Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha Volume. 3 Nomor. 1 Maret 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 59-69 DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpab. Tersedia: https://journal. id/index. php/jbpab Analisis Kehadiran Siswa Sekolah Minggu Buddha Virya Dharma dalam Meningkatkan Pemahaman Ajaran Agama Buddha Sarana Puja Sarwi Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya. Inodnesia *Penulis korespondensi: sarwipu8tra6@gmail. Absrack. This study aims to analyze the extent to which the attendance of Virya Dharma Buddhist Sunday School students contributes to increasing their understanding of Buddhist teachings through the practice of puja Using a descriptive qualitative approach and supported by attendance statistics, this study involved 15 students with an age range of 1Ae17 years as respondents. Data was collected through observation, interviews, and documentation of activities. The results showed that students with high attendance levels tended to have a better understanding of basic Buddhist values in the means of puja, such as respect, discipline, and togetherness. Regular attendance also strengthens students' spiritual experience through active involvement in puja, which encourages the appreciation, reflection, and application of Buddhist values in daily life. In addition, interaction with teachers and fellow students creates a learning environment conducive to the internalization of Buddhist moral and ethical values. Thus, the presence of students in Sunday school activities is not only administrative, but becomes an important element in the formation of Buddhist character, religious attitudes, and spirituality from an early age. Keywords: Buddhist Sunday School. Buddhist Understanding. Character Building. Student Attendance. Worship Facilities. Abstak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana kehadiran siswa Sekolah Minggu Buddha Virya Dharma berkontribusi terhadap peningkatan pemahaman mereka terhadap ajaran agama Buddha melalui praktik sarana puja. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan didukung data statistik kehadiran, penelitian ini melibatkan 15 siswa dengan rentang usia 1Ae17 tahun sebagai responden. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat kehadiran tinggi cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang nilai-nilai dasar Buddhis dalam sarana puja, seperti penghormatan, disiplin, dan kebersamaan. Kehadiran secara rutin juga memperkuat pengalaman spiritual siswa melalui keterlibatan aktif dalam puja, yang mendorong penghayatan, refleksi, serta penerapan nilai ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, interaksi dengan guru dan sesama siswa menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi internalisasi nilai moral dan etika Buddhis. Dengan demikian, kehadiran siswa dalam kegiatan sekolah minggu bukan hanya bersifat administratif, tetapi menjadi elemen penting dalam pembentukan karakter, sikap religius, dan spiritualitas Buddhis sejak usia dini. Kata Kunci: Kehadiran Siswa. Pembentukan Karakter. Pemahaman Agama Buddha. Sarana Puja. Sekolah Minggu Buddha. LATAR BELAKANG Sejak usia dini pendidikan agama menjadi komponen penting dalam membentuk kepribadian dan keyakinan seseorang. Pendidikan agama di kalangan umat Buddha tidak hanya terbatas pada pemahaman teoretis tentang ajaran Buddha, tetapi juga membantu orang menjadi lebih sadar, berperilaku, dan memahami prinsip-prinsip Buddhis yang mendalam. Sekolah Minggu Buddha adalah salah satu institusi pendidikan yang bertugas menyebarkan ajaran Buddha kepada remaja. Sekolah Minggu Buddha (SMB) adalah sekolah non-formal yang didirikan oleh masyarakat, organisasi, atau lembaga agama Buddha dengan tujuan memberikan pengetahuan dan nilai moral sejak usia dini. Sekolah Minggu Buddha adalah salah satu bentuk pendidikan non-formal yang sangat penting dalam agama Buddha saat ini karena di sanalah keyakinan dan nilai-nilai Buddha dibentuk (Darma, 2. Salah satu Sekolah Minggu Buddha Naskah Masuk: 19 Januari 2025. Revisi: 23 Februari 