Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Strategi Mekanisme Survival Keluarga Buruh Petani Garam dalam Memenuhi Kebutuhan Hidup (Studi Kasus di Desa Gersik Putih. Gapura Sumene. Erika Yenny Maulidina1. Iskandar Dzulkarnain2*. Jamilah3 Universitas Trunojoyo Madura Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Sumenep email: erikayenny. 27@gmail. dzulkarnain@trunojoyo. jamilah@stkippgrisumenep. ABSTRACT This study examines the Strategy of the Survival Mechanism of Salt Farmers' Families in Meeting the Needs of Life in Gersik Putih Village. Sumenep Regency. The survival strategy is carried out by the family of salt farmer workers to be able to survive and to meet their daily needs. The strategies carried out are active strategies, passive strategies and network The participation of family members of salt farmer workers can increase the family's economy and can meet In this study using a sociological study of the theory of Survival Mechanism according to James C Scott. The purpose of this study was to find out how the Strategy of Survival Mechanism for Salt Farmers in Meeting the Needs of Life in Gersik Putih Village. Sumenep Regency. Where a farmer does several ways to survive in crisis conditions. Meanwhile, according to James C Scott, tying a tight belt means applying a frugal lifestyle, asking for help from relatives, taking advantage of social The majority of the people of Gersik Putih Village work as salt farmers with difficult economic backgrounds, low education, and are also hereditary jobs. This research uses descriptive qualitative research with a case study approach. Methods of collecting data by means of observation, interviews and documentation. Informants were selected using purposive sampling. Data analysis uses data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The technique of checking the validity of the data uses source triangulation. Keywords: Strategy. Salt Farmer Working Families. Living Needs ABSTRAK Penelitian ini mengkaji tentang Strategi Mekanisme Survival Keluarga Buruh Petani Garam dalam Memenuhi Kebutuhan Hidup di Desa Gersik Putih Kabupaten Sumenep. Strategi survival yang dilakukan oleh keluarga buruh petani garam untuk bisa melangsungkan hidup dan guna memenuhi kebutuhan sehari- hari. Adapun strategi yang dilakukan yakni strategi aktif, strategi pasif dan strategi jaringan. Adanya keikutsertaan anggota keluarga buruh petani garam bisa menambah perekonomian keluarga dan bisa mencukupi kebutuhan. Dalam penelitian ini menggunakan studi teori Mekanisme Survival menurut James C Scott. Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui bagaimana Strategi Mekanisme Survival Buruh Petani Garam dalam Memenuhi Kebutuhan Hidup di Desa Gersik Putih Kabupaten Sumenep. Dimana seorang petani melakukan beberapa cara untuk bisa bertahan hidup dalam kondisi krisis. Adapun menurut James C Scott dengan mengikat sabuk kencang yang artinya menerapkan pola hidup hemat, meminta bantuan sanak saudara, memanfaatkan relasi sosial. Masyarakat Desa Gersik Putih mayoritas bekerja sebagai petani garam dengan latar ekonomi sulit, pendidikan yang rendah, dan juga menjadi pekerjaan turun- temurun. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dan Informan yang dipilih menggunakan purposive sampling. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik pemeriksaan keabsaan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi mekanisme survival yang dilakukan oleh krluarga buruh petani garam dengan melakukan beberapa strategi sebagai berikut: Strategi pertama adalah strategi aktif dapat dikelompokkan yakni dengan bekerja menjadi buruh harian lepas, bekerja sebagai karyawan, membuka warung kecil-kecilan, ikut kerja menjadi buruh petani garam dan mendapatkan kiriman uang dari anak. Strategi kedua yakni strategi pasif. Strategi pasif dapat di kelompokkan menjadi beberapa yakni menghemat pengeluaran dan memilah kebutuhan. Dan strategi ketiga adalah strategi jaringan. Strategi jaringan dapat di kelompokkan menjadi beberapa yakni meminta bantuan sanak saudara dan memanfaatkan reasi dengan pemilik talangan. Pada keluarga buruh petani garam kebutuhan primer menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi sebelum kebutuhan sekunder dan kebutuhan tersier. Kebutuhan primer diantaranya yakni kebutuhan pangan, kebutuhan sandang, kebutuhan papan, kebbutuhan kesehatan, dan kebutuhan pendidikan. Hal ini bisa menciptakan kesejahteraan dan keharmonisan keluarga buruh petani garam di Desa Gersik Putih. Kata kunci: Strategi. Keluarga Buruh Petani Garam. Kebutuhan Hidup A 2025 Authors Journal of Linguistics and Social Studies is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 PENDAHULUAN Madura merupakan salah satu pulau penghasil garam terbesar. Oleh karena itu yang menjadi sumber penghidupan masyarakat masih berada dalam ruang lingkup pesisir yakni menjadi nelayan. Meskipun demikian sumber pertanian juga menjadi bagian terpenting dari sumber penghasilan dengan menjadi petani pada lahan pertanian. Terlihat dari karakteristik sosial budaya dan ekonomi masyarakatnya secara umum memiliki ciri khas sehingga nilai sosial budaya yang terjadi antara masyarakat. Dalam industri kapitalisme melahirkan kegagalan modernisasi untuk kesejahteraan, kemakmuran, dan kebahagiaan penduduk Modernisasi ini menciptakan masyarakat hidup sebagai buruh-buruh dari adanya Industralisasi kemudian menyebabkan kesengsaraan, kemiskinan, dan kenestapaan