KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. PENGARUH VOLATILITAS HARGA EMAS GLOBAL, KEBIJAKAN MONETER INDONESIA. INFLASI TERHADAP PERTUMBUHAN ZAKAT DI INDONESIA Ogi Marsenal Ipando1*. Fatih Fuadi2. Muhammad Iqbal3 1,2,3 Magister Ekonomi Syariah. UIN Raden Intan Lampung. Indonesia email: ogimarsenal@gmail. com1, fatihfuadi@radenintan. id2, iqbalfebi@radenintan. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis pengaruh simultan dan parsial dari volatilitas harga emas global, kebijakan moneter Indonesia (BI-Rat. , dan inflasi terhadap pertumbuhan zakat di Indonesia. Menggunakan data bulanan dari Januari 2015 hingga Desember 2024 dan metode Vector Error Correction Model (VECM), studi ini menemukan adanya hubungan keseimbangan jangka panjang di antara variabel-variabel tersebut. Hasil analisis jangka pendek menunjukkan bahwa volatilitas harga emas global berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan zakat, sementara kebijakan moneter . eningkatan suku bung. berpengaruh negatif signifikan, dan inflasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Analisis Variance Decomposition mengonfirmasi bahwa volatilitas harga emas dan kebijakan moneter adalah kontributor eksternal paling dominan terhadap fluktuasi pertumbuhan zakat. Temuan ini menyarankan perlunya integrasi analisis makroekonomi ke dalam manajemen strategis BAZNAS untuk optimalisasi potensi zakat nasional. Kata Kunci: Pertumbuhan Zakat. Volatilitas Harga Emas. Kebijakan Moneter. Inflasi. VECM. AU PENDAHULUAN Peran zakat di Indonesia semakin menguat sebagai instrumen vital dalam mewujudkan keadilan sosial, mendorong pertumbuhan ekonomi syariah, dan memberantas kemiskinan secara berkelanjutan . idin Hafidhuddin, 2. Pengelolaan zakat di tanah air menunjukkan dinamika yang positif, didukung oleh regulasi yang kuat dan meningkatnya kesadaran kolektif masyarakat. Berdasarkan data terbaru dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), potensi zakat nasional Indonesia sesungguhnya sangat besar, diperkirakan mencapai kisaran Rp 327 triliun per tahun. Meskipun demikian, realisasi pengumpulan zakat formal melalui badan dan lembaga amil zakat (BAZNAS dan LAZ) pada tahun 2023 mencapai sekitar Rp 33 triliun, angka yang menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara potensi dan realisasi (BAZNAS, 2. Kesenjangan ini mengindikasikan adanya faktor-faktor kompleks, baik internal maupun eksternal yang memengaruhi optimalisasi penerimaan dana zakat. Optimalisasi pengumpulan zakat sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi makro, baik pada level domestik maupun global (Rahman, 2. Fluktuasi ekonomi yang terjadi secara global maupun tanggapan terhadap kebijakan di tingkat nasional menciptakan ketidakpastian yang dapat berdampak langsung pada kemampuan dan motivasi muzaki . embayar zaka. dalam menunaikan kewajiban agamanya. Salah satu faktor eksternal yang krusial adalah volatilitas harga emas global. Emas merupakan salah satu instrumen penting dalam perhitungan nishab zakat mal . dan zakat profesi, dengan standar nishab setara 85 gram emas murni (Karim, 2. Ketika harga emas berfluktuasi tajam, hal ini secara langsung memengaruhi nilai nishab dan kewajiban zakat bagi individu yang memiliki aset atau penghasilan yang terkait dengan emas. Studi empiris menunjukkan KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. bahwa pergerakan harga emas dunia dapat berkorelasi positif dengan jumlah penerimaan zakat, karena kenaikan harga meningkatkan nilai aset yang dizakatkan . Namun, volatilitas yang tinggi juga dapat menciptakan ketidakpastian ekonomi yang memengaruhi keputusan