Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragam. Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar DOI: https://doi. org/10. 32509/dinamika. Dandy Putra*. Syifa Syarifah Alamiyah Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur Jl. Rungkut Madya. Gn. Anyar. Kec. Gn. Anyar. Surabaya. Jawa Timur 60294 . Indonesia *Email Korespondensi: @dandyputraas23@gmail. Abstract - This research is fundamentally driven by the alarming prevalence of child abuse and traumatic occurrences within Indonesia, which inevitably foster deep-seated "inner child wounds. " This phenomenon exerts a significant impact on emotional stability, interpersonal relationships, and adult behavior, often leading to severe psychological conditions like depression. The primary objective is to explore and interpret the nuanced representation of these childhood wounds within the characters Sita and Adil from Joko AnwarAos film "Siksa Kubur," utilizing the film as a sophisticated audio-visual communication medium. Adopting a descriptive qualitative approach, this study employs John FiskeAos semiotic frameworkAianalyzing levels of reality, representation, and ideologyAiwhile integrating Carl JungAos psychological concepts regarding abandonment, guilt, trust, and neglect. The findings demonstrate that Sita and AdilAos wounds are intricately woven into the filmAos visual and narrative sign Specifically, the analysis identifies a "guilt wound" originating from their parents' deaths and a "trust wound" toward religious doctrines, which serve as the central catalysts for their destructive adult actions. In conclusion, childhood wounds are represented as a complex accumulation of unresolved trauma and fractured interpersonal communication that persists into adulthood, dictating oneAos personality until the underlying emotions are fully processed. Keywords: Representation. Inner Child. John Fiske Semiotics. Sosial Conflict Abstrak - Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kasus kekerasan dan peristiwa traumatik pada anak di Indonesia yang membentuk luka batin . nner child woun. Fenomena ini berdampak signifikan pada emosi, hubungan interpersonal, dan perilaku seseorang saat dewasa, termasuk potensi depresi. Tujuan penelitian adalah untuk menafsirkan representasi luka batin anak pada karakter Sita dan Adil dalam film "Siksa Kubur" karya Joko Anwar sebagai media komunikasi audio-visual. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika John Fiske yang mencakup level realitas, representasi, dan ideologi. Penelitian ini juga menerapkan konsep luka batin Carl Jung, yang mencakup abandonment, guilt, trust, dan neglect wounds. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luka batin Sita dan Adil termanifestasi melalui sistem tanda visual dan naratif dalam film. Penggambaran luka batin ditemukan dalam berbagai scene dan luka batin tersebut digambarkan melalui dua jenis luka batin yang berbeda, yaitu adanya guilt wound akibat kematian orang tua dan trust wound terhadap agama yang menjadi pendorong utama tindakan destruktif kedua karakter dewasa tersebut. Kesimpulannya, dalam film ini luka batin anak direpresentasikan melalui sikap yang menjadi akumulasi pengalaman traumatis dan kegagalan komunikasi interpersonal di masa kecil. Dimana trauma dan kegagalan terus menetap dan memengaruhi kepribadian seseorang hingga dewasa ketika emosinya tidak terselesaikan secara tuntas. Kata Kunci: Representasi. Luka Batin Anak. Semiotika John Fiske. konflik sosial Submitted: February 2026. Accepted: May 2026. Published: June 2026 Licensed Under A Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Pendahuluan Pengalaman masa lalu merupakan fondasi krusial yang membentuk pola komunikasi dan interaksi interpersonal manusia. Julia T. Wood menegaskan bahwa realitas komunikasi individu sangat dipengaruhi oleh latar belakang personalnya. ketidaksamaan pengalaman antar komunikan seringkali menjadi pemicu distorsi dalam interaksi. Secara psikologis, (A. Irfan TAUFAN Asfar 2. sepakat bahwa trauma masa kecilAiyang manifestasinya berupa kecemasan dan ketidakberdayaanAimenjadi penghambat utama bagi individu dalam mengekspresikan emosi secara sehat. Meskipun literatur mengenai dampak klinis trauma masa kecil sudah sangat mapan, diskursus mengenai bagaimana "luka batin" . nner chil. ini direpresentasikan secara simbolis dalam media massa, khususnya film horor modern, masih memerlukan pendalaman kritis. Sejauh ini, literatur mengenai trauma masa kecil dalam film cenderung bersifat Penelitian (Anggadewi 2. misalnya, secara komprehensif memetakan jenis trauma fisik dan seksual serta dampaknya pada remaja, namun belum menyentuh bagaimana estetika visual film mampu mengonstruksi trauma tersebut sebagai sebuah pesan ideologis. Begitu pula dengan kajian awal terhadap film Siksa Kubur . karya Joko Anwar. Penelitian oleh (Septiningsih and Yuwono 2. serta (Ayu and Nasution 2. memang telah menyinggung aspek karakterisasi dan psikologi naratif tokoh utama yang dibentuk oleh trauma masa lalu. Namun, studi-studi tersebut masih terbatas pada analisis naratif permukaan dan belum membedah secara mendalam kode-kode teknis sinematik yang menyusun representasi trauma tersebut. Di sinilah letak kesenjangan penelitian . esearch ga. yang krusial. Belum ada penelitian yang secara spesifik menggunakan pendekatan semiotika kritis untuk membongkar bagaimana Siksa Kubur tidak hanya bercerita tentang trauma, tetapi secara teknis "membangun" trauma tersebut melalui elemen audio-visual yang berlapis. Penelitian terdahulu cenderung memisahkan antara elemen horor sebagai hiburan dengan elemen trauma sebagai latar belakang karakter, tanpa melihat keduanya sebagai satu kesatuan ideologis yang merefleksikan budaya penyembuhan luka emosional di Indonesia. Penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan melakukan positioning yang berbeda. Berbeda dengan penelitian (Ayu and Nasution 2. yang fokus pada psikologi naratif, penelitian ini menggunakan Teori Semiotika John Fiske untuk membedah film melalui tiga level: level realitas . erilaku dan ekspresi toko. , level representasi . ode kamera, pencahayaan, dan musi. , dan level ideologi . agaimana trauma dipandang dalam konteks sosial-budaya Indonesi. Melalui analisis Fiske, penelitian ini tidak hanya akan mendeskripsikan apa yang tampak di layar, tetapi secara kritis mengevaluasi bagaimana Joko Anwar menggunakan simbolisme sinematik untuk mengomunikasikan kerumitan luka batin. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menawarkan perspektif baru mengenai bagaimana seni visual dapat digunakan sebagai alat dekonstruksi masalah psikologis yang kompleks, sekaligus menjadi kritik terhadap cara masyarakat Indonesia merespons trauma masa kecil. Kerangka Teori Penelitian yang membahas tentang luka batin anak dan juga menggunakan metode representasi dan semiotika buka hal yang baru di dunia penelitian. Terdapat beberapa penelitian-penelitian terdahulu yang memiliki tema bahasan, metode, dan teori yang dilakukan sebelumnya dan memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan diteliti berikut adalah beberapa penelitian terdahulu: Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Representasi Inner Child Pada Tokoh Utama Teoko Okajima Dalam Film Animasi Omohide Poroporo Karya Isao Takahata Jurnal ini membahas tentang film animasi Omohide Poroporo sebagai karya sastra visual yang merepresentasikan konflik psikologis tokoh utama melalui konsep inner Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur fiksi film . okoh, penokohan, alur, dan lata. serta menganalisis bentuk, penyebab, dampak, dan solusi inner child yang dialami Taeko Okajima. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan psikologi sastra dan jenis studi kepustakaan. Data diperoleh dari adegan dan dialog film, kemudian dianalisis menggunakan teori struktur fiksi dan konsep inner child dari John Bradshaw. Pendekatan ini dinilai tepat karena memungkinkan penulis mengaitkan pengalama masa kecil tokoh dengan kondis psikologisnya di masa dewasa secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teoko mengalami berbagai bentuk inner child, seperti wounded inner child, neglected inner child, fearful inner child, dan creative inner child, yang bersumber dari pola asuh keluarga, tekanan akademik, serta kurangnya validasi emosional di masa kecil. Trauma-trauma tersebut terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara Taeko memandang diri, hubungan sosial, serta pilihan Proses penyembuhan ditunjukan melalui reflesi diri dan dukungan tokoh Toshiro serta lingkugan desa Yamagata. Secara keseluruhan jurnal ini menyimpulkan bahwa Omohide poroporo tidak hanya memberikan cerita lama, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya kesehatan mental dan dampak trauma masa kecil. Kelebihan artikel ini terletak pada analisis adegan yang rinci dan konsisten dengan teori, meskipun masih terdapat kelemahan minor pada aspek kebahasan dan penyajian tabel yang terlalu panjang. Meski demikian, artikel ini relevan dan bermanfaat bagi pembahasan isu kesehatan mental anak. (Maulidha Representasi Maskulinitas Perempuan dalam Serial Drama Korea The Glory Analisis Semiotika John Fiske Representasi Maskulinitas Perempuan dalam Serial Drama Korea The Glory (Analisis Semiotika John Fisk. " ditulis oleh Kaliana Tantri. Pertumbuhan budaya populer Korea Selatan, khususnya drama Korea yang banyak ditonton oleh masyarakat umum, khususnya kaum muda, menjadi pemicu penelitian ini. Serial Glory dipilih karena menarik perhatian pada penindasan yang dialami Moon Dong Eun, tokoh utama perempuan, dan bagaimana ia menunjukkan sifat-sifat maskulin saat membalas dendam pada mantan penindasnya. Pendekatan semiotika John Fiske, yang terdiri dari tiga tingkat analisis tingkat realitas, tingkat representasi, dan tingkat ideologiAiditerapkan dalam penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deskriptif. Gambar-gambar dari sekuens tertentu dari serial tersebut dan literatur terkait digunakan untuk mengumpulkan Aspek-aspek penampilan, gerak tubuh, pencahayaan, dan cita-cita ideologis Moon Dong Eun yang muncul dalam akting dan ucapannya diteliti. (Fahida, 2. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa karakter Moon Dong Eun memiliki kualitas yang sering dikaitkan dengan pria, seperti kekuatan, kemandirian, ketegasan, dan akal sehat. Dengan menggunakan metode semiotik, peneliti sampai pada kesimpulan bahwa wanita juga dapat secara aktif dan sepenuhnya menampilkan maskulinitas tanpa menghapus sisi feminin mereka, membuktikan bahwa maskulinitas tidak hanya dimiliki oleh pria. Dengan menunjukkan bagaimana media populer, seperti drama Korea, dapat membentuk dan Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 memengaruhi persepsi masyarakat tentang peran dan identitas gender, penelitian ini secara signifikan memajukan bidang komunikasi gender dan representasi media. Lebih jauh, penelitian ini menekankan betapa pentingnya memahami kesehatan mental dan dampak sosial dari penindasan sebagaimana yang digambarkan dalam media hiburan. (Tantri, 2. Adapun teori yang digunakan dalam dasar penelitian dan konsep penelitian untuk mendukung hipotesis yakni: Semiotika John Fiske Teori mengenai pertandaan dan makna dari setiap simbol, ilmu tentang tanda, dan penggambaran mengenai makna yang dibagun di teks, media. Mempelajari bagaimana tanda dari jenis karya apapun dalam media. Sebuah tanda akan diterima setiap individu bersifat fisik, dapat diterima melalui indera. Berpengaruh pada bagian luar pada dirinya dan bergantung pada pengenalan dari penerimanya adalah sebuah Jika suatu peristiwa dikodekan oleh kode-kode sosial yang dibangun pada tiga tingkatan berikut, peristiwa itu menjadi peristiwa media: Tingkat Realitas kejadian-kejadian yang direpresentasikan sebagai asli. Peristiwa itu meliputi penampilan, busana, tata rias, lingkungan sekitar, perilaku, suara, gerak tubuh, dan ekspresi. dalam bentuk tertulis, seperti transkrip, dokumen, wawancara, dan sebagainya. (Prasetya, 2. Tingkat Representasi Pengodean teknis harus digunakan untuk menggambarkan realitas yang telah dikodekan secara elektronik. Kode teknis dalam bahasa tertulis terdiri dari kata-kata, pernyataan, proposisi, gambar, dan sebagainya. Kamera, pencahayaan, penyuntingan, musik, dan suara membentuk kode teknis bahasa gambar. Tingkat Ideologi Bagaimana pertemuan tersebut terstruktur menurut norma ideologi yang Bagaimana koherensi sosial dicapai melalui pengorganisasian dan hubungan kode representasi. Setiap komponen disusun dan diklasifikasikan menurut kaidah ideologi, meliputi individualisme, patriarki, ras, kelas, feminisme, sosialisme, kapitalisme, liberalisme, materialisme, dan lain-lain. Konsep luka batin anak Carl Jung Menurut Carl Jung, seorang psikolog dari Swiss menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki luka batin anak yang buruk akan menimbulkan perasaan dan perilaku negatif ketika dewasa seperti mudah cemas, sulit percaya dengan orang lain, timbul perasaan tidak dicintai, selalu merasa kurang, cuek dan sebagainya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, pola asuh yang kurang tepat, bullying ketika masa kecil, mengalami pelecehan seksual, kehilangan seseorang, konflik masa lalu yang belum selesai dan sebagainya. Konsep luka batin anak oleh Carl Jung adalah inner child wound terbagi atas empat kategori, yaitu Abandonment wound. Guilt Wound . Trust Wound dan Neglect Wound. (Lies Imma Junaidah, 2. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan Semiotika John Fiske. pengumpulan data yang mendalam untuk menjelaskan fenomena sejelas-jelasnya. Metode kualitatif berupaya memberikan penjelasan yang paling komprehensif tentang suatu fenomena. Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Peneliti menggunakan teknik yang didasarkan pada analisis semiotik John Fiske untuk menentukan bagaimana luka batin anak di representasikan dalam film Siksa Kubur. Meneliti tentang eksistensi manusia dengan teori semiotika. Dengan kata lain, semiotika adalah studi yang meneliti makna yang terkandung dalam sinyal. semua tanda dalam eksistensi manusia memiliki makna. Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis konten kualitatif, pengumpulan data kualitatif berasal melalui gambar, teks, simbol, atau lambang yang dikumpulkan lalu kemudian dianalisis secara mendalam untuk memahami arti yang terkadul dalam film. Menurut Carl Jung, seorang psikolog dari Swiss menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki luka batin anak yang buruk akan menimbulkan perasaan dan perilaku negatif ketika dewasa seperti mudah cemas, sulit percaya dengan orang lain, timbul perasaan tidak dicintai, selalu merasa kurang, cuek dan sebagainya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, pola asuh yang kurang tepat, bullying ketika masa kecil, mengalami pelecehan seksual, kehilangan seseorang, konflik masa lalu yang belum selesai dan sebagainya. (Tantri 2. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah Film Siksa Kubur, karya Joko Anwar produksi Come and See Pictures serta Rapi Films. Film yang berdurasi 119 menit. Objek penelitian diambil dari lambang dan tanda berupa teks, audio dan visual dari film Siksa Kubur yang mengandung representasi luka batin anak pada karakter Sita dan Adil. Scene-scene yang dipilih berhubungan dengan maksud dan tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui representasi luka batin anak pada karakter adil dan sita pada film Siksa Kubur karya Joko Anwar. Total terdapat 110 scene dan terdapat 19 scene yang akan diteliti. scene ini menggunakan teknik purposive sampling . enarikan sampel bertujua. dengan alasan dan kriteria khusus: ke-19 scene tersebut secara eksplisit memuat indikator traumatik masa kecil, menampilkan mekanisme pertahanan ego . openg perilak. karakter utama saat dewasa, dan memiliki relevansi paling kuat dengan rumusan masalah penelitian. Secara rinci, prosedur penelitian ini berjalan dalam tahapan berikut. Tahap PraPenelitian: Merumuskan masalah, menentukan objek film, dan melakukan studi literatur terkait semiotika serta konsep luka batin. Tahap Pengumpulan Data: Observasi film, penentuan 19 scene terpilih, transkripsi dialog, dan pengumpulan tangkapan layar . Tahap Analisis dan Koding: Memasukkan temuan data ke dalam tabel analisis tiga level semiotika John Fiske dan membedahnya secara deskriptif. Tahap Interpretasi dan Validasi: Memaknai temuan koding dengan kerangka teori yang ada dan melakukan uji keabsahan data . Tahap Pelaporan: Menarik kesimpulan dan menyusun laporan skripsi/jurnal. Analisis data penelitian ini ialah pengumpulan dan pengelolaan data secara terperinci yang dilakukan melalui metode kualitatif. Hal ini bertujuan supaya peneliti bisa membedakan suatu informasi yang benar atau salah, menarik atau tidak menarik untuk diteliti. Peneliti menggunakan observasi data sebegai pengumpulan data, oleh karena itu data yang dikumpulkan harus dilalakukan secara sistematis. Data yang diobservasi, merupakan bagian skenario maupun adegan dalam film yang merepresentasikan luka batin anak. Selain itu, penelitian ini berfokus pada analisis data secara pengelompokkan dan bagaimana (SyayektiI 2. Proses pengumpulan data dilakukan melalui observasi non-partisipan dan dokumentasi dengan tahapan sebagai berikut: Menonton film Siksa Kubur secara berulang-ulang untuk memahami alur cerita dan konteks emosional karakter. Mengidentifikasi dan memilah scene yang sesuai dengan kriteria inklusi . Melakukan tangkapan layar . pada adegan terpilih untuk menangkap tanda visual . estur, ekspresi, angle kamera, dl. Melakukan transkripsi dialog teks dan mencatat timecode dari setiap scene terpilih ke dalam tabel korpus Tahapan interpretasi dilakukan secara kritis setelah proses kategorisasi selesai. Teknik interpretasi berfokus pada pemaknaan tanda dengan menghubungkan temuan audio-visual film Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 dengan realitas sosial budaya masyarakat Indonesia, serta membedahnya menggunakan landasan teori komunikasi interpersonal dan psikologi lima luka jiwa Lise Bourbeau untuk menemukan makna terdalam . dari film tersebut. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan Berdasarkan Observasi dengan mengamati film Siksa Kubur maka terdapat 19 scene dari 110 keseluruhan scene yang terdapat di dalam film Siksa Kubur yang menggambarkan trauma luka batin anak dari masa lalu yang diintepretasikan dan dianalisis menggunakan semiotika john fiske sebagai berikut adalah 5 scene dari 19 scene: Gambar 1. Adil dirundung (Sumber: Dailymotion, 2. Pakaian Sita baju kaos loreng garis cokelat Adil baju kaos abu-abu kemeja hijau Tabel 1. tanda scene 1 Tanda Dialog Setting Sita : di sekolah, mereka masih sering Toko roti milik orang tua Sita dan Adil Adil : Aku tidak pernah menganggapi Sita : kau harus menanggapi, jika tidak mereka akan terus menindasmu Level Realitas Adegan pertama dalam scene akan menampilkan aspek realitas yang terdiri dari penampilan, make up, lingkungan, perilaku, gerak tubuh, ekspresi berikut bagiannya: Penampilan : penampilan Sita memakai pakaian kaos loreng dengan warna merah dan campuran cokelat, rambut dikuncir belakang dengan celana pendek cokelat. Sedangkan Adil memakai pakaian kaos abu abu dengan luaran kemeja hijau Pakaian yang sederhana cukup menggambarkan kesederhanaan kondisi Sita Adil dan keluarganya. Make up . : tidak ada riasan pada Sita maupun Adil menunjukkan autensitas dan kesederhanaannya. Dengan kondisi ekonomi dan sosial Sita dan Adil yang seadanya. Dan memberikan rasa tulus kepada orang tuanya untuk berjualan tanpa memikirkan Environment . : meja roti besar berisi roti dikelilingi oleh pajangan Sita dan Adil sedang dibelakang meja sedangkan teman sekolah Adil berada diluar Menandakan pembeda penjual dan pembeli. Adegan ini menandakan pembeda kasta antara Sita dan Adil hanya seorang penjual biasa dan teman sekolah Adil berada di posisi pembeli atau pelanggan. Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Behaviour . : Sikap terdiam Adil saat diganggu oleh perundung berbeda dengan sikap Sita yang datang dan mengusirnya pergi. Perilaku ini memperlihatkan sikap Adil yang takut dan bingung atas apa yang akan dia lakukan sehingga hanya bisa melihat dan menunduk. Sikap Sita yang datang tanpa ragu, dan menyuruh perundung untuk pergi. Gesture . erak tubu. : gerak tubuh adil yang terdiam kaku dengan kedua tangan menggengam meja didepan menjadikan simbol yang tidak pemberani. Lalu gerak tubuh Sita yang akan meninju mereka menjadi simbol peringatan kepada perundung dan mengusir mereka dengan gerakan tangan menunjuk keluar. Hal ini menunjukan kemarahan Sita dari emosi gerak tubuh. Ekspression . : Ekspresi Adil yang menatap kosong perundung dicampur dengan ketakutan diwajahnya. Menandakan ketakutan dan kebingungan. Sedangkan Ekspresi Sita menunjukan menatap tajam dengan alis mengkerut. Menunjukan emosi Pada Menit 5:55 hingga 6:18, scene 1 menggambarkan momen emosional antara Sita dan Adil ketika di toko roti. Perundung datang di depan meja berhadapan dengan Adil. Lalu membuka kemasan roti lalu menjilatnya lalu menaruh kembali ke meja. Adil hanya bisa berdiri diam melihat perundung sedangkan Sita melihat dari jauh lalu menghampiri mereka dan membentak mereka dengan ekspresi marah dan menyuruh mereka keluar. Sita bertanya kepada Adil apakah mereka sering menggangumu. Yang menandakan perundung adalah teman sekolah Adil dan sering mengganggu Adil di Adil memilih untuk tidak menganggapi tetapi Sita melarangnya karena jika Adil tidak menanggapi, perundung akan selalu menindasmu. Hal ini menandakan ketakutaan Adil dan keberanian Sita. Adil memilih tidak peduli dan merasa takut sedangkan Sita menunjukan sikap peduli dan tidak adil melihat kakaknya dirundung. Level Representasi Pada adegan scene pertama, aspek yang dilihat dari level representasi adalah sebagai berikut: Camera . amera : pengambilan gambar dari scene ini diambil menggunakan teknik one take atau long take, dan medium shot. Setiing . : latar pada scene pertama ini berlangsung di meja toko roti ayah ibu Sita dan Adil. Dengan banyak dekoarasi, pajangan. Lighting . : kombinasi antara pencahayaan hangat, lampu kuning dengan lampu matahari. Menciptakan atmosfer yang tegang, memperkuat perseteruan antara perundung dan Adil. Teknik pengambilan dalam scene 1 film Siksa Kubur menggunakan teknik one shot atau long take. Hal ini dirancang untuk membangun kesan intens dalam adegan. Menunjukan ketegangan yang dibangun. Mulai dari menit 5. 24 hingga 6. 