2025. Diterima: 28 Maret 2025. Terbit: 30 Maret 2025 Virya Dharma Pati terdapat proses pembelajaran dan penilaian siswa dilakukan secara rutin, yang bertujuan untuk mengukur pemahaman dan perkembangan siswa terhadap ajaran Buddha. Siswa bukan hanya belajar tentang ajaran Buddha tetapi juga menginternalisasi ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari mereka. Proses internalisasi ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari mereka termasuk mengikuti ritual puja, yang merupakan cara penting untuk membentuk sikap dan karakter spiritual. Siswa belajar untuk merenung, meningkatkan kebijaksanaan, dan meningkatkan kedamaian batin, semua yang tercermin dalam sikap. Meskipun puja merupakan salah satu kegiatan utama di Sekolah Minggu, sangat sulit untuk memastikan bahwa siswa selalu hadir karena banyak faktor luar yang dapat memengaruhi minat dan partisipasi siswa. Ini termasuk jadwal kegiatan lain, kurangnya motivasi pribadi, atau kendala transportasi bagi siswa yang tinggal jauh. Puja merupakan salah satu kegiatan utama di Sekolah Minggu, sangat sulit untuk memastikan bahwa siswa selalu hadir karena banyak faktor luar yang dapat memengaruhi minat dan partisipasi siswa. Ini termasuk jadwal kegiatan lain, kurangnya motivasi pribadi, atau kendala transportasi bagi siswa yang tinggal jauh. Berdasarkan masalah tersebut, penting untuk melakukan analisis lebih mendalam mengenai peran kehadiran siswa dalam meningkatkan pemahaman mereka tentang ajaran Buddha, serta dampak ritual puja sebagai metode pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan antara kehadiran siswa dengan pemahaman mereka tentang ajaran Buddha, serta bagaimana kegiatan puja dapat menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan kualitas spiritual dan pemahaman agama Buddha. Pengolahan data untuk mengidentifikasi hubungan antara kehadiran siswa dengan pemahaman mereka tentang ajaran Buddha dengan memanfaatkan statistika. Statistika adalah ilmu yang berguna untuk mengolah data serta dapat menarik kesimpulan-kesimpulan yang diteliti dan keputusan-keputusan yang logis dari sebuah pengolahan data (Fauziah. , & Karhab, 2. Berdasarkan penggunaannya statistika dibagi mengorganisasikan, menyajikan, dan meringkas sebuah data. Sedangkan statistika yang digunakan untuk menggeneralisasi sampel menjadi populasi melalui estimasi dan uji hipotesis, menentukan hubungan antar variabel, dan membuat prediksi adalah statistika inferensial (Bluman, 2. Analisis statistika dalam pengelolaan data kehadiran dan nilai siswa dapat memiliki banyak manfaat. Beberapa di antaranya adalah dapat membantu dalam pembuatan laporan perkembangan siswa, membantu menemukan tren pencapaian nilai, dan mempermudah evaluasi kinerja guru. Selain itu, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai dasar untuk membuat strategi pembelajaran yang lebih baik. Pengolahan data yang dilakuan secara Analisis Kehadiran Siswa Sekolah Minggu Buddha Virya Dharma dalam Meningkatkan Pemahaman Ajaran Agama Buddha Sarana Puja manual akan menghambat. Proses pengolahan data dan nilai pada Sekolah Singgu Buddha Virya Dharma Dukuh Glagah Desa Giling Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati apabila dilakukan secara manual akan membutuhkan waktu yang lama. Selain itu pengolahan data yang dilakukan secara manual sering terjadi banyak kesalahan dalam perhitungan. Kehilangan dari data dapat membuat masalah yang cukup serius bagi seorang guru (Verawati. , & Rachmawati, 2. Penelitian ini diharapkan bahwa hasilnya akan membantu Sekolah Minggu Buddha membuat program pendidikan yang lebih baik, yang tidak hanya akan meningkatkan kehadiran siswa tetapi juga akan mempelajari ajaran dan praktik Buddha secara lebih mendalam. Jangka panjang penelitian ini dapat memberikan saran tentang cara puja dan kegiatan lainnya dapat meningkatkan partisipasi dan pemahaman siswa Sekolah Minggu Buddha. Kalau dilihat dari sudut pandang Buddhis, konsep ini sebenarnya gak jauh beda dengan cetanA, yaitu niat batin. Dalam ajaran Buddha, niat itu menentukan arah karma. Artinya, apa yang kita pancarkan