sehingga hilangnya ruang hidup lahan agrarisnya (Giddens, 2. Mereka terjebak dalam jurang industrialisasi mesin kapitalis yang mana melahirkan kemiskinan dengan memiskinkan kelompok proletar. Akibat tidak suburnya lahan-lahan pertanian wilayah pesisir, maka berdampak kepada sulitnya penghidupan perekonomian masyarakat Madura. Rendahnya kualitas produksi garam serta persaingan dengan garam import membuat harga garam di Pulau Madura semakin tertekan yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan petani garam di Pulau Madura. Bahkan salah satu faktor keengganan petani garam untuk melakukan usaha garam dan memperbaiki kualitas garam yang diproduksi adalah harga garam di pasar yang tidak stabil ditambah lagi adanya permainan harga yang dilakukan oleh pedagang pengumpul ataupun pabrik garam yang justru merugikan petani Padahal usaha garam juga merupakan salah satu roda penggerak perekonomian karena menyediakan lapangan kerja utama bagi masyarakat yang tinggal dikawasan agraris dan pesisir (Astutik M. , 2. Bagi mereka yang tidak mempunyai modal atau tidak mempunyai lahan maka bergantung pada petani pemilik tambak. Kabupaten Sumenep menjadi daerah dimulainya industri garam rakyat Indonesia, salah satu bukti sejarahnya yaitu dibangunnya PT Garam yang telah menjadi pabrik pertama di Indonesia. Pengusahaan garam sudah menjadi turun- temurun dan menjadi pekerjaan utama masyarakat pesisir. Kemiskinan pada keluarga petani garam sudah sejak lama menjadi masalah yang tiada henti nilai tukar petani terus merosot artinya, perbandingan harga yang diterima dan dibayarkan petani mengalami penurunan. Hal ini menjadi petunjuk bahwa kesejahteraan mereka semakin merosot dan miskin. Kemiskinan petani garam disebabkan oleh keterbatasan ilmu pengetahuan serta penggunaan alat dan metode. Para petani garam bergantung pada keadaan cuaca atau iklim yang cenderung berubah setiap saat. Seperti halnya produksi garam di Kabupaten Sumenep setiap tahunnya mengalami perubahan. Petani garam di Desa Gersik Putih menggarap tambak garam yang ada di tepi Garam yang dihasilkan oleh petani garam di Desa Gersik Putih adalah jenis garam kualitas krosok . aram mentah serta tidak menganung yodiu. Pada waktu panen petani garam diberi upah dengan sistem bagi hasil yakni 50:50 adapun yang menerapkan 60:40 bergantung dari pemilik lahan. Garam yang dihasilkan biasanya dijual oleh pemilik tambak Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 ke tengkulak. Penggarap tambak tidak ikut andil dalam proses jual beli garam, mereka hanya menerima hasil yang diberikan oleh pemilik tambak. Petani garam akan mendapat upah dari pemilik tambak ketika hasil panennya sudah terjual (Nikmaturrohmah, 2. Waktu untuk produksi garam pada musim kemarau berkisar dari bulan Juni sampai Agustus. Jumlah petani garam yang menggarap tambak berbeda-beda setiap tambak, biasanya satu hektar . dapat digarap oleh dua sampai lima orang petani. Proses pembuatan garam bisa lebih cepat jika cuaca panas, namun sebaliknya jika cuaca berubah-ubah maka memakan waktu lebih lama. Maka dari itu pembuatan garam memerlukan waktu kurang lebih tiga sampai tujuh hari. Petani garam dihadapkan pada persoalan struktural baik di tingkat petani, pasar, maupun pada kebijakan pemerintah. Pada tingkat petani garam, petani dihadapkan pada masalah sistem bagi hasil yang dirasa tidak adil karena semua keputusan tergantung pada pemilik lahan. Kemudian struktur pasar garam yang juga bersifat monopolistik, sehingga dikuasai oleh pemilik modal. Selain itu, perlindungan terhadap petani garam kecil sering kali belum dilakukan dengan baik yang menyebabkan petani garam kurang mampu untuk mempertahankan dan mengembangkan usaha penggaraman dengan maksimal (Akhriyadi Sofian, 2. Desa Gersik Putih terdapat tiga dusun yakni dusun Gersik Putih Barat terdapat 206 kk, dusun Gersik Putih Tengah terdapat 125 kk, dan dusun Gersik Putih Timur 121 kk. Sebagian besar penduduk Desa Gersik Putih bekerja sebagai buruh petani garam dengan jumlah sekitar 40%, jumlah pemilik lahan 30% dan sisanya 30% bekerja di luar kota maupun di luar negeri (Sumber: Petugas Register Desa 2. Petani garam di Desa Gersik Putih menerapkan berbagai strategi survival untuk bertahan hidup. Bentuk strategi yang dilakukan oleh petani garam diantaranya strategi aktif, strategi aktif dan strategi jaringan. Strategi survival petani garam mulai dari melakoni pekerjaan sampingan, menghemat, hingga memanfaatkan relasi patron-klien. Patron klien disini merupakan hubungan antara dua orang yang memliki hubungan intim dan akrab, yang mana seseorang yang mempunyai kedudukan sosial ekonomi lebih tinggi . perlindungan ataukeuntungan kepada orang yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih rendah . Hal ini terkait hubungan kerja yang terjalin antara petani garam dengan pemilik tambak tetap merupakan hubungan antara patron dengan klien. Rasa solidaritas di Desa Gersik Putih masih terbilang kental yang mana ketika ada sanak keluarga yang mmengalami kesusahan maka tetangga atau sanak family memberikan bantuan kepada mereka yang memiliki keterbatasan dalam perekonomiannya terutama bagi petani yang memiliki penghasilan kecil. Kebutuhan hidup yang harus terpenuhi seperti kebutuhan sandang, pangan papan, pendidikan, dan kesehatan. Maka dari itu perlu adanya sikap hemat yang dilakukan oleh petani garam sebagai penghasilan kecil dengan membiasakan keluarganya untuk hidup sederhana seperti makan