Jurnal Pendidikan West Science Vol. No. September 2025, pp. Profil Literasi Kimia Peserta Didik Kelas X SMA Materi Ikatan Kimia Berbasis Konteks Kesehatan Yuni Hartati Eliya Rosa1. Isana Supiah Yosephine Louise2. Mizzan Ayubi3. Yuninda Adumiranti4 Pendidikan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta Departemen Pendidikan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta 4 Pendidikan Sains Universitas Negeri Yogyakarta Email: yunihartati. 2023@student. Article Info ABSTRAK Article history: Pendidikan merupakan salah satu pilar penting dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDG. , khususnya tujuan keempat yaitu Quality Education. Kemampuan Literasi kimia berperan penting dalam menyiapkan peserta didik menjadi warga yang melek sains dan mampu menghadapi tantangan global, seperti masalah kesehatan, polusi, dan keberlanjutan energi. Studi ini bertujuan untuk mengetahui profil kemampuan literasi kimia peserta didik kelas X SMA di Kota Palembang. Fokus penelitian mengukur empat aspek literasi kimia, yaitu kimia dalam konteks . hemistry in contex. , kimia dalam konten . hemistry in conten. , keterampilan berpikir tingkat tinggi . igher order learning skill. , dan perspektif kimia . ffective aspec. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif terhadap 155 peserta didik dari tiga sekolah. Instrumen yang digunakan berupa soal uraian materi ikatan kimia yang telah diuji valid dan reliabel materi ikatan kimia. Hasil penelitian menunjukkan peserta didik memiliki kemampuan literasi kimia rendah berada pada kategori sangat kurang 66,45%. Aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi menunjukkan hasil yang paling rendah, terutama pada indikator menganalisis . ,65%) dan berargumentasi . ,81%). Temuan ini mengindikasikan perlunya strategi pembelajaran kimia yang lebih kontekstual, kritis, dan berorientasi pada pengembangan literasi kimia peserta didik. Received Sep, 2025 Revised Sep, 2025 Accepted Sep, 2025 Kata Kunci: Berbasis Konteks. Ikatan Kimia. Literasi Kimia. Kimia SMA. Peserta Didik Keywords: Contex Based. Chemical Bonding. Chemical Literacy. High School Chemistry. Students This is an open access article under the CC BY-SA license. Corresponding Author: Name: Yuni Hartati Eliya Rosa Institution: Universitas Negeri Yogyakarta Email: yunihartati. 2023@student. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu pilar penting dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDG. , khususnya tujuan keempat yaitu Quality Education yang menekankan pemerataan akses dan peningkatan mutu Pendidikan di semua jenjang (Marubini, 2. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya menekankan penguasaan pengetahuan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, serta menghubungkan konsep ilmiah dengan kehidupan sehari-hari Journal homepage: https://wnj. westscience-press. com/index. php/jpdws/index Jurnal Pendidikan West Science A 355 (Daulika et al. , 2025. Yanuarto et al. , 2. Dalam konteks pembelajaran sains, kemampuan tersebut diwujudkan melalui literasi kimia, yang mencakup pemahaman konsep kimia, keterampilan menafsirkan fenomena ilmiah, dan kemampuan membuat keputusan yang relevan terhadap isu sosial, lingkungan, dan teknologi (Rahmawati et al. , 2. Literasi kimia berperan penting dalam menyiapkan peserta didik menjadi warga yang melek sains dan mampu menghadapi tantangan global, seperti masalah kesehatan, polusi, dan keberlanjutan energi. Melalui literasi kimia, peserta didik tidak hanya menghafal fakta, tetapi juga dapat menganalisis fenomena, menghubungkan konsep dengan konteks kehidupan nyata, serta berargumentasi secara ilmiah (Trisnawati & Permatasari, 2. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi kimia peserta didik masih rendah. Sidauruk et al . menemukan bahwa mahasiswa calon guru dan peserta didik SMA masih mengalami kesulitan dalam memahami, menghubungkan, dan menerapkan konsep kimia pada situasi kontekstual. Rahmawati et al . juga melaporkan bahwa literasi kimia peserta didik meningkat signifikan jika diterapkan melalui pembelajaran berbasis isu lingkungan . nvironmental problem-based learnin. , namun pendekatan tersebut belum banyak diterapkan di Hal ini menunjukkan adanya urgensi terhadap strategi pembelajaran kontekstual dan berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Learning Skill. Saputri et al. menunjukkan bahwa kemampuan literasi kimia peserta didik SMA tergolong rendah, baik pada aspek chemistry in context, chemistry in content, maupun higher order learning skills. Peserta didik cenderung kesulitan mengidentifikasi masalah, menganalisis informasi ilmiah, menghubungkan konsep dengan fenomena nyata, dan menyampaikan argumen yang logis. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran kimia di sekolah masih banyak berfokus pada hafalan dan latihan soal, sehingga keterampilan berpikir kritis dan literasi kimia belum berkembang secara Berdasarkan uraian di atas, penting dilakukan kajian awal mengenai kemampuan literasi kimia peserta didik SMA sebagai langkah dasar untuk mengetahui sejauh mana pemahaman, analisis, dan keterampilan berpikir mereka berkembang. Penelitian ini berjudul AuProfil Literasi Kimia Peserta Didik Kelas X SMA Materi Ikatan Kimia Berbasis Konteks KesehatanAy dengan tujuan memperoleh gambaran kemampuan literasi kimia peserta didik di Kota Palembang berdasarkan empat aspek utama, yaitu chemistry in context, chemistry in content. Higher Order Learning Skills, and Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan strategi pembelajaran kimia yang lebih kontekstual, kritis, dan berorientasi pada peningkatan literasi sains peserta didik. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif menggunakan metode deskriptif terhadap 155 peserta kelas X dari tiga sekolah SMA di Kota Palembang. Pemilihan sampel penelitian dilakukan secara convenience sampling yaitu atas perizinan sekolah dan ketersediaan siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan instrument soal kemampuan literasi kimia berupa soal uraian mengadopsi dari instrumen yang dikembangkan oleh Yustin & Wiyarsi . menggunakan materi ikatan kimia yang telah valid dan reliabel. Soal kemampuan literasi kimia diberikan kepada peserta didik SMA kelas X yang baru selesai mempelajari materi Ikatan Kimia sebanyak 17 soal. Aspek kemampuan literasi kimia yang diukur ada 4 yaitu aspek kimia kimia dalam konteks . hemistry in contex. , aspek pengetahuan kimia . hemistry in conten. , aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi . hemistry in Higher order learning skill. , dan aspek afektif . ffective aspec. Teknik analisis profil Vol. No. September 2025, pp. A 356 Jurnal Pendidikan West Science literasi kimia menggunakan analisis deskriptif kuantitatif menggunakaan angka yang di deskripsikan kriterianya berdasarkan skala penilaian ideal yang terdiri dari 5 kriteria yaitu Sangat Baik. Baik. Cukup. Kurang, dan Sangat kurang. Berikut tabel kriteria yang digunakan: Tabel 1. Kriteria Penilaian Ideal Kriteria Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Skor Ideal 5 < X 83< X O 25. 17 < X O 19. 5 < X O 14. X O 8. HASIL DAN PEMBAHASAN Data kemampuan literasi kimia peserta didik SMA kelas X yang telah dianalisis disajikan dalam diagram lingkaran berikut ini: Kemampuan Literasi Kimia Peserta Didik SMA 5,16% 28,39% 66,45% Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Gambar 1. Kemampuan Literasi Kimia Peserta Didik SMA di Kota Palembang Berbasis Konteks Kesehatan Berdasarkan gambar 1, dari 155 peserta didik yang diteliti, diperoleh data bahwa 66,45% peserta didik berada pada kategori sangat kurang, 28,39% pada kategori kurang, 5. 