Volume 1 Issue 1 . Pages 29-44 Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran ISSN: 2721-1169 (Onlin. , 2721-1150 (Prin. INTEGRASI NILAI-NILAI ISLAM WASATHIYYAH DAN NASIONALISME DI MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI (MIN) 15 MAGETAN Imam Muddin Marasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan email: Sejatiningurip97@gmail. Abstract: The mainstreaming of Islam that is specifically in the context of Islamic education in Indonesia lately can be seen from the efforts of the Ministry of Religion through the Directorate of Curriculum, facilities, institutions, and students (KSKK) Madrasas in formulating 12 mainstay programs. With this follow-up program it is hoped that an understanding of the concept of Islamic wasathiyah will be created in accordance with the Islamic character of the archipelago. The world of education is a place in shaping the character of the generations of this nation. Moreover, this nation is faced with the threat of radical religious understanding carried out by a group of persons and the disintegration of the nation. Because the process of integrating values in the concept of Islamic wasathiyyah and nationalism with character education in madrasas is very necessary. The process can be done from three sides, namely: through classroom learning, madrasa culture, and extracurricular activities. Similarly, what has been done in MIN 15 Magetan. The integration process is carried out with these three activities. Abstrak: Pengarusutamaan Islam yang wasathan khususnya dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia akhir-akhir ini bisa dilihat dari upaya Kemenag melalui Direktorat Kurikulum, sarana, kelembagaan, dan kesiswaan (KSKK) Madrasah dalam merumuskan 12 program Dengan adanya program tindak lanjut tersebut diharapkan terciptanya pemahaman konsep Islam wasathiyah yang sesuai dengan watak keislaman Nusantara. Dunia pendidikan merupakan wadah dalam membentuk karakter generasi-generasi bangsa ini. Terlebih bangsa ini dihadapkan dengan ancaman pemahaman agama yang radikal yang dilakukan oleh sekelompok oknum dan dis integrasi bangsa. Oleh karena proses integrasi nilai-nilai di dalam konsep Islam wasathiyyah dan nasionalisme dengan pendidikan karakter di madrasah sangatlah diperlukan. Proses tersebut bisa dilakukan dari tiga sisi yaitu: melalui pembelajaran di kelas, budaya madrasah, dan kegiatan ekstrakurikuler. Begitu pula yang telah dilakukan di MIN 15 Magetan. Proses integrasinya dilakukan dengan tiga kegiatan Keywords: Islam wasathiyyah, nasionalisme, pendidikan karakter. Copyright . 2020 Imam Muddin Received 10 Nopember 2019. Accepted 5 Februari 2020. Published 1 Maret 2020 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 29 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan PENDAHULUAN Islam sebagai agama samawi yang ditturunkan Tuhan kepada umat manusia dalam prinsipnya mengandung perintah positif. Sehingga dalam perkembangannya. Islam dikenal sebagai agama yang rahmatan lil Aoalamin . embawa kedamaia. Akan tetapi dalam beberapa tahun belakangan ini kehidupan beragama, khususnya di Indonesia mulai mendapat banyak sorotan dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negri. Hal ini disebabkan banyaknya konflik kegamaan, mulai dari penistaan agama, pengrusakan sarana ibadah, ujaran kebencian di berbagai media sosial sampai pada ranah radikalisasi keberagamaan yang ditunggangi oleh sekelompok golongan yang mengatasnamakan Islam. Tentunya hal itu telah mencoreng sisi AuperdamaianAy Islam sendiri. Fenomena-fenoma di atas pada akhirnya telah banyak memunculkan sentimen keagamaan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena hal ini menyangkut nasionalisme dan keutuhan NKRI. Belum lagi dengan maraknya kelompok-kelompok Islam garis keras yang tidak mau mentolerir dan sulit berkompromi dengan pemahaman agama lain yang berbeda dengan keyakinan mereka. Kalau ditelusuri lebih mendalam, konflik yang terjadi di negara ini bersumber dari gagalnya mendialogkan pemahaman agama dengan realita sosial yang ada di Indonesia. Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor, yaitu: Pertama, pembelajaran agama yang setengah-setengah melalui doktrinisasi. Kedua, literal pemahaman agama yang hanya memahami kulitnya saja, dan ketiga adanya kecenderungan mengharamkan semua hal yang AukatanyaAy tidak sesuai sunnah Nabi. Hal ini menjadikan umat Islam merasa berat untuk Oleh karenanya, untuk mengatasi situasi mendesak tersebut, dan karena yang paling rentan adalah sentimen keagamaan, maka konsep Islam wasathiyah menjadi sebuah solusi yang secara masif ditawarkan. Proyek Islam wasathiyah sebagai kebutuhan mendesak di satu sisi,dan geliat ekstremisme yang tidak kalah masif disisi lainnya merupakan fenomena yang Hal ini dapat dipahami sebagai menguatnya fundamentalisme islam di Indonesia, tetapi justru dengan itu kita dapat mengetahui tantangan negri plural ini lalu melestarikan persatuan dalam perbedaan, mengamalkan keberagamaan di tengah keragaman. Seperti yang lazim diketahui, jika kita menilik sejarah, akan ditemukan kenyataan bahwa Islam datang ke nusantara utamanya di Jawa, pada saat tradisi Hindu dan Budha. Ahmad Khoiri. AuModerasi Islam Dan Akulturasi Budaya. Revitalisasi Kemajuan Peradaban Islam Nusantara IslamadinaAy. Islamadina Jurnal Pemikiran Islam Vol. 20 No. 1 (Maret, 2. , 2. 30 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan Disamping tawaran di atas tadi, bangsa ini memang harus waspada karena kuat dan derasnya informasi yang diterima masyarakat dari media sosial ataupun media lain yang kadang merusak integrasi bangsa. Terkadang adanya ketidakseragaman informasi yang Hal tersebut mengingatkan pada ajaran Ki Hajar Dewantara dalam konsep Tri Pusat Pendidikan yang integratif. Pusat Pendidikan ada 3, yaitu: Sekolah/Lembaga Pendidikan. Keluarga, dan Masyarakat . edia, masyarakat secara konvensional maupun masyarakat kontemporer: WA Group dan yang sejeni. Dimana ketiga pusat pendidikan ini harus konsisten mengajarkan hal-hal yang baik. Ketika ditarik ke dalam dunia pendidikan, maka model pemahaman pendidikan agama yang kaffah yang menekankan konsep Islam wasathiyyah dan menekankan pentingnya dialog dan proses kompromi menjadi sebuah kebutuhan utama bagi bangsa ini. Hal ini sebagai langkah untuk menciptakan harmonisasi dalam keberagamaan bagi seluruh generasi bangsa ini. Penekanan tentang konsep Islam wasathiyah sudah seharusnya ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Terlebih apabila materi kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah dikaji lebih mendalam, maka akan ditemukan integrasi dari delapan belas nilai-nilai karakter yang tertulis di dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 tahun 2017. Di mana delapan belas nilai karakter tersebut, beberapa nilai merupakan integrasi antara nilai Islam wasathiyyah dan nasionalisme yang terbingkai rapi dalam materi-materi pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah. 2 Integrasi nilai-nilai Islam wasathiyah dan nasionalisme sangat penting ditanamkan sejak usia sekolah dasar agar peserta didik menjadi pribadi yang mampu menghargai setiap perbedaan dari orang lain, toleran dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kegelisahan penulis dalam hal ini, berangkat dari dari alasan jika anak-anak usia dini tidak dikenalkan dengan nilai-nilai wasathiyyah . maka dikhawatirkkan ketika tumbuh dewasa kelak akan mudah terpengaruh dan bahkan dipengaruhi paham liberal dan ekstrim yang nantinya dapat mengancam dis-integrasi bangsa Indonesia. Melihat akan bahaya dis-integrasi yang terus mengancam bangsa Indonesia dan pentingnya pengintegrasian nilainilai wasathiyyah dan nasionalisme di dalam proses pendidikan, tentunya menjadi sebuah Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti mencoba ingin meneliti lebih lanjut tentang penerapan konsep Islam Wasathiyah di MIN 15 Magetan. Oleh karena itu, penelitian Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 31 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan ini mencoba memfokuskan pada kajian menganalisis konsep Islam wasathiyyah, menganalisis ide dan program konsep Islam wasathiyyah dalam pendidikan Islam khususnya. KONSEP ISLAM WASATHIYAH Ibnu Faris menjelaskan dalam dalam kitab AuMaqayisul LughahAy bahwa rangkaian huruf wawu, ,menunjukkan dan pertengahan. Al-Asfahaniy mendefinisikan AuwasathanAy dengan AusawaAounAy yaitu tengah-tengah diantara dua batas, atan dengan keadilan, yang tengah-tengah atau yang standar atau yang biasa-biasa saja, wasathan juga bermakna menjaga dari bersikap ifrath dan tafrith. 