seadanya. Pendapatan yang diterima oleh petani garam yang terbilang rendah, sehingga petani membiasakan diri untuk makan dengan lauk yang Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 sederhana dan seadanya (Abidin, 2. Selain sikap hemat dengan mengurangi kebutuhan makan, mereka juga mencari pekerjaan sampingan dengan dibantu anggota keluarga seperti istri dan anak. Adapun istri yang juga ikut serta menyumbangkan tenaganya dengan bekerja sebagai petani garam. Anak juga ikut bekerja dengan bekerja menjdi karyawan toko, kuli bangunan, serta migrasi untuk mencari pekerjaan. Beberapa strategi yang dilakukan oleh petani garam yang berpenghasilan rendah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari mulai dari kebutuhan pangan, sandang, papan dan kebutuhan lainnya. Oleh karena itu perlu adanya strategi- strategi survival unuk bertahan hidup memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Keluarga petani garam juga membantu dalam ekonomi mereka. Adapun dari mereka yang mampu meyekolahkan anaknya sampai tigkat SMA bahkan juga ada yang sudah mengenyam pendidikan sarjana. Kali ini peneliti akan mengangkat bagaimana strategi petani garam di Desa Gersik Putih Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep mempengaruhi tatanan terkecil dalam masyarakat. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian kali ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif. Dalam pengumpulan data pada penelitian kualitatif yaitu melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi guna melengkapi data-data penting sebagai penunjang keberhasilan Subjek penelitian disini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai realitas sosial yang ada di dalam lingkungan sosial secara utuh. Dalam hal ini subjek adalah individu atau kelompok orang yang terlibat dalam penelitian. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada paradigma kontruktivisme yang memiliki pandangan bahwa pengetahuan itu tidak hanya hasil pengalaman terhadap fakta namun juga hasil kontruksi pemikiran subjek yang diteliti (Arifin, 2. Paradigma ini memiliki pandangan bahwa kenyataan itu bisa dibentuk dari kemampuan berfikir seseorang, tidak bersifat tetap namun dapat berkembang secara terus-menerus. Metode Pengumpulan Data Data primer diperoleh melalui informan dari teknik wawancara mendalam dan metode Pemilihan informan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang benar-benar dapat memberikan informasinya terhadap pertanyaan atau data yang diperlukan. Peneliti menggunakan tiga metode dalam memperoleh data primer yakni observasi non partisipan, wawancara langsung, dan dokumentasi. Data sekunder diperoleh melalui sumber pustaka dan studi dokumentasi, atau diperoleh dari mempelajari atau menelaah berbagai literatur yang ada sesuai dengan topik penelitian berupa buku-buku dari berbagai sumber. Metode Penentuan Informan Dalam penelitian ini penentuan informan menggunakan purposive sampling. Teknik purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan ini merupakan orang yang dianggap paham dan tahu Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 tentang apa yang kita inginkan, bahkan sebagai penguasa sehingga akan lebih memudahkan peneliti dalam mencari informasi. Adapun kriteria yang menjadi pemilihan informan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut: . Buruh Petani Garam, 2. Istri Buruh Petani Garam, dan 3. Bekerja di lahan milik PT Garam dan Rakyat. Metode Analisis Data Reduksi Data (Reduction Dat. diartikan sebagai proses pemilihan, pemisahan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan. Mereduksi data artinya merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, serta mencari tema dan polanya. Penyajian Data (Data Displa. dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah peneliti dalam melihat gambaran secara keseluruhan au bagian tertentu dari penelitian. Penyajian data dilakukan dengan cara mendeskripsikan hasil wawancara yang di tuangkan dalam bentuk uraian dengan teks naratif dan di dukung oleh dokumen-dokumen, foto-foto, ambar dansejenisnya untuk menarik suatu kesimpulan. Penarikan Kesimpulan (Concluting Drawin. Pada proses penarikan kesimpulan ini penulis melakukan secara teliti dengan argumentasi yang panjang dan tinjauan diantara kolega untuk mengembangkan pendapat antara subjek. Peneliti berusaha menganalisis dan mencari pola, tema, hubungan persamaan hal hal yang sering timbul, hipotesis dan sebagainya yang di tuangkan dalam kesimpulan yang tentatif. Waktu dan Lokasi Penelitian Waktu penelitian yang peneliti lakukan dimulai pada saat observasi pertama yaitu di Desa Gersik Putih Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep. Terkait waktu penelitian yang dilakukan dalam memperoleh data, peneliti memulai dari bulan Januari-April 2022. Dalam waktu empat bulan peneliti dapat mengumpulkan data mengenai topik yang akan diteliti. Lokasi penelitian ini dilakukan di salah satu Desa penghasil garam di Kabupaten Sumenep yaitu Desa Gersik Putih. Lokasi ini memang dipilih oleh peneliti dengan tujuan untuk menemukan daerah yang relevan dengan tujuan yang diambil oleh peneliti. Dalam menentukan lokasi penelitian ini peneliti harus memikirkan berbagai pertimbangan. Pertimbangan pertama. Kabupaten Sumenep sudah banyak dikenal sebagai Kabupaten yang terdapat beberapa desa pesisir penghasil garam. HASIL DAN PEMBAHASAN Informan Terdapat 6 Informan yang telah diwawancari dengan rincian informasi