Vol 8. No 1. September 2025. org/10. 38189/jtbh. ISSN 2654-5691 . 2656-4904 . Available at: e-journal. id/index. php/jbh Menjadi Saksi di Tengah Diskriminasi: Tafsiran Daniel 1-6 dalam Bingkai Moderasi Beragama di Indonesia Ferdinand Iskandar1 Ferdiskandar@gmail. Tutur Parade Tua Panjaitan2 tuturptpanjaitan@gmail. Abstract The Indonesian context reflects tangible religious discrimination, for example the prohibition of worship that is contrary to the law on freedom of religion, so the analogy with the story of Daniel and his three companions is relevant. They choose to be witnesses to their Their rejection of oppression has an impact on the wider community. This paper presents an exegesis of Daniel 1-6 in the framework of religious moderation, which aims to explore how its narratives can provide a theological framework for Christians facing discrimination in Indonesia. The findings of the study suggest that witness model does not have to be confrontational but rather rooted in three main pillars: relational obedience founded on the correct knowledge of God, flawless moral integrity, and surrender manifested through diligent prayer. This article implies how faith communities in Indonesia can appear as minority witnesses but have a public impact. Keywords: Daniel. freedom of religion. religious moderation. Abstrak Konteks Indonesia menggambarkan diskriminasi beragama yang nyata, misalnya larangan beribadah yang bertentangan dengan undang-undang kebebasan beribadah, sehingga analogi dengan kisah Daniel dan ketiga sahabatnya relevan. Mereka memilih menjadi saksi bagi kepercayaan mereka. Penolakan mereka terhadap penindasan membawa dampak bagi komunitas yang lebih luas. Tulisan ini menyajikan sebuah tafsiran atas Kitab Daniel 1-6 dalam bingkai moderasi beragama, yang bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana narasinarasinya dapat memberikan kerangka teologis bagi umat Kristen yang menghadapi diskriminasi di Indonesia. Temuan penelitian menunjukkan bahwa model kesaksian tidak harus bersifat konfrontatif, melainkan berakar pada tiga pilar utama: ketaatan relasional yang berfondasi pada pengenalan yang benar akan Tuhan, integritas moral yang tidak memiliki cela, dan penyerahan diri yang diwujudkan melalui doa yang tekun. Artikel ini mengimplikasikan bagaimana komunitas iman di Indonesia dapat tampil sebagai saksi yang minoritas tetapi berdampak publik. Kata-kata kunci: Daniel. kebebasan beribadah. moderasi beragama. Sekolah Tinggi Teologi Periago Jakarta Sekolah Tinggi Teologi Misi William Carey Medan CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ferdinand Iskandar. Tutur Parade Tua Panjaitan: Menjadi Saksi di Tengah Diskriminasi: Tafsiran Daniel 1-6 dalam Bingkai Moderasi Beragama di Indonesia PENDAHULUAN Hidup di tengah komunitas yang tidak seiman bukanlah hal yang mudah bagi orang Kristen, sebab perbedaan yang ada kerap memunculkan berbagai persoalan. Keberagaman dalam bidang politik, ekonomi, budaya, dan agama di Indonesia kerap memunculkan kesenjangan di tengah masyarakat. Kesenjangan tersebut dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan bersama, salah satunya dalam bentuk diskriminasi. 3 Dalam kondisi yang berat dan sarat ketidakadilan, sering muncul kecenderungan untuk menyerah dan mengabaikan tanggung jawab sebagai Kristen yaitu menjadi saksi Kristus. Orang Kristen pun dapat tergoda untuk mempertanyakan makna dari kehidupan beriman yang dijalani. Orang Kristen percaya bahwa setiap mereka adalah saksi Kristus, yang harus terlibat dalam tugas Amanat Agung. 4 Sering terjadi Amanat Agung dipahami secara sempit hanya sebatas pergi ke suatu daerah untuk melakukan penginjilan atau Kebaktian Kebangunan Rohani, dengan tujuan menjadikan orang lain Kristen melalui penerimaan Yesus. Pola ini kemudian menimbulkan stigma di kalangan non-Kristen, yang memandangnya sebagai upaya kristenisasi. 5 Akibatnya orang Kristen sulit diterima, bahkan cenderung ditolak keberadaannya dalam suatu lingkungan yang dihuni oleh orang-orang atau suatu kelompok beragama lain di Indonesia, fakta tentang penolakan pembangunan gereja di berbagai wilayah Indonesia menjadi bukti. Pola keberagamaan di Indonesia masih dipengaruhi oleh warisan kolonial, di mana semangat evangelisasi pada masa lampau kerap dikaitkan dengan misi kristenisasi yang bernuansa kolonialisme. Dalam penelitiannya tahun 2022 Siahaan. Hartono, dan Tjiptosari menyebut gereja seharusnya mengembangkan paradigma misi yang bersifat ramah . dan bebas dari unsur kolonial, dengan cara melakukan refleksi biblika atau membaca kembali teks-teks Alkitab yang sering dijadikan landasan misi, khususnya Kisah Para Rasul 2:41-47, dalam kerangka moderasi beragama di konteks Indonesia. 6 Keramahan memang sepatutnya menjadi ciri seorang Kristen yang diajarkan untuk saling mengasihi. Rona Ganta Barus et al. AuPeran Pendidikan Agama Kristen Melawan Diskriminasi Di Masyarakat Majemuk Indonesia,Ay Indonesia Journal of Religious 5, no. : 91Ae107. Albert Leonarts Jantje Haans and Victor Deak. AuPeran Gereja Dalam Menggerakkan Jemaat Menuntaskan Penyelenggaraan Amanat Agung Tuhan Yesus,Ay Journal of Industrial Engineering & Management Research 3, no. : 140Ae56. Nemesius Bambang Revantoro. AuAktualisasi Amanat Agung Dalam Hidup Menggereja Dengan Pendekatan Design Thinking,Ay in Spiritualitas Kristiani Di Era Digital (Malang: Universitas Negeri Malang, 2. , 47Ae55. Harls Evan R. Siahaan. Handreas Hartono, and Yogi Tjiptosari. AuRekonstruksi Misi Hospitalitas Gereja Melalui Pembacaan Ulang Kisah Para Rasul 2:41-47 Dalam Bingkai Moderasi Beragama Di Indonesia,Ay JURNAL EFATA: Jurnal Teologi Dan Pelayanan 8, no. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 meski di tengah penolakan, diskriminasi, bahkan penganiayaan. Di Indonesia, gereja perlu menjadi saksi di tengah diskriminasi dalam bingkai moderasi beragama. Fenomena fobia terhadap gereja di kalangan sebagian penganut agama lain di Indonesia kerap menimbulkan gangguan terhadap rumah ibadah Kristen. Tidak jarang keberadaan gereja dipersoalkan dengan berbagai alasan, bahkan digugat hingga berujung pada penutupan. Sikap diskriminatif tersebut sering ditanggapi umat Kristen secara keliru, sehingga justru memperparah keadaan. Amran dalam penelitian tahun 2023 mengarahkan umat Kristen untuk memberikan respons yang benar, yakni dengan menyadari identitas sebagai pendatang . nak Alla. , menjaga perilaku yang baik, menaati pemimpin, hidup dalam kebebasan sejati, serta menghormati setiap orang. 7 Tawaran riset Amran didasarkan refleksi atas 1 Petrus 2:11Ae17 yang mencoba menghubungkan situasi kekristenan masa Perjanjian Baru dengan kekristenan masa kini. Kami hendak mengangkat isu yang sama terkait diskriminasi, tetapi didasarkan eksegesis atas kitab yang berbeda, yaitu Kitab Daniel. Kitab Daniel mencatat bagian sejarah bangsa Yahudi ketika sedang berada dalam masa pembuangan di Babel setelah Yerusalem ditaklukkan. Mereka hidup sebagai masyarakat buangan yang menghadapi tekanan budaya, politik, dan agama dari kekuasaan Babel. 8 Sistem keagamaan Babel menuntut penyembahan kepada dewa-dewa dan raja, sehingga menimbulkan benturan dengan iman Yahudi yang monoteistik. Daniel bersama ketiga sahabatnya menjadi teladan umat Allah yang tetap setia beribadah hanya kepada Yahweh, meski harus menghadapi ancaman hukuman, penganiayaan, bahkan bahaya Kondisi tersebut sejalan dengan realitas di Indonesia masa kini, di mana umat Kristen kerap mengalami perlakuan yang tidak adil. Meski konstitusi dan peraturan perundangundangan menjamin kebebasan beragama, perlindungan itu belum sepenuhnya efektif. Berbagai bentuk diskriminasi masih terjadi, mulai dari kekerasan fisik, penganiayaan, fitnah, hingga hambatan dalam pendirian rumah ibadah. Pada periode 2020Ae2021, pelanggaran terhadap Kemerdekaan Beragama/Berkeyakinan (KBB) didominasi oleh praktik ujaran kebencian, yang menempati posisi tertinggi. Jenis pelanggaran berikutnya mencakup pembatasan aktivitas keagamaan, tuduhan penyesatan, kriminalisasi atas dasar agama atau Amran. AuGereja Fobia: Refleksi Surat 1 Petrus 2:11-17 Dalam Merespons Diskriminasi Terhadap Gereja Di Indonesia,Ay Saint PaulAos Review 3, no. : 36Ae51. Willem A. VanGemeren. Penginterpretasian Kitab Para Nabi (Surabaya: Penerbit Momentum, 2. , 371. Amran. AuGereja Fobia: Refleksi Surat 1 Petrus 2:11-17 Dalam Merespons Diskriminasi Terhadap Gereja Di Indonesia. Ay CopyrightA 2-25. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ferdinand Iskandar. Tutur Parade Tua Panjaitan: Menjadi Saksi di Tengah Diskriminasi: Tafsiran Daniel 1-6 dalam Bingkai Moderasi Beragama di Indonesia keyakinan, serta penyegelan tempat ibadah. 10 Data ini menandakan bahwa diskriminasi beragama di Indonesia tidak hanya muncul dalam bentuk fisik seperti penyegelan rumah ibadah, tetapi terutama melalui serangan verbal yang menggerus toleransi dan membuka jalan bagi praktik diskriminatif lainnya. Penelitian terdahulu atas Kitab Daniel, oleh Saragih tahun 2014 mengatakan, pekerja Kristen pada masa kini dipanggil untuk tetap setia kepada Tuhan melalui pekerjaannya, dengan meneladani disiplin spiritualitas kerja seperti yang ditunjukkan Daniel. 11 Saragih menekankan spiritualitas kerja Daniel dalam pasal 1-6 melalui: kesetiaan pada firman Tuhan, membangun komunitas pendukung, mengandalkan kuasa Allah dalam pekerjaan, terus bertumbuh dalam kompetensi dan karakter, serta memelihara kehidupan doa yang Penelitian Saragih belum menyoroti soal situasi Daniel yang menjadi saksi di tengah Penelitian lain oleh Perangin-angin tahun 2024 mengatakan bahwa, prinsip kepemimpinan Daniel yang terbentuk sejak masa muda melalui pendidikan dan latihan yang disiplin serta keras, dapat dijadikan teladan bagi kepemimpinan Kristen. 12 Perangin-angin memusatkan penelitiannya atas Kitab Daniel 1-12, menegaskan bahwa kepemimpinan Kristen tidak hanya berpengaruh dalam kebijakan bagi masyarakat dan bangsa, tetapi juga menjadi kesaksian tentang kuasa Allah sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta. Penelitian Perangin-angin ini pun belum menyoroti soal situasi Daniel yang menjadi saksi di tengah diskriminasi. Penelitian yang menawarkan topik Aumenjadi saksi KristusAy dikerjakan oleh Lenny dan Purnama di tahun 2024. Kesaksian para martir memperlihatkan kekuatan iman, komitmen, dan pengorbanan dalam memberitakan Injil meskipun menghadapi penolakan maupun penganiayaan. Janji Yesus tentang kemenangan dan mahkota kekal menjadi sumber penghiburan serta keteguhan mereka. 13 Lenny dan Purnama fokus pada bingkai kisah para martir Kristen mula-mula. Bagi para penginjil saat ini, kisah tersebut menjadi teladan yang menginspirasi keberanian, kesetiaan, ketekunan, dan komitmen dalam mengabarkan Injil. Admin. AuWahid Foundation Diskusikan Laporan Kemerdekaan Beragama Dan Berkeyakinan Di Indonesia Tahun 2020-2022,Ay Wahid Foundation, 2023, https://wahidfoundation. org/news/detail/WahidFoundation-Diskusikan-Laporan-Kemerdekaan-Beragama-dan-Berkeyakinan-di-Indonesia-Tahun-20202022. Asnah Suryati Saragih. AuKonsep Spiritualitas Kerja Daniel Dalam Kitab Daniel 1-6 Dan Relevansinya Bagi Pekerja Kristen Di Dunia Kerja Masa KiniAy (STT SAAT, 2. Yakub Hendrawan Perangin-angin. AuStudi Teologis Kepemimpinan Daniel Berdasarkan Kitab Daniel,Ay SAMUEL ELIZABETH JOURNAL 1, no. : 72Ae85. Lenny and Ferry Purnama. AuMartir: Kesaksian Akhir Hidup Para Murid Yesus Dalam Pemberitaan Injil Pada Awal Kekristenan Dan Implikasinya Bagi Penginjil Di Masa Kini,Ay YADA: Jurnal Teologi Biblika Dan Reformasi 2, no. : 1Ae24. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 Pertanyaannya bagaimana Kitab Daniel 1-6 dapat memberikan kerangka teologis bagi umat Kristen yang menghadapi diskriminasi di Indonesia? Kebaruan penelitian ini terletak pada kontribusi orisinalnya menghubungkan narasi Daniel . hususnya Kitab Daniel 1-. dengan moderasi beragama dalam konteks Indonesia. Pelajaran dari kehidupan Daniel dan ketiga sahabatnya yang menjadi saksi, memberi model kesaksian Kristen di tengah diskriminasi dalam bingkai moderasi beragama kepada orang percaya masa kini, untuk terus mewartakan Injil sekalipun di tengah diskriminasi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan literature review. Data primer berasal dari teks Kitab Daniel dengan analisis eksegesis untuk mengerti nuansa makna teks,15 sementara data sekunder dikumpulkan dari buku-buku teologi, jurnal ilmiah, maupun laporan penelitian yang relevan dengan topik isu diskriminasi dan moderasi beragama di Indonesia. Analisis teks dilakukan dengan membandingkan narasi Daniel dan ketiga sahabatnya yang mengalami diskriminasi dalam beberapa kisah di pasal 1, 3 dan 6 dengan fenomena16 diskriminasi yang dialami orang percaya masa kini, juga membandingkan dengan kisah para martir gereja mula-mula masa Perjanjian Baru, serta merangkai implikasi teologis yang relevan dalam perspektif moderasi beragama di Indonesia. PEMBAHASAN Indonesia, sebagai negara majemuk dengan semboyan AuBhinneka Tunggal IkaAy, secara historis dikenal sebagai laboratorium toleransi dan pluralisme. 17 Namun, dalam beberapa dekade terakhir, fenomena intoleransi dan diskriminasi dalam beragama semakin mengemuka, menantang narasi kerukunan yang telah lama dibangun. Laporan terkini dari Wahid Foundation sebagaimana disebutkan di bagian pendahuluan artikel ini, menunjukkan adanya tren kemunduran dalam situasi kebebasan beragama dan berkeyakinan. 18 Orang Umrati and Hengki Wijaya. Analisis Data Kualitatif: Teori Konsep Dalam Penelitian Pendidikan (Jakarta: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2. , 12. Grant R. Osborne. Spiral Hermeneutika: Pengantar Komprehensif Bagi Penafsiran Alkitab (Surabaya: Momentum, 2. , 255. John W. Creswell. Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif. Kuantitatif. Dan Campuran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 24. Dita Rosyalita. AuImplementasi Prinsip Pluralisme Dalam Kehidupan Beragama Di Indonesia,Ay Journal for Education and Sharia 1, no. : 8Ae13. Ahmad Fanani Rosyidi. Sayyidatul Insiyah, and Halili Hasan. AuSiaran Pers Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) 2024,Ay SETARA: Institution for Democrazy and Peace, 2025, https://setarainstitute. org/siaran-pers-kondisi-kebebasan-beragamaberkeyakinan-kbb-2024/. CopyrightA 2-25. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ferdinand Iskandar. Tutur Parade Tua Panjaitan: Menjadi Saksi di Tengah Diskriminasi: Tafsiran Daniel 1-6 dalam Bingkai Moderasi Beragama di Indonesia Kristen yang sering disebut Aukelompok minoritasAy harus dapat menavigasi tantangan tersebut sambil tetap setia pada identitas imannya, saksi Kristus. Kisah Daniel menawarkan sebuah model kesaksian yang relevan, yang bukan tentang konfrontasi, melainkan tentang keteguhan iman, integritas, dan ketaatan di tengah sistem yang menindas. Ketaatan Relasional: Bukan Ketaatan Buta Pasal 1 Kitab Daniel mencatat dalam rombongan orang Yahudi yang dibuang ke Babel, terdapat Daniel dan ketiga sahabatnya (Hananya. Misael. Azary. Mereka ditempatkan di lingkungan kafir, menerima pendidikan kafir, dan menerima nama baru sebagai bagian dari integrasi dengan kebudayaan kafir. 19 Sekalipun demikian, mereka berketetapan untuk tetap setia kepada Allah yang benar. 20 Apa yang diajarkan kepada mereka bertentangan dengan hukum dan prinsip kebenaran Allah, tetapi sekarang mereka tinggal dalam lingkungan yang tidak mengakui hukum Allah, mereka dapat memilih untuk taat pada Allah dan hukum-hukum-Nya atau, taat pada hukum Babel. Daniel 1:8 mencatat bahwa Daniel dan kawan-kawan berketetapan untuk tidak menajiskan diri (AoI Aa uuaA: loAo-yiteggaAoa. Siahaan dan Paterson mengatakan, alasan Daniel menolak makanan dan minuman yang disiapkan bagi mereka adalah karena di dalamnya terdapat makanan yang dilarang Hukum Taurat, atau makanan itu telah dipersembahkan kepada berhala kafir. 21 Bagi VanGemeren mereka bukan sekadar menolak makanan yang tidak halal, tetapi memberi kesaksian akan perkembangan sebuah budaya tandingan bahkan di tempat pembuangan. 22 Hananya. Misael, dan Azarya dalam pasal 3 juga menolak menyembah patung emas yang didirikan raja sebagai dewa. Alkitab memang mengajarkan untuk taat pada pemerintah (Rm. 13:1-. , tetapi kewajiban terutama kita adalah kepada Allah. Saat berada dalam situasi yang menuntut kompromi terhadap imannya. Daniel memohon izin kepada pemimpin pegawai istana agar tidak menajiskan dirinya. Ketika permohonan itu ditolak, ia tidak mengambil sikap protes atau konfrontatif, melainkan mencari jalan lain yang lebih bijak. 