3 Makna wasathan diartikan sebagai sebuah kondisi terpuji yang menjaga seseorang dari kecenderungan menuju dua sisi/sikap yang ekstrem, sikap berlebih-lebihan dan melalaikan. Al-wasathiyah juga bisa diartikan dengan kondisi seimbang dan setara antara dua sisi. di mana satu sisi/ aspek tidak melampaui aspek yang lain. sehingga tidak ada yang berlebihan dan tidak pula melalaikan, tidak melampaui batas dan mengurangi. Namun, makna al-wasathiyah adalah sikap mengikuti yang lebih utama, lebih pertengahan, lebih baik dan lebih sempurna. Pemahaman dan praktik amaliah keagamaan seorang muslim wasathiyyah memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Tawassuth . engambil jalan tenga. , yaitu pemahaman dan pengamalan yang tidak ifryth . erlebih-lebihan dalam beragam. dan tafryth . engurangi ajaran agam. Tawyzun . , yaitu pemahaman dan pengamalan agama secara seimbang yang meliputi semua aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi, tegas dalam menyatakan prinsip yang dapat membedakan antara inhiraf . dan ikhtilaf . IAotidyl . urus dan tega. , yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban secara proporsional. Tasymuh . , yaitu sikap toleran terhadap perbedaan yang masuk dalam wilayah perbedaan/masalah ikhtilaf, bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda. Tasammuh dimaknai juga sebagai sikap toleran terhadap perbedaan, baik dalam masalah keagamaan, terutama dalam hal-hal yang bersifat furuA atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. Terlepas dari berbagai definisi di atas, mengutip perkataan Hilmy yang Alasan Peneliti memilih Madrasah Ibtidaiyah sebagai objek penelitian, dikarenakan pada usia sekolah dasar inilah, sangat penting ditanamkan pendidikan karakter. Afrizal Nur. Mukhlis Lubis. AuKonsep Wasathiyah Dalam Al-Quran. (Studi Komparatif Antara Tafsir Al-Tahryr Wa At-Tanwyr Dan Aisar At-Tafysy. Ay. Jurnal: An-Nur Vol. 4 No. 2, 2. , 207. Agus Zaenul Fitri. Pendidikan Islam Wasathiyah: Melawan Arus Pemikiran Takfiri di Nusantara (Jurnal Kuriositas Edisi 7. Vol. 1, 2. , 47. 32 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan mengidentifikasi beberapa karakteristik penggunaan konsep wasathiyyah . dalam konteks Islam Indonesia, antara lain: . ideologi tanpa kekerasan dalam menyebarkan Islam. mengadopsi cara hidup modern dengan semua turunannya, termasuk sains dan teknologi, demokrasi, hak asasi manusia dan sejenisnya. penggunaan cara berfikir rasional. pendekatan kontekstual dalam memahami Islam, dan. penggunaan ijtihad . erja intelektual untuk membuat opini hukum jika tidak ada justifikasi eksplisit dari Al Qur'an dan Hadis. Lima karakteristik bisa diperluas menjadi beberapa karakteristik yang lain seperti toleransi, harmoni dan kerjasama antar kelompok agama. Nilai-nilai yang terkandung di dalam konsep Islam wasathiyyah mencakup antara Kemampuan menghayati prinsip keseimbangan antara berbagai potensi yang dimiliki manusia baik potensi fisik, jiwa dan rohani harus sama-sama berkembang. Menyadari bahwa manusia adalah makhluk individual yang harus menghargai kehidupan sosial dan kehidupan orang lain, karena saling membutuhkan. Kesediaan menerima keragaman dalam berbagai hal baik keragaman fisik, warna kulit, suku bangsa, keyakinan, pemikiran, pandangan dan sebagainya. Memiliki kemampuan dalam interaksi sosial, berdialog, komunikasi dan terbuka dengan semua pihak yang mempunyai latar belakang agama, budaya dan peradaban yang Berkemampuan untuk tidak hanyut dalam kehidupan materialisme dengan tidak menghiraukan sama sekali kehidupan spiritualisme, tidak hanya memperhatikan kehidupan rohani dengan mengabaikan kehidupan jasmani. Kemampuan bersikap menengah yakni tidak ekstrim kanan dan kiri, tidak merasa paling benar, tetapi bersikap menengah, dan adil. Beberapa pemaknaan wasathiyyah di atas