guna menggambarkan Desa Pekunden RT 3 RW 4 Kabupaten dan merumuskan serangkaian kegiatan yang Banyumas (Deliana, 2. Tujuan dari dianggap perlu untuk mencapai tujuan atau dibentuknya Kampoeng Nopia Mino sendiri hasil tertentu. Perencanaan pada manajemen desa wisata merupakan hal yang sangat Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 tarik Desa Wisata Pekunden, masyarakat (Pokdarwi. telah memproduksi nopia sejak 1960 dan Wisanggeni dan Pokja Kampoeng Nopia sudah memiliki Mino perlu merumuskan atau merancang belajar pembuatan nopia. Sehingga pemuda langkah maupun tindakan apa saja yang perlu beserta masyarakat saling bekerja sama dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. menjadikan Kampoeng Nopia Mino sebagai Pada pembangunan Desa Wisata Pekunden telah dilakukan dengan baik, sebuah destinasi wisata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses perencanaan pengembangan wawancara bersama Bapak Winarko selaku Kampoeng Nopia Mino sebagai salah satu wakil ketua pokdarwis. Desa Pekunden telah daya tarik wisata di Desa Wisata Pekunden melakukan koordinasi dengan kecamatan dan koordinasi dengan kabupaten yaitu dengan Pemerintah Desa Pekunden. Dinas terkait Dinporabudpar yaitu Dinporabudpar Kabupaten Banyumas. Kabupaten Perencanaan Banyumas. Desa serta partisipasi aktif masyarakat Desa Wisata Pekunden juga telah masuk dalam Pekunden. Selain itu, perencanaan tersebut RPJM Kepala Desa Pekunden. telah tercantum dalam dokumen RPJM Desa Begitu pula pada perencanaan awal Kampoeng Nopia Mino yang digagas sebagai Pekunden. Temuan salah satu daya tarik Desa Wistaa Pekunden penelitian Pratiwi . yang menegaskan telah dilakukan dengan baik. Berdasarkan bahwa keberhasilan Desa Jambu dalam wawancara bersama Bapak Agus Silo Witrasno selaku ketua Pokja Kampoeng dipengaruhi oleh perencanaan strategis yang Nopia Mino, awal perencanaan Kampoeng matang dan partisipatif antara pemerintah Nopia Mino sebagai daya tarik wisata adalah desa dan masyarakat. Perencanaan awal di pemuda serta masyarakat RT 03 RW 04 Desa Desa Jambu dilakukan melalui perumusan Pekunden yang memiliki semangat tinggi visi dan misi desa yang modern dan inovatif, dalam membangun lokasi tersebut menjadi disertai dengan kegiatan sosialisasi dan sebuah kampung yang bersih dan enak untuk musyawarah desa agar seluruh masyarakat Karena sebelum Kampoeng Nopia Mino digagas sebagai salah satu daya Pendapatan Asli Desa Secara Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 perencanaan yang matang serta keterlibatan wewenang yang diperoleh setiap anggota diharapkan (Fauziah & Khumaidi, 2. masyarakat sejak awal sebagai faktor utama Kampoeng Nopia Mino menunjukkan pengelolaan yang dalam aspek pengembangan desa wisata. Namun kedua penelitian ini memiliki perbedaan, yang mana manajemen pembukuan yang tertata rapi dan sistematis. Bapak Agus Silo Witrasno bahwa perencanaan yang dilakukan sudah mengatakan bahwa setiap anggota dalam Pokja Kampoeng Nopia Mino memiliki PADes Pratiwi . masing-masing penelitian ini meskipun perencanaan telah dilakukan dengan baik dan melibatkan berbagai pihak, pembangunan Desa Wisata pelaksanaan kegiatan. Pembagian tugas yang Pekunden upaya meningkatkan telah ditetapkan dan terstruktur tidak hanya Pendapatan Asli Desa (PADe. masih belum meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga sepenuhnya optimal dan belum memberikan dampak yang signifikan. pengelolaan sumber daya. Dengan demikian. Kampoeng Nopia Mino mampu membangun Pengorganisasian . sistem yang mendukung keberlanjutan dan Tahap pengorganisasian dipahami oleh Terry . sebagai sebuah tahapan akuntabilitas dalam setiap kegiatan yang yang dilakukan setelah tahap perencanaan Bapak dilakukan, dimana dalam rangka mencapai tujuan sebuah organisasi perlu melakukan koordinasi antara sumber daya manusia. Kampoeng Nopia Mino menjadi salah satu fasilitas, serta sumber daya lainnya (Sedana. Tahap ini mencakup penempatan sumber daya manusia dalam sebuah aktivitas, direncanakan, di mana setiap individu diberikan ruang untuk berkontribusi sesuai mendukung pekerjaan, serta menentukan dengan kemampuan dan keahlian masing- Agus Silo Witrasno Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 