E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 Kontribusi Tri-Aspek Al-Nash. Ilmu. Filsafat Terhadap Revitalisasi Hadharah Islam Contribution of the Tri-Aspect of Al-Nash, the Science, the Philosophy to the Revitalization of Islamic Hadharah Asri Yanti Siregar1. Amril M2. Eva Dewi3 1,2,3 Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Jl. HR. Soebrantas No. Km. RW. Simpang Baru. Kota Pekanbaru. Riau 28293. Indonesia e-mail: 2239012531@students. uin-suska. ABSTRACT Civilization (Hadhara. in Islam represents a comprehensive reflection of the values of tawhid . that underpin human life, not merely material or technological advancement. This article examines the fundamental concept of hadharah and identifies various forms of civilization from an Islamic perspective. exploring its terminological definition, hadharah is understood as a settled way of life that gives rise to value systems, social structures, and culture grounded in divine revelation. The discussion reveals that Islamic civilization can be categorized into three main types: Hadharah al-Nash, which emphasizes the revealed texts as the source of absolute truth. Hadharah al-AoIlm, which integrates reason and faith in the pursuit of and Hadharah al-Falsafah, which emerges from the dialogue between Islamic thought and global philosophical traditions. This article provides a deeper understanding of the dynamics of Islamic civilization and its relevance in the modern context. Keywords: Islamic Civilization. Hadharah al-Nash. Hadharah al-AoIlm. Hadharah al-Falsafah ABSTRAK Peradaban . dalam Islam merupakan cerminan komprehensif dari nilai-nilai tauhid yang mendasari kehidupan umat manusia, bukan sekadar kemajuan materi atau teknologi. Artikel ini mengkaji konsep dasar hadharah dan mengidentifikasi berbagai bentuk peradaban menurut perspektif Islam. Dengan menelaah definisi terminologis, hadharah dipahami sebagai pola hidup menetap yang melahirkan tata nilai, sistem sosial, serta budaya yang berlandaskan wahyu ilahi. Pembahasan dalam artikel ini mengungkapkan bahwa peradaban Islam terbagi dalam tiga kategori utama: Hadharah al-Nash yang berfokus pada teks wahyu sebagai sumber kebenaran mutlak. Hadharah al-AoIlm yang mengintegrasikan akal dan iman dalam proses serta Hadharah al-Falsafah yang lahir dari dialog antara pemikiran Islam dan tradisi filsafat Artikel ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika peradaban Islam dan relevansinya dalam konteks modern. Kata Kunci: Peradaban Islam. Hadharah al-Nash. Hadharah al-AoIlm. Hadharah al-Falsafah. FIRST RECEIVED: 2025-05-20 REVISED: 2025-09-30 ACCEPTED: 2025-09-22 https://doi. org/10. 25299/ajaip. PUBLISHED: 2025-10-07 Corresponding Author: Asri Yanti Siregar AJAIP is licensed under Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International Published by UIR Press PENDAHULUAN Peradaban Islam pernah menjadi salah satu peradaban besar yang memimpin dunia, tidak hanya dalam aspek spiritual dan ibadah, tetapi juga dalam ilmu pengetahuan, filsafat, dan tatanan Kejayaan tersebut berakar pada tiga pilar utama: Hadarah al-Nash . eradaban tek. Hadarah al-AoIlm . eradaban ilm. , dan Hadarah al-Falsafah . eradaban filsafa. , yang bersamasama membentuk fondasi kokoh bagi perkembangan pemikiran dan praktik kehidupan umat Islam. Di tengah tantangan modernisasi, globalisasi, dan krisis kemanusiaan, kajian tentang integrasi Asri Yanti Siregar: Kontribusi Tri-Aspek Al-Nash. Ilmu. Filsafat Terhadap Revitalisasi Hadharah Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 wahyu, ilmu pengetahuan, dan filsafat menjadi krusial untuk merumuskan kembali peradaban Islam yang relevan dengan konteks kontemporer (Zain et al. Namun, di era modern, peradaban Islam menghadapi tantangan serius: krisis ilmu, fragmentasi pemikiran, dan perubahan nilai akibat globalisasi. Dalam merespons hal ini. Amin Abdullah (Abdullah 2. menekankan pentingnya integrasi ketiga pilar tersebut dalam sistem pendidikan Islam. Tanpa