dari dalam baik itu marah, iri, atau niat baik semuanya akan kembali ke diri kita. Jadi, hukum vibrasi bisa dibilang selaras dengan ajaran Buddha, cuma istilahnya beda. Intinya, hukum vibrasi mengajarkan kita untuk lebih sadar sama isi batin sendiri. Karena apa yang kita pikirkan dan rasakan bisa membentuk jalan hidup kita sendiri. Dan dalam konteks pembelajaran agama Buddha, ini penting sangat penting untuk dikenalkan ke siswa supaya mereka tidak hanya paham ajaran secara hafalan, tapi juga bisa merasakan dan mengolahnya dari dalam diri. Empat Kebenaran Mulia adalah ajaran dasar dalam Buddhisme yang menjelaskan hukum-hukum mutlak dalam kehidupan manusia. Ajaran ini terdiri dari empat bagian yang saling berkaitan. Pertama, dukkha, yaitu kenyataan bahwa hidup ini penuh perubahan dan ketidak-kekalan, yang sering membuat kita merasa gelisah, tidak puas, atau kecewa. Kedua, samudaya, yaitu sebab dari dukkha itu sendiri, yang muncul karena tanha atau keinginan yang terus-menerus dan gak ada habisnya. Ketiga, nirodha, yang berarti penderitaan bisa diakhiri jika kita bisa melepaskan keinginan tersebut. Dan keempat, magga, yaitu jalan keluar dari penderitaan melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jalan ini mencakup cara hidup yang benar, mulai dari berpikir, berbicara, dan bertindak dengan benar, sampai menjaga usaha, perhatian, dan konsentrasi secara benar pula. Dalam pendidikan agama Buddha, ajaran ini penting karena bisa membantu siswa memahami hidup dengan lebih jujur dan dalam, bukan hanya sekadar menghafal konsep, tapi menyentuh kesadaran mereka sendiri. Pendidikan agama Buddha itu bukan soal menghafal ajaran, tapi soal gimana seseorang bisa sadar dan paham cara hidup yang selaras sama Dhamma. Ajaran Buddha bukan buat diingat, tapi buat dijalani. Dalam buku ajar Kemenag . , dijelaskan bahwa pendidikan Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 1 Maret 2025 agama Buddha harus mengarah ke pembentukan batin, moral, dan kesadaran spiritual. Artinya, belajar agama Buddha itu bukan cuma biar bisa jawab soal ujian, tapi biar bisa ngerti kenapa hidup kadang gak enak, dan gimana cara ngadepinnya. METODE PELITIAN Penelitian ini berjenis penelitian analisis yang dilakukan Sekolah Minggu Buddha Viriya Dharma Dusun Glagah Desa Giling Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati dengan tujuan untuk mengetahui cara guru dalam mengolah data dan nilai siswa. Penelitian kualitatif merupakan penelitian dalam ilmu sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasannya (Moleong, 2. Tujuan utama penelitian kualitatif adalah memahami fenomena atau gejala sosial yang terjadi. Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan pemaparan berupa penggambaran yang jelas tentang fenomena atau gejala sosoial tersebut (Jaya, 2. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan Peneliti menggunakan instrumen pedoman wawancara dan lembar observasi. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah guru Sekolah Minggu Buddha Viriya Dharma Dusun Glagah Desa Giling Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati. Penelitian dilakukan dengan melakukan observasi terhadap cara guru dalam mengolah data dan nilai siswa. Selanjutnya, wawancara untuk mengetahui cara guru dalam melakukan pengolahan data dan nilai siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil kajian pustaka yang penulis lakukan, ditemukan bahwa konsep hukum vibrasi yang dibahas oleh Joe Dispenza punya kemiripan mendalam dengan ajaran Buddha tentang Empat Kebenaran Mulia, terutama pada aspek batin. Hukum vibrasi menjelaskan bahwa pikiran dan perasaan itu bukan cuma aktivitas dalam kepala, tapi energi yang memancarkan frekuensi tertentu. Saat batin seseorang dipenuhi emosi negatif seperti marah, takut, atau nafsu, maka vibrasi yang keluar jadi kacau. Ini membuat orang itu menarik pengalaman-pengalaman yang selaras dengan kekacauan itu sendiri (Dispenza, 2. Berdasarkan hasil observasi di Sekolah Minggu Buddha Viriya Dharma Dusun Glagah Desa Giling Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati diketahui