Muttaqien. Vol. No. Januari 2025, 51 Ae 60 Intervensi Lingkungan Toxic pada Kecerdasan Spiritual terhadap Niat Kekerasan Seksual Novi Tazkiyatun Nihayaha*. Nur Aksinb. Hisny Fairussalamc. Sunan Baedowid a SMP Islam Sunan Giri Salatiga. Indonesia,b,d Universitas PGRI Semarang. Indonesia, c Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia * novitazkiya21@gmail. Kata kunci: Lingkungan Toxic. Kecerdasan Spiritual. Kekerasan Seksual Keywords: Toxic Environmenta. Spiritual Intelligence. Sexual Violencel ABSTRAK Kekerasan seksual merupakan bagian dari kekerasan berbasis gender. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian pA) Republik Indonesia mencatat dominansi kekerasan seksual sebesar 34,8 persen pada kekerasan berbasis gender. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar dampak lingkungan toxic mempengaruhi kecerdasan spiritual yang berujung pada niat untuk melakukan kekerasan seksual. Penelitian ini tergolong sebagai penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel convenience sampling sebanyak 77 responden di Kota Semarang melalui kuisoner online. Alat analisa penelitian ini menggunakan SPSS ver 21 melalui uji instrumen, asumsi klasik, dan regresi. Hasil penelitian didapatkan bahwa kecerdasan spiritual berpengaruh negatif signifikan pada niat melakukan kekerasan seksual, sebaliknya kecerdasan spiritual tidak terpengaruh terhadap niat melakukan kekerasan seksual meski diintervensi lingkungan toxic. Rekomendasi penelitian ini perlunya upaya terstruktur dalam meningkatkan kecerdasan spiritual di lingkup pendidikan melalui pendalaman agama seperti sistem ABSTRACT Sexual violence is part of gender-based violence. The Ministry of Women's Empowerment and Child Protection (Ministry of pA) of the Republic of Indonesia recorded a 34. 8 percent predominance of sexual violence in gender-based violence. This research aims to find out how much the impact of a toxic environment influences spiritual intelligence which leads to intentions to commit sexual violence. This research is classified as quantitative descriptive research with a convenience sampling technique of 77 respondents in Semarang City via an online questionnaire. The analytical tool for this research uses SPSS version 21 through instrument testing, classical assumptions, and The research results showed that spiritual intelligence had a significant negative effect on the intention to commit sexual violence, whereas spiritual intelligence was not affected by the intention to commit sexual violence despite the intervention of a toxic environment. The recommendation of this research is the need for structured efforts to increase spiritual intelligence in the educational sphere through religious deepening such as the Islamic boarding school system. Copyright A 2025 (Novi Tazkiyatun Nihayah, dkk. License Muttaqien: This work is licensed under the Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License. DOI: doi. org/10. 52593/mtq. Naskah diterima: 19 Desember 2024, direvisi: 17 Januari 2024, disetujui: 19 Januari 2024 Muttaqien. Indonesian Journal of Multidiciplinary Islamic Studies https://e-jurnal. id/index. php/mtq Muttaqien. Vol. No. Januari 2025, 51 Ae 60 Pendahuluan Kasus kekerasan seksual semakin marak terjadi saat ini. Data Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA) mencatat lonjakan angka kekerasan berbasis gender yang didominasi kasus kekerasan seksual sebesar 34,8 persen. Kasus kekerasan seksual di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Tercatat terjadi kenaikan sebesar 61 persen kekerasan berbasis gender dari tahun 2022 hingga tahun 2023 (Komnas Perempuan, 2. Kecerdasan spiritual merupakan bagian dari kekerasan berbasis gender. Kecerdasan spiritual erat kaitannya dengan tingkat intelegensi rohani yang pada akhirnya berdampak pada moralitas (Nihayah, 2. Semakin cerdas spiritual seorang individu maka akan semakin tinggi pemahaman dan kepatuhan terhadap aturan agama (Mhatre & Mehta, 2. Lingkungan toxic menjadi trend pembahasan saat ini. Lingkungan ini ditengarai sebagai penyebab naiknya angka kriminalitas di Indonesia. Komunitas yang diikuti individu mempengaruhi cara berperilaku individu (Sapara et al. , 2. Hadist Riwayat Abu Daud menyampaikan bahwa AuSeseorang itu bergantung kepada agama sahabatnya, maka perhatikanlah salah seorang dari kamu kepada siapa dia bersahabat. Ay Hadist tersebut memberi gambaran bahwa lingkungan memberikan dampak terhadap perilaku seseorang. Kecerdasan spiritual menurut (Zohar & Marshall, 2. adalah kemampuan seseorang untuk memahami makna hidup, menghubungkan diri dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, dan menemukan kedamaian batin. Halawati menyatakan bahwa dalam menghadapi lingkungan yang toxic, kecerdasan spiritual berperan sebagai benteng pertahanan yang kuat (Halawati, 2. Sehingga kecerdasan spiritual dapat menjadi penawar yang efektif terhadap dampak negatif dari lingkungan toxic yang mengarah pada tindak kekerasan seksual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur seberapa dampak lingkungan toxic mengintervensi kecerdasan spiritual terhadap niat melakukan kekerasan seksual. Rekomendasi penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi wawasan dalam penanggulangan kasus kekerasan seksual melalui konstruk yang berkaitan dengan kecerdasan Kekerasan Berbasis Gender Kekerasasan berbasis gender merupakan kekerasan berobjek pada lawan jenis. Kekerasan ini terdiri dari beberapa jenis, salah satu diantaranya adalah kekerasan seksual (Adikaram, 2. Kekerasan seksual juga dikenal sebagai kekerasan seksual yang lazim menimpa perempuan baik berupa verbal, fisik, non fisik, dan daring (Anjum & Ming. Kecerdasan Spiritual 52 | Muttaqien: E-ISSN: 2723-5963 Intervensi Lingkungan Toxic pada Kecerdasan Spiritual A (Novi Tazkiyatun Nihayah, dkk. Kecerdasan spiritual merupakan tingkat intelegensi yang berkaitan dengan religiusitas seorang individu (Vasconcelos, 2. Kecerdasan ini mengukur kedalaman hubungan trasenden dengan Tuhan (Mhatre & Mehta, 2. Kecerdasan spiritual erat kaitannya dengan niat individu dalam melakukan suatu tindakan (Dina et al. , 2. Semakin baik kecerdasan spiritual maka niat yang akan timbul untuk melakukan perbuatan juga akan positif, begitu pula sebaliknya (Hendijani Fard et al. , 2. H1 : Kecerdasan spiritual berpengaruh negatif terhadap niat melakukan kekerasan Lingkungan Toxic Lingkungan toxic merupakan istilah yang dikenal khalayak pada masa ini. Lingkungan toxic didefinisikan sebagai bagian dari peers influence yang dianggap memberi efek buruk terhadap sekitarnya (Garg et al. , 2023. Margarena & Setiawan, 2. Keterlibatan individu pada lingkungan toxic dapat menyebabkan niat negatif individu dalam berperilaku sehingga menurunkan performa (Anjum & Ming, 2. Semakin besar peran sosial individu dalam suatu lingkungan toxic maka akan semakin besar pula efek negatif yang akan ditimbulkan (Iqbal et al. , 2. Secara tidak langsung lingkungan dapat mendorong kecerdasan spiritual dalam mempengaruhi niat (Alshebami et al. , 2. H2 : Lingkungan toxic mengintervensi negatif antara kecerdasan spiritual terhadap niat melakukan kekerasan seksual. Niat Melakukan Kekerasan Seksual Niat diartikan sebagai keyakinan