integrasi, pendidikan berisiko melahirkan pemahaman agama yang sempit atau kehilangan nilai spiritualnya. Oleh karena itu, penting untuk meninjau kembali konsep integratif ini sebagai dasar pengembangan pendidikan Islam yang kontekstual, kritis, dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman. Seringkali kajian sebelumnya membahas kejayaan peradaban Islam dengan menekankan integrasi antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Namun, kajian tersebut seringkali kurang memberi ruang bagi dimensi filosofis, padahal aspek ini penting untuk menjaga keseimbangan kemanusiaan dan sosial. Tulisan ini diperlukan untuk menutup celah tersebut dengan menegaskan urgensi peran hadharah al-Falsafah dalam membangun integrasi yang lebih utuh antara teks, ilmu, dan filsafat. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perhatian terhadap integrasi Hadarah al-Nass dan Hadarah al-AoIlm dalam kajian pendidikan Islam maupun wacana peradaban Islam modern sudah cukup besar. Namun demikian, aspek Hadarah al-Falsafah masih cenderung kurang diperhatikan, baik dalam perspektif epistemologis maupun praktik pendidikan. Sebagai contoh, (Suryadilaga et al. melalui penelitiannya mengenai paradigma keilmuan di UIN Sunan Kalijaga dan UIN Maulana Malik Ibrahim menekankan pentingnya menggabungkan teks, ilmu pengetahuan, dan filsafat dalam upaya membangun universitas Islam yang bereputasi internasional. Meskipun demikian, studi tersebut masih menempatkan filsafat hanya sebagai pendukung epistemologis, bukan sebagai pilar kritis yang mampu menjaga keseimbangan antara wahyu, rasionalitas, dan nilainilai kemanusiaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menutup celah tersebut dengan menegaskan peran penting Hadarah al-Falsafah sebagai pilar integratif, yang memungkinkan terciptanya sistem pendidikan Islam yang lebih kontekstual, kritis, dan berlandaskan kuat pada nilai-nilai keislaman dalam menghadapi tantangan global masa kini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan tinjauan pustaka. Data diperoleh dari berbagai sumber, termasuk buku-buku klasik dan modern, jurnal akademik (Auhaina and Sari 2. serta artikel ilmiah yang mengeksplorasi peradaban Islam, terutama terkait dengan aspek teks suci . l-nas. , ilmu pengetahuan . l-il. , dan filsafat . l-falsafa. Analisis dilakukan dengan pendekatan deskriptif-kualitatif yang mengeksplorasi keterkaitan dan dampak ketiga aspek tersebut terhadap pengembangan hadharah Islam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan peran al-nash, al-ilm, dan al-falsafah dalam evolusi peradaban Islam, serta pengaruhnya terhadap pemikiran masa kini. HASIL DAN PEMBAHASAN Hadarah dalam Islam Dalam bahasa Arab, kata hadharah (A )Asecara etimologis berakar dari kata hadhar (A)A, yang berarti AukehadiranAy atau Aukehidupan menetap. Ay Istilah ini merupakan kebalikan dari albadwu (A)EOA, yang merujuk pada kehidupan nomaden atau pedalaman. Kata al-hadir (A)EA Asri Yanti Siregar: Kontribusi Tri-Aspek Al-Nash. Ilmu. Filsafat Terhadap Revitalisasi Hadharah Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 digunakan untuk menyebut orang-orang yang hidup menetap di daerah perkotaan, sementara albadi (A )EOAmerujuk pada masyarakat yang hidup berpindah-pindah atau tinggal di wilayah Dengan demikian, al-hadharah menggambarkan kehidupan yang mapan dan menetap secara permanen di suatu tempat. (Lukman 2. Secara terminologis, peradaban memiliki beragam definisi menurut para ahli. Ibnu Khaldun, misalnya, mendeskripsikannya sebagai suatu kondisi yang lahir dari kebiasaan masyarakat dan berkembang melampaui kebutuhan dasar suatu peradaban. Batasan perkembangan ini berbeda-beda, bergantung pada tingkat kemakmuran dan keanekaragaman bangsa-bangsa yang tidak terbatas. Dari pembahasan di tersebut, dapat disimpulkan bahwa hadharah atau peradaban merupakan kehidupan manusia yang menetap dan berkembang dalam berbagai aspek, seperti politik, ekonomi, sosial, pemikiran, dan