Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Efektivitas Model NHT Berbantuan Video Youtube Terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas V SD Eli1. Devita Sulistiana2. Adin Fauzi3 1,2,3 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Islam Balitar Email: eliaritonang222@gmail. Abstrak Pengajaran IPAS di tingkat sekolah dasar masih menemui hambatan, salah satunya adalah materi yang sulit dipahami karena sifatnya tidak konkret, metode yang kurang variatif, serta keterbatasan media. Untuk meningkatkan hasil belajar dan partisipasi siswa, diperlukan pendekatan yang inovatif, interaktif, dan kolaboratif. Model Numbered Heads Together (NHT) menitikberatkan pada kerja sama tim dan tanggung jawab individu, sementara YouTube sebagai media pendukung menyajikan konten visual yang menarik guna mempermudah pemahaman materi. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas penerapan metode NHT berbasis YouTube terhadap peningkatan capaian belajar IPAS siswa SD. Studi dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan desain eksperimen semu tipe Nonequivalent Control Group Design. Subjek penelitian terdiri dari 54 siswa kelas V yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kontrol, masing-masing berjumlah 27 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui tes akademik, observasi, dan dokumentasi. Analisis data mencakup uji normalitas, homogenitas, uji t dua sampel independen, serta perhitungan N-Gain. Hasil menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Rata-rata Posttest kelompok eksperimen naik dari 56,96 menjadi 75,56 (N-Gain 0,43 kategori sedan. , sedangkan kelompok kontrol dari 59,52 menjadi 69,59 (N-Gain 0,25 kategori renda. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pendekatan Numbered Heads Together yang didukung oleh media YouTube mampu meningkatkan pencapaian akademik siswa serta membangun lingkungan pembelajaran yang lebih bermakna. Kata Kunci: NHT. YouTube, hasil belajar. IPAS PENDAHULUAN Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) merupakan upaya memadukan dua disiplin ilmu yang sebelumnya dipisahkan dalam kurikulum. Pendekatan terpadu ini dirancang agar siswa dapat melihat fenomena dari perspektif alam dan sosial sekaligus, sehingga pemahaman mereka menjadi lebih menyeluruh dan kontekstual. Fokus utama pembelajaran IPAS bukan hanya pada kemampuan mengingat fakta, melainkan bagaimana siswa dapat menjelaskan dan menerapkan konsep ilmiah secara kritis serta bijak dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian dalam kurikulum Merdeka Belajar menunjukkan bahwa pembelajaran IPAS mampu meningkatkan kebijaksanaan siswa dalam memahami fenomena sosial maupun alam (Meylovvia & Julianto, 2. Melalui pembelajaran IPAS, siswa dilatih untuk bersikap ilmiah dengan menekankan metodologi ilmiah, seperti mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, analitis, serta keterampilan menarik kesimpulan yang tepat. Hal ini sejalan dengan tujuan pembentukan profil pelajar berkarakter yang mampu menghadapi berbagai persoalan dengan solusi ilmiah (Kemendikbud, 2. Namun, implementasi IPAS masih menghadapi tantangan, antara lain keterbatasan guru yang dituntut menguasai dua bidang ilmu sekaligus, keterbatasan media pembelajaran, serta kebutuhan pelatihan intensif agar guru dapat Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan menerapkan pendekatan ini secara optimal. Meski demikian, transformasi ini membuka peluang bagi peningkatan motivasi belajar dan pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa (Zahra, 2. Hasil belajar dalam pembelajaran IPAS memiliki peran penting karena siswa tidak hanya dituntut menghafal materi, tetapi juga mampu merumuskan ide dengan kata-kata sendiri dan menghubungkannya dengan konteks kehidupan nyata. Pendekatan ini memberikan makna pembelajaran yang lebih mendalam dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis (SaAoadah et al. , 2. Dalam konteks IPAS, hasil belajar mencakup kemampuan siswa untuk menjelaskan konsep, menerapkannya dalam berbagai situasi, serta mengidentifikasi