sebagai berikut: Informan 1: Pada pembuatan garam pengerjaan dilakukan khusus dan membutuhkan kadar air garam yang sudah di takar tidak hanya itu pembuatan garam membutuhkan waktu kurang lebih 5 hari sampai 1 minggu di bawah terik matahari yang stabil. Berbicara lahan yang di garap oleh petani garam tersebut bukan lahan milik sendiri namun ia bekerja di lahan milik rakyak dan kadang kala juga mennggarap di lahan milik PT Garam. menjadi petani garam Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 sudah menjadi pekerjaan utama sebagian masyarakat di Desa Gersik Putih. Bapak Edi ini menggarap di dua lahan yakni lahan milik PT Garam dari pukul 06:00 sampai 11:30 WIB sedangkan di lahan milik rakyat dari pukul 13:00 sampai 16:00 WIB yang mana penghasilan yang Perbedaan ketika bekerja di lahan milik rakyat dan lahan milik PT Garam yakni terletak pada pembagian upah yang di terima oleh buruh petani garam. pada saat menggarap di lahan PT Garam di bayar perminggu dengan upah sebesar 460. 000 ribu dan penghasilan yang di da. t selama sebulan yakni sebesar 1. 000 ribu. Namun beda ketika bekerja di lahan milik rakyat dibayar perhari yakni sebesar 65. 000 ribu. Menjadi buruh petani garam ini lebih banyak menghabiskan waktu di lahan pada siang hari dan waktu untuk berkumpul bersama keluraga menjadi sangat terbatas yakni hanya pada malam hari. Perihal petani garam pak Edi menggarap di lahan milik rakyat yakni Pak H. Zain, beliau juga warga Desa Gersik Putih namun beda dusun. Pak Edi di berikan kepercayaan oleh pemilik lahan untuk menggarap lahan penggaraman dengan luas 1 hektar yang di kerjakan oleh 5 orang yang merupakan petani garam lainnya. 1 hektar terdapat 11 talangan tambak garam. Menjadi petani garam memang pekerjaan yang dirasa mudah karena pekerjaan ini juga dibilang sebagai pekerjaan turun-temurun dari orang tua. Informan 2: Keluarga buruh petani garam dalam melangsungkan hidup dalam kondisi krisis dengan memilih meminimalisir segala kebutuhan primer, salah satunya kebutuhan makanan. Kebutuhan makanan yang dikomsumsi keluarga buruh petani garam tidak melihat dari kualitas makanan yang terkandung. Akan tetapi bagi mereka yang terpnting bisa makan menggunakan lauk pauk seadanya. Hal ini terkait dalam teori mekanisme survivsl oleh James Scott yakni petani kecil memilih tindakan untuk dapat bertahan hidup dalam kondisi krisis. Informan 3: Pekerjaan buruh petani garam dilakukan pada saat musim kemarau saja dari bulan April-September. Jika musim penghujan pak Muni memilih tidak bekerja dan pekerjaan yang bisa ia lakukan dengan menjadi buruh harian lepas menjadi nelayan. Hasil tangkapan kaut yang berupa ikan dan kepiting terkadang hanya untuk dimakan bersama keluarga namun jika hasil tangkapannya lumayan banyak pak Muni juga menjualnya ke tetangga ataupun ke Desa sebelah untuk menambah penghasilan sehari-hari. Penghasilan yang diterima terbilang pas-pasan sehingga keluarga buruh petani garam menerapkan pola hidup hemat. Pemenuhan kebutuhan untuk makan tercukupi dengan makanan yang terkandung nilai gizi Demi memperhatikan nilai gizi terhadap makanan yang dikonsumsi akan tetapi lebih pada setiap hari mereka bisa makan sudah menadi rasa syukur yang tak ternilai meskipun dengan lauk Informan 4: Jika hanya berbicara untuk kebutuhan untuk makan saja dengan penghasilan yang diterima para buruh petani garam terbilang masih tercukupi namun belum lagi jka ada kebutuhan mendesak ketika ada hajatan nikahan dan lain-lain. Selain itu uang listrik dan Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 juga air setiap bulannya sehingga menjadikan keluarga petani garam di Desa Gersik Putih hanya mengonsumsi makanan yang standar karena harga bahan sembako naik semua tanpa terkecuali harga minyak yang semakin melambung tinggi dengan mengurangi kebutuhan pokok agar terpenuhinya kebutuhan primer lainnya. hal ini untuk bisa bertahan hidup dalam perekonomian terbelakang. Informan 5 Tambak garam tempat pak Moyo bekerja bukan milik pribadi melainkan bekerja di lahan milik rakyat dan juga pada talangan milik PT Garam. Adapun pembagian waktu ketika pak Moyo bekerja yakni waktu pagi hari pukul 06. 00 sampai 11. 30 WIB bekerja di lahan milik rakyat sedangkan pukul 13. 00 sampai 16. 00 WIB bekerja di lahan milik PT Garam. Upah yang diterima buruh petani garam di Desa Gersik Putih rata-rata yakni sebesar 460. ribu perminggu. Dan bayaran yang di terima buruh petani garam pada saat bekerja dilahan milik PT Garam di beri upah sebesar 65. 000 ribu sehari. Informan 6: Pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang paling banyak yakni kebutuhan primer diantaranya makanan pokok, sandang, dan papan belum lagi jika ada acara seperti hajatan nikahan dan lain sebagainya. Maka dari itu pentingnya memilah kebutuhan utama dan kebutuhan yang dapat dikesampingkan seperti membeli kuota, barang elektronik ataupun membeli barang branded. Kebutuhan primer menjadi kebutuhan yang penting di penuhi karena makan adalah kebutuhan yang utama. Tidak selalu tercukupi kebutuhan keluarga pak Moyo ketika ada kebutuhan mendadak terkadang meminjam ke sanak saudara ataupun ke tetangga sekitar. Hidup di lingkungan desa harus tahu memposisikan tingkah laku yang baik antar tetangga. Orang Madura selalu mengedepenkan tingkah laku yang baik antar tetangga untuk menciptakan kerukunan. Orang Madura selalu menerapkan kata- kata seperti ini: tengka lakona pabeghus oreng laen bhekal ngarghei kiya . ingkah laku