masing, sehingga tercipta rasa memiliki yang tugas yang jelas, manajemen pembukuan kuat terhadap setiap inisiatif yang dilakukan, yang sistematis, serta keterlibatan aktif masyarakat tidak hanya menjadi pelaksana, masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan. tetapi juga menjadi bagian penting dalam Kedua penelitian sama-sama menekankan setiap proses sehingga dapat menciptakan sinergi antara pemimpin komunitas dan warga untuk mencapai tujuan bersama. masyarakat tidak hanya menjadi pelaksana Dalam tetapi juga bagian dari tiap proses. Dengan Puspantari . yang membahas mengenai demikian, baik penelitian Puspantari . pengelolaan Desa Wisata Besan Kabupaten maupun penelitian Kampoeng Nopia Mino Klungkung memiliki persamaan yang kuat menunjukkan kesamaan dalam penerapan dengan hasil penelitian Kampoeng Nopia Mino yang dikaji dalam penelitian ini. berbasis kolaborasi, dan berorientasi pada Keduanya menunjukkan penerapan fungsi keberlanjutan desa wisata melalui sinergi pengorganisasian sebagaimana dijelaskan antara pemerintah desa dan komunitas lokal. oleh Terry . dalam teori POAC, yakni sebagai tahap penting setelah perencanaan Penerapan . yang menekankan pada koordinasi sumber Tahap penerapan oleh George R. daya manusia, fasilitas, serta pembagian Terry yang dicukil oleh Sukarna . wewenang untuk mencapai tujuan bersama. Pada penelitian Puspantari . , proses merupakan tahapan yang menjadi kunci dalam manajemen, yang dipahami sebagai (Fauziah Khumaidi, pendekatan kolaboratif berbasis pentahelix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku bisnis, dan media dalam supaya dapat berusaha mewujudkan tujuan mengembangkan desa wisata secara terpadu. dengan tulus dan penuh semangat yang Hal tersebut sejalan dengan temuan dalam penelitian Kampoeng Nopia Mino, di Terry . dalam (Sedana, secara kolaboratif melalui pembentukan Pokja dan Pokdarwis dengan pembagian mencakup tiga aspek, yaitu instruksi yang Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 mengatur seluruh tindakan yang diperlukan Penyelenggaraan Desa Wisata untuk mencapai tujuan, memastikan bahwa Pekunden pada Kampoeng Nopia Mino semua eksekutor berkoordinasi dengan baik berdampak pada ekonomi lokal, di mana ketika melakukan tugas, dan memastikan pendapatan pengrajin nopia dan pelaku bahwa terdapat kesatuan instruksi dalam UMKM tindakan tersebut. bertambahnya kunjungan wisatawan. Selain Kampoeng Nopia Mino menjadi itu, pembagian sembako tahunan menjadi embrio dari Desa Wisata Pekunden yang manfaat langsung yang dirasakan masyarakat berawal dari inisiatif masyarakat RT 3 RW 4 Kendala yang dihadapi mencakup untuk mengubah wilayahnya menjadi lebih kesibukan pengurus dan fluktuasi jumlah Namun pengembangan wisata berbasis budaya lokal. memperkuat kerja sama dengan stakeholder Pelaksanaannya didukung pemerintah desa terus diupayakan. Harapan semua pihak adalah agar Kampoeng Nopia Mino terus manajemen, pembangunan infrastruktur, dan Struktur pengelolaan Kampoeng Nopia Mino terdiri dari 20 anggota yang ekonomi berkelanjutan. Pelaksanaan Desa Pembagian tugas dilakukan berdasarkan Wisata Pekunden di Kampoeng Nopia Mino kemampuan individu, sehingga memastikan dilakukan melalui kolaborasi yang kuat Masyarakat memegang peran pengurus, dan masyarakat. Dengan begitu keberadaan Kampoeng Nopia Mino dapat Kampoeng Nopia Mino, menyelenggarakan event, hingga mendukung Setiap memberikan dampak positif nyata terhadap kesejahteraan masyarakat. Temuan penelitian yang dilakukan oleh Afrizal dan termasuk pembentukan struktur pengurus. Oktariyanda . mengenai Manajemen selalu melibatkan persetujuan dan partisipasi Strategi Desa Wisata Gronjong Wariti dalam masyarakat melalui forum RT. meningkatkan perekonomian Desa Mejono Kabupaten Kediri, dimana aspek actuating Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 pada pengelolaan Kampoeng Nopia Mino standar, penerapan, penilaian atas penerapan, serta melakukan perbaikan dengan maksud untuk memastikan bahwa pelaksanaan sesuai dengan rencana dan standar yang telah Pada Gronjong Wariti, membantu seluruh proses pengelolaan dalam pembagian tugas yang jelas berdasarkan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan sistem saham dan tanggung jawab