23 Bagi Daniel, tidak ada keraguan bahwa ia berada di pihak yang benar dan bahwa mengikuti kehendak atasan dalam hal tersebut adalah keliru. VanGemeren. Penginterpretasian Kitab Para Nabi, 370. Donald C. Stamps. Alkitab Penuntun: Hidup Berkelimpahan, ed. Donald C. Stamps. Bahasa Ind (Malang: Gandum Mas, 2. , 1341. Siahaan and Robert M. Paterson. Kitab Daniel: Latar Belakang. Tafsiran. Dan Pesan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 64. VanGemeren. Penginterpretasian Kitab Para Nabi, 371. Kenneth Boa. Sid Buzzel, and Bill Perkins. Panduan Kepemimpinan Alkitabiah: Kepemimpinan Ilahi Dalam Rupa Insani (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2. , 473. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 Karena itu, alih-alih melakukan perlawanan terbuka atau mogok makan, ia memilih bersikap diplomatis dan menghormati otoritas yang berkuasa atas dirinya (Dan. 1:8-. Demikian pula, ketika raja mengeluarkan perintah yang tidak masuk akal dan membahayakan banyak orang (Dan. 2:1-. Daniel menanggapinya dengan kecerdasan dan kebijaksanaan, menegaskan bahwa manusia tidak mampu menafsirkan mimpi raja, melainkan hanya Allah yang sanggup melakukannya (Dan. 2:27-. Daniel dan kawan-kawannya menghadapi ancaman yang nyata. Dalam pasal 1, mereka terancam melanggar hukum agamanya, lagipula pemimpin pegawai istana takut disalahkan jika mereka tidak bersedia memakan hidangan istana. Dalam pasal 3 mereka diperhadapkan dengan ancaman dibakar hidup-hidup, jika tidak menyembah patung emas buatan raja. Dalam pasal 6 Daniel diancam hukuman masuk ke gua yang dipenuhi singa, jika berdoa kepada siapapun kecuali kepada raja. Bukannya menjadi takut, mereka malah memberi kesaksian yang berani dan terbuka tentang kesetiaan mereka kepada Allah. Mereka memilih taat kepada Allah sekalipun tahu akibat-akibatnya, inilah ketaatan yang Ketaatan dalam Kitab Daniel menuntun orang percaya untuk menyadari betapa pentingnya memiliki pengenalan yang benar akan Allah, pengakuan yang tulus, serta kerelaan menyangkal diri demi hidup dalam ketaatan pada kehendak-Nya. 25 Ketaatan ini tidak bersifat buta atau kaku, melainkan merupakan manifestasi dari relasi pribadi yang dekat dengan Tuhan. Mereka benar-benar sadar akan risiko yang timbul dari ketaatan pada kehendak Allah. Mereka tidak tahu bagaimana Tuhan akan melepaskan mereka dari hukuman raja, tetapi dengan iman mereka siap mati maupun hidup untuk Tuhan. Perjanjian Baru mencatat adanya penganiayaan terhadap jemaat Kristen oleh otoritas Romawi, contohnya yang terjadi pada Rasul Paulus. Paulus menyebut dia pernah didera maupun dilempari batu . Kor. Dari teladan hidup Paulus, orang percaya diajar bahwa meskipun penganiayaan karena iman akan selalu ada sepanjang zaman, hal itu bukanlah alasan untuk takut mengikuti Yesus, melainkan dorongan untuk semakin teguh dan setia dalam iman kepada-Nya. 26 Para martir Kristen pada masa awal menghadapi penganiayaan akibat iman mereka, sering kali harus menanggung penyiksaan kejam hingga kematian oleh penguasa Romawi. Namun, sekalipun terancam bahaya, mereka tetap setia Stamps. Alkitab Penuntun: Hidup Berkelimpahan, 1346. Aldorio Flavius Lele. AuKetaatan Menurut Kitab Daniel,Ay Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 2, no. : 79Ae96. Jeffry Octavianus Nessy. AuPandangan Rasul Paulus Terhadap Penganiayaan Yang Dialami Orang Kristen,Ay TEOKRISTI: Jurnal Teologi Kontekstual Dan Pelayanan Kristiani 1, no. : 25Ae38. CopyrightA 2-25. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ferdinand Iskandar. Tutur Parade Tua Panjaitan: Menjadi Saksi di Tengah Diskriminasi: Tafsiran Daniel 1-6 dalam Bingkai Moderasi Beragama di Indonesia pada iman, bahkan memandang kematian sebagai bentuk kesaksian yang kuat akan kebenaran iman Kristen. 27 Orang percaya tidak dapat menghindar dari kenyataan bahwa penganiayaan akan selalu ada di dunia ini. Siswanto dkk berdasarkan penelitian atas Matius 10:17Ae31, mengatakan sikap gereja dalam menghadapinya adalah dengan tetap waspada terhadap ancaman, berani memberi kesaksian tentang Yesus Kristus, teguh dalam iman tanpa murtad, serta tabah bertahan di tengah tekanan. 28 Tidak ada kesan fanatisme berlebihan dalam kisah ketabahan gereja mula-mula dalam menghadapi diskriminasi di zamannya, ini menjadi teladan penting bagi orang percaya di Indonesia yang menghadapi tindakantindakan diskriminatif. Tindakan Daniel dan kawan-kawan bukan sebuah provokasi yang mencari konflik, melainkan sebuah demonstrasi diam dari identitas spiritualnya di tengah lingkungan yang asing dan dominan. Ketaatan ini menjadi fondasi bagi semua keberaniannya di masa depan. Ia menolak untuk mengompromikan identitasnya, bukan karena ia ingin menentang raja secara politik, melainkan karena ia ingin tetap setia kepada Tuhannya. Relasi pribadi yang kuat inilah yang menjadi sumber kekuatan, yang menumbuhkan integritas dan karakter yang tak bercela. Kisah Daniel dan ketiga sahabatnya merupakan contoh ketaatan relasional kepada Allah, bukan ketaatan yang buta. Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk hidup sebagai hamba Allah yang setia dalam semua situasi. 29 Ketaatan Daniel tidak lahir dari paksaan, melainkan dari pengenalan yang benar akan Tuhan dan relasi pribadi yang dalam denganNya. Siahaan dan Paterson mengatakan tujuan narasi ini adalah mendorong orang Yahudi supaya tetap beriman sekalipun berada dalam lingkungan asing. 30 Dalam bingkai moderasi beragama di Indonesia, kesaksian yang autentik dimulai dari fondasi spiritual yang kuat, ketaatan kepada Allah. Ketika umat beriman dihadapkan pada tekanan untuk mengompromikan keyakinannya, baik melalui peraturan yang membatasi ibadah atau intimidasi sosial, ketaatan mereka harus berakar pada hubungan yang tak tergoyahkan dengan Tuhan. Hal ini jangan dinilai sebagai sikap fundamentalis, radikal, fanatik, dan ekstrem yang sering kali Lenny and Purnama. AuMartir: Kesaksian Akhir Hidup Para Murid Yesus Dalam Pemberitaan Injil Pada Awal Kekristenan Dan Implikasinya Bagi Penginjil Di Masa Kini. Ay Krido Siswanto et al. AuRespon Gereja Terhadap Penganiayaan Berdasarkan Matius 10:17-33,Ay Skenoo: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 1, no. : 11Ae22. Siahaan and Paterson. Kitab Daniel: Latar Belakang. Tafsiran. Dan Pesan, 68. Siahaan and Paterson, 65. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 menjadi faktor pemicu terjadinya konflik. 31 Ketaatan semacam ini bukanlah tindakan provokatif, melainkan sebuah pernyataan eksistensial bahwa identitas diri mereka tidak ditentukan oleh sistem di sekitarnya, melainkan oleh Tuhan yang mereka sembah. Nilai toleransi dalam moderasi beragama bukan berarti meniadakan ketaatan kepada iman. Toleransi berarti menghormati hak orang lain untuk meyakini dan menjalankan imannya, tanpa harus mengorbankan keyakinan pribadi. Integritas Moral: Kekuatan di Tengah Kelemahan Sistem Daniel 6 mencatat bagaimana bawahan Daniel iri hati atas kemajuan kariernya, dan berkomplot menyerang Daniel atas kesalehannya (Dan. 6:1-. Pfeiffer dan Harrison menulis bahwa Daniel dan ketiga sahabatnya selain digoda dengan penyimpangan iman, juga dengan mengompromikan iman. 32 Tetapi mereka bisa menjadi tokoh terkemuka di antara para pejabat tinggi tanpa harus mengabaikan integritas moral. Musuh-musuh politis tidak ada harapan untuk mendakwa mereka. Stamps mengatakan, satu-satunya cara untuk menghukum mereka adalah membenturkan imannya dengan peraturan pemerintah. 33 Itu sebabnya para lawan memprovokasi raja untuk membuat aturan-aturan yang bertentangan dengan iman keempat sahabat itu, seperti larangan berdoa, dan keharusan menyembah Puncak dari model kesaksian Daniel terlihat dalam narasi gua singa di pasal 6. Para pejabat tinggi dan wakil raja yang iri dengan kesuksesan Daniel berupaya menjatuhkannya . Mereka Auberusaha mencari alasan untuk menjatuhkan Daniel,Ay tetapi tidak menemukan Ausuatu cela atau suatu kesalahanAy pada dirinya. Teks A. a i uaAlaAo nehasekah kal AoillaA. , secara harfiah berarti Autidak ada kesalahan atau kebusukan yang ditemukanAy pada Daniel. Kakauhe dan Widjaja mengatakan karakter Daniel dibentuk terutama oleh karya Roh Kudus, yang kemudian menghasilkan sifat-sifat yang menjadikannya pribadi yang unggul. 34 Kejujuran dan integritas Daniel dalam menjalankan tugasnya membuat ia tidak dapat diserang dari sisi moral atau administratif. Karena tidak menemukan celah pada karakternya, para musuh Daniel terpaksa menggunakan Auhukum agamanyaAy sebagai senjata untuk menjebaknya. Mereka membujuk raja untuk mengeluarkan Efesus Suratman et al. AuModerasi Beragama Dalam Perspektif Hukum Kasih,Ay in Prosiding Pelita Bangsa (Jakarta: STT Pelita Bangsa, 2. , 81Ae90. Charles F. Pfeiffer and Everett F. Harrison. The Wycliffe Bible Commentary Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 2 Perjanjian Lama: Ayub - Maleakhi (Malang: Gandum Mas, 2. , 896. Stamps. Alkitab Penuntun: Hidup Berkelimpahan, 1353. Phanny Tandy Kakauhe and Fransiskus Irwan Widjaja. AuKarakteristik Kepemimpinan Pentakostal-Karismatik: Refleksi Daniel 6:4,Ay DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika 3, no. : 82Ae CopyrightA 2-25. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ferdinand Iskandar. Tutur Parade Tua Panjaitan: Menjadi Saksi di Tengah Diskriminasi: Tafsiran Daniel 1-6 dalam Bingkai Moderasi Beragama di Indonesia peraturan yang melarang doa kepada siapa pun kecuali raja. Dinamika ini menunjukkan sebuah pola yang luar biasa: integritas Daniel begitu kuat sehingga ia tidak bisa diserang secara langsung. Sebaliknya, musuh-musuhnya harus menciptakan sebuah aturan baru yang sengaja dirancang untuk menargetkan keyakinan agamanya. Situasi ini secara luar biasa selaras dengan dinamika diskriminasi kontemporer, di mana sering kali masalahnya bukanlah pada karakter atau kontribusi umat beragama AuminoritasAy, melainkan pada keyakinan dan praktik iman mereka itu sendiri. Daniel dan ketiga sahabatnya menonjol dalam pelayanan kepada Tuhan maupun kepada raja (Dan. 2:48. 5:29. Integritas mereka terbukti, tidak seorang pun mendapati ada kesalahan pada mereka (Dan. VanGemeren mengatakan, integritas mereka menjadi saksi hidup bagi Tuhan, dan dalam setiap perkataan yang diucapkan tidak memperlihatkan adanya fanatisme atau ketidaksopanan. 35 Integritas Daniel dan sahabat-sahabatnya menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Allah tidak menghalangi seseorang untuk tetap berprestasi dan dihormati dalam lingkungan sekuler. Justru melalui integritas yang konsisten, mereka menjadi saksi yang meyakinkan tentang Allah tanpa harus bersikap fanatik atau tidak sopan, sehingga iman dapat hadir sebagai kekuatan yang membangun, bukan sebagai sumber perpecahan. Dalam Perjanjian Baru. Rasul Petrus menyebut orang percaya sebagai pendatang dan perantau, yang dimaknai sebagai Auorang asing. Ay Identitas ini relevan bagi orang Kristen di setiap zaman, sebab mereka dianggap sebagai pendatang di dunia. Sebagai pendatang, seseorang tidak memiliki kebebasan untuk bertindak sesuka hati, melainkan dituntut untuk menjaga diri dengan baik. 36 Identitas orang percaya sebagai AupendatangAy menuntut mereka untuk hidup dengan sikap yang berbeda dari dunia, yakni menjaga kesucian dan perilaku yang benar. Status sebagai orang asing menegaskan bahwa kehidupan Kristen tidak diarahkan pada pemuasan keinginan diri, melainkan pada kesaksian hidup yang mencerminkan panggilan Allah di tengah dunia. Kerusakan sistem hukum di Indonesia terlihat dari lemahnya penegakan hukum yang sering dipengaruhi kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan. Praktik korupsi, mafia peradilan, serta ketidakadilan dalam proses hukum membuat kepercayaan publik semakin Hukum kerap tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, sehingga masyarakat kecil lebih mudah dijerat sementara pelaku pelanggaran dari kalangan berkuasa sering lolos dari VanGemeren. Penginterpretasian Kitab Para Nabi, 372. Amran. AuGereja Fobia: Refleksi Surat 1 Petrus 2:11-17 Dalam Merespons Diskriminasi Terhadap Gereja Di Indonesia. Ay CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 jerat hukum. 37 Kondisi ini menunjukkan perlunya orang-orang yang setia menjalankan hukum berlandaskan kejujuran, integritas, dan keberpihakan pada keadilan, sebagai contoh bagi masyarakat yang lebih luas. Integritas moral sangat penting di tengah sistem yang rusak karena menjadi penopang utama agar seseorang tidak hanyut dalam arus ketidakadilan dan penyimpangan. Dalam kondisi di mana korupsi, manipulasi, dan kompromi sering dianggap wajar, integritas moral meneguhkan pribadi untuk tetap jujur, konsisten, dan setia pada nilai kebenaran. Kehadiran orang-orang berintegritas menjadi terang yang mampu memberikan teladan, sekaligus menjadi kekuatan transformasi yang mendorong perubahan positif bagi lingkungan Seseorang yang berintegritas adalah pribadi yang utuh, di mana pikiran dan perasaan dalam hatinya selaras dengan apa yang tampak dalam tindakan lahiriah. 38 Ucapan yang keluar dari mulutnya mencerminkan karakter dirinya secara benar dan konsisten. Integritas Daniel dalam Kitab Daniel 6 tampak jelas ketika ia tetap setia berdoa kepada Allah meskipun ada larangan yang mengancam nyawanya. Sekalipun ia mengetahui konsekuensinya adalah dimasukkan ke gua singa. Daniel tidak tergoyahkan dan tidak berusaha menyembunyikan Kesetiaannya menunjukkan bahwa integritas sejati bukan sekadar kesesuaian antara ucapan dan tindakan, tetapi juga keberanian untuk tetap taat kepada Allah meski berada dalam tekanan dan bahaya. Barus dkk menyebut Ajaran Kristen mengenai kesetaraan, keadilan, dan kasih terhadap sesama menjadi dasar yang kokoh untuk menolak dan melawan setiap bentuk sikap maupun tindakan diskriminatif. 39 Ajaran Kristen tentang kesetaraan, keadilan, dan kasih sesama sejalan dengan nilai moderasi beragama di Indonesia yang menekankan penghormatan terhadap perbedaan serta penolakan terhadap diskriminasi. Dengan berpegang pada prinsip-prinsip iman ini, umat Kristen dapat berperan aktif dalam memperkuat harmoni sosial dan memperjuangkan keadilan bersama, sehingga kehadiran mereka menjadi kontribusi nyata bagi terciptanya kehidupan beragama yang rukun dan inklusif di tengah masyarakat majemuk. Pijar Qolbun Sallim. AuProblematika Penegakan Hukum Berkeadilan Di Indonesia,Ay Universitas Andalas, 2024, https://w. id/berita/opini/861-opini-mahasiswa-unand. Boa. Buzzel, and Perkins. Panduan Kepemimpinan Alkitabiah: Kepemimpinan Ilahi Dalam Rupa Insani, 472. Barus et al. AuPeran Pendidikan Agama Kristen Melawan Diskriminasi Di Masyarakat Majemuk Indonesia. Ay CopyrightA 2-25. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ferdinand Iskandar. Tutur Parade Tua Panjaitan: Menjadi Saksi di Tengah Diskriminasi: Tafsiran Daniel 1-6 dalam Bingkai Moderasi Beragama di Indonesia Penelitian oleh Anshori dan Soelasih tahun 2024 menegaskan bahwa karakter teladan Daniel tampak jelas dalam pasal 6, di mana ia digambarkan sebagai pribadi yang memiliki Roh yang luar biasa, hidup kudus di hadapan Allah, menjalin relasi yang erat dengan-Nya, serta memiliki keyakinan teguh akan pertolongan Allah. 40 Nilai-nilai ini dapat menolong orang Kristen membentuk karakter yang kuat dan setia, menjadi pribadi unggul dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus berkontribusi positif bagi komunitas dan hubungan mereka dengan Tuhan. Integritas Daniel dalam menjaga kekudusan hidup, kesetiaan pada Allah, dan keyakinannya yang kokoh menjadi teladan penting bagi penerapan moderasi beragama di Indonesia. Integritas seperti itu meneguhkan bahwa kesetiaan pada iman tidak harus berujung pada sikap eksklusif atau intoleran, melainkan justru mendorong seseorang untuk tetap berpegang pada keyakinannya dengan cara yang bijaksana, beretika, dan membangun kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk. Integritas Daniel yang tak bercela membuat musuh-musuhnya tidak memiliki pilihan lain selain menyerang keyakinan agamanya secara langsung. Ini adalah pelajaran penting bagi umat beriman di Indonesia. Ketika umat beriman hidup dengan integritas, baik dalam perilaku sehari-hari maupun dalam urusan legal-administratif, mereka menghilangkan alasan bagi para penyerang untuk menggunakan dalih moral atau kriminal. Seperti yang terjadi pada kasus HKBP Maranatha di Cilegon, isu yang dipermasalahkan sering kali adalah urusan administratif dukungan tanda-tangan masyarakat. 41 Dengan memastikan bahwa semua aspek kehidupan dijalani dengan integritas, umat beriman dapat mengubah narasi konflik dari Aupelanggaran hukumAy menjadi Auintoleransi berkedok hukum. Ay Hal ini menempatkan tanggung jawab pada sistem yang gagal melindungi, bukan pada korban yang dituduh melanggar. Doa sebagai Penyerahan Diri: Fondasi Keberanian Daniel pasal 6 mencatat kisah Daniel yang tekun berdoa . , hingga orang-orang di sekitarnya tahu waktu-waktu yang biasa di mana Daniel berdoa . , dan menggunakannya sebagai alat untuk menyerang Daniel . Stamps berkata, selain sifat integritas yang tinggi, tokoh-tokoh dalam Kitab Daniel ditandai dengan ciri ketekunan dalam Vebi Wijayanti Anshori and Soelasih Soelasih. AuPeranan Karakter Daniel Menurut Kitab Daniel Pasal 6 Dan Penerapannya Bagi Remaja Kristen Masa Kini,Ay RITORNERA: Jurnal Pentakosta Indonesia 4, 2 . : 104Ae15. Wawan Wahyudin. AuMengurai Polemik Penolakan Pendirian Gereja Di Cilegon,Ay Kementrian Agama Republik Indonesia, 2022, https://kemenag. id/opini/mengurai-polemik-penolakan-pendiriangereja-di-cilegon-jr7bvt. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 42 Dalam doa. Daniel dan ketiga sahabatnya berhubungan secara pribadi dengan Allah, karena itu mereka mendapat ketenangan, kemampuan untuk bertahan sekalipun menghadapi Daniel disiplin dalam doa, kontras dengan para pejabat bawahan Daniel yang iri hati, dan Darius yang sombong. 43 Ketekunan dalam doa merupakan sumber kekuatan utama bagi orang percaya untuk mempertahankan integritas di tengah ancaman dan tekanan. Doa menjadikan Daniel dan sahabat-sahabatnya mampu menghadapi tantangan dengan tenang, berbeda dari para pejabat yang dikuasai iri hati dan dari Raja Darius yang dipenuhi Hal ini menunjukkan bahwa doa bukan hanya bentuk kesalehan pribadi, tetapi juga fondasi moral dan spiritual yang membedakan orang beriman dari mereka yang hidup tanpa arah ilahi. Dalam berdoa diperlukan sikap yang benar, yakni melakukannya dengan penuh ketekunan, disertai dengan berpuasa, serta merendahkan diri di hadapan Tuhan. 44 Kitab Daniel berulang kali menunjukkan peran sentral doa dalam hidupnya. Pasal 6 ayat 11 mencatat Daniel AA A a A( auiA e y IAbaAoeAo umitehannan qodam Aoelahe. Doa adalah kunci untuk memulai dan memelihara relasi pribadi dengan Tuhan. Doa Daniel di hadapan singa bukanlah tindakan putus asa, melainkan manifestasi dari penyerahan diri total dan kepercayaan penuh pada kedaulatan Tuhan. Dalam konteks diskriminasi, di mana ketakutan dan ancaman sering kali dominan, doa menjadi fondasi keberanian. Doa bukan hanya permohonan, tetapi juga tindakan pengakuan bahwa kekuatan sejati tidak datang dari manusia, tetapi dari Tuhan. Model ini mengajarkan bahwa meskipun umat beriman mengalami diskriminasi, ditekan, bahkan dianiaya, mereka dapat meneladani Kristus yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan berdoa bagi mereka yang Salah satu praktik yang dijalani jemaat mula-mula sebagaimana diceritakan dalam Kisah Para Rasul 2 adalah ketekunan dalam doa. Bagi mereka, doa bukan sekadar rutinitas, melainkan telah menjadi pola hidup rohani yang dijalani dengan sungguh-sungguh dan 45 Jemaat mula-mula memberikan teladan ketekunan dalam doa (Kis. 1:14. meskipun mereka hidup di tengah ancaman penganiayaan dan bahkan dikejar untuk dibunuh. Stamps. Alkitab Penuntun: Hidup Berkelimpahan, 1340. Pfeiffer and Harrison. The Wycliffe Bible Commentary Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 2 Perjanjian Lama: Ayub - Maleakhi, 914. Pirtondim Berutu and Setiaman Larosa. AuKonsep Doa Daniel Sebagai Panduan Bersyafaat Bagi Orang Kristen Masa Kini,Ay Mawar Saron: Jurnal Pendidikan Kristen Dan Gereja 7, no. : 31Ae46. Roberth Ruland Marini and Moodi Yafeth Marweri. AuPola Hidup Jemaat Menurut Kisah Para Rasul 2:41-47 Dan Implementasinya Bagi Jemaat GPdI Di Wilayah Sentani Barat Jayapura Papua,Ay KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta 8, no. : 193Ae215. CopyrightA 2-25. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ferdinand Iskandar. Tutur Parade Tua Panjaitan: Menjadi Saksi di Tengah Diskriminasi: Tafsiran Daniel 1-6 dalam Bingkai Moderasi Beragama di Indonesia Doa bagi mereka bukanlah pelarian dari masalah, melainkan sumber kekuatan untuk tetap setia kepada Kristus dan berani memberitakan Injil. Sekalipun ditekan dan terancam oleh penguasa maupun lingkungan sekitar, mereka tidak berhenti berdoa, melainkan semakin bersehati dalam memohon pertolongan Allah. Dari ketekunan doa itu, jemaat mula-mula memperoleh keberanian, penghiburan, serta pengalaman akan kuasa Roh Kudus yang memampukan mereka bertahan dalam penderitaan dan menjadi saksi yang hidup bagi dunia. Kisah Daniel dalam pasal 6 menunjukkan bahwa doa merupakan pusat dari integritas dan kesetiaannya kepada Allah. Daniel menjalani kebiasaan rohani dengan berdoa kepada Allah tiga kali sehari, sebagai wujud dari disiplin spiritual yang ia pelihara dengan setia. Meskipun ada peraturan raja yang melarang siapa pun memohon kepada allah atau manusia selain kepada raja selama tiga puluh hari. Daniel tetap berdoa kepada Allah seperti yang biasa ia lakukan. Dari sini tampak bahwa doa baginya bukan sekadar kebiasaan, melainkan suatu kebutuhan rohani yang tidak bisa digantikan oleh apa pun, bahkan ancaman hukuman mati sekalipun. Orang percaya di Indonesia sampai saat ini masih menghadapi sikap dan tindakan diskriminatif, penolakan pendirian gereja di Samarinda, termasuk pelarangan ibadah-ibadah Kristiani di berbagai tempat. 47 Beberapa orang mulai takut dan berhenti bergabung dalam ibadah, sementara yang lain tetap setia dalam doa dan ibadahnya. Pelajaran yang dapat dipetik dari Daniel adalah konsistensi dalam doa. Daniel tetap melaksanakan doa tiga kali sehari secara teratur, meskipun ia tahu tindakannya dapat membahayakan dirinya. Hal ini mengajarkan bahwa doa bukanlah aktivitas situasional, melainkan disiplin rohani yang harus dipertahankan dalam segala keadaan. Konsistensi seperti ini menunjukkan kesetiaan hati yang tidak mudah digoyahkan oleh tekanan eksternal. konsistensi doa Daniel menunjukkan bagaimana iman dapat dijalankan dengan teguh meskipun berada dalam situasi Keteguhan ini relevan dalam konteks moderasi beragama di Indonesia, di mana setiap umat beragama dipanggil untuk setia menjalankan keyakinannya tanpa harus meniadakan penghormatan terhadap iman orang lain. Dengan demikian, doa bukan hanya bentuk kesalehan pribadi, tetapi juga sebuah sikap moderat yang menegaskan kesetiaan Agustin Soewitomo Putri. AuMenstimulasi Kualitas Kehidupan Rohani Dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar Mahasiswa: Studi Refleksi Daniel 6:1-4,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 1, no. : 167. Achmad Fanani Rosyidi and Halili Hasan. AuIntoleransi Makin Marak. Presiden Jangan Acuh Tak Acuh!,Ay SETARA: Institution for Democrazy and Peace, 2025, https://setara-institute. org/intoleransi-makinmarak-presiden-jangan-acuh-tak-acuh/. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 kepada iman sambil tetap memberi ruang bagi terciptanya kerukunan dalam masyarakat yang majemuk. Setelah undang-undang diberlakukan. Daniel tetap berdoa sebagaimana biasanya tanpa melakukan perlawanan terbuka, melainkan terus setia dalam ibadahnya kepada Allah. Ia tidak terlalu mengutamakan keselamatan dirinya, tetapi menaruh harapan pada pemulihan bagi bangsanya. Sekalipun hidupnya lebih terjamin di negeri asing. Daniel tidak pernah melupakan identitasnya sebagai umat Allah. 48 Sikap Daniel menunjukkan bagaimana iman dapat dijalankan dengan teguh meskipun berada dalam tekanan diskriminatif. Daniel tidak menempuh jalan perlawanan keras, melainkan tetap setia beribadah dengan cara yang bijak dan penuh integritas. Hal ini relevan dengan moderasi beragama di Indonesia, di mana umat beriman ditantang untuk mempertahankan identitas religiusnya tanpa harus menimbulkan konflik, serta menaruh harapan pada kebaikan bersama. Dengan demikian, keteladanan Daniel mengajarkan bahwa kesetiaan kepada iman dapat berjalan seiring dengan sikap moderat yang menjaga kerukunan dalam masyarakat majemuk. Bagi Daniel doa adalah wujud ketaatan, bukan sekadar permohonan. Daniel berdoa dengan penuh kerendahan hati, bersyukur kepada Allah, dan tetap bersandar pada-Nya di tengah ancaman. Doa tidak dilihat sebagai sarana untuk mengubah keadaan sesuai keinginannya, melainkan sebagai bentuk relasi erat dengan Allah yang meneguhkan iman dan memperkuat keberanian. Doa sebagai wujud ketaatan, sebagaimana diteladankan Daniel, memperlihatkan bahwa iman sejati tidak ditentukan oleh situasi eksternal, termasuk diskriminasi yang membatasi kebebasan beragama. Dalam konteks moderasi beragama di Indonesia, sikap Daniel menjadi teladan bahwa ketaatan kepada Allah dapat dijalani dengan kerendahan hati dan rasa syukur, bukan dengan sikap konfrontatif. Dengan demikian, doa yang lahir dari relasi yang tulus dengan Allah menumbuhkan iman yang teguh sekaligus mendorong sikap moderat, yakni tetap setia pada keyakinan tanpa menimbulkan pertentangan dengan keberagaman di sekitarnya. Tafsiran Daniel 1-6 dalam bingkai moderasi beragama di Indonesia menunjukkan bahwa kesaksian Kristen di tengah diskriminasi diwujudkan melalui ketaatan relasional, integritas moral, dan doa sebagai penyerahan diri. Dalam bingkai moderasi beragama tafsiran ini menemukan relevansinya secara nyata dalam konteks Indonesia yang masih menghadapi berbagai bentuk diskriminasi keagamaan. Seperti Daniel dan kawan-kawannya yang tetap setia kepada Allah di tengah tekanan politik dan sosial Babel, demikian pula umat Yusak Christian. AuDilema Kekuasaan Raja Darius: Tafsir Eksegesis Dan Implikasi Kepemimpinan Dalam Daniel 6,Ay NAHIRU: Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen 1, no. : 27Ae43. CopyrightA 2-25. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Ferdinand Iskandar. Tutur Parade Tua Panjaitan: Menjadi Saksi di Tengah Diskriminasi: Tafsiran Daniel 1-6 dalam Bingkai Moderasi Beragama di Indonesia Kristen di Indonesia dipanggil untuk memberi kesaksian melalui ketaatan relasional kepada Allah, menjaga integritas moral dalam kehidupan publik, serta meneguhkan doa sebagai wujud penyerahan diri. Model kesaksian ini selaras dengan prinsip moderasi beragama yang menolak sikap ekstrem dan konfrontatif, tetapi mendorong umat beriman untuk tetap teguh pada keyakinannya sambil berkontribusi positif dalam masyarakat plural. Dengan demikian, kisah Daniel tidak hanya menjadi teladan iman personal, tetapi juga menjadi kerangka teologis yang meneguhkan peran gereja dan umat Kristen sebagai saksi yang mampu menghadirkan damai di tengah realitas diskriminasi di Indonesia. KESIMPULAN Tafsiran Daniel 1-6 dalam bingkai moderasi beragama di Indonesia menunjukkan bahwa kesaksian Kristen di tengah diskriminasi diwujudkan melalui ketaatan relasional, integritas moral, dan doa sebagai penyerahan diri. Kisah Daniel dan kawan-kawan menawarkan sebuah model kesaksian yang luar biasa bagi umat beriman yang berada di bawah tekanan dan diskriminasi. Menjadi saksi di tengah diskriminasi bukan berarti konfrontatif mencari penganiayaan, melainkan menjalani hidup yang taat dalam iman dan berintegritas dalam moral. Doa menjadi fondasi keberanian menjalankannya. Secara praktis, bagi gereja, tafsiran ini mendorong penguatan spiritualitas dan pembinaan umat agar tetap teguh bersaksi tanpa kehilangan sikap moderat di ruang publik. Bagi umat Kristen secara personal, kisah ini menjadi teladan untuk tetap memelihara kesetiaan pada Allah sekaligus menjaga integritas moral dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan bagi masyarakat plural, model kesaksian Daniel menegaskan bahwa iman yang dihidupi dengan taat dan berintegritas tidak mengancam kerukunan, tetapi justru memperkaya relasi sosial dan membangun kontribusi positif bagi kehidupan bersama. REFERENSI