individu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (Jia et al. , 2. Selanjutnya niat melakukan kekerasan seksual dapat diartikan sebagai tingkat keinginan seseorang untuk melakukan tindakan asusila (Adikaram, 2. Niat merupakan anteseden kuat dari perilaku (Cai et al. , 2023. Margarena & Setiawan, 2. Mencegah niat merupakan langkah logis sebagai upaya preventif mencegah perilaku kekerasan seksual (Wong et al. , 2. LINGKUNGAN TOXICH NIAT MELAKUKAN KEKERASAN SEKSUAL KECERDASAN SPIRITUAL Gambar 1. Model Penelitian Metode Penelitian ini tergolong sebagai penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yakni penentuan sampel dengan pertimbangan Muttaqien: E-ISSN: 2723-5963 | 53 Muttaqien. Vol. No. Januari 2025, 51 Ae 60 tertentu (Cooper & Schindler, 2. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Kota Semarang dengan kriteria berusia 18 sampai 23 tahun pada tahun 2024 dengan jumlah keseluruhan 6783 dan beragama Islam yang kemudian diambil sebanyak 100 responden untuk penelitian ini. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan kuisoner online yakni pengumpulan data menggunakan survei online (Ferdinand, 2. Kuesioner yang digunakan adalah angket kekerasan seksual yang dikembangkan oleh Pusat Studi Gender dan Anak, angket kecerdasan spiritual yang dikembangkan oleh Danah Zohar & Marshall serta angket tentang lingkungan toxic yang dikembangkan oleh UNISRI Penelitian ini menggunakan alat analisis SPSS ver 21 dengan melibatkan uji instrumen, uji asumsi klasik, dan MRA . oderated regression analysi. untuk menguji regresi memakai moderasi (Ghozali, 2. Penelitian ini menggunakan skala likert seperti yang diungkapkan Sugiyono . yakni skala 1 sampai dengan 5 dengan indikator alat ukur yang tertera pada definisi operasional berikut: Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Indikator Pernyataan Kecerdasan Derajad religiusitas a Kepercayaan Percaya Tuhan melihat Spiritual yang mempengaruhi a Pemahaman segala tindakan kita pemikiran individu a Kepatuhan Paham yang menjadi (Vasconcelos, 2. perintah agama Taat dalam melaksanakan perintah agama Lingkungan Tingkat bauran pada a Keterlibatan Merasa saat ini terlibat di Toxic lingkup sekitar yang a Peran sosial lingkungan toxic menimbulkan dampak a Dukungan Memiliki peran dalam negatif (Anjum & lingkungan toxic Ming, 2. Dukungan rekan dalam lingkungan toxic memperngaruhi perilaku Niat Dorongan individu a Kesadaran Sadar akan melakukan Melakukan untuk melakukan a Keinginan kekerasan seksual Kekerasan tindakan asusila Ingin melakukan kekerasan Seksual (Adikaram, 2. Hasil dan Pembahasan Penelitian yang dilakukan pada 100 responden millennial di Kota Semarang didapatkan 77 kuisoner online yang dinyatakan lengkap dan valid untuk bisa dilakukan uji pada aplikasi SPSS. Hasil ini memberikan potret deskriptif responden seperti yang ditunjukkan pada tabel 2 berikut : 54 | Muttaqien: E-ISSN: 2723-5963 Intervensi Lingkungan Toxic pada Kecerdasan Spiritual A (Novi Tazkiyatun Nihayah, dkk. Kategori Jenis Kelamin Penghasilan Ortu Pondok Pesantren Komunitas Malam Menonton Video Porno Tabel 2. Deskriptif Responden Jumlah Laki-Laki Perempuan < 2. >5. Pernah Tidak Ikut Tidak Pernah Tidak Persentase (%) Uji SPSS meliputi uji instrumen, uji asumsi klasik, dan uji Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil pengolahan data diawali uji instrumen yakni reliabilitas dan validitas. Uji reliabilitas yang menunjukkan kesemua variabel dinyatakan reliabel karena cronbach alpha bernilai >0,70 (Ghozali, 2. Nilai cronbach alpha masing-masing bernilai 0,748 untuk variabel kecerdasan spiritual, 0,836 untuk variabel lingkungan toxic, dan 