individu di BUMDes Hapsari. Fungsi laporan terkait Sementara itu, di Kampoeng Nopia Mino, kegiatan yang tengah diselidiki (Jas & Amri. Proses Desa masyarakat dalam berbagai aktivitas, mulai Wisata Pekunden maupun Pokja Kampoeng dari kebersihan, penyelenggaraan acara. Nopia Mino telah dilakukan secara baik dan hingga pelayanan wisatawan. Kedua model Hal ini karena, baik dari pengelola Desa Wisata Pekunden maupun Pokja Kampoeng Nopia manajemen desa wisata bergantung pada kejelasan peran, koordinasi yang efektif evaluasi terhadap tantangan yang dihadapi, antaranggota, serta dukungan berkelanjutan sehingga seluruh kegiatan yang dilakukan dari pemerintah desa. Dengan demikian, dapat berjalan lebih lancar dan efektif. Pengawasan Pemerintah Desa Pekunden terhadap Desa Wisata Pekunden dilakukan keberlanjutan operasional dan penguatan melalui laporan yang disampaikan oleh ekonomi lokal. Pokdarwis Wisanggeni selaku pengelola Mino Desa Wisata Pekunden . isampaikan ketika Pengawasan . wawancara oleh Bapak Winarko selaku Pengawasan dipahami George R. Wakil Ketua Pokdarwis Wisanggeni pada Terry sebagaimana dikutip oleh Sukarna 11/11/2. Hal ini karena Pokdarwis . dalam (Fauziah & Khumaidi, 2. Wisanggeni merupakan penghubung antara sebagai sebuah tahap yang menentukan Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Pemerintah Desa Pekunden dengan pokja- dan (Afrizal & Oktariyanda, 2. yang pokja yang ada di Desa Wisata Pekunden. menunjukkan bahwa strategi manajemen dan Disampaikan oleh Bapak Agus Silo partisipasi masyarakat menjadi faktor utama Witrasno selaku Ketua Pokja Kampoeng keberhasilan pengelolaan desa wisata. Dalam Nopia penelitian ini, pengelolaan salah satu daya dilakukan pada 11 November 2024, evaluasi tarik wisata, yaitu Kampoeng Nopia Mino, dilakukan dengan saling memberi masukan terbukti dapat berjalan efektif sebab adanya maupun kritik antar pengurus pokja dalam sinergi yang baik antara pemerintah desa acara kumpul rutin. Pokja Kampoeng Nopia dengan masyarakat lokal dalam merancang. Mino berupaya untuk selalu transparan atas memasarkan, dan mempertahankan daya kegiatan yang dilakukan di Kampoeng Nopia tarik wisata. Persamaan kedua penelitian ini Mino. Kumpul rutin ini tidak hanya adalah sama-sama menyoroti pentingnya dilakukan oleh pengurus pokja, tetapi juga masyarakat diikutsertakan dalam proses analisis kontribusi ekonomi desa wisata Mino Masyarakat melaporkan kepada ketua pokja maupun dalam pembangunan desa. pihak pokdarwis jika dirasa ada hal yang Secara keseluruhan, temuan pada mencurigakan dari berjalannya kegiatan Desa Wisata Pekunden maupun Kampoeng Nopia Mino. Dengan demikian, seluruh pengembangan desa wisata berperan penting pihak ikut terlibat dalam proses pengawasan dalam peningkatan perekonomian lokal. atas jalannya kegiatan Desa Wisata Pekunden Namun, kebaruan penelitian ini terletak pada maupun Kampoeng Nopia Mino. fokusnya terhadap kontribusi langsung desa Dalam pendapatan. Bapak Agus Silo Witrasno wisata terhadap peningkatan pendapatan asli menyampaikan, dapat dilakukan dengan memberikan pelayanan yang terbaik serta mendorong promosi di berbagai platform, khususnya media sosial. Selanjutnya, hasil dari penelitian ini sejalan dengan temuan milik (Pratiwi, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil telaah data yang ada, didapatkan bahwa pengelolaan daya tarik Kampoeng Nopia Mino di Desa Wisata Pekunden Kabupaten Banyumas Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 dilakukan dengan berlandaskan fungsi-fungsi manajemen milik George R. Terry. Hal tersebut dibuktikan dengan tahap-tahap yang Kampoeng Nopia Mino dapat dipandang Setiap aspek yang ada telah terpenuhi secara baik. Hanya perencanaan Kampoeng Nopia Mino masih pentingnya pengembangan Kampoeng Nopia Mino. Hal Masyarakat Desa Pekunden memiliki latar sehingga pemahaman mengenai hal tersebut Pada aspek penerapan. Kampoeng Nopia Mino telah melakukannya dengan baik dan efektif. Untuk aspek pengorganisasian serta aspek pengawasan dalam kegiatan Desa Wisata Pekunden maupun Pokja Kampoeng Nopia Mino telah dilakukan dengan baik dan Dengan demikian, seluruh aspek yang ada telah terpenuhi, hanya saja di beberapa aspek masih belum optimal dalam REFERENSI