Ganesha Civic Education Journal Volume 8. Number 1. April 2026, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index IMPELEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA PADA SISWA KELAS X A SMA NEGERI 1 SUKASADA Marsel Marthen Kondi1 * . Anak Agung Istri Dewi Adhi Utami2 . Ni Nyoman Asri Sidaryanti 3 1,2,3 Universitas Pendidikan Ganesha. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 22 Maret 2026 Accepted 8 April 2026 Available online 16 April 2026 Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi nilai-nilai Pancasila pada siswa kelas X A di SMA Negeri 1 Sukasada, mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat pelaksanaannya, serta menjelaskan solusi yang dilakukan sekolah dalam mengatasi hambatan tersebut. Penelitian ini Kata Kunci: menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data Implementasi. Nilai-nilai melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian meliputi Pancasila. Pendidikan karakter kepala sekolah, guru Pendidikan Pancasila, dan siswa kelas X A. Hasil Keywords: nilai-nilai Pancasila Implementation. Pancasila diimplementasikan melalui kegiatan pembelajaran di kelas, pembiasaan Character education. religius seperti doa bersama dan Tri Sandya, kegiatan sosial, ekstrakurikuler, serta organisasi siswa. Implementasi lima sila tercermin dalam sikap religius, toleransi, kerja sama, musyawarah, dan tanggung jawab sosial siswa. Namun, pelaksanaan tersebut masih menghadapi hambatan, baik faktor internal seperti rendahnya motivasi siswa dan keterbatasan metode pembelajaran karakter, maupun faktor eksternal seperti pengaruh media sosial dan lingkungan keluarga. Untuk mengatasi hambatan tersebut, sekolah melakukan penguatan kurikulum, pelatihan guru, peningkatan partisipasi siswa, serta kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat. Secara keseluruhan, implementasi nilai-nilai Pancasila telah berjalan cukup baik dan berkontribusi terhadap pembentukan karakter siswa. ABSTRACT This study aims to describe the implementation of Pancasila values in class X A students at SMA Negeri 1 Sukasada, identify factors that hinder its implementation, and explain the solutions implemented by the school to overcome these obstacles. This study uses a qualitative approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The research subjects included the principal. Pancasila Education teachers, and class X A students. The results of the study indicate that Pancasila values have been implemented through classroom learning activities, religious habits such as group prayer and Tri Sandya, social activities, extracurricular activities, and student organizations. The implementation of the five principles is reflected in students' religious attitudes, tolerance, cooperation, deliberation, and social responsibility. However, the implementation still faces obstacles, both internal factors such as low student motivation and limited character learning methods, as well as external factors such as the influence of social media and the family environment. To overcome these obstacles, the school has strengthened the curriculum, trained teachers, increased student participation, and collaborated with parents and the community. Overall, the implementation of Pancasila values has gone quite well and contributed to the formation of student character. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2026 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: marsel@student. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Pendahuluan Di sudut-sudut koridor sekolah dan ruang-ruang kelas pada institusi pendidikan menengah saat ini, sebuah fenomena sosiologis dan psikologis yang sangat mengkhawatirkan tengah berlangsung secara masif dan terstruktur. Generasi muda yang kini menduduki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah generasi digital natives yang lahir dan tumbuh bernaung di bawah pusaran arus disrupsi teknologi informasi yang tidak tertandingi oleh generasi-generasi sebelumnya (Nisaa dkk. , 2. Transformasi lanskap kehidupan manusia ini pada satu sisi membawa gelombang inovasi yang mempermudah akses kognitif, namun pada saat yang bersamaan, memicu tantangan yang sangat kompleks terkait degradasi moral, etika perilaku sehari-hari, dan krisis identitas kebangsaan (Nisaa dkk. , 2. Observasi empiris di berbagai lingkungan pendidikan di Indonesia menunjukkan adanya pergeseran tata nilai yang drastis. siswa semakin teralienasi dari akar budaya lokal dan identitas nasionalnya akibat invasi nilai-nilai global yang tidak difilter. Manifestasi dari fenomena dekadensi ini sangat nyata dan dapat diamati secara langsung dalam interaksi harian di lingkungan sekolah. Berbagai tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai luhur moralitas sering kali muncul ke permukaan, mulai dari tindakan indisipliner yang dianggap sepele, absennya rasa tanggung jawab personal maupun komunal, hingga menurunnya sikap hormat terhadap guru sebagai pendidik maupun terhadap sesama teman sebaya (FEBRIANA, 2. Fenomena kenakalan remaja di lingkungan sekolah menengah tidak lagi hanya terbatas pada pelanggaran tata tertib administratif belaka, melainkan telah menyentuh aspek krisis empati dan kemanusiaan yang mendalam. Banyak perilaku siswa yang tidak lagi mencerminkan nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi pegangan hidup. Terdapat tiga pola utama degradasi moral yang teridentifikasi di tingkat sekolah menengah: pertama, tingginya tingkat indisipliner yang ditunjukkan dengan rutinitas melanggar tata tertib. kedua, kuatnya ikatan kelompok eksklusif . eer pressur. yang mendorong siswa melakukan pelanggaran semata-mata karena loyalitas buta terhadap kelompoknya. dan ketiga, otonomi moral yang keliru di mana siswa melakukan pelanggaran berdasarkan kehendak hatinya tanpa ada rasa penyesalan atau paksaan dari pihak luar (Garizing, 2. Di era milenial dan Generasi Z