52, kamera one shot mengikuti pergerakan Sita hingga menghampiri Adil dan perundung. Kamera tanpa membelakangi ekspresi Sita dan Adil. Dalam medium shot memperlihatkan gestur perundung yang sedang menjilat roti menunjukan menghina dan tidak menghargai dalam konteks merundung Adil. Begitu juga Sita yang menghentakkan tangannya menunjuk keluar kepada perundung untuk menyuruhnya pergi. Komposisi cahaya dan gambar yang naural menciptakan atmosfer yang tegang dan realistis. Mendukung konflik pertama dan emosi pada karakter Sita dan Adil. Secara keseluruhan, pengambilan gambar dalam adegan mampu menciptakan suasana emosional pada sifat karakter utama. Level Realitas Dalam analisis berdasarkan The Codes of television menurut John Fiske, pada scene pertama menampilkan level ideologi Kelas. ideologi kelas menurut Waber merupakan status sosial yang digunakan untuk menunutukan distribusi kekuasan sosial dalam masyarakat (Zusiana 2. Ideologi Kelas terlihat pada perbedaan stratifikasi Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 sosial antara perundung dan Sita. Adil. Perbedaan kelas ekonomi menjadi konflik pertama pada karakter Sita dan Adil. Sebagai posisi penjual. Sita dan Adil merasa direndahkan dengan perilaku pembeli yang semana-mena yang bisa melakukan apa saja hanya karena mereka pembeli. Budaya penjual adalah pembeli menjadi konflik emosional yang dirasakan oleh Sita dan Adil. Perbedaan emosional antara Sita dan Adil menunjukan, perasaan bingung dan takut yang adil rasakan, membuat tindakan berdiam diri, menunjukan keputusan tidak membela diri. Perasaan Sita yang tidak terima, marah terhadap kakaknya dirundung dan tidak melawan balik. Pada adegan ini diperlihatkan realitas konflik yang nyata, dengan budaya dan nilai-nilai yang ada di masyarakat sehingga adegan ini relevan dengan penonton. Gambar 2. Orang tuanya meninggal (Sumber: Dailymotion, 2. Pakaian Sita baju kaos loreng garis cokelat Adil baju kaos abu-abu kemeja hijau Tabel 2. tanda scene 1 Tanda Dialog Setting Sita : Dil! Orang tadi mengambil duit Toko roti milik orang tua Sita dan Adil Adil : huh? Jalanan depan toko roti Sita : pak, orang itu mengambil duit kita dari laci kasir! Bapak : Duit? Sita : cepat! Bapak : pak, pak sebentar, sebentar Sita : mereka mengambil duit kita! Ibu : mas, mas! Bapak: sebentar anak saya tidak mungkin bohong Pada scene 1, yang berlangsung pada menit 10. 00 hingga 10. 31, adegan ini digambarkan Sita mengetahui terdapat pencuri yang mencuri duit di laci kasirnya, dia lalu mengadu ke Adil tetapi Adil hanya bingung lalu Sita mengadu lagi kepada bapak, bapak pun kaget dan mengejar hingga keluar toko. Sita pun juga memberi tahu kepada ibu, ibu pun bergegas menyusul bapak keluar toko. Setelah menanyakan dan debat panjang kepada pencuri tiba tiba bom meledak disamping toko. Ledakan besar sampai tubuh bapak dan ibu hancur. Sita dan Adil melihat kejadian itu dengan ekspresi kaget. Level Realitas Penampilan : penampilan Sita memakai pakaian kaos loreng dengan warna merah dan campuran cokelat, rambut dikuncir belakang dengan celana pendek cokelat. Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Sedangkan Adil memakai pakaian kaos abu abu dengan luaran kemeja hijau Pakaian yang sederhana cukup menggambarkan kesederhanaan kondisi Sita Adil dan Make up . : tidak ada riasan pada Sita maupun Adil menunjukkan autensitas dan kesederhanaannya. Dengan kondisi ekonomi dan sosial Sita dan Adil yang seadanya. Dan memberikan rasa tulus kepada orang tuanya untuk berjualan tanpa memikirkan riasan. Environment . : depan toko roti, dipinggir jalan raya kejadian orang tua Sita dan Adil mengejar pencuri. Disitu orang tua Sita dan Adil meninggal. Behaviour . : Sikap terdiam dan termenung Adil saat ditanya Sita bahwa ada pencuri mengambil uang dikasir. Lalu Sita yang langsung sigap lapor kepada orang tuanya. Saat orang tuanya sudah mengejar, sita pun sempat ingin menyusul tetapi sudah terlambat ketika bom tiba-tiba meledak di depan toko roti. Hal ini menunjukkan perbedaan sikap Adil dan Sita. Sita yang lebih pemberani karena dia membela yang benar sedangkan Adil menunjukkan sikap kaku, tidak ikut campur. Gesture . erak tubu. : gerak tubuh adil yang terdiam kaku dan hanya Sedangkan Sita langsung berlari ke arah orang tuanya untuk memberi tahu ada pencuri mengambil uang di kasir. Ekspression . : Ekspresi Adil yang menatap kosong dan Sita dengan ekspresi panik dan marah. Dan ketika saat kejadian bom terjadi . Sita dan Adil melihat dengan mata kepala sendiri, melihat orang tuanya terkena ledakan dan meninggal di Ekspresi Adil dan Sita yang kaget, panik, sedih dan takut menjadi satu. Level Representasi Pada adegan scene pertama, aspek yang dilihat dari level representasi adalah sebagai Camera . amera : pengambilan gambar dari scene ini diambil menggunakan teknik medium shot, wide shot dan teknik dolly zoom. Setting . : latar pada scene pertama ini berlangsung di meja toko roti dan jalanan depan toko roti. Lighting . : kombinasi antara pencahayaan lampu kuning dengan lampu matahari. Ketika shot dolly zoom, pencahayaan mulai meredup Menciptakan atmosfer yang tegang, memperkuat ketakutan yang dialami Sita dan Adil. Teknik pengambilan dalam scene 1 film Siksa Kubur menggunakan teknik medium shot, wide shot dan teknik dolly zoom. Hal ini dirancang untuk membangun aksi dalam cerita. Memperlihatkan koreografi dan act out karakter. Mulai dari menit 10:00 hingga 10:31, kamera medium shot mengikuti pergerakan Sita hingga menghampiri Adil dan ayah. Dalam wide shot memperlihatkan act out ayah berlari mengejar pencuri, memperlihat juga kondisi jalanan yang ramai. Dalam adegan menggunkana teknik kamera dolly zoom, menunjukan ekspresi Sita dan Adil, yang kagut dan takut melihat secara langsung orang tuanya meninggal. Komposisi cahaya dan gambar yang naural menciptakan atmosfer yang tegang dan realistis. Mendukung konflik pertama dan emosi pada karakter Sita dan Adil. Secara keseluruhan, pengambilan gambar dalam adegan mampu menciptakan suasana emosional pada sifat karakter utama. Level Ideologi Dalam analisis berdasarkan jurnal milik Amanda Daini dan Martha Tri Lestari menampilkan bahwa pada adegan ini termasuk ideologi Patriaki. Patriaki ketika hak otoritas sosial berada unggul di laki-laki daripada perempuan. Dalam hal ini keluarga (Ghassan 2. Ideologi Patriaki terlihat ketika pencuri yang ingin mengambil uang Lalu Sita segera memberitahu kepada Adil sebagai kakak, tetapi Adil hanya Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 diam saja, lalu Sita menghampiri Ayah. Hal ini memperlihatkan konsep sosial dalam keluarga, adalah memberikan atau berdiskusi masalah dengan orang yang lebih dewasa atau tua. Dalam hal ini juga mengartikan kepada laki-laki yaitu Adil dan ayah. Sebagai laki-laki lebih mendominasikan kekuasaan utama terutama dalam rumah tangga. Gambar 3. Rumah Sakit (Sumber: Dailymotion, 2. Tabel 3. tanda scene 2 Pakaian Sita baju kaos loreng garis cokelat Adil baju kaos abu-abu kemeja hijau Tanda Dialog Setting Polisi : Adik-adik, tadi ada yang Dalam ruangan di rumah Laki-laki yang bawa ransel dan sakit pakai jaket tebal sempat masuk ke toko Dia sempat bicara dengan salah satu dari kalian? Dia bilang apa? Adil : Denganku, pak. polisi : Dia ada bilang sesuatu atau melakukan sesuatu? Sita: tidak ada pak. Polisi: kalian yakin? Sita: AomenganggukAo Pada scene 2, yang berlangsung pada menit 11:43 hingga 12:29, adegan ini Sita dan Adil diwawancarai oleh polis terkait kejadian bom bunuh diri yang terjadi di depan toko ritu mereka. Mereka berada di salah satu ruangan rumah sakit. Dengan ekspresi ketakutan, kaget, sedih bercampur. Sita dan Adil hanya menatap kosong ketika ditanya oleh polisi. Level Realitas Penampilan : penampilan Sita memakai pakaian kaos loreng dengan warna merah dan campuran cokelat, rambut dikuncir belakang dengan celana pendek cokelat. Sedangkan Adil memakai pakaian kaos abu abu dengan luaran kemeja hijau Pakaian yang sederhana cukup menggambarkan kesederhanaan kondisi Sita Adil dan Make up . : muka yang penuh dengan debu menunjukan kusam atas kejadian yang telah terjadi. Dengan rambut yang terlihat, kusut ditambah keringat disekujur tubuhnya Sita dan Adil. Environment . : salah satu ruangan di rumah sakit, dengan meja didepan Sita dan Adil. Ditambah lemari dibelakang dengan penuh obat, dan alat Dengan pajangan kesehatan dibelakang dan suasana gelap. Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Behaviour . : Sikap terdiam dan termenung Adil dan Sita. Dengan sedikit kaku dan nangis. Duduk tegak sambil menjawab singkat dari pertanyaan yang dikasih oleh polisi. Hal ini menunjukkan mereka hanya bingung dan takut atas yang telah terjadi. Gesture . erak tubu. : gerak tubuh Adil diam duduk tegak sedangkan Sita duduk tegak sambil mengambil diam-diam kaset yang dipegang oleh Adil. Hal ini menunjukkan Sita ingin mengambil kaset itu tanpa diketahui oleh polisi. Ekspression . : Ekspresi Adil dan Sita yang kaget, bingung, sedih dan takut atas apa yang telah terjadi. Mereka hanya menatap lurus dengan badan tegak. Dan menahan nangis disaat dihadapan para polisi tetapi saat dengan Sita Adil tidak bisa menahan rasa nangisnya, sedangkan Sita dengan ekpresi alis menurun kebawah, menandakan marah dan ingin mencari tau isi dari kaset tersebut. Level Representasi Pada adegan scene pertama, aspek yang dilihat dari level representasi adalah sebagai berikut: Camera . amera : pengambilan gambar dari scene ini diambil menggunakan teknik medium shot, one angle. Setting . : latar pada scene pertama ini berlangsung di salah satu ruangan rumah sakit. Dengan lemari yang berisi obat-obatan dan alat Lighting . : kombinasi antara pencahayaan lampu kuning dari lampu meja kerja dan cahaya dari jendela belakang Sita dan Adil. Suasan sedikit gelap dan lembab menunjukkan rasa duka yang terjadi pada Sita dan Adil. Teknik pengambilan dalam scene 2 film Siksa Kubur menggunakan teknik medium shot, dengan one angle. Hal ini dirancang untuk menunjukkan ekspresi Sita dan Adil. Medium shot yang menceritakan lingkungan dari sekitra memberikan efek, latar setelah dari toko roti. Lalu one shot angle yang mengartikan tujuan untuk fokus kepada Sita dan Adil sehingga karakter yang menjadi kameo dan pendukung cerita. Komposisi cahaya dan gambar yang naural menciptakan atmosfer yang terjadi saat seseorang mengalami duka Level Ideologi Dalam analisis berdasarkan Jurnal Menganalisis Praktik Individualisme Dalam Masyarakat Demokratis di Indonesia oleh Petronius Tibo menyebutkan bahwa individualisme sebagai paham yang menghendaki kebebasan dalam menganut suatu Kepercayaan ini yang mengacu pada kebebasan pribadi untuk bergerak bebas sesuatu dengan keyakinannya. (Habibie and Rahmawati 2. pada scene pertama menampilkan level ideologi individualisme. Ideologi individualisme terlihat saat mereka ditanya oleh polisi. Polisi bertanya apakah apakah pelaku bilang sesuatu kepada Sita dengan sigap menahan Adil untuk berbicara lebih. Dan mengambil alih pembicaraan dengan berbohong kepada polisi. Hal ini dikarenakan Adil sudah lebih dahulu menceritakan kejadian yang terjadi kepada Sita. Hal ini mengartikan Sita ingin mengambil hakim sendiri. Ingin mencari tahu terlebih dahulu kaset yang dikasih oleh Adil dari pelaku. Mengepentingkan ego nya sendiri daripada diserahkan kepada yang Hal ini membuktikan bahwa sikap Sita yang berani dan lebih mengedepankan egonya sendiri ketimbang orang lain termasuk Adil. Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Gambar 4. Rumah Sakit (Sumber: Dailymotion, 2. Tabel 4. tanda scene 2 Pakaian Sita baju kaos loreng garis cokelat Adil baju kaos abu-abu kemeja hijau Tanda Dialog Setting Sita: aku mau pulang! Dalam ruangan di rumah Adi: ke mana? Sita : Rumah Adil: jangan Sita : untuk apa kita di sini! Adil: Sita, di sini aja. Sita : untuk apa kita di sini? Aku mau Adil : Ada siapa di rumah? Bapak ada? Ibu ada? Pada scene 2, yang berlangsung pada menit 12:22 hingga 12:36, pada adegan ini Sita dan Adil berdebat. Sita ingin pulang ingin mencari tahu isi dari kaset yang diberikan kepada Adil oleh sang pelaku. Sedangkan Adil tidak ingin pulang dia ingin berada di rumah sakit. Adil juga melarang Sita untuk tetap dirumah sakit. Tetapi akhirnya Sita pun membantak dan pergi. Level Realitas Penampilan : penampilan Sita memakai pakaian kaos loreng dengan warna merah dan campuran cokelat, rambut dikuncir belakang dengan celana pendek cokelat. Sedangkan Adil memakai pakaian kaos abu abu dengan luaran kemeja hijau Pakaian yang sederhana. Dengan banyak debu dan keringat yang bercucuran di tubuh mereka. Make up . : tidak riasan pada Sita dan Adil. Hanya terlihat muka yang berkeringat dan lebam nangis. Tidak memakai perhiasan apapun juga. Environment . : salah satu ruangan di rumah sakit, dengan meja didepan Sita dan Adil. Ditambah lemari dibelakang dengan penuh obat, dan alat Dengan pajangan kesehatan dibelakang dan suasana gelap. Behaviour . : Sikap tegas Sita yang ingin mencari tau kebenarannya, dengan langsung ingin kembali ke rumah. Sedangkan Adil yang langsung membentak dan menegur Sita untuk tetap berada di rumah sakit. Gesture . erak tubu. : gerak tubuh Adil yang masih diam lalu membalikkan badan untuk menahan Sita pergi. Sedangkan Sita yang langsung berdiri dan ingin Ekspression . : Ekspresi Adil yang masih menahan tangisan sedangkan Sita yang marah, dan tidak sabar ingin mengungkap isi kasetnya. Ketika Sita hendak Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Adil membetak dan menahan Sita untuk pergi. Dengan muka yang menangis lepas dan ekpresi marah dari Sita. Level Representasi Pada adegan scene pertama, aspek yang dilihat dari level representasi adalah sebagai berikut: Camera . : pengambilan gambar dari scene ini diambil menggunakan teknik medium shot, dan angle dekat. Mengambil sisi Sita dan sisi Adil. Setting . : latar pada scene pertama ini berlangsung di salah satu ruangan rumah sakit. Dengan lemari yang berisi obat-obatan dan alat kesehatan. Lighting . : kombinasi antara pencahayaan lampu kuning dari lampu meja kerja dari angle Adil. Memberikan kesan gelap dan sunyi menandakan kedalaman duka yang masih terjadi sama Adil. Sedangkan Sita cahaya terang dari luar ruangan menghiasa sisi wajahnya. Teknik pengambilan dalam scene 2 film Siksa Kubur menggunakan teknik medium shot, dengan one angle dari sisi Sita dan Adil. Hal ini memberikan kesan perdebatan dari kedua sisi yang berlawanan. Dengan latar belakang dekoarasi yang berbeda dan pencahayaan yang juga berbeda menandakan mereka mempunyai pemikiran yang berbeda. Level Ideologi Pada scene ini mempunyai analisis yang sama dari jurnal Menganalisis Praktik Individualisme Dalam Masyarakat Demokratis Di Indonesia oleh Petronius Tibo. Yaitu menampilkan level ideologi individualisme. Ideologi individualisme terlihat saat mereka berdebat. Mereka punya ketakutan yang berbeda. Adil ingin tetap berada di rumah sakit, karena Adil sudah takut dan tidak punya siapa-siapa lagi kalau pulang ke Sedangkan Sita ingin kembali ke rumah, ingin mencari tahu isi dari kaset yang diberikan oleh si pelaku. Sita mempunyai paham yang ingin balas dendam dan ingin mencari tau motif bom bunih diri. Terlihat dari egonya Sita yang masih bersikeras untuk memnuhi egonya yang belum terpenuhi. Dalam jurnal juga disebutkan bahwa definisi individualisme adalah sebagai paham yang menganggap diri sendiri . lebih penting daripada orang lain hal ini mengartikan Sita sedang mementingkan dirinya sendiri daripada Adil. (Prasetya 2. Gambar 5. Pesantren (Sumber: Dailymotion, 2. Tabel 5. tanda scene 3 Pakaian Tanda Dialog Setting Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Sita pesantren, dengan kerudung putih, lengan panjang dan rok panjang. Sita: kalau di neraka disiksa untuk apa Salah satu ruangan kelas di di kubur