0,740 untuk variabel niat melakukan kekerasan seksual. Tabel 3. Uji Reliabilitas dan Validitas Variabel Cronbach Kesimpulan Indikator R Alpha Kecerdasan 0,748 Reliabel KSP1 0,740 Spiritual KSP2 0,829 (KSP) KSP3 0,873 Lingkungan 0,836 Reliabel LTX1 0,870 Toxic LTX2 0,878 (LTX) LTX3 0,856 Niat 0,740 Reliabel NPS1 0,889 Melakukan NPS2 0,893 Kekerasan Seksual (NPS) Kesimpulan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Selanjutnya untuk uji validitas didapatkan bahwa kesemua indikator dinyatakan valid karena r hitung > r tabel yang sebesar 0,2242 dan p-value < 0,05 seperti tertera pada tabel 3. Validitas tertinggi diperlihatkan oleh NPS2 dengan 0,893 dan terendah oleh KSP1 dengan nilai sebesar 0,740. Hasil uji instrumen baik validitas dan reliabilitas kesemuanya menunjukkan hasil sesuai yang diharapkan, maka uji bisa dilanjutkan dengan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, linearitas, multikolonieritas, dan heteroskedastisitas. Muttaqien: E-ISSN: 2723-5963 | 55 Muttaqien. Vol. No. Januari 2025, 51 Ae 60 Gambar 2. Uji Normalitas Uji lanjutan menggunakan SPSS yakni uji asumsi klasik yang diawali dengan uji normalitas menggunakan scatter plot yang menghasilkan titik-titik yang selaras dengan garis diagonal sehingga data dinyatakan terdistribusi normal seperti ditunjukkan pada gambar 2. Selanjutnya dilakukan uji linearitas diketahui bahwa nilai p-value deviation of linearity pada tabel 4 yakni sebesar 0. 266 yang lebih besar dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa variabel independen dan dependen adalah linier sehingga asumsi uji linearitas terpenuhi dan dapat dilakukan uji lanjutan asumsi klasik yang lain. NPS * KSP* LTX Tabel 4. Uji Linearitas Sum of Squares Between (Combine. Groups Linearity Deviation Linearity Within Groups Total Mean Square Sig. Uji Multikolonieritas merupakan uji lanjutan asumsi klasik selanjutnya. Uji ini bertujuan menguji apakah ada korelasi antar variabel independen. Berdasarkan uji multikolonieritas pada penelitian ini diketahui bahwa nilai tolerance > 0,01 dan VIF < 10 sehingga penelitian ini dinyatakan tidak terjadi multikolonieritas seperti ditunjukkan tabel 5 dan dapat dilakukan uji lanjutan. 56 | Muttaqien: E-ISSN: 2723-5963 Intervensi Lingkungan Toxic pada Kecerdasan Spiritual A (Novi Tazkiyatun Nihayah, dkk. Tabel 5. Uji Multikolonieritas Model Collinearity Statistics Tolerance VIF (Constan. KSP Kecerdasan Spiritual*Lingkungan Toxic Dependent Variable: Niat Melakukan Kekerasan Seksual Uji asumsi terakhir yakni uji heteroskedastisitas untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Berdasarkan data yang diolah menggunakan Durbin Watson diketahui bahwa koefisien nilai Durbin Watson . sebesar 1,598 yang artinya dL < d < dU , 1,57 < 1,598 < 1,68 sehingga disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas. Model Tabel 6. Uji Heteroskedastisitas Adjusted R Std. Error of Square Square the Estimate Durbin-Watson Predictors: (Constan. Kecerdasan Spiritual*Lingkungan Toxic. Kecerdasan Spiritual Dependent Variable: Niat Melakukan Kekerasan Seksual Koefisien determinasi juga menunjukkan bahwa variabel independen menggambarkan 30,3 persen untuk bisa mengukur variabel dependen. Sehingga rekomendasi kedepan diperlukan penambahan variabel independen lain agar lebih menggambarkan pengukuran variabel dependen. Kemudian dilanjutkan uji hipotesis menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA). Berdasarkan uji parsial pada tabel 7 diketahui bahwa Kecerdasan Spiritual berpengaruh negatif signifikan terhadap Niat Melakukan Kekerasan Seksual. Semakin tinggi Kecerdasan Spiritual seseorang maka Niat Melakukan Kekerasan Seksual semakin rendah. Hal ini seperti ditunjukkan tabel 7 bahwa nilai p-value/signifikasi Kecerdasan Spiritual <0. 