menunjukkan bahwa terminologi ini sangat dinamis dan kontekstual. Terminologi ini tidak hanya berdiri pada satu aspek, tetapi juga melibatkan keseimbangan antara pikiran dan wahyu, materi dan spirit, hak dan kewajiban, individualisme dan kolektivisme, teks . l-QurAoan dan Sunna. dan interpretasi pribadi Afrizal Nur. Mukhlis Lubis. Konsep Wasathiyah Dalam Al-Quran. , 207. Masdar Hilmy. AuWhither IndonesiaAos Islamic Moderatism? A Reexamination on the Moderate Vision of Muhammadiyah and NUAy, dalam Journal of Indonesian Islam. Vol. Number 01. June (Surabaya: the Institute for the Study of Religion and Society (LSAS) and the Postgraduate Program (PP. IAIN Sunan Ampel, 2. , 28. Kamrani Buseri. Islam Wasathiyah Dalam Perspektif Pendidikan (Banjarmasin: Disampaikan pada:Rakerda/Sarasehan Ulama se Kalimantan Selatan, 28 Desember 2. , 4. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 33 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan . , ide dan realita, yang permanen dan sementara yang kesemuanya terjalin secara Itulah mengapa Hanapi menyebut wasathiyyah merupakan pendekatan yang komprehensif dan terpadu. Konsep ini sebenarnya meminta umat Islam untuk mempraktikkan Islam secara seimbang dan komprehensif dalam semua spek kehidupan bermasyarakat dengan memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dengan memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas kehidupan manusia yang terkait dengan pengembangan pengetahuan, pembangunan manusia, sistem ekonomi, dan keuangan, sistem politik, sistem pendidikan, kebangsaan, pertahanan, persatuan, persamaan antar ras dan lainnya. PENDIDIKAN KARAKTER Pendidikan karakter adalah segala upaya yang dilakukan guru dalam mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk karakter peserta didik dengan cara memberikan keteladanan kepada peserta didik. Keteladanan tersebut antara lain adalah bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi dan berbagi hal terkait lainnya. Proses pendidikan karakter dipandang sebagai usaha sadar dan terencana, bukan terjadi secara kebetulan. Atas dasar pemikiran inilah pendidikan karakter diartikan sebagai usaha yang sungguh-sungguh dalam memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai etika, baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga masyarakat atau warga Negara secara keseluruhan. Dalam terminologi Islam, pengertian karakter memiliki kedekatan pengertian dengan pengertian akhlak. Kata akhlak berasal dari kata bahasa Arab AukhalaqaAy yang artinya tabiat, perangai, adat istiadat. Sedangkan secara makna etimologi, pendekatan akhlak berasal dari bahasa Arab jamak dari bentuk mufradnya AukhuluqunAy yang menurut logat mempunyai arti perangai, budi pekerti, tabiat atau tingkah laku. Dalam sudut pandang kebahasaan, dalam pengertian sehari-hari, definisi akhlak disamakan dengan sopan santun, tata karma atau budi Akhlak juga dikatakan sebagai keadaan batin seseorang yang menjadi sumber Mohd Shukri Hanapi. AuThe Wasatiyyah (Moderatio. Concept in Islamic Epistemology: A Case Study of its Implementation in Malaysia,Ay International Journal of Humanities and Social Science. Vol. No. July 2. , 55. Zubaedi. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga Pendidikan (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2. , 19. Ibid. , 65-66. 34 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan lahirnya perbuatan tanpa memikirkan untung dan rugi. Orang yang berkahlak baik akan melakukan kebaikan secara spontan tanpa adanya pamrih. Sehingga gemar melakukan kebaikan kepada siapa saja tanpa melanggar aturan dan tatanan yang telah ditentukan oleh sang Khaliq. Oleh karenanya, pendidikan akhlak dikatakan juga sebagai pendidikan moral dalam diskursus pendidikan Islam. Ibnu Miskawaih, al-Qabisi, dan Imam Ghazali menunjukkan bahwa tujuan puncak pendidikan akhlak adalah terbentuknya karakter anak didik dengan berakhlak mulia. Pendidikan karakter akan menjadikan peserta didik memiliki ciri khas pribadi sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan dalam sistem pendidikan di sekolah ataupun di Nilai-nilai yang ditanamkan, diajarkan dan dibentuk