konsekuensi yang timbul dari konsep yang dipelajari. Namun, capaian hasil belajar siswa Indonesia masih tergolong rendah. Pada tahun 2015. Indonesia memperoleh skor 397 dalam penilaian sains internasional TIMSS, tertinggal jauh dari rata-rata dunia yang mencapai 500, dan menduduki peringkat ke-44 dari 49 negara, menunjukkan rendahnya hasil belajar IPAS (Novanto et al. , 2. Faktor penyebab rendahnya capaian ini antara lain materi yang bersifat abstrak, penggunaan istilah ilmiah yang kompleks, serta kurangnya keterkaitan materi dengan pengalaman konkret siswa. Guru juga mengakui bahwa pemanfaatan media visual dan penerapan metode pembelajaran yang adaptif sangat dibutuhkan guna mendukung pemahaman siswa terhadap materi IPAS secara lebih mendalam serta mendorong peningkatan prestasi belajar yang berarti (Swistiyawati & Indrayani, 2. Penelitian Janah & Hidayati . menunjukkan bahwa hasil belajar IPAS siswa masih rendah, terutama pada indikator menjelaskan, menafsirkan, dan memberikan contoh, dengan nilai rata-rata di bawah 50%. Rendahnya hasil belajar ini diperparah oleh metode pembelajaran yang monoton serta keterbatasan media. Selain itu. Nasution & Mustika . menyebutkan bahwa minimnya variasi metode pembelajaran dan keterbatasan media pendukung memperbesar kesenjangan pemahaman, karena konsep yang diajarkan kurang konkret dan interaksi dalam proses belajar kurang optimal. Sebagai solusi dalam mengatasi permasalahan tersebut, penerapan strategi pembelajaran inovatif yang interaktif dan menyenangkan menjadi sangat penting. Pendekatan seperti gamifikasi dan metode inkuiri terbukti meningkatkan keaktifan siswa, keterlibatan dalam proses belajar, serta kemampuan berpikir kritis. Afandi et al. Menunjukkan bahwa ketika proses belajar berlangsung secara interaktif dan menantang, siswa terdorong untuk mengeksplorasi materi, berdialog dengan teman sebaya, dan membangun pemahaman yang kuat, yang berkontribusi pada peningkatan hasil belajar IPAS. Diharapkan pendekatan ini mampu mereformasi praktik pembelajaran yang monoton dan membangun pengalaman belajar yang lebih interaktif dan berkesan bagi siswa. Pada kondisi tersebut, metode NHT hadir sebagai strategi yang mampu memberikan jawaban atas kebutuhan pembelajaran yang lebih kolaboratif dan bermakna. Model pembelajaran kooperatif ini menekankan kerja sama kelompok dengan memberi nomor pada setiap anggota, sehingga semua siswa memiliki tanggung jawab untuk memahami materi dan siap mempresentasikan hasil diskusi. NHT terbukti mampu meningkatkan keaktifan, kerja sama, dan hasil belajar siswa. Siswa yang sudah menguasai materi juga dapat membantu temannya, sehingga tercipta suasana belajar yang kolaboratif (Novianti, 2. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Tidak hanya metode yang menentukan, media pembelajaran juga memiliki peran krusial dalam memperkaya pengalaman belajar IPAS siswa. YouTube sebagai platform berbasis video menyediakan konten edukatif yang menarik secara visual dan audio, serta mudah diakses kapan pun. Video dapat diputar ulang sehingga mempermudah siswa memahami konsep abstrak dengan cara yang lebih konkret melalui visualisasi dan Penggunaan YouTube juga terbukti meningkatkan motivasi dan minat belajar karena kontennya variatif, interaktif, dan menyenangkan (Mareta et al. , 2. Ketika YouTube dipadukan dengan NHT, keduanya menciptakan sinergi dalam pembelajaran. Siswa dapat terlebih dahulu memahami materi melalui tayangan video secara individu, lalu mendiskusikannya bersama kelompok melalui mekanisme NHT. Lebih dari sekadar peningkatan akademik, proses ini berperan dalam mengasah interaksi sosial dan keterampilan menyampaikan gagasan. NHT memanfaatkan daya tarik YouTube untuk menghadirkan suasana belajar yang lebih atraktif dan dinamis (Nasem et al. , 2. Gabungan penggunaan YouTube dan model pembelajaran NHT terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian Silaen & Astuti . menunjukkan bahwa NHT berbantuan YouTube Education berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar matematis siswa SMA, dengan skor