HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 HoCh: Jurnal Holistic Christianity e-ISSN:- https://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/HoCh p-ISSN:Vol. 1 No. 1 (Maret 2. hlm:119-133 DOI: https://doi. org/10. 34081/HoCh. Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu Urgensi Relevansi Kode Etik Guru dalam Menghadapi Tantangan Pendidikan Era Industri 4. Yasni Septemberia Kotten,1 Firman panjaitan. * 1,. Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu. Indonesia Email: panjaitan. firman@gmail. Diterima: 10 Jan. Direvisi: 17 Maret 2026 Disetujui: 25 Maret 2026 Abstract The development of digital technology in the Industrial 4. 0 era has brought significant changes to the education system, particularly in the increasingly complex roles and responsibilities of teachers amid the integration of technology in learning This study employs a literature review method by examining various sources such as books, scientific journals, and relevant regulations. The purpose of this research is to analyze the role and implementation of teachersAo code of ethics in the context of education in the Industrial 4. 0 era, as well as to identify the challenges faced by educators in maintaining professionalism and the dignity of the profession. The findings indicate that the implementation of a code of ethics can enhance teachersAo professionalism, strengthen trust between teachers and students, and create a conducive learning environment. Therefore, the code of ethics plays a crucial role as a foundation for maintaining the quality of education in the digital era, while also serving as a moral guideline for teachers in responding to the dynamics of technological development. Keywords: Educator Professionalism. Industry 4. TeacherAos Code of Etics. Abstrak Perkembangan teknologi digital pada era Industri 4. 0 telah membawa perubahan signifikan dalam sistem pendidikan, khususnya pada peran dan tanggung jawab guru yang semakin kompleks di tengah integrasi teknologi dalam Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan menelaah berbagai sumber seperti buku, jurnal ilmiah, dan regulasi terkait. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran serta implementasi kode etik guru dalam konteks pendidikan era Industri 4. 0 serta mengidentifikasi tantangan yang CopyrightA2026. Penulis. License: This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International (CC BY-SA 4. | 119 HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 dihadapi pendidik dalam menjaga profesionalisme dan martabat profesi. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan kode etik mampu meningkatkan profesionalisme guru, memperkuat kepercayaan antara guru dan peserta didik, serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dengan demikian, kode etik memiliki peran penting sebagai fondasi dalam menjaga kualitas pendidikan di era digital sekaligus menjadi pedoman moral bagi guru dalam menghadapi dinamika perkembangan Kata-kata kunci: Industri 4. Kode Etik Guru. Profesionalisme Pendidik. Pendahuluan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kode dimaknai sebagai seperangkat aturan yang tersusun secara sistematis dan berlaku dalam suatu 1 Sementara itu, etika merujuk pada kumpulan nilai yang menjadi tolak ukur benar dan salah yang dianut oleh kelompok tertentu, yang harus dipahami serta diwujudkan dalam perilaku individu sebagai bagian dari organisasi tersebut. Berdasarkan penjelasan di atas, maka yang dimaksud dengan kode etik adalah seperangkat aturan dan nilai moral yang disusun secara sistematis sebagai pedoman perilaku individu dalam suatu organisasi, yang berfungsi untuk mengarahkan tindakan agar selaras dengan prinsip benar dan salah serta tanggung jawab profesional, khususnya dalam menjalankan peran dan tugasnya di tengah dinamika perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Ketika pemahaman tentang kode etik ini dikenakan dalam konteks pendidikan di era digital, maka peran pendidik dalam sebuah institusi pendidikan mengalami perubahan yang signifikan seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi. Pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran tidak hanya membuka peluang inovasi, tetapi juga menghadirkan berbagai tantangan baru. Guru dituntut memiliki kompetensi dalam mengoperasikan perangkat dan aplikasi digital, sekaligus membekali peserta didik dengan literasi digital, termasuk pemahaman tentang penggunaan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Hal ini mencakup kesadaran terhadap isu privasi, keamanan data, serta dampak media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, tugas guru tidak hanya terbatas pada penyampaian materi pembelajaran, tetapi juga mencakup upaya mempersiapkan peserta didik agar mampu beradaptasi dan Portal KBBI. AuArti Kata Kode Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI,Ay 2020. Novan Ardy Wiyani. Etika Profesi Keguruan, ed. Dharna A. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, cetakan pe, vol. 3 (Yogyakarta: Media. Gava, 2. , 15Ae16. berpartisipasi secara etis dalam masyarakat yang semakin terhubung dan berbasis Kode etik berperan sebagai seperangkat aturan atau tata tertib yang menjadi berfungsi memberikan landasan serta pedoman bagi para anggotanya dalam bertindak dan berperilaku. 4 Dengan kata lain kode etik harus sesuai dengan normanorma yang dianut oleh masyarakat yang ada. Jika demikian, kode etik di dunia pendidikan sangat dibutuhkan dan memiliki peranan yang penting, sehingga tidak bisa diabaikan. Karena sejatinya kode etik yang diberlakukan di institusi pendidikan berfungsi sebagai pedoman moral yang dapat membantu guru dalam setiap tindakan dan pengambilan keputusan yang dibuat. Dalam penelitiannya. Andi Marjuni menjelaskan bahwa kode etik di institusi pendidikan akan mengarahkan dan memastikan seorang guru untuk selalu menjaga standar tinggi dalam hubungan dengan siswa, rekan kerja dan masyarakat. 5 Di samping itu kode etik juga mendorong nilai-nilai seperti kejujuran, integritas dan juga tanggung jawab. Hal ini tidak hanya membangun kepercayaan antara guru dan siswa, tetapi juga dapat meningkatkan reputasi profesi pendidikan dalam pandangan masyarakat. Dimanapun pendidikan berlangsung, kode etik yang kuat akan membantu menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman, serta mengurangi perilaku tidak profesional di dalam kalangan guru. Penelitian Nurhada dan Agus Baskara, yang menyoroti Undang-Undang nomor 8 tahun 1974, tentang: Pokok Kepegawaian, mengungkapkan bahwa kode etik . ang terdapat dalam pasal . dapat diartikan sebagai penuntun sikap dan perbuatan dalam melangsungkan tugas yang harus digarap. Kode etik harus dipahami sebagai dasar moral bagi pendidik dalam melangsungkan pengabdiannya Hisny Fajrussalam et al. AuTrasformasi Digital Dalam Pendidikan: Peluang Dan Tantangan Di Era Teknologi Pada Sekolah Dasar,Ay JPSS: Jurnal Pendidikan Sang Surya 11, no. : 735Ae Firman Panjaitan. AuTujuan Pembelajaran Dalam Pendidikan Kristen Berdasarkan 2 Timotius 3:16,Ay CHARISTHEO: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 1, no. : 134Ae47, https://doi. org/10. 54592/jct. Widya Caterine. Nia Budiana, and Sri Aju Indrowaty. Etika Profesi Pendidikan Generasi Milenial 4. 0 (Universitas Brawijaya Press, 2. Andi Marjuni. AuPeran Dan Fungsi Kode Etik Kepribadian Guru Dalam Pengembangan Pendidikan,Ay Jurnal Pendidikan Kreatif 1, no. , https://doi. org/10. 24252/jpk. Prita Indriawati. Tri Astuti Nuraini, and Aura Shalsha Billa Eka Dava Yanti. AuEtika Profesi Guru Dalam Pendidikan Sekolah Dasar,Ay Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan 3, no. : 414Ae21. Marjuni. AuPeran Dan Fungsi Kode Etik Kepribadian Guru Dalam Pengembangan Pendidikan. Ay HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 selama bekerja sebagai seorang pendidik. 8 Dengan adanya kode etik, seorang pendidik diharapkan bisa meningkatkan profesionalisme sebagai seorang guru. Namun, saat menerapkan kode etik, guru sering menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah perubahan terhadap nilai-nilai sosial yang cepat karena perkembangan teknologi dan globalisasi. Oleh sebab itu, menurut Radianti, seorang guru perlu bijak dalam menghadapi perubahan ini dan tetap berpegang pada prinsip yang benar. 9 Selain itu, ada juga tantangan dari berbagi latar belakang budaya dan sosial siswa. Hal ini mengharuskan guru tidak hanya memahami kode etik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kondisi kelas yang selalu berubah. Mereka harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar bisa menjalankan tugas dengan baik, sambil tetap menjaga integritas moral mereka sebagai guru. 10 Dengan demikian, apa yang dikerjakan oleh seorang guru dalam sehari-hari akan menjunjung tinggi martabat setiap profesi keguruannya. Dalam hal ini, sudah seharusnya pendidik berpegang teguh dengan kode etik yang merupakan pedoman agar pendidik tetap berperilaku secara profesional. Kode etik ini juga yang menuntun para guru untuk berperilaku sebagai seorang pendidik yang baik dan integratif, di mana hal ini telah berhasil menggeser perilaku yang kurang baik dari seorang pendidik. Kode etik akan menjamin dan menghasilkan kegiatan pembelajaran yang maksimal dan berdaya guna, baik untuk para pendidik . maupun peserta didik. Jika dalam penelitian-penelitian sebelumnya dibahas tentang pentingnya kode etik bagi seorang guru untuk menjaga integritasnya sebagai seorang pendidik dan menuntun para guru untuk berperan dengan baik dalam interaksinya dengan rekan kerja dan para peserta didik, maka penelitian ini akan menyoroti tentang peran dan penerapan dari kode etik terhadap model pendidikan di era Industri 4. Hal ini penting untuk dilakukan, karena suasana dan kondisi pendidikan di era Industri 4. memiliki perbedaan dengan model pendidikan sebelumnya, khususnya dalam mendampingi para peserta didik yang umumnya berasal dari generasi Z. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk membahas kode etik sebagai seorang guru dan Octavia. Etika Profesi Guru, ed. Dwi Novidiantoko. Cetakan Pe (Yogyakarta: Deepublish, 2. , 96. Radianti Radianti et al. AuKode Etik Profesi Guru Di Era Globalisasi: Menghadapi Tantangan Dan Peluang,Ay Ability: Journal of Education and Social Analysis, 2024, 1Ae9, https://doi. org/10. 51178/jesa. Radianti et al. Dorlan Naibaho and Surya G Pasaribu. AuPeran Kode Etik Dalam Membentuk Karakter Profesional Guru Pendidikan Agama Kristen,Ay Jurnal Pendidikan Sosial Dan Humaniora 4, no. : 969Ae79. mengetahui bagaimana kode etik tersebut menjadi dasar dari seorang pendidik, dengan berfokus pada upaya untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi pendidik di era digital, seperti perubahan nilai sosial dan perkembangan teknologi. Selain itu penulis juga ingin menunjukkan bagaimana kode etik dapat meningkatkan profesionalisme guru dan menjaga martabat profesi mereka. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi Metode ini dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam konsep, makna, serta relevansi kode etik guru dalam menghadapi tentang pendidikan di era digital dan globalisasi. Pendekatan studi literatur ini juga dilakukan dengan cara mengumpulkan dan menelaah berbagai sumber pustaka yang relevan, seperti buku, jurnal-jurnal yang tentunya berkaitan dengan kode etik profesi guru, profesionalisme pendidik dan pendidikan di era 4. 12 Langkah penelitian yang penulis lakukan adalah, pertama penulis akan mengumpulkan dan mengkompasi konsep-konsep yang berkaitan dengan kode etik dalam bidang Pendidikan. Setelah itu, penulis akan memaparkan pemikiran penulis tentang relevansi dari kode etik tersebut dalam bidang Pendidikan di era Industri 4. Melalui penggunaan metode dan Langkah-langkah penelitian tersebut, diharapkan penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai pentingnya kode etik sebagai landasan moral dan pedoman profesional guru dalam menjalankan tuasnya secara bertanggung jawab di era pendidikan modern . ra Industri 4. Hasil dan Pembahasan Sekilas tentang Pemahaman Komprehensif Kode Etik Kode etik merupakan serapan dari bahasa Yunani kode yang berarti norma dan ethos memiliki bentuk jamak ta etha yang berati keinginan atau adat kebiasaan. Kode etik ini dibutuhkan secara umum dalam dunia kerja untuk menjamin keberlangsungan sistem kerja yang teratur dan terukur. Jika kode etik ini dikenakan dalam dunia Pendidikan, maka yang sangat memerlukan kode etik adalah tenaga Dellia Annasthasya et al. AuMetodologi Penelitian Kualitatif: Tinjauan Literatur Dalam Konteks Pendidikan,Ay Jurnal Ilmiah Multidisipin 3, no. : 423Ae29, https://doi. org/10. 60126/jim. Wahyudin Darmalaksana. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka Dan Studi Lapangan,Ay Pre-Print Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2020. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 pendidik atau guru guna mengembangkan profesionalitas sekaligus menjadi pedoman dalam sikap maupun perbuatan seorang guru dalam pembelajaran. Undang-undang nomor 8 tahun 1974, tentang: Pokok Kepegawaian. Bagian 1 pasal 1 dan 2 menjelaskan bahwa kode etik merupakan seperangkat prinsip dan norma yang menjadi pedoman pendidik dalam melaksanakan peran dan tugasnya dengan peserta didik maupun orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam mengusahakan tujuan yang akan dicapai. Kode etik ini juga akan memberi pedoman seorang pendidik dalam bertindak yang baik di dalam kelas, maupun yang tidak boleh dilakukan di dalam kelas. 15 Dengan adanya kode etik ini akan meminimalisasi setiap tindakan asusila yang ada di dalam kelas. Pendidik yang mampu melakukan atau mewujudkan setiap kode etik dalam bekerja, akan menumbuhkan rasa aman dan nyaman terhadap lingkungan tempat bekerja karena para pendidik menjalankan setiap tugas dan tanggung jawabnya dengan penuh rasa tanggung jawab. Dalam sejarahnya, kode etik lahir karena adanya pendidikan pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, di mana pada saat itu sifat pendidikan yang dilakukan dalam model pembelajaran adalah statis, otoriter, tidak demokratis dan sering kali menganaktirikan peserta didik dari orang Indonesia, yang pada saat itu biasa disebut sebagai pribumi. 16 Melihat kenyataan yang memahitkan ini, seorang tokoh pendidikan yang bernama Ki Hajar Dewantara membangun sebuah sekolah untuk orang Indonesia, dan menamakan sekolah ini Perguruan Taman Siswa. Walaupun pada saat itu beliau tidak menggunakan istilah kode etik namun dalam prinsip-prinsip Pendidikan yang terkandung didalamnya sudah mencakup kode etik yang sama dengan apa yang saat ini dikembangkan pada kongres PGRI Xi yang diselenggarakan pada tanggal 21-25 November 1973. Prinsip-prinsip yang dibangun oleh Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan diterjemahkan melalui semboyan tata cara akhlak guru, yaitu: pertama. Ing Ngarsa Sung Tuladha, yang berarti menjadi seorang pendidik harus mampu dalam memberi contoh dan teladan kepada peserta didiknya. Kedua. Ing Madya Mangun Karso. yang berarti pendidik harus ikut aktif dan bersemangat dalam Ketiga. Tut Wuri Handayani. yang berarti pendidik harus menjadi Siti Wanda Hamidah. AuKode Etik Yang Ada Dalam Keguruan,Ay Jurnal Imlu Pendidikan 12 . : 1Ae15. Indrawan. AuMakalah Profesi Pendidikan,Ay Academia. Edu, no. : 1Ae Sangkot Nasution. AuStrategi Pendidikan Belanda Pada Masa Kolonial Di Indonesia,Ay Ihya Al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Arab 2, no. : 8. PGRI. AuKode Etik Guru Indonesia,Ay 2021, 1Ae8. pendorong dan mempengaruhi peserta didik dalam pembelajaran. Terakhir, yaitu keempat. Waspada Purba Wisesa, yang berarti pendidik harus selalu waspada dan mengawasi peserta didik yang akhirnya pendidik juga harus mampu dalam melakukan koreksi guna mendorong peserta didik untuk menjadi pribadi yang lebih Keempat semboyan pendidikan yang sudah dibuat oleh Ki Hajar Dewantara tersebut dimaksudkan untuk dapat dihayati dan dinyatakan dalam pelaksanaan tugas dan peran seorang pendidik. Melalui keempat semboyan tersebut diharapkan para pendidik yang lahir pada zaman modern ini tidak menghilangkan jati dirinya, sekaligus menegaskan bahwa setiap hal yang dilakukan oleh para pendidik, yang mencakup tindakan ataupun pola pikir yang tertuangkan, tidak akan mengurangi eksistensi budaya di Indonesia yang telah ditetapkan menjadi jati diri dan pedoman seorang pendidik. Pedoman ini harus dijunjung tinggi dan dilakukan dengan baik guna mencapai hasil yang diinginkan bersama, yaitu kualitas pendidik dan pendidikan yang baik dan sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Tujuan Kode Etik Kode etik memiliki beberapa tujuan yang akan membuat pendidik bertanggung jawab dalam setiap tugas yang telah diberikan. 20 Melalui kode etik ini akan terbentuk tujuan pribadi dan tujuan kelompok, karena dalam nilai kemanusiaan secara sosiologis seorang manusia berada dalam posisi dua unsur yang berbeda, namun memiliki satu paham yang sama. 21 Tujuan pribadi setiap pendidik hanya bisa tercapai bilamana ada campur tangan orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya. Oleh karena itu, pendidik tidak berdiri sendiri dalam mencapai setiap tujuan dalam Bakhrudin All Habsy et al. AuTantangan Pendidikan Abad Ke-21: Pemikiran Ki Hajar Dewantara Dan Implementasi Kurikulum Merdeka,Ay Jurnal Pendidikan Tambusai 8, no. 5065Ae77. Akhmad Zacky AR. AuKode Etik Guru Dalam Meningkatkan Profesionalisme Pendidik . Reaktualisasi Dan Pengembangan Kode Etik Guru Di Madrasah Aliyah Darul Amin Pamekasan Akhmad Zacky AR ( STIKA An Nuqayah Guluk-Guluk Sumenep ) Abstract :,Ay Doi 4, no. 271Ae92. Agustina Br Silalahi. Enti Sitompul, and Dorlan Naibaho. AuKode Etik Guru Dalam Meningkatkan Profesionalisme,Ay Jurnal Pendidikan Sosial Dan Humaniora 2, no. : 11370Ae Selfiana Soumilena. AuKode Etik Profesi Guru Pendidikan Agama Kristen Di Sekolah Menengah: Kajian Teoretis Dan Kontekstual,Ay Jurnal Silih Asah 2, no. : 114Ae30. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 Tidak hanya untuk mencapai tujuan pribadi dari pendidik namun pendidik juga berupaya dalam mencapai tujuan organisasinya. Kode etik dibuat agar para pendidik memiliki arah yang akan mencapai kesepakatan dari tujuan organisasinya. Adapun tujuan khusus kode etik bagi seorang Pendidikan meliputi:23 pertama, meluhurkan martabat dari profesi pendidik. Bagian ini menjelaskan bahwa dengan adanya kode etik, pendidik akan bertindak sesuai dengan suatu peraturan yang telah disepakati bersama. Kode etik juga akan menjaga persepsi masyarakat agar tidak memandang rendah seorang pendidik, karena dengan adanya kode etik, pendidik tidak akan melakukan Tindakan yang dapat merendahkan profesinya sebagai pendidik. Dengan demikian profesi sebagai pendidik akan dihormati oleh masyarakat yang ada. Kedua, menjaga dan memelihara kesejahteraan pendidik. Bagian ini menjelaskan bahwa kesejahteraan yang dimaksud adalah kebutuhan jasmani maupun Kebutuhan yang meliputi rasa aman, nyaman, bahagia, dan kebutuhan pokok. Kode etik akan mengarahkan pendidik untuk tidak melakukan tindakan yang tidak baik dan merugikan pendidik lainnya, sehingga tercipta sistem dan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bersama teman seprofesinya. Ketiga, meluaskan pengabdian untuk para pendidik. Bagian ini menjelaskan bahwa kode etik akan menghindarkan pendidik dalam tindakan asusila, karena pendidik mengetahui tugas dan tanggung jawabnya selama masa pengabdiannya. Hal inilah yang akan meluaskan masa pengabdiannya dalam pendidikan. Keempat, memajukan mutu dalam sebuah profesi menjadi pendidik. Di dalam kode etik ada nilai-nilai yang menuntut pendidik untuk meningkatkan mutu dalam sebuah pembelajaran. Sehingga dalam suatu pembelajaran akan mencapai tujuan dari proses pembelajaran yang ada. Kelima, meningkatkan mutu dalam organisasi Mutu dalam organisasi juga harus meningkat dari tahun-ketahun. Sehingga pendidik akan merasa tertuntut untuk ikut melaksanakan tujuan bersama secara aktif. Hal ini dilakukan agar dapat membina organisasi yang diikuti, serta kegiatankegiatan yang telah dirancangkan dalam suatu organisasi. Keenam, memajukan layanan di atas kepentingan pribadi. Seluruh anggota kependidikan dalam hal ini haruslah menaati setiap peraturan yang ada di dalam kode Dalam hal ini, walaupun dirinya adalah seorang pemimpin haruslah orang tersebut melakukannya dan tidak menonjolkan kepentingan pribadi setiap anggota Haddadul Ilmi Harahap. AuKode Etik Guru Sebagai Pendidik,Ay Journal Central Publisher 2, 8 . : 2466Ae72, https://doi. org/10. 60145/jcp. Alfian Erwinsyah. AuManajemen Pembelajaran Dalam Kaitannya Dengan Peningkatan Kualitas Guru,Ay Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 5, no. : 69Ae84. Jika dilihat dari bahasan di atas, ketika anggota organisasi tersebut melakukan tanggung jawab yang telah diberikan dengan tujuan untuk mencapai tujuan bersama maka tujuan pribadi dari anggota tersebut juga akan tercapai. Ketujuh, memperkuat organisasi dari profesinya sebagai pendidik. Ketika sesuatu organisasi bergerak terus maju, dan mensejahterakan para anggotanya, maka organisasi tersebut juga akan menjadi kuat. Kedelapan, menjadikan hubungan yang baik antar-anggota seprofesinya. Dengan menguatnya organisasi yang dijalankan bersama-sama maka hal tersebut menggambarkan tujuan dari organisasi tersebut telah tercapai. Karena jika tidak adanya hubungan yang baik antara satu anggota dengan anggota lainnya tujuan yang ingin dituju akan tidak tercapai. Oleh karena itu, memiliki hubungan yang baik merupakan cara utama yang harus dilakukan oleh semua anggota. Terakhir, kesembilan, menentukan suatu standar kinerja anggota dari organisasi profesi Pendidik yang patuh dengan kode etik yang ada akan memuat orang tersebut mampu dalam mengerjakan tugasnya. Secara umum tujuan utama dari kode etik tersebut adalah untuk mewujudkan tindakan para pendidik yang akan mengarahkan pendidik untuk mencapai tujuan dari organisasi tersebut. Sinergi Kode Etik. Perlindungan Anak, dan Kompetensi Guru dalam Pendidikan Fungsi utama dari kode etik adalah menjaga martabat profesi pendidik serta menjamin bahwa setiap tindakan dilakukan sesuai dengan norma moral, sosial dan hukum yang berlaku. 24 Dengan adanya kode etik, guru memiliki pedoman yang jelas dalam bersikap, bertindak dan mengambil keputusan dalam proses pelajaran sehingga dapat meminimalkan berbagai bentuk penyimpangan yang merugikan peserta didik. 25Selain itu, kode etik juga berfungsi untuk melindungi peserta didik dari berbagai bentuk perlakuan yang tidak pantas di lingkungan pendidikan. Dalam praktiknya masih ditemukan kasus kekerasan terhadap peserta didik yang dilakukan oleh oknum pendidik yang tidak menjalankan prinsip profesionalitas dan etika keguruan dengan baik. Oleh karena itu, penerapan kode etik guru menjadi sangat Puji Astuti. AuKode Etik Guru Dalam Meningkatkan Profesionalisme Pendidik Dan Kode Etik Guru Dalam Pembelajaran,Ay Elementa: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar 4, no. Hayani Wulandari and Annisa Silvyani Zakia. AuPeran Dan Fungsi Kode Etik Guru Dalam Proses Pembelajaran,Ay JECIE (Journal of Early Childhood and Inclusive Educatio. 7, no. 32Ae43. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 penting agar proses pendidikan berlangsung secara aman, nyaman dan menghargai hak-hak peserta didik. Perlindungan terhadap peserta didik juga ditegaskan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak, yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan serta perlindungan dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi. Undang-undang tersebut menegaskan bahwa setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara optimal serta memperoleh pedoman moral profesi, perlindungan dari kekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran, maupun eksploitasi. Dengan demikian kode etik guru tidak hanya berfungsi sebagai pedoman moral profesi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan perlindungan anak di lingkungan sekolah. 27 Dengan mengacu pada ketentuan tersebut para pendidik diharapkan mampu menjalankan tugasnya secara profesional serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian dalam proses pendidikan. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai pembimbing yang bertanggung jawab menjaga keselamatan, kesejahteraan dan perkembangan peserta didik. 28 Oleh karena itu, penerapan kode etik guru menjadi salah satu upaya penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, bermartabat dan berorientasi pada perlindungan hak-hak peserta didik. Urgensi dan Relevansi Kode Etik Guru dalam Menghadapi Tantangan Pendidikan Era Industri 4. Perkembangan era Industri 4. 0 membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan. Pemanfaatan teknologi digital seperti kecerdasan buatan, internet of thing . oT), berbagi platfrom pembelajaran digital telah mengubah cara proses belajar dan mengajar dilakukan. Dalam kondisi ini, peran guru tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator, pembimbing dan pengarah dalam proses pembelajaran. 30 Untuk Yassinta Amarisa et al. AuPelanggaran Kode Etik Berupa Kekerasan Fisik Yang Dilakukan Oleh Guru Kepada Muridnya,Ay Jurnal Sentra Pendidikan Anak Usia Dini 2, no. : 13Ae17. Lhatifah Berliani. AuPerlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Tindakan Kekerasan Di Sekolah,Ay Jurnal Hukum Das Sollen 9, no. : 825Ae40. Shintia Christina. Ruhut Parningotan Tambunan, and Yonatan Alex Arifianto. AuPeran Kode Etik Dan Integritas Guru PAK Dalam Membentuk Karakter Peserta Didik,Ay Jurnal Lentera Nusantara 4, no. : 188Ae206. Wulandari and Zakia. AuPeran Dan Fungsi Kode Etik Guru Dalam Proses Pembelajaran. Ay Delipiter Lase. AuPendidikan Di Era Revolusi Industri 4. 0,Ay SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi. Pendidikan. Sains. Humaniora Dan Kebudayaan, https://doi. org/10. 36588/sundermann. menghadapi tantangan tersebut, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai agar mampu melaksanakan pembelajaran secara efektif dan relevan degan perkembangan zaman. Kompetensi guru pada dasarnya mencakup empat aspek utama, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut menjadi penting bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional serta menjaga kualitas pendidikan. Kompetensi pedagogik berkaitan dengan guru dalam memahami karakteristik peserta didik, merancang pembelajaran, mengelola kelas, menggunakan media pembelajaran, serta melakukan evaluasi pembelajaran secara objektif. Dalam era digital saat ini, kompetensi pedagogik juga menuntut guru untuk mampu memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran yang menarik dan efektif sehingga dapat meningkatkan minat belajar peserta didik. 32 Kompetensi kepribadian berkaitan dengan integritas moral, kedewasaan dan keteladanan seorang guru. Guru diharapkan memiliki kepribadian yang stabil, bijaksana serta mampu menjadi teladan berbagai peserta didik dalam sikap maupun perilaku. Hal ini sangat penting karena dalam era perkembangan teknologi yang pesat, peserta didik membutuh figur pendidik yang dapat membimbing mereka dalam membangun karakter yang baik. Kompetensi sosial berkaitan dengan kemampuan guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan peserta didik, sesama guru, orang tua serta Guru yang memiliki kompetensi sosial yang baik mampu membangun hubungan yang harmonis dengan berbagai pihak serta berperan aktif dalam pengembangan pendidikan di lingkungan masyarakat. Sementara itu, kompetensi profesional berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran secara mendalam serta kemampuan untuk terus mengembangkan diri melalui kegiatan belajar, penelitian dan pengembangan keilmuan. Guru profesional dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas dirinya agar mampu menghadapi dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 35 Dalam konteks M Walid Mudri. AuKompetensi Dan Peranan Guru Dalam Pembelajaran,Ay Jurnal Falasifa 1, 1 . : 111Ae24. Yurniati Yurniati and Waspodo Waspodo. AuKompetensi Pedagogik Guru Dalam Meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik Di Sekolah Menengah Atas,Ay Jurnal Ilmiah Bina Edukasi 15, no. : 159Ae70. Anita Mauliyah and Peni Wiluntari. AuKonsep Kompetensi Kepribadian Guru Dalam Pendekatan Pendidikan Akhlak,Ay Journal of Early Childhood Education Studies 4, no. : 346Ae 83, https://doi. org/10. 54180/joeces. Hawari. AuKompetensi Sosial Guru Profesional,Ay HAWARI : Jurnal Pendidikan Agama Dan Keagamaan Islam 1, no. , https://doi. org/10. 35706/hawari. Muhammad Hatta. Empat Kompetensi Untuk Membangun Profesionalis Guru, 2016, 17. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 pendidikan era Industri 4. 0 penerapan kode etik guru menjadi semakin penting. Kode etik berfungsi sebagai pedoman moral yang mengarahkan guru dalam menggunakan teknologi secara bijak, menjaga integritas, serta memastikan bahwa pendidikan tetap berorientasi pada perkembangan karakter, kreativitas dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Dengan demikian, kode etik guru tidak hanya relevan dalam menjaga profesionalitas pendidik, tetapi juga menjadi dasar penting dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan di era digital. Simpulan Kode etik guru memiliki urgensi dan relevansi yang sangat kuat dalam menjawab tantangan pendidikan di era Industri 4. Kode etik tidak hanya berfungsi sebagai pedoman moral, tetapi juga sebagai acuan strategis yang membimbing guru dalam menjalankan tugas secara profesional, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran. Implementasinya terbukti mampu meningkatkan profesionalisme, menjaga integritas, serta memperkuat kepercayaan antara guru dan peserta didik, sehingga tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial, guru dituntut untuk mengintegrasikan kode etik dengan empat kompetensi utama, yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi ini menjadi landasan dalam merancang pembelajaran yang adaptif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik di era digital. Oleh karena itu, kode etik guru tidak hanya berperan sebagai aturan normatif, tetapi juga sebagai fondasi penting dalam menjaga kualitas pendidikan, membentuk karakter peserta didik, serta memastikan bahwa proses pembelajaran tetap berlandaskan nilai-nilai etika di tengah arus perkembangan teknologi yang semakin cepat. Daftar Pustaka