|ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. PENGARUH METODE REPEATED READING TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN MEMBACA SISWA KELAS 3 SEKOLAH DASAR DI SURAKARTA Larasati Eka Permatasari1. Anisyah Dewi Syah Fitri2. Sinar Perdana Putra3 Jurusan Terapi Wicara Poltekkes Kemenkes Surakarta Email: larassatiekaper@gmail. ABSTRAK Membaca menjadi persoalan di sekolah terutama bagi siswa kelas 3 sekolah dasar di Surakarta. Kelancaran serta pemahaman membaca dapat ditingkatkan dengan metode repeated reading atau membaca secara berulang-ulang. Repeated reading menjadi metode yang paling efektif guna meningkatkan kemampuan kelancaran serta pemahaman membaca bila dibandingkan dengan 19 metode lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode repeated reading terhadap kemampuan pemahaman membaca siswa kelas 3 Sekolah Dasar di Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode Pre-Experimental dengan desain penelitian One Group Pretest Posttest. Sampel yang digunakan sejumlah 51 siswa. Berdasarkan hasil uji analisis dengan Uji Wilcoxon didapatkan nilai P . Si. = 0,000. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode repeated reading berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan pemahaman membaca siswa kelas 3 Sekolah Dasar di Surakarta. Kata kunci: kemampuan pemahaman membaca, metode repeated reading, siswa kelas 3 sekolah dasar THE EFFECT OF REPEATED READING METHOD ON READING COMPREHENSION SKILLS OF GRADE 3 ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS IN SURAKARTA ABSTRACT Reading is a problem in schools especially in grade 3 elementary school students in Surakarta. Reading fluency and comprehension can be improved with the repeated reading method. Repeated reading is the most effective methode to improve fluency and reading comprehension when compared to 19 other methods. This study aims to determine the effect of repeated reading method on reading comprehension skills of grade 3 elementary school students in Surakarta. This research used Pre-Experimental method with One Group Pretest Posttest Design. The sample used was 51 students. Based on the results of the analysis test with the Wilcoxon Test obtained a value of P . Si. = 0. This means that the repeated reading method has a significantly on the improvement of reading comprehension ability of grade 3 elementary school students in Surakarta. Keywords: grade 3 elementary school students, reading comprehension, repeated reading methode PENDAHULUAN Membaca menjadi persoalan di sekolah terutama bagi siswa kelas 3 sekolah dasar. Tingkat ini merupakan awal bagi siswa untuk memasuki jenjang kelas yang lebih tinggi, pada tingkat ini siswa akan mendapat banyak muatan materi yang apabila seorang siswa belum mampu membaca akan berdampak pada kegiatan belajarnya (Madani et al. , 2. Kemampuan membaca merupakan Jurnal Teras Kesehatan - 83 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. kegiatan yang dilakukan untuk mendapat pesan yang disampaikan oleh penulis menggunakan media tulis (Putri & Fitri, 2. Thomas Anthony dePaola menegaskan bahwa memiliki kemampuan membaca yang akurat akan memberikan pemahaman tentang hal-hal yang berharga dalam hidup (Amalia, 2. Pemahaman membaca bukan sekedar proses mengenali dan memahami kata-kata beserta maknanya. Pemahaman membaca melibatkan proses kognitif yang lebih kompleks dimana siswa harus dapat memahami makna bahasa tertulis, menghubungkannya dengan pengetahuan mereka sebelumnya, dan kemudian menginterpretasikan informasi yang telah mereka baca. Kemampuan pemahaman membaca penting untuk meningkatkan keberhasilan belajar. Pemahaman terhadap isi bacaan yang baik akan memudahkan siswa dalam proses belajar karena mereka dapat menyerap banyak pengetahuan dari bahan bacaan yang telah dibaca. Dalam jangka panjang, kemampuan dalam memahami isi bacaan dapat membantu siswa