juga disiksa? Ustazah Ningsih : kau salah bertanya Sita : salah nya dimana? Ustazah Ningsih : Beriman itu artinya yakin tanpa ragu. kalau kita yakin tanpa ragu, hikmah akan datang menuntun kita untuk memahami. Sita: kenapa agama suka menakutnakuti orang? Ustazah Ningsih: aku sering bertemu orang sepertimu, awalnya imanya sangat tipis. Lalu berakhir tidak Akhirat, siksa neraka, kita tidak tahu kapan. Karena nyawa kita bisa dicabut malaikat kapan saja. Sita: bisa dicabut malaikat, atau diledakkan oleh orang yang takut disiksa malaikat? Pada scene 3. Sita dan Adil diasuh oleh salah satu pesantren. Dalam adegan ini Sita berada di salah satu kelas dengan guru yang sedang mengajar mengenai agama. Disaat guru sedangan memberikan materi. Sita menyela dengan memberikan Mereka berdebat mengenai tentang siksa kubur yang terjadi kepada orang yang tidak beriman. Tetapi Sita mempunyai pemahaman sendiri menganai hal tersebut. Level Realitas Penampilan : penampilan Sita memakai seragam putih pesantren, dengan kerudung putih, seragam panjangn dan rok panjang. Make up . : tidak riasan pada Sita, hanya memakai make up natural. Hal ini menunjukan penampilan siswa pesantren pada umunya yang tidak memakai make up atau perhiasan. Environment . : salah satu kelas di pesantren, dengan bangku dan meja di sekeliling Sita dan dikelilingi oleh murid-murid perempuan lainnya. Behaviour . : Sikap Sita yang duduk di bangku kelas, dengan badan yang condong membungkuk. Gesture . erak tubu. : hanya duduk membungkuk, menatap kosong kedepan dan ketika ditanya oleh guru pun. Sita tidak menoleh kepada guru. Ekspression . : Ekspresi Sita yang melamun, menatap kosong kedepan, di saat bertanya dan menjawab ketus kepada guru. Hal ini menggambarkan ketidakpedulian Sita dengan penjelasan dari guru. Sita membantah karena mempunyai pemahaman yang lain. Level Representasi Pada adegan scene pertama, aspek yang dilihat dari level representasi adalah sebagai berikut: Camera . amera : pengambilan gambar dari scene ini diambil menggunakan teknik close up dan medium shot. Medium shot ketika ingin menggambarkan suasana kelas, diisi oleh murid-murid yang lain dan guru. Memakai angle bawah depan dan Lalu dipertegaskan memakai angle close up, memperjelas ekpresi yang dibangun dari Sita dan Guru. Setting . : latar pada scene pertama ini berlangsung di salah satu ruangan kelas di pesantren. Lighting . : pencahayaan natural Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 dari sinar matahari yang masuk dari jendela kelas. menyinari dari sisi kiri Sita dan guru. Teknik pengambilan dalam scene 3 film Siksa Kubur menggunakan teknik medium shot, dengan angle yang berbeda beda. Mulai dari angle bawah samping dan Kombinasi dengan pencahayaan natural yang masuk melalui jendela ke sisi kiri Sita yang memberikan efek sinematik dan pengambaran emosional. Level Ideologi Dalam analisis berdasarkan buku Stephen Davies berjudul Liberalisme Klasik Perkenalan Singkat Eamonn Butler, pada scene ini menampilkan level ideologi Ideologi liberalisme merupakan hal prioritas dan kebebasan pribadi dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi. (Davies 2. dalam adegan ini menggambarkan perjuangan karakter yang mempunyai pemahaman sendiri, terlihat ketika Sita tidak setuju dengan konsep agama siksa kubur yang gurunya jelaskan. Dalam adegan ini mengartikan bahwa Sita mengganggap konsep itu salah atau setidaknya dia tidak percaya. Bahkan menentang pemahaman gurunya. Ideologi liberalisme ini sering kali menantang hierarki sosial yang menghalangi mereka atau orang lain. Pembahasan Penggambaran luka batin melalui tingkat semiotika John Fiske Peneliti menganalisis penggambaran luka batin anak Sita dan Adil menggunakan 3 level semiotika milik John Fiske. Pada tingkatan pertama. Tingkat Realitas menggambarkan kejadian-kejadian yang direpresentasikan sebagai asli. Peristiwa itu meliputi penampilan, busana, tata rias, lingkungan sekitar, perilaku, suara, gerak tubuh, dan ekspresi. dalam bentuk tertulis, seperti transkrip, dokumen, wawancara, dan sebagainya. (WA. D, and IK 2. Pada tingkat ini perilaku dan ekspresi Sita dan Adil berinteraksi dengan lingkungan sosial satu sama lain. Contohnya ada pada gerakan tubuh yang defensif, tatapan mata yang kosong atau mencurigakan atau kecenderungan untuk menghindar. Gambar 6. Rusunawa (Sumber: Dailymotion, 2. Seperti pada adegan ke-24 memperlihatkan semua tanda tanda realitas yang digambarkan mulai dari arti lugas sampai tersirat. Terlihat dari penampilan Adil yang memakai kemeja abu-abu lengan pendek dengan celana panjang hitam. Berkumis, berjanggut dan rambut keriting. Pada aspek ini terlihat bahwa Adil tidak terlalu memikirkan tentang penampilan. Hanya memakai warna yang dasar dan sepatu yang berwarna hitam. Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Gambar 7. Rumah sakit (Sumber: Dailymotion, 2. Pada contoh adegan 3, menunjukan level ideologi individualisme pada adegan ini mereka punya ketakutan yang berbeda. Adil ingin tetap berada di rumah sakit, karena Adil sudah takut dan tidak punya siapa-siapa lagi kalau pulang ke rumah. Sedangkan Sita ingin kembali ke rumah, ingin mencari tahu isi dari kaset yang diberikan oleh si Sita mempunyai paham yang ingin balas dendam dan ingin mencari tau motif bom bunuh diri. Gambar 8. Ruang Guru (Sumber: Dailymotion, 2. Dan pada adegan ke-7. Pada adegan ini menggunakan teknik close-up shot yang menyoroti dari angle samping serong, ditambah pencahayaan natural yang menambah efek jerah dari karakter yang mencoba kabur dari pesantren. Pada adegan ini menambah kesan penyesalan dan sedih yang terdalam pada Sita. Menggunakan shot ini mendukung ekspresi Sita yang saat kangen bapak dan ibu nya. Bahwa dia melakukan ini demi memenuhi ego nya Sita. Serta terdapat karakter pendukung yaitu ustazah umaya, yang awalnya mengikuti peraturan menjadi ber simpati terhadap Sita untuk tidak memakai kan kerudung nya. Ketiga level tersebut memberikan tafsiran pada arti luka batin anak dari tanda-tanda realitas, representasi dan ideologi. Luka batin anak adalah ketika Sita dan Adil mendapatkan luka trumatik semasa mereka anak-anak. Semenjak kecil Adil sudah mendapatakan rundungan dari teman-teman sekolahnya tetapi luka yang paling besar dan membekas adalah ketika orang tuanya meninggal secara tragis. Sita dan Adil pun melihat secara langsung. Emosi Sita dan Adil ketika kecil tidak bisa memproses kejadian tersebut, tidak ada keluarga lain yang melindung, membimbing mereka setelah kejadian tersebut. Mereka berdua harus dipaksa untuk hidup mandiri dengan ego yang dipenuhi oleh kesedihan, balas dendam dan kesendirian. Sedangkan orang tua memegang peranan penting bagi anak untuk mendorong perasan dan sifatnya yang tidak spontan. (Rizaldy and Kusnarto 2. Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Luka Batin seseorang adalah bagian dari dirinya yang berasal dari peristiwa masa kecil yang memengaruhi kehidupannya saat ini. Dengan kata lain, luka batin seorang anak adalah komponen ego dan pengalaman yang ia miliki selama tahun-tahun awal hidupnya menurut (Purba and Wibowo 2. dijelaskan juga oleh Suranto Aw dalam bukunya AuKomunikasi InterpesonalAy dalam edisi pertama berjudul pengaruh terhadap sikap dan perilaku, yang menjelaskan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses pengiriman pesan dari satu orang ke orang lainnya bisa secara langsung maupun tidak secara langsung yang akan mempengaruhi dan mengubah sikap, pendapat dan Sehingga komunikasi pada dasarnya suatu fenomena atau pengalaman. Pengalaman-pengalaman tersebut yang memberikan arti pada setiap kemungkinan. (Anggadewi 2. kejadian traumatis anak tidak akan selesai jika pikiran dan emosinya tidak terselesaikan secara tuntas. Komunikasi antar pribadi yang salah akan memberikan arti pengalaman hidup yang berbeda dibandingkan dengan komunikasi yang baik. Penyampaian komunikasi yang salah juga akan memberikan arti dari setiap pengalaman atau fenomena tersebut. Karakter Sita dan Adil tumbuh dari komunikasi yang berbeda. Mereka tidak dibesarkan sampai dewasa oleh orang tua mereka, mereka mengalami kejadian traumatik didepan mata mereka, pola asuh yang salah di panti asuhan dan berakhir hidup di jalanan sendirian. Penyampaian komunikasi yang berbeda ditambah kejadian-kejadian tersebut melahirkan pikiran dan emosi yang berbeda. Muncul Trauma yang akan bangkit di masa tua, melahirkan ego dendam untuk menuntaskan egonya dalam bentuk apapun, bisa negatif maupun positif. Kejadian yang dialami Sita dan Adil tidak hanya orang tuanya terbunuh tetapi mereka dibunuh secara paksa karena pelaku bom bunuh diri karena takut dengan siksa kubur. Membuat Sita dan Adil bertanya-tanya tentang validasi siksa kubur dari agama. Ego dan emosi yang belum terselesaikan terpancing untuk membuktikannya. Seperti dalam jurnal Surianti dengan judul Inner Child: Memahami Dan Mengatasi Luka Masa Kecil mengatakan bahwa luka batin negatif dari pengalaman masa kecil yang buruk akan berdampak pada saat dewasa tentang bagaimana anak bersikap kepada lingkungannya dan menghargai diri sendiri. (Nurma Yuwita 2. Manifestasi luka batin Sita dan Adil oleh Carl Jung Analisis semiotika pada film menemukan tanda-tanda naratif dan visual yang menggambarkan 4 kategori luka batin yang dialami Sita dan Adil akibat korban bom bunuh diri orang tuanya dan kekerasan masa kecil. Pada kategori yang pertama guilt wound, hal ini karena rasa bersalah setelah peristiwa traumatis yang berada di luar kendali mereka, yaitu kematian orang tua akibat bom bunuh diri. Sita menunjukan perilkau yang agresif, kemarahannya termasuk yang ekstrem. Hal ini bisa terjadi karena salah satunya untuk menutupi rasa bersalah yang mendalam. Ekspresi melotot dan marah saat membentak bu Juwita adalah manifestasi penolakan trauma. Ditambah Sita mempunyai paham ideologi tidak percaya agama. Sita berfikir jika tuhan itu adam tragedi tidak akan terjadi. Sita mengubah perlawanan ideologis. Sedangkan Adil menggambarkan kepasifan dan keterpurukan. Sikap Adil yang diam kaku, menarik diri dan menunduk saat dirundung. Adil juga menunjukan internaslisasi rasa bersalah di mana dia gagal sebagai laki-laki dan sebagai kakak. Adil melihat dirinya tidak berharga dan tidak mampu bertindak, karena tindakannya di masala lalu tidak dapat mencegah (Lies Imma Junaidah 2. Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Yang kedua. Trust Wound atau luka kepercayaan. Dipicu oleh pengkhianatan atau kekerasan oleh figur otoritas yang seharusnya memberikan perlindungan. Penggambaran Adil adalah reaksi fisik seperti muntah, laget dan mual saat berhadapan dengan jenazah Pak Wahyu. ini adalah reaksi tubuh terhadap trauma kekerasan seksual dari pak Wahyu. karena sejak dahulu Adil tidak bisa memproses emosi secara verbal. Ia menghindari kontak mata dan memilih hidup dalam isolasi. Hal ini menunjukkan hilangnya kepercayaan dan validasi dari orang-orang. Sedangkan Sita isolasi dan pengendalian diri, yaitu menolak bantuan dan hanya percaya dengan kemapuannya Seperti tindakan berbohong kepada polisi dan memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri hal ini mencerminkan hilangnya kepercayaan pada orang lain yang dianggap tidak mampu. Dengan ini Sita terobsesi membongkar siksa kubur sebagai upaya untuk mencari kebenaran yang mutlak yang dapat ia percaya dan kendalikan menggantikan trauma yang Sita rasakan. (Mufidah and Isya 2. Yang ketiga. Neglect wound atau luka pengabaian seperti ketika kebutuhan fisik dan emosional anak tidak terpenuhi setelah tragedi. Membuat mereka merasa terisolasi dari masyarakat. Sita dan Adil berjuang dari kecil mencari nafkah di toko roti dan hidup sendiri ketika mereka kehilangan orang tua. Keputusan Adil untuk tinggal di rumah sakit dan menghindari rumah adalah manifestasi dari pengabaian emosional. Adil merasa rumah yang seharusnya aman, tidak lagi memberikan rasa aman dan nyaman dan memilih tetap berada di rumah sakit sebagai bentuk perlindungan diri. Yang keempat. Abandoment Wound atau luka penelantaran. Hal ini dipicu oleh kematian mendadak orang tua akibat korban bom bunuh diri, menciptakan rasa kekosongan dan ketakutan bahwa mereka akan ditinggalkan sendirian. Sita menjadi sangat posesif dan mengendalikan Adil. Hal ini adalah upaya satu-satunya untuk mencegah keluarga satu-satunya yang tersisa di hidupnya hal ini menciptakan keterikatan yang tidak sehat. Menjadikan Adil tidak bisa hidup mandiri dan belajar berganti menjadi sosok pelindung bagi Sita sebagai sosok kakak. Keputusan Adil untuk memilih tetap tinggal di rumah sakit, merepresentasikan penolakan terhadap tempat yang mengingatkannya pada kehilangan dan penelantaran. (Fahida 2. Dalam penelitian terdahulu dalam jurnal yang berjudul Representasi Inner Child Pada Tokoh Utama Taeko Okajima Dalam Film Animasi Omohide Poroporo Karya Isao Takahata oleh Maulidha dan Riztanzi Ayu. Dalam jurnal tersebut ,menunjukkan hasil penelitian bahwa terdapat berbagai bentuk inner child, seperti wounded inner child, neglected inner child, fearful inner child, dan creative inner child, yang bersumber dari pola asuh keluarga, tekanan akademik, serta kurangnya validasi emosional di masa Hal ini menunjukkan ketidaksamaan bentuk inner child atau luka batin anak yang digunakan di penelitian ini. Sumber trauma dari setiap inner child berasal dari pengalaman masa kecil di lingkungan keluarga dan sekolah dan juga perjalanan tokoh utama berinteraksi dengan orang lain seperti apa. Dan dari penelitian terdahulu juga tidak terlalu spesifik menjelaskan setiap arti inner child yang terkandung. Begitu juga setiap bentuk inner child memiliki analisis yang berbeda dengan penelitian ini contohnya seperti creative inner child yang dimana melihat perkembangan karakter utama dari sisi kepintarannya sejauh mana, dengan studi kasus dan solusi yang (Septiningsih and Yuwono 2. Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Pembentukan identitas komunikasi dan interaksi masa kecil Dalam buku yang berjudul Interpesonal Communication: Everyday Encouters karya Julia T. Wood tentang pembentukan identitas diri atau konsep diri dijelaskan bahwa hal itu bisa terjadi karena proses sosial melalui komunikasi dengan orang lain. Salah satu teorinya adalah attachment styles atau kelekatan dalam hubungan. Menurut Wood, idenitas kita tidak tumbuh dalam isolasi, melainkan dibentuk sejak dini melalui pola komunikasi. Di dalam attachment styles terdapat yang bernama fearful attachment atau kelekatan yang menakutkan. Prosesnya bisa terjadi karena pola asuh dan cara komunikasinya dengan cara yang negatif, menolak atau bahkan kasar secara fisik atau Anak merasa dirinya tidak layak dicintai dan memandang orang lain sebagai ancaman atau sumber rasa sakit yang baru. Dampaknya adalah dalam hubungan dewasa, mereka cenderung menarik diri karena takut disakiti, meskipun sebenernya mereka menginginkan kedekatan. Ini yang dialami oleh karakter Sita dan Adil. Yang dialami Adil adalah mereka sangat tertutup. Bagaimana trauma yang sudah terjadi di kehiduapannya dia menjadi tidak bisa mengkomunikasikan perasaan nya Adil yang pada akhirnya membentuk identitas Adil. Adil memandang orang lain sebagai sosok yang tidak dapat dipercaya dan takut untuk merasa tersakiti. Begitu juga dengan Sita. Cara komunikasi yang meremehkan, merendahkan atau penyampaian yang salah akan membentuk identitas diri. Seperti ketika Sita berada di panti asuhan mengalami ajaran dari guru yang penyampaian ajarannya salah. Sehingga Sita merasa tidak hanya tidak dicintai tetapi juga merasa terancam. Hal ini yang mempengaruhi komunikasi saat Sita menjadi sangat tertutup. Menganggap ketebukaan akan sangat beresiko karena takut akan menggunakan itu untuk menyakitinya lagi. Pengaruh trauma terhadap perilaku dewasa: korelasi kehidupan awal dan sikap. Gambar 9. Rumah Sakit (Sumber: Dailymotion, 2. Ekspresi Sita dan Adil yang kaget, bingung, sedih dan takut atas apa yang telah Mereka hanya menatap lurus dengan badan tegak. Dan menahan nangis disaat di hadapan para polisi tetapi saat dengan Sita Adil tidak bisa menahan rasa tangisannya, sedangkan Sita dengan ekspresi alis menurun kebawah, menandakan marah dan ingin mencari tau isi dari kaset tersebut. Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 Gambar 10. Ruang Guru (Sumber: Dailymotion, 2. Pada adegan ini digambarkan melalui tujuan tersembunyi Sita mencari jenazah yang memiliki dosa terburuk semasa hidupnya. Dengan begitu Sita bisa menguji percobaan tentang siksa kuburnya. Pada ideologi individualisme ini mengedepankan tujuan peribadi untuk kebebasan hidup. Pada paham ini mengfokuskan pada konsumsi pribadi untuk memnuhi ego yang belum terpenuhi. Pada adegan ini juga menangandung ideologi feminisme, yang diaman Sita sebagai peremuan dan adik lebih mendominasi daripada Adil sebagai kakak laki-laki. Pada adegan ini Adil lebih menurut apa yang Sita suruh, dan Sita lebih vokal daripada Adil. Adegan 2 dan 22 memiliki korelasi sebab akibat. Luka batin dapat mempengaruhi anak, pengalaman masa kecil yang tidak bisa dikendalikan oleh anak akan menyebabkan masalah di kehidupan dewasanya. Salah satunya masalah kesehatan mental atau (PTSD). Trauma masa kecil dapat berkontribusi pada depresi, kecemasan atau gangguan stres pasca truma Perilaku Sita ketika dewasa adalah obsesi dan Trauma awal Sita seperti kehilangan orang tua, melihat kakaknya dirundung dan orang-orang yang percaya agama membuatnya takut memanifestasikan diri sebagai pola perilaku obsesif dan melawan arus ketika dewasa. Obsesinya ketika membongkar liang kubur adalah ego tinggi dan upaya untuk AumengendalikanAy trauma masa lalu dengan mencari kebenaran apakah siksa kubur nyata. (WA et al. , 2. Sikap antisosial dan individualis mendorong Sita menjadi tidak percaya pada siapa pun. Sita rela berbohong kepada polisi atau orang lain untuk mencapai tujuannya. Ini adalah perpanjang trust wound. Sita ingin mengendalikan untuk mengahadapi dunia yang dianggapnya jahat. Kecenderungan dan pengedalian Sita yang ingin mengendalikan situasi. Hal ini terlihat ketika Sita melindungi Adil secara agresif. Menunjukkan bahwa ia harus mengambil peran sebagai pelindung, sebagai kopensasi atas ketidakmampuannya melindungi orang tua atau dirinya sendiri saat kecil. (Ayu & Nasution, 2. Perilaku Adil adalah Fawning dan Avoidance yaitu kepasifan dan penghindaran di masa dewasa. Sikap Adil yang cenderung diam kaku dan menunduk saat dirundung adalah manifestasi dari respons trauma fawning, di mana korban berusaha membuat dirinya tidak menonjol atau menghindari konflik lebih dalam. Adil juga sering kali menghindari konflik atau debat. Keputusan untuk tetap tinggal di rumah sakit, tidak ingin berdiskusi atau berdebat dengan Sita sehingga selalu menuruti kemauannya. Perilaku ini adalah upaya bawah sadar untuk menjaga jarak dari sumber luka. Adil juga menunjukkan sika laki-laki yang rentan. Adalah ideologi patriaki yang menyebutkan laki-laki sering kali selalu kuat. Luka batinnya menghancurkan hal tersebut, merepresentasikan laki-laki yang rentan, emosional, tidak berdaya dan selalu takut untuk besosialisasi. Terlihat juga ketika Adil tidak bisa menafkahi istrinya. Bukan hanya uang tapi batin. Yang mengartikan Adil tidak bisa memuaskan istrinya dalam Representasi Luka Batin Anak Dalam Film Siksa Kubur Karya Joko Anwar Dandy Putra. Syifa Syarifah Alamiyah Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 195-216 kebahagiaan atau kehangatan selayaknya suami istri. Adil tidak bisa melakukan itu dan lebih memilih bekerja mengurusi jenazah. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul Representasi luka batin anak pada karakter Adil dan Sita dalam film Siksa Kubur karya Joko Anwar mengambil kesimpulan dalam film ini luka batin anak direpresentasikan melalui sikap yang menjadi akumulasi pengalaman traumatis dan kegagalan komunikasi interpersonal di masa kecil. Dimana trauma dan kegagalan terus menetap dan memengaruhi kepribadian seseorang hingga dewasa ketika emosinya tidak terselesaikan secara tuntas. Menggunakan teori semiotika John Fiske . evel realitas. Level Representasi, dan Level Ideolog. mendapatkan kesimpulan sebagai berikut: Level Realitas: Representasi luka batin anak ditunjukan melalui perbedaan perilaku dan ekspresi yang kontras antara Sita dan Adil sebagai dampak dari peristiwa trauma masa kecil. Sita direpresentasikan sebagai sosok yang lebih sigap, pemberani namun menyimpan kemarahan dan rasa tidak ikhlas yang mendalam. Sementara itu. Adil direpresentasikan melalui sikap yang kaku, pasif, dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial . yang terlihat dari ekspresi kosong dan kurangnya perhatian terhadap penampilan diri di masa dewasa. Level representasi: penggunaan teknik kamera seperti dolly zoom dan close-up secara efektif mempertegas emosi ketakutan, kesedihan dan keterpurukan mental para karakter. Pencahayaan yang dramatis . ombinasi kuning dan redu. serta latar tempat yang suram . uang cuci baju, rusunawa, dan rumah saki. memperkuat atmosfer ketegangan psikologis yang dialami karakter akibat luka batin yang belum sembuh. Level ideologi: penelitian in menemukan adanya pengaruh ideologi Patriaki dalam struktu keluarga di mana peran laki-laki lebih didominasi dalam pengambilan keputusan awal. Selain itu, terdapat ideologi Individualisme yang muncul melalui karakter Sita. ia terjebak dalam keputsasaan masa lalu dan perasaan egois yang muncul sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri dari trauma. Film ini berhasil merepresentasikan bahwa luka batin anak . nner chil. yang tidak ditangani dengan tuntas akan terus membekas dan mempengaruhi fungsi sosial individu hingga dewasa. Penelitian ini memberikan sumbangsih pada kajian ilmu komunikasi massa dan visual. Dengan membuktikan bahwa teori semiotika John Fiske sangat adaptif ketika disandingkan dengan teori psikologi luka jiwa untuk membedah konstruksi karakter dalam film. Penelitian ini dapat menjadi bahan refleksi bagi masyarakat tentang fatalnya dampak kegagalan komunikasi interpersonal dalam keluarga dan lingkungan. Luka atau kekerasan sekecil apa pun di masa kanak-kanak akan memanipulasi kesadaran sosial dan mental individu hingga ia Sehubungan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti memberikan beberapa saran. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat mengembangkan kajian ini dengan menggunakan sudut pandang metode analisis resepsi . eception analysi. penonton, guna melihat bagaimana masyarakat memaknai isu luka batin dalam film horor ini secara langsung. Disarankan juga untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai korelasi simbol-simbol dogma keagamaan dalam film horor yang bersinggungan dengan trigger trauma psikologis masyarakat. Hasil penelitian ini dapat menjadi refleksi menganai betapa pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam menjaga kondisi psikis anak. Luka atau kekerasan sekecil apa pun yang dialami anak dapat berdampak fatal. pada perkembangan kepribadian mereka di masa depan. Daftar Pustaka