Pembiasaan Tilawah Al-QurAoan sebagai Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Konsentrasi Belajar Siswa Madrasah Ibtidaiyah Mokhamad Choirul Hudha. Septyana Tentiasih Institut Studi Islam Muhammadiyah Pacitan. Indonesia Email : akun. @gmail. com , septyana@isimupacitan,ac. Abstract: This study aims to analyze the effect of QurAoanic recitation habituation on studentsAo learning concentration at Madrasah Ibtidaiyah. QurAoanic recitation is not merely a religious ritual but also has pedagogical potential in fostering mental readiness, emotional stability, and learning This research employed a quantitative approach with a correlational design. The research subjects were Madrasah Ibtidaiyah students who regularly participated in QurAoanic recitation activities. Data were collected through questionnaires and classroom observations to measure the intensity of recitation and studentsAo learning concentration, and were analyzed using descriptive and inferential statistics. The findings reveal that QurAoanic recitation habituation has a positive and significant effect on studentsAo learning concentration. Structured and consistent recitation activities help create a calm psychological atmosphere, enhance cognitive readiness, and improve studentsAo ability to maintain attention during learning processes. These results indicate that QurAoanic recitation habituation can be positioned as an effective pedagogical strategy to improve learning quality in Madrasah Ibtidaiyah. ARTICLE HISTORY Received: July 2025 Revised : July 2025 Accepted : July 2025 KEYWORDS QurAoanic Madrasah Ibtidaiyah KEYWORDS pembiasaan tilawah. Al-QurAoan. Madrasah Ibtidaiyah Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembiasaan tilawah Al-QurAoan terhadap konsentrasi belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah. Tilawah Al-QurAoan tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas religius, tetapi juga memiliki potensi pedagogis dalam membangun kesiapan mental, ketenangan emosional, dan fokus belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Subjek penelitian adalah siswa Madrasah Ibtidaiyah yang secara rutin mengikuti kegiatan pembiasaan tilawah Al-QurAoan. Data dikumpulkan melalui angket dan observasi untuk mengukur intensitas tilawah dan tingkat konsentrasi belajar siswa, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan tilawah Al-QurAoan berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsentrasi belajar siswa. Tilawah yang dilakukan secara terstruktur mampu menciptakan kondisi psikologis yang tenang, meningkatkan kesiapan kognitif, serta membantu siswa memusatkan perhatian selama proses pembelajaran. Temuan ini menegaskan bahwa pembiasaan tilawah Al-QurAoan dapat dijadikan sebagai strategi pedagogis efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah. PENDAHULUAN Konsentrasi belajar merupakan fondasi utama keberhasilan pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah (MI) karena peserta didik berada pada fase perkembangan AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . operasional konkret yang sangat sensitif terhadap rangsangan internal maupun eksternal. Pada tahap ini, kemampuan memusatkan perhatian berpengaruh langsung terhadap proses pengolahan informasi, pemahaman konsep, serta pembentukan sikap belajar yang positif. Tanpa konsentrasi yang memadai, aktivitas belajar cenderung bersifat mekanis dan tidak bermakna, sehingga tujuan pembelajaran sulit tercapai secara optimal. Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang mendukung baik secara pedagogis maupun psikologis berkontribusi signifikan terhadap peningkatan fokus dan daya atensi siswa sekolah dasar(Lindemann-Matthies. Benkowitz, & Hellinger, 2. Peran guru menjadi faktor strategis dalam membangun dan menjaga konsentrasi belajar siswa MI melalui penerapan strategi pembelajaran aktif, kontekstual, dan Metode pembelajaran aktif seperti everyone is a teacher here, card sort, dan team quiz terbukti mampu meningkatkan keterlibatan siswa sekaligus mempertahankan fokus belajar mereka (Albar, 2. Dalam konteks madrasah, guru Pendidikan Agama Islam memiliki posisi kunci tidak hanya sebagai pengajar kognitif, tetapi juga sebagai pembina afektif dan spiritual. Pembiasaan kegiatan religius, penguatan kecerdasan emosional, serta penciptaan iklim kelas yang empatik berkontribusi pada stabilitas emosi siswa yang berdampak positif terhadap konsentrasi belajar (Alimni. Amin, & Kurniawan. Selain strategi pedagogis, pemanfaatan media pembelajaran dan pendekatan holistik berbasis nilai Islam juga memperkuat urgensi pengelolaan konsentrasi belajar di MI. Media berbasis teknologi seperti Augmented Reality dan permainan edukatif . mampu meningkatkan stimulasi kognitif, minat, serta fokus belajar siswa secara signifikan (Marcello. Arief, & Krisnana, 2. Lebih jauh, integrasi nilai-nilai Islam dan pendidikan karakter dalam pembelajaran baik melalui pendekatan pemecahan masalah maupun penguatan dimensi spiritual mendorong keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan spiritual siswa. Pendekatan holistik ini tidak hanya meningkatkan konsentrasi belajar, tetapi juga membentuk kepribadian peserta didik secara utuh sesuai dengan tujuan pendidikan Islam (Faqihuddin. Suresman, & Abdullah, 2. Pembiasaan tilawah Al-QurAoan di Madrasah Ibtidaiyah merupakan praktik pendidikan religius yang strategis dalam membentuk karakter spiritual, kedisiplinan, dan kebiasaan belajar religius peserta didik sejak usia dini. Tilawah tidak hanya diposisikan sebagai aktivitas ritual, tetapi sebagai proses pedagogis yang sistematis untuk menanamkan nilai-nilai keislaman melalui pembelajaran yang berulang, terstruktur, dan berkelanjutan. Praktik ini berkontribusi pada penguatan kompetensi membaca Al-QurAoan secara fasih sekaligus membangun keterikatan emosional dan spiritual siswa terhadap Al-QurAoan. Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi metode tradisional seperti talaqqi dan pembelajaran tilawah secara signifikan di madrasah (Basir. Karoso, & Saidi, 2. Dari perspektif pedagogis, pembiasaan tilawah Al-QurAoan menekankan proses pembelajaran aktif dan embodied learning yang melibatkan dimensi kognitif, afektif, dan AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . psikomotorik secara simultan. Proses pengulangan bacaan, penulisan ayat, serta interaksi intens antara guru dan siswa tidak semata-mata bertujuan pada hafalan mekanis, tetapi membentuk ketepatan, kefasihan, dan otomatisasi bacaan. Model ini memperlihatkan bahwa tilawah berfungsi sebagai sarana internalisasi nilai melalui pengalaman belajar yang hidup dan bermakna. Temuan Sabki dan Hardaker . menegaskan bahwa praktik menghafal dan membaca Al-QurAoan di madrasah berperan penting dalam membangun relasi pedagogis yang kuat serta menumbuhkan kesadaran spiritual peserta didik. Dalam konteks modern, integrasi teknologi dan manajemen pendidikan religius memperkuat efektivitas pembiasaan tilawah Al-QurAoan di Madrasah Ibtidaiyah. Penggunaan perangkat digital, seperti perangkat lunak pengecekan tajwid otomatis, membantu siswa memperoleh umpan balik secara langsung tanpa menggantikan peran guru, melainkan melengkapinya (Ibrahim. Idris. Razak, & Rahman, 2. Di sisi lain, pembiasaan tilawah juga menjadi instrumen strategis dalam internalisasi nilai-nilai keagamaan moderat, toleransi, dan akhlak mulia melalui pembinaan perilaku keseharian siswa. Pendekatan manajerial yang terstruktur memungkinkan tilawah Al-QurAoan berfungsi sebagai praktik pendidikan religius yang holistikAimengintegrasikan dimensi spiritual, moral, dan sosial dalam satu ekosistem pembelajaran madrasah (Pangastuti. Suyudi. Bahtiar. Erfansyah, & Abdullah, 2. Meskipun pembiasaan tilawah Al-QurAoan telah mengakar sebagai budaya akademik di banyak madrasah, khususnya pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah, kajian empiris yang secara spesifik menempatkan tilawah sebagai variabel determinan konsentrasi belajar siswa masih relatif terbatas. Sebagian besar penelitian terdahulu cenderung memosisikan tilawah dalam kerangka peningkatan kemampuan hafalan dan penguatan fungsi memori, bukan sebagai faktor yang diuji secara langsung terhadap fokus dan atensi belajar. Studi Dimyathi et al. , misalnya, menegaskan bahwa strategi memori dalam hafalan AlQurAoan efektif meningkatkan retensi jangka panjang, namun tidak mengaitkannya secara eksplisit dengan dimensi konsentrasi belajar dalam konteks pembelajaran kelas. Di sisi lain, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tilawah Al-QurAoan memiliki dampak psikologis dan fisiologis yang berpotensi mendukung konsentrasi belajar, meskipun belum diuji secara Penelitian neuropsikologis menemukan bahwa pemahaman dan pengulangan ayat-ayat Al-QurAoan dapat meningkatkan gelombang alfa pada otak, yang berkaitan dengan kondisi relaksasi dan ketenangan mental (Zamri & Rahman, 2. Temuan serupa juga ditunjukkan melalui penurunan hormon stres seperti kortisol dan ACTH pada individu yang mendengarkan tilawah Al-QurAoan (Aghamohamadi. Nazar Ali, & Hanachi, 2. Namun demikian, indikator-indikator tersebut masih bersifat tidak langsung, sehingga hubungan kausal antara tilawah Al-QurAoan dan konsentrasi belajar sebagai kemampuan atensi terfokus belum dapat disimpulkan secara empiris. Selain itu, perkembangan teknologi dalam pembelajaran Al-QurAoan turut memperkaya kajian, tetapi kembali belum menyentuh aspek konsentrasi belajar secara spesifik. Pemanfaatan aplikasi berbasis kecerdasan buatan dan pengenalan suara terbukti membantu proses hafalan dan AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . pembelajaran mandiri, meskipun masih memiliki keterbatasan akurasi dan kedalaman bimbingan pedagogis (Ab Alim. Wahid. Abd Zamani, & Adenan, 2. Kondisi ini mempertegas adanya research gap yang signifikan: belum adanya penelitian yang secara langsung mengukur pengaruh tilawah Al-QurAoan terhadap konsentrasi belajar siswa dengan instrumen yang terstandar. Oleh karena itu, penelitian lanjutan yang mengintegrasikan pendekatan pendidikan Islam dengan pengukuran psikologis dan neurokognitif menjadi sangat urgen untuk memperkuat dasar empiris praktik pembiasaan tilawah dalam konteks pembelajaran madrasah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara empiris pengaruh pembiasaan tilawah Al-QurAoan terhadap konsentrasi belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah, serta mengisi kesenjangan kajian yang selama ini lebih menitikberatkan pada aspek hafalan, relaksasi psikologis, dan penggunaan teknologi dalam pembelajaran Al-QurAoan. Penelitian ini bertujuan mengukur secara langsung hubungan antara intensitas dan kualitas tilawah Al-QurAoan dengan tingkat konsentrasi belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga dapat memberikan dasar ilmiah yang lebih komprehensif bagi pengembangan praktik pendidikan religius di madrasah. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan dapat memperkuat landasan teoretis dan empiris pembiasaan tilawah Al-QurAoan sebagai strategi pedagogis yang berkontribusi nyata terhadap peningkatan fokus belajar dan kualitas proses pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional untuk menganalisis pengaruh pembiasaan tilawah Al-QurAoan terhadap konsentrasi belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan mengukur hubungan empiris antara variabel pembiasaan tilawah Al-QurAoan sebagai variabel independen dan konsentrasi belajar siswa sebagai variabel dependen secara objektif dan Penelitian dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah yang telah menerapkan pembiasaan tilawah Al-QurAoan sebagai bagian dari rutinitas pembelajaran harian. Subjek penelitian adalah siswa Madrasah Ibtidaiyah yang dipilih menggunakan teknik sampling purposive, dengan kriteria siswa yang secara rutin mengikuti kegiatan tilawah Al-QurAoan di madrasah. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen angket dan lembar observasi. Angket digunakan untuk mengukur intensitas dan kualitas pembiasaan tilawah Al-QurAoan serta tingkat konsentrasi belajar siswa, sedangkan observasi dilakukan untuk memperkuat data empiris terkait perilaku fokus dan perhatian siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Instrumen penelitian terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya untuk memastikan keakuratan data. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan profil pembiasaan tilawah Al-QurAoan dan tingkat konsentrasi belajar siswa, sementara analisis inferensial melalui uji AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . korelasi atau regresi sederhana digunakan untuk mengetahui besaran dan signifikansi pengaruh pembiasaan tilawah Al-QurAoan terhadap konsentrasi belajar. Hasil analisis diinterpretasikan untuk memberikan kesimpulan empiris serta rekomendasi pedagogis bagi penguatan praktik pembiasaan religius dalam pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Pembiasaan Tilawah Al-QurAoan terhadap Konsentrasi Belajar Siswa Madrasah Ibtidaiyah Pembiasaan tilawah Al-QurAoan sebelum kegiatan pembelajaran dapat dipahami sebagai stimulus awal yang efektif dalam meningkatkan atensi belajar siswa. Tilawah berfungsi sebagai mental warm-up yang mempersiapkan kondisi psikologis dan kognitif peserta didik sebelum memasuki aktivitas akademik. Penelitian berbasis neuropsikologis menunjukkan bahwa aktivitas membaca dan mendengarkan Al-QurAoan mampu memengaruhi gelombang otak, khususnya peningkatan aktivitas alfa frontal yang berkaitan dengan kondisi emosional positif dan kesiapan kognitif anak (Syaifulloh et al. , 2. Kondisi emosional yang stabil dan positif ini menjadi fondasi penting bagi terbentuknya fokus dan konsentrasi belajar yang optimal. Dari aspek afektif, tilawah Al-QurAoan terbukti berkontribusi signifikan dalam menurunkan tingkat kecemasan siswa. Beberapa studi empiris menunjukkan bahwa paparan lantunan ayat suci Al-QurAoan sebelum aktivitas akademik dapat mereduksi kecemasan pra-belajar dan pra-ujian, baik pada tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi (Abadi. Ghorbani. Mahdavi-Nejad, & Miladi-Gorji, 2. Penurunan kecemasan ini berimplikasi langsung pada peningkatan atensi, karena kondisi emosional yang tenang memungkinkan siswa memusatkan perhatian secara lebih efektif terhadap materi pembelajaran. Dengan demikian, tilawah berfungsi sebagai mekanisme regulasi emosi yang menciptakan iklim belajar yang kondusif. Selain itu, tilawah Al-QurAoan juga berperan dalam pengelolaan beban kognitif . ognitive load managemen. Aktivitas membaca dan menghafal ayat Al-QurAoan melibatkan proses atensi berkelanjutan, memori kerja, serta pengulangan terstruktur, yang selaras dengan prinsip penguatan kapasitas kognitif siswa (Parveen, 2. Ketika dilakukan secara rutin, tilawah membantu siswa bertransisi dari kondisi kognitif acak menuju kondisi fokus terarah, sehingga kesiapan mental untuk menerima informasi akademik meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa tilawah tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki nilai pedagogis yang kuat. Dari perspektif motivasional, tilawah Al-QurAoan mampu meningkatkan motivasi intrinsik siswa dalam belajar. Keterlibatan spiritual yang bermakna mendorong rasa senang, keterikatan emosional, dan nilai personal terhadap aktivitas belajar, yang pada akhirnya memperkuat atensi dan ketekunan siswa (Hanafi et al. , 2. Program-program pendidikan yang mengintegrasikan tilawah dan tahfiz, seperti Plus Tahfiz Programme, juga AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . menunjukkan dampak positif terhadap fokus dan performa akademik siswa ketika didukung oleh lingkungan belajar yang kondusif (Awang. Jalil. Satari, & Ahmad, 2. Dengan demikian, intensitas tilawah Al-QurAoan dapat diposisikan sebagai strategi pedagogis berbasis nilai religius yang efektif dalam meningkatkan atensi belajar secara holistic emosional, kognitif, dan motivasional. Kualitas tilawah Al-QurAoan merupakan faktor penting dalam menciptakan ketenangan mental siswa selama proses pembelajaran. Kualitas ini tidak hanya ditentukan oleh aktivitas membaca semata, tetapi mencakup ketepatan tartil, suasana yang tenang, serta pendampingan guru yang konsisten. Penerapan metode tilawah yang memperhatikan kefasihan bacaan, makhArij al-uurf, dan kaidah tajwid terbukti mampu meningkatkan kualitas hafalan sekaligus membentuk kondisi psikologis yang lebih stabil pada peserta didik (Kurniailah & Bakar, 2. Ketika siswa membaca Al-QurAoan secara tartil dan terstruktur, proses kognitif dan afektif berjalan lebih selaras, sehingga tercipta kesiapan mental yang mendukung fokus dan ketenangan belajar. Selain aspek teknis bacaan, ketenangan suasana belajar yang dibangun melalui komunikasi guru yang efektif berperan signifikan dalam stabilitas mental siswa. Dimensi komunikasi guru yang meliputi sikap ramah, empatik, serta komunikasi verbal dan nonverbal yang positif terbukti mampu menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan menenangkan (Hanafi. Murtadho. Hassan. Ikhsan, & Diyana, 2. Integrasi nilai-nilai AlQurAoan dalam berbagai mata pelajaran juga memberikan dampak psikologis positif, karena siswa merasa pembelajaran lebih bermakna dan tidak menekan secara emosional (Ahmad & Tasni, 2. Lingkungan belajar yang tenang ini berfungsi sebagai buffer terhadap stres akademik dan membantu siswa mempertahankan kestabilan emosi selama proses pembelajaran berlangsung. Pendampingan guru dalam kegiatan tilawah menjadi elemen kunci yang menguatkan ketenangan mental siswa. Guru tidak hanya berperan sebagai pengawas bacaan, tetapi juga sebagai figur pendukung emosional yang memberikan rasa aman dan kepercayaan diri kepada siswa (Alwi & Badaruddin, 2. Dukungan pedagogis yang berkelanjutan membantu siswa mengelola tekanan belajar dan mencegah stres berlebih, sebagaimana ditegaskan dalam studi tentang kualitas lingkungan belajar dan manajemen stres akademik (Alotiby et al. , 2. Prinsip pendidikan klasik Al-Zarnj juga menekankan bahwa ketenangan mental, kesabaran, dan pendampingan guru merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan belajar yang berkualitas. Dengan demikian, kualitas tilawah yang baik dapat dipahami sebagai praktik pedagogis holistik yang berkontribusi langsung terhadap stabilitas mental dan efektivitas pembelajaran siswa. Tabel 1. Kualitas Tilawah dan Ketenangan Mental Siswa AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Aspek Indikator Utama Kefasihan bacaan. Tartil Tilawah makhArij al-uurf. Komunikasi guru Ketenangan yang empatik dan Suasana Supervisi, motivasi. Pendampingan dan dukungan Guru Manajemen Lingkungan belajar Stres Stabilitas Kesabaran dan Emosional komitmen belajar Kontribusi terhadap Sumber (APA) Ketenangan Mental Membantu fokus, menurunkan Kurniailah & kesalahan, meningkatkan Bakar . stabilitas emosi Hanafi et al. Mengurangi tekanan . Ahmad et psikologis dan stres akademik Meningkatkan rasa aman dan Alwi et al. kepercayaan diri siswa Menjaga stabilitas mental dan Alotiby et al. mencegah burnout Menciptakan ketenangan dan Huda et al. konsistensi belajar Pembiasaan tilawah Al-QurAoan dapat diposisikan sebagai praktik pedagogis strategis dalam membangun kesiapan belajar siswa, bukan sekadar aktivitas religius rutin. Kesiapan belajar mencakup kesiapan kognitif, afektif, dan motivasional, yang semuanya dapat distimulasi melalui metode tilawah yang terstruktur. Penerapan metode Tilawati, misalnya, terbukti meningkatkan kemandirian belajar dan kepercayaan diri siswa melalui pendekatan sistematis, evaluatif, serta interaksi sosial antarsiswa (Herlina. Rahman. Nufus. Handrianto, & Masoh, 2. Kemandirian dan rasa percaya diri tersebut menjadi indikator penting kesiapan belajar, karena siswa lebih siap secara mental dan akademik untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran selanjutnya. Dari perspektif kognitif, pembiasaan tilawah dengan strategi pengulangan . epetitive recitatio. dan pembelajaran kolaboratif berkontribusi pada penguatan memori kerja, ketepatan fonetik, serta daya retensi jangka panjang siswa. Aktivitas membaca AlQurAoan secara berulang dan terarah melatih fokus atensi serta kemampuan memproses informasi secara sistematis, yang merupakan prasyarat utama kesiapan bela (Basir et al. (Dimyathi. Thabrani. Syairozi, & Wibowo, 2. Selain itu, pembelajaran kooperatif dalam kegiatan tilawah mendorong interaksi bermakna dan keterlibatan aktif siswa, sehingga proses belajar tidak bersifat pasif, melainkan membangun kesiapan mental untuk menerima materi akademik yang lebih kompleks (Karman. Anwar, & Hakim, 2. Integrasi teknologi dalam pembiasaan tilawah semakin memperkuat fungsinya sebagai strategi pedagogis modern. Pendekatan blended learning, termasuk model flipped classroom dan penggunaan aplikasi digital hafalan Al-QurAoan, terbukti meningkatkan motivasi, keterlibatan, serta efektivitas belajar siswa (Mujib & Marhamah, 2. Dukungan teknologi memungkinkan siswa melakukan persiapan belajar secara mandiri sebelum pembelajaran formal dimulai, sehingga kesiapan belajar meningkat baik dari sisi penguasaan materi maupun kesiapan psikologis. Dengan demikian, pembiasaan tilawah AlQurAoan dapat dipahami sebagai praktik pedagogis integratif yang menyatukan dimensi AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . religius, kognitif, dan teknologi dalam membangun kesiapan belajar siswa secara Implikasi Pembiasaan Tilawah Al-QurAoan sebagai Strategi Pedagogis dalam Pembelajaran Madrasah Integrasi tilawah Al-QurAoan dalam rutinitas akademik berperan strategis dalam membangun lingkungan belajar yang kondusif, khususnya melalui penciptaan suasana kelas yang tenang dan terfokus sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Tilawah yang dilaksanakan secara terstruktur berfungsi sebagai psychological warm-up yang membantu menurunkan ketegangan emosional, meningkatkan ketenangan batin, serta memusatkan perhatian siswa pada aktivitas belajar. Praktik ini sejalan dengan tradisi pedagogi Al-QurAoan yang menekankan ketenangan, adab, dan kesiapan mental sebagai prasyarat utama efektivitas belajar (Basuhail, 2. Dalam konteks madrasah, suasana kelas yang stabil secara emosional menjadi fondasi penting bagi peningkatan konsentrasi dan keterlibatan kognitif siswa dalam proses pembelajaran formal. Selain menciptakan ketenangan, pembiasaan tilawah juga berkontribusi pada peningkatan kesiapan mental dan kemandirian belajar siswa. Rutinitas tilawah yang konsisten membantu siswa melakukan transisi yang lebih halus dari aktivitas nonakademik meningkatkan fokus belajar. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode tilawah yang sistematis, seperti metode Tilawati, tidak hanya meningkatkan kualitas bacaan AlQurAoan, tetapi juga membangun disiplin, rasa percaya diri, dan otonomi belajar siswa (Herlina et al. , 2. Dengan demikian, tilawah tidak semata-mata berfungsi sebagai aktivitas religius, melainkan sebagai instrumen pedagogis yang memperkuat kesiapan psikologis dan regulasi diri siswa dalam lingkungan belajar. integrasi tilawah dalam rutinitas akademik mencerminkan pendekatan pendidikan holistik yang menggabungkan dimensi religius dan humanistik secara seimbang. Praktik ini berkontribusi pada pembentukan iklim sekolah yang positif, berkarakter, dan berorientasi pada pengembangan kepribadian siswa secara menyeluruh. Studi di madrasah Indonesia menunjukkan bahwa penguatan dimensi religius melalui kegiatan kolektif seperti tilawah dan doa bersama mampu meningkatkan kualitas interaksi sosial, sikap saling menghormati, serta stabilitas moral siswa (Shofiyati & Subiyantoro, 2. Oleh karena itu, integrasi tilawah dalam rutinitas akademik tidak hanya memperkuat konsentrasi belajar, tetapi juga menjadi strategi efektif dalam membangun lingkungan pendidikan yang kondusif, bermakna, dan berkelanjutan. Tilawah Al-QurAoan dalam konteks pembelajaran tidak dapat dipahami semata sebagai aktivitas ritual keagamaan, melainkan sebagai pendekatan holistik yang mengintegrasikan dimensi spiritual, psikologis, dan kognitif peserta didik secara simultan. Dalam perspektif pendidikan holistik, dimensi spiritual berfungsi sebagai sumber makna, orientasi nilai, dan koherensi batin yang membimbing proses belajar secara lebih AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . mendalam (Wickett, 2. Tilawah menghadirkan ruang reflektif yang memungkinkan siswa membangun hubungan transendental, memperkuat kesadaran diri, serta menanamkan nilai moral dan etika sebagai fondasi pembelajaran. Integrasi dimensi spiritual ini menjadi penting karena pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif cenderung menghasilkan proses belajar yang terfragmentasi dan miskin makna Dari sisi psikologis, pembiasaan tilawah berkontribusi pada stabilitas emosi, pengelolaan stres, serta penguatan kesehatan mental yang mendukung efektivitas belajar. Pendidikan holistik menempatkan kesejahteraan emosional dan kesadaran diri sebagai prasyarat berkembangnya kemampuan kognitif yang optimal (Velmurugan. Jothi. Sudarvel, & Thirumalaisamy, 2. Praktik tilawah yang dilakukan secara rutin dapat berfungsi sebagai mekanisme regulasi emosi dan peningkatan fokus, sekaligus menumbuhkan kecerdasan emosional dan sikap reflektif siswa. Selain itu, pengalaman belajar yang mengintegrasikan aspek afektif dan spiritual terbukti mendorong berkembangnya kebijaksanaan praktis dan dimensi etis-eksistensial peserta didik, bukan sekadar akumulasi pengetahuan akademik (Lyhteenkorva. Tynjyly, & Kallio, 2. Pada dimensi kognitif, tilawah berperan sebagai penguat kesiapan mental dan metakognisi yang mendukung proses berpikir tingkat tinggi. Pendidikan holistik tidak meniadakan fungsi kognitif, tetapi menempatkannya dalam relasi yang saling melengkapi dengan aspek afektif dan spiritual (Buchanan & Hyde, 2. Dalam kerangka pembelajaran transformatif, integrasi ketiga dimensi tersebut memungkinkan terjadinya pembelajaran yang lebih mendalam dan bermakna, karena siswa tidak hanya memahami materi secara intelektual, tetapi juga menginternalisasikannya dalam kesadaran dan tindakan nyata (Papastamatis & Panitsides, 2. Dengan demikian, tilawah Al-QurAoan dapat diposisikan sebagai instrumen pedagogis integral yang memperkuat pembelajaran transformatif dan pengembangan manusia seutuhnya dalam sistem pendidikan Islam. Pembiasaan tilawah Al-QurAoan secara berkelanjutan di madrasah memiliki peran strategis dalam penguatan pendidikan karakter dan pembentukan budaya akademik Islami. Aktivitas tilawah yang terjadwal dan konsisten menuntut kedisiplinan, komitmen, serta kepatuhan terhadap aturan waktu dan tata tertib, sehingga secara simultan melatih karakter disiplin dan tanggung jawab siswa. Penelitian menunjukkan bahwa program tahfiz dan tilawah yang terstruktur tidak hanya meningkatkan kemampuan keagamaan, tetapi juga membentuk etos belajar yang konsisten dan berorientasi pada proses, yang berdampak positif pada sikap akademik siswa (Awang et al. , 2. Dalam konteks ini, tilawah berfungsi sebagai instrumen pedagogis yang menanamkan nilai karakter melalui praktik nyata, bukan sekadar melalui transfer pengetahuan normatif. Selain aspek kedisiplinan, tilawah Al-QurAoan juga berkontribusi signifikan terhadap pembentukan ketenangan batin dan sikap religius siswa, yang menjadi fondasi penting budaya akademik Islami. Rutinitas tilawah yang dilaksanakan secara kolektif mampu menciptakan iklim madrasah yang kondusif, harmonis, dan sarat nilai spiritual, sehingga AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . mendukung stabilitas emosional serta fokus belajar siswa. Studi di madrasah Indonesia menegaskan bahwa integrasi dimensi religius dalam praktik pendidikan, termasuk tilawah dan doa bersama, berperan dalam memperkuat kepribadian siswa, menumbuhkan kesadaran moral, serta membangun budaya akademik yang berlandaskan nilai-nilai Islam (Shofiyati & Subiyantoro, 2. Dengan demikian, tilawah tidak hanya memperkuat religiositas individual, tetapi juga membentuk habitus kolektif yang mencerminkan identitas madrasah sebagai institusi pendidikan Islam. pembiasaan tilawah berimplikasi pada penguatan karakter tanggung jawab dan akuntabilitas siswa melalui internalisasi nilai religius yang mendalam. Keterlibatan intens dengan Al-QurAoan mendorong berkembangnya internal locus of control, yakni kesadaran bahwa keberhasilan dan kegagalan belajar merupakan tanggung jawab personal yang harus diupayakan secara sungguh-sungguh dengan landasan iman kepada Allah (Libdah & Yusof. Integrasi model pendidikan karakter berbasis nilai sufistik dan kisah-kisah QurAoani juga terbukti efektif dalam meningkatkan perilaku positif dan kepekaan etis siswa. Oleh karena itu, pembiasaan tilawah Al-QurAoan dapat diposisikan sebagai pilar utama dalam penguatan pendidikan karakter dan budaya akademik Islami yang berkelanjutan di madrasah, dengan menekankan keseimbangan antara dimensi spiritual, moral, dan KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembiasaan tilawah Al-QurAoan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap konsentrasi belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah. Tilawah yang dilakukan secara rutin dan terstruktur mampu menciptakan ketenangan emosional, meningkatkan kesiapan kognitif, serta membantu siswa memusatkan perhatian sebelum dan selama proses pembelajaran. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa tilawah Al-QurAoan tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki nilai pedagogis yang strategis dalam mendukung efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, pembiasaan tilawah Al-QurAoan perlu dikelola secara sistematis sebagai bagian dari budaya akademik Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan desain eksperimen atau mengintegrasikan pengukuran neuropsikologis agar hubungan kausal antara tilawah Al-QurAoan dan konsentrasi belajar dapat dikaji secara lebih mendalam dan komprehensif. DAFTAR PUSTAKA