mencapai prestasi belajar yang maksimal (Frans et al. Kelancaran membaca merupakan komponen penting dalam kegiatan membaca yang menunjang pemahaman membaca. Kelancaran membaca merupakan suatu keadaan serta kegiatan membaca yang dikonseptualisasikan dengan tiga aspek meliputi keakuratan dalam membaca, tingkat kecepatan yang sesuai, dan juga ketepatan dalam prosodi dengan tujuan akhir untuk memahami makna yang terkandung dalam bacaan (Hudson et al. , 2. Kelancaran terbukti memiliki makna yang lebih penting daripada sekedar kecepatan pengenalan kata dalam membaca lisan (Maulidiawati et al. Kelancaran serta pemahaman membaca dapat ditingkatkan dengan metode repeated reading atau membaca secara berulang-ulang. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Stevens. , et al, repeated reading menjadi metode yang paling berpengaruh dalam meningkatkan kefasihan serta pemahaman membaca bila dibandingkan dengan 19 metode lainnya (Kuswardani et al. , 2. Metode repeated reading didasarkan pada teori (LaBerge & Samuels, 1. yakni automatic information processing in reading. Seseorang dengan kemampuan pemahaman membaca yang baik dapat dengan mudah merekognisi kata secara otomatis yang memungkinkan mereka untuk memfokuskan perhatian dan proses berpikir mereka untuk memahami apa yang mereka baca. Repeated reading dapat memberikan pelatihan bagi siswa untuk mengingat kata sehingga kecepatan dalam mengingat kata semakin meningkat. Dengan memberikan peluang kepada siswa untuk mengulangi bacaan yang sama selama beberapa kali, siswa akan meneliti kembali kata yang telah Pada kesempatan membaca berikutnya, siswa akan memperbaiki ketidaktepatan dalam membaca yang sebelumnya dilakukan. Pengulangan yang dilakukan akan membantu siswa untuk mengingat bunyi kata yang awalnya dibaca sulit menjadi lebih mudah. Hal ini dapat terjadi karena unit visual yang mereka olah mengalami peningkatan sehingga kemampuan siswa dalam mengingat kata menjadi lebih otomatis (Hidayat, 2. Secara umum, repeated reading melibatkan siswa dalam membaca teks bacaan beberapa kali kepada penilai kemudian penilai akan memberikan koreksi dan mencatat total kata yang dibaca benar dalam waktu satu menit. Salah satu tujuan repeated reading yaitu agar siswa dapat mencapai target Word Correct Per Minute (WCPM) yang telah ditentukan (Sari, 2. Hasil sintesis dari metode repeated reading adalah keterkaitan dengan hasil positif dalam peningkatan kecepatan, keakuratan, serta pemahaman dalam membaca. Repeated reading merupakan keterampilan dasar dalam mendukung pemahaman membaca di TK hingga kelas 3 SD (Hidayat, 2. Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui wawancara kepada guru di SDN P dan SDN S Kota Surakarta, diketahui masih terdapat sebagian siswa kelas 3 yang belum lancar dalam membaca dan menjawab soal cerita sebagai bentuk dari kemampuan pemahaman membaca. Jurnal Teras Kesehatan - 84 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Tujuan Khusus penelitian ini adalah mengetahui kemampuan pemahaman membaca siswa kelas 3 Sekolah Dasar di Surakarta sebelum diberikan intervensi dengan metode repeated reading, untuk mengetahui kemampuan pemahaman membaca siswa kelas 3 Sekolah Dasar di Surakarta setelah diberikan intervensi dengan metode repeated reading, serta untuk mengetahui pengaruh metode repeated reading terhadap kemampuan pemahaman membaca siswa kelas 3 Sekolah Dasar di Surakarta. Penelitian ini dapat memberikan pengetahuan mengenai pengaruh metode repeated reading terhadap kemampuan pemahaman membaca siswa kelas 3 Sekolah Dasar di Surakarta guna menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan. Penelitian ini memiliki beberapa manfaat praktis. Bagi peneliti, sebagai proses dalam penerapan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah didapat selama menempuh masa Bagi siswa, memberikan pengetahuan serta pengalaman dalam meningkatkan