seni. Peradaban lahir dari kebiasaan masyarakat dan terus berkembang seiring dengan tingkat kemakmuran serta keanekaragaman bangsa. Para ahli memandang peradaban sebagai sistem yang mencakup nilai, moral, dan produktivitas budaya. Selain itu, peradaban bukan sesuatu yang statis, melainkan sebuah proses yang terus bergerak maju mengikuti perubahan dan kemajuan manusia. Untuk memahami lebih dalam, pembahasan selanjutnya akan mengulas pembagian hadharah beserta karakteristiknya dalam berbagai aspek Hadarah Al-Nash. Al-Ilm dan Al-Falsafah A( aa a a E acIAAPeradaban Tek. Konsep Hadarah al-Nash . eradaban tek. menegaskan bahwa peradaban Islam berakar pada wahyu Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Al-QurAoan dan Hadis Nabi. Kedua teks suci ini menjadi rujukan mendasar dalam membangun kehidupan umat Islam di berbagai bidang, mulai dari akidah, ibadah, muamalah, hingga moral dan hukum. Konsep ini menekankan bahwa ajaran Islam bersumber langsung dari wahyu yang bersifat tetap dan universal, memberikan arahan dalam membentuk tatanan sosial, politik, dan budaya yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Selain itu. Hadarah al-Nash juga menjadi landasan dalam pengembangan ilmu keislaman, baik dalam kajian tafsir, hadis, fikih, maupun disiplin ilmu lainnya yang bertujuan untuk memahami dan mengimplementasikan ajaran Islam secara komprehensif. (Rahmat and Amril 2. Ciri-ciri Hadharah al-Nash . Berasal dari Sumber Ilahi: Hadarah an-Nash berlandaskan Wahyu Ilahi yang diterima Nabi Muhammad SAW berperan sebagai panduan universal bagi kehidupan manusia. Bersifat Mutlak dan Universal: Ajaran yang terkandung dalam wahyu memiliki sifat absolut dan berlaku bagi seluruh umat manusia di berbagai tempat dan sepanjang masa. Kebenarannya Tidak Diragukan: Al-Qur'an dan Hadis diakui sebagai sumber hukum yang otoritatif dan diyakini kebenarannya oleh umat Islam tanpa adanya keraguan. Menjadi Pedoman Hidup: Wahyu berfungsi sebagai panduan dalam setiap aspek kehidupan manusia, memberikan solusi serta arahan dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan prinsip Islam. Peradaban teks merujuk pada suatu masyarakat yang menjadikan teks sebagai pusat pengembangan kajian keilmuan, tradisi, dan nilai-nilai sosial. Dalam peradaban Islam, teks memiliki peran fundamental karena ajaran Islam sangat bergantung pada wahyu tertulis, seperti AlQurAoan dan Hadits. Tradisi keilmuan Islam berkembang pesat melalui aktivitas menulis. Asri Yanti Siregar: Kontribusi Tri-Aspek Al-Nash. Ilmu. Filsafat Terhadap Revitalisasi Hadharah Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 mendokumentasikan, serta menafsirkan berbagai disiplin ilmu berbasis teks, termasuk tafsir, fikih, filsafat, dan sains. Peradaban Islam dikenal sebagai peradaban teks karena fondasi utamanya adalah Al-QurAoan sebagai sumber utama peradaban. Islam sejak awal mengembangkan tradisi literasi yang kuat, didukung oleh dorongan agama untuk membaca dan menulis. Perintah pertama dalam Islam. AuIqraAy . , menunjukkan bahwa Islam sejak awal menekankan pentingnya teks sebagai sarana transfer ilmu dan kebudayaan (Auhaina and Sari 2. Selain itu, dijelaskan bahwa peradaban Islam juga membangun perpustakaan besar di berbagai wilayah, seperti Kordoba. Fez, dan Kairo. Keberadaan perpustakaan ini menunjukkan bahwa teks bukan hanya menjadi sumber hukum dan teologi. Di samping itu, peradaban ini turut melahirkan fondasi bagi kemajuan sains dan filsafat, sebagaimana tercermin dalam karya para ilmuwan Muslim seperti Al-Farabi. Ibnu Sina, dan Al-Ghazali yang menjadi rujukan penting di berbagai bidang keilmuan. Perkembangan peradaban teks Islam mencapai puncaknya pada masa kejayaan Dinasti Abbasiyah, khususnya melalui Baitul Hikmah di Baghdad. Lembaga ini berfungsi sebagai pusat penerjemahan, kajian, dan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis teks, yang memungkinkan transfer keilmuan dari berbagai peradaban, seperti Yunani. Persia, dan India, ke dalam dunia