akan berpengaruh terhadap karakter yang akan dicapai. Bila dalam proses pendidikan peserta didik diajarkan tentang nilai-nilai Islam wasathiyyah dan nasionalisme, maka akan melekat pada diri peserta didik nilai tersebut. Sebaliknya apabila ia dididik dengan sikap anti wasathiyyah . dan tidak cinta tanah air sejak kecil, maka akan mengakar pada diri anak tersebut dan sulit Hasil dari proses yang dilakukan terhadap peserta didik itulah yang akan menjadi sebuah karakter pribadi yang akan dimilikinya kapan dan dimanapun ia berada. HASIL DAN PEMBAHASAN Islam Wasathiyyah Sebagai Arus Utama Pendidikan Islam Sebagai sebuah pendekatan komprehensif dan terpadu, konsep Islam wasathiyyah juga harus menjadi identitas, visi, corak, dan karakteristik utama pendidikan Islam, bukan hanya sekedar nilai partikular. Disini lah perlu adanya langkah yang lebih konstruktif dengan menempatkan konsep Islam wasathiyyah sebagai arus utama dalam pendidikan Islam. Pengarusutamaan Islam yang wasathan dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia akhirakhir ini bisa dilihat dari upaya Kemenag melalui Direktorat Kurikulum, sarana, kelembagaan, dan kesiswaan (KSKK) Madrasah dalam merumuskan 12 program andalan, yaitu: . penyusunan modul pendidikan multikulturalisme untuk siswa MI. Mts, dan MA, . menggelar perkemahan pramuka madrasah nasional, . penguatan siswa menuju madrasah BERSINAR (Bersih. Sehat. Inklusif. Aman, dan Ramah Ana. , . menyelenggarakan ajang minat dan bakat madrasah di berbagai bidang baik akademik maupu seni, . sosialisasi Syahrial Zulkapadri. AuPendidikan Karakter dan Pendidikan Akhlak (Studi Perbandinga. Ay. Jurnal atTaAodib. Vol. 9 No. 1, 2. , 115. Ibid. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 35 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan pendidikan multikultural kepada kepala madrasah, . menggelar seminar internasional tentang penanggulangan radikalisme melalui pendidikan dasar dan menengah, . penyusun panduan penilaian pembinaan sikap dan perilaku keseharian peserta didik, . penyusunan indikasi kegiatan ekstrakurikuler berbasis nilai moderasi, . penyusunan panduan layanan dalam penanaman nilai rahmatan lil alamin, . penyunan panduan layanan BK bagi guru BK, . penyunan panduan pendeteksian ajaran ekstrim di lingkungan madrasah, . sosialisasi kebijakan pengarusutamaan deradikalisasi melalui inovasi kurikulum. Beberapa program pengarusutamaan ini memancing diskusi lebih lanjut sejauh mana Islam wasathiyyah menjadi identitas pendidikan Islam. Namun melihat wacana dan program yang dilakukan, setidaknya bisa dianalisis dari tiga hal. Pertama, adanya kekhawatiran menguatnya gerakan ekstrimisme, intoleran, dan radikalisme-terorisme dalam pendidikan Islam. Dalam rangka mengahadang gerakan ini, konsep Islam wasathiyyah dianggap perlu menjadi arus utama mengingat coraknya yang inklusif dan toleran. Kedua, pengarusutamaan ini bisa dibaca sebagai tindak lanjut dan penguatan Islam Nusantara, dimana karakter uatamanya adalah moderat. Terlebih pendidikan Islam Nusantara memiliki akar historis sebagai bagian dari institusi sosial-keagamaan yang bercorak moderat. Ketiga, adanya kebutuhan untuk melakukan reformasi pendidikan Islam di tengah kompleksitas masalah global, yang diantaranta adalah tidak adanya keseimbangan antara intelektualitas, dengan moralitas, modernitas dengan spiritualitas, dan ketidakseimbangan lainnya dalam semua aspek kehidupan. Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme Dengan Pendidikan Karakter Pendidikan secara umum dapat diartikan bagaimana memproses manusia muda . nak manusi. menjadi manusia dewasa baik dalam arti individual, sosial dan susila, sehingga betul-betul menjadi manusia yang mandiri secara individu, mampu menjalankan tugasnya sebagai makhluk sosial dalam arti mampu menjalan hubungan yang baik dalam konteks sosial pada berbagai kesempatan serta memiliki kepribadian yang mantap, stabil dan berakhlak Tujuan pendidikan sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003, pada pasal 3, berbunyi Au Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang Tim Redaksi Majalah Pendis. AuLaporan Utama: Pengarusutamaan Islam Moderat di Lembaga Pendidikan Islam,Ay Majalah Pendis Kementerian Agama. Edisi No. 8/tahun V (Jakarta: Dirjen Pendis Kemenag, 2. , 8-9. 