PEMIKIRAN PENDIDIKAN AT-TAHTHAWI Bobi Erno Rusadi1. Dairina Yusri2 Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dosen STAI Sumatera Medan Jln. Ir H. Juanda No. Tangerang Selatan, dan Jln. Sambiu No. 64 Medan email: bobiernouinjkt@gmail. com dan dairinayusri123@gmail. Abstract: Al-Thahthawi's educational thought was motivated by his existence as a reformer in Egypt at that time. Al-Thahthawi made updates on all fields in Egypt, and one of them was in the field of education. Education is carried out not only for men, but also for women. And this education is done not only to broaden knowledge, but also to instill personality and instill a spirit of As for some of his thoughts. The purpose of education according to al-Thahthawi is for the formation of personality, not only, not only for Thinking about the curriculum that in addition to religious studies should also include modern sciences so that they can adapt the Shari'a to the needs of their time. Keywords: Education. Curriculum. Modern. PENDAHULUAN Pengaruh pembaratan yang berlangsung sejak akhir abad ke -17 atau awal abad ke18 mulai disadari oleh para intelektual di negara-negara Islam menjelang akhir abad ke-19. Di bidang pendidikan, pengaruh pembaratan itu tampaknya telah meninggalkan bekas yang cukup mendalam di negara-negara Islam. Sehingga ketika negara-negara Islam yang satu per satu terlepas dari kekuasaan kolonial dan menjadi negara yang berdaulat, masalah ini merupakan bagian yang paling banyak dijadikan pembicaraan, terutama di kalangan tokoh-tokoh pemikirnya. (Jalaluddin dan Usman, 1999: . Para pemimpin dan pemikir Islam yang berusaha mengembangkan pamor Islam setelah mengalami kemerosotan selama berada di bawah kekuasaan negara-negara Barat dihadapkan pada dilema. Tujuan yang diarahkan kepada upaya untuk membalas tantangan Barat itu menurut beberapa pengamat sejarah berkisar pada dua masalah pokok, yaitu: . umat Islam harus menemukan sumber kekuatan Barat dan merekamnya untuk memperkuat masyarakat sendiri. umat Islam harus bersatu dalam melawan kekuasaan Barat. (Jalaluddin dan Usman, 1999:147-. Walaupun tidak persis benar, namun dilema tersebut membekas pada pemikiran dalam bidang pendidikan di negaranegara Islam di abad modern hingga sekarang. Salah satu tokoh pemikir pada abad modern yaitu al-Thahthawi. Dalam tulisan ini, penulis akan menguraikan sosok al-Thahthawi dimulai dari biografinya, latar belakang politik, sosial, dan intelektual, karir dan karyanya, serta buah pemikirannya dalam bidang PEMBAHASAN Biografi dan Latar Belakang Sosial. Politik, dan Intelektual Al-Thahthawi RifaAoah Badhawi RafiAo al-Thahthawi . ering disebut al-Thahthaw. , lahir di Thahta pada tahun 1801 H dari keluarga yang nasabnya sampai kepada JaAofar Shadiq Ibn Muhammad al-Baqir Ibn Ali Zain al-AoAbidin Ibn al-Husain Ibn BidhAoah Thahirah Fathimah az-Zahra binti Rasulullah SAW. (An-Najar, 1987: . Pada masa kecilnya, ia telah belajar Jurnal Al-Fikru Thn. Xi. No. Juli Ae Desember 2019 A ISSN 1978-1326 Al-Quran dan menghafalnya di bawah bimbingan ayahnya sendiri. Pendidikan agama ia terima dari saudara-saudara ibunya menurut tradisi di lingkungannya. Kemudian meneruskan sekolahnya di al-Azhar. Di sana ia belajar selama lima tahun dengan sistem belajar dan kurikulum yang masih tradisional. Salah seorang gurunya adalah al-Syaikh Hasan al-Attar. Al-Thahthawi adalah murid kesayangan al-Syaikh Hasan al-Attar. Menurutnya, alThahthawi adalah murid yang pintar dan menyenangi ilmu pengetahuan modern yang pada masa itu tidak diajarkan di al-Azhar, kecuali diajarkan oleh al-Attar untuk alThahthawi sendiri. Melihat ketekunan dan ketajaman pikiran al-Thahthawi, beliau banyak memberi dorongan kepadanya untuk senantiasa menambah ilmu pengetahuan. Selama belajar di al-Azhar di bawah bimbingan al-Attar, al-Thahthawi sudah mulai mengetahui kemunduran-kemunduran di al-Azhar dan di dalam masyarakat Mesir sendiri. Dari sejarah ia mengetahui bahwa umat Islam pernah maju dalam peradabannya, bahkan sampai di masanya Mesir masih disebut-sebut AuUmm al-DunyaAy, pusat ilmu pengetahuan dan peradaban dunia. (Rusli, 2013: . Al-Thahthawi melihat bahwa dunia Islam memang unggul dalam ilmu-ilmu syariat dan akal, tetapi sudah melupakan ilmu-ilmu alam, matematika, metafisika, dan falsafah. Sedangkan Barat sudah mencapai tingkat kemajuan yang tinggi dalam ilmu-ilmu yang tergolong sains dan teknologi. Menurut al-Thahthawi, untuk mengatasi kemunduran itu, umat Islam harus menguasai ilmu-ilmu yang sudah maju di Barat itu. Jalan untuk itu tidak ada lain kecuali melalui pendidikan dan pengajaran, membina generasi yang dinamis dan berpikir maju. (Ismail, 2010: . Hal senada juga dijelaskan Said Ismail Ali, bahwa perlu diperhatikan, al-Thahthawi menyadari sepenuhnya tentang pentingnya Aupendidikan seniAy . l-taAolim al-fann. yang diungkapkan al-Thahthawi dengan istilah Auseni dan teknologiAy . l-funun wa al shinaAoa. Tanpa ilmu-ilmu ini, ilmu-ilmu agama tak akan sempurna. Sesungguhnya al-funun dan alshinaAoat adalah poros bagi keberaturan kekuasaan dan kebagusan bangsa-bangsa dan individu-individu. (Ramayulis dan Nizar, 2010: . Setelah selesai sekolah di al-Azhar, ia dikirim Muhammad Ali Pasya ke Perancis. Paris, ia belajar bahasa Perancis yang dalam waktu singkat dapat ia kuasai dengan baik. Dengan kemampuan tersebut, ia membaca dan mempelajari buku-buku sejarah, filsafat Yunani, ilmu hitung, logika, dan bahkan pemikiran para pemikir bangsa Perancis abad ke19, seperti Voltain. Condillac. Rouseau, dan Montesque. (Ramayulis dan Nizar, 2010: . Di samping banyak membaca juga menerjemahkan dan selama di Paris sudah diterjemahkannya sebanyak 12 buku tentang ilmu teknik, geografi, ilmu kemiliteran, sejarah dunia kuno, sejarah abad pertengahan dan raja-raja Perancis, dan sebuah buku tentang para filosof Yunani, kesehatan, dan sebagainya. (RisAoan, 2013: . Kemahiran al-Thahthawi dalam menerjemah tersebut sebenarnyaAimenurut Hourani sebagaimana dikutip RusliAimempunyai dua dimensi kepentingan. Satu segi untuk dapat mengalihkan sains dan teknologi yang sudah lebih maju di Barat ke Mesir supaya umat Islam menjadi maju pula seperti di Barat itu. Kepentingan ini sejak semula sudah dimotivasi oleh gurunya al-Syaikh al-Attar sebelum keberangkatannya ke Paris. (Ramayulis dan Nizar: . Kemajuan Barat, menurut al-Thahthawi tidaklah merupakan Kebangkitan Perancis dan Eropa bukan untuk kekuatan politik dan ekspansi, melainkan semata-mata demi ilmu pengetahuan dan kemajuan di bidang materi. Mesir harus mengambil pengetahuan modern tersebut karena pengetahuan Barat itu pada mulanya adalah pengetahuan Islam. Jadi berarti Mesir mengambil kembali kepunyaan Caranya yang terbaik adalah melalui pergaulan atau mengundang mereka datang ke Mesir untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang mereka miliki. (Ramayulis, 2011: . 94 | Pemikiran Pendidikan At-Tahthawi Jurnal Al-Fikru Thn. Xi. No. Juli Ae Desember 2019 A ISSN 1978-1326 Pada segi lain adalah kepentingan Perancis yang ingin mengembangkan bahasa dan kebudayaannya di dunia dan menjadikan Perancis sebagai pusat ilmu pengetahuan. Untuk kepentingan inilah, seorang ilmuan dari anggota ekspedisi Napoleon dan menjadi pimpinan mahasiswa-mahasiswa utusan Muhammad Ali Pasya ke Paris, bernama Monsiur Gomer mendorong al-Thahthawi untuk mempelajari bahasa Perancis dan terjemahan, dan memandangnya kelak sebagai perpanjangan tangan Perancis ke dunia Timur yang dapat mengimbangi kekalahannya di bidang politik dan militer dalam persaingannya dengan negara-negara lainnya di dunia internasional. (Rusli, 2011, . Karir Al-Thahthawi Albert Hourani menjelaskan sebagaimana dikutip Charles Kurzman bahwa alThahtawi belajar selama tujuh tahun di mesjid terkenal al-Azhar, di mana penasehatnya menunjuknya untuk bertindak menjadi seorang pemimpin agama bagi utusan pelajar ke Paris. Al-Thahtawi berada di Perancis dari tahun 1826 sampai tahun 1831, belajar bahasa Perancis, dan menjadi utusan penerjemah utama. (Kurzman, 2002: . Di Paris, ia menjalankan tugas di sana sebagai imam mahasiswa selama lima tahun, tetapi kesempatan tersebut juga ia pergunakan untuk menambah ilmu pengetahuannya. Dalam waktu singkat bahasa Perancis ia kuasai. Kemampuannya berbahasa Perancis membuat peluang baginya secara luas membaca dan mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan Barat tentang sejarah Eropa kuno, sejarah kehidupan Napoleon, puisi Perancis, terutama buku-buku tulisan pemikir Perancis abad ke-18, di antaranya karya-karya tulis Voltain. Rousseau, dan Montesquieu. (Kurzman, 2002: . Ketika dia kembali ke Mesir, al-Thahtawi langsung ke Sekolah Kedokteran, lantas ia bekerja menjadi penerjemah Sekolah Artileri. Pada tahun 1835, ia pindah ke Sekolah Bahasa Asing, gagasan darinya, yang mana memproduksi seribu terjemahan yang berada pada beragam objek kajian. (Kurzman, 2002: . Pada tahun 1836. Sekolah Penerjemah ini ditingkatkan menjadi Sekolah Bahasa-bahasa Asing. Di sini dipelajari penerjemahan ArabPerancis sebagai mata pelajaran pokok, di samping bahasa-bahasa Turki. Itali. Persia dan Inggris dan ditambah dengan pelajaran ilmu teknik, aljabar, sejarah, dan geografi. (Rusli, 2011, . Kemudian semenjak tahun 1844, sekolah ini berkembang menyerupai universitas yang membawahi berbagai Jurusan dan Fakultas-Fakultas Adab. Hukum dan Dagang. Semenjak mulai berdirinya sekolah ini dipimpin oleh al-Thahthawi, di samping ia mengajar dan meneliti buku-buku yang diterjemahkan oleh murid-muridnya dibantu oleh tenagatenaga guru asing dan Mesir. Penerjemahan yang dilaksanakan di bawah pimpinannya di sekolah ini mencapai hampir 2000 buah buku. Pada masa Abbas Pasya. Sekolah Bahasabahasa asing tersebut ditutup dan al-Thahthawi dipindahkan ke Sudan untuk memimpin sekolah dasar di sana. Menurut Kurzman terjadi perselisihan antara al-Thahthawi dengan Khediv Abbas . emerintah tahun 1848-1. , sebagai akibatnya ia diasingkan ke Sudan, dan hanya dapat kembali 4 tahun setelahnya, setelah Abbas wafat. Dia kemudian mengambil jabatan direktur pada Sekolah Militer dan juga berpartisipasi pada beberapa jabatan pendidikan. Al-Tahtawi juga bekerja sebagai editor surat kabar dan jurnal Selain itu. Rusli . 1: . menjelaskan bahwa selain penerjemahan dan memimpin sekolah-sekolah, al-Thahthawi juga aktif dalam karang mengarang. Tulisan-tulisannya banyak dimuat dalam surat kabar resmi Mesir AuAl-WaqaAoi Al-MishriyaAy dan majalah AuRaudhat al-MadarisAy yang bertujuan menyebarkan ilmu pengetahuan dan kemajuan Barat. Berdasar penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa al-Thahthawi mengawali karirnya sebagai pemimpin bagi para mahasiswa, kemudian menjadi penerjemah, dan dilanjutkan dengan menjadi direktur pada suatu lembaga pendidikan. Selain itu, al- Bobi Erno Rusadi. Dairina Yusri . Jurnal Al-Fikru Thn. Xi. No. Juli Ae Desember 2019 A ISSN 1978-1326 Thahthawi juga dikenal sebagai penulis, yang telah membuahkan karya-karya monumental yang akan dijelaskan pada penjelasan berikutnya. Karya Monumental Al-Thahthawi Al-Thahthawi selain sebagai seorang penerjemah . , ia juga menbuahkan beberapa karya, di antaranya adalah: (Jalaluddin dan Usman, 1999:152-. Takhlis al-Ibris fi Akhbar Bariz, melalui kitab ini, ia menyampaikan kepada masyarakat Mesir bagaimana kehidupan demokrasi yang ada di masyarakat Perancis, khususnya kota Paris, sebagai bahan banding bagi kehidupan Mesir yang otoriter. Ia berupaya menyadarkan masyarakat Mesir bahwa dengan kehidupan yang demokratis . alaupun bukan musli. , masyarakat Paris dapat meningkatkan kualitas hidup mereka melalui pengetahuan, keterampilam serta sikap hidup yang mereka miliki. Dengan demikian, bangsa Mesir yang belum maju diharapkan dapat mencontoh kemajuan masyarakat Paris. Manahij al Adab al-Mishriyyat fi Manahij al-Adab al-Ashriyyat, buku ini memuat ide-ide pembaharuannya dalam bidang perekonomian. Buku ini disusunnya dengan tujuan untuk mendorong masyarakat Mesir untuk menumbuh-kembangkan perekonomian yang didasarkan atas fungsi dan peranan agama. Menurutnya, masyarakat manusia mempunyai tujuan, yaitu menjalankan perintah Allah dan mencari kesejahteraan hidup di dunia. Kesejahteraan hidup yang dimaksud adalah kesejahteraan. Kesejahteraan akan dapat tercapai melalui tiga cara, yaitu: berpegang kepada ajaran agama, berbudi pekerti yang baik, dan memiliki kemajuan di bidang ekonomi. Al-Qaul al-Shadiq fi al-Ijtihada wa al-Taqlid dan Anwar al-Taufiq al-Jalil fi Akhbar Mishr wa Tautsiq Bani IsmaAoil, dalam buku ini memuat anjurannya untuk melakukan ijtihad guna kemajuan Mesir. Ia berpendapat bahwa usaha untuk menyesuaikan syariat dengan keadaan-keadaan yang baru merupakan hal yang penting. Hukum-hukum Islam harus diberikan interpretasi baru sesuai dengan tuntutan kehidupan modern. Hal ini dilakukan agar ulama mengerti dunia modern dan dapat menyesuaikan syariat dengan kebutuhan masyarakat modern. Umat Islam harus bersifat dinamis dan meninggalkan sifat statis. Al-Mursyid al-Amin lil Banat wa al-Banin, dalam buku ini al-Thahthawi memberikan tuntunan dalam hal memberikan pendidikan bagi anak. (Jalaluddin dan Usman, 1999: Pemikiran Pendidikan Al-Thahthawi Adapun ide-ide pemikiran kependidikannya ia tulis dalam buku al-Mursyid al-Amin lil banat wa al-Banin . edoman tentang pendidikan ana. Beberapa pemikiran alThahthawi tentang pendidikan, di antaranya: Tujuan Pendidikan Tujuan pendidikan menurut al-Thahthawi adalah untuk pembentukan kepribadian, tidak hanya, tidak hanya untuk kecerdasan. Lebih daripada itu, tujuan pendidikan juga berupaya menanamkan rasa patriotisme . ubb al-watha. Patriotisme merupakan dasar utama yang membawa seseorang untuk membangun masyarakat maju. Wacana patriotisme yang dimaksudkan al-Thahthawi adalah cinta pada tumpah darah yaitu Mesir, bukan seluruh dunia Islam. (Ramayulis dan Nizar: . Penjelasan di atas terdapat dalam kitab al-Mursyid al-Amin lil Banat wa al-Banin sebagaimana dikutip Hasan Asari bahwa al-Thahthawi menegaskan bahwa pendidikan harus ditujukan tidak sekedar untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada generasi muda, tetapi juga membentuk suatu kepribadian. Pendidikan harus menanamkan perlunya 96 | Pemikiran Pendidikan At-Tahthawi Jurnal Al-Fikru Thn. Xi. No. Juli Ae Desember 2019 A ISSN 1978-1326 kesehatan fisik, perlunya nilai-nilai keluarga, persahabatan, dan paling penting patriotisme . ubb al-watha. (Asari, 2007: . Kurikulum Jamaluddin dan Said . 9: 148-. menjelaskan bahwa dalam pandangan AlThahthawi kurikulum untuk tingkat pendidikan dasar terdiri dari atas mata pelajaran membaca, menulis yang sumbernya adalah Alquran, yaitu nahu dan dasar-dasar berhitung. Kurikulum sekolah tingkat menengah . terdiri atas: pendidikan jasmani dan cabang-cabangnya, ilmu bumi, sejarah, mantiq, biologi . oology, botani dan genolog. , fisika, kimia, manajemen, ilmu pertanian, mengarang, peradaban, dan sebagian bahasa asing yang bermanfaat bagi negara. Sedangkan kurikulum untuk tingkat menengah atas (Aoaliya. mata pelajaran terdiri atas mata pelajaran kejuruan. Mata pelajaran tersebut diberikan secara mendalam yang meliputi: fikih, kedokteran, ilmu bumi, dan sejarah. Lebih jauh al-Thahthawi menganjurkan bahwa para ulama sebaiknya menguasai ilmu-ilmu pengetahuan modern agar mereka dapat menyesuaikan syariat dengan kebutuhankebutuhan modern di zamannya Jenjang dan Pola Pendidikan Al-Thahthawi menyampaikan ide-idenya tentang pola pendidikan sebagai berikut: Pola pendidikan yang ditawarkan meliputi: Pertama. Pendidikan yang bersifat pendidikan harus diberikan kepada segenap golongan masyarakat. samping itu, pendidikan harus diberikan untuk segala tingkatan usia tanpa membedakan jenis kelaminnya. Dari pemikiran ini tampaknya al-Thahthawi berpendapat bahwa masyarakat yang terdidik akan lebih mudah dibina sekaligus dapat menghindarkan diri masing-masing dari pengaruh-pengaruh negatif. Pemikirannya tersebut dapat dinilai sebagai rintisan bagi pemikiran pendidikan yang bersifat universal yang sekarang terkenal dengan istilah Aueducation for allAy. Kedua. Pendidikan untuk kaum perempuan. Ide pendidikan al-Thahthawi mengenai pendidikan kaum perempuan dikaitkannya dengan fungsi perempuan sebagai ibu rumah tangga. Menurutnya, pendidikan bagi kaum ibu dimaksudkan agar: Pertama, perempuan dapat menjadi istri yang baik dan menjadi mitra suami dalam kehidupan sosial dan intelektual. Kedua, agar perempuan sebagai istri memilih keterampilan untuk bekerja dalam batas-batas kemampuan mereka sebagai Dengan adanya keterampilan yang demikian, sebagai ibu rumah tangga, perempuan akan dapat memanfaatkan waktu luangnya dengan berbagai kegiatan yang (Ramayulis dan Nizar, . Berkenaan dengan hal ini. Al-Kumi . t: . juga menjelaskan bahwa RifaAoah alThahthawi merupakan yang pertama kali mendakwahkan pendidikan bagi wanita di Mesir, dan hal itu terdapat dalam penjelasannya dalam Raudhatul Madaris di bawah judul al-Mursyidul Amin lil Banat wal Banin, yang dikumpulkan dalam kitab yang dikenal dengan nama ini. Ada beberapa penjelasan al-Thahthawi mengenai pendidikan wanita sebagaimana dipaparkan al-Kumi . t: 241-. , di antaranya: Sesungguhnya pendidikan wanita merupakan suatu hal yang lazim untuk memperbaiki kehidupan pernikahan, para wanita belajar membaca, menulis, berhitung, dan lainnya, sesungguhnya pendidikan tersebut menambah adab dan pemikiran wanita, membuat mereka berlaku baik dalam keluarga, memperbaiki interaksinya dengan laki-laki dalam pembicaraan dan pandangannya, mengatur hati mereka, serta mengatur eksistensinya untuk menghilangkan lemahnya akal dan kurangnya ingatan dan mengubah wanita dari kebodohan kepada wanita yang seperti di atas. Bobi Erno Rusadi. Dairina Yusri . Jurnal Al-Fikru Thn. Xi. No. Juli Ae Desember 2019 A ISSN 1978-1326 . Dan pendidikan . agi wanita mungkin ketika memerlukan suatu hal dalam mengambil pekerjaan dari apa-apa yang dilakukan laki-laki, berdasarkan kemampuan dan kekuatannya, maka dengan kemampuan yang dimiliki terhadap suatu pekerjaan, maka ia mengerjakannya dengan kemampuannya sendiri dan ini merupakan kesibukan wanita dari menganggur. Wanita yang berpendidikan lebih baik dalam memberikan pendidikan kepada anakanaknya, adab dan pengetahuan yang dimilikinya akan diwariskannya pada akhlak Anak perempuan ketika melihat ibunya menelaah buku-buku dan cermat mengurus rumah dan melakukan pendiidikan untuk anak-anaknya, maka hal tersebut akan menarik semangat anaknya untuk sama seperti ibunya. Kuatnya larangan wanita untuk belajar merupakan kebiasaan jahiliah, dan bukan dari ajaran-ajaran Islam. Dan tidak diragukan lagi bahwa keberhasilan perempuan atas kemampuan membaca dan menulis, berakhlak dengan akhlak yang mulia, dan memiliki pengetahuan lebih memperindah sifat yang mulia. Dan hal tersebut lebih dirindukan laki-laki yang berpendidikan daripada kecantikan, maka adab memperkaya kecantikan, tetapi kecantikan tidak memperkaya adab karena kecantikan yang sedikit dimiliki dapat menimbulkan kebinasaan. Ketiga. Pendidikan untuk kepentingan bangsa. Menurut al-Thahthawi, pendidikan bukan hanya terbatas pada kegiatan untuk mengajarkan pengetahuan. Akan tetapi, pendidikan juga diarahkan untuk membentuk kepribadian dan menanamkan patriotisme . ubb al-watha. Struktur pendidikan. Al-Thahthawi membagi struktur pendidikan menjadi tiga tingkatan yaitu: . tingkat pendidikan permulaan, . tingkat pendidikan menengah, dan . tingkat pendidikan tinggi sebagai pendidikan akhir. Walaupun pemikiran alThahthawi belum dapat diwujudkan seluruhnya pada masa itu, namun ia telah membuat suatu terobosan yang akan diikuti oleh para modernis sesudahnya. Jalaludin dan Usman . 9: . menjelaskan bahwa pemikiran pendidikan alThahthawi mengenai pendidikan tampaknya ada dua masalah pokok yang dinilai Pertama, mengenai pendidikan yang bersifat universal dan emansipasi wanita. Yang dimaksudkannya dengan pendidikan yang universal adalah pendidikan pendidikan harus diberikan kepada segenap golongan masyarakat. Selain itu juga pendidikan harus diberikan untuk segala tingkatan usia tanpa membedakan jenis Dari pemikiran ini tampaknya al-Thahthawi berpendapat bahwa masyarakat yang terdidik akan lebih mudah dibina sekaligus dapat menghindarkan diri masing-masing dari pengaruh-pengaruh negatif. Pemikiran al-Thahthawi dapat dinilai sebagai rintisan bagi pemikiran pendidikan yang bersifat demokratis. Kedua, pemikiran al-Thahthawi mengenai pendidikan bangsa. Menurut al-Thahthawi, pendidikan bukan hanya terbatas pada kegiatan untuk mengajarkan pengetahuan, melainkan juga untuk membentuk kepribadian dan menanamkan patriotisme . ubb al-watha. Dalam pandangannya yang dimaksud dengan tanah air ialah tempat tinggal, tanah kelahiran yang dinikmati oleh setiap warganya. Dan tanah air dalam status merdeka menurut pandangan al-Thahthawi adalah merupakan nikmat yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada bangsa yang merdeka itu. Pemikiran seperti ini pula tampaknya mendorong al-Thahthawi melengkapi ide pendidikannya dengan kurikulum yang dihubungkan dengan kepentingan agama dan negara. (Ramayulis dan Nizar, . Berdasar penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa buah pemikiran pendidikan al-Thahthawi mengajak kita untuk mengingat kembali bahwa pendidikan 98 | Pemikiran Pendidikan At-Tahthawi Jurnal Al-Fikru Thn. Xi. No. Juli Ae Desember 2019 A ISSN 1978-1326 merupakan hak bagi semua kalangan, baik laki-laki maupun wanita. Selain itu, alThahthawi juga memberikan kontribusinya dalam pendidikan dengan idenya tentang pendidikan yang berlandaskan nasionalisme. SIMPULAN Pemikiran pendidikan al-Thahthawi dilatarbelakangi oleh eksistensinya sebagai tokoh pembaharu di Mesir pada saat itu. Al-Thahthawi melakukan pembaharuanpembaharuan pada segala bidang di Mesir, dan salah satunya pada bidang pendidikan. Pendidikan yang dilaksanakan tidak hanya untuk laki-laki saja, namun juga perempuan. Dan pendidikan ini dilakukan tidak hanya untuk menambah wawasan pengetahuan, namun juga untuk menanamkan kepribadian serta menanamkan semangat patriotisme. DAFTAR PUSTAKA