Islam. Melalui Baitul Hikmah, karya-karya filsafat, kedokteran, astronomi, dan matematika diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, sehingga memperkaya khazanah intelektual Islam dan mendorong kemajuan peradaban (Nunzairina 2. Hadharah al-nash (Al-QurAoan dan Hadi. memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam peradaban Islam. Hadharah al-nash membentuk dasar nilai, norma, dan visi hidup umat Islam, serta menyediakan kerangka spiritual, sosial, dan intelektual yang membimbing manusia dalam menjalani kehidupan. Ayat-ayat Al-QurAoan secara eksplisit mendorong pembacaan, pencarian ilmu, dan perenungan terhadap alam dan sejarah yang pada akhirnya melahirkan tradisi keilmuan dan refleksi filosofis dalam Islam. Pentingnya al-nash terletak pada perannya sebagai kompas maknawi bagi seluruh aktivitas peradaban. Tanpa kehadirannya, peradaban Islam akan kehilangan arah spiritual yang menjadi fondasi identitasnya. Selain itu, al-nash menjadi sumber nilai dan pijakan moral yang membingkai pengembangan ilmu dan filsafat agar tetap terarah dan selaras dengan prinsip-prinsip ajaran Islam serta memberikan manfaat yang luas bagi kehidupan Dengan demikian, kehadiran al-nash menjadi pilar utama yang menyatukan dimensi spiritual dan intelektual dalam peradaban Islam, memastikan bahwa kemajuan ilmu dan filsafat tidak terlepas dari nilai-nilai ajaran Islam yang mendalam. A( aa a a eE eEIAPeradaban Ilm. Hadharah al-Ilm . eradaban ilm. merupakan pilar utama dalam peradaban islam yang berfokus pada perkembangan ilmu pengetahuan dalam segala bidang, mulai dari sains hingga Hadarah al-Ilm ini lebih dari sekedar kajian keagamaan, konsep ini lebih menempatkan ilmu sebagai sarana untuk memahami dunia, serta menemukan solusi bagi segala kesulitan dan tantangan dalam kehidupan untuk mensejahterakan kehidupan manusia. Dengan menjadikan ilmu sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari, islam selalu mendorong umatnya untuk terus belajar, berinovasi dan ikutserta bagi kemajuan masyarakat. Al-Faruqi menyebutkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah asal dari segala yang ada di dunia, termasuk di dalamnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan peradaban harus Asri Yanti Siregar: Kontribusi Tri-Aspek Al-Nash. Ilmu. Filsafat Terhadap Revitalisasi Hadharah Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 berlandaskan pada pemahaman tentang tauhidullah, yang merupakan penyatuan yang seimbang antara kehidupan di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, secara rasional setiap disiplin ilmu seharusnya pada akhirnya mengarah kepada penguatan kepercayaan kepada Allah SWT. (Hilmi Beberapa ahli berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan agama merupakan dua hal yang Dalam ilmu pengetahuan modern, tidak terdapat semangat transendental atau kesadaran spiritual yang dianggap lebih banyak memberikan dampak negatif dibandingkan positif. Pandangan yang cenderung ateistik, empiris, materialistik, bahkan hedonistik, dianggap sebagai pendorong utama kemajuan ilmu pengetahuan saat ini. Ilmu pengetahuan yang bersifat sekuler dianggap tidak dapat diterima sepenuhnya. Para ilmuwan Muslim merasa khawatir bahwa mempelajari ilmu-ilmu non-agama bisa menjauhkan seseorang dari Allah SWT. Namun, petunjuk yang terdapat dalam AlQurAoan, hadits Nabi SAW, serta warisan intelektual Islam dari masa lalu, justru diyakini dapat mendorong kemajuan Islam. Oleh karena itu, ajaran Islam seharusnya dijadikan sebagai sumber utama untuk perkembangan ilmu pengetahuan. (Hanifah 2. Sejarah kemunculan hadarah al-Ilm ini pada dasarnya dimulai sejak islam lahir. Hal tersebut disebutkan dalam QS Al-Alaq ayat 1-5: uAIa aIEaIOaEaIA a A aEac aIEaIAAEacO aEac aIECaEaIAAE aE aIA AC a aO aacEaIaII aEaCA a A aEaCaEaIaC aI aEaEacO aEaCA Artinya: AuBacalah dengan . nama Tuhanmu yang Menciptakan . Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah . Bacalah, dan Tuhanmu lah yang Maha pemurah . Yang mengajar . dengan perantaraan kalam . Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya . Ay Baca disini tidak hanya diartikan sebagai proses membaca, namun membaca disini diartikan sebagai sebuah lambang, ia berarti kegiatan yang melebihi proses membaca, yakni mempelajari, menganalisis dan mengkaji ilmu pengetahuan. Kemudian pada tahunn 1930-an. Muhammad Iqbal, seorang pemikir muslim, menekankan bahwa peradaban Islam harus melakukan rekonstruksi ilmu Ia menyadari bahwa ilmu barat tidak memiliki semangat ilahi. Tidak ada unsur ketuhanan, dan tidak ada niat untuk membedakan antara hal-hal duniawi dan ukhrawi. Akibatnya, ia menekankan betapa pentingnya bagi umat islam untuk mengubah atau merekonstruksi ilmu pengetahuan modern. (La Adu. Bahaking Rama, and Muhammad Yahdi 2. Pada dekade 1960-an. Ismail Raji Al-Faruqi mulai menarik perhatian dunia intelektual dengan pandangannya yang menempatkan Islam sebagai agama yang rasional, ilmiah, progresif, dan sempurna. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh pembaharu pemikiran Islam yang menegaskan pentingnya menjadikan ajaran Islam sebagai landasan utama dalam setiap aspek perilaku dan Bagi Al-Faruqi. Islam bukan sekadar sistem kepercayaan, tetapi merupakan way of life yang menyeluruh. Ia berupaya mengoreksi kecenderungan umat Islam modern yang memisahkan ilmu pengetahuan menjadi dua kategoriAiilmu umum dan ilmu agamaAikarena menurutnya dikotomi tersebut justru menghambat integrasi antara agama dan sains. Pemikirannya tentang integrasi keilmuan secara komprehensif tertuang dalam karya monumentalnya The Islamization of Knowledge. Gagasan tersebut kemudian memperoleh perhatian besar dari kalangan cendekiawan Muslim, khususnya setelah diseminarkan untuk pertama kalinya pada tahun 1982 di Islamabad. Pakistan. (Al-faruqi. Nasir, and Putra 2. Kontribusi hadharah al-Aoilm . lmu pengetahua. dalam peradaban Islam sangatlah besar. Ilmu pengetahuan menjadi sarana utama dalam mengembangkan pemahaman manusia terhadap Asri Yanti Siregar: Kontribusi Tri-Aspek Al-Nash. Ilmu. Filsafat Terhadap Revitalisasi Hadharah Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 alam, dirinya sendiri, dan Tuhan. Melalui penemuan, eksperimen, dan analisis, tradisi ilmiah dalam Islam telah mendorong kemajuan dalam teknologi, kesehatan, astronomi, matematika, dan berbagai disiplin lainnya. Hadharoh al-Aoilm juga menumbuhkan semangat belajar dan inovasi yang menjadi pilar kekuatan intelektual umat Islam sepanjang sejarah. Pentingnya hadharah al-Aoilm terletak pada kemampuannya menjembatani keyakinan spiritual dengan realitas empiris. Dengan ilmu pengetahuan, umat Islam dapat memahami ciptaan Tuhan secara lebih mendalam dan turut berkontribusi pada peradaban dunia. Ilmu pengetahuan juga menjadi fondasi pengembangan pendidikan dan peradaban berkelanjutan, sehingga menjadikan umat lebih maju dan adaptif terhadap perubahan zaman. Dengan demikian. Hadharah al-Ilm menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dalam Islam bukan sekadar eksplorasi duniawi, tetapi juga sarana untuk memperkuat keimanan. Pemikiran tokoh seperti Muhammad Iqbal dan Al-Faruqi menunjukkan pentingnya integrasi ilmu dengan nilai-nilai ilahiah agar peradaban Islam tetap maju tanpa kehilangan spiritualitasnya. Oleh karena itu. Islam mendorong umatnya untuk terus belajar, berinovasi, dan menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kesejahteraan dunia dan akhirat. A a a A( aa a a eE aA eEAPeradaban Filsafa. Menurut Harun Nasution, istilah falsafah yang berasal dari bahasa Arab lebih sesuai digunakan karena merupakan adopsi langsung dari istilah aslinya. Kata tersebut berakar dari bahasa Yunani philosophiaAigabungan antara philo . dan sophia . Aiyang secara harfiah diartikan sebagai Aukecintaan terhadap kebijaksanaan. Ay (Ilmu and Yunani 2. Pada hakikatnya, setiap individu yang menekuni filsafat akan berkembang menjadi pribadi yang bijaksana. Mereka yang mencintai ilmu pengetahuan disebut