ini, infiltrasi teknologi informasi melalui gawai pintar . memberikan paparan konten tanpa batas yang sering kali mempromosikan individualisme ekstrem, konsumerisme, dan nilai-nilai asing yang berbenturan langsung dengan filosofi luhur bangsa. Interaksi sosial tatap muka yang menumbuhkan empati perlahan digantikan oleh interaksi semu di media sosial yang sering kali menjadi arena subur bagi perundungan siber . dan penyebaran sentimen antisosial (Obligus Nabuasa dkk. , 2. Kondisi anomali perilaku ini terpotret dengan sangat jelas dalam dinamika kehidupan siswa kelas X di SMA Negeri 1 Sukasada. Siswa pada jenjang kelas X berada pada fase yang sangat krusial, baik secara kognitif, emosional, maupun sosiologis. Mereka tengah mengalami masa transisi yang sangat rentan dari lingkungan pendidikan menengah pertama (SMP) menuju pendidikan menengah atas (SMA), di mana pencarian jati diri, pembentukan karakter, dan konstruksi pola pikir masih mengalami proses yang sangat labil. Berdasarkan pada observasi awal yang dilakukan di SMA Negeri 1 Sukasada menunjukkan bahwa meskipun kegiatan seperti upacara bendera dan pembelajaran PPKn berjalan secara rutin, implementasi nilai Pancasila dalam kehidupan siswa masih belum sepenuhnya terlaksana. Masih banyak perilaku siswa yang kurang mencerminkan nilai-nilai Pancasila seperti masih banyak siswa yang kurang disiplin, kurangnya rasa tanggung jawab, dan kurangnya sikap menghargai terhadap guru dan teman. Melalui hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa adanya kesenjangan yang lebar antara apa yang diajarkan secara tekstual dengan apa yang dipraktikkan dalam kehidupan nyata siswa. Sekolah, sebagai institusi pendidikan formal, memegang peranan esensial yang tidak sekadar berfungsi sebagai agen transfer ilmu pengetahuan kognitif . ransfer of knowledg. , tetapi lebih mendasar lagi, bertujuan untuk membentuk karakter dan kepribadian manusia secara holistik. Pendidikan di sekolah sejatinya adalah proses pembudayaan dan pemberdayaan manusia yang berlangsung sepanjang Fenomena degradasi moral yang bermula dari hal-hal yang tampaknya kecil seperti ketidakpatuhan, membolos saat jam pelajaran, hingga kecenderungan berkelompok yang eksklusif, menjadi indikator empiris pertama yang menuntut adanya evaluasi mendalam terhadap ekosistem pendidikan karakter kita saat ini (Garizing, 2. Fakta-fakta induktif yang ditarik dari Marsel Marthen Kondi . / Impelementasi Nilai-Nilai Pancasila Pada Siswa Kelas X A SMA Negeri 1 Sukasada Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. realitas keseharian siswa ini membuktikan bahwa ada sistem yang tidak berjalan optimal dalam menjembatani idealisme ideologi negara dengan praksis kehidupan remaja masa kini. Berangkat dari fenomena nyata yang terjadi di lapangan, terlihat jelas adanya jurang pemisah atau kesenjangan . esearch ga. yang signifikan antara idealitas kurikulum pendidikan karakter dengan realitas praktik di lapangan. Secara filosofis, dalam Pancasila termuat nilai-nilai moral dan etika luhur yang sangat penting jika diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Nilai yang termuat dalam Pancasila contohnya seperti keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sikap saling menghargai, semangat persatuan, musyawarah dalam mengambil keputusan, dan adil terhadap semua aspek kehidupan (Anggraini et al. , 2. Namun, dalam mengimplementasikan nilai luhur tersebut bagi generasi muda dalam lingkungan sekolah, para pendidik dan pembuat kebijakan masih mengalami berbagai tantangan struktural dan kultural yang menciptakan friksi sistemik yang parah. Kesenjangan pertama dan yang paling mendasar terletak pada pendekatan pedagogis yang digunakan oleh institusi pendidikan. Banyak sekolah di Indonesia yang hanya mengajarkan Pancasila dalam bentuk teoritisnya saja melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. secara kaku, sedangkan untuk penerapan nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran atau kegiatan lainnya masih belum terimplementasi secara maksimal (Mindyasningrum, 2. Proses internalisasi sering kali terhenti secara prematur pada ranah kognitif tingkat rendah. siswa mampu menghafal butir-butir Pancasila untuk kebutuhan evaluasi akademik, namun sekolah gagal memfasilitasi transformasi pengetahuan tersebut menjadi moral feeling . erasaan mora. dan moral action . indakan moral yang nyat. (Jayanto dkk. , 2. Praktik pembelajaran di tingkat sekolah menengah masih sangat cenderung menekankan hafalan nilai moral tanpa memberi ruang yang cukup bagi peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan merefleksikan nilai-nilai tersebut ke dalam konteks keseharian mereka (Muspardi dkk. , 2. Kesenjangan kedua yang menjadi celah penelitian yang mendesak untuk dieksplorasi adalah ketidaksiapan kompetensi sumber daya pendidik dalam menghadapi dinamika digital Generasi milenial dan Generasi Z memiliki keunikan pola zaman tersendiri yang sangat dipengaruhi oleh ekosistem digital (Obligus Nabuasa dkk. , 2. Terdapat tuntutan zaman yang mensyaratkan guru untuk tidak hanya memahami materi kewarganegaraan, tetapi juga memiliki kecakapan abad 21, literasi digital, dan kemampuan merancang pembelajaran kontekstual (Prayogi & Estetika, 2. Namun, literatur menunjukkan adanya hambatan signifikan berupa guru yang belum sepenuhnya terlatih dalam metode pengajaran karakter yang inovatif, yang sering kali bermanifestasi sebagai fobia teknologi . atau skeptisisme terhadap media digital. Kurangnya kompetensi pedagogis guru yang integratif ini menyebabkan penyampaian materi menjadi sangat usang, kurang menarik, dan sama sekali tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Akibatnya, metode pembelajaran konvensional ini kalah bersaing dengan paparan konten algoritma media sosial yang jauh lebih interaktif dan memikat perhatian siswa, sehingga transmisi nilai pun mengalami distorsi yang fatal. Kesenjangan ketiga berpusat