05 yakni 0,00 dengan nilai koefisien -0,420 sehingga H1 diterima dan dapat disimpulkan bahwa setiap kenaikan Kecerdasan Spiritual maka akan memberikan pengaruh penurunan 0,42 Niat Melakukan Kekerasan Seksual. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Dina et al. , 2020. Hendijani Fard et al. , 2. yang mengatakan bahwa kecerdasan spiritual berpengaruh terhadap niat individu untuk melakukan sesuatu. Juga penelitian yang dilakukan (Tuliah, 2. yang menyatakan bahwa pemahaman agama dapat mempengaruhi individu dalam tindak kekerasan seksual. Muttaqien: E-ISSN: 2723-5963 | 57 Muttaqien. Vol. No. Januari 2025, 51 Ae 60 Tabel 7. Moderated Regression Analysis (MRA) Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Std. Error Beta (Constan. Kecerdasan Spiritual Kecerdasan Spiritual*Lingkungan Toxic Dependent Variable: Niat Melakukan Kekerasan Seksual Sig. Kecerdasan Spiritual yang diintervensi oleh Lingkungan Toxic tidak memberikan dampak terhadap niat melakukan kekerasan seksual. Apabila Kecerdasan Spiritual seorang individu tinggi meski di dalam Lingkungn Toxic sekalipun tidak akan berpengaruh terhadap niat melakukan kekerasan seksual. Hal ini seperti ditunjukkan tabel 7 bahwa nilai pvalue/signifikasi Kecerdasan Spiritual*Lingkungan Toxic >0. 05 yakni 0,130 sehingga H2 Hasil ini menolak dengan penelitian (Cai et al. , 2023. Pertiwi et al. , 2. yang mengatakan bahwa pada lingkungan memberikan andil pada niat individu dalam berperilaku jika individu memiliki spiritual intelligence. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Yuniyanti et al. , 2. yang menyatakan bahwa lingkungan pertemanan tidak mempengaruhi niat individu untuk melakukan tindak kekerasan seksual, namun yang memiliki pengaruh cukup signifikan dalam hal tersebut adalah tingkat pendidikan orang tua dengan p-value sebesar 0. Penelitian lain dari (Fatah, 2. menyatakan bahwa dalam adanya niat tindak kekerasan seksual lebih banyak dipengaruhi oleh faktor personal dan sosial. Ini sejalan dengan temuan yang didapatkan dari penelitian dimana intervensi lingkungan tidak begitu memberikan pengaruh signifikan dalam adanya niat untuk melakukan kekerasan seksual. Simpulan Penelitian yang melibatkan 77 responden yang merupakan mahasiswa antara usia 18 Ae 23 tahun . sia millennia. di Kota Semarang ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual berpengaruh negatif terhadap niat melakukan kekerasan seksual. Sedangkan apabila diintervensi lingkungan toxic, kecerdasan spiritual tidak berpengaruh terhadap niat melakukan kekerasan seksual. Hasil ini memberikan temuan bahwa apabila lingkungan sekitar tergolong sebagai lingkungan toxic, maka implikasi yang bisa dilakukan adalah upaya peningkatan kecerdasan spiritual sebagai upaya menurunkan niat melakukan kekerasan spiritual. upaya peningkatan kecerdasan spiritual bisa didorong oleh kepercayaan pada tuhan, pemahaman agama yang baik, dan kepatuhan beribadah sesuai indikator yang dipakai dalam riset variabel kecerdasan spiritual penelitian ini. 58 | Muttaqien: E-ISSN: 2723-5963 Intervensi Lingkungan Toxic pada Kecerdasan Spiritual A (Novi Tazkiyatun Nihayah, dkk. Keterbatasan pada penelitian ini yakni penelitian hanya dilakukan pada lingkup regional dan pada sampel usia millennial. Sehingga penelitian kedepan diharapkan bisa memperluas jangkauan wilayah dan usia. Rekomendasi penelitian ini yakni bisa memberikan wawasan variabel kecerdasan lain seperti Kecerdasan Intelektual dan Emosional. Referensi