WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Implementasi Digital Performance Assesment Dalam Pembelajaran IPAS SD Kurikulum Merdeka: Studi Pada Penguatan Profesi Kependidikan Dewi Juniayanti Universitas Dwijendra dewijunia57@gmail. I Made Astra Winaya Universitas Dwijendra Dewijunia57@gmail. I Putu Rangga Sedana Putra Universitas Dwijendra ranggas277@gmail. I Kadek Andika Putra Universitas Dwijendra andikaptr792@gmail. I Wayan Suardana Universitas Dwijendra wsuardana282@gmail. Abstrak- Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Digital Performance Assessment (DPA) dalam pembelajaran IPAS berbasis Kurikulum Merdeka, menilai dampaknya terhadap capaian hasil belajar siswa dan penguatan dimensi Profil Pelajar Pancasila, serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam proses penerapannya. Penelitian ini menggunakan desain PTK model spiral Kemmis & McTaggart yang dilaksanakan dalam tiga siklus, dengan pendekatan campuran . ixed method. untuk memperoleh data kuantitatif dan kualitatif yang saling melengkapi. Subjek penelitian adalah 24 siswa kelas IV SD Negeri 6 Penatih. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, dokumentasi e-portfolio, wawancara semi-terstruktur, tes kinerja berbasis inkuiri, dan kuesioner persepsi siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan DPA melalui e-rubric, e-portfolio, dan umpan balik formatif digital secara konsisten meningkatkan rata-rata skor hasil belajar IPAS dari 71,3 pada siklus I menjadi 84,7 pada siklus i. Selain itu, ketercapaian dimensi Profil Pelajar Pancasila khususnya bernalar kritis, kreativitas, gotong royong, dan kemandirian menunjukkan tren peningkatan positif pada setiap siklus. Guru dan siswa menilai DPA lebih transparan, autentik, partisipatif, dan mendorong pembelajaran yang bermakna. Secara keseluruhan. DPA terbukti relevan sebagai strategi asesmen inovatif yang mendukung keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka sekaligus memperkuat profesionalisme guru di era digital. Kata Kunci: Digital Performance Assessment. IPAS. Kurikulum Merdeka. Profil Pelajar Pancasila. Profesionalisme Guru PENDAHULUAN Kurikulum Merdeka kebijakan pendidikan nasional terbaru yang menekankan pembelajaran berpusat pada murid, penyederhanaan konten ajar, serta asesmen formatif yang berlangsung secara Kurikulum ini sejalan dengan paradigma pendidikan abad ke-21 yang menempatkan peserta didik sebagai subjek WIDYA ACCARYA 2026 aktif pembelajaran, dengan fokus pada pengembangan kompetensi esensial seperti kritis, kolaborasi, kreativitas, dan karakter (Kemendikbudristek. Dalam paradigma ini, asesmen diposisikan tidak hanya sebagai alat ukur hasil belajar, tetapi juga sebagai instrumen pedagogis untuk mengarahkan proses belajar secara P a g e 128 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Dalam konteks mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), asesmen berbasis kinerja . erformance assessmen. memiliki peran strategis karena dapat menangkap proses belajar secara IPAS menuntut keterlibatan siswa dalam proses penyelidikan ilmiah, pemecahan masalah, kerja kolaboratif, serta penguatan literasi sains dan sosial. Karena itu, asesmen IPAS tidak dapat hanya mengandalkan tes objektif, melainkan harus mampu menilai proses dan produk belajar siswa secara menyeluruh (Kemendikbudristek, 2. Transformasi digital dalam pendidikan memperkuat kebutuhan terhadap asesmen Pergeseran dari asesmen tradisional menuju asesmen digital memungkinkan dokumentasi hasil belajar yang lebih transparan dan sistematis melalui e-portfolio, pemanfaatan e-rubric untuk penilaian objektif, serta umpan balik formatif secara cepat (Putra & Ariyanto, 2023. Yuniari. Salah satu pendekatan asesmen digital yang relevan dengan konteks pembelajaran IPAS dan arah kebijakan Kurikulum Merdeka adalah Digital Performance Assessment (DPA). DPA mengintegrasikan tugas berbasis kinerja dengan teknologi digital, memberikan ruang bagi penilaian yang komprehensif Landasan teoretis dari penelitian ini berakar pada kerangka Profil Pelajar Pancasila (P. , yang menjadi pijakan utama dalam Kurikulum Merdeka. Profil Pelajar Pancasila didefinisikan sebagai seperangkat karakter dan kompetensi esensial yang diharapkan melekat pada setiap peserta didik Indonesia sebagai warga negara global. Dimensi P5 mencakup aspek spiritual, sosial, dan kognitif yang saling terintegrasi. Dimensi Auberiman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak muliaAy mencakup perilaku spiritual dan moral dalam kehidupan sehari-hari yang tercermin dalam sikap menghargai, kejujuran, dan integritas. AuBerkebinekaan globalAy mencakup sikap toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan kemampuan berinteraksi lintas budaya secara terbuka. AuGotong royongAy mencakup kolaborasi, empati, dan kemampuan berkomunikasi secara interpersonal. AuMandiriAy mencakup kemampuan mengelola diri, tanggung jawab AuBernalar kritisAy mencakup kemampuan menganalisis, mengevaluasi informasi, dan WIDYA ACCARYA 2026 menyelesaikan masalah secara logis dan Sementara itu, dimensi AukreatifAy mencakup kemampuan menghasilkan ide-ide baru serta karya inovatif dalam berbagai konteks pembelajaran. Agar dimensi Profil Pelajar Pancasila dapat diukur secara operasional dalam pembelajaran IPAS, keenam dimensi tersebut diterjemahkan ke dalam indikator perilaku yang dapat diamati secara langsung selama proses pembelajaran maupun melalui hasil kerja siswa. Dalam konteks pembelajaran IPAS yang berbasis inkuiri dan proyek, indikator-indikator tersebut tampak pada interaksi siswa dengan tugas, lingkungan belajar, dan kelompok kerja. Dimensi bernalar kritis, misalnya, tercermin dari kemampuan siswa mengajukan pertanyaan mengidentifikasi variabel eksperimen, serta menganalisis data untuk menarik kesimpulan yang logis. Indikator ini juga mencakup kemampuan membandingkan hasil eksperimen dengan teori, memberikan argumentasi berbasis bukti, dan melakukan evaluasi mandiri terhadap hasil kerja. Dimensi gotong royong tampak melalui partisipasi aktif siswa dalam kerja kelompok, termasuk pembagian peran, kemampuan bernegosiasi dan berkomunikasi, serta kemauan membantu anggota kelompok lain dalam menyelesaikan tugas ilmiah. Sikap empati dan kolaboratif menjadi indikator penting yang menunjukkan kemampuan siswa bekerja dalam tim, yang sangat krusial dalam pembelajaran berbasis proyek IPAS. Dimensi kemampuan siswa mengelola proses belajarnya sendiri, seperti mengatur jadwal penyelesaian tugas, mendokumentasikan progres melalui eportfolio, menyusun laporan reflektif, serta mengambil inisiatif dalam menyelesaikan Kemandirian juga tampak dalam kedisiplinan mengumpulkan tugas tepat waktu dan self-assessment terhadap capaian belajarnya. Dimensi kemampuan siswa menghasilkan gagasan atau produk baru yang orisinal, kontekstual, dan Dalam pembelajaran IPAS, hal ini dapat terlihat dari pembuatan produk digital seperti poster sains, laporan visual interaktif, video eksperimen, prototipe sederhana, atau karya lain yang menunjukkan integrasi pengetahuan dan kreativitas. Kreativitas juga P a g e 129 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index mencakup keberanian mencoba pendekatan baru, memberikan solusi alternatif, dan menyajikan hasil pembelajaran dengan cara yang menarik. Sementara itu, dimensi berkebinekaan global dan berakhlak mulia tercermin dari sikap toleransi, penghargaan terhadap perbedaan pandangan, serta kemampuan menjaga etika komunikasi selama proses Dalam konteks IPAS, indikator ini juga mencakup kemampuan menghargai perspektif budaya dan kearifan lokal dalam pembahasan topik lingkungan, sosial, atau sains, serta sikap tanggung jawab dalam penggunaan sumber daya dan teknologi. Dimensi ini memperlihatkan bagaimana nilainilai moral dan sosial diintegrasikan ke dalam praktik pembelajaran sains yang lebih humanis dan kontekstual. Dengan operasionalisasi semacam ini, keenam dimensi Profil Pelajar Pancasila tidak hanya menjadi komponen abstrak kurikulum, tetapi hadir sebagai perilaku belajar nyata yang dapat dinilai secara autentik melalui DPA. E-rubric dan e-portfolio dalam DPA memungkinkan guru merekam, memantau, dan memberikan umpan balik terhadap indikator-indikator tersebut secara sistematis. Pendekatan ini memberikan gambaran pengetahuan, keterampilan, dan karakter siswa, sekaligus menegaskan peran asesmen sebagai bagian integral dari proses pembelajaran, bukan sekadar alat penilaian hasil akhir. DPA sangat relevan untuk mengukur indikator-indikator pendekatan ini menilai tidak hanya hasil akhir, tetapi juga proses pembelajaran secara autentik dan berkelanjutan. Melalui eportfolio dan e-rubric. DPA memberikan ruang bagi siswa untuk merefleksikan proses belajar, menerima umpan balik formatif, serta menunjukkan perkembangan profil pelajar secara konkret. Dengan demikian. DPA bukan sekadar alat evaluasi, tetapi juga strategi pedagogis yang selaras dengan semangat pembentukan Profil Pelajar Pancasila. Sejumlah efektivitas pendekatan ini. Yuniari . menunjukkan bahwa e-portfolio dapat meningkatkan motivasi dan kemandirian Panadero et al. menegaskan bahwa e-rubric mendorong transparansi dan WIDYA ACCARYA 2026 konsistensi asesmen. Nugraha et al. membuktikan pendekatan STEAM berbasis studi kasus dapat menstimulasi kemampuan berpikir kritis, salah satu indikator penting dalam P5. Laporan OECD . juga menyatakan bahwa asesmen digital memainkan peran strategis dalam pengembangan higherorder thinking skills dan student agency pada peserta didik sekolah dasar. Meski demikian, penerapan DPA masih menghadapi tantangan, seperti kesenjangan literasi digital antar siswa, keterbatasan infrastruktur jaringan. Di samping itu, kompetensi guru dalam merancang asesmen digital juga menjadi faktor kunci keberhasilan implementasi (Sari, 2025. Prasetya & Kurniawan, 2. Oleh karena itu, penguatan kapasitas guru dalam literasi digital dan asesmen inovatif menjadi langkah penting untuk memastikan DPA berfungsi secara Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merancang dan DPA pembelajaran IPAS sesuai prinsip Kurikulum Merdeka, menganalisis dampaknya terhadap kualitas asesmen formatif dan penguatan dimensi Profil Pelajar Pancasila, serta mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam penguatan profesi kependidikan melalui asesmen digital. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi konseptual terhadap pengembangan asesmen autentik berbasis teknologi dan kontribusi praktis dalam peningkatan profesionalisme guru di era digital. II. METODE Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis & McTaggart yang dilaksanakan dalam tiga siklus: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi (Arikunto, 2013. Nugroho, 2. Pendekatan mixed methods diterapkan untuk memperoleh data kualitatif dan kuantitatif, dengan triangulasi data untuk memastikan validitas dan keandalan temuan (Sugiyono, 2017. Putra & Ariyanto, 2. Subjek penelitian adalah 24 siswa kelas IV SD Negeri 6 Penatih. Guru kelas berperan sebagai kolaborator sekaligus pelaksana asesmen digital. Instrumen penelitian yang digunakan dalam studi ini mencakup berbagai mengumpulkan data kuantitatif maupun P a g e 130 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index kualitatif secara komprehensif. Perangkat pembelajaran IPAS berbasis proyek digunakan sebagai instrumen utama untuk mengimplementasikan Digital Performance Assessment (DPA) Instrumen ini berfungsi sebagai panduan pelaksanaan kegiatan belajar dan proyek IPAS yang menjadi dasar pengumpulan data kinerja siswa selama proses pembelajaran berlangsung. E-rubrik mengumpulkan data kuantitatif mengenai pencapaian kompetensi siswa pada setiap indikator penilaian kinerja. Melalui e-rubrik, guru dapat memberikan skor terstandar terhadap aspek bernalar kritis, gotong royong, kemandirian, kreativitas, serta dimensi Profil Pelajar Pancasila lainnya secara objektif dan konsisten. E-portfolio mengumpulkan data autentik mengenai proses dan produk pembelajaran siswa, termasuk laporan eksperimen, dokumentasi kegiatan proyek, refleksi individu, serta produk digital yang dihasilkan. E-portfolio berfungsi sebagai bukti perkembangan belajar siswa dari waktu ke waktu dan menjadi sumber data kualitatif maupun Lembar observasi digunakan untuk mengumpulkan data kualitatif mengenai aktivitas, interaksi, dan keterlibatan siswa selama pembelajaran berbasis proyek. Melalui observasi partisipatif, peneliti mencatat perilaku belajar siswa yang merepresentasikan indikator Profil Pelajar Pancasila, kelompok, pengambilan inisiatif, sikap toleransi, dan pemecahan masalah. Pedoman wawancara digunakan untuk mengumpulkan data kualitatif mendalam dari guru dan siswa mengenai pengalaman mereka dalam penerapan DPA. Instrumen ini memberikan gambaran persepsi, tantangan, serta manfaat yang dirasakan selama proses pembelajaran Kuesioner persepsi siswa digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif terstruktur terkait pengalaman belajar, tingkat keterlibatan, persepsi terhadap transparansi asesmen, serta efektivitas penggunaan teknologi dalam pembelajaran IPAS. Data dari kuesioner ini melengkapi temuan observasi dan hasil asesmen, sehingga memberikan potret WIDYA ACCARYA 2026 menyeluruh tentang dampak implementasi DPA terhadap proses dan hasil belajar siswa. (Juniayanti, 2021. Nugraha, dkk. , 2. Instrumen penelitian yang telah disusun kemudian melalui tahap uji validitas dan reliabilitas untuk memastikan kelayakan penggunaannya dalam pengumpulan data. Uji validitas isi dilakukan melalui expert judgment oleh dua orang dosen ahli dalam bidang asesmen pendidikan dan pembelajaran IPAS. Para ahli memberikan masukan terhadap kesesuaian butir instrumen dengan indikator Profil Pelajar Pancasila serta keterpaduannya dengan pendekatan DPA. Instrumen yang divalidasi meliputi e-rubrik penilaian kinerja, lembar observasi, pedoman wawancara, kuesioner persepsi siswa, serta format dokumentasi e-portfolio. Selain instrumen kuantitatif seperti e-rubrik dan kuesioner persepsi diuji menggunakan koefisien CronbachAos Alpha untuk mengukur konsistensi internal butir pernyataan. Hasil pengujian menunjukkan nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,87 untuk e-rubrik dan 0,84 untuk kuesioner persepsi, yang berarti memiliki reliabilitas tinggi dan layak digunakan dalam penelitian. Untuk instrumen kualitatif seperti lembar observasi dan pedoman wawancara, reliabilitas antar-penilai . nterrater reliabilit. diperiksa melalui perbandingan skor antar-observer. Hasilnya menunjukkan tingkat kesepakatan 86%, yang mengindikasikan konsistensi penilaian yang Dengan uji validitas dan reliabilitas ini, instrumen penelitian diyakini mampu menghasilkan data yang sahih dan konsisten untuk mengukur implementasi DPA, capaian belajar IPAS, serta indikator dimensi Profil Pelajar Pancasila secara komprehensif. (Sugiyono, 2017. Yuniari, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Digital Performance Assessment (DPA) dalam Pembelajaran IPAS SD Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Digital Performance Assessment (DPA) di kelas IV SD N 6 Penatih dan SD N 6 Sumerta berjalan melalui tiga siklus penelitian tindakan kelas dengan model spiral Kemmis & McTaggart. Setiap siklus terdiri atas tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan Guru kelas berperan sebagai fasilitator sekaligus kolaborator, sementara siswa berperan P a g e 131 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index aktif sebagai pelaku utama dalam penyelesaian tugas inkuiri-proyek berbasis IPAS. Tahap Perencanaan Pada tahap perencanaan, guru menyusun perangkat pembelajaran inovatif, meliputi RPP berbasis proyek. LKPD digital, e-rubric, serta e-portfolio. Penyusunan instrumen dilakukan dengan merujuk pada indikator capaian pembelajaran (CP) IPAS yang relevan dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila. Validasi instrumen oleh pakar asesmen pendidikan dan guru senior memastikan bahwa instrumen penilaian tidak hanya reliabel, tetapi juga kontekstual dengan kebutuhan pembelajaran abad 21 (Suprijono, 2. Tahap perencanaan menjadi landasan penting untuk menjaga keselarasan antara tujuan pembelajaran, proses, dan asesmen. Tahap Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan, siswa terlibat dalam berbagai tugas berbasis proyek seperti eksperimen sederhana, pembuatan poster digital, laporan reflektif, serta presentasi Guru memanfaatkan e-rubric analitik untuk memberikan umpan balik cepat dan spesifik, yang terbukti meningkatkan motivasi siswa karena mereka memahami aspek yang sudah baik maupun yang perlu ditingkatkan (Rahayu, 2. Integrasi eportfolio menjadi media dokumentasi yang sistematis, sehingga perkembangan belajar siswa dapat dilacak dari waktu ke waktu. Selain itu, penggunaan perangkat digital tidak hanya memfasilitasi keterlibatan siswa, tetapi juga mendorong terjadinya kolaborasi antarsiswa melalui diskusi kelompok, berbagi file, dan refleksi bersama. Hal ini selaras dengan temuan penelitian di Indonesia yang menekankan bahwa asesmen digital berbasis kinerja dapat meningkatkan keterlibatan dan pembelajaran bermakna (Wijayanti, 2. Tahap Observasi Hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam keterlibatan siswa di setiap siklus. Pada siklus I, sebagian siswa masih mengalami kesulitan teknis seperti mengunggah artefak digital ke eportfolio atau memahami format e-rubric. Namun, kendala ini semakin berkurang pada siklus II dan hampir sepenuhnya teratasi pada siklus i. Perkembangan keterampilan digital siswa terlihat jelas, baik dari sisi penguasaan WIDYA ACCARYA 2026 perangkat maupun kualitas produk proyek yang Keterlibatan siswa juga meningkat dari sekadar menyelesaikan tugas menjadi aktif bertanya, berargumentasi, serta bekerja sama secara produktif. Fenomena ini menunjukkan bahwa DPA tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur hasil belajar, tetapi juga sebagai sarana pedagogis yang mendorong partisipasi aktif dalam pembelajaran. Tahap Refleksi Refleksi pada siklus i menegaskan bahwa penerapan DPA efektif dalam IPAS. Guru melaporkan bahwa DPA membantu memberikan penilaian yang lebih adil, transparan, dan terstandarisasi berkat keberadaan e-rubric. Dari DPA pengembangan bernalar kritis, keterampilan kolaborasi, serta kemandirian belajar (Purnama & Susanti, 2. Hal ini sejalan dengan kerangka Profil Pelajar Pancasila yang menekankan pentingnya membangun karakter kritis, mandiri, dan gotong royong dalam konteks pendidikan dasar. Dengan menunjukkan bahwa DPA bukan hanya instrumen asesmen, melainkan juga strategi pedagogis inovatif yang mampu menjembatani kebutuhan asesmen otentik dengan penguatan kompetensi abad 21. Tren Peningkatan Hasil Belajar Siswa Analisis kuantitatif menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada capaian kompetensi IPAS siswa. Hasil tes berbasis penugasan kinerja memperlihatkan rata-rata skor meningkat dari 71,3 . iklus I) Ie 78,5 . iklus II) Ie 84,7 . Hal ini menegaskan bahwa pembelajaran berbasis proyek dengan asesmen digital mendorong pemahaman konseptual lebih mendalam serta keterampilan berpikir tingkat tinggi (Sutrisno, 2. P a g e 132 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Gambar 1. Grafik Tren Skor Kinerja IPAS (Siklus 1-. Grafik 1 menunjukkan adanya tren peningkatan skor rata-rata kompetensi IPAS siswa dari siklus I . ke siklus II . hingga mencapai 84,7 pada siklus i. Peningkatan yang cukup signifikan ini mengindikasikan bahwa penerapan Digital Performance Assessment (DPA) mampu memfasilitasi penguasaan konsep dan keterampilan IPAS secara lebih optimal. Pada siklus I, kendala masih terlihat terutama dalam adaptasi siswa terhadap penggunaan e-rubric dan e-portfolio. Namun, setelah dilakukan perbaikan berupa kalibrasi rubrik serta pendampingan intensif dalam penggunaan media digital pada siklus II, keterlibatan siswa meningkat, tercermin dari kenaikan skor sebesar 7,2 poin. Perbaikan lebih lanjut pada siklus i, termasuk pemberian umpan balik . eal-time membuat capaian siswa semakin tinggi dengan peningkatan tambahan 6,2 poin. Tren ini sejalan dengan temuan meta-review Sortwell et al. yang menegaskan bahwa asesmen formatif berbasis digital berasosiasi positif dengan capaian K-12 ketika umpan balik cepat dan kesempatan perbaikan tersedia. Selain kompetensi IPAS pada setiap siklus, hasil observasi kelas juga memberikan gambaran konkret mengenai perubahan perilaku belajar Pada siklus I, banyak siswa terlihat masih ragu dan pasif dalam memanfaatkan erubric dan e-portfolio. Mereka cenderung menunggu instruksi guru dan belum terbiasa Kondisi ini selaras dengan ratarata skor yang masih relatif rendah . WIDYA ACCARYA 2026 karena proses pembelajaran dan asesmen berbasis digital masih dalam tahap adaptasi Memasuki siklus II, setelah guru melakukan kalibrasi rubrik dan memberikan pendampingan intensif, terjadi peningkatan partisipasi aktif. Observasi menunjukkan bahwa siswa mulai lebih mandiri dalam menilai dan menggunakan e-rubric. Diskusi kelompok juga menjadi lebih hidup karena setiap siswa membawa data hasil penilaiannya sendiri untuk ditindaklanjuti dalam proyek. Perubahan perilaku ini memperkuat peningkatan skor menjadi 78,5, menandakan bahwa dukungan instruksional yang tepat mampu memperbaiki proses belajar. Pada siklus i, efek penerapan umpan balik cepat . eal-time formative feedbac. semakin nyata. Observasi menunjukkan bahwa siswa lebih responsif terhadap koreksi, mampu memperbaiki produk proyeknya dalam waktu singkat, dan berani mengajukan pertanyaan untuk klarifikasi konsep. Interaksi guru-siswa dan peer feedback meningkat signifikan, yang secara langsung mendukung peningkatan skor menjadi 84,7. Situasi kelas menjadi lebih dinamis dan berpusat pada siswa . tudentcentered learnin. , bukan sekadar guru sebagai sumber utama informasi. Temuan observasi ini memperkuat interpretasi hasil kuantitatif bahwa peningkatan capaian kompetensi IPAS bukan hanya disebabkan oleh pemberian tugas atau tes semata, melainkan oleh perubahan mendasar dalam proses pembelajaran. Penerapan Digital Performance Assessment (DPA) mendorong siswa aktif mengelola proses belajarnya melalui Temuan ini konsisten dengan hasil meta-review oleh Sortwell et al. yang menegaskan efektivitas asesmen formatif digital dalam meningkatkan capaian K-12, khususnya ketika umpan balik cepat dan kesempatan revisi diberikan. Dengan demikian, kombinasi data kuantitatif dan evidensi kualitatif observasi membentuk dasar interpretasi yang lebih kuat: DPA tidak hanya meningkatkan hasil belajar secara numerik, tetapi juga mengubah cara konseptual, dan menumbuhkan keterampilan P a g e 133 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index berpikir tingkat tinggi. Selain itu, ketercapaian dimensi Profil Pelajar Pancasila perkembangan positif. Berdasarkan rubrik kolaborasi/gotong royong meningkat paling signifikan, terutama saat siswa mengerjakan eksperimen kelompok dan presentasi digital. Dimensi kemandirian juga terbangun ketika siswa mengelola e-portfolio pribadi (Fauzi & Lestari, 2. Peningkatan hasil tes, penelitian juga menemukan adanya penguatan dimensi Profil Pelajar Pancasila (P. Berikut diagram perbandingan capaian dimensi P5 (Siklus I-. Gambar 2. Diagram Perbandingan Ketercapaian Dimensi Profil Pelajar Pancasila Selanjutnya, peningkatan pada dimensi kolaborasi/gotong royong terjadi seiring dengan penerapan tugas eksperimen kelompok yang terstruktur dan pemanfaatan platform digital kolaboratif. Struktur peran yang jelas dalam kelompok mendorong tanggung jawab memungkinkan koordinasi dan dokumentasi Observasi intensitas diskusi produktif, pembagian tugas yang lebih seimbang, serta integrasi ide dalam presentasi digital kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek yang dipadukan dengan teknologi digital mampu memperkuat kompetensi kolaboratif siswa secara nyata (Fauzi & Lestari, 2022. Sortwell et al. , 2. Sementara itu, peningkatan kemandirian siswa terlihat dari aktivitas mereka dalam mengelola e-portfolio pribadi. Siswa tidak hanya mendokumentasikan proses belajar, tetapi juga secara aktif menetapkan target WIDYA ACCARYA 2026 pembelajaran dan merencanakan perbaikan. Frekuensi revisi mandiri dan refleksi tertulis meningkat dari siklus ke siklus, menandakan Fenomena ini memperkuat argumentasi bahwa e-portfolio dapat menjadi sarana efektif untuk membangun tanggung jawab dan otonomi belajar (Sutrisno, 2. Dengan demikian, triangulasi data kuantitatif . ubrik digita. , kualitatif . , dan artefak . -portfolio dan produk proye. memperlihatkan konsistensi arah perubahan pada dimensi P5. Peningkatan P5 tidak hanya sekadar angka, tetapi mencerminkan perubahan mendasar dalam cara siswa berpikir, berkolaborasi, dan belajar secara mandiri. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menegaskan efektivitas asesmen formatif berbasis digital terhadap capaian kompetensi dan karakter peserta didik (Kemdikbudristek, 2. , serta memberikan implikasi penting bagi pengembangan model pembelajaran IPAS yang berpusat pada siswa. Persepsi Guru dan Siswa terhadap Implementasi DPA Hasil wawancara semi-terstruktur dengan guru kelas menunjukkan bahwa Digital Performance Assessment (DPA) dipandang sebagai strategi asesmen yang selaras dengan arah kebijakan Kurikulum Merdeka, menekankan penilaian autentik berbasis kinerja Guru menyatakan bahwa kehadiran e-rubric membantu meningkatkan kejelasan indikator penilaian, transparansi, serta dapat digunakan untuk moderasi antar-guru sehingga mengurangi potensi subjektivitas dalam penilaian. Salah satu guru menyampaikan. AuDulu kami sering bingung bagaimana memastikan penilaian antarguru Dengan e-rubric, semua indikator sudah jelas dan tinggal mencocokkan dengan Ay Pernyataan mengindikasikan bahwa DPA tidak hanya berfungsi sebagai alat asesmen, tetapi juga sebagai mekanisme peningkatan akuntabilitas dan objektivitas penilaian (Prasetyo, 2. Meskipun demikian, guru juga menggarisbawahi adanya kendala teknis dalam implementasi. Keterbatasan jaringan internet serta perbedaan tingkat literasi digital siswa menjadi tantangan utama di lapangan. Guru lain menuturkan. AuAnakanak di kelas saya kemampuannya tidak sama. P a g e 134 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Ada yang cepat mengakses e-portfolio, tapi ada juga yang butuh bimbingan satu per satu karena tidak terbiasa pakai perangkat. Ay Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan penerapan DPA sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur dan dukungan pendampingan yang Dari sisi siswa, hasil kuesioner persepsi menunjukkan bahwa mayoritas . %) merasa penerapan DPA membantu mereka memahami materi IPAS secara lebih mendalam. Siswa menyebut bahwa tugas berbasis proyek seperti eksperimen sederhana, pembuatan poster digital, dan video sains membuat pembelajaran terasa lebih kontekstual dan bermakna. Seorang siswa mengatakan. AuKalau bikin video dan poster, saya jadi lebih paham materinya karena harus mikir sendiri cara menjelaskannya. Ay Selain itu, keberadaan e-portfolio memberi motivasi terdokumentasi dengan rapi dan dapat dijadikan portofolio capaian belajar pribadi. Seorang siswa lain menambahkan. AuSenang kalau lihat hasil kerja saya dikumpulkan di e-portfolio. Jadi tahu sudah sejauh mana belajar saya. Ay Temuan ini mendukung pernyataan bahwa DPA dapat meningkatkan sense of ownership siswa terhadap proses belajarnya (Hidayati, 2. Namun demikian, terdapat sekitar 18% siswa yang masih mengalami kesulitan dalam keterbatasan perangkat maupun rendahnya literasi digital. Kelompok ini merasa perlu pendampingan lebih intensif, sebagaimana diungkapkan salah satu siswa. AuSaya suka Kadang koneksi juga jelek. Ay Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya pendampingan diferensiatif pendekatan inklusif agar DPA dapat diakses oleh seluruh siswa tanpa terkecuali. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian terdahulu yang menekankan perlunya penguatan inklusi digital dalam penerapan asesmen berbasis teknologi di Indonesia (Rahman, 2. IV. SIMPULAN Penelitian ini membuktikan bahwa DPA meningkatkan kualitas asesmen, capaian IPAS, serta dimensi P5 siswa sekolah dasar. DPA berfungsi tidak hanya sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai strategi WIDYA ACCARYA 2026 pedagogis inovatif yang sejalan dengan Kurikulum Merdeka. Tantangan utama terletak pada kesiapan infrastruktur dan literasi digital. Oleh karena itu, dukungan kebijakan dan penguatan kapasitas guru menjadi kunci keberlanjutan implementasi DPA di sekolah DAFTAR PUSTAKA