kelancaran dengan metode repeated reading membaca dan pemahaman membaca. Bagi institusi pendidikan, sebagai suatu proses pembelajaran, pengembangan, serta pemanfaatan ilmu terapi wicara yang berguna di masa mendatang. Bagi sekolah, memberikan informasi serta menambah wawasan bagi sekolah dan para guru mengenai pengaruh metode repeated reading terhadap kemampuan pemahaman membaca siswa kelas 3 sekolah dasar sehingga diharapkan para guru dapat memberikan pendekatan secara khusus dalam meningkatkan kelancaran membaca untuk memaksimalkan kemampuan pemahaman membaca para siswa. METODOLOGI PENELITIAN Sebelum pelaksanaan penelitian, telah dilakukan studi pendahuluan berupa observasi kepada siswa kelas 3 sekolah dasar serta wawancara kepada guru dan kepala sekolah di sejumlah SDN di Surakarta. Metode penelitian ini adalah Pre-Experimental dengan desain One Group Pretest Posttest Design. Tes yang digunakan dalam penelitian ini merupakan tes pemahaman membaca yang terdiri dari 10 soal cerita yang diadaptasi dari buku Bahasa Indonesia: Kawan Seiring untuk SD/MI Kelas i oleh Anna Farida K dan Helva Nur Hidayah . dan telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan nilai CronbachAos Alpha 0,764. Pada desain penelitian ini pretest diberikan pada sekelompok responden dengan kriteria inklusi siswa yang sudah memiliki kesiapan dalam membaca atau telah mengenal huruf kemudian dapat merangkai menjadi kata, tidak memiliki gangguan pendengaran, tidak memiliki gangguan pengelihatan, berumur 8 tahun sampai dengan 10 tahun serta mendapatkan persertujuan orang tua untuk berpartisipasi dalam penelitian yang kemudian diberikan adanya perlakuan dengan metode repeated Metode repeated reading dilakukan dengan meminta siswa untuk membaca cerita pendek yang terdiri dari 115 kata dalam waktu 1 menit dengan 3 kali pengulangan dalam setiap pertemuan. Peneliti akan menandai kata yang dibaca salah oleh siswa kemudian memberikan feedback sehingga siswa dapat mengulang kata yang tidak tepat dengan bacaan yang tepat pada percobaan berikutnya. Pada metode ini terdapat dua kategorisasi, yakni di atas rata-rata dan di bawah rata-rata. Siswa yang mampu membaca dengan tepat sebanyak 107 kata dikategorikan menjadi siswa dengan kemampuan di atas rata-rata, sedangkan siswa yang belum mampu membaca 107 kata dengan tepat dikategorikan menjadi siswa dengan kemampuan di bawah rata-rata. Intervensi menggunakan metode repeated reading dilakukan sebanyak enam kali pertemuan dengan durasi lima menit pada setiap siswa. Selanjutnya peneliti memberikan posttest pada ukuran yang sama dengan sebelumnya kepada Hasil pretest dan posttest didapatkan dengan pengamatan pada siswa yang telah diberikan intervensi sehingga diperoleh hasil yang dapat dibandingkan menggunakan program analisis Jurnal Teras Kesehatan - 85 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) dengan analisis Uji Wilcoxon. Uji ini bertujuan untuk menguji hipotesis komparatif bivariat, yakni skor sebelum dan sesudah intervensi (Setyawan. Intervensi menggunakan metode repeated reading diberikan oleh terapis wicara kepada 26 siswa kelas 3 SDN P dan 25 siswa kelas 3 SDN S Kota Surakarta yang dilakukan di sekolah masingmasing dengan frekuensi pertemuan sebanyak dua kali dalam satu minggu dan dalam duruasi enam menit persiswa. Tabel 1. Hasil Uji Validitas R Hitung R Tabel 0,548 0,28 0,580 0,28 0,519 0,28 0,620 0,28 0,576 0,28 0,511 0,28 0,578 0,28 0,529 0,28 0,557 0,28 0,550 0,28 SOAL Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas CronbachAos Alpha N of Items 0,764 HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut hasil interpretasi mengenai pengaruh metode repeated reading terhadap kemampuan pemahaman membaca siswa kelas 3 Sekolah Dasar di Surakarta Tabel 3. Distribusi Jenis Kelamin Responden Jenis Kelamin Jumlah Persentase Laki-laki Perempuan 60,8 % 39,2% Total Berdasarkan Tabel 3 