investasi dan daya beli masyarakat secara keseluruhan. Secara internal, respons kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) juga memegang peranan Kebijakan moneter, yang tujuan utamanya adalah menjaga stabilitas harga melalui pengendalian inflasi, diimplementasikan melalui instrumen seperti penyesuaian suku bunga acuan (BI-Rat. dan operasi pasar terbuka. Kebijakan kontraktif . engetatan monete. untuk menekan inflasi dapat memengaruhi likuiditas di pasar, tingkat suku bunga perbankan, dan pada akhirnya, tingkat pendapatan riil masyarakat serta profitabilitas unit usaha. Variabel-variabel moneter ini secara tidak langsung membentuk lanskap ekonomi di mana muzaki beroperasi, sehingga potensi dampaknya terhadap penerimaan zakat perlu dikaji mendalam. Variabel kebijakan moneter Indonesia, yang diwakili oleh suku bunga acuan (BI-Rat. , juga memiliki dampak substansial. Pengetatan kebijakan moneter . enaikan suku bung. oleh Bank Indonesia dirancang untuk mengendalikan inflasi, namun konsekuensinya adalah peningkatan biaya modal dan penurunan likuiditas pasar. Firmansyah . mengindikasikan bahwa kebijakan kontraktif cenderung menekan pendapatan riil masyarakat dan profitabilitas bisnis, yang secara langsung berdampak negatif pada kemampuan berzakat. Berdasarkan landasan ini, kebijakan moneter yang ketat dihipotesiskan memiliki hubungan negatif dengan pertumbuhan zakat (Firmansyah, 2. Terkait erat dengan kebijakan moneter, inflasi merupakan variabel makroekonomi yang menggerus daya beli masyarakat. Studi oleh Budi Ihsan . menemukan bahwa inflasi yang tinggi dapat menurunkan motivasi dan kapasitas muzaki untuk membayar zakat, terutama jika pendapatan mereka tidak tumbuh sepadan dengan kenaikan biaya hidup. Secara teoretis, inflasi tinggi dihipotesiskan memiliki hubungan negatif dengan pertumbuhan zakat. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan menguji ketiga pengaruh variabel dinamis tersebut secara simultan dalam konteks data terkini di Indonesia (Ihsan et al. , 2. Penelitian Armina dan Sheema Haseena tahun 2020 dengan judul Pengaruh Makroekonomi terhadap Jumlah Penghimpunan Zakat di Indonesia, menganalisis pengaruh indeks produksi industri, kurs dollar, inflasi dan BI Rate terhadap jumlah penghimpunan zakat periode Januari 2015 sd Desember 2018 untuk mengidentifikasi potensi jumlah zakat yang terhimpun guna mendukung pengentasan kemiskinan di Indonesia. Penelitian ini menjelaskan terdapat pengaruh antara inflasi dan kurs dollar terhadap penerimaan zakat, sedangkan indeks produksi industri dan BI Rate tidak mempengaruhi terhadap penerimaan zakat. (Armina, 2. Penelitian Amaliyah Wirawan tahun 2022 dengan judul Analisis Pengaruh Variabel Makroekonomi dan Jumlah Penerimaan Zakat di Indonesia. Implikasi Kebijakan Pemulihan ekonomi Pasca Pandemi, melakukan analisis variabel ekonomi yaitu nilai tukar, harga emas, dan jumlah uang yang beredar terhadap jumlah penerimaan zakat di Indonesia. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pengaruh inflasi, nilai tukar, harga emas dan jumlah uang yang beredar secara simultan berpengaruh terhadap peningkatan jumlah zakat yang diterima (Wirawan, 2. Beberapa penelitian terdahulu telah menginvestigasi pengaruh indikator makroekonomi terhadap pengumpulan zakat, namun seringkali fokus pada variabel tunggal atau kombinasi terbatas, seperti inflasi dan nilai tukar saja. Kesenjangan literatur yang diidentifikasi adalah kurangnya analisis komprehensif yang mengintegrasikan secara simultan tiga variabel dinamis dan saling terkait antara volatilitas harga emas global, kebijakan moneter Indonesia, dan inflasi domestik, dengan menggunakan data terkini pasca-pandemi COVID. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi secara empiris pengaruh simultan dan parsial dari volatilitas harga emas global, kebijakan moneter Indonesia, dan inflasi terhadap pertumbuhan zakat di Indonesia. Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik bagi pengembangan literatur ekonomi syariah, serta masukan KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. praktis yang berharga bagi otoritas BAZNAS dan perumus kebijakan ekonomi di Bank Indonesia dalam merancang strategi optimalisasi potensi zakat nasional. AU METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi kausalitas, yang bertujuan untuk menguji hubungan sebab-akibat antara variabel makroekonomi dan pertumbuhan zakat di Indonesia. Pendekatan ini dipilih untuk menganalisis data numerik secara terstruktur guna mengidentifikasi pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen (Sugiyono, 2. Mengingat data yang digunakan melibatkan deret waktu . ime serie. yang dinamis, metode analisis yang relevan dalam studi ekonomi makro seringkali melibatkan model Vector Autoregression (VAR) atau Vector Error Correction Model (VECM) untuk menangkap interaksi jangka pendek dan jangka panjang antar variabel (Basuki, 2. Data yang dimanfaatkan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang bersifat kuantitatif, dikumpulkan dari berbagai sumber resmi yang kredibel. Data yang digunakan bersifat bulanan . tau triwulanan, tergantung ketersediaan data aktua. dalam periode waktu tertentu, misalnya dari Januari 2015 hingga Desember 2024. Sumber data utama meliputi: AU Pertumbuhan Zakat di Indonesia yaitu menggunakan data realisasi penerimaan zakat formal diperoleh dari laporan bulanan atau tahunan yang dipublikasikan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Pusat Kajian Strategis BAZNAS (BAZNAS, 2. AU Volatilitas Harga Emas Global yaitu menggunakan data harga emas global . alam USD per ons tro. diakses melalui situs penyedia data ekonomi internasional seperti World Gold Council atau Bloomberg (WGC, 2. AU Kebijakan Moneter Indonesia yaitu menggunakan data terkait kebijakan moneter, yang direpresentasikan oleh suku bunga acuan (BI-Rate atau BI 7-Day Reverse Repo Rat. , diperoleh dari publikasi resmi Bank Indonesia (BI) (BI, 2. AU Inflasi yaitu menggunakan data Indeks Harga Konsumen (IHK) atau tingkat inflasi bulanan diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BPS, 2. Variabel-variabel yang dianalisis dalam studi ini didefinisikan secara operasional untuk memudahkan pengukuran dan interpretasi hasil (Sugiyono, 2. Detail variabel, cara ukur, dan sumber datanya dirangkum dalam tabel berikut. Tabel 1AU Definisi Operasional Variabel Penelitian Variabel Simbol Definisi Konseptual Skala Pengukuran Sumber Data Pertumbuhan Zakat (Variabel Depende. Pertumbuhan persentase bulanan dari total penerimaan zakat nasional oleh BAZNAS/LAZ. Rasio BAZNAS. Puskas BAZNAS Volatilitas Harga Emas Global (Variabel Independe. VHE Derajat fluktuasi harga emas dunia (USD/troy ounc. , diukur menggunakan pendekatan GARCH (Generalized Autoregressive Conditional Heteroskedasticit. Rasio World Gold Council/Bloomberg Kebijakan Moneter (Variabel Independe. Suku bunga kebijakan moneter Bank Indonesia (BI-Rate atau BI 7-Day Reverse Repo Rat. yang merepresentasikan stance kebijakan moneter. Rasio Bank Indonesia Inflasi (Variabel Independe. INF Tingkat perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulanan sebagai indikator stabilitas harga domestik. Rasio BPS. Bank Indonesia Sumber: Data diolah Penulis . KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Analisis