36 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dengan ciri utama beriman dan bertakwa, berakhlak mulia dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab, itu erat kaitannya dengan nilai-nilai wasathiyah di atas. Nilai-nilai Islam wasathiyyah dalam hal ini adalah nilai-nilai Islam wasathiyyah yang terintegrasi dalam proses belajar mengajar dan materi pembelajaran dalam pada pendidikan Integrasi berarti percampuran, perpaduan dan pengombinasian. Integrasi biasanya dilakukan dalam dua hal atau lebih yang mana masing-masing dapat saling mengisi. Islam merupakan agama yang mempunyai semangat toleransi yang tinggi. Islam bersifat moderat yakni adil dan mengambil jalan tengah. Kata moderat ini bila dihubungkan pada delapan belas nilai pendidikan karakter, maka nilai karakter yang tepat untuk menggambarkan nilai Islam moderat adalah religius, toleransi, peduli sosial, demokratis dan cinta damai. Religius merupakan sikap dan perilaku yang patuh dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Toleransi merupakan sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Sedangkan peduli sosial merupakan sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Demokratis adalah cara bersikap, cara berpikir dan bertindak yang menilai secara sama antara hak dan kewajiban diri sendiri dengan orang lain. 15 Sedangkan cinta damai merupakan sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. 16 Nilai-nilai tersebut melebur pada semua mata pelajaran di Madrasah Ibtidaiyah yang menggunakan kurikulum 2013. Berikut ini indikator dari nilai-nilai Islam moderat: Karakter Religius Indikator Mengucapkan salam. Berdoa sebelum dan sesudah belajar. Melaksanakan sholat lima waktu. Zubaedi. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga Pendidikan,. Syamsul Kurniawan. Pendidikan Karakter: Konsepsi & Implementasi Secara Terpadu di Lingkungan Keluarga. Sekolah. Perguruan Tinggi dan Masyarakat (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , 145 Zubaedi. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga Pendidikan. , 76. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 37 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan Toleransi Demokratis Cinta damai Peduli sosial Mengikuti semua kegiatan keagamaan di sekolah. Bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Merayakan hari raya Islam. Menghargai pendapat orang lain. Tidak memotong pembicaraan orang Menghormati orang lain yang berbeda agama maupun suku. Menghormati keputusan orang lain. Menghormati kekurangan dan kelebihan orang lain. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Pemilihan ketua kelas dan pengurus kelas secara demokrasi. Mendasarkan setiap keputusan pada musyawarah mufakat. Menyelesaikan persoalan secara damai. Selalu bersikap adil kepada semua Menciptakan suasana kelas yang tentram dan nyaman. Tidak menoleransi segala bentuk tindak Selalu rukun dan tidak menciptakan keributan di kelas dan sekolah. Mendorong terciptanya keharmonisan kelas dan sekolah. Memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Melakukan kegiatan bakti sosial. Memberikan bantuan kepada lingkungan masyarakat yang kurang Menyediakan kotak amal atau INTEGRASI NILAI WASATHIYYAH DAN NASIONALISME DI MIN 15 MAGETAN. Nilai-nilai yang terkandung di dalam konsep Islam wasathiyyah dan nasionalisme merupakan hal yang sudah menjadi suatu keharusan dan keniscayaan di tengah-tengah arus radikalisasi keberagamaan dan wajib menjadi ruh dalam proses pelaksanaan pendidikan di suatu madrasah. Menurut pengamatan penulis di MIN 15 Magetan terdapat tiga bentuk integrasi nilai Islam wasathiyyah dan nasionalisme yang diterapkan di MIN 15 Magetan, yakni melalui pembelajaran di kelas, melalui budaya madrasah dan melalui kegiatan 38 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan Bentuk proses pengintegrasian nilai-nilai Islam wasathiyah dan nasionalisme tergambar dalam beberapa kegiatan yang ada, antara lain: kegiatan upacara bendera, menyanyikan lagu Indonesia