16 % yang mencapai kategori cukup dan belum ada peserta didik yang termasuk dalam kategori baik dan sangat baik. Distribusi data ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik belum mampu mencapai kompetensi literasi kimia yang diharapkan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pemahaman peserta didik terhadap konsep-konsep kimia, kemampuan menafsirkan fenomena ilmiah, serta keterampilan dalam menerapkan pengetahuan kimia ke dalam konteks kehidupan sehari-hari masih terbatas. Selanjutnya, hasil kemampuan literasi kimia peserta didik berdasarkan aspek higher order learning skills (HOLS), yang terdiri dari empat indikator yakni mengidentifikasi, menganalisis, menghubungkan informasi ilmiah, dan berargumentasi, disajikan pada Gambar 2 berikut ini: Vol. No. September 2025, pp. A 357 Jurnal Pendidikan West Science Aspek HOLS Sangat Baik Baik Mengidentifikasi Menganalisis Cukup Kurang Menghubungkan Sangat Kurang Berargumentasi Gambar 2. Aspek HOLS Kemampuan Literasi Kimia Peserta Didik SMA Berdasarkan gambar 2. Sebagian besar peserta didik berada pada kategori rendah dengan proporsi tertinggi pada kategori sangat kurang, khususnya indikator menganalisis . ,65%) dan berargumentasi . ,81%), diikuti indikator mengidentifikasi . ,16%) dan menghubungkan . ,52%). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik dalam memahami, menganalisis, mengaitkan, serta menyampaikan argumen ilmiah terkait materi kimia masih sangat terbatas, sehingga perlu adanya inovasi strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan literasi Diskusi Kemampuan literasi kimia peserta didik dibagi diukur berdasarkan empat aspek yaitu aspek kimia dalam konteks . hemistry in contex. , aspek pengetahuan kimia . hemistry in conten. , aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi . hemistry in Higher order learning skill. , aspek afektif . ffective aspec. (Shwartz et al. , 2. Aspek konteks merupakan aspek berkaitan dengan isu-isu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Hal ini sejalan OECD . konteks yang digunakan menggunakan permasalahan yang berkaitan dengan diri sendiri dan lingkung an komunitas baik secara lokal ataupun nasional. Dalam penelitian ini konteks yang digunakan terdiri atas tiga topik, yaitu . bahaya mengkonsumsi garam dapur NaCl secara berlebihan terhadap Kesehatan. bahaya mencampur dua pembersih untuk membersihkan noda membandel terhadap Kesehatan, dan . bahaya mengkonsumsi makanan yang dipanaskan menggunakan aluminium foil di bidang Kesehatan. Aspek konten pengetahuan kimia yang diukur meliputi konsep ikatan ion pada topik pertama, ikatan kovalen pada topik kedua, dan ikatan logam pada topik ketiga. Selanjutnya, aspek HOLS . hemistry in Higher order learning skill. berhubungan dengan kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi fenomena yang disajikan, menganalisis, menghubungkan informasi ilmiah, dan berargumentasi dengan memberikan Solusi dari permasalahan atau fenomena yang dihadap. Beberapa kemampuan ini juga berkaitan dengan aspek afektif. Aspek afektif mengukur sejauh mana seorang individu yang melek kimia harus memiliki perspektif kimia, mampu menerapkannya, serta menunjukkan minat terhadap permasalahan kimia dalam kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan kemampuan literasi kimia peserta didik SMA kelas X dari tiga sekolah yang diteliti hasilnya rendah yaitu 66,45% peserta didik pada kategori sangat kurang, 28,39% pada Vol. No. September 2025, pp. A 358 Jurnal Pendidikan West Science kategori kurang, 5. 16 % yang mencapai kategori cukup. Temuan ini sejalan dengan penelitian Yustin & Wiyarsi . yang menunjukkan bahwa profil literasi kimia peserta didik di SMA kelas X di Yogyakarta memiliki kategori rendah. Penelitian Saputri et al . juga mengungkapkan bahwa kemampuan literasi kimia peserta didik SMA di kota Lahat berdasarkan rerata memiliki kategori rendah, jika dilihat berdasarkan gender Perempuan lebih baik 5% kemampuan literasi kimianya dibandingkan lelaki. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan literasi kimia peserta didik SMA perlu ditingkatkan karena berkaitan langsung dengan kualitas pembelajaran di sekolah. Rendahnya kemampuan literasi kimia peserta didik juga disebabkan oleh kurangnya keterampilan berpikir tingkat tinggi (Anggrah Eny & Wiyarsi, 2. Peserta didik perlu dilibatkan langsung agar dapat menggunakan konsep-konsep kimia dalam dalam mengambil keputusan (Cigdemoglu et al. , 2017. Fadly et al. , 2. Jika dilihat dari masing-masing indikator dari aspek HOLS . hemistry in Higher order learning skill. , kemampuan menganalisis peserta didik dominan berada pada kategori sangat kurang . ,65%). Misalnya, pada topik tiga mengenai analisis sifat senyawa logam aluminium foil dibandingkan dengan senyawa ion, dari 155 orang peserta didik hanya tiga orang yang menjawab dengan benar. Penelitian Lestari et al . juga menunjukkan bahwa peserta didik memiliki kemampuan analisis yang rendah karena kesulitan dalam menguraikan informasi ilmiah, membandingkan konsep, dan menarik kesimpulan. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang dapat melatih kemampuan menganalisis informasi ilmiah untuk dapat meningkatkan literasi. Pada indikator mengidentifikasi masalah. Sebagian besar peserta didik juga berada pada kategori sangat kurang . ,16%). Indikator ini merupakan aspek terendah tingkatannya dalam taxonomy blooms dibandingkan dengan indikator HOLS lainnya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kurangnya pemahaman peserta didik terhadap konsep dasar yang diajarkan guru serta keterbatasan pengetahuan tentang fakta, terminologi, dan konsep sains (Muhdhar et al. , 2. Sementara itu, pada indikator berargumentasi . ,81%) peseta didik juga termasuk kategori sangat Peserta didik belum terbiasa memberikan pendapat terhadap isu-isu Kesehatan dan lingkungan, sehingga belum mampu menyampaikan argumentasi logis disertai alasan ilmiah yang relevan dengan konsep kimia (Purwanto et al. , 2022. Ramadhani et al. , 2. Kemudian pada indikator menghubungkan informasi ilmiah juga menunjukkan hasil yang rendah yaitu . ,52%), peserta didik dominan berada pada kategori sangat kurang. Misalnya, pada topik pertama peserta didik diminta untuk menjelaskan terbentuknya konsep ikatan kovalen pada senyawa ammonia (NH. , dan konsep ikatan logam pada aluminium foil. Sebagian besar peserta didik hanya mengingat definisi tanpa dapat mengaitkan konsep tersebut dengan fenomena nyata. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik dalam menghubungkan informasi dengan konsep masih terbatas. Hasil ini sejalan dengan penelitian Melati et al . yang mengungkapkan bahwa literasi kimia pada aspek multidimensional termasuk kemampuan menghubungkan informasi ilmiah, hanya mencapai 44. 08%, karena peserta didik belum terbiasa menganalisis dan mengaitkan informasi ilmiah secara kontekstual. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kemampuan literasi kimia peserta didik kelas X SMA tergolong rendah yang berkategori sangat kurang . ,45%). Pada aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Learning Skill. , seluruh indikator Vol. No. September 2025, pp. A 359 Jurnal Pendidikan West Science menunjukkan hasil rendah, terutama pada indikator menganalisis . ,65%) dan berargumentasi . ,81%), diikuti mengidentifikasi . ,16%) dan menghubungkan informasi ilmiah . ,52%). DAFTAR PUSTAKA