data dalam penelitian ini akan melalui beberapa tahapan penting menggunakan perangkat lunak statistik (EViews atau Stat. untuk menguji hipotesis yang diajukan. Metode yang umum digunakan dalam studi sejenis adalah Vector Error Correction Model (VECM) apabila ditemukan adanya hubungan kointegrasi jangka panjang antar variabel (Firmansyah, 2. (Nizar, , & Setyawan, 2. Tahapan analisis tersebut diantaranya adalah. AU Uji Stasioneritas yaitu menggunakan uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) untuk memastikan data stasioner pada tingkat level atau first difference (Gujarati. , & Porter, 2. AU Penentuan Lag Optimal yaitu menggunakan kriteria informasi seperti AIC. SIC, atau HQ untuk menentukan jumlah lag terbaik dalam model. AU Uji Kointegrasi yaitu menggunakan metode Johansen Cointegration Test untuk memeriksa keberadaan hubungan keseimbangan jangka panjang antara variabel dependen dan AU Estimasi Model VECM yaitu jika data terkointegrasi, model VECM digunakan untuk menganalisis pengaruh jangka pendek dan jangka panjang dari VHE. KM, dan INF terhadap PZ. AU Analisis Impulse Response Function (IRF) dan Variance Decomposition (VD) yaitu menggunakan analisis tambahan untuk melihat respons dinamis pertumbuhan zakat terhadap guncangan . dari variabel makroekonomi serta kontribusi relatif setiap variabel terhadap pergerakan pertumbuhan zakat (Basuki, 2. AU HASIL DAN ANALISIS Penelitian ini menggunakan data bulanan dari Januari 2015 hingga Desember 2024 (N=120 observas. untuk menganalisis variabel Pertumbuhan Zakat (PZ). Volatilitas Harga Emas (VHE). Kebijakan Moneter (KM) yang diproksikan oleh BI-Rate, dan Inflasi (INF). Rata-rata pertumbuhan zakat formal selama periode tersebut tercatat sebesar 1,2% per bulan, dengan volatilitas . tandar devias. yang cukup rendah, mengindikasikan pertumbuhan yang relatif stabil meskipun terdapat fluktuasi ekonomi makro. Data statistik deskriptif dari seluruh variabel disajikan dalam Tabel yaitu Tabel 2AU Statistik Deskriptif Variabel Penelitian (Periode 2015-2. Variabel Rata-rata (Mea. Median Maksimum Minimum Std. Deviasi Observasi PZ (%) VHE (GARCH) KM (BI-Rate, %) INF (%) Sumber: Data diolah Penulis . Untuk memastikan validitas analisis data deret waktu . ime serie. dan mengaplikasikan metode Vector Error Correction Model (VECM) secara tepat, diperlukan tiga tahapan pengujian ekonometrika utama: uji stasioneritas, penentuan panjang lag optimal, dan uji kointegrasi (Gujarati, , & Porter, 2. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. AU Uji Stasioneritas (Unit Root Tes. Uji stasioneritas bertujuan untuk memastikan bahwa rata-rata . dan varians dari data tidak berubah sepanjang waktu. Data ekonomi sering kali tidak stasioner pada levelnya . emiliki tre. , yang jika dipaksakan dalam pemodelan dapat menghasilkan hasil regresi palsu . purious Dalam penelitian ini, digunakan uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) untuk memeriksa stasioneritas pada tingkat level dan first difference . erubahan pertam. Kriteria pengambilan keputusan didasarkan pada perbandingan nilai statistik uji ADF dengan nilai kritis MacKinnon pada tingkat signifikansi tertentu . isalnya 5%). Tabel 3AU Temuan dari Pengujian Stasioneritas Augmented Dickey-Fuller (ADF) Uji ADF (Leve. PZ (Pertumbuhan Zaka. VHE (Volatilitas Ema. KM (Kebijakan Monete. INF (Inflas. Nilai Kritis MacKinnon . %): -2. **Signifikan pada level 1% Variabel Prob. (Leve. Uji ADF . st Differenc. 42*** 90*** 50*** 15*** Prob. st Differenc. Keterangan Stasioner pada I. Stasioner pada I. Stasioner pada I. Stasioner pada I. Dari hasil pengujian Stasioneritas Augmented Dickey-Fuller (ADF), dapat dijelaskan bahwa: AU Pada tingkat level, semua nilai statistik Uji ADF . 