yang bagus akan di hargai jug. Misalnya ketika tetangga mempunyai hajatan seperti acara nikahan atau acara hajatan lain kita juga ikut membantu dan hadir serta membalas nominal yang sama atau bahkan lebih. Tabel 1. Profil Informan Informan Usia Pekerjaan Utama Penndidikan Alamat 45 th Buruh Petani SMP Gresik Putih. Gapura. Sumenep 40 th Ibu Rumah Tangga Gresik Putih. Gapura. Sumenep 50 th Buruh Petani Gresik Putih. Gapura. Sumenep Petani Gresik Putih. Gapura. Sumenep Petani Gresik Putih. Gapura. Sumenep Gresik Putih. Gapura. Sumenep Garam Garam 45 th Buruh Garam 53 th Buruh Garam 50 th Wiraswatsa Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Pemenuhan Kebutuhan Hidup Keluarga Buruh Petani Garam Pemenuhan ini pada dasarnya perlu akan adanya keikutsertaan segenap anggota keluarga dalam kebutuhan hidup. Hal ini dapat diartikan sebagai bentuk kerja sama dalam mempertahankan keberlangsungan hidup secara terus-menerus dan berkelanjutan untuk Proses mempertahankan suatu keadaan. Pada keluarga miskin tentunya memiliki kemampuan untuk survive dalam berbagai kondisi dan situasi ketika mengalami keadaan sulit sehingga mereka perlu memiliki strategi yang handal dalam menghadapi goncangan Bertahan secara umum merupakan sikap dalam melakukan suatu pekerjaan dan tidak menyerah dalam kondisi apapun walaupun penuh keterbatasan. Dari segala sumber daya yang mereka miliki supaya bisa tetap menjaga kelangsungan hidup keluarga. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa strategi bertahan hidup adalah suatu tindakan atau cara yang dilakukan oleh keluarga miskin untuk bisa bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi yang mereka miliki. Seperti halmya, keluarga buruh petani garam di Desa Gersik Putih melakukan berbagai cara untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup yakni kebutuhan pangan, papan, dan sandang serta di ikuti kebutuhan sekunder dan kebutuhan tersier. Buruh merupakan orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk uang atau bentuk lain sesuai dengan kesepakatan. Buruh cenderung pada golongan yang selalu ditekan dan berada dibawah pihak lain yakni majikan. Seperti halnya buruh petani garam di Desa Gersik Putih dalam menguasai sebidang talangan dapat diartikan sistem menyewa atau sistem bagi hasil dapat menggunakan tenaga kerja yang bersifat tidak tetap. Pendapatan yang diterima juga ditentukan oleh pemilik talangan. Kebutuhan Primer Manusia sebagai makhluk hidup perlu adanya berbagai kebutuhan pokok atau kebutuhan penting dalam melangsungkan hehidupan yang layak. Kebutuhan manusia yang sangat beragam tentunya juga perlu adanya batasan. Kebutuhan primer merupakan kebutuhan utama bagi manusia terdiri dari kebutuhan untuk makan, minum, pakaian, tempat tinggal. Kebutuhan muncul adanya dorongan dari dalam diri manusia serta kenyataan bahwa manusiamembutuhkan sesuatu untuk dapat bertahan hidup. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, keluarga terbagi menjadi keluarga besar dan keluarga kecil. Keluarga besar terdiri dari beberapa keluarga kecil yakni suami, istri, kakek, nenek, om, tante, adik yang berada di dalam satu rumah, sedangkan keluarga kecil terdiri dari beberapa anggota keluarga yakni istri, suami, dan anak yang belum menikah. Di dalam satu keluarga tentunya terdapat kepala keluarga yang berkewajiban untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup. Setiap keluarga memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda dan beraneka ragam. Perbedaan tingkat kebutuhan dalam setiap keluarga yang ada di Desa Gersik Putih terlihat dari tingkat pendapatan dan tanggungan keluarga buruh petani garam. Semakin besar tingkat pendapatan dan jumlah tanggungan dalam keluarga maka semakin komplek kebutuhan yang harus dipenuhi oleh keluarga buruh petani garam. Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Berdasarkan uraian diatas bahwa yang dimaksud kebutuhan keluarga yakni segala sesuatu yang dibutuhkan keluarga supaya tetap hidup maupun sebagai penunjang hidup. Pada penelitian kali ini terfokus pada kebuuhan hidup yang terdiri dari kebutuhan primer . ebutuhan waji. , kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier. Berbicara kebutuhan didalam setiap keluarga buruh petani garam di Desa Gersik Putih yag utama adalah kebutuhan primer yakni di antaranya kebutuhan pangan, kebutuhan sandang, dan kebutuhan papan. Kebutuhan primer keluarga buruh petani garam dapat dijelaskan sebagai ) Kebutuhan Pangan Kebutuhan uama yang wajib dipenuhi oleh keluarga buruh petani garam yakni kebutuhan pangan atau makanan. Kebutuhan pangan merupakan kebutuhan dasar dan wajib dipenuhi oleh setiap orang untuk tetap hidup. Didalam makanan terdapat senyawa kimia yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Senyawa kimia dalam makananyang diperlukan yakni zat gizi karena di dalam tubuh manusia jika kekurangan zat tersebut maka fungsi organ akan terganggu dan mengakibatkan penyakit. Bagi keluarga miskin jumlah gizi yang terkandung dalam makanan tidaklah penting karena bagi mereka makanan yang mereka makan dapat mengenyangkan. Hal ini terlebih khusus bagi keluarga buruh petani garam di Desa Gersik Putih yang tidak memperhatikan kandungan gizi yang ada didalam makanan namun yang paling utama bisa makan nasi dan lauk bisa apa saja. Bagi mereka kebersamaan dalam keluarga bisa mencapai suatu Kebutuhan pokok tidak terlepas dari adanya peran dari anggota keluarga Dalam keluarga memiliki peran dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga demi kelangsungan hidup suatu keluarga. Kebutuhan pangan didalam keluarga terdiri dari beberapa bahan makanan yakni: beras atau jangung, gula, sayur-sayuran dan buah-buahan, telur, daging, minyak goreng, susu, garam, dan gas elpiji. Berbicara kebutuhan pangan pada keluarga buruh petani garam memang menjadi kebutuhan wajib untuk menujang kehidupan keluarga. Kebutuhan pangan yang di konsumsi sehari-hari menjadi kebutuhan dasar untuk bisa bertahan hidup. Keluarga buruh petani garam di Desa Gersik Putih tidak memandang suatu makanan yang di makan dari nilai zat yang terkandung didalam makanan tersebut namun hal yang terpenting sudah bisa makan dengan teratur minimal duakali dalam sehari. ) Kebutuhan Sandang Kebutuhan yang perlu dipenuhi setelah kebutuhan pangan yakni kebutuhan Kebutuhan sandang adalah suatu kebutuhan pakaian atau alas penutup tubuh yang diperluakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Pakaian pada zaman dahulu dijadikan penutup tubuh namun tidak secara keseluruhan. Alas yang dipakai terbuat dari kulit binatang dan kulit kayu sebagai pelindung tubuh dari segala cuaca. Kemudian seiring berkembangnya jaman muncul teknologi dan alat pemital kapas dan dijadikan Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 benang sehingga terbentuklah kain, kemudian kain tersebut di rancang menjadi bermacammacam modelbaju yang sampai sekarang digunakan. Pakaian tidak hanya digunkan sebagai pelingdung saja akan tetapi di desain untuk memberikan kenyamanan sesuai dengan jenis kebutuhan pada saat dipakai seperti pakaian didalam rumah, dan pakaian pada saat bekerja. Keluarga buruh petani garam memilih pakaian seseua dengan kebutuhan dengan jumlah yang terbatas. Pakaian yang digunakan juga tidak banyak pada saat digunakan pada saat beraktivitas di dalam rumah maupun di luar rumah. Terkadang mereka tidak banyak membeli pakaianyang digunkan sehari-hari adapun sebagian dari mereka menerima pakaian bekas dari pemberian orang yang masih layak dipakai. Meskipun pakaian menjadi kebutuhan primer namun bagi kelaurga buruh petani garam pakaian yang terpenting bisa menjadi penutup tubuh dan sopan dalam menggunakannya sesuai dengan aturan yang ) Kebutuhan Papan Setiap keluarga membutuhkan rumah untuk kelangsungan hidupnya serta sebagai wadah kegiatan keluarga dalam membentuk kebahagiaan dan kesejahrteraan anggota Bagi manusia tempat tinggal menjadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh setiap manusia sebagai tempat berteduh, berlindung dan melangsungkan keturunan. Rumah tidak harus mewah karena bagi masyarakat memiliki rumah di lahan sendiri lebih baik daripada harus mengontrak atau menyewa kepada orang lain. Pada keluarga buruh petani garam di Desa Gersik Putih meskipun memiliki rumah kecil namun dibangun diatas lahan sendiri itu lebih aman dan juga tenang daripada harus menyewa. Kebutuhan papan ini menjadi kebutuhan yang paling penting setelah kebutuhan pangan dan kebutuhan sandang terpenuhi. Oleh karena itu setiap orang berhak untuk memilih rumah yang seperti apa. Bentuk rumah yang ada di Desa Gersik Putih pada umunya seperti rumah-rumahyang ada di Desa-Desa lainnya yang ada di Sumenep. Penduduk yang ada di Desa Gersik Putih tidak terlalu padat sehingga disana masih terdapat lahan kosong. Rumah-rumah yang masih menerapkan sistem taneyan lanjhang. Taneyan lanjhang artinya rumah yang di bangun itu dengan silsila keluarga yang terdiri dari orang tua, anak tertua sampai anak yang paling muda berkumpul dalam satu lahan. Pada era modern saat ini tatanan rumah yang seperti ini sudah jarang ditemui di kota-kota Sumenep dan masih terdapat di beberapa desa, karena bangunan yang terdapat sudah sejajar dan banyak tokotoko yang mendiami di lahan tersebut. ) Kebutuhan Kesehatan Kebutuhan kesehatan menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Sehat menjadi syarat untuk bisa tetap produktif melaksanakan setiap aktivitas sesuai dengan fungsinya. Kesehatan menjadi hal penting kesehatan jasmani dan juga rohani. Bagi kebanyakan orang terutama kesehatan jasmani sangatlah penting untuk bisa tetap bekerja. Apalagi pekerjaan Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 menjadi buruh harus bisa menjaga kesehatan supaya bisa tetap bekerja dan memberikan nafkah kepada keluarganya. Kesehatan menjadi tolak ukur manusia untuk mensejahterakan badan, jiwa, dan juga produktif secara sosial dan juga secara ekonomi. Pada keluarga buruh petani garam di Desa Gersik Putih lebih mementingkan kesehatan fisik dan juga rohani karena pada saat sakit buruh petani garam tidak bisa bekerja dan harus beristirahat dirumah sehingga upah yang diterimapun juga akan berkurang. Desa Gersik Putih tidak terdapat rumah sakit. Dan hanya ada unit kesehatan seperti Puskesmas sendiri terletak pada Desa sebelah yakni Desa Gapura. Jadi jika warga sakit parah harus dilarikan ke puskemas ataupun rumah sakit Kalianget (RSI). Selain itu juga terdapat praktek bidan biasanya jika hanya sakit ringan mereka memilih untuk berobat kesana ataupun membeli obat yang tersedia di warung-warung. Dengan pekerjaan menjadi buruh petani garam rentan bagi mereka untuk sakit karena pekerjaan yang digeluti menjadi ladang untuk mencari nahkah. ) Kebutuhan Pendidikan Pendidikan menjadi proses yang penting bagi perkembangan setiap orang. Melaluai proses pendidikan karakter seseorang bisa terbentuk. Keluarga menjadi pendidikan utama bagi seorang