didapatkan hasil mengenai gambaran jenis kelamin dari 51 siswa di SDN P dan SDN S terdapat 31 siswa dengan persentase 60,8% berjenis kelamin laki-laki dan 20 siswa dengan persentase 39,2% berjenis kelamin perempuan. Umur Total Tabel 4. Distribusi Umur Responen Jumlah Jurnal Teras Kesehatan - 86 Persentase 15,7% 72,5% 11,8% |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Berdasarkan Tabel 4 didapatkan hasil bahwa terdapat 8 siswa berumur 8 tahun dengan persentase 15,7%, 37 siswa berumur 9 tahun dengan persentase 72,5% serta 6 siswa berumur 10 tahun dengan persentase 11,8%. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Skor Pretest Pemahaman Membaca Siswa Skor Pretest Pemahaman Membaca Total Frekuensi Persentase 7,8% 3,9% 7,8% 11,8% 21,6% 31,4% 15,7% Gambaran distribusi frekuensi skor pretest pemahaman membaca dari 51 siswa kelas 3 Sekolah Dasar di Surakarta secara rinci diketahui tidak terdapat siswa yang mendapat skor 0, 1, 2, dan 3. Diketahui terdapat siswa yang mendapat skor 4 sebanyak 4 siswa dengan persentase 7,8%, skor 5 sebanyak 2 siswa dengan persentase 3,9%, skor 6 sebanyak 4 siswa dengan persentase 7,8%, skor 7 sebanyak 6 siswa dengan frekuensi 11,8%, skor 8 sebanyak 8 siswa dengan persentase 21,6%, skor 9 sebanyak 18 siswa dengan persentase 31,4%, dan skor 10 sebanyak 8 siswa dengan persentase 15,7%. Berdasarkan hasil wawancara kepada guru wali kelas serta observasi yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan permasalahan yang terdapat di dalam kelas 3 yakni seluruh siswa sudah bisa membaca namun masih terdapat siswa yang belum lancar. Ketidaklancaran yang dialami antara lain membaca masih terbata-bata, tidak melihat tanda baca, serta intonasi dalam membaca sebuah kalimat yang terdengar datar. Hal ini menunjukkan adanya permasalahan dalam kelancaran membaca menurut (Kuswardani et al. , 2. yang menyatakan bahwa kelancaran membaca terdiri dari tiga komponen yakni keakuratan dalam membaca, tingkat kecepatan yang sesuai, dan juga ketepatan dalam prosodi. Pada pemahaman membaca siswa kelas 3, umumnya keterampilan dalam pemahaman membaca berupa menyelesaikan soal sudah cukup baik, namun berdasarkan hasil pretest pada tabel 5 diketahui masih terdapat 6 siswa dengan persentase 11,7% yang mendapat skor dibawah 50% dari total jumlah benar dalam soal. Siswa yang mendapat hasil kurang baik dalam skor pemahaman membaca juga memiliki permasalahan dalam kelancaran membaca. Secara teoritis kelancaran membaca mempunyai pengaruh terhadap pemahaman bacaan (Maulidiawati et al. , 2. Untuk itu, kesulitan membaca yang dialami oleh para siswa harus segera diatasi dengan baik, salah satunya menggunakan perlakuan dengan metode repeated reading. Jurnal Teras Kesehatan - 87 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Skor Repeated Reading Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3 Pertemuan 4 Pertemuan 5 Pertemuan 6 Di atas rata-rata Di bawah rata-rata Grafik 1. Skor Intervensi Repeated Reading Berdasarkan hasil intervensi pada setiap pertemuan diketahui terdapat peningkatan dalam skor repeated reading. Skor pada metode repeated reading dikategorikan menjadi dua bagian, yakni di atas rata-rata dan di bawah rata-rata. Siswa yang dikategorikan di atas rata-rata merupakan siswa yang mampu membaca 107 kata pada bahan bacaan secara tepat dalam waktu satu menit sesuai dengan norma kelancaran membaca siswa kelas 3 Sekolah Dasar (Kuswardani et al. , 2. Pada hasil intervensi pertemuan pertama, diketahui terdapat sebanyak 12 siswa dengan persentase 23,5% medapat hasil di atas rata-rata dan 39 siswa dengan persentase 76,5% mendapat hasil hasil di bawah rata-rata. Pada pertemuan kedua diketahui terdapat 15 siswa dengan persentase 29,4% medapat hasil di atas rata-rata dan 36 siswa dengan persentase 70,6% medapat hasil di bawah ratarata. Pada pertemuan ketiga diketahui 21 siswa dengan persentase 