rata-rata kelas eksperimen 17,04 dibandingkan kelas kontrol 11,68. Penelitian Kusnaeni et al. dari hasil penelitian, siswa yang belajar menggunakan pendekatan NHT mencatat skor rata-rata 78,50, lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengikuti pembelajaran tradisional dengan nilai rata-rata 73,12. Uji statistik ttest menunjukkan bahwa selisih tersebut signifikan secara statistik. Selain itu, penelitian Sudewiputri & Dharma . Penelitian ini mengungkap bahwa pendekatan NHT mampu mendorong semangat belajar dan memperbaiki hasil belajar IPAS siswa kelas IV, sebagaimana dibuktikan melalui analisis statistik MANOVA yang menunjukkan perbedaan Temuan-temuan ini menegaskan efektivitas model NHT dalam berbagai mata Meskipun pendekatan NHT dan pemanfaatan YouTube telah menunjukkan potensi, kajian mendalam yang mengintegrasikan keduanya dalam pembelajaran IPAS di sekolah dasar masih kurang, sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk mengembangkan strategi yang lebih optimal. Dengan demikian, terdapat celah penelitian yang penting untuk dijawab, yaitu efektivitas model pembelajaran NHT berbantuan YouTube terhadap hasil belajar IPAS siswa sekolah dasar. Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada IPS, matematika, atau IPA secara terpisah, sementara efektivitas YouTube sebagai media dalam konteks IPAS belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menguji penerapan kombinasi NHT dan YouTube untuk memperkuat hasil belajar IPAS secara menyeluruh. NHT yang menekankan kolaborasi dan tanggung jawab individu dalam kelompok, dipadukan dengan daya tarik dan fleksibilitas YouTube, pendekatan ini diharapkan mampu mengatasi kesulitan dalam memahami konsep yang abstrak, meningkatkan keterlibatan peserta didik, dan menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan serta bermakna. Pendekatan ini membuka peluang baru dalam pemanfaatan media digital terutama YouTube yang terintegrasi dengan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan kualitas Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan belajar IPAS. Kombinasi ini diyakini efektif mengatasi hambatan belajar dan menciptakan pengalaman belajar yang aktif dan bermakna. METODE Studi ini dilakukan dengan pendekatan numerik melalui metode eksperimen tidak murni serta desain kelompok kontrol yang tidak setara. Pemilihan desain tersebut didasarkan pada keterbatasan dalam melakukan randomisasi secara menyeluruh terhadap peserta studi, namun tetap memungkinkan analisis perbandingan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelas eksperimen memperoleh perlakuan berupa penerapan strategi pembelajaran kolaboratif Numbered Heads Together (NHT) yang dikombinasikan dengan penggunaan media video dari YouTube, sementara kelompok kontrol mengikuti pembelajaran konvensional tanpa perlakuan khusus. Fokus utama dari studi ini adalah mengevaluasi tingkat keberhasilan penggabungan strategi NHT dengan platform digital YouTube dalam mendorong peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPAS di tingkat sekolah dasar. Subjek penelitian mencakup seluruh siswa kelas V di SD Negeri Nglegok 01. Kabupaten Blitar, pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026, dengan total peserta sebanyak 54 orang, terdiri dari 27 siswa di kelas VA dan 27 siswa di kelas VB. Peneliti menerapkan teknik sampling jenuh, sehingga seluruh populasi dijadikan sebagai sampel dalam studi ini. Penetapan kelompok eksperimen dan kontrol dilakukan setelah pelaksanaan uji homogenitas terhadap nilai awal siswa, dengan tujuan memastikan bahwa kedua kelompok memiliki tingkat kemampuan awal yang sebanding. Berdasarkan hasil uji tersebut, satu kelas ditunjuk sebagai kelompok eksperimen yang menerima pembelajaran menggunakan model NHT yang didukung oleh media video YouTube, sementara kelas lainnya berfungsi sebagai kelompok kontrol yang mengikuti metode pembelajaran konvensional. Prosedur penelitian dilaksanakan melalui tiga tahap utama, yaitu Pretest, perlakuan . , dan Posttest. Tahap Pretest dilakukan untuk mengukur pemahaman awal siswa mengenai