raya, pembelajaran yang dimulai dengan berdoAoa bersama, menghafal juz AoAmma, kegiatan baca tulis al QurAoan melalui metode UMMI, kegiatan sholat dhuha dan dhuhur berjamaah, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, drumband, seni tari, hadrah dan lainnya. Integrasi Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di MIN 15 Magetan. Proses integrasi nilai-nilai Islam wasathiyyah dan nasionalisme di MIN 15 Magetan dapat dilihat dari tiga bentuk, yaitu: melalui proses pembelajaran, budaya yang dikembangkan di madrasah, dan kegiatan ekstrakurikuler. Pada penelitian ini, terdapat lima karakter yang merupakan bagian dari nilai-nilai Islam wasathiyyah, yaitu karakter religius, toleransi, demokratis, cinta damai, dan kepedulian sosial. Sedangkan yang termasuk di dalam nilai-nilai nasionalisme adalah semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Pembelajaran di Kelas Proses integrasi nilai-nilai Islam wasathiyyah dan nasionalisme melalui pembelajaran di kelas ini, melalui interaksi dan antara peserta didik dan guru dalam proses pembelajaran. Nilai-nilai Islam wasathiyyah dalam penelitian ini tergambar dalam 5 karakter yakni religius, toleransi, demokratis, cinta damai, dan peduli sosial. Proses integrasinya dengan karakter religius dibuktikan melalui berdoa bersama sebelum dan sesudah pembelajaran, membaca asmaul husna setelah shalat dhuha, dan hafalan surat-surat pendek. Selain melalui doa, proses integrasi nilai Islam wasathiyyah dengan karakter religius juga melalui pembelajaran pada mata pelajaran keagamaan, seperti QurAoan Hadist. Fiqih. SKI, dan Akidah Akhlak. Tidak hanya itu, proses integrasi juga terjadi ketika peserta didik mengucapkan ataupun menjawab salam serta mendoakan temannya yang sedang sakit. Adapun proses integrasi nilai Islam wasathiyyah dengan karakter toleransi dibuktikan melalui metode pembelajaran yang bervariasi, materi pelajaran, dan nasihat guru kepada peserta didik. Misalnya proses pembelajaran dengan memakai metode diskusi. Dengan diskusi peserta didik dilatih untuk bersikap toleransi antar teman diskusinya ketika menyampaikan pendapatnya. Selain membentuk karakter toleransi, juga untuk melatih karakter demokratis. Dengan metode diskusi dalam pembelajaran akan terjadi pembelajaran yang kooperatif, hal tersebut pada akhirnya melatih peserta didik untuk bersikap demokrasi. Penanaman karakter demokrasi juga dilakukan melalui kegiatan pembuatan jadwal piket Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 39 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan kelas, pemlihan ketua kelas, dan membuat peraturan kelas. Dalam kegiatan diskusi kelompok juga akan menimbulkan rasa cinta damai antar peserta didik. Karakter cinta damai ini juga termasuk nilai yang terkandung di dalam konsep Islam wasathiyyah. Cara lain yang dilakukan dalam proses pembelajaran untuk menumbuhkan rasa cinta damai adalah penyelesaian masalah yang timbul selama proses pembelajaran diantara peserta didik dengan menasehati serta menyelesaikan dengan cara damai. Kemudian untuk melatih karakter peduli sosial dilakukan melalui kegiatan amal JumAoat, pengumpulan dana untuk peserta didik yang terkena musibah, menjenguk peserta didik yang sakit, dan lain-lainnya. Sedangkan proses integrasi karakter nasionalisme, dapat dilakukan melalui pembelajaran tematik yang di dalamnya juga dijelaskan mengenai sejarah bangsa Indonesia, mengenalkan tokoh-tokoh pahlawan Indonesia, dan mengenalkan lagu-lagu Dengan mengetahui sejarah bangsa, peserta didik akan mengetahui bagaimana perjuangan para pahlawan dan hal ini akan memicu semangat kebangsaan dalam diri peserta Budaya Madrasah Setiap madrasah pasti memiliki budaya sendiri-sendiri. Budaya tersebut merupakan hal-hal yang telah menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan oleh semua warga madrasah. Termasuk yang ada di MIN 15 Magetan yang juga mempunyai budaya sendiri dalam mengembangkan sisi keagamaan dalam rangka mengembangkan karakter religius. Budaya tersebut antara lain adalah pembiasaan shalat dhuha pagi hari secara jamaAoah yang diikuti oleh seluruh peserta didik dan bapak ibu guru, pembacaan asmaAoul