anak karena orang tua merupakan orang pertama yang berinteraksi dengan anak sehingga membentuk karakter awal anak. Selain pendidikan keluarga penting bagi seorang anak pendiidkan formal yang bertujuan untuk dapat mengasah keterampilan sebagai bekal pada saat bekerja. Dalam pendidikan formal seorang anak dapat mengembangkan potensi diri yang dimiliki sehingga dapat mencapai kualitas diri yang lebih Buruh petani garam di Desa Gersik Putih memiliki kualitas pendidikan yang hanya sampai pada tingkat dasar adapun yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Oleh karena itu sangat penting kebutuhan pendidikan bagi keluarga buruh petani garam untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga serta keluar dari garis kemiskinan. Hal ini tidak berlaku bagi anak buruh petani garam. karena standart pendidikan harus maksimal sudah bersoekolah sampai di tingkat SMA. Maka dari itu alasan pemuda desa sudah jarang ada yang meneruskan pekerjaan menjadi buruh petani garam serta memilih bekerja di sektor lain bahkan bermigrasi untuk mencari pekerjaan. Kebutuhan Sekunder Kebutuhan sekunder merupakan kebutuhan setelah kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan sekunder menjadi suatu kebutuhan yang berhubungan dengan usaha menciptakan atau menambah kebahagiaan. Kebutuhan sekunder bertujuan untuk sehari-hari. Adapun diantaranya: perhiasan, kipas angin, kulkas, kendaraan pribadi. mesin cuci, rak, telepon dan masih banyak lagi barang elektronik. Seiring berkembanganya jaman tentunya semakin Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 banyak teknologi dan alat canggih yang mempermudah manusia melakukan segala Pada kehidupan keluarga yang memiliki perekonomian menengahkebawah sulit bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan sekunder. Oleh karena itu hanya sebagian barang elektronik saja yang dapat dipenuhi. Kebutuhan sekunder berupa telepon sudah menjadi barang yang mana semua orang sudah mampu membelinya karena di jaman sangat mudah untuk dapat berkomunikasi dengan banyak orang yang berada didalam kota maupun di luar Keluarga buruh petani garam di Desa Gersik Putih terbilang berada rata-rata berada di ekonomi bawah sehingga kebutuhan primer diatas segala dan kebutuhan sekunder menjadi pelengkap setelah kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi dengan baik. Kebutuhan Tersier Kebutuhan Tersier merupakan kebutuhan setelah terpenuhinya kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan ini menjadi kebutuhan paling terakhir di dalam intensitas kebutuhan manusia. Tujuan kebutuhan tersier yakni untuk memenuhi kesenangan pribadi Kebutuhan tersier bersifat prestise, prestise adalah ketika seseorang yang mampu memenuhi kebutuhan tersier akan menganggap dirinya mampu mengangkat derajat karena dilita lebih daripada yang lainnya. Oleh karena itu kebutuhan tersier merupakan kebutuhan yang dianggap barang mewah. Bagi orang yang tinggal di lingkungan kota dan kaum elit menjadi kebutuhan penting untuk dipenuhi selain kebutuhan primer dan sekunder. Akan tetapi bertolak belakang bagi masyarakat miskin karena beberapa mempengaruhi sehingga menjadi tidak pentingnya kebutuhan tersier yakni lingkungan sosial, pendapatan, mata pencaharian, dan sifat manusia. Hal ini berlaku bagi keluarga buruh petani garam di Desa Gersik Putih yang mana mereka tidak memperdulikan kebutuhan tersier karena kebutuhan primer jauh lebih penting dari sekedar memenuhi kebutuhan terisier dengan membeli barang-barang mewah. Barang mewah disini dapat dikategorikan seperti: perhiasan, liburan, atau membeli makan di restauran mewah. Buruh petani garam di Desa Gersik Putih lebih mementingkan kebutuhan keluarganya daripada hanya kepentingan atau kebutuhan pribadi. Karena jika bukan keluarga siapa lagi yang akan peduli. Strategi Mekanisme Survival Keluarga Buruh Petani Garam Strategi Mekanisme Survival merupakan cara bertahan hidup individu atau kelompok masyarakat dalam mencapai tujuan bersama. Pada keluarga petani garam cara untuk dapat melangsungkan kehidupan dan mensejahterahkan anggota keluarga dengan melakukan beberapa strategi. Terlebih khusus pada keluarga buruh petani garam yang mana tingkat perekonomian berada pada kelas ekonomi menengah ke bawah. Kali ini peneliti akan mengambil informan dari 3 keluarga buruh petani garam yang ada di Desa Gersik Putih. Hal ini perlu adanya strategi untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Strategi Aktif Strategi aktif merupakan strategi bertahan hidup dengan cara memanfaatkan segala potensi yang dimiliki. Staregi aktif yang dilakukan oleh buruh petani garam dengan cara memperpanjang jam kerja, melakukan hal apapun demi mendapatkan penghasilan lebih. Strategi aktif ini biasanya dilakukan oleh buruh petani garam untuk mendapatkan pnghasilan tambahan. Penghasilan tambahan ini tentunya supaya keluarga petani garam keluar dari terhimpitkan ekonomi. Hal ini dengan mencari pekerjaan sampingan seperti bekerja buruh harian lepas lainnya . , usaha kecil-kecilan, bekerja sebagai karyawan dan bahkan bermigrasi ke luar kota untuk mencari pekerjaan. Dalam mengatasi kesulitan ekonomi pada keluarga petani garam dengan cara istri dan juga anak ikut mencari nafkah atau bekerja membantu perekonomian keluarga. Pada keluarga petani garam di Desa Gersik Putih mencari nafkah bukan hanya menjadi pekerjaan suami saja melainkan juga menjadi tanggung jawab semua anggota keluarga, sehingga untuk mencapai pemenuhan kebutuhan