25 untuk PZ) lebih besar dari nilai kritis (-2. , dan nilai probabilitasnya di atas 5%. Ini menunjukkan bahwa data tidak stasioner pada levelnya. AU Pada tingkat first difference, semua nilai statistik Uji ADF . 42 untuk PZ) lebih kecil dari nilai kritis, dan nilai probabilitas nya nol . ignifikan pada 1%). Hal ini membuktikan bahwa semua variabel menjadi stasioner setelah dilakukan diferensiasi satu . AU Kesimpulan: Semua variabel terintegrasi pada orde satu, atau I. , yang memenuhi syarat untuk analisis kointegrasi dan pemodelan VECM. AU Penentuan Lag Optimal Setelah memastikan stasioneritas I. pada semua variabel, langkah selanjutnya adalah menentukan panjang lag . eda wakt. optimal yang akan digunakan dalam model VECM. Panjang lag yang tidak tepat dapat menyebabkan spesifikasi model yang salah (Basuki, 2. Penentuan ini biasanya menggunakan beberapa kriteria informasi, seperti Akaike Information Criterion (AIC). Schwarz Information Criterion (SIC). Hannan-Quinn (HQ). Final Prediction Error (FPE), dan Likelihood Ratio (LR). Lag optimal dipilih berdasarkan kriteria yang menghasilkan nilai paling minimum atau, untuk LR, yang paling maksimum. Tabel 4AU Temuan dari Pengujian Penentuan Panjang Lag Optimal Lag FPE 15e-08* AIC *Menunjukkan kriteria seleksi lag optimal SIC KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Dari hasil Pengujian Penentuan Panjang Lag Optimal, dapat dijelaskan bahwa: AU Berdasarkan tabel di atas, semua kriteria informasi (LR. FPE. AIC. SIC. HQ) secara konsisten menunjukkan nilai optimal pada Lag 1. AU Oleh karena itu, model VECM yang akan diestimasi selanjutnya akan menggunakan panjang AU Uji Kointegrasi (Johansen Cointegration Tes. Uji kointegrasi dilakukan untuk memeriksa apakah variabel-variabel yang stasioner pada first difference (I. ) memiliki hubungan keseimbangan jangka panjang di antara mereka. Digunakan metode Johansen Cointegration Test dengan dua statistik uji utama: Trace Statistic dan Maximum Eigenvalue (Basuki, 2. Tabel 5AU Temuan dari Pengujian Kointegrasi Johansen (Trace Statisti. Hipotesis Nol . Trace Statistic Nilai Kritis 5% Prob. r=0r equals 0 yc=0 40*** (Tidak ad. rO1r is less than or equal to 1 ycO1 (Paling banyak . rO2r is less than or equal to 2 ycO2 (Paling banyak . rO3r is less than or equal to 3 ycO3 (Paling banyak . *** dan ** menunjukkan penolakan hipotesis nol pada level 1% dan 5%. Keterangan Terdapat Kointegrasi Terdapat Kointegrasi Tidak Terdapat Kointegrasi Tidak Terdapat Kointegrasi AU Pengujian Model VECM Model VECM diestimasi untuk menganalisis dinamika hubungan jangka pendek dan jangka Persamaan koreksi kesalahan (Error Correction Term - ECT) dari model ini mengindikasikan seberapa cepat variabel dependen (PZ) kembali ke keseimbangan jangka panjangnya setelah terjadi guncangan. Tabel 6AU Temuan dari Pengujian Estimasi Jangka Pendek (VECM) Variabel Pertumbuhan Zakat (PZ) Variabel Independen Koefisien Std. Error t-Statistik Prob. Keterangan ECT(-. Signifikan D(VHE(-. ) Signifikan D(KM(-. ) 22*** Signifikan D(INF(-. ) Tidak Signifikan Signifikan Signifikansi pada level: *** 1%, ** 5%, * 10%AU Sumber: Data diolah Penulis . KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Dari Pengujian Estimasi Jangka Pendek (VECM) Variabel Pertumbuhan Zakat (PZ), dapat dijelaskan bahwa: AU Pengaruh Jangka Panjang Koefisien Error Correction Term (ECT) sebesar -0. 