41,2% medapat hasil di atas ratarata dan 30 siswa dengan persentase 58,8% medapat hasil di bawah rata-rata. Pada pertemuan keempat diketahui terdapat 32 siswa dengan persentase 62,7% medapat hasil di atas rata-rata dan 19 siswa dengan persentase 37,3% medapat hasil di bawah rata-rata. Pada pertemuan kelima diketahui terdapat 37 siswa dengan persentase 72,5% medapat hasil di atas rata-rata dan 14 siswa dengan persentase 27,5% medapat hasil di bawah rata-rata. Pada pertemuan keenam diketahui 44 siswa dengan persentase 86,3% medapat hasil di atas rata-rata dan 7 siswa dengan persentase 13,7% medapat hasil di bawah rata-rata. Berdasarkan rincian hasil di atas, dapat diketahui apabila terdapat kenaikan jumlah siswa ke dalam kategori di atas rata-rata pada setiap pertemuan. Hal tersebut didukung oleh penelitian (Romig & Jetton 2. yang menunjukkan bahwa setiap pembacaan bagian selama intervensi memiliki efek Artinya, pada setiap pembacaan bagian yang diulang, nilai siswa cenderung meningkat dari pembacaan sebelumnya pada bagian yang sama, sehingga kelancaran membaca siswa meningkat pada setiap intervensi repeated reading. Jurnal Teras Kesehatan - 88 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Tabel 6. Distribusi Frekuensi Skor Posttest Pemahaman Membaca Siswa Skor Posttest Frekuensi Persentase Pemahaman Membaca 2,0% 5,9% 13,7% 27,5% 51,0% Total Berdasarkan hasil posttest setelah diberikan intervensi kepada 51 siswa kelas 3 Sekolah Dasar di Surakarta menggunakan metode repeated reading selama 6 kali pertemuan, diketahui terdapat siswa yang mendapat skor 5 sebanyak 1 siswa dengan persentase 2%, skor 7 sebanyak 3 siswa dengan persentase 5,9%, skor 8 sebanyak 7 siswa dengan persentase 13,7%, skor 9 sebanyak 14 siswa dengan persentase 27,5%, dan skor 10 sebanyak 26 siswa dengan persentase 51%. Pada penelitian ini didapatkan hasil setelah dilakukan intervensi menggunakan metode repeated reading, para siswa memperoleh hasil nilai di atas hasil sebelumnya. Tabel 7. Perbedaan antara hasil pretest dan hasil posttest kemampuan pemahaman membaca Variabel Mean Pretest Posttest 7,92 9,18 1,742 1,090 95% CI for Lower Upper 7,43 8,41 8,87 9,48 Berdasarkan hasil di atas diketahui terdapat kenaikan pada nilai rata-rata siswa antara pretest dan Nilai mean dari pretes pemahaman membaca adalah 7,92 sedangkan nilai mean dari posttest pemahaman membaca adalah 9,18. Tabel 7 menunjukkan adanya peningkatan nilai mean pada kemampuan pemahaman membaca siswa kelas 3 antara sebelum dan setelah diberikan intervensi dengan repeated reading yang dilakukan selama enam kali pertemuan dengan frekuensi pertemuan sebanyak dua kali dalam satu minggu. Namun demikian, masih terdapat siswa yang memperoleh skor kurang baik setelah dilakukannya intervensi menggunakan metode repeated reading. Hal ini dapat menjadi indikasi bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar. Seorang siswa yang memiliki kesulitan dalan kelancaran membaca serta pemahaman membaca menjadi indikasi adanya kesulitan belajar (Wahyuni et al. , 2. Hal ini didukung dengan pernyataan (Fahri, 2. yang mengatakan bahwa permasalahan yang banyak didapati siswa sekolah dasar meliputi kesukaran dalam memahami teks bacaan pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Beberapa siswa dapat menghafal materi dengan cara dibaca secara berulang-ulang (Fendrik et al. , 2. Pada hakikatnya gangguan belajar adalah suatu kesulitan yang mengakibatkan siswa tidak mampu mengikuti kegiatan pembelajaran sebagaimana siswa lain pada umumnya yang dipicu oleh berbagai keadaan, antara lain disfungsi neurologis atau psikologis. Hal ini menyebabkan siswa terlambat atau bahkan gagal mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan karena berbagai faktor. Kurangnya keterampilan dalam memahami permasalahan merupakan salah satu penyebab terjadinya kesulitan. Pretest-Posttest Negative Ranks Positive