istri dan juga anak ikut menambah penghasilan dan mencukupi kebutuhan keluarga. Strategi Pasif Strategi pasif merupakan strategi survival dengan meminimalisir pengeluaran keluarga. Strategi pasif ini dapat diartikan juga suatu cara mengurangi pengeluaran keluarga seperti biaya untuk sandang, pangan, pendidikan dan lain sebagainya. Pada keluarga petani strategi ini biasanya dilakukan dengan membiasakan pola hidup hemat. Sikap hemat menjadi budaya yang telah diterapkan oleh masyarakat miskin terlebih khusus pada keluarga buruh petani garam. Pekerjaan menjadi buruh petani garam yang dilakukan oleh masyarakat Desa Gersik Putih pendapatan mereka relatif kecil dan tidak menentu, sehingga buruh petani garam lebih memprioritaskan kebutuhan pokok daripada kebutuhan lainnya. Pola hidup hemat dilakukan supaya penghasilan yang didapat mencukupi dalam kebutuhan keluarga sehari- hari. Dapat disimpulkan bahwa strategi pasif yakni cara bertahan hidup dengan mengatur kebutuhan keluarga supaya tidak boros. Hal ini dilakukan oleh keluarga buruh petani garam di Desa Gersik Putih. Strategi Jaringan Strategi jaringan ini strategi dengan memanfaatkan jaringan sosial. Strtaegi jaringan merupakan strategi bertahan hidup dengan memanfatkan jaringan relasi baik formal, maupun lingkungan sosial dan lingkungan kelembagaan, misal meminjam uang ke saudara, tetangga, atau ke rentenir bank. Startegi ini terjadi karena adanya interaksi sosial dalam Jaringan sosial dapat memabntu keluarga miskin terutama keluarga buruh petani garam ketika membutuhkan uang secara mendesak. Meminjam atau berhutang menjadi salah satu budaya dai masyarakat pedesaan dan menjadin hal yang wajar. Budaya gotong royong dan rasa kekeluargaan yang masih sangat kental di masayarakat Dalam pemenuhan kebutuhan hidup selalau berkaitan dengan rumah tangga dan keluarga didalamnya yang berusaha memaksimalkan dan bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang dilakukan pada keluarga buruh petani garam di Desa Gersik Putih tentang strategi mekanisme survival keluarga buruh petani garam dalam memenuhi kebutuhan hidup di Desa Gersik Putih. Pada keluarga buruh petani garam memilih pekerjaan utama sebagai petani disebabkan oleh adanya riwayat pendidikan yang rendah. Sebagaian besar buruh petani hanya mengenyam pendidikan sampai SD sampai SMP dan paling banyak diantara mereka yang tidak sampai tamat Sekolah Dasar. Selain itu pengusahaan garam menjadi pekerjaan turun-temurun sehingga menjadi pekerjaan yang diturunkan dari orang tua ke anak. Namun pada jaman sekarang sudah jarang anak buruh petani garam yang meneruskan usaha garam, sehingga memilih bekerja di sektor lain. Adapun beberapa strategi mekanisme survival keluarga buruh petani garam dalam memenuhi kebutuhan hidup yakni sebagai berikut: Strategi Aktif adalah strategi bertahan hidup dengan cara memanfaatkan segala potensi yang dimiliki strategi ini dilakukan oleh buruh petani garamdi Desa Gersik Putih untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Terdapat beberapa strategi aktif salah satunya dengan mencari pekerjaan sampingan yakni bekerja menadi buruh harian lepas, bekerja sebagai karyawan, membuka warung kecil-kecilan, ikut bekerja sebagai buruh petani garam, serta mendapat kiriman uang dari anak. Strategi Pasif adalah strategi bertahan hidup dengan meminimalisir pengeluaran keluarga. Pekerjaan menjadi buruh petani garam yang dilakukan oleh masyarakat Desa Gersik Putih pendapatan mereka relatif kecil dan tidak menentu, sehingga buruh petani garam lebih memprioritaskan kebutuhan pokok daripada kebutuhan lainnya. Strategi ini biasanya dilakukan dengan membiasakan pola hidup hemat dan memilah kebutuhan. Strategi Jaringan adalah strategi bertahan hidup dengan memanfaatkan jaringan relasi baik formal maupun lingkungan sosial dan lingkungan kelembagaan. Strategi ini terjadi karena adanya interaksi sosial dalam masyarakat yakni dengan meminta bantuan sanak saudara dan memanfaatkan relasi dengan pemilik talangan. Saran Bagi masyarakat Desa Gersik Putih terutama pada keluarga buruh petani garam diharapkan mampu untuk bertahan hidup dalam kemiskinan dengan melakukan beberapa strategi supaya terciptanya penghidupan yang layak dan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga terciptanya kesejahteraan dalam keluarga buruh petani garam di Desa Gersik Putih. Bagi pemerintah diharapkan untuk memberikan fasilitas dan memperhatikan masyarakat miskin dengan memberikan bantuan terlebih khusus pada keluarga buruh petani garam. Bantuan tersebut bisa berupa uang maupun peralatan yang digunakan dalam pengusahaan garam. Sehingga keluarga buruh petani garam yang kurang mampu dari segi finansial dan pendidikan kehidupan mereka lebih sejahtera dan harmonis. Selain itu, meminimalisir adanya kegiatan impor garam sehingga kebutuhan dan hasil garam dalam Vol. No. 2, 2025 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 negeri dapat terpenuhi secara baik. Bagi peneliti supaya dapat melihat bagaimana kehidupan keluarga buruh petani garam dalam memenuhi kebutuhan hidup di Desa Gersik Putih sehingga menjadi motivasi yang lebih luas dalam memahami situasi yang terjadi. Peneliti berharap kepada pembaca skripsi ini untuk berbagi ilmu dan memberitahukan kepada masyarakat tentang kejadian sera dokumen yang valid sehingga lebih bermanfaat daripada hanya mendengarkan informasi tanpa adanya dokumen yang menunjang keaslian dan kebenaran di lapangan. DAFTAR PUSTAKA