bahwa dalam pengelolaan data dan nilai siswa, guru menggunakan beberapa jenis bentuk penyajian data. Jenis bentuk penyajian data tersebut meliputi tabel, diagram lambang, diagram batang, diagram garis dan diagram lingkaran. Data dikumpulkan melalui dokumentasi kegiatan puja, wawancara dengan guru dan siswa, dan observasi kehadiran selama dua belas pertemuan mingguan. Fokus utama Analisis Kehadiran Siswa Sekolah Minggu Buddha Virya Dharma dalam Meningkatkan Pemahaman Ajaran Agama Buddha Sarana Puja adalah bagaimana intensitas kehadiran memengaruhi pemahaman siswa tentang ajaran Buddha, terutama melalui praktik puja ritual sebagai cara untuk belajar spiritual yang diajarkan sejak usia dini. Tabel 1. Data Siswa Sekolah Minggu Buddha Virya Darma. Nama L/P TTL Alamat Surya Adhi Saputra Pati, 10-10-2008 Sinta Eka Noviana Putri Bilqis Dani Samji Pati, 28-11-2009 Pati, 26-12-2009 Marsha Cika Putri Pati, 24-01-2010 Devita Oktavia Ariyani Yuvati Khema Silani Pati, 12-10-2012 Pati, 29-07-2013 Karuna Mahardika Ardiansyah Katherina Oktavia Pati, 01-08-2013 Pati, 24-10-2013 Arka Rasendria Aryaguna Natasya Thiratana Pati, 24-05-2017 Pati, 27-07-2018 Serly Nesya Vimala Pati, 29-09-2018 Keyvanya Denalie Revadiraka Elina Candramaya Pati, 16 -10-2020 Pati, 09-01-2021 Pramita Yuka Revadiraka Davinda Mandala Suyanto Pati, 21-06-2022 Pati, 16 April 2024 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 03/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Dk. Glagah 02/Rw 05 Tingkat/ Jenjang Kelas SMA SMP SMP SMP VII Ket. Fator yang Memepengaruhi Kehadiran Siswa Sekolah Minggu Buddha Virya Darma Siswa tidak hanya dipengaruhi oleh keinginan mereka sendiri untuk mengambil bagian dalam kegiatan Sekolah Minggu Buddha. ada banyak faktor internal dan eksternal yang memengaruhi partisipasi mereka. Hasil wawancara dengan siswa, orang tua, dan guru pembimbing yang dilakukan selama observasi menunjukkan bahwa ada beberapa faktor utama yang memengaruhi tingkat kehadiran siswa di Sekolah Minggu Buddha Virya Dharma. Keluarga memainkan peran penting dalam menentukan keinginan dan kebiasaan agama Anak-anak yang berasal dari keluarga yang aktif secara spiritual atau memiliki rutinitas keagamaan yang baik, seperti melakukan puja di rumah, cenderung lebih sering hadir di sekolah minggu. Orang tua yang secara aktif mengantar, mendampingi, atau mengingatkan anak untuk hadir juga merupakan faktor utama yang menentukan tingginya tingkat kehadiran Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 1 Maret 2025 siswa. Hal tersebut sejalan dengan Nainggolani et al . menyatakan bahwa keluarga merupakan salah satu lembaga pendidikan yang pertama dan utama pada anak karena keluarga memberikan pengaruh besar dan yang utama anak mendapatkan pendidikan dari sekolah dan masyarakat, akan tetapi tanggung jawab pendidikan ada pada orang tua. Selain keluarga, jarak menjadi pengaruh dalam kehadiran siswa. Siswa yang tinggal lebih dekat dengan vihara atau tempat kegiatan sekolah minggu lebih mudah mengakses kegiatan secara rutin. Sebaliknya, siswa yang tinggal cukup jauh dari tempat kegiatan sekolah minggu sering kali menghadapi masalah dengan transportasi atau bergantung pada orang tua untuk antar-jemput mereka. Hal tersebut sejalan dengan Pratisti & Saputro . yang menyatakan bahwa siswa yang tinggal dekat dengan sekolah cenderung lebih mudah dalam mengelola waktu dan energi mereka, yang berdampak positif terhadap keaktifannya di kelas maupun dalam kegiatan. Beberapa siswa menyukai kegiatan puja, belajar tentang Dhamma, atau suasana pertemuan sekolah minggu yang menyenangkan. Siswa sukarela hadir karena minat, tetapi siswa yang tidak tertarik atau bosan dengan cara penyampaian cenderung tidak konsisten. Hal tersebut sejalan dengan Umar & Widodo . menyatakan bahwa permasalahan yang dihadapi dalam bidang pendidikan adalah rendahnya kemampuan akademik siswa karena tidak tertarik dengan apa yang disampaikan guru. Keterbatasan kemampuan dalam dalam penganggakapan semuah materi dan penggunaan teknologi dapat menghambat kemajuan dalam pengembangan pembelajaran siswa (Susilo et al. , 2. Guru yang komunikatif, kreatif, dan mampu menyampaikan materi dengan cara yang menyenangkan . eperti melalui cerita Jataka, permainan, lagu Buddhis, atau media visua. dapat menarik perhatian siswa dan meningkatkan antusiasme mereka untuk hadir. Guru yang tidak hanya mengajar tetapi juga membimbing siswa secara pribadi memiliki efek positif terhadap motivasi siswa. Hal tersebut selaras dengan Noviantari . yang menyataka bahwa guru dapat mengontrol, mengatur, dan juga mengawasi siswa agar tetap melaksanakan pembelajaran salah satunya adalah dengan mencatat kehadiran siswa dengan baik. Sarana belajar yang kurang memadai dan kualitas mengajar rendah juga menjadikan tantangan tersendiri bagi guru dalam mengembangkan kemampuan akademik siswa (Farmasari et al. Kehadiran siswa sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial mereka, termasuk teman sebaya mereka dan apakah mereka pergi ke sekolah minggu atau tidak. Jika siswa memiliki teman sebaya yang juga aktif dan disiplin, mereka cenderung lebih senang hadir disipli mengikuti pembelajaran, tetapi jika tidak ada, siswa cenderung tidak disiplin untuk mengikuti Analisis Kehadiran Siswa Sekolah Minggu Buddha Virya Dharma dalam Meningkatkan Pemahaman Ajaran Agama Buddha Sarana Puja Hal tersebut sependapat dengan Sari . menatakan bahwa tanpa adanya kesadaran akan pentingnya kedisiplinan tidak akan mungkin terjadi proses kegiatan belajar mengajar yang baik dan efektif. Kondisi cuaca seperti hujan, meskipun bukan faktor utama, dapat menyebabkan siswa tidak hadir, terutama bagi siswa yang tinggal jauh dari lokasi Kehadiran Siswa Sekolah Minggu Buddha Virya Dharma Dalam Meningkatkan Pemahaman Ajaran Agama Buddha Sarana Puja Penelitian ini melibatkan 15 siswa dari Sekolah Minggu Buddha Virya Dharma berusia 1Ae17 tahun. Menurut data kehadiran, sebagian besar siswa aktif mengikuti kegiatan sekolah minggu, dengan kecenderungan positif untuk berpartisipasi dalam puja. 7 siswa memiliki tingkat kehadiran tinggi . ebih dari 10 kali hadi. , 5 siswa memiliki tingkat kehadiran sedang . Ae9 kal. , dan 3 siswa memiliki tingkat kehadiran rendah . urang dari 5 kal. Dari 15 siswa, 7 . ,6%) memiliki tingkat kehadiran tinggi, 5 . ,3%) memiliki tingkat kehadiran sedang, dan 3 . %) memiliki tingkat kehadiran rendah. Variasi ini didasarkan pada data dokumentasi kehadiran selama 12 pertemuan . alam 3 bula. Menurut pengamatan dan wawancara, ada korelasi yang signifikan antara tingkat kehadiran seseorang dalam mengikuti sekolah minggu Buddha dan tingkat pemahaman mereka tentang ajaran agama Buddha, terutama yang diperoleh melalui praktik sarana puja. Siswa dengan tingkat kehadiran tinggi biasanya memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang makna puja dan prinsip-prinsip Buddha. Mereka juga mampu menyebutkan dan menjelaskan fungsi dasar dari elemen-elemen puja, seperti penghormatan kepada Tiratana (Buddha. Dhamma, atau Sangh. , membaca paritta, dan melakukan meditasi dasar. Hal tersebut menjukan pentingnya pendidikan bagi anak yang mampu menjelaskan tentang ajaran makna yang terkandung dalam ritual yang dijalankan selama melakukan puja. Sejalan dengan Ode et al . yang mengatakan bahwa pendidikan sangat penting bagi setiap manusia dan berlangsung sepanjang hidup. Pendidikan di Indonesia bertujuan untuk mengembangkan potensi diri yang dimiliki oleh setiap individu melalui proses pembelajaran. Siswa yang rajin dalam mengikuti Sekolah Minggu Buddha memiliki sikap hormat, disiplin, dan aktif terlibat dalam kegiatan puja bersama. Disiplin pada dasarnya merupakan kontrol diri dalam mematuhi aturan baik yang dibuat oleh diri sendiri maupun diluar diri (Pratisti & Saputro, 2. Siswa mampu menjelaskan dengan baik makna sila . , dana . , dan bhavana . engembangan bati. dalam diskusi kelompok kecil sesuai dengan usia mereka. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 1 Maret 2025 Sebaliknya, siswa yang kurang hadir cenderung pasif dalam kegiatan, memiliki pemahaman yang terbatas, dan kurang menghayati puja sebagai bagian dari praktik keagamaan. Permasalahan ketidakhadiran siswa tersebut bukan lagi permasalahan dalam satu tingkatan Pendidikan saja, tetapi hampir di semua tingkatan Pendidikan. Apalagi ada beberapa perilaku dari siswa yang bersikap tak acuh pada materi yang diberikan (Qori, 2. Sekolah Minggu melakukan kegiatan puja seperti penghormatan, pembacaan paritta, perenungan ajaran, dan meditasi sederhana. Siswa yang sering hadir menunjukkan lebih banyak antusiasme dan hormat selama ritual. Mereka menyadari bahwa puja adalah cara untuk mendekatkan diri kepada nilai-nilai Buddhis seperti disiplin moral, ketenangan batin, dan kebaikan hati. Hal tersebut selaras dengan Bawono et al . yang menyataan bahwa peserta didik yang aktif dalam puja bakti tampaknya lebih tahan terhadap pengaruh negatif. Data yang diamati diperkuat oleh hasil wawancara dengan guru pembimbing. Ibu Warsiti sebagai salah satu guru sekolah minggu Buddha Viria Darma menyataan bahwa anak yang sering hadir untuk melakukan sekolah minggu lebih memahami arti makna dari puja yang dilakukan dalam setiap pertemuan sekolah minggu. Praktik puja bakti memiliki potensi untuk membawa berbagai bentuk berkat, keberuntungan, dan kebahagiaan baik bagi individu yang melakukannya maupun bagi makhluk lainnya (Mukti, 2. Kesinambungan dan pengulangan, yang memperkuat ingatan dan pemaknaan, membuat siswa yang hadir secara teratur lebih mudah memahami materi. Pemahaman secara afektif dan spiritual diperkuat melalui praktik puja. Hal tersebut karena tradisi keagamaan dan spiritual memungkinkannya menjadi bentuk psikoterapi dengan berbagai modalitas regulasi perhatian (Gargiulo, 2. Siswa di Sekolah Minggu Buddha Virya Dharma memiliki kesempatan nyata untuk mengalami, memahami, dan merenungkan ajaran-ajaran penting Buddha melalui kegiatan Puja Bakti yang dilaksanakan sebagai tindakan penghormatan, menceritakan tentang kebiasaan yang dilaksanakan oleh pengikut Buddha Gautama selama hidupnya (Anita & Sonika, 2. Kehadiran teratur dalam Sekolah Minggu Buddha dapat meningkatkan pengulangan materi dan menumbuhkan kedekatan emosional siswa terhadap nilai-nilai Buddha. Dalam situasi ini, kehadiran adalah komitmen yang mendukung proses spiritualisasi ajaran, bukan hanya elemen administrasi. Seperti yang ditunjukkan oleh wawancara dengan guru Sekolah Minggu, siswa yang terlibat secara aktif dalam kelas juga lebih berani bertanya, berbagi pengalaman spiritual, dan menunjukkan antusiasme dalam setiap kelas. Siswa yang jarang hadir, sebaliknya, tampak canggung, tidak fokus, dan mungkin pasif. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran terus menerus membantu membentuk kebiasaan religius sejak usia dini. Analisis Kehadiran Siswa Sekolah Minggu Buddha Virya Dharma dalam Meningkatkan Pemahaman Ajaran Agama Buddha Sarana Puja Siswa dapat membangun hubungan yang kuat pada teman dengan melakukan kehadiran mengikuti Sekolah Minggu Buddha. Sekolah Minggu Buddha memuat beberapa hal penting yaitu pengembangan fisik, pengembangan sosial dan moralitas, pengembangan mental dan pengembangan pengetahuan (Suherman et al. , 2. Hadir mengikuti kegiatan yang mengacu pada keagamaan memiliki peran penting dalam membantu perkembangan spiritual seseorang Siswa belajar berinteraksi, bekerja sama, dan berlatih nilai-nilai mulia bersama dengan hadir secara teratur. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari sebuah proses mereka untuk memahami ajaran Buddha secara lebih mendalam. Hal tersebut dapat dicapai melaui pembelajaran yang kreatif. Kreativitas pembelajaran mengutamakan dua hal penting yaitu manajemen dan penggunaan media atau fasilitas yang ada di lingkungan pembelajaran (Darani et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang sering hadir di Sekolah Minggu Buddha Virya Dharma meningkatkan pemahaman mereka tentang ajaran agama Buddha, terutama melalui praktik sarana puja. Siswa yang sering hadir juga menunjukkan keterlibatan aktif dalam kegiatan spiritual. Selain menunjukkan kedisiplinan, kehadiran dapat membantu Anda menginternalisasi ajaran moral dan spiritual Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Saran