JURNAL KEUANGAN DAN BISNIS Volume 23. No. October 2025 KARAKTERISTIK PENGUSAHA. PENGGUNAAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA STARTEGIS: BUDAYA INOVASI SEBAGAI VARIABEL MODERASI Antonius Singgih SetiawanA singgih@utarki. Indrian SupheniA isupheni@upms. Delfi Panjaitan3 delfi@ukmc. A Fakultas Non Eksakta. Universitas Tarakanita. Indonesia A Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas PGRI Mpu Sindok. Indonesia 3Fakultas Bisnis dan Akuntansi. Universitas Katolik Musi Charitas. Indonesia Abstract Purpose: This study aims to examine the relationship between entrepreneur characteristics and the use of strategic performance measurement systems and innovation culture. The influence of innovation culture on the use of strategic performance measurement systems, as well as how innovation culture moderates the relationship between entrepreneur characteristics and the use of strategic performance measurement systems. Design/Methodology/Approach: Using a sample of 178 respondents . esponse rate 89%) with entrepreneur respondents in the city of Palembang, the research hypothesis was tested using Structural Equation Modeling (SEM) Partial Least Squares (PLS) analysis with Smart PLS software version 4. Findings: The findings of this study conclude that entrepreneur characteristics positively influence the use of strategic performance measurement systems. Entrepreneur characteristics influence the culture of innovation. Although the study failed to prove the influence of innovation culture on the use of strategic performance measurement systems, the results of this study successfully demonstrated the moderating role of innovation culture in the relationship between entrepreneur characteristics and the use of strategic performance measurement systems. Practical Implications: An important implication of the findings of this study is that there is a linear relationship between the characteristics of entrepreneurs who are oriented towards open and strategic thinking, which will ultimately view the development of a culture of innovation as a necessity in developing a business venture. Originality/Value: The original contribution of this study is the interaction between innovation culture and entrepreneurial characteristics, which has not been explored in many strategic management accounting studies. Therefore, the results of this study are expected to add to the literature in strategic management accounting studies. Page 158 of 174 A [Antonius Singgih Setiawa. Published in Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB). Published by LPPM. Universitas Katolik Musi Charitas. This article is published under the Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 (CC BY-NC 4. Anyone may reproduce, distribute, translate, and create derivative works of this article, subject to full attribution to the original publication and authors. The full terms of this licence may be seen at http://creativecommons. org/licences/by/4. 0/legalcode LPPM. Universitas Katolik Musi Charitas Website: https://journal. id/index. php/jkb Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB) Volume 23. No. 2/ October 2025 Keywords: entrepreneur characteristics. innovation culture. strategic performance measurement PENDAHULUAN Berbagai studi terkini menegaskan bahwa karakteristik pemilik pada perusahaan keluarga memiliki peran krusial dalam menentukan arah strategi dan mekanisme pengendalian organisasi (Sbarba & Marelli, 2. Kajian akuntansi manajemen menunjukkan bahwa atribut dan orientasi pemilik keluarga menjadi faktor kunci dalam desain serta penggunaan sistem akuntansi manajemen dan sistem pengendalian organisasi (Quinn et al. , 2. Pemilik yang berperan aktif tidak hanya memengaruhi keputusan strategis, tetapi juga membentuk pola perilaku inovatif organisasi (Basco & Calabry. Dalam konteks bisnis keluarga, sifat dan karakteristik pemilik terbukti menjadi determinan penting yang mengarahkan pemilihan pendekatan bisnis serta perilaku inovasi perusahaan (Setiawan & Iskak, 2. Hal ini diperkuat oleh temuan yang menunjukkan bahwa keluarga, sebagai pemangku kepentingan utama, turut bertanggung jawab atas perilaku organisasi dan berperan signifikan dalam menentukan strategi perusahaan (Setiawan & Panjaitan, 2. Dengan demikian, kemampuan pemilik dalam mengambil keputusan strategis yang tepat menjadi faktor utama dalam memastikan keberlanjutan bisnis (Kallmuenzer et al. , 2018. KozioC-Nadolna & Beyer, 2. Keberhasilan pemilik dalam menghadapi dinamika bisnis sangat bergantung pada kemampuan memilih strategi dan inovasi yang sesuai dengan tantangan lingkungan usaha (Guo et al. , 2. Inovasi dan strategi yang tepat memungkinkan perusahaan bertahan dan beradaptasi dalam situasi krisis yang dapat mengancam stabilitas operasional (Fabiel et al. , 2. Dalam perspektif keberlanjutan, praktik inovasi berbasis teknologi terbukti mengurangi risiko kelangsungan usaha dengan memperkuat resiliensi organisasi (Gregurec et al. , 2. Untuk itu, pengembangan budaya inovasi yang kuat merupakan langkah strategis dalam mendukung kesinambungan bisnis dan peningkatan kinerja jangka panjang (Sawalha, 2. Salah satu bentuk inovasi strategis dalam konteks bisnis keluarga adalah penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis (Strategic Performance Measurement System/SPMS). Sejumlah studi menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengimplementasikan sistem pengendalian manajemen yang canggih, termasuk SPMS (Heinicke, 2. Sistem ini diyakini mampu menyelaraskan strategi perusahaan dengan kinerja aktual dan mendorong tercapainya tujuan keberlanjutan (Mio et al. , 2. Kesadaran pelaku bisnis terhadap pentingnya keberlanjutan turut mendorong penerapan alat manajemen yang mengintegrasikan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan (Talbot et al. , 2. Implementasi SPMS yang berbasis Balanced Scorecard (BSC) memungkinkan integrasi empat perspektif utama keuangan, pelanggan, proses internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan dengan dimensi keberlanjutan yang menekankan isu lingkungan, sosial, dan etika (Kykbay & Syrycy, 2. Desain SPMS yang efektif Page 159 of 174 Full edition available at:https://journal. id/index. php/jkb/issue/view/jkb_23_2_oct25 Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB) Volume 23. No. 2/ October 2025 terbukti menjadi faktor penentu keberhasilan bisnis, karena berfungsi sebagai mekanisme pengendalian strategis dan pendorong efektivitas operasional (Akhtar & Sushil, 2. Penggunaan BSC secara sistematis juga terbukti meningkatkan kinerja keuangan serta mendorong inovasi eksploitatif di berbagai sektor (Malagueyo et al. , 2. Meskipun demikian, penelitian Wu et al. menunjukkan bahwa topik mengenai cara perusahaan mengelola isu keberlanjutan melalui sistem pengukuran kinerja, baik finansial maupun nonfinansial, masih relatif terbatas. Keterbatasan ini membuka peluang pengembangan kajian lanjutan, terutama dalam konteks usaha kecil dan menengah (UKM) berbasis keluarga. Pada level perusahaan kecil, tantangan keberlanjutan sering kali diperumit oleh keterbatasan sumber daya, struktur organisasi yang sederhana, serta pola kepemimpinan yang cenderung paternalistik (Barbosa et al. Setiawan et al. , 2019a. Setiawan et al. , 2019. Kondisi ini dapat menyebabkan dominasi kekuasaan dalam pengambilan keputusan dan resistensi terhadap perubahan strategis yang tidak sejalan dengan kebiasaan organisasi. Salah satu tantangan penting lainnya ialah lemahnya budaya inovasi dalam perusahaan keluarga skala kecil. Quinn et al. menegaskan bahwa budaya inovasi dalam perusahaan keluarga berbeda secara signifikan dari perusahaan nonkeluarga, terutama dalam hal orientasi desain sistem dan metode bisnis. Sbarba dan Marelli . juga menyoroti bahwa perbedaan budaya manajerial antara perusahaan keluarga dan nonkeluarga memengaruhi cara perusahaan mengelola kinerja dan strategi. Lebih lanjut. Hadid dan Al-Sayed . menegaskan bahwa budaya inovasi memiliki peran sentral dalam pengambilan keputusan strategis dan menjadi katalisator utama bagi pembentukan daya saing berkelanjutan. Berdasarkan landasan teoretis tersebut, studi ini berupaya menganalisis pengaruh karakteristik pengusaha terhadap penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis, serta menelaah peran budaya inovasi sebagai variabel moderasi yang memperkuat hubungan antara keduanya. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual terhadap literatur akuntansi manajemen strategis, khususnya dalam konteks perusahaan keluarga berskala kecil dan menengah di Indonesia, yang hingga kini masih relatif terbatas dibahas dalam penelitian empiris. TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik pengusaha memiliki akar teoretis dalam pendekatan perilaku organisasi dan teori pengambilan keputusan manajerial. Teori ini menegaskan bahwa individu berperan sebagai pusat keputusan strategis karena persepsi, kepribadian, dan orientasi nilainya memengaruhi arah kebijakan organisasi (Rasheed & Siddiqui, 2. Pada tataran praktis, karakteristik pengusaha mencakup pola berpikir, gaya kepemimpinan, tingkat rasionalitas, kemampuan adaptasi, serta intuisi dalam menghadapi Pengusaha dengan kemampuan mengenali peluang dan berimprovisasi secara cepat menunjukkan orientasi kewirausahaan yang tinggi, yang memungkinkan penyesuaian terhadap lingkungan bisnis yang dinamis (Conti et al. , 2. Rasionalitas membantu pemilik menimbang alternatif strategis, sedangkan intuisi berperan dalam Page 160 of 174 Full edition available at:https://journal. id/index. php/jkb/issue/view/jkb_23_2_oct25 Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB) Volume 23. No. 2/ October 2025 kecepatan pengambilan keputusan. Ketidakseimbangan antara keduanya dapat menimbulkan bias dan berdampak pada efektivitas strategi (Calabretta et al. , 2017. Pousa et al. , 2. Oleh karena itu, karakteristik pengusaha menjadi determinan penting yang menentukan arah strategi dan kualitas sistem pengendalian perusahaan (Kang & Park. Dalam ranah akuntansi manajemen, penggunaan Strategic Performance Measurement System (SPMS) dijelaskan melalui teori sistem pengendalian manajemen yang berfungsi mengoordinasikan strategi dan kinerja organisasi (Hansen & Schaltegger. SPMS berbasis Balanced Scorecard (BSC) mengintegrasikan empat dimensi utama keuangan, pelanggan, proses internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan untuk mengukur kinerja secara komprehensif (Mio et al. , 2. Desain SPMS tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencerminkan nilai, preferensi, dan orientasi strategis pemilik Kesesuaian antara sistem, strategi, dan struktur organisasi menentukan efektivitas penerapan SPMS sebagai alat pengendalian dan pengambilan keputusan (Vieira et al. Pada tingkat organisasi, keberhasilan implementasi sistem ini menuntut perubahan budaya, karena komitmen seluruh personel terhadap inovasi dan keberlanjutan menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi (De Andrade Guerra et al. , 2. Budaya inovasi menjadi dimensi organisasi yang berakar pada teori sumber daya (Resource-Based Vie. yang menekankan keunggulan kompetitif berasal dari kapabilitas internal yang unik. Budaya inovasi dipahami sebagai seperangkat nilai dan norma yang mendorong kreativitas, pembelajaran, serta keberanian bereksperimen untuk memperbaiki proses dan produk (Kyrgidou & Spyropoulou, 2. Keberadaan budaya inovasi terbukti meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap gangguan eksternal dan memperkuat keberlanjutan organisasi (Kraus et al. , 2012. Hamilton, 2. Perusahaan yang mampu membangun budaya inovatif akan menciptakan solusi strategis atas permasalahan bisnis dan memperkuat kapasitas manajerial dalam menghadapi perubahan (Arsawan et al. , 2. Karakteristik pengusaha yang terbuka terhadap pembelajaran dan risiko memiliki pengaruh besar terhadap terbentuknya budaya inovasi di perusahaan (Hadid & Al-Sayed, 2021. Nimimaa, 2. Hubungan antara karakteristik pengusaha dan penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis dapat dijelaskan melalui teori kontingensi yang menegaskan bahwa efektivitas sistem pengendalian dipengaruhi oleh faktor situasional, termasuk perilaku pengambil keputusan. Nilai kepribadian pemilik berpotensi mengarahkan orientasi strategi bisnis, yang pada gilirannya menentukan rancangan sistem pengukuran kinerja strategis yang digunakan (Kadir, 2014. Kober et al. , 2. Pada perusahaan keluarga, karakteristik pengusaha yang dibentuk oleh nilai-nilai keluarga berpengaruh terhadap implementasi sistem pengendalian dan akuntansi manajemen (Heinicke, 2018. Sbarba & Marelli, 2. Pemilik usaha dengan orientasi strategis dan kesadaran keberlanjutan akan cenderung mengadopsi sistem pengukuran kinerja yang bersifat proaktif dan integratif (Shahzad et al. , 2. Berdasarkan landasan tersebut, hipotesis pertama dirumuskan: H1: Karakteristik pengusaha berpengaruh terhadap penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis. Page 161 of 174 Full edition available at:https://journal. id/index. php/jkb/issue/view/jkb_23_2_oct25 Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB) Volume 23. No. 2/ October 2025 Karakteristik pengusaha juga menjadi faktor kunci dalam pembentukan budaya inovasi perusahaan. Kemampuan melihat peluang, keberanian mengambil risiko, dan fleksibilitas menghadapi ketidakpastian merupakan indikator yang memperkuat kecenderungan organisasi berinovasi (Conti et al. , 2020. Rasheed & Siddiqui, 2. Karakteristik tersebut memengaruhi pengambilan keputusan yang mendukung penciptaan ide baru dan pengembangan proses bisnis. Perusahaan dengan pemimpin berorientasi inovatif akan lebih mudah menciptakan sistem nilai yang mendorong eksplorasi gagasan baru (Acciarini et al. , 2. Karakteristik tersebut terbukti berperan dalam menciptakan budaya inovasi yang berkelanjutan, terutama pada perusahaan keluarga yang memiliki kecenderungan stabilitas tinggi (Khan et al. , 2016. Aboramadan et al. , 2. Berdasarkan temuan tersebut, hipotesis kedua disusun: H2: Karakteristik pengusaha berpengaruh terhadap budaya inovasi. Budaya inovasi yang kuat diyakini memperkuat sistem pengendalian strategis melalui peningkatan keselarasan antara strategi dan indikator kinerja. Organisasi dengan budaya inovatif akan lebih mampu memanfaatkan SPMS secara efektif karena adanya dorongan eksplorasi dan pembelajaran berkelanjutan (Hamilton, 2. Penerapan teori kontingensi menunjukkan bahwa faktor internal seperti budaya, teknologi, dan lingkungan akan memengaruhi desain serta fungsi sistem pengendalian (Islam & Hu. Budaya inovasi juga berperan sebagai sumber daya strategis yang mendorong keberhasilan implementasi SPMS dan berkontribusi terhadap kinerja jangka panjang (Senftlechner & Hiebl, 2015. Kraus et al. , 2. Berdasarkan argumentasi ini, hipotesis ketiga diajukan: H3: Budaya inovasi berpengaruh terhadap penggunaan sistem pengukuran kinerja Karakteristik pengusaha berpotensi menghasilkan pengaruh yang lebih kuat terhadap penggunaan SPMS apabila budaya inovasi di perusahaan berkembang secara Pemimpin yang berorientasi inovasi akan lebih efektif dalam memanfaatkan SPMS sebagai alat strategis karena sistem tersebut digunakan secara adaptif dan berbasis pembelajaran (Hadid & Al-Sayed, 2021. Setiawan & Panjaitan, 2. Budaya inovasi juga memperkuat kemampuan organisasi mengubah orientasi pribadi pengusaha menjadi praktik strategis yang terukur dan berorientasi keberlanjutan (Ghasemzadeh et al. , 2019. Gui et al. , 2. Hubungan moderasi ini memperlihatkan bahwa budaya inovasi berfungsi sebagai jembatan yang menyalurkan pengaruh karakteristik pengusaha terhadap efektivitas SPMS. Berdasarkan hal tersebut, hipotesis keempat dirumuskan: H4: Budaya inovasi memoderasi hubungan antara karakteristik pengusaha dan penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis. Page 162 of 174 Full edition available at:https://journal. id/index. php/jkb/issue/view/jkb_23_2_oct25 Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB) Volume 23. No. 2/ October 2025 Penggunaan Sistem Pengukuran Kinerja Strategis (Y) Karakteristik Pengusaha (X) Budaya Inovasi (Z) Gambar 1. Kerangka Teoritis Dengan demikian, kerangka teoritis penelitian ini menggambarkan bahwa efektivitas penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis bergantung pada interaksi dinamis antara karakteristik pengusaha sebagai faktor perilaku dan budaya inovasi sebagai faktor kontekstual internal. Hubungan ini menunjukkan bahwa perilaku individu dan budaya organisasi harus berada dalam harmoni strategis agar sistem pengukuran kinerja tidak hanya menjadi instrumen administratif, tetapi juga alat pembelajaran organisasi yang meningkatkan keunggulan bersaing dan keberlanjutan perusahaan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei untuk menguji hubungan kausal antarvariabel melalui pemodelan persamaan struktural berbasis Partial Least SquaresAeStructural Equation Modeling (PLSAeSEM). Pendekatan ini dipilih karena mampu menjelaskan hubungan laten antarvariabel dengan jumlah sampel yang moderat serta dapat menangani model yang melibatkan variabel moderasi. Analisis dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS versi 4. Populasi penelitian terdiri atas pelaku usaha kecil dan menengah milik keluarga di Kota Palembang. Teknik purposive sampling diterapkan dengan kriteria responden sebagai berikut: . merupakan pemilik atau pengelola utama dari usaha keluarga yang telah beroperasi minimal tiga tahun, . memiliki keterlibatan langsung dalam pengambilan keputusan bisnis, dan . memahami arah strategi dan sistem pengukuran kinerja perusahaan. Dari 200 kuesioner yang disebarkan, sebanyak 178 kuesioner dikembalikan dan layak dianalisis, sehingga tingkat respons mencapai 89%. Karakteristik responden menunjukkan bahwa rata-rata usia pengelola usaha adalah 39,33 tahun, dengan rentang usia antara 18 hingga 61 tahun. Komposisi responden terdiri atas 98 laki-laki . ,1%) dan 80 perempuan . ,9%), yang menunjukkan adanya regenerasi kepemimpinan dalam usaha keluarga di Palembang. Berdasarkan jenis usaha, mayoritas responden bergerak di bidang perdagangan atau ritel . ,3%), diikuti sektor makanan dan restoran . ,4%), sedangkan sektor manufaktur, konstruksi, hotel/penginapan, dan transportasi masing-masing mewakili kurang dari 5% sampel. Data penelitian dikumpulkan menggunakan kuesioner tertutup dengan skala Likert enam poin . = sangat tidak setuju hingga 6 = sangat setuj. Instrumen penelitian mencakup tiga konstruk utama. Pertama, penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis Page 163 of 174 Full edition available at:https://journal. id/index. php/jkb/issue/view/jkb_23_2_oct25 Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB) Volume 23. No. 2/ October 2025 (SPMS) yang diadaptasi dari Speckbacher dan Wentges . , diukur melalui empat dimensi Balanced Scorecard, yaitu ukuran keuangan, nilai pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Kedua, karakteristik pengusaha, yang mencerminkan ciri kepribadian pemilik atau manajemen, diadaptasi dari Setiawan dan Iskak . , meliputi enam indikator: orientasi inovatif, kemampuan perencanaan, orientasi teknologi, keberanian mengambil risiko, kestabilan emosi, dan keterbukaan untuk berkolaborasi. Ketiga, budaya inovasi, yang mencerminkan nilai dan keyakinan organisasi dalam mendorong kreativitas dan pembelajaran berkelanjutan, diadaptasi dari DabiN et al. dan diukur dengan enam indikator pernyataan. Instrumen penelitian terlebih dahulu diuji kelayakannya melalui analisis outer model untuk memastikan validitas dan reliabilitas konstruk. Tahapan akhir meliputi pengujian hipotesis menggunakan metode bootstrapping 000 replikasi untuk memperoleh estimasi yang stabil atas nilai path coefficient dan signifikansi statistik. Uji hipotesis dilakukan untuk menilai pengaruh langsung karakteristik pengusaha terhadap penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis, pengaruh tidak langsung melalui budaya inovasi, serta efek moderasi budaya inovasi terhadap hubungan tersebut. HASIL PENELITIAN Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan Partial Least SquaresAe Structural Equation Modeling (PLSAeSEM) dengan perangkat lunak SmartPLS versi 4. Model ini digunakan untuk menilai hubungan langsung dan tidak langsung antarvariabel, serta peran moderasi budaya inovasi dalam memperkuat hubungan antara karakteristik pengusaha dan penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis. Instrumen penelitian diuji melalui outer model untuk menilai reliabilitas dan validitas konstruk. Seluruh indikator menunjukkan nilai loading factor di atas 0,70, composite reliability di atas 0,70, dan average variance extracted (AVE) melebihi 0,50. Hasil ini menunjukkan bahwa setiap konstruk memiliki reliabilitas internal dan validitas konvergen yang memadai. Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Variabel Penggunaan Sistem Pengukuran Kinerja Strategis Karakteristik Pengusaha Budaya Inovasi Kisaran Teoritis 4 Ae 24 Kisaran Aktual 11 Ae 24 Mean 20,35 Standar Deviasi 2,39 6 Ae 36 16 Ae 36 30,68 3,45 6 Ae 36 14 Ae 36 30,34 3,51 Sumber: Data primer diolah . Page 164 of 174 Full edition available at:https://journal. id/index. php/jkb/issue/view/jkb_23_2_oct25 Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB) Volume 23. No. 2/ October 2025 Rata-rata skor yang tinggi menunjukkan bahwa pelaku usaha keluarga di Palembang memiliki tingkat kesadaran strategis, karakter kewirausahaan, dan orientasi inovasi yang relatif kuat. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar usaha kecil dan menengah di Palembang telah mengadopsi prinsip-prinsip perencanaan dan pengendalian kinerja yang sistematis. Tabel 2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Konstruk Variabel Penelitian Item Loading Penggunaan Sistem Pengukuran Kinerja Strategis PSPKS1 0,831 PSPKS2 PSPKS3 PSPKS4 KP1 KP2 KP3 KP4 KP5 KP6 BI1 BI2 BI3 BI4 BI5 BI6 0,810 0,805 0,819 0,742 0,796 0,810 0,764 0,810 0,719 0,856 0,775 0,843 0,836 0,799 0,714 Karakteristik Pengusaha Budaya Inovasi Composite Reliability 0,840 AVE 0,952 0,599 0,903 0,649 0,667 Sumber: Data primer diolah . Seluruh nilai loading berada di atas ambang batas 0,70 dan nilai composite reliability di atas 0,80, menandakan reliabilitas yang sangat baik. Nilai AVE > 0,50 menunjukkan bahwa lebih dari setengah varians indikator dijelaskan oleh konstruknya. Dengan demikian, instrumen yang digunakan valid dan reliabel secara statistik. Tabel 3. Validitas Diskriminan (HTMT Criterio. Konstruk Budaya Inovasi (BI) Karakteristik Pengusaha (KP) Penggunaan SPKS (PSPKS) Ai 0,488 0,283 PSPKS 0,420 Ai Sumber: Data primer diolah . 5 Page 165 of 174 Full edition available at:https://journal. id/index. php/jkb/issue/view/jkb_23_2_oct25 Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB) Volume 23. No. 2/ October 2025 Gambar 1. Model Penelitian Sumber: Data primer diolah . 5 Model struktural . nner mode. kemudian dievaluasi untuk menguji hubungan Nilai Standardized Root Mean Square Residual (SRMR) sebesar 0,08, dULS = 1,062, d-G = 0,382, dan Normed Fit Index (NFI) = 0,80 menunjukkan tingkat kesesuaian model yang baik. Nilai-nilai ini berada dalam rentang yang direkomendasikan (<0,10 untuk SRMR dan Ou0,80 untuk NFI), menandakan bahwa model empiris sesuai dengan data lapangan. Tabel 4. Hasil Pengujian Hipotesis Hipotesis Hubungan Path tp-Value Antarvariabel Coefficient Statistics Karakteristik 0,284 2,674 0,008 Pengusaha Ie SPKS Karakteristik 0,559 5,073 0,000 Pengusaha Ie Budaya Inovasi Budaya 0,012 0,147 0,883 Inovasi Ie SPKS Karakteristik 0,302 2,907 0,004 Pengusaha y Budaya Inovasi Ie SPKS Kesimpulan Diterima Diterima Ditolak Diterima Sumber: Data primer diolah . 5 Page 166 of 174 Full edition available at:https://journal. id/index. php/jkb/issue/view/jkb_23_2_oct25 Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB) Volume 23. No. 2/ October 2025 Hasil pada Tabel 4 memperlihatkan bahwa tiga dari empat hipotesis terdukung secara statistik. Karakteristik pengusaha berpengaruh signifikan terhadap penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis dan terhadap pembentukan budaya inovasi. Namun, budaya inovasi tidak secara langsung memengaruhi penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis. Efek moderasi budaya inovasi signifikan dan positif, menunjukkan bahwa budaya inovasi memperkuat hubungan antara karakteristik pengusaha dan penerapan sistem pengukuran kinerja strategis. Secara teoritis, hasil ini mendukung upper echelons theory (Hambrick & Mason, 1. , di mana keputusan strategis perusahaan merupakan refleksi dari nilai dan kognisi individu pemimpin puncak. Dalam konteks usaha keluarga, karakteristik pengusaha berperan penting dalam menentukan arah desain sistem pengendalian strategis, sedangkan budaya inovasi berfungsi sebagai mekanisme penguat yang mendorong penerapan pengukuran kinerja berbasis Balanced Scorecard menjadi lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan bisnis. Efek moderasi budaya inovasi juga sejalan dengan pandangan contingency theory, bahwa efektivitas sistem pengendalian bergantung pada kesesuaian antara karakteristik internal organisasi . dan orientasi strategis pemimpinnya. Dengan demikian, ketika pengusaha berorientasi inovatif dan beroperasi dalam budaya organisasi yang mendukung kreativitas, sistem pengukuran kinerja strategis dapat diimplementasikan lebih efektif untuk mencapai keunggulan kompetitif berkelanjutan. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pengusaha berperan penting dalam menentukan penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis (SPKS). Temuan ini mendukung upper echelons theory yang menegaskan bahwa keputusan strategis organisasi dipengaruhi oleh nilai, persepsi, dan orientasi kognitif pemimpin (Kallmuenzer et al. , 2018. KozioC-Nadolna & Beyer, 2. Dalam konteks usaha keluarga, karakteristik pribadi pemilik seperti keberanian mengambil risiko, kemampuan berinovasi, dan kecenderungan perencanaan strategis membentuk perilaku organisasi terhadap pengukuran kinerja (Sbarba & Marelli, 2018. Heinicke, 2. Penelitian sebelumnya juga menegaskan bahwa pemilik usaha keluarga memegang peranan sentral dalam menentukan arah kebijakan akuntansi manajemen dan sistem pengendalian (Quinn et al. Shahzad et al. , 2. Selanjutnya, hubungan positif antara karakteristik pengusaha dan budaya inovasi mengonfirmasi peran nilai dan orientasi pemimpin dalam membentuk iklim inovatif organisasi (Hadid & Al-Sayed, 2021. Setiawan & Panjaitan, 2. Budaya inovasi berkembang ketika kepemimpinan mengedepankan pembelajaran, eksplorasi peluang, dan keterbukaan terhadap perubahan (Kyrgidou & Spyropoulou, 2013. Kraus et al. Dalam kerangka resource-based view, karakteristik tersebut dianggap sebagai sumber daya tidak berwujud yang dapat menciptakan keunggulan kompetitif berkelanjutan (Arsawan et al. , 2022. Basco & Calobro, 2. Pemimpin dengan orientasi Page 167 of 174 Full edition available at:https://journal. id/index. php/jkb/issue/view/jkb_23_2_oct25 Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB) Volume 23. No. 2/ October 2025 kewirausahaan yang kuat mampu mentransformasikan nilai pribadi menjadi perilaku organisasi yang adaptif dan inovatif (Conti et al. , 2020. Rasheed & Siddiqui, 2. Meskipun demikian, budaya inovasi tidak terbukti berpengaruh langsung terhadap penerapan SPKS. Kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara nilai inovatif dan kemampuan manajerial untuk mengoperasionalkannya dalam sistem pengukuran formal (Islam & Hu, 2012. Aboramadan et al. , 2. Pada banyak usaha kecil, budaya inovasi masih bersifat normatif dan belum terintegrasi dalam struktur evaluasi strategis (Barbosa et al. , 2. Hambatan lain adalah keterbatasan sumber daya dan preferensi terhadap hasil jangka pendek yang mengurangi dorongan untuk mengembangkan sistem pengukuran kinerja berbasis Balanced Scorecard (Hansen & Schaltegger, 2018. Akhtar & Sushil, 2. Hal ini sejalan dengan temuan Sawalha . bahwa bisnis kecil cenderung berfokus pada kesinambungan operasional dibandingkan inovasi terukur dalam perencanaan jangka panjang. Temuan signifikan lainnya adalah bahwa budaya inovasi memperkuat hubungan antara karakteristik pengusaha dan penggunaan SPKS. Hasil ini mendukung pandangan contingency theory, bahwa efektivitas sistem pengendalian tergantung pada kesesuaian antara atribut individu dan konteks organisasi (Kober et al. , 2007. Vieira et al. , 2. Budaya inovasi berfungsi sebagai mekanisme penguat . yang menerjemahkan orientasi strategis pemilik menjadi praktik pengukuran yang reflektif dan berorientasi pembelajaran (Ghasemzadeh et al. , 2019. Gui et al. , 2. Ketika budaya organisasi mendukung eksperimen dan pengambilan risiko terukur, sistem pengukuran berfungsi tidak hanya sebagai alat administratif, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran strategis dan inovasi berkelanjutan (Arsawan et al. , 2022. Talbot et al. , 2. Dari sudut pandang konseptual, temuan ini mengintegrasikan upper echelons theory, resource-based view, dan contingency theory ke dalam satu kerangka yang menunjukkan bahwa efektivitas sistem pengendalian strategis ditentukan oleh fit antara karakteristik personal pengusaha dan konteks budaya organisasi (Heinicke, 2018. Glyptis et al. , 2. Karakteristik individu berperan sebagai pendorong utama, sementara budaya inovasi menjadi kondisi yang memperkuat dampak tersebut. Dalam perusahaan keluarga yang adaptif, kombinasi keduanya menghasilkan sistem pengukuran yang mampu berfungsi sebagai katalis strategi dan inovasi (Setiawan & Panjaitan, 2025. DabiN et al. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menegaskan bahwa karakteristik pengusaha memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan sistem pengukuran kinerja strategis (SPKS) dan budaya inovasi pada usaha kecil dan menengah yang dikelola keluarga. Temuan ini memperkuat asumsi teoretis bahwa kepribadian dan orientasi strategis pemimpin berperan langsung dalam menentukan sejauh mana organisasi mengadopsi pendekatan pengendalian kinerja yang terstruktur dan adaptif. Nilai-nilai seperti keberanian Page 168 of 174 Full edition available at:https://journal. id/index. php/jkb/issue/view/jkb_23_2_oct25 Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB) Volume 23. No. 2/ October 2025 mengambil risiko, orientasi perencanaan, dan keterbukaan terhadap perubahan terbukti menjadi landasan penting bagi implementasi sistem pengukuran strategis yang efektif. Budaya inovasi terbukti menjadi jembatan penting yang menguatkan pengaruh karakteristik pengusaha terhadap penerapan SPKS. Ketika lingkungan organisasi mendukung kreativitas, pembelajaran, dan eksperimen, sistem pengukuran tidak hanya berfungsi sebagai alat administratif, tetapi juga menjadi instrumen pembelajaran strategis yang mendorong perbaikan berkelanjutan. Sebaliknya, budaya inovasi yang belum terinternalisasi secara struktural cenderung membuat sistem pengukuran hanya berfungsi formal tanpa nilai strategis yang nyata. Hasil penelitian juga memperkaya landasan upper echelons theory, resourcebased view, dan contingency theory dengan menunjukkan bahwa efektivitas sistem pengendalian strategis tidak hanya bergantung pada faktor individu maupun struktur, tetapi pada kesesuaian antara keduanya. Strategic fit antara karakter pengusaha dan budaya inovasi menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengukuran yang tidak hanya efisien, tetapi juga mendukung keberlanjutan dan keunggulan kompetitif perusahaan Secara praktis, penguatan kapasitas pengusaha dalam perencanaan strategis dan pengendalian kinerja perlu menjadi prioritas, khususnya melalui pelatihan dalam desain indikator kinerja, strategy mapping, dan penentuan target berbasis data. Pendekatan ini akan membantu pengusaha mengubah nilai-nilai pribadi menjadi kebijakan yang lebih terukur dan terarah. Pengembangan budaya inovasi harus diarahkan pada pembentukan norma organisasi yang mendorong eksperimen terukur, keterbukaan terhadap umpan balik, serta kolaborasi lintas fungsi. Proses feedback review, forum evaluasi rutin, dan penghargaan terhadap ide inovatif dapat menjadi mekanisme konkret untuk memperkuat budaya Pada level kebijakan, lembaga pembinaan UMKM dan asosiasi bisnis diharapkan dapat mendorong adopsi sistem pengukuran kinerja strategis berbasis Balanced Scorecard sebagai alat manajemen yang terstandarisasi namun fleksibel. Dukungan berupa pelatihan, konsultasi desain metrik, dan insentif bagi usaha yang menerapkan sistem pengukuran kinerja secara komprehensif perlu dipertimbangkan. Bagi penelitian selanjutnya, disarankan untuk memperluas cakupan sektor dan wilayah agar temuan lebih generalisable, serta menggunakan pendekatan longitudinal untuk menangkap dinamika hubungan kausal antara budaya inovasi, karakteristik pengusaha, dan efektivitas SPKS dari waktu ke waktu. Pengukuran berbasis data objektif atau multi-respondent design juga direkomendasikan untuk meningkatkan akurasi dan mengurangi potensi common method bias. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memberikan pemahaman bahwa keseimbangan antara entrepreneurial mindset dan innovative culture merupakan fondasi utama bagi perusahaan keluarga dalam membangun sistem pengukuran kinerja strategis yang efektif, adaptif, dan berorientasi keberlanjutan. Page 169 of 174 Full edition available at:https://journal. id/index. php/jkb/issue/view/jkb_23_2_oct25 Jurnal Keuangan dan Bisnis (JKB) Volume 23. No. 2/ October 2025 DAFTAR PUSTAKA