materi IPAS, khususnya topik magnet dan energi listrik. Tahap perlakuan diberikan pada kelas eksperimen dalam dua kali pertemuan, yakni pertemuan pertama dengan materi magnet melalui langkah-langkah diskusi NHT dan praktik membuat magnet sederhana, serta pertemuan kedua dengan materi energi listrik yang diperkaya dengan video YouTube dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Pada kelas kontrol, pembelajaran dilaksanakan dengan metode konvensional tanpa menggunakan model NHT maupun bantuan video YouTube. Tahap terakhir yaitu Posttest diberikan kepada kedua kelompok untuk mengetahui peningkatan hasil belajar setelah perlakuan. Instrumen penelitian terdiri dari soal tes, pedoman observasi, dan dokumentasi. Soal tes berupa Pretest dan Posttest dirancang untuk mengukur hasil belajar IPAS berdasarkan indikator kognitif dari taksonomi Bloom revisi, yaitu menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan. Penyusunan soal melalui tahapan penentuan indikator, penyusunan kisi-kisi, perumusan butir soal, serta pengujian validitas dan reliabilitas. Pengujian validitas instrumen dilakukan melalui analisis korelasi antara nilai tiap butir soal dan skor total menggunakan metode Product Moment. Dari hasil analisis, seluruh 15 soal terbukti valid karena nilai korelasinya melampaui batas r- Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan tabel pada taraf kepercayaan 5%. Untuk mengukur reliabilitas, digunakan indeks CronbachAos Alpha, yang menunjukkan angka 0,949, mengindikasikan bahwa instrumen memiliki tingkat keandalan yang sangat baik. Hasil ini menunjukkan bahwa soal memiliki konsistensi internal yang sangat tinggi, sehingga reliabel untuk digunakan. Selain tes, pedoman observasi digunakan untuk menilai keterlaksanaan model pembelajaran NHT berbantuan YouTube di kelas eksperimen, mencakup aspek keterlibatan siswa, pelaksanaan langkah-langkah NHT, serta pemanfaatan media. Penelitian ini memanfaatkan berbagai instrumen, seperti lembar observasi untuk mencatat pelaksanaan kegiatan belajar, tes tertulis guna mengukur hasil belajar IPAS, dan dokumen tambahan yang mendukung validitas data. Data hasil observasi dianalisis secara deskriptif dengan menghitung persentase keterlaksanaan pembelajaran. Data dari tes awal dan akhir dianalisis menggunakan metode kuantitatif berbasis statistik parametrik. Proses analisis dimulai dengan Shapiro-Wilk untuk mengevaluasi distribusi normal data, lalu dilanjutkan dengan Levene Test untuk memverifikasi bahwa kedua kelompok memiliki varians yang setara. Perbandingan skor awal dan akhir antara kelas yang mendapat perlakuan dan kelas kontrol dianalisis melalui uji t independen serta penghitungan N-Gain. Jika nilai Sig. berada di bawah 0,05, maka perbedaan tersebut dianggap signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan model NHT dengan bantuan video YouTube mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan prestasi belajar IPAS siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam pelaksanaannya, penelitian ini membandingkan dua pendekatan: kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif NHT berbantuan YouTube, dan kelas kontrol yang tetap menggunakan metode pembelajaran konvensional. Hasil observasi keterlaksanaan menunjukkan bahwa kedua kelas mampu mengikuti alur pembelajaran sesuai rencana. Pada kelas eksperimen, keterlaksanaan rata-rata mencapai 82,1%, meskipun terdapat kendala manajemen waktu sehingga beberapa indikator, seperti evaluasi formal dan pemberian tugas mandiri, tidak terlaksana. Sebaliknya, kelas kontrol menunjukkan tingkat keterlaksanaan yang lebih tinggi, yakni 92,9% pada pertemuan kedua dan bahkan 100% pada pertemuan ketiga. Temuan ini menegaskan bahwa penerapan NHT berbantuan media video memang membutuhkan pengelolaan waktu yang lebih ketat karena adanya tambahan kegiatan berupa pemutaran video dan diskusi kelompok. Penerapan NHT berbantuan YouTube dilakukan melalui tahapan yang runtut dan Guru membagi siswa ke dalam kelompok heterogen dan memberikan nomor pada setiap anggota, sehingga setiap siswa