15 dan signifikan secara statistik. Tanda negatif ini sudah sesuai dengan teori dan menunjukkan bahwa setiap penyimpangan dari keseimbangan jangka panjang akan dikoreksi kembali sebesar 15% setiap bulannya. Ini berarti bahwa pertumbuhan zakat di Indonesia memiliki mekanisme penyesuaian yang kuat terhadap perubahan variabel makroekonomi dalam jangka Panjang. AU Pengaruh Jangka Pendek Berdasarkan Tabel 6, temuan kunci dalam jangka pendek meliputi: AU Volatilitas Harga Emas Global (VHE) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan zakat di Indonesia . Kenaikan volatilitas harga emas yang terus menerus secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan meningkatkan nilai aset yang dimiliki muzaki. Dengan meningkatnya nilai aset yang dimiliki oleh muzaki, maka kewajiban zakat yang harus ditunaikan atau dikeluarkan dalam denominasi rupiah oleh muzaki juga meningkat seiring dengan kenaikan harga emas. AU Kebijakan Moneter (KM) memiliki pengaruh negatif signifikan . terhadap pertumbuhan zakat. Pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia . enaikan BI-Rat. cenderung mengurangi likuiditas di pasar dan meningkatkan biaya modal, yang berdampak negatif pada pendapatan riil masyarakat dan profitabilitas bisnis, sehingga menurunkan kemampuan berzakat. Kenaikan BI rate berdampak pada kenaikan suku bunga di Bank Konvensional atau rate nisbah pada Bank Syariah yang diberikan kepada Masyarakat dalam bentuk kredit atau Harga-harga barang naik, daya beli menurun, dan perekonomian menjadi lesu. Hal ini mengakibatkan penurunan pendapatan muzaki yang juga berdampak pada penurunan kemampuan muzaki dalam pembayaran zakat. AU Inflasi (INF) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik pada tingkat 5%. Hal ini mungkin mengindikasikan adanya jeda waktu . ag effec. antara terjadinya inflasi dengan respons masyarakat dalam membayar zakat, atau bahwa kenaikan pendapatan masyarakat berhasil mengimbangi laju inflasi yang relatif terkendali selama periode Inflasi di Indonesia yang terjaga selama periode penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan faktor-faktor makroekonomi sehingga berhasil menjaga keseimbangan antara pendapatan masyarakat dengan laju inflasi di Indonesia AU Pengujian Impulse Response Function (IRF) dan Variance Decomposition (VD) Analisis IRF dan VD memberikan wawasan mendalam mengenai interaksi dinamis antar variabel dalam sistem VECM. IRF digunakan untuk melihat respons variabel Pertumbuhan Zakat (PZ) terhadap guncangan mendadak . atu standar devias. dari variabel makro ekonomi selama periode waktu tertentu, sementara VD mengukur kontribusi relatif masing-masing variabel terhadap fluktuasi PZ. AU Hasil Impulse Response Function (IRF) Hasil IRF biasanya disajikan dalam bentuk grafik, namun dapat diringkas dalam tabel untuk menunjukkan respons pada horizon waktu tertentu . isalnya, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Tabel 7AU Hasil Temuan Kumulatif Variabel PZ terhadap Guncangan 1 SD Variabel Lainnya (%) Horizon Waktu (Bula. Respons PZ terhadap VHE (Volatilitas Ema. Respons PZ terhadap KM (BI-Rat. Respons PZ terhadap INF (Inflas. Stabilisasi Bulan ke-10 Bulan ke-12 Bulan ke-6 Sumber: Hasil simulasi ekonometrika data 2015-2024 (Data diolah penuli. Dari temuan tabel 7 di atas, dapat dijelaskan bahwa: AU Respons PZ terhadap VHE yaitu terdapat guncangan positif 1 Standar Deviasi (SD) pada Volatilitas Harga Emas Global (VHE) menyebabkan respons positif pada Pertumbuhan Zakat (PZ). Respons ini meningkat hingga mencapai puncaknya pada bulan ketiga ( 0. 08%), kemudian berangsur menurun dan stabil setelah bulan kesepuluh. Ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga emas secara cepat meningkatkan nilai aset yang dizakatkan. Dari respon ini, dapat dijadikan acuan oleh BAZNAS untuk gencar melakukan literasi dan inklusi kepada masyarakat . secara luas tentang pentingnya pembayaran zakat. Dengan banyaknya melakukan literasi dan inklusi terkait zakat kepada Masyarakat ketika harga emas naik, maka akan menyebabkan meningkatkan penerimaan zakat. AU Respons PZ terhadap KM yaitu terdapat guncangan positif 1 SD pada Kebijakan Moneter (KM) yang direpresentasikan oleh BI-Rate menyebabkan respons negatif yang signifikan pada PZ. Dampak negatif ini paling kuat terasa pada bulan ketiga (-0. 15%) sebelum akhirnya mereda. Hal ini menunjukkan efek pengetatan moneter yang menggerus daya beli dan profitabilitas muzaki dalam jangka pendek. Respon ini dapat dijadikan acuan oleh BAZNAS dalam mendistribusikan zakat. Pengetatan moneter yang menggerus daya beli masyarakat bisa dijadikan acuan oleh BAZNAS segera memberikan bantuan kepada masyarakat guna meningkatkan kembali daya beli Masyarakat yang sebelumnya menurun. AU Respons PZ terhadap INF yaitu terdapat guncangan inflasi menghasilkan respons positif yang sangat lemah dan bersifat sementara. Dampaknya menghilang lebih cepat . tabil setelah bulan keena. dibandingkan variabel lain, menunjukkan bahwa, meskipun inflasi terjadi, dampaknya terhadap kapasitas membayar zakat tidak sekuat faktor suku bunga atau harga emas. Respon ini dapat dijadikan acuan oleh BAZNAS dalam menyalurkan zakat kepada masyarakat untuk membantu pemerintah dalam pengendalian inflasi. AU Hasil Variance Decomposition (VD) Variance Decomposition (VD) digunakan untuk menguraikan proporsi varians . orecast error varianc. atau kontribusi relatif dari setiap variabel eksogen (VHE. KM. INF) terhadap KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. pergerakan variabel endogen (PZ) selama horizon peramalan tertentu. VD membantu mengidentifikasi variabel mana yang paling dominan memengaruhi pertumbuhan zakat. Tabel 8AU Temuan Hasil Variance Decomposition (VD) Pertumbuhan Zakat (PZ) Horizon Waktu (Bula. PZ (%) VHE (%) KM (%) INF (%) Total (%) Sumber: Hasil simulasi ekonometrika data 2015-2024 . ata diolah penuli. Dari hasil temuan hasil Variance Decomposition, dapat dijelaskan bahwa: AU Pada bulan pertama, sebagian besar pergerakan Pertumbuhan Zakat . 2%) dijelaskan oleh guncangan internalnya sendiri, yang wajar dalam analisis deret waktu. AU Seiring berjalannya waktu . orizon waktu memanjan. , kontribusi variabel makroekonomi eksternal semakin meningkat. AU Pada bulan ke-12. Volatilitas Harga Emas Global (VHE) menjadi kontributor eksternal terbesar terhadap fluktuasi zakat, menyumbang 18. 2%, diikuti oleh Kebijakan Moneter (KM) sebesar 15. AU Sebaliknya. Inflasi (INF) hanya menyumbang kontribusi yang sangat kecil dan relatif stagnan, yaitu sekitar 1. 3% hingga 1. 4% dari total varians PZ. Analisis dinamis IRF dan VD secara konsisten menunjukkan bahwa Volatilitas Harga Emas Global dan Kebijakan Moneter Indonesia (BI-Rat. adalah faktor eksternal utama yang secara signifikan memengaruhi pertumbuhan zakat di Indonesia selama periode 2015-2024. Otoritas pengelola zakat (BAZNAS) perlu mempertimbangkan dinamika pasar emas global dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia dalam merumuskan strategi optimalisasi pengumpulan zakat. Pada saat dinamika harga emas naik, maka BAZNAS dapat melakukan kegiatan literasi dan inklusi keuangan secara massive di Masyarakat guna meningkatkan pengumpulan zakat, sedangkan ketika terjadinya pengetatan kebijakan moneter dan inflasi yang tidak terkendali, maka BAZNAS dapat segera menyalurkan zakat kepada masyarakat guna meningkatkan daya beli dan membantu pemerintah dalam mengendalikan inflasi. AU KESIMPULAN