philosopher, atau dalam istilah Arab dikenal sebagai failasuf. Seorang pecinta ilmu adalah sosok yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan utama kehidupannya, bahkan rela mendedikasikan diri sepenuhnya untuk Secara sederhana, filsafat dapat dipahami sebagai Audunia pemikiranAy atau Auaktivitas Ay Namun demikian, tidak semua bentuk pemikiran dapat dikategorikan sebagai kegiatan berfilsafat, sebab filsafat menuntut pemikiran yang mendalam, kritis, dan radikal. Terdapat ungkapan yang menyebut bahwa Ausetiap manusia adalah filsuf. Ay Ungkapan tersebut benar sejauh manusia memang dianugerahi kemampuan berpikir, namun dari perspektif filosofis tidak seluruh manusia yang berpikir dapat disebut filsuf. (Mariyah et al. Hadarah al-Falsafah merupakan komponen dari perkembangan dunia islam yang berfokus pada pemikiran filsafat dan pertimbangan logis. Peradaban ini ada karena terjadinya interaksi antara islam dan berbagai kebudayaan filsafat seperti Yunani. Persia, dan India. Filsafat dalam islam bukan sekedar pemikiran spekulatif, akan tetapi ia juga merupakan alat yang membantu manusia mengerti tentang hubungan antara akal dan wahyu serta mencari kebenaran yang lebih mulia (Adib Berikut merupakan karakteristik dari hadarah al-Falsafah: Pertama, menggabungkan akal dan wahyu. Hadarah al-Falsafah dalam islam memiliki misi untuk menyatukan antara akal dan wahyu sebagai dasar kebenaran. Para filsuf muslim seperti al-Farabi dan Ibnu Sina berpendapat bahwa akal manusia dapat mencapai kebenaran akan tetapi harus diarahkan oleh wahyu. Islam menanamkan kepada umatnya bawa Aoaql merupakan pemberian dari Allah yang mempermudah manusia untuk memahami dunia dan menjalankan hukum agasma. Hadarah al-Falsafah perspektif islam berusaha menyatukan dua sumber kebenaran agar tidak saling bertentangan. Al-Farabi Asri Yanti Siregar: Kontribusi Tri-Aspek Al-Nash. Ilmu. Filsafat Terhadap Revitalisasi Hadharah Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 mengatakan bahwa filsafat tidak bertolak belakang dengan agama, karena keduanya memiliki kesamaan yaitu sama sama mencari kebenaran (Bustari 2. Kedua, berbasis logika dan rasionalisme. Hadarah al-Falsafah menggarisbawahi pentingnya logika dan metode yang rasional dalam memahami realitas. Al-Farabi. Al-Kindi dan Ibnu Sina mengembangkan logika formal untuk menerangkan konsep-konsep filsafat dalam islam. Bahkan dalam ilmu teologi islam (Ilmu Kala. Al-Ghazali menggunakan metode logika untuk menyanggah pemikiran yang bertentangan dengan islam. Dalam bukunya yang berjudul Tahafut al-Falasifah . erancuan filsafa. Al-Ghazali mengkriitik filsuf muslim seperti ibnu sina dan alFarabi karna dirasa terlalu terpengaruh oleh filsafat Yunani yang mungkin dapat membawa penyimpangan dalam pemahaman islam. Al-Ghazali pada dasarnya menggunakan metode logika dialektis . lmu kala. dalam kritiknya terhadap filsafat. Ia tidak menolak logika sepenuhnya, akan tetapi ia hanya menolak pemikiran filsafat yang bertentangan dengan prinsip dasar islam. Ketiga, membantu dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hadarah al-Falsafah tidak hanya menghasilkan pemikiran yang bersifat metafisik dan teologis, akan tetapi juga sebagai pendorong bagi kemajuan ilmu pengetahuan terapan. Contohnya di bidang kedokteran ada Ibnu Sina dalam kitab al-Qanun fi al-Tibb yang mengembangkan metode empiris dalam kedokteran, yang menjadi acuan bagi dunia barat selama berabad-abad. Ibnu Sina juga memajukan bidang psikologi dengan mengembangkan teori tentang hubungan antara tubuh dan jiwa. Dalam bidang astronomi dan matematika kita jumpai Al-Khawarizmi yang mengembangkan konsep aljabar dan system angka serta Al-Biruni yang menemukan bahwa bumi berputar pada porosnya. Dibidang fisika dan optik ada Ibnu Al-Haytam dalam kitab al-Manazir yang mengembangkan teori tentang optic dan eksperimen yang menjadi dasar bagi ilmu fisika saat ini. (Nur Safitri. Dini Rakhmawati, and Mustianah 2. Kontribusi hadharah al-falsafah sangat