pada disrupsi sinergi Tri-Pusat Pendidikan, yaitu ketidakselarasan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Ekosistem pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan secara sepihak kepada guru di sekolah. Terdapat fenomena di mana pengaruh lingkungan luar sekolah, seperti kurangnya keteladanan dari orang tua di rumah, rendahnya dukungan emosional keluarga, serta minimnya kontrol sosial dari masyarakat luas, menjadi agen destruktor utama bagi karakter yang sedang bersusah payah dibangun di lingkungan sekolah (Ningsih & Mulyani, 2. Keterbatasan literatur yang secara komprehensif memetakan efektivitas kolaborasi sinergis antara sekolah dan orang tua khususnya pada masa adaptasi pascapandemi yang meninggalkan residu psikologis berupa penurunan disiplin dan motivasi belajar siswa menjadi research gap yang krusial (Putri dkk. , 2. Kesenjangan antara apa yang diajarkan di sekolah dengan apa yang didiamkan atau bahkan dicontohkan secara keliru dalam kehidupan keluarga membuktikan bahwa upaya penanaman karakter sering kali berjalan secara asimetris. Secara konseptual, disrupsi dalam aliran transmisi nilai-nilai filosofis bangsa ini menciptakan sebuah zona friksi. Hambatan pedagogis yang berupa dominasi hafalan, paparan era digital yang tidak terfilter, dan defisit sinergi dari orang tua bertindak sebagai penyumbat GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. sistemik yang mendistorsi pemahaman teoretis peserta didik menjadi apatisme dan perilaku Pemetaan terhadap zona friksi ini masih sangat minim dalam literatur pendidikan kewarganegaraan, sehingga dibutuhkan kajian yang mendalam untuk melihat kausalitas antara faktor-faktor tersebut dan dampaknya terhadap degradasi moral siswa (Obligus Nabuasa dkk. Menganalisis fenomena nyata dan kesenjangan teoretis maupun praktis yang ada membawa kita pada pemahaman induktif mengenai betapa tingginya tingkat urgensi dari topik kajian ini. Bangsa Indonesia saat ini sedang berada pada persimpangan jalan peradaban yang sangat kita dituntut untuk mempersiapkan generasi penerus sebagai elemen terpenting dalam menghadapi turbulensi tantangan global yang bergerak eksponensial (Obligus Nabuasa , 2. Perkembangan dunia yang masif menuju era digitalisasi paripurna menghadirkan ancaman sekaligus tantangan eksistensial bagi pelestarian filosofi dasar negara. Nilai-nilai pragmatisme, materialisme, dan gaya hidup individualistik yang merembes tanpa sekat melalui konvergensi media global ke ruang pribadi generasi muda merupakan ancaman laten yang sangat berpotensi mereduksi, atau bahkan melunturkan sama sekali, semangat kebhinekaan, ikatan gotong royong, dan kesadaran akan keadilan sosial (Obligus Nabuasa dkk. , 2. Sebagai dasar dan falsafah kehidupan berbangsa, eksistensi ideologi nasional harus dibuktikan melalui resiliensi dan adaptabilitasnya dalam berdialog dengan tuntutan zaman yang terus berubah (Nisaa dkk. Untuk memastikan keberlangsungan entitas bangsa, ideologi ini mendesak untuk dipahami secara esensial, diresapi secara emosional, dan ditransfer secara inovatif oleh seluruh elemen pendidik kepada generasi di bawahnya sebagai tameng pelindung moral dari arus informasi yang destruktif (Obligus Nabuasa dkk. , 2. Mengingat pentingnya nilai tersebut dalam aspek kehidupan masyarakat Indonesia, maka nilai-nilai tersebut penting untuk ditanamkan sejak dini agar masyarakat Indonesia dapat memaknai dan menerapkan nilai-nilai tersebut dengan baik di dalam kehidupannya. Di sinilah letak urgensi paling tinggi dari penguatan kembali karakter nasional di sekolah menengah. ini bukan sekadar rutinitas pemenuhan target administratif silabus atau pencapaian nilai ketuntasan minimal, melainkan merupakan ikhtiar survival . ertahan hidu. bagi identitas luhur peradaban bangsa. Adanya tantangan multidimensional dalam pengimplementasian nilai tersebut di lingkungan sekolah, khususnya yang diamati di SMA Negeri 1 Sukasada, menjadi suatu hal yang sangat krusial untuk dikaji secara ilmiah demi menciptakan cetak biru generasi muda yang teguh kepribadiannya. Urgensi penelitian ini semakin mendapatkan legitimasinya karena sangat selaras dengan arah kebijakan makro sistem pendidikan nasional. Negara telah menyadari krisis ini dan meresponsnya melalui intervensi struktural. Hal ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan dan inspiratif dalam menanamkan nilai-nilai utama, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas, yang semuanya selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Keselarasan ini semakin dikuatkan dengan diluncurkannya desain Kurikulum Merdeka yang secara eksplisit mengusung paradigma Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. (Jayanto dkk. Pembentukan karakter ini tidak lagi diperlakukan sebagai muatan sisipan, melainkan dicanangkan untuk diintegrasikan secara utuh ke dalam setiap urat nadi aspek pembelajaran. menuntut pengawasan kolegial, inovasi pedagogis, dan kolaborasi tanpa henti dari seluruh elemen masyarakat (Obligus Nabuasa dkk. , 2. Oleh karena itu, penelitian mendalam di tingkat akar rumput terkait bagaimana mekanisme nilai-nilai ini diinternalisasi beserta segala bentuk resistensi kultural yang menyertainya sangat mendesak untuk dieksekusi sebagai landasan perumusan kebijakan pendidikan masa depan (Obligus Nabuasa dkk. , 2. Dengan berpijak secara kokoh pada realitas empiris yang meresahkan di koridor-koridor sekolah, kesenjangan sistemik dalam lanskap literatur akademis, serta urgensi filosofis yang amat mendesak di pusaran era digital, maka arsitektur dari kajian ini dibangun dengan tujuan yang sistematis, komprehensif, dan berorientasi pada pemecahan masalah . roblem-solvin. Kajian yang berfokus pada ekosistem SMA Negeri 1 Sukasada ini dirancang tidak semata-mata untuk memberikan narasi deskriptif di permukaan, melainkan bertujuan secara esensial untuk membedah tiga domain krusial: Marsel Marthen Kondi . / Impelementasi Nilai-Nilai Pancasila Pada Siswa Kelas X A SMA Negeri 1 Sukasada Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Domain pertama bertujuan untuk membedah dan mendeskripsikan secara holistik aktualisasi serta implementasi nilai-nilai filosofis dasar negara pada keseharian siswa kelas X A. Tujuan ini berupaya memetakan dengan tingkat presisi yang tinggi mengenai sejauh mana internalisasi lima sila tersebut mewujud dalam ranah tindakan moral nyata . oral actio. baik yang diekspresikan melalui interaksi pembelajaran di ruang kelas, adaptasi terhadap iklim dan budaya sekolah, hingga tingkat keterlibatan siswa dalam dinamika organisasi kesiswaan dan aktivitas ekstrakurikuler. Domain kedua berfokus pada upaya mendiagnosis dan mengidentifikasi secara tajam dan terstruktur faktor-faktor multidimensional yang bertindak sebagai penghambat, friksi, atau bottlenecks dalam pelaksanaan pendidikan karakter tersebut. Identifikasi analitis ini sangat krusial untuk mengurai kompleksitas masalah, memisahkan antara hambatan endogen yang bersumber dari kelemahan sistem internal institusi pendidikan . eperti defisit motivasi siswa dan kelemahan metode gur. dengan hambatan eksogen yang diakibatkan oleh intervensi eksternal ekosistem digital, tekanan pergaulan sebaya, dan disfungsi lingkungan keluarga. Domain ketiga bertujuan untuk mengeksplorasi, merumuskan, dan menjelaskan berbagai inisiatif rekayasa sosial, solusi taktis, maupun strategi jangka panjang yang dikonstruksi oleh ekosistem sekolah dalam usahanya memecahkan hambatan-hambatan kompleks tersebut. Dengan mensinergikan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan deskriptif, studi ini diharapkan mampu menyajikan korpus data yang mendalam, berupa deskripsi analitis atas pola perilaku yang diamati secara langsung melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan telaah dokumentasi di lapangan. Secara kumulatif, konstruksi penelitian ini diproyeksikan untuk melahirkan temuan-temuan empiris yang berharga sebagai referensi valid dan masukan strategis bagi manajemen sekolah, komite orang tua, serta pengambil kebijakan pendidikan dalam mengakselerasi peran kolektifnya guna mencetak generasi muda bangsa yang beradab dan Metode Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian Dengan pendekatan deskriptif penelitian kualitatif adalah penelitian yang mana hasil berupa suatu data deskriptif yang berbentuk suatu kata tertulis atau secara lisan yang didapatkan melalui narasumber atau perilaku yang telah di amati (Yuliani, 2. Subjek dalam penelitian ini sangat diperlukan karena peran sebagai informan atau narasumber yang nantinya akan memberikan data dan informasi yang akan berkaitan dengan permasalahan yang sedang dikaji. Untuk penentuan subjek dalam penelitian ini dilakukan dengan cara Purposive Sampling. Dalam penelitian ini terdapat beberapa metode pengumpulan data yang digunakan yaitu : Observasi Metode Observasi Metode observasi adalah salah satu cara yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data dengan cara mengamati langsung situasi atau aktivitas yang sedang berlangsung. Dalam penelitian ini, metode observasi digunakan untuk melihat secara langsung bagaimana implementasi nilai nilai Pancasila di lingkungan kelas X SMA Negeri 1 Sukasada. Peneliti akan mencatat berbagai perilaku, sikap, dan interaksi antar siswa maupun antara siswa dan guru yang mencerminkan penerapan nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, keadilan, dan saling menghormati. Wawancara Metode wawancara adalah cara pengumpulan data yang dilakukan dengan berbicara langsung kepada narasumber untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam. Dalam penelitian ini, metode wawancara digunakan untuk menggali pandangan, pengalaman, dan pendapat kepala sekolah, guru serta siswa mengenai implementasi nilai-nilai Pancasila di kelas X SMA Negeri 1 Sukasada. Dokumentasi Metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data dengan memanfaatkan berbagai dokumen atau arsip yang berkaitan dengan topik penelitian. Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan informasi tentang implementasi nilai-nilai GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Pancasila di kelas X SMA Negeri 1 Sukasada melalui dokumen-dokumen seperti buku tata tertib sekolah, program kerja kesiswaan, foto kegiatan, notulen rapat, atau catatan kegiatan Data yang telah terkumpul akan dianalisi menggunakan teknik menganalisis data. Dalam penelitian ini, peneliti dalam menganalisis data menggunakan model dari Miles dan Huberman. Berikut tahapan-tahapan dalam menganalisis data yaitu pengumpulan data . ata collectio. dalam tahapan ini, peneliti mengumpulkan data melalui metode, reduksi data . ata reductio. , penyajian data . ata displa. dan penarikan kesimpulan . onclusion drawing/verivicatio. ugiyono, 2. Hasil dan pembahasan Dimensi Religiusitas: Konstruksi Ekosistem Spiritual Berbasis Pembiasaan (Sila Pertam. Pengejawantahan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa direalisasikan bukan melalui pendekatan doktrinasi pasif yang kaku, melainkan melalui metode pembiasaan . yang konsisten dan bermakna. Pendekatan pedagogis ini sangat relevan dengan postulasi teori behavioristik dari Clark Hull, yang memandang bahwa perilaku positif, termasuk karakter religiusitas, terbentuk secara mekanistik namun mendalam dari respons otomatis akibat pengulangan stimulasi yang dikondisikan secara terus-menerus hingga menjadi kebiasaan atau habit yang menetap (Mulyana & Muntaqo, 2. Dalam konteks pendidikan keagamaan di sekolah menengah, penguatan . berupa kegiatan spiritual yang dilakukan secara kolektif dan berulang-ulang terbukti ampuh membentuk respons positif siswa terhadap praktik moralitas, sehingga berkembang menjadi karakter intrinsik yang religius (Yozaga dkk. , 2. Di lingkungan SMA Negeri 1 Sukasada, arsitektur implementasi sila pertama ini terwujud dalam serangkaian rutinitas Kegiatan doa bersama lintas agama selalu mengawali aktivitas akademik. spesifik bagi mayoritas siswa yang beragama Hindu, hal ini dimanifestasikan melalui pelantunan mantra Tri Sandya secara khidmat di lapangan terbuka pada pagi hari. Lebih jauh ke tingkat mikro di ruang kelas, doa pembuka pembelajaran yang dipimpin secara bergilir oleh ketua kelas, serta pengintegrasian perayaan hari-hari raya keagamaan yang sakral seperti Purnama. Tilem, dan Saraswati, menjadi pilar ekosistem pendukung yang sangat kuat dalam mengingatkan siswa akan dimensi transendental kehidupan. Praktik pembiasaan religius ini menemukan urgensinya yang paling tinggi di era disrupsi informasi saat ini. Sebagaimana dikonfirmasi oleh temuan berbagai studi literatur terkini, arus lalu lintas informasi digital yang bergerak cepat tanpa adanya pengawasan sering kali mengikis lapisan moralitas fundamental remaja, mendorong mereka pada pragmatisme dan nihilisme (Mulyana & Muntaqo, 2. Oleh karenanya, rutinitas spiritual komunal di sekolah seperti halnya praktik sholat dhuha berjamaah atau tadarus pagi di lembaga pendidikan berbasis Islam, atau Tri Sandya di institusi yang berpijak pada kearifan lokal Bali berfungsi krusial sebagai benteng pertahanan psikologis (Mulyana & Muntaqo, 2. Melalui ritual pengulangan ini, siswa tidak sekadar mengamalkan ajaran teologis agamanya pada ranah lahiriah untuk menggugurkan kewajiban sekolah, melainkan secara perlahan mulai menanamkan dan menginternalisasi nilainilai universal yang dituntut oleh Kurikulum Merdeka, seperti kedisiplinan yang ketat, kesopanan dalam bertutur, serta kesadaran mendalam akan keberadaan Tuhan yang senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik perbuatan mereka, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Meskipun demikian, teori behavioristik murni ini perlu disempurnakan dengan penanaman makna filosofis ibadah agar karakter religius tidak hanya berhenti pada kepatuhan fasad, melainkan tertanam hingga ke relung kesadaran siswa (Yozaga dkk. , 2. Dimensi Kemanusiaan: Rekonstruksi Empati dan Resiliensi Sosial (Sila Kedu. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sering kali mendapat hantaman tantangan terbesar akibat efek samping gaya hidup era digital yang memicu lahirnya sikap apatis, hilangnya rasa empati antarsesama, hingga eskalasi perilaku agresif yang bermuara pada perundungan fisik maupun perundungan siber . (Indah dkk. , 2. Untuk merekonstruksi kepedulian yang terkikis tersebut, sekolah dituntut untuk mengimplementasikan nilai kemanusiaan melalui aksi-aksi afirmatif yang nyata, terstruktur, dan konkret. Di tingkat operasional SMA Negeri 1 Sukasada, manifestasi nilai ini tercermin dengan sangat jelas dari Marsel Marthen Kondi . / Impelementasi Nilai-Nilai Pancasila Pada Siswa Kelas X A SMA Negeri 1 Sukasada Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. pelaksanaan program kepedulian yang berkelanjutan, seperti inisiatif gotong royong secara berkala, penggalangan dana kemanusiaan untuk memberikan bantuan kepada korban bencana alam, hingga aksi donor darah rutin yang secara sistematis memfasilitasi tumbuhnya benih empati dan solidaritas sosial di jiwa peserta didik. Aktivitas prososial semacam ini mendidik peserta didik secara eksperiensial untuk menyadari sepenuhnya bahwa mereka adalah bagian integral dari sebuah ekosistem sosial masyarakat yang lebih luas. Melalui pengalaman langsung berinteraksi, menyumbangkan tenaga, dan mengulurkan bantuan tanpa pamrih kepada sesama yang membutuhkan, ego egosentrisme yang kerap dipupuk oleh budaya glorifikasi diri di media sosial perlahan didekonstruksi (Ridwan & Mulyana, 2. Dalam perspektif pendidikan karakter, konsep moral knowing . engetahui hal yang bena. dan moral feeling . erasakan penderitaan orang lai. diterjemahkan secara presisi ke dalam moral action . engambil tindakan bantuan yang nyat. (Jayanto dkk. , 2. Dengan demikian, institusi sekolah mengambil peran terdepan secara proaktif untuk mencegah terjadinya krisis kemanusiaan di kalangan remaja, dengan menyediakan ruang-ruang praksis di mana simpati pasif diubah menjadi tanggung jawab kemanusiaan yang aktif. Lebih lanjut, internalisasi kepedulian ini berkontribusi langsung pada terbentuknya karakter toleransi inklusif dan gotong royong yang menjadi pilar Profil Pelajar Pancasila (Jayanto dkk. , 2. Dimensi Persatuan: Merajut Kohesi Sosial Melalui Rekayasa Ekstrakurikuler (Sila Ketig. Di tengah heterogenitas dan keberagaman latar belakang siswa yang datang dari berbagai entitas budaya, agama, dan stratifikasi geodemografis wilayah di Bali, upaya untuk merajut kohesi sosial menjadi sebuah keharusan pedagogis yang mutlak. Sila Persatuan Indonesia direalisasikan secara taktis melalui pemanfaatan instrumen kegiatan ekstrakurikuler yang dirancang dengan cermat dan berorientasi pada persatuan. Partisipasi aktif siswa dalam unit kegiatan seperti kelompok paduan suara yang melatih penyelarasan berbagai elemen karakter suara yang berbeda menjadi satu harmoni yang utuh serta olahraga beregu yang memaksa individu untuk menekan ego personal demi menyatukan taktik dan kerja sama tim mencapai satu visi merupakan wadah simulasi persatuan mikro yang terbukti sangat efektif. Berbagai literatur mutakhir menggarisbawahi dan menegaskan bahwa ekstrakurikuler tidak boleh lagi dipandang sebelah mata sekadar sebagai aktivitas rekreasional pengisi waktu luang pasca-pembelajaran (Arfandi Sukarno & Suharto, 2. Sebaliknya, ia berfungsi sebagai laboratorium sosial terpenting untuk menguatkan efektivitas pencapaian Profil Pelajar Pancasila, khususnya pada dimensi kebhinekaan global dan semangat gotong royong (Jayanto dkk. , 2. Melalui dinamika dan resolusi konflik internal dalam pelaksanaan ekstrakurikuler, siswa belajar secara organik untuk menurunkan batas-batas ego etnosentrisme mereka, berbaur dan berkomunikasi secara egaliter dengan teman dari latar belakang sosio-kultural yang berbeda, membangun fondasi rasa saling percaya . utual trus. , dan pada akhirnya menumbuhkan rasa persaudaraan yang kuat melampaui sekat-sekat primordialitas. Dalam proses dialektika menuju pencapaian prestasi kolektif tersebut, siswa mempraktikkan filosofi luhur semboyan Bhinneka Tunggal Ika: menghargai keunikan individualitas sekaligus melebur dalam identitas kolektif sebagai satu kesatuan bangsa. Dimensi Kerakyatan: Laboratorium Demokrasi dan Partisipasi Sipil (Sila Keempa. Penerapan fundamental dari sila "Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan" menemukan bentuk pelembagaannya yang paling ideal melalui partisipasi aktif siswa dalam wadah Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Dalam perspektif pendidikan kewarganegaraan, keberadaan OSIS memegang peranan krusial sebagai miniatur negara yang menyimulasikan sistem tata kelola demokrasi yang rasional, sehat, dan beradab (Ridwan & Mulyana, 2. Di dalam ruang lingkup kepengurusan inilah, siswa secara terstruktur dilatih kemampuannya untuk merumuskan kebijakan level sekolah, menyelenggarakan program kerja kepemudaan, serta yang paling substansial adalah melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap proses pengambilan keputusan strategis tanpa mengandalkan dominasi mayoritas. Lebih jauh, elemen demokrasi substansial ini diwujudkan melalui mekanisme pemilihan ketua OSIS secara langsung yang mengedepankan asas kejujuran, keadilan, dan transparansi, meniru pelaksanaan pemilu tingkat nasional. Proses ini mengajarkan siswa tentang literasi politik GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. sejak dini. Selain itu, ditekankan pula urgensi keterbukaan pengurus organisasi dalam mengakomodasi dan menerima kritik membangun yang disampaikan oleh rekan-rekan sejawatnya (Jambi dkk. , 2. Meskipun dalam realitas pelaksanaannya praktik deliberatif ini sering kali terhambat oleh mentalitas pasif dari sebagian besar populasi siswa yang cenderung enggan berpartisipasi dalam diskusi publik atau merasa inferior untuk mengemukakan pendapat kritis inisiatif pengurus untuk selalu berupaya melibatkan representasi siswa di luar struktur kepengurusan inti dalam merancang kegiatan merupakan sebuah langkah asertif yang patut diapresiasi untuk menghidupkan dan merawat budaya kerakyatan inklusif di lingkungan sekolah (Jambi dkk. , 2. Praktik civic engagement . eterlibatan sipi. semacam ini bernilai esensial untuk mematahkan sentimen apatisme politik di kalangan digital natives dan secara berkelanjutan membangun kapasitas kepemimpinan transformatif . ransformational leadershi. yang visioner dan bertanggung jawab untuk menopang struktur masyarakat di masa depan (Ridwan & Mulyana, 2. Dimensi Keadilan Sosial: Integritas. Kesetaraan, dan Ekologi Berkelanjutan (Sila Kelim. Sila kelima memegang kedudukan filosofis sebagai muara dan tujuan akhir dari pengamalan keempat sila pendahulunya. Semangat Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia mewajibkan institusi pendidikan formal untuk beroperasi tegak lurus di atas prinsip kesetaraan universal tanpa menoleransi bentuk diskriminasi sekecil apa pun. Di SMA Negeri 1 Sukasada, pengejawantahan dari tuntutan ini tampak secara nyata melalui desain arsitektur regulasi dan penegakan tata tertib sekolah yang diterapkan secara absolut adil . tanpa membedakan status sosial, latar belakang ekonomi, kedudukan orang tua siswa, maupun preferensi pribadi (Jayanto dkk. , 2. Sekolah menahbiskan dirinya secara kelembagaan sebagai ruang aman komunal di mana setiap entitas individu memiliki akses perlindungan dan kesempatan yang setara untuk memaksimalkan potensi bertumbuhnya. Aktualisasi dari nilai keadilan yang lebih progresif dan proaktif dilakukan melalui pelibatan intensif siswa dalam gerakan kampanye anti-korupsi di tingkat ekosistem sekolah. Inisiatif ini tidak hanya berupa slogan, melainkan bertujuan strategis melatih otot integritas dan menumbuhkan sikap zero toleransi terhadap embrio kecurangan dalam hal-hal akademis sekecil apa pun, seperti penegakan sanksi tegas atas praktik mencontek, plagiarisme tugas, manipulasi data presensi, atau penyimpangan dana organisasi. Penguatan integritas mandiri ini adalah inti dari karakter kemandirian yang diamanatkan kurikulum masa kini (Jayanto dkk. , 2. Selain itu, program wacana kesetaraan gender dikampanyekan secara implisit namun efektif dengan menggaransi pemberian kesempatan yang proporsional dan tidak bias bagi populasi siswa perempuan untuk menduduki jabatan struktural di OSIS, memimpin proyek-proyek kolaboratif kelas, atau mewakili sekolah dalam kompetisi sains dan olahraga. Langkah ini merupakan fondasi vital untuk merekayasa dan membangun tatanan struktur sosial masyarakat yang lebih berkeadilan sejak dini di bangku pendidikan menengah. Tidak berhenti pada keadilan antarmanusia, perluasan makna keadilan masa kini juga merambah ranah kesadaran akan keadilan ekologis yang kritis (Indah dkk. , 2. Pemahaman ini ditanamkan kuat melalui pelaksanaan program-program operasional kepedulian dan aksi pelestarian lingkungan fisik sekolah yang mewajibkan partisipasi aktif seluruh siswa, menyadarkan mereka bahwa kelestarian bumi adalah bentuk keadilan lintas generasi (Indah dkk. , 2. Implementasi nilai-nilai Pancasila di lingkungan siswa SMA Negeri 1 Sukasada sering sekali dihadapkan pada berbagai hambatan yang dapat mengurangi efektivitasnya. Faktor-faktor ini berasal dari aspek internal sekolah, seperti kurangnya pemahaman siswa terhadap nilai-nilai tersebut, hingga aspek eksternal seperti pengaruh budaya global. Meskipun sekolah berupaya keras melalui program pendidikan karakter, hambatan-hambatan ini dapat memperlambat proses internalisasi Pancasila sebagai pedoman hidup siswa, sehingga perlu diidentifikasi dan diatasi untuk mencapai tujuan pembentukan karakter nasional. Di dalam lingkungan sekolah, beberapa faktor internal menjadi penghambat utama. Pertama, kurangnya motivasi siswa akibat beban kurikulum yang padat sering membuat mereka kurang antusias dalam kegiatan seperti upacara bendera atau ekstrakurikuler yang mengintegrasikan Pancasila, sehingga nilai-nilai seperti persatuan dan kerakyatan kurang tertanam. Kedua, keterbatasan sumber daya pendidik, seperti guru yang belum sepenuhnya terlatih dalam metode pengajaran karakter, dapat Marsel Marthen Kondi . / Impelementasi Nilai-Nilai Pancasila Pada Siswa Kelas X A SMA Negeri 1 Sukasada Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. menyebabkan penyampaian materi Pancasila menjadi kurang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Ketiga, perbedaan latar belakang siswa dari berbagai daerah di Bali dapat menimbulkan kesulitan dalam memahami konteks nasional Pancasila, terutama bagi siswa yang lebih terpengaruh oleh budaya lokal daripada identitas kebangsaan. Faktor eksternal seperti pengaruh media sosial dan globalisasi juga turut menghambat implementasi Pancasila. Siswa SMA Negeri 1 Sukasada sering terpapar konten digital yang mempromosikan individualisme atau nilainilai asing, yang bertentangan dengan sila-sila seperti kemanusiaan dan keadilan sosial, sehingga menggeser prioritas mereka. Selain itu, lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar yang kurang mendukung pendidikan karakter dapat memperburuk situasi, misalnya dengan kurangnya contoh teladan dari orang tua. Dampaknya, siswa mungkin menjadi kurang toleran atau kurang peduli terhadap isu-isu sosial, yang pada akhirnya mempengaruhi pembentukan generasi muda yang kuat dalam nilai Pancasila. Untuk mengatasi ini, sekolah perlu meningkatkan kolaborasi dengan pihak eksternal dan inovasi dalam pendidikan. Untuk mengatasi hambatan dalam implementasi nilai-nilai Pancasila di lingkungan siswa SMA Negeri 1 Sukasada, berbagai solusi telah dikembangkan dengan pendekatan terintegrasi yang melibatkan sekolah, siswa, dan pihak eksternal. Solusi ini bertujuan untuk memperkuat internalisasi lima sila Pancasila melalui pendidikan karakter yang lebih efektif, inovatif, dan Dengan fokus pada kolaborasi dan adaptasi terhadap tantangan seperti globalisasi dan kurangnya motivasi, sekolah ini berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan siswa sebagai warga negara yang berintegritas, sehingga nilai-nilai Pancasila tidak hanya diajarkan secara teoritis tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Di tingkat internal. SMA Negeri 1 Sukasada menerapkan solusi seperti pengembangan kurikulum yang lebih interaktif, misalnya dengan mengintegrasikan Pancasila ke dalam mata pelajaran lain melalui proyek kolaboratif dan simulasi kehidupan bermasyarakat. Guru diberikan pelatihan rutin untuk menggunakan metode pengajaran berbasis proyek, seperti diskusi kelompok tentang toleransi antaragama untuk sila pertama, atau kegiatan gotong royong untuk sila kedua. Selain itu, sekolah meningkatkan partisipasi siswa melalui OSIS yang lebih aktif, di mana siswa dilibatkan dalam perencanaan kegiatan seperti kampanye anti korupsi untuk sila kelima. Untuk mengatasi faktor eksternal, sekolah berkolaborasi dengan orang tua dan masyarakat melalui workshop keluarga tentang pendidikan karakter, serta kemitraan dengan organisasi lokal untuk program mentoring Pengaruh media sosial diatasi dengan kampanye digital yang mempromosikan nilai Pancasila, seperti konten edukasi di platform sekolah. Evaluasi berkelanjutan dilakukan melalui survei tahunan dan refleksi siswa, yang memungkinkan penyesuaian solusi berdasarkan umpan Simpulan dan saran Membaca dengan saksama seluruh rangkaian data operasional serta fenomena sosiologis realitas riil di lapangan, penelitian ini berhasil meletakkan pembuktian induktif yang tak terbantahkan bahwa proses fundamental internalisasi transfer pengetahuan atas tumpukan nilainilai luhur ideologi dan etika kenegaraan secara filosofis bukanlah sama sekali merupakan sebuah pergerakan linear dan upaya entitas administratif statis yang berakhir tugasnya manakala bel instrumen evaluasi tanda berakhirnya masa jam pelajaran sekolah berdentang merdu. Internalisasi Pancasila sejatinya adalah sebuah medan spektrum dialektika peperangan ideologis jangka panjang yang terus dituntut bergerak beradaptasi secara progresif dan dinamis, dalam usaha kolektifnya meredam gempuran daya destruksi dari arus lalu lintas deras degradasi moral kemerosotan zaman yang disokong kekuatan kapital dan mesin-mesin algoritma raksasa. Eksplorasi kajian naratif komprehensif yang telah dipusatkan pembedahannya pada lokus spesifik habitat kelompok ekologi siswa angkatan kelas X di lingkungan kawah candradimuka persekolahan SMA Negeri 1 Sukasada menegaskan kesimpulan akhir yang sangat tajam. usaha merawat marwah perwujudan pedoman ideologi Pancasila dalam mentalitas kaum muda hari ini mewajibkan seluruh birokrasi instrumen peradaban kurikulum negara untuk bermetamorfosis bentuk, keluar dari cangkang kepompong hafalan tekstual dogmatis dan normatif semata, menuju arsitektur perancangan desain kurikulum tersembunyi berwajah budaya . ultural hidden curriculu. Kurikulum tidak terlihat ini harus dirawat agar akarnya GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. mampu menembus dan mencengkeram kuat memeluk kelembapan tanah yang berupa iklim psikologis aman sekolah, berinteraksi dan tumbuh dari dalam jantung rutinitas habituasi operasional lembaga pendidikan itu sendiri. Kesulitan akut yang diderita oleh populasi siswa dalam mencoba mengasosiasikan atau menemukan relevansi dari kumpulan nilai ideologi pedoman kenegaraan abstrak ke dalam hamparan bentang ranah operasional aksi empiris komunal dapat secara revolusioner ditekan dan direduksi probabilitas risikonya secara Syarat mutlak bagi keberhasilan reduksi risiko ini hanya dapat dicapai apabila seluruh elemen otoritas sekolah menunjukan determinasi keberanian . olitical wil. untuk merekonstruksi ulang dan mengadopsi ekosistem arsitektur rekayasa metode pembelajaran konstruktivisme sosial, yang diejawantahkan secara berani melalui model kolaboratif inklusif berbasis proyek penyelidikan masalah lapangan (PjBL). Bersamaan dengan restrukturisasi metode itu, birokrasi wajib membekali persenjataan seluruh aparat pasukan pendidik garda terdepannya dengan literasi kognitif dan keterampilan digital navigasi kontemporer yang mumpuni agar mampu membaca arah kompas teknologi. garis belakang pertahanan, cetak biru strategi pendidikan nasional juga dituntut untuk merevitalisasi kekuatan dukungan peran perlindungan krusial unit mikro institusi keluarga, dan memutar balik fungsi utama wajah komersial platform media digital sosial algoritma menjadi kanvas arena pembangunan fondasi kesadaran pembentukan jati diri pemuda bangsa, yang terbentang melintasi perbatasan geografis hingga mencapai persatuan emosional sejati wawasan Hanya dengan mengkalibrasi presisi kesatuan langkah dan mengorkestrasi harmonisasi sinkronisasi dari penggabungan seluruh elemen sumbu-sumbu trinitas kekuatan ekosistem pilar peradaban inilah yakni penyatuan entitas sekolah, konsolidasi keluarga tangga, dan pendewasaan interaksi ruang publik siber institusi kementerian pendidikan kita sebagai wakil keabsahan eksistensi negara secara berdaulat mampu menggaransi asuransi perlindungan masa depan, dan memastikan keselamatan kapal bahtera kelompok generasi pemegang mandat warisan kepemimpinan masa depan bangsa dapat terus melaju melewati gulungan ombak ancaman krisis abrasi etika di sepanjang epos era revolusi disrupsi multidimensional ini. Daftar Rujukan Anggraini. Fathari. Anggara. , & Ardi Al Amin. Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila Bagi Generasi Milenial. Jurnal Inovasi Ilmu Sosial Dan Politik, 2. , 11. https://doi. org/10. 33474/jisop. Arfandi Sukarno. , & Suharto. Analisis Efektivitas Program Ekstrakulikuler dalam Pembentukkan Karakter Profil Pelajar Pancasila di SMPN 51 Bandung. Jurnal Tata Kelola Pendidikan, . https://ejournal. edu/index. php/jtkp Febriana. Fenomena Degradasi Moral Dalam Dunia Pendidikan Di Indonesia. https://doi. org/10. 31227/osf. io/zrjev Garizing. Degradasi Moral Di Kalangan Peserta Didik Di Sma Negeri 1 Pinrang. Jurnal Sosialisasi Pendidikan Sosiologi, 4. , 109Ae112. https://doi. org/https://doi. org/10. 26858/sosialisasi. Indah. Fatih. Ramadhani. , & Slam. Penerapan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Mencegah Perilaku Bullying Dan Cyberbullying Di Era Digital. Civic Society Research and Education: Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 6. , 1Ae17. https://doi. org/https://doi. org/10. 57094/jpkn. Jambi. Rizal. Kurniawan1. Sutja2. , & Usmanto. Penerapan Fungsi Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Dalam Mewujudkan Nilai Sila Ke-Empat Pancasila Di SMKN1 Batanghari. Civic Education Persfective Journal FKIP, 3. , 1Ae12. https://onlinejournal. id/cepj/article/download/24382/16787 Jayanto. Nurnoviyati. , & Mere. Pengaruh Penguatan Profil Pelajar Pancasila Terhadap Karakter Siswa Dalam Kurikulum Merdeka. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 8. , 4957Ae4962. https://doi. org/https://doi. org/10. 31004/jrpp. Mindyasningrum. Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Lingkungan Sekolah. WASPADA (Jurnal Wawasan Pengembangan Pendidika. , 12. , https://doi. org/10. 61689/waspada. Marsel Marthen Kondi . / Impelementasi Nilai-Nilai Pancasila Pada Siswa Kelas X A SMA Negeri 1 Sukasada Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Mulyana. , & Muntaqo. Efektivitas Metode Pembiasaan Terhadap Pembentukan Karakter Religius Siswa Kelas VII MTs Model Ihsaniyah Kota Tegal. La-Tahzan: Jurnal Pendidikan Islam, 14. , 210Ae237. https://doi. org/10. 62490/latahzan. Muspardi. Neviyarni. Yusmanila. , & Afdal. Strategi Inovatif Guru Dalam Mengembangkan Kreativitas Peserta Didik Di Sekolah Dasar. Bhineka Tunggal Ika: Kajian Teori Praktik Pendidikan PKN, 12. , 226Ae234. https://doi. org/https://doi. org/10. 36706/jbti. Ningsih. , & Mulyani. Strategi Sekolah Dalam Mengatasi Degradasi Moral Siswa Di Smp Negeri 4 Satu Atap Kedungreja Tahun Pelajaran 2021/2022. QALAM: Jurnal Pendidikan Islam, 4. , 1Ae20. https://jurnal. id/index. php/qalam/article/view/44 Nisaa. Kusumawati. , & Gilang Purnama. Academy of Social Science and Global Citizenship Journal Refleksi Kritis Terhadap Relevansi Pancasila Di Era Disrupsi Digital. Academy of Social Science and Global Citizenship Journal, 5. , 35Ae42. https://doi. org/10. 47200/aossagcj. Obligus Nabuasa. Warlim. , & Kurniawaty. Pembentukan karakter berbasis nilainilai Pancasila di era digital: Tantangan dan peluang bagi generasi milenial. SOSIO RELIGI: Jurnal Kajian Pendidikan Umum, 23. https://doi. org/10. 17509/sosioreligi. Prayogi. , & Estetika. Kecakapan Abad 21: Kompetensi Digital Pendidik Masa Depan. Jurnal Manajemen Pendidikan, 14. , 144Ae151. https://doi. org/10. 23917/jmp. Putri. Wardani. , & Fitriya. Tantangan Pendidikan Karakter di MTs: Analisis Berdasarkan Faktor Pendukung. Faktor Penghambat dan Solusinya dalam Pembelajaran. Misbah: Jurnal Pendidikan Pemikiran Islam, 1. , 1Ae7. https://ejournal. id/index. php/misbah/article/view/144 Ridwan. , & Mulyana. Peran Organisasi Siswa Intra Sekolah Dalam Membentuk Karakter Sosial Siswa Mts Sa Al-Hidayah. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan Tindakan. Aflabeta. Yozaga. Adianingsih. Zahro. , & Fauziati. Pembentukan Karakter Religius Siswa SMA Muhammadiyah Darul Arqom Karanganyar Dalam Pandangan Behavioristik Clark Hull. RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business, 4. , 1092Ae1100. https://doi. org/10. 31004/riggs. Yuliani. Metode penelitian deskriptif kualitatif dalam perspektif bimbingan dan QUANTA: Jurnal Kajian Bimbingan Dan Konseling Dalam Pendidikan, 2. , 83Ae GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304