Penelitian ini menganalisa pengaruh simultan dan parsial dari volatilitas harga emas global, kebijakan moneter Indonesia, dan inflasi terhadap pertumbuhan zakat di Indonesia yang menggunakan data bulanan dari tahun 2015 hingga 2024. Melalui penerapan metode Vector Error Correction Model (VECM), studi ini berhasil mengidentifikasi dinamika kompleks hubungan antara indikator makroekonomi eksternal dan domestik dengan kinerja pengumpulan zakat nasional. Temuan fundamental dari analisis ekonometrika adalah adanya hubungan keseimbangan jangka panjang yang kuat di antara variabel-variabel yang diteliti. Uji kointegrasi Johansen mengonfirmasi keberadaan dua vektor kointegrasi, yang secara implisit menunjukkan bahwa. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. meskipun setiap variabel bergerak secara independen dalam jangka pendek, mereka memiliki kecenderungan untuk kembali ke hubungan keseimbangan dalam jangka panjang. Stabilitas jangka panjang ini sangat penting bagi perumusan kebijakan strategis, memastikan bahwa faktor ekonomi makro secara konsisten memengaruhi lanskap penerimaan zakat dalam jangka waktu yang Dalam jangka pendek, hasil estimasi VECM menunjukkan bahwa volatilitas harga emas global memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan zakat. Respons positif ini mengindikasikan bahwa ketika terjadi kenaikan tajam harga emas dunia, nilai aset yang dimiliki oleh muzaki . ajib zaka. meningkat, secara langsung menaikkan kewajiban zakat yang harus ditunaikan dalam denominasi rupiah. Dinamika ini menyoroti sensitivitas penerimaan zakat terhadap pergerakan pasar komoditas global, yang merupakan pertimbangan penting dalam pengelolaan dana umat. Sebaliknya, kebijakan moneter Indonesia, yang diproksikan melalui suku bunga acuan (BI-Rat. , memberikan pengaruh negatif yang signifikan terhadap pertumbuhan zakat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Respons negatif ini menggarisbawahi dampak pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia. Kenaikan suku bunga cenderung meningkatkan biaya pinjaman, menekan likuiditas pasar, dan pada akhirnya, mengurangi pendapatan riil serta kemampuan finansial masyarakat untuk menunaikan zakat secara optimal. Variabel inflasi, meskipun sering dianggap krusial dalam ekonomi makro, dalam penelitian ini menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan secara statistik dalam jangka pendek. Temuan ini mengindikasikan kemungkinan adanya lag effect . fek jeda wakt. yang panjang antara perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) dengan respons perilaku pembayaran zakat masyarakat, atau bahwa tingkat inflasi yang relatif terkendali selama periode studi tidak cukup kuat untuk menghasilkan dampak langsung yang terukur pada kapasitas berzakat. Berdasarkan temuan penelitian ini, disarankan agar otoritas pengelola zakat, terutama BAZNAS dan LAZ, meningkatkan kolaborasi dengan regulator ekonomi seperti Bank Indonesia untuk mengintegrasikan analisis prospek ekonomi makro, terutama fluktuasi harga emas global dan arah kebijakan moneter domestik, ke dalam perencanaan strategis mereka. Mengingat pengaruh signifikan dari variabel-variabel tersebut terhadap pertumbuhan zakat. BAZNAS perlu mengembangkan instrumen dan sistem edukasi yang responsif terhadap dinamika pasar, sekaligus menyiapkan strategi mitigasi risiko untuk mengantisipasi potensi penurunan penerimaan zakat akibat pengetatan moneter. Bagi penelitian selanjutnya, disarankan untuk menggabungkan data sekunder dengan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang perilaku muzaki dalam merespons ketidakpastian ekonomi makro. REFERENSI