husna, hafalan surat-surat juz 30, program BTQ dengan menggunakan metode UMMI, shalat jamaAoah dhuhur dan shalat sunnah qabliyah serta baAodiyahnya, dan peringatan-peringatan hari besar Islam. Selain itu juga dilakukan pengajaran tata krama, dan doa-doa sehari-hari. Budaya-budaya tersebut secara tidak langsung telah mengintegrasikan nilai-nilai Islam wasathiyyah dengan pendidikan karakter melalui peran budaya madrasah yang ada di MIN 15 Magetan. Sedangkan proses integrasi karakter nasionalisme, dilakukan melalui pengenalan terhadap pahlawan-pahlawan bangsa, kegiatan upacara, dan peringatan-peringatan hari besar Nasional. Dengan kegiatan tersebut peserta didik diharapkan memiliki semangan kebangsaan dan cinta tanah air. Kegiatan Ekstrakurikuler Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan di luar mata pelajaran yang menduung bakat dan minat peserta didik agar lebih berkembang lagi. Kegiatan ekstrakurikuler juga 40 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan mempunyai andil yang sangat besar dalam pembentukan karakter peserta didik. Proses integrasi nilai-nilai Islam wasathiyyah dan nasionalisme pada pendidikan karakter juga dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang telah berjalan di MIN 15 Magetan. Bila mengintegrasikan nilai-nilai Islam wasathiyyah dan nasionalisme di dalamnya. Beberapa kegiatan ekstrakurikuler antara lain adalah pramuka, yang di dalamnya secara implisit telah mengintegrasikan nilai-nilai Islam wasathiyyah dan nasionalisme dalam pembentukan karakter peserta didik. Selain itu juga terdapat beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang lain, diantaranya: MTQ (Musabaqah Tilawatil QurAoa. yang dapat menumbuhkan semangat kecintaan terhadap al-QurAoan. Selain itu juga dapat membentuk karakter religius peserta didik. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam wasathiyyah. Seni hadrah al- Banjari dan Samroh, yang dapat menumbuhkan kecintaan terhadap nabi Muhammad. Selain itu kegiatan ini dapat membentuk karakter peserta didik yang religius, toleransi, demokratis, dan cinta damai antar sesama anggota yang ikut. Drumband untuk melatih kemampuan peserta didik memainkan alat musik dan membentuk karakter peserta didik yang religius, toleransi, demokratis, dan cinta damai. Ekstra olahraga untuk melatih psikomotorik siswa, dan membentuk nilai toleransi yaitu menghargai orang lain ketika kalah dalam suatu pertandingan. PENUTUP Dari paparan penjelasan di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pendidikan Islam merupakan elemen strategis dalam mencetak generasi yang moderat. Untuk melahirkan generasi moderat ini diperlukan pengembangan pendidikan Islam dengan menggunakan konsep Islam wasathiyyah sebagai paradigma dan arus utama. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari penggunaan Islam sebagai arus utama dalam penyelenggaraan pendidikan. Dimana Islam wasathiyyah merupakan identitas dan watak dasarnya. Dalam prakteknya di dunia pendidikan, khususnya pendidikan dasar perlu didukung adanya suatu proses integrasi nilainilai Islam wasathiyyah dan nilai nasionalisme dengan penerapan pendidikan karakter dalam upaya mengembangkan Islam wasathiyyah sebagai dasar dalam penyelenggaraan pendidikan. Jika dikatakan dalam rangka membangun karakter bangsa bangunlah karakter generasi bangsa nya sejak dini, sebab merekalah yang kelak menjadi tumpuan harapan bangsa Oleh karena itu konsep Islam wasathiyyah menjadi sebuah keharusan dan kebutuhan generasi bangsa ini dalam rangka mencegah radikalisasi keberagamaan sekaligus menjadi Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 41 Integrasi Nilai-Nilai Islam Wasathiyyah dan Nasionalisme di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 15 Magetan benteng dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa. Dalam rangka menerapkan pendidikan karakter yang berdasarkan nilai-nilai Islam wasathiyyah ini. MIN 15 Magetan berupaya terus menerus untuk terus mengembangkan dan menginternalisasikan nilai-nilai tersebut melalui tiga kegiatan, yaitu kegiatan pembelajaran di kelas, budaya madrasah, dan kegiatan ekstrakurikuler. DAFTAR PUSTAKA