Ranks Ties Total Tabel 8. Uji Peringkat Wilcoxon Mean Rank ,00 19,50 Jurnal Teras Kesehatan - 89 Sum of Ranks ,00 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Berdasarkan hasil tes menggunakan uji Wilcoxon, diketahui bahwa tidak terdapat siswa yang mengalami penurunan pada hasil posttest. Siswa cenderung mengalami peningkatan pada hasil posttest, terdapat sebanyak 38 siswa yang mengalami peningkatan dan 13 siswa lainnya tidak mengalami penurunan maupun peningkatan dalam kemampuan pemahaman membaca setelah diberikan intervensi repeated reading. Diketahui 10 siswa yang tidak mengalami peningkatan merupakan siswa yang memperoleh skor maksimal pada hasil pretest maupun posttest dan 3 siswa lainnya mendapat skor yang sama pada hasil pretst dan posttest. Variabel Pretest Posttest Tabel 9. Hasil Uji Wilcoxon (Minimump-Value Maksimu. 0,000 Berdasarkan hasil uji analisis dengan Uji Wilcoxon pada tabel 9 didapatkan nilai P . Si. = 0,000. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kemampuan pemahaman membaca antara sebelum dan sesudah diberikan perlakuan dengan metode repeated reading. Dengan demikian dapat disimpulkan pula bahwa metode repeated reading berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan pemahaman membaca siswa kelas 3 Sekolah Dasar di Surakarta. Setelah dilakukan intervensi menggunakan metode repeated reading selama 6 kali, terjadi peningkatan dalam skor pemahaman membaca antara skor pretest dan skor posttest. Dengan pelatihan membaca secara berulang-ulang atau repeated reading memungkinkan siswa untuk dapat mengingat apa yang telah siswa baca sebelumnya sehingga keterampilan pemahaman siswa terhadap isi bahan bacaan berangsur meningkat (Hadiana et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kemampuan pemahaman membaca dari 51 siswa kelas 3 Sekolah Dasar di Surakarta sebelum adanya perlakuan dengan metode repeated reading menunjukkan skor rata-rata sebesar 7,92 dengan rincian tidak ada siswa yang mendapat skor kurang Diketahui terdapat siswa yang memperoleh skor 4 sebanyak 4 siswa dengan persentase 7,8%, skor 5 sebanyak 2 siswa dengan persentase 3,9%, skor 6 sebanyak 4 siswa dengan persentase 7,8%, skor 7 sebanyak 6 siswa dengan frekuensi 11,8%, skor 8 sebanyak 8 siswa dengan persentase 21,6%, skor 9 sebanyak 18 siswa dengan persentase 31,4%, dan skor 10 sebanyak 8 siswa dengan persentase 15,7%. Berdasarkan hasil posttest setelah diberikan intervensi menggunakan metode repeated reading, diketahui terdapat peningkatan pada skor rata-rata menjadi 9,18 dengan rincian tidak ada siswa yang mendapat skor kurang dari 5. Diketahui terdapat siswa yang mendapat skor 5 sebanyak 1 siswa dengan persentase 2%, skor 7 sebanyak 3 siswa dengan persentase 5,9%, skor 8 sebanyak 7 siswa dengan persentase 13,7%, skor 9 sebanyak 14 siswa dengan persentase 27,5%, dan skor 10 sebanyak 26 siswa dengan persentase 51%. Pada penelitian ini didapatkan hasil setelah dilakukan intervensi menggunakan metode repeated reading, para siswa cenderung memperoleh hasil nilai di atas hasil Berdasarkan hasil uji analisis dengan Uji Wilcoxon didapatkan nilai P . Si. = 0,000. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kemampuan pemahaman membaca antara sebelum dan sesudah diberikan perlakuan dengan metode repeated reading. Dengan demikian dapat disimpulkan pula bahwa metode repeated reading berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan pemahaman membaca siswa kelas 3 Sekolah Dasar di Surakarta. Jurnal Teras Kesehatan - 90 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh responden yang telah terlibat serta seluruh kepala instansi yang sudah memberikan izin kepada penulis untuk dapat melakukan penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih atas dukungan serta partisipasi kepada semua pihak atas dukungan yang diberikan pada penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA