Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 Edukasi Antibiotik Untuk Keluarga Sebagai Upaya Preventif Terhadap Risiko Stunting Pada Anak Desa Sungai Kayu Ara Bayu Anugerah Putra*1. Rahmad Firdaus2. Harun Mukhtar3. Elsi Titasari Br Bangun4. Fitri Handayani5. Hasanatul Fu'adah Amran6. Soni7. Rico Apriandika8. Dian Utami9. Hanum Salsabila10. Fakhira Frisya Ramadhani11. Alris Gusnanda12. Septiana Srinandini13. Jihan Aulia14 1,2,3,4,5,6,7,12 Teknik Informatika. Universitas Muhammadiyah Riau Manajemen. Universitas Muhammadiyah Palembang Manajemen. Universitas Muhammadiyah Riau Teknik Informatika. Universitas Muhammadiyah Purwokerto Farmasi. Universitas Muhammadiyah Riau Akuntansi. Universitas Muhammadiyah Riau Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Riau email: bayuanugerahputra@umri. Abstract Stunting remains a major public health problem in Indonesia, with a relatively high prevalence. One of the key risk factors for stunting is recurrent infections in children, which are often managed through the use of antibiotics. Rational use of antibiotics may help prevent stunting by reducing disease burden, whereas irrational use can lead to resistance and gut microbiota imbalance, thereby impairing nutrient Low literacy on antibiotic use in the community, particularly among housewives and the elderly as primary caregivers in families, presents a significant challenge. This community service activity aimed to improve public understanding of rational antibiotic use and its implications for stunting The methods included interactive lectures, group discussions, and distribution of educational The results showed an increase in participantsAo knowledge about the importance of using antibiotics according to medical recommendations. Therefore, antibiotic education for mothers and the elderly plays an important role as a preventive effort that indirectly supports stunting prevention in Keywords: stunting, antibiotics, health literacy, infection Abstrak Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi yang cukup tinggi. Salah satu faktor risiko penting terjadinya stunting adalah infeksi berulang pada anak, yang sering kali ditangani dengan pemberian antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tepat dapat membantu mencegah stunting dengan cara menekan beban penyakit, namun penggunaan yang tidak rasional berisiko menimbulkan resistensi serta gangguan keseimbangan mikrobiota usus yang berdampak pada penyerapan gizi. Rendahnya literasi penggunaan antibiotik di masyarakat, khususnya di kalangan ibu rumah tangga dan lansia sebagai pengasuh utama dalam keluarga, menjadi tantangan Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan antibiotik rasional serta implikasinya terhadap pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah ceramah interaktif, diskusi, dan pembagian media edukasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya penggunaan antibiotik sesuai anjuran tenaga medis. Dengan demikian, sosialisasi antibiotik kepada ibu dan lansia memiliki peran penting sebagai upaya preventif yang secara tidak langsung dapat mendukung pencegahan stunting pada anak. Kata Kunci: stunting, antibiotik, literasi kesehatan, infeksi https://doi. org/10. 37859/jpumri. p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 PENDAHULUAN Stunting merupakan salah satu masalah berdampak serius pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Menurut WHO, stunting didefinisikan sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar usia. Di Indonesia, prevalensi stunting masih cukup tinggi dan menjadi salah satu fokus utama dalam program pembangunan kesehatan nasional . Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga berpengaruh pada perkembangan kognitif, produktivitas, dan risiko penyakit tidak menular di usia dewasa . Salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap terjadinya stunting adalah tingginya angka infeksi berulang pada anak, seperti diare, pneumonia, dan infeksi saluran pernapasan akut. Infeksi yang tidak tertangani dengan baik dapat meningkatkan kebutuhan energi, dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan anak. Hubungan infeksi berulang dengan mekanisme biologis. Diare menyebabkan kehilangan zat gizi melalui feses dan kerusakan usus, sehingga tubuh tidak mampu menyerap nutrisi penting seperti protein, vitamin, dan mineral. ISPA meningkatkan kebutuhan energi, tetapi anak yang sakit biasanya mengalami penurunan nafsu makan. Jika hal ini terjadi berulang kali, maka pertumbuhan anak akan terganggu . Survei Kementerian Kesehatan . menemukan bahwa lebih dari 60% masyarakat pernah menggunakan antibiotik tanpa resep, dan sebagian besar tidak menghabiskan dosis sesuai anjuran. Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya literasi kesehatan masyarakat terkait fungsi dan cara kerja antibiotik. Sayangnya, mengenai penggunaan antibiotik yang Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 rasional masih tergolong rendah. Banyak kasus menunjukkan bahwa antibiotik digunakan tanpa resep dokter, diberikan dengan dosis yang tidak sesuai, atau dihentikan sebelum durasi terapi selesai. Praktik ini tidak hanya meningkatkan risiko resistensi, tetapi juga berpotensi berdampak pada status gizi anak melalui gangguan kesehatan usus . Dalam konteks keluarga, peran ibu sebagai pengambil keputusan dalam kesehatan anak serta lansia sebagai pengasuh cucu memiliki pengaruh besar terhadap praktik penggunaan antibiotik di rumah Oleh karena itu, meningkatkan pemahaman ibu dan lansia mengenai antibiotik sangat penting untuk mendukung upaya pencegahan stunting . Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait penggunaan antibiotik adalah melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi berbasis pengabdian masyarakat. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memiliki peran besar dalam menentukan pola kesehatan anak. Sayangnya, pengetahuan yang terbatas tentang penggunaan antibiotik sering menyebabkan praktik swamedikasi, pemberian antibiotik tanpa resep, atau penghentian pengobatan sebelum waktunya . Oleh karena itu, edukasi antibiotik kepada keluarga merupakan langkah strategis dalam mencegah resistensi antimikroba sekaligus mendukung upaya penurunan stunting. Edukasi yang tepat dapat memberikan pemahaman mengenai apa itu antibiotik, kapan seharusnya digunakan, bahaya penggunaan sembarangan, serta kaitannya dengan kesehatan usus dan risiko stunting. Sejumlah kajian terbaru menunjukkan bahwa gangguan mikrobiota usus akibat penggunaan antibiotik berhubungan erat dengan kejadian stunting pada anak . Edukasi antibiotik pada keluarga pencegahan resistensi dan infeksi berulang. , program penyuluhan antibiotik yang diberikan kepada ibu rumah tangga terbukti meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik penggunaan antibiotik sesuai aturan. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga dapat https://doi. org/10. 37859/jpumri. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 berperan besar dalam mencegah risiko resistensi sekaligus mendukung upaya menurunkan prevalensi stunting. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan sosialisasi antibiotik kepada ibu dan lansia dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penggunaan antibiotik rasional dan implikasinya terhadap pencegahan stunting. Artikel ini menyajikan hasil pengabdian masyarakat berupa edukasi antibiotik, serta membahas hubungan konseptual antara penggunaan antibiotik dengan pertumbuhan anak berdasarkan tinjauan literatur ilmiah. Melalui kajian ini diharapkan muncul rekomendasi praktis mengenai pentingnya literasi antibiotik sebagai bagian dari strategi pencegahan stunting di tingkat keluarga . METODE PENGABDIAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini kesehatan berbasis edukasi partisipatif, yang bertujuan meningkatkan pemahaman ibu rumah tangga dan lansia mengenai penggunaan antibiotik rasional dan hubungannya dengan pencegahan stunting. Metode yang digunakan mencakup tiga tahapan utama: persiapan, pelaksanaan, dan p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 Tahap Persiapan Tim pelaksana melakukan identifikasi kebutuhan melalui diskusi dengan perangkat desa dan tenaga kesehatan setempat untuk memperoleh gambaran awal mengenai tingkat pengetahuan masyarakat tentang antibiotik dan Selain itu, tim menyusun materi sosialisasi yang meliputi definisi antibiotik, indikasi penggunaan, risiko penggunaan tidak rasional, serta implikasinya terhadap kesehatan anak. Media edukasi yang digunakan berupa leaflet, poster, dan presentasi visual interaktif . Tahap Pelaksanaan Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk Pendekatan ini dipilih untuk memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah antara fasilitator dan peserta, sehingga pemahaman dapat lebih mendalam . Peserta terdiri atas ibu rumah tangga dan lansia yang berperan Penyampaian materi disesuaikan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami, dengan menekankan pada contoh nyata di kehidupan sehari-hari. Selain itu, diberikan sesi tanya jawab dan studi kasus untuk memperkuat pemahaman. Tahap Evaluasi Gambar 1. Metode Penelitian https://doi. org/10. 37859/jpumri. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pretest dan post-test sederhana untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta mengenai antibiotik dan kaitannya dengan stunting. Analisis data menggunakan perbandingan skor rata-rata sebelum dan sesudah kegiatan. Selain itu, umpan balik dari peserta dihimpun melalui diskusi terbuka untuk menilai efektivitas metode yang Hasil evaluasi ini menjadi dasar rekomendasi untuk pengembangan program serupa di masa mendatang. Dengan demikian, metode pengabdian p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 masyarakat ini menekankan pada partisipasi aktif, literasi kesehatan, dan penguatan peran keluarga dalam penggunaan antibiotik rasional sebagai salah satu strategi preventif terhadap risiko stunting. berdampak pada penyerapan nutrisi dan Dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat, diharapkan terjadi perubahan perilaku penggunaan antibiotik secara lebih bijak. HASIL DAN PEMBAHAS1AN Kegiatan sosialisasi antibiotik yang dilaksanakan pada kelompok ibu rumah tangga dan lansia di Desa Sungai Kayu Ara diikuti oleh 45 peserta. Sebagian besar peserta berusia antara 30Ae65 tahun, dengan latar belakang pendidikan bervariasi. Hasil pre-test menunjukkan bahwa hanya 28,9% peserta yang memahami konsep penggunaan antibiotik secara rasional. Mayoritas peserta . ,1%) masih beranggapan bahwa antibiotik dapat digunakan untuk semua jenis penyakit, termasuk flu dan batuk Antibiotik yang digunakan secara tepat mampu mengendalikan infeksi berat yang menjadi faktor risiko stunting, namun jika digunakan secara berlebihan justru dapat memperparah kondisi melalui resistensi dan gangguan mikrobiota. Setelah pelaksanaan sosialisasi, hasil post-test signifikan dalam pengetahuan peserta. Sebanyak 80% peserta mampu menjawab dengan benar pertanyaan mengenai indikasi penggunaan antibiotik, risiko resistensi, serta kaitannya dengan pertumbuhan anak. Selain itu, melalui diskusi kelompok, peserta menyampaikan bahwa mereka baru mengetahui bahwa penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mengganggu kesehatan usus anak dan berpotensi memengaruhi status gizi. Hasil kegiatan ini memperlihatkan adanya peningkatan literasi kesehatan masyarakat terkait antibiotik dan stunting. Edukasi sederhana yang dilakukan secara meningkatkan pemahaman peserta yang menegaskan bahwa intervensi berbasis komunitas dapat mengubah perilaku kesehatan terkait penggunaan antibiotic . Temuan ini sejalan dengan studi . , yang menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus anak. Gangguan mikrobiota ini Program ini juga mendukung hasil kajian . , yang menekankan pentingnya pendidikan kesehatan ibu dalam pencegahan stunting. Edukasi yang menekankan pada rasionalitas melindungi anak dari efek samping, tetapi juga memperkuat pemahaman orang tua mengenai peran mereka dalam menjaga pertumbuhan anak. Secara kegiatan ini menunjukkan bahwa intervensi edukasi masyarakat dapat menjadi strategi penting dalam mendukung pencegahan stunting. Namun demikian, diperlukan keberlanjutan program melalui kolaborasi dengan tenaga kesehatan setempat agar pesan edukasi tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Gambar 1. 2 Pelaksanaan Sosialisasi Antibiotik SIMPULAN Kegiatan penggunaan antibiotik bagi ibu rumah tangga https://doi. org/10. 37859/jpumri. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 dan lansia di Desa Sungai Kayu Ara menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta. Sebelum sosialisasi, mayoritas peserta masih memiliki persepsi keliru terkait penggunaan antibiotik. Setelah meningkat, terutama terkait indikasi penggunaan antibiotik, bahaya resistensi, serta implikasinya terhadap pertumbuhan Secara ilmiah, penggunaan antibiotik yang tepat terbukti dapat mencegah infeksi berulang pada anak, sehingga berpotensi mengurangi risiko stunting. Namun, penggunaan yang tidak rasional justru menimbulkan resistensi serta gangguan mikrobiota usus, yang berdampak negatif pada penyerapan nutrisi. Oleh karena itu, edukasi masyarakat mengenai penggunaan antibiotik rasional sangat penting sebagai pencegahan stunting. Diperlukan program berkelanjutan dan dukungan tenaga kesehatan setempat untuk memperkuat dampak intervensi ini, sehingga sosialisasi tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi menjadi bagian dari upaya berkesinambungan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih yang sebesarbesarnya kami sampaikan kepada: Panitia Pusat KKN MAs 2025, yang telah memberikan dukungan penuh dalam perencanaan, koordinasi, serta penyediaan berbagai fasilitas yang Peran panitia pusat sangat penting dalam memastikan kegiatan ini berjalan sesuai dengan tujuan besar KKN MAs sebagai program nasional. Panitia Lokal KKN MAs 2025, yang telah mendampingi dan memfasilitasi pelaksanaan kegiatan di lapangan. Kehadiran panitia lokal sangat membantu tim dalam beradaptasi menjalin komunikasi, serta memastikan kelancaran program dari awal hingga https://doi. org/10. 37859/jpumri. p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 Konsorsium LPPM PTMA, yang telah mendukung dari aspek akademik dan Dukungan ini sangat berarti dalam memperkuat dasar ilmiah kegiatan, sehingga program yang dijalankan tidak hanya memberi manfaat praktis tetapi juga memiliki nilai Majelis Diktilitbang Muhammadiyah, yang telah memberikan arahan, kebijakan strategis, serta KKN MAs Kontribusi majelis menjadi landasan penting dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan Seluruh anggota tim KKN MAs 2025, baik Dosen Pembimbing Lapangan (DPL)/pendamping maupun mahasiswa peserta, atas dedikasi, kerja keras, dan kebersamaan dalam menjalankan setiap tahapan kegiatan. Mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sosialisasi, hingga penyusunan artikel ini, semua pihak telah berkontribusi secara maksimal sehingga kegiatan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Tanpa dukungan dari berbagai pihak, kegiatan pengabdian ini tidak akan terlaksana dengan baik. DAFTAR PUSTAKA