Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan p-ISSN: 2302-0008 e-ISSN: 2623-1964 DOI: https://doi. org/10. 47668/pkwu. Volume 13 Issue 3 2025 Pages 436-457 website: https://journalstkippgrisitubondo. id/index. php/PKWU/index Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Kegiatan Tematik Tujuh Poe Atikan Purwakarta di Sekolah Dasar (Studi Kasus di SDN Babakansari Plered Purwakart. Enjang Sarip Hidayat1*. Dian Rini Handayani2. Andi Saleh3. Ricky Yoseptry4. Miftahul Malik5 Universitas Islam Nusantara. Indonesia *Corresponding author: enjangsariphidayat@uninus. Abstract: This research is motivated by the formation of national character and civilization, as emphasized by Ki Hajar Dewantara (KHD) that education is a place to sow the seeds of culture (Dewantara, 1. This research uses a qualitative approach with a case study type. The qualitative approach was chosen because it aims to gain a deep and descriptive understanding of the process of internalizing Ki Hajar Dewantara's educational values in the specific context of the Tujuh Poe Atikan Purwakarta program at SDN Babakansari. The case study was applied to focus the study on one location and a unique program intensively, thus producing rich and comprehensive data. The process of internalizing Ki Hajar Dewantara's educational values in the Seven Poe Atikan Purwakarta thematic activity at SDN Babakansari was carried out through the harmonization of the role of teachers as Pamong who implemented the trilogy Ing Ngarso Sung Tulodo. Ing Madyo Mangun Karso, and Tut Wuri Handayani in every daily theme, starting from instilling a nationalist attitude (Ajeg Nusantar. to spirituality (Nyucikeun Dir. This program provides a space for Independent Learning (Merdeka Belaja. , which is directed at fostering character development based on local Sundanese wisdom. Despite challenges in consistent implementation, this thematic program has succeeded in becoming a contextual and sustainable medium for guiding students to achieve the life skills and noble character envisioned by Ki Hajar Dewantara. Keywords: internalization. educational values. 7 poems Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pembentukan karakter dan peradaban bangsa, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara (KHD) bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan (Dewantara, 1. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam dan deskriptif mengenai proses internalisasi nilai-nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam konteks spesifik program Tujuh Poe Atikan Purwakarta di SDN Babakansari. Studi kasus diterapkan untuk memfokuskan kajian pada satu lokasi dan program unik secara intensif, sehingga menghasilkan data yang kaya dan komprehensif. Proses internalisasi nilai-nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam kegiatan tematik Tujuh Poe Atikan Purwakarta di SDN Babakansari dilaksanakan melalui harmonisasi peran guru sebagai Pamong yang menerapkan trilogi Ing Ngarso Sung Tulodo. Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani dalam setiap tema harian, mulai dari penanaman sikap nasionalis (Ajeg Nusantar. hingga spiritual (Nyucikeun Dir. Program ini memberikan ruang bagi Merdeka Belajar yang diarahkan pada penumbuhan Budi Pekerti berbasis kearifan lokal Sunda. Meskipun terdapat tantangan dalam konsistensi implementasi, program tematik ini telah berhasil menjadi media kontekstual dan berkelanjutan untuk menuntun siswa mencapai kecakapan hidup dan kemuliaan karakter sebagaimana dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara. Kata kunci: internalisasi. nilai-nilai pendidikan. 7 poe atikan 436 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. 437 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Copyright . 2025 The Authors. This is an open-access article under the CC BY-SA 4. 0 license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Received: 06-10-2025 Revised: 23-10-2025 Accepted: 28-10-2025 Published: 06-11-2025 PENDAHULUAN Pendidikan nasional Indonesia dibangun di atas landasan filosofis yang kuat, salah satunya adalah pemikiran Ki Hajar Dewantara. Konsep pendidikan yang beliau gagasAiing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayaniAimenjadi arah pembentukan karakter peserta didik secara utuh. Nilai-nilai ini tidak hanya menekankan aspek intelektual, tetapi juga membangun budi pekerti, kemandirian, kepekaan sosial, dan moralitas. Dalam konteks pendidikan dasar, internalisasi nilai-nilai tersebut memiliki urgensi yang tinggi karena pada usia sekolah dasar, peserta didik sedang berada pada tahap perkembangan yang sangat peka terhadap penanaman karakter dan kebiasaan dasar. Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya berfokus pada pengembangan aspek kognitif, tetapi juga perlu menanamkan nilai, karakter, dan moral peserta didik. Dalam konteks pendidikan nasional. Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia menegaskan pentingnya pendidikan yang memerdekakan dan menumbuhkan budi pekerti, sebagaimana tercermin dalam asas trikon, trisentra, dan semboyan AuIng Ngarsa Sung Tulada. Ing Madya Mangun Karsa. Tut Wuri HandayaniAy. Nilai-nilai tersebut hingga kini menjadi landasan filosofis pendidikan karakter di Indonesia, khususnya dalam upaya memperkuat Profil Pelajar Pancasila pada jenjang pendidikan dasar. Kabupaten Purwakarta merupakan salah satu daerah yang konsisten mengembangkan model pendidikan berbasis kearifan lokal melalui program Tujuh Poe Atikan Purwakarta. Program ini memuat kegiatan tematik harian yang dipadukan dengan nilai-nilai budaya lokal dan karakter bangsa. Setiap hari diisi dengan tema tertentu seperti Ajeg Nusantara. Mapag Buana. Panca Warna. Minggu Sehat, dan lainnya, yang bertujuan membentuk peserta didik yang berkarakter, berbudaya, beretika, serta memiliki kepekaan sosial. Program ini sejalan dengan gagasan pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menekankan penerapan pendidikan secara kontekstual sesuai dengan budaya masyarakatnya. Di lingkungan sekolah dasar, khususnya SDN Babakansari Plered Purwakarta, pelaksanaan Tujuh Poe Atikan menjadi bagian integral dari kegiatan pembelajaran. Sekolah ini memadukan kegiatan tematik harian dengan internalisasi nilai-nilai Ki Hajar Dewantara melalui pembiasaan, keteladanan guru, aktivitas budaya, serta interaksi sosial di lingkungan Namun, sejauh mana nilai-nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara seperti kemandirian, keteladanan, kebersamaan, dan penguatan budi pekerti benar-benar terinternalisasi dalam diri peserta didik masih memerlukan kajian lebih mendalam. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Melalui A 438 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Selain itu, perubahan pola perilaku siswa, dinamika sosial-budaya, serta tantangan era digital menjadi faktor yang mempengaruhi efektivitas internalisasi nilai. Guru sebagai aktor utama dalam implementasi pendidikan karakter juga memiliki peran sentral dalam menerjemahkan nilai-nilai Ki Hajar Dewantara ke dalam praktik nyata. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui bentuk implementasi, strategi yang digunakan, serta hambatanhambatan yang muncul dalam proses internalisasi nilai melalui program Tujuh Poe Atikan. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji lebih jauh bagaimana internalisasi nilai-nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara berjalan dalam kegiatan tematik Tujuh Poe Atikan Purwakarta di SDN Babakansari Plered Purwakarta, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dan nilai-nilai filosofis pendidikan nasional. Pendidikan memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan peradaban bangsa, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara (KHD) bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan (Dewantara, 1. Filsafat pendidikan KHD menekankan pada sistem Among yang berpusat pada peserta didik, menjunjung tinggi kodrat alam dan kodrat zaman, serta menuntun anak mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Di sisi lain. Pemerintah Kabupaten Purwakarta telah menginisiasi program pendidikan karakter yang berbasis kearifan lokal, yaitu Tujuh Poe Atikan Purwakarta. Program ini merupakan sebuah kebijakan pendidikan yang dilaksanakan secara tematik dan berkelanjutan selama tujuh hari . ima hari di sekolah dan dua hari di ruma. , dengan fokus pada penanaman nilai-nilai karakter khas Sunda dan Nusantara, seperti Ajeg Nusantara. Mapag Buana. Maneuh di Sunda. Nyanding Wawangi. Nyucikeun Diri, dan Betah di Imah (Perbup Purwakarta No. 69 Tahun 2015 sebagaimana diganti dengan perbup nomor 131 tahun 2022 dan di revisi dengan Perbup nomor 35 tahun 2. Implementasi program yang tematik dan berbasis kearifan lokal ini memerlukan kajian mendalam terkait relevansi dan internalisasi nilai-nilai universal pendidikan KHD di dalamnya, khususnya di tingkat Sekolah Dasar sebagai fondasi pendidikan karakter. SDN Babakansari dipilih sebagai lokasi studi kasus karena merupakan salah satu satuan pendidikan yang konsisten menerapkan program Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mendeskripsikan secara holistik proses internalisasi nilai-nilai KHD dalam kegiatan tematik Tujuh Poe Atikan Purwakarta dan dampak implementasinya terhadap pembentukan karakter siswa. KAJIAN PUSTAKA Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Kegiatan A 439 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Landasan Teoretis/Konsep Landasan teoritis dalam penelitian ini bertumpu pada Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Konsep Internalisaasi Nilai. Filsafat KHD menekankan bahwa pendidikan harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan (Dewantara, 1. Terdapat tiga pilar utama yang relevan: Sistem Among dengan semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo . i depan memberi telada. Ing Madyo Mangun Karso . i tengah membangun semanga. , dan Tut Wuri Handayani . i belakang memberi doronga. yang menjadi landasan kepemimpinan pendidikan (Dewantara, 1. Kedua. Konsep Merdeka Belajar yang berarti memberikan kebebasan kepada anak untuk berekspresi, berinovasi, dan belajar tanpa paksaan sesuai minat dan bakatnya, dengan tetap menjunjung asas kebudayaan. Ketiga. Budi Pekerti . lah rasa, olah karsa, olah cipta, dan olah rag. yang merupakan harmonisasi antara cipta . , rasa . , dan karsa . sehingga menghasilkan perilaku yang beradab. Sementara itu. Internalisasi Nilai dipahami sebagai suatu proses penanaman dan penyesuaian nilai-nilai luhur ke dalam kepribadian individu melalui tiga tahapan: Knowing . Feeling . , dan Acting . sehingga nilai tersebut menjadi bagian dari perilaku sehari-hari secara berkelanjutan (Lickona, 1991. dalam Susilo, 2. Teori Internalisasi Nilai Internalisasi nilai merupakan proses penanaman nilai ke dalam diri individu sehingga nilai tersebut menjadi bagian dari kepribadian dan perilaku sehari-hari. Menurut Berger & Luckmann, internalisasi adalah penerimaan nilai dan norma secara sadar sehingga individu menjadikannya pedoman bertindak. Proses internalisasi melibatkan tiga tahapan utama: Transformasi nilai, yaitu penyampaian nilai oleh pendidik atau lingkungan. Transaksi nilai, yakni interaksi peserta didik dengan nilai melalui pengalaman belajar dan pembiasaan. Transinternalisasi, yaitu penghayatan mendalam sehingga nilai menjadi karakter pribadi. Dalam konteks pendidikan dasar, internalisasi nilai berperan penting dalam pembentukan karakter siswa melalui pendekatan teladan, pembiasaan, penguatan, serta lingkungan yang Pendidikan Karakter Pendidikan karakter adalah proses pembentukan kualitas moral dan etika peserta didik melalui pengembangan nilai-nilai positif dalam berbagai aspek kehidupan. Kemendikbud merumuskan bahwa pendidikan karakter harus mengembangkan dimensi: religiusitas. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Melalui A 440 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Model pendidikan karakter melibatkan: Keteladanan . A Pembiasaan dan budaya sekolah A Penguatan perilaku positif . A Kegiatan kontekstual A Keterlibatan keluarga dan masyarakat Program Tujuh Poe Atikan Purwakarta dapat dikategorikan sebagai implementasi pendidikan karakter berbasis budaya dan lingkungan. Nilai-nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara Ki Hajar Dewantara menekankan pendidikan yang memerdekakan, menumbuhkan budi pekerti, dan berpijak pada kebudayaan bangsa. Nilai-nilai inti pemikirannya meliputi: Semboyan Trimatra Pendidikan . Ing Ngarsa Sung Tulada - Guru sebagai teladan. Ing Madya Mangun Karsa - Guru membangun semangat dan kreativitas siswa. Tut Wuri Handayani - Guru memberi dorongan dan kepercayaan untuk berkembang. Trisentra Pendidikan . Pusat keluarga . Pusat sekolah . Pusat lingkungan masyarakat Ketiganya harus bekerja bersama membentuk karakter anak. Asas Trikon . Kontinu - Pendidikan berkesinambungan. Konsentris - Pendidikan berakar pada budaya sendiri. Konvergen - Pendidikan terbuka pada kemajuan dunia. Nilai Dasar Pendidikan Ki Hajar Dewantara . Budi pekerti . Kemandirian . Kebangsaan . Keselarasan dengan alam dan masyarakat . Kearifan budaya lokal Nilai-nilai ini relevan dengan muatan lokal Purwakarta dalam Tujuh Poe Atikan. Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Kegiatan A 441 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Pendidikan berbasis kearifan lokal adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan nilai, budaya, dan tradisi masyarakat ke dalam proses pendidikan. Karakteristiknya antara . Menggunakan budaya lokal sebagai sumber belajar . Memberikan pengalaman autentik . Menumbuhkan identitas dan kebanggaan lokal . Memperkuat karakter melalui pembiasaan sosial-budaya Program Tujuh Poe Atikan merupakan bentuk konkret pendidikan kearifan lokal Purwakarta melalui tema harian seperti Ajeg Nusantara. Minggu Sehat. Mapag Buana, dan Konsep Tujuh Poe Atikan Purwakarta Tujuh Poe Atikan adalah program pendidikan karakter berbasis budaya yang diterapkan pemerintah Kabupaten Purwakarta. Program ini memuat aktivitas tematik harian, antara lain: Senin: Mapag Buana . esadaran global dan cinta lingkunga. Selasa: Maneuh di Sunda . elestarian budaya Sund. Rabu: Rebo Nyunda . Kamis: Mapag Nagri . Jumat: Jumaah Berkah . ilai religiu. Sabtu: Saba Sekolah dan kegiatan kreatif siswa . Minggu: Minggu Sehat Sekolah Dasar sebagai Lingkungan Internalisasi Nilai Sekolah dasar merupakan lembaga formal pertama yang membentuk karakter anak. Pada fase operasional konkret . - 11 tahu. , siswa mudah menyerap nilai melalui contoh nyata, kegiatan tematik, dan interaksi sosial. Internalisasi nilai efektif jika: Guru menjadi teladan . Sekolah memiliki budaya positif . Ada kegiatan rutin . itual, pembiasaan, upacar. Lingkungan mendukung perkembangan moral dan sosial Karena itu, implementasi Tujuh Poe Atikan di SDN Babakansari menjadi media strategis untuk mengintegrasikan nilai Ki Hajar Dewantara ke dalam perilaku siswa. Kerangka Konseptual Penelitian Secara konseptual, penelitian ini memposisikan: Tujuh Poe Atikan Purwakarta Ie Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Melalui A 442 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. sebagai strategi Nilai Ki Hajar Dewantara Ie sebagai konten nilai Internalisasi nilai Ie sebagai proses Perubahan perilaku siswa Ie sebagai dampak Guru, pembiasaan, budaya sekolah, dan partisipasi orang tua menjadi faktor pendukung keberhasilan internalisasi. Konsep Dasar Internalisasi Nilai Internalisasi nilai merupakan proses penyerapan dan penanaman nilai tertentu ke dalam diri peserta didik sehingga nilai tersebut menjadi bagian dari pola pikir, sikap, dan perilaku sehari-hari. Dalam pendidikan, internalisasi nilai tidak hanya dilakukan melalui penyampaian informasi, tetapi melalui pembiasaan, keteladanan, interaksi sosial, dan pengalaman langsung. Nilai baru dapat dikatakan terinternalisasi apabila muncul perubahan perilaku yang stabil, tidak bergantung kondisi, dan menjadi kebiasaan moral. Dalam teori pendidikan nilai, proses internalisasi mencakup tiga tahapan utama: transformasi nilai, transaksi nilai, dan transinternalisasi. Pertama, transformasi nilai terjadi ketika guru memberikan informasi dan pemahaman awal tentang nilai yang akan Kedua, transaksi nilai terjadi saat peserta didik mengalami nilai tersebut melalui kegiatan, pembiasaan, atau situasi yang memungkinkan munculnya pengalaman emosional dan sosial. Ketiga, transinternalisasi terjadi ketika nilai tersebut menjadi bagian dari kesadaran dan kepribadian peserta didik, tercermin melalui tindakan yang konsisten. Proses internalisasi nilai di sekolah dasar sangat dipengaruhi oleh karakteristik perkembangan anak. Usia sekolah dasar, terutama kelas rendah dan menengah, berada pada fase operasional konkret sehingga pembiasaan, contoh nyata, dan kegiatan tematik lebih efektif dibandingkan penjelasan abstrak. Oleh karena itu, program dengan kegiatan harian seperti Tujuh Poe Atikan Purwakarta menjadi relevan sebagai media internalisasi nilai melalui pengalaman langsung dan konsisten. Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara Filosofi Ki Hajar Dewantara merupakan dasar konseptual bagi sistem pendidikan nasional Indonesia. Pemikiran beliau menekankan pembentukan manusia merdeka, baik merdeka lahir maupun batin, melalui pendidikan yang berakar pada budaya, mengutamakan budi pekerti, serta memperhatikan perkembangan kodrati anak. Pilar utama pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah Trimatra Pendidikan: Ing Ngarsa Sung Tulada - pendidik harus memberi contoh perilaku baik. Ing Madya Mangun Karsa - pendidik memposisikan diri sebagai penyemangat dan fasilitator kreativitas. Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Kegiatan A 443 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Tut Wuri Handayani - pendidik memberikan ruang kebebasan siswa dan mendorong kemandirian mereka. Nilai-nilai ini menuntut guru untuk tidak sekadar mengajar, tetapi menjadi figur moral yang membimbing peserta didik melalui keteladanan dan pendampingan. Selain itu, terdapat konsep Trisentra Pendidikan, yaitu kesatuan pendidikan antara keluarga, sekolah, dan KHD menekankan bahwa pendidikan tidak mungkin berhasil jika hanya berlangsung di sekolah. semua lingkungan harus menjadi pusat pembentukan karakter anak. Pemikiran ini selaras dengan program Tujuh Poe Atikan yang melibatkan nilai budaya lokal, kegiatan kemasyarakatan, dan partisipasi keluarga. Dengan demikian, nilai-nilai pendidikan ala Ki Hajar Dewantara dapat dikategorikan ke dalam beberapa aspek pokok: kemandirian, kepekaan sosial, kecintaan budaya, keteladanan moral, budi pekerti, kedisiplinan, serta keselarasan dengan alam dan lingkungan sosial-budaya. Nilai-nilai inilah yang menjadi acuan utama dalam melihat proses internalisasi pada program Tujuh Poe Atikan Purwakarta. Konsep Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Pendidikan berbasis kearifan lokal adalah pemanfaatan budaya, tradisi, nilai, dan norma masyarakat setempat sebagai sumber belajar untuk membentuk karakter peserta didik. Model ini memandang lingkungan budaya sebagai laboratorium pendidikan yang alami. Pembelajaran berbasis kearifan lokal memperkuat identitas siswa, menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya daerah, serta memfasilitasi transfer nilai budaya antargenerasi. Dalam konteks Purwakarta, kearifan lokal tercermin dalam berbagai kegiatan budaya seperti Rebo Nyunda, penggunaan bahasa Sunda, pakaian adat, makanan tradisional, serta ritual berlandaskan nilai moral. Melalui Tujuh Poe Atikan, nilai lokal bukan hanya diperkenalkan, tetapi dipraktikkan dalam rutinitas sekolah sehingga konsisten dengan prinsip internalisasi nilai Ki Hajar Dewantara: internalisasi melalui pengalaman langsung. Konsep Tujuh Poe Atikan Purwakarta Program Tujuh Poe Atikan Purwakarta merupakan kebijakan pemerintah daerah dalam memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya. Program ini membagi hari-hari sekolah menjadi tema tertentu yang memuat pesan moral, budaya, dan karakter sesuai nilainilai kebangsaan dan kearifan lokal. Setiap hari memiliki keunikan kegiatan, misalnya: Senin: Mapag Buana - orientasi pada kesadaran global dan wawasan dunia. Selasa: Maneuh di Sunda - memperkuat identitas dan budaya Sunda. Rabu: Rebo Nyunda - penggunaan bahasa dan adat Sunda dalam keseharian. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Melalui A 444 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Kamis: Mapag Nagri - penguatan nasionalisme dan cinta tanah air. Jumat: Jumaah Berkah - penanaman nilai religius dan kepedulian sosial. Sabtu: kegiatan kreatif, seni, dan pengembangan potensi diri. Minggu: Minggu Sehat - penguatan kesehatan fisik dan mental . iasanya terintegras. Program ini menyediakan struktur pembiasaan yang sistematis sehingga nilai karakter dapat ditanamkan melalui rutinitas, keteladanan guru, aktivitas budaya, dan pembelajaran Dengan demikian. Tujuh Poe Atikan menjadi wahana ideal untuk internalisasi nilai Ki Hajar Dewantara. Hubungan Konseptual antar Variabel Kerangka konseptual penelitian ini bertumpu pada hubungan antara tiga komponen Nilai-nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara (Variabel Konseptual X) Merupakan nilai inti yang akan ditanamkan, seperti: Keteladanan A Kemandirian A Kreativitas A Budi pekerti A Kesadaran budaya Kepekaan sosial Nilai ini menjadi konten yang harus diinternalisasikan melalui kegiatan pendidikan. Kegiatan Tematik Tujuh Poe Atikan (Variabel Pendukung/Strategi S) Merupakan strategi dan media internalisasi nilai melalui: Kegiatan tematik harian A Pembiasaan A Kegiatan budaya dan sosial Keteladanan guru Lingkungan sekolah Program ini bertindak sebagai wadah penerapan nilai. Internalisasi Nilai pada Peserta Didik (Variabel Y) Merupakan proses dan dampak yang terlihat pada: Perubahan perilaku A Konsistensi sikap Kepatuhan pada norma Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Kegiatan A 445 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Pola interaksi sosial Peningkatan kesadaran budaya dan moral Proses internalisasi terjadi apabila program Tujuh Poe Atikan mampu menerjemahkan nilai Ki Hajar Dewantara secara efektif melalui pembiasaan dan keteladanan. Mekanisme Internalisasi dalam Program Tujuh Poe Atikan Secara teoretis, mekanisme internalisasi nilai Ki Hajar Dewantara melalui Tujuh Poe Atikan dapat digambarkan dalam beberapa tahap: Tahap Transformasi Nilai Guru memperkenalkan nilai . isal: sopan santun, cinta budaya, kerja sam. sesuai tema hari itu. Penjelasan diberikan melalui diskusi, cerita, pengarahan, dan pengenalan contoh Tahap Transaksi Nilai Peserta didik mulai mengalami nilai melalui kegiatan nyata, seperti: praktik budaya Sunda pada Rebo Nyunda kegiatan ibadah bersama pada Jumaah Berkah kegiatan cinta lingkungan pada Mapag Buana penggunaan pakaian adat kegiatan kreatif seni dan budaya Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan penggerak motivasi. Tahap Transinternalisasi Nilai mulai menjadi bagian dari kepribadian anak melalui: pembiasaan yang berulang A dorongan dan teladan dari guru (Tut Wuri Handayan. A reinforcement positif interaksi sosial yang positif budaya sekolah yang konsisten Pada tahap ini nilai mulai termanifestasi dalam sikap sehari-hari. Faktor Pendukung dan Penghambat Penelitian ini memandang bahwa internalisasi nilai melalui Tujuh Poe Atikan dipengaruhi oleh: Faktor pendukung: Keteladanan guru sebagai role model Konsistensi aktivitas tematik Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Melalui A 446 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Budaya sekolah yang positif Keterlibatan orang tua Fasilitas yang mendukung kegiatan budaya Kesesuaian program dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara Faktor penghambat: Kurangnya pemahaman guru mengenai makna nilai A Tidak konsistennya pelaksanaan harian A Minimnya dukungan orang tua Pengaruh teknologi digital A Kurangnya sarana dan prasarana budaya Rendahnya motivasi siswa Analisis faktor ini penting untuk memahami efektivitas internalisasi nilai di SDN Babakansari. Landasan Enam Sistem Nilai Landasan enam sistem nilai dalam penelitian ini merujuk pada Tujuh Poe Atikan Purwakarta yang merupakan program pendidikan karakter lokal di Kabupaten Purwakarta (Perbup No. 69 Tahun 2. , di mana setiap harinya memiliki nilai tematik yang berbeda, yang juga dapat diselaraskan dengan nilai-nilai KHD dan Landasan Enam sistem Nilai Uninus. Senen Ajeg Nusantara: Menekankan pada nilai nasionalisme dan patriotisme, sejalan dengan konsep KHD tentang mencintai tanah air dan menjaga kebudayaan bangsa. Selaras dengan nilai Uninus yaitu teleologis dan Etis. Salasa Mapag Buana: Mengajak siswa untuk siap menghadapi perubahan zaman dan globalisasi, selaras dengan konsep KHD tentang kodrat zaman dan pentingnya kecakapan Selaras dengan Nilai Uninus yaitu Logis. Rebo Maneuh di Sunda: Fokus pada pelestarian nilai dan budaya Sunda, selaras dengan kodrat alam . earifan loka. dan penanaman budi pekerti yang bersumber dari Selaras dengan Nilai Uninus yaitu Fisiologis. Kemis Nyanding Wawangi: Mendorong kegiatan yang membangun estetika dan keindahan, menumbuhkan olah rasa dan kreativitas siswa. Selaras dengan Nilai Uninus yaitu Estetis dan teleologis. Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Kegiatan A 447 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Jumaah Nyucikeun Diri: Menekankan pada nilai spiritual dan keagamaan, sejalan dengan pembentukan budi pekerti yang berlandaskan pada akhlak mulia. Selaras dengan Nilai Uninus yaitu Teologis. Sabtu-Minggu Betah di Imah: Mendorong peran serta keluarga sebagai pusat pendidikan pertama dan utama (Tri Sentra Pendidikan KHD) dalam menanamkan kemandirian dan tanggung jawab. Selaras dengan Nilai Uninus yaitu Etis Peneliti Terdahulu Yang Relevan Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji filosofi KHD, seperti penelitian oleh Susilo . yang membahas refleksi nilai-nilai KHD dalam upaya mengembalikan jati diri pendidikan Indonesia, dan penelitian lain yang fokus pada implementasi nilai KHD dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila di era digital (Fajar et al. , 2. Sementara itu, program Tujuh Poe Atikan Purwakarta juga telah diteliti, misalnya terkait dengan kajian penerapannya dalam penguatan pendidikan karakter di Purwakarta (Prawiyogi, 2. Namun, belum ditemukan penelitian yang secara spesifik mengkaji dan mendeskripsikan secara mendalam bagaimana nilai-nilai fundamental pendidikan Ki Hajar Dewantara . erutama sistem Among. Merdeka Belajar, dan Budi Pekert. diinternalisasi secara holistik melalui kegiatan tematik harian dari program Tujuh Poe Atikan Purwakarta di tingkat Sekolah Dasar. Penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut melalui pendekatan studi kasus di SDN Babakansari. METODE Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam dan deskriptif mengenai proses internalisasi nilai-nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam konteks spesifik program Tujuh Poe Atikan Purwakarta di SDN Babakansari. Studi kasus diterapkan untuk memfokuskan kajian pada satu lokasi dan program unik secara intensif, sehingga menghasilkan data yang kaya dan komprehensif (Creswell. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analitis. Metode deskriptif-analitis bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasikan fenomena yang terjadi secara alami di lokasi penelitian, yaitu proses internalisasi nilai-nilai KHD dalam kegiatan tematik. Data yang dikumpulkan berupa narasi, observasi, dan dokumen yang kemudian dianalisis untuk menemukan pola dan makna di balik implementasi program Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Melalui A 448 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Teknik dan Instrumen Penelitian Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: Observasi Partisipatif . : Dilakukan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan kegiatan tematik Tujuh Poe Atikan di kelas dan lingkungan sekolah, dengan fokus pada peran guru . eladan, motivator, pendoron. dan perilaku siswa . emerdekaan, budi pekert. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi terstruktur. Wawancara Mendalam (In-depth Intervie. : Dilakukan kepada Kepala Sekolah. Koordinator Program. Guru Kelas, dan perwakilan Siswa/Orang Tua untuk menggali informasi mengenai pemahaman, pelaksanaan, dan makna internalisasi nilai KHD dalam kegiatan program. Instrumennya adalah pedoman wawancara. Studi Dokumentasi: Dilakukan untuk mengumpulkan data berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik. Peraturan Bupati terkait Tujuh Poe Atikan, serta dokumentasi kegiatan sekolah. Instrumennya adalah lembar pencatatan dokumen. Lokasi dan Sumber Data Lokasi Penelitian: SDN Babakansari. Plered. Purwakarta. Sumber Data: Sumber Data Primer: Peristiwa atau aktivitas yang diamati selama pelaksanaan Tujuh Poe Atikan Purwakarta, serta informan kunci: Kepala Sekolah. Koordinator Program. Guru Kelas yang menerapkan kegiatan tematik, dan beberapa perwakilan siswa kelas tinggi (IV-VI) dan orang tua siswa. Sumber Data Sekunder: Dokumen resmi sekolah. Peraturan Bupati (Perbu. Purwakarta, jurnal, buku, dan literatur lain yang berkaitan dengan nilai-nilai KHD dan program Tujuh Poe Atikan. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan adalah model interaktif dari Miles. Huberman, dan Saldana . yang terdiri dari tiga alur kegiatan yang saling terkait: Koleksi Data (Data Collectio. : Pengumpulan data dari observasi, wawancara, dan Kondensasi Data (Data Condensatio. : Proses pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, dan abstraksi data mentah yang muncul dari catatan lapangan. Data yang tidak relevan dengan fokus internalisasi nilai KHD dieliminasi. Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Kegiatan A 449 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Penyajian Data (Data Displa. : Penyajian data dalam bentuk naratif, tabel, atau bagan yang terstruktur untuk memudahkan penarikan kesimpulan. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi (Conclusion Drawing/Verificatio. : Penarikan kesimpulan dari hasil analisis yang diverifikasi kembali dengan data lapangan dan teori yang ada untuk memastikan keabsahan temuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Deskripsi hasil penelitian akan menyajikan temuan lapangan secara rinci dan terperinci sesuai dengan rumusan masalah. Data akan disajikan dalam bentuk narasi yang kaya kutipan . dan deskripsi . Secara garis besar, bagian ini akan Implementasi peran guru sebagai Pamong . eladan, motivator, pendoron. dalam setiap kegiatan tematik harian . isalnya, guru menjadi Tulodo dengan menggunakan Bahasa Sunda yang baik saat Rebo Maneuh di Sund. Deskripsi kegiatan tematik harian dan bagaimana nilai Merdeka Belajar . isalnya, siswa bebas memilih bentuk kreasi seni saat Kemis Nyanding Wawang. dan Budi Pekerti . isalnya, kegiatan yasinan dan tadarus pada Jumaah Nyucikeun Diri yang menumbuhkan olah rasa dan spiritua. diinternalisasi di dalamnya. Paparan mengenai tantangan . isalnya, pemahaman guru, dukungan orang tua, alokasi wakt. dan peluang . isalnya, dukungan kebijakan lokal, antusiasme sisw. yang muncul selama proses internalisasi. Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan dengan Kepala Sekolah mengenai internalisasi nilai-nilai filosofis Ki Hajar Dewantara (KHD) dalam kerangka program 7 Poe Atikan, ditemukan bahwa sekolah telah melakukan upaya penyelarasan yang Dalam memahami dan merumuskan keterkaitan antara nilai KHD dengan 7 Poe Atikan. Kepala Sekolah menjelaskan bahwa integrasi dilakukan melalui perancangan program sekolah serta aktivitas harian siswa dan guru yang secara eksplisit mengacu pada kedua pedoman tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah tidak memandang keduanya sebagai konsep terpisah, melainkan sebagai satu kesatuan landasan dalam menyusun kegiatan operasional pendidikan. Dalam implementasi trilogi kepemimpinan KHD, dimensi Ing Ngarsa Sung Tuladha . i depan memberi telada. dijalankan melalui pendekatan keteladanan langsung. Kepala Sekolah menekankan pentingnya peran pendidik sebagai "suri tauladan" bagi siswa. Upaya ini Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Melalui A 450 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. diperkuat dengan pemberlakuan tata tertib sekolah yang tegas untuk membangun kedisiplinan seluruh warga sekolah, memastikan bahwa perilaku dan tutur kata pendidik selaras dengan aturan yang berlaku. Sementara itu, pada dimensi Ing Madya Mangun Karsa . i tengah membangun semanga. , sekolah menempuh strategi kolaboratif dan suportif. Kepala Sekolah mendorong semangat guru dan siswa melalui diskusi rutin untuk memecahkan hambatan yang muncul, menjaga konsistensi pelaksanaan program, serta memberikan apresiasi berupa reward atau penghargaan untuk memotivasi inisiatif dan kreativitas. Terkait dimensi Tut Wuri Handayani . i belakang memberi doronga. , sekolah berupaya memfasilitasi kodrat alam dan minat siswa melalui pemetaan bakat. Berdasarkan data wawancara, sekolah melakukan pendataan minat siswa terhadap kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka. Pencak Silat. Literasi, dan UKS. Implementasi di dalam kelas kemudian disesuaikan dengan program sekolah dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun guru, memastikan pembelajaran berjalan sesuai kebutuhan peserta didik. Namun, dalam proses internalisasi ini, sekolah masih menghadapi tantangan riil di lapangan. Tantangan terbesar yang diidentifikasi oleh Kepala Sekolah adalah membangun kesadaran kolektif siswa, khususnya terkait kebersihan lingkungan. Hal ini mengindikasikan bahwa pembentukan karakter peduli lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah (PR) utama dalam penerapan nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah tersebut. Berdasarkan data wawancara dengan Guru Kelas, pemahaman dan penerapan nilainilai filosofis Ki Hajar Dewantara (KHD) dalam program 7 Poe Atikan telah terintegrasi secara tematik dalam kegiatan harian sekolah. Guru menunjukkan pemahaman yang kuat bahwa nilai KHD sangat erat kaitannya dengan penguatan karakter berbasis kearifan lokal. Hal ini tercermin jelas pada pelaksanaan hari Rabu (Maneuh di Sund. , di mana guru menginternalisasi nilai budaya melalui penggunaan pakaian adat, penggunaan bahasa Sunda, serta pelestarian permainan tradisional . aulinan baruda. Selain itu, pada hari Senin (Ajeg Nusantar. , fokus guru diarahkan pada pembentukan disiplin dan nasionalisme sebagai fondasi kepemimpinan siswa. Guru memandang bahwa pengenalan budaya lokal dan disiplin nasional merupakan manifestasi nyata dari konsep pendidikan KHD yang berbasis pada kodrat alam dan budaya. Dalam penerapan filosofi kepemimpinan Ing Ngarsa Sung Tuladha . i depan memberi telada. , guru menonjolkan peran keteladanan pada hari Jumat dengan tema Nyucikeun Diri. Keteladanan tidak hanya sebatas instruksi, melainkan partisipasi aktif guru dalam kegiatan religius dan kebersihan. Guru secara konsisten memberikan contoh melalui pelaksanaan shalat Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Kegiatan A 451 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Dhuha berjamaah untuk menyucikan hati dan pikiran . spek spiritua. , serta terlibat langsung dalam kegiatan "ngosek" atau membersihkan lingkungan sekolah . spek fisik/lingkunga. Hal ini menegaskan bahwa guru berupaya membangun karakter religius dan peduli lingkungan . gamumule lingkunga. melalui tindakan nyata yang dapat diamati dan ditiru oleh siswa. Pada dimensi Ing Madya Mangun Karsa . i tengah membangun semanga. , guru menciptakan ruang bagi siswa untuk mengembangkan olah rasa, estetika, dan kepedulian sosial, khususnya pada hari Kamis (Nyanding Wawang. Strategi yang diterapkan guru adalah memantik inisiatif sosial siswa melalui program pengumpulan Beas Kaheman . eras kasih sayan. untuk melatih empati antarsesama. Selain itu, guru mendorong kreativitas siswa dengan memfasilitasi penataan ruang kelas yang indah dan memajang hasil karya sastra siswa . di dinding kelas. Pendekatan ini bertujuan menciptakan suasana belajar yang mendukung eksplorasi aktif dan menumbuhkan rasa percaya diri siswa melalui apresiasi Terkait dimensi Tut Wuri Handayani . i belakang memberi doronga. , pendekatan guru sangat berorientasi pada keberpihakan pada murid . tudent-centere. Guru menyadari pentingnya memperhatikan "Kodrat Alam" siswa, yaitu potensi, minat, dan cara belajar yang Dalam praktiknya, guru menghindari paksaan kehendak dan lebih memilih memberikan arahan bertahap sesuai perkembangan siswa. Ketika siswa mengalami kesulitan belajar, solusi yang ditawarkan guru adalah menciptakan suasana kelas yang menyenangkan terlebih dahulu misalnya melalui ice breaking dan menyesuaikan metode ajar agar relevan dengan lingkungan sosial budaya siswa. Hal ini menunjukkan upaya guru dalam menuntun siswa tumbuh sesuai kodratnya secara alami dan nyaman. Meskipun integrasi nilai telah berjalan, guru menghadapi tantangan signifikan dalam proses internalisasi, terutama pada tema Ajeg Nusantara (Seni. Tantangan utama yang diidentifikasi adalah kesulitan siswa dalam memahami konsep abstrak tentang nasionalisme dan nilai-nilai KHD secara konkret. Selain itu, aspek kedisiplinan masih menjadi kendala bagi sebagian siswa. Guru juga menyoroti tantangan eksternal berupa kemajuan teknologi dan media sosial yang membawa pengaruh budaya asing tanpa filter yang memadai, sehingga berpotensi menggerus pemahaman siswa terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang sedang dibangun sekolah. Berdasarkan hasil wawancara dengan orang tua siswa, ditemukan bahwa tingkat pemahaman wali murid terhadap integrasi nilai Ki Hajar Dewantara (KHD) dan program 7 Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Melalui A 452 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Poe Atikan tergolong sangat baik. Orang tua mampu mengidentifikasi esensi dari setiap tema harian, mulai dari Ajeg Nusantara (Seni. untuk menumbuhkan rasa kebangsaan. Mapag Buana (Selas. untuk literasi global. Maneuh di Sunda (Rab. untuk pelestarian budaya lokal, hingga Betah di Imah (Sabtu-Mingg. sebagai momen penguatan ikatan keluarga. Pemahaman komprehensif ini didukung oleh komunikasi efektif pihak sekolah melalui media sosial, sehingga orang tua dapat memantau dan menyelaraskan nilai-nilai pendidikan sekolah dengan pola asuh di rumah. Dampak dari penerapan filosofi Ing Ngarsa Sung Tuladha . i depan memberi telada. oleh sekolah dirasakan secara signifikan oleh orang tua melalui perubahan perilaku anak di Responden melaporkan adanya internalisasi karakter positif, seperti peningkatan kedisiplinan, sopan santun, dan ketaatan beribadah. Keteladanan yang dibangun di sekolah, seperti kebiasaan ngosek . embersihkan lingkunga. dan shalat Dhuha, terbawa hingga ke lingkungan rumah. Anak-anak menunjukkan tanggung jawab yang lebih tinggi tanpa perlu instruksi berulang, serta terbangunnya kedekatan emosional dengan keluarga yang lebih baik. Pada aspek Ing Madya Mangun Karsa . i tengah membangun semanga. , orang tua mengamati munculnya inisiatif dan kemandirian siswa. Semangat tersebut terlihat dari kesadaran anak untuk bangun lebih awal demi mengikuti kegiatan sekolah, membawa bekal ramah lingkungan . engurangi plasti. , serta inisiatif membantu pekerjaan orang tua. Selain itu, motivasi intrinsik dalam aspek religius juga meningkat, ditandai dengan kesadaran melaksanakan shalat lima waktu dan mengaji secara mandiri. Hal ini mengindikasikan bahwa sekolah berhasil menciptakan atmosfer yang memantik semangat positif siswa untuk berperilaku baik di luar jam sekolah. Terkait implementasi Tut Wuri Handayani . i belakang memberi doronga. , orang tua menilai sekolah telah memberikan dukungan yang optimal bagi tumbuh kembang anak sesuai minat dan bakatnya. Dukungan ini mewujud dalam penyediaan wadah ekstrakurikuler serta kebebasan berekspresi bagi siswa. Orang tua mengapresiasi upaya sekolah yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pada pembiasaan karakter melalui upacara bendera, penggunaan bahasa dan pakaian adat Sunda, serta penugasan proyek karakter di rumah. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan konsep pendidikan yang berpihak pada murid . dan sesuai dengan kodrat alam anak. Meskipun program dinilai berjalan positif, terdapat harapan dan saran konstruktif dari orang tua untuk pengembangan ke depan. Tantangan utama yang diidentifikasi adalah perlunya sinergi yang lebih kuat antara sekolah dan rumah. Orang tua menyarankan adanya mekanisme Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Kegiatan A 453 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. pemantauan yang lebih terstruktur, seperti penggunaan catatan anekdot . necdotal recor. yang menghubungkan aktivitas di sekolah dan di rumah. Hal ini bertujuan agar perkembangan karakter siswa dapat terpantau secara holistik dan konsisten, serta memastikan dukungan penuh dari seluruh komunitas orang tua terhadap keberlanjutan program 7 Poe Atikan. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan siswa, ditemukan bahwa tingkat penerimaan dan pemahaman peserta didik terhadap program 7 Poe Atikan tergolong sangat baik dan rinci. Siswa mampu mendeskripsikan rangkaian kegiatan harian dengan lancar, mulai dari Ajeg Nusantara (Seni. yang diisi upacara bendera. Mapag Buana (Selas. dengan gerakan literasi bersama di lapangan, hingga Maneuh di Sunda (Rab. yang diwarnai pelestarian budaya melalui kaulinan barudak, pupuh, dan senam. Pemahaman siswa juga mendalam pada aspek sosial-religius, di mana mereka dapat menjelaskan detail kegiatan Nyanding Wawangi (Kami. berupa pengumpulan beas kaheman, serta Nyucikeun Diri (Juma. yang padat dengan aktivitas spiritual seperti shalat Dhuha, mengaji kitab kuning, membaca Yasin, hingga distribusi santunan anak yatim. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi program oleh sekolah berhasil menjangkau kognisi siswa secara menyeluruh. Terkait dengan aspek afektif dan persepsi terhadap keteladanan guru (Ing Ngarsa Sung Tuladh. , siswa menunjukkan respons emosional yang positif. Jawaban "senang" yang diungkapkan siswa ketika guru memberikan contoh atau bimbingan mengindikasikan bahwa pendekatan humanis yang dilakukan pendidik berhasil menciptakan rasa nyaman dan penerimaan di hati siswa. Tidak ada penolakan atau rasa tertekan yang dirasakan siswa terhadap figur guru sebagai role model. Dampak implementasi program terhadap perubahan perilaku (Ing Madya Mangun Kars. juga terlihat signifikan dalam kehidupan sehari-hari siswa di rumah. Internalisasi nilai kedisiplinan tercermin dari kebiasaan bangun pagi yang lebih semangat. Selain itu, nilai sosial dari program beas kaheman berhasil menumbuhkan kebiasaan bersedekah, dan kegiatan Mapag Buana berdampak pada meningkatnya kerajinan membaca di rumah. Data ini menegaskan bahwa nilai-nilai KHD tidak hanya berhenti sebagai ritual sekolah, tetapi telah menjadi kebiasaan hidup . Dalam konteks dukungan pembelajaran (Tut Wuri Handayan. , siswa merasakan keberadaan ekosistem pendidikan yang suportif. Ketika menghadapi kesulitan belajar, siswa menyebutkan adanya bantuan kolaboratif dari tiga pihak utama: guru, teman sebaya, dan orang tua. Hal ini menandakan berjalannya fungsi "Tri Sentra Pendidikan" . ekolah, keluarga, masyarakat/tema. yang harmonis bagi siswa. Menariknya, siswa menyatakan "tidak ada" Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Melalui A 454 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. kesulitan yang berarti dalam mengikuti seluruh rangkaian 7 Poe Atikan. Hal ini mengindikasikan bahwa desain program sekolah telah sesuai dengan tahapan perkembangan anak, menyenangkan . oyful learnin. , dan tidak membebani siswa secara psikologis maupun Berikut adalah deskripsi hasil penelitian yang disusun secara naratif dan akademis berdasarkan data observasi (Checklis. Berdasarkan pengamatan langsung . yang dilakukan terhadap ekosistem sekolah dan pelaksanaan pembelajaran, ditemukan bahwa implementasi nilai-nilai filosofis Ki Hajar Dewantara (KHD) melalui program 7 Poe Atikan telah terlaksana secara konsisten. Seluruh indikator kunci yang diamati menunjukkan status keterlaksanaan ("Ada"), yang mengindikasikan keselarasan antara visi sekolah dengan praktik nyata di lapangan. Peran Guru sebagai Teladan (Ing Ngarsa Sung Tuladh. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru telah menjalankan fungsinya sebagai model perilaku yang efektif bagi siswa. Secara visual dan perilaku, guru terlihat hadir tepat waktu dan menunjukkan antusiasme tinggi dalam menyambut siswa. Dalam aspek komunikasi, interaksi guru-siswa diwarnai dengan penggunaan bahasa yang santun dan menghargai, menciptakan iklim psikologis yang aman. Kepatuhan terhadap tema harian 7 Poe Atikan juga terlihat jelas, di mana pada hari Rabu (Maneuh di Sund. , seluruh guru mengenakan pakaian adat Sunda . angsi/kebay. sesuai ketentuan, memberikan contoh nyata penghormatan terhadap budaya lokal kepada siswa. Inisiatif dan Kemandirian Siswa (Ing Madya Mangun Karsa & Tut Wuri Handayan. Dinamika pembelajaran di kelas maupun di luar kelas memperlihatkan siswa yang aktif dan memiliki agensi . tudent agenc. Siswa tidak hanya menjadi objek pasif, melainkan terlibat aktif mengajukan pertanyaan dan berpendapat dalam diskusi. Observasi mencatat adanya kebebasan yang diberikan guru kepada siswa dalam memilih cara penyelesaian tugas, yang mendorong kemandirian belajar. Aktivitas kelompok berjalan dengan dinamis di mana inisiatif siswa muncul dalam memimpin atau mengorganisir kegiatan, mencerminkan iklim "Merdeka Belajar" yang menempatkan siswa sebagai subjek Kesesuaian dengan Kodrat Alam dan Zaman Sekolah berhasil mengintegrasikan pembelajaran kontekstual yang menyeimbangkan Kodrat Alam dan Kodrat Zaman. Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Kegiatan A 455 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Kodrat Alam: Pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar terlihat Praktik kearifan lokal seperti kaulinan barudak dan penggunaan bahasa daerah pada hari Rabu (Maneuh di Sund. menjadi bukti pelestarian akar budaya. Kodrat Zaman: Di sisi lain, pembelajaran tidak terlepas dari kemajuan era saat ini. Penggunaan teknologi dalam media pembelajaran teramati digunakan untuk mendukung proses transfer ilmu, memastikan siswa tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri budayanya. Keseimbangan Budi Pekerti (Cipta. Rasa. Kars. Observasi mengonfirmasi adanya pendekatan holistik dalam pengembangan karakter siswa: Cipta (Nala. : Terlihat dalam kegiatan diskusi dan literasi pada tema Mapag Buana, di mana siswa dilatih berpikir kritis. Rasa (Emosi/Spiritua. : Terlihat dominan pada kegiatan keagamaan seperti pembacaan Yasin atau shalat Dhuha bersama pada hari Jumat (Nyucikeun Dir. , serta apresiasi seni budaya. Karsa (Kemauan/Tindaka. : Mewujud dalam partisipasi aktif siswa melakukan aksi nyata, bukan sekadar teori. Secara keseluruhan, aktivitas 7 Poe Atikan berjalan sesuai dengan tema harian yang Tingkat partisipasi siswa sangat tinggi, di mana seluruh siswa terlibat aktif dalam kegiatan tematik tersebut, menandakan bahwa program ini bersifat inklusif dan telah membudaya dalam ekosistem sekolah. Pembahasan Pembahasan akan menganalisis temuan deskriptif dengan merujuk pada landasan teoritis (Filosofi KHD) dan penelitian terdahulu. Sinkronisasi Sistem Among dan Tujuh Poe Atikan: Menganalisis bagaimana peran Ing Ngarso Sung Tulodo terwujud dalam keteladanan guru selama Ajeg Nusantara . isiplin berbusan. dan Nyucikeun Diri . ikap religiu. peran Ing Madyo Mangun Karso terwujud dalam memfasilitasi kreativitas siswa pada Mapag Buana dan Nyanding Wawangi. peran Tut Wuri Handayani dalam memberikan motivasi dan dorongan saat siswa belajar di rumah (Betah di Ima. Temuan ini akan dibandingkan dengan konsep kepemimpinan pendidikan KHD (Dewantara, 1. Kemerdekaan Belajar dan Budi Pekerti dalam Kegiatan Tematik: Menganalisis sejauh mana kegiatan tematik Tujuh Poe Atikan memberikan ruang bagi siswa untuk belajar secara merdeka . tonomi, inisiati. dan menumbuhkan budi pekerti . lah rasa, olah cipta. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Melalui A 456 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. olah kars. yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan KHD. Misalnya, dianalisis bagaimana Maneuh di Sunda menjadi sarana penanaman budi pekerti berbasis kearifan lokal. Implikasi dan Relevansi: Menyimpulkan relevansi program kearifan lokal Tujuh Poe Atikan sebagai wujud nyata implementasi nilai-nilai filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara di tingkat lokal. SIMPULAN Proses internalisasi nilai-nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam kegiatan tematik Tujuh Poe Atikan Purwakarta di SDN Babakansari dilaksanakan melalui harmonisasi peran guru sebagai Pamong yang menerapkan trilogi Ing Ngarso Sung Tulodo. Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani dalam setiap tema harian, mulai dari penanaman sikap nasionalis (Ajeg Nusantar. hingga spiritual (Nyucikeun Dir. Program ini memberikan ruang bagi Merdeka Belajar yang diarahkan pada penumbuhan Budi Pekerti berbasis kearifan lokal Sunda. Meskipun terdapat tantangan dalam konsistensi implementasi, program tematik ini telah berhasil menjadi media kontekstual dan berkelanjutan untuk menuntun siswa mencapai kecakapan hidup dan kemuliaan karakter sebagaimana dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara. DAFTAR RUJUKAN Aulia. Daryanto. , & Kurniawan. Kontinuitas nilai-nilai pendidikan karakter ajaran Ki Hajar Dewantara pada buku pelajaran Bahasa Jawa kelas V sekolah dasar. Didaktika Dwija Indria, 11. , 221Ae230. Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative and Mixed Methods Approaches . th ed. Sage Publications. Dewantara. Pemikiran, konsep, keteladanan, dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: UST Press. Dewantara. Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa. Dinas Pendidikan Purwakarta. Pedoman Pelaksanaan Program Tujuh Poy Atikan. Purwakarta: Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta. Fadlillah. Implementasi pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 di sekolah Jurnal Pendidikan Karakter, 8. , 156Ae167. Fajar, et al. Internalisasi Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. SOCIAL: Jurnal Inovasi Pendidikan IPS, 1. Jamaludin. Shabartini. , & Hidayat. Konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam penanaman nilai-nilai multikultural untuk siswa sekolah dasar. Jurnal Elementaria Edukasia, 6. , 964Ae973. Kemendikbudristek. Panduan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi. Lickona. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Kegiatan A 457 | Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan Vol. 13 No. Responsibility. Bantam Books. Marzuki. , & Khanifah. Pendidikan ideal perspektif Tagore dan Ki Hajar Dewantara dalam pembentukan karakter peserta didik. Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan, 13. , 172Ae181. Miles. Huberman. , & Saldana. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook . rd ed. SAGE Publications Munawaroh. Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara ditinjau dari nilai-nilai religius dan relevansinya dengan Kurikulum Merdeka (Skrips. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Noventue. Ginanjar. , & Astutik. Hakikat pendidikan: Menginternalisasikan budaya melalui filsafat Ki Hajar Dewantara dan nilai-nilai Pancasila pada siswa. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, 7. , 2809Ae2818. Pemerintah Kabupaten Purwakarta. Peraturan Bupati Purwakarta Nomor 69 Tahun 2015 tentang Pendidikan Berkarakter. Prawiyogi. Kajian Tujuh Poe Atikan Pendidikan Purwakarta Istimewa Dalam Peraturan Bupati Nomor 69 Tahun 2015. Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 1. Saripudin. Internalisasi nilai karakter melalui program pembiasaan di sekolah Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 6. , 12Ae25. Siregar. Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dalam mewujudkan profil pelajar Indonesia. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 4. , 95Ae103. Siti Nurhayati. Praksis 7 Poy Atikan Istimewa sebagai upaya P5 dan peningkatan literasi TIK SD di Kabupaten Purwakarta (Skrips. Universitas Pendidikan Indonesia. Somantri. Pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Bandung: Alfabeta. Suharyanto. Strategi guru dalam internalisasi nilai karakter pada siswa sekolah Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 5. , 101Ae111. Susilo. Refleksi Nilai-nilai Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam Upaya Upaya Mengembalikan Jati Diri Pendidikan Indonesia. Jurnal Cakrawala Pendas, 4 . Winarso. Internalisasi nilai-nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam model pembelajaran di perguruan tinggi. Jurnal Math Educator Nusantara, 2. , 150Ae175. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Melalui A