krusial dalam peradaban Islam. Filsafat berfungsi sebagai medium refleksi kritis dan pemikiran mendalam mengenai hakikat eksistensi, moralitas, dan Melalui filsafat, para pemikir Islam mengkaji hubungan antara akal dan wahyu serta merumuskan konsep etika, metafisika, dan epistemologi yang memperkaya tradisi keilmuan Islam. Hadharoh al-falsafah memperluas wawasan intelektual dan membuka ruang dialog antara berbagai aliran pemikiran. Pentingnya hadharah al-falsafah terletak pada kemampuannya mengasah daya kritis sekaligus memperdalam makna spiritual. Filsafat membantu umat Islam memahami dan menyintesiskan ilmu serta agama secara harmonis, sekaligus menghadapi tantangan pemikiran Dengan demikian, filsafat memperkuat landasan intelektual peradaban Islam dan menjaga kesinambungan pemikiran yang dinamis serta adaptif. Integrasi Hadharah al-Nash. Hadharah al-Ilm, dan Hadharah al-Falsafah Kolaborasi antara Hadarah al-Nash. Hadarah al-AoIlm, dan Hadarah al-Falsafah menegaskan pentingnya membangun sistem pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada aspek teks dan ilmu, tetapi juga pada refleksi filosofis yang menumbuhkan keseimbangan dalam pengembangan intelektual dan spiritual. Menurut Abd. Rachman Assegaf, integrasi mencerminkan keterpaduan antara berbagai dimensi ilmu, sedangkan interkoneksi menunjukkan hubungan yang saling terkait di antara unsur-unsur tersebut (Wijayanti and Dewi 2. Gagasan ini sejalan dengan pandangan Prof. Dr. Amril M, salah satu pemikir kontemporer yang menekankan pentingnya penyatuan antara agama dan sains dalam tradisi keilmuan Islam. Dalam bukunya Epistemologi: Integratif-Interkonektif Agama dan Sains, ia menyoroti bahwa Asri Yanti Siregar: Kontribusi Tri-Aspek Al-Nash. Ilmu. Filsafat Terhadap Revitalisasi Hadharah Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern merupakan permasalahan yang perlu Melalui pendekatan integratif-interkonektif. Prof. Amril berusaha membangun kerangka berpikir yang menyeluruh, di mana ilmu pengetahuan tidak berdiri secara sekuler, tetapi terikat dengan nilai-nilai agama yang memberikan arah etis dan moral dalam penerapannya. Oleh karena itu, ketiga konsep peradaban ini tidak dapat dipisahkan justru harus saling melengkapi agar menghasilkan sistem pendidikan yang harmonis dan relevan. Pendidikan Islam dituntut untuk mampu mengakomodasi berbagai pendekatan dan teori pendidikan yang terus berkembang, tanpa mengorbankan nilai-nilai dasarnya. Lembaga-lembaga seperti madrasah, pesantren, dan sekolah Islam perlu tetap adaptif terhadap dinamika zaman, sekaligus menjaga identitas keislaman mereka. Istilah pendidikan hadhari dalam literatur Islam masih terbilang baru dan cenderung Namun, penggunaannya mulai meningkat, terutama sejak konversi IAIN menjadi UIN yang memunculkan arah baru dalam paradigma keilmuan. UIN Malang, misalnya, memperkenalkan konsep pohon ilmu, sedangkan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengembangkan model jaring laba-laba dan segitiga peradaban yang terdiri dari hadharah al-nash, hadharah al-Aoilm, dan hadharah al-falsafah. Dalam struktur ini, hadharah al-Nash merujuk pada teks-teks wahyu seperti al-QurAoan dan Sunnah yang menjadi landasan utama dalam kehidupan dan keilmuan Islam. Teks ini bersifat spiritual dan transendental, serta menjadi sumber nilai yang tak tergantikan. Sementara itu, hadharah al-Falsafah menawarkan pendekatan rasional dan reflektif, berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan wahyu dengan akal. Dengan cara ini, ajaran Islam dapat dikontekstualisasikan secara kritis namun tetap substansial. Paradigma Integratif-Interkonektif yang dikembangkan oleh Amin Abdullah hadir sebagai solusi terhadap fragmentasi ilmu. Pendekatan ini mendorong keterkaitan antara ilmu-ilmu alam, sosial, dan humaniora agar tidak berkembang secara terpisah. Hadharah al-AoIlm, yang bersifat empiris dan mencakup bidang sains serta teknologi, perlu dihubungkan dengan hadharah alFalsafah agar tetap etis dan manusiawi. Sebaliknya, filsafat akan kehilangan kedalaman jika terlepas dari dimensi normatif wahyu . adharah al-Nas. dan realitas empiris kehidupan seharihari. Interaksi ketiga ranah ini menghasilkan pola relasi yang tidak hanya menyatukan, tetapi juga menciptakan dialog dinamis yang menyuburkan keilmuan Islam kontemporer. (Yamin. Natsir, and Haryanti 2. Pembahasan tersebut mengkonfirmasi temuan sebelumnya bahwa hadharah al-AoIlm memang berkontribusi pada pengembangan wawasan keislaman melalui pendekatan observasi dan bukti Dengan kata lain, ia memperkuat hasil kajian terdahulu tentang pentingnya integrasi ilmu agama . adharah al-Nas. dan ilmu empiris . adharah al-AoIl. Oleh karena itu, ketiga wilayah peradaban tersebut perlu dikombinasikan secara seimbang untuk membangun sistem pendidikan Islam yang ilmiah, rasional, serta berpijak pada nilai-nilai spiritual dan etis yang luhur. Konsep ini dapat dianalogikan dengan struktur jaring laba-laba yang memiliki pola sistematis dan saling terhubung, sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut: Asri Yanti Siregar: Kontribusi Tri-Aspek Al-Nash. Ilmu. Filsafat Terhadap Revitalisasi Hadharah Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Gambar 1. Skema Jaring Laba-Laba Berdasarkan skema jaring laba-laba tersebut, cakupan keilmuan dalam paradigma terpadu sangat luas karena mencakup baik bidang tradisional maupun modern. Ketika kedua sektor ini mampu berkolaborasi secara sinergis, mereka akan saling menopang dan memperkuat keberlangsungan kehidupan di era globalisasi. Dalam skema ini, hadarah al-Nash yang berpusat pada wahyu dan teks suci (Al-QurAoan dan Hadi. berfungsi sebagai fondasi utama yang menjadi titik pusat seluruh cabang keilmuan. Dari titik ini, hadarah al-Aoilm, yang berlandaskan pendekatan empiris, berkembang ke berbagai disiplin seperti teknologi, psikologi, ekonomi, dan biologi. Sementara itu, hadarah al-falsafah, yang berakar pada pemikiran reflektif dan filsafat, menjadi kerangka konseptual yang menghubungkan antarbidang ilmu, memperkaya pemahaman terhadap realitas secara lebih menyeluruh dan mendalam (Taufik, 2. Struktur jaring laba-laba ini menegaskan bahwa ketiga elemen peradaban tersebut harus tetap terhubung dan tidak bisa berdiri sendiri. Hadarah al-Nash memberikan fondasi nilai dan etika, hadarah al-AoIlm memperluas wawasan melalui penelitian dan eksperimen, dan hadarah al-Falsafah menghubungkan serta menyusun kerangka berpikir yang lebih luas. Jika salah satu bagian dari jaring ini terputus, maka keseimbangan peradaban islam akan terganggu. Oleh karena itu, islam mengajarkan integrasi antara wahyu, ilmu, dan filsafat sebagai sebuah kesatuan dalam membangun peradaban yang kokoh dan berkelanjutan. SIMPULAN Hadharah dalam Islam merupakan konsep peradaban yang mencakup aspek sosial, ilmu, dan filsafat secara terpadu. Hadharah al-Nash membentuk kehidupan masyarakat berdasarkan ajaran Islam untuk menciptakan tatanan sosial yang harmonis. Hadharah al-Ilm menunjukkan kemajuan intelektual umat yang berpijak pada wahyu dan akal, melahirkan ilmu yang bermanfaat. Hadharah al-Falsafah mengembangkan pemikiran rasional dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam. Ketiganya saling melengkapi, membentuk peradaban Islam yang unggul dalam ilmu, kuat dalam nilai sosial, dan dalam dalam pemikiran, serta mampu memberi kontribusi besar bagi dunia. Namun, penelitian ini terbatas pada pendekatan studi pustaka yang bersifat konseptual, tanpa data empiris terkait penerapan integrasi tiga aspek hadharah dalam pendidikan maupun kehidupan Karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan studi lapangan, merancang model kurikulum integratif, serta mengeksplorasi perbandingan dengan peradaban lain agar konsep Tri-Aspek lebih aplikatif bagi revitalisasi hadharah Islam. Asri Yanti Siregar: Kontribusi Tri-Aspek Al-Nash. Ilmu. Filsafat Terhadap Revitalisasi Hadharah Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 DAFTAR PUSTAKA