memiliki tanggung jawab belajar yang sama. Materi kemudian disajikan melalui tayangan video YouTube sesuai topik pembelajaran, seperti magnet dan energi listrik, yang membantu memperjelas konsep abstrak sekaligus meningkatkan motivasi belajar siswa. Setelah menonton video, siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menelaah isi tayangan dan menjawab pertanyaan yang telah disiapkan guru. Kemudian, pendidik memilih secara acak nomor peserta dari masing-masing kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi, sehingga mendorong keterlibatan aktif seluruh anggota Tahap akhir berupa penarikan kesimpulan bersama. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Kemajuan pencapaian akademik peserta didik dalam kelompok perlakuan terlihat dari peningkatan nilai rata-rata sebelum perlakuan sebesar 56,96 menjadi 75,56 setelah perlakuan, dengan nilai N-gain sebesar 0,43 yang dikategorikan dalam tingkat sedang. Sebaliknya, kelompok pembanding mengalami kenaikan yang relatif kecil, dari nilai awal sebesar 59,52 menjadi 69,59 pada akhir pembelajaran, dengan perolehan N-gain sebesar 0,25 yang termasuk dalam klasifikasi rendah. Perbedaan skor yang signifikan antara kedua kelompok menegaskan bahwa pendekatan NHT dengan dukungan konten YouTube lebih efektif dalam memperkuat pemahaman konsep siswa daripada pembelajaran konvensional. Hasil ini sejalan dengan penelitian Nurjanah et al. , yang menemukan bahwa skor Posttest siswa di kelas eksperimen mencapai 87,21, jauh melampaui skor kelas kontrol yang hanya sebesar 66,58. Analisis data menguatkan bahwa penggunaan strategi NHT dengan bantuan video mampu memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan logika matematika siswa. Bahkan. Zahra . melalui penelitiannya pada pembelajaran keterampilan menyimak cerita fiksi juga menemukan hasil serupa, yakni adanya peningkatan signifikan skor dan keterampilan siswa setelah menggunakan NHT berbantuan YouTube dibanding pembelajaran Fakta ini memperkuat bahwa kombinasi NHT dan YouTube efektif dalam menunjang prestasi dan kompetensi siswa lintas mata pelajaran. Sejalan dengan itu. Briliandika et al. , enegaskan bahwa model NHT efektif dalam meningkatkan hasil belajar melalui kerja kelompok heterogen dan tanggung jawab individu, sementara Dadri et al. , . menemukan bahwa tahapan dalam NHT mampu menstimulasi kemampuan analisis dan evaluasi siswa. Dalam aspek penggunaan media. YouTube terbukti memperkaya pemhaman dan meningkatkan hasil belajar melalui penyajian visual dan kontekstual serta mendorong diskusi reflektif. Juliawati & Darmawati . juga menemukan bahwa siswa lebih antusias dan aktif ketika NHT dipadukan dengan video, dan guru lebih terbantu dalam mengelola kelas. Temuan serupa ditunjukkan oleh Ningrum & Sutriyani . , yang membuktikan bahwa video animasi berbantuan NHT dalam pembelajaran matematika SD meningkatkan skor Posttest secara signifikan. Tahapan awal sebelum menguji hipotesis adalah melakukan uji normalitas terhadap data Pretest dan Posttest dari kedua kelompok. Mengingat jumlah sampel yang relatif kecil, yaitu di bawah 50 orang per kelompok, maka digunakan metode Shapiro-Wilk yang dikenal efektif untuk sampel kecil. Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Tests of Normality Kelas NilaiPretest Eksperimen Kontrol Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Sig. Statistic Sig. Eksperimen Kontrol Lilliefors Significance Correction NilaiPosttest Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Uji normalitas terhadap data Pretest dan Posttest dilakukan dengan pendekatan ShapiroWilk, yang secara khusus dirancang untuk menguji distribusi normal pada sampel berukuran kecil hingga sedang. Berdasarkan hasil pengujian, data nilai Pretest pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai statistik Shapiro-Wilk sebesar 0,943 dengan derajat kebebasan . 27 dan tingkat signifikansi (Sig. ) sebesar 0,148. Karena nilai Sig. melebihi ambang batas 0,05, maka distribusi data Pretest pada kelompok ini dapat dinyatakan memenuhi asumsi normalitas. Kelompok kontrol juga menunjukkan pola distribusi yang serupa pada data Pretest, dengan nilai statistik Shapiro-Wilk sebesar 0,940 dan nilai Sig. sebesar 0,121. Nilai signifikansi yang berada di atas 0,05 mengindikasikan bahwa data Pretest pada kelompok kontrol tidak menyimpang secara signifikan dari distribusi normal. Pada data Posttest, kelompok eksperimen memperoleh nilai statistik Shapiro-Wilk sebesar 0,945 dengan Sig. sebesar 0,158. Nilai signifikansi ini tetap berada di atas ambang 0,05, sehingga distribusi data Posttest pada kelompok eksperimen dapat dikategorikan sebagai normal secara statistik. Sementara itu, kelompok kontrol pada data Posttest menunjukkan nilai statistik Shapiro-Wilk sebesar 0,940 dengan Sig. sebesar 0,122. Meskipun terdapat indikasi ketidaksesuaian distribusi pada uji Kolmogorov-Smirnov, hasil Shapiro-Wilk tetap menunjukkan bahwa data Posttest kelompok kontrol tidak mengalami deviasi signifikan dari distribusi normal. Secara keseluruhan, berdasarkan pendekatan Shapiro-Wilk, seluruh data Pretest dan Posttest pada kedua kelompok berada dalam rentang distribusi normal yang dapat diterima secara statistik, sehingga memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke tahap analisis Setelah itu, dilakukan pengujian kesamaan varians antar kelompok menggunakan LeveneAos Test, yang hasilnya tercantum pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic Based on Mean NilaiPretest Sig. Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed mean Based on Mean Based on Median NilaiPosttest Based on Median and with adjusted df Based on trimmed mean Pengujian homogenitas varians dilakukan menggunakan uji Levene dengan empat pendekatan estimasi pusat distribusi: mean, median, median dengan penyesuaian derajat kebebasan, dan trimmed mean. Tujuan dari uji ini adalah untuk menentukan apakah varians antar kelompok pada data Pretest dan Posttest bersifat homogen, sebagai prasyarat analisis Pada data Pretest, nilai Levene berdasarkan rata-rata . menunjukkan statistik Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan sebesar 3,280 dengan derajat kebebasan antara kelompok . sebesar 1 dan dalam kelompok . sebesar 52, menghasilkan nilai signifikansi (Sig. ) sebesar 0,076. Pendekatan berbasis median menghasilkan statistik 2,877 dengan Sig. 0,096, baik pada df asli maupun yang telah disesuaikan . f = 51,. Sementara itu, pendekatan trimmed mean menghasilkan statistik 3,274 dengan Sig. 0,076. Seluruh nilai Sig. berada di atas ambang batas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa varians data Pretest antar kelompok tidak berbeda secara signifikan dan memenuhi asumsi homogenitas. Untuk data Posttest, hasil uji Levene menunjukkan nilai statistik yang jauh lebih rendah. Berdasarkan mean, diperoleh nilai 0,063 dengan Sig. 0,803. Pendekatan median menghasilkan statistik 0,108 dengan Sig. 0,744, baik pada df asli maupun yang disesuaikan . f = 50,. Pendekatan trimmed mean menghasilkan nilai 0,059 dengan Sig. 0,808. Seluruh nilai signifikansi jauh di atas 0,05, yang menunjukkan bahwa varians data Posttest antar kelompok sangat konsisten dan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Dengan demikian, baik pada data Pretest maupun Posttest, seluruh pendekatan uji Levene menunjukkan bahwa varians antar kelompok bersifat homogen. Hal ini memperkuat validitas penggunaan analisis statistik parametrik pada tahap selanjutnya. Tahap awal sebelum dilakukan pengujian statistik adalah analisis deskriptif terhadap data hasil belajar siswa. Tujuannya adalah untuk melihat perbedaan rata-rata nilai antara kelas yang mendapat perlakuan dan kelas kontrol. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Uji Group Statistics Independent Samples t-test Group Statistics Kelas Mean Std. Deviation Std. Error Mean NilaiPretest Eksperimen Kontrol Eksperimen NilaiPosttest Kontrol Berdasarkan tabel tersebut, pada tahap Pretest, kelompok kontrol memiliki rata-rata nilai lebih tinggi . dibandingkan kelompok eksperimen . , meskipun selisihnya relatif Sebaliknya, pada Posttest, kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan yang lebih signifikan dengan rata-rata nilai 75,56, melampaui kelompok kontrol yang hanya mencapai 69,59. Simpangan baku pada kedua tahap menunjukkan bahwa data cukup tersebar, namun tetap konsisten antar kelompok. Untuk memastikan apakah perbedaan tersebut memiliki makna secara statistik, dilakukan analisis menggunakan uji Independent Samples t-test, dengan hasil yang disajikan pada Tabel 4. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Tabel 4. Hasil Uji Independent Samples t-test Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances Nila Pretest Nilai Equal variances Sig. Equal variances not assumed Equal variances Posttest Equal variances not assumed t-test for Equality of Means Sig. Mean Std. Error . -taile. Difference Difference Confidence Interval of the Difference Lower Upper Berdasarkan hasil analisis Independent Samples t-test yang disajikan dalam Tabel 4, dilakukan pengujian terhadap perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada data Pretest dan Posttest, dengan mempertimbangkan kesetaraan varians melalui uji Levene. Pada data Pretest, uji Levene menghasilkan nilai F sebesar 3. dengan tingkat signifikansi 0. Karena nilai signifikansi tersebut melebihi ambang batas 05, maka asumsi kesamaan varians antar kelompok dinyatakan terpenuhi, sehingga analisis dilanjutkan dengan pendekatan equal variances assumed. Nilai t-hitung yang diperoleh adalah 0. 865 dengan derajat kebebasan . sebesar 52 dan nilai signifikansi dua arah . -valu. Jika dibandingkan dengan nilai t-tabel sebesar 1. 675, maka t-hitung berada di bawah ambang tersebut, dan p-value jauh di atas batas signifikansi 0. Dengan demikian, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol sebelum perlakuan diberikan. Selisih rata-rata antara kedua kelompok tercatat sebesar -2. 556 dengan kesalahan baku perbedaan sebesar 2. Interval kepercayaan 95% terhadap perbedaan ratarata berada pada rentang -8. 484 hingga 3. 373, yang mencakup nilai nol, memperkuat kesimpulan bahwa perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik. Sebaliknya, pada data Posttest, uji Levene menunjukkan nilai F sebesar 0. 063 dengan nilai signifikansi 0. Nilai ini jauh di atas ambang 0. 05, sehingga asumsi kesamaan varians antar kelompok tetap valid dan pendekatan equal variances assumed digunakan. Nilai t-hitung yang diperoleh adalah 2. 411 dengan df sebesar 52 dan p-value sebesar 0. Jika dibandingkan dengan t-tabel . , maka t-hitung melebihi nilai kritis, dan p-value berada di bawah batas signifikansi 0. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol setelah perlakuan diberikan. Selisih ratarata antara kedua kelompok tercatat sebesar 5. 963 dengan kesalahan baku perbedaan sebesar Interval kepercayaan 95% terhadap perbedaan rata-rata berada pada rentang 1. 925, yang tidak mencakup nilai nol, sehingga perbedaan tersebut dapat dinyatakan signifikan secara statistik. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Secara keseluruhan, hasil uji menunjukkan bahwa sebelum intervensi dilakukan, kedua kelompok memiliki tingkat pencapaian yang setara. Namun, setelah penerapan model pembelajaran NHT berbantuan media YouTube, kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan hasil belajar yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Temuan ini mendukung efektivitas pendekatan pembelajaran yang diterapkan dalam meningkatkan performa akademik siswa secara terukur dan valid. Penelitian Fadlilah et al. Model NHT yang dipadukan dengan permainan ular tangga memberikan dampak positif terhadap pembelajaran siswa SD, khususnya dalam memahami konsep waktu dan membangun keterampilan sosial. Peningkatan nilai Posttest yang signifikan, bersama dengan partisipasi aktif siswa, menunjukkan keberhasilan pendekatan ini dalam menciptakan suasana belajar yang interaktif dan bermakna. Temuan ini sejalan dengan penelitian Silaen & Astuti . yang membuktikan bahwa penerapan strategi NHT yang dipadukan dengan media YouTube Education terbukti memberikan peningkatan signifikan dalam pemahaman konsep matematis siswa. Suasana kelas menjadi lebih menarik dan komunikatif berkat penggunaan video, meskipun hal tersebut menuntut perencanaan waktu yang lebih terstruktur dari pendidik. Hal yang sama juga tercermin dalam penelitian Ningrum & Sutriyani . , di mana penayangan video terbukti memperkuat kerja sama dalam kelompok serta meningkatkan keterampilan komunikasi siswa. Dengan demikian, hasil penelitian ini semakin menegaskan bahwa meskipun terdapat kendala waktu, penerapan model NHT berbantuan YouTube memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa. Untuk melengkapi hasil uji-t, digunakan analisis N-Gain guna mengevaluasi efektivitas Uji ini bertujuan mengidentifikasi sejauh mana pemahaman siswa meningkat setelah mengikuti pembelajaran dengan pendekatan NHT yang dipadukan dengan media YouTube, berdasarkan perbandingan skor Pretest dan Posttest. Tabel 5. Hasil Uji N-Gain Descriptive Statistics NGain_Persen Valid N . Minimum Maximum Mean Std. Deviation Berdasarkan hasil analisis deskriptif yang ditampilkan dalam Tabel 5, nilai N-Gain dalam bentuk persentase dari 54 peserta menunjukkan rentang pencapaian yang cukup luas, dengan skor minimum sebesar 0,00 dan maksimum mencapai 85,11. Rata-rata peningkatan hasil belajar tercatat sebesar 32,76 persen, dengan simpangan baku sebesar 21,02 yang mencerminkan adanya variasi yang cukup tinggi antar individu dalam merespons intervensi Jika merujuk pada klasifikasi efektivitas peningkatan belajar menurut Hake, nilai rata-rata tersebut berada dalam kategori sedang . ,3 O g < 0,. , yang menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran NHT berbantuan media YouTube memberikan dampak yang cukup efektif terhadap peningkatan pemahaman konsep peserta didik dalam mata pelajaran IPAS. Temuan ini memperkuat hasil uji sebelumnya yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol, serta menegaskan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan mampu mendorong pencapaian akademik secara terukur. Penelitian Ristiana et al. menyatakan model pembelajaran NHT mampu menciptakan pembelajaran yang lebih aktif dan interaktif karena siswa dapat berdiskusi dan bertukar pengetahuan dalam kelompok kecil. Hal ini mendukung temuan bahwa meskipun rata-rata peningkatan N-Gain di kategori sedang, sebagian siswa menunjukkan peningkatan tinggi yang mengindikasikan dampak signifikan model NHT terhadap pemahaman. Penelitian Mutmainna et al. menggunakan model NHT dan menunjukkan peningkatan minat belajar dan proses belajar siswa yang termasuk kategori Hal ini sejalan dengan hasil N-Gain kategori sedang yang menandakan efektivitas model NHT dalam meningkatkan pemahaman siswa secara umum, meskipun ada variasi Penelitian ini memberikan gambaran bahwa guru SD dapat mempertimbangkan penggunaan model NHT yang didukung oleh media YouTube sebagai metode pembelajaran Pendekatan ini tidak hanya efektif dalam meningkatkan pencapaian akademik siswa, tetapi juga mendorong tumbuhnya keterampilan penting abad ke-21, seperti berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, dan kerja sama tim. Media video dari YouTube mampu memperkaya penyampaian materi yang biasanya terbatas pada buku pelajaran, sekaligus menciptakan suasana kelas yang lebih interaktif dan menyenangkan. Dengan demikian, perpaduan antara NHT dan media digital menjadi strategi yang relevan dan inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di jenjang sekolah dasar. KESIMPULAN Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran NHT berbantuan video YouTube terbukti efektif meningkatkan hasil belajar IPAS siswa kelas V SD. Rata-rata nilai posttest kelompok eksperimen mencapai 75,56, lebih tinggi dibanding kelompok kontrol yang hanya 69,59, dengan hasil uji t-test menunjukkan t-hitung = 2,411 > t-tabel = 1,675 dan p-value = 0,019 < 0,05, menandakan perbedaan signifikan. Selain itu, rata-rata N-Gain sebesar 32,76% termasuk kategori sedang, menunjukkan peningkatan pemahaman yang cukup bermakna. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